Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN LABA RUGI FISKAL

PT X Sebelum Tax Planing


Bulan Desember 2009

LAPORAN LABA RUGI FISKAL


PT X Sesudah Tax Planing
Bulan Desember 2009

1. PEMILIHAN BENTUK-BENTUK KESEJAHTERAAN KARYAWAN


a. Terkait opsi memberikan kendaraan atau tidak kepada karyawan

Biaya perawatan
Kendaraan
Biaya Penyusutan
Kendaraan
Penghematan

Sebelum Tax Planning


(pemberian fasilitas
kendaraan)
Rp
1.077.150

Rp

2.154.300

Rp

1.077.150

Rp

Rp.

823.184

Rp

411.592

411.592

Sesudah Tax Planning (tdk


memberikan fasilitas)

Selisih

Rp 1.488.742

b. Terkait pemberian kenikmatan berupa tunjangan makan


Sebelum tax planning jumlah tunjangan makan karyawan tetap yang terdapat pada
komponen gaji didalam biaya pegawai adalah sebesar Rp. 47.520.000 yang didapat dari
jumlah 24 karyawan dikalikan 264 hari kerja selama satu tahun dikalikan besarnya tunjangan
makan Rp. 7.500/hari. Setelah tax planning dengan menghapuskan tunjangan makan dan
diganti dengan biaya makan dan minum karyawan maka terjadi perpindahan pos dari biaya
pegawai tetap ke biaya makan dan minum karyawan. Secara material tidak berpengaruh
terhadap laba rugi perusahaan tetapi perpindahan pos tersebut bertujuan untuk
meminimalkan jumlah PPh 21 yang diberikan karyawan.
2. PEMBEBANAN BIAYA BUNGA
Bunga atas pinjaman yang digunakan untuk usaha dapat menjadi biaya (mengurangi)
penghasilan yang akan dikenakan pajak. Kecuali, biaya bunga yang dibayarkan kepada pemegan
g saham dengan ketentuan sbb:
a. Pemegang saham tersebut belum sepenuhnya menyetorkan modal sesuai dengan persyarat
an permodalan menurut akte pendirian.
b. Modal pinjaman yang dari pemegang saham tersebut berasal dari pihak ke tiga.
Contoh:
PT. Pancawa dalam akte pendiriannya tercantum struktur permodalan sbb :
1. Modal Dasar (Statuter)
Rp 1.000.000.000,00
2. Modal Ditempatkan
Rp 500.000.000,00
3. Modal disetor
Rp 300.000.000,00
Dengan komposisi permodalan tersebut, maka perusahaan membutuhkan pinjaman modal sebesar Rp 200.000.000,00.
Analisis:
Bila pinjaman sebesar Rp 200.000.000,00 ini dipenuhi oleh dari pemegang saham maka
biaya atas bunga pinjaman tsb tidak boleh menjadi biaya atau mengurangi penghasilan

perusahaan karena menjadi kewajiban pemegang saham untuk memenuhi permodalan


perusahaan sampai mencapai modal dasar (statuter).
Bila pinjaman sebesar Rp 200.000.000,00 ini dipenuhi oleh bukan pemegang saham
atau pihak ketiga (bank) maka biaya atas bunga pinjaman tsb boleh mengurangi
penghasilan perusahaan dan akan mengurangi penghasilan kena pajak yang pada
akhirnya mengurangi pajak yang terutang sehingga terjadi penghematan pajak.
Contoh:
PT. Pancawati meminjam kepada Bank Bukopin. Pinjaman sebesar Rp 200.000.000,00 dengan
biaya bunga sebesar 15%.
Bunga pinjaman = 15% X Rp 200.000.000,00
= Rp 30.000.000,00
Penghematan Pajak = 25% X Rp 30.000.000,00
= Rp 7.500.000,00