Anda di halaman 1dari 152

EKSISTENSI TRANSPORTASI SUNGAI (KETEK)

SEBAGAI SARANA ALTERNATIF


DI KOTA JAMBI

SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Persyaratan Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S.1)
Dalam Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam

OLEH
MUHAMMAD ABDUL HANIF
NIM. AS.101055

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
2013/2014

NOTA DINAS

Jambi, 12 Mei 2014


Pembimbing I
Pembimbing II
Alamat

: Drs. Sayuti, M. Pd. I


: Mailinar, S. Sos, M. Ud
: Fakultas Adab dan Humaniora
Kepada Yth,
Ibu Dekan Fakultas Adab dan Humaniora
IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Di_
Jambi

Assalamualaikum Wr. Wb.


Setelah membaca dan mengadakan perbaikan seperlunya, kami berpendapat bahwa
skripsi saudara Muhammad Abdul Hanif yang berjudul Eksistensi Transportasi
Sungai (Ketek) sebagai Sarana Alternatif di Kota Jambi telah dapat diajukan untuk
dimunaqasahkan guna melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat mencapai
gelar Sarjana Strata Satu (S.1) pada Fakultas Adab dan Humaniora IAIN Sulthan Thaha
Saifuddin Jambi. Maka dengan ini kami ajukan skripsi tersebut agar dapat diterima
dengan baik.
Demikianlah, kami ucapkan terima kasih semoga bermanfaat bagi kepentingan agama,
nusa dan bangsa.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Drs. Sayuti, M. Pd. I


NIP. 19590902 199003 2 001

Mailinar, S. Sos, M. Ud
NIP. 19770505 200501 2 007

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI


SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

PENGESAHAN
Skripsi ini telah dimunaqasahkan oleh sidang Fakultas Adab dan Humaniora
IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi pada Selasa tanggal 20 Mei 2014 dan telah
diterima sebagai bagian dari persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh
gelar Sarjana Strata Satu (S.1) dalam Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam.
Jambi, 10 Juni 2014
Dekan
Fakultas Adab dan Humaniora

Dr. Armida, M.Pd.I


NIP. 19621223 199003 2 001
Sekretaris Sidang

Ketua Sidang

Ulfati, M.Pd.I
NIP. 19670525 199203 2 001

Samsul Huda, M.Ag


NIP. 19700703 200212 1 002

Penguji I

Pembimbing I

Prof. Dr. Adrianus Chatib, S.S, M.A


NIP. 19550106 198203 1 001

Drs. Sayuti, M.Pd.I


NIP.19590902 199003 2 001

Penguji II

Pembimbing II

M. Nur, S.Sos, M.Sy


NIP. 19730423 200604 1 003

Mailinar, S.Sos, M.Ud


NIP. 19770505 200501 2 007

ii

SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI

Nama

: Muhammad Abdul Hanif

NIM

: AS.101055

Pembimbing I

: Drs. Sayuti, M. Pd. I

Pembimbing II

: Mailinar, S. Sos, M. Ud

Fakultas

: Adab dan Humaniora

Jurusan

: Sejarah Kebudayaan Islam

Judul Skripsi

: Eksistensi Transportasi Sungai (Ketek) sebagai Sarana


Alternatif di Kota Jambi

Menyatakan bahwa karya ilmiah/skripsi ini adalah asli bukan plagiasi serta
telah diselesaikan dengan ketentuan ilmiah menurut peraturan yang berlaku.
Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan
apabila dikemudian hari, ternyata telah ditemukan sebuah pelanggaran plagiasi
dalam karya ilmiah/skripsi ini, maka saya siap diproses berdasarkan peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku.

Jambi, 12 Mei 2014


Materai 6000

Muhammad Abdul Hanif


NIM. AS.101055

iii

MOTTO

)176 : (
Artinya: Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka
berfikir.(QS. Al-Araf: 176)1

Departemen Agama RI Indonesia, Al-Quran danTerjemahnya, (Jakarta: Swakarya, 1989),

hal. 251.

iv

PERSEMBAHAN

Skripsi ini aku persembahkan kepada:


Ayah dan Ibu
Yang selalu menjadi cahaya kehidupan ku
Menjadi Rembulan di saat datangnya malam
Dan Matahari di saat siang
Tak Lekang panas menyengat tubuhnya demi mencari kehidupan
Tak peduli hujan membasahinya demi secerik penghasilan
Tanpa pamrih berjuang
Rela berkorban membanting tulang dengan ketulusan hati yang terdalam
Mengasuh, membesarkan, mendidik, membina dan membimbing
Sungguh perjuangan yang melelahkan
Semoga ketulusan Ayah dan Ibu
Diridhoi oleh Allah SWT
Dengan balasan Surga-Nya
Bapak dan Ibu Guru (Ustadz dan Ustadzah)
Yang selalu menjadi inspirasi ku
Memberi motivasi di saat aku terjatuh, menawarkan harapan di saat aku terbangun
Mengingatkan di saat lupa, menasehati di saat salah
dan mengapresiasi di saat benar
Semoga jasa-jasa Bapak dan Ibu Guru
Dibalas oleh Allah SWT
Dengan keadaan husnul khatimah
Kakak, Adik dan Sahabat-Sahabat Ku
Eni Defiriani, M. Pd, Muhammad Munawar Holil, Qatrunnada Ramadhaniah
Dewan Pembimbing (Demisioner)
dan segenap pengurus Asrama Mahad Al-Jamiah
yang selalu mewarnai kehidupanku
Susah, senang dan sedih bersama
Semoga kalian diberikan kebahagian
Dunia dan Akhirat
Amin Ya Rabbal Alamin
v

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah SWT yang senantiasa


melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis diberikan
kekuatan dan ketegaran dalam menyelesaikan skripsi ini dengan judul Eksistensi
Transportasi Sungai (Ketek) sebagai Sarana Alternatif di Kota Jambi. Shalawat
teriring salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta para
sahabat, keluarga dan umatnya sepanjang zaman. Amin ya rabbal alamin.
Selama penyusunan dan penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan,
dukungan dan masukan, baik berupa ide ataupun saran dari berbagai pihak. Untuk itu,
dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang teristimewa
kepada Bapak Zainuddin dan Ibu Zuhriyah selaku orang tua penulis yang selalu
memberikan cinta, doa dan motivasinya yang luar biasa. Selanjutnya, ucapan
terimakasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan terutama kepada Bapak Drs.
Sayuti, M.Pd.I selaku Pembimbing Skripsi I dan Ibu Mailinar, S.Sos, M.Ud selaku
Pembimbing Skripsi II yang selalu memberikan koreksi dan masukan demi
kesempurnaannya skripsi ini, terima kasih luar biasa. Selanjutnya tak lupa pula penulis
menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Dr. Armida, M.Pd
selaku Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, Bapak Samsul Huda, M.Ag selaku Wakil
Dekan I, Bapak H. Mislan, M.Pd.I selaku Wakil Dekan II, Ibu Zarfina Yenti, M.Ag
selaku Wakil Dekan III, Ibu Mailinar, S.Sos, M.Ud selaku Ketua Jurusan dan Bapak

vi

Aliyas, M.Fil.I selaku Sekretaris Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan
Humaniora IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, serta para karyawan dan karyawati
Fakultas Adab dan Humaniora IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi yang telah
bersusah payah memberikan pelayanan dan berbagi urusan bagi penulis dalam
penyelesaian dan penyusunan skripsi.
Kemudian, terima kasih juga penulis ucapkan kepada Ibu Dra. Umil Muhsinin,
M.Pd (Menga) selaku bibi penulis yang selalu mendukung dan memberikan support
serta bantuannya yang tak terhingga kepada penulis selama menempuh

jenjang

perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini, terima kasih yang luar biasa. Terima kasih
juga penulis ucapkan kepada seluruh Civitas Akademik Mahad Al-Jamiah IAIN
Sulthan Thaha Saifuddin Jambi atas bimbingannya selama ini terkhusus kepada Ust. H.
Abu Mansur Al-Maturidi Lc., M.Hi dan Ummi Shinta Wati MF, M.Pd, terima kasih
yang

sedalam-dalamnya

atas

didikan

mentalitasnya

sehingga

penulis

bisa

menyelesaikan skripsi ini dengan tegar. Dan juga kepada sahabat-sahabat perjuangan
Dewan Pembimbing (Demisioner) Mahad Al-Jamiah IAIN Sulthan Thaha Saifuddin
Jambi, Muhammad Ilham S.Ud, Ahmad Mustaniruddin, S.Ud, Suparno, S.Hum, Erick
Pratama, S.Sos, Suprapno, S.Pd.I, Alif Rahman Hakim, S.Pd, Muhammad Halim, S.Ud,
Libra Khusayaini, S.IP, Muhammad Amin, S.E.Sy dan Andes Saputra, S.E,Sy, terima
kasih untuk sharing nya dan semangatnya selama ini serta tidak lupa untuk sahabat
terbaik ku Ardiansah, S.Hum yang selama ini menjadi teman juang dan saing ku selama
duduk di bangku perkuliahan, terima kasih atas motivasinya. Serta kepada semua pihak

vii

yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan
namanya satu persatu, terima kasih semuanya.
Akhir kata, penulis mohon maaf bila terdapat kekurangan dalam penyusunan
Skripsi ini. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk hasil yang lebih baik di kemudian
hari. Semoga Skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Amiin ya rabbal alamin.

Jambi, 12 Mei 2014


Penulis

viii

ABSTRAK

Hanif, Muhammad Abdul. Eksistensi Transportasi Sungai (Ketek) sebagai Sarana


Alternatif di Kota Jambi. Skripsi, Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas
Adab dan Humaniora IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Pembimbing: (I)
Drs. Sayuti, M. Pd. I (II) Mailinar, S. Sos, M. Ud
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan alat transportasi
yang modern dan canggih serta kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah
berupa pembangunan jembatan, dengan sendirinya akan mengancam keberadaan
ketek sebagai transportasi sungai yang memiliki nilai dan muatan lokal. Hal ini
dikhawatirkan akan mematikan jalur transportasi sungai di DAS Batang Hari Kota
Jambi. Ketek merupakan sarana yang sangat penting, karena merupakan satu-satunya
jenis transportasi angkutan sungai yang berfungsi sebagai sarana transportasi
penyeberangan sungai di DAS Batang Hari Kota Jambi.
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana eksistensi transportasi
sungai ketek, fungsi transportasi sungai ketek dan persepsi masyarakat tentang
eksistensi transportasi sungai ketek sebagai sarana alternatif di Kota Jambi.
Penelitian ini merupakan penelitian etnografi ala James P. Spradley dengan
pendekatan emik dan perspekstif kualitatif-fenomenologi. Data diperoleh dari hasil
pengamatan berperanserta (observation participant) dan wawancara mendalam
(indept interview) dengan batasan wilayah di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota
Jambi.
Hasilnya adalah eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi saat ini
berada pada tingkat keprihatinan karena mengalami kemunduran. Kemunduran dalam
penurunan jumlah transportasi sungai ketek, sistem pelaksanaan (penempatan
parkir.berlabuhnya ketek) yang tidak proporsional dan kemunduran dalam
mempertahankan nilai budaya masa lalu. Fungsi transportasi sungai ketek di kota
Jambi adalah sebagai sarana mata pencaharian hidup, sarana penyeberangan sungai
Batang Hari serta sarana lomba dan rekreasi. Persepsi masyarakat tentang eksistensi
transportasi sungai ketek di kota Jambi bahwa ketek merupakan urat nadi masyarakat
lokal sebagai roda perekonomian dan sebuah tradisi yang sudah mendarah daging,
sehingga keberadaan transportasi sungai ketek tetap dipertahankan oleh masyarakat
Seberang Kota Jambi.
Kata Kunci: Transportasi sungai ketek, eksistensi, fungsi dan persepsi

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
NOTA DINAS .................................................................................................... i
PENGESAHAN ................................................................................................. ii
SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI ................................... iii
MOTTO .............................................................................................................. iv
PERSEMBAHAN .............................................................................................. v
KATA PENGANTAR ....................................................................................... vi
ABSTRAK .......................................................................................................... ix
DAFTAR ISI ...................................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xiii
DAFTAR TABEL .............................................................................................. xiv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah........................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................... 9
C. Tujuan Penelitian ..................................................................................... 9
D. Kegunaan Penelitian ................................................................................ 10
E. Ruang Lingkup dan Pembatasan Penelitian ............................................. 11
F. Metode Penelitian .................................................................................... 12
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian .......................................................... 12
2. Penentuan Lokasi Penelitian................................................................ 14
3. Penentuan Informan............................................................................. 16
4. Jenis dan Sumber Data ........................................................................ 17
5. Teknik Pengumpulan Data .................................................................. 19
6. Teknik Analisis Data ........................................................................... 23
7. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data ................................................. 24
8. Jadwal Penelitian ................................................................................. 27
BAB II KAJIAN TEORI
A. Pengertian Eksistensi ............................................................................... 28
B. Transportasi .............................................................................................. 28
1. Pengertian Transportasi ...................................................................... 28
2. Unsur-unsur Transportasi.................................................................... 30
3. Peranan Transportasi ........................................................................... 30
4. Jenis-Jenis Transportasi ...................................................................... 31
5. Konsep Dasar Transportasi ................................................................. 31
C. Transportasi dan Kebudayaan .................................................................. 32
D. Transportasi, Kearifan Lokal dan Modernisasi ........................................ 38
x

BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN


A. Gambaran Umum Kota Jambi ................................................................. 43
1. Kondisi Wilayah Fisik ....................................................................... 43
2. Batas Administrasi ............................................................................. 44
3. Kependudukan ................................................................................... 45
4. Pertumbuhan Ekonomi....................................................................... 46
B. Gambaran Umum Wilayah Penelitian ..................................................... 47
1. Monografi .......................................................................................... 47
2. Pemerintahan ...................................................................................... 48
3. Penduduk............................................................................................ 50
4. Sosial, Pendidikan dan Agama .......................................................... 53
5. Perumahan dan Perhubungan ............................................................. 56
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Eksistensi Transportasi Sungai Ketek di Kota Jambi ............................... 59
1. Sejarah Munculnya Transportasi Sungai ketek .................................. 59
2. Macam-Macam Transportasi Sungai di Kota Jambi .......................... 63
3. Istilah Lain Ketek sebagai Transportasi Sungai ................................. 69
4. Proses Pembuatan Transportasi Sungai ketek .................................... 69
5. Jumlah Transportasi Sungai Ketek ..................................................... 76
6. Struktur dan Sistem Pelaksanaan Organisasi Ketek ........................... 79
7. Fungsi Pelabuhan Masa Lalu dan Sekarang ...................................... 82
8. Penumpang dan Aktivitas Transportasi Sungai Ketek ....................... 85
B. Fungsi Transportasi Sungai ketek di Kota Jambi ..................................... 88
1. Ketek sebagai Sarana Mata Pencaharian Hidup .................................. 88
2. Ketek sebagai Sarana Penyeberangan Sungai ..................................... 93
3. Ketek sebagai Sarana Lomba dan Rekreasi......................................... 94
C. Persepsi Masyarakat Tentang Eksistensi Transportasi
Sungai ketek di Kota jambi ...................................................................... 95
1. Ketek sebagai Roda Perekonomian ..................................................... 95
2. Ketek sebagai Tradisi Masyarakat Lokal ............................................ 97
D. Pembahasan Hasil Penelitian ................................................................... 99
1. Pembahasan Eksistensi Transportasi Sungai Ketek
di Kota Jambi ...................................................................................... 99
2. Pembahasan Fungsi Transportasi Sungai Ketek
di Kota Jambi ...................................................................................... 101
3. Pembahasan Persepsi Masyarakat tentang Eksistensi
Transportasi Sungai Ketek di Kota Jambi ........................................... 103

xi

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................................. 105
B. Rekomendasi ............................................................................................ 105
C. Kata Penutup ............................................................................................ 106
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xii

DAFTAR GAMBAR

BAB I PENDAHULUAN
Gambar 1
Pendekatan dan Jenis Penelitian .................................................. 13
Gambar 2
Lokasi Penelitian ......................................................................... 15
BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Gambar 1
Struktur Organisasi Kecamatan Pelayangan ............................... 49
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambar 1
Bentuk Struktur Perahu Mesin di Pulau Pandan ......................... 61
Gambar 2
Bentuk Struktur Transportasi Sungai Ketek di Seberang
Kota Jambi ................................................................................... 63
Gambar 3
Bentuk Tajuk Ketek ..................................................................... 72
Gambar 4
Bentuk Gading Ketek ................................................................... 73
Gambar 5
Bentuk Mal Ketek ........................................................................ 74
Gambar 6
Bentuk Pisang-pisang Ketek ........................................................ 74
Gambar 7
Bentuk Haluan dan Tutup Jgong Ketek ....................................... 75
Gambar 8
Bentuk Buritan dan Tutup Jgong Ketek....................................... 75
Gambar 9
Struktur Ketek dalam bentuk Kerangka ....................................... 76
Gambar 10
Kondisi Tempat Parkir Roda Dua di Kelurahan
Arab Melayu ................................................................................ 79
Gambar 11
Kondisi Transportasi Sungai Ketek di Kelurahan
Arab Melayu ................................................................................ 81
Gambar 12
Kondisi Transportasi Sungai Ketek di Kelurahan
Mudung Laut, Jelmu dan Tengah ................................................ 82

xiii

DAFTAR TABEL

BAB I
Tabel 1

PENDAHULUAN
Jadwal Penelitian ................................................................................ 27

BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN


Tabel 1 Luas Kecamatan, Kelurahan dan RT di Kota Jambi Tahun 2012 ....... 44
Tabel 2 Jumlah Penduduk Menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin
di Kota Jambi Tahun 2012 .................................................................. 45
Tabel 3 Distibusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto
Kota Jambi Atas Dasar Berlaku Tahun 2010-2012 ............................ 46
Tabel 4 Nama-Nama Pejabat Camat Pelayangan Sampai dengan 2012 .......... 48
Tabel 5 Nama-Nama Pejabat Pemerintahan di Dinas Vertikal
Kecamatan Pelayangan 2012 .............................................................. 48
Tabel 6 Nama-Nama Pejabat Kelurahan dalam Kecamatan
Pelayangan 2012 ................................................................................. 50
Tabel 7 Banyaknya Rukun Tetangga, Rumah Tetangga, Penduduk
dan Anggota Rumah Tangga Dirinci Per Kelurahan 2012 ................. 51
Tabel 8 Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dirinci Per Kelurahan 2012 ......... 52
Tabel 9 Rata-Rata Kepadatan Penduduk Per Km2 Dirinci Menurut
Kelurahan 2012 ................................................................................... 52
Tabel 10 Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas Menurut
Mata Pencaharian ................................................................................ 53
Tabel 11 Banyaknya Karang Taruna, Unit Olahraga dan Lapangan
di Kecamatan Pelayangan 2012 .......................................................... 54
Tabel 12 Jumlah Sekolah, Murid dan Guru di Kecamatan
Pelayangan 2012 ................................................................................. 55
Tabel 13 Banyaknya Penduduk Menurut Agama Dirinci
Per Kelurahan 2012 ............................................................................. 55
Tabel 14 Banyaknya Sarana, Peribadatan Dirinci Menurut Jenisnya
Per Kelurahan 2012 ............................................................................. 56
Tabel 15 Banyaknya Perumahan Penduduk di Kecamatan
Pelayangan Dirinci Per Kelurahan 2012 ............................................. 57
Tabel 16 Persentase Pemakaian Alat Transportasi di Kecamatan
Pelayangan 2012 ................................................................................. 57
Tabel 17 Banyaknya Alat Transportasi Menurut Kelurahan
di Kecamatan Pelayangan 2012 .......................................................... 58

xiv

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Tabel 2 Banyaknya Transportasi Sungai Ketek Dirinci Per Kelurahan
di Kecamatan Pelayangan 2014 .......................................................... 77

xv

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas beribu pulau
sepanjang garis khatulistiwa yang menempati peringkat keempat dari 10 negara
berpopulasi terbesar di dunia.1 Tanpa sarana transportasi yang memadai maka akan
sulit untuk menghubungkan seluruh daerah di kepulauan ini.
Transportasi merupakan salah satu sektor kegiatan yang sangat penting karena
berkaitan dengan kebutuhan setiap orang. Kebutuhan ini misalnya kebutuhan untuk
mencapai lokasi kerja, lokasi sekolah, mengunjungi tempat hiburan atau pelayanan,
dan bahkan untuk bepergian ke luar kota. Transportasi tidak hanya mengangkut orang,
tetapi juga untuk memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain.2
Pentingnya peranan transportasi tersebut akan tercermin pada penyelenggaraan
dari peran dan fungsi transportasi itu sendiri yang mempengaruhi semua aspek
kehidupan bangsa dan negara serta semakin meningkatnya kebutuhan jasa transportasi
bagi mobilitas orang dan barang dalam negeri. Disamping itu, transportasi juga
berperan sebagai penunjang, pendorong dan penggerak bagi pertumbuhan daerah yang
memiliki potensi sumber daya alam yang besar tetapi belum berkembang.

Lihat CIA World Factbook Tahun 2013 (ilmupengetahuanumum.com/10-negara-denganjumlah-penduduk-populasi-terbanyak-di-dunia/), tanggal akses 28 Februari 2013 pukul 10.00 WIB.
2
Rizki Permata Sari, Pergeseran Pergerakan Angkutan Sungai di Sungai Martapura Kota
Banjarmasin, Tesis, (Semarang, Undip, 2008), hal. 1.

Perkembangan transportasi memungkinkan berbagai kegiatan dapat diangkut


melalui darat, udara ataupun laut dengan jenis angkut yang beragam. Namun yang
perlu diingat, bahwa sebagai fasilitas pendukung kegiatan kehidupan, maka
perkembangan transportasi harus diperhitungkan dengan tepat dan secermat mungkin
agar dapat mendukung tujuan pembangunan secara umum dari satu dearah.3
Transportasi sungai di Indonesia pada umumnya digunakan untuk melayani
mobilitas barang dan penumpang, baik di sepanjang aliran sungai maupun
penyeberangan sungai.4 Sistem perairan sungai yang dapat dilayari harus memenuhi
persyaratan teknis, yakni: kedalaman, kelandaian, dan kecepatan arus tertentu,
sehingga aman dan mudah dilayari. Angkutan sungai sangat menonjol di Kalimantan,
Sumatera dan Papua. Di Kalimantan, angkutan sungai banyak digunakan untuk
kebutuhan angkutan lokal dan perkotaan, terutama di wilayah yang belum tersedia
prasarana transportasi jalan.5
Dalam kacamata sejarah, transportasi/angkutan sungai itu sudah dikenal mulai
zamannya nenek moyang kita selama sudah ribuan tahun yang lalu berprofesi sebagai
pelaut. Sejak lama Indonesia telah dikenal sebagai salah satu negara perahu
tersohor. Hal ini dapat dibuktikan pada gambar relief yang berupa perahu pada candi
Borobudur, candi Perambanan dan beberapa candi yang lain.6

Fidel Miro, Perencanaan Transportasi, (Jakarta: Erlangga, 2005), hal. 2.


Rizki Permata Sari, Pergeseran Pergerakan Angkutan Sungai di Sungai Martapura Kota
Banjarmasin, hal. 54.
5
A. Taufik Mulyana, Transportasi Air. (Banjarmasin: Fakultas Teknik Universitas Lambung
Mangkurat, 2005), hal. 5.
6
Baca Lisbijanto, Kapal Pinisi, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), hal. 7.
4

Ada yang mengatakan pada awalnya nenek moyang kita membuat perahu
dengan hanya kemampuan yang sederhana, yaitu mengaitkan beberapa batang bamboo
menjadi satu, yang kemudian dikenal sebagai rakit atau gethek. Namun rakit ini hanya
bisa digunakan untuk pelayaran jarak dekat dan hanya cocok untuk pelayaran di
sungai yang tidak ada gelombang. Bentuk rakit merupakan bentuk perahu yang paling
sederhana, tanpa kemudi dan layar. Kemungkinan lain nenek moyang kita jauh
sebelum mengenal perahu masih menggunakan batang pohon pisang yang disatukan
dengan tali atau batang dan digunakan untuk pelayaran yang jarak dekat serta daerah
sungai yang tanpa gelombang. Kedua jenis perahu sederhana tersebut sampai sekarang
masih digunakan oleh penduduk di pedesaan dan pedalaman.7
Indonesia sebagai negara kepulauan dan memiliki kebudayaan dan suku bangsa
yang beragam, maka terdapat berbagai jenis perahu yang sesuai dengan adat dan
tradisi masing-masing daerah. Jenis perahu yang dikenal di Indonesia, antara lain
disebut sampan, biduk, bidar, kora-kora, klotok, ketingting, pancalang, lancing,
kalulus, bahtera, tongkang, janggolan, jung, palari, sandek, paduakang, orembai,
rorehe, sope, balaso-e, eretan, kano dan sekoci. Bentuk perahu-perahu tersebut juga
beragam, ada yang polos, ada yang berwarna-warni dipenuhi hiasan atau ukiran dan
ada yang memiliki ciri tertentu. Perahu-perahu tersebut mempunyai fungsi dan
kegunaan yang bermacam-macam, misalnya perahu yang berfungsi untuk membawa

Lisbijanto, Kapal Pinisi, hal. 7.

hasil tangkapan, membawa barang dagangan, olahraga, transportasi, pesiar, menjaga


keamanan, berperang dan kegunaan lainnya.8
Berkaitan dengan penjelasan tersebut, Jambi merupakan salah satu daerah yang
memiliki sungai terpanjang di pulau Sumatera yaitu Sungai Batang Hari. Daerah
Aliran Sungai (DAS) Batang Hari merupakan DAS terbesar kedua di Indonesia,
mencakup luas areal tangkapan (catchment area) 4.9 juta Ha. Sekitar 76 % DAS
Batang Hari berada pada provinsi Jambi, sisanya berada pada provinsi Sumatera
Barat.9
Sungai Batang Hari berasal dari Pegunungan Bukit Barisan dari 2 lokasi
sebagai awalnya sungai yaitu Danau Kerinci (Jambi) dari arah selatan menuju ke
utara-timur menjadi Sungai Batang Tembesi dan Danau Kembar dari arah utara
(Sumbar) menuju selatan-timur yang menjadi Sungai Batanghari Hulu. Kedua sungai
tersebut bertemu di Kota Muara Tembesi dan selanjutnya mengalir ke timur menuju
ke timur bernama Sungai Batanghari melewati Kota Jambi menuju laut di Selat
Berhala.10
Keberadaan Sungai Batang Hari di Provinsi Jambi memberikan ruang lingkup
yang luas terhadap perkembangan transportasi sungai di Kota Jambi. Salah satu jenis
transportasi sungai yang berkembang di Kota Jambi yang sesuai dengan adat dan
tradisi daerahnya adalah transportasi sungai ketek. Transportasi sungai ketek
8

Lisbijanto, Kapal Pinisi, hal. 8.


