Anda di halaman 1dari 13

BAB V

KEDARURATAN PSIKIATRI PADA ANAK

Beberapa anak atau remaja mempunyai intervensi psikiatri sendiri, dengan demikian
sebagian besar evaluasi kedaruratan mereka diperankan oleh orang tua, kerabat, guru,dokter,
dan pelayanan perlindungan anak. Beberapa petunjuk berfungsi untuk evaluasi situasi yang
mengancam jiwa bagi anak atau untuk orang lain, seperti perilaku bunuh diri, kekerasan fisik,
dan perilaku kekerasan atau pembunuhan. situasi yang mengancam jiwa anak dan remaja
lainnya merupakan masalah gangguan kejiwaan yang serius, seperti gejala manik, depresi,
mudah marah.
diagnosa dari keadaan yang terjadi ketika anak-anak dan remaja saat ini dengan
masalah masa lalunya yang mengganggu, menyebabkan adanya perilaku menyimpang,yang
disertai dengan rasa cemas,dan bingung yang menganggap keadaan tersebut sebagai keadaan
kedaruratan psikiatri pada anak.
meskipun adanya perilaku yang mengancam

gangguan kejiwaan, Dalam kasus

tersebut, psikiater harus menilai seluruh keluarga yang terlibat dengan anak. masalah
keluarga dan perselisihan orang tua dapat berkontribusi masalah

bagi anak. Misalnya,

dengan keadaan permasalahan pada kedua orang tuanya yang mengakibatkan anak tersebut
terperangkap dalam masalah orang tuanya, peran dari orang tua, guru di sekolah, terapis, atau
pelayanan perlindungan anak ikut dalam membantu permasalahan tersebut.

5.1

Faktor Resiko

Kekerasan fisik dan kekerasan seksual


Keadaan yang menyebabkan adanya masalah dalam keluarga yaitu kehilangan orang
tua, terjadi perceraian, kehilangan pekerjaan,masalah tersebut dapat mengakibatkan gangguan
kejiwaan pada orang tua yang dapat berpengaruh terhada anaknya sendiri.

Masalah yang sangat berat dalam keluarga sering mengakibatkan perilaku seperti
marah-marah, mengamuk,dan bisa terjadi adanya kekerasan,yang akan berlangsung dalam
jangka waktu cukup lama bahkan sampai berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.tetapi
dengan adanya fasilitas kesehatan jiwa di berbagai rumah sakit ataupun perusahaanperusahaan swasta dapat mempermudah orang tua, untuk berkonsultasi masalah yang terjadi
pada anaknya untuk menceritakan keadaan yang membuat anak tersebut menjadi stres
misalnya seperti kekerasan fisik ataupun tentang seksual. Mengingat pentingnya hubungan
keluarga dengan anak-anak tidak dapat dipisahkan ini dapat berpengaruh pada gangguan
perilaku anak tersebut, ahli psikiater harus melihat apakah ada gangguan kejiwaan pada
anggota keluarga, ini semua merupakan Salah satu cara untuk membuat penilaian wawancara
terhadap anak dengan melihat dari anggota keluarga masing-masing, baik sendiri maupun
bersama-sama,ataupun bisa mendapatkan informasi dari luar keluarga bila memungkinkan
ataupun diperlukan. Peranan Orang tua, terapis, dan guru dapat menambahkan informasi
berharga mengenai fungsi sehari-hari pada anak. Karena Banyak keluarga, terutama mereka
dengan penyakit kejiwaan yang cukup berat, mungkin memiliki sedikit atau tidak ada untuk
mencari bantuan kedaruratan psikiater, Oleh karena itu, evaluasi darurat menjadi satu-satunya
cara untuk melibatkan mereka dalam program perawatan psikiatri secara luas.

