Anda di halaman 1dari 31

Senin, 02 Maret 2009

Aliran Asy'ariyah

PAHAM ASYARIYAH
A. SEJARAH BERDIRI DAN PERKEMBANGAN ASYARIYAH
1. Pendiri
Asy`ariyah adalah sebuah paham akidah yang dinisbatkan kepada Abul Hasan AlAsy`ariy. Nama lengkapnya ialah Abul Hasan Ali bin Ismail bin Abi Basyar Ishaq bin Salim
bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa Al-Asyari,
seorang sahabat Rasulullah saw. Kelompok Asyariyah menisbahkan pada namanya sehingga
dengan demikian ia menjadi pendiri madzhab Asyariyah.
Abul Hasan Al-Asyaari dilahirkan pada tahun 260 H/874 M di Bashrah dan
meninggal dunia di Baghdad pada tahun 324 H/936 M. Ia berguru kepada Abu Ishaq AlMarwazi, seorang fakih madzhab Syafii di Masjid Al-Manshur, Baghdad. Ia belajar ilmu
kalam dari Al-Jubbai, seorang ketua Muktazilah di Bashrah.
Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan Abu Ali Al-Jubbai, salah
seorang pembesar Muktazilah. Hal itu menjadikan otaknya terasah dengan permasalahan
kalam sehingga ia menguasai betul berbagai metodenya dan kelak hal itu menjadi senjata
baginya untuk membantah kelompok Muktazilah.
Al-Asyari yang semula berpaham Muktazilah akhirnya berpindah menjadi Ahli
Sunnah. Sebab yang ditunjukkan oleh sebagian sumber lama bahwa Abul Hasan telah
mengalami kemelut jiwa dan akal yang berakhir dengan keputusan untuk keluar dari
Muktazilah. Sumber lain menyebutkan bahwa sebabnya ialah perdebatan antara dirinya
dengan Al-Jubbai seputar masalah ash-shalah dan ashlah (kemaslahatan).
Sumber lain mengatakan bahwa sebabnya ialah pada bulan Ramadhan ia bermimpi
melihat Nabi dan beliau berkata kepadanya, Wahai Ali, tolonglah madzhab-madzhab yang
mengambil riwayat dariku, karena itulah yang benar. Kejadian ini terjadi beberapa kali, yang
pertama pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan, yang kedua pada sepuluh hari yang
kedua, dan yang ketika pada sepuluh hari yang ketiga pada bulan Ramadhan. Dalam
mengambil keputusan keluar dari Muktazilah, Al-Asyari menyendiri selama 15 hari. Lalu, ia
keluar menemui manusia mengumumkan taubatnya. Hal itu terjadi pada tahun 300 H.
Setelah itu, Abul Hasan memposisikan dirinya sebagai pembela keyakinan-keyakinan
salaf dan menjelaskan sikap-sikap mereka. Pada fase ini, karya-karyanya menunjukkan pada
pendirian barunya. Dalam kitab Al-Ibanah, ia menjelaskan bahwa ia berpegang pada
madzhab Ahmad bin Hambal.

Abul Hasan menjelaskan bahwa ia menolak pemikirian Muktazilah, Qadariyah,


Jahmiyah, Hururiyah, Rafidhah, dan Murjiah. Dalam beragama ia berpegang pada Al-Quran,
Sunnah Nabi, dan apa yang diriwayatkan dari para shahabat, tabiin, serta imam ahli hadits.
2. Pemikiran Al-Asy'ari dalam Masalah Akidah
Ada tiga periode dalam hidupnya yang berbeda dan merupakan perkembangan
ijtihadnya dalam masalah akidah.
a. Periode Pertama
Beliau hidup di bawah pengaruh Al-Jubbai, syaikh aliran Muktazilah. Bahkan sampai
menjadi orang kepercayaannya. Periode ini berlangsung kira-kira selama 40-an tahun.
Periode ini membuatnya sangat mengerti seluk-beluk akidah Muktazilah, hingga sampai pada
titik kelemahannya dan kelebihannya.
b. Periode Kedua
Beliau berbalik pikiran yang berseberangan paham dengan paham-paham Muktazilah
yang selama ini telah mewarnai pemikirannya. Hal ini terjadi setelah beliau merenung dan
mengkaji ulang semua pemikiran Muktazilah selama 15 hari. Selama hari-hari itu, beliau juga
beristikharah kepada Allah untuk mengevaluasi dan mengkritik balik pemikiran akidah
muktazilah.
Di antara pemikirannya pada periode ini adalah beliau menetapkan 7 sifat untuk Allah
lewat logika akal, yaitu:
Al-Hayah (hidup)
Al-Ilmu (ilmu)
Al-Iradah (berkehendak)
Al-Qudrah (berketetapan)
As-Sama' (mendengar)
Al-Bashar (melihat)
Al-Kalam (berbicara)
Sedangkan sifat-sifat Allah yang bersifat khabariyah, seperti Allah punya wajah,
tangan, kaki, betis dan seterusnya, maka beliau masih menta'wilkannya. Maksudnya beliau
saat itu masih belum mengatakan bahwa Allah punya kesemuanya itu, namun beliau
menafsirkannya dengan berbagai penafsiran. Logikanya, mustahil Allah yang Maha
Sempurna itu punya tangan, kaki, wajah dan lainnya.
c. Periode Ketiga

Pada periode ini beliau tidak hanya menetapkan 7 sifat Allah, tetapi semua sifat Allah
yang bersumber dari nash-nash yang shahih. Kesemuanya diterima dan ditetapkan, tanpa
takyif, ta'thil, tabdil, tamtsil dan tahrif.
Beliau para periode ini menerima bahwa Allah itu benar-benar punya wajah, tangan,
kaki, betis dan seterusnya. Beliau tidak melakukan:
takyif: menanyakan bagaimana rupa wajah, tangan dan kaki Allah
ta'thil: menolak bahwa Allah punya wajah, tangan dan kaki
tamtsil: menyerupakan wajah, tangan dan kaki Allah dengan sesuatu
tahrif: menyimpangkan makna wajah, tangan dan kaki Allah dengan makna
lainnya.
Pada periode ini beliau menulis kitabnya "Al-Ibanah 'an Ushulid-Diyanah." Di
dalamnya beliau merinci akidah salaf dan manhajnya. Al-Asyari menulis beberapa buku,
menurut satu sumber sekitar tiga ratus.
3. Sejarah Berdirinya Asyariyah
Pada masa berkembangnya ilmu kalam, kebutuhan untuk menjawab tantangan akidah
dengan menggunakan ratio telah menjadi beban. Karena pada waktu itu sedang terjadi
penerjemahan besar-besaran pemikiran filsafat Barat yang materialis dan rasionalis ke dunia
Islam. Sehingga dunia Islam mendapatkan tantangan hebat untuk bisa menjawab argumenargumen yang bisa dicerna akal.
Al-Asyari adalah salah satu tokoh penting yang punya peranan dalam menjawab
argumen Barat ketika menyerang akidah Islam. Karena itulah metode akidah yang beliau
kembangkan
merupakan
panggabungan
antara
dalil
naqli
dan
aqli.
Munculnya kelompok Asyariyah ini tidak lepas dari ketidakpuasan sekaligus kritik terhadap
paham Muktazilah yang berkembang pada saat itu. Kesalahan dasar Muktazilah di mata AlAsy'ari adalah bahwa mereka begitu mempertahankan hubungan Tuhanmanusia, bahwa
kekuasaan dan kehendak Tuhan dikompromikan.
4. Penyebaran Akidah Asy-'ariyah
Akidah ini menyebar luas pada zaman wazir Nizhamul Muluk pada dinasti bani
Saljuq dan seolah menjadi akidah resmi negara. Paham Asyariyah semakin berkembang lagi
pada masa keemasan madrasah An-Nidzamiyah, baik yang ada di Baghdad maupun
dikota Naisabur. Madrasah Nizhamiyah yang di Baghdad adalah universitas terbesar di dunia.
Didukung oleh para petinggi negeri itu seperti Al-Mahdi bin Tumirat dan Nuruddin Mahmud
Zanki serta sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.
Juga didukung oleh sejumlah besar ulama, terutama para fuqaha mazhab Asy-Syafi'i
dan mazhab Al-Malikiyah periode akhir-akhir. Sehingga wajar sekali bila dikatakan bahwa
akidah Asy-'ariyah ini adalah akidah yang paling populer dan tersebar di seluruh dunia.

B. ISTILAH ASYARIYAH DAN AHLU SUNNAH WAL JAMAAH


As-Sunnah dalam istilah mempunyai beberapa makna. As-Sunnah menurut para Imam
yaitu thariqah (jalan hidup) Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di mana beliau dan para
shahabat berada di atasnya. Mereka adalah orang yang selamat dari syubhat dan syahwat,
sebagaimana yang tersirat dalam ucapan Al-Fudhail bin Iyadh, "Ahlus Sunnah itu orang yang
mengetahui apa yang masuk ke dalam perutnya dari (makanan) yang halal. Karena tanpa
memakan yang haram termasuk salah satu perkara sunnah yang besar yang pernah dilakukan
oleh
Nabi
dan
para
shahabat
radhiyallahu
'anhum.
Dalam pemahaman kebanyakan ulama muta'akhirin dari kalangan Ahli Hadits dan lainnya,
as-sunnah itu ungkapan tentang apa yang selamat dari syubhat-syubhat dalam i'tiqad
khususnya dalam masalah-masalah iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
para rasul-Nya, hari Akhir, begitu juga dalam masalah-masalah Qadar dan FadhailushShahabah (keutamaan shahabat).
Para Ulama itu menyusun beberapa kitab dalam masalah ini dan mereka menamakan
karya-karya mereka itu sebagai "As-Sunnah". Menamakan masalah ini dengan "As-Sunnah"
karena pentingnya masalah ini dan orang yang menyalahi dalam hal ini berada di tepi
kehancuran. Adapun Sunnah yang sempurna adalah thariqah yang selamat dari syubhat dan
syahwat.
Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam dan sunnah shahabatnya radhiyallahu 'anhum. Al-Imam Ibnul Jauzi menyatakan tidak
diragukan bahwa Ahli Naqli dan Atsar pengikut atsar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
dan atsar para shahabatnya, mereka itu Ahlus Sunnah.
Kata "Ahlus-Sunnah" mempunyai dua makna. Pertama, mengikuti sunah-sunah dan
atsar-atsar yang datangnya dari Rasulullah shallallu 'alaihi wa sallam dan para shahabat
radhiyallahu 'anhum, menekuninya, memisahkan yang shahih dari yang cacat dan
melaksanakan apa yang diwajibkan dari perkataan dan perbuatan dalam masalah aqidah dan
ahkam.
Kedua, lebih khusus dari makna pertama, yaitu yang dijelaskan oleh sebagian ulama
di mana mereka menamakan kitab mereka dengan nama As-Sunnah, seperti Abu Ashim, AlImam Ahmad bin Hanbal, Al-Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Al-Khalal dan lain-lain.
Mereka maksudkan (As-Sunnah) itu i'tiqad shahih yang ditetapkan dengan nash dan ijma'.
Kedua makna itu menjelaskan kepada kita bahwa madzhab Ahlus Sunnah itu
kelanjutan dari apa yang pernah dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaih wa sallam dan para
shahabat radhiyallahu 'anhum. Adapun penamaan Ahlus Sunnah adalah sesudah terjadinya
fitnah ketika awal munculnya firqah-firqah.
Ibnu Sirin rahimahullah menyatakan bahwa mereka pada mulanya tidak pernah
menanyakan tentang sanad. Ketika terjadi fitnah (para ulama) mengatakan: Tunjukkan
(nama-nama) perawimu kepada kami. Kemudian ia melihat kepada Ahlus Sunnah sehingga
hadits mereka diambil. Dan melihat kepada Ahlul Bi'dah dan hadits mereka tidak di ambil.

