Anda di halaman 1dari 22

Tuberkulosis Paru pada Dewasa

Inne Ikke Citami Putri


102011034
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11520
Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
e-mail: citami_putri06@yahoo.co.id

Pendahuluan
Tuberkulosis sampai saat ini tetap menjadi salah satu masalah kesehatan yang
serius. Saat ini tuberkulosis merupakan masalah kesehatan di dunia dan merupakan penyebab
kematian di negara-negara berkembang. Di Indonesia sendiri tuberkulosis masih merupakan
masalah utama kesehatan masyarakat. Indonesia merupakan negara dengan pasien
tuberkulosis terbanyak ke-3 di sunia setelah India dan Cina.
Tuberkulosis paru merupakan suatu penyakit infeksi yang menyerang paru-paru
yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Salah satu sifat dari kuman
Mycobacterium tuberculosis adalah aerob yaitu menyukai daerah yang banyak oksigen.
Bakteri ini lebih menyenangi daerah yang tinggi kandungan oksigennya. Kebanyakan infeksi
tuberkulosis (TB) terjadi melalui udara (airbone), yaitu melalui inhalasi droplet yang
mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi.1
Tuberkulosis bisa

menyerang berbagai usia dan memiliki kemungkinan

menyerang pada anak-anak. Penyakit ini biasanya banyak ditemukan pada pasien yang
tinggal di daerah dengan tingkat kepadatan tinggi sehingga masuknya cahaya matahari ke
dalam rumah sangat minim.

2
Anamnesis
Pada anamnesis, selain menanyakan tentang identitas pasien, kita juga perlu untuk
menanyakan keluhan utama yang membuat pasien itu datang untuk berobat.
Pada anamnesis ini perlu juga untuk menanyakan beberapa hal untuk mengetahui
lebih lanjut, seperti obat-obatan yang di sudah digunakan, riwayat penyakit terdahulu,
aktivitas sehari-hari, riwayat penyakit keluarga, riwayat sosial ekonomi dan lainnya yang
dapat menentukan diagnosis.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin akan ditemukan
konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam (subfebris), badan kurus
atau berat badan menurun.2
Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi inspeksi, palpasi, perkusi dan auskutasi.
Pada inspeksi untuk melihat pergerakan dada keadaan statis maupun dinamis pada saat
bernapas, melihat keadaan sela iga apakah ada retraksi atau normal. Pada palpasi akan meraba
sela iga, maraba apakah ada massa atau benjolan, pergerakan thoraks, dan vokal fremitus
pada thoraks. Perkusi dilakukan untuk mengetahui apakah ada perkusi pekak, redup,
hipersonor pada paru. Pada auskultasi, untuk mendengar suara napas pasien apakah normal
atau terdengar suara napas patologis, dan pemeriksaan lainnya yang membantu dalam
menentukan diagnosis.
Pada pemeriksaan fisis pasien sering tidak menunjukkan suatu kelainan terutama
pada kasus-kasus dini atau yang sudah terinfiltrasi secara asimtomatik. Demikian juga bila
sarang penyakit terletak di dalam, akan sulit menemukan kelainan pada pemeriksaan fisik,
karena hantaran getaran atau suara yang lebih dari 4 cm ke dalam paru sulit dinilai secara
palpasi, perkusi dan auskultasi. Secara anamnesis dan pemeriksaan fisik, tuberkulosis paru
sulit dibedakan dengan pneumonia biasa.2
Tempat kelainan lesi tuberkulosis paru yang paling dicurigai adalah bagian apeks
(puncak) paru. Bila dicurigai adalnya infiltrat yang agak luas, maka didapatkan perkusi yamg
redup dan auskultasi suara napas bronkial. Pada auskultasi juga akan didapatkan suara napas
tambahan berupa ronki basah, kasar dan nyaring. Tetapi apabila infiltrat ini diliputi oleh
penebalan pleura, pada auskultasi suara napas akan menjadi vesikular melemah. Bila terdapat
kavitas yang cukup besar, perkusi memberikan suara hipersonor atau timpani dan auskultasi
memberikan suara amforik.2

3
Pada tuberkulosis paru yang lanjut dengan fibrosis yang luas sering ditemukan atrofi
dan retraksi otot-otot interkostal. Bagian paru yang sakit jadi menciut dan menarik isi
mediastinum atau paru lainnya. Paru yang sehat akan menjadi lebih hiperinflasi. Bila
tuberkulosis mengenai pleura, sering terbentuk efusi pleura. Paru yang sakit terlihat agak
tertinggal dalam pernapasan. Perkusi memberikan suara pekak. Auskultasi memberikan suara
napas yang lemah sampai tidak terdengar sama sekali.2

