Anda di halaman 1dari 15

Nurachmad, Much.

, 2009, Tanya Jawab Seputar Hak-Hak Tenaga Kerja Kontrak


(outsourcing). Jakarta: Visimedia.
Pertanyaan Seputar Pengertian, Undnag-Undang, dan Perjanjian Kerja Tenaga
Kerja Tenaga Kontrak.
Apa yang dimaksud dengan tenaga kerja kontrak?
Tenaga kerja kontrak/tidak tetap/outsourcing (untuk selanjutnya digunakan
istilah pekerja kontrak) adalah pekerja yang bekerja berdasarkan pernjanjian kerja
waktu tertentu (PKWT) yaitu perjanjian kerja antara pengusaha dan pekerja untuk
mengadakan hubungan kerja dalam waktu tertentu atau untuk pekerjaan tertentu.
PKWT inilah yang mendasari adanya pekerja kontrak. Kebalikan dari PKWT
adalah perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT), yaitu perjanjian kerja
antara pengusaha dan pekerja untuk mengadakan hubungan kerja yang bersifat
tetap. PKWTT merupakan perjanjian kerja yang menjadi dasar bagi pekerja tetap.1
Pada dasarnya terdapat dua jenis perjanjian kerja kontrak, yaitu perjanjian
kerja untuk perjanjian yang diborongkan dan perjanjian kerja untuk pekerja yang
diborongkan. Dari sinilah muncul istilah outsourcing (alih daya), yaitu sebuah
proses penyerahan pekerjaan kepada pihak ketiga. Menurut UUK, ada dua bentuk
outsourcing, yaitu outsourcing pekerjaan dan outsourcing pekerja. Secara harfiah,
istilah outsourcing diartikan sebagai alih daya atau pendelegasian suatu proses
bisnis kepada pihak ketiga. Namun, ada juga orang yang berpendapat abhwa
istilah outsourcing adalah untuk pekerjaan yang diborong, sedangkam pekerja
kontrak merupakan pekerja yang diborong.2
Undang-undang dan peraturan pemerintah yang mana saja yang berkaitan dengan
tenaga kerja kontrak?
Masalah tenaga kerja diatur dalam Undang-Undang No 13 Tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan (UUK) dan khusus untuk tenaga kontrak atau tenaga
kerja dengan perjanjian waktu tertentu atau tenaga outsourcing, Menteri Tenaga
Kerja dan Transmigrasi mengeluarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Republik Indonesia Nomor:100/Men/VI/2004 tentang Ketentuan
Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (Kepmen PKWT), Kep
220/Men/X/20014 tentang Syarat-syarat Penyerahan sebagian Pelaksanaan
Pekerjaan kepada Perusahaan Lain, serta Kep 101/Men/VI/2004 tentang Tata Cara
Perijinan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja/Buruh.3
1

Much. Nurachmad, 2009, Tanya Jawab Seputar Hak-Hak Tenaga Kerja Kontrak
(outsourcing). Jakarta: Visimedia. Hal 1
2
Idem
3
Idem. Hal 2

Apa yang dimaksud dengan perjanjian kerja?


Perjanjian kerja adalah perjanjian antara pengusaha atau pemberi kerja dan
pekerjan yang memuat syarat-syarat kerja, hak, dan kewajiban pada pihak.
Perjanjian kerja mencipakan hubungan kerja. Hubungan kerja adalah hubungan
antara pengusaha dan pekerja berdasarkan perjanjian kerja, yang memiliki unsur
pekerjaan, upah, dan perintah. Hal ini berarti bahwa dalam suatu hubungan kerja
terdapat hal, yaitu hak pengusaha (pengusaha memiliki posisi lebih tinggi dari
pekerja), kewajiban pengusaha (membayar upah), dan objek perjanjian
(pekerjaan).4
Ada beberapa syarat sah perjanjian kerja, yaitu syarat subjektif, objektif,
dan teknis.
1. Syarat subjektif
Syarat subjektif merupakan syarat mengenai subjek perjanjian. Syarat
subjektif ini ada dua, yaitu adanya kesepakatan antara kedua belah pihak dan
cakap melakukan perbuatan hukum
- Kesepakatan antara kedua belah pihak
Para pihak yang melakukan perjanjian menyetujui dan menyepakati hak
dan kewajiban masing-masing. Dalam hal ini para pihak yang satu
menjadi kewajiban pihak yang lain. Sepakat artinya terjadi konsesus
murni. Jika tidak terjadi konsesus murni, terjadi cacat kehendak.
Pengaturan cacat kehendak terdapat dalam Kitab Undang-Undnag Hukum
Perdata (KUH Perdata) Pasal 1321-1328.
- Cakap melakukan perbuatan hukum
Cakap berarti mampu secara mandiri melakukan perbuatan hukum dengan
akibat hukum yang lengkap. Menggunakan metode penalaran argumentum
an contrarium (mencari pengertian tentang suatu hal, tetapi yang diatur
adalah hal yang sebaliknya), berdasarkan Pasal 1330 KUH Perdata, yang
dimaksud tidak cakap sebagai berikut:
- Orang yang belum dewasa
Anak adalah setiap orang yang berumur di dabawah 18 tahun (berarti
orang dewasa adalah orang yang berumur minimun 18 tahun)
- Orang yang ditaruh di bawah pengampunan/wali
Orang ini dianggap tidak dapat menginsafi akibat dari perbuatannya.
Menurut Pasal 433 KUH Perdata, yang dimaksud dalam kelompok ini
adalah setiap orang dewasa yang selalu berada dalam keadaan dungu,
gila/mata gelap, serta boros.5
2. Syarat objektif
Syarat objektif adalah syarat mengenai objek perjanjian. Syarat objektif ada
dua, yaitu adanya pekerjaan yang dijanjikan dan karena sebab yang halal.
- Adanya pekerjaan yang dijanjikan
4
5