Al-Imam Malik rahimahullah pernah ditanya, "Siapakah Ahlus Sunnah itu? Ia


menjawab, Ahlus Sunnah itu mereka yang tidak mempunyai laqab (julukan) yang sudah
terkenal yakni bukan Jahmi, Qadari, dan bukan pula Rafidli.
Kemudian ketika Jahmiyah mempunyai kekuasaan dan negara, mereka menjadi
sumber bencana bagi manusia, mereka mengajak untuk masuk ke aliran Jahmiyah dengan
anjuran dan paksaan. Mereka menggangu, menyiksa dan bahkan membunuh orang yang tidak
sependapat dengan mereka. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan Al-Imam
Ahmad bin Hanbal untuk membela Ahlus Sunnah. Di mana beliau bersabar atas ujian dan
bencana yang ditimpakan mereka.
Beliau membantah dan patahkan hujjah-hujjah mereka, kemudian beliau umumkan
serta munculkan As-Sunnah dan beliau menghadang di hadapan Ahlul Bid'ah dan Ahlul
Kalam. Sehingga, beliau diberi gelar Imam Ahlus Sunnah.
Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa istilah Ahlus Sunnah terkenal di
kalangan Ulama Mutaqaddimin (terdahulu) dengan istilah yang berlawanan dengan istilah
Ahlul Ahwa' wal Bida' dari kelompok Rafidlah, Jahmiyah, Khawarij, Murji'ah dan lain-lain.
Sedangkan Ahlus Sunnah tetap berpegang pada ushul (pokok) yang pernah diajarkan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan shahabat radhiyallahu 'anhum.
Dengan demikian, ahlus sunnah wal jamaah adalah istilah yang digunakan untuk
menamakan pengikut madzhab As-Salafus Shalih dalam i'tiqad. Banyak hadits yang
memerintahkan untuk berjamaah dan melarang berfirqah-firqah dan keluar dari jamaah.
Namun, para ulama berselisih tentang perintah berjamaah ini dalam beberapa pendapat:
1. Jamaah itu adalah As-Sawadul A'dzam (sekelompok manusia atau kelompok terbesar)
dari pemeluk Islam.
2. Para Imam Mujtahid
3. Para Shahabat Nabi radhiyallahu 'anhum.
4. Jamaahnya kaum muslimin jika bersepakat atas sesuatu perkara.
5. Jamaah kaum muslimin jika mengangkat seorang amir.
Pendapat-pendapat
di
atas
kembali
kepada
dua
makna.
Pertama,
bahwa jamaah adalah mereka yang bersepakat mengangkat seseorang amir (pemimpin)
menurut tuntunan syara', maka wajib melazimi jamaah ini dan haram menentang jamaah ini
dan amirnya.
Kedua, bahwa jamaah yang Ahlus Sunnah melakukan i'tiba' dan meninggalkan ibtida'
(bid'ah) adalah madzhab yang haq yang wajib diikuti dan dijalani menurut manhajnya. Ini
adalah makna penafsiran jamaah dengan Shahabat Ahlul Ilmi wal Hadits, Ijma' atau AsSawadul A'dzam.

Syaikhul Islam mengatakan, "Mereka (para ulama) menamakan Ahlul Jamaah karena
jamaah itu adalah ijtima' (berkumpul) dan lawannya firqah. Meskipun lafadz jamaah telah
menjadi satu nama untuk orang-orang yang berkelompok. Sedangkan ijma' merupakan pokok
ketiga yang menjadi sandaran ilmu dan dien. Dan mereka (para ulama) mengukur semua
perkataan dan pebuatan manusia zhahir maupun bathin yang ada hubungannya dengan din
dengan ketiga pokok ini (Al-Qur'an, Sunnah dan Ijma').
Istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah mempunyai istilah yang sama dengan Ahlus
Sunnah. Dan secara umum para ulama menggunakan istilah ini sebagai pembanding Ahlul
Ahwa' wal Bida'. Contohnya : Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum mengatakan tentang tafsir
firman Allah Ta'ala, Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri dan adapula
muka yang muram. [Ali Imran: 105].
"Adapun orang-orang yang mukanya putih berseri adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah
sedangkan orang-orang yang mukanya hitam muram adalah Ahlul Ahwa' wa Dhalalah.
Sufyan Ats-Tsauri menyatakan bahwa jika sampai (khabar) kepadamu tentang
seseorang di arah timur ada pendukung sunnah dan yang lainnya di arah barat maka
kirimkanlah salam kepadanya dan doakanlah mereka. Alangkah sedikitnya Ahlus Sunnah wal
Jamaah.
Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah firqah yang
berada di antara firqah-firqah yang ada, seperti juga kaum muslimin berada di tengah-tengah
milah-milah lain. Penisbatan kepadanya, penamaan dengannya dan penggunaan nama ini
menunjukkan atas luasnya i'tiqad dan manhaj.
Nama Ahlus Sunnah merupakan perkara yang baik dan boleh serta telah digunakan
oleh para ulama salaf. Di antara yang paling banyak menggunakan istilah ini ialah Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Istilah ahlu sunnah dan jamaah ini timbul sebagai reaksi terhadap paham-paham
gilongan Muktazilah, yang telah dikembangkan dari tahun 100 H atau 718 M. Dengan
perlahan-lahan paham Muktazilah tersebut memberi pengaruh kuat dalam masyarakat Islam.
Pengaruh ini mencapai puncaknya pada zaman khalifah-khalifah Bani Abbas, yaitu AlMakmun, Al-Muktasim, dan Al-Wasiq (813 M-847 M). Pada masa Al-Makmun, yakni tahun
827 M bahkan aliran Muktazilah diakui sebagai mazhab resmi yang dianut negara.
Ajaran yang ditonjolkan ialah paham bahwa Al-Quran tidak bersifat qadim, tetapi
baru dan diciptakan. Menurut mereka yang qadim hanyalah Allah. Kalau ada lebih dari satu
zat yang qadim, berarti kita telah menyekutukan Allah. Menurut mereka Al-Quran adalah
makhluk yang diciptakan Allah. Sebagai konsekuensi sikap khalifah terhadap mazhab ini,
semua calon pegawai dan hakim harus menjalani tes keserasian dan kesetiaan pada ajaran
mazhab.
Mazhab ahlu sunnah wal jaamaah muncul atas keberanian dan usaha Abul Hasan AlAsyari. Ajaran teologi barunya kemudian dikenal dengan nama Sunah wal Jamaah. Untuk
selanjutnya Ahli Sunah wal jamaah selalu dikaitkan pada kelompok pahan teologi Asyariyah
ataupun Maturidiyah.

Asy'ariyah banyak menggunakan istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah ini. Kebanyakan di
kalangan mereka mengatakan bahwa madzhab salaf "Ahlus Sunnah wa Jamaah" adalah apa
yang dikatakan oleh Abul Hasan Al-Asy'ari dan Abu Manshur Al-Maturidi. Sebagian dari
mereka mengatakan Ahlus Sunnah wal Jamaah itu Asy'ariyah, Maturidiyah,dan Madzhab
Salaf.
Sebenarnya, antara Asyariyah dan Maturidiyah sendiri memiliki beberapa perbedaan,
di antaranya ialah dalam hal-hal sebagai berikut:
1. Tentang sifat Tuhan
Pemikiran Asy`ariyah dan Maturidiyah memiliki pemahaman yang relatif sama.
Bahwa Tuhan itu memiliki sifat-sifat tertentu. Tuhan Mengetahui dengan sifat Ilmu-Nya,
bukan dengan zat-Nya. Begitu juga Tuhan itu berkuasa dengan sifat Qudrah-Nya, bukan
dengan zat-Nya.
2. Tentang Perbuatan Manusia
Pandangan Asy`ariyah berbeda dengan pandangan Maturidiyah. Menurut
Maturidiyah, perbuatan manusia itu semata-mata diwujudkan oleh manusia itu sendiri. Dalam
masalah ini, Maturidiyah lebih dekat dengan Mu`tazilah yang secara tegas mengatakan
bahwa semua yang dikerjakan manusia itu semata-mata diwujdukan oleh manusia itu sendiri.
3. Tentang Al-Quran
Pandangan Asy`ariyah sama dengan pandangan Maturidiyah. Keduanya sama-sama
mengatakan bahwa Al-quran itu adalah Kalam Allah Yang Qadim. Mereka berselisih paham
dengan Mu`tazilah yang berpendapat bahwa Al-Quran itu makhluq.
4. Tentang Kewajiban Tuhan
Pandangan Asy`ariyah berbeda dengan pandangan Maturidiyah. Maturidiyah
berpendapat bahwa Tuhan memiliki kewajiban-kewajiban tertentu. Pendapat Maturidiyah ini
sejalan dengan pendapat Mu`tazilah.
5. Tentang Pelaku Dosa Besar
Pandangan Asy`ariyah dan pandangan Maturidiyah sama-sama mengatakan bahwa
seorang mukmin yang melakukan dosa besar tidak menjadi kafir dan tidak gugur keIslamannya. Sedangkan Mu`tazilah mengatakan bahwa orang itu berada pada tempat diantara
dua tempat Manzilatun baina manzilatain.
6. Tentang Janji Tuhan
Keduanya sepakat bahwa Tuhan akan melaksanakan janji-Nya. Seperti memberikan
pahala kepada yang berbuat baik dan memberi siksa kepada yang berbuat jahat.
7. Tetang Rupa Tuhan

Keduanya sama-sama sependapat bahwa ayat-ayat Al-Quran yang mengandung


informasi tentang bentuk-bentuk pisik jasmani Tuhan harus ditakwil dan diberi arti majaz dan
tidak diartikan secara harfiyah.
Az-Zubaidi menyatakan bahwa jika dikatakan Ahlus Sunnah, maka yang dimaksud
dengan
mereka
itu
adalah
Asy'ariyah
dan
Maturidiyah.
Penulis Ar-Raudhatul Bahiyyah mengemukakan bahwa pokok semua aqaid Ahlus Sunnah
wal Jamaah atas dasar ucapan dua kutub, yakni Abul Hasan Al-Asy'ari dan Imam Abu
Manshur Al-Maturidi.
Al-Ayji menuturkan bahwa Al-Firqatun Najiyah yang terpilih adalah orang-orang
yang Rasulullah berkata tentang mereka, "Mereka itu adalah orang-orang yang berada di atas
apa yang aku dan para shahabatku berada diatasnya." Mereka itu adalah Asy'ariyah dan Salaf
dari
kalangan
Ahli
Hadits
dan
Ahlus
Sunnah
wal
Jamaah.
Hasan Ayyub menuturkan bahwa ahlus sunnah adalah Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu
Mansyur Al-Maturidi dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka berdua. Mereka berjalan
di atas petunjuk Salafus Shalih dalam memahami aqaid.
Uraian di atas menjelaskan bahwa Asyariyah adalah ahlus sunnah wal jamaah itu
sendiri. Pengakuan tersebut disanggah oleh Ibrahim Said dalam majalah Al-Bayan bahwa:
1. Bahwa pemakaian istilah ini oleh pengikut Asy'ariyah dan Maturidiyah dan orangorang yang terpengaruh oleh mereka sedikit pun tidak dapat merubah hakikat
kebid'ahan dan kesesatan mereka dari Manhaj Salafus Shalih dalam banyak
sebab.
2. Bahwa penggunaan mereka terhadap istilah ini tidak menghalangi kita untuk
menggunakan dan menamakan diri dengan istilah ini menurut syar'i dan yang
digunakan oleh para ulama Salaf. Tidak ada aib dan cercaan bagi yang
menggunakan istilah ini. Sedangkan yang diaibkan adalah jika bertentangan
dengan i'tiqad dan madzhab Salafus Shalih dalam pokok (ushul) apa pun.
Sayangnya, Ibrahim Said dalam makalahnya tidak menjelaskan kebatilan paham
Asyariyah yang didakwakannya. Dalam buku Nasyatul Asyariyyah wa
Tathawwuruha, disebutkan bahwa istilah ahlus sunah wal jamaah memiliki dua
makna, yaitu umum dan khusus. Makna secara umum dimaksudkan sebagai
lawan dari Syiah yang di dalamnya juga masuk golongan Muktazilah dan
Asyairah. Makna khusus digunakan untuk menyebut Asyariyah tanpa selainnya
dari
aliran-liran
kalam
dalam
pemikiran
filsafat
Islam.
Jadi, makna ahlus sunnah secara umum dimaksudkan sebagai lawan dari
kelompok Syiah, Muktazilah, dan bahkan Asyariyah itu sendiri. Adapun makna
khususnya digunakan untuk menyebut Asyariyah untuk membedakannya dengan
aliran-aliran kalam dalam pemikiran filsafat Islam.