Pemeriksaan Penunjang

Darah
Pada tuberkulosis baru mulai (aktif) akan didapatkan jumlah leukosit yang sedikit

meninggi dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. Jumlah limfosit masih dibawah normal.
Laju endap darah mulai meningkat. Bila penyakit sembuh, jumlah leukosit kembali normal
dan jumlah limfosit masih tinggi. Laju endap darah mulai turun kembali normal.2

Uji Bakteriologi
Uji bakteriologi yang umum dilakukan adalah melalui pemeriksaan sampel dahak (tes

dahak atau sputum test). Pemeriksaan sputum penting untuk dilakukan karena dengan
ditemukannya kuman basil tahan asam (BTA), diagnosis tuberkulosis dapat dipastikan.
Disamping itu, pemeriksaan sputum dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang
sudah diberikan. Pemeriksaan ini mudah dan murah sehingga dapat dikerjakan. Tetapi,
pemeriksaan sputum ini susah untuk dilakukan kepada pasien yang tidak batuk atau batuk non
produktif. Jika pengambilan sputum tidak dapat dilakukan, sputum dapat diperoleh dengan
cara bronkoskopi diambil dengan brushing atau bronchial washing atau BAL (Broncho
Alveolar Lavage). BTA dari sputum bisa juga didapat dengan cara bilasan lambung. Hal ini
sering dikerjakan pada anak-anak karena mereka sulit untuk mengeluarkan dahak.2
Kriteria sputum BTA positif adalah sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman
BTA pada satu sediaan. Dengan kata lain diperlukan 5.000 kuman dalam 1 ml sputum. Dari
hasil biakan biasanya dilakukan juga pemeriksaan terhadap resistensi obat dan identifikasi
kuman.2
Bila ditemukan adanya bakteri TB di dalam 2 sampel dari 3 sampel dahak seseorang,
berarti orang tersebut dikatakan positif mengidap TBC paru aktif. Pengambilan sampel
dilakukan secara SPS, maksudnya Sewaktu kunjungan pertama, esok Paginya, dan Sewaktu
kunjungan berikut (kedua). Selain diperiksa melalui mikroskop, sampel dahak juga dapat

4
diperiksa dengan cara dibiakkan dalam medium tertentu (tes kultur dahak). Tetapi tes ini
memakan waktu yang lama, sementara tes dahak yang biasa hanya memakan waktu beberapa
jam saja untuk mendapatkan hasilnya.

Tes Tuberkulin
Pemeriksaan ini masih banyak dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis

tuberkulosis terutama pada anak-anak. Biasanya dipakai tes Mantoux yakni dengan
menyuntikkan 0,1 cc tuberkulin PPD (Purifird Protein Derivative) intrakutan.2
Tes tuberkulin adalah salah satu metode yang digunakan untuk mendiagnosis
tuberkulosis. Ini sering digunakan untuk skrenning individu dari infeksi laten dan menilai
rata-rata infeksi tuberkulosis pada populasi tertentu. Uji tuberkulin dilakukan untuk melihat
seseorang mempunyai kekebalan terhadap basil tuberkulosis, sehingga baik untuk mendeteksi
infeksi tuberkulosis. Tetapi uji tuberkulin ini tidak dapat menentukan Micobacterium
tuberkulosis tersebut aktif atau tidak aktif (laten), hanya menyatakan apakah seseorang
individu sedang atau pernah mengalami infeksi Mycobacterium tuberculosae, Mycobacterium
bovis, vaksinasi BCG dan Mycobacteria patogen lainnya. Oleh sebab itu harus dikonfirmasi
dengan ada tidaknya gejala dan lesi pada foto thorak untuk mengetahui seseorang tersebut
terdapat infeksi tuberkulosis atau sakit tuberkulosis.3
Dasar tes tuberkulin ini adalah reaksi alergi tipe lambat. Biasanya hampir seluruh
pasien tuberkulosis memberikan reaksi Mantoux yang positif (99,8%). Kelemahan tes ini
adalah positif palsu yakni pada pemberian BCG atau terinfeksi dengan Mycobacterium lain.
Negatif palsu lebih banyak ditemui daripada positif palsu. Hal-hal yang memberikan reaksi
tuberkulin negatif palsu antara lain pasien yang baru 2 sampai 10 minggu terpajan
tuberkulosis, alergi, penyakit sistemik berat, rekasi hipersensitivitas menurun pada penyakit
limforetikular (Hodgkin), pemberian kortikosteroid yang lama dan obat-obatan imunosupresi
lainnya, usai tua, malnutrisu, uremia, penyakit keganasan dan penyakit eksantematous dengan
panas yang akut: morbili, cacar air, poliomielitis. Pada pasien dengan HIV positif, tes
Mantoux kurang lebih 5 mm, dinilai positif.2
Hasil uji tuberkulin negatif dapat diartikan sebagai seseorang tersebut tidak terinfeksi
dengan basil tuberkulosis. Tetapi hasil yang negatif juga dapat terjadi pada saat kurang dari
10 minggu sebelum imunologi seseorang terhadap basil tuberkulosis terbentuk. Jika terjadi
hasil yang negatif maka uji tuberkulin dapat diulang 3 bulan setelah suntikan pertama. Hasil
uji tuberkulin yang positif dapat diartikan sebagai seseorang tersebut sedang terinfeksi basil
tuberkulosis.3