5.3

Kedaruratan Mengancam kehidupan (Life-Threatening Emergencies

5.3.1 Perilaku bunuh diri


Penilaian
Perilaku bunuh diri adalah alasan paling umum untuk evaluasi kedaruratan psikiatri
pada remaja. Meskipun resiko minimal untuk bunuh diri lebih banyak pada anak umur kurang
dari 12 tahun, ide bunuh diri atau perilaku pada anak dari segala usia harus lebih hati-hati
,dan perlu dievaluasi, dengan memberikan perhatian khusus pada kasus psikiatri pada anak.
dan kemampuan keluarga atau wali untuk memberikan pengawasan yang lebih baik
lagi.Penilaian tersebut harus menentukan keadaan dari ide bunuh diri atau perilaku itu sendiri,
serta masih adanya niat untuk bunuh diri. Evaluasi keluarga harus selalu dilakukan, dengan
adanya dukungan, dan kompetensi harus dilakukan untuk menilai kemampuan mereka untuk
memperhatikan potensi ide bunuh diri pada

anak. Pada akhirnya, selama evaluasi

kedaruratan psikiatri harus memutuskan apakah anak dapat kembali ke rumah dengan

lingkungan yang aman,atau melakukan pemeriksaan rawat jalan untuk menindak lanjuti
apakah diperlukan perawatan atau apakah perlu untuk rawat inap . Sebuah riwayat kaus
psikiatri, pemeriksaan status mental, dan penilaian fungsi keluarga membantu menentukan
faktor resiko.
Manajemen
Ketika perilaku yang merugikan diri sendiri telah terjadi, remaja dan anak lebih
membutuhkan perawatan rawat inap di unit psikiatri untuk melakukan pengobatan atau untuk
melakukan pengamatan dari sisa gejala setelah meminum racun. Jika remaja tersebut secara
medis mempunyai gangguan psikiatri ,maka harus memutuskan apakah remaja tersebut
membutuhkan penaganan kejiawaan dan apabila pasien tetap mempunyai ide bunuh diri dan
menunjukkan tanda-tanda psikotik, depresi berat (termasuk adanya rasa putus asa), atau
ditandai dengan adanya ide bunuh diri, maka diharuskan melakukan pengobatan kejiwaan.
Seorang remaja yang mengonsumsi obat-obatan atau alkohol tidak boleh dilepaskan sampai
penilaian dapat dilakukan bila pasien dalam keadaan tidak mabuk. Pasien dengan risiko
tinggi

terjadi pada remaja laki-laki, terutama mereka dengan penyalahgunaan zat dan

gangguan perilaku agresif, dan mereka yang memiliki depresi berat, atau yang telah membuat
usaha untuk ide bunuh diri sebelumnya,ini semua harus dilakukan perawatan rawat inap
segera. Anak-anak muda yang telah membuat ide untuk bunuh diri, bahkan ketika ide bunuh
diri itu telah mematikan, maka perlu dirawat di kejiwaan,dan dilakukan pengobatan lebih
lanjut. (Lihat Bab 49:. Gangguan mood dan Bunuh Diri pada Anak dan Remaja untuk
pembahasan lebih lanjut bunuh diri pada anak-anak)

5.3.2. Perilaku kekerasan dan Mengamuk


Penilaian
Tugas pertama dalam evaluasi kedaruratan psikiatri pada anak atau remaja adalah
untuk memastikan bahwa anak dan anggota keluarga secara fisik dilindungi sehingga tidak
ada yang terluka. Jika anak tampak menenangkan diri di tempat yang sepi, maka dokter dapat
menjelaskan kepada anak bahwa akan lebih menyenangkan apabila anak tersebut dapat
menceritakan masalah yang sedang di hadapinya.. Jika anak setuju dan mau menceritakan
masalahnya kepada dokter ,maka anak berada dalam kontrol yang lebih baik, dokter dapat
mendekati anak dengan pelan-pelan, Jika tidak, dokter harus memberikan waktu kepada anak

beberapa menit untuk menenangkan diri sebelum menilai kembali situasi dari masalah nya
tersebut dengan memberikan obat yang bisa sedikitnya membantu anak menjadi tenang.
Jika remaja sangat agresif, pengekangan fisik mungkin sangat diperlukan. Beberapa
anak