C. PANDANGAN-PANDANGAN ASYARIYAH
Adapun pandangan-pandangan Asyariyah yang berbeda dengan Muktazilah, di
antaranya ialah:

1. Bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil kalau Tuhan mempunyai sifat, seperti yang
melihat, yang mendengar, dan sebagainya, namun tidak dengan cara seperti yang ada
pada makhluk. Artinya harus ditakwilkan lain.
2. Al-Quran itu qadim, dan bukan ciptaan Allah, yang dahulunya tidak ada.
3. Tuhan dapat dilihat kelak di akhirat, tidak berarti bahwa Allah itu adanya karena
diciptakan.
4. Perbuatan-perbuatan manusia bukan aktualisasi diri manusia, melainkan diciptakan
oleh Tuhan.
5. Keadilan Tuhan terletak pada keyakinan bahwa Tuhan berkuasa mutlak dan
berkehendak mutlak. Apa pun yang dilakukan Allah adalah adil. Mereka menentang
konsep janji dan ancaman (al-wad wa al-waid).
6. Mengenai anthropomorfisme, yaitu memiliki atau melakukan sesuatu seperti yang
dilakukan makhluk, jangan dibayangkan bagaimananya, melainkan tidak seperti apa
pun.
7. Menolak konsep tentang posisi tengah (manzilah bainal manzilataini), sebaba tidak
mungkin pada diri seseorang tidak ada iman dan sekaligus tidak ada kafir. Harus
dibedakan antara iman, kafir, dan perbuatan.
Berkenaan dengan lima dasar pemikiran Muktazilah, yaitu keadilan, tauhid,
melaksanakan ancaman, antara dua kedudukan, dan amar maksruf nahi mungkar, hal itu
dapat dibantah sebagai berikut.
Arti keadilan, dijadikan kedok oleh Muktazilah untuk menafikan takdir. Mereka
berkata, Allah tak mungkin menciptakan kebururkan atau memutuskannya. Karena kalau
Allah menciptakan mereka lalu menyiksanya, itu satu kezaliman. Sedangkan Allah Mahaadil, tak akan berbuat zalim.
Adapun tauhid, mereka jadikan kedok untuk menyatakan pendapat bahwa Al-Quran
itu makhluk. Karena kalau ia bukan makhluk, berarti ada beberapa sesuatu yang tidak
berawal. Konsekuensi pondasi berpikir mereka yang rusak ini bahwa ilmu Allah, kekuasaanNya, dan seluruh sifat-Nya adalah makhluk. Sebab kalau tidak akan terjadi kontradiksi.
Ancaman menurut Muktazilah, kalau Allah sudah memberi ancaman kepada sebagian
hamba-Nya, Dia pasti menyiksanya dan tak mungkin mengingkari janji-Nya. Karena Allah

selalu memenuhi janji-Nya. Jadi, menurut mereka, Allah tak akan memafkan dan memberi
ampun siapa saja yang Dia kehendaki.
Adapun yang mereka maksud dengan di antara dua kedudukan bahwa orang yang
melakukan dosa besar tidak keluar dari keimanan, tapi tidak terjerumus pada kekufuran.
Sedangkan konsep amar makruf nahi mungkar menurut Muktazilah ialah wajib menyuruh
orang lain dengan apa yang diperintahkan kepada mereka. Termasuk kandungannya ialah
boleh memberontak kepada para pemimpin dengan memeranginya apabila mereka berlaku
zalim.
Koreksi atas pandangan Asyari
Beberapa tokoh pengikut dan penerus Asyari, banyak yang mengkritik paham
Asyari. Di antaranya ialah sebagai berikut:
Muhammad Abu Baki al- Baqillani (w. 1013 M), tidak begitu saja menerima ajaranajaran Asyari. Misalnya tentang sifat Allah dan perbuatan manusia. Menurut al-Baqillani
yang tepat bukan sifat Allah, melainkan hal Allah, sesuai dengan pendapat Abu Hasyim dari
Muktazilah. Selanjutnya ia beranggapan bahwa perbuatan manusia bukan semata-mata
ciptaan Allah, seperti pendapat Asyari. Menurutnya, manusia mempunyai andil yang efektif
dalam perwujudan perbuatannya, sementara Allah hanya memberikan potensi dalam diri
manusia.
Pengikut Asyari lain yang juga menunjukkan penyimpangan adalah Abdul Malik alJuwaini yang dijuluki Imam al-Haramain (419-478 H). Misalnya tentang anthropomorfisme
al-Juwaini beranggapan bahwa yang disebut tangan Allah harus diartikan (ditakwilkan)
sebagai kekuasaan Allah. Mata Allah harus dipahami sebagai penglihatan Allah, wajah Allah
harus diartikan sebagai wujud Allah, dan seterusnya. Jadi bukan sekadar bila kaifa atau tidak
seperti
apa
pus,
sepertidikatakan
Asyari.
Pengikut Asyari yang terpenting dan terbesar pengaruhnya pada umat Islam yang beraliran
Ahli sunnah wal jamaah ialah Imam Al-Ghazali. Tampaknya paham teologi cenderung
kembali pada paham-paham Asyari. Al-Ghazali meyakini bahwa:
1. Tuhan mempunyai sifat-sifat qadim yang tidak identik dengan zat Tuhan dan
mempunyai wujud di luar zat.
2. Al-Quran bersifat qadim dan tidak diciptakan.
3. Mengenai perbuatan manusia, Tuhanlah yang menciptakan daya dan perbuatan
4. Tuhan dapat dilihat karena tiap-tiap yang mempunyai wujud pasti dapat dilihat.
5. Tuhan tidak berkewajiban menjaga kemaslahatan (ash-shalah wal ashlah) manusia,
tidak wajib memberi ganjaran pada manusia, dan bahkan Tuhan boleh memberi beban
yang tak dapat dipikul kepada manusia.

Berkat Al-Ghazali paham Asyari dengan sunah wal jamaahnya berhasil berkembang ke
mana pun, meski pada masa itu aliran Muktazilah amat kuat di bawah dukungan para
khalifah Abasiyah. Sementara itu paham Muktazilah mengalami pasang surut selama masa
Daulat Bagdad, tergantung dari kecenderungan paham para khalifah yang berkuasa. Para
Ulama yang Berpaham Asy-'ariyah
Di antara para ulama besar dunia yang berpaham akidah ini dan sekaligus juga
menjadi tokohnya antara lain:
Al-Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M)
Al-Imam Al-Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210)
Abu Ishaq Al-Isfirayini (w 418/1027)
Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani (328-402 H/950-1013 M)
Abu Ishaq Asy-Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M)
Mereka yang berakidah ini sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah adalah paling dekat di antara yang lain kepada ahlus sunnah wal jamaah. Aliran
mereka adalah polarisasi antara wahyu dan filsafat.
Diposkan oleh Rudi Arlan Al-farisi di 13:14
Label: Ilmu Kalam - Aliran Asy'ariyah

http://kalamstai.blogspot.com/2009/03/aliran-asyariyah.html
Mu'tazilah, Kelompok Sesat Pemuja Akal - Thread Not Solved Yet

Penulis: Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi Lc


Sejarah Munculnya Mutazilah
Kelompok pemuja akal ini muncul di kota Bashrah (Irak) pada abad ke-2 Hijriyah, antara
tahun 105-110 H, tepatnya di masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan dan
khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan
murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha Al-Makhzumi Al-Ghozzal. Ia
lahir di kota Madinah pada tahun 80 H dan mati pada tahun 131 H. Di dalam
menyebarkan bidahnya, ia didukung oleh Amr bin Ubaid (seorang gembong
Qadariyyah kota Bashrah) setelah keduanya bersepakat dalam suatu pemikiran bidah,
yaitu mengingkari taqdir dan sifat-sifat Allah. (Lihat Firaq Muashirah, karya Dr. Ghalib
bin Ali Awaji, 2/821, Siyar Alam An-Nubala, karya Adz-Dzahabi, 5/464-465, dan AlMilal Wan-Nihal, karya Asy-Syihristani hal. 46-48)
Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok Mutazilah semakin berkembang dengan
sekian banyak sektenya. Hingga kemudian para dedengkot mereka mendalami bukubuku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah
manhaj mereka benar-benar terwarnai oleh manhaj ahli kalam (yang berorientasi pada
akal dan mencampakkan dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunnah -pen). (Al-Milal WanNihal, hal.29)
Oleh karena itu, tidaklah aneh bila kaidah nomor satu mereka berbunyi: Akal lebih
didahulukan daripada syariat (Al Quran, As Sunnah dan Ijma, pen) dan akal-lah

sebagai kata pemutus dalam segala hal. Bila syariat bertentangan dengan akal
menurut persangkaan mereka maka sungguh syariat tersebut harus dibuang atau
ditakwil. (Lihat kata pengantar kitab Al-Intishar Firraddi alal Mutazilatil-Qadariyyah
Al-Asyrar, 1/65)
(Ini merupakan kaidah yang batil, karena kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka
Allah akan perintahkan kita untuk merujuk kepadanya ketika terjadi perselisihan. Namun
kenyataannya Allah perintahkan kita untuk merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah,
sebagaimana yang terdapat dalam Surat An-Nisa: 59. Kalaulah akal itu lebih utama dari
syariat maka Allah tidak akan mengutus para Rasul pada tiap-tiap umat dalam rangka
membimbing mereka menuju jalan yang benar sebagaimana yang terdapat dalam AnNahl: 36. Kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka akal siapakah yang dijadikan
sebagai tolok ukur?! Dan banyak hujjah-hujjah lain yang menunjukkan batilnya kaidah
ini. Untuk lebih rincinya lihat kitab Daru Taarrudhil Aqli wan Naqli, karya Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah dan kitab Ash-Shawaiq Al-Mursalah Alal-JahmiyyatilMuaththilah, karya Al-Imam Ibnul-Qayyim.)
Mengapa Disebut Mutazilah?
Mutazilah, secara etimologis bermakna: orang-orang yang memisahkan diri. Sebutan
ini mempunyai suatu kronologi yang tidak bisa dipisahkan dengan sosok Al-Hasan AlBashri, salah seorang imam di kalangan tabiin.
Asy-Syihristani t berkata: (Suatu hari) datanglah seorang laki-laki kepada Al-Hasan AlBashri seraya berkata: Wahai imam dalam agama, telah muncul di zaman kita ini
kelompok yang mengkafirkan pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik). Dan dosa
tersebut diyakini sebagai suatu kekafiran yang dapat mengeluarkan pelakunya dari
agama, mereka adalah kaum Khawarij. Sedangkan kelompok yang lainnya sangat
toleran terhadap pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik), dan dosa tersebut tidak
berpengaruh terhadap keimanan. Karena dalam madzhab mereka, suatu amalan
bukanlah rukun dari keimanan dan kemaksiatan tidak berpengaruh terhadap keimanan
sebagaimana ketaatan tidak berpengaruh terhadap kekafiran, mereka adalah Murjiah
umat ini. Bagaimanakah pendapatmu dalam permasalahan ini agar kami bisa
menjadikannya sebagai prinsip (dalam beragama)?
Al-Hasan Al-Bashri pun berpikir sejenak dalam permasalahan tersebut. Sebelum beliau
menjawab, tiba-tiba dengan lancangnya Washil bin Atha berseloroh: Menurutku
pelaku dosa besar bukan seorang mukmin, namun ia juga tidak kafir, bahkan ia berada
pada suatu keadaan di antara dua keadaan, tidak mukmin dan juga tidak kafir. Lalu ia
berdiri dan duduk menyendiri di salah satu tiang masjid sambil tetap menyatakan
pendapatnya tersebut kepada murid-murid Hasan Al-Bashri lainnya. Maka Al-Hasan AlBashri berkata:
Washil telah memisahkan diri dari kita, maka
disebutlah dia dan para pengikutnya dengan sebutan Mutazilah.(Al-Milal WanNihal,hal.47-48 )
Pertanyaan itu pun akhirnya dijawab oleh Al-Hasan Al-Bashri dengan jawaban
Ahlussunnah Wal Jamaah: Sesungguhnya pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik)
adalah seorang mukmin yang tidak sempurna imannya. Karena keimanannya, ia masih
disebut mukmin dan karena dosa besarnya ia disebut fasiq (dan keimanannya pun
menjadi tidak sempurna). (Lihat kitab Lamhah Anil-Firaq Adh-Dhallah, karya AsySyaikh Shalih Al-Fauzan, hal.42)
Asas dan Landasan Mutazilah
Mutazilah mempunyai asas dan landasan yang selalu dipegang erat oleh mereka,
bahkan di atasnya-lah prinsip-prinsip mereka dibangun.
Asas dan landasan itu mereka sebut dengan Al-Ushulul-Khomsah (lima landasan pokok).
Adapun rinciannya sebagai berikut:
Landasan Pertama: At-Tauhid
Yang mereka maksud dengan At-Tauhid adalah mengingkari dan meniadakan sifat-sifat
Allah, dengan dalil bahwa menetapkan sifat-sifat tersebut berarti telah menetapkan
untuk masing-masingnya tuhan, dan ini suatu kesyirikan kepada Allah, menurut mereka
(Firaq Muashirah, 2/832). Oleh karena itu mereka menamakan diri dengan Ahlut-

Tauhid atau Al-Munazihuuna lillah (orang-orang yang mensucikan Allah).


