Anda di halaman 1dari 6

PENGAUDITAN II

TUGAS RMK 8

Oleh:

I WAYAN ADI WIGUNA

1206305099

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2014

A. PENGAUDITAN SIKLUS INVESTASI


1. SIFAT SIKLUS INVESTASI
Gambaran Umum
Aktivitas investasi (investing activities) adalah pembelian dan penjualan tanah, bangunan,
peralatan serta aktiva lain yang umumnya tidak ditahan untuk dijual kembali. Di samping itu,
aktivitas investasi juga mencakup pembelian dan penjualan instrument keuangan yang tidak
dimaksudkan untuk tujuan perdagangan. Suatu entitas mengakuisisi aktiva-aktiva ini karena
aktiva itu diperlukan untuk mendukung operasi dan proses intinya.
Langkah pertama dalam mengaudit aktivitas investasi meliputi pemahaman atas aktiva
yang diperlukan untuk mendukung operasi entitas bersangkutan (misalnya mesin, peralatan,
fasilitas, tanah atau sumber daya alam) dan tingkat pengembalian yang diharapkan
perusahaan akan dicapai dari aktiva yang mendasarinya. Langkah kedua dalam mengaudit
investasi meliputi penentuan aktiva apa yang diakuisisi selama periode berjalan. Biasanya
pertumbuhan aktiva tetap harus memperlihatkan hubungan yang konsisten dengan
pertumbuhan pendapatan. Aktiva jangka panjang biasanya cukup stabil bagi kebanyakan
entitas. Dengan kata lain, sebagian besar aktiva tetap yang ada pada akhir tahun juga ada
pada awal tahun. Karenanya, auditor sering memusatkan strategi audit pada audit perubahan
aktiva jangka panjang, bukan pada keseluruhan populasi aktiva jangka panjang.
Tujuan Audit
Tujuan audit siklus investasi adalah untuk memperoleh bukti tentang masing-masing asersi
signifikan yang berkaitan dengan transaksi dan saldo siklus investasi. Tujuan audit ditentukan
berdasarkan lima asersi laporan keuangan adalah sebagai berikut:
a. Asersi Keberadaan dan Keterjadian
Aktiva tetap yang tercatat merupakan aktiva produktif yang digunakan pada tanggal
neraca
b. Asersi Kelengkapan
Seluruh transaksi dan saldo yang semestinya tercantum dalam laporan keuangan, sudah
benar-benar dicatat dan disajikan.
c. Asersi Hak dan Kewajiban
Entitas itu memiliki atau mendapatkan hak atas semua aktiva tetap yang dicatat pada
tanggal neraca.
d. Asersi Penilaian dan Pengalokasian
Auditor akan berusaha memperoleh bukti mengenai apakah saldo investasi surat
berharga telah disajikan dalam laporan keuangan pada jumlah yang tepat.
e. Asersi Pelaporan dan Pengungkapan
Pada asersi ini auditor perlu menghimpun bukti mengenai apakah transaksi dan saldo
yg tercatat telah tepat diklasifikasikan, dijelaskan dan diungkapkan dalam neraca.
2. PERENCANAAN AUDIT
Pertimbangan dalam perencanaan audit siklus investasi meliputi:

a. Materialitas
Pertimbangan utama dalam mengevaluasi alokasi materialitas ini adalah penentuan besarnya
salah saji yang akan mempengaruhi keputusan seorang pemakai laporan keuangan yang
layak. Pertimbangan kedua adalah hubungannya dengan biaya untuk mendeteksi kesalahan.
b. Risiko Inheren
Risiko inheren yang berkaitan dengan asersi eksistensi/keberadaan seringkali rendah karena
aktiva tetap tidak mudah dicuri. Akan keberadaan, risiko inheren dapat meningkat sampai ke
tingkat sedang atau tinggi karena potensi bahwa aktiva yang dibesituakan atau tidak
digunakan lagi mungkin tidak dihapuskan.
c. Risiko Prosedur Analitis
Risiko prosedur analitis unsur elemen dari risiko deteksi bahwa prosedur analitis akan gagal
mendeteksi kesalahan yang material. Prosedur analitis bersifat efektif dari segi biaya dan hal
itu dapat membantu auditor dalam mengevaluasi kelayakan laporan keuangan.
d. Risiko Pengendalian
Aspek yang sama dari pengendalian internal yang menetapkan kesadaran akan tingkat
pengendalian yang tinggi seperti lingkungan pengendalian yang kuat, penilaian risiko yang
efektif, akuntabilitas yang efektif atas penggunaan sumber daya, dan pemantauan sistem
pengendalian adalah penting dalam konteks akuntansi untuk aktiva tetap. Salah satu
transaksi penting yang berkaitan dengan aktiva tetap adalah akuntansi awal untuk akuisisi
aktiva tetap.

B. PENGAUDITAN SIKLUS PEMBIAYAAN


SIFAT SIKLUS PEMBIAYAAN
Gambaran Umum
Sifat siklus pembiayaan hampir mirip dengan siklus investasi, dimana perbedaannya ialah
jika dalam siklus investasi perusahaan membeli saham atau obligasi perusahaan lain, maka
dalam siklus pembiayaan perusahaan mengeluarkan surat berharga saham atau obligasi

(utang jangka panjang).

Siklus pembiayaan berkaitan dengan transaksi mengenai

penghimpunan dana dari pihak lain, dimana penghimpunan dana ini dimaksudkan sebagai
setoran modal melalui penjualan saham maupun sebagai utang jangka panjang. Disamping
itu, siklus pembiayaan juga berkaitan dengan pembayaran kembali utang jangka panjang
yang telah jatuh tempo, pembayaran bunga dan dividen. Siklus ini meliputi dua kelompok
transaksi yaitu:
-

Transaksi utang jangka panjang: yang meliputi utang obligasi, hipotik, wesel, dan

pinjaman, beserta pembayaran pokok dan bunganya.


Transaksi ekuitas pemegang saham (modal) : yang meliputi penerbitan dan penebusan
kembali saham prefern dan saham biasa, transaksi pembelian kembali saham dan
pembayaran dividen.

Siklus pembiayaan bersinggungan dengan siklus pengeluaran kas, dimana hal ini memiliki
alasan karena pembayaran bunga obligasi dan dividen oleh perusahaan biasanya dilaksanakan
dalam bentuk uang atau sejenisnya. Rekening yang terkait yaitu:

Transaksi utang jangka panjang

Transaksi ekuitas pemegang saham

Obligasi, hipotik, wesel, dan pinjaman Saham prefern


jangka panjang
Premi obligasi

Saham biasa

Utang bunga

Saham dibeli kembali

Biaya bunga

Paid-in capital

Laba (rugi) dalam penghentian obligasi

Laba ditahan
Dividen
Utang dividen

Tujuan Audit
Tujuan audit siklus pembiayaan adalah untuk memperoleh bukti tentang masing-masing
asersi signifikan yang berkaitan dengan transaksi dan saldo siklus pendanan. Tujuan audit
ditentukan berdasar atas kelima kategori asersi laporan keuangan yang dinyatakan oleh
manajemen. Tujuan audit siklus pembiayaan adalah sebagai berikut:

Asersi keberadaan dan keterjadian


a. Saldo utang jangka panjang dan ekuitas pemegang saham tercatat benar-benar ada pada
tanggal neraca.
b. Biaya bunga obligasi dan dividen yang tercatat benar-benar merupakan hasil transaksi
yang terjadi selama suatu periode.
Asersi kelengkapan
a. Saldo utang jangka panjang merupakan seluruh jumlah yang harus dibayar kepada
kreditur jangka panjang pada tanggal neraca.
b. Saldo saham meliputi keseluruhan jumlah nilai klaim pemilik saham atas asset pada
tanggal neraca.
c. Seluruh transaksi saham dan obligasi maupun utang jangka panjang lainnya, sudah
tercatat semua.
Asersi hak dan kewajiban
a. Saldo utang jangka panjang tercatat merupakan jumlah yang secara legal menjadi
kewajiban perusahaan pada tanggal neraca.
b. Saldo saham menggambarkan klaim legal pemegang saham atas asset perusahan pada
tanggal neraca.
Asersi penilaian dan pengalokasian
a. Saldo utang jangka panjang dinilai secara tepat sesuai dengan prinsip akuntansi yang
diterima umum.
b. Saldo saham dinilai secara tepat sesuai prinsip akuntansi yang diterima umum.
Asersi penyajian dan pengungkapan
a. Saldo utang jangka panjang dan ekuiti pemegang saham tepat diidentifikasi dan
diklasifikasikan dalam laporan keuangan.
b. Semua jangka waktu, komitmen dan provisi penghentian utang jangka panjang
diungkapkan.
c. Semua fakta mengenai pengeluaran saham seperti nilai pari, lembar, dan bagian
treasury stock diungkap.
d. Semua fakta mengenai dividen telah diungkapkan termasuk adanya stock option,
dividen saham, stock split dan sebagainya.
PERENCANAAN AUDIT

Pertimbangan dalam perencanaan audit siklus pembiayaan meliputi:


a. Materialitas : arti penting dari utang jangka panjang dalam posisi keuangan berbagai
perusahan dapat saja berbeda-beda. Pada umumnya di perusahaan, perbandingan utang
jangka panjang terhadap total kewajiban dan ekuitas pemegang saham tidak material,
tetapi pada perusahaan-perusahaan seperti PLN, perusahaan gas dan air minum utang
jangka panjang bisa mencerminkan lebih dari 50% klaim atas total aktiva.
b. Risiko bawaan : risiko salah saji dalam pelaksanaan dan pencatatan transaksi-transaksi
siklus keuangan biasanya rendah, dimana dalam kebanyakan perusahaan transaksitransaksi siklus ini jarang terjadi kecuali untuk pembayaran bunga dan dividen, yang
kadang-kadang ditangani oleh pihak luar. Disamping itu juga, transaksi-transaksi
semacam ini kebanyakan membutuhkan otorisasi dari dewan komisaris dan pejabat
perusahaan terlibat dalam pelaksanaannya.
c. Risiko prosedur analitis : merupakan elemen risiko deteksi yang berupa kegagalan
prosedur analitis dalam mendeteksi kekeliruan material.
d. Risiko pengendalian: dalam lingkungan pengendalian, tanggung jawab atas transaksi
biasanya dibebankan pada kepala departemen yang harus memiliki integritas dan
kompetensi untuk melakukan tugas-tugas.

REFERENSI
Jusup, Haryono. 2010. Auditing (Pengauditan). Buku 2. Yogyakarta: Unit Penerbitan dan
Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN
http://mimiakuntansi.blogspot.com/2013/12/audit-siklus-investasi-dan-pembiayaan.html