Anda di halaman 1dari 32

Petrologi

Jumat, 13 September 2013

Petrologi BAB III


BAB III
BATUAN METAMORF
3.1. Tinjauan Umum Batuan
Batuan metamorf merupakan batuan hasil malihan dari batuan yang telah ada sebelumnya
yang ditunjukkan dengan adanya perubahan komposisi mineral, tekstur dan struktur batuan yang
terjadi pada fase padat (solid rate) akibat adanya perubahan temperatur, tekanan dan kondisi
kimia di kerak bumi (Ehlers & Blatt, 1982).
Batuan metamorf adalah hasil dari perubahan-perubahan fundamental batuan yang
sebelumnya telah ada. Panas yang intensif yang dipancarkan oleh suatu massa magma yang sedang
mengintrusi menyebabkan metamorfosa kontak. Metamorfosa regional yang meliputi daerah yang
sangat luas disebabkan oleh efek tekanan dan panas pada batuan yang terkubur sangat dalam.
Namun perlu dipahami bahwa proses metamorfosa terjadi dalam keadaan padat, dengan
perubahan kimiawi dalam batas-batas tertentu saja dan meliputi proses-proses rekristalisasi,
reorientasi dan pembentukan mineral-mineral baru dengan penyusunan kembali elemen-elemen
kimia yang sebelumnya telah ada (Graha, D.S, 1987)
Menurut Turner (1954, lihat Williams dkk, 1954:161-162) menyebutkan bahwa batuan
metamorf adalah batuan yang telah mengalami perubahan mineralogik dan struktur oleh proses
metamorfisme dan terjadi langsung dari fase padat tanpa melalui fase cair.
Jadi batuan metamorf terjadi karena adanya perubahan yang disebabkan oleh proses
metamorfosa. Proses metamorfosa merupakan suatu proses pengubahan batuan akibat perubahan
tekanan, temperatur dan adanya aktifitas kimia fluida/gas atau variasi dari ketiga faktor tersebut.
Proses metamorfosa merupakan proses isokimia, dimana tidak terjadi penambahan unsur-unsur
kimia pada batuan yang mengalami metamorfosa. Temperatur berkisar antara 200 0 C- 8000 C, tanpa
melalui fase cair (batuan tetap berada pada fase padat).

Gambar 3.1. Lokasi dan Tipe Metamorfisme


Proses metamorfisme adalah proses perubahan batuan yang sudah ada menjadi batuan
metamorf karena perubahan tekanan dan temperatur yang besar. Batuan asal dari batuan
metamorf tersebut dapat batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf sendiri yang sudah
ada. Kata metamorf sendiri adalah perubahan bentuk. Agen atau media menyebabkan terjadinya
proses metamorfisme adalah panas, tekanan dan cairan kimia aktif. Sedangkan perubahan yang
terjadi pada batuan meliputi tekstur dan komposisi mineral.

Gambar 3.2. Memperlihatkan batuan asal yang mengalami metamorfisme tingkat


rendahmedium dan tingkat tinggi (ODunn dan Sill, 1986).
Perubahan temperatur dapat terjadi oleh karena berbagai macam sebab antara lain oleh
adanya pemanasan akibat intrusi magmatik dan perubahan gradien geothermal. Panas dalam skala
kecil juga bisa terjadi akibat adanya gesekan/friksi selama terjadinya deformasi suatu massa
batuan. Pada batuan silikat batas bawah terjadinya metamorfosa umumnya pada suhu 150 0 500 C
yang ditandai dengan munculnya mineral-mineral Mg-carpholite, Glaucophane, lawsonite,
paragonite, prehnite atau stilpnomelane. Sedangkan batas atas terjadinya metamorfosa sebelum
terjadinya pelelehan adalah berkisar 6500 11000 C, tergantung jenis batuan asalnya (Bucher &
Frey, 1994).
Aktivitas kimiawi fluida dan gas yang berada pada jaringan antar butir batuan mempunyai
peranan yang penting dalam metamorfosa. Fluida aktif yang banyak berperan adalah air beserta
karbon dioksida, asam hidroklorik dan hidroflourik. Umumnya fluida dan gas tersebut bertindak
sebagai katalis atau solven serta bersifat membantu reaksi kimia dan penyetimbangan mekanis
(W.T.Huang, 1962).
Metamorfosa adalah proses rekristalisasi di kedalaman kerak bumi (3 20km) yang
keseluruhannya atau sebagian besar terjadi dalam keadaan padat, yakni tanpa melalui fasa
cair. Sehingga terbentuk struktur dan mineralogi baru yang sesuai dengan lingkungan fisik baru pada
tekanan (P) dan temperatur (T) tertentu.
Menurut H.G.F. Winkler, 1967, metamorfisme adalah proses-proses yang mengubah
mineral suatu batuan pada fase padat karena pengaruh atau tanggapan terhadap kondisi fisik dan
kimia di dalam kerak bumi, dimana kondisi fisik dan kimia tersebut berbeda dengan kondisi
sebelumnya. Proses-proses tersebut tidak termasuk pelapukan dan diagenesis. Batuan metamorf
adalah batuan yang berasal dari batuan induk, bisa batuan beku, batuan sedimen, ataupun batuan
metamorf itu sendiri yang mengalami metamorfosa.

Proses metamorfisme kadang-kadang tidak berlangsung sempurna, sehingga


perubahan yang terjadi pada batuan asal tidak terlalu besar, hanya kekompakkan pada batuan
saja yang bertambah. Proses metamorfisme yang sempurna menyebabkan karakteristik

batuan asal tidak terlihat lagi. Pada kondisi perubahan yang sangat ekstrim, peningkatan
temperatur mendekati titik lebur batuan, padahal perubahan batuan selama proses
metamorfisme harus tetap dalam keadaan padat. Apabila sampai mencapai titik lebur batuan
maka proses tersebut bukan lagi proses metamorfisme tetapi proses aktivitas magma.
Media yang menyebabkan proses metamorfisme adalah panas, tekanan dan
cairan kimia aktif. Ketiga media tersebut dapat bekerja bersama-sama pada batuan yang
mengalami proses metamorfisme, tetapi derajat metamorfisme dan kontribusi dari tiap agen
tersebut berbeda-beda. Pada proses metamorfisme tingkat rendah, kondisi temperatur dan
tekanan hanya sedikit diatas kondisi proses pembatuan pada batuan sedimen. Sedangkan pada
proses metamorfisme tingkat tinggi, kondisinya sedikit dibawah kondisi proses peleburan
batuan.
Temperatur (panas)
Panas merupakan proses metamorfisme yang paling penting. Batuan yang terbentuk dekat
permukaan bumi akan mengalami perubahan kalau mengalami pemanasan yang tinggi pada
waktu diterobos oleh magma dari dalam bumi. Akibat dari proses penerobosan ini tidak atau
sedikit terlihat apabila proses tersebut terjadi dekat permukaan bumi. Hal ini terjadi karena
pada tempat tersebut panas dari magma sudah tidak terlalu berbeda dengan kondisi batuan
disekitarnya. Pada keadaan yang demikian hanya akan terjadi proses pembakaran saja pada
batuan yang disebut baking efect.
Batuan yang terbentuk di permukaan juga dapat mengalami perubahan temperatur
yang tinggi apabila batuan tersebut mengalami proses penimbunan yang dalam. Seperti telah
diketahui bahwa temperatur akan meningkat dengan meningkatnya kedalaman 10 meter maka
suhu akan naik 30C (gradien temperatur) Pada kerak bumi bagian atas.
Pada pemindahan yang tidak begitu dalam, hanya beberapa kilometer, mineral tertentu
seperti mineral lempung menjadi tidak stabil, dan akan mengalami rekristalisasi menjadi
mineral yang lebih stabil pada kondisi lingkungannya yang baru. Mineral lain yang umumnya
dijumpai pada batuan kristalin dan stabil pada kondisi temperatur dan tekanan yang lebih
tinggi, akan mengalami proses metamorfisme pada kedalaman sekitar 30 kilometer.
Tekanan
Tekanan seperti halnya temperatur, dimana kedalaman meningkat maka tekananpun
bertambah besar. Tekanan yang terdapat di dalam bumi ini merupakan tekanan tambahan dari
tekanan pada batuan oleh pembebanan batuan di atasnya. Batuan akan mengalami tekanan
juga pada waktu terjadinya proses pembentukan pegunungan atau deformasi. Pada keadaan
ini batuan akan mengalami penekanan yang berarah, dan perubahan volume.
Proses Metamorfisme dan Aktivitas Larutan Kimia
Larutan kimia aktif, umumnya air yang mengandung ion-ion terlarut, juga dapat
menyebabkan terjadinya proses metamorfisme. Pori-pori batuan pada umumnya terisi oleh
air. Selain itu beberapa mineral hidrat mengandung air dalam struktur kristalnya. Bila terjadi
penimbunan yang dalam pada batuan, air yang terdapat di dalam mineral akan ditekan keluar
dari struktur kristalnya, dan akan memungkinkan terjadinya reaksi kimia. Air yang terdapat
disekitar kristal akan merupakan katalisator terjadinya perpindahan ion.
Mineral biasanya mengalami rekristalisasi untuk membentuk konfigurasi struktur kristal
yang lebih stabil. Pertukaran ion pada mineral akan membentuk mineral-mineral yang baru.
Perubahan mineral yang dilakukan oleh air yang kaya mineral dan panas, telah banyak
dipelajari di beberapa daerah gunung api seperti Yellowstone National Park, AS.