Bantahan:
1. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata: Dalil ini
sangat lemah, bahkan menjadi runtuh dengan adanya dalil sami (naqli) dan aqli
yang menerangkan tentang kebatilannya. Adapun dalil sami: bahwa Allah mensifati
dirinya sendiri dengan sifat-sifat yang begitu banyak, padahal Dia Dzat Yang
MahaTunggal. Allah berfirman:
0 0 0 0 0
Sesungguhnya adzab Rabbmu sangat dahsyat. Sesungguhnya Dialah yang menciptakan
(makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali), Dialah Yang Maha
Pengampun lagi Maha Pengasih, Yang mempunyai Arsy lagi Maha Mulia, Maha Kuasa
berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (Al-Buruuj: 12-16)

0 0 0 0 0 0 0 0 0

Sucikanlah Nama Rabbmu Yang Maha Tinggi, Yang Menciptakan dan Menyempurnakan
(penciptaan-Nya), Yang Menentukan taqdir (untuk masing-masing) dan Memberi
Petunjuk, Yang Menumbuhkan rerumputan, lalu Ia jadikan rerumputan itu kering
kehitam-hitaman. (Al-Ala: 1-5)
Adapun dalil aqli: bahwa sifat-sifat itu bukanlah sesuatu yang terpisah dari yang
disifati, sehingga ketika sifat-sifat tersebut ditetapkan maka tidak menunjukkan bahwa
yang disifati itu lebih dari satu, bahkan ia termasuk dari sekian sifat yang dimiliki oleh
dzat yang disifati tersebut. Dan segala sesuatu yang ada ini pasti mempunyai berbagai
macam sifat (Al-Qawaidul-Mutsla, hal. 10-11)
2. Menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluq bukanlah
bentuk kesyirikan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Ar-Risalah
Al-Hamawiyah: Menetapkan sifat-sifat Allah tidak termasuk meniadakan kesucian
Allah, tidak pula menyelisihi tauhid, atau menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.
Bahkan ini termasuk konsekuensi dari tauhid al-asma wash-shifat. Sedangkan yang
meniadakannya, justru merekalah orang-orang yang terjerumus ke dalam kesyirikan.
Karena sebelum meniadakan sifat-sifat Allah tersebut, mereka terlebih dahulu
menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Lebih dari itu, ketika mereka
meniadakan sifat-sifat Allah yang sempurna itu, sungguh mereka menyamakan Allah
dengan sesuatu yang penuh kekurangan dan tidak ada wujudnya. Karena tidak mungkin
sesuatu itu ada namun tidak mempunyai sifat sama sekali. Oleh karena itu Ibnul-Qayyim
rahimahullah di dalam Nuniyyah-nya menjuluki mereka dengan Abidul-Maduum
(penyembah sesuatu yang tidak ada wujudnya). (Untuk lebih rincinya lihat kitab AtTadmuriyyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, hal.79-81)
Atas dasar ini mereka lebih tepat disebut dengan Jahmiyyah, Muaththilah, dan
penyembah sesuatu yang tidak ada wujudnya.
Landasan kedua: Al-Adl (keadilan)
Yang mereka maksud dengan keadilan adalah keyakinan bahwasanya kebaikan itu
datang dari Allah, sedangkan kejelekan datang dari makhluk dan di luar kehendak
(masyiah) Allah . Dalilnya adalah firman Allah :


Dan Allah tidak suka terhadap kerusakan. (Al-Baqarah: 205)

0

Dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya. (Az-Zumar: 7)
Menurut mereka kesukaan dan keinginan merupakan kesatuan yang tidak bisa
dipisahkan. Sehingga mustahil bila Allah tidak suka terhadap kejelekan, kemudian
menghendaki atau menginginkan untuk terjadi (mentaqdirkannya). Oleh karena itu
mereka menamakan diri dengan Ahlul-Adl atau Al-Adliyyah.
Bantahan:
Asy-Syaikh Yahya bin Abil-Khair Al-Imrani t berkata: Kita tidak sepakat bahwa

kesukaan dan keinginan itu satu. Dasarnya adalah firman Allah :




Maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir. (Ali Imran: 32)
Padahal kita semua tahu bahwa Allah-lah yang menginginkan adanya orang-orang kafir
tersebut dan Dialah yang menciptakan mereka. (Al-Intishar Firraddi Alal- MutazilatilQadariyyah Al-Asyrar, 1/315)
Terlebih lagi Allah telah menyatakan bahwasanya apa yang dikehendaki dan dikerjakan
hamba tidak lepas dari kehendak dan ciptaan-Nya. Allah berfirman:


Dan kalian tidak akan mampu menghendaki (jalan itu), kecuali bila dikehendaki
Allah. (Al-Insan: 30)

Padahal Allah-lah yang menciptakan kalian dan yang kalian perbuat. (Ash-Shaaffaat:
96)
Dari sini kita tahu, ternyata istilah keadilan itu mereka jadikan sebagai kedok untuk
mengingkari kehendak Allah yang merupakan bagian dari taqdir Allah . Atas dasar
inilah mereka lebih pantas disebut dengan Qadariyyah, Majusiyyah, dan orang-orang
yang zalim.
Landasan Ketiga: Al-Wadu Wal-Waid
Yang mereka maksud dengan landasan ini adalah bahwa wajib bagi Allah I untuk
memenuhi janji-Nya (al-wad) bagi pelaku kebaikan agar dimasukkan ke dalam AlJannah, dan melaksanakan ancaman-Nya (al-waid) bagi pelaku dosa besar (walaupun
di bawah syirik) agar dimasukkan ke dalam An-Naar, kekal abadi di dalamnya, dan tidak
boleh bagi Allah untuk menyelisihinya. Karena inilah mereka disebut dengan
Waidiyyah.
Bantahan:
1. Seseorang yang beramal shalih (sekecil apapun) akan mendapatkan pahalanya
(seperti yang dijanjikan Allah) sebagai karunia dan nikmat dari-Nya. Dan tidaklah pantas
bagi makhluk untuk mewajibkan yang demikian itu kepada Allah , karena termasuk
pelecehan terhadap Rububiyyah-Nya dan sebagai bentuk keraguan terhadap firman-Nya:


Sesungguhnya Allah tidak akan menyelisihi janji (-Nya). (Ali Imran: 9)
Bahkan Allah mewajibkan bagi diri-Nya sendiri sebagai keutamaan untuk para hambaNya.
Adapun orang-orang yang mendapatkan ancaman dari Allah karena dosa besarnya (di
bawah syirik) dan meninggal dunia dalam keadaan seperti itu, maka sesuai dengan
kehendak Allah. Dia Maha berhak untuk melaksanakan ancaman-Nya dan Maha berhak
pula untuk tidak melaksanakannya, karena Dia telah mensifati diri-Nya dengan Maha
Pemaaf, Maha Pemurah, Maha Pengampun, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Terlebih lagi Dia telah menyatakan:


Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (bila pelakunya meninggal
dunia belum bertaubat darinya) dan mengampuni dosa yang di bawah (syirik) itu, bagi
siapa yang dikehendaki-Nya. (An-Nisa: 48) (Diringkas dari kitab Al-Intishar Firraddi
Alal-Mutazilatil-Qadariyyah Al-Asyrar, 3/676, dengan beberapa tambahan).
2. Adapun pernyataan mereka bahwa pelaku dosa besar (di bawah syirik) kekal abadi di
An-Naar, maka sangat bertentangan dengan firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 48 di

atas, dan juga bertentangan dengan sabda Rasulullah r yang artinya: Telah datang
Jibril kepadaku dengan suatu kabar gembira, bahwasanya siapa saja dari umatku yang
meninggal dunia dalam keadaan tidak syirik kepada Allah niscaya akan masuk ke dalam
al-jannah. Aku (Abu Dzar) berkata: Walaupun berzina dan mencuri? Beliau
menjawab: Walaupun berzina dan mencuri. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari
shahabat Abu Dzar Al-Ghifari)
(Meskipun mungkin mereka masuk neraka lebih dahulu (ed).)
Landasan Keempat: Suatu keadaan di antara dua keadaan
Yang mereka maksud adalah, bahwasanya keimanan itu satu dan tidak bertingkattingkat, sehingga ketika seseorang melakukan dosa besar (walaupun di bawah syirik)
maka telah keluar dari keimanan, namun tidak kafir (di dunia). Sehingga ia berada pada
suatu keadaan di antara dua keadaan (antara keimanan dan kekafiran).
Bantahan:
1.Bahwasanya keimanan itu bertingkat-tingkat, bertambah dengan ketaatan dan
berkurang dengan kemaksiatan, sebagaimana firman Allah :

Dan jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, maka bertambahlah keimanan
mereka. (Al-Anfal: 2)
Dan juga firman-Nya:

0
Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik)
ada yang berkata: Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan
(turunnya) surat ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah
imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati
mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping
kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. (At-Taubah: 124125)
Dan firman-Nya:

Supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam AlJannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan
supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah
keberuntungan yang besar di sisi Allah. (Al-Fath: 4)





0
Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat. Dan tidaklah Kami
menjadikan bilangan mereka itu melainkan sebagai cobaan bagi orang-orang kafir,
supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman
bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang
mumin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada
penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): Apakah yang dikehendaki Allah dengan
bilangan ini sebagai suatu perumpamaan? Demikianlah Allah menyesatkan orangorang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu
tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia. (Al-Muddatstsir: 31)

(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-

orang yang mengatakan: Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk


menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, maka perkataan itu menambah
keimanan mereka dan mereka menjawab: Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan
Allah adalah sebaik-baik Pelindung. (Ali Imran: 173)
0 0
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku
bagaimana Engkau menghidupkan orang mati. Allah berfirman: Belum yakinkah
kamu? Ibrahim menjawab: Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap
mantap (dengan imanku)... (Al-Baqarah: 260)
Rasulullah bersabda: Keimanan itu (mempunyai) enam puluh sekian atau tujuh puluh
sekian cabang/tingkat, yang paling utama ucapan Laa ilaaha illallah, dan yang paling
rendah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan sifat malu itu cabang dari iman. (HR
Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah z)
2. Atas dasar ini, pelaku dosa besar (di bawah syirik) tidaklah bisa dikeluarkan dari
keimanan secara mutlak. Bahkan ia masih sebagai mukmin namun kurang iman, karena
Allah masih menyebut dua golongan yang saling bertempur (padahal ini termasuk dosa
besar) dengan sebutan orang-orang yang beriman, sebagaimana dalam firman-Nya:


Dan jika ada dua golongan dari orang-orang yang beriman saling bertempur, maka
damaikanlah antara keduanya... (Al-Hujurat: 9)
Landasan Kelima: Amar Maruf Nahi Mungkar
Di antara kandungan landasan ini adalah wajibnya memberontak terhadap pemerintah
(muslim) yang zalim.
Bantahan:
Memberontak terhadap pemerintah muslim yang zalim merupakan prinsip sesat yang
bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah.
Allah berfirman:
0

