Anda di halaman 1dari 16

TUGAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

ETIKA, MORAL DAN AKHLAK


DALAM ISLAM
Dosen Pembimbing: Nur Buana, S.Ag. MPd.I

Disusun oleh:
KELOMPOK 7

M. Fadhil Oktavian

04121001037

Ekki Kurnia Genio

04121001040

Eva Fitria Zumna

04121001048

Najmi Ilal Hayati

04121001055

Gabby Alvionita

04121001062

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karuniaNya kepada kita dan tak lupa pula kita mengirim salam dan salawat kepada baginda nabi besar
Muhammad SAW yang telah membawakan kita suatu ajaran yang benar yaitu agama Islam,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudulAkhlak, Moral dan Etika dalam
Islam ini dengan lancar.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang kami peroleh dari
berbagai sumber yang berkaitan dengan agama Islam serta infomasi dari media massa yang
berhubungan dengan agama Islam, tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada pengajar mata
kuliah Pendidikan Agama Islam atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini. Juga
kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah mendukung sehingga dapat diselesaikannya makalah
ini.
Kami harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua,
dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai akhlak, moral dan etika dalam Islam,
khususnya bagi penulis. Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Palembang, 30 Oktober 2014

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I: PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 4
A. Latar Belakang ............................................................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah .......................................................................................................................... 4
C. Tujuan ............................................................................................................................................ 4
BAB II: PEMBAHASAN ............................................................................................................................. 5
A. Pengertian Etika, Moral dan Akhlak ............................................................................................ 5
B. Karakteristik Etika dalam Islam ................................................................................................... 6
C. Hubungan Tasawuf dengan Akhlak.............................................................................................. 8
D. Aktualisasi Akhlak dalam Kehidupan Bermasyarakat ............................................................... 10
BAB III: PENUTUP ................................................................................................................................... 15
A. Kesimpulan ................................................................................................................................ 15
B. Saran .......................................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di era global yang semakin maju ini perilaku seorang muslim semakin beraneka ragam.
Manusia cenderung mengikuti pola hidup yang mewah dan bergaya, mereka bahkan lupa
dengan adanya etika, moral dan akhlak yang membatasi perilaku mereka. Di zaman sekarang
ini akidah-akidah islam seperti itu tidak terlalu dihiraukan dan dijadikan pedoman dalam
hidup. Karena pada kenyataannya manusia sekarang kurang pengetahuan tentang etika,
moral, dan akhlak.
Selama ini pelajaran etika, moral, dan akhlak sudah diperkenalkan sejak kita berada di
sekolah dasar, yaitu pada pelajaran agama islam dan kewarganegaraan. Namun ternyata
pelajaran etika, moral dan akhlak itu hanya dibiarkan saja tanpa di aplikasikan ke dalam
perilaku kehidupan sehari-hari, sehingga pelajaran yang telah disampaikan menjadi sia-sia.
Sebagai generasi penerus Indonesia, sangatlah tidak terpuji jika kita para generasi penerus
tidak memiliki etika, moral dan akhlak. Oleh karena itu penulis menyusun makalah ini agar
menjadi acuan dalam perbaikan etika, moral, dan akhlak masyarakat.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari etika, moral, dan akhlak?
2. Bagaimanakah karakteristik etika dalam islam?
3. Apakah hubungan tasawuf dengan akhlak?
4. Bagaimanakah aktualisasi akhlak dalam kehidupan bermasyarakat?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian etika, moral, dan akhlak.
2. Untuk mengetahui bagaimanakah karakteristik etika dalam islam.
3. Untuk mengetahui hubungan tasawuf dengan akhlak.
4. Untuk mengetahui aktualisasi akhlak dalam kehidupan bermasyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Etika, Moral dan Akhlak