Di sepanjang pematang pegunungan lantai dasar samudera, sirkulasi air laut pada batuan
yang masih panas mengubah mineral pada batuan beku basalt yang berwarna gelap menjadi
mineral-mineral metamorfisme seperti serpentin dan talk.
Perubahan Tekstur dan Komposisi Mineral
Derajat metamorfisme direfleksikan oleh kenampakan tekstur dan komposisi mineral
batuan metamorf. Pada batuan metamorf tingkat rendah, batuan akan lebih kompak dan padat
dibandingkan
dengan
batuan
asalnya.
Sebagai
contoh,
batuan
metamorf
batusabat(slate) terbentuk dari proses kompaksi yang sudah lanjut dari serpih (shale). Pada
kondisi yang lebih ekstrim, tekanan dapat menyebabkan mineral-mineral tertentu mengalami
rekristalisasi.
Seperti telah diuraikan sebelumnya, air memegang peranan yang sangat penting pada
proses rekristalisasi dengan mempercepat terjadinya perpindahan ion pada mineral. Pada
umumnya proses rekristalisasi memungkinkan pertumbuhan kristal menjadi lebih besar. Hal
ini mengakibatkan banyak batuan metamorf disusun oleh mineral-mineral yang besar seperti
pada batuan fanerik. Kristal-kristal dari beberapa mineral seperti mika mempunyai struktur
lembaran, dan hornblende yang mempunyai struktur butiran yang panjang, apabila
mengalami rekristalisasi akan membentuk penjajaran mineral. Orientasi mineral baru ini
biasanya tegak lurus terhadap arah gaya tekan yang menyebabkan rekristalisasi tersebut.
Hasil dari penjajaran mineral ini menyebabkan batuan menunjukan kenampakan seperti
perlapisan yang disebut foliasi.
Agen atau media yang menyebabkan proses metamorfisme adalah panas, tekanan dan cairan
kimia aktif. Ketiga media tersebut dapat bekerja bersama-sama pada batuan yang mengalami
proses metamorfisme, tetapi derajat metamorfisme dan kontribusi dari tiap agen tersebut berbedabeda. Pada proses metamorfisme tingkat rendah, kondisi temperatur dan tekanan hanya sedikit
diatas kondisi proses pembatuan pada batuan sedimen. Sedangkan pada proses metamorfisme
tingkat tinggi, kondisinya sedikit dibawah kondisi proses peleburan batuan.
Tahap-Tahap Proses Metamorfisme
a. Rekristalisasi
Proses ini dibentuk oleh tenaga kristaloblastik, disini terjadi penyusunan kembali kristal-kristal
dimana elemen-elemen kimia yang sudah ada sebelumnya sudah ada.
b. Reorientasi
Proses ini dibentuk oleh tenaga kristaloblastik, disini pengorientasian kembali dari susunan kristalkristal, dan ini akan berpengaruh pada tekstur dan struktur yang ada.
c. Pembentukan mineral-mineral baru
Proses ini terjadi dengan penyusunan kembali elemen-elemen kimiawi yang sebelumnya telah ada.
3.2. Pembagian Batuan Metamorf
3.2.1. Berdasarkan Komposisi Mineral
1. Calcic Metamorphic Rock
Adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan yang bersifat kalsik (kaya unsur Al), umumnya
terdiri atas batulempung dan serpih. Contoh: batusabak dan Phyllite.
2. Quartz Feldsphatic Rock
Adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan yang kaya akan unsur kuarsa dan feldspar.
Contoh : Gneiss.
3. Calcareous Metamorphic Rock
Adalah batuan metamorf yang berasal dari batu gamping dan dolomit. Contoh: Marmer.

4. Basic Metamorphic Rock


Adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan beku basa, semibasa dan menengah, serta tufa
dan batuan sedimen yang bersifat napalan dengan kandungan unsur K, Al, Fe, Mg.
5. Magnesia Metamorphic Rock
Adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan yang kaya akan Mg. Contoh : serpentit, sekis.
3.2.2. Berdasarkan Kriteria Di Lapangan
Berdasarkan pada wujudnya di lapangan,batuan metamorf di bagi menjadi dua,yaitu :
a. Metamorfisme tingkat rendah (low-grade metamorphism)
Pada batuan metamorf tingkat rendah jejak kenampakan batuan asal masih bisa di amati dan
penamaannya menggunakan awalan meta (-sedimen,-beku)
b. Metamorisme tingkat tinggi(high-grade metamorphism)
Pada batuan metamorf tingkat tinggi jejak batuan asal sudah tidak nampak,malihan tertinggi
membentuk migmatit (batuan yang sebagian bertekstur malihan dan sebagian lagi bertekstur beku
atau igneous.
Pada proses metamorfisme tingkat rendah, kondisi temperatur dan tekanan hanya sedikit
diatas kondisi proses pembatuan pada batuan sedimen. Sedangkan pada proses metamorfisme
tingkat tinggi, kondisinya sedikit dibawah kondisi proses peleburan batuan.

3.2.3. Berdasarkan Jenis Metamorfosa


Bucher & Frey (1994), mengemukakan bahwa berdasarkan tatanan geologinya, metamorfosa
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

a. Metamorfosa Regional / Dinamothermal


Metamorfosa regional/dinamothermal merupakan metamorfosa yang terjadi pada daerah yang
sangat luas. Metamorfosa ini dibedakan menjadi tiga, yaitu metamorfosa orogenik, burial dan dasar
samudera (Ocean-floor).
Metamorfosa Orogenik, Metamorfosa ini terjadi pada daerah sabuk orogenik dimana terjadi
proses deformasi yang menyebabkan rekristalisasi. Umumnya batuan metamorf yang dihasilkan
mempunyai butiran mineral yang teroreintasi dan membentuk sabuk yang melampar dari ratusan
sampai ribuan kilometer. Proses metamorfosa memerlukan waktu yang sangat lama berkisar antara
puluhan juta tahun.
Metamorfosa Burial, Metamorfosa ini terjadi oleh akibat kenaikan tekanan dan temperatur pada
daerah geosinklin yang mengalami sedimentasi intensif, kemudian terlipat. Proses yang terjadi
adalah rekristalisasi dan reaksi antara mineral dengan fluida.
Metamorfosa dasar Samudera (Ocean-Floor), Metamorfosa ini terjadi akibat adanya perubahan
pada kerak samudera di sekitar punggungan tengah samudera (mid oceanic ridges). Batuan
metamorf yang dihasilkan umumnya berkomposisi basa dan ultrabasa. Adanya pemanasan air laut
menyebabkan mudah terjadinya reaksi kimia antara batuan dan air laut tersebut.

b. Metamorfosa Lokal
Metamorfosa lokal merupakan proses metamorfosa yang terjadi pada daerah yang sempit berkisar
antara beberapa meter sampai kilometer saja. Metamorfosa ini dapat dibedakan menjadi :
Metamorfosa Kontak, Metamorfosa kontak terjadi pada batuan yang mengalami pemanasan di
sekitar kontak massa batuan beku intrusif maupun ekstrusif. Perubahan terjadi karena pengaruh
panas dan material yang dilepaskan oleh magma serta kadang oleh deformasi akibat gerakan
magma. Zona metamorfosa kontak disebut contact aureole. Proses yang terjadi umumnya berupa

rekristalisasi, reaksi antar mineral, reaksi antara mineral dan fluida serta penggantian/penambahan
material. Batuan yang dihasilkan umumnya berbutir halus.
Pirometamorfosa / Metamorfosa optalic / Kaustik / Thermal, Metamorfosa ini adalah jenis
khusus metamorfosa kontak yang menunjukkan efek hasil temperatur yang tinggi pada kontak
batuan dengan magma pada kondisi volkanik atau quasi volkanik, contohnya pada xenolith atau
pada zona dike.
Metamorfosa Kataklastik / Dislokasi / Kinematik / Dinamik, Metamorfosa kataklastik terjadi
pada daerah yang mengalami deformasi intensif, seperti pada patahan. Proses yang terjadi murni
karena gaya mekanis yang mengakibatkan penggerusan dan granulasi batuan. Batuan yang
dihasilkan bersifat non-foliasi dan dikenal sebagai fault breccia,fault gauge, atau milonit.
Metamorfosa Hidrotermal / Metasomatisme, Metamorfosa hidrothermal terjadi akibat adanya
perkolasi fluida atau gas yang panas pada jaringan antar butir atau pada retakan-retakan batuan
sehingga menyebabkan perubahan komposisi mineral dan kimia. Perubahan juga dipengaruhi oleh
adanya confining pressure.
MetamorfosaImpact, Metamorfosa ini terjadi akibat adanya tabrakan hypervelocitysebuah
meteorit. Kisaran waktunya hanya beberapa mikrodetik dan umumnya ditandai dengan
terbentuknya mineral coesite dan stishovite.
Metamorfosa Retrogade / Diaropteris, Metamorfosa ini terjadi akibat adanya penurunan
temperatur sehingga kumpulan mineral metamorfosa tingkat tinggi berubah menjadi kumpulan
mineral stabil pada temperatur yang lebih rendah.
3.2.4 Berdasarkan Fasies Metamorfosa
Konsep fasies metamorfik diperkenalkan oleh Eskola, 1915 (Bucher & Frey, 1994). Eskola
mengemukakan bahwa kumpulan mineral pada batuan metamorf merupakan karakteristik genetik
yang sangat penting sehingga terdapat hubungan antara kumpulan mineral dan kompisisi batuan
pada tingkat metamorfosa tertentu. Dengan kata lain sebuah fasies metamorfik merupakan
kelompok batuan yang termetamorfosa pada kondisi yang sama yang dicirikan oleh kumpulan
mineral yang tetap. Tiap fasies metamorfik dibatasi oleh tekanan dan temperatur tertentu serta
dicirikan oleh hubungan teratur antara komposisi kimia dan mineralogi dalam batuan. Secara
umum, batuan metamorf tidak secara drastis mengubah komposisi kimia selama metamorfosis,
kecuali dalam kasus khusus di mana metasomatisme terlibat (seperti dalam produksi
skarns). Perubahan dalam kumpulan mineral disebabkan perubahan dalam kondisi suhu dan tekanan
metamorfosis. Dengan demikian, kumpulan mineral yang diamati harus merupakan indikasi
lingkungan suhu dan tekanan bahwa batuan ini dikenakan. Ini dan suhu lingkungan tekanan ini
disebut sebagai metamorfosa fasies. (Ini mirip dengan konsep fasies sedimen, dalam bahwa fasies
sedimen juga merupakan seperangkat kondisi lingkungan hadir selama pengendapan). Urutan fasies
metamorf diamati dalam setiap medan metamorfik, tergantung pada gradien panas bumi yang ada
selama metamorfosis.
Sebuah gradien panas bumi yang tinggi seperti yang berlabel "A", mungkin hadir sekitar
sebuah intrusi batuan beku, dan akan menghasilkan batuan metamorf milik fasies hornfels. Di
bawah normal gradien panas bumi yang tinggi, seperti "B", batu akan kemajuan dari fasies zeolit
untuk greenschist, amfibolit, dan fasies eclogite sebagai kelas metamorfosis (atau kedalaman
penguburan) meningkat. Jika gradien geothermal rendah hadir, seperti yang berlabel "C" pada
diagram, maka batu akan kemajuan dari fasies zeolit untuk blueschist fasies untuk eclogite fasies.