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri
(pimpinan) di antara kalian. (An-Nisa: 59)
Rasulullah r bersabda: Akan datang setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti
petunjukku dan tidak menjalankan sunnahku, dan sungguh akan ada di antara mereka
yang berhati setan namun bertubuh manusia. (Hudzaifah berkata): Wahai
Rasulullah, apa yang kuperbuat jika aku mendapati mereka? Beliau menjawab:
Hendaknya engkau mendengar (perintahnya) dan menaatinya, walaupun punggungmu
dicambuk dan hartamu diambil. (HR. Muslim, dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman)
[Untuk lebih rincinya, lihat majalah AsySyariah edisi Menyikapi Kejahatan Penguasa]
Sesatkah Mutazilah?
Dari lima landasan pokok mereka yang batil dan bertentangan dengan Al Quran dan
As-Sunnah itu, sudah cukup sebagai bukti tentang kesesatan mereka. Lalu bagaimana
bila ditambah dengan prinsip-prinsip sesat lainnya yang mereka punyai, seperti:
- Mendahulukan akal daripada Al Quran, As Sunnah, dan Ijma Ulama.
- Mengingkari adzab kubur, syafaat Rasulullah untuk para pelaku dosa, ruyatullah
(dilihatnya Allah) pada hari kiamat, timbangan amal di hari kiamat, Ash-Shirath
(jembatan yang diletakkan di antara dua tepi Jahannam), telaga Rasulullah di padang
Mahsyar, keluarnya Dajjal di akhir zaman, telah diciptakannya Al-Jannah dan An-Naar
(saat ini), turunnya Allah ke langit dunia setiap malam, hadits ahad (selain mutawatir),
dan lain sebagainya.
- Vonis mereka terhadap salah satu dari dua kelompok yang terlibat dalam pertempuran
Jamal dan Shiffin (dari kalangan shahabat dan tabiin), bahwa mereka adalah orangorang fasiq (pelaku dosa besar) dan tidak diterima persaksiannya. Dan engkau sudah
tahu prinsip mereka tentang pelaku dosa besar, di dunia tidak mukmin dan juga tidak
kafir, sedangkan di akhirat kekal abadi di dalam an-naar.
- Meniadakan sifat-sifat Allah, dengan alasan bahwa menetapkannya merupakan

kesyirikan. Namun ternyata mereka mentakwil sifat Kalam (berbicara) bagi Allah dengan
sifat Menciptakan, sehingga mereka terjerumus ke dalam keyakinan kufur bahwa AlQuran itu makhluq, bukan Kalamullah. Demikian pula mereka mentakwil sifat Istiwaa
Allah dengan sifat Istilaa (menguasai).
Kalau memang menetapkan sifat-sifat bagi Allah merupakan kesyirikan, mengapa
mereka tetapkan sifat menciptakan dan Istilaa bagi Allah?! (Lihat kitab Al-Intishar
Firraddi Alal-Mutazilatil-Qadariyyah Al-Asyrar, Al-Milal Wan-Nihal, Al-Ibanah an
Ushulid-Diyanah, Syarh Al-Qashidah An-Nuniyyah dan Ash-Shawaiq Al-Mursalah alal
Jahmiyyatil-Muaththilah)
Para pembaca, betapa nyata dan jelasnya kesesatan kelompok pemuja akal ini. Oleh
karena itu Al-Imam Abul-Hasan Al-Asyari (yang sebelumnya sebagai tokoh
Mutazilah) setelah mengetahui kesesatan mereka yang nyata, berdiri di masjid pada
hari Jumat untuk mengumumkan baraa (berlepas diri) dari madzhab Mutazilah.
Beliau melepas pakaian yang dikenakannya seraya mengatakan: Aku lepas madzhab
Mutazilah sebagaimana aku melepas pakaianku ini. Dan ketika Allah beri karunia
beliau hidayah untuk menapak manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah, maka beliau tulis
sebuah kitab bantahan untuk Mutazilah dan kelompok sesat lainnya dengan judul AlIbanah an Ushulid-Diyanah. (Diringkas dari kitab Lamhah Anil-Firaq Adh-Dhallah,
hal. 44-45).
Wallahu alam bish-shawab.
__________________
blog tutorial www.soloboys.blogspot.com

http://www.indonesiaindonesia.com/f/6063-mutazilah-kelompok-sesat-pemujaakal/

MU'TAZILAH
Berbicara perpecahan umat Islam tidak ada habis-habisnya, karena terus menerus terjadi
perpecahan dan penyempalan mulai dengan munculnya khowarij dan syiah kemudian
muncullah satu kelompok lain yang berkedok dan berlindung dibawah syiar akal dan
kebebasan berfikir.... satu syiar yang menipu dan mengelabuhi orang-orang yang tidak
mengerti bagaimana Islam telah menempatkan akal pada porsi yang benar... sehingga
banyak kaum muslimin yang terpuruk dan terjerumus masuk pemikiran kelompok ini....
akhirnya terpecahlah dan berpalinglah kaum muslimin dari agamanya yang telah diajarkan
Rasulullah dan para shahabat-shahabatnya. Akibat dari hal itu bermunculanlah kebidahankebidahan yang semakin banyak dikalangan kaum muslimin sehingga melemahkan
kekuatan dan kesatuan mereka serta memberikan gambaran yang tidak benar terhadap
ajaran Islam, bahkan dalam kelompok ini terdapat hal-hal yang sangat berbahaya bagi Islam
yaitu mereka lebih mendahulukan akal dan pemikiran-pemikiran para filosof dari pada ajaran
dan wahyu dari Allah sehingga banyak ajaran Islam yang tiddak mereka akui karena
menyelisihi akal menurut prasangka mereka
Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menasehati
saudaranya agar tidak terjerumus kedalam pemikiran kelompok ini yaitu kelompok
Mu'tazilah yang pengaruh penyimpangannya masih sangat terasa sampai saat ini dan masih
dikembangkan oleh para kolonialis kristen dan yahudi dalam menghancurkan kekuatan
kaum muslimin dan persatuannya.
Bermunculanlah pada era dewasa ini pemikiran mu'tazilah dengan nama-nama yang yang
cukup menggelitik dan mengelabuhi orang yang membacanya, mereka menamainya
dengan Aqlaniyah... Modernisasi pemikiran... Westernasi dan sekulerisme serta nama-nama
lainnya yang mereka buat untuk menarik dan mendukung apa yang mereka anggap benar
dari pemkiran itu dalam rangka usaha mereka menyusupkan dan menyebarkan pemahaman
dan pemikiran ini. Oleh karena itu perlu dibahas asal pemikiran ini agar diketahui
penyimpangan dan penyempalannya dari Islam, maka dalam pembahasan kali ini dibagi
menjadi beberapa pokok pembahasan.

1.Definisi Mu'tazilah
1.a.Secara Etimologi
Mu'tazilah atau I'tizaal adalah kata yang dalam bahasa Arab menunjukkan kesendirian,
kelemahan dan keterputusan,
1.b.Secara Terminologi Para Ulama
Sedangkan sebagian ulama mendefinisikannya sebagai satu kelompok dari qadiriyah yang
menyelisihi pendapat umat Islam dalam permasalahan hukum pelaku dosa besar yang
dipimpin oleh Waashil bin Atho' dan Amr bin Ubaid pada zaman Al Hasan Al Bashry.
Dan kalau kita melihat kepada definisi secara etimologi dan terminologi didapatkan adanya
hubungan yang sangat erat dan kuat, karena kelompok ini berjalan menyelisihi jalannya
umat Islam khususnya Ahli Sunnah dan bersendiri dengan konsep akalnya yang khusus
sehingga Akhirnya membuat mereka menjadi lemah, tersembunyi dan terputus.
2. Perkembangannya.
Mu'tazilah berkembang sebagai satu pemikiran yang ditegakkan diatas pandangan bahwa
akal adalah sumber kebenaran pada awal abad ke dua hijriyah tepatnya tahun 105 atau 110
H di akhir-akhir kekuasaan Bani Umayyah di kota bashroh di bawah pimpinan Waashil bin
Atho' Al Ghozaal. Kelompok atau sekte ini berkembang dan terpengaruh oleh bermacammacam aliran pemikiran yang berkembang dimasa itu sehingga didapatkan padanya
kebanyakan pendapat mereka mengambil dari pendapat aliran pemikiran Jahmiyah,
kemudian berkembang dari kota Bashroh yang merupakan tempat tinggalnya Al Hasan Al
Bashry, lalu menyebar dan merebak ke kota Kufah dan Baghdad,akan tetapi pada masa ini
mu'tazilah menghadapi tekanan yang sangat berat dari para pemimpin bani umayah yang
membuat aliran ini sulit berkembang dan sangat terhambat penyebarannya sehingga hal itu
membuat mereka sangat membenci Bani Umayah karena penentangan mereka terhadap
mazhab (aliran) mu'tazilah dan i'tikad mereka dalam permasalahan qadar bahkan
merekapun tidak menyukai dan tidak meridhoi seorangpun dari pemimpin Bani Umayah
kecuali Yazid bin Al Waalid bin Abdul Malik bin Marwan (wafat tahun 126 H ) karena dia
mengikuti dan memeluk mazhab mereka.
Dalam hal ini berkata Al Mas'udy :Yazid bin Al Waali telah bermazhab dengan mazhab
Mu'tazilah dan pendapat mereka tentang lima pokok (ajaran mereka) yaitu At Tauhid, Al Adl,
Al Wa'iid, Al Asma wal Ahkam -yaitu pendapat Manzilah baina Al Manzilatain -dan amar
ma'ruf nahi mungkar dan berkata lagi:(sehinga Mu'tazilah mengedepankan Yazid bin Al
Waalid dalam sisi keagamaan dari Umar bin Abdul Aziz.
Permusuhan dan perseteruan antara Bani Umayah dengan Mu'tazlah ini berlangsung terus
menerus dengan keras sampai jatuhnya kekuasaan Bani Umayyah dan tegaknya
kekuasaan Bani Abasiyah, kemudian bersamaan dengan berkembangnya kekuasaan Bani
Abasiyah, berkembanglah Mu'tazilah dengan mulainya mereka mengirim para dai dan
delegasi-delegasi ke seluruh negeri Islam untuk mendakwahkan mazhab dan i'tikad mereka
kepada kaum muslimin dan diantara yang memegang peran besar dan penting dalam hal ini
adalah Waashil bn Atho'. Dan kesempatan ini mereka peroleh karena mazhab mereka
dengan syiar dan manhajnya memberikan dukungan yang besar dalam mengokohkan dan
menguatkan kekuasaan Bani Abasiyah khususnya pada zaman Al Ma'mun yang condong
mengikut aqidah mereka, apalagi ditambah dengan persetujuan Al Ma'mun terhadap
pendapat mereka tentang Al Quran itu Makhluk sampai-sampai Al Ma'mun mengerahkan
seluruh kekuatan bersenjatanya untuk memaksa manusia untuk mengikuti dan meyakini
kebenaran pendapat tersebut, lalu beliau mengirimkan mandat kepada para pembantunya di
Baghdad pada tahun 218 H untuk menguji para hakim, Muhadditsin dan seluruh Ulama
dengan pendapat bahwa Al Qur'an adalah makhluk, demikian juga beliau memerintahkan
para hakim untuk tidak menerima persaksian orang yang tidak berpendapat dengan
pendapat tersebut dan menghukum mereka, maka terjadilah fitnah yang sangat besar.

Diantara para ulama yang mendapatkan ujian dan cobaan ini adalah Al imam Ahmad bin
Hambal -dan kisah beliau ini sangat terkenal-, akan tetapi beliau tetap teguh dengan aqidah
dan pendapat Ahli Sunnah wal Jamaah tentang hal tersebut yaitu bahwa Al Qur'an adalah
kalamullah dan bukan makhluk.
Mu'tazilah terus mendapat perlindungan dan bantuan dari para penguasa Bani Abasiyah
dari zaman Al Ma'mun sampai zaman Al Mutawakil dan pada zaman tersebut sekte
mu'tazilah dijadikan mazhab dan aqidah resmi negara, satu faktor yang membuat mereka
mampu menyebarkan kekuasaan mereka dan mampu menekan setiap orang yang
menyelisihi mereka, lalu mereka menjadikan padang sebagai ganti dari hujjah dan dalil.
Maka berkembanglah aliran ini di negeri-negeri muslimin dengan bantuan dari sebagian
pemimpin-pemimpin Bani Abasyah.
Kemudian mereka terpacah menjadi dua cabang:
1.

