Anda di halaman 1dari 3

Tugas Resume Gempa

Definisi Girder adalah bagian struktur atas yang berfungsi menyalurkan beban berupa
beban kendaraan, berat sendiri girder dan beban beban lainnya yang berada di atas girder
tersebut ke bagian struktur bawah yaitu abutment. Box girder merupakan salah satu girder
yang mengalami pengembangan. Keunggulan utama box girder adalah momen inersia yang
tinggi dalam kombinasi dengan berat sendiri yang relatif ringan, karena adanya rongga
ditengah penampang. Fungsi dari rongga itu sendiri adalah sebagai diafragma yang
digunakan untuk instalasi listrik dan pipa serta untuk mempermudah perawatan. Box girder
dapat diproduksi dalam berbagai bentuk, tetapi bentuk trapesium adalah bentuk yang paling
banyak digunakan. Rongga ditengah box memungkinkan pemasangan tendon prategang
diluar penampang. Jenis girder ini biasanya dipakai sebagai bagian dari girder segmental
yang kemudian disatukan dengan sistem prategang post-tensioning. Analisa full-prestressing,
suatu desain dimana pada penampang tidak diperkenankan adanya gaya tarik, menjamin
kontinuitas dari gelagar pada pertemuan segmen. Box girder ini digunakan untuk jembatan
bentang-bentang panjang.
Jembatan box girder beton umumnya dipadukan dengan system prategang. Konsep
prategang adalah memberikan gaya tarik awal pada tendon sebagai tulangan tariknya serta
memberikan momen perlawanan dari eksentrisitas yang ada sehingga selalu tercipta tegangan
total negative baik serat atas maupun bawah yang besarnya selalu dibawah kapasitas tekan
beton. Struktur akan selalu bersifat elastic karena beton tidak pernah mencapai tegangan tarik
dan tendon tak pernah mencapai titik plastisnya.
Dalam pelaksanaan di lapangan box girder dapat digunakan single box girder dan multi
box girder tergantung perencana merencanakan pemasangan box girder tersebut. Single box
girder atau box girder tunggal adalah box girder yang hanya membutuhkan 1 buah box girder
untuk suatu lebar fly over, sedangkan multi box girder digunakan lebih dari satu buah box
girder untuk suatu lebar fly over.
Metode pelaksanaan jembatan box girder juga kompleks dan bervariatif tergantung dari
keadaan tanahnya, jenis tendon pratekannya apakah internal prestressing atau external
prestressing, tergantung juga lekatan kabel dengan beton apakah bonded ataukah unbounded,
pengaturan bentangan jembatan apakah menerus atau bentang sederhana, tinggi elemen box

girder apakah bervariasi atau constant serta proses pelaksanaan di lapangan apakah cor
ditempat atau pracetak.
Metode pelaksanaan yang umum digunakan adalah metode konvensional dengan
perancah, balance cantilever, atau kombinasinya, dan incremental launching.
Tiang pancang saat ini banyak digunakan di Indonesia sebagai pondasi bangunan,
seperti jembatan, gedung bertingkat, pabrik atau gedung-gedung industri, menara, dermaga,
bangunan mesin-mesin berat, dll. Dimana semuanya merupakan konstruksi-konstruksi yang
memiliki dan menerima beban yang relatif berat. Penggunaan tiang pancang untuk konstruksi
biasanya bertitik tolak pada beberapa hal mendasar seperti anggapan adanya beban yang
besar sehingga pondasi langsung jelas tidak dapat digunakan, kemudian jenis tanah pada
lokasi yang bersangkutan relatif lunak (lembek) sehingga pondasi langsung tidak ekonomis
lagi untuk dipergunakan.

Dikarenakan begitu pentingnya peranan dari pondasi tiang pancang tersebut, maka jika
pembuatannya dibandingkan dengan pembuatan pondasi lain, pondasi tiang pancang ini
mempunyai beberapa keuntungan sebagai berikut :
1. Biaya pembuatannya kemungkinan besar (dengan melihat letak lokasi dan lainnya),
lebih murah bila dikonversikan dengan kekuatan yang dapat dihasilkan.
2. Pelaksanaannya lebih mudah.
3. Di Indonesia, peralatan yang digunakan tidak sulit untuk didapatkan.
4. Para pekerja di Indonesia sudah cukup terampil untuk melaksanakan bangunan yang
mempergunakan pondasi tiang pancang.
5. Waktu pelaksanaannya relatif lebih cepat.
Secara umum pemakaian pondasi tiang pancang dipergunakan apabila tanah dasar
dibawah bangunan tersebut tidak mempunyai daya dukung (bearing capacity) yang cukup
untuk memikul berat bangunan dan beban diatasnya, dan juga bila letak tanah keras yang
memiliki daya dukung yang cukup untuk memikul berat dari beban bangunan diatasnya
terletak pada posisi yang sangat dalam. Dari alasan itulah maka dalam mendesain Pondasi
tiang pancang mutlak diperlukan informasi mengenai :

1. Data tanah dimana bangunan akan didirikan.


2.

Daya dukung dari tiang pancang itu sendiri (baik single pile ataupun group pile).

3. Analisa negative skin friction (karena mengakibatkan beban tambahan).

Precast renforced concrete pile adalah tiang pancang dari beton bertulang yang
dicetak dan dicor dalam acuan beton (bekisting), kemudian setelah cukup kuat lalu diangkat
dan dipancangkan. Karena tegangan tarik beton adalah kecil dan praktis dianggap sama
dengan nol, sedangkan berat sendiri dari pada beton adalah besar, maka tiang pancang beton
ini haruslah dieri penulangan-penulangan yang cukup kuat untuk menahan momen lentur
yang akan timbul pada waktu pengangkatan dan pemancangan. Karena berat sendiri adalah
besar, biasanya pancang beton ini dicetak dan dicor di tempat pekerjaan, jadi tidak membawa
kesulitan untuk transport.
Tiang pancang ini dapat memikul beban yang besar (>50 ton untuk setiap tiang), hal
ini tergantung dari dimensinya. Dalam perencanaan tiang pancang beton precast ini panjang
dari pada tiang harus dihitung dengan teliti, sebab kalau ternyata panjang dari pada tiang ini
kurang terpaksa harus dilakukan penyambungan, hal ini adalah sulit dan banyak memakan
waktu.