Gambar 3.3. Fasies Metamorfik


Pengenalan batuan metamorf dapat dilakukan melalui kenampakan-kenampakan yang jelas
pada singkapan dari batuan metamorf yang merupakan akibat dari tekanan-tekanan yang tidak
sama. Batuan-batuan tersebut mungkin mengalami aliran plastis, peretakan dan pembutiran atau
rekristalisasi. Beberapa tekstur dan struktur di dalam batuan metamorf mungkin diturunkan dari
batuan pre-metamorfik (seperti: cross bedding), tetapi kebanyakan hal ini terhapus selama
metamorfisme. Penerapan dari tekanan yang tidak sama, khususnya jika disertai oleh pembentukan
mineral baru, sering menyebabkan kenampakan penjajaran dari tekstur dan struktur. Jika planar
disebut foliasi. Seandainya struktur planar tersebut disusun oleh lapisan-lapisan yang menyebar
atau melensa dari mineral-mineral yang berbeda tekstur, misal: lapisan yang kaya akan mineral
granular (seperti: felspar dan kuarsa) berselang-seling dengan lapisan-lapisan kaya mineral-mineral
tabular atau prismatik (seperti: feromagnesium), tekstur tersebut menunjukkan sebagai gneiss.
Seandainya foliasi tersebut disebabkan oleh penyusunan yang sejajar dari mineral-mineral pipih
berbutir sedang-kasar (umumnya mika atau klorit) disebut skistosity. Pecahan batuan ini biasanya
sejajar dengan skistosity menghasilkan belahan batuan yang berkembang kurang baik.
Pengenalan batuan metamorf tidak jauh berbeda dengan jenis batuan lain yaitu didasarkan
pada warna, tekstur, struktur dan komposisinya. Namun untuk batuan metamorf ini mempunyai
kekhasan dalam penentuannya yaitu pertama-tama dilakukan tinjauan apakah termasuk dalam
struktur foliasi (ada penjajaran mineral) atau non foliasi (tanpa penjajaran mineral) (Tabel 3.1).
Pada metamorfisme tingkat tinggi akan berkembang struktur migmatit. Setelah penentuan struktur
diketahui, maka penamaan batuan metamorf baik yang berstruktur foliasi maupun berstruktur non
foliasi dapat dilakukan. Misalnya struktur skistose nama batuannya sekis, gneisik untuk
genis, slatycleavage untukslate/sabak. Sedangkan non foliasi, misalnya struktur hornfelsik nama
batuannya hornfels,liniasi untuk asbes.
Variasi yang luas dari tekstur, struktur dan komposisi dalam batuan metamorf, membuatnya
sulit untuk mendaftar satu atau lebih dari beberapa kenampakkan yang diduga hasil dari proses
metamorfisme. Oleh sebab itu hal terbaik untuk mempertimbangkan secara menerus seperti
kemungkinan banyaknya perbedaan kenampakan-kenampakan yang ada.
3.4. Tahap Pendeskripsian
3.4.1. Tekstur Batuan Metamorf
Tekstur merupakan kenampakan batuan yang berdasarkan pada ukuran, bentuk dan orientasi
butir mineral individual penyusun batuan metamorf (Jackson, 1970). Penamaan tekstur batuan
metamorf umumnya menggunakan awalan blasto atau akhiran blastic yang ditambahkan pada
istilah dasarnya. Penamaan tekstur tersebut akan dibahas pada bagian berikut ini.
a. Tekstur Berdasarkan Ketahanan Terhadap Proses Metamorfosa
Berdasarkan ketahanannya terhadap proses metamorfosa ini tekstur batuan metamorf dapat
dibedakan menjadi :
Relict/Palimset/Sisa

Batuan metamorf adalah hasil dari perubahan-perubahan fundamental batuan yang sebelumnya
telah ada. Panas yang intensif yang di pancarkan oeh suatu massa magma yang sedang mengintrusi
menyebabkan metamorfosa kontak.Metamorfosa regional yang meliputi daerah yang sangat luas
dinsebabkan oleh efek tekanan dan panas yang pada batuan yang terkubur sangat dalam yang dapat
membentuk tekstur relict / palimset / sisa.Tekstur ini merupakan tekstur batuan metamorf yang
masih menunjukkan sisa tekstur batuan asalnya atau tekstur batuan asalnya masih tampak pada
batuan metamorf tersebut. Awalan blasto digunakan untuk penamaan tekstur batuan metamorf
ini. Contohnya adalah blastoporfiritik yaitu batuan metamorf yang tekstur porfiritik batuan beku
asalnya masih bisa dikenali. Batuan yang mempunyai kondisi seperti ini sering disebut batuan
metabeku atau metasedimen.
Kristaloblastik
Tekstur kristloblastik merupakan tekstur batuan metamorf yang terbentuk oleh sebab proses
metamorfosa itu sendiri. Batuan dengan tekstur ini sudah mengalami rekristalisasi sehingga tekstur
asalnya tidak tampak. Penamaannya menggunakan akhiran blastik.

b. Tekstur Berdasarkan Ukuran Butir


Berdasarkan ukuran butirnya, maka tekstur batuan metamorf dapat dibedakan menjadi :
Fanerit, bila butiran kristal masih dapat dilihat dengan mata
Afanit, Bila butiran kristal tidak dapat dibedakan dengan mata

c. Tekstur Berdasarkan Bentuk Individu Kristal


Bentuk individu kristal pada batuan metamorf dapat dibedakan menjadi :
Euhedral, bila kristal dibatasi oleh bidang permukaan kristal itu sendiri
Subhedral, bila kristal dibatasi sebagian oleh bidang permukaannya sendiri dan sebagian oleh bidang
permukaan kristal disekitarnya.
Anhedral, bila kristal dibatasi seluruhnya oleh bidang permukaan kristal lain disekitarnya.
Pengertian bentuk kristal ini sama dengan yang dipergunakan pada batuan beku. Berdasarkan
bentuk kristal tersebut maka tekstur batuan metamorf dapat dibedakan menjadi :
Idioblastik, apabila mineralnya dibatasi oleh kristal berbentuk euhedral
Xenoblastik/Hypidioblastik, apabila mineralnya dibatasi oleh kristal berbentukanhedral

d. Tekstur Berdasarkan Bentuk Mineral


Berdasarkan bentuk mineralnya tekstur batuan metamorf dapat dibedakan menjadi :
Lepidoblastik, tekstur yang memperlihatkan susunan mineral saling sejajar dan berarah dengan
bentuk mineral pipih.
Nematoblastik, tekstur yang memperlihatkan adanya mineral-mineral prismatik yang sejajar dan
terarah.
Granoblastik, apabila mineral penyusunnya berbentuk granular, equidimensional, batas mineralnya
bersifat sutured (tidak teratur) dan umumnya kristalnya berbentuk anhedral.
Granuloblastik, apabila mineral penyusunnya berbentuk granular, equidimensional, batas
mineralnya bersifat unsutured(lebih teratur) dan umumnya kristalnya berbentuk anhedral.

Gambar 3.4. Tekstur batuan metamorf (Compton, 1985)


A. Tekstur Granoblastik, sebagian menunjukkan tekstur mosaik; B. Tekstur Granoblatikberbutir
iregular, dengan poikiloblast di kiri atas; C. Tekstur Skistose dengan porpiroblast euhedral;
D. Skistosity dengan domain granoblastik lentikuler; E. Tekstur Semiskistosedengan meta batupasir
di dalam matrik mika halus; F. Tekstur Semiskistose dengan klorit dan aktinolit di dalam masa dasar
blastoporfiritik metabasal; G. Granit milonit di dalam proto milonit; H. Ortomilonit di dalam
ultramilonit; I. Tekstur Granoblastik di dalam blastomilonit.
Selain tekstur yang telah disebutkan diatas terdapat beberapa tekstur khusus lainnya yang
umumnya akan tampak pada pengamatan petrografi, yaitu:
Porfiroblastik, apabila terdapat beberapa mineral yangh ukurannya lebih besar tersebut sering
disebut sebagai porphyroblasts
Poikiloblastik / Sieve Texture yaitu tekstur porfiroblastik dengan porphyroblaststampak melingkupi
beberapa kristal yang lebih kecil.
Mortar teksture,apabila fragmen mineral yang lebih besar terdapat pada massa dasar material yang
berasal dari kirstal yang sama yang terkena pemecahan (crushing).
Decussate texture yaitu tekstur kristaloblastik batuan polimeneralik yang tidak menunjukkan
keteraturan orientasi.
Sacaroidal texture yaitu tekstur yang kenampakannya seperti gula pasir.
Batuan
mineral
yang
hanya
terdiri
dari
satu
tekstur
saja,
sering
disebut
berteksturhomeoblastik, sedangkan batuan yang mempunyai lebih dari satu tekstur disebut
bertekstur heteroblastik.
3.3.2 Struktur
Struktur batuan metamorf adalah kenampakan batuan yang berdasarkan ukuran, bentuk atau
orientasi unit poligranular batuan tersebut (Jackson, 1970). Pembahasan mengenai struktur juga
meliputi susunan bagian massa batuan termasuk hubungan geometrik antar bagian serta bentuk dan
kenampakan internal bagian-bagian tersebut(Bucher & Frey, 1994).
Secara
umum
struktur
batuan
metamorf
dapat
dibedakan
menjadi
struktur foliasi dannonfoliasi.
3.3.2.1 Struktur Foliasi
Struktur foliasi merupakan kenampakan struktur planar pada suatu massa batuan(Bucher &
Frey, 1994).

Foliasi yaitu penglihatan berlapis atau berlembar pada permukaan batuan akibat orientasi
kesejajaran mineral penyusun batuannya.
Foliasi umumnya merupakan hasil metamorfose regional (pembahasan selanjutnya), jenis ini
secara visiula menampakkan kesan seperti lapisan pada batuan sedimen. Contoh batuannya
adalahSlaty, Phyllit, Schistose, Gneissic. Foliasi ini dapat terjadi karena adanya penjajaran
mineral-mineral menjadi lapisan-lapisan (gneissosity), orientasi butiran(schistosity), permukaan
belahan planar(cleavage) atau kombinasi dari ketiga hal tersebut (Jackson, 1970).Pembahasan
mengenai struktur foliasi juga meliputi susunan bagian massa batuan termasuk hubungan geometrik
antar bagian serta bentuk dan kenampakan internal bagian-bagian tersebut(Bucher & Frey, 1994).

Slaty Cleavage
Umumnya ditemukan pada batuan metamorf berbutir sangat halus (mikrokristalin) yang dicirikan
oleh adanya bidang-bidang belah planar yang sangat rapat, teratur dan sejajar. Batuannya
disebut Slate (batusabak).

Gambar 3.5 Slate (batu sabak)


Phylitic
Srtuktur ini hampir sama dengan struktur slaty cleavage tetapi terlihat rekristalisasi yang lebih
besar dan mulai terlihat pemisahan mineral pipih dengan mineral granular. Batuannya
disebut Phyllite (filit).

Gambar 3.6 Phylite (batu filit)


Schistosic
Terbentuk adanya susunan paralel mineral-mineral pipih, prismatic atau lentikular (umumnya mika
atau klorit) yang berukuran butir sedang sampai kasar. Batuannya disebut Schist (sekis).

Gambar 3.7 Schist (Batuskis)


Gneissic/Gnissose
Terbentuk oleh adanya perselingan, lapisan penjajaran mineral yang mempunyai bentuk berbeda,
umumnya antara mineral-mineral granuler (feldspar dan kuarsa) dengan mineralmineral tabular atau prismatic (mineral ferromagnesium). Penjajaran mineral ini umumnya tidak
menerus melainkan terputus-putus. Batuannya disebut Gneiss.

