Anda di halaman 1dari 5

A.

Pemeriksaan
Karsinoma paru adalah keganasan fatal yang paling sering ditemukan. Bisa menimbulkan
gejala akibat penyakit lokal, metastasis atau efek sistemik dari keganasan.
1. Anamnesis
Anamnesis merupakan tahap awal dalam pemeriksaan untuk mengetahui riwayat
penyakit dan menegakkan diagnosis. Anamnesis harus dilakukan dengan teliti, teratur
dan lengkap karena sebagian besar data yang diperlukan dari anamnesis untuk
menegakkan diagnosis. Sistematika yang lazim dalam anamnesis, yaitu identitas,
riwayat penyakit, dan riwayat perjalanan penyakit.

Identitas : nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, suku bangsa, pendidikan,
pekerjaan.

Riwayat penyakit
Keluhan utama yang menyebabkan pasien dibawa berobat. Keluhan utama tidak
harus sejalan dengan diagnosis utama.

Riwayat perjalanan penyakit


Riwayat perjalanan penyakit mencakup:
- Cerita kronologis, rinci dan jelas tentang keadaan pasien sebelum ada keluhan
sampai dibawa berobat.
- Pengobatan sebelumnya dan hasilnya.
- Tindakan sebelumnya.
- Perkembangan penyakit gejala sisa atau cacat.
- Riwayat penyakit lain yang pernah diderita sebelumnya dan pengobatan apa
yang sudah pernah diterima saat itu.

Anamnesis berdasarkan gejala penyakit

Gejala penyakit lokal :


1. Hemoptisis
2. Batuk
3. Nyeri dada
4. Mengi
5. Sesak nafas
6. Sindroma Horner (ptosis, miosis, keringat berkurang)
7. Efusi pleura
8. Obstruksi vena kava superior (nyeri kepala, dilatasi vena, edema wajah)

9. Jari tabuh
10. Limfadenopati
11. Perubahan suara (kelumpuhan nervus laringeal rekuren)
12. Kelainan rontgen toraks

Gejala keganasan sistemik


1. Penurunan berat badan
2. Anoreksia
3. Demam
4. Manifestasi endokrin (sindroma Cushing, SIADH)
5. Hiperkalsemia

Gejala metastasis
1. ikterus
2. nyeri hepatik
3. lesi kulit

Riwayat penyakit dahulu

Tanyakan riwayat merokok pasien

Tanyakan pajanan asbestoses

Pernahkah mengalami radioterapi

Pernahkah menjalani kemoterapi

Tanyakan riwayat atau pajanan ditempat kerja

2. Pemeriksaan fisik

Bagaimana kondisi umum pasien : kurus/gizi baik/anemis/ikterus

Periksa suara pasien dan batuk pasien

Apakah ada jari tabuh

Apakah pada tubuh pasien ditemukan tanda radioterapi

Periksa tanda pernapasan: distres pernapasan, sianosis, takipnea

Lakukan pemeriksaan fisik dada bagian anterior dan posterior dengan inspeksi,
palpasi, perkusi dan auskultasi. Bandingkan sisi kiri dan kanan.
Inspeksi
Bentuk dinding dada dan tulang belakang
Jaringan parut (radioterapi atau pembedahan)
Vena menonjol di leher dan dada (obstruksi vena cava superior)

Laju dan irama pernapasan


Pergerakan dinding dada (simetris, hiperekspansi)
Retraksi interkostalis.
Palpasi
Periksa adanya nyeri tekan, posisi denyut apex dan ekspansi dinding dada.
Perkusi
Periksa adanya bunyi tumpul atau hiperresonansi.
Auskultasi
Dengarkan suara nafas, pernapasan bronkial dan suara tambahan (ronki,
gesekan, mengi)
Suara nafas yang menurun/ tidak terdengar terjadi pada efusi, kolaps,
konsolidasi dengan hambatan jalan nafas, fibrosis, pneumotoraks dan
naiknya difragma.
Pernapasan bronkial bisa ditemukan pada konsolidasi, kolaps dan fibrosis
padat diatas efusi pleura.

Tanda penyebaran tumor ke alat tubuh dan kemungkinan asal tumor dari alat
tubuh lain.

3. Pemeriksaan penunjang

Radiologi
Pemeriksaan radiologis merupakan hal mutlak.
Foto toraks PA, lateral dan oblik (bila perlu)
Untuk menentukan letak tumor dengan tepat. Kelainan dapat berupa bayangan
padat berbentuk tonjolan/massa. Massa di toraks harus dibedakan apakah
massa itu intra/ekstra pulmonal. Untuk ini perlu diperhatikan :
Sudut massa pada dinding toraks : bila sudut tumpul maka massa berada di
ekstrapulmonal, bila sudut lancip maka massa berada di intrapulmonal.
Tentukan batasnya : bila batasnya ireguler biasanya tumor ganas, bila
massa tumor reguler biasanya jinak.
Pengukuran massa tumor bila ganas ada doubling time artinya tumor
membesar 2 kali dalam waktu dekat.
Tumor primer biasnya soliter bisa juga bentuk dumbell.

Tumor metastase biasanya multipel (coin lession), seperti millier, cotton


ball (infiltrat kasar), seperti karsinoma limfangitis, bronchopneumonia,
pleura efusi.

Gambar 1. Gambaran rontgen kanker paru.


Periksaan sinar tembus untuk melihat adanya kelumpuhan diafragma (dengan
indikasi)
Pemeriksaan tomogram, terutama untuk menentukan pembesaran kelenjar
getah bening di hilus atau mediastinum
Pemeriksaan bronkografi, untuk memperlihatkan letak tumor di percabangan
bronkus
Pemeriksaan untuk mencari metastasis pada tulang, liver, otak dan abdomen
dengan bone scanning, liver scanning, CT-scan.

Bronkoskopi
Untuk menentukan letak tumor yang tepat. Kelainan yang dapat ditemukan secara
bronkoskopik ialah :
Kelainan dinding bronkus yang berupa :
Tumor intrabronkial
Infiltrasi dinding bronkus oleh tumor

Perubahan pada lumen bronkus, berupa stenosis atau obstruksi


Tidak ada kelainan, bila tumor terletak perifer.

Biopsi transbronkial
Untuk tumor perifer yang tidak terlihat pada bronkoskopi. Dilakukan dengan
melalui bronkoskop serta dengan pertolongan sinar tembus.

Biopsi trantorakal
Berguna untuk penentuan diagnosis histologis atau sitologis karena mengambil
bahan langsung dari tumor. Pada tumor berukuran kurang dari 2 cm, tumor
terletak disentral atau berdekatan dengan pembuluh darah besar atau jantung,
pemeriksaan ini terbatas kegunaanya.

Mediastinoskopi
Untuk mendapatkan tumor yang bermetastasis ke mediastinum.