Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi yang sangat pesat dalam segala hal termasuk


telekomunikasi, berbanding lurus dengan kebutuhan akan kapasitas bandwidth transmisi
yang terus meningkat agar kualitas layanan tidak menurun (tetap) atau bahkan kualitas
layanan meningkat. Tantangan dalam merancang jaringan telekomunikasi yang dapat
melayani suatu jaringan dengan kapasitas yang besar mendorong ilmuan untuk melakukan
penelitian sehingga ditemukanlah suatu teknik multiplexing yang membagi panjang
gelombang menjadi beberapa bagian dimana setiap panjang gelombang bernilai setara
dengan satu kanal transmisi.
Pada mulanya, teknologi WDM yang merupakan cikal bakal lahirnya DWDM,
berkembang dari keterbatasan yang ada pada sistem serat optik, dimana pertumbuhan trafik
pada sejumlah jaringan backbone mengalami percepatan yang tinggi sehingga kapasitas
jaringan tersebut dengan cepatnya terisi. Hal ini menjadi dasar pemikiran untuk
memanfaatkan jaringan yang ada dibandingkan membangun jaringan baru.
Konsep ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1970, dan pada tahun 1978
sistem

WDM

telah terealisasi

di

laboratorium.

Sistem

WDM pertama

hanya

menggabungkan 2 sinyal. Pada perkembangan WDM, beberapa sistem telah sukses


mengakomodasikan sejumlah panjang-gelombang dalam sehelai serat optik yang masingmasing berkapasitas 2,5 Gbps sampai 5 Gbps. Teknologi WDM merupakan salah satu
pemanfaatan konsep multiplexing yang telah mendapat perhatian khusus dibidang
komunikasi serat optik, dimana dengan menggunakan metode ini dapat mentransmisikan 8
channel dalam satu serat optik. Kelebihan utama yang diperoleh dari penggunaan teknologi
WDM adalah :
1. Meningkatkan kapasitas jaringan tanpa menambah biaya pemasangan.
2. Ekspansi dari sistem yang bersifat fleksibel.

3. Menerapkan suatu jalur yang bersifat evolusioner untuk pelayanan di masa mendatang
dengan memanfaatkan infrastruktur jaringan yang sudah ada.
Namun penggunaan WDM menimbulkan permasalahan baru, yaitu ke-nonlinieran
serat optik dan efek dispersi yang semakin signifikan yang menyebabkan terbatasnya jumlah
panjang-gelombang.

Munculnya

permasalahan

baru

mendorong

ilmuan

untuk

mengembangkan lagi teknik WDM untuk menghasilkan kapasitas transmisi yang lebih
besar. WDM kemudian dikembangkan lagi dengan cara memaksimalkan channel spacing
diantara masing-masing panjang gelombang agar lebih rapat sehingga dapat menghasilkan
kanal transmisi yang lebih banyak sehingga dapat melayani kapasitas jaringan yang lebih
besar.
Pada

perkembangan

selanjutnya,

jumlah

panjang-gelombang

yang

dapat

diakomodasikan oleh sehelai serat optik bertambah mencapai puluhan buah dan kapasitas
untuk masing-masing panjang gelombang pun meningkat pada kisaran 10 Gbps. Teknik
multiplexing dengan memaksimalkan channel spacing ini dinamakan Dense Wavelength
Division Multiplexing (DWDM), dimana lebih dari 40 kanal (panjang gelombang) yang
dapat ditransmisikan dengan lebar/ jarak antara masing-masing panjang gelombang menjadi
lebih sempit.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian DWDM


Dense

Wavelength

Division

Multiplexing

(DWDM)

merupakan

teknik

multiplexing yang menggabungkan beberapa inputan sinyal optik dengan panjang


gelombang yang berbeda-beda untuk kemudian ditransmisikan secara bersamaan melalui
serat optik tunggal, dimana setiap panjang gelombang merepresentasikan sebuah kanal
informasi dengan kapasitas tertentu.