Dari segi etimologi (ilmu asal usul kata), etika berasal dari bahasa Yunani, ethos yang
berarti watak kesusilaan atau adat. Dalam kamus umum bahasa Indonesia, etika diartikan
ilmu pengetahuan tentang azaz-azaz akhlak (moral). Dari pengertian kebahsaan ini terlihat
bahwa etika berhubungan dengan upaya menentukan tingkah laku manusia. Adapun arti
etika dari segi istilah, telah dikemukakan para ahli dengan ungkapan yang berbeda-beda
sesuai dengan sudut pandangnya. Menurut ahmad amin mengartikan etika adalah ilmu yang
menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh
manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan
menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat.
Arti moral dari segi bahasa berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak dari kata mos
yang berarti adapt kebiasaan. Di dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatan bahwa moral
adalah pennetuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan.Selanjutnya moral dalam arti
istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat,
perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah,
baik atau buruk. Berdasarkan kutipan tersebut diatas, dapat dipahami bahwa moral adalah
istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktifitas manusia dengan nilai
(ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah. Jika pengertian etika dan moral tersebut
dihubungkan satu dengan lainnya, kita dapat mengetakan bahwa antara etika dan moral
memiki objek yang sama, yaitu sama-sama membahas tentang perbuatan manusia
selanjutnya ditentukan posisinya apakah baik atau buruk.
Ahlak ialah hal ihwan yang melekat pada jiwa (Sanubari). Dari situ timbul perbuatanperbuatan secara mudah tanpa dipikir panjang dan diteliti terlebih dahulu (Spontanitas).
Apabila hal ihwal atau tingkah laku itu menimbulkan perbuatan-perbuatan baik dan terpuji
menurut pikiran dan syariah, maka tingkah laku itu disebut ahklak yang baik. Apabila
menimbulkan perbuatan-perbuatan yang buruk, maka tingkah laku disebut ahklak yang
buruk. Ahklak terpuji dan baik tidak akan terbentuk begitu saja, landasan dalam islam
adalah al-quran dan al-hadits, yakni kitab Allah dan sunnah rasullnya. Dari kedua landasan
5

inilah dijelaskan kreteria demi kreteria antara kebajikan dan kejahatan, keutamaan dan
keburukan, terpuji dan tercelah. Kedua Landasan itupula yang dapat dijadikan cermin dan
ukuran akhlak muslim. Ukuran itu ialah iman dan takwa semakin tinggi keimanan dan
ketakwaan semakin tinggi keimanan dan ketakwaan seseorang, akan seakin baik pula
ahlaknya, namun sebaliknya, semakin rendah nilai keimanan dan ketakwaan seseorang maka
akan semakin rendah pula kualitas ahlaknya.

B. Karakteristik Etika dalam Islam


Etika dalam Islam memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.

Etika Islam mengajarkan dan menuntun manusia kepada tingkah laku yang baik
dan menjauhkan diri dari tingkah laku yang buruk.

2.

Etika Islam menetapkan bahwa yang menjadi sumber moral, ukuran baik dan
buruknya perbuatan seseorang didasarkan kepada al-Quran dan al-Hadits yang
shohih.

3.

Etika Islam bersifat universal dan komprehensif, dapat diterima dan dijadikan
pedoman oleh seluruh umat manusia kapanpun dan dimanapun mereka berada.

4.

Etika Islam mengatur dan mengarahkan fitrah manusia kejenjang akhlak yang luhur
dan mulia serta meluruskan perbuatan manusia sebagai upaya memanusiakan
manusia.

Allah telah berkehendak bahwa akhlak dalam Islam memiliki karakteristik yang berbeda
dan unik (istimewa). Yusuf Al-Qardhawi mengajukan tujuan karakteristik etika
(moral/akhlak) Islam.
1.

Sebuah moral yang beralasan (argumentatif) dan dapat dipahami.


Islam selalu bersandar pada penilaian yang logis dan alasan (argumentatif)
yang dapat diterima oleh akal yang lurus dan naluri yang sehat, yaitu dengan
menjelaskan maslahat (kebaikan) dibalik apa yang diperintahkan-Nya dan
kerusakan dari terjadinya apa yang dilarang-Nya (Q.S Al-Ankabut;45, Q.S AlJumuah;9)

2.

Moral Universal
Moral dalam Islam berdasarkan karakteristik manusiawi yang universal, yaitu
larangan bagi suatu ras manusia berlaku juga bagi ras yang lain, bahkan umat Islam
6

dan umat-umat yang lain adalah sama dihadapan moral Islam yang universal.
Dalam surat al-Maidah ayat 8 menyebutkan Dan janganlah sekali-kali
kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.
Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.
Dengan demikian etika (moral/akhlak) Islam adalah bebas dari segala
tendensi (kecenderungan) rasisme kebangsaan, kesukuan maupun golongan.
3. Kesesuaian dengan fitrah
Islam datang dengan membawa sesuatu yang sesuai dengan fitrah dan tabiat
manusia

serta

penyempurnaannya.