Gambar 3.8 Gneiss

Gambar 3.9. Struktur Batuan Metamorf


3.3.2.2 Struktur Non Foliasi
Struktur ini terbentuk oleh mineral-mineral equidimensional dan umumnya terdiri dari
butiran-butiran (granular). Struktur non foliasi yang umum dijumpai antara lain :
Hornfelsic/granulose
Terbentuk oleh mineral-mineral equidimensional dan equigranular dan umumnya berbentuk
polygonal. Batuannya disebut Hornfels (batutanduk).
Kataklastik

Berbentuk oleh pecahan/fragmen batuan atau mineral berukuran kasar dan umumnya membentuk
kenampakan breksiasi. Struktur kataklastik ini terjadi akibat metamorfosa kataklastik. Batuannya
disebut Cataclasite (kataklasit).
Milonitic
Dihasilkan oleh adanya penggerusan mekanik pada metamorfosa kataklastik. Ciri struktur ini adalah
mineralnya berbutir halus, menunjukkan kenampakan goresan-goresan searah dan belum terjadi
rekristalisasi mineral-mineral primer. Batuannya disebut Mylonite (milonit).
Phylonitic
Mempunyai kenampakan yang sama dengan struktur milonitik tetapi umumnya telah terjadi
rekristalisasi. Ciri lainnya adlah kenampakan kilap sutera pada batuan yang ,mempunyai struktur
ini. Batuannya disebut Phyllonite (filonit).
Flaser
Sama dengan struktur kataklastik, namun struktur batuan asal berbentuk lensa yang tertanam pada
masa dasar milonit.
Augen
Sama dengan struktur flaser, hanya lensa-lensanya terdiri dari butir-butir felspar dalam masa dasar
yang lebih halus.
Granulose
Sama dengan hornfelsik, hanya butirannya mempunyai ukuran beragam.
Liniasi
Struktur yang memperlihatkan adanya mineral yang berbentuk jarus atau fibrous.

Gambar 3.10. Berbagai struktur pada migmatit dengan leukosom


(warna terang) (Compton, 1985).
3.3.3. Komposisi Mineral Batuan Metamorf
Mineral-mineral yang terdapat pada batuan metamorf dapat berupa mineral yang berasal dari
batuan asalnya maupun dari mineral baru yang terbentuk akibat proses metamorfisme sehingga
dapat digolongkan menjadi 3,yaitu :
a. Mineral yang umumnya terdapat pada batuan beku dan batuan metamorf seperti kuarsa, felspar,
muskovit, biotit, hornblende, piroksen, olivin dan bijih besi.

b. Mineral yang umumnya terdapat pada batuan sedimen dan batuan metamorf seperti kuarsa,
muskovit, mineral-mineral lempung, kalsit dan dolomit.
c. Mineral indeks batuan metamorf seperti garnet, andalusit, kianit, silimanit, stautolit, kordierit,
epidot dan klorit.
Proses pertumbuhan mineral saat terjadinya metamorfosa pada fase padat dapat dibedakan
menjadi secretionary growth, concentrionary growth dan replacement(Ramberg, 1952 dalam
Jackson, 1970). Secretionary growth merupakan pertumbuhan kristal hasil reaksi kima fluida yang
terdapat pada batuan yang terbentuk akibat adanya tekanan pada batuan tersebut. Concentrionary
growth adalah proses pendesakan kristal oleh kristal lainnya untuk membuat ruang pertumbuhan.
Sedangkan replacementmerupakan proses penggantian mineral lama oleh mineral baru.
Kemampuan mineral untuk membuat ruang bagi pertumbuhannya tidak sama satu dengan
yang lainnya. Hal ini dapat ditunjukkan dengan oleh percobaan Becke, 1904 (Jackson, 1970).
Percobaan ini menghasilkan Seri Kristaloblastik yang menunjukkan bahwa mineral pada seri yang
tinggi akan lebih mudah membuat ruang pertumbuhan dengan mendesak mineral pada seri yang
lebih rendah. Mineral dengan kekuatan kristaloblastik tinggi umumnya besar dan euhedral.
Tekanan merupakan faktor yang mempengaruhi stabilitas mineral pada batuan
metamorf (Huang, 1962). Dalam hal ini dikenal dua golongan mineral yaitu stress
mineraldan antistress mineral. Stress mineral merupakan mineral yang kisaran stabilitasnya akan
semakin besar bila terkena tekanan atau dengan kata lain merupakan mineral yang tahan terhadap
tekanan. Mineral-mineral tersebut umumnya merupakan penciri batuan yang terkena deformasi
sangat kuat. seperti sekis. Contoh stress mineral antara lain kloritoid, stauroilit dan kianit.
Sedangkan anti stress mineral adalah mineral yang kisaran stabilitasnya akan menurun pada kondisi
tekanan yang sama. Mineral ini tidak tahan terhadap tekanan tinggi sehingga tidak pernah
ditemukan pada batuan yang terdeformasi kuat. Contoh mineralnya antara lain andalusit, kordierit,
augit, hypersten, olivin, potasium felspar dan anortit.
Pertumbuhan dari mineral-mineral baru atau rekristalisasi dari mineral yang ada sebelumnya
sebagai akibat perubahan tekanan dan atau temperatur menghasilkan pembentukan kristal lain
yang baik, sedang atau perkembangan sisi muka yang jelek. Kristal ini dinamakan idioblastik,
hypidioblastik, atau xenoblastik.
Pada tingkat metamorfisme yang lebih tinggi, kristal tampak tanpa lensa. Disini biasanya kita
menjumpai
mineral-mineral
yang
pipih
dan
memanjang
yang
terorientasi
kuat
membentuk skistosity yang menyolok. Batuan ini dinamakan schist, masih bisa dibelah menjadi
lembaran-lembaran.
Tabel 3.1. Ciri-ciri fisik mineral-mineral penyusun batuan metamorf (Gillen, 1982)

Setelah kita menentukan batuan asal mula metamorf, kita harus menamakan batuan
tersebut. Sayangnya prosedur penamaan batuan metamorf tidak sistematik seperti pada batuan
beku dan sedimen. Nama-nama batuan metamorf terutama didasarkan pada kenampakan tekstur
dan struktur. Nama yang umum sering dimodifikasi oleh awalan yang menunjukkan kenampakan
nyata atau aspek penting dari tekstur (contoh gneis augen), satu atau lebih mineral yang ada
(contoh skis klorit), atau nama dari batuan beku yang mempunyai komposisi sama (contoh gneis
granit). Beberapa nama batuan yang didasarkan pada dominasi mineral (contoh metakuarsit) atau
berhubungan dengan facies metamorfik yang dipunyai batuan (contoh granulit).
Metamorfisme regional dari batulumpur melibatkan perubahan keduanya baik tekanan dan
temperatur secara awal menghasilkan rekristalisasi dan modifikasi dari mineral lempung yang ada.
Ukuran butiran secara mikroskopik tetap, tetapi arah yang baru dari orientasi mungkin dapat
berkembang sebagai hasil dari gaya stres. Resultan batuan berbutir halus yang mempunyai belahan
batuan yang baik sekali dinamakan slate. Bilamana metamorfisme berlanjut sering menghasilkan
orientasi dari mineral-mineral pipih pada batuan dan penambahan ukuran butir dari klorit dan
mika. Hasil dari batuan yang berbutir halus ini dinamakan phylit, sama seperti slate tetapi
mempunyai kilap sutera pada belahan permukaannya. Pengujian dengan menggunakan lensa tangan
secara teliti kadangkala memperlihatkan pecahan porpiroblast yang kecil licin mencerminkan
permukaan belahannya.
Umumnya berkembang porpiroblast, hal ini sering dapat diidentikkan dengan sifat khas
mineral metamorfik seperti garnet, staurolit, atau kordierit. Masih pada metamorfisme tingkat
tinggi disini skistosity menjadi kurang jelas, batuan terdiri dari kumpulan butiran sedang sampai
kasar dari tekstur dan mineralogi yang berbeda menunjukkan tekstur gnessik dan batuannya
dinamakan gneis. Kumpulan yang terdiri dari lapisan yang relatif kaya kuarsa dan feldspar,
kemungkinan kumpulan tersebut terdiri dari mineral yang mengandung feromagnesium (mika,
piroksin, dan ampibol).
Komposisi mineralogi sering sama dengan batuan beku, tetapi tekstur gnessik biasanya
menunjukkan asal metamorfisme, dalam kumpulan yang cukup orientasi sering ada. Penambahan
metamorfisme dapat mengubah gneis menjadi migmatit. Dalam kasus ini, kumpulan berwarna
terang menyerupai batuan beku tertentu, dan perlapisan kaya feromagnesium mempunyai aspek
metamorfik tertentu.
Jenis batuan metamorf lain penamaannya hanya berdasarkan pada komposisi mineral,
seperti:
Marmer, disusun hampir semuanya dari kalsit atau dolomit; secara tipikal bertekstur granoblastik.
Kuarsit, adalah batuan metamorfik bertekstur granobastik dengan komposisi utama adalah kuarsa,
dibentuk oleh rekristalisasi dari batupasir atau chert/rijang.
Amphibolit, batuan yang berbutir sedang sampai kasar komposisi utamanya adalah ampibol
(biasanya hornblende) dan plagioklas.
Eclogit, batuan yang berbutir sedang komposisi utama adalah piroksin klino ompasit tanpa
plagioklas felspar (sodium dan diopsit kaya alumina) dan garnet kaya pyrop.Eclogit mempunyai
komposisi kimia seperti basal, tetapi mengandung fase yang lebih berat. Beberapa eclogit berasal
dari batuan beku.
Granulit, batuan yang berbutir merata terdiri dari mineral (terutama kuarsa, felspar, sedikit
garnet dan piroksin) mempunyai tekstur granoblastik. Perkembangan struktur gnessiknya lemah
mungkin terdiri dari lensa-lensa datar kuarsa dan/atau felspar.
Hornfels, berbutir halus, batuan metamorfisme thermal terdiri dari butiran-butiran yang
equidimensional dalam orientasi acak. Beberapa porphiroblast atau sisa fenokris mungkin ada.
Butiran-butiran kasar yang sama disebut granofels.