dan remaja dibawa kedaruratan psikiatri karena keluarga tidak mampu

menjaganya.pengekangan tersebut bisa dihentikan ketika dengan pemberian obat bisa


dikontrol. Anak-anak dan remaja agar bisa menjadi tenang apabila didekati dengan pelan dan
tenang,ataupun dengan

cara yang tidak mengancam dan diberi kesempatan untuk

menceritakan masalah mereka tanpa menghakimi meraka. Pada saat ini, psikiater harus
mencari setiap gangguan kejiwaan yang mendasari yang mungkin menjadi mediasi agresi.
Psikiater harus berbicara dengan anggota keluarga dan orang lain yang telah melihat sendiri
perilaku anak tersebut, untuk memahami konteks yang terjadi dan sejauh mana anak telah
keluar dari kendalinya.
Manajemen
Anak prapubertas, dengan tidak adanya penyakit jiwa yang berat, jarang memerlukan
obat agar mereka tetap tenang, karena mereka pada dasarnya cukup mudah untuk
mengendalikan dirinya sendiri, tanpa harus melukai orang lain. Hal ini tidak segera
diperlukan karena pemberian obat untuk anak atau remaja,pada saat dia marah, dalam
keadaan tenang baru bisa untuk dilakukan pemeriksaan, Remaja dan anak-anak yang sangat
gelisah,mungkin tidak bisa di ajak berbicara sebelum diberikan obat terlebih dahulu.

P.920
Anak-anak yang memiliki riwayat psikiatri berulang, self-terbatas, mengamuk lebih
parah mungkin tidak memerlukan masuk ke rumah sakit jika mereka bisa tenang selama
evaluasi. Namun, tidak diragukan lagi, apabila kejadian tersebut terulang kembali kecuali
sedang dilakukan pengobatan rawat jalan yang sedang berlangsung. Untuk remaja yang terus
menimbulkan bahaya bagi diri sendiri ataupun orang lain selama periode evaluasi, maka
indikasi masuk ke rumah sakit untuk pengobatan sangat diperlukan.
Fire Setting
penilaian

Kedaruratan psikiatri pada anak dan remaja sering membuat orang tua dan keluarga
menjadi panik. Orang tua atau guru sering meminta penanganan darurat psikiatri, bahkan
untuk masalah anak yang sering bermain dan menyalakan api dengan korek api. Banyak
anak-anak, selama perkembangan yang normal, menjadi tertarik pada permainan api, tetapi
dalam banyak kasus, anak usia sekolah yang sering bermain dengan korek api,dengan sengaja
melakukan pembakaran dan berusaha juga untuk membantu dan melakukan pemadaman api
tersebut. Ketika seorang anak memiliki minat yang kuat dalam bermain korek api, tingkat
pengawasan oleh anggota keluarga harus diperketat lagi, sehingga tidak ada kebakaran yang
terjadi lagi dengan disengaja,pemeriksaan klinis harus membedakan antara seorang anak
yang sengaja atau bahkan adanya masalah impulsif dengan api, dan seorang anak yang
terlibat dalam melakukan kebakaran berulang dengan direncanakan terlebih dahulu dan
kemudian meninggalkan api tanpa membuat upaya untuk memadamkannya. Disini risikonya
jelas lebih besar dari pada kejadian tunggal, dan psikiater harus menentukan apakah
psikopatologi yang mendasari ada pada anak atau anggota keluarganya. Psikiater juga harus
mengevaluasi interaksi keluarga, dan faktor-faktor apa saja yang mengganggu efektif
pengawasan dan komunikasi.
manajemen
Komponen penting dari manajemen dan pengobatan untuk masalah tentang api dapat
mencegah insiden lebih lanjut saat mengobati psikopatologi yang mendasar Secara umum,
menyalakan api dengan sendiri bukan merupakan indikasi untuk rawat inap, kecuali ancaman
langsung dari menyalakan api tersebut, Orang tua dari anak-anak dengan pola melakukan
masalah kebakaran harus tegas menasihati bahwa anak tidak boleh ditinggalkan sendirian di
dalam rumah dan tidak boleh dibiarkan untuk mengurus adik-adik tanpa pengawasan orang
dewasa langsung. Anak-anak yang menunjukkan pola perilaku agresif bersamaan dan bentukbentuk perilaku destruktif cenderung memiliki hasil yang buruk. Perawatan untuk Rawat
jalan harus diatur untuk anak-anak yang berulang kali melakukan kejadian pembakaran.
Teknik perilaku yang melibatkan kedua anak dan keluarga sangat membantu dalam
mengurangi risiko terjadinya kebakaran lebih lanjut.

