Anda di halaman 1dari 2

Invasive Pneumococcal Disease (IPD)

Oleh dr Sukman Tulus Putra SpA(K), FACC, FESC (Ketua Umum PP IDAI)
9 Juni 2006

Penyakit IPD disebabkan bakteri pneumokokus (Streptococcus Pneumoniae). Bakteri IPD secara cepat
masuk ke dalam sirkulasi darah dan merusak (invasif) serta dapat menyebabkan infeksi selaput otak
(meningitis atau radang otak).
Penelitian menunjukkan, sebagian besar bayi dan anak di bawah usia 2 tahun pernah menjadi pembawa
(carrier) bakteri pneumokokus (IPD) di dalam saluran pernapasan mereka. Oleh karena itu, bayi baru
lahir hingga bocah usia 2 tahun beresiko tinggi terkena IPD.
Yang paling fatal bila bakteri pneumokokus (IPD) menyerang otak. Pada kasus-kasus meningitis seperti
ini, kematian akan menyerang 17% penderita hanya dalam kurun waktu 48 jam setelah terserang IPD.
Kalaupun dinyatakan sembuh dari IPD, umumnya meninggalkan kecacatan permanen, semisal
gangguan pendengaran dan gangguan saraf yang selanjutnya memunculkan gangguan motorik, kejang
tanpa demam, keterbelakangan mental dan kelumpuhan.
Dari ketiga bakteri yang biasa menyebabkan meningitis (Streptococcus Pneumoniae, Haemophilus
Influenzae type B, dan Neisseria Meningitis), Streptococcus Pneumoniae merupakan bakteri yang
seringkali menyerang anak di bawah 2 tahun. Meningitis karena bakteri pneumokokus (IPD) ini dapat
menyebabkan kematian hanya dalam waktu 48 jam. Bila sembuh pun, seringkali meninggalkan
kecacatan permanen.
Vaksinasi IPD dipercaya sebagai langkah protektif terbaik mengingat saat ini resistensi bakteri
pneumokokus terhadap antibiotik semakin meningkat. Karena anak-anak di bawah usia 1 tahun memiliki
resiko paling tinggi menderita IPD, maka amat dianjurkan agar pemberian imunisasi IPD dilakukan sedini
mungkin. Untungnya, saat ini sudah ditemukan vaksin pneumokokus (IPD) bagi bayi dan anak di bawah
2 tahun.
Pemberian imunisasi IPD pada anak usia:

<6 bulan: diberikan dasar 3 kali dengan jarak 2 bulan, dan booster pada usia 1215 bulan.
6-12 bulan: diberikan dasar 2 kali, dan booster pada usia 1215 bulan.
1224 bulan: diberikan dasar 2 kali, tidak perlu booster.
>24 bulan: diberikan 1 kali.

Ada dua jenis vaksin pneumokokus yang sudah beredar di Indonesia:

Prevenar atau PCV7, berisi 7 serotype (4, 6B, 9V, 14, 18C, 19F, 23F). Vaksin IPD ini aman
diberikan sejak bayi berusia 2 bulan. Harganya relatif mahal.
Pneumo23, berisi 23 serotype (1, 2, 3, 6B, 7F, 8, 9N, 9V, 10A, 11A, 12F, 14, 15B, 17F, 18C, 19A,
19F, 20, 22F, 23F, 33F). Vaksin pneumokokus ini aman diberikan pada anak berusia lebih dari 2
tahun dan orang lanjut usia. Harganya lebih murah.

Pemberian imunisasi IPD tidak menghapus jadwal imunisasi lain. (seperti HiB, tetap seperti jadwalnya).

http://www.imunisasi.net/IPD.html
http://www.imunisasi.net/Influenza.html

Sumber: www.cdc.gov

Penyakit Hib disebabkan bakteri Haemophilus Influenza type B (Hib). Hib biasa menyerang anak di
bawah 5 tahun.
Anak-anak dapat tertular bakteri Hib dari anak lain yang sakit atau orang dewasa yang membawa bakteri
Hib, namun tidak sakit. Kuman tertular melalui kontak dengan penderita Hib. Jika bakteri Hib berada di
rongga hidung atau tenggorokan, mungkin tidak menyebabkan sakit. Namun bakteri Hib dapat masuk ke
paru-paru dan peredaran darah dan menyebabkan penyakit serius.
Sebelum ditemukannya vaksin Hib, penyakit Hib merupakan penyebab utama radang selaput otak
(meningitis) pada anak di bawah 5 tahun. Meningitis menyebabkan kerusakan otak dan medulla spinalis.
Hib juga menyebabkan pneumonia, infeksi berat di tenggorokan, infeksi pada persendian, tulang dan
selaput jantung, bahkan kematian.
Anak-anak perlu mendapatkan vaksinasi Hib pada usia: 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 12-15 bulan.
Anak di atas 5 tahun tidak perlu mendapatkan vaksin Hib. Namun dalam kondisi tertentu, vaksinasi
Hib perlu diberikan, seperti penderita sickle cell, HIV, pengangkatan limpa, transplantasi sumsum tulang
atau penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi.
Vaksin Hib beresiko menimbulkan efek samping ringan. Berikut efek samping vaksinasi
Hib yang pernah dilaporkan: merah dan bengkak di tempat penyuntikan dan demam
tinggi. Keluhan tersebut biasanya hilang sendiri dalam 2-3 hari.