Islam

mengakui

eksistensi

manusia

sebagaimana yang telah diciptakan Allah dengan segala dorongan kejiwaan,


kecenderungan fitrah serta segala yang telah digariskan-Nya. Islam menjadikan
mulia dan membuat batasan hukum untuknya agar dapat memelihara kebaikan
masyarakat dan individu manusia itu sendiri.
Islam dengan segala yang diperbolehkannya demi menjaga tabiat
manusiawi telah meletakkan konsep aturan dan batasan-batasan yang netral atau
moderat, sikap berlebih-lebihan dan ekstrim akan menjurus kepada perangai
binatang yang tercela.
4. Memperhatikan Realita
Al-quran tidak membebankan kepada manusia suatu kewajiban untuk
mencintai musuh-musuhnya, karena hal ini merupakan sesuatu hal yang tidak
dimiliki jiwa manusia, akan tetapi al-Quran memerintahkan kepada orang-orang
mukmin untuk berlaku adil terhadap musuh- musuhnya, supaya ras permusuhan
dan kebencian mereka terhadap musuh-musuhnya tidak mendorong untuk
melakukan pelanggaran terhadap musuh-musuh mereka.
5. Moral Positif
Moral Islam menganjurkan menggalang kekuatan, keyakinan dan cita- cita,
melawan sikap ketidakberdayaan dan pesimisme (keputusasaan), malas serta
segala bentuk penyebab kelemahan.
Islam menolak sikap pasif (apatis) dalam menghadapi kerusakan sosial
dan politik, dekadensi moral dan agama, bahkan Islam memerintahkan kepada

muslim untuk merubah suatu kemungkaran dengan tangannya, jika tidak


mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu lagi maka dengan hatinya.
6. Komprehensifitas (menyeluruh)
Islam bukanlah agama yang menganggap bahwa moral dalam agama
berkisar pada pelaksanaan ibadah ritual atau seremonial, padahal akhlak atau etika
Islam tidak membiarkan kegiatan manusia hanya dalam ibadah mahdah saja.
Islam menggariskan bahwa hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan
manusia lainnya serta hubungan manusia dengan alam secara global maupun
detail haruslah dengan etika Islam atau akhlak. Oleh sebab itu, akhlak Islam
meletakkan apa yang dikehendaki manusia dari adab susila yang tinggi dan luhur.
7. Tawazun (keseimbangan)
Tawazun dalam etika Islam yaitu menggabungkan sesuatu dengan penuh
keserasian dan keharmonisan, tanpa sikap berlebihan maupun pengurangan.
Contohnya seimbang dalam mengejar dunia dan akhirat. Dalam Islam, dunia
adalah ladang untuk mencapai akhirat, oleh karena orang yang beruntung adalah
orang yang bahagia dunia dan akhirat.

B. Hubungan Tasawuf dengan Akhlak


Tasawuf merupakan salah satu dimensi spiritual dari ajaran Islam. Kaum orientalis
menyebutnya sufisme atau mistisme, suatu istilah yang sebenarnya tidak tepat, karena
istilah itu tidak menggambarkan hakikat tasawuf yang sebenarnya.
Tasawuf berasal dari kata suf artinya kain yang dibuat dari wool. Sebab para
penganut tasawuf pada masa dulu hanya menggunakan pakaian dari bulu binatang atau
kain wool kasar, wool ini menggambarkan kesederhanaan dan kemiskinan. Kaum sufi
sebagai golongan yang hidup sederhana dan miskin, tetapi berhati suci dan mulia
(Suryana, 1996;78).
Istilah tasawuf atau sufi baru muncul pada abad ke-2 H. Pada dasarnya tasawuf
merupakan pola hidup sederhana, memperbanyak ibadah dengan mendekatkan diri
kepada Allah, mensucikan jiwa dengan menjauhi hawa nafsu dan lain sebagainya.
Tasawuf ini tidak dikenal siapa pencetusnya dan tidak pula diketahui secara pasti
mengenai pengertian terminologisnya.
8