Gambar 2. 1 Konsep Dasar DWDM


Teknologi Wavelength Dense Multiplexing (WDM) pada dasarnya adalah teknologi
yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan kapasitas tranmisi, berisi trafik suara,
data dan video, pada jaringan dengan aplikasi jarak jauh (long haul) maupun untuk
aplikasi jarak dekat (short haul). Teknik multiplexing dengan menggunakan DWDM
membuat penyedia layanan mampu mentransmisikan multi sinyal optik dalam suatu fiber
tunggal secara bersamaan. Sinyal optik tersebut ditransmisikan dengan menggunakan
panjang gelombang yang berbeda-beda.
DWDM

merupakan

pengembangan

dari

teknologi

Wavelength

Division

Multiplexing (WDM) yang memiliki prinsip kerja serupa. Sistem WDM konvensional
bekerja pada dua daerah panjang gelombang yaitu 1310 dan 1550 nm, dan pada
perkembangannya WDM hanya menggunakan satu daerah panjang gelombang saja (1550
nm), tetapi dilakukan pembagian dengan lebar spectrum yang sangat kecil sehingga
menghasilkan beberapa panjang gelombang. Jadi yang membedakan DWDM dengan

pendahulunya adalah channel spacing yang lebih sempit sehingga dapat menampung
puluhan panjang gelombang. Channel spacing yang biasa digunakan dalam DWDM
adalah 50 GHz (0,4 nm), 100 GHz (0,8 nm) dan 200 GHz (1,6 nm).
Teknologi DWDM di implementasikan sebagai solusi teknologi transmisi dengan
kapasitas besar dengan media kabel serat optik yang memanfaatkan cahaya dengan
panjang gelombang () yang berbeda-beda, dimana setiap panjang gelombang mewakili
satu kanal transmisi. Dalam hal standarisasi internasional, teknologi DWDM banyak
mengacu pada rekomendasi yang dikeluarkan oleh ITU-T terutama seri G (G.692).
Keuntungan utama dari DWDM adalah penghematan yang sangat besar dari sisi
pembangunan infrastruktur jaringan serat optik. Pemanfaatan teknologi dengan
menggunakan teknik DWDM, memberikan dampak positif bagi para operator untuk
melakukan instalasi kabel serat optik cukup sekali saja, sehingga jika dibutuhkan
peningkatan kapasitas jaringan operator tidak perlu melakukan instalasi kabel tambahan.
2.2 Konsep Pengiriman Informasi pada Sistem DWDM
Konsep dasar sistem DWDM dapat digambarkan seperti blok diagram dibawah ini.

Gambar 2. 2 Blok Diagram Sistem DWDM

Penjelasan dari blok diagram pada gambar 2.2 adalah sebagai berikut :
Inputan pada sistem DWDM berupa trafik yang memiliki format data dan pesan bit
yang berbeda dan dihubungkan dengan laser DWDM. Laser tersebut akan mengubah
masing-masing sinyal informasi dan memancarkan dalam panjang gelombang yang
berbeda-beda 1, 2, 3, , -N. Masing-masing panjang gelombang tersebut
dimasukkan ke dalam MUX (multiplexer) dan keluarannya berupa cahaya yang
dipancarkan ke dalam sehelai serat optik.

Pada prosesnya cahaya keluaran yang

dipancarkan dari MUX ini akan ditransmisikan sepanjang serat optik, sehingga penguatan
sinyal diperlukan sepanjang jalur transmisi untuk mengantisipasi terjadinya pelemahan
sinyal. Sebelum ditransmisikan sinyal ini diperkuat terlebih dahulu dengan menggunakan
penguat awal (post-amplifier) dan setelah sampai pada tujuan akan dikuatkan kembali
oleh penguat akhir (pre-amplifier) untuk mencapai tingkat daya sinyal yang cukup.
Sedangkan ILA (Intermediate Light Amplification) merupakan penguat yang digunakan
untuk menguatkan sinyal sepanjang saluran trasmisi. Proses DEMUX (demultiplexer)
dilakukan pada ujung penerima untuk memisahkan cahaya menjadi beberapa panjang
gelombang sesuai dengan inputan, yang selanjutnya akan dideteksi menggunakan photo
detektor.
2.3 Komponen DWDM
Pada teknologi DWDM, terdapat beberapa komponen utama yang harus ada untuk
mengoperasikan DWDM dan agar sesuai dengan standart channel ITU sehingga
teknologi ini dapat diaplikasikan pada beberapa jaringan optik.