Idem
Idem. Hal 3

Jika pekerjaan yang dijanjikan tidak ada, perjanjian tersebut batal demi
hukum.
- Karena sebab yang halal
Pekerjaan yang diperjanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban umum,
kesusilaan, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jika
pekerjaan bertentangan dengan hal-hal tersebut di atas seperti perjanjian
jual beli organ tubuh manusia, perjanjian tersebut dianggap batal demi
hukum.
Keterangan syarat subjektif dan objektif diatur dalam KUH Perdata Pasal
1320.6
3. Syarat teknis
Syarat teknis mencakup dua hal sebagai berikut.
- Segala hal dan/atau biaya yang diperlukan bagi pelaksanaan pembuatan
perjanjian kerja dilaksanakan oleh dan menjadi tanggungjawab pengusaha.
- Perjanjian kerja dibuat rangkap dua dan masing-masing memiliki kekuatan
hukum yang sama. Pengusaha dan pekerja masing-masing mendapatkan
satu perjanjian kerja.7
Dalam perjanjian kerja biasanya perjanjian telah dibuat lebih dahulu oleh
perusahaan, karena tidak mungkin perusahaan membuat kesepakatan dengan
calon pekerjanya satu persatu. Hal ini akan menghabiskan banyak waktu, tenaga
dan biaya. Perusahaan biasanya telah menyiapkan draft tersebut lebih lanjut.
Bagaimana keabsahan perjanjian yang dibuat sepihak tersebut? Menurut Prof. Dr.
Siti Ismijati Jenie, SH, CN., perjanjian di bawah tangan yang dibuat secara massal
dan ketentuan-ketentuan di dalamnya (persyaratan-persyaratan) serta bentuknya
telah dibakukan secara sepihak oleh pihak yang memiliki kedudukan ekonomis
dan psikologis yang lebih kuat (dalam hal ini pengusaha) disebut dengan
perjanjian baku/standar. Terdapat dua pendapat dari para pakar mengenai perjanjia
baku, yaitu yang setuju dan yang tidak setuju. Menurut Pitlow, perjanjian ini
melanggar asas kebebasan berkontrak. Karena persyaratan di dalam perjanjian
ditentukan secara sepihak oleh pihak yang secara ekonomis atau psikologis lebih
kuat, sedangkan pihak lawan yang merupakan pihak yang secara ekonomis atau
psikologis lebih lemah, terpaksa menerima persyaratan tersebut karena terdesak
oleh kebutuhannya dan tidak mampu berbuat lain. Jadi, pihak yang ekonomi atau
psikologisnya lebih lemahlah yang kebebasannya dilanggar. Karena sifatnya yang
demikian, menurut Pitlow, perjanjian yang baku disebut dengan dwang contract
(kontrak paksaan), sedangkan menurut Rutten, perjanjian standar itu mengikat,
karena setiap orang yang menandatangani perjanjian bertanggungjawab pada isi
dan apa yang dtandatanganinya. Jadi, jika ada seseorang yang menandatangani
6
7