Cabang Bashroh, yang terwakili oleh tokoh-tokoh seperti Waashil bin Atho', Amr
bin Ubaiid, Utsman Ath Thowil, Abu Al Hudzail Al 'Alaaf, Abu Bakr Al Ashom, Mamar
bin Ubaad, An Nadzom, Asy Syahaam, Al Jaahidz, Abu Ali Aljubaa'i, Abu Hasyim Al
Jubaa'i dan yang lain-lainnya.

2.

Cabang Baghdad, yang terwakili oleh tokoh-tokoh seperti Bisyr bin Mu'tamir, Abu
Musa Al Mardaar, Ahmad bin Abii Duaad, Tsumamah bin Al Asyras, Ja'far bin Harb,
Ja'far bin Mubasyir, Al Iskaafy, Isa bin Al Haitsam Al Khayaath, Abul Qasim Al Balkhy
Al Ka'by dan yang lain-lainnya.

Sebenarnya faktor yang mendasar yang mendorong mereka sibuk dan memperdalam ilmu
kalam adalah untuk membalas hujjah dengan hujjah dan untuk menghancurkan hujjahhujjah para musuh Islam serta untuk membantah semua tuduhan dan kebohongan mereka
sehingga akhirnya mereka berlebih-lebihan dalam mengutamakan dan mengedepankan
ilmu ini atas semua ilmu yang selainnya,lalu mereka menjadikannya sebagai satu-satunya
cara untuk menentukan adanya Allah dan Rububiyah-Nya, hujah-hujah kenabian dan untuk
mengenal sunnah dari bid'ah, sebagimana yang dikatakan Al Jaahidz: dan sesuatu apakah
yang lebih agung dari segala sesuatu, seandainya tidak karena kedudukannya, tidaklah
dapat ditetapkan kerububiyahan-Robb, tidak dapat ditegakkan hujjah-hujah kenabian dan
tidak dapat dipisahkan antara hujjah dengan syubhat, dalil dengan apa yang terbayangkan
dalam bentuk dalil. Dengannya dapat dikenal Al Jamaah dari Al Firqoh (kelompok yang
menyempal) dan sunnah dari bid'ah serta keanehan dari yang masyhur.
Walaupun mu'tazilah telah melakukan usaha yang besar dalam menekuni dan menyelami
kehidupan akal sejak abad ke dua sampai ke lima hijriyah, akan tetapi tidak mendapatkan
keberhasilan dan kesuksesan bahkan akhirnya mengalami kemunduran dan kegagalan
dalam bidang tersebut. Hal ini tampaknya terjadi karena mereka tidak mengambil sumber
manhaj mereka dari Al Qur'an dan As Sunnah, bahkan mereka mendasarinya dengan
bersandar kepada akal semata yang telah dirusak oleh pemikran filsafat yunani dan
bermacam-macam aliran pemikiran. Sebab setiap pemikiran yang tidak diterangi dengan
manhaj kitabullah dan Sunnah Nabi dan jalannya para Salaf Ash Sholeh maka akhirnya
adalah kehancuran dan kesesatan walaupun demikian hebatnya, karena mengambil sumber
dan penerangan dari Al Kitab dan Sunnah akan menerangi jalannya akal sehingga tidak
salah dan tersesat dan berjalan dengan jalannya para salafus sholeh adalah pengaman dari
kesesatan dan penyimpangan karena mereka telah mengambil sumber mazhabnya dari
sumber-sumber yang murni dari Al Kitab yang tidak terdapat padanya satu kebathilanpun
dan dari As Sunnah yang barang siapa yang berpegang teguh dengannya berarti telah
berada pada hujjah yang terang benderang.
Berkata Shodruuddin Ibnu Abil Izzi Al Hanafy dalam mengomentari ahlil kalam yang
menta'wil nash-nash Al Kitab dan As sunnah dengan akal-akal mereka,diantaranaya
Mu'tazilah:dan sebab kesesatan mereka adalah berpalingnya mereka dari meneliti

kalamullah dan kalam Rasulillah dan menyibukkah diri dengan kalam Yunani dan
bermacam-macam aliran pemikiran yang ada.
Oleh karena itu keutuhan dan kekelanggengan adalah miliknya Ahlissunnah dan kehancuran
adalah miliknya Mu'tazilah sebagai aplikasi dari firman Allah :
Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi
manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. (QS. 13:17)
3.Sebab penamaannya.
Para Ulama telah berselisih tentang sebab penamaan kelompok (aliran) ini dengan nama
Mu'tazilah menjadi beberapa pendapat:
Pertama: Berpendapat bahwa sebab penamaannya adalah karena berpisahnya Waashil bin
Atho' dan Amr bin Ubaid dari majlis dan halaqohnya Al Hasan Al Bashry. Hal ini didasarkan
oleh riwayat yang mengisahkan bahwa ada seseorang yang menemui Al Hasan Al Bashry,
lalu berkata:wahai imam agama...telah muncul pada zaman kita ini satu jamaah yang
mengkafirkan pelaku dosa besar dan dosa besar menurut mereka adalah kekafran yang
mengeluarkan pelakunya dari agama, dan mereka adalah Al Wa'iidiyah khowarij dan jamaah
yang menangguhkan pelaku dosa besar, dan dosa besar menurut mereka tidak
mengganggu (merusak) iman, bahkan amalan menurut mazhab mereka bukan termasuk
rukun iman, dan iman tidak rusak oleh kemaksiatan, sebagaiman tidak bermanfaat ketaatan
bersama kekufuran, dan mereka adalah murjiah umat ini, maka bagaimana engkau
memberikan hukum bagi kami dalam hal itu secara i'tikad? Lalu Al Hasan merenung
sebentar tentang hal itu, dan sebelum beliau menjawab, berkata Waashl bin Atho': saya
tidak akan mengatakan bahwa pelaku dosa besar itu mu'min dan tidak juga kafir, akan tetapi
dia di dalam satu kedudukan diantara dua kedudukan tersebut (manzlah baina manzilatain),
tidak mu'min dan tidak kafir. Kemudian dia berdiri dan memisahkan diri ke satu tiang dari
tiang-tiang masjid menjelaskan jawabannya kepada para murid Al Hasan, lalu berkata Al
Hasan : telah berpisah (i'tizal) dari kita Washil, dan Amr bin Ubaid mengikuti langkah
Waashil, maka kedua orang ini beserta pengikutnya dinamakan Mu'tazilah.
Berkata A Qodhi Abdul Jabaar Al Mu'tazily dalam menafsirkan sebab penamaan mereka
ini:telah terjadi dialog antara Waashil bin Atho' dan Amr bin Ubaid dalam permasalahan ini
-permasalahan pelaku dosa besar-lalu Amr bin Ubaid kembali ke mazhabnya dan
meninggalkan halaqoh Al Hasan Al Bashry dan memisahkan diri, lalu mereka menamainya
Mu'tazily, dan ini adalah asal penggelaran Ahlul Adil dengan Mu'tazilah.
Kedua: Berpendapat bahwa mereka dinamai demikian karena ucapan imam Qatadah
kepada Utsman Ath Thowil: siapa yang menghalangimu dari kami? apakah mereka
Mu'tazilah yang telah menghalangimu dari kami? Aku jawab:ya.
Berkata Ibnu Abl Izzy : dan mu'tazilah adalah Amr bin Ubaid dan Waashil bin Atho' Al
Ghozaal serta para pengikutnya, mereka dinamakan demikian karena mereka memisahkan
diri dari Al Jamaah setelah wafatnya Al Hasan Al Bashry di awal-awal abad kedua dan
mereka itu bermajlis sendiri dan terpisah, sehngga berkata Qotadah dan yang lainnya:
merekalah Mu'tazilah.

Dicopy dari tulisan: Kholid Syamhudi rohimahullahu ta'ala


www.salafyoon.net
http://mifty-away.tripod.com/id80.html

Murji'ah
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Aliran Murji'ah adalah aliran Islam yang muncul dari golongan yang tak sepaham dengan Khowarij.
Ini tercermin dari ajarannya yang bertolak belakang dengan Khowarij. Pengertian murji'ah sendiri
ialah penangguhan vonis hukuman atas perbuatan seseorang sampai di pengadilan Allah SWT kelak.
Jadi, mereka tak mengkafirkan seorang Muslim yang berdosa besar, sebab yang berhak menjatuhkan
hukuman terhadap seorang pelaku dosa hanyalah Allah SWT, sehingga seorang Muslim, sekalipun
berdosa besar, dalam kelompok ini tetap diakui sebagai Muslim dan punya harapan untuk bertobat.
Secara garis besar, ajaran-ajaran pokok Murji'ah adalah:
1. Pengakuan iman cukup hanya dalam hati. Jadi pengikut golongan ini tak dituntut
membuktikan keimanan dalam perbuatan sehari-hari. Ini merupakan sesuatu yang janggal
dan sulit diterima kalangan Murjites sendiri, karena iman dan amal perbuatan dalam Islam
merupakan satu kesatuan.
2. Selama meyakini 2 kalimah syahadat, seorang Muslim yang berdosa besar tak dihukum kafir.
Hukuman terhadap perbuatan manusia ditangguhkan, artinya hanya Allah yang berhak
menjatuhkannya di akhirat.
Tokoh utama aliran ini ialah Hasan bin Bilal Muzni, Abu Sallat Samman, dan Diror bin 'Umar. Dalam
perkembangan selanjutnya, aliran ini terbagi menjadi kelompok moderat (dipelopori Hasan bin
Muhammad bin 'Ali bin Abi Tholib) dan kelompok ekstrem (dipelopori Jaham bin Shofwan).

http://id.wikipedia.org/wiki/Murji'ah

Salafiyah
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bagian dari rangkaian

Islamisme
Ikhwanul
Muslimin Deobandi Barelwi Hizbullah Hizbut
Tahrir Salafi Wahhabi Jamaat-e-Islami

Salafy (Arab: Salafi) adalah salah satu aliran dalam agama Islam yang mengajarkan syariat
Islam secara murni tanpa adanya tambahan dan pengurangan, berdasarkan syariat yang ada pada
generasi Muhammad danpara sahabat, setelah mereka dan orang-orang setelahnya. [1]
Dalam buku yang berjudul Ghazali And The Poetics Of Imagination, karya Ebrahim Moosa, Salafy adalah
sebuah gerakan paham politik Islamisme yang mengambil leluhur (salaf) dari patristik masa awal Islam
sebagai paham dasar. [2]
Daftar isi

[sembunyikan]

1 Etimologi
1.1 Penggunaan

istilah pada masa kini


2 Para Ulama yang Tergolong
Salaf
3 Lihat pula
4 Pranala luar
5 Referensi

[sunting]Etimologi
Kata "Salaf" adalah kependekan dari "Salaf al-li" (Arab: ) , yang berarti "terdahulu". Dalam
terminologi Islam, secara umum digunakan untuk menunjuk kepada tiga generasi terbaik umat
muslim: Sahabat, Tabi'in, Tabi'ut tabi'in. Ketiga generasi ini dianggap sebagai contoh bagaimana Islam
dipraktekkan.
Awal penggunaan istilah Salafy yang muncul di dalam kitab Al-Ansab karangan Abu Sa'd Abd al-Kareem
al-Sama'ni, yang meninggal pada tahun 1166 (562 dari kalender Islam). Di bawah untuk masuk dalam
pemikiran al-Salafi ujarnya, "Ini merupakan pemikiran ke salaf, atau pendahulu, dan mereka mengadopsi
pengajaran pemikiran berdasarkan apa yang saya telah mendengar."
Salafy melihat tiga generasi pertama dari umat Islam, yaitu Muhammad dan sahabat-sahabatnya, dan dua
generasi berikut setelah mereka, Tabi'in dan Taba 'at-Tabi'in, sebagai contoh bagaimana Islam harus
dilakukan. Prinsip ini berasal dari aliran Sunni, hadits (tradisi) diberikan kepada Nabi Muhammad:

Orang-orang dari generasi yang terbaik, maka orang-orang yang mengikuti


mereka, kemudian mereka yang mengikuti kedua (yakni tiga generasi pertama
dari umat Islam). Salafy umumnya menisbatkan kepada Mahdzab Imam
Ahmad Bin Hambali dan kemudian rujukan pemikiran Ibnu Taimiyah. maka
Salafy masih dikategorikan Ahlusunnah Wal Jama'ah .[3]

Pokok ajaran dari ideologi dasar Salafi adalah bahwa Islam telah sempurna dan selesai pada waktu masa
Muhammad dan sahabat-sahabatnya, oleh karena itu tidak dikehendaki inovasi yang telah ditambahkan
pada abad nanti karena material dan pengaruh budaya. Paham ideologi Salafi berusaha untuk
menghidupkan kembali praktek Islam yang lebih mirip agama Muhammad selama ini

[4]

Salafisme juga telah digambarkan sebagai sebuah versi sederhana dan penetahuan Islam, di mana
penganutnya mengikuti beberapa perintah dan praktek.