Gambar 2. 3 Ilustrasi Tata Letak Komponen pada DWDM

Komponen dasar dari DWDM dapat dibedakan berdasarkan tempatnya dalam sistem
sebagai berikut :
1. Transmitter/ Light Source
Light source atau light emitters adalah suatu perangkat transmitter yang berfungsi
untuk melakukan konversi dari sinyal listrik/ elektrik menjadi cahaya. Proses konversi
ini disebut modulasi yang dapat dilakukan dengan menggunakan external modulator
atau juga dapat menggunakan direct modulator yang dapat menghasilkan modulasi
cahaya secara langsung, dimana modulasi cahaya tersebut tersebut merupakan
representasi sinyal data.
Ada dua jenis laser yang berfungsi untuk memancarkan cahaya pada transmisi
optik yaitu light emitting diodes (LEDs) dan laser diodes (LD)/ semikonduktor laser.
LEDs cocok digunakan untuk transmisi optik dengan kecepatan kurang dari 1 Gbps
dan seringkali digunakan pada komunikasi optik untuk jenis serat multimode.
Sedangkan laser diodes/ semikonduktor laser mempunyai karakteristik performa yang
lebih baik saat digunakan pada komunikasi optik untuk jenis serat single-mode.

Gambar 2. 4 Proses Pembentukan Cahaya


Pada gambar 2.14 menunjukkan skema pembentukkan cahaya laser yang akan
ditransmitkan ke dalam suatu serat optik. Proses tersebut di awali oleh pancaran
cahaya yang di timbulkan oleh laser dioda chip, dimana pada satu arah akan di
fokuskan oleh lensa menuju serat optik dan pada arah yang berlawanan menuju
photodiode. Pada gambar terlihat photodiode yang posisi nya miring dimaksudkan
untuk mengurangi efek dari pantulan cahaya yang kembali ke menuju laser cavity.

Fungsi dari photodioda digunakan sebagai monitoring output laser yang di pancarkan
oleh laser diode chip.
2. Terminal Multiplexer
Sistem DWDM akan mengirimkan sinyal informasi dari beberapa sumber/
inputan (multiple fiber) dengan cara menggabungkan beberapa sinyal tersebut menjadi
satu panjang gelombang (one beam) yang kemudian di transmisikan melalui serat
optik tunggal, dimana proses penggabungan sinyal ini dilakukan dengan menggunakan
multiplexer.
Pada terminal multiplexer terdiri dari suatu transponder yang merupakan suatu
panjang gelombang yang mewakili masing-masing panjang gelombang (channel) yang
akan di transmisikan, dimana untuk setiap panjang gelombang tertentu dibedakan
berdasarkan frekuensi kanal nya. Transponder melakukan converting wavelength
setelah menerima sinyal input dan mengubah sinyal tersebut menjadi sinyal optik,
untuk kemudian mengirimkan sinyal tersebut menggunakan pita laser dengan panjang
gelombang 1550 nm.
3. Optical Amplifier
Pada sistem komunikasi optik, jarak bentang transmisi akan terbatasi oleh adanya
rugi-rugi transmisi, yang disebabkan oleh kehilangan daya karena faktor dispersi dan
losses. Meskipun power losses pada serat optik cukup rendah, namun untuk transmisi
jarak jauh, daya yang hilang akan terakumulasi dan menyebabkan sinyal semakin
melemah hingga sisi receiver. Untuk itu peranan penguat optik sangatlah penting
untuk menguatkan kembali intensitas sinyal pada saat ditransmisikan.
Penguat optik yang digunakan dalam teknologi DWDM adalah EDFA. EDFA
(Erbium Doped Fiber Amplifier) merupakan serat optik dari bahan silica (SiO2),
dimana inti seratnya (core) mengandung bahan Erbium (Er3+) yang termasuk ke
dalam golongan Rare-Earth Doped Fiber Amplifier. EDFA merupakan penguat optik
yang berperan penting pada sistem telekomunikasi optik, terutama untuk transmisi
jarak jauh, sehingga dapat mendukung pengiriman informasi dengan kapasitas besar
pada jaringan backbone. Sebagai langkah untuk mengantisipasi kehilangan daya, inline amplifier ditempatkan pada saluran transmisi. Pada aplikasi nya, EDFA dapat
mendukung penguatan sinyal dengan gain yang besar, baik untuk menguatkan sinyal