Radiologis
Saat ini pemeriksaan radiologis dada merupakan cara yang praktis untuk menentukan

lesi tuberkulosis. Lokasi lesi tuberkulosis umumnya di daerah apeks paru (segmen apikal
lobus atas atau segmen apikal lobus bawah), tetapi dapat juga mengenai lobus bawah (bagian
inferior) atau di daerah hilus yang menyerupai tumor paru.2
Pada awal penyakit saat lesi masih merupakan sarang-sarang pneumonia, gambaran
radiologis berupa bercak-barcak seperti awan dan dengan batas-batas yang tidak tegas. Bila
lesi sudah diliputi jaringan ikat maka bayangan terlihat berupa bulatan dengan batas yang
tegas. Lesi ini dikenal sebagai tuberkuloma.2
Pada kavitas bayangannya berupa cincin yang mula-mula berdinding tipis. Lama-lama
dinding jadi sklerotik dan terlihat menebal. Bila terjadi fibrosis, maka akan terlihat bayangan
yang bergaris-garis. Pada kalsifikasi bayangannya tampak sebagai bercak-bercak padat
dengan densitas tinggi. Pada atelektasis terlihat seperti fibrosis yang luas disertai penciutan
yang dapat terjadi pada sebagian atau satu lobus maupun pada satu bagian paru.2
Pada satu foto dada sering didapatkan bermacam-macam bayangan sekaligus (pada
tuberkulosis yang sudah lanjut) seperti infiltrat, garis-garis fibrotik, kalsifikasi, kavitas (non
sklerotik atau sklerotik) maupun atelektasis dan emfisema.2
Pemeriksaan radiologis lain yang lebih canggih dan saat ini sudah banyak dipakai di
rumah sakit rujukan adalah CT-Scan (Computed Tomography Scanning). Pemeriksaan ini
lebih superior dibandingkan radiologis biasa. Perbedaan densitas jaringan terlihat lebih jelas
dan sayatan dapat dibuat transversal. Pemeriksaan khusush yang kadang-kadang juga
diperlukan adalah bronkografi, yakni untuk melihat kerusakan bronkus atau paru yang
disebabkan oleh tuberkulosis. Pemeriksaan khusus ini umumnya dilakukan bila pasien akan
menjalani pembedahan paru.2

Diagnosis Banding
Kanker Paru
Kanker paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru, mencakup
keganasan yang berasal dari paru itu sendiri maupun keganasan dari luar pari (metastasis
tumor di paru). Sebuah sel normal dapat menjadi sel kanker apabila oleh berbagai sebab
terjadi ketidakseimbangan antara fungsi onkogen dengan gen tumor suppresor dalam proses
tumbuh dan kembangnya sebuah sel. Perubahan atau mutasi gen yang menyebabkan
terjadinya hiperekspresi onkogen dan atau kurang atau hilangnya fungsi gen tumor suppresor
menyebabkan sel tumbuh dan berkembang tak terkendali.4

6
Jenis tumor paru dibagi untuk tujuan pengobatan, meliputi SCLC (Small Cell Lung
Cancer) dan NSLC (Non Small Cell Lung Cancer). Karsinoma bronkogenik adalah tumor
ganas paru primer yang berasal dari saluran napas. 4
Sembilan puluh sampai 95 % tumor paru adalah karsinoma. Karsinoma paru
merupakan penyebab kematian karena kanker yang paling sering di temukan pada laki-laki
maupun wanita.5
Penyebab dari timbulnya kanker paru masih belum diketahui. Tetapi ada beberapa
faktor yang mungkin menyebabkan kanker paru, seperti:5
-

Kebiasaan merokok di pastikan sebagai etiologi yang paling penting dalam proses
terjadinya kanker paru.

Pajanan lingkungan meliputi radiasi (misalnya radon), asbes (khususnya bila


bercampur dengan asap), polusi udara (partikel) dan zat-zat lingkungan kerja yang
terhirup (misalnya nikel, kromat, arsen).

Mekanisme genetic meliputi onkogen yang dominan (c-MYC,K-RAS,EGFR dan


HER-2) dan kehilangan gen supresor tumor ( misalnya P53,RB).