Milonit, cerat berbutir halus atau kumpulan batuan yang dihasilkan oleh pembutiran atau aliran
dari batuan yang lebih kasar. Batuan mungkin menjadi protomilonit, milonit, atau ultramilomit,
tergantung atas jumlah dari fragmen yang tersisa. Bilamana batuan mempunyai skistosity dengan
kilap permukaan sutera, rekristralisasi mika, batuannya disebut philonit.
Serpentinit, batuan yang hampir seluruhnya terdiri dari mineral-mineral dari kelompok serpentin.
Mineral asesori meliputi klorit, talk, dan karbonat. Serpentinit dihasilkan dari alterasi mineral
silikat feromagnesium yang terlebih dahulu ada, seperti olivin dan piroksen.
Skarn, marmer yang tidak bersih/kotor yang mengandung kristal dari mineral kapur-silikat seperti
garnet, epidot, dan sebagainya. Skarn terjadi karena perubahan komposisi batuan penutup (country
rock) pada kontak batuan beku.

Diposkan oleh hamzah iya di 10.10


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:


Poskan Komentar
Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)
Arsip Blog

2013 (4)
September (4)
Petrologi BAB IV
Petrologi BAB III
Petrologi BAB II
Petrologi BAB I

Mengenai Saya

hamzah iya
Lihat profil lengkapku
Template Simple. Diberdayakan oleh Blogger.

GEOFISIKA
JUMAT, 23 MARET 2012

BATUAN METAMORF
Batuan metamorfosa juga disebut sebagai batuan malihan, demikian pula dengan
prosesnya. Proses metamorfisme atau malihan merupakan perubahan himpunan
mineral dan tekstur batuan, namun dibedakan dengan proses diagenesa (bab 5) dan
proses pelapukan yang juga merupakan proses perubahan. Proses metamorfosa
berlangsung akibat perubahan suhu dan tekanan yang tinggi, di atas 2000 C dan 300
Mpa, dan dalam keadaan padat. Sedangkan proses diagenesa berlangsung pada suhu
di bawah 2000 C dan proses pelapukan pada suhu dan tekanan jauh di bawahnya,
dalam lingkungan atmasfir (bab 10). Proses metamorfosa dapat didefinisikan sebagai
berikut: Perubahan himpunan mineral dan tekstur batuan dalam keadaan (fasa) padat
(solid state) pada suhu di atas 2000 C dan tekanan 300 MPa.
Pembentukan batuan metamorf sangat kompleks, akibat bergeraknya lempeng-lempeng
tektonik dan tumbukan fragmen-fragmen kerak (Bab 14), batuan terkoyak, tertarik
(extended), terlipat. terpanaskan dan berubah. Oleh karena perubahannya dalam
keadaan padat, umumnya jejak-jejak bentuk awalnya masih dapat dikenali, meskipun
telah mengalami perubahan lebih dari sekali. Batuan metamorf paling menarik di antara
batuan lainnya, karena di dalamnya tersimpan cerita semua yang telah terjadi pada
kerak bumi. Saat lempeng tektonik bertumbukan terbentuklah batuan metamorf tertentu
sepanjang batas 1empeng. Dengan mempela1arinYa. dapat diketahui di mana batas
benua sebelumnya, serta telah berapa lama tektonik berlangsung.
6.1. Batas Metamorfisme
Sudah dibahas sebelumnya bahwa metamorfisme tidak sama dengan diagenesa atau
pelapukan, karena keduanya pada kondisi di bawah metamorfisme. Namun bagaimana
dengan batas atasnya, sebab pada suhu tinggi tertentu batuan akan meleleh,
sedangkan metamorfisme berlangsung dalam keadaan padat. Tidak berubah melalui
lelehan seperti halnya batuan beku.
Meskipun sedikit, umumnya dalam batuan di kerak bumi mengandung H2O, dalam poripori atau film tipis sekitar butiran. Batas atas metamorfisme pada kerak ditentukan oleh
batas lelehan parsia1 basah (onset of wet partial melting), seperti tertera da1am Gb.
6.1. H2O yang ada mengontrol suhu dimana lelehan parsial basah mulai dan berapa
banyak magma terbentuk dari batuan metamorf. Batas atas metamorfisme adalah
kisaran suhu yang bergantung pada banyaknya H2O yang ada. Gb. 7. 1
memperlihatkan bahwa batas atas metamorfisme tumpang tindih dengan daerah suhu
dan tekanan dimana magmatisme mulai. Bila terdapat sejumlah kecil H2O maka lelehan
yang terjadi pun sedikit dan tetap terperangkap sebagai kantong (pocket) dalam batuan
metamorf.

Sekelompok batuan gabungan, sedikit komponen batuan beku akibat lelehan dan
batuan metamorf dinamakan magmatik. Bila terjadi sejumlah besar magma karena
lelehan parsial basah, akan naik dan menerobos batuan metamorf di atasnya. Magma
yang naik akan membeku sebagai batuan intrusi, umumnya membentuk batolit granit,
berasosiasi dengan batuan metamorf. Asosiasi batuan ini terbentuk pada sepanjang
jalur penunjaman atau tumbukan lempeng.
6.2. Pengontrol Metamorfisme
Proses ini dapat dibayangkan sebagai orang memasak. Hasil masakannya sesuai
dengan bahan yang dimasak dan cara memasaknya. Demikian pula dengan batuan,
hasilnya tergantung dari komposisi batuan asal dan kondisi metamorfosis. Komposisi
kimia batuan asal sangat mempengaruhi pembentukan himpunan mineral baru,
demikian pula dengan suhu dan tekanan. Suhu dan tekanan tidaklah berperanlangsung, akan tetapi juga ada-tidaknya cairan serta lamanya mengalami panas dan
tekanan yang tinggi, dan bagaimana tekanannya, searah, terpuntir dsb.
6.2.1. Pengaruh Cairan terhadap Reaksi Kimia
Pori-pori pada batuan sedimen atau batuan beku terisi oleh cairan, yang merupakan
larutan dari gas-gas, garam dan mineral yang terdapat pada batuan yang bersangkutan.
Pada suhu tinggi cairan intergranular ini lebih bersifat uap dari pada cair, yang
mempunyai peran penting dalam metamorfisme. Di bawah suhu dan tekanan yang
tinggi terjadi pertukaran unsur dari larutan ke mineral-mineral dan sebaliknya. Fungsi
cairan ini merupakan media transport dari larutan ke mineral dan sebaliknya, sehingga
mempercepat metamorfisme. Dan jika tidak ada larutan atau sedikit sekali, maka
metamorfisme berlangsung lambat, karena perpindahannya melalui difusi antar mineral
yang padat.
6.2.2. Suhu dan Tekanan
Batuan apabila dipanaskan akan membentuk mineral-mineral baru, yang hasil akhirnya
adalah batuan metamorf. Sumber panasnya berasal dari panas dalam bumi. Batuan
dapat terpanaskan oleh timbunan (burial) atau oleh terobosan batuan beku. Tetapi
timbunan atau terobosan dapat menimbulkan perubaban tekanan sehingga sukar
dikatakan bahwa metamorfisme hanya disebabkan oleh kenaikan suhu saja.
Tekanan dalam proses metamorfisme bersifat sebagai stress, mempunyai besaran serta
arah. Tekstur batuan metamorf memperlihatkan bahwa batuan ini terbentuk dibawah
differential stress, atau tidak sama besar dari segala arah. Berbeda dengan batuan beku
yang terbentuk melalui lelehan dan dibawah pengaruh uniform stress, atau mempunyai
besaran yang sama dari semua arah. Oleh karena itu batuan beku memperlihatkan
orientsi mineral yang tidak beraturan.

Gambar 6.2 memperlihatkan perbedaan tekstur yang diakibatkan oleh perbedaan


stress. Letak mineral biotit dalam granit tidak beraturan (A), sedangkan dalam batuan
metamorf memperlihatkan kesejajaran yang tegak lurus arah stress terbesar.
6.2.3. Waktu
Untuk mengetahui berapa lama berlangsungnya metamorfisme tidak mudah dan sampai
saat ini masih belum diketahui bagaimana caranya. Dalam percobaan di laboratorium
memperlihatkan bahwa di bawah tekanan dan suhu tinggi serta waktu reaksi yang lama
menghasilkan kristal yang besar. Dan dalam kondisi sebaliknya, dihasilkan kristal yang
kecil. Dengan demikian untuk sementara ini disimpulkan bahwa batuan berbutir kasar
merupakan hasil metamorfisme dalam waktu yang panjang serta suhu dan tekanan

tinggi. Sebaliknya yang berbutir halus, waktunya pendek serta suhu dan tekanan
rendah.
6.2.4. Pengaruh Perubahan Suhu dan Tekanan terhadap Metamorfisme
1. Tekstur
Pada umumnya metamorfisme berlangsung di bawah differential stress dan hasilnya
adalah tekstur yang sejajar. Apabila prosesnya terus berlangsung, mineral-mineral pipih
misalnya mika dan khlorit mulai berkembang dan tumbuh berorientasi, yang lembaranlembarannya berarah tegak lurus stress maksimum. Lembaran-lembaran mika baru
yang sejajar ini membentuk tekstur planar yang disebut foliasi (foliation), berasal kata
folium (bahasa Latin) yang berarti daun. Batuan yang berfoliasi cenderung mudah pecah
sebagai lembar-lembar.
2. Slaty Cleavage

Pada tahap awal metamorfisme derajat rendah, stress cenderung disebabkan oleh
lapisan batuan di atasnya. Mineral-mineral baru yang bertekstur berlembar, foliasi,
cenderung sejajar dengan bidang-bidang perlapisan dari batuan sedimen yang
termetamorf. Pada penimbunan lebih dalam atau adanya kompresi dari tumbukan
lempeng terjadi deformasi, lembaran-lembaran mineral yang semula datar terlipat,
minenal pipih dan foliasi tidak lagi sejajar dengan bidang perlapisan (Gambar 7-3).
Batuan metamorf derajat rendah umumnya mempunyai besar butir sangat halus,
sehingga mineral-mineral pipihnya hanya dapat dilihat di bawah mikroskop. Dan
foliasinya disebut slaty cleavage, yang dapat diartikan belahan-belahan tipis. Batuan
metamorf derajat rendah cenderung untuk pecah-pecah menurut belahan-belahan ini.
3. Schistositas
Pada metamorfisme derajat menengah dan derajat tinggi, besar butir mineralmineralnya berkembang sehingga batuannya dapat dilihat tanpa alat. Foliasi batuan
metamorf berbutir kasar disebut schistositas (schistosity) yang terbentuk akibat
kesejajaran butiran mineral-mineral besar serta pipih dan tidak perlu planar. Dibedakan
dengan slaty cleavage terutama dari besar butirannya. Batuan yang bertekstur schistose
cenderung akan membelah menurut bidang yang bergelombang.
4. Himpunan mineral
Metamorfisme menghasilkan himpunan mineral baru sebagaimana dengan tekstur.
Dengan meningkatnya suhu dan tekanan tumbuhlah satu himpunan dan disusul yang
lainnya. Suatu himpunan mineral merupakan karakteristik pada kisaran suhu dan
tekanan tertentu. Beberapa mineral tidak dijumpai pada batuan beku atau sedimen,
hanya terjadi atas pengaruh metamorfisme, diantaranya mineral chlorite, serpentine,
epidotic, talc dan tiga polymorf Al2SiO5, cyanic, silimanit, dan andalusit.
6.3. Jenis Batuan Metamorf
Penamaan batuan metamorf dapat didasarkan pada tekstur dan juga himpunan
mineralnya. Yang sering dan umum dipergunakan berdasarkan batuan asalnya dan
yang umum dijuampai, lanau (shale), batupasir dan batugamping untuk batuan sedimen
dan basalt untuk batuan beku.
6.3.1. Dari Lanau dan Mudstone
1. Serpih (slate)
Baik lanau maupun mudstone umumnya terdiri atas mineral kuarsa, berbagai mineral
lempung, kalsit dan mungkin juga feldspar. Metamorfisme derajat rendah
menjadikannya serpih atau slate. Pada kondisi ini muscovite dan chlorite mengkristal.
Meskipun kenampakannya masih seperti lanau atau mudstone, tetapi mineral-mineral