Beberapa literatur menyebutkan bahwa tasawuf muncul dengan latar belakang


gerakan moral yang dilakukan oleh suatu kelompok umat Islam untuk meningkatkan
kualitas peribadatan kepada Allah SWT. Dengan cara melakukan uzlah (meninggalkan)
kemewahan dunia. Mereka hidup dengan amat sederhana sebagai bentuk perlawanan
moral terhadap suasana kehidupan umat ketika itu yang cenderung hidup bermewahmewah. Tujuan mereka adalah mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT.
Sehingga dapat memelihara Zat Allah dengan mata hatinya, serta merasakan kehadiranNya secara rohaniah. (Dipertais,2001;96).
Dalam perkembangan selanjutnya, ada kelompok yang menjadikan tasawuf sebagai
suatu metode spesifik untuk meningkatkan kualitas pendekatan jiwa secara akstrim
kepada Allah SWT. Menurut kelompok ini, Allah bersifat immateri hanya bisa didekati
oleh sesuatu yang immateri pula, yakni dengan jiwa. Oleh sebab itu, menurut mereka,
karena dzat Allah itu Mahasuci, maka jiwa yang bisa mendekatinya hanyalah jiwa yang
bersih pula. Menurut kelompok ini lagi dalam pendekatan diri kepada Allah mempunyai
tingkatan-tingkatan atau station bisa juga disebut maqom. Tingkatan yang paling tinggi
adalah itihad (menyatukan jiwa manusia dalam wujud Allah) atau hulul (menyatukan
wujud Allah dalam jiwa raga manusia). Demikian makna tasawuf dalam kelompok ini
(Dipertais, 2001;97)
Antara Ilmu Akhlak dan Ilmu Tasawuf memiliki hubungan yang berdekatan.
Pengertian Ilmu Tasawuf adalah Ilmu yang dengannya dapat diketahui hal-hal yang
terkait dengan kebaikan dan keburukan jiwa. Tujuan Ilmu Tasawuf itu sendiri adalah
untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan
yang tercela dan menghias diri dengan perbuatan yang terpuji.
Dengan demikian dalam proses pencapaian tujuan bertasawuf seseorang hares
terlebih dahulu berakhlak mulia.Pada dasarnya bertasawuf adalah melakukan serangkaian
ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya. Hubungan antara Ilmu Akhlak
dengan Ilmu Tasawuf lebihlanjutr dapat diuraikan sebagai berikut:
Ketika mempelajari tasawuf ternyata pula bahwa Al-Qur'an dan AI-Hadist
mementingkan akhlak. AI-Qur'an dan Al-Hadist menekankan mlai-nilai kejujuran,
kesetiakawanan, persaudaraan, rasa kesosialan, rasa keadilan, tolong-menolong, murah
hati, suka memberi maaf, sabar, baik sangka, berkata benar, pemurah, keramahan, bersih
9

hati, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencintai iImu dan berfikir lurus.
Nilai-nilai serupa ini yang harus dimiliki oleh seorang muslim dan dimasukkan ke dalam
dirinya dari semasa ia kecil. Jadi hubungan antara Ilmu Akhlak dan Ilmu Tasawuf dalam
Islam ialah bahwa akhlak merupakan pangkal tolak tasawuf, sedangkan tasawuf adalah
esensi dari akhlak itu sendiri.
Sebenarnya akhlak atau etika pada dasarnya telah diletakkan oleh Allah SWT. Dalam
kitab-Nya dan melalui akhlak yang dicontohkan secara kongkrit oleh Rasulullah dalam
perilakunya sehari-hari. Firman Allah dalam al-Quran surat al-Qalam ayat 4 dan alAhzab ayat 21, dijelaskan bahwa contoh keteladanan yang baik adalah Rasulullah SAW,
karena itu konsepsi tasawuf dapat diterima sepanjang memanifestasikan ajaran akhlak,
yakni melatih kesucian jiwa dan budi pekerti yang baik. Artinya tasawuf dapat dipahami
sebagai doktrin Islam yang mengajarkan tentang pendekatan diri kepada Allah dengan
cara mendidik perilaku yang sesuai dengan akhlak Islam melalui rohani dengan berbagai
ibadah.
Tasawuf berusaha mentransedensikan segala pandangan, sikap dan tindakan atau
perilaku manusia sehingga membuahkan pengalaman ketasawufan dan religius.
Contohnya melatih sikap zuhud dalam pengertian hati tidak dikendalikan atau
didominasi oleh dunia dan sikap tawakal dalam pengertian berikhtiar dengan keras lalu
berserah diri kepada Allah atas segala hasil yang diraihnya. Dengan demikian berperang
pada doktrin tasawuf lebih akan membentuk pribadi manusia yang berakhlak (bermoral),
karena doktrin yang terkandung dalam nilai-nilai tasawuf lebih menekankan aspek
aktualisasi nilai-nilai luhur, perasaan etis dan kesadaran moral (Jamal Syarif, 2003:120).

