Anda di halaman 1dari 2

Tugas Manajemen Pajak atas PPN

Kelompok IV
Bahri
Sevie N
Yulriani
Alfaega

Strategi yang dapat dilakukan atas PPN


1.

Mengurangi harga bangunan dan memperbesar harga Tanah


Contoh kasus :
PT Magetan Jaya mendirikan bangunan untuk kegiatan usahanya di bidang property seluas 400
di daerah Mampang
Prapatan,Jakarta Selatan.Pembangunan tersebut dilakukan oleh salah satu pemborong yang juga berdomisili di daerah Mampang yang
belum dikukuhkan sebagai PKP.Biaya yang harus dikeluarkan pada bulan Januari 2012 adalah 1 M,termasuk pembelian tanah sebesar
400 juta dan PPN sebesar 150 juta.Berapakah PPN yang harus dibayar PT Magetan Jaya pada bulan Januari?

Tanpa tax planning :


Jumlah PPN yang terutang : 10% x 40% x jumlah pengeluaran(kecuali harga tanah)
10% x 40% x (1M-400 juta) = 24 juta
Dengan tax planning
PT Magetan Jaya mengalokasikan/mengkapitalisasikan harga pembelian bangunan ke harga pembelian tanah sebesar
100 juta.Sehingga harga tanah menjadi 500 juta (400 juta+100 juta).
Jumlah PPN yang terutang : 10% x 40% x (1M-500 juta) =20 juta
Jadi,dengan tax planning PT Magetan Jaya dapat menghemat biaya pajak sebesar 4 juta.
2.

Kegiatan Membangun sendiri yang dilakukan bertahap


Contoh kasus:
Untuk menghindari pengenaan PPN yang besar,PT Magetan Indah membangun halaman kantornya yang direncanakan
seluas 400

secara bertahap.Pada bulan Januari 2009 membangun seluas 200

.Tiga bulan kemudian PT

Magetan Indah meneruskan proyeknya dengan membangun seluas 200


.Atas kegiatan tersebut PT Magetan Indah
berhasil lolos dari pengenaan PPN karena waktu itu tidak ada peraturan tentang kegiatan membangun sendiri yang
mengatur tentang pembangunan secara bertahap,yang ada hanya dikenai PPN jika membangun 300

atau lebih

sedangkan PT Magetan indah hanya membangun 200


.
Sayangnya contoh ini sudah tidak bisa diterapkan dalam kehidupan perpajakan sekarang seiring dengan diterbitkannya
PMK nomor 39/PMK.03/2010 dan Perdirjen Pajak nomor PER-27/PJ/2010 tentang ketentuan kegiatan membangun
sendiri.Peratuaran ini menyatakan bahwa kegiatan membangun sendiri yang dilakukan secara bertahap,sepanjang
jangka waktu antar tahapan-tahapan tidak lebih dari 2 tahun maka diperlakukan sebagai satu kesatuan kegiatan.

3.

Melakukan pemusatan pajak terutang


Sekarang dikenal adanya prinsip desentralisasi pengukuhan PKP.Artinya,antara perusahaan pusat dan cabangcabangnya diperlakukan sebagai unit-unit yang berbeda dalam hal pengukuhan PKP.Baik pusat maupun cabang masingmasing dikukuhkan sebagai PKP oleh Kantor Pelayanan Pajak Setempat.Jadi,setiap penyerahan BKP dari pusat ke
cabang dan atau antar cabang akan dikenai PPN.
Akan tetapi,ketentuan mengenai desentralisasi pengukuhan PKP itu menjadi hilang jika entitas yang bersangkutan
memperoleh izin pemusatan tempat pajak terutang.Keuntungan yang diperoleh seperti,setiap cabang tidak perlu lapor ke

DJP mengenai penyerahan BKP antarcabang sehingga compliance cost perusahaan dapat semakin ditekan.Oleh karena
itu,sebaiknya suatu entitas yang mempunyai banyak cabang meminta izin untuk melakukan pemusatan pajak terutang.
4.

Lebih sering melakukan ekspor BKP/JKP daripada penyerahan dalam negeri


Contoh kasus :
PT Magetan Aman adalah PKP yang bergerak dalam industry baja.Selain melakukan penyerahan hasil industrinya di
dalam negeri,PT Magetan Aman juga melakukan ekspor hasil produksinya.Pada masa pajak Januari 2012 mempunyai
pajak masukan yang dapat dikreditkan sebesar 100 juta dan juga melakukan ekspor ke Negara Palestina sebesar 2
M.Berapakah jumlah PPN yang harus dibayar PT Magetan Aman pada masa pajak januari 2012?
Jawab:
Pajak keluaran atas ekspor BKP : 0% x 2 M = 0
Pajak masukan yang dapat dikreditkan= 100 juta
Pajak Keluaran pajak masukan = 0 100 juta = lebih bayar 100 juta
Mari kita andaikan jika penyerahan sebesar 2 M itu dilakukan dalam negeri (bukan ekspor),maka
Pajak keluaran atas penyerahan BKP : 10% x 2 M = 200 juta
Pajak keluaran pajak masukan = 200 jua 100 juta=kurang bayar 100 juta
Jadi,berdsarkan contoh di atas terlihat bahwa ekspor BKP/JKP sangat menguntungkan pihak WP.Jadi,alasan apakah
yang menghalangi kita untuk ekspor barang?