baru yang tumbuh pipih bentuknya, membuat batuan bertekstur slaty cleavage.
Adanya tekstur ini membuktikan bahwa batuan asalnya telah termetamorfosa.
2. Filit (phyllite)
Peningkatan metamorfosa pada serpih ke derajat menengah, menghasilkan mineral
mika berbutir lebih besar dan perubahan himpunan mineral serta membentuk foliasi.
Batuannya disebut filit, berasal dari kata phyllon yang berarti daun.
Pada serpih butir mika yang tumbuh tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, tetapi
pada filit cukup besar sehingga dapat dilihat.
3. Sekis (schist) dan Gneiss
Apabila metamorfisme berlangsung terus maka terbentuklah batuan berbutir kasar yang
dinamakan sekis. Serpih, filit dan sekis dapat dibedakan dari besar butirnya, namun
besar butir bukanlah satu-satunya faktor pembeda. Ciri metamorfisme derajat tinggi
pada sekis, mineral-mineral mulai segregasi (pengelompokan semacam mineral
diantara yang lainnya) dan membentuk lajur-lajur. Batuan metamorf derajat tinggi
berbutir kasar dan berfoliasi tetapi disertai lapisan-lapisan segregasi mineral-mineral,
seperti kuarsa dan felspar, dan dinamakan gneiss. Oleh karena besar butirannya dapat
dilihat maka kelompok batuan ini diberi nama dengan diawali nama mineral-mineral
utamanya, misalnya kuarsa-plagioklas-biotit-garnet gneiss. Tidak demikian halnya
dengan sekis dan filit, berhubung mineralnya berbutir halus.
6.3.2. Dari Basalt
1. Sekis hijau (green schist)
Mineral utama dalam basalt adalah olivine, plagioklas dan piroksin. Kesemuanya
bersifat anhidrous. Bila basalt mengalami metamorfisme dimana H2O dapat masuk
dalam batuan, maka terbentuklah himpunan mineral-mineral yang hidrous. Pada derajat
rendah, terbentuklah himpunan mineral seperti khlorit, plagioklas, epidotic dan kalsit.
Kenampakannya seperti serpih (slate), akan tetapi berfoliasi seperti filit dan mempunyai
warna yang khas (hijau), karena mengandung khlorit dan dinamakan skis hijau.
2. Amfibolit dan granit (amphibolites and granite)
Apabila sekis hijau sampai pada metamorfosa derajat menengah, khlorit digantikan oleh
amfibol dan umumnya berbutir kasar dan disebut amfibolit. Pada amfibolit terdapat juga
foliasi, tetapi diabaikan karena pada umumnya tidak ada mineral-mineral mika dan
khlorit Pada derajat lebih tinggi, amfibol digantikan piroksin, dan batuannya berfoliasi,
dinamakan granulit.

6.4. Klasifikasi Metamorfisme


Berdasarkan kenampakan hasil metamorfisme pada batuan, prosesnya dapat
dikelompokkan menjadi deformasi mekanik (mechanical deformation) dan rekristalisasi
kimia (chemical recrystalisation). Deformasi mekanik menghancurkan, menggerus dan
membentuk foliasi. Rekristalisasi kimia merupakan proses perubahan komposisi mineral
serta pembentukan mineral-mineral baru, dimana H2O dan CO2 terlepas akibat
kenaikan suhu.
6.4.1. Metamorfisme Kataktastik (Cataclastic Metamorphism)
Kadang-kadang deformasi mekanik pada metamorfisme dapat berlangsung tanpa
disertai rekristalisasi kimia. Meskipun hal ini jarang terjadi namun apabila terjadi, sifatnya
hanya setempat-setempat saja. Misalnya batuan berbutir kasar, granit, jika mengalami
deferential stress yang kuat, butiran mineralnya hancur dan juga menjadi halus.
Deformasi ini terjadi pada batuan yang bersifat regas (brittle) dan dinamakan
metamorfisme kataktastik. Apabila metamorfisme berlanjut maka butiran dan fragmen
batuan akan menjadi lonjong (elongated).

6.4.2. Metamorfisme Kontak (Contact metamorphism)


Metamorfisme kontak terjadi akibat intrusi tubuh magma panas pada batuan yang dingin
dalam kerak bumi. Akibat kenaikan suhu, maka rekristalisasi kimia memegang peran
utama. Sedangkan deformasi mekanik sangat kecil, bahkan tidak ada, karena stress di
sekitar magma relatif homogen. Batuan yang terkena intrusi mengalami pemanasan dan
termetamorfosa, membentuk satu lapisan di sekitar terobosan yang dinamakan aureole
metamorphic, batuan ubahan. Tebal lapisan batuan ubahan pada metamorfisme kontak
tergantung pada besarnya tubuh intrusi dan kandungan H2O di dalam batuan yang
diterobos. Misalnya pada korok atau sill lapisannya hanya beberapa meter, tetapi tanpa
H2O hanya beberapa centimeter lebarnya. Batuan metamorf kontak yang terjadi, keras
terdiri dari mineral berbutir seragam dan halus yang saling mengunci (interlocking),
dinamakan Hornfels.
Pada terobosan besar, bergaris. tengah sampai ribuan meter mempunyai energi panas
jauh lebih besar dari pada terobosan kecil, dan dapat mengandung banyak uap H2O.
Aureole yang terbentuk dapat sampai ratusan meter lebarnya dan berbutir kasar. Di
dalam aureole metamorf lebar ini yang telah dilalui cairan, terjadi zonasi himpunan
mineral yang konsentris. Zona himpunan mineral ini mencirikan kisaran suhu tertentu.
Dekat dengan terobosan, dimana suhu sangat tinggi, dijumpai mineral-mineral
anhidrous, garnet dan piroksin. Kemudian dijumpai mineral-mineral hidrous seperti
amfibol dan epidot Selanjutnya mineral-mineral mika dan khlorit (Gambar 6.4). Zonasi
himpunan-himpunan mineral tersebut tentunya tergantung pada komposisi kimia batuan
yang diterobos, cairan yang melaluinya serta suhu dan tekanan.
6.4.3. Metamorfisme Timbunan (Burial metamorphism)
Sedimen bersama perselingan piroklastik yang tertimbun sangat dalam di cekungan
dapat mencapai suhu 3000 atau lebih. Adanya H2O yang terperangkap dalam porinporin sedimen mempecepat proses rekristalisasi kimia dan membantu pembentukan
mineral-mineral baru. Oleh karena sedimen yang mengandung air lebih bersifat cair dari
pada padat, maka tegasan (stress) yang bekerja lebih bersifat homogen, bukan
deferensial. Akibatnya pada, metamorfisme timbunan pengaruh deformasi mekanik kecil
sekali sehingga teksturnya mirip dengan batuan asalnya, meskipun himpunan
mineralnya sama sekali berbeda.
Ciri khas untuk metamorfisme ini adalah kelompok mineral zeolit, yang merupakan
kelompok mineral berstruktur kristal polymer silikat. Komposisi kimianya sama dengan
kelompok feldspar, yang juga mengandung H2O. Metamorfisme timbunan merupakan
tahap pertama setelah digenesis, terjadi pada cekungan sedimen yang dalam, seperti
palung-palung pada batas lempeng. Apabila suhu dan tekanan naik, maka
metamorfisme timbunan meningkat menjadi metamorfisme regional.

6.4.4. Metamorfisme Regional


Batuan metamorf yang umum dijumpai pada kerak benua dengan penyebaran yang
sangat luas, sampai puluhan ribu kilometer persegi, dibentuk oleh proses metamorfisme
regional. Pada metamorfisme ini melibatkan juga deformasi mekanik selain rekristalisasi
kimia. Oleh karena itu batuannya memperlihatkan foliasi.
Batuan metamorf regional pada umumnya dijumpai pada deretan pegunungan atau
yang sudah tererosi, berupa slate, filit, sekis dan gneiss. Deretan pegunungan dengan
batuan metamorf regional terbentuk akibat subduksi atau tumbukan (collision) kerak
benua. Pada saat tumbukan benua, batuan sedimen sepanjang batas lempeng
mengalami deferensial stress yang intensif. Dan mengakibatkan foliasi yang khas pada
slate, sekis, dan gneiss.

Sekis hijau dan amfibolit juga merupakan hasil metamorfisme regional, umumnya
dijumpai dimana segmen kerak samudra purba yang berkomposisi basaltis bersatu
dengan kerak benua dan kemudian termetamorfosa.

Gambar 7.5 menjelaskan bagaimana terjadinya metamorfisme regional. Saat satu


segmen kerak mengalami stress kompresi horizontal, batuan dalam kerak terlipat dan
melengkung (buckling). Akibatnya kerak akan menebal pada satu tempat, seperti
diperlihatkan pada gambar 6.5. Dasar kerak yang menebal akan terdorong lebih ke
dalam selubung. Akibatnya bagian dasar kerak tersebut mengalami peningkatan suhu
dan tekanan, dan mineral-mineral baru mulai tumbuh. Aliran panas dari dasar ke atas
sangat lambat karena batuan bukan penghantar panas yang baik. Pencapaian panas
sangat bergantung pada kedalaman dan waktu batuan terbenam dalam timbunan yang
menebal. Bila perlipatan dan penebalan berlangsung sangat lambat, pemanasan
timbunan berangsur setelah bagian batas kerak dan mantel. Sedangkan jika
penimbunan berlangsung sangat cepat, seperti halnya pada daerah subduksi, sedimen
tertarik ke bawah, timbunan sedimen tidak sempat mengalami pemanasan, sehingga
peran tekanan lebih besar dibandingkan dengan suhu. Berdasarkan kecepatan
penimbunan, dari batuan yang sama, dapat terjadi dua batuan metamorf yang berbeda,
karena perbedaan suhu dan tekanan yang mempengaruhinya.
6.4.5. Zona Metamorfisme
Derajat metamorfisme dicirikan oleh himpunan mineral baru yang tumbuh pada kondisi
tertentu (derajat rendah, menengah dan tinggi). Mineral-mineral tersebut dinamakan
mineral indeks, umumnya adalah khlorit, biotit, garnet, staurolit, kyanit, dan silimanit
Garis yang menghubungkan lokasi-lokasi di awal pemunculan mineral indeks
dinamakan garis isograde. Dan daerah di antara garis isograde dinamakan zona
metamorfisme, misalnya zona biotit dan sebagainya.
6.5.