5.3.3. Pelecehan seksual dan fisik pada anak


penilaian

Kekerasan fisik dan seksual terjadi pada anak perempuan dan anak laki-laki dari
segala usia, dalam semua kelompok etnis, dan pada semua tingkatan sosial ekonomi.
Pelanggaran bervariasi sehubungan dengan tingkat keparahan dan durasi, tetapi segala bentuk
penyalahgunaan merupakan situasi darurat psikiatri untuk anak (Gambar. 34,3-1). Tidak ada
sindrom kejiwaan tunggal adalah qua non sinus pelecehan fisik atau seksual, tapi adanya rasa
takut, rasa bersalah, kecemasan, depresi, dan ambivalensi mengenai pengungkapan umumnya
terjadi pada anak yang telah disalahgunakan.
Anak-anak yang mengalami pelecehan seksual mungkin menunjukkan perilaku
seksual yang dewasa sebelum waktunya, dengan teman sebaya dan menyajikan pengetahuan
seksual secara rinci yang mencerminkan paparan melampaui tingkat perkembangan fisik dari
mereka. Anak-anak yang bertahan terhadap pelecehan seksual atau fisik sering menunjukkan
perilaku sadis dan agresif dengan sendirinya. Anak-anak yang disalahgunakan dengan cara
apapun, yang mungkin telah diancam dengan konsekuensi berat dan menakutkan oleh pelaku
jika mereka mengungkapkan situasi kepada siapa pun. Sering terjadi pada seorang anak yang
dilecehkan yang menjadi korban oleh anggota keluarga,ditempatkan di posisi yang tidak
dapat ditenangkan tidak memiliki hal baik untuk bertahan dari tindakan tersebut.
Dalam kasus dugaan pelecehan seksual, anak dan anggota keluarga lainnya harus
diwawancarai secara individual untuk memberikan informasi. setiap anggota diberikan
kesempatan untuk berbicara secara pribadi. Jika memungkinkan, dokter harus mengamati
anak dengan setiap orang tua secara individu untuk mendapatkan rasa spontanitas,
kehangatan, ketakutan, kecemasan, atau fitur yang menonjol lain dari hubungan. Salah satu
pengamatan umumnya tidak cukup untuk membuat penilaian akhir tentang hubungan
keluarga, namun; anak dilecehkan hampir selalu memiliki keadaan emosi terhadap orang tua
yang kasar.
Indikator fisik pelecehan seksual pada anak-anak termasuk penyakit menular seksual
(misalnya, gonore); nyeri, iritasi, dan gatal pada alat kelamin dan saluran kemih; dan tidak
nyaman pada saat duduk dan berjalan. Dalam banyak kasus dugaan pelecehan seksual,
namun, bukti fisik tidak hadir. Dengan demikian, cerita hati-hati sangat penting. Dokter harus
berbicara langsung tentang isu-isu tanpa memimpin anak ke segala arah, karena anak-anak
sudah takut dan dengan mudah dipengaruhi untuk mendukung apa yang mereka pikirkan
dengan pemeriksa yang ingin didengar. Selain itu, anak-anak yang telah dianiaya sering
menarik kembali seluruh atau sebagian dari apa yang telah diungkapkan selama wawancara.