Klasifikasi karsinoma
Karsinoma paru diklasifikasikan berdasarkan penampakan histologiknya yang
dominan kendati pengelompokan klinik yang paling penting adalah karsinoma sel kecil dan
karsinoma bukan sel kecil.5

Adenokarsinoma merupakan kanker paru tersering di temukan. Khasnya kanker ini


terlihat sebagai masa paru perifer,dengan gambaran mikroskopik yang khas.berupa
pembentukan kelenjar,biasa yang memproduksi musin dan respons demosplastik
sekitarnya.5

Karsinoma

broknkioalveolaris

merupakan

bentuk

adenokarsinoma

yang

jarang,tumbuh pada region bronkoalveolar terminal.Secara makroskopik, terlihat


nodul tunggal atau multiple,atau konsolidasi tumor mirip pneumonia yang difus.
Secara histologik, di temukan sel-sel tumor yang terlihat tinggi,berbentuk kolumnar
dan sering menghasilkan musin. Sel-sel tersebut tersusun di sepanjang septa alveoli
yang masih utuh dan membentuk tonjolan papilaris. Secara klinik keadaan ini terjadi
pada laki-laki dan wanita dengan frekuensi yang sama dan biasanya tidak berkaitan
dengan kebiasaan merokok.5

Karsinoma sel skuamosa memiliki korelasi yang paling erat dengan kebiasaan
merokok. Sebagian besar kanker ini tumbuh pada atau di dekat hilus paru. Secara
mikroskopik terlihat neoplasma yang bervariasi mulai dari tumor dengan kreatinisasi
yang berdiferensiasi baik hingga tumor dengan diferensiasi skuamosa fokal saja.5

Karsinoma sel kecil

merupakan jenis kanker paru yang paling ganas dan biasa

ditemui di daerah sentral atau hilus paru. Kanker ini memiliki korelasi yang kuat
dengan kebiasaan merokok. Gambaran mikroskopisnya yang khas meliputi oatlike
cell (seperti sel gandum) yang kecil dengan sedikit sitoplasma dan tanpa diferensiasi
granula atau skuamosa. Gambaran ultra struktur sel-sel kangker tersebut dapat
berbentuk granula

neurosekrektorik sementara pewarnaan histobiokimiawinya

memeperlihatkan marker neuroendokrin. Tumor ini paling sering menimbulkan


sindrom paraneoplastik.5

Karsinoma sel besar mungkin menggambarkan adenokarsinoma atau karsinoma sel


squamosa dengan diferensiasi yang buruk. Pada tipe ini di temukan varian histologi
yang aneh ( misalnya dengan sel-sel raksasa, clear sel, atau sel kumparan).5

Gambaran klinis
Gambaran klinik penyakit kanker paru tidak banyak berbeda dari penyakit paru
lainnya. Keluhan utama dapat berupa batuk dengan atau tanpa dahak, batuk darah, sesak
napas, suara serak, nyeri dada, penurunan berat badan, lemas, dan nafsu makan menurun.
Prognosis bergantung stadium ketika tumor di temukan.4
Tumor paru ukuran kecil dan terletak di perifer dapat memberikan gambaran normal
pada pemeriksaan. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah foto toraks, CT-Scan
dan dapat dilakukan pemeriksaan petanda tumor. Pada pemeriksaan foto toraks PA/lateral
akan dapat dilihat bila masa tumor dengan ukuran tumor lebih dari 1 cm. Tanda yang
mendukung keganasan adalah tepi yang ireguler, disertai identasi pleura, dan tumor satelit.
CT-scan dapat mendeteksi tumor dengan ukuran lebih kecil dari 1 cm secara lebih tepat.4

Pneumonia
Pneumonia didefinisikan sebagi suatu peradangan paru yang disebabkan oleh
mikroorganisme (bakteri, virus, jamur dan parasit). Peradangan paru yang disebabkan oleh
nonmikroorganisme, seperti bahan kimia, radiasi, aspirasi bahan toksik dan obat-obatan
disebut sebagai pneumonitis.6

8
Pada penderita pneumonia biasanya di tandai dengan demam, menggigil, suhu tubuh
meningkat dapat melebihi 40oC, batuk dengan dahak mukoid atau purulen dan kadangkadang disertai darah, sesak napas dan nyeri dada.6
Pada pemeriksaan fisik tergantung dari luasnya lesi di paru. Pada inspeksi dapat
terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas, pada palpasi vokal fremitus dapat
mengeras, pada perkusi redup, dan pada auskultasi terdengar suara napas bronkovesikuler
sampai bronkial yang mungkin disertai ronki basah halus, yang kemudian menjadi ronki
basah kasar pada stadium resolusi.6
Pada gambaran radiologis dapat berupa infiltrat sampai konsolidasi dengan air
broncogram, penyebab bronkogenik dan interstisial serta gambaran kaviti. Pada pemeriksaan
laboratorium terdapat peningkatan julah leukosit, biasanya lebih dari 10.000/ul kadangkadang bisa mencapai 30.000/ul, peningkatan laju endap darah. Untuk menentukan diagnosis
etiologi diperlukan pemeriksaan dahak, kultur darah dan serologi. Pemeriksaan khusus dapat
dilakukan analisis gas darah.6