Fasies Metamorfisme

Hasil pengamatan batuan metamorf di berbagai tempat di bumi memperlihatkan bahwa


komposisi kimia batuan metamorf hanya sedikit terubah oleh proses metamorfisme.
Perubahan utama yang terjadi adalah bertambah atau berkurangnya volatile, H2O dan
CO2, tetapi bahan utamanya, SiO2, Al2O3 dan CaO tidak berubah. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa himpunan mineral batuan metamorf dari batuan sedimen atau
batuan beku ditentukan oleh suhu dan tekanan saat metamorfisme berlangsung.
Berdasarkan kesimpulan ini, Pennti Eskola dari Finlandia (1915), mengusulkan konsep
fasies metamorfisme, yang intinya menyatakan bahwa dan komposisi batuan tertentu,
himpunan mineral yang mencapai keseimbangan selama metamorfisme di bawah
kisaran kondisi fisik tertentu, termasuk dalam fasies metamorfisme yang sama.
Prinsip fasies metamorfisme, bersamaan dengan gradient geothermal dan kondisi
geologi diperlihatkan dalam gambar 6.6.
6.6. Metasomatisme
Proses metamorfisme berkaitan dengan komposisi tetap dan sejumlah cairan yang
relatif sedikit. Sedikitnya cairan disebabkan volume pori-pori batuan yang termetamorf
kecil, dan pelepasan H2O dan CO2 dan mineral-mineral yang termetamorf berlangsung
lambat dibandingkan keluar dengan segera. Oleh karena itu hanya cukup untuk proses
metamorf, dan tidak cukup untuk melarutkan dan mengubah komposisi batuan.
Pada kondisi tertentu perbandingan air dan batuan dapat besar, 10 : 1 bahkan sampai

100 : 1, misalnya mengalirnya cairan yang banyak melalui rekahan terbuka pada
batuan. Batuannya dapat terubah (altered) secara drastis oleh penambahan ion-ion
baru, melarutkan batuan atau kedua-duanya.
Proses dimana komposisi kimia batuan terubah oleh penambahan atau pelepasan
(removal) ion-ion dinamakan metasomatisme (meta berarti berubah dan soma, dari
bahasa Latin yang berarti juice). Biasanya metasomatisme berasosiasi dengan
metamorfosa kontak, terutama dengan batugamping (Gambar 7.4). Cairan
metasomatisme yang dilepaskan magma yang mendingin, menembus batuan yang
termetamorf. Karena boleh jadi cairannya membawa bahan-bahan seperti silikat, besi,
dan magnesium dalam larutan, komposisi batugamping yang dekat dengan magma
yang mendingin dapat terubah dengan drastis, dan yang di luar jangkauan cairan tidak
terubah. Tanpa adanya penambahan material, batugamping menjadi marmer, tetapi
akibat metasomatisme berubah menjadi himpunan garnet, piroksin hijau, dinamakan
diopsit dan kalsit.
6.7. Larutan Hidrotermal dan Cebakan Mineral
Cairan yang menyebabkan metasomatisme kaya akan H2O dan bersuhu 25000C atau
lebih dan dinamakan larutan hidrotermal (dari bahasa Yunani, hydro = air dan thermal =
panas). Larutan hidrotermal membentuk urat-urat (vein's) dengan mengendapkan bahan
yang terlarut seperti kuarsa atau kalsit dalam rekahan-rekahan yang dialirinya. Selain itu
dapat juga menghasilkan ubahan pada batuan yang dialirinya. Larutan hidrotermal
mempunyai peranan penting dalam pembentukan cebakan mineral berharga dengan
membentuk urat-urat dan alterasi batuan. Cebakan mineral berharga hasil larutan
hidrotermal lebih banyak dijumpai dari pada tipe lainnya.
Komposisi utama larutan hidrotermal adalah air. Dalam airnya selalu mengandung
garam-garam, sodium khlorida, potasium khlorida, kalsium sulfat, dan kalsium khlorida.
Kadar garam terlarut bervariasi, berkisar dari salinitas air laut, 3,5 persen berat sampai
puluhan kalinya. Larutan yang sangat asin (brine) dapat melarutkan sedikit mineralmineral yang tampaknya tidak larut, seperti emas, khalkopirit, galena dan sfalerit.
Larutan hidroterma1 terjadi dalam beberapa cara, salah satunya adalah saat magma
yang terjadi oleh peleburan parsial basah yang mendingin dan mengkristal, air yang
menyebabkan peleburan parsial basah dilepaskan. Namun tidak sebagai air murni, tapi
mengandung semua unsur yang dapat larut dalam magma, seperti NaCl, dan unsurunsur kimia, emas, perak, tembaga, timbal, seng, merkuri dan molybdenum, yang tidak
terikat kuarsa, feldspar, dan mineral lain dengan substitusi ion.
Suhu yang tinggi meningkatkan efektivitas larutan sangat asin ini untuk membentuk
endapan mineral hidrotermal.
Volkanisme dan panas merupakan satu kesatuan. Oleh karena itu wajar bila banyak
endapan mineral berasosiasi dengan batuan volkanik panas yang dimasuki air yang
bersirkulasi di kedalaman, yang berasal dari air hujan atan air lauL Banyak sekali
endapan mineral dijumpai pada bagian atas tumpukan volkanik, yang diendapkan saat
larutan hidrotermal yang bergerak naik, mendingin dan mengendapkan mineral bijih.
6.8. Tektonik Lempeng, Metamorfisme, Metasomatisme
Metamorfisme regional terjadi pada batas subduksi lempeng, seperti terlihat pada
Gambar 6.7. Metamorfisme timbunan (burial metamorphism) terjadi pada bagian bawah
tumpukan tebal sedimen yang terakumulasi pada paparan benua (continental shelf) dan
lereng benua (continental slope).
Suhu dan tekanan karakteristik untuk fasies metamorfosis sekis biru dan eklogit tercapai
saat batuan kerak tertarik ke bawah dengan cepat oleh lempeng yang menunjam. Pada
kondisi demikian tekanan naik lebih cepat dibandingkan dengan suhu dan hasilnya
adalah batuan metamorf tekanan tinggi - suhu rendah, fasies metamorf sekis biru dan

eklogit. Kondisi karakteristik fasies metamorf sekis hijau dan amfibolit terdapat dimana
kerak menebal akibat tumbukan benua atau pemanasan oleh magma yang naik.
Tumbukan benua umumnya merupakan penyebab metamorfisme regional dan aktivitas
magma.

Magma yang menghasilkan gunungapi strato terjadi oleh peleburan parsial basah kerak
samudra yang menunjam. Magma juga merupakan sumber panas untuk larutan
hidrotermal yang menghasilkan endapan bijih. Adanya sumber daya mineral di bumi
adalah berkat kombinasi proses-proses magmatik, metamorfisme, dan metasomatik,
yang semuanya terjadi akibat tektonik lempeng.
Diposkan oleh twuelvi endah di 02.38
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:


Poskan Komentar

Posting LamaBeranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)
ARSIP BLOG
2012 (3)
o Maret (3)
BATUAN METAMORF Batuan metamorfosa juga disebut s...
BATUAN SEDIMEN
BATUAN BEKU
MENGENAI SAYA

twuelvi endah
Lihat profil lengkapku
Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogger.

Bursa filem terupdate


New Update
Rabu, 03 April 2013
Klasifikasi Batuan Metamorfosa
Batuan Metamorf
Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk sebagai akibat dari proses
metamorfosa pada batuan yang sudah ada karena perubahan
temperatur(T), tekanan (P), atau Temperatur (T) dan Tekanan (P) secara
bersamaan. Batuan metamorf diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelas atas
dasar derajat metamorfosanya, yaitu:
1.
2.
3.

Batuan metamorfosa derajat rendah;


Batuan metamorfosa derjat menengah, dan
Batuan metamorf derajat tinggi.

Penamaan Batuan Metamorf


Penamaan batuan metamorf didasarkan atas tekstur, struktur dan
komposisi mineral yang menyusun batuan tersebut. Adapun tekstur batuan
metamorf terdiri dari: Bentuk butir granoblatik (terdiri dari mineral-mineral
granular), lepidoblastik (terdiri dari mineral-mineral pipih), dan
nematoblastik (terdiri dari mineral-mineral orthorombik), sedangkan
teksturnya ada foliasi, dan non foliasi.
Tekstur foliasi (tekstur batuan metamorf yang memperlihatkan adanya
orientasi dari mineralnya). Struktur batuan metamorf dapat terdiri dari
struktur schistose (struktur batuan metamorf yang memperlihatkan
perselingan orientasi mineral pipih dan mineral granular / nematoblastik),
gneistose (struktur batuan metamorf yang memperlihatkan hubungan dari
orientasi mineral pipih dan mineral nematoblastik/granular yang saling
berpotongan/tidak menerus), hornfelsic (struktur batuan metamorf yang
hanya tidak memperlihatkan foliasi).
Derajat Metamorfosa