Penggunaan boneka anatomi yang benar dalam penilaian pelecehan seksual dapat
membantu anak mengidentifikasi bagian-bagian tubuh dan menunjukkan apa yang telah
terjadi, tetapi tidak ada bukti kondusif mendukung dengan melakukan pelecehan seksual
pada boneka sebagai sarana memvalidasi penyalahgunaan. (Lihat Bab 32:. Permasalahan
Pelanggaran atau Abaikan untuk pembahasan lengkap pelecehan anak)
5.3.4. Penelantaran: menyebabkan gangguan perkembangan
penilaian
Dalam mengabaikan anak, kondisi fisik, mental, atau emosional anak telah dirugikan
karena ketidakmampuan orang tua atau pengasuh untuk memberikan cukup makanan, tempat
tinggal, pendidikan, atau pengawasan.ini semua Mirip dengan penyalahgunaan, salah satu
bentuk mengabaikan adalah situasi darurat psikiatri untuk anak. Orang tua yang mengabaikan
anak-anak mereka berkisar luas dan mungkin termasuk orang tua yang masih sangat muda
dan tidak adanya pengetahuan tentang kebutuhan emosional dan konkret anak, ini semua
terjadi pada orang tua dengan pasif dan depresif secara signifikan.
Dalam bentuk yang paling bahaya,dan kelalaian dapat mengakibatkan kegagalan
perkembangan fisk dan mental pada saat anak dibawah usia satu tahun.anak tersebut menjadi
kurang gizi karena tidak adanya perhatian secara signifikan. (Gambar. 34,3-2 dan 34,3-3).
Kegagalan pada tumbuh kembang anak biasanya terjadi dalam situasi di mana gizi pada
makanan belum mencukupi,ini semua ada hubungannya dengan pekerja untuk mengrus anakanak, Pola negatif mungkin ada di antara ibu dan anak di mana anak menolak disusui dan ibu
merasa ditolak dan akhirnya menarik diri. Dia kemudian dapat menghindari menawarkan
makanan sesering bayi membutuhkannya. Observasi ibu dan anak bersama-sama dapat
mengungkapkan tidak spontan, interaksi tegang, dengan penarikan di kedua sisi, yang dapat
mengakibatkan sifat apatis tampak pada ibu. Baik ibu dan anak mungkin tampak tertekan.
Salah satu bentuk yang jarang dari kegagalan tumbuh kembang pada anak-anak, yang
berusia

beberapa tahun dan bukan berarti masalah kekurangan gizi adalah, sindrom

dwarfisme psikososial. Dalam sindrom yang ditandai gangguan pertumbuhan dan kekurangan
gizi tertunda sampai ada hubungan antara orang tua dan anak,perilaku sosial dan cara makan
yang aneh pada anak. Perilaku tersebut kadang-kadang meliputi makan dari tempat sampah,
air minum toilet, dan muntah. Setengah dari anak-anak dengan sindrom ini mengalami
penurunan hormon pertumbuhan. Setelah anak-anak dikeluarkan dari lingkungan bermasalah

dan ditempatkan dalam pengaturan lain, seperti rumah sakit jiwa dengan pengawasan dan
bimbingan tentang makanan yang tepat, kelainan endokrin mulai normal, dan anak-anak
mulai tumbuh pada tingkat yang lebih cepat.

Manajemen
Dalam kasus penelantaran anak, seperti kekerasan fisik dan seksual, keputusan yang
paling penting yang harus dilakukan selama evaluasi awal adalah apakah anak tersebut aman
di lingkungan rumah. Setiap kali mengabaikan dicurigai, harus dilaporkan kepada layanan
badan perlindungan anak. Pada kasus ringan, keputusan untuk merujuk keluarga untuk
melakukan perawatan rawat jalan, sebagai lawan hospitalizing anak, tergantung pada
keyakinan dokter bahwa keluarga yang kooperatif dan bersedia untuk dididik dan untuk
masuk ke dalam pengobatan dan bahwa anak tidak dalam bahaya. Sebelum anak terlantar
dilepaskan dari kondisi darurat psikiatri.
Pendidikan untuk keluarga harus dimulai pada saat evaluasi; keluarga harus
diberitahu, dengan cara yang tidak mengancam, bahwa kegagalan tumbuh kembang dapat
menjadi mengancam jiwa, dan seluruh keluarga perlu memantau kemajuan anak, dan bahwa
mereka akan menerima bantuan dalam mengatasi berbagai rintangan yang mungkin
mengganggu emosional dan kesejahteraan fisik anak.