Paru-Paru
Paru-paru merupakan alat pernapasan utama. Paru-paru mengisi rongga dada dan
terletak di sebelah kanan dan kiri dan di tengah dipisahkan oleh jantung beserta pembuluh
darah besarnya dan struktur lainnya yang terletak di dalam mediastinum. Paru-paru
merupakan organ yang berbentuk kerucut dengan apeks (puncak) diatas dan muncul sedikit
lebih tinggi daripada clavicula di dalam dasar leher. Pangkal paru-paru duduk diatas lantai
rongga toraks, diatas diafragma. Paru-paru mempunyai permukaan luar yang menyentuh igaiga dan sisi belakang yang menyentuh tulang belakang serta sisi depan yang menutupi
sebagian sisi depan jantung.7
Paru-paru dibagi menjadi beberapa lobus oleh fisura. Paru-paru kanan mempunyai
tiga lobus dan paru-paru kiri mempunyai dua lobus. Setiap lobusnya tersusun atas lobula.
Sebuah pipa bronkial kecil masuk ke dalam setiap lobula dan semakin bercabang, semakin
menjadi tipis dan akhirnya berakhir menjadi kantong kecil-kecil, yang merupakan kantongkantong udara paru-paru. Jaringan paru-paru elastis, berpori dan seperti spons. Di dalam air,
paru-paru dapat mengapung karena udara yang ada di dalamnya.7
Fungsi utama pernafasan (respirasi) adalah memperoleh O2 untuk digunakan oleh sel
tubuh dan untuk mengeluarkan CO2 yang diproduksi oleh sel. Respirasi mencakup dua proses
yang terpisah tetapi berkaitan yaitu respirasi internal dan respirasi eksternal.8

Respirasi internal, merujuk kepada proses metabolik intrasel yang dilakukan di


dalam mitokondria, yang menggunakan O2 dan menghasilkan CO2 selagi
mengambil energi dari molekul nutrien.

Respirasi eksternal, merujuk kepada seluruh rangkaian kejadian dalm pertukaran


O2 dan CO2 antara lingkungan eksternal dan sel tubuh. Respirasi ekternal
mencakup empat langkah:8

1. Udara secara bergantian dimasukkan dan dikeluarkan dari paru sehingga udara
dapat dipertukarkan antara atmosfer (lingkungan eksternal) dan kantung udara
(alveolus). Aktivitas ini disebut dengan tindakan mekanis bernapas atau ventilasi.
2. Oksigen dan CO2 dipertukarkan antara udara di alveolus dan darah di dalam
kapiler paru melalui proses difusi.
3. Darah mengangkut O2 dan CO antara paru dan jaringan.
4. Oksigen dan CO2 dipertukarkan antara jaringan darah melalui proses difusi
menembus kapiler sistemik.
Saluran napas adalah tabung atau pipa yang mengangkut udara antara atmosfer dan
alveolus. Alveolus merupakan satu-satunya tempat pertukaran gas antara udara dan darah.
Saluran napas berawal dari saluran nasal (hidung). Saluran hidung membuka ke dalam faring
(tenggorokan), yang berfungsi sebagai saluran bersama untuk sistem pernapasan dan
pencernaan. Terdapat dua saluran yang berasal dari faring, yaitu trakea yang dilalui udara
menuju paru dan esophagus yang dilalui makanan untuk menuju lambung. Faring berfungsi
sebagai saluran bersama untuk udara dan makanan sehingga sewaktu menelan terjadi
mekanisme reflex yang menutup trakea agar makanan masuk ke esophagus. Esophagus selalu
tertutup kecuali ketika menelan untuk mencegah udara masuk ke lambung saat bernapas.
Laring, terletak di pintu masuk trakea. Tonjolan anterior laring akan membentuk jakun
(adams apple). Dibelakang laring, trakea terbagi menjadi dua cabang utama, bronkus kanan
dan kiri yang masing-masing masuk ke paru kanan dan kiri.8
Di dalam paru, bronkus akan bercabang-cabang menjadi saluran napas yang semakin
sempit, pendek, dan banyak. Cabang-cabang yang lebih kecil dikenal sebagai bronkiolus. Di
ujung bronkiolus terminal berkelompok alveolus yaitu kantung-kantung udara halus tempat
pertukaran gas antara udara dan darah. Agar aliran udara dapat masuk dan keluar, maka
saluran napas dari pintu masuk melalui bronkiolus terminal hingga alveolus harus tetap
terbuka. Bronkiolus yang lebih kecil tidak memiliki tulang rawan untuk menjaganya tetap
terbuka. Dinding saluran ini mengandung otot polos yang disarafi oleh sistem saraf otonom