D. Aktualisasi Akhlak dalam Kehidupan Bermasyarakat


Kedudukan akhlak dalam agama Islam adalah identik dengan pelaksanaan agama Islam
itu sendiri dalam segala bidang kehidupan. Maka pelaksanaan akhlak yang mulia adalah
melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi segala larangan-larangan dalam agama,
baik yang berhubungan dengan Allah maupun yang berhubungan dengan makhluknya,
dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya dengan sebaik-baiknya, seakan-akan melihat
Allah dan apabila tidak bisa melihat Allah maka harus yakin bahwa Allah selalu melihatnya
sehingga perbuatan itu benar-benar dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
10

Akhlak yang perlu diaktualisasikan dalam kehidupan adalah sebagai berikut:


1.

Akhlak kepada Allah swt.


a.

Mentauhidkan Allah (QS. Al-Ikhlas/112:1-4)


Tauhid adalah konsep dalam aqidah islam yang menyatakan ke-Esaan Allah
dan beriman bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu
bagiNya.

b.

Banyak Berzdikir pada Allah (QS. Adz-Dzaariyat/51:56)


Zikir (atau Dzikir) artinya mengingat Allah di antaranya dengan menyebut
dan memuji nama Allah. Zikir adalah satu kewajiban. Dengan berzikir hati
menjadi tenteram.

c.

Berdoa kepada Allah SWT (QS. Ar- Rad/13:28)


Berdoa adalah inti dari ibadah. Orang-orang yang tidak mau berdoa adalah
orang-orang yang sombong karena tidak mau mengakui kelemahan dirinya di
hadapan Allah SWT.

d.

Bertawakal Hanya pada Allah (QS. Hud/111:123)


Tawakal kepada Allah SWT merupakan gambaran dari sikap sabar dan kerja
keras yang sungguh-sungguh dalam pelaksanaanya yang di harapkan gagal dari
harapan semestinya, sehingga ia akan mampu menerima dengan lapang dada
tanpa ada penyesalan.

e.

Berhusnudzhon kepada Allah


Yakni berbaik sangka kepada Allah SWT karena sesungguhnya apa saja yang
di berikan Allah merupakan jalan yang terbaik untuk hamba-Nya.

f.

Tawadhu
Rendah hati dihadapan Allah Swt.

2.

Akhlak terhadap diri sendiri


a.

Sabar (QS. Al-Baqarah/2:153)


Sabar adalah menahan amarah dan nafsu yang pada dasarnya bersifat negatif.
Kemudian manusia harus sabar dalam menghadapi segala cobaan.

b.

Syukur (QS. An-Nahl/16:14)

11

Dalam keseharian, kadang atau bahkan sering kali kita lupa untuk berSyukur, atau men-Syukuri segala nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita.
Ada 3 (tiga) cara yang mudah untuk men-Syukuri nikmat Allah yaitu bersyukur
dengan hati yang tulus, mensyukuri dengan lisan yang dilakukan dengan memuji
Allah melalui ucapan Alhamdulillah, dan bersyukur dengan perbuatan yang
dilakukan dengan menggunakan nikmat dan rahmat Allah pada jalan dan
perbuatan yang diridhoi-Nya.
c.

Tawaddu (QS. Luqman/31:18)


Tawadlhu atau Rendah hati merupakan salah satu bagian dari akhlak mulia
jadi sudah selayaknya kita sebagai umat muslim bersikap tawadhu, karena
tawadhu merupakan salah satu akhlak terpuji yang wajib dimiliki oleh setiap umat
islam. Orang yang tawadhu adalah orang menyadari bahwa semua kenikmatan
yang didapatnya bersumber dari Allah SWT.

d.

Iffah, yaitu mensucikan diri dari perbuatan terlarang (QS. Al-Isra/17:26)


Apabila

melakukan

kesalahan,

maka

segera

bertaubat

dan

tidak

mengulanginya lagi. Apabila ada dari kita yang merasa telah terlalu banyak
berbuat dosa dan maksiat sebaiknya kita jangan

berputus asa dari rahmat

ampunan Allah, karena Allah SWT selalu memberikan kesempatan pada kita
untuk bertobat.