Anorexia Nervosa
Anorexia nervosa terjadi pada wanita sekitar sepuluh kali lebih sering daripada pada
laki-laki. Hal ini ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan, yang
menyebabkan berat badan setidaknya 15 persen di bawah yang diharapkan, berdasarkan citra
tubuh yang terdistorsi, ini semua disebabkan oleh rasa takut terus-menerus,sehingga menjadi
lemak, dan dengan tidak adanya siklus menstruasi. Gangguan ini biasanya dimulai setelah
pubertas, tetapi telah terjadi pada anak-anak dari 9 sampai 10 tahun, di antaranya diharapkan
kenaikan berat badan tidak terjadi, daripada kehilangan 15 persen dari berat badan. Kelainan
mencapai proporsi darurat medis apabila penurunan berat badan mendekati 30 persen dari

berat badan atau ketika gangguan metabolisme menjadi lebih parah. Indikasi Rawat Inap
kemudian menjadi perlu karena berfungsi untuk mengontrol.
P.922
proses yang berkelanjutan karena kelaparan, potensi dehidrasi, dan komplikasi medis
dari kelaparan itu sendiri, termasuk ketidakseimbangan elektrolit, aritmia jantung, dan
perubahan hormonal. (Lihat Bab 23: Gangguan Makan untuk diskusi lebih lanjut tentang
anorexia nervosa dan gangguan makan lainnya.)

Acquired Immune Deficiency Syndrome


penilaian
Acquired immune deficiency syndrome (AIDS), yang disebabkan oleh human
immunodeficiency virus (HIV), terjadi pada neonatus melalui penularan perinatal dari ibu
yang terinfeksi, pada anak dan remaja penularan terjadi karena adanya pelecehan seksual oleh
orang yang terinfeksi, dan pada remaja bisa juga melalui obat intravena penyalahgunaan
dengan orang yang terinfeksi, dan pada remaja melalui penyalahgunaan obat intravena
dengan jarum yang terinfeksi dan melalui kegiatan seksual dengan pasangan yang terinfeksi.
Anak dan remaja penderita hemofilia mungkin kontak dengan pasien AIDS melalui transfusi
darah yang terinfeksi.
Anak-anak dan remaja dapat hadir untuk evaluasi kedaruratan ini,atas desakan dari
anggota keluarga, dalam beberapa kasus, mereka mengambil inisiatif sendiri ketika mereka
dihadapkan dengan kecemasan atau panik tentang perilaku berisiko tinggi tersebut. Skrining
awal orang berisiko tinggi dapat menyebabkan pengobatan pasien yang terinfeksi tanpa
gejala dengan obat-obatan seperti azidotimidin (AZT) dan mungkin obat baru lainnya yang
dapat memperlambat perjalanan penyakit. Selama penilaian risiko untuk infeksi HIV, sebuah
proses pendidikan dapat dimulai dengan kedua pasien dan anggota keluarga sehingga seorang
remaja yang tidak terinfeksi, tetapi menunjukkan perilaku berisiko tinggi, dapat diberi
konseling tentang perilaku dan sekitar praktek yang aman tentang hubungan seks.
Pada anak-anak ensefalitis,

terutama untuk yang terinfeksi HIV,

akan terjadi

penurunan perkembangan otak, dan gejala neuropsikiatri seperti penurunan daya ingat,
konsentrasi, Virus ini dapat hadir dalam cairan serebrospinal sebelum itu muncul dalam