Idem. Hal 4
Idem

perjanjian baku, tanda tangan itu membangkitkan kepercayaan, bahwa yang


bertanda tangan mengetahui dan menghendaki isi perjanjian tersebut. Jadi tidak
mungkin seseorang menandatangani apa yang tidak diketahuinya (Jenie, 2007)8
Lalu bagaimana menyikapi hal ini. Menurut Prof. Mariam Darus,
Motivasi diterimanya perjanjian standar adalah bahwa hukum itu berfungsi untuk
melayani masyarakat dan bukan sebaliknya. Jadi, meskipun perjanjian standar
bertentangan dengan asas-asas hukum perjanjian dan kesusilaan, dalam oraktik,
perjanjian ini tumbuh karena keadaan menghendakinya dan harus diterima sebagai
kenyataan. Iktikan baik inilah yang seharusnya melandasi setiap perjanjia
sehingga isi dari perjanjian kerja tersebut bisa mencerminkan keseimbangan
antara hak dan kewajiban. Karena itu, dalam pembuatan perjanjian kerja,
pengusaha hendaknya membuat dengan iktikad baik.9
Apakah persamaan antara PKWT dan PKWTT
1. Kedua perjanjian tersebut sama-sama menciptakan hubungan kerja antara
pengusaha dan pekerja dengan objek perjanjian berupa pekerjaan, serta
kompensasi berupa perintah dan upah.
2. Perjanjian kerja yang dipersyaratkan secara tertulis dilaksanakan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Perjanjian kerja dibuat atas dasar:
- Kesepakatan kedua belah pihak;
- Kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum;
- Adanya pekerjaan yang diperjanjikan; dan
- Pekerjaan yang diperjanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban umum,
kesusilaan, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Segala hal dan/atau biaya yang diperluka bagi pelaksanaan pembuatan
perjanjian kerja dilaksanakan oleh dan menjadi tanggungjawab pengusaha.
5. Isi perjanjian sekurang-kurangnya memuat:
- nama, alamat, perusahaan, dan jenis usaha;
- nama, jenis kelamin, umur, dan alamat pekerja;
- jabatan dan jenis pekerjaan;
- tempat pekerjaan;
- dari jangka waktu berlakunya perjanjian kerja;
- tempat dan tanggal perjanjian kerja dibuat;
- tanda tangan para pihak dalam perjanjian kerja;
- besarnya upah dan cara pembayarannya yang tidak boleh bertentangan
dengan peraturan perusahaan, perjanjian kerja bersama, dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
- syarat-syarat kerja yang memuat hak dan kewajiban pengusaha dan
pekerja yang tidak boleh bertentangan dengan peraturan perusahaan,
8
9

Idem. Hal 4-5


Idem. Hal 5

perjanjian kerja bersama, dan peraturan perundang-undangan yang


berlaku.
6. Keduanya dibuat sekurang kurangnya rangkap dua, yang memiliki kekuatan
hukum sama, serta pengusaha dan pekerja masing-masing mendapat satu
perjanjian kerja.
7. Perjanjian kerja tidak dapat ditarik kembalo dan/atau dirubah, kecuali atas
persetujuan para pihak.
8. Perjanjian kerja berakhir jika:
- pekerja meninggal dunia;
- berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja;
- adanya putusan pengadilan dan/atau putusan atau penetapan lembaga
penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang telah memiliki
kekuatan hukum tetap.
- Adanya keadaan atau kejadian tertentu yang dicantumkan dalam perjanjian
kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama yang dapay
menyebabkan berakhirnya hubungan kerja.
9. Perjanjian kerja tidak berakhir karena meninggalnya pengusaha atau
beralihnya hak atas perusahaan yang disebabkan penjualan, pewarisan, atau
hibah.
10. Jika terjadi pengalihan perusahaan, hak-hak pekerja menjadi tanggungjawab
pengusaha baru, kecuali ditentukan lain dalam perjanjian pengalihan yang
tidak mengurangi hak-hak pekerja.
11. Jika pengusaha, orang perseorangan meninggal dunia, ahli waris pengusaha
dapat mengakhiri kerja setelah merundingkan dengan pekerja.
12. Jika pekerja meninggal dunia, ahli waris berhak mendapat hak-haknya sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau hak-hak yang telah
diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja
bersama.
13. Jika salah satu pihak mengakhiri hubungan kerja secara sepihak, pihak yang
mengakhiri hubungan kerja diwajibkan membayar ganti rugi kepada pihak
lainnya sebesar upah pekerja sampai batas waktu berakhirnya jangka waktu
perjanjian kerja.10
Apakah perbedan antara PKWT dan PKWTT?
1. PKWT didasarkan atas jngka waktu atau selesainya suatu pekerjaan tertentu,
sedangkan PKWTT bersifat permanen/kontinu untuk masa pengabdian pekerja
sampai usia pensiun atau ditentukan lain oleh peraturan perusahaan.
2. PKWT harus dibuat secara tertulis, serta harus menggunakan bahasa Indonesia
dan huruf latin. Jika perjanjian kerja dibuat dalam bahasa Indonesia dan
bahasa asing, jika kemudian terdapat perbedaan penafsiran antara keduanya,
10