Derajat metamorfosa adalah suatu tingkatan metamorfosa yang didasarkan


atas temperatur (T) atau tekanan (P) atau keduanya T dan P. Tabel
dibawah ini adalah tingkatan batuan metamorf berdasarkan derajat
metamorfosa:
Proses metamorfisme adalah perubahan batuan yang sudah ada menjadi
batuan metamorf karena perubahan tekanan dan temperatur yang besar.
Batuan metamorf dapat berasal dari batuan beku, batuan sedimen maupun
dari batuan metamorf yang sudah ada. Kata metamorf iu sendiri artinya
perubahan bentuk. Media atau agen yang menyebabkan terjadinya proses
metamorfisme adalah panas, tekanan, dan cairan kimia aktif. Sedangkan
perubahan yang terjadi pada batuannya adalah sifat fisis dan komposisi
mineral.
Proses metamorfisme sering terjadi pada salah satu dari tiga fenomena
dan pembentukan batuan metamorf. Pertama, pada proses pembentukan
pegunungan. Batuan yang menyusun suatu daerah yang luas, mengalami
perubahan dan tekanan temperatur bersamaan dengan terjadinya
deformasi, akibatnya terjadilah pembentukan bauan metamorf pada daerah
yang sangat luas. Proses ini disebut proses metamorfisme regional.
Kedua, ketika batguan bersentuhan atau dekat dengan magma, akan
terjadi metamorfisme kontak. Pada proses ini perubahan disebabkan
peningkatan temperatur yang sangat tinggi, sehingga terjadi efek
pemanggangan pada batuan di sekitar magma. Katiga, merupakan proses
metsmorfisme yang sangat jarang, terjadi perubahan di sepanjang zona
sesar. Pada proses ini batuan di sepanjang zona sesar mangalami
penghancuran menjadi material yang sangat halus yang disebut milonit
atau material yang kasar yang di sebut breksi sesar, karena
kenampakannya seperti breksi pada batuan sedimen. Proses
metamorfisme semacam ini disebut proses metamorfisme dinamik.
Media atau agen yang menyebabkan terjadinya metamorfisme adalah
panas, tekanan, dan cairan aktif. Ketiga media itu dapat berkerja bersamasama pada batuan yang mengalami metamorfisme, dengan derajat
metamorfisme dan kontribusi setiap agen berbeda-beda. Pada
metamorfisme tingkat raendah, kondisi dan temperatur hanya sedikit di
atas kondisi proses pembantuan pada proses pembentukan batuan
sedimen. Sedangkan pada proses metamorfisme tingkat tinggi, kondisinya
sedikit di bawah kondisi proses peleburan batuan menjadi magna.
Panas sebagai agen metamoprfisme
Panas merupakan agen metamorfisme yang sangat penting.
Batuan yang terbentuk dekat permukan bumi akan mengalami berubahan
yang tinggi pada waktu di terobos oleh magna. Apabila makna tidak terlalu
tinggi, proses metamofisme tidak terjadi. Pada keadaan yang demikian

akan terjadi proses pembakaran pada batuan yang di terobos


disebut beking effect.
Tekanan sebagai agen metamofisme
Tekanan sepeti halnya temperatur akan meningkat dengan
meningkatkannya kedalaman. Tekanan ini, seperti tekanan gas, akan
semua besarnya kesegala arah. Tekanan tang terdapat di dalam bumi ini
merupakan tekanan tambahan dari tekanan pada batuan oleh
pembebanan batuan diatasnya. Pada keadaan ini batuan akan mengalami
penekanan yang berarah, dan pemerasan. Batuan pada tempat yang
dalam akan menjadi plastis pada waktu mengalami deformasi. Sebaliknya
pada tempat yang dekat pemukaan bumi, batuan akan mengalami
keretakan pada waktu mengalami deformasi. Hasil batuan yang bersifat
rapuh akan hancur menjadi material yang halus.
Proses metamorfisme dan aktifitas larutan kimia
Larutan kimia aktif, umumnya adalah air yang mengandung ion-ion
terlarut, juga dapat menyebabkan terjadinya proses metamorfisme.
Prubahan mineral yang dilakukan oleh air yang kaya mineral dan panas,
dan telah banyak dipelajari di beberapa daerah gunung api. Pada kondisi
tekanan dan temperatur yang lebih tinggi, butiran mika yang sangat halus
pada batu sabak akan berkembang beberapa kali lebih besar,. Kristalkristal mika yang besar ini menyebabkan kenampakan batuan tang pipih.
Kenampakan batuan yang demikian disebutsekistositas( schistocity), dan
batuan dengan kenampakan yang demikian disebut batuan metamorf
sekis(schist), beberapa batuan sekis diberi nama sesuai dengan mineral
menyusunnya. Apabila mineral yang menyusun dominan adalah mineral
mika, muskovit dan biotit, maka batuannya disebut sekis mika.
Pada proses metamorfisme tingkat tinggi, perpindahan ion-ion pada
mineral cukup ekstrim, sehingga menyebabkan terjadinya segregasi
mineral butiran yang menyebabkan kenampakan banded pada batuan.
Kenampakan ini ditunjukkan oleh penjajaran butiran seperti mineral kuarsa.
Batuan metamorf yang kenampakan yang demikian disebut genes(gneiss).
Batuan ini biasanya terbentuk dari ubahan batuan beku granit atau diorit,
bahkan dapat juga terbentuk dari gabro atau serpih yang mengalami
metamorfisme tingkat tinggi.
Batuan metamorf yang tidak menunjukkan struktur foliasi disebut
batuan metamorf nonfoliasi. Batuan metamorf ini biasanya hanya disusun
oleh satu jenis mineral dengan bentuk kristal yang hampir sama
(equidimensional), sehingga sering juga batuan ini disebut batuan
metamorf kristalin . contoh yang baik adalah batu gamping yang berbutir
halus bergabung membentuk kristal yang saling mengisi. Hasilnnya adalah
batuan metamorf yang mirip dengan batuan beku berbutir kasar. Batuan
metamorf yang berasal dari batu gamping disebut marmer (marble).
V.4 Genesa batuan metamorf

Batuan metamorf pada umumnya terbentuk pada salah satu dari


tiga kondisi lingkungan yaitu disepanjang zona sesar, pada kontak antara
tubuh batuan beku dengan batuan disekitarnya, atau pada waktu
pembentukan pegunungan.
Metamorfisme sepanjang jalur sesar
Pada waktu terjadi pensesaran pada batuan yang menyusun kerak
bumi, tekanan dan panas yang terbentuk di sepanjang jalur tersebut akan
membentuk batuan lepas yang disusun oleh fragmen-frakmen batuan yang
mengalami pensesaran. menyudut, maka batuan tersebut disebut breksi
sesar (fault breccia),. Sedangkan apabila batuan disusun oleh material
yang berbutir halus disebut milonit. Agen yang dominan bekerja pada
proses metamorfisme ini adalah tekanan, sehingga prosesnya disebut
proses metamorfisme dinamit.
Jumlah batuan metamorf yang terbentuk oleh proses ini relatif
sangat kecil dibandingkan dengan yang terbentuk pada proses
metamorfisme lainnya. Tetapi pada tempat-tempat tertentu batuan ini
sangat dominan.
Metamorfisme kontak
Metamorfisme kontak atau sering disebut metamorfismetermal,
terjadi pada waktu magma bersentuhan dengan batuan samping yang
relatif lebih dingin, kontak metamorfisme dapat terlihat dengan jelas apabila
terjadi pada atau dekat permukaan bumi, dimana perbedaan temperatur
antara magma dengan batuan samping sangat besar. Sehingga batuan
metamorf yang terbentuk hampir sama dengan batuan hasil proses
metamorfisme regional.
Kebanyakan batuan yang terbentuk oleh proses metamorfisme
kontak berbutir halus, sangat kompak dan berat, serta disusun oleh
komposisi mineral yang sangat bervariasi. Karena arah tekanan tidak
merupakan faktor yang penting pada pembentukan batuan ini, maka
batuan yang terbentuk umumnya tidak berfoliasi. Batuan metamorf yang
keras dan tidak berfoliasi ini disebut hornfels.
Metamorfisme regional
Batuan metamorf yang paling banyak jumlahnya adalah batuan
metamorf yang terbentuk oleh proses metamorfisme regional. Proses
metamorfisme regional terjadi pada tempat yang dalam, meliputi daerah
yang sangat luas dan berasosiasi dengan proses pembentukan
pegunungan. Pada tempat inilah terjadi proses metamorfisme yang kuat.
Genes, adalah batuan metamorf yang terutama disusun oleh mineral
butiran. Mineral yang umum terdapat pada genas adalah kuarsa, potash
felspar, dan sodium feldspar. Sedang mineral tambahan yang sering
dijumpai adalah muskovit, sodium feldspar, biotit, dan hornblende.

Segregasi dari mineral yang berwarna terang dan gelap memberikan


kenampakan tekstur foliasi yang unik pada genes.
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke
FacebookBagikan ke Pinterest
Diposkan oleh Abdul Malik

Tidak ada komentar:


Poskan Komentar

Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda


Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Kategori
2012 Movie (306)
Drama (135)
2013 (101)
Action (74)
Horror (65)
Thriller (62)
Animation (51)
2000-10 Movie (43)
2011 Movie (34)
Comedy (31)
Romance (29)
Bollywood (25)
Sci-Fi (21)
China Movie (14)
Family (14)
Fantasy (14)
Lowongan Kerja Perusahaan (14)
Lowongan Kerja SMA (14)
Advanture (12)
Sport (10)
Biography (8)
Documentary (8)
1999 Under (7)
Korean Movie (7)
Lowongan Kerja PT (7)
Music (7)
Lowongan Kerja Bank (6)
Japan Movie (5)
3D (4)
History (4)
Indonesia (4)

Mystery (4)
Kuliah (3)
Lowongan Kerja Finance (3)
War (3)
Adult (1)
KKN In Bonto Cani (1)
Konser (1)
Masa Depan (1)
Thai Movie (1)
Western (1)

Pengikut
Archives

E DEATHLY HALLOWS: PART I

ANCE)

HNOVORE

W 2013

ECTICUT 2

Y BEGINNINGS

ANS

UT

T
IANYU
IE - DC SUPERHEROES UNITE

ASSINS
WONDERSTONE

fosa

H
OK

Sponsor Media
Popular Posts

Klasifikasi Batuan Metamorfosa


Batuan Metamorf Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk sebagai
akibat dari proses metamorfosa pada batuan yang sudah ada kar...

KKN In Bonto Cani Kahu ( BonCa Kah )


Bonto Cani merupakan salah satu kelurahan yang berada di Provinsi
Sulawasi Selatan tepatnya kabupaten Bone Kecamatan Kahu. Walaupun d...

Lowongan Kerja PT MD Entertainment


Lowongan kerja PT MD Entertainment . PT MD Entertainment Didirikan tgl 6
Sept pd thn 2003 oleh beberapa anak muda yang kreatif dan mempunya...

Sifat Batuan di Alam

Sifat Batuan 1.
Heterogen Jenis mineral pembentuk batuan yang
berbeda. Ukuran dan bentuk partikel/butir berbeda di dalam ba...

Klasifikasi_Topgrafi_Eksokarst

KLASIFIKASI TOPOGRAFI EKSOKARST 1.


Lembah Karst Merupakan
lembah atau alur yang besar, terbentuk oleh aliran permukaan yang...

Lowongan kerja PT. Mitra Dana Putra Utama Finance


Advertised:31-12-12 | Closing Date:30-01-13 PT Mitra Dana Putra Utama
Finance Cabang Bekasi - Jawa Barat Lowongan kerja Kolektor - PT. Mitr...

BANGKOK REVENGE
Dated Released : 7 March 2011 Quality : BRRip 720p Info :
imdb.com/title/tt1784600 IMDB Rating : 4.3 ( 113 users ) Star : Jon Foo,
Caroline ...
Malyk. Template Picture Window. Gambar template oleh fpm. Diberdayakan
oleh Blogger.