10
dan peka terhadap hormon dan bahan kimia lokal tertentu. Faktor-faktor ini mengatur jumlah
udara yang mengalir dari atmosfer ke setiap kelompok alveolus, dengan mengubah derajat
kontraksi otot polos bronkiolus sehingga mengubah kaliber saluran napas terminal.8
Udara mengalir masuk dan keluar paru selama tindakan bernapas karena berpindah
mengikuti gradien tekanan antara alveolus dan atmosfer yang berbalik arah secara bergantian
dan ditimbulkan oleh aktivitas siklik otot pernapasan. Terdapat tiga tekanan yang berperan
penting dalam ventilasi.8

Tekanan atmosfer (barometrik) adalah tekanan yang ditimbulkan oleh berat udara
di atmosfer pada benda di permukaan bumi. Tekanan atmosfer berkurang seiring
dengan penambahan ketinggian di atas permukaan laut karena lapisan-lapisan
udara di atas permukaan laut juga semakin menipis.

Tekanan intra-alveolus (tekanan intraparu) adalah tekanan di dalam alveolus.


Karena alveolus berhubungan dengan atmosfer melalui saluran napas penghantar,
udara cepat mengalir menuruni gradien tekanannya setiap tekanan intra alveolus
berbeda dari tekanan atmosfer, udara terus mengalir sampai kedua tekanan
seimbang.

Tekanan intrapleura (tekanan intrathoraks) adalah tekanan di dalam kantung


pleura dan juga merupakan tekanan yang ditimbulkan di luar paru di dalam rongga
thoraks. Tekanan ini biasanya lebih rendah dari tekanan atmosfer.

Otot-otot Inspirasi dan Ekspirasi


Otot inspirasi utama, otot yang berkontraksi untuk melakukan inspirasi sewaktu
bernapas tenang adalah diaphragma dan otot interkostal eksternus. Otot inspirasi utama
adalah diaphragma, suatu lembaran otot rangka yang membentuk lantai rongga thoraks dan
disarafi oleh saraf frenikus.8
Diaphragma dalam keadaan melemas berbentuk kubah yang menonjol ke dalam
rongga thoraks. Ketika berkontraksi, diaphragma turun dan memperbesar volume rongga
thoraks dengan meningkatkan ukuran vertikal. Dinding abdomen, jika melemas, menonjol
keluar sewaktu isnpirasi karena diaphragma yang turun menekan isi abdomen ke bawah dan
ke depan.8
Kontraksi

otot

interkostal

eksternal,

memperbesar

rongga

thoraks.

Ketika

berkontraksi, otot-otot interkostal eksternus mengangkat iga dan selanjutnya sternum ke atas
dan ke depan. Sebelum insipirasi, pada akhir ekspirasi sebelumnya, tekanan intraalveolus
sama dengan tekanan atmosfir, sehingga tidak ada udara mengalir masuk atau keluar paru.

11
Sewaktu rongga thoraks membesar, paru juga dipaksa mengembang untuk mengisi rongga
thoraks yang lebih besar. Sewaktu paru membesar, tekanan intra-alveolus turun karena
jumlah molekul udara yang sama kini menempati volume paru yang lebih besar. Karena
tekanan intra-alveolus rendah dari tekanan atmosfer, maka udara mengalir ke dalam paruparu mengikuti penurunan gradien tekanan dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Udara
mengalir ke dalam paru karena turunnya tekanan intra-alveolus yang ditimbulkan oleh
ekpansi paru. Sewaktu inspirasi, tekanan inter-pleura turun akibat ekspansi thoraks.8
Pada akhir inspirasi, otot inspirasi melemas. Diaphragma mengambil posisi aslinya
seperti kubah. Ketika otot interkostal eksternal melemas, sangkar iga yang sebelumnya
terangkat turun karena gravitasi. Dinding dada dan paru yang semula meregang, mengalami
recoil karena sifat-sifat elastiknya. Sewaktu paru kembali mengecil, tekanan intra-alveolus
meningkat. Udara kini meninggalkan paru menuruni gradien tekanannya dari tekanan intraalveolus yang lebih tinggi ke tekanan atmosfer yang lebih rendah. Aliran keluar udara
berhenti ketika tekanan intra-alveolus menjadi sama dengan tekanan atmosfer dan gradien
tekanan tidak ada lagi.8