Idem. Hal 6-8

yang berlaku adalah perjanjian kerja yang dibuat dalam bahasa indonesia.
PKWTT dapat dibuat secara lisan atau tertulis.
3. PKWT tidak dapat mensyaratkan adanya masa percobaan kerja, sedangkan
PKWTT dapat mensyaratkan adanya masa percobaan kerja maksimum tiga
bulan.11
Bagaimana ketentuan tentang objek perjanjian dalam PKWT?
Syarat kerja yang diperjanjikan dalam PKWT tidak boleh lebih rendah dari
ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Objek perjanjian
dalam PKWT menurut Kepmen No 100/Men/VI/2004 tentang Ketentuan
Pelaksanan PKWT sebagai berikut:
1. PKWT untuk pekerjaan yang sekali selesai atau sementara sifatnya yang
penyelesaiannya paling lama tiga tahun. Syarat PKWT adalah:
- untuk pekerjaan yang sekali selesai;
- untuk pekerjaan yang sifatnya sementara;
- didasarkan atas selesainya pekerjaan tertentu;
- dibuat paling lama tiga tahun;
- jika pekerjaan tertentu yang diperjanjikan dalam PKWT dapat diselesaikan
lebih cepat dari yang diperjanjikan, PKWT tersebut putus demi hukum
pada saat selesainya pekerjaan;
- dapat dilakukan batasa suatu pekerjaan dinyatakan selesai;
- dapat dilakukan pembaharuan PKWT jika karena kondisi tertentu
pekerjaan belum dapat diselesaikan;
- pembaharuan dilakukan setelah melebihi masa tenggang waktu 30 hari
setelah berakhirnya perjanjian kerja;
- selama tenggang waktu 30 hari setelah berakhirnya perjanjian kerja tidak
ada hubungan kerja antara pengusaha dan pekerja;
- PKWT ini wajib dicatatkan oleh pengusaha kepad ainstansi yang
bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan kabuapaten/kota setempat
selambat-lambatnya tujuh hari kerja sejak penandatanganan.
PKWT ini bisa berubah demi hukum menjadi PKWTT jika:
- PKWT tidak dibuat dalam bahasa Indonesia dan huruf latin. PKWT ini
berubah menjadi PKWTT sejak adanya hubungan kerja;
- Pembaharuan PKWT tidak melalui masa tenggang waktu 30 hari setelah
berakhirnys perpanjangan PKWT. PKWT ini berubah menjadi PKWTT
sejak tidak terpenuhinya syarat PKWT tersebut. Misalnya, batas akhir
waktu PKWT tanggal 1 Januari 2009, pembaharuan PKWT dilakukan
paling cepat tanggal 31 Januari 2009. Jika tanggal 25 Januari 2008 sudah

11

Idem. Hal 8

dilakukan pembaharuan PKWT, PKWT otomatis berubah menjadi


PKWTT sejak tanggal 25 Januari 2009;
- Sejak tanggal 2 Januari 2009 hingga 30 Januari 2009, tidak boleh ada
hubungan kerja antara pengusaha dan pekerja. Jika selama masa tunggu
pembaharuan terjadi hubungan kerja, misalnya tanggal 25 Januari 2009
secara lisan/tertulis pengusaha memberi suatu tugas kepada pekerja,
pekerja otomatis menjadi pekerja tetap sejak menjalankan pekerjaan
tersebut.
2. PKWT untuk pekerjaan yang bersifat musiman. Syarat PKWT ini adalah:
- pekerjaan yang dilakukan pelaksanaannya tergantung pada musim atau
cuaca;
- hanya dapat dilakukan untuk satu jenis pekerjaan;
- hanya dapat dilakukan pada musim tertentu;
- dapat digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan untuk
memenuhi pesanan atau target tertentu;
- hanya diberlakukan untuk pekerja yang melakukan pekerjaan tambahan;
- pengusaha harus membuat daftar nama pekerja yang melakukan pekerjaan
tambahan;
- tidak dapat dilakukan pembaharuan;
- PKWT ini wajib dicatatkan oleh pengusaha kepada instansi yang
bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota setempat
selambat-lambatnya tujuh hari kerja sejak penandatanganan.
PKWT ini bisa berubah demi hukum menjadi PKWTT jika:
- tidak dibuat dalam bahasa Indonesia dan huruf latin. PKWT ini berubah
menjadi PKWTT sejak adanya hubungan kerja;
- dilakukan pada lebih dari satu jenis pekerjaan. PKWT ini berubah menjadi
PKWTT sejak adanya hubungan kerja;
- dilakukan pada lebih dari satu musim. PKWT ini berubah menjadi
PKWTT sejak adanya hubungan kerja;
- digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan yang tidak berhubungan dengan
pemenuhan pesanan atau target tertentu. PKWT ini berubah menjadi
PKWTT sejak adanya hubungan kerja;
- tidak diberlakukan pada pekerja yang melakukan pekerjaan tambahan.
PKWT ini berubah menjadi PKWTT sejak adanya hubungan kerja.
3. PKWT untuk pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru. Syarat PKWT
ini adalah
- dilakukan dengan pekerja untuk melakukan pekerjaan yang berhubungan
dengan produk baru;
- dilakukan dengan pekerja untuk melakukan peekerjaan yang berhubungan
dengan kegiatan baru;