Lihat (http://id.wikipedia.org/wiki/Batang_Hari). Tanggal diakses Minggu, 11 Mei 2014
pukul 14.45 WIB.
10
Lihat(http://www.pu.go.id/satminkal/dit_sda/profil%20balai/bws/profilebws%20sumatera%20
VI.pdf).Tanggal diakses 11 Mei 2014 pukul 19.15 WIB.
9

merupakan sarana transportasi sungai utama masa lalu dan hingga saat ini masih
dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat di Kota Jambi khususnya di Seberang Kota
Jambi.
Tata ruang kota Jambi memiliki keunikan dibandingkan dengan wilayah lain,
karena dialiri Sungai Batang Hari yang berfungsi sebagai batas alami antara kota yang
menjadi pusat pemerintahan dan cenderung modern dengan wilayah tradisional,
maka dibutuhkan penanganan khusus dalam hal mobilitas penduduk. Terdapat dua
alternatif penghubung, yaitu jalur darat yang melalui jembatan Aur Duri dan jalur
sungai dengan menggunakan perahu kecil atau ketek.11
Sebelum berkembangnya ketek, pada tahun 1960 transportasi sungai yang
digunakan adalah berupa sampan atau perahu dayung yang terbuat dari kayu.12
Kemudian perahu dayung tersebut berkembang menjadi perahu bermesin yang
awalnya digunakan oleh orang Palembang yang tinggal di daerah Pulau Pandan bagian
Selatan Sungai Batang Hari. Kemudian setelah orang-orang Palembang itu maju, baru
selanjutnya diikuti oleh masyarakat seberang kota Jambi.13 Saat itu lah, Istilah perahu
bermesin berubah menjadi ketek. Namun, saat ini keberadaan transportasi sungai ketek
di Kota Jambi sedang mengalami perkembangan yang diagresif sebagai akibat dari
arus modernisasi yang berkepanjangan tanpa kendali. Hal ini dapat dibuktikan dengan

11

Bondan Seno Prasetyadi, dkk, Transportasi Sungai dan Masyarakat Melayu Jambi, ISSN :
18582559 (Depok, Jurnal Universitas Gunadarma, 2005), hal. 12.
12
Lihat Yosephine H. K., Djarot Sadharto W. 2013, Kajian Penggunaan Moda Transportasi
Sungai Di Kota Jambi (Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2013), hal. 309.
13
Hasil wawancara dengan bapak Abdul Kadir. Salah satu tukang ketek di Kelurahan Tengah.
Kamis, 22 November 2012 pukul 09.30 s/d 10.00 WIB di Rumah kediamannya.

berbagai ancaman yang datang silih berganti terhadap perkembangan transportasi


sungai ketek yang dimulai pada tahun 1986.
Pada tahun 1986an, Pemerintah Provinsi Jambi berhasil membangun jembatan
Batang Hari I (Aurduri) di ujung barat Kota Jambi. Tujuan pembangunan jembatan ini
adalah untuk memperlancar arus transportasi antar kota dan antar provinsi yang
harapannya dapat berdampak positif pada perkembangan ekonomi daerah. Tetapi
pembangunan jembatan ini berdampak negatif pada penggunaan transportasi sungai
karena mereka beralih pada transportasi darat. Tetapi penurunan pengguna transportasi
sungai ini tidak terlalu besar yaitu sebesar 5-15 %.14
Berdasarkan hasil survey awal peneliti dari informasi di lapangan setelah
dibangunnya Jembatan Batang Hari I (Aurduri) oleh pemerintah Provinsi Jambi,
pendapatan tukang ketek mengalami penurunan.15 Hal ini dikarenakan jasa transportasi
sungai mulai ditinggalkan. Dengan kata lain, terdapat penurunan dari jumlah
penumpang ketek. Hal ini menggambarkan bahwa terjadi peralihan dalam
menggunakan jenis transportasi di kalangan masyarakat, dimana yang mulanya
menggunakan transportasi sungai beralih menggunakan transportasi darat.
Pada tahun 2010, pemerintah kembali berhasil membangun jembatan yang
kedua yaitu Jembatan Batang Hari II yang berada di ujung timur Kota Jambi.
Jembatan ini bertujuan melancarkan transportasi hasil perekonomian sebagai akses
untuk mendukung ekspor-impor daerah menuju pasar global, melayani arus lalu lintas
14

Yosephine, Kajian Penggunaan Moda Transportasi Sungai di Kota Jambi, hal. 310.
Hasil wawancara dengan Bapak Senang. Salah seorang tukang ketek di Kelurahan Tengah.
Selasa, 11 Maret 2014. Pukul 10.00 s/d 10.05 WIB.
15

timur sumatera dan mempercepat pengembangan wilayah pedalaman pantai timur


Provinsi Jambi dan sekitarnya. Pembangunan ini lagi-lagi memberikan dampak negatif
pada transportasi sungai dimana 30-50% pengguna transportasi sungai beralih
menggunakan transportasi darat.16 Selain itu, hal ini juga mengakibatkan
berkurangnya jumlah ketek yang ada di Kelurahan Tanjung johor dan Tahtul Yaman.
Setelah dibangunnya Jembatan Batang Hari II jumlah ketek yang ada di Tanjung Johor
hanya tersisa tinggal 8 buah dari 30 jumlah total ketek di Kelurahan Tanjung Johor.17
Dan tidak ditemukan lagi keberadaan ketek di Kelurahan Tahtul Yaman.
Pada tahun 2013, Pemerintah kembali membangun jembatan yang ketiga yaitu
Jembatan Gantung yang dibangun oleh Pemerintah Daerah khusus untuk para pejalan
kaki sebagai peningkatan mutu pariwisata Provinsi Jambi. Jembatan ini terletak di
antara kawasan Tanggo Rajo (Ancol) Kecamatan Pasar dengan Kecamatan
Pelayangan tepatnya di Kelurahan Arab Melayu Seberang Kota Jambi yang saat ini
masih

dalam

tahap

proses

pembangunan.

Dikhawatirkan,

dengan

adanya

Pembangunan Jembatan Gantung ini akan kembali mengancam keberadaan


transportasi sungai ketek di Kota Jambi, karena letaknya yang tepat berada di tengahtengah kawasan sungai penyeberangan ketek.
Dewasa ini, dengan semakin tingginya animo masyarakat seberang yang
cenderung lebih tertarik menggunakan jenis transportasi darat yang lebih canggih dan
berbasis teknologi daripada menggunakan jenis transportasi sungai. Hal ini membuat
16

Yosephine, Kajian Penggunaan Moda Transportasi Sungai di Kota Jambi, hal. 310.
Hasil Wawancara dengan Bapak Ilyas. Salah satu tukang ketek yang ada di kelurahan
Tanjung Johor. Selasa, 15 Maret 2014 pukul 20.15 s/d 20.45 WIB di Rumah kediamannya.
17

peran dan fungsi transportasi darat lebih banyak diminati oleh masyarakat Seberang
Kota Jambi, sehingga transportasi sungai ketek mulai ditinggalkan dan berada pada
level bawah.
Kehadiran transportasi sungai ketek di Kota Jambi sangat penting. Karena
ketek merupakan satu-satunya jenis transportasi angkutan sungai yang berfungsi
sebagai sarana transportasi penyeberangan di DAS Batang Hari dari seberang kota
menuju kota Jambi atau dari kota menuju Seberang Kota Jambi.
Oleh karena itu, dengan perkembangan alat transportasi yang modern dan
canggih serta kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah berupa pembangunan
jembatan, dengan sendirinya akan mengancam keberadaan ketek sebagai transportasi
sungai yang memiliki nilai dan muatan lokal. Hal ini dikhawatirkan akan mematikan
jalur transportasi sungai di DAS Batang Hari Kota Jambi.
Secara teori, dalam konsep modernisasi pada umumnya modernisasi membawa
kepada perubahan sosial dan pembangunan yang berlangsung menuju ke arah
kemajuan dan pembaruan yang bermakna dan bernilai positif.18 Namun, dalam
perakteknya mengapa modernisasi di Kota Jambi sendiri memberikan dampak negatif
bagi perkembangan transportasi sungai ketek di Kota jambi dan mengapa alat
transportasi sungai ketek di Kota Jambi mengalami kemunduran.
Berangkat dari permasalah ini, penulis merasa tertarik untuk melakukan
sebuah kajian tentang keberadaan transportasi sungai ketek di Kota Jambi terkait

18

Nursid Sumaatmadja, Manusia dalam Konteks Sosial, Budaya dan Lingkungan Hidup.
(Bandung: Alfabeta, 2010), hal. 67.

dengan kelangsungan masa depan ketek tersebut sebagai ikon transportasi sungai di
DAS Batang Hari. Maka dalam penelitian ini, peneliti akan mencoba melihat
bagaimana eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi, dengan spesifikasi judul
penelitian yaitu EKSISTENSI TRANSPORTASI SUNGAI (KETEK) SEBAGAI
SARANA ALTERNATIF DI KOTA JAMBI.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini
dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi?
2. Bagaimana fungsi transportasi sungai ketek di Kota Jambi?
3. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap eksistensi transportasi sungai ketek di
Kota Jambi?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mendeskripsikan bagaimana eksistensi transportasi Sungai ketek di Kota Jambi.
2. Mendeskripsikan bagaimana fungsi transportasi Sungai ketek di Kota Jambi.
3. Mendeskripsikan

bagaimana

persepsi

masyarakat

terhadap

eksistensi

transportasi sungai ketek di Kota Jambi.

D. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagi objek yang diteliti
a. Diharapkan agar transportasi sungai ketek di kota Jambi mendapatkan
perhatian dan kebijakan dari pemerintah kota maupun provinsi Jambi
sehingga kelangsungan transportasi sungai ketek tersebut lebih menjanjikan
ke depannya.
b. Diharapkan agar transportasi sungai ketek di kota Jambi dikenal lebih luas
oleh masyarakat dalam kota maupun luar kota dan menjadi ikon kota Jambi,
sehingga bisa dikembangkan menjadi transportasi sungai pariwisata di DAS
Batang Hari.
2. Bagi almamater
a. Bisa memberikan sumbangan analisis etnografi tentang transportasi sungai
ketek di Kota Jambi.
b. Bisa menjadi bahan bacaan bagi mahasiswa yang ingin mengetahui perihal
tentang transportasi sungai ketek di Kota Jambi.
c. Bisa menjadi bahan acuan bagi mahasiswa yang tertarik untuk meneliti
lebih jauh lagi tentang transportasi sungai masa lalu di Provinsi Jambi.
3. Bagi penulis
a. Sebagai bahan untuk menambah pengetahuan tentang transportasi sungai
ketek di Kota Jambi.

10

b. Sebagai bahan pembelajaran untuk mengasah daya berpikir kritis dan


sistematis.
c. Sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana (S.1) di
Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab-Sastra dan Kebudayaan
Islam IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

E. Ruang Lingkup dan Pembatasan Penelitian


1. Ruang Lingkup Penelitian
Adapun ruang lingkup dalam penelitian ini adalah:
a. Subjek/informan dalam penelitian ini ialah pemilik budaya itu sendiri. Dalam
hal ini tukang ketek dan penumpang ketek yang secara umum merupakan
masyarakat Seberang Kota Jambi.
b. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi.
2. Pembatasan Penelitian
Adapun pembatasan dalam penelitian ini adalah:
a. Eksistensi transportasi sungai ketek sebagai sarana alternatif di kota Jambi.
b. Fungsi transportasi sungai ketek sebagai sarana alternatif di kota Jambi.
c. Persepsi masyarakat tentang eksistensi transportasi sungai ketek sebagai sarana
alternatif di kota Jambi.

11

F. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dijelaskan pada sub bab
sebelumnya. maka dalam penelitian ini menggunakan pendekatan emik dengan
perspektif kualitatif. Pendekatan emik adalah pengkategorian fenomena budaya
menurut warga setempat (pemilik budaya).19 Penelitian kualitatif adalah penelitian
yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek
penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik dan
dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus
yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.20 Metode alamiah
yang dimaksud adalah metode-metode yang biasanya dimanfaatkan oleh penelitian
kualitatif seperti wawancara, pengamatan dan pemanfaatan dokumen.
Kemudian, penelitian ini juga menggunakan paradigma fenomenologi dengan
jenis penelitian etnografi baru ala James P. Spradley. Paradigma fenomenologi adalah
sebuah landasan berpikir yang berusaha untuk memahami budaya lewat pandangan
pemiliki budaya atau pelakunya.21 Berbeda dari etnografi modern yang dipelopori
Radcliffe-Brown dan Malinowski yang memusatkan perhatiannya pada organisasi
internal suatu masyarakat dan membanding-bandingkan sistem sosial dalam rangka
untuk mendapatkan kaidah-kaidah umum tentang masyarakat, maka etnografi baru ini
19

Baca Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi,


Epistimologi, dan Aplikasi, (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2006), hal. 55.
20
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2013), hal. 6.
21
Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistimologi,
dan Aplikasi, hal. 65.

12

memusatkan

usahanya

mengorganisasikan

untuk

budaya

menemukan

mereka

dalam

bagaimana
pikiran

berbagai

mereka

dan

masyarakat
Kemudian

menggunakan budaya tersebut dalam kehidupan.22 Untuk lebih jelasnya lihat Gambar
1 Pendekatan dan Jenis Penelitian di bawah ini.

Perspektif Kualitatif:
Deskripsi dalam bentuk katakata dan bahasa secara
holistik.

Pendekatan Emik:
Pengkategorian budaya
menurut pemilik budaya.

PENELITIAN BUDAYA23

Paradigma Fenomenologi:
Usaha untuk memahami
budaya lewat pandangan
pemilik budaya.

Jenis Penelitian Etnografi Baru ala James P.


Spradley:

Usaha untuk menemukan keunikan dari suatu


masyarakat melalui persepsi dan organisasi
pikiran dari masyarakat atas fenomena
material yang ada disekelilingnya. Dalam hal
ini peneliti berusaha untuk mengoreknya
keluar dari pikiran mereka.

Gambar 1
Pendekatan dan Jenis Penelitian
22

James P. Spradley, Metode Etnografi, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), hal, xii.
Penelitian budaya merupakan suatu upaya sistematis dan objektif untuk mempelajari suatu
fenomena atau permasalahan dengan tujuan menemukan prinsip-prinsip umum. Yang dimaksud prinsip
umum adalah berbagai hal yang didukung oleh sebagian informan budaya. Dalam kaitan ini, prinsip
umum berupa kebenaran secara objektif dan logis melalui langkah-langkah matang, pengumpulan data,
teknik analisis data, dan simpulan yang meyakinkan. Lihat Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik
Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistimologi, dan Aplikasi, hal, 74-75.
23

13

2. Penentuan Lokasi Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah, penelitian ini dilakukan di Kecamatan
Pelayangan Kota Jambi. Kecamatan Pelayangan adalah salah satu kecamatan yang
terletak di Seberang Kota Jambi setelah Kecamatan Danau Teluk. Tidak seperti
kecamatan-kecamatan lainnya di Kota Jambi, di kecamatan ini cukup banyak
ditemukan transportasi sungai ketek. Hampir setiap kelurahan di kecamatan ini
memiliki transportasi sungai ketek, mulai dari Kelurahan Tengah, Jelmu, Mudung
Laut, Arab Melayu, Tahtul Yaman hingga Tanjung Johor. Berdasarkan hasil observasi
awal bahwa kecamatan ini adalah tempat awal mulanya berkembang transportasi
sungai ketek. Sehingga dipilihlah kecamatan ini sebagai lokasi penelitian.
Setelah lokasi penelitian ditentukan, maka selanjutnya proses memasuki lokasi
lapangan. Mula-mula peneliti akan mengunjungi setiap pelabuhan yang ada di
Kecamatan Pelayangan ini satu-persatu dalam rangka untuk melihat secara garis besar
situasi sosial dan budaya yang ada di setiap pelabuhan-pelabuhan tersebut. Kemudian
peneliti akan mendata jumlah transportasi sungai ketek yang ada di pelabuhanpelabuhan tersebut secara keseluruhan. Setelah itu, baru kemudian peneliti memilih
beberapa tukang ketek yang berpengalaman untuk dijadikan sebagai informan utama.
Sebagai catatan, ada 3 pelabuhan ketek yang terletak di Kecamatan Pasar Kota
Jambi yang berfungsi sebagai tempat tujuan berlabuhnya transportasi sungai ketek
yang ada di Seberang Kota Jambi. Pelabuhan-pelabuhan itu adalah Pelabuhan ketek di
Pasar Angso Duo, Pelabuhan ketek di Ramayanan dan Pelabuhan ketek di Tanggo

14

Rajo. Tiga pelabuhan ini juga menjadi lokasi penelitian dalam penelitian ini. Untuk
lebih jelasnya bisa dilihat pada Gambar 2 Lokasi Penelitian di bawah ini.

Kel.
Kampung
Tengah

Kel.
Jelmu

Kel.
Mudung
Laut

Kel. Arab Melayu

Kel.
Tahtul
Yaman

Kel.
Tanjung
Johor

SUNGAI BATANGHARI

Kawasan
Angso Duo

Kawasan
Ramayana

Kawasan
Tanggo Rajo

RUMAH GUBERNUR

Keterangan:
1.

= Jembatan Gantung

2.

= Menara (Gentala Arsy)

Gambar 2
Lokasi Penelitian
15

3. Penentuan Informan
Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan model snowball
sampling. Model snowball sampling adalah strategi yang dinilai tepat, karena
menentukan jumlah dan sampel tidak semata-mata oleh peneliti. Peneliti bekerjasama
dengan informan, menentukan sampel berikutnya yang dianggap penting.24
Teknik Penyampelan seperti ini Menurut Frey ibarat bola salju yang
menggelinding saja dalam menentukan subjek penelitian. Maksudnya, peneliti
mencari relawan di lapangan, yaitu orang-orang yang mampu diajak berbicara dan dari
mereka data akan diperoleh. Dari mereka pula akan ada penambahan sampel dan atau
subjek, atas rekomendasinya itu, peneliti segera meneruskan ke subjek yang lain.
Jumlah sampel tidak ada batas minimal atau maksimal, yang penting telah memadai
dan mencapai data jenuh, yaitu tidak ditemukan informasi baru lagi dari subjek
penelitian.25 Adapun informan yang akan dijadikan sebagai sasaran dalam penelitian
ini yaitu sebagai berikut:
1. Tukang Ketek
Tukang ketek yang akan dijadikan sebagai informan adalah tukang ketek yang
berpengalaman, yang sudah lama berkecimpung di dalam dunia ketek, karena
dianggap memiliki pengetahuan yang banyak tentang perkembangan transportasi
sungai ketek. Dalam hal ini biasanya adalah tukang ketek yang sudah memiliki usia
yang cukup tua. Tukang ketek yang berusia tua cenderung lebih berpengalaman
24

Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistimologi,


dan Aplikasi, hal. 115.
25
Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistimologi,
dan Aplikasi, hal. 116.

16

daripada tukang ketek yang masih berusia muda. Sehingga diharapkan bisa
memberikan informasi yang akurat terkait dengan masalah penelitian ini.
2. Penumpang ketek
Penumpang ketek yang akan dijadikan sebagai informan dalam penelitian ini
terdiri dari para pedagang, pemuda/pemudi, tuo tengganai, anak-anak sekolahan yang
mayoritas adalah masyarakat di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi, dll.

4. Jenis dan Sumber Data


a. Data Primer
Data Primer yaitu data yang dikumpulkan, diolah dan disajikan oleh peneliti
dari sumber pertama/utama.26 Menurut Lofland dan Lofland bahwa sumber data utama
dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data
tambahan seperti dokumen dan lain-lain.27 Kata-kata dan tindakan yang dimaksud
adalah kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancari yang
dicatat melalui catatan tertulis atau perekaman video/audio tapes, pengambilan foto
atau film.28 Data primer tersebut merupakan data utama dari hasil pengamatan,
wawancara dan dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti berkenaan dengan
eksistensi, fungsi dan persepsi masyarakat terhadap transportasi sungai ketek yang ada
di Kota Jambi.
b. Data Sekunder
26

Tim Penyusun Buku Pedoman Skripsi, Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Adab-Sastra
dan Kebudayaan Islam, (Jambi: IAIN STS Jambi, 2012), hal. 31.
27
Lihat Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi, hal. 157.
28
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi, hal. 157.

17

Data Sekunder yaitu data yang dikumpulkan, diolah dan disajikan oleh pihak
lain, yang biasanya dalam bentuk publikasi atau jurnal29, dokumen (sumber tertulis),
foto, data statistik. Data sekunder tersebut merupakan data tambahan yang diperoleh
dalam bentuk tertulis yang berkenaan dengan sejarah, letak geografis, demografis, dan
kehidupan sosial budaya (keagamaan, pendidikan, adat-istiadat, dan ekonomi)
masyarakat Kota Jambi. Data sekunder seperti dokumen yang dimaksud tersebut
berupa buku-buku ilmiah, tesis, skripsi, jurnal ilmiah, hasil penelitian lapangan dan
lain sebagainya yang bisa diperoleh dari perpustakaan IAIN STS Jambi, perpustakaan
wilayah kota Jambi, atau di tempat-tempat asrsip lainnya seperti Kantor Dinas
Lembaga Adat Kota, Kantor Dinas BPCB (Badan Penelitian Cagar Budaya) Provinsi,
kantor Camat dan Lurah Seberang Kota Jambi, atau bisa juga diperoleh dari hasil
searching di internet, buku-buku pribadi, pinjaman, dan lain-lain. Bahkan sampai
dokumen-dokumen pribadi subjek penelitian jika ada.
Kemudian, data sekunder lainnya seperti foto, juga digunakan untuk keperluan
penelitian ini. Ada dua kategori foto yang dimanfaatkan dalam penelitian kualitatif,
yaitu foto yang dihasilkan orang dan foto yang dihasilkan oleh peneliti sendiri.30
Kedua kategori foto tersebut juga akan dijadikan sebagai data tambahan. Sebagai
catatan jika foto tersebut hendak dipublikasikan, maka peneliti akan meminta
persetujuan terlebih dahulu dari pihak-pihak yang terkait. Dan data tambahan lainnya
seperti data statistik juga digunakan sesuai dengan keperluan dalam penelitian ini.
29

Tim Penyusun Buku Pedoman Skripsi, Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Adab-Sastra
dan Kebudayaan Islam, hal. 31.
30
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi, hal. 160.

18

5. Teknik Pengumpulan Data


Teknik Pengumpulan Data dalam penelitian ini menggunakan teknik
Observasi/pengamatan, wawancara dan dokumentasi, sebagaimana yang dijelaskan di
bawah ini:
a. Observasi/pengamatan
Untuk mendapatkan hasil penelitian yang maksimal, maka dalam penelitian
ini, secara peranannya digunakan teknik participant observation (pengamatan
berperanserta). Pengamatan berperanserta, berarti pengamat (peneliti) budaya ikut
terlibat baik pasif ataupun aktif ke dalam tindakan budaya. 31 Pengamatan
berperanserta akan lebih memungkinkan peneliti memasuki fenomena yang lebih
dalam. Peneliti tidak hanya mengamati serampangan saja, melainkan ikut terlibat dan
menghayati sebuah fenomena.32 Dalam hal ini, peneliti akan melakukan pengamatan
dengan langsung berperan sebagai penumpang ketek atau bisa jadi sebagai tukang
ketek, sehingga bisa secara langsung melihat, mendengar dan menghayati bagaimana
proses budaya terjadi.
Dengan melakukan pengamatan, peneliti bisa melihat dunia sebagaimana dilihat
oleh subjek penelitian dan memungkinkan peneliti merasakan apa yang dirasakan dan
dihayati oleh subjek penelitian, sehingga memungkinkan pula peneliti menjadi sumber
data. Teknik ini digunakan dengan maksud untuk membentuk pengetahuan yang
diketahui bersama baik dari pihak peneliti maupun subjek penelitian. Walaupun tidak
31

Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistimologi,


dan Aplikasi, hal. 136.
32
Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistimologi,
dan Aplikasi, hal. 136.

19

secara keseluruhan menyelami kehidupan subjek penelitian, setidaknya peneliti


memiliki gambaran umum dari pengalaman pribadinya untuk membandingkannya
dengan keterangan-keterangan yang didapatkan dari subjek penelitian ataupun
informan.
Adapun langkah-langkah dalam melakukan proses pengamatan dalam
penelitian ini adalah dengan cara tidak terstruktur. Maksudnya peneliti bisa kapan saja
turun ke lapangan untuk melakukan pengamatan. Dalam proses pengamatan, peneliti
juga

melakukan

proses

wawancara.

Hal

ini

dilakukan

ketika

kondisinya

memungkinkan. Jadi, antara pengamatan dan wawancara bisa dilakukan secara


bersamaan.
b. Wawancara
Agar dalam proses melakukakan wawancara bisa berjalan dengan lancar,
nyaman, informasi yang didapatkan akurat, dan tidak ada yang merasa tertekan antara
pewawancara dengan terwawancara, maka digunakanlah teknik indepth interview
(wawancara mendalam) atau wawancara tak berstruktur.
Wawancara mendalam biasanya dinamakan wawancara baku etnografi atau
wawancara kualitatif. Wawancara dilakukan dengan santai, informal, dan masingmasing pihak seakan-akan tidak ada beban psikologis. Wawancara mendalam akan
memperoleh kedalalaman data secara menyeluruh.33

33

Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistimologi,


dan Aplikasi, hal. 168.

20

Teknik pengumpulan data melalui wawancara yaitu teknik bagaimana peneliti


memperoleh informasi secara langsung dari informan berupa keterangan-keterangan
yang sesuai dengan tujuan wawancara. Wawancara adalah percakapan dengan
maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara
(interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang
memberikan jawaban atas pertanyaan itu.34
Dalam hal ini peneliti akan mewawancarai langsung pihak-pihak yang terkait
dengan masalah penelitian ini sebagaimana yang telah dijelaskan pada sub bab
sebelumnya yaitu tukang ketek dan penumpang ketek yang secara umum merupakan
masyarakat di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi. Adapun langkah-langkah
dalam melakukan proses wawancara ini, secara umum dijelaskan sebagai berikut:
1) Peneliti akan menentukan siapa orang pertama (informan kunci) yang akan
diwawancari terlebih dahulu.
2) kemudian barulah peneliti menjajaki kepada informan-informan lainnya
untuk diwawancarai dan seterusnya sampai informasi yang diperoleh utuh
dan jelas.
3) Proses wawancara berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak
(pewawancara dan yang akan diwawancarai).
4) Pertanyaan wawancara tidak dibuat secara terstruktur, namun hanya dalam
bentuk gambaran umum saja.

34

Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi, hal. 186.

21

5) Waktu wawancara tidak dibatasi dan dianggap selesai ketika tidak ada lagi
informasi baru yang didapatkan dari seorang informan.
6) Bahasa yang digunakan pada saat wawancara menggunakan bahasa seharisehari masyarakat setempat (bahasa melayu jambi). Jika kiranya diperlukan
menggunakan bahasa Indonesia, maka peneliti menggunakan bahasa
Indonesia.
7) Suasana dalam proses wawancara pun akan dibuat senyaman-nyaman
mungkin.
8) Alat rekam yang digunakan dalam proses wawancara ini yaitu
menggunakan hand phone tipe Nokia Asha 302.
c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah teknik terakhir yang digunakan untuk pengumpulan data
dalam penelitian ini. Di dalam sebuah pendokumentasian, sering dikenal istilah
dokumen, record35, foto, dan video/film. Dokumen merupakan catatan peristiwa yang
sudah berlalu, bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya menumental dari
seseorang

yang

berfungsi

sebagai

bukti

bahwa

hasil

penelitian

dari

observasi/pengamatan dan wawancara mengandung nilai yang kredibel. Sebagai


penunjang dalam pendokumentasian, maka akan diperlukan berbagai macam jenis
koleksi foto dan video/film yang sesuai dengan kebutuhan penelitian. untuk
35

Menurut Guba dan Lincoln, record adalah setiap pernyataan tertulis yang disusun oleh
seseorang atau lembaga untuk keperluan pengujian suatu peristiwa atau penyajian akunting. Dokumen
ialah setiap bahan tertulis ataupun film, lain dari record, yang tidak dipersiapkan karena adanya
permintaan seorang penyidik. Lihat J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi, hal. 216217.

22

pengumpulan data melalui dokumentasi ini diperlukan alat/instrument yang membantu


dalam pengambilan data-data seperti kamera/handycam.

6. Teknik Analisis Data


Setelah data-data diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi
terkumpulkan, maka tahap berikutnya adalah menganalisis data. Analisis Data adalah
upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data,
memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari
dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan
memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.36 Adapaun teknik analisis
data dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:37
a. Analisis Domain
Analisis domain dilakukan terhadap data yang diperoleh dari pengamatan
berperanserta/wawancara atau pengamatan deskriptif yang terdapat dalam catatan
lapangan. Pengamatan deskriptif berarti mengadakan pengamatan secara menyeluruh
terhadap sesuatu yang ada dalam latar penelitian.
b. Analisis Taksonomi
Setelah selesai analisis domain, dilakukan pengamatan dan wawancara
terfokus berdasarkan fokus yang sebelumnya telah dipilih oleh peneliti. Oleh hasil
pengamatan terpilih dimanfaatkan untuk memperdalam data yang telah ditemukan
36

Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi, hal. 248.


Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi, hal. 149.

37

23

melalui pengajuan sejumlah pertanyaan struktural. Data hasil wawancara terpilih


dimuat dalam catatan lapangan.
c. Analisis Komponen
Setelah analisis taksonomi, dilakukan wawancara atau pengamatan terpilih
untuk memperdalam data yang telah ditemukan melalui pengajuan sejumlah
pertanyaan kontras. Data hasil wawancara terpilih dimuat dalam catatan lapangan.
d. Analisis Tema
Analisis tema merupakan seperangkat prosedur untuk memahami secara
holistic pemandangan yang sedang diteliti. Sebab setiap kebudayaan terintegrasi
dalam beberap jenis pola yang lebih luas.

7. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data


Teknik pemeriksaan keabsahan data berfungsi sebagai salah satu usaha untuk
menghasilkan nilai kredibilitas data yang baik. Pemeriksaan keabsahan data
didasarkan atas kriteria tertentu. Kriteria itu terdiri atas derajat kepercayaan
(kredibilitas), keteralihan, kebergantungan, dan kepastian. Masing-masing kriteria
tersebut menggunakan teknik pemeriksaan sendiri-sendiri.38
Di dalam buku Lexy J. Moleong yang berjudul Metode Penelitian Kualitatif:
Edisi Revisi dijelaskan bahwa penerapan kriterium derajat kepercayaan (kredibilitas)
berfungsi untuk melaksanakan inkuiri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan
penemuannya dapat dicapai. Selain itu, untuk mempertunjukkan derajat kepercayaan
38

Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi, hal. 344.

24

hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda
yang sedang diteliti.39
Dijelaskan kembali di dalam buku tersebut, untuk mendapatkan nilai
kredibilitas (derajat kepercayaan) data yang baik, maka ada beberapa teknik
pemeriksaan di dalamnya, yaitu:40
(1) perpanjangan keikut-sertaan,
(2) ketekunan pengamatan,
(3) triangulasi, dan
(4) pengecekan sejawat
Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi adalah

teknik

pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu
untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Menurut
Denzin, ada empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang dimanfaatkan,
yaitu (1) pemanfaatan penggunaan sumber, (2) pemanfaatan penggunaan metode, (3)
pemanfaatan penggunaan penyidik, dan (4) pemanfaatan penggunaan teori.41
Maka berdasarkan penjelasan di atas, dalam penelitian ini digunakan teknik
pemeriksaan keabsahan data melalui teknik triangulasi dengan pemanfaatan
penggunaan sumber. Triangulasi dengan pemanfaatan penggunaan sumber berarti
membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang

39

Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi, hal. 344.


Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi, hal. 327.
41
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi, hal. 330.
40

25

diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Hal itu
dapat dicapai dengan jalan:42
a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
b. Membandingkan apa yang dikatakan di depan umum dengan apa yang
dikatakannya secara pribadi.
c. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian
dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.
d. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai
pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang
berpendidikan menengah, atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan.
e. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang
berkaitan.

8. Jadwal Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 7 bulan mulai dari pembuatan proposal skripsi,
pengajuan proposal skripsi dan penunjukkan Dosen Pembimbing. Setelah itu,
konsultasi Dosen Pembimbing dan Seminar. Kemudian, dilanjutkan dengan perbaikan
hasil seminar, pengesahan judul dan permohonan izin riset. Setelah itu, baru
pengumpulan data, penyusan data, analisis data, penulisan draf skripsi, penyusunan
dan penggandaan. Terakhir ujian skripsi. Lihat Jadwal Penelitian pada Tabel 1 pada
halaman 27.
42

Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi, hal. 331.

26

Tabel 1
JADWAL PENELITIAN

NO

TAHAP PENELITIAN

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Pembuatan Proposal Skripsi


Pengajuan Proposal Skripsi
Penunjukan Dosen Pembimbing
Konsultasi Dosen Pembimbing
Seminar Proposal
Perbaikan Hasil Seminar
Pengesahan Judul
Permohonan Izin Riset
Pengumpulan Data
Penyusunan Data
Analisis Data
Penulisan Draf Skripsi
Penyusunan dan Penggandaan
Ujian Skripsi (munaqasah)

Nov
2013
1 2 3 4 1
x x x x x

Des
2013
2 3 4 1
x x x
x

BULAN DAN TAHUN


Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
2014
2014
2014
2014
2014
2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
x
x x
x
x
x
x
x
x x x x x x x x x
x
x
x
x
x

27

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pengertian Eksistensi
Secara bahasa, istilah eksistensi diartikan sebagai keberadaan atau
adanya.1 Keberadaan atau adanya di sini dalam konteks merujuk kepada ada atau
tidak adanya pengaruh dari keberadaan sesuatu tersebut terhadap sesuatu yang lain
(benda/orang). Di samping itu, ada juga yang mengatakan bahwa eksistensi adalah
adanya kehidupan.2

B. Transportasi
1. Pengertian Transportasi
Transportasi berasal dari Bahasa Latin yaitu transportare, dimana trans
berarti seberang atau sebelah lain, dan portare berarti mengangkut atau
membawa.3 Transportasi diartikan sebagai usaha memindahkan, menggerakkan,
mengangkut atau mengalihkan obyek dari satu tempat ke tempat lain, sehingga
obyek tersebut menjadi lebih bermanfaat atau berguna untuk tujuan tertentu.4 Alat
pendukung yang dipakai untuk melakukan kegiatan tersebut bervariasi tergantung

Budiono M. A., Kamus Ilmiah Populer Internasional, (Surabaya: Karya Harapan, 2005),

hal. 141.

Tim Reality, Kamus Praktis Bahasa Indonesia: Edisi Terbaru, (Penerbit: Reality
Publisher, 2008), hal. 156.
3
Adib Kamaludin, Ekonomi Transportasi (Cetakan Pertama), (Jakarta: Ghalia Indonesia,
1987), hal. 9.
4
Fidel Miro, Perencanaan Transportasi, hal. 4.

28

dari bentuk obyek yang akan dipindahkan, jarak antara suatu tempat ketempat lain
dan maksud obyek yang akan dipindahkan tersebut.5
Secara konteks, transportasi mengandung makna/arti yang tidak jauh
berbeda dengan makna/arti daripada angkutan, hanya saja terkadang antara
tansportasi dan angkutan sering ditemukan dalam susunan kalimat-kalimat dengan
kedudukan dan fungsi yang berbeda. Namun, secara makna memiliki maksud yang
sama. Secara etimologi angkutan berasal dari kata angkut yang berarti
mengangkat atau membawa, memuat dan membawa atau mengirim.6 Mengangkut
berarti mengangkat dan membawa, memuat atau mengirim. Pengangkutan berarti
pengangkatan atau pembawaan barang atau orang, pemuatan dan pengiriman
barang atau orang yang diangkut. Dengan demikian, angkutan dapat berarti suatu
proses atau gerakan dari satu tempat ke tempat yang lain.7
Berdasarkan

ulasan

tersebut

dapat

diartikan

bahwa

pengangkutan

mengandung pengertian suatu kegiatan memuat barang atau mengangkut orang


yang biasa disebut penumpang, membawa barang atau penumpang ke tempat yang
lain. Bilamana dirumuskan dalam satu kalimat yang dimaksud angkutan adalah
proses kegiatan memuat barang atau penumpang ke dalam alat tempat pemuatan ke
tempat tujuan dan menurunkan penumpang/barang dari alat angkut ke tempat yang
telah ditetapkan.8

Rizki Permata Sari, Pergeseran Pergerakan Angkutan Sungai di Sungai Martapura Kota
Banjarmasin, hal. 34.
6
Muhammad Abdulkadir, Hukum Pengangkatan, Darat, Laut dan Udara, (Bandung: Citra
Aditya Bhakti, 1994), hal. 19.
7
Martono Eka Budi Tjahjono, Transportasi di Perairan Berdasarkan Undang-undang
Nomor 17 Tahun 2008. (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hal. 5-6.
8
Martono Eka Budi Tjahjono, Transportasi di Perairan Berdasarkan Undang-undang
Nomor 17 Tahun 2008. hal. 6.

29

2. Unsur-unsur Transportasi
Transportasi memiliki lima unsur pokok di dalamnya, yaitu:9
a. Ada manusia, sebagai yang membutuhkan transportasi
b. Ada barang yang dibutuhkan manusia
c. Ada kendaraan sebagai sarana/alat angkut
d. Ada jalan sebagai prasarana, dan
e. Organisasi sebagai pengelola transportasi.

3. Peranan Transportasi
Dalam peranannya, tansportasi mampu menciptakan dan meningkatkan
aksebilitas (degree of accessibility) potensi-potensi sumber daya alam yang
awalnya tidak termanfaatkan menjadi terjangkau dan dapat diolah. Kemajuan
transportasi juga akan membawa pada peningkatan mobilitas manusia, dimana
semakin tinggi mobilitas akan semakin tinggi pula tingkat produktivitas. Dengan
peningkatan produktivitas tersebut, maka akan membawa dampak pada kemajuan
perekonomian.10
Dalam

aspek

sosial

budaya,

transportasi

menyebabkan

terjadinya

penyebaran penduduk.11 Dan membuka peluang interaksi satu sama lain untuk
saling mengenal dan menghormati budaya masing-masing.12 Hal demikian, berarti

Ahmad Munawar, Dasar-dasar Teknik Transportasi, (Yogyakarta: Beta Offset, 2005),

hal. 2.
10

Nur Nasution, Manajemen Transportasi (Edisi Kedua), (Jakarta: Ghalia Indonesia,


2004), hal. 14.
11
Abbas Salim, Manajemen Transportasi, (Jakarta: Raja Grafindo, 2002), hal. 11.
12
Nur Nasution, Manajemen Transportasi (Edisi Kedua), hal. 17.

30

dapat menciptakan kehidupan bermasyarakat yang beranekaragam dan dituntut


untuk saling bertoleransi satu sama lain.

4. Jenis-jenis Transportasi
Jenis transportasi yang umumnya dikenal dan dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu:13
a. Udara, yaitu dengan moda pesawat dan prasarana bandara
b. Air, yaitu dengan moda kapal dan prasarana dermaga atau pelabuhan
c. Darat, yaitu: jalan raya (dengan moda berupa mobil, bus, sepeda motor), jalan
rel (kereta api), dsb.

5. Konsep Dasar Transportasi


Konsep transportasi didasarkan pada adanya perjalanan (trip) antara tempat
asal (origin) dan tujuan (destination). Dalam suatu perjalanan, ada perjalanan yang
merupakan pergerakan yang diawali dari rumah (home based trip) dan ada juga
perjalanan yang asal maupun tujuannya adalah bukan rumah (non-home based
trip).14

13

Ahmad Munawar, Dasar-dasar Teknik Transportasi, hal. 2.


Ofyar Tamin, Perencanaan dan Permodelan Transportasi, (Bandung: Intitut Teknologi
Bandung, 1997), hal. 94.
14

31

C. Transportasi dan Kebudayaan


C. Kluckhohn dalam karangannya berjudul Universal Categories Of Culture
(1953) dengan mengambil intisari dari berbagai kerangka yang ada mengenai
unsur-unsur kebudayaan universal. Unsur-unsur kebudayaan yang dapat ditemukan
pada semua bangsa di dunia berjumlah tujuh buah, yang dapat disebut sebagai isi
pokok dari setiap kebudayaan, yaitu:15
a. Bahasa
b. System pengetahuan
c. Organisasi social
d. System peralatan hidup dan teknologi
e. System mata pencaharian hidup
f. System religi
g. Kesenian.
Dari ketujuh unsur yang disebutkan di atas, salah satunya adalah sistem
mata pencaharian hidup. System mata pencaharian hidup dapat dirinci ke dalam
sub-sub unsur sebagai berikut: perburuan, peladangan, perkebunan, pertanian,
peternakan, perdagangan, industri kerajinan, industry pertambangan, industry jasa,
industry manufaktur, dan lain-lain.16
Secara fungsional, ketujuh unsur kebudayaan itu memiliki fungsi
sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam karangan buku Malinowski tentang
teori fungsionalisme yang berjudul A Scientific Theory of Culture and Other
Essays (1944). Dalam buku itu Malinowski mengembangkan teori tentang fungsi

15

Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), hal 80.


Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, hal. 83.

16

32

unsur-unsur kebudayaan yang sangat Komplex. Tetapi inti dari teori itu adalah
pendirian bahwa segala aktivitas kebudayaan itu sebenarnya bermaksud
memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluri makhluk manusia
yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya.17
Menurut Malinowski berbagai unsur kebudayaan yang ada dalam suatu
masyarakat gunanya untuk memuaskan sejumlah hasrat naluri manusia. Karena itu
unsur kesenian, misalnya, berfungsi untuk memuaskan hasrat naluri manusia
akan keindahan; unsur system pengetahuan, berfungsi memuaskan hasrat untuk
tahu.18 Begitu juga dengan unsur system mata pencaharian hidup, berfungsi
untuk memuaskan hasrat naluri manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Jika berkiblat pada pandangan Vansina, yang mengatakan bahwa Seorang
peneliti budaya perlu memaknai kebudayaan sebagai proses dan produk.
Kebudayaan sebagai proses perlu dicermati terjadinya transmisi pesan budaya dari
waktu ke waktu. Sedangkan kebudayaan sebagai produk merupakan warisan
generasi masa lalu ke generasi sekarang.19 Untuk itu, terdapat dua sub
pembahasan dalam memaknai sebuah kebudayaan. Maka dapat dihubungkan
antara transportasi dengan kebudayaan sesuai dengan pandangan Vansina, sebagai
berikut:
a. Kebudayaan sebagai proses
Apabila manusia menemukan suatu tindakan yang terbukti berdayaguna
dalam menanggulangi suatu masalah hidup, maka tingkah laku itu tentu akan

17

Koentjaraningrat. Sejarah Teori Antropologi 1, (Jakarta: UI Press, 2009), hal. 171.


Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, hal 88.
19
Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi,
Epistimologi, dan Aplikasi, hal. 223.
18

33

diulanginya lagi tatkala masalah yang sama kembali dialaminya. Pola tingkah laku
itu kemudian dikomunikasikan kepada individu-individu lain dalam kolektifnya,
dan terutama kepada keturunannya sehingga menjadi mantap dan kemudian
menjadi adat yang dijalankan warga kolektif tersebut. Dengan demikian berbagai
pola tindakan manusia yang telah dibakukan menjadi adat-istiadat itu, telah
menjadi bagian dari dirinya melalui proses belajar.20 Dan apabila telah menjadi
bagian dari dirinya tentu telah menjadi bagian dari hidupnya.
Otak manusia telah berevolusi mengembangkan kemampuan akalnya,
sehingga ia mampu membayangkan dirinya maupun peristiwa-peristiwa yang
mungkin menimpanya, dan menentukan pilihannya di antara berbagai alternatif
dalam tingkah lakunya untuk mencapai pendayagunaan yang optimal dalam
mempertahankan hidupnya.21
Transportasi sungai yang ada di Kota Jambi sebagai sarana utama dalam
penyeberangan Sungai Batanghari merupakan salah satu tradisi yang telah lama
berkembang. Hal ini sesuai dengan pendapat masyarakat Melayu Jambi sendiri.
Mereka beranggapan bahwa cara transportasi sungai merupakan tradisi yang
bersifat turun-temurun dan sudah menjadi identitas budaya mereka.22 Sehingga
tradisi tersebut berkembang menjadi adat dan kemudian telah menjadi bagian
dalam diri setiap orang yang berada di dalam komunitasnya. Berdasarkan
penjelasan di atas, maka komunitas tersebut akan menentukan berbagai alternatif
untuk mencapai pendayagunaan yang optimal dalam mempertahankan hidup

20

Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, hal. 116.


Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, hal. 116.
22
Bondan Seno Prasetyadi, dkk, Transportasi Sungai dan Masyarakat Melayu Jambi,
ISSN: 18582559, hal. 12.
21

34

mereka. Karena transportasi sungai (ketek) tersebut telah menjadi bagian dari hidup
mereka, sehingga mereka akan mempertahankannya.
Hal ini sejalan dengan pendapat para ahli psikologi tentang dorongan naluri
yang terkandung dalam naluri manusia, mereka semua sependapat bahwa ada
sedikitnya tujuh macam dorongan naluri, satu diantaranya yang akan disebutkan
dalam bagian ini, yaitu: Dorongan untuk mempertahankan hidup. Dorongan ini
merupakan suatu kegiatan biologis yang ada pada setiap makhluk di dunia untuk
dapat bertahan hidup.23

b. Kebudayaan sebagai produk


Menurut antropologi,kebudayaan adalah seluruh system gagasan dan rasa,
tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat,
yang dijadikan miliknya dengan belajar.24
Dengan demikian hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan,
karena jumlah tindakan yang dilakukannya dalam kehidupan bermasyarakat yang
tidak dibiasakannya dengan belajar (yaitu tindakan naluri, reflex, atau tindakantindakan yang dilakukan akibat suatu proses fisiologi, maupun berbagai tindakan
membabibuta), sangat terbatas. Bahkan berbagai tindakan yang merupakan
nalurinya (misalnya makan, minum, dan berjalan) juga telah banyak dirombak oleh
manusia sendiri sehingga menjadi tindakan berkebudayaan. Manusia makan pada
waktu-waktu tertentu yang dianggap wajar dan pantas; ia makan dan minum
dengan menggunakan alat-alat, cara-cara, serta sopan-santun atau protokol yang

23

Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, hal. 103-104.


Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, hal. 72.

24

35

kadang-kadang sangat rumit, yang harus dipelajarinya dengan susah payah.


Berjalan pun tidak dilakukannya lagi sesuai dengan wujud organismenya yang
telah ditentukan oleh alam, karena gaya berjalan itu telah disesuaikan dengan
berbagai gaya berjalan yang harus dipelajarinya terlebih dahulu, yaitu misalnya
gaya berjalan seorang prajurit atau pragawati, atau gaya berjalan yang lemahlembut.25
Maka, berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa transportasi
sungai yang ada di Kota Jambi (ketek) selain sebagai sarana utama dalam
penyeberangan Sungai Batanghari, system mata pencaharian hidup, juga
merupakan hasil produk dari sebuah kebudayaan masa lalu masyarakat setempat
yang dulu hidup dan tinggal berdekatan di tepian Sungai Batanghari, sehingga
mereka melahirkan ide/gagasan baru akibat rasa yang dialami dengan kondisi dan
keadaan alam yang telah mereka pelajari pada masa lalu untuk kepentingan
bersama (dari mereka, oleh mereka dan untuk mereka). kemudian hasil dari
ide/gagasan itu dijadikan sebagai warisan budaya generasi sekarang.
Hal ini memiliki relasi yang sepadan dengan pendapat Rafael R. M. di
dalam bukunya Manusia & Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar
tentang cirri-ciri Kebudayaan, sebagai berikut:26
1. kebudayaan adalah produk manusia. Artinya, kebudayaan adalah ciptaan
manusia, bukan ciptaan Tuhan atau Dewa. Manusia adalah pelaku sejarah dan
kebudayaannya.

25

Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, hal. 72-73.


Rafael Raga Maran, Manusia & Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hal. 49.
26

36

2. Kebudayaan selalu bersifat sosial. Artinya kebudayaan tidak pernah dihasilkan


secara individual, melainkan oleh manusia secara bersama. Kebudayaan adalah
suatu karya bersama, bukan karya perorangan.
3. Kebudayaan diteruskan lewat proses belajar. Artinya, kebudayaan itu
diwariskan dari generasi satu ke generasi lainnya melalui suatu proses belajar.
Kebudayaan berkembang dari waktu ke waktu karena kemampuan belajar
manusia. Tampak di sini bahwa kebudayaan itu selalu bersifat historis, artinya
proses yang selalu berkembang.
Sebagai produk manusia, kebudayaan adalah ekspresi eksistensi manusia
sebagai makhluk historis. Sebagai ekspresi eksistensi manusia, kebudayaan pun
berwujud

sesuai

dengan

corak

dasar

keberadaan

manusia.

Menurut

koentjaraningrat, kebudayaan paling tidak mempunyai tiga wujud, yakni wujud


ideal, system social, dan kebudayaan fisik.27
Transportasi sungai (ketek) yang ada di seberang kota jambi merupakan
salah satu bentuk wujud kebudayaan yang ketiga sebagai objek fisik hasil karya
manusia masa lalu. Walaupun bentuk dari transportasi sungai ketek tersebut telah
mengalami perkembangan, Namun secara penampilannya ketek masih bisa
mempertahankan identitas dirinya sebagai transportasi tradisional, dikatakan
tradisional karena ketek tersebut masih terbuat dari bahan kayu dan diolah serta
dibentuk secara manual tradisional oleh manusia.

27

Rafael Raga Maran, Manusia & Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar, hal.

47.

37

D. Transportasi, Kearifan Lokal dan Modernisasi


Dalam pengertian kebahasaan, kearifan lokal berarti kearifan setempat
(local wisdom) yang dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan lokal yang bersifat
bijaksana, penuh kearifan, bernilai yang tertanam dan diikuti oleh warga
masyarakatnya. Dalam konsep antropologi, kearifan lokal dikenal pula sebagai
pengetahuan setempat (indigenous or local knowledge), atau kecerdasan setempat
(local genius), yang menjadi dasar identitas kebudayaan (cultural identity).28
Kearifan lokal menurut I Ketut Gobyah adalah kebenaran yang telah
mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Dengan kata lain, kearifan lokal
merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan
sebagai pegangan hidup bagi masyarakatnya.29 Apabila produk budaya ini
berusaha untuk dipertahankan secara terus menerus dari waktu ke waktu, dengan
sendirinya akan menjadi sebuah tradisi sekaligus identitas budaya bagi masyarakat
tersebut.
Tradisi berarti traditum, segala sesuatu yang ditransmisikan, diwariskan
oleh masa lalu ke masa sekarang, berupa pola-pola atau citra (image) dari tingkah
laku termasuk di dalamnya kepercayaan, aturan, anjuran dan larangan untuk
menjalankan kembali pola-pola tingkah laku yang terus menerus mengalami
perubahan. Dalam prakteknya, tradisi berwujud pada suatu aktivitas yang
dilakukan secara terus menerus dan berulang sebagai upaya peneguhan pola-pola

28

Tim Penyusun, Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi, (Jakarta: Kementerian


Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, 2011), hal. ix.
29
Baca Sartini, Menggali Kearifan Lokal, Jurnal Filsafat, Agustus 2004, Jilid 37, Nomor
2, hal 112.

38

tingkah laku yang bersandar pada norma-norma bagi tindakan-tindakan di masa


depan.30
Berkaitan dengan hal tersebut, transportasi sungai ketek adalah salah satu
produk budaya masa lalu yang sudah lama berkembang dan mentradisi dalam
aktivitas masyarakat seberang di Kota Jambi. Tradisi ini telah dilakukan secara
terus-menerus serta turun-temurun dari waktu ke waktu sebagai sarana
penyeberangan sungai di DAS Batang Hari Kota Jambi. Hal ini menggambarkan
bahwa transportasi sungai ketek di Kota Jambi merupakan salah satu bagian dari
hasil kearifan lokal masyarakat setempat (masyarakat seberang).
Sejatinya, kearifan lokal merupakan perwujudan dari daya tahan dan daya
tumbuh yang dimanifestasikan melalui pandangan hidup, pengetahuan, dan
pelbagai strategi kehidupan yang berupa aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat
lokal untuk menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya,
sekaligus memelihara kebudayaannya.31 Untuk itu, kehadiran transportasi ketek di
Kota Jambi sebagai hasil kearifan lokal masyarakat seberang yang tertanam nilai
budaya di dalamnya adalah merupakan pengejawantahan dari budaya masa lalu
untuk menjawab salah satu persoalan vital masyarakat seberang dalam pemenuhan
kebutuhan hidup mereka sehari-hari, yaitu dalam hal penyeberangan sungai Batang
Hari yang hingga saat ini masih menjadi dinamika sosial modernisasi.
Dinamika sosial modernisasi tersebut, dapat dibuktikan dengan berbagai
pengaruh yang disebabkan oleh arus modernisasi itu sendiri, sehingga

30

Tim Penyusun, Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi, (Jakarta: Kementerian


Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, 2011), hal. viii-ix.
31
Tim Penyusun, Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi, (Jakarta: Kementerian
Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, 2011), hal. ix.

39

menimbulkan perubahan sosial di Kota Jambi secara eksplisit. Kita bisa


menyaksikan bahwa modernisasi di Kota Jambi telah memberikan pengaruh yang
besar terhadap eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi. Pengaruh
tersebut dapat diinterpretasi dari 2 mata sisi yang berlawanan, yaitu pengaruh
positif dan negatif.
Salah satu pengaruh positif dari modernisasi terkait dengan perkembangan
transportasi sungai di Kota Jambi adalah terjadinya transformasi transportasi
sungai yang dahulunya hanya berupa perahu dayung yang masih menggunakan
tenaga manusia dan sekarang telah menjadi perahu bermesin yang oleh pemilik
budayanya (masyarakat seberang) dikenal dengan istilah ketek.
Hal ini sesuai dengan pendapat Prof. Koentjaraningrat yang mengatakan
bahwa modernisasi tidak lain adalah Usaha untuk hidup sesuai dengan zaman
dan konstelasi dunia sekarang. Ungkapan tersebut mensyaratkan bahwa
modernisasi tidak akan datang dan terjadi begitu saja, melainkan harus diusahakan,
diupayakan.32 Jadi, jelas lah bahwa transportasi sungai ketek merupakan salah satu
bukti real dari akselerasi modernisasi di Kota Jambi yang secara langsung
penerapannya diusahakan sekaligus diupayakan oleh masyarakat lokal itu sendiri
yang diperoleh berdasarkan hasil interpretasi dari pengetahuan, pengalaman dan
kondisi alam di sekitarnya melalui proses belajar.
Di sisi lain, dalam lingkungan yang pesimistik, globalisasi menyebabkan
adanya globalophobia, suatu bentuk ketakutan terhadap arus globalisasi sehingga
orang atau lembaga harus mewaspadai secara serius dengan membuat langkah dan

32

Baca Nursid Sumaatmadja, Manusia dalam Konteks Sosial, Budaya dan Lingkungan
Hidup, (Bandung: Alfabeta, 2010), hal, 67.

40

kebijakan tertentu. Bagaimana pun globalisasi merupakan suatu yang tidak dapat
dihindari

sehingga

yang

terpenting

adalah

bagaimana

menyikapi

dan

memanfaatkan secara baik efek global sesuai dengan harapan dan tujuan hidup
kita.33
Efek globalisasi/modernisasi yang menyebabkan globalophobia ini
sedikitnya telah menjejal transportasi sungai ketek di Kota jambi. Hal ini
disebabkan karena tidak adanya pengendalian secara serius dan holistik terhadap
efek modernisasi itu sendiri, sehingga memberikan pengaruh yang negatif terhadap
perkembangan transportasi sungai ketek dewasa ini. Hal ini dapat dibuktikan
dengan berbagai ancaman yang datang silih berganti dari ulah modernisasi yang
sedang terjadi di Kota Jambi saat ini, baik berupa perkembangan transportasi darat
yang cenderung modern dan canggih maupun pembangunan-pembangunan
jembatan oleh pemerintah daerah Provinsi Jambi.
Dalam hal ini, perlu kita pikirkan bersama-sama tentang bagaimana
kearifan lokal transportasi sungai ketek di Kota Jambi ini agar tetap dapat hidup
dan berkembang tetapi tidak ketinggalan zaman. Bagaimana kearifan lokal dapat
mengikuti arus perkembangan global sekaligus tetap dapat mempertahankan
identitas lokal, akan menyebabkan ia akan hidup terus dan mengalami penguatan.
Kearifan lokal sudah semestinya dapat berkolaborasi dengan aneka perkembangan
budaya yang melanda dan untuk tidak larut dan hilang dari identitasnya sendiri.34

33

Sartini, Menggali Kearifan Lokal, Jurnal Filsafat, Agustus 2004, Jilid 37, Nomor 2, hal

116.

34

Lihat Sartini, Menggali Kearifan Lokal, Jurnal Filsafat, Agustus 2004, Jilid 37, Nomor

2, hal 117.

41

Menurut Edi Sedyawati apabila identitas suatu budaya itu rusak, dan lebihlebih jika hilang sama sekali, maka bangsa yang bersangkutan akan menderita
trauma yang mendalam. Kehilangan atau kehancuran identitas diri itu membawa
kepada disintegrasi komuniti, atau bahkan membawa pada situasi alienasi dan
mudah tunduk.35 Oleh karena itu, maka sudah sepatutnya transportasi sungai ketek
yang ada di Kota Jambi harus kita pertahankan dan lestarikan keberadaannya.

35

Haris Sukendar, Perahu Tradisional Nusantara, (Jakarta: Departement Pendidikan dan


Kebudayaan, 1998), hal. 218.

42

BAB III
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Gambaran Umum Kota Jambi


1. Kondisi Fisik Wilayah1
Kota Jambi merupakan ibu kota Provinsi Jambi dan berada pada 010 30
2.99 010 40 1,70 Lintas Selatan dan 103 40 1,67 103 40 0,22 Lintang
Timur, serta berada pada ketinggian rata-rata 10 sampai 60 meter di atas
permukaan laut.
Suhu rata-rata di Kota Jambi pada tahun 2012 berkisar antara 26,4 0C
sampai 27,5 0C, dengan suhu maksimum 32,7 0C yang terjadi pada bulan
September dan Oktober serta suhu minimum 22,9 0C yang terjadi pada bulan Maret
dan Agustus.
Curah hujan di Kota Jambi selama tahun 2012 berkisar antara 53 mm
(bulan Juni dan September) sampai 277 mm (bulan Oktober), dengan jumlah hari
hujan paling sedikit pada bulan Juni dan September (7 hari hujan) dan paling
banyak pada bulan November, yaitu 27 hari hujan. Kecepatan angin di tiap bulan
hampir merata antara 11 knots (pada bulan Desember) hingga 22 knots (pada bulan
November). Sedangkan rata-rata kelembaban udara berkisar antara 77 sampai 85
persen.

Buku Statistik Daerah Kota Jambi 2013.

43

2. Batas Administrasi
Secara geografis dan administrasi, Kota Jambi terletak di sebelah Utara,
Barat, Selatan dan Timur berbatasan dengan Kabupaten Muaro Jambi, dengan kata
lain Kota Jambi ini wilayahnya dikelilingi oleh Kabupaten Muaro Jambi.
Kota Jambi memiliki luas wilayah 205,38 Km2, yang terdiri dari
Kecamatan Kota Baru dengan luas wilayah 77,78 Km2, Kecamatan Jambi Selatan
34,07 Km2, Kecamatan Jelutung 7,92 Km2, Kecamatan Pasar Jambi 4,02 Km2,
Kecamatan Telanaipura 30,39 Km2, Kecamatan Danau Teluk 15,30 Km2,
Kecamatan Pelayangan 15,29 Km2 dan Kecamatan Jambi Timur 20,21 Km2.
Rincian luas Wilayah perkecamatan dan jumlah Kelurahan serta RT di Kota Jambi
tahun 2012 pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1
Luas Kecamatan, Kelurahan dan RT di Kota Jambi
Tahun 2012

No
1
2
3
4
5
6
7
8

Kecamatan
Kota Baru
Jambi Selatan
Jelutung
Pasar Jambi
Telanai Pura
Danau Teluk
Pelayangan
Jambi Timur
Total

Luas (Km2)

Persentase

Kelurahan

RT

77,78
34,07
7,92
4,02
30,39
15,7
15,29
20,21

37,87 %
16,59 %
3,86 %
1,98 %
14,80 %
7, 64 %
7, 44 %
9,84 %

10
9
7
4
11
5
6
10

338
320
233
58
275
43
46
221

205, 38

100,00 %

62

1.516

Sumber: BPS Kota Jambi (diolah kembali)

44

3. Kependudukan
Penduduk merupakan faktor yang sangat dominan karena penduduk bukan
saja menjadi pelaksana, tetapi juga menjadi sasaran pembangunan. Menurut data
statistik yang diambil dari Kota Jambi dalam Angka 2013.2 Pada tahun 2012,
jumlah penduduk kelompok umur 0-4 tahun sebanyak 53.568 Jiwa. Sedangkan
jumlah penduduk untuk kelompok umur 5-9 tahun sebanyak 51.025 jiwa. Hal ini
mengindikasikan bahwa terjadi kenaikan jumlah kelahiran dalam lima tahun
terakhir dan terjadi penurunan dalam realisasi program Keluarga Berencana (KB).
Rincian Jumlah penduduk menurut golongan umur dan jenis kelamin di Kota
Jambi tahun 2012 pada Tabel 2.
Tabel 2
Jumlah Penduduk Menurut Golongan Umur dan
Jenis Kelamin di Kota Jambi Tahun 2012
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Kelompok Umur

0-4
4-9
10-14
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
55-59
60-64
65-69
70-74
75 +
Jumlah
Sumber: BPS Kota Jambi

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

27.291
26.473
24.466
25.950
26.738
25.388
25.755
22.966
20.066
17.037
13.361
9.844
6.153
4.034
2.492
2.107
280.121

26.267
24.542
23.914
26.255
27.109
26.881
26.108
23.046
19.698
16.196
12.697
8.994
5.595
4.151
2.679
2.989
277.094

53.558
51.015
48.380
52.205
53.847
52.269
51.863
46.012
39.764
33.206
26.058
18.838
11.748
8.185
5.171
5.098
557.215

Data kependudukan yang disajikan pada Kota Jambi dalam Angka 2013 ini merupakan
hasil proyeksi penduduk tahun 2012 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik Kota Jambi dan
pengumpulan datanya dilakukan oleh Koordinator Statistik Kecamatan dalam Kota Jambi
bekerjasama dengan bagian pemerintahan di Kecamatan.

45

4. Pertumbuhan Ekonomi
Kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Jambi dalam
tiga tahun terakhir (2010-2012) di dominasi tiga sektor, yaitu sektor perdagangan,
pengangkutan dan komunikasi, dan industri pengolahan. Ditinjau menurut
lapangan usaha atas dasar harga berlaku pada tahun 2012. Distribusi terbanyak
disumbangkan oleh sektor perdagangan (27,35 %), kemudian diikuti oleh sektor
pengangkutan dan komunikasi (18,45 %) dan sektor industri pengolahan (15,64
%). Rincian Distribusi Persentase PDRB Kota Jambi Atas Dasar Berlaku Tahun
2010-2012 dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini.

Tabel 3
Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto Kota Jambi
Atas Dasar Berlaku Tahun 2010-2012
No

Lapangan Usaha

2010

2011

2012

Pertanian

1,36

1,30

1,24

Pertambangan

7,35

6,69

6,06

Industri Pengolahan

15,48

15,54

15,64

Listrik dan Air Bersih

2,84

2,88

2,91

Bangunan

6,59

6,67

7,07

Perdangangan

26,04

26,80

27,35

Pengangkutan dan Komunikasi

18,05

18,13

18,45

Keuangan, Persewaan dan Jasa


Perusahaan

9,78

9,98

9,83

Jasa-Jasa

12,51

12,01

11,44

100,00

100,00

100,00

Jumlah
Sumber: BPS Kota Jambi 2013

46

B. Gambaran Umum Wilayah Penelitian


Batasan wilayah dalam penelitian ini adalah di Kecamatan Pelayangan
Seberang Kota Jambi mulai dari Kelurahan Tengah, Jelmu, Mudung Laut, Arab
Melayu, Tahtul Yaman hingga Tanjung Johor.
1. Monografi
Kecamatan Pelayangan merupakan salah satu salah satu kecamatan di Kota
Jambi yang keadaan geografisnya terletak pada ketinggian 12 meter dari
permukaan air laut dengan suhu maksimum 320C, mempunyai luas 34,07 Km2
yang terdiri dari:
1. Kelurahan Tengah

: 2,31 Km2

2. Kelurahan Jelmu

: 2,30 Km2

3. Kelurahan Mudung Laut

: 2,23 Km2

4. Kelurahan Arab Melayu

: 1,15 Km2

5. Kelurahan Tahtul Yaman

: 2,71 Km2

6. Kelurahan Tanjung Johor

: 4,59 Km2

Kecamatan Pelayangan dalam batas wilayahnya dikelilingi oleh kecamatan


dalam Kota Jambi dan juga Kabupaten Muaro Jambi, yaitu:
-

Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Muaro Jambi

Sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Batanghari

Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Muaro Jambi

Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Danau Teluk

Penggunaan tanah di Kecamatan Pelayangan kebanyakan digunakan untuk


pemukiman.

47

2. Pemerintahan
a) Nama-Nama Pejabat Camat Pelayangan Sampai dengan 2012
Tabel 4
Nama-Nama Pejabat Camat Pelayangan Sampai dengan 2012
No

Nama

Jabatan

Tahun

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Kholil
Johan Hamid
Darwin
Obliyani
Yan Ismar
Jon Eka Powa
Yahya Baiti
Nawawi
Drs. Abdullah
Noviarman
M. Nofriansyah, S. STP

Camat
Camat
Camat
Camat
Camat
Camat
Camat
Camat
Camat
Camat
Camat

1989 s/d 1992


1992 s/d 1994
1994 s/d 1996
1996 s/d 1999
1999 s/d 2001
2001 s/d 2003
2003 s/d 2004
2004 s/d 2008
2008 s/d 2009
2009 s/d 2014
2014 s/d sekarang

Sumber: Kantor Camat Pelayangan

b) Nama-Nama Pejabat Pemerintahan di Dinas Vertikal Kecamatan Pelayangan


2012
Tabel 5
Nama-Nama Pejabat Pemerintahan di Dinas Vertikal
Kecamatan Pelayangan 2012
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama

NIP

Jabatan

M. Nofriansyah, S.STP

NIP. 19791120 199810 1 001


NIP. 19691027 198902 1 001
NIP. 19870511 201001 1 004
NIP. 19770119 200003 2 002

Camat

Azwar, S.E
Jefri Mirza, S.IP
Dian Ekawati S, S.E

Irzan Mahari, S.STP


NIP. 19900227 201010 1 002
Drs. Faisol
NIP. 19621231 199303 1 063
Abdul Salim
NIP. 19700119 199203 1 003
M. Amin, S.H
NIP. 19720806 199403 1 002
Ernawati
Nip. 19600308 198203 2 003
Rachmawati, S.P
NIP. 19720925 199803 2 005
Sumber: Kantor Camat Pelayangan

Sekretaris
Kasubbag Umum
Kasubbag Keuangan
Kasubbag Kepegawaian
Kasi PEM
Kasi PMK
Kasi TRANTIB
Kasi KESSOS
Kasi Pelaksana Umum

48

c) Struktur Organisasi Kecamatan Pelayangan


CAMAT
M. NOFRIASNSYAH, S. STP
NIP. 19791120 199810 1 001

SEKRETARIS
AZWAR, S.E
NIP. 19691027 198902 1 001

Kelompok Jabatan
Fungsional

KASI PEM
DRS. FAISOL
NIP. 19621231 199303 1 063

KASI PMK
ABDUL SALIM
NIP. 19700119 199203 1 003

KASUBBAG UMUM

KASUBBAG KEUANGAN

JEFRI MIRZA, S.IP


NIP. 19870511 201001 1 004

DIAN EKAWATI S, S.E


NIP. 19770119 200003 2 002

KASI TRANTIB
M. AMIN, S.H
NIP. 19720806 199403 1 002

KASUBBAG
KEPEGAWAIAN
IRZAN MAHARI, S.STP
NIP. 19900227 201010 1 002

KASI KESSOS

KASI PELAKSANA UMUM

ERMINATI
Nip. 19600308 198203 2 003

RACHMAWATI, S.P
NIP. 19720925 199803 2 005

Gambar 1
Struktur Organisasi Kecamatan Pelayangan

d) Nama-Nama Pejabat Kelurahan dalam Kecamatan Pelayangan 2012


Kecamatan Pelayangan dikepalai oleh Noviarman sedangkan Lurah Tengah
adalah Fahrurrozi, S. Pd, Lurah Jelmu Syaifudin Ansori, SP, Lurah Mudung Laut
M. Ali, SE, Lurah Arab Melayu Husni Tamrin, Lurah Tahtul Yaman Drs. Faisol
dan Lurah Tanjung Johor Faisol.
Tabel 6
Nama-Nama Pejabat Kelurahan dalam Kecamatan Pelayangan 2012
No

Nama

Jabatan

1
2
3
4
5
6

Fahrurrozi, S.pd
Syafudin Ansori, SP
M. Ali, SE
Husni Tamrin
Drs.Faisol
Faisol

Lurah Tengah
Lurah Jelmu
Lurah Mudung Laut
Lurah Arab Melayu
Lurah Tahtul Yaman
Lurah Tanjung Johor

Sumber: Kantor Camat Pelayangan

3. Penduduk
a) Banyaknya Rukun Tetangga, Rumah Tangga, Penduduk dan Rata-Rata
Anggota Rumah Tangga Dirinci Per Kelurahan 2012
Kecamatan Pelayangan yang terdiri dari 6 Kelurahan terdapat sebanyak 46
RT, 3.402 Rumah Tangga dan 12.906 penduduk. Dari 46 RT yang ada di
Kecamatan Pelayangan, terdapat di Kelurahan Tengah sebanyak 4 RT dan 248
Rumah Tangga dengan rata-rata Anggota Rumah Tangga sebanyak 4 orang.
Kelurahan Jelmu terdapat 3 RT dan 172 Rumah Tangga dengan rata-rata Anggota
Rumah Tangga sebanyak 3 orang. Kelurahan Mudung Laut terdapat 9 RT dan 514
Rumah Tangga dengan rata-rata Anggota Rumah Tangga sebanyak 3 orang.
Kelurahan Arab Melayu terdapat 12 RT dan 942 Rumah Tangga dengan rata-rata

50

Anggota Rumah Tangga sebanyak 3 orang. Kelurahan Tahtul Yaman terdapat 12


RT dan 886 Rumah Tangga dengan rata-rata Anggota Rumah Tangga sebanyak 4
orang. Dan Kelurahan Tanjung Johor terdapat 6 RT dan 640 Rumah Tangga
dengan rata-rata Anggota Rumah Tangga sebanyak 4 orang.

Tabel 7
Banyaknya Rukun Tetangga, Rumah Tangga, Penduduk dan Anggota
Rumah Tangga Dirinci Per Kelurahan 2012

No
1
2
3
4
5
6

Kelurahan
Tengah
Jelmu
Mudung Laut
Arab Melayu
Tahtul Yaman
Tanjung Johor
Jumlah

Rukun
Tetangga

Rumah
Tangga

Penduduk

4
3
9
12
12
6

248
172
514
942
886
640

1.000
594
1.883
3.187
3.723
2.519

Rata-rata
Anggota
Rumah
Tangga
4
3
3
3
4
4

46

3.402

12.906

Sumber: Kecamatan Pelayangan dalam Angka 2013 (diolah kembali)

b) Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dirinci Per Kelurahan 2012


Jumlah Penduduk di Kecamatan Pelayangan didominasi oleh Kelurahan
Tahtul Yaman yaitu berjumlah 3.723 Jiwa yang terdiri dari 1.576 Jenis Kelamin
Laki-laki dan 2.147 Jenis Kelamin Perempuan. Dan diikuti oleh Kelurahan Arab
Melayu yaitu berjumlah 3.187 Jiwa yang terdiri dari 1.546 Jenis Kelamin Laki-laki
dan 1.641 Jenis Kelamin Perempuan. Rincian Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Dirinci Per Kelurahan 2012 pada Tabel 8 halaman 47.

51

Tabel 8
Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dirinci Per Kelurahan 2012

No
1
2
3
4
5
6

Tengah
Jelmu
Mudung Laut
Arab Melayu
Tahtul Yaman
Tanjung Johor

Laki-laki
488
289
923
1.546
1.576
1.362

Perempuan
512
305
960
1.641
2.147
1.157

1.000
594
1883
3.187
3.723
2.519

Rasio
Jenis
Kelamin
95,31
94,75
96,14
94,21
73,40
117,72

Jumlah

6.184

6.722

12.906

92,00

Kelurahan

Jenis Kelamin

Jumlah

Sumber: Kecamatan dalam Angka 2013

c) Rata-Rata Kepadatan Penduduk Per Km2 Dirinci Menurut Kelurahan 2012


Jika dilihat tingkat kepadatan penduduk, rata-rata penduduk tiap kilometer
persegi di Kecamatan Pelayangan adalah 844 Jiwa. Kelurahan yang terpadat adalah
Kelurahan Arab Melayu yaitu sebanyak 2.771 Jiwa dan Kelurahan yang terjarang
adalah Jelmu yaitu 258 Jiwa per Kilometer Persegi.
Tabel 9
Rata-Rata Kepadatan Penduduk Per Km2 Dirinci
Menurut Kelurahan 2012
No
1
2
3
4
5
6

Kelurahan
Tengah
Jelmu
Mudung Laut
Arab Melayu
Tahtul Yaman
Tanjung Johor
Jumlah

Luas (Km2)

Penduduk

2,3
2,30
2,23
1,15
2,71
4,59

1.000
594
1.883
3.187
3.723
2.519

Kepadatan Per
Km2
432
258
844
2.771
1.374
548

15,29

12.906

844

Sumber: Kecamatan Pelayangan dalam Angka 2013

52

d) Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas Menurut Mata Pencaharian 2012


Menurut Mata Pencaharian, Kecamatan Pelayangan didominasi oleh
penduduk yang mata pencahariannya adalah sebagai pedagang dan diikuti oleh
penduduk yang bermata pencaharian sebagai Angkutan/Jasa dan diurutan ketiga
diikuti oleh penduduk yang bermata pencaharian sebagai Petani. Hal ini dapat
dilihat di Tabel 10 di halaman 48, dimana jumlah Pedagang yang ada di
Kecamatan Pelayangan sebanyak 2.440, Angkutan/jasa sebanyak 1.150 dan Petani
sebanyak 635.
Tabel 10
Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas Menurut
Mata Pencaharian 2012
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

JENIS MATA PENCAHARIAN


Petani
Buruh Tani
Nelayan
Pengusaha
Buruh Bangunan
Pedagang
Angkutan/Jasa
Kerajinan
Pensiunan
PNS/ABRI
Lainnya
JUMLAH

JUMLAH
635
20
30
10
460
2.440
1.150
225
76
449
1.000
6.945

Sumber: Kantor Camat Pelayangan

4. Sosial, Pendidikan dan Agama


a) Banyaknya Karang Taruna, Unit Olahraga dan Lapangan Di Kecamatan
Pelayangan 2012
Setiap Kelurahan terdapat sebuah kegiatan Karang Taruna. Salain itu, untuk
menunjang kegiatan Kepemudaan dan Olahraga di Kecamatan ini, terdapat unit
53

Olahraga serta Lapangan pada tiap Kelurahan, kecuali di Kelurahan Arab Melayu.
Rincian Banyaknya Karang Taruna, Unit Olahraga dan Lapangan di Kecamatan
Pelayangan dapat dilihat pada Tabel 11 di halaman 28.
Tabel 11
Banyaknya Karang Taruna, Unit Olahraga dan Lapangan
Di Kecamatan Pelayangan 2012

No
1
2
3
4
5
6

Kelurahan

Karang Taruna

Unit Olahraga

Lapangan

Tengah
Jelmu
Mudung Laut
Arab Melayu
Tahtul Yaman
Tanjung Johor

1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1

1
1
1
1
1

Jumlah

Sumber: Kecamatan dalam Angka 2013

b) Jumlah Sekolah, Murid dan Guru di Kecamatan Pelayangan 2012


Jika dilihat dari jumlah sekolah di Kecamatan Pelayangan terdapat 7 Sarana
Pendidikan Sekolah Dasar dengan jumlah Murid sebanyak 1.285 dan Guru 87
Orang. 1 Unit Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dengan jumlah Murid
125 dan Guru 26 Orang. 2 Unit Madrasah Tsanawiyah (MTS) dengan jumlah
Murid 364 dan Guru 35 Orang serta 1 unit Madrasah Aliyah dengan jumlah murid
150 dan Guru 15 Orang. Rincian Jumlah Sekolah, Murid dan Guru di Kecamatan
Pelayangan 2012 pada Tabel 12 halaman 50.

54

Tabel 12
Jumlah Sekolah, Murid dan Guru di Kecamatan Pelayangan 2012
NO
1
2
3
4
5

UNIT
SD
MI
SLTP
MTS
MA
JUMLAH

SEKOLAH

JUMLAH MURID

GURU

7
1
2
1

1.285
125
364
150

87
26
35
15

11

1.924

163

Sumber: Kantor Camat Pelayangan

c) Banyaknya Penduduk Menurut Agama Dirinci Per Kelurahan 2012


Menurut agamanya, penduduk di Kecamatan Pelayangan mayoritas adalah
penganut Agama Islam dengan Jumlah sebanyak 12.889 Orang, di samping Agama
Kristen Protestan dengan jumlah 15 Orang dan Budha 2 Orang. Berikut Rincian
Banyaknya Penduduk Menurut Agama di Kecamatan Pelayangan yang dirinci per
kerlurahan pada Tabel 13 halaman 51.
Tabel 13
Banyaknya Penduduk Menurut Agama
Dirinci Per Kelurahan 2012
Agama
No

Kelurahan
1.000
594
1.883
3.182
3.723
2.507

Kristen
Katolik
-

Kristen
Protestan
5
10

12.889

15

Islam
1
2
3
4
5
6

Tengah
Jelmu
Mudung Laut
Arab Melayu
Tahtul Yaman
Tanjung Johor

Jumlah

Hindu

Budha

Lainnya

Sumber: Kantor Camat Pelayangan

55

d) Banyaknya Sarana Peribadatan Dirinci Menurut Jenisnya Per Kelurahan 2012


Jika dilihat dari jumlah peribadatan Kecamatan Pelayangan memiliki 25
Sarana Peribadatan yang terdiri dari 4 Sarana Peribadatan Masjid dan 21 Sarana
Peribadatan Langgar. Berikut Rincian Banyaknya Sarana Peribadatan Dirinci
Menurut Jenisnya Per Kelurahan 2012 pada Tabel 14 di bawah ini.

Tabel 14
Banyaknya Sarana Peribadatan Dirinci Menurut Jenisnya
Per Kelurahan 2012
No

Kelurahan

1
2
3
4
5
6

Tengah
Jelmu
Mudung Laut
Arab Melayu
Tahtul Yaman
Tanjung Johor
Jumlah

Masjid
1
2
1
4

Sarana Peribadatan
Langgar
Gereja
2
2
5
3
5
4
21

Vihara
-

Sumber: Kantor Camat Pelayangan

5. Perumahan dan Perhubungan


a) Bangunan Perumahan Penduduk di Kecamatan Pelayangan 2012
Kelurahan yang memiliki perumahan penduduk terbanyak di Kecamatan
Pelayangan adalah Kelurahan Tahtul Yaman, sebanyak 660 bangunan Permanen
dan 4 bangunan Semi Permanen. Diikuti oleh Kelurahan Arab Melayu, sebanyak
539 bangunan Permanen dan 7 bangunan Semi Permanen.

56

Tabel 15
Banyaknya Perumahan Penduduk di Kecamatan Pelayangan
Dirinci Per Kelurahan 2012
No
1
2
3
4
5
6

Kelurahan
Tengah
Jelmu
Mudung Laut
Arab Melayu
Tahtul Yaman
Tanjung Johor

Permanen

Semi Permanen

165
289
539
660
352

5
7
4
2
18

174

Jumlah

1.879

Sumber: Kecamatan Pelayangan dalam Angka 2013

b) Pemakaian Alat Transportasi di Kecamatan Pelayangan 2012


Tidak seperti kecamatan-kecamatan lainnya di Kota Jambi, Motor Tempel
merupakan alat transportasi yang cukup banyak digunakan di Kecamatan
Pelayangan. Hal ini disebabkan karena lokasi Kecamatan ini berada di Seberang
Sungai Sungai Batanghari. Untuk transportasi di Darat, seperti halnya di
kecamatan-kecamatan

lain,

penduduk

Kecamatan

mempergunakan Mobil dan Sepeda Motor.

Pelayangan

juga

Persentase Pemakaian Alat

Transportasi di Kecamatan Pelayangan 2012 dapat dilihat pada Tabel 16 di bawah


ini.
Tabel 16
Persentase Pemakaian Alat Transportasi
di Kecamatan Pelayangan 2012
No
1
2
3

Alat Transportasi
Mobil
Sepeda Motor
Motor Tempel
Jumlah

Jumlah
6,28
79,23
14, 49
100,00

Sumber: Kecamatan Pelayangan dalam Angka 2013

57

c) Banyaknya Alat Transportasi Menurut Kelurahan di Kecamatan Pelayangan


2012
Kelurahan Tahtul Yaman memiliki jumlah Sepeda Motor dan Mobil
terbanyak, yaitu masing-masing sebesar 245 buah dan 20 buah. Sedangkan yang
memiliki Motor Tempel terbanyak adalah Kelurahan Arab Melayu, yaitu sebanyak
69 buah.
Tabel 17
Banyaknya Alat Transportasi Menurut Kelurahan
di Kecamatan Pelayangan 2012
No
1
2
3
4
5
6

Kelurahan

Mobil

Sepeda Motor

Motor Tempel

Tengah
Jelmu
Mudung Laut
Arab Melayu
Tahtul Yaman
Tanjung Johor

10
3
11
15
20
6

72
68
140
162
245
133

24
8
28
69
12
9

Jumlah

65

800

150

Sumber: Kecamatan Pelayangan dalam Angka 2013

58

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. EKSISTENSI TRANSPORTASI SUNGAI KETEK DI KOTA JAMBI


1. Sejarah Munculnya Transportasi Sungai Ketek
Secara historis, sebelum adanya Ketek masyarakat seberang pada waktu itu
masih menggunakan perahu tradisional. Perahu tersebut dijalani oleh tenaga
manusia dengan bantuan alat kecil yang terbuat dari kayu atau istilah lainnya yang
sering disebut dengan pengayuh. Perahu ini memiliki panjang 5 meter dengan
ukuran 1,5 meter. Bentuk perahu dayung ini memiliki bagian depan yang tidak
jauh berbeda dengan bagian belakangnya. Tujuan perahu tersebut adalah untuk
mengangkut penumpang yang hendak melintasi sungai Batanghari.
Diceritakan bahwa jauh sebelum tahun 70-an. Sekitar tahun 60an, perahu
tradisional tersebut difungsikan oleh para pendatang yang berasal dari daerah Jawa
bagian Timur. Mereka berjumlah kurang lebih sekitar 45-50 orang. Awalnya
mereka hanya terdiri dari beberapa orang saja, namun dengan kemajuan yang
dirasakan, sehingga mereka mengundang orang-orang dari Jawa bagian Timur itu
untuk datang ke daerah Seberang Kota Jambi.1
Selain perahu tradisional, juga ada transportasi sungai lainnya yang
berkembang yaitu kapal tempek. Kapal tempek adalah sebuah perahu yang
bentuknya agak lebih besar daripada bentuk Ketek. Perbedaan yang sangat
menonjol dari kapal tempek itu sendiri adalah dia memiliki atap dan menggunakan

Hasil wawancara dengan Bapak Abdurrahman. Salah seorang tukang ketek di Kelurahan
Arab Melayu. Senin 17 Maret 2014 pukul 10.00 s/d 11.30 WIB di Rumah kediamannya.