Diagnosis Kerja
Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru merupakan suatu penyakit infeksi yang menyerang paru-paru yang
disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Kuman TB ini berbentuk batang
aerobik, ramping lurus dengan ukuran panjang 0,4 x 3 m. Sebagian besar kuman berupa
lemak atau lipid sehingga kuman ini tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap fisik dan
kimiawi. Sifat lain dari kuman ini adalah aerob, menyukai daerah yang banyak oksigen.
Bakteri ini lebih menyenangi daerah yang tinggi kandungan oksigennya, yaitu daerah apikal
paru. Tempat masuknya kuman adalah saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan pada luka
terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberkulosis (TB) terjadi melalui udara (airbone),
yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal
dari orang yang terinfeksi.1
Lingkungan hidup yang sangat padat dan pemukiman di wilayah perkotaan
kemungkinan besar mempermudah proses penularan dan berperan dalam peningkatan kasus
tuberkulosis. Proses terjadinya infeksi Mycobacterium tuberkulosis ini biasanya secara
inhalasi, sehingga tuberkulosis paru merupakan manifestasi klinis yang paling sering
dibandingkan organ lainnya.2

12
Penularan penyakit ini sebagian besar melalui inhalasi basil yang mengandung droplet
nuclei, khususnya yang didapat dari pasien tuberkulosis paru dengan batuk berdarah atau
batuk berdahak yang mengandung basil tahan asam (BTA).2
Kuman tuberkulosis ini menyebar dengan mudah, 1 orang yang terinfeksi tuberkulosis
dapat menularkan kepada 10 sampai 15 orang, dan 10 % diantaranya akan berkembang dan
menderita penyakit tuberkulosis. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya
kuman tuberkulosis yang dikeluarkan dari parunya melalui refleks batuk.9

Klasifikasi Tuberkulosis
Pada tahun 1974, American Thoracic Society memberikan klasifikasi yang diambil
berdasarkan aspek kesehatan masyarakat.2

Kategori 0: tidak pernah terpajan, dan tidak pernah terinfeksi, riwayat kontak negatif,
dan tes tuberkulin negatif.

Kategori I: Terpajan tuberkulosis, tapi tidak terbukti ada infeksi. Disini riwayat kontak
positif tetapi tes tuberkulin negatif.

Kategori II: Terinfeksi tuberkulosis, tetapi tidak sakit. Tes tuberkulin positif, tetapi
radiologis maupun pemeriksaan sputum negatif.

Kategori III: Terinfeksi tuberkulosis dan sakit.

Di Indonesia klasifikasi yang banyak dipakai adalah berdasarkan kelainan klinis,


radiologis dan mikrobiologis, yaitu:2

Tuberkulosis paru

Bekas tuberkulosis paru

Tuberkulosis paru tersangka, yang terbagi dalam:


a) Tuberkulosis paru tersangka yang diobati. Disini sputum BTA negatif, tetapi
tanda-tanda lainnya positif.
b) Tuberkulosis paru tersangka yang tidak diobati. Disini sputum BTA negatif
dan tanda-tanda lain juga meragukan.
Dalam 2 sampai 3 bulan, TB tersangka ini sudah harus dipastikan apakah termasuk
TB paru aktif atau bekas tuberkulosis paru. Dalam klasifikasi ini perlu dicantumkan
status bakteriologi, mikroskopoik sputum BTA langsung, biakan sputum BTA, status
radiologis, status kemoterapi, riwayat pengobatan dengan obat anti tuberkulosis.2

13
WHO 1991 berdasarkan terapi membagi TB dalam 4 kategori yakni:2

Kategori I, ditujukan terhadap kasus baru dengan sputum positif dan kasus baru
dengan bentuk tuberkulosis berat.

Kategori II, ditujukan terhadap kasus yang kambuh dan kasus gagal dengan sputum
BTA positif.

Kategori III, ditujukan terhadap kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak
luas dan kasus tuberkulosis ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori I.

Kategori IV, ditujukan terhadap tuberkulosis kronik.

Etiologi
Penyebab tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis. Mycobacterium ini
merupakan kuman berbentuk batang dengan panjang 1 sampai 4 mikrometer dengan tebal 0,3
sampai 0,6 mikrometer. Spesies lain kuman ini yang dapat memberikan infeksi pada manusia
adalah M. bovis, M. kansasii, dan M. Intraselulare. Sebagian besar dinding kuman terdiri dari
asam lemak (lipid). Lipid inilah yang membuat kuman tersebut tahan terhadap asam dan lebih
tahan terhadap gangguan kimia dan fisik, sehingga disebut sebagai basil tahan asam (BTA).2
Mycobacterium ini dapat cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat
bertahan hidup beberapa jam di tempat gelap dan lembab. Kuman ini dapat bertahan hidup
pada suasana kering maupun dalam keadaan dingin. Hal ini terjadi karena kuman berada
dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan
penyakit tuberkulosis menjadi aktif lagi.2
Sifat lain dari kuman ini adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih
menyenangi jaringan yang tinggi kadar oksigennya. Dalam hal ini tekanan oksigen pada
bagian apikal paru-paru lebih tinggi daripada bagian lain, sehingga bagian apikal paru
merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis.2