dilakukan dengan pekerja untuk melakukan pekerjaan yang berhubungan


dengan produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan;
- hanya dapat dilakukan untuk jangka waktu paling lama dua tahun
- hanya dapat diperpanjang untuk satu kali paling lama satu tahun;
- tidak dapat dilakukan pembaharuan;
- hanya boleh diberlakukan bagi pekerja yang melakukan pekerjaan di luar
kegiatan atau di luar pekerjaan yang biasa dilakukan perusahaan;
- PKWT ini wajib dicatatkan oleh pengusaha kepada instansi yang
bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota setempat
selambat-lambatnya tujuh hari kerja sejak penandatanganan.
PKWT ini bisa berubah demi hukum menjadi PKWTT jika:
- tidak dibuat dalam bahasa Indonesia dan huruf latin. PKWT ini berubah
menjadi PKWTT sejak adanya hubungan kerja;
- dilakukan untuk jangka waktu lebih lama dari dua tahun. PKWT ini
berubah menjadi PKWTT sejak dilakukan penyimpangan;
- diperpanjang lebih dari satu kali. PKWT ini berubah menjadi PKWTT
sejak dilakukan penyimpangan;
- diperpanjang lebih lama dari satu tahun. PKWT ini berubah menjadi
PKWTT sejak dilakukan penyimpangan;
- terjadi pembaharuan PKWT. PKWT ini berubah menjadi PKWTT sejak
dilakukan penyimpangan.
4. PKWT untuk kerja haria atau lepas. Syarat PKWT ini adalah:
- dapat dilakukan untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu yang berubah-ubah
dalam hal waktu dan volume pekerjaan, serta upah didasarkan pada
absensi kehadiran;
- dilakukan dengan ketentuan bahwa pekerja bekerja kurang dari 21 hari
dalam satu bulan;
- jangka waktu PKWT jenis ini dikecualikan dari ketentuan jangka waktu
PKWT pada umumnya;
- pengusaha wajib membuat perjanjian kerja harian lepas secara tertulis
dengan para pekerja;
- perjanjian kerja harian lepas dapat dibuat berupa daftar pekerja yang
melakukan pekerjaan yang memuat sekurang-kurangnya:
- nama/alamat perusahaan atau pemberi kerja;
- nama/alamat pekerja;
- jenis pekerjaan yang dilakukan;
- besarnya pekerjaan yang dilakukan;
- besarnya upah dan/atau imbalan lainnya.

dafatr pekerja harian lepas disampaikan kepada instansi yang


bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota selambatlambatnya tujuh hari kerja sejak mempekerjakan pekerja.
PKWT ini bisa berubah demi hukum menjadi PKWTT jika:
- PKWT tidak dibuat dalam bahasa Indonesia dan huruf latin. PKWT ini
berubah menjadi PKWTT sejak adanya hubungan kerja;
- Pekerja bekerja 21 hari atau lebih selama tiga bulan berturut-turut atau
lebih.12
Apa yang dimaksud dengan perusahaan pengguna, perusahaan pemborong, dan
perusahaan penyedia pekerja?
Perusahaan pengguna (user) adalah perusahaan yang memiliki pekerjaan
dan memerlukan jasa perusahaan lain untuk membantu menyelesaikan
pekerjaannya. Perusahaan pemborong adalah perusahaan yang mengerjakan
pekerjaan perusahaan lain, sedangkan perusahaan penyedia pekerja adalah
perusahaan yang menyediakan pekerja untuk bekerja pada perusahan pengguna.
Dalam menjalankan kegiatannya, perusahaan pemborong memiliki
hubungan kerja dengan pekerja, sedangkan hubungan antara perusahaan pengguna
dan perusahaan pemborong hanyalah terkait dengan pekerjaan yang diborongkan
tersebut. Di perusahaan penyedia pekerja, pekerja menjalankan tugas-tugas yang
diberikan perusahaan pengguna, sedangkan sistem pembayaran upah dilakukan
oleh perusahaan pemberi kerja kepada perusahaan penyedia pekerja, lalu
perusahaan penyedia kerja membayar upah pekerjanya.
Hubungan antara perusahaan pemberi kerja, perusahaan penyedia
pekerja/perusahaan pemborong dan pekerja itu sendiri seharunys menciptakan
triple alliance (suatu hubungan yang saling membutuhkan). Namun, dalam
kenyataannya, sering kali terdapat perselisihan. Hal ini bisa dihindari jika para
pihak menyadari hak dan kewajibannya. Hal yang penting untuk diperhatikan
adalah jenis perjanjian apa yang mengikat para pihak. Menurut pendapat umum,
perjanjian adalah perbuatan hukum berdasarkan kata sepakat yang menimbulkan
akibat hukum, sedangkan menurut Van Dune (Jenie, 2007), perjanjian merupakan
hubungan hukum, antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat yang
beriktikad baik untuk menimbulkan suatu hubungan hukum.
Perbuatan hukum terjadi karena adanya kerja sama dua orang atau lebih
dengan tujuan yang sama atau tujuannya berbeda tetapi saling mengisi. Perbuatan
hukum dengan tujuan sama memiliki arti bahwa para pihak berdiri berdampingan,
misalnya perjanjian mendirikan perusahaan. Perbuatan hukum dengan tujuan