59

mesin dengan daya kekuatan 25 PK. Namun, karena kapal tempek tersebut banyak
biaya minyaknya.2 Maka, kapal tempek pun tidak dimanfaatkan lagi oleh
masyarakat setempat. Sehingga proses disfungsisasi pun terjadi pada kapal tempek
yang mengakibatkan hilangnya kapal tempek dengan sendirinya.
Hilangnya kapal tempek tidak membuat perahu tradisional sebelumnya
kalah saing. Justru dengan bentuknya yang kecil dan ringan, sehingga membuat
perahu itu berkembang lebih cepat. Di samping juga menarik perhatian masyarakat
seberang, perahu tradisional ini juga dimanfaatkan oleh masyarakat Pulau Pandan
sebagai alat transportasi untuk menangkap ikan.
Seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi memberikan kemajuan
dalam segala bidang. Salah satu bentuk wujud dari perkembangan itu adalah
kemajuan mesin dalam bidang transportasi. Hal yang demikian memberikan nilai
yang solutif terhadap para penambang perahu waktu itu. di samping memudahan
pekerjaan mereka juga memberikan efisiensi waktu yang produktif terhadap proses
penyeberangan.
Mulai tahun 70-an3, Perahu tradisional ini berkembang menjadi perahu
mesin. Perahu mesin ini awalnya digunakan oleh masyarakat Pulau Pandan yang
letaknya di bagian selatan Sungai Batanghari. Tujuannya adalah sebagai sarana
untuk mencari ikan. Sebagian besar masyarakat yang ada di Pulau Pandan itu
adalah masyarakat yang berasal dari Palembang.

Hasil wawancara dengan Bapak Abduk Kadir. Salah seorang tukang ketek di Kelurahan
Tengah. Kamis, 22 November 2012 pukul 09.30 s/d 10.00 WIB di Rumah kediamannya.
3
Hasil wawancara dengan Bapak Abdurrahman. Senin 17 Maret 2014 pukul 10.00 s/d
11.30 WIB di Rumah kediamannya.

60

Perahu mesin ini memiliki panjang 5 meter dengan lebar 1 meter.


Bentuknya pun sama seperti perahu, tidak ada perbedaan yang signifikan, baik dari
segi ukurannya maupun bentuknya. Hanya saja bagian belakang dari perahu mesin
ini lebih datar daripada perahu tradisional. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat
Gambar 1 Bentuk Struktur Perahu Mesin di Pulau Pandan di bawah ini.

Sumber: Hasil Observasi

Gambar 1
Bentuk Struktur Perahu Mesin di Pulau Pandan

Namun, perkembangan perahu mesin saat itu belum banyak digunakan oleh
masyarakat Pulau Pandan. Hanya 1 perahu mesin yang berkembang di antara
perahu-perahu tradisional lainnya saat itu. Tidak lama berkembangnya perahu
mesin ini, pada akhirnya dilihat lah oleh sebagian dari penambang perahu yang ada
di Seberang Kota Jambi.
Kemudian para penambang ini bercerita kepada salah satu masyarakat
seberang yang kebetulan saat itu bekerja sebagai pembuat kapal. Sebut saja
namanya yaitu Bapak Abdurrahman. Bapak Abdurrahman adalah salah satu orang
61

yang ahli dalam membuat kapal di seberang kota jambi. Bapak Abdurrahman juga
merupakan masyarakat asli seberang yang tinggal di Kelurahan Arab Melayu.
Hampir seluruh Ketek yang ada di Seberang Kota Jambi adalah hasil dari
buatannya. Sejak itu lah, transportasi sungai jenis Ketek mulai berkembang. Hal ini
sebagaimana yang dijelaskan oleh Bapak Abdurrahman sebagai berikut:
Yang asal-asalnyo tu iolah orang Palembang. Rumah e di Pulau Pandan tu
kan. Jadi aku nengok. Perhati.i lah kan. Masih apo, perahu, perahu asalnyo.
Perahu pake mesin. Jadi aku cubo muat. Aku beli mesin. Cubo muat.
Nampak e maju. Haaaaa . . . tu lah mulak e.4
Transliterasi:
Yang asal-asalnya itu ialah orang Palembang. Rumahnya di Pulau Pandan.
Jadi saya lihat. Saya perhatikan, masih perahu asalnya. Perahu pakai mesin.
Jadi, saya coba buat. Saya beli mesin. Saya coba buat. Sepertinya maju,
Nah, itu lah asalnya.
Sehingga, dengan inisiatif dari Bapak Abdurrahman dibuatnya lah sebuah
perahu bermesin sebagaimana yang kita kenal sekarang yaitu Ketek. Pada awalnya
dijelaskan bahwa perahu mesin itu merupakan ide dari orang Palembang yang
tinggalnya di Pulau Pandan. Namun, dikembangkanlah oleh masyarakat seberang
dengan bentuk dan ukuran yang berbeda sesuai dengan kapasitas penumpang dan
fungsi angkutannya. Pada akhirnya, Ketek mulai dikenal dan diminati oleh
masyarakat seberang.
Bentuk perahu mesin/Ketek ini berbeda dengan perahu dayung/perahu
kecik. Perahu dayung/perahu kecik memiliki haluan dan buritan yang runcing.
Berbeda dengan Ketek, Ketek memiliki haluan yang runcing dengan buritan yang
datar/tidak runcing. Ukuranya pun berbeda antara perahu dayung/perahu kecik.
dengan Ketek. Ketek lebih besar dibandingkan dengan perahu dayung/perahu
4

Hasil wawancara dengan Bapak Abdurrahman. Senin 17 Maret 2014 pukul 10.00 s/d
11.30 WIB di Rumah kediamannya.

62

kecik, karena Ketek memiliki ukuran dengan panjang 7,5 meter dan lebar 1,3
meter. Lihat Gambar 2 Bentuk Struktur Ketek di Seberang Kota Jambi halaman
selanjutnya.

Sumber: Hasil Observasi

Gambar 2
Bentuk Struktur Transportasi Sungai Ketek
di Seberang Kota Jambi

2. Macam-macam Transportasi Sungai di Kota Jambi


a. Perahu Kecik
Perahu Kecik merupakan transportasi sungai pertama yang digunakan oleh
masyarakat Seberang Kota Jambi. Perahu Kecik ini sering juga disebut oleh
masyarakat setempat dengan istilah perahu jalur kecik.5 Perahu kecik ini
dikembangkan oleh orang-orang pendatang yang berasal dari Jawa Timur di

Hasil wawancara dengan Bapak Nurdin Khalidi. Salah satu tukang ketek yang paling
dituai di kelurahan Arab Melayu. Senin, 14 April 2014 pukul 14.30 WIB s/d 15.00 WIB di tepian
Sungai Batang Hari.

63

Kelurahan Arab Melayu.6 Tidak lama berkembangnya perahu jalur kecik ini,
barulah kemudian berkembang Perahu Jukung.
b. Perahu Jukung
Perahu Jukung adalah perahu yang terbuat dari kayu yang utuh, dalam arti
kata tidak disambung-sambung dari sebatang pohon kayu yang besar. Perahu
Jukung merupakan salah satu perahu yang juga berkembang di Seberang Kota
Jambi setelah perahu kecik. Perahu ini digunakan oleh masyarakat seberang
sebagai angkutan sungai untuk membawa orang yang hendak menuju ke Pasar
Kota Jambi. Selain itu perahu ini juga digunakan untuk mengangkut kendaraan
darat jenis roda dua (motor). Perahu ini berkembang di Kelurahan Arab Melayu
Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi.
Pada masa perahu jukung, dalam proses penyeberangan sungai masyarakat
seberang masih menggunakan tradisi bekayuh. Bekayuh adalah salah satu istilah
masyarakat seberang yang berarti mendayung perahu. Proses penyeberangan
dengan bekayuh ini pun dilakukan dengan mengikuti arus sungai Batanghari.7
Perkembangan perahu jukung ini diramaikan dengan berkembangnya mesin
ketek yang saat itu baru mulai berkembang. Saat itu, ketek hanya digunakan
sebagai alat untuk menarik perahu jukung yang tujuannya adalah untuk membawa
orang dan kendaraan motor yang hendak melakukan penyeberangan ke Pasar.8

Hasil wawancara dengan Bapak Jamil. Salah seorang tukang ketek di Kelurahan Tengah.
Senin, 31 Maret 2014 pukul 20.00 WIB s/d 20.30 WIB di Rumah kediamannya.
7
Hasil wawancara dengan Bapak Nurdin Khalidi. Senin, 14 April 2014 pukul 14.30 WIB
s/d 15.00 WIB di tepian Sungai Batang Hari.
8
Hasil wawancara dengan Bapak Nurdin Khalidi. Senin, 14 April 2014 pukul 14.30 WIB
s/d 15.00 WIB di tepian Sungai Batang Hari.

64

Pada masa perahu jukung ini ongkos tarik yang dikenakan oleh penambang
hanya senilai 300 rupiah untuk satu orangnya. Perahu jukung ini hanya memiliki
kapasitas angkut sebanyak 4 orang. Perkembangan perahu jukung mulai
mengalami kemunduran setelah dibangunnya jembatan aurduri di bagian ujung
Barat Seberang Kota Jambi. Setelah mundurnya perkembangan perahu jukung,
perahu mesin pun mulai dikenal oleh masyarakat Seberang Kota Jambi.
c. Perahu Mesin
Perahu mesin adalah perahu dayung yang menggunakan mesin. Perahu
mesin ini dikembangkan oleh orang-orang Palembang yang tinggalnya di daerah
Pulau Pandan dan terletak di bagian Selatan Sungai Batanghari. Pada masanya,
perahu mesin ini oleh orang Palembang digunakan sebagai alat untuk mencari ikan
di bagian hilir Sungai Batanghari.9 Perahu mesin inilah yang menjadi cikal bakal
munculnya ketek.
Setelah ketek mulai banyak dikembangkan oleh masyarakat seberang,
penggunaan perahu mesin ini pun mulai berkurang, sehingga pada akhirnya ketek
lebih mendominasi daripada perahu mesin tersebut. Walaupun perkembangan
perahu mesin ini tidak meluas, hingga sekarang pun perahu mesin ini masih
digunakan oleh sebagian masyarakat yang ada di Pulau Pandan.
d. Kapal Tempek
Kapal tempek atau sering juga dibilang oleh masyarakat setempat sebagai
PMP.10 Kapal tempek dikenal sudah cukup lama oleh masyarakat setempat,

Hasil wawancara dengan Bapak Abdurrahman. Senin 17 Maret 2014 pukul 10.00 s/d
11.30 WIB di Rumah kediamannya.
10
Hasil wawancara dengan bapak Abdul Kadir. Kamis, 22 November 2012 pukul 09.30 s/d
10.00 WIB di Rumah kediamannya.

65

perkembangan kapal tempek sudah ada sebelum berkembangnya Ketek. Kapal


tempek memiliki ukuran yang lebih besar dari ketek dan memiliki atap. Kapal
tempek memiliki kapasitas muatan penumpang sekitar 20 orang.11 dikatakan kapal
tempek karena kapal ini menggunakan mesin tempek atau mesin cangkuk/mesin
40.12 Mesin ini sama seperti mesin spead boat yang memiliki daya kekuatan 40
PK. Ada juga mesin tempek dengan daya kekuatan 15 PK.13 Mesin tempek ini
diletakkan di bagian luar buritan Ketek.
Perkembangan kapal tempek dikatakan sudah ada pada tahun 60an semasa
dengan perahu kecik. Bahkan dikatakan bahwa kapal tempek itu sudah ada
sebelum tahun 60. Kapal tempek ini berasal dari orang Palembang yang tinggal di
Pulau Pandan.14
Perkembangannya pun tidak lama, karena oleh masyarakat seberang mesin
tempek itu dianggap terlalu boros minyak. Kemudian, bahan bakar yang digunakan
mesin tempek ini adalah bensin. Pada waktu itu, bensin lebih mahal daripada
solar.15 Sehingga masyarakat seberang lebih cenderung memilih ketek daripada
kapal tempek. Pada akhirnya kapal tempek pun hilang dan masyarakat pun beralih
menggunakan Ketek.

11

Hasil wawancara dengan Bapak Jamil. Senin, 31 Maret 2014 pukul 20.00 WIB s/d 20.30
WIB di Rumah kediamannya.
12
Hasil wawancara dengan Bapak Nurdin Khalidi. Senin, 14 April 2014 pukul 14.30 WIB
s/d 15.00 WIB di tepian Sungai Batang Hari.
13
Hasil wawancara dengan Bapak M. Idris. Salah seorang tukang ketek di Kelurahan
Mudung Laut. Senin, 14 April 2014 pukul 13.40 WIB s/d 14.20 WIB di Rumah kediamannya.
14
Hasil wawancara dengan Bapak Jamil.
15
Hasil wawancara dengan Bapak Ilyas. Salah seorang tukang ketek di Kelurahan Tanjung
Johor. Selasa, 15 April 2014 pukul 20.00 WIB s/d 20.20 WIB di Rumah kediamannya.

66

e. Ketek
Ketek adalah salah satu transportasi sungai yang berkembang di Kota
Jambi. Ada 3 jenis Ketek yang dikategorikan berdasarkan jenis mesinnya, yaitu
mesin robin, TS (turbine ship) dan dompeng.16
1) Robin
Robin adalah jenis pertama transportasi sungai Ketek yang diperuntukkan
untuk mengangkut penumpang dan barang dengan tujuan utama ke Pasar Angso
Duo dan Ramayana. Robin adalah sebuah nama mesin yang memiliki daya
kekuatan 5 PK.17 Ketek dengan jenis mesin robin ini dapat ditemukan di beberapa
kelurahan yang ada di Seberang Kota Jambi yaitu di Kelurahan Ulu Gedong,
Kelurahan Tengah, Jelmu, Mudung Laut dan Arab Melayu. Ketek dengan jenis
mesin robin ini termasuk jenis ketek yang paling banyak jumlahnya dibandingkan
dengan jenis Ketek yang lain. Selain itu, ketek dengan mesin robin ini hanya
berlabuh di 2 Pelabuhan yang ada di Kelurahan Pasar Kecamatan Pasar Kota
Jambi, yaitu di Pelabuhan Pasar Angso Duo dan Ramayana.
2) TS (turbine ship)
TS adalah jenis kedua transportasi sungai Ketek yang digunakan untuk
melakukan penyeberangan sungai dan diperuntukkan khusus untuk kendaraan roda
dua. Tetapi, ada juga yang menggunakan Ketek dengan jenis TS ini untuk
mengangkut orang/barang. Mesin TS adalah mesin yang memiliki daya kekuatan
14 PK. Bentuknya lebih besar daripada mesin robin. Ciri-ciri khusus yang bisa

16

Pengkategorian ketek ini dilakukan berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Nurdin
Khalidi di Kelurahan Arab Melayu dan Ilyas di Kelurahan Tanjung Johor.
17
Hasil wawancara dengan Bapak M. Idris. Senin, 14 April 2014 pukul 13.40 WIB s/d
14.20 WIB di Rumah kediamannya.

67

dilihat dari Ketek dengan jenis TS ini, selain menggunakan mesin TS adalah
terdapat atap/tenda yang menutup dibagian belakang hingga bagian tengah Ketek.
Atap/tenda tersebut berfungsi sebagai pelindung panasnya sinar matahari.
Hingga sekarang, Ketek dengan mesin TS ini masih dibudayakan oleh
masyarakat seberang khususnya di Kelurahan Arab Melayu, bahkan sudah
digunakan sebagai transportasi pariwisata serta sebagai sarana yang dimanfaatkan
oleh orang-orang Cina untuk memancing.18 Selain itu, ketek ini juga digunakan
untuk mengantar wisatawan yang ingin keliling menikmati keindahan alam di DAS
Batanghari. Ketek ini bisa ditemukan di Pelabuhan Ancol/Tanggo Rajo Kecamatan
Pasar Kota Jambi.
3) Dompeng
Dompeng adalah jenis ketiga transportasi sungai Ketek yang diperuntukkan
untuk mengangkut orang/barang. Mesin dompeng adalah mesin yang memiliki
daya kekuatan di atas daya kekuatan mesin TS. Bentuknya hampir sama dengan
Ketek jenis TS, hanya saja Ketek ini memiliki atap/tenda yang lebih panjang
daripada Ketek jenis TS. Atap/tenda tersebut dipasang di atas Ketek mulai dari
bagian belakang hingga bagian depan Ketek. Ketek dengan jenis mesin dompeng
ini hanya bisa ditemukan di Kelurahan Tanjung Johor dan Arab Melayu. Sama
seperti ketek dengan jenis mesin TS, ketek dengan mesin dompeng juga digunakan
sebagai transportasi pariwisata dan sarana untuk memancing. Ketek ini juga bisa
ditemui di Pelabuhan Ancol/Tanggo Rajo Kecamatan Pelayangan.

18

Hasil wawancara dengan Bapak Nurdin Khalidi. Senin, 14 April 2014 pukul 14.30 WIB
s/d 15.00 WIB di tepian Sungai Batang Hari.

68

3. Istilah lain Ketek sebagai Transportasi Sungai


Ketek sebagai transportasi sungai di Seberang Kota Jambi memiliki
beberapa istilah lain yang dikenal sebelum dikenalnya istilah Ketek. Pendapat
pertama mengatakan bahwa istilah lain sebelum Ketek itu adalah motor kecik.
Ketek tu sebenarnyo iolah motor kecik, karena ditingok dari bentuknyo tu yang
kecik.19 Dan pendapat kedua mengatakan bahwa Ketek itu dahulu dikenal dengan
istilah boat. Boat itu maksudnya bagian dalam Ketek yang berfungsi sebagai
tempat duduknya penumpang, sehingga orang-orang sering menyebutnya boat.20

4. Proses Pembuatan Transportasi Sungai ketek


Proses pembuatan ketek sama halnya dengan proses pembuatan kapal.
Perbedaannya terletak pada ukurannya saja. Jika kapal-kapal besar itu dibuat
dengan ukuran 25 meter sehingga membutuhkan banyak papan untuk
membuatnya. Maka, untuk membuat satu buah jenis ketek yang berukuran 7,5
meter dengan lebar 1 meter hanya memerlukan 30 keping papan. Proses
pembuatan itu paling cepat memakan waktu selama 1 bulan. Hal itu tidak akan
terwujud ketika terdapat hambatan dalam proses pembuatan, seperti kekurangan
bahan (papan/kayu) sehingga harus menunggu/mencari papan terlebih dahulu.
Kasus seperti ini bisa memakan waktu kurang lebih 1 setengah bulan lamanya.
Dalam proses pembuatan ketek diperlukan ketelitian dan kesabaran. Hal
ini adalah menjadi syarat utama yang harus dipenuhi. Karena ketelitian dan

19

Hasil wawancara dengan Bapak Abdurrahman. Senin 17 Maret 2014 pukul 10.00 s/d
11.30 WIB di Rumah kediamannya.
20
Hasil wawancara dengan Bapak Jamil. Senin, 31 Maret 2014 pukul 20.00 WIB s/d 20.30
WIB di Rumah kediamannya.

69

kesabaran merupakan indikator utama yang menjadi penentu terhadap kualitas


ketek yang dibuat.
Berkaitan dengan hal di atas, maka sudah barang tentu tidak semua orang
memiliki sifat yang demikian. Sehingga hanya segelintir orang yang ditemukan
bisa dan mahir dalam membuat ketek. Salah satu orang yang dikenal bisa dan
mahir dalam membuat ketek oleh masyarakat Seberang Kota Jambi adalah Bapak
Abdurrahman (orang-orang memanggilnya Wak Mong). Bapak Abdurrahman
inilah yang menjadi penggagas ketek yang ada di Seberang Kota Jambi. Sekarang
pekerjaannya itu diturunkan kepada anak-anaknya. Salah satu anaknya yang
sampai sekarang menekuni pekerjaan itu adalah Bujang (salah satu warga
kelurahan Mudung Laut).
Berikut tahap-tahap dalam proses pembuatan ketek:21
a. Proses Awal
Langkah pertama dalam proses pembuatan ketek adalah pencarian bahan.
Biasanya, bahan yang digunakan dalam proses pembuatan ketek ini adalah bahan
yang terbuat dari bahan kayu, seperti bulian, meranti (meranti batu, meranti payo,
meranti beringin), merawan, balam, dsb. Namun, saat ini bahan-bahan jenis kayu
yang bagus seperti itu sudah sulit sekali untuk ditemui, sehingga dibutuhkan
kesabaran untuk mencari bahan-bahan tersebut. Terkadang, proses pencarian bahan
ini pun cukup menyita waktu.
Pencarian bahan bisa juga dilakukan atas dasar kesepakatan antara pembuat
(tukang) dan pemesan ketek. Pemesan bisa secara langsung meminta kesediaan

21

Hasil wawancara dengan Bapak Bujang (seorang tukang pembuat ketek) di Kelurahan
Mudung Laut. Selasa, 25 Maret 2014 pukul 14.00 WIB s/d 14.45 WIB di Rumah kediamannya.

70

tukang untuk mencari bahan, tapi bahan ditentukan oleh pemesan. Misalnya,
pemesan ingin papan dari jenis kayu bulian atau meranti. Maka, tergantung
keadaan dan kondisi tukang. Jika tukang bersedia, paling tidak

tukang akan

meminta jangka waktu beberapa minggu untuk mencari bahan-bahan tersebut


sesuai dengan kesepakatan, karena mengingat bahan yang seperti itu sulit untuk
ditemui. Namun, terkadang bahannya disediakan oleh pemesan langsung, sehingga
pekerjaan tukang sedikit lebih ringan. Dalam hal ini tukang tinggal menunggu
bahan dari pemesan untuk diolah selanjutnya.
Langkah kedua, sebelum diolah bahan yang sudah didapat akan diketam
terlebih dahulu. Proses pengetaman memakan waktu kurang lebih 3 hari. Proses
pengetaman ini sama halnya dengan proses penyuguhan papan atau pembersihan
serbut-serbut kayu yang ada di papan tersebut sehingga lebih tampak licin.
Langkah ketiga, setelah diketam maka selanjutnya proses penjemuran
papan. Proses ini cukup ringan dilakukan. Papan-papan tersebut akan ditegakkan
secara berbaris menyilang dan diteguhkan dengan satu palang kayu yang melintang
untuk menjadi sandaran papan-papan tersebut. Sambil menunggu papan dijemur,
proses pembuatan ketek sudah bisa dilakukan.
b. Proses Pembuatan
Proses pembuatan merupakan proses pembentukan kayu yang sudah
didapat menjadi kayu-kayu yang berbentuk. Bentuk-bentuk kayu tersebut dibuat
sedemikian rupa sehingga menjadi ketek yang telah berbentuk kerangka. Kerangka
ketek tersebut terdiri dari beberapa susunan kayu yang sudah disatukan. Susunansusunan kayu itu merupakan bagian dalam dari konstruksi transportasi sungai

71

ketek yang terdiri dari tajuk, gading, mal, pisang-pisang, kepala/haluan dan tutup
jgong, dan buntut/buritan.
1. Tajuk
Tajuk adalah salah satu bagian dari ketek yang berfungsi sebagai tiang
dinding ketek. Masing-masing tajuk memiliki ukuran-ukuran yang berbeda sesuai
dengan letaknya. Tajuk disusun secara berurutan mulai dari ukuran yang terkecil
hingga terbesar. Letaknya di bawah pisang-pisang dan di atas gading ketek.
Proses pembuatan tajuk cukup memakan waktu yang lama, karena tajuk
memiliki jumlah yang banyak. Proses pengukuran untuk masing-masing tajuk juga
menjadi salah satu faktor penyebab lamanya proses pembuatan tajuk tersebut.
Lihat Gambar 3 Bentuk Tajuk Ketek.

Sumber: Hasil Observasi

Gambar 3
Bentuk Tajuk Ketek

72

2. Gading
Gading adalah salah satu bagian ketek yang terletak paling bawah sebagai
tumpuan untuk pijakan lantai. Gading berfungsi sebagai penghubung antara
dinding sebelah kiri dan kanan ketek. Satu gading memiliki 2 tajuk yang berdiri
serong 450. Gading juga memiliki jumlah yang banyak dan disusun secara
berurutan mulai dari bagian buntut sampai kepala ketek. Lihat Gambar 4 Bentuk
Gading Ketek.

Sumber: Hasil Observasi

Gambar 4
Bentuk Gading Ketek
3. Mal
Mal adalah salah satu bagian ketek yang secara vertikal membatasi 2
bagian ketek lainnya yaitu tajuk dan gading. Mal juga merupakan sejenis kayu
yang berukuran panjang seperti mistar dengan lebar 5 cm. Mal ini juga berfungsi
untuk mengunci sekaligus mengokohkan tajuk-tajuk yang ada di setiap gading.
Lihat Gambar 5 Bentuk Mal Ketek.

73

Sumber: Hasil Observasi

Gambar 5
Bentuk Mal Ketek
4. Pisang-pisang
Pisang-pisang adalah bagian tepi atas ketek yang menjadi pelindung bagian
dalam ketek. Proses pembuatan pisang-pisang ini juga termasuk salah satu
pembuatan ketek yang sulit, yaitu bagaimana membuat tepian ketek ini bisa terlihat
lengkung seperti pisang. Lihat Gambar 6 Bentuk Pisang-Pisang Ketek pada
halaman selanjutnya.di bawah ini.

Sumber: Hasil Observasi

Gambar 6
Bentuk Pisang-Pisang Ketek
74

5. Kepala (haluan) dan tutup jgong


Kepala adalah bagian depan
ketek atau sering disebut sebagai
haluan. Papan yang berfungsi untuk
menutupi bagian depan haluan ketek
ini sering disebut sebagai tutup
jgong. Untuk lebih jelasnya Lihat
Gambar 7 Bentuk Haluan dan Tutup

Sumber: Hasil Observasi

Gambar 7
Bentuk Haluan dan Tutup Jgong Ketek

Jgong Ketek.

6. Buntut (Buritan) dan tutup jgong


Buntu adalah bagian belakang ketek atau sering disebut sebagai buritan.
Papan yang berfungsi untuk menutupi bagian belakang buritan ketek ini juga
sering disebut sebagai tutup jgong. Lihat Gambar 8 Bentuk Buritan dan Tutup
Jgong Ketek di bawah ini.