[5]

Salafy sangat berhati-hati dalam agama, apalagi urusan Aqidah dan Fiqh. Salafy sangat berpatokan
kepada Salafussholeh. Bukan hanya masalah agama saja mereka perhatikan, tetapi masalah berpakaian,
salafy sangat suka mengikuti gaya berpakaian seperti zaman salafussholeh seperti memakai Sorban atau
gamis bagi laki-laki atau memaki celana mengantung, dan juga memakai cadar bagi kebanyakan wanita
salafy.
Salafy juga terkadang digunakan untuk merujuk dengan paham Wahabi meskipun yang kedua lebih dapat
dijelaskan sebagai sub-sekte, Penganut Salafi biasanya menolak istilah ini karena dianggap bersifat
merugikan karena mereka percaya bahwa Muhammad ibn Abd al-Wahhab tidak mendirikan pengajaran
agama baru dalam pemikiran atau penggambaran diri.
Namun, pada saat sekarang para pengikut Salafi memperlakukan Muhammad ibn Abd-al-Wahhab hanya
sebagai seorang pemikir besar dalam agama Islam, sebuah fakta yang dikonfirmasikan oleh mereka
menutup ketaatan kepada ajaran doktrinal. Biasanya, penganutnya dari gerakan Salafi menjelaskan dirinya
sebagai "Muwahidin," "Al Hadis,"

[sunting]Penggunaan

[6]

atau "Ahl at-Tauhid." [7]

istilah pada masa kini

Pada zaman modern, kata Salaf memiliki dua definisi yang kadang-kadang berbeda. Yang pertama,
digunakan oleh akademisi dan sejarahwan, merujuk pada "aliran pemikiran yang muncul pada paruh kedua
abad sembilan belas sebagai reaksi atas penyebaran ide-ide dari Eropa," dan "orang-orang yang mencoba
memurnikan kembali ajaran yang telah di bawa Rasulullah serta menjauhi berbagai ke bid'ah an, khurafat,
syirik dalam agama Islam"[8]
Penggunaan "yang cukup berbeda" kedua yang lebih disenangi oleh para Salafi kontemporer secara
sepihak, mendefinisikan seorang Salafi sebagai Muslim yang mengikuti "perintah kitab suci ... secara
literal, tradisional" dan bukannya "penafsiran yang nampak tak berbatas" dari "salafi" awal. Para Salafi ini
melihat ke Ibnu Taimiyah, bukan ke figur abad ke 19 Muhammad Abduh, Jamal al-Din, Rashid Rida.[8]

[sunting]Para

Ulama yang Tergolong Salaf

Al Bukhary

Muslim,

Abu Daud,

Abu Hatim,

Abu Zur'ah,

At-Tirmidizy,

An-Nasa'i.

http://id.wikipedia.org/wiki/Salafiyah

SYIAH DAN KHAWARIJ DALAM SEJARAH


Pengenalan tentang Kholifah dan Imamah
Kelompok politik dalam Islam juga membahas tentang kepemimpinan ( Khalifah), karena pemimpin berperan
sebagai Hakim atau penentu kebijakan bagi sekalian muslim.Khalifah pada masa Rasulullah SAW sering
disebut dengan Imamah, kenapa di namakan demikian? Karena merupakan suatu kewajiban untuk taat
mejalankan perintahnya dan karena manusia taat serta patuh di belakang ketentuan beliau, seperti halnya
ketaatan mamum terhadap imam dalam shalat.
Perbedaan antara Khalifah dan mulk (Kerajaan)
Kerajaan (Mulk) sering diartikan : suatu kepemimpinan yang dengan akal serta rasio mereka gunakan dalam
mencapai kemaslahatan dunia serta mencegah dari pada kemancuran serta kerugian. Sedangkan khalifah dapat
diartikan: suatu tatanan pemerintahan yang dengan hokum syari mereka gunakan dalam menciptakan
kemaslahatan dunia serta akhirat, kemaslahatan dunia pun juga kembali pada hokum syari demi mencapai
kemaslahatan akhirat (ukhrowi).
Kelompok politik dalam islam:
Syiah (Sejarah dan perkembangan)
Syiah merupakan suatu golongan politik yang pertama kali muncul dan sampai sekarang tetap eksis, mazhab ini
mulai muncul pada zaman khalifah Ustman.ra, namun berkambang pesat di masa khalifah Ali.ra, di masa itulah
komunitas terus bertambah dan pemikiran-pemikarannya terus tersebar.
Syiah berkembang pesat di Mesir pada pemerintahan Utsman, namun kemudian menyebar ke daerah irak, dan
sekarang terus eksis berkembang di daerah Iran , sehingga menjadi pusat penyebaran Syiah tersebut .
Irak sebagai pusatnya karena :
- Kekhalifahan Ali.ra pada waktu itu berpusat di Irak
- Irak merupakan pusat perkembangan ilmu, dari situlah berkaembang banyak pemikiran-pemikiran, sehingga
terbentuk kelompok politik yang di beri nama Syiah.
Sebagian kelompok Syiah:
Terdiri dari berbagai kelompok dalam tubuh Syiah, diantaranya:
pengikut Abdullah bin saba
nampak sikap panatis yang berlebihan dalam kelompok ini terhadap Ali.ra.
Kelompok ini berkeyakinan bahwa Ali.ra tidaklah terbunuh, melainkan di angkat kelangit seperti halnya nabi
Isa.as.

Kelompok ini tidak begitu nampak sikap panatik terhadap beliau, namun mereka berlebihan dalam
memuliakan beliau sampai-sampai lebih memuliakan beliau dari pada Rasulullah.SAW.
Risalah Al-quran menurut mereka bukan merupakan risalah Rasul SAW melainkan risalah Ali.ra, di anggapnya
malaikat Jibril.as salah dalam menyerahkan risalah tersebut, yang seharusnya di tangan Ali.ra namun berada di
tangan Raul.SAW, keyakinan yang fasyil.
Kelompok ini menyamakan kedudukan Ali.ra sama dengan Rasulullah.SAW, bahkan lebih dari itu.
Adapun kelompok lain berasal dari luar Syiah, namun berperan dalam membantu Ali.ra serta sefikrah dengan
Syiah itu sendiri. Kelompok tersebut adalah:
-
- -
Sikap panatik Syiah
Kelompok Syiah bersepakat dalam menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai Pemimpin pilihan/utama dan
terpilih langsung dari Rasulullah SAW, serta beliau merupakan sahabat yang paling mulia dari yang lainnya.
Syiah dalam berpolitik
Dalam perpolitikan yang di wadahi dalam bentuk pemerintahan pengangkatan pemimpin tidak dalam bentuk
pemilihan bersama , kejadian di masa pengangkatan Ali.ra di saat Rasulullah wafat dan dianggap tidak ada yang
menggantikannya melainkan anak dari paman beliau yaitu Ali.ra. Sebagai tatanan kehidupan( Pemerintahan)
Syiah sudah tercampur dengan peradaban yahudi, peradaban ini dibawa oleh kelompok As-sabaiyah . Tidak
hanya pemikiran yahudi saja, tapi juga pemikiran serta peradaban Persiapun menyelimuti pemerintahan Syiah,
sehingga ada yang bilang Syiah adalah mazhap Persia. Pengecualian yang perlu sama-sama di pikirkan bahwa
Syiah yang berkembang sekarang bukan seperti halnya yang dulu, karena ebagian kelompok Syiah di bawah
kekuasaan orang yahudi yaitu Abdullah bin saba.
Khawarij (Perkembangan)
Sakte atau Kelompok ini muncul serta berkembang sejalan dengan Syiah di zaman Ali.ra, hanya saja pemikiran
serta peradaban Syiah lebih dahulu tertuang dari pada Khawarij. Bermula dari persengketaan antara
pemerintahan Ali.ra dengan Muawiyah dalam perang Shofin, dalam peperangan tersebut ada salah satu tentara
ada yang merasa ada suatu perbedaan terjadi, sehingga tentara tersebut dngan sengaja mengangkat al-quran

guna menengahi dan memisah antara keduanya, namun apa boleh dikata tentara Ali.ra terus bersikeras melawan
para tentara muawiyah, sampai AllahSWT memisahkan antara keduanya.
Kemudian dari peperangan tersebut terjadilah persidangan , dari muawiyah di wakili oleh Amru bin ash, dam
dari Ali.ra Abu musa al-asyary(pengganti Abdullah bin abas) yang di tolak oleh kelompok Khawarij sehingga di
gantikan dengan Abu Musa, sampai usailah persidangan dengan keputusan Ali.ra turun dari pemerintahan dan
Muawiyah maju. Awalnya kelompok Ali.ra sepakat dengan keputusan tersebut, tapi kelompok itupun
mengeluarkan hujatan ahwa tiada hokum kecuali hanya milik AllahSWT, dari situ timbullah rasa
pengkhianatan sehingga penyerangan pun di luncurkan oleh golongan Muawiyah sampai terjadi pembunuhan
serta penindasan.
Segelintir Pemikiran Khawarij:
Kelompok ini berkeyakinan bahwa Allah SWT telah mengutus hamba-Nya dari di turunkan
kepadanya kitab lengkap dengan Syariat,
membolehkan nikah dengan mahrom.
Dasar pemirintihan Khawarij:
Pemerintah di pilih secara demokrasi ( dilakukan secara bersama), pemerintahan tiada batas waktu, selama
pemerintahan berjalan sesuai syariat, namun apabila terdapat penyelewengan pemerintahan bisa diganti dengan
yang lain.
Kepemimpinan mereka anggap bukan suatu yang harus ada, dalam catatan pemerintahan tersebut aman,
tentram, namun ketika dirasa butuh itupun bukan suatu kewajiban. Pemikiran Khawarij tentang penyamaan
kafir dalam setiap perbuatan dosa, setiap yang melakukan dosa maka dianggap kafir
Diposkan oleh forperadaban di 09:55

http://forperadaban.blogspot.com/2010/07/syiah-dan-khawarij-dalamsejarah.html

Aliran Maturidiyah
Posted: 16 April 2010 by chekie in Ilmu Kalam
Tag:aliran ilmu kalam, aliran maturidiyah, makalah aliran maturidiyah, makalah ilmu
kalam,makalah maturidiyah

1.

A. Asal-Usul Maturidiyah

Aliran maturidiyah lahir di samarkand, pertengahan kedua dari abad IX M.


pendirinya adalah Abu Mansur Muhammad ibn Muhammad ibn Mahmud
Almaturidi, di daerah Maturid Samarqand, untuk melawan mazhab
Mu`tazilah. Abu Manshur Maturidi (wafat 333 H) menganut mazhab Abu
Hanifah dalam masalah fikih. Oleh sebab itu, kebanyakan pengikutnya
juga bermazhab Hanafi. Riwayatnya tidak banyak diketahui. Ia sebagai
pengikut Abu Hanifa sehingga paham teologinya memiliki banyak
persamaan dengan paham-paham yang dipegang Abu Hanifa. Sistem
pemikiran aliran maturidiyah, termasuk golongan teologi ahli sunah.
Untuk mengetahui sistem pemikiran Al-maturidi, kita bisa meninggalkan
pikiran-pikiran asyary dan aliran mutasilah, sebab ia tidak lepas dari
suasana zamannya. Maturidiyah dan asyaryah sering terjadi persamaan

pendapat karena persamaan lawan yang dihadapinya yaitu mutazilah.


Namun, perbedaan dan persamaannya masih ada.
Al-Maturidi dalam pemikiran teologinya banyak menggunakan rasio. Hal
ini mungkin banyak dipengaruhi oleh Abu Hanifa karena Al-maturidi
sebagai pengikat Abu Hanifa. Dan timbulnya aliran ini sebagai reaksi
terhadap mutazilah.
1.