12

Idem. Hal 8-13

berbeda tetapi saling mengisi memiliki arti bahwa para pihak berdiri saling
berhadapan, misalnya perjanjian kerja antara pengusaha dan pekerja.13
Apa yang dimaksud dengan penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada
perusahaan lain?
Pasal 65 UU No 13 Tahun 2003 menyatakan bahwa penyerahan sebagian
pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain dilaksanakan melalui perjanjian
pemborongan pekerjaan yang dibuat secara tertulis. Pengaturan lebih lanjut
mengenai peraturan ini ditetapkan melalui Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi No.Kep.220/Men/X/2004 tentang Syarat-syarat Penyerahan
Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan Kepada Perusahaan Lain. Dalam konteks ini,
yang diborongkan adalah pekerjaan.
Perusahaan lain (pihak ketiga) yang menerima penyerahan sebagian
pelaksanaan pekerjaan dari perusahaan pemberi pekerjaan disebut perusahaan
penerima pemborongan pekerjaan. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi
dalam penyerahan sebagian pekerja kepada perusahaan lain, yaitu syarat normatif
dan syarat teknis.
1. Syarat normatif
- Syarat kerja yang diperjanjikan dalam PKWT, tidak boleh lebih rendah
daripada ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
- Perusahaan pemborong pekerjaan harus berbadan hukum.
- Perusahaan pemborong pekerjaan boleh tidak berbadan hukum jika:
- Perusahaan pemborong pekerjaan bergerak di bidang pengadaan
barang;
- Perusahaan pemborong pekerjaan bergerak di bidang jasa
pemelirahaan dan perbaikan, serta jasa konsultasi yang dalam
melaksanakan pekerjaan tersebut memperkerjakan pekerja kurang dari
10 orang.
- Jika perusahaan pemborong pekerjaan akan menyerahkan lagi sebagian
pekerjaan yang diterima dari perusahaan pemberi pekerjaan, penyerahan
tersebut dapat diberikan kepada perusahaan pemborong pekerjaan yang
bukan berbadan hukum.
- Jika perusahaan pemborong pekerjaan yang buka berbadan hukum pada
poin di atas tidak dapat melaksanakan kewajibannya memenuhi hak-hak
pekerja dalam hubungan kerja bertanggungjawab dalam memenuhi
kewajiban tersebut.
- Jika di satu daerah tidak terdapat perusahaan pemborong pekerjaan yang
berbadan hukum, penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan dapat

13

Idem. Hal 13-14

diserahkan kepada perusahaan pemborong pekerjaan yang bukan berbaban


hukum.
- Jika di satu daerah terdapat perusahaan pemborong pekerjaan berbadan
hukum tetapi tidak memenuhi kualifikasi untuk dapat melaksanakan
sebagian pekerjaan dari perusahaan pemberi pekerjaan, sebagian
pelaksanaan pekerjaan dapat diserahkan pada perusahaan pemborong
pekerjaan yang bukan berbadan hukum.
- Perusahaan penerima pemborongan pekerjaan yang buka berbadan hukum
pada dua poin di atas bertanggungjawab memenuhi hak-hak pekerja yang
terjadi dalam hubungan kerja antara perusahaan yang buka berbadan
hukum tersebut dengan pekerjanya. Tanggungjawab perusahaan yang
bukan berbadan hukum tersebut harus dituangkan dalam perjanjian
pemborongan pekerjaan antara perusahaan pemberi pekerjaan dan
perusahaan pemborong pekerjaan. Hal ini dilakukan sebagai alat kontrol
agar perusahaan pemborong bertanggungjawab terhadap pekerjanya.
- Penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan
pemborong dilaksanakan secara tertulis.
- Hubungan kerja yang terjadi diatur dalam perjanjian kerja secara tertulis
antara perusahaan pemborong dan pekerja. Jadi, meskipun pekerja
melakukan pekerjaan untuk perusahaan pengguna, tetapi hubugan kerja
yang terjadi adalah pekerja dan perusahan pemborong.
2. Syarat teknis
- Dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama, baik manajemen maupun
kegiatan pelaksanaan pekerjaan.
- Dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi
pekerjaan dimaksudkan untuk memberi penjelasan tentang cara
melaksanakan pekerjaan agar sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh
perusahaan pemberi pekerjaan.
- Merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan, artinya
kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang mendukung dan memperlancar
pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan alur kegiatan kerja perusahaan
pemberi pekerjaan.
- Tidak menghambat proses produksi secara langsung artinya kegiatan
tersebut adalah merupakan kegiatan tambahan yang jika tidak dilakukan
oleh perusahaan pemberi pekerjaan proses pelaksanaan pekerjan tetap
berjalan sebagaimana biasa.14
Apa kewajiban dari perusahaan pemberi pekerjaan dalam penyerahan sebagian
pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain?
14

Idem. Hal 14-17

1. Wajib membuat alur kegiatan proses pelaksanan pekerjaan.


2. Berdasarkan alur kegiatan proses pelaksanaan pekerjaan yang telah dibuat,
perusahan pemberi pekerjaan menetapkan jenis-jenis pekerjaan yang utama
dan penunjang serta melaporkan kepada instansi yang bertanggungjawab di
bidang ketenagakerjaan setempat.15
Bisakah PKWT dalam hubungan kerja antar pekerja dan perusahan pemborong
berubah menjadi PKWTT?
Bisa, PKWT dalam hubugan kerja antara pekerja dan perusahan
pemborong demi hukum menjadi PKWTT jika terdapat hal sebagai berikut:
1. Perusahaan pemborong tidak berbadan hukum. Perusahan pemborong boleh
tidak berbadan hukum jika memenuhi syarat seperti yang telah disebutkan
dalam syarat-syarat normatif.
2. Melanggar salah satu syarat teknis pekerjaan yang dapat diserahkan kepada
perusahaan pemborong.16
Apa yang dimaksud dengan perusahaan penyedia pekerja?
Menurut Keputusan Menteri tenaga Kerja dan Transmigrasi No 101 Tahu
2004 tentang Tata Cara Perizinan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja/Buruh,
perusahaan penydia jasa adalah perusahaan berbadan hukum yang dalam kegiatan
usahanya menyediakan jasa pekerja untuk diperkejakan di perusahan pemberi
pekerjaan. Syarat menjadi perusahaan penyedia jasa sebagai berikut:
1. Perusahan wajib memiliki izin operasional dari instansi yang
bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan di kabupaten/kota sesuai
domisili perusahaan penyedia jasa pekerja.
2. Untuk mendapatkan izin operasional perusahaan penyedia jasa pekerja
perusahaan menyampaikan permohonan dengan melampirkan salinan
pengesahan sebagai badan hukum berbentuk perseorangan terbatas atau
koperasi, salinan anggaran dasar yang di dalamnya memuat kegiatan usaha
penyedia jasa pekerja, salinan SIUP, salinan wajib lapor ketenagakerjaan yang
masih berlaku.
3. Memilii izin operasional yang diterbitkan oleh onstansi yang
bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan.
4. Jika perusahaan penyedia jasa pekerja memperoleh pekerjaan dari perusahaan
pemberi pekerjaan, kedua belah pihak wajib membuat perjanjian tertulis yang
sekurang-kurangnya membuat jenis pekerjaan yang akan dilakukan oleh
pekerja dari perusahaan jasa; penegasan bahwa dalam melaksanakan
pekerjaan hubungan kerja yang terjadi adalah antara perusahaan penyedia jasa
15
16

Idem. Hal 17
Idem

dengan pekerja yang dipekerjakan perusahaan penyedia jasa sehingga


perlindungan upah dan kesejahteraan, syarat-syarat kerja serta perselisihan
yang timbul menjadi tanggungjawab perusahaan penyedia jasa pekerja,
penegasan bahwa perusahaan penyedia jasa bersedia menerima pekerja di
perusahaan penyedia jasa pekerja sebelumnya untuk jenis-jenis pekerjaan
yang terus-menerus ada di perusahaan pemberi kerja dalam hal terjadi
penggantian perusahaan penyedia jasa pekerja.
5. Perjanjian seperti di atas harus didaftarkan pada instansi yang
bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota tempat
perusahaan penyedia jasa pekerja melaksanakan pekerjaan.
6. Jika perusahaan penyedia jasa pekerja melaksanakan pekerjaan pada
perusahaan pember kerja yang berada dalam wilayah lebih dari satu
kabupaten/kota dalam satu provinsi, pendaftaran dilakukan pada instansi yang
bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan provinsi.
7. Jika perusahaan penyedia jasa pekerja melaksanakan pekerjaan pada
perusahaan pemberi kerja yang berada dalam wilayah lebih dari satu provinsi,
pendaftaran dilakukan pada Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan
Industrial.
8. Pendaftaran perjanjian kerja harus melampirkan draft perjanjian kerja.
9. Pendaftaran perjanjian kerja dilakukan oleh pejabat pada instansi yang
bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan dengan menerbitkan bukti
pendaftaran.
10. Jika perusahaan penyedia jasa pekerja tidak mendaftarkan perjanjian penyedia
jasa pekerja, instansi yang bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan
mencabut izin operasional perusahaan penyedia jasa pekerja.
11. Jika izin operasional dicabut, hak-hak pekerja tetap menjadi tanggungjawab
perusahaan penyedia jasa pekerja yang bersangkutan.17
Dari syarat-syarat di atas, kita dapat mengetahui bahwa pekerja yang
bekerja pada perusahaan penyedia pekerja memiliki posisi yang lemah. Pekerja
kontrak hanya memiliki hubungan kerja dengan perusahaan penyedia pekerja.
Padahal pekerja kontrak tersebut menjalankan semua pekerjaan yang diminta oleh
pemberi kerja. Pekerja kontrak harus menanggung dua tanggungjawab, yaitu
tanggungjawab terhadap perusahan penyedia jasa pekerja serta tanggungjawab
untuk menyelesaikan pekerjaan dari perusahaan pemberi kerja. Selain itu, pekerja
tidak tahu berapa upah sebenarnya ia terima, karena perusahaan pemberi kerja
membayar upah kepad aperusahan penyedia jasa pekerja. Kemudian perusahaan
penyedia pekerja memberi upah kepada pekerja kontrak. Oleh karena itu, pekerja
kontrak harus memerhatikan secara cermat mengenai isi perjanjian, karena