3.

e.

Amanah (QS. An-Nisa/14:58)

f.

Yajaah (QS. Al-Anfaal/18:15-16)

g.

Qanaah (QS. Al-I?sra/17:26)

Akhlak terhadap orang lain


a.

Akhlak terhadap kedua orang tua (QS. Al-Isra/17:23-24)


1) Patuh
2) Ihsan, berbuat baik
3) Lemah lembut, perkataan dan perbuatan
4) Merendahkan diri dihadapan mereka
5) Berterimakasih
6) Berdoa untuk mereka
12

b.

Akhlak terhadap keluarga(QS. An-Nahl/16:90 dan QS. At-Tahrim/66:6)


1) Mengembangkan kasih sayang
2) Keadilan
3) Perhatian

4.

Akhlak terhadap tetangga (QS. An-Nisa/4:36)


a.

Merajut Ukhuwah atau Persaudaraan


Membina persaudaraan adalah perintah Allah yang diajarkan oleh semua
agama, termasuk agama islam. Oleh sebab itu, sudah sewajarnya kalau semua
elemen membangun ukhuwah dalam komunitasnya. Apabila ada kelompok
tertentu dengan mengatas-namakan agama tetapi enggan memperjuangkan
perdamaian dan persaudaraan maka perlu dipertanyakan kembali komitmen
keagamaannya.

b.

Taawun atau saling tolong menolong


Dalam Islam, tolong-menolong adalah kewajiban setiap Muslim. Sudah
semestinya konsep tolong-menolong tidak hanya dilakukan dalam lingkup yang
sempit. Tolong-menolong menjadi sebuah keharusan karena apapun yang kita
kerjakan membutuhkan pertolongan dari orang lain. Tidak ada manusia seorang
pun di muka bumi ini yang tidak membutuhkan pertolongan dari yang lain.

c.

Suka memaafkan kesalahan orang lain


Islam mengajar umatnya untuk bersikap pemaaf dan suka memaafkan
kesalahan orang lain tanpa menunggu permohonan maaf daripada orang yang
berbuat salah kepadanya. Pemaaf adalah sikap suka memberi maaf terhadap
kesalahan orang lain tanpa ada sedikit pun rasa benci dan dendam di hati. Sifat
pemaaf adalah salah satu perwujudan daripada ketakwaan kepada Allah.

d.

Menepati Janji
Janji memang ringan diucapkan namun berat untuk ditunaikan. Menepati janji
adalah bagian dari iman. Maka seperti itu pula ingkar janji, termasuk tanda
kemunafikan.

13

5.

Akhlak terhadap lingkungan


Berakhlak terhadap lingkungan hidup adalah di mana manusia menjalin dan
mengembangkan hubungan yang harmonis dengan alam sekitarnya. Allah menyediakan
kekayaan alam yang melimpah hendaknya disikapi dengan cara mengambil dan
memberi dari dan kepada alam serta tidak dibenarkan segala bentuk perbuatan yang
merusak alam. Maka alam yang terkelola dengan baik dapat memberi manfaat yang
berlipat ganda, sebaliknya alam yang dibiarkan merana dan diambil manfaatnya saja
justru mendatangkan malapetaka bagi manusia. (QS. Al-Qashash/28:77, QS. arRum/30:41, dan QS. Hud/11:61)

14

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

15

DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali.Imam tt. Ihya Ulum al-Din. _hari : Dar al-Syab
Anwar, Rosihon. 2009. Akhlak Tasawuf. Bandung:Pustaka Setia.
Daradjat, Zakiah, dkk. 1984. Dasar-dasar Agama Islam. Jakarta : Bulan Bintang
Dipertasi Depag. 2001. Buku Teks Pendidikan Agama Islam pada PTU. Jakarta : Depag RI
Iberani, Jamal Sharif dan MM Hidayat. 2003. Mengenal Islam. Jakarta : El Kahfi
Suryana, Toto, dkk. 1997. Pendidikan Agama Islam. Bandung : Tiga Mutiara
Diakses dari http://depeberbagiilmu.blogspot.com/2013/12/makalah-agama-islam-akhlak-etikadan.html

16