dengan sistem transmisi panjang gelombang tunggal ataupun transmisi berbasis


DWDM.
EDFA merupakan salah satu penguat optik yang dapat menghasilkan gain yang
besar (mencapai >20dB) dengan noise yang kecil. Komponen ini merupakan amplifier
jarak jauh yang menguatkan sinyal yang ditransfer sampai sejauh 140 km atau lebih.
Pemilihan EDFA sebagai penguat optik yang lebih efisien, karena dapat bekerja
dengan baik untuk menguatkan sinyal dengan panjang gelombang 1.5m, panjang
gelombang dengan loss yang paling kecil. Salah satu keunggulan EDFA ialah mampu
beroperasi pada range panjang gelombang yang cukup lebar yaitu C-band dan L-band.
Berikut ini beberapa keunggulan yang dimiliki oleh EDFA, sehingga dapat
mendukung teknologi DWDM :
a. Faktor peroleh EDFA sangat tinggi
EDFA pada tahap eksperimen memiliki gain sebesar 40 dB. Sedangkan perangkat
EDFA komersil mempunyai gain 20-30 dB dengan memompa energi sebesar 10
mW.
b. Bandwidth lebar
Ion Erbium melepaskan foton dengan interval panjang gelombang 1530-1560 nm
atau sama dengan bandwidth sebesar 3 THz. Pada interval tersebut redaman yang
terjadi pada serat optik hanya berkisar 0.2 dB/km, sehingga EDFA dapat
memperkuat puluhan sinyal dengan panjang gelombang yang berbeda secara
bersamaan.
c. Noise Figure EDFA sangat kecil
Noise Figure merupakan perbandingan antara S/Nin dengan S/Nout, sehingga
untuk tansmisi jarak jauh akan menghasilkan akumulasi derau optik, namun dengan
adanya tapis optik pada perangkat EDFA maka noise figure yang muncul sangat
kecil.
d. Daya output yang besar
Daya output pada EDFA meningkat seiring dengan meningkatnya daya diode laser
(optical pump).

4. Terminal Demultiplexer
End system yang merupakan sisi penerima (receiver) pada sistem DWDM
disyaratkan mampu membagi satu inputan panjang gelombang menjadi beberapa
panjang gelombang sebagai outputnya. Proses pembagian panjang gelombang
dilakukan dengan menggunkan demultiplexer, dimana hasil output untuk masingmasing panjang gelombang kemudian akan di coupling pada serat optik tunggal untuk
diteruskan menuju customer/ client. Proses dmultiplexing dilakukan sebelum cahaya
di deteksi oleh photodetector, karena photodetector berfungsi menerima cahaya
dengan masing-masing panjang gelombang yang berbeda untuk kemudian di konversi
menjadi elektron (optical to electrical).