Epidemiologi
Walaupun pengobatan TB yang efektif sudah tersedia sampai saat ini tetapi TB masih
menjadi problem kesehatan dunia yang utama. Sebagian besar dari kasus TB ini (95%) dan
kematiannya (98%) terjadi di negara-negara yang sedang berkembang. Sekitar 75% berada
pada usia produktif yaitu 20 sampai 49 tahun. Karena penduduk yang padat dan tingginya
prevalensi maka lebih dari 65% dari kasus-kasus TB yang baru dan kematian yang muncul
terjadi di Asia.2

14
Indonesia adalah negeri dengan prevalensi TB ke tiga tertinggi di dunia setelah China
dan India. Pada tahun 1998 diperkirakan TB di China, India dan Indonesia berturut-turut
1.828.000, 1.414.000 dan 591.000 kasus. Perkiraan kejadian BTA di sputum yang positif di
Indonesia adalah 266.000 pada tahun 1998. Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga 1985
dan survei kesehatan nasional 2001, TB menempati ranking nomor 3 sebagai penyebab
kematian tertinggi di Indonesia. Prevalensi nasional terakhir TB paru diperkirakan 0,24 %.2
Pada tahun 2006, kasus baru di Indonesia berjumlah lebih dari 600.000 dengan angka
kematian sekitar 300 orang per hari dan terjadi lebih dari 100.000 kematian per tahun.

Patogenesis dan Patofisiologi


Ketika seorang penderita tuberkulosis paru batuk, bersin, atau berbicara, maka secara
tidak sengaja mengeluarkan droplet nuklei dan jatuh ke tanah ataupun terbawa udara. Akibat
terkena sinar matahari, droplet nuklei akan menguap. Menguapnya droplet bakteri ke udara
dibantu dengan pergerakan angin yang akan membuat bakteri tuberkulosis yang terkandung
dalam droplet nuklei terbang ke udara. Apabila bakteri ini terhirup oleh seseorang yang sehat,
maka orang tersebut berpotensi terkena infeksi bakteri tuberkulosis. Penularan lewat udara ini
disebut dengan istilah air borne infection.10
Bakteri yang terhisap akan melewati pertahanan mukosilier saluran pernapasan dan
masuk hingga alveoli. Pada titik lokasi di mana terjadi implantasi bakteri, bakteri akan
menggandakan diri (multiplying). Bakteri tuberkulosis dan fokus ini disebut fokus primer atau
lesi primer atau fokus Ghon. Reaksi juga terjadi pada jaringan limfe regional, yang bersama
dengan fokus primer disebut sebagai kompleks primer. Dalam waktu 3 sampai 6 minggu,
inang yang baru terkena infeksi akan menjadi sensitif terhadap protein yang dibuat bakteri
tuberkulosis dan bereaksi positif terhadap tes tuberkulin atau tes Mantoux.10

Tuberkulosis Primer
Penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman yang dibatukkan atau dibersinkan

keluar menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar kita. Partikel infeksi ini dapat menetap
dalam udara bebas selama 1 sampai 2 jam, tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet,
ventilasi yang buruk dan kelembaban. Dalam suasana lembab dan lembab kuman dapat
bertahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila partikel ini terhisap oleh orang sehat, maka
akan menempel pada saluran napas atau jaringan paru. Partikel dapat masuk ke alveolar bila
ukuran partikel kurang dari 5 mikrometer. Kuman akan dihadapi pertama kali oleh neutrofil,
kemudian baru oleh makrofag. Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh
makrofag keluar dari percabangan trakeobrankial bersama gerakan silia dengan sekretnya.2

15

Bila kuman menetap di jaringan paru, berkembangbiak dalam sitoplasma magrofag.


Disini ia dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. Kuman yang bersarang di jaringan
paru akan berbentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau afek
primer atau sarang (fokus) Ghon. Sarang primer ini dapat terjadi disetiap bagian jaringan
paru. Bila menjalar sampai ke bagian pleura, maka dapat terjadi efusi pleura. Kuman ini juga
dapat masuk melalui saluran gastrointestinal, jaringan limfe, orofaring, dan kulit, terjadi
limfadenopati regional kemudian bakteri masuk ke dalam vena dan menjalar ke seluruh organ
seperti paru, otak, ginjal, dan tulang. Bila masuk ke arteri pulmonalis, maka akan terjadi
penjalaran ke seluruh bagian paru menjadi TB milier.2
Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus
(limfangitis lokal), dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfadenitis
regional). Sarang primer limfangitis lokal dengan limfadenitis regional akan menjadi
kompleks primer (ranke). Semua proses ini memakan waktu 3 sampai 8 minggu. Kompleks
primer ini selanjutnya dapat menjadi sