Anda di halaman 1dari 9

Akord dan

Progresi Akord
Blog ini bertujuan untuk memberi informasi praktis dari tingkat dasar sampai dengan maju
tentang akord dan progresi akord kepada peminat.

03 Juni 2008

2. Tangganada Mayor, Kromatik, dan Minor


Apa itu tangganada? Ada ciri-cirinya.
Pertama, suatu tangganada adalah serangkaian not yang disusun
mengikuti urutan abjad. Urutan abjad ini lazimnya ditulis dengan
memakai huruf besar, bisa dimulai dari huruf A sebagai not pertama dan
yang paling rendah dan berakhir dengan A juga, not ke delapan atau not
terakhir dan paling tinggi. Not ke delapan ini disebut oktaf.
Urutannya demikian: A B C D E F G A. Kalau dibunyikan dengan memakai
not, urutan abjad ini demikian: la, si, do, re, mi, fa, sol, la.
Kedua, suatu tangganada bertolak dari not apa pun sejauh satu oktaf dan
berdasarkan suatu bentuk pola yang sudah ditetapkan. Dari urutan not
mengikuti abjad tadi, Anda melihat bahwa bentuk pola tangganada itu
sudah ditetapkan. Ia mulai dari A lalu mengikuti urutan abjad sampai
dengan G kemudian balik ke A, kali ini delapan nada lebih tinggi dari A
pertama. Karena satu tangganada dibentuk oleh delapan nada, maka
huruf terjauh yang berbeda dengan A haruslah huruf ketujuh dan itulah
huruf G. Sesudah G, Anda harus mengulangi A. Karena A bisa dipakai
untuk membentuk suatu tangganada, maka setiap abjad yang lain pun
bisa dipakai untuk membentuk tangganada yang lain. Tangganada lain
bisa mulai dari B,C, D, E, F, atau G dan berakhir satu oktaf lebih tinggi
juga dengan B, C, D, E, F, atau G.

Ketiga, pola yang mendasari kebanyakan tangganada melibatkan


seperangkat urutan nada dan setengahnada. Pada gitar enam senar,
suatu nada dimainkan pada dua fret yang berdekatan sementara suatu
setengahnada dimainkan pada satu fret.
Untuk maksud praktis, kita memakai tangganada yang mulai dengan C.
Urutannya menurut abjad demikian: C D E F G A B C. Kalau dinyanyikan,
urutan huruf ini berbunyi do, re, mi, fa, sol, la, si, do.
Dari bentuk polanya, ada dua pasang not yang masing-masing
membentuk setengahnada (satu fret). Pertama, pasangan E-F; dan,
kedua, pasangan B-C. Pasangan lain (C-D, D-E, F-G, G-A, dan A-B)
masing-masing membentuk satunada.
Dalam bahasa Inggris, satunada disebut tone sementara setengahnada
disebut semitone. Untuk mempermudah ingatan Anda, aturan tentang
pasangan not manakah yang membentuk satunada atau setengahnada
dringkaskan melalui urutan T (singkatan untuk tone, satunada) dan S
(singkatan untuk semitone, setengahnada). Ringkasannya demikian:
CTDTESFTGTABSC
Tiga Jenis Tanggnada
Ada tiga jenis tangganada utama dalam ilmu musik Barat. Pertama,
tangganada mayor; kedua, tangganada kromatik; dan, ketiga,
tangganada minor.
Tangganada mayor adalah yang paling lazim dipakai untuk menciptakan
jutaan lagu, termasuk lagu-lagu pop hit dan lagu-lagu gereja yang
bertahan selama ratusan tahun. Karena itu, sebagian besar pelajaran
pada tingkat awal akan memakai jenis tangganada ini.
Tangganada diatonik mayor
Sistem nada yang memakai dua macam jarak antar nada, yaitu satunada
(tone) dan setengahnada (semitone) membentuk tangganada diatonik
mayor. Contoh tadi menjelaskan tangganada jenis ini. Ia lazimnya dipakai

untuk menciptakan lagu-lagu yang bersuasana optimistik: ceria, cerah,


manis, merdu. Alat-alat musik Barat yang dibuat untuk memainkan
tangganada diatonik mayor mencakup gitar, piano, organ, dan alat-alat
lain. Tapi nada-nada gamelan tidak bisa menghasilkan nada-nada diatonik
karena setelannya berbeda. Setelan gamelan berdasarkan sejenis
tangganada lima nada bernama pelog dalam musik tradisional Jawa
seperti do, mi, fa, sol, si punya aturan tersendiri tentang jarak antara
setiap not. Misalnya, not mi dan sol dalam pelog sebenarnya sama
nadanya dengan fa dan la dalam musik diatonik mayor.
Urutan not tangganada diatonik mayor yang akan kita pakai berkali-kali
untuk mempelajari dan menguasai berbagai akord dan progresi akord
adalah C-D-E-F-G-A-B-C. Tangganada ini dibatasi atau dikendalikan oleh
suatu kunci. Karena urutan ini mulai dan berakhir dengan C, maka
tangganada diatonik mayor ini dikendalikan oleh kunci C.
Dalam notasi balok, tangganada C mayor tidak dberi tanda kres atau mol.
Tangganada ini karena itu bersifat naturel: tanpa kres atau mol.
Karena sifatnya yang naturel, tangganada C mayor dipakai sebagai acuan
utama untuk membentuk tangganada lainnya. Tangganada diatonik
mayor lain itu dimulai dari huruf-huruf lain D, E, F, G, A, atau B dan
berakhir setinggi satu oktaf dengan huruf yang sama. Akan tetapi,
tangganada diatonik mayor D, E, F, G, A, atau B akan dibahas kemudian.
Berbagai lagu nasional dan daerah di Indonesia diciptakan berdasarkan
tangganada diatonik mayor. Lagu-lagu nasional yang terkenal mencakup
Indonesia Raya, Halo-Halo Bandung, Maju Tak Gentar, dan Bangun
Pemudi Pemuda diciptakan berdasarkan tangganada ini. Di samping itu,
lagu-lagu daerah yang memakai tangganada diatonik mayor mencakup
Lisoi-Lisoi (Tapanuli), Ayo Mama (Maluku), dan Apuse (Biak, Papua).
Tangganada kromatik
Karena relevan dengan pembicaraan nanti tentang interval, jenis
tangganada ini layak dijelaskan. Ia dibentuk dari tanggnada diatonik
mayor.

Seperti yang sudah dijelaskan, tangganada diatonik mayor dibentuk oleh


satunada dan setengahnada. Secara aritmatik, satunada bisa dibagi
menjadi dua, masing-masing menjadi dua setengahnada. Pada gitar,
setiap pecahan dari satunada sekarang dimainkan hanya pada satu fret.
Karena satunada dibagi menjadi dua setengahnada, tangganada baru
yang dibentuk sekarang punya jarak antar nada yang sama. Setiap
pasangan nada sekarang berjarak setengahnada. Jumlah nada dari satu
oktaf bertambah menjadi 13 nada.Tangganada ini disebut tangganada
kromatik.
Ia cocok sebagai pewarna lagu. Ia juga memberi kelenturan pada jalur
melodi bas, seperti yang dipetik pemain gitar bas.
Perbandingan antara tangganada diatonik mayor C yang melandasi
pembentukan tangganada kromatik dipengaruhi arah gerak yang
ditempuhnya dan pola notnya. Pola not dalam posisi naik atau meninggi
berbeda penulisannya dengan pola not dalam posisi turun atau merendah.
Posisi naik:
C--------D--------E F--------G---------A-----------B C
C--#C---D--#D--E F--#F---G--#G---A----#A----B C
Posisi turun:
CB--------A-------G-------FE--------D---------C
CB-bB----A-bA---G-bG---FE --bE--D--bD----C
Barangkali, tidak ada ciptaan lagu nasional dan daerah di Indonesia yang
memakai tangganada kromatik. Tapi not-not kromatik not-not
setengahnada sering dipakai dalam melodi utama atau dalam
aransemen duet, trio, kuartet, atau paduan suara. Not-not kromatik ini
sebenarnya dipinjam dari tangganada di luar tangganada yang berlaku.
Sering, not-not setengahnada bersifat sementara; artinya, ia dipakai
sebentar saja lalu lagu kembali ke kunci aslinya.
Beberapa lagu nasional memakai not-not kromatik yang bersifat
sementara. Indonesia Pusaka ciptaan Ismail Marzuki, misalnya, memakai

not kromatik b7 (sa) sekali pada suku kata lu dari kata dulu dalam frasa
frasa bait pertamanya: Indonesia sejak dulu ... Dia juga memakai not
setengahnada #4 (fis) dua kali dalam karya ini. Pertama, pada suku kata
ja dari kata puja dalam frasa bait pertama: tetap dipuja .... Kedua, pada
suku kata me- dari kata menutup dari frasa bait pertama menjelang akhir
lagu: tempat akhir menutup mata. Lagu Bungong Jeumpa dari Aceh
adalah salah satu contoh lagu-lagu daerah di Indonesia yang juga
memakai setengahnada. Not #5 (se) dipakai sebanyak 5 kali dalam lagu
ini. Not kromatik ini muncul, misalnya, dua kali pada suku kata pa dari
kata jeumpa di awal lagu tempat orang menyanyikan frasa bait pertama
lagu ini: Bungong jeumpa, bungong jeumpa.
Not-not kromatik muncul sering sekali dalam lagu-lagu pop, gereja, dan
jazz. Dalam lagu-lagu pop dan gereja, not-not ini bisa bersifat sementara.
Kalau bersifat sementara, not kromatik itu dipinjam dari tangganada lain,
dipakai sebentar lalu lagu kembali ke tangganada semula. Lagu-lagu jazz
modern sering memakai not-not kromatik yang bersifat tetap. Lagu,
misalnya, dimulai dengan kunci C lalu beralih ke kunci C# tanpa ada
tanda peringatan bahwa akan terjadi perpindahan kunci dari C ke C#
dan secara tiba-tiba juga pindah ke D, D#, dan berakhir dengan E.
Perpindahan kunci jelas secara kromatik. Tapi setiap melodi atau
potongan melodi yang dimainkan dalam batas setiap kunci bisa juga
berisi berbagai not kromatik.
(Catatan: Dalam tulisan ini dan tulisan mendatang, penulisan #C , #D,
#F dan seterusnya berbeda arti dengan C#, D#, F# dan seterusnya.
Bentuk pertama mengacu pada not kromatik di, ri, fis dan seterusnya
sementara bentuk kedua merujuk pada kunci tangganada. Pembedaan ini
tidak standar; sayalah yang membuatnya untuk tulisanku!)
Tangganada minor
Karena tangganada minor relevan juga dengan pelajaran tentang interval,
ia pun layak untuk dibicarakan sekarang. Tangganada ini umumnya
dipakai untuk menciptakan lagu yang bersuasana introspektif: sedih,
muram, berduka, sayu, murung, gelisah.
Tangganada ini pun dibentuk dari tangganada diatonik mayor C. Ia

dibentuk dengan mulai dari not A dalam tangganada diatonik mayor C.


Dari sejarah perkembangannya, tangganada minor menjadi tiga macam:
tangganada minor naturel, harmonik, dan melodik. Yang disebut terakhir
berbeda bentuk polanya pada posisi naik dan turun.
Tangganada minor naturel:
ABCDEFGA
Tangganada minor harmonik:
A B C D E F #G A
Tangganada minor melodik pada posisi naik:
A B C D E #F #G A
Tangganada minor melodik pada posisi turun:
AGFEDCBA
Kata minor dalam istilah tangganada ini diperoleh dari mana? Dari
pengurangan interval-interval tertentu dalam tangganada diatonik mayor
C. Perubahan mayor menjadi minor dari tangganada diatonik mayor C
lebih gampang dijelaskan melalui perbandingan tangganada mayor C
dengan tangganada minor naturel. Supaya cermat, setengahnada
ditambahkan.
Mayor: C #CD#D E F #F G #G A #A B C
Minor: A--------B C-------D---------E F---------G-------A
Notasi: do------re ri-------fa--------solse--------li-------do
Pasangan setengahnada B-C dan E-F pada tangganada mayor berbeda
urutannya dengan yang ada pada tangganada minor. Pasangan B-C minor
tidak sama jaraknya dengan pasangan mayor D-E. Pasangan
setengahnada B-C minor (dimainkan pada satu fret gitar) sama bunyinya
dengan D-#D dalam pasangan D-E mayor, pasangan satunada (dimainkan
pada dua fret yang saling berdekatan di gitar). Dengan kata lain,

pasangan setengahnada B-C minor merupakan penurunan setengahnada


dari pasangan D-E mayor. Sesuai aturan baku (akan dibicarakan lebih
jauh dalam pelajaran tentang interval), satu pasangan not mayor menjadi
minor kalau salah satu not diturunkan atau dinaikkan menjadi
setengahnada. Jadi, pasangan not satunada C-D mayor menjadi minor
kalau not di kiri dinaikkan setengahnada #C-D (di-re) atau not di
kanan diturunkan setengahnada C-bD (do-ru). Perubahan pasangan not
satunada G-A mayor menjadi E-F minor mengikuti aturan yang sama. G-A
mayor menjadi G-#G minor yang sama bunyinya dengan E-F minor. Atau
G-A mayor menjadi #G-G minor sama bunyinya dengan E-F minor.
Beberapa lagu nasional dan daerah memakai tangganada minor. Syukur,
judul suatu lagu nasional ciptaan H. Mutahar, memakai tangganada minor.
Lagunya mulai dengan not la dan berakhir dengan not yang sama. Melodi
yang memakai not seperti ini dan akord-akord minor yang memperkuat
suasananya menunjukkan tangganada minor. Meski suasana dasarnya
bersifat minor alias sedih, muram, sayu, murung, kata-katanya malah
tidak memberi kesan dasar ini. Kata-kata bait pertama lagu nasional ini,
misalnya, bersuasana khidmat karena mengungkapkan rasa syukur,
terima kasih.
Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniamu
Tanah Air pusaka
Indonesia Merdeka
Syukur aku sembahkan
Ke hadiratMu, Tuhan
Tidak selalu lagu minor bersuasana sedih, introspektif, dan syair Syukur
salah satu kekecualian dari aturan umum yang berlaku dalam ilmu musik
Barat: tangganada minor dipakai untuk mengungkapkan suasana duka,
sedih, sayu, murung.
Aturan umum ini kentara dalam nyanyian gereja dari Barat yang
diterjemahkan kemudian ke dalam bahasa Indonesia. Mazmur terbitan
Yayasan Musik Gereja (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia 1986) berisi
terjemahan dari adaptasi syair-syair mazmur dalam Perjanjian Lama.

Terjemahan mazmur ke dalam bahasa Indonesia ini agar dinyanyikan


jemaat bersumber pada Mazmur Jenewa abad ke-16, suatu kumpulan
nyanyian mazmur yang sangat mengagumkan dari segi sastra dan musik.
Lagu-lagu Mazmur Jenewa yang mencerminkan kesenian Reneisens di
Eropa abad ke-16 sebenarnya bisa ditelusuri jauh ke belakang sampai
dengan musik liturgi Yahudi kuno, termasuk musik liturgi jemaat Kristen
awal tarikh Masehi di kawasan yang sekarang bernama Israel, Gaza, dan
Tepi Barat Palestina jajahan Roma kuno zaman itu. Banyak mazmur
dalam Perjanjian Lama digubah oleh Daud, gembala, pahlawan, musikus,
penyair, jenderal, dan raja tenar Israel kuno sekitar 3000 tahun yang
silam.
Salah satu lagu yang mengungkapkan suasana sedih dalam Mazmur tadi
adalah Mazmur 6. Melodinya, seperti melodi Syukur, mulai dengan la dan
berakhir juga dengan la. Terjemahan Indonesia menyingkap secara
menyentuh hati pergumulan batin Daud karena dosa-dosanya terhadap
Allah dan permohonannya yang khusyuk agar Allah mengampuni dosadosanya. Bait pertama Mazmur Jenewa ini seperti yang diterjemahkan
Yayasan Musik Gereja (Yamuger) demikian:
Sayangi aku, TU-HAN!
Jangan Engkau hukum-kan
hambaMu yang gentar.
Berapa lama lagi
murkaMu kualami?
Sengsaraku besar!

Suatu versi irama flamenko dari Mazmur 6 dan syair yang sama saya
ciptakan beberapa tahun yang lalu. Flamenko adalah sejenis musik dan
dansa yang erat kaitannya dengan Jipsi, suatu kaum pengembara yang
konon berasal dari India. Mereka kemudian menetap di Spanyol dan
mengembangkan musik flamenko. Sesuai sejarah awalnya, lagu-lagu
flamenko berkembang dari nyanyian ratapan kaum Jipsi, ratapan akan
nasibnya yang muram di tanah tumpangannya di Spanyol.
Bait tadi bisa dinyanyikan sambil memainkan gitar atau mengikuti iringan
yang sudah ada di side bar blog saya. Gaya cengkok menyanyikan lebih

dari satu not untuk satu suku kata saya tandai dengan garis pemisah
vertikal pada kata TUHAN dan hukumkan; yang dicengkok adalah suku
kata TU- dan kum-. Selebihnya dinyanyikan seperti biasa.
Nyanyian ratapan adalah nyanyian yang bersuasana sedih, murung, sayu.
Melodi asli Mazmur 6 tadi lalu dimodifikasi biar sesuai salah satu irama
flamenko yang ini memakai jenis birama 3/4 yang agak cepat di
Spanyol dan sesuai juga dengan suasana sedih yang diungkapkan
mazmur ini.
Diposkan oleh Seba Woseba di 00:24
Label: kromatik, minor, tangganada mayor