Gambar 2. 5 Proses Demultiplexing


5. Receiver/ Photodetector
Pada sisi penerima, sinyal transmit akan dibedakan berdasarkan panjang
gelombangnya karena photodetector secara alami merupakan wideband devices,
dimana sinyal optik yang melewati photodetector akan terlebih dahulu dilakukan
proses demultiplex.
Ada dua jenis photodetector yang dikenal secara luas, yaitu positive- intrinsicnegative (PIN) photodiode dan avalanche photodiode (APD). PIN photodiode
memiliki prinsip kerja yang berkebalikan daripada LEDs, dimana cahaya akan di serap
dan kemudian di konversi menjadi elektron dengan perbandingan 1:1. Sedangkan
APD memiliki prinsip kerja yang hampir sama dengan PIN photodiode, akan tetapi
dengan menggunakan APD mampu memberikan sebuah proses penguatan, dimana

satu photon yang di konversi akan menghasilkan banyak elektron. PIN photodiode
memiliki keuntungan dari segi budjet yang termasuk dalam kategori low cost dan
memiliki sistem yang reliability, akan tetapi APD memiliki keunggulan yang lebih
dibandingkan photodiode jenis PIN, dimana jenis APD memiliki sensitivitas
penerimaan dan akurasi yang lebih baik.
Selain komponen komponen yang telah dijelaskan di atas, terdapat fungsi lain
dari perangkat pada sistem DWDM yaitu ADM (Add/Drop Multiplekser) dan OXC
(Optical Cross Connect).
1. Optical Add Drop Multiplexer (OADM)

Gambar 2. 6 Rangkaian DWDM dengan OADM


Diantara

komponen multiplexing dan demultiplexing dalam

sistem

DWDM

merupakan daerah dimana berbagai macam panjang gelombang dari input yang akan
di kirim ke penerima, pada beberapa titik sepanjang span sering diinginkan untuk
dihilangkan

atau

ditambah

dengan

satu

atau

lebih

panjang

gelombang.

OADM (Optical Add/Drop Multiplexer) inilah yang digunakan untuk melewatkan


sinyal dan melakukan fungsi add and drop yang bekerja pada level optik. Perangkat
ini dirancang untuk menyisipkan dan mengeluarkan satu atau beberapa kanal pada titik
tertentu pada jaringan optik multiwavelength. Pada prosesnya sinyal yang dilewatkan
melalui OADM tidak perlu di konversi terlebih dahulu dari optical ke electrical.

2. Optical Cross Connect (OXC)


Merupakan elemen penting pada jaringan Dense Wavelength Division
Multiplexing (DWDM). OXC memberikan fleksibilitas perutean dan kapasitas
transport bagi jaringan DWDM. Sebuah OXC dapat men-switch sinyal optik pada
kanal DWDM dari port input ke port output tanpa membutuhkan konversi sinyal optik.
Jika OXC dilengkapi dengan wavelength converter, maka ia dapat mengubah sinyal
optik yang datang ketika melewati switch. OXC ini berukuran NxN dan biasa
digunakan dalam konfigurasi jaringan ring yang memiliki banyak node terminal.

2.4 Kelebihan dan Kekurangan Teknologi DWDM


Kelebihan Teknologi DWDM:
1. Kapasitas yang jauh lebih besar
2. Pengembangan jaringan yang lebih mudah.
3. Dapat digunakan pada jarak terminal yang jauh.
4. Kemudahan menambah kapasitas, tidak seperti pada sistem lain.

Kekurangan Teknologi DWDM:


1. Untuk kapasitas kanal yang sedikit biaya yang dikeluarkan tidak efektif
2. Meskipun telah dirancang sedemikian rupa, masih ada potensi gangguan transmisi
akibat sifat-sifat alami cahaya, seperti crosstalk, efek non linear, dispersi dan
sebagainya.

BAB III

PENUTUP

Di tengah tantangan yang dihadapi untuk pengembangan kapasitas jaringan saat ini,
DWDM dapat menjadi salah satu pilihan solusi yang tepat. Meskipun terdapat beberapa
kelemahan DWDM sebagai suatu sistem, namun berbagai keunggulan dan kemudahan
yang ditawarkan dapat menjadi nilai tambah pemanfaatan teknologi ini.

Dense Wavelength Division Multiplexing


(DWDM)
Tugas Mata Kuliah Saluran Transmisi

Oleh :

Desna Roswaty Hotimah


13223858

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK ELEKTRONIKA


JURUSAN TEKNIK TELEKOMUNIKASI

INSTITUTE SAINS TEKNOLOGI NASIONAL


2014