17

Idem. Hal 18-19

pemahaman dari isi dari perjanjian merupakan nyawa yang menetukan nasibnya
selama bekerja dalam proyek tersebut.18
Apa saja tahapan pembuatan perjanjian kontrak kerja?
1. Pra contractual (negosiasi), yaitu tahap-tahap saat para pihak belum terikat
perjanjian, tetapi melakukan negoisasi untuk mencapai kata sepakat. Negosiasi
adalah suatu proses untuk mencapai kesepakatan dengan saling memberikan
konsensus satu sama lain (give and take). Dalam sebuah negosiasi yang
dirundingkan adalah esensialia (pokok perjanjian), naturalia (hak dan
kewajiban para pihak), dan wanprestasi (ingkar janji).
2. Contactual, yaitu para pihak sudah terikat kontrak melalui kesepakatan yang
sudah tercapai sampai dengan akhir dari suatu perjanjian.
3. Post contractual, yaitu kewajiban para pihak setelah masa kontrak.19
Apa yang dimaksud dengan anatomi kontrak?
Anatomi kontrak merupakan struktur yang terdapat dalam perjanjian
kontrak. Semua perjanjian yang dibuat secara tertulis dituangkan dalam bentuk
akta. Perjanjian kerja antara pengusaha dan pekerja merupakan akta di bawah
tangan, yaitu akta yang dibuat tanpa campur tangan pejabat umum dan dibuat
sendiri oleh para pihak. Pengaturan akta di awah tangan terdapat pada Pasal 1874
KUP Perdata. Akta ini memiliki kekuatan hukum sebagai alat bukti yang
sempurna jika diakui oleh para pihak. Akta di bawah tangan ada yang berbentuk
akta biasa, yaitu akta yang isinya ditetapkan bersama-sama oleh para pihak dan
ada yang berbentuk perjanjia standar/perjanjian baku yang isinya dirumuskan oleh
salah satu pihak. Yang paling sering digunakan dalam hubungan industrial adalah
akta di bawah tangan yang berbentuk perjanjian standar/perjanjia baku. Karena
dirumuskan secara sepihak, dalam perjanjian standar sering kali terdapat
klausa/pasal eksenorasi, yaitu klausa yang menghilangkan atau membatasi atau
mengalihkan tanggungjawab yang secara yudiris merupakan tanggungjawab salah
satu pihak di dalam perjanjian itu pada pihak lawan.
Bagian-bagian perjanjian bawah tangan yang biasa dibuat sebagai berikut:
- Judul akta, sedapat mungkin menggambarkan isi akta dan sifat akta.
- Awal akta, berisi hari, tanggal, bulan dan tahun pembuatan akta, tidak
memakai penyebutan jam.
- Penyebutan para pihak yang berguna untuk menentukan siapa yang terikat
pada perjanjian tersebut serta sebagai salah satu syarat sahnya perjanjian.

18
19

Idem. Hal 19-20


Idem. Hal 20

Premis akta, merupakan ketentuan-ketentuan yang mendesain bentuk


perjanjian atau fakta-fakta yang mendahului terjadinya perjanjian serta
konsensus para pihak.
Isi akta, biasanya pada pasa 1 konsesusnya diulang tetapi lebih rinci dan pasal
selanjutnya berisi pernyataan-pernyataan dan perjanjian.
Penutup akta, merupakan tujuan pembuatan akta, dibuat sebagai bukti sahnya
akta, dan harus ditandatangani para pihak.20

20

Idem. Hal 20-22