Sumber: Hasil Observasi

Gambar 8
Bentuk Buritan dan Tutup Jgong
Ketek

75

7. Kerangka
Setelah masing - masing
bagian dalam struktur ketek dibuat
sesuai dengan ukuran-ukuran yang
ditentukan,

maka

selanjutnya

merangkai bagian-bagian tersebut


menjadi

struktur

ketek

yang

berbentuk kerangka. Lihat Gambar


Sumber: Hasil Observasi

9 Struktur Ketek dalam Bentuk


Kerangka.

Gambar 9
Struktur Ketek dalam Bentuk Kerangka

c. Proses akhir
Setelah struktur ketek telah berbentuk kerangkan, maka proses selanjutnya
adalah pemasangan papan, pendempulan (pemakalan) dan pengecatan. Proses ini
tidak cukup rumit. Ketek yang sudah dalam bentuk kerangka diterungkupkan untuk
dipapankan. Setelah ketek dipapankan, baru kemudian ketek dipakali dengan tali
tambang yang berfungsi sebagai penutup sambungan papan-papan yang sudah
dipasang di kerangka ketek. Setelah itu, proses pengecatan pun sudah boleh
dilakukan dan setelah cat sudah benar-benar dipastikan kering, ketek pun sudah
bisa digunakan.

5. Jumlah Transportasi Sungai Ketek


Berdasarkan informasi yang didapatkan dari BPS Kota Jambi Kecamatan
Pelayangan dalam Angka 2013 bahwa jumlah transportasi sungai ketek adalah
sebanyak 150 buah. Masing-masing terdiri dari 24 buah di Kelurahan Tengah, 8
76

Buah di Kelurahan Jelmu, 28 Buah di Kelurahan Mudung Laut, 69 Buah di


Kelurahan Arab Melayu, 12 Buah di Kelurahan Tahtul Yaman dan 9 Buah di
Kelurahan Tanjung Johor. Hal ini bisa dilihat sebagaimana Tabel 1 Banyaknya
Alat Transportasi Menurut Kelurahan di Kecamatan Pelayangan 2012 berikut ini.
Tabel 1. Banyaknya Alat Transportasi Menurut Kelurahan
di Kecamatan Pelayangan 2012
No
1
2
3
4
5
6

Kelurahan
Tengah
Jelmu
Mudung Laut
Arab Melayu
Tahtul Yaman
Tanjung Johor
Jumlah

Mobil

Sepeda Motor

Motor Tempel

10
3
11
15
20
6

72
68
140
162
245
133

24
8
28
69
12
9

65

800

150

Sumber: Lihat halaman 52 pada BAB III dalam skripsi ini

Berdasarkan hasil observasi, jumlah transportasi sungai ketek di Kecamatan


Pelayangan Kota Jambi pada tahun 2014 adalah sebanyak 139 Buah. Masingmasing terdiri dari 11 buah di Kelurahan Tengah, 11 buah di Kelurahan Jelmu, 9 di
Kelurahan Mudung Laut, 100 buah di Kelurahan Arab Melayu, 8 buah di
Kelurahan Tanjung Johor dan tidak ditemukan lagi keberadaan ketek di Kelurahan
Tahtul Yaman. Lihat Tabel 2 Banyaknya Transportasi Sungai ketek Dirinci
Perkelurahan di Kecamatan Pelayangan 2014 di bawah ini.
Tabel 2. Banyaknya Transportasi Sungai Ketek Dirinci Per Kelurahan
di Kecamatan Pelayangan 2014
NO
1
2
3
4
5
6

PELABUHAN

KELURAHAN
1
11
11
12
-

Tengah
Jelmu
Mudung Laut
Arab Melayu
Tahtul Yaman
Tanjung Johor
TOTAL

2
9
7
-

3
7
-

4
36
-

TIDAK ADA
PELABUHAN

JUMLAH

48
8

11
11
9
100
8
139

Sumber: Hasil Observasi

77

Jika dilihat perbandingan jumlah transportasi sungai ketek di Kecamatan


Pelayangan dalam angka 2013 dengan hasil observasi tahun 2014 menggambarkan
bahwa terjadi penurunan jumlah transportasi sungai ketek di Kecamatan
Pelayangan Kota Jambi pada tahun 2014 yaitu dari 150 buah menjadi 139 buah
transportasi sungai ketek.
Penurunan jumlah ketek ini disebabkan karena penghasilan sebagai tukang
ketek itu sudah berkurang,22 sehingga beberapa tukang ketek mengurungkan
niatnya untuk melanjutkan profesinya. Sehingga akhirnya ketek-ketek yang ada
dijual oleh beberapa tukang ketek ke berbagai tempat di Seberang Kota Jambi dan
beberapa tukang ketek tersebut mencari profesi lain yang lebih menguntungkan.
Namun, walaupun terjadi penurunan dari segi jumlah secara keseluruhan,
terdapat penambahan jumlah transportasi sungai ketek di Kelurahan Arab Melayu
yaitu dari 69 buah menjadi 100 buah transportasi sungai ketek. Hal ini disebabkan
karena pengguna transportasi sungai ketek di Kelurahan Arab Melayu mengalami
kenaikan pada tahun 2012, dengan adanya penyediaan tempat parkir yang dibuat
oleh masyarakat di Kelurahan Arab Melayu sebagai tempat penitipan kendaraan
roda dua yang berstatus sebagai milik penumpang ketek pada tahun 2012.23
Sehingga untuk mengatasi kenaikan penumpang tersebut sebagian dari masyarakat
Kelurahan Arab Melayu memutuskan untuk membuat beberapa transportasi sungai
ketek. Lihat Kondisi Tempat Parkir Roda Dua di Kelurahan Arab Melayu pada
Gambar 10 halaman 74.

22

Hasil wawancara dengan Bapak Ilyas. Selasa, 15 April 2014 pukul 20.00 WIB s/d 20.20
WIB di Rumah kediamannya.
23
Hasil wawancara dengan Bapak Amit Jali. Salah seorang tukang parkir di Kelurahan
Arab Melayu. Selasa, 25 Maret 2014 pukul 13.30 WIB s/d 13.40 WIB di tempat Parkir.

78

Sumber: Hasil Observasi

Gambar 10
Kondisi Tempat Parkir Roda Dua di Kelurahan Arab Melayu

6. Struktur dan Sistem Pelaksanaan Organisasi Ketek


Struktur di dalam sebuah organisasi adalah sebuah unsur fundamental yang
memiliki daya pengaruh terhadap kelangsungan sebuah sistem pelaksanaan
organisasi tersebut. Hampir di setiap organisasi atau perkumpulan sebuah
kelompok (komunitas) memiliki struktur organisasi. Hal demikian, tidak ditemui di
dalam komunitas ketek di Seberang Kota Jambi. Tidak ada struktur yang jelas di
dalam komunitas ketek tersebut, dalam artian tidak ada struktur yang dibuat secara
tertulis sehingga tidak diketahui secara jelas strukturnya, seperti papan struktur
organisasi dan lain sebagainya. Hal ini dapat dibuktikan ketika ditanya beberapa
orang tukang ketek tentang kepengurusan transportasi sungai ketek di Kelurahan
Tengah, Jelmu, Mudung Laut dan Arab Melayu. Masing-masing dari tukang ketek
itu sedikit kebingungan untuk menjawabnya.

79

Walaupun demikian, ketertiban dan keamanan dari sistem pelaksanaan


organisasi ketek terutama dalam penarikan penumpang di lingkungan ketek untuk
masing-masing pelabuhan terlihat tetap terjaga dengan baik. Tidak ada kerusuhan
di dalam sistem penarikan penumpang tersebut, khususnya di pelabuhan-pelabuhan
yang ada di Seberang Kota Jambi. Karena sistem penarikan penumpang yang
dilakukan lebih mengutamakan sikap toleransi dan rasa saling pengertian antara
tukang ketek yang satu dengan yang lain. Sistem penarikan penumpang ini pun
dilakukan secara bergantian/bergiliran.
Hal tersebut di atas berbeda dengan sistem penarikan penumpang di 2
wilayah pelabuhan yang ada di Kecamatan Pasar Kota Jambi, yaitu Pelabuhan
Pasar Angso Duo dan Ramayana. Pelabuhan-pelabuhan itu dibuat hanya sebatas
sebagai tempat tujuan ketek untuk menurunkan dan menjemput penumpang. Tidak
ada sistem yang membentuk untuk penarikan penumpang, sehingga dalam
penarikan penumpang dilakukan atas dasar usaha dari masing-masing tukang ketek
yang berada di pelabuhan itu.
Sistem

penarikan

penumpang

di

Pelabuhan

Pasar

Angso

Duo

menggambarkan tidak adanya aturan-aturan yang menjadi dasar/pedoman dalam


penarikan penumpang, sehingga sering kali terjadi rebutan penumpang yang
menimbulkan kerusuhan. Hal ini membuat penumpang-penumpang yang turun di
pelabuhan Pasar Angso Duo cenderung lebih mengutamakan ketek yang sudah
terisi penuh oleh penumpang. Sama halnya dengan sistem penarikan yang ada di
Pelabuhan Angso Duo, pelabuhan di Ramayana juga dilakukan atas dasar usaha
dari masing-masing tukang ketek yang ada di pelabuhan itu.

80

Selain itu, sistem pelaksanaan organisasi ketek dalam hal penempatan


parkir/berlabuh nya ketek di Seberang Kota Jambi terlihat tidak tertata dengan baik
antara kelurahan yang satu dengan kelurahan lain sehingga terlihat tidak
proporsional. Sistem penempatan parkir/berlabuhnya ketek ini hanya dilakukan
atas dasar pertimbangan karena jarak pelabuhan dekat dari rumah. Hal ini seperti
yang terjadi di Kelurahan Arab Melayu.
Sistem penempatan parkir/berlabuhnya ketek di Kelurahan Arab Melayu
tidak sama dengan sistem penempatan parkir di kelurahan-kelurahan lainnya.
Sistem penempatan parkir/berlabuhnya ketek di kelurahan ini cenderung bersifat
deliveransi (bebas). Karena jumlah ketek yang ada di Kelurahan Arab Melayu ini
lebih banyak daripada jumlah pelabuhannya, sehingga ketek yang ada di kelurahan
itu memiliki tempat berlabuh sendiri-sendiri dan terlihat tidak tertata dengan baik.
Hal ini bisa dilihat dari keberadaan ketek nya yang berlabuh dimana-mana dengan
hanya beberapa kayu yang ditancapkan sebagai tiang pengikat ketek-ketek tersebut.
Lihat Gambar 11 Kondisi Transportasi Sungai Ketek di Kelurahan Arab Melayu.

Sumber: Hasil Observasi

Gambar 11
Kondisi Transportasi Sungai Ketek di Kelurahan Arab Melayu

81

Sedangkan penempatan parkir/berlabuhnya ketek di kelurahan-kelurahan


lain terlihat tertata dengan baik. Hal ini didasari karena jumlah ketek yang ada di
kelurahan-kelurahan

tersebut

masih

dapat

terjangkau

dengan

jumlah

pelabuhan/rakit yang ada. Sehingga tidak ditemui ketek yang berlabuh di


sembarangan tempat. Lihat Gambar 12 Kondisi Transportasi Sungai Ketek di
Kelurahan Mudung Laut, Jelmu dan Tengah.

Sumber: Hasil Observasi

Gambar 12
Kondisi Transportasi Sungai Ketek
di Kelurahan Mudung Laut, Jelmu dan Tengah

7. Fungsi Pelabuhan Ketek Masa Lalu dan Sekarang


Dari enam kelurahan yang ada di Kecamatan Pelayang Seberang Kota
Jambi hanya tersisa 4 kelurahan yang masih terlihat menggunakan jasa ketek untuk
melakukan penyeberangan di Sungai Batanghari. Empat kelurahan itu adalah
Kelurahan Tengah, Jelmu, Mudung Laut dan Arab Melayu yang masing-masing
memiliki pelabuhan/rakit sendiri-sendiri. Ketek yang ada di Kelurahan Arab
Melayu memiliki pelabuhan/rakit sendiri sebagai tempat berlabuh dan mangkalnya.
82

Begitu juga dengan ketek yang ada di Kelurahan Tengah, Jelmu dan Mudung Laut
juga memiliki pelabuhan/rakit sendiri-sendiri sebagai tempat berlabuh dan
pangkalannya.
Jika ditinjau secara fungsi, keberadaan pelabuhan/rakit pada masingmasing kelurahan tersebut dapat dikatakan untuk memfungsikan ketek yang ada
pada masing-masing kelurahan.
Pada masa dahulu, fungsi ketek adalah mengangkut penumpang yang
berasal dari masing-masing kelurahannya menuju ke Pasar. Misalnya, ketek yang
ada di Kelurahan Tengah akan mengangkut penumpang yang ada di Kelurahan
Tengah. Ketek yang ada di Kelurahan Jelmu akan mengangkut penumpang yang
tinggal dan menetap di Kelurahan Jelmu. Ketek yang ada di Kelurahan Mudung
Laut akan mengangkut penumpang yang statusnya sebagai masyarakat Kelurahan
Mudung Laut. Begitu juga dengan ketek yang ada di Kelurahan Arab Melayu akan
mengangkut penumpang yang ada, tinggal dan menetap di Kelurahan Arab
Melayu. Hal ini didukung oleh penjelasan dari salah satu tukang ketek di
Kelurahan Tengah.
Dulu tu orang turun banyak. Orang Ulu Gedong tu turun di situ lah.
Kampung Tengah turun di Kampung Tengah. Kini ko nampak e orang lah
ke ilir galo lari e [Pelabuhan Arab Melayu]. dak do lagi ndak turun siko
[Pelabuhan Kampung Tengah]. Jarang nian nak turun siko. Di situ rame.
Orang tu numpuk di situ galo. Jadi cepat berangkat. Siko lambat. Kami ko
nak orang 6 orang 5 baru berangkat. Sano tu rame orang 10 berangkat dio
tu. Orang tu numpuk di situ galo. Dari Tahtul Yaman, Arab Melayu situ
galo kejare. Asal e macam siko lah. Orang ko enak situ, turun situ galoe.24
Transliterasi:
Dulu itu, orang turun banyak. Orang Ulu Gedong itu turunnya di Ulu
Gedong. Kampung Tengah turunnya di Kampung Tengah. Sekarang,
24

Hasil wawancara dengan Bapak Jamil. Senin, 31 Maret 2014 pukul 20.00 WIB s/d 20.30
WIB di Rumah kediamannya.

83

sepertinya orang-orang sudah ke ilir semua larinya [Pelabuhan Arab


Melayu]. Tidak ada lagi yang mau turun di sini [Pelabuhan Kampung
Tengah]. Jarang sudah mau turun di sini. Di sana ramai. Orang itu penuh di
sana semua. Jadi cepat berangkat. Di sini lambat, karena kami mau
berangkat jika penumpangnya sudah mencapai 6 atau 5 orang. Di sana
ramai, orang 10 sudah berangkat. Orang itu penuh di sana semua, dari
Tahtul Yaman, Arab Melayu di sana semua larinya. Asalnya dulu seperi di
sini lah. Mungkin orang ini tertarik turun di sana, sehingga turun di sana
semua.
Hal demikian telah dilakukan oleh masyarakat sebelumnya sebagai suatu
tradisi yang telah dilakukan secara turun-temurun dan sudah menjadi identitas
budaya mereka.25
Namun, tradisi tersebut tidak lagi berjalan sebagaimana yang dilakukan
oleh para pendahulu ketek. Karena fungsi pelabuhan yang ada di setiap kelurahan
itu telah mengalami disfungsi. Sekarang, pelabuhan-pelabuhan itu hanya
digunakan sebagai batas untuk berlabuh dan mangkalnya ketek. Tidak ditemukan
lagi di dalamnya nilai budaya26, sehingga menimbulkan kesenjangan terhadap
aktivitas ketek di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi. Seperti yang
terjadi di Kelurahan Tengah, banyak masyarakat yang tinggal di Kelurahan itu
ketika hendak pergi ke pasar menggunakan jasa tukang ketek yang ada di
Kelurahan Arab Melayu. Bukan hanya Kelurahan Tengah, kelurahan-kelurahan
lain seperti Kelurahan Jelmu, Mudung Laut pun mengalami hal yang sama, karena
sebagian masyarakat yang tinggal di kelurahan-kelurahan itu lebih cenderung

25

Baca Bondan Seno Prasetyadi, dkk, Transportasi Sungai dan Masyarakat Melayu Jambi,
ISSN : 18582559 (Depok: Jurnal Universitas Gunadarma, 2005), hal. 12.
26
Menurut Koentjaraningrat (1987:85) nilai budaya terdiri dari konsepsi konsepsi yang
hidup dalam alam fikiran sebahagian besar warga masyarakat mengenai hal hal yang mereka
anggap amat mulia. Sistem nilai yang ada dalam suatu masyarakat dijadikan orientasi dan rujukan
dalam bertindak. Oleh karena itu, nilai budaya yang dimiliki seseorang mempengaruhinya dalam
menentukan alternatif, caracara, alatalat, dan tujuantujuan pembuatan yang tersedia. Lihat
(http://wirasaputra.wordpress.com/2011/10/13/nilai-budaya-sistem-nilai-dan-orientasi-nilai-daya/).
Tanggal diakses Jumat, 2 Mei 2014 pukul 10.49 WIB.

84

memilih naik ketek di Kelurahan Arab Melayu dibandingkan ketek yang ada di
kelurahan masing-masing.
Fenomena ini sesuai dengan pendapat Bapak M. Idris salah seorang tukang
ketek di Kelurahan Mudung Laut mengatakan bahwa:
Sekarang penumpang full ke ilir [Pelabuhan Arab Melayu]. Penumpang
yang naik di pelabuhan mulai dari pelabuhan Sanggar Batik di Mudung
Laut, Jelmu, Kelurahan Tengah hingga Ulu Gedong diperkirakan hanya
25%, yang khusus 75% lari ke ilir. Berbeda dengan dulu, kalu dulu
memang merata.27
Fenomena ini disebabkan karena pertama memang di pelabuhan Kelurahan
Arab Melayu menyediakan tempat parkir khusus untuk kendaraan roda dua dan
mulai dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore dijamin keamanannya. Kedua, karena di
pelabuhan itu langsung ke Ramayana. Berbeda dengan pelabuhan-pelabuhan lain
yang tujuannya ke Pelabuhan Sungai Asam Pasar Angso Duo.28

8. Penumpang dan Aktivitas Transportasi Sungai ketek


Penumpang adalah salah satu bagian yang vital dalam menentukan aktivitas
transportasi sungai ketek di Kota Jambi, karena dia bisa memberi pengaruh
terhadap besar-kecilnya aktivitas ketek di Sungai Batanghari. Bisa dipastikan
bahwa semakin banyak penumpang yang menggunakan jasa transportasi sungai
ketek, maka semakin besar jalan aktivitas ketek di Sungai Batanghari. Begitu juga
sebaliknya.

27

Hasil wawancara dengan Bapak M. Idris. Salah seorang tukang ketek di Kelurahan
Mudung Laut. Senin, 14 April 2014 pukul 13.40 WIB s/d 14.20 WIB di Rumah kediamannya.
28
Hasil wawancara dengan Bapak M. Idris. Senin, 14 April 2014 pukul 13.40 WIB s/d
14.20 WIB di Rumah kediamannya.

85

Aktivitas transportasi sungai ketek di Seberang Kota Jambi terus berjalan


selama 24 Jam. Hal ini dikarenakan faktor penumpang yang selalu ada di setiap
waktu.29 Ada dua waktu yang terlihat penumpang turun di pelabuhan lebih banyak
mendominasi daripada waktu-waktu yang lain, yaitu pada pukul 03.00 WIB dini
hari s/d 09.00 WIB dan pukul 15.00 s/d 18.00 WIB sore hari, sehingga aktivitas
ketek pun pada waktu-waktu itu terlihat lebih ramai. Di sela-sela waktu itu, ditemui
bahwa para tukang ketek juga meyempatkan waktunya untuk memenuhi panggilan
ilahi. Jika tiba waktunya untuk shalat, mereka pun mengerjakan shalat terlebih
dahulu.30
Aktivitas ketek pada Pukul 03.00 WIB dini hari s/d Pukul 09.00 WIB. Para
penumpang mulai terlihat berguyuran datang dari berbagai kelurahan menuju
pelabuhan Arab Melayu, Mudung Laut, Jelmu dan Kelurahan Tengah. Bahkan ada
juga yang berasal dari luar Kota Jambi seperti daerah Penyengat Olak, Sekernan,
Rengas Bandung dan Sengeti di Kabupaten Muaro Jambi. Para penumpang yang
turun pada pukul 03.00 WIB dini hari ini cenderung penumpang yang berlatar
belakang sebagai pedagang. Sehingga bisa dipastikan tujuan transportasi sungai
ketek pada dini hari yaitu ke Pasar Angso Duo. Aktivitas ini terus berjalan hingga
Pukul 06.00 WIB. Sedangkan para penumpang yang turun pada Pukul 06.00 WIB
s/d 09.00 WIB adalah para penumpang yang berlatar belakang sebagai pegawai
mal, security, anak sekolahan dan masyarakat umum yang hendak berbelanja di
Pasar Kota Jambi.

29

Hasil wawancara dengan Bapak M. Idris. Senin, 14 April 2014 pukul 13.40 WIB s/d
14.20 WIB di Rumah kediamannya.
30
Hasil wawancara dengan bapak Abdul Kadir. Kamis, 22 November 2012 pukul 09.30 s/d
10.00 WIB di Rumah kediamannya.

86

Hal tersebut di atas didukung oleh pernyataan dari salah seorang tukang
ketek dari Kelurahan Mudung Laut Seberang Kota Jambi. Dia menyatakan
sebagaimana yang dikutip dibawah ini:
Boleh tingok be kalu sudah jam 3 malam. 3 malam tu sudah rame tu.
orang-orang yang belanjo untuk jualan. Sampe suntuk pagi jam 7 tu masih
rame. Masih rame orang yang dari Pasir Panjang, Tanjung Raden, bahkan
dari Senaung juga ada. Jam 6 Subuh tu sudah rame.31
Transliterasi:
Boleh saja lihat kalau sudah jam 3 malam. Jam 3 malam itu sudah ramai
penumpang. Orang-orang yang belanja untuk jualan. Sampai jam 7 Pagi
masih ramai. Masih ramai, orang-orang yang dari Pasir Panjang, Tanjung
Raden, bahkan dari Senaung juga ada. Jam 6 Subuh itu sudah ramai.
Sedangkan aktivitas ketek pada Pukul 15.00 WIB s/d 18.00 WIB sore hari
merupakan arus balik dari penumpang yang telah berangkat menggunakan
transportasi sungai ketek di pagi hari sebelumnya. Selain itu, tidak menutup
kemungkinan ada juga penumpang yang baru berangkat saat itu menuju ke Pasar.
Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya aktivitas ketek yang hilir mudik dari
Pasar membawa penumpang menuju ke Seberang Kota Jambi. Hal ini sebagaimana
yang didapatkan dari hasil pengamatan sebagai berikut:
Selama 10 menit saya duduk di pinggiran sungai Batanghari dari arah
Seberang Kota. Jam menunjukkan pukul 16.40 WIB sore hari. Saya melihat
sudah ada 15 ketek yang berjalan dari arah pasar kota menuju Seberang
Kota. Dari masing-masing ketek tersebut membawa penumpang dengan
jumlah yang bermacam-macam. 2 diantara ketek tersebut membawa
penumpang dengan jumlah yang banyak yaitu berjumlah 15 orang.
Selainnya ada yang berjumlah 4 orang, ada 7 orang, bahkan ada Cuma 1
orang. Di samping itu, saya juga melihat sudah ada 10 ketek yang berjalan
dari arah Seberang Kota menuju Pasar. Dan dari masing-masing ketek
tersebut juga membawa penumpang dengan jumlah yang bermacam-macam
juga.32
31

Hasil wawancara dengan Bapak M. Idris. Senin, 14 April 2014 pukul 13.40 WIB s/d
14.20 WIB di Rumah kediamannya.
32
Lihat Hasil Pengamatan di Catatan Lapangan No. 3. Senin, 24 Maret 2014 pukul 16.40
WIB di pinggiran Sungai Batanghari.

87

Berdasarkan dari penjelasan hasil pengamatan tersebut dapatlah dikatakan


bahwa aktivitas transportasi sungai ketek pada Pukul 15.00 WIB s/d 18.00 WIB
sore hari begitu ramai. Para penumpang yang diangkut pun juga tampak ramai.

B. FUNGSI TRANSPORTASI SUNGAI KETEK DI KOTA JAMBI


1. Ketek sebagai Sarana Mata Pencaharian Hidup
Pada masa lalu sekitar tahun 80an, ketek menjadi solusi bagi sebagian
masyarakat Seberang Kota Jambi, karena transportasi ini dianggap sebagai salah
satu peluang untuk mencari nafkah keluarga. Dengan uang sebesar 175 ribu,
masyarakat setempat sudah bisa memiliki transportasi ketek. Ketika itu, harga
minyak hanya senilai 35 rupiah dan ongkos Ketek baru 25 rupiah.33
Sekarang, transportasi sungai ketek sudah mencapai 3 Juta/satuannya,
belum dengan mesinnya.34 Namun, transportasi ketek masih menjadi salah satu
alternatif sebagai alat teknologi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga di
Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi.
Sehingga sebagian dari masyarakat seberang tetap menggantungkan hidup
mereka dengan transportasi ini. Karena mereka menganggap bahwa Ketek adalah
salah satu usaha yang cukup menguntungkan untuk memenuhi kebutuhan hidup
mereka sehari-hari. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang tukang
ketek di Kelurahan Mudung Laut, sebagai berikut:
Bagi orang kecil mungkin itu paling pentinglah. Kareno maconyo, duit
taroklah 2 Juta. 2 Juta dimakan 2 bulan habis. Tapi kalo dibelikan ketek
33

Hasil wawancara dengan Bapak Ilyas. Selasa, 15 April 2014 pukul 20.00 WIB s/d 20.20
WIB di Rumah kediamannya.
34
Hasil wawancara dengan Bapak Bujang (seorang tukang pembuat ketek) di Kelurahan
Mudung Laut. Selasa, 25 Maret 2014 pukul 14.00 WIB s/d 14.45 WIB di Rumah kediamannya.

88

untuk beli beras 5 tahun 3 tahun biso. Bedagang, nak bedagang dak punyo
tempat dagang. Duit sedikit mau didagangkan dak biso. Jadi lebih baik
dibelikan ketek tadi lah.35
Transliterasi:
Bagi orang kecil, mingking itu paling pentinglah. Karena pikirnya seperti
ini, kita punya uang 2 Juta. 2 Juta tersebut jika digunakan habis untuk
makan, kira-kira 2 bulan habis. Tapi, kalau dibelikan ketek untuk beli beras
5 tahun atau 3 tahun bisa. Mau berdagang tidak punya tempat. Uang sedikit
mau didagangkan tidak bisa. Jadi, lebih baik dibelikan ketek tadi lah.
Begitu pentingnya transportasi ini, hingga sekarang pun sebagian dari
masyarakat seberang masih menggantungkan Ketek sebagai alat mata pencaharian
hidup yang menguntungkan. Hal ini sebagaimana yang diungkapan dari salah
seorang tukang ketek di Kelurahan Tengah, sebagai berikut:
Dak do. Bedagang awak dak tukang. Iko Nampak e enak mencari tu.
bedagang tu payah nak pake tempat, nak pake modal. Iko modal tu ado
dikit. Turun tu dapat lah duit. Kalo bedagang tu kadang beruntung kadang
rugi.36
Transliterasi:
Tidak ada. Berdagang saya tidak bisa. Ini yang kelihatannya enak mencari.
Berdagang itu susah, membutuhkan tempat dan perlu modal. Ini modal itu
ada, tapi sedikit. Kalau turun dari rumah tu dapatlah duit. Kalau berdagang
itu, terkadang beruntung dan terkadang rugi.
Dari kedua ungkapan di atas, jelas lah bahwa kehadiran transportasi sungai
ketek pada masa lalu hingga sekarang memberikan solusi bagi sebagian masyarakat
Seberang Kota Jambi sebagai mata pencaharian.