aliran darah. Perubahan fungsi kognitif, lobus frontal perasaan malu, penarikan sosial, terjadi
keterlambatan pengolahan informasi, dan sikap apatis merupakan beberapa gejala umum dari
demensia kompleks terkait AIDS. Kelainan organik mood, gangguan kepribadian organik,
dan psikotik frank juga dapat terjadi pada pasien terinfeksi HIV. (HIV dibahas dalam Bab 11.
Neuropsychiatric Aspek Infeksi HIV dan AIDS)
Situasi Mendesak Non-Life Penolakan Sekolah membahayakan
Penilaian
Penolakan untuk pergi ke sekolah dapat terjadi pada anak muda yang masuk sekolah
pertama atau pada anak yang lebih tua atau remaja yang membuat transisi ke dalam kelas
baru atau sekolah, atau mungkin muncul pada anak yang rentan tanpa stressor eksternal yang
jelas. Dalam kasus apapun, penolakan sekolah memerlukan intervensi segera, karena semakin
lama pola disfungsional berlanjut, semakin sulit untuk mengganggu.
Penolakan sekolah umumnya terkait dengan kecemasan, di mana kesulitan anak
berhubungan dengan sendiri dan yang terpisah dari orang tua, sehingga anak menolak pergi
ke sekolah. Penolakan Sekolah juga dapat terjadi pada anak-anak dengan fobia sekolah, di
mana rasa takut dan tertekan yang ditargetkan pada sekolah itu sendiri. Dalam kedua kasus,
gangguan serius kehidupan anak terjadi. Meskipun kecemasan pemisahan ringan bersifat
universal, khususnya di kalangan anak-anak yang sangat muda yang pertama kali
menghadapi sekolah, pengobatan diperlukan bila seorang anak benar-benar tidak bisa
bersekolah. Psikopatologi yang parah, termasuk kecemasan dan gangguan depresi, sering
hadir ketika penolakan sekolah terjadi untuk pertama kalinya pada remaja. Anak-anak dengan
gangguan kecemasan biasanya hadir kekhawatiran yang sangat parah bahwa peristiwa
bencana akan menimpa ibu mereka, atau diri mereka sebagai akibat dari pemisahan. Anakanak dengan gangguan kecemasan juga mungkin menunjukkan banyak ketakutan lain dan
gejala depresi, termasuk keluhan somatik seperti

sakit kepala, sakit perut, dan mual.

Kemarahan yang parah dan permohonan putus asa mungkin terjadi ketika berpikir bahwa
orang tua akan merasa dirugikan selama perpisahan tersebut.
P.923
sering dibicarakan alasan pada remaja,menolak untuk pergi ke sekolah karena sering
mengalami keluhan fisik.

Sebagai bagian dari penilaian yang segera, psikiater harus memastikan durasi adanya
pasien dari sekolah dan harus menilai kemampuan orang tua untuk berpartisipasi dalam
rencana pengobatan yang pasti akan melibatkan pedoman orang tua

untuk menjamin

kembalinya anak ke sekolah. Orang tua dari anak dengan gangguan kecemasan

sering

menunjukkan pemisahan kecemasan yang berlebihan atau gangguan kecemasan lain dari diri
sendiri, sehingga menambah masalah pada anak. Ketika orang tua tidak mampu untuk
berpartisipasi dalam program pengobatan dari rumah,pengobatan di rumah sakit harus
dipertimbangkan.
manajemen
Ketika penolakan sekolah disebabkan oleh kecemasan yang teridentifikasi selama
evaluasi darurat, gangguan yang mendasarinya dapat menjelaskan kepada keluarga, dan
intervensi dapat segera dimulai. Dalam kasus yang parah, namun, rencana perawatan yang
berorientasi keluarga, jangka panjang multidimensi sangat diperlukan. Mungkin anak merasa
cemas harus dibawa kembali ke sekolah,dan dicoba lagi kesekolah hari berikutnya, meskipun
merasa bahaya, dan penghubung didalam sekolah (konseling bimbingan, atau guru) harus
terlibat untuk membantu anak di sekolah.
Ketika penolakan sekolah telah berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahuntahun atau ketika anggota keluarga tidak dapat bekerja sama, program pengobatan untuk
memindahkan anak kembali ke sekolah dari rumah sakit harus dipertimbangkan. Ketika
kecemasan anak tidak berkurang dengan metode perilaku saja, antidepresan trisiklik, seperti
imipramine (Tofranil), sangat membantu. Obat umumnya diresepkan tidak pada evaluasi
awal tapi setelah intervensi perilaku telah dicoba.

Munchausen Syndrome by Proxy


penilaian
Munchausen syndrome by proxy, pada dasarnya, adalah bentuk pelecehan anak di
mana orangtua, biasanya ibu, atau pengasuh yang berulang kali

atau benar-benar

menimbulkan luka atau sakit pada anak,ini merupakan kondisi kedaruratan psikiatri,
Meskipun ibu memiliki pengetahuan sebelumnya dari obat-obatan,yang dapat menyebabkan
gejala tersebut, ibu kadang-kadang terlibat dalam kedekatan yang tidak pantas dengan staf

medis mengenai pengobatan anaknya sendiri. Observasi yang cermat dapat mengungkapkan
bahwa ibu sering tidak menunjukkan tanda-tanda yang tepat dari kesulitan mendengar rincian
gejala medis anak. Prototypically, ibu tersebut cenderung menampilkan diri sebagai
profesional sangat dicapai dengan cara-cara yang tampak meningkat atau terang-terangan
tidak benar.
Penyakit yang muncul pada anak dapat melibatkan berbagai sistem organ, tetapi
gejala tertentu biasanya disajikan: perdarahan dari satu atau mungkin situs, termasuk
gastrointestinal (GI) saluran, sistem genitourinari, dan sistem pernapasan; kejang; dan sistem
saraf pusat (SSP) depresi. Kadang-kadang, penyakit disimulasikan, bukan benar-benar
dijatuhkan. Sindrom ini dibahas dalam Bab 19.
Other Childhood Disturbances
Posttraumatic Stress Disorder
Anak-anak yang telah mengalami peristiwa bencana atau trauma parah dapat hadir
untuk evaluasi cepat karena mereka memiliki ketakutan ekstrim dari trauma tertentu terjadi
lagi atau ketidaknyamanan mendadak dengan tempat-tempat tersebut, orang, atau situasi yang
sebelumnya tidak menimbulkan kecemasan. Dalam beberapa minggu dari peristiwa
traumatis, seorang anak mungkin membuat ulang acara dalam bermain, dalam cerita, dan
dalam mimpi yang langsung memutar ulang situasi yang menakutkan. Rasa menghidupkan
kembali pengalaman dapat terjadi, termasuk halusinasi dan kilas balik (disosiatif)
pengalaman, dan kenangan mengganggu acara datang dan pergi. Banyak anak trauma, dari
waktu ke waktu, pergi untuk mereproduksi bagian dari acara melalui perilaku korban sendiri
terhadap orang lain, tanpa menyadari bahwa perilaku tersebut mencerminkan pengalaman
traumatis mereka sendiri. (Lihat Bagian 50.2. Posttraumatic Stress Disorder of Infancy,
Childhood, dan Remaja untuk diskusi lebih lanjut tentang topik ini)

Gangguan disosiatif
Dissociative"termasuk bentuk keparahan dari masalah beberapa kepribadian yang
diyakini paling mungkin terjadi pada anak-anak yang telah mengalami pelecehan berat dan
berulang-ulang fisik, seksual, atau emosional. Anak-anak dengan gejala disosiatif dapat
dirujuk untuk evaluasi karena anggota keluarga atau guru mengamati bahwa anak-anak

kadang-kadang tampaknya merasa terganggu atau bertindak seperti orang yang berbeda.
Negara disosiatif kadang-kadang diidentifikasi selama evaluasi perilaku kekerasan dan
agresif, terutama pada pasien yang benar-benar tidak ingat tentang perilaku mereka sendiri.
Ketika seorang anak yang memisahkan kekerasan atau merusak diri sendiri atau
membahayakan orang lain,maka indikasi rawat inap diperlukan. Berbagai metode psikoterapi
telah digunakan dalam pengobatan kompleks anak-anak dengan gangguan disosiatif,
termasuk teknik bermain dan, dalam beberapa kasus, hipnosis. (Lihat Bab 20:. Gangguan
disosiatif untuk pembahasan lengkap kondisi ini).