B. Pokok-Pokok Ajaran Maturidiyah

1.

Kewajiban mengetahui tuhan. Akal semata-mata sanggup


mengetahui tuhan. Namun itu tidak sanggup dengan sendirinya hukumhukum takliti (perintah-perintah Allah SWT)

2.

Kebaikan dan kerburukan dapat diketahui dengan akal

3.

Hikmah dan tujuan perbuatan tuhan

Perbuatan tuhan mengandung kebijaksanaan (hikmah). Baik dalam ciptaciptaannya maupun perintah dan larang-larangannya, perbuatan manusia
bukanlah merupakan paksaan dari Allah, karena itu tidak bisa dikatakan
wajib, karena kewajiban itu mengandung suatu perlawanan dengan
iradahnya.
1.

C. Golongan-Golongan Didalam Maturidiyah Ada dua golongan


didalam maturidiyah yaitu:

2.

1. Golongan samarkand.

Yang menjadi golongan ini dalah pengikut Al-maturidi sendiri, golongan ini
cenderung ke arah paham mutazilah, sebagaimana pendapatnya soal
sifat-sifat tuhan, maturidi dan asyary terdapat kesamaan pandangan,
menurut maturidi, tuhan mempunyai sifat-sifat, tuhan mengetahui bukan
dengan zatnya, melainkan dengan pengetahuannya.
Begitu juga tuhan berkuasa dengan zatnya. Mengetahui perbuatanperbuatan manusia maturidi sependapat dengan golongan mutazilah,

bahwa manusialah sebenarnya mewujudkan perbuatan-perbutannya.


Apabila ditinjau dari sini, maturidi berpaham qadariyah. Maturidi menolak
paham-paham mutazilah, antara lain maturidiyah tidak sepaham
mengenai pendapat mutazilah yang mengatakan bahwa al-quran itu
makhluk. Aliran maturidi juga sepaham dengan mutazilah dalam soal alwaid wa al-waid. Bahwa janji dan ancaman tuhan, kelak pasti terjadi.
Demikian pula masalah antropomorphisme. Dimana maturidi berpendapat
bahwa tangan wajah tuhan, dan sebagainya seperti pengambaran alquran. Mesti diberi arti kiasan (majazi). Dalam hal ini. Maturidi bertolak
belakang dengan pendapat asyary yang menjelaskan bahwa ayat-ayat
yang menggambarkan tuhan mempunyai bentuk jasmani tak dapat diberi
interpretasi (ditakwilkan).
1.

2. Golongan bu hara

Golongan Bukhara ini dipimpin oleh Abu Al-yusr Muhammad Al-Bazdawi.


Dia merupakan pengikut maturidi yang penting dan penerus yang baik
dalam pemikirannya. Nenek Al-Bazdawi menjadi salah satu murid
maturidi. Dari orang tuanya, Al-Bazdawi dapat menerima ajaran maturidi.
Dengan demikian yang di maksud golongan Bukhara adalah pengikutpengikut Al-Bazdawi di dalam aliran Al-maturidiyah, yang mempunyai
pendapat lebih dekat kepada pendapat-pendapat Al-asyary.
Namun walaupun sebagai aliran maturidiyah. Al-Bazdawi tidak selamanya
sepaham dengan maturidi. Ajaran-ajaran teologinya banyak dianut oleh
sebagin umat Islam yang bermazab Hanafi. Dan pemikiran-pemikiran
maturidiya sampai sekarang masih hidup dan berkembang dikalangan
umat Islam.
1.

D. Beberapa aspek kesamaan pemahaman antara Asyariyah dan


Maturidiyah.

Sebagai aliran yang se zaman dengan mazhab Asya`irah, jika di telaah


terdapat banyak kesamaan antara dua mazhab ini. Keduanya termasuk

dalam aliran Ahlussunnah. Terkait kepemimpinan para khalifah setelah


Nabi saw sesuai urutan historis yang telah terjadi, keduanya memiliki
pandangan serupa. Juga tak ada perbedaan dalam pandangan mereka
terhadap para penguasa Bani Umayah dan Bani Abbas. Dalam semua sisi
masalah imamah pun mereka saling sepakat. Keduanya juga sepaham
bahwa Allah bisa dilihat tanpa kaif (cara), had (batas), qiyam (berdiri) wa
qu`ud (duduk) dan hal-hal sejenisnya. Berbeda dengan Hasyawiyah dan
Ahlul hadits yang berpendapat bahwa Allah, seperti selain-Nya, bisa
dilihat dengan kaif dan had.
Dalam hal kalam Allah (Al-Quran), kedua mazhab ini juga memiliki
pandangan sama, yaitu bahwa kalam-Nya memiliki dua tingkatan.
Pertama adalah kalam nafsi yang bersifat qadim (dahulu), dan kedua
adalah kalam lafdhi (lafal) yang bersifathadits (baru). Ini adalah pendapat
moderat dari kedua mazhab ini, yang berada di antara pendapat
Mu`tazilah bahwakalam Allah hadits secara mutlak, dan pendapat Ahlul
hadits bahwa kalam-Nya qadim secara mutlak. Ringkas kata, Asya`irah
dan Maturidiyah memiliki banyak kesamaan pandangan dalam masalah
akidah. Namun, di saat yang sama, ada pula beberapa perbedaan dalam
prinsip-prinsip teologis dua mazhab ini, yang membedakan mereka satu
sama lain, antara lain:
Asya`irah membagi sifat-sifat Allah kepada dzatidan fi`li. Namun Maturidiyah
menolak pembagian ini dan menyatakan bahwa semua sifat fi`li-Nya qadimseperti
sifat dzati.
Asya`irah mengatakan bahwa Allah mustahil membebankan taklif yang tak mampu
dilakukan manusia, sementara Maturidiyah berpendapat sebaliknya.
Asya`irah meyakini bahwa semua yang dilakukan Allah adalah baik, sedangkan
Maturidiyah, berdasarkan hukum akal, berpandangan bahwa Dia mustahil berbuat zalim.
Kesimpulannya, meski Asya`irah dan Maturidiyah tergabung dalam kelompok Ahlussunnah
dan banyak memiliki kesamaan, namun mereka juga memiliki perbedaan pendapat dalam
sebagian masalah.
DAFTAR PUSTAKA

Rojak Abdul, Anwar Rosihon. ilmu kalam. 2006. CV Pustaka Setia,


Bandung.
Jauhari, Heri, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, CV Pustaka Setia, Bandung
Drs. H. M. Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid. Raja Grafindo Persada Jakarta:
1993.
http://www.docstoc.com/docs/6369688/perbandingan-antar-aliran/
http://kiflipaputungan.wordpress.com/2010/04/16/aliran-maturidiyah/

definisi arbitrase
Posted on April 14, 2009 by Dodik Setiawan Nur Heriyanto| 4 Komentar

Definisi arbitrase menurut berbagai sumber.


Meskipun arbitrase sudah ada dan dipraktekkan selama berabad-abad (bahkan

pertama kali dperkenalkan oleh masyarakat Yunani sebelum


masehi). Namun, sampai sekarang definisi pasti mengenai apa itu arbitrase masih
saja ditemui begitu banyaknya perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat tersebut
tidak sampai menghilangkan makna arbitrase sebagai alternatif penyelesaian
sengketa melainkan justru memberikan konsep yang berbeda-beda mengenai
arbitrase. Sebagai referensinya, saya mencoba memberikan beberapa definisi dari
para sarjana di Indonesia dan berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
Secara harfiah, perkataan arbitrase adalah berasal dari kata arbitrare (Latin) yang
berarti kekuasaan untuk menyelesaikan sesuatu menurut kebijaksanaan. Definisi
secara terminologi dikemukakan berbeda-beda oleh para sarjana saat ini walaupun
pada akhirnya mempunyai inti makna yang sama.
Subekti menyatakan bahwa arbitrase adalah penyelesaian atau pemutusan sengketa
oleh seorang hakim atau para hakim berdasarkan persetujuan bahwa para pihak
akan tunduk pada atau menaati keputusan yang diberikan oleh hakim yang mereka
pilih.

H. Priyatna Abdurrasyid menyatakan bahwa arbitrase adalah suatu proses


pemeriksaan suatu sengketa yang dilakukan secara yudisial seperti oleh para pihak
yang bersengketa, dan pemecahannya akan didasarkan kepada bukti-bukti yang
diajukan oleh para pihak.
H.M.N. Purwosutjipto menggunakan istilah perwasitan untuk arbitrase yang diartikan
sebagai suatu peradilan perdamaian, di mana para pihak bersepakat agar
perselisihan mereka tentang hak pribadi yang dapat mereka kuasai sepenuhnya
diperiksa dan diadili oleh hakim yang tidak memihak yang ditunjuk oleh para pihak
sendiri dan putusannya mengikat bagi keduabelah pihak.
Pada dasarnya arbitrase adalah suatu bentuk khusus Pengadilan. Poin penting yang
membedakan Pengadilan dan arbitrase adalah bila jalur Pengadilan (judicial
settlement) menggunakan satu peradilan permanen atau standing court, sedangkan
arbitrase menggunakan forum tribunal yang dibentuk khusus untuk kegiatan
tersebut. Dalam arbitrase, arbitrator bertindak sebagai hakim dalam mahkamah
arbitrase, sebagaimana hakim permanen, walaupun hanya untuk kasus yang sedang
ditangani.
Menurut Frank Elkoury dan Edna Elkoury, arbitrase adalah suatu proses yang mudah
atau simple yang dipilih oleh para pihak secara sukarela yang ingin agar perkaranya
diputus oleh juru pisah yang netral sesuai dengan pilihan mereka di mana keputusan
berdasarkan dalil-dalil dalam perkara tersebut. Para pihak setuju sejak semula untuk
menerima putusan tersebut secara final dan mengikat.
Di Indonesia, perangkat aturan mengenai arbitrase yakni UU No. 30 tahun 1999
mendefinisikan arbitrase sebagai cara penyelesaian sengketa perdata di luar
peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara
tertulis oleh para pihak yang bersengketa.
Blacks Law Dictionary juga memberikan definisi arbitrase sebagai a method of
dispute resolution involving one or more neutral third parties who are usually agreed
to by the disputing parties and whose decision is binding.
Berbagai pengertian arbitrase yang diberikan di atas terdapat beberapa unsur
kesamaan, yaitu:
1. Adanya kesepakatan untuk menyerahkan penyelesaian sengketa-sengketa, baik
yang akan terjadi maupun telah terjadi kepada seorang atau beberapa orang pihak
ketiga di luar peradilan umum untuk diputuskan;
2. Penyelesaian sengketa yang bisa diselesaikan adalah sengketa yang menyangkut

hak pribadi yang dapat dikuasai sepenuhnya, khususnya di sini dalam bidang
perdagangan industri dan keuangan; dan
3. Putusan tersebut meupakan putusan akhir dan mengikat (final and binding).
Referensi:
1.
2.

Subekti, Arbitrase Perdagangan, Bina Cipta, Bandung, 1992, hlm.1.


H. Priyatna Abdurrasyid, Penyelesaian Sengketa Komersial (Nasional dan
Internasional) di luar Pengadilan, Makalah, September 1996, hlm.1.

3.

H.M.N. Poerwosutjipto, Pokok-pokok Hukum Dagang, Perwasitan, Kepailitan


dan Penundaan Pembayaran, Cetakan III, Djambatan, Jakarta, 1992, hlm.1.

4.

Brierly J. Law, The Law of Nation, Oxford, Clarendon Press, 1983, hlm.347.

5.

Frank Elkoury dan Edna Elkoury, How Arbitration Work,Washington DS., 1974,
dikutip dari M. Husseyn dan A. Supriyani Kardono, Kertas Kerja Hukum
Ekonomi, Hukum dan Lembaga Arbitrase di Indonesia, Proyek Pengembangan
Hukum Ekonomi dan Penyempurnaan Sistem Pengadaan, Kantor Menteri
Negara Koordinasi Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pengawasan Pembangunan,
1995, hlm.2.

6.

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif


Penyelesaian Sengketa, Pasal 1 (1).

7.

Bryan A. Garner, et.al, eds, Blacks Law Dictionary, 9th ed., Thomson Business,

United States of America, 2004, s.v. arbitration.


http://dodiksetiawan.wordpress.com/2009/04/14/definisi-arbitrase/