35

Hasil wawancara dengan Bapak M. Idris. Senin, 14 April 2014 pukul 13.40 WIB s/d
14.20 WIB di Rumah kediamannya.
36
Hasil wawancara dengan Bapak Jamil. Senin, 31 Maret 2014 pukul 20.00 WIB s/d 20.30
WIB di Rumah kediamannya.

89

2. Ketek sebagai Sarana Transportasi Penyeberangan Sungai


Transportasi sungai ketek adalah salah satu hasil dari kebudayaan masa lalu
masyarakat seberang sebagai sarana transportasi penyeberangan Sungai Batang
Hari untuk mengangkut penumpang dari Seberang Kota menuju Kota Jambi atau
dari Kota menuju Seberang Kota Jambi. Tujuan utama transportasi ini adalah
untuk mengantar orang-orang dahulu yang hendak pergi ke pasar dengan keperluan
yang bermacam-macam. Ada yang ke pasar dengan keperluan untuk membeli
kebutuhan rumah tangga. Ada juga ke pasar dengan tujuan berjualan. Ada juga
untuk membeli sayur-sayuran di Pasar Angso Duo.37 Hal ini seperti yang terjadi di
Kelurahan Tengah, Jelmu, Mudung Laut dan Arab Melayu, hingga sekarang pun
masih banyak ditemui penumpang yang menggunakan ketek sebagai transportasi
penyeberangan sungai ke Pasar Angso Duo dan termasuk Ramayana/WTC.
Di samping itu, dulu transportasi ini juga digunakan untuk mengantar anakanak sekolahan yang hendak belajar di Seberang Kota Jambi maupun yang dari
Seberang belajar ke Kota Jambi38 serta para pemuda yang hendak pergi menonton
bioskop.39
Transportasi ini juga digunakan untuk mengantar para pekerja pabrikpabrik dari arah Kumpeh Kab. Muaro Jambi menyebrang sungai menuju
Kelurahan Tanjung Johor. Ketika itu, terdapat beberapa pabrik di kawasan
37

Pasar Angso duo adalah pasar tradisional terbesar di Provinsi Jambi. Di pasar ini
terdapat aneka ragam barang dagangan mulai dari sayu-mayur, lauk-pauk, pakaian, perabot rumah
tangga dan masih banyak lagi. Pasar tradisional ini telah menjadi sandaran hidup lebih dari 5.000
pedagang dan punya sejarah panjang sebagai pasar yang berpindah-pindah dari satu tempat ke
tempat lain (Nomaden). Di ambil dari http://ronalsaputra.blogspot.com. Tanggal akses Minggu, 20
April 2014 Pukul 09.41 WIB.
38
Hasil wawancara dengan Bapak Ilyas. Selasa, 15 April 2014 pukul 20.00 WIB s/d 20.20
WIB di Rumah kediamannya.
39
Hasil wawancara dengan Bapak Senang. Salah seorang tukang ketek di Kelurahan
Tengah. Selasa, 11 Maret 2014 di Pelabuhan Kelurahan Tengah.

90

seberang Kota Jambi, yang terdiri dari 2 pabrik getah dan 1 pabrik kayu. Dua
pabrik getah itu adalah Pabrik Remco dan dan Jambi Waras yang secara geografis
letaknya masih termasuk dalam bagian Kelurahan Tanjung Johor. Sekarang,
pabrik-pabrik itu masih berfungsi dengan baik.
Sedangkan 1 pabrik kayu itu sudah lama tidak berfungsi lagi sekitar 6-7
tahun yang lalu. Dahulu, pabrik ini dikenal dengan TJWI (Tanjung Johor Wood
Industri). Diceritakan bahwa banyak dari para pekerja pabrik-pabrik tersebut
menggunakan jasa ketek sebagai transportasi sungai dalam penyeberangan Sungai
Batanghari.40
Dulu aktivitas ketek sebagai transportasi penyeberangan sungai mempunyai
peran yang sangat penting dibanding dengan sekarang. Sekarang, fungsi ketek
sebagai transportasi penyeberangan sungai di Kelurahan Tanjung Johor sedang
mengalami impresisi (ketaksamaan) dari fungsi ketek pada masa lalu, dimana para
pengguna transportasi sungai ketek telah banyak beralih pada transportasi darat.
Hal ini mulai disadari oleh masyarakat Kelurahan Tanjung Johor ketika
telah selesainya pembangunan jembatan Batanghari II yang dilakukan oleh
pemerintah daerah di ujung Timur Kota Jambi 4 tahun lalu, yang bertujuan untuk
melancarkan transportasi hasil perekonomian sebagai akses untuk mendukung
ekspor-impor daerah menuju pasar global. Sehingga pengguna transportasi sungai
ketek di Kelurahan Tanjung Johor hanya sebatas penyeberangan untuk ke kawasan
Ancol/Tanggo Rajo dan itu pun banyak dari pengguna yang tinggal di kelurahan
itu sendiri.

40

Hasil wawancara dengan Bapak Ilyas. Selasa, 15 April 2014 pukul 20.00 WIB s/d 20.20
WIB di Rumah kediamannya.

91

Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh salah satu tukang ketek yang ada
di Kelurahan Tanjung johor.
Kinitu boleh kato, orang siko lah yang banyak. Sekali-sekali untuk wisata
kan. Kalu dulu kan orang pabrik tu kan sebelum jembatan tu ado orang
pabrik tu khusus e banyak naik ketek. Orang yang kerjo pabrik tu ado yang
ketinggalan. Kinitu kan Jambi Waras dengan Remco tu kan lewat jeramba
tu [jembatan Batang Hari II]. Walaupun ketinggalan dio pake motor.41
Transliterasi:
Sekarang boleh dikata, orang sini lah yang banyak. Sekali-sekali untuk
wisata kan. Kalau dulu penumpangnya orang-orang dari pabrik. Sebelum
jembatan itu ada, orang pabrik itu khususnya banyak yang naik ketek.
Orang yang bekerja di pabrik itu ada yang ketinggalan. Sekarang kan Jambi
Waras dengan Remc itu sudah lewat jerambat Batang Hari II. Walaupun
ketinggalan dia menggunakan motor.
Berdasarkan penjelasan di atas dapatlah dikatakan bahwa secara fungsional
transportasi sungai ketek dulu telah menjadi andalan dalam penyeberangan Sungai
Batang Hari. Bahkan, sebelum dibangunnya jembatan Batang Hari I transportasi
sungai ketek ini pernah digunakan oleh masyarakat lokal sebagai sarana
pengangkutan jenazah.42 Pengangkutan jenazah adalah sebuah kesakralan dalam
agama. Dan ketek telah menjadi solusinya dalam hal itu.
Berbeda

dengan

sekarang

ketek

hanya

sebagai

sarana

alternatif

penyeberangan Sungai Batang Hari. Karena, di samping penggunaan transportasi


sungai, saat ini masyarakat juga telah bisa menggunakan jalur transportasi darat
dalam melakukan proses penyeberangan Sungai Batang Hari. Namun, perlu digaris
bawahi bahwa sebagian besar masyarakat Seberang Kota Jambi saat ini masih tetap

41

Hasil wawancara dengan Bapak Ilyas. Selasa, 15 April 2014 pukul 20.00 WIB s/d 20.20
WIB di Rumah kediamannya.
42
Hasil wawancara dengan Bapak Zainuddin. Salah seorang masyarakat di Kelurahan
Tengah. Selasa, 20 Mei 2013 Pukul 20.00 s/d 20.30 WIB.

92

menggunakan jalur transportasi sungai ketek dalam penyeberangan sungai menuju


Pasar Kota Jambi terutama ke Pasar Angso Duo dan Ramayana/WTC.

3. Ketek sebagai Sarana Lomba dan Rekreasi


a. Ketek sebagai Sarana Lomba
Di samping ketek sebagai sarana mata pencaharian dan penyeberangan
sungai ditemui bahwa ketek juga merupakan sebagai sarana lomba dalam
pelaksanaan peringatan HUT RI 17 Agustus dan HUT Provinsi Jambi di Sungai
Batanghari. Lomba yang dilakukan di area Sungai Batanghari ini biasanya adalah
lomba perahu yang melibatkan peserta dari seluruh kabupaten dan kota yang ada di
Provinsi Jambi.
Dalam rangka untuk memeriahkan pelaksanaan lomba perahu ini, sehingga
ada sebagian dari masyarakat seberang yang tidak segan-segan untuk mencatar
ketek. Peran ketek di sini adalah sebagai sarana untuk mereka yang ingin menonton
lomba tersebut dari jarak dekat dan juga sebagai sarana pendukung dalam
mengikuti proses kegiatan lomba tersebut agar terasa lebih berkesan. Biasanya
banyak dari kalangan pemuda yang berantusias untuk mencatar ketek tersebut.
Dalam setahun, pelaksanaan lomba perahu ini dilakukan oleh pemerintah
daerah sebanyak 3 kali dalam setahun, di samping peringatan HUT RI dan Provinsi
Jambi juga dalam rangka peringatan HUT Kota Jambi. Pelaksanaan lomba perahu
ini biasanya dilaksanakan pada siang hari dan dimulai sekitar pukul 14.00 WIB dan
diakhiri pada pukul 17.00 WIB.

93

b. Ketek sebagai Sarana Rekreasi


Selain sebagai sarana lomba ditemui bahwa ketek juga merupakan sarana
rekreasi yang digunakan oleh wisatawan dalam kota. Biasanya, wisatawan yang
menggunakan ketek wisata ini adalah wisatawan yang berkunjung dan berwisata di
Taman Tanggo Rajo (Ancol) Kec. Pasar Kota Jambi.
Tanggo Rajo (Ancol) merupakan kawasan yang sering dikunjungi sebagai
tempat rekreasi keluarga untuk dapat menikmati panorama Sungai Batanghari,
memancing, ketek wisata dan jajanan di sepanjang jalan raya di pinggir Sungai.
Tanggo Rajo berada diKawasan Rumah Dinas Gubernur Jambi, Jl. Sultan Taha,
Kecamatan Pasar Kota Jambi, melalui dari Tanggo Rajo inilah tiap tahun Gubernur
melambaikan bendera start dalam event tahunan Lomba Perahu Tradisional, dalam
rangka HUT RI 17 Agustus.
Bagi wisatawan yang sedang berwisata di Taman Tanggo Rajo (Ancol)
Pasar Kota Jambi ini akan menemui 2 pelabuhan ketek yang difungsikan sebagai
sarana untuk rekreasi. 2 pelabuhan tersebut ialah pelabuhan yang ada di pangkalan
ketek wisata Ancol-Pelayangan dan pangkalan ketek wisata Tanjung Johor dan
Tahtul Yaman. Selain itu, ada sebuah informasi yang mengatakan bahwa ternyata
transportasi sungai ketek ini juga pernah menjadi ketek wisata bagi waisatawan
yang hendak berkunjung ke Kawasan Candi Muaro Jambi dengan keliling
menyusuri DAS Batang Hari.43

43

Hasil wawancara dengan Bapak Ilyas. Selasa, 15 April 2014 pukul 20.00 WIB s/d 20.20
WIB di Rumah kediamannya.

94

C. PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG TRANSPORTASI SUNGAI


KETEK DI KOTA JAMBI
1. Ketek sebagai Roda Perekonomian
Kita ketahui bahwa transportasi sungai ketek merupakan sarana
penyeberangan sungai yang sudah lama berkembang mulai tahun 70an, dimana
perkembangan alat transportasi canggih dan modern belum begitu dirasakan oleh
sebagian besar masyarakat Seberang Kota Jambi dan kebijakan-kebijakan
pemerintah berupa jembatan belum ada pada waktu itu. Sehingga keberadaan
transportasi sungai ketek benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat kota Jambi
khususnya masyarakat di Seberang Kota Jambi sebagai alat untuk penyeberangan
sungai Batang Hari, terutama bagi pedagang sayur di Seberang Kota Jambi yang
hampir setiap harinya menggunakan jasa transportasi ketek untuk tujuan ke Pasar
Angso Duo.
Keberadaan transportasi sungai ketek di Sungai Batang Hari Kota Jambi
merupakan urat nadi dalam kehidupan masyarakat Seberang Kota Jambi. Hal ini
dikarenakan transportasi sungai ketek telah memberikan manfaat yang besar dalam
membantu masyarakat seberang untuk melakukan penyeberangan di DAS Batang
Hari menuju Pasar Kota Jambi. Salah satu alasan yang bisa dijadikan sebagai bukti
lapangan adalah karena ketek memberikan kemudahan dalam penyeberangan
sungai dan menjadi sarana alternatif untuk memenuhi kebutuhan hidup serta tujuan
penumpang ke Pasar.
Sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang pedagang sayur di
Kelurahan Arab Melayu, sebagai berikut:

95

Kalu dulu sebelum ado jembatan, ketek ko dianggap sebagai urat nadi
lah. Nak ke rumah sakit. Nak belanjo untuk kebutuhan kito. Nak belanjo
kan memang di sano pusatnyo [Pasar Angso Duo]. Jadi memang harus
melalui ketek. jadi tu ibaratnyo memang urat nadi.44
Transliterasi:
Kalau dulu sebelum ada jembatan, ketek dianggap sebagai urat nadi. Kita
mau ke Rumah Sakit dan belanja untuk kebutuhan kita. Kita mau belanja
itu ke Pasar Angso Duo karena di sana memang pusatnya. Jadi, memang
harus melalui ketek. Jadi, ibaratnya memang urat nadi.
Hal ini didukung pula oleh salah satu pemuda di Kelurahan Arab Melayu.
Dia mengatakan bahwa masyarakat seberang tidak bisa berpisah dari transportasi
sungai ketek. berikut pernyataannya yang didapat dari hasil wawancara:
Bagi orang-orang biaso, ketek tu lebih penting. masalahnyo orang siko ko
dak biso berpisah dengan ketek dan perahu. Kareno pertamo skala aek ado
di siko. Kalo ibaratnyo aek dalam tu, kalu kito dak punyo ketek, dak punyo
perahu, saro kito. Samo ibaratnyo kalo motor masih enak kan, dak do motor
biso jalan kaki. Kalu dak tek perahu, kito nak berenang dak mungkin
kan.45
Transliterasi:
Bagi orang-orang biasa, transportasi sungai ketek lebih penting.
Masalahnya orang di sini tidak bisa berpisah dengan ketek atau perahu.
Karena pertama skala air ada di sini. Ibaratnya, jika air sedang naik, kalau
kita tidak punya ketek dan perahu, maka kita akan sengsara. Sama ibaratnya
motor, kalo motor masih enak, tidak ada motor kita bisa jalan kaki. Kalau
tidak ada perahu, kita mau berenang tidak mungkin kan.
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa keberadaan
transportasi sungai ketek memang sangat penting, sehingga mereka menganggap
keberadaan ketek tersebut menjadi urat nadi sebagai roda perekonomian mereka.
Dengan ketek, masyarakat seberang bisa langsung sampai ke tempat tujuan dalam
waktu yang cepat dan singkat.

44

Hasil wawancara dengan Ibu Eha. Salah satu pedagang sayur di Kelurahan Arab Melayu.
Jumat, 9 Mei 2014 pukul 14.00 WIB s/d 14.10 WIB di Tokoh dagangannya.
45
Hasil Wawancara dengan Sagaf. Salah satu pemuda di Kelurahan Arab Melayu. Jumat,
9 Mei 2014 pukul 14.15 WIB s/d 14.35 WIB saat ditemui di kediamannya.

96

Hal ini tidak sebanding dengan pengguna transportasi darat yang melalui
jembatan, karena membutuhkan waktu perjalanan yang jauh dan cukup lama untuk
menuju Pasar Angso Duo. Penggunaan transportasi darat harus menuju jembatan
Aurduri terlebih dahulu, kemudian baru menuju Pasar Angso Duo.

2. Ketek sebagai Tradisi Masyarakat Lokal


Keberadaan transportasi sungai ketek sudah tidak asing lagi bagi
masyarakat kota Jambi khususnya masyarakat di Seberang Kota Jambi.
Penyeberangan melalui Sungai Batang Hari untuk tujuan ke Pasar sudah menjadi
kebiasaan atau tradisi yang sudah mendarah daging bagi masyarakat seberang.
Sehingga masyarakat seberang akan tetap selalu menggunakan ketek untuk
penyeberangan sungai ke Pasar. Penryataan ini sesuai dengan pernyataan yang
didapatkan dari hasil wawancara dengan seorang pemuda di Kelurahan Arab
Melayu, yaitu sebagai berikut:
Kayaknyo tu sudah tradisi, sudah mendarah daging. Kayaknyo tu
walaupun diobah lain, dio [masyarakat seberang] tetaplah mau naek ketek.
orang seberang ni dak mau repot-repot, apo lagi nak naek jembatan lagi,
bayar lagi.46
Transliterasi:
Sepertinya transportasi sungai ketek itu sudah tradisi dan mendarah
daging. Sepertinya ketek itu walaupun dirubah lain, masyarakat seberang
tetaplah mau naik ketek. Orang seberang itu tidak mau repot-repot. Apalagi
mau naik jembatan lagi dan bayar lagi.
Tradisi itu kian berlanjut dan masih dibudayakan oleh masyarakat seberang
hingga saat ini. Salah satu faktor yang menyebabkannya adalah kepraktisan yang
dimiliki oleh transportasi sungai ketek tersebut. Dengan kepraktisannya tersebut
46

Hasil Wawancara dengan Sagaf. Jumat, 9 Mei 2014 pukul 14.15 WIB s/d 14.35 WIB
saat ditemui di kediamannya.

97

masyarakat seberang lebih tertolong dalam melakukan penyeberangan sehingga


bisa sampai ke tempat tujuan dengan waktu yang cepat dan singkat. Hal ini dapat
dilihat dari pernyataan sebagai berikut,
Ketek tu fungsinyo besar. Fungsinyo gini, orang tu kayaknyo lebih
tertolong. Kareno dengan keadaan alam tadi kan. Kito ni biso mengganti
model sado, misalnyo angkot dengan taksi. Kan biso tu kan. Tapi kalu yang
itu tadi ketek tu diganti rasoe dak mungkin, kito nyebrang aek ni dak do
pilihan lain. Ketek tu diganti samo mobil dak mungkin. Pokoknyo satusatunyo dak do perahu, ketek. kalu untuk nyebrang aek. kalupun diganti
samo jembatan [maksudnya jembatan gantung], jembatan tu jugo Cuma
dikembangkan untuk pariwisata. Atau yang mau santai.
Transliterasi:
Ketek itu fungsinya besar. Fungsinya seperti ini, orang itu sepertinya lebih
tertolong karena faktor keadaan alam tadi. Kita bisa saja mengganti model
Sado atau angkot dengan taksi. Tapi, kalau ketek diganti dengan mobil
tidak mungkin. Pokoknya satu-satunya untuk nyeberang air, kalau tidak
menggunakan perahu, berarti menggunakan ketek. Kalaupun diganti dengan
jembatan gantung, jembatan itu hanya dikembangkan untuk pariwisata atau
yang mau santai-santai.

Begitu

pentingnya

transportasi

sungai

ketek

dalam

memudahkan

masyarakat seberang untuk melakukan penyeberangan Sungai Batang Hari,


sehingga mereka beranggapan bahwa transportasi sungai ketek itu adalah sebuah
tradisi yang sudah mendarah daging dan akan selalu menggunakannya sebagai
sarana penyeberangan sungai alternatif yang memiliki nilai praktis.

98

D. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN


1. Pembahasan Eksistensi Transportasi Sungai Ketek di Kota Jambi
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksistensi transportasi
sungai ketek di Kota Jambi. Aspek yang dilihat dari eksistensi transportasi sungai
ketek di Kota Jambi adalah bagaimana keberadaan transportasi sungai ketek di
Kota Jambi secara holistik berdasarkan persepsi dan organisasi pikiran dari
masyarakat setempat/pemilik budaya. Dalam hal ini pemilik budaya yang
dimaksud adalah kalangan tukang ketek dan penumpang ketek yang secara umum
tergolong sebagai masyarakat di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa eksistensi transportasi sungai ketek di
Kota Jambi saat ini berada pada tingkat keprihatinan karena sedang mengalami
kemunduran, yaitu kemunduran dalam segi penurunan jumlah transportasi sungai
ketek, sistem pelaksanaan (penempatan parkir/berlabuh ketek) yang tidak
proporsional dan kemunduran dalam mempertahankan nilai budaya masa lalu.
Kemunduran ini disebabkan karena keberadaan transportasi sungai ketek di Kota
Jambi kurang mendapatkan perhatian khusus,

baik perhatian dari masyarakat

setempat/pemilik budaya maupun pihak pemerintah daerah. Dengan kata lain, tidak
ada yang peduli dengan keberadaan transportasi sungai ketek di Kota Jambi.
Sejatinya, eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi hanya
dilakukan atas dasar kepentingan pribadi masyarakat setempat/pemilik budaya
(dalam hal ini tukang ketek) untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka
sehari-hari sebagai mata pencaharian. Sehingga, lambat laun keberadaan
transportasi sungai ketek di Kota Jambi akan hilang dengan sendirinya ketika

99

masyarakat setempat/pemilik budaya (tukang ketek) telah memiliki mata


pencaharian lain yang dianggap lebih menguntungkan. Hal ini telah dibuktikan
dengan berkurangnya jumlah transportasi sungai ketek secara keseluruhan di
Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi pada tahun 2014 ini.
Sebenarnya, permasalahannya itu bukan pada tukang ketek nya, tetapi pada
ketek nya sendiri sebagai produk kebudayaan masa lalu yang sudah mencapai usia
40 tahun. Ditakutkan nantinya terjadi disintegrasi pada transportasi sungai ketek.
Tukang ketek bisa saja mencari pekerjaan/usaha-usaha lain untuk memenuhi
kebutuhan hidup mereka. Namun ketek, jika hilang kemana kita akan mencarinya?
Sedangkan sekarang keberadaannya diketahui semakin berkurang.
Namun, kita selaku masyarakat Kota Jambi tetap harus berterima kasih
kepada masyarakat seberang khususnya yang berprofesi sebagai tukang ketek,
walaupun mereka memanfaatkan ketek sebagai mata pencaharian hidup mereka,
tanpa disadari mereka telah mempertahankan bahkan membudayakan ketek sebagai
sarana transportasi sungai alternatif di Kota Jambi.
Dan daripada itu, kita juga harus mengetahui bahwa eksistensi transportasi
sungai ketek di Kota Jambi telah menarik minat/perhatian masyarakat Seberang
Kota Jambi sebagai sarana alternatif penyeberangan sungai ke Pasar Kota Jambi,
karena dengan menggunakan ketek, masyarakat seberang bisa langsung sampai ke
tempat tujuan dengan waktu yang cepat. Hal ini lah yang membuat transportasi
sungai ketek tidak pernah sepi dari penumpang, sehingga eksistensi transportasi
sungai ketek yang berada pada tingkat keprihatinan sebagaimana yang telah
dijelaskan di atas dapat teratasi secara alami dengan banyaknya jumlah penumpang

100

ketek yang selalu setia menggunakan jasa tukang ketek untuk penyeberangan
Sungai Batang Hari.
Ketek merupakan transportasi sungai yang patut dipertahankan, karena
merupakan akumulasi dari budaya masa lalu dan masa modern saat ini. walaupun
ada unsur kemoderenannya sebagai perahu motor karena telah menggunakan
mesin,

tetapi

jangan

dilupakan

bahwa

ketek

juga

memiliki

unsur

ketradisionalannya yaitu pertama, ketek terbuat dari bahan kayu. Kedua, ketek
diolah dan dibentuk secara manual tradisional oleh manusia.

2. Pembahasan Fungsi Transportasi Sungai Ketek di Kota Jambi


Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi transportasi sungai
ketek di Kota Jambi. Aspek yang dilihat dari fungsi transportasi sungai ketek di
Kota Jambi ini adalah bagaimana fungsi transportasi sungai ketek di Kota Jambi
secara holistik berdasarkan persepsi dan organisasi pikiran dari masyarakat
setempat/pemilik budaya.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa fungsi transportasi sungai ketek di Kota
Jambi bukan hanya sebagai sarana angkutan sungai dan mata pencaharian hidup
masyarakat setempat/pemilik budaya (tukang ketek) yang berfungsi untuk
mengangkut penumpang/barang dalam penyeberangan Sungai Batanghari dari
Seberang Kota menuju Kota Jambi atau dari Kota menuju Seberang Kota Jambi.
Melainkan juga sebagai sarana lomba dalam rangka untuk menyemarakkan
kegiatan Lomba Perahu Tradisional pada peringatan HUT Nasional RI, Provinsi
Jambi dan Kota Jambi di Sungai Batanghari maupun sebagai sarana rekreasi bagi

101

masyarakat Kota Jambi yang ingin menikmati panorama Sungai Batanghari dengan
memancing atau pariwisata keliling sungai.
Transportasi sungai ketek dapat dikatakan sebagai jantungnya kehidupan
masyarakat Seberang Kota Jambi, karena selalu memberikan kemudahan dan
kelancaran terhadap aktivitas masyarakat Seberang Kota Jambi sehari-hari.
Masyarakat seberang akan mengalami masa penceklik, jika tanpa keberadaan
transportasi sungai ketek. Hal ini disebabkan karena

kehidupan masyarakat

seberang tidak terlepas dari keberadaan Pasar Kota Jambi (yang merupakan
destinasi utama sebagai pusat perbelanjaan umum Kota Jambi) dalam memenuhi
kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Sehingga kondisi ini menuntut mereka untuk
harus melakukan penyeberangan sungai agar bisa sampai ke tempat tujuan tersebut
untuk mencari berbagai kebutuhan hidup mereka. Salah satu sarana alternatif yang
digunakan masyarakat seberang dalam melakukan penyeberangan sungai adalah
dengan menggunakan transportasi sungai ketek yang ada di Kota Jambi.
Secara fungsi, ketek di Kota Jambi merupakan sarana transportasi sungai
yang interesan karena memiliki disjeksi dalam fungsi (fungsi rangkap). Hal ini lah
yang membuat eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi selama 40 tahun
masih bertahan bahkan semakin eksis, sehingga patut untuk dikembangkan dan
dilestarikan eksistensinya. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan bahwa
transportasi sungai ketek bisa dijadikan sebagai icon Kota Jambi.

102

3. Pembahasan Persepsi Masyarakat tentang Eksistensi Transportasi Sungai


Ketek di Kota Jambi
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat tentang
eksistensi transportasi sungai ketek di kota Jambi. Aspek yang dilihat adalah
bagaimana persepsi transportasi sungai ketek di kota Jambi secara holistik
berdasarkan persepsi dan organisasi pikiran dari masyarakat setempat/pemilik
budaya.
Berdasarkan hasil penelitian, persepsi masyarakat tentang eksistensi
transportasi sungai ketek sebagai sarana alternatif di Kota Jambi merupakan sarana
yang penting bagi masyarakat Seberang Kota Jambi. Karena keberadaan
transportasi sungai ketek tersebut dianggap sebagai urat nadi mereka yang tidak
bisa terlepas dari kehidupan mereka khususnya para pedagang sayur yang hendak
membeli kebutuhan dagangan sayurnya di Pasar Angso Duo.
Selain itu, transportasi sungai ketek juga dianggap oleh mereka sebagai
sebuah tradisi yang sudah mendarah daging, sehingga keberadaan transportasi
sungai ketek sulit untuk dihilangkan. Hal ini ditambah dengan faktor kepraktisan
yang dimiliki oleh ketek tersebut, yang bisa memberikan kemudahan dalam
melakukan penyeberangan Sungai Batang Hari. Di samping itu, masyarakat
seberang juga lebih tertolong dalam melakukan penyeberangan sungai karena bisa
sampai ke tempat tujuan dengan waktu yang cepat dan singkat.
Dari hasil penelitian tersebut di atas, secara tegas menyiratkan bahwa
gencatnya modernisasi yang terjadi di Kota Jambi ternyata tidak sedikitpun
mengubah persepsi masyarakat lokal terhadap eksistensi transportasi sungai ketek
dewasa ini. Hal ini disebabkan karena kehadiran transportasi sungai ketek memang
103

benar-benar memberikan solusi terhadap kehidupan masyarakat lokal terutama


dalam hal penyeberangan sungai Batang Hari.
Bahkan, solusi tersebut telah datang jauh sebelum dibangunnya jembatanjembatan yang ada di Kota jambi. Saat itu lah, transportasi sungai ketek hadir dan
berani menawarkan solusi dalam realitasnya, sehingga solusi tersebut benar-benar
dimanfaatkan dan dibudayakan oleh masyarakat lokal dalam keseharian mereka.
Salah satu bukti yang bisa dijadikan referensi terkait dengan hal tersebut adalah
bahwa eksistensi transportasi sungai ketek telah berkembang cukup lama dan hadir
di dalam kehidupan masyarakat lokal selama 40 tahun lamanya. Usia yang cukup
tua sebagai transportasi sungai yang memiliki keunikan tersendiri, yaitu sebagai
transportasi sungai yang modern-tradisional.
Kehadiran transportasi sungai ketek di Kota Jambi layaknya seperti Bapak
dengan

anak-anaknya.

Transportasi

sungai

ketek

telah

membuktikan

kedewasaannya dalam memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya (maksudnya


masyarakat seberang) sehari-hari. Dia telah bertanggung jawab dengan tulus dan
penuh kerja keras untuk menghidupkan dan mensejahterakan anak-anaknya demi
menggapai cita-cita mereka di masa depan. Sehingga, anak-anaknya tidak akan
pernah mau berpisah dari Bapaknya, karena bagi mereka Bapaknya adalah
pahlawan mereka yang selalu senantiasa mengerti dan setia untuk menjadi sarana
dalam konteks pemenuhan kebutuhan hidup mereka dalam hal perekonomian.

104

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil penelitian dalam penelitian ini tentang Eksistensi
Transportasi Sungai Ketek sebagai Sarana Alternatif di Kota Jambi, maka
peneliti mencoba menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Eksistensi transportasi sungai ketek di kota Jambi secara umum saat ini berada
pada tingkat keprihatinan. Saat ini transportasi sungai ketek mengalami
penurunan dari segi jumlah, dimana sebelumnya pada tahun 2013 berjumlah
150 berkurang menjadi 139 buah di tahun 2014. Selain itu, tidak adanya sistem
pelaksanaan yang diterapkan terkait dengan penempatan parkir/berlabuhnya
ketek sehingga keberadaan ketek tidak dapat terorganisir dengan baik. Banyak
ditemukan ketek yang berlabuh dimana-mana. Saat ini, fungsi pelabuhan yang
ada di Seberang Kota Jambi telah mengalami disfungsi, yang dulu tertanam
nilai budaya di dalamnya dan saat ini hanya digunakan sebagai batas untuk
berlabuh dan mangkalnya ketek.
2. Eksistensi transportasi sungai ketek di kota Jambi secara fungsi merupakan
sarana alternatif yang interesan karena memiliki disjeksi dalam fungsi (fungsi
rangkap). Selain sebagai sarana penyeberangan sungai, transportasi sungai
ketek juga merupakan sarana Mata Pencaharian hidup, sarana lomba dan
rekreasi.
3. Eksistensi transportasi sungai ketek di kota Jambi secara persepsi masyarakat
setempat/pemilik budaya bahwa transportasi sungai ketek adalah sebagai urat
105

nadi yang tidak bisa terlepas dari kehidupan mereka khususnya para pedagang
sayur yang hendak membeli kebutuhan dagangan sayurnya di Pasar Angso Duo
dan sebagai sebuah tradisi yang sudah mendarah daging, sehingga keberadaan
transportasi sungai ketek sulit untuk dihilangkan.

B. Rekomendasi
Dari permasalahan yang dikemukakan di atas, maka ada beberapa
rekomendasi yang disarankan antara lain:
1. Kepada pihak pemerintah Provinsi maupun kota Jambi untuk memberikan
perhatian khusus terhadap perkembangan transportasi sungai ketek kedepannya
dengan menjadikan ketek sebagai icon kota Jambi atau sebagai transportasi
wisata di DAS Batang Hari.
2. Kepada masyarakat kota Jambi khususnya masyarakat Seberang Kota Jambi
agar selalu membudayakan transportasi sungai ketek sebagai sarana
penyeberangan sungai di DAS Batang Hari dan menjadikan keberadaan
transportasi sungai ketek sebagai simbol mereka dengan cara memberitahu
kepada masyarakat umum secara luas.

C. Kata Penutup
Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah
memberikan limpahan rahmat dan karunia-Nya serta hidayah-Nya berupa
kesehatan dan kekuatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini. Dalam penulisan skripsi ini tentunya banyak sekali terdapat kekurangan

106

dan kesalahan serta jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan kerendahan
hati penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang sifatnya membangun dari
semua pihak demi kesempurnaan skripsi.
Akhirnya, tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dan berpartisipasi dalam menyelesaikan skripsi ini.
semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk dan rahmat-Nya kepada kita
semua. Amin ya rabbalalamin

Jambi, 12 Mei 2014


Penulis,

Muhammad Abdul Hanif


NIM. AS. 101055

107

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran dan Terjemahnya. 1989. Departemen Agama Republik Indonesia.


Jakarta: Swakarya.
Abdul Kadir, Muhammad. 1994. Hukum Pengangkatan, Darat, Laut dan Udara.
Bandung: Citra Aditya Bhakti.
Bondan Seno Prasetyadi, dkk. 2005. Transportasi Sungai dan Masyarakat Melayu
Jambi. ISSN:18582559. Depok: Jurnal Universitas Gunadarma.
Eka Budi Tjahjono, Martono. 2011. Transportasi di Perairan Berdasarkan
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008. Jakarta: Rajawali Pers.
Endraswara, Suwardi. 2006. Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan:
Ideologi, Epistimologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Gibson J.L., J.M Ivancevich dan J. H. Donnely. 1997. Organisasi Perilaku
Struktur Proses. Jakarta: Erlangga.
Kamaludin, Adib. 1987. Ekonomi Transportasi (Cetakan Pertama). Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Koentjaraningrat. 1996. Pengantar Antropologi 1. Jakarta: Rineka Cipta.
Koentjaraningrat. 2009. Sejarah Teori Antropologi 1. Jakarta: UI Press.
Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah Edisi Kedua. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Lisbijanto, H. 2013. Kapal Pinisi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Lauer, Robert H. 1977. Perspektif tentang Perubahan Sosial. Jakarta: Bina
Aksara.

Maryono, Agus dan Danang Parikesit. 2003. Transportasi Sungai Mulai


Ditinggalkan. Kompas, 01 Mei.
Miro, Fidel. 2005. Perencanaan Transportasi. Jakarta: Erlangga.
Moleong, Lexy J. 2013. Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Mulyana, A. Taufik. 2005. Transportasi Air. Banjarmasin: Fakultas Teknik
Universitas Lambung Mangkurat.
Munawar, Ahmad. 2005. Dasar-dasar Teknik Transportasi. Yogyakarta: Beta
Offset.
Nasution, M. Nur. 2004. Manajemen Transportasi (Edisi Kedua). Jakarta: Ghalia
Indonesia.
P. Spradley, James. 2006. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Raga Maran, Rafael. 2007. Manusia & Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu
Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sari, Rizki Permata. 2008. Tesis: Pergeseran Pergerakan Angkutan Sungai di
Sungai Martapura Kota Banjarmasin. Semarang: Undip.
Salim, H.A. Abbas. 2002. Manajemen Transportasi. Jakarta: Raja Grafindo.
Sartini. Agustus 2004. Menggali Kearifan Lokal. Jurnal Filsafat, Jilid 37,
Nomor 2.
Sumaatmadja, Nursid. 2010. Manusia dalam Konteks Sosial, Budaya dan
Lingkungan Hidup. Bandung: Alfabeta.
Setiadi, Elly M, dkk. 2012. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar: Edisi Kedua. Jakarta:
Kencana.

Tim Penyusun Buku Pedoman Skripsi. 2011. Pedoman Penulisan Skripsi


Fakultas Adab-Sastra dan Kebudayaan Islam. Jambi: IAIN Sulthan Thaha
Saifuddin Jambi.
Tim Penyusun. 2011. Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi. Jakarta:
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.
Yosephine H. K, Djarot Sadharto W. 2013. Kajian Penggunaan Moda
Transportasi Sungai Di Kota Jambi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

INSTRUMENT PENGUMPULAN DATA (IPD)

NO
1

TEKNIK

KAT

Observasi/
Pengamatan

Eksistensi

Bagaimana Eksistensi
Transportasi Sungai Ketek di
Kota Jambi?

Fungsi

Bagaimana Fungsi Transportasi


Sungai Ketek di Kota Jambi?

Eksistensi

1. Transportasi Sungai
Sebelum Munculnya ketek:
a. Apa Transportasi sungai yang
digunakan masyarakat
seberang sebelum munculnya
ketek?
b. Kapan dia mulai berkembang?
c. Bagaimana fungsinya terhadap
masyarakat?
d. Masih adakah yang
menggunakannya sekarang?
e. Adakah Transportasi lain yang
dimanfaatkan ketika itu?
f. Seberapa besar peranannya
bagi masyarakat?
g. dll
2. Asal-usul munculnya
Transportasi Sungai ketek:
a. Bagaimana asal mulanya
ketek?
b. Kenapa dinamakan ketek?
c. Kapan ketek mulai
dikembangkan?
d. Siapa penggagasnya?
e. Dari mana asalnya?
f. dll
3. Proses Pembuatan
Transportasi Sungai ketek:
a. Bagaimana langkah-langkah
dalam proses pembuatan
ketek?
b. Bahan dan jenis apa yang
digunakan dalam
pembuatannya?
c. Berapa lama proses
pembuatannya?

Wawancara

SUB PERTANYAAN

SASARAN

KET

Di Lokasi
Penelitian
Kecamatan
Pelayangan
Seberang
Kota Jambi
Di Lokasi
Penelitian
Kecamatan
Pelayangan
Seberang
Kota Jambi
Tukang
Ketek

Pengamatan
Berperanserta
(Observation
Participant)

Tukang
Ketek

Wawancara
Mendalam
(Indept
Interview)

Tukang
Ketek

Wawancara
Mendalam
(Indept
Interview)

Pengamatan
Berperanserta
(Observation
Participant)

Wawancara
Mendalam
(Indept
Interview)

d. Adakah adat/tradisi khusus


yang dilakukan pada saat
proses pembuatan ataupun
setelahnya?
e. Bagaimana cara kerja untuk
membuatnya? Secara pribadi
atau gotong royong?
f. dll
4. Perkembangan Transportasi
Sungai ketek pada masa lalu:
a. Bagaimana awal
perkembangannya?
b. Pernakah terjadi sebuah
kejadian aneh ketika itu?
c. Adakah faktor-faktor
penghambat dalam
perkembangannya ketika itu?
d. Adakah dapat perhatian dari
pemerintah dalam
perkembangannya ketika itu?
e. Jika ada, apa kebijakan
pemerintah?
f. dll
5. Bagaimana Kondisi
Transportasi Sungai ketek pada
masa sekarang?

Tukang
Ketek

Wawancara
Mendalam
(Indept
Interview)

Tukang
Ketek dan
Penumpang
Ketek

Wawancara
Mendalam
(Indept
Interview)
dan
Pengamatan
Berperanserta
(Observation
Participant)
Wawancara
Mendalam
(Indept
Interview)
dan
Pengamatan
Berperanserta
(Observation
Participant)
Wawancara
Mendalam
(Indept
Interview)
dan
Pengamatan
Berperanserta
(Observation
Participant)
Wawancara
Mendalam
(Indept
Interview)

6. Bagaimana Sistem Pelayanan


Transportasi Sungai ketek?

Penumpang
Ketek

Fungsi

Bagaimana Fungsi Transportasi


Sungai Ketek di Kota Jambi?

Tukang
Ketek dan
Penumpang
Ketek

Persepsi

Bagaimana Persepsi Masyarakat


tentang Eksistensi Transportasi
Sungai Ketek di Kota Jambi?

Tukang
Ketek dan
Penumpang
Ketek

Dokumentasi

Lokasi
Penelitian

1. Data tentang Gambaran


Umum Kota Jambi
2. Data tentang Gambaran
Umum Kecamatan Pelayangan
Seberang Kota Jambi:
a. Data tentang Monografi
Kecamatan Pelayangan
Seberang Kota Jambi
b. Data tentang Pemerintahan di
Kecamatan Pelayangan
Seberang Kota Jambi
c. Data tentang Penduduk di
Kecamatan Pelayangan
Seberang Kota Jambi
d. Data tentang Kehidupan
Sosial, Pendidikan dan
Keagamaan di Kecamatan
Pelayangan Seberang Kota
Jambi
e. Data tentang Perumahan dan
Perhubungan di Kecamatan
Pelayangan Kota Jambi

Kantor
Kecamatan
Pelayangan
Seberang
Kota Jambi
dan Kantor
BPS Kota
Jambi

Dokumentasi

Keterangan:
KAT : Kategori
KET : Keterangan
Catatan:
Bentuk-bentuk pertanyaan yang akan ditanyakan berkaitan dengan pengalaman,
perasaan, pengetahuan, pendapat/nilai dan latar belakang informan.

DAFTAR INFORMAN

NO

NAMA

STATUS

KET

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Abdul Kadir
Abdurrahman
Bujang
Nurdin Khalidi
Jamil
M. Idris
Ilyas
Ibu Eha
Ibu Ana
Sagaf
Idris
Anang
Amit Jali
Afit
Adul
Kagenra Aji
Suripto

Tukang Ketek
Tukang Ketek
Tukang Ketek
Tukang Ketek
Tukang Ketek
Tukang Ketek
Tukang Ketek
Pedagang Sayur
Pedagang Sayur
Pemuda
Tukang Ketek
Tukang Ketek
Tukang Parkir
Tukang Ketek
Penumpang Ketek
Penumpang Ketek
Penumpang Ketek

Informan Utama
Informan Utama
Informan Utama
Informan Utama
Informan Utama
Informan Utama
Informan Utama
Informan Utama
Informan Utama
Informan Utama
Informan Pendukung
Informan Pendukung
Informan Pendukung
Informan Pendukung
Informan Pendukung
Informan Pendukung
Informan Pendukung

DAFTAR NAMA-NAMA TUKANG KETEK


DI KECAMATAN PELAYANGAN
SEBERANG KOTA JAMBI

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

NAMA
Akmal
Uzuwaini
Anang
Suti Jalil
Muhalli
Muhammad
Kadir
Ramli
Jamil
Bujang
M. Yusuf
Idrus
Bobi
Ilyas/Husen
Bakar
Ishak
Fauzi
Rozikai
Junaidi
Taufik
Musa
Kardi
Ishak
Yahya
Asmuni
Afit
Hasan
Mustafa
Mulyadi
Marzuki
Yadi
Amit
Udin
Utut
Man
Iwan
Bujang
Wak Lung
Musa
Wak Kasih

PELABUHAN

ALAMAT

Kel. Tengah
Kel. Tengah
Kel. Tengah
Kel. Tengah
Kel. Tengah
Kel. Tengah
Kel. Tengah
Kel. Tengah
Kel. Tengah
Kel. Tengah
Kel. Tengah
Kel. Jelmu
Kel. Jelmu
Kel. Jelmu
Kel. Jelmu
Kel. Jelmu
Kel. Jelmu
Kel. Jelmu
Kel. Jelmu
Kel. Jelmu
Kel. Jelmu
Kel. Jelmu
Sanggar Batik
Sanggar Batik
Sanggar Batik
Sanggar Batik
Sanggar Batik
Sanggar Batik
Sanggar Batik
Sanggar Batik
Sanggar Batik
Kel. Arab Melayu
Kel. Arab Melayu
Kel. Arab Melayu
Kel. Arab Melayu
Kel. Arab Melayu
Kel. Arab Melayu
Kel. Arab Melayu
Kel. Arab Melayu
Kel. Arab Melayu

Kelurahan Tengah
Kelurahan Tengah
Kelurahan Tengah
Kelurahan Tengah
Kelurahan Tengah
Kelurahan Tengah
Kelurahan Tengah
Kelurahan Tengah
Kelurahan Tengah
Kelurahan Tengah
Kelurahan Tengah
Kelurahan Jelmu
Kelurahan Jelmu
Kelurahan Jelmu
Kelurahan Jelmu
Kelurahan Jelmu
Kelurahan Jelmu
Kelurahan Jelmu
Kelurahan Jelmu
Kelurahan Jelmu
Kelurahan Jelmu
Kelurahan Jelmu
Kelurahan Mudung Laut
Kelurahan Mudung Laut
Kelurahan Mudung Laut
Kelurahan Mudung Laut
Kelurahan Mudung Laut
Kelurahan Mudung Laut
Kelurahan Mudung Laut
Kelurahan Mudung Laut
Kelurahan Mudung Laut
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu

41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84

Muk
Man Debot
Faisal
Zen
Mus
Madi
Hamid Roni
Hanafi
Nobon
Bujang
Teguh
Juki
Nurdin Khalidi
Kardi
Sakdiman
Seri
Wak Yan
Suhaimi
Yahya
Gani
Udin
Udit
Pen A
Hifzi
Aa
Untung
Aman
Man GL
Yani
Senin
Najmi
Sayuti
Hasan Joker
Ii
Yadi
Toni
Anton
Jaki
Iis
Saparudin
Aan
Candra
Cakil
Pai

Kel. Arab Melayu


Kel. Arab Melayu
Kel. Arab Melayu
Dermaga Baru
Dermaga Baru
Dermaga Baru
Dermaga Baru
Dermaga Baru
Dermaga Baru
Dermaga Baru
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan
Pelayangan

Kelurahan Arab Melayu


Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Ulu Gedong
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu

85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101

Jumani
Fahmi
Bahrul
Sofian
Fauzi
Khairul
Idrus
Jon
Baharudin
Syafaat
Arif
A. Yani
Hamzah
Harun
Ilyas
A. Majid
M. Yunus

Pelayangan
Pelayangan
Kel. Arab Melayu
Kel. Arab Melayu
Kel. Arab Melayu
Kel. Arab Melayu
Kel. Arab Melayu
Kel. Arab Melayu
Kel. Arab Melayu
-

Kelurahan Arab Melayu


Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Arab Melayu
Kelurahan Tanjung Johor
Kelurahan Tanjung Johor
Kelurahan Tanjung Johor
Kelurahan Tanjung Johor
Kelurahan Tanjung Johor
Kelurahan Tanjung Johor
Kelurahan Tanjung Johor
Kelurahan Tanjung Johor

KARTU KONSULTASI SKRIPSI

Nama
NIM
Jurusan
Fakultas
Tahun Akademik
Judul Skripsi
Pembimbing I

No

:
:
:
:
:
:

Muhammad Abdul Hanif


AS.101055
Sejarah Kebudayaan Islam
Adab dan Humaniora
2013/2014
Eksistensi Transportasi Sungai (Ketek) sebagai Sarana
Alternatif di Kota Jambi
: Drs. Sayuti, M. Pd. I

Hari/Tanggal

Paraf
Pembimbing I

Saran Perbaikan

13 Januari 2014

Bimbingan Proposal Skripsi


untuk diseminarkan

24 Januari 2014

Perbaikan Bab I dan Bab II untuk


izin riset di lapangan

14 April 2014

Perbaikan Bab IV Hasil


Penelitian dan Pembahasan

25 April

Perbaikan secara keseluruhan dari


Bab I sampai pada Bab IV dan

8 Mei 2014

ACC Skripsi

Jambi, 12 Mei 2014


An. Dekan
Pembantu Dekan I

Samsul Huda, M. Ag
NIP. 19700703 200212 1 002

KARTU KONSULTASI SKRIPSI

Nama
NIM
Jurusan
Fakultas
Tahun Akademik
Judul Skripsi
Pembimbing II

No

:
:
:
:
:
:

Muhammad Abdul Hanif


AS.101055
Sejarah Kebudayaan Islam
Adab dan Humaniora
2013/2014
Eksistensi Transportasi Sungai (Ketek) sebagai Sarana
Alternatif di Kota Jambi
: Mailinar, S.Sos, M.Ud

Hari/Tanggal

13 Januari 2014

24 Januari 2014

5 Maret 2014

14 Maret 2014

14 April 2014

25 April 2014

9 Mei 2014

14 Mei 2014

Paraf
Pembimbing II

Saran Perbaikan
Bimbingan Proposal Skripsi
untuk diseminarkan
Perbaikan Bab I dan Bab II untuk
izin riset di lapangan
Perbaikan Kerangka Teori
Perbaikan Bab IV Hasil
Penelitian dan Pembahasan
Konsultasi Bab I, Bab II dan Bab
IV
Perbaikan Bab IV Hasil
Penelitian dan Pembahasan
Perbaikan secara keseluruhan dari
Bab I sampai pada Bab IV
ACC Skripsi

Jambi, 12 Mei 2014


An. Dekan
Pembantu Dekan I

Samsul Huda, M. Ag
NIP. 19700703 200212 1 002

CURRICULUM VITAE

Nama
Tempat/Tanggal Lahir
NIM
Fakultas
Jurusan
Jenis Kelamin
Status
Nama Ayah
Nama Ibu
Anak Ke
Alamat Asal
Alamat Sekarang

Tahun 1998 2004


Tahun 2004 2007
Tahun 2007 2010
Tahun 2010 2014

Tahun 2008 2009


Tahun 2009 2010
Tahun 2011 2012

Tahun 2012 2013

Tahun 2013 2014

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Muhammad Abdul Hanif


Jambi, 25 April 1993
AS. 101055
Adab dan Humaniora
Sejarah Kebudayaan Islam
Laki-Laki
Belum Menikah
Zainuddin
Zuhriyah
2 dari 4 Bersaudara
Jln. K.H. M. Thoyib RT.09 RW.04 Kec. Danau
Teluk Kel. Olak Kemang Seberang Kota Jambi
: Asrama Mahad Al-Jamiah
IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

JENJANG PENDIDIKAN
: SDN 55 Kel. Ulu Gedong Seberang Kota Jambi
: MTSN OK Seberang Kota Jambi
: MAN OK Seberang Kota Jambi
: Pergruan Tinggi Agama Islam IAIN Sulthan Thaha
Saifuddin Jambi

PENGALAMAN ORGANISASI
: Ketua Drum Band Gita Bahana Al-Ikhlas Beramal
MAN OK Seberang Kota Jambi
: Ketua Paskibraka MAN OK Seberang Kota Jambi
: Sekretaris Bidang Talim (Pengajaran) Lembaga
Pengurus Asrama Mahad Al-Jamiah (La_PASMA)
IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
: Sekretaris Umum Lembaga Pengurus Asrama
Mahad Al-Jamiah (La_PASMA)
IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
: Dewan
Pembimbing
(Demisioner)
Lembaga
Pengurus Asrama Mahad Al-Jamiah (La_PASMA)
IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

GAMBAR TRANSPORTASI SUNGAI KETEK


DI KOTA JAMBI

PROFIL 1

Nama

: Transportasi Sungai Ketek Jenis I (Mesin Robin)

Fungsi

: Sarana Penyeberangan Sungai Batanghari dan


Sarana Lomba Perahu Tradisional

Tujuan

: Pasar Angso Duo dan Ramayana/WTC

Pangkalan

: Di Kelurahan Tengah, Jelmu, Mudung Laut dan


Kelurahan Arab Melayu

PROFIL 2

Nama

: Transportasi Sungai Ketek Jenis II (Mesin TS)

Fungsi

: Sarana Penyeberangan Sungai Batanghari,


Sarana Lomba Perahu Tradisional dan Sarana
Rekreasi (Memancing dan Jalan-jalan)

Tujuan

: Pelabuhan Ancol/Tanggo Rajo

Pangkalan

: Di Kelurahan Arab Melayu

PROFIL 3

Nama

: Transportasi Sungai Ketek III (Mesin Dompeng)

Fungsi

: Sarana Penyeberangan Sungai Batanghari,


Sarana Lomba Perahu Tradisional dan
Sarana Rekreasi (Memancing dan Jalan-jalan)

Tujuan

: Pelabuhan Ancol/Tanggo Rajo dan


Pelabuhan Ramayana/WTC

Pangkalan

: Di Kelurahan Arab Melayu dan Tanjung Johor

GAMBAR PELABUHAN/PANGKALAN KETEK


DI KECAMATAN PELAYANGAN DAN KECAMATAN PASAR
KOTA JAMBI

PROFIL 1

Nama

: Pelabuhan Sanggar Batik

Fungsi

: Prasarana

Transportasi

Kelurahan Mudung Laut

Sungai

Ketek

di

PROFIL 2

Nama

: Pelabuhan Dermaga Baru

Fungsi

: Prasarana Transportasi Sungai Ketek di Kelurahan


Arab Melayu

PROFIL 3

Nama

: Pangkalan Ketek Wisata Ancol-Pelayangan


(Pelabuhan Tanggo Rajo)

Fungsi

: Prasarana Transportasi Sungai Ketek di Ancol


Kecamatan Pasar Kota Jambi

PROFIL 4

Nama

: Pelabuhan Sungai Asam Pasar Angso Duo

Fungsi

: Prasarana

Transportasi

Sungai

Kecamatan Pasar Kota Jambi

Ketek

di

PROFIL 5

Nama

: Pelabuhan Kelurahan Tengah

Fungsi

: Prasarana Transportasi Sungai Ketek di Kelurahan


Tengah

PROFIL 6

Nama

: Pelabuhan Kelurahan Jelmu

Fungsi

: Prasarana Transportasi Sungai Ketek di Kelurahan


Jelmu

PROFIL 7

Nama

: Pelabuhan Kelurahan Mudung Laut

Fungsi

: Prasarana Transportasi Sungai Ketek di Kelurahan


Mudung Laut

PROFIL 8

Nama

: PelabuhanKelurahan Mudung Laut

Fungsi

: PrasaranaTransportasi Sungai Ketek di Kelurahan


Mudung Laut

Nama
Fungsi

: PelabuhanPelayangan
: PrasaranaTransportasi Sungai Ketek di Kelurahan
Arab Melayu

PROFIL 9

Nama
Fungsi

: PelabuhanKelurahan Arab Melayu


: PrasaranaTransportasi Sungai Ketek di Kelurahan
Arab Melayu

GAMBAR PENUMPANG KETEK

Penumpang Ketek di Pelabuhan Sungai Asam Pasar Angso Duo

Penumpang Ketek di Pelabuhan Ramayana/WTC

GAMBAR ETNOGRAFER DAN INFORMAN

Wawancara dengan Bapak Abdurrahman di Kelurahan Arab Melayu

Wawancara dengan Bapak Abdul Kadir diKelurahan Tengah

Wawancara dengan Bapak Jamil di Kelurahan Tengah

Wawancara dengan Bapak Nurdin Khalidi di Kelurahan Arab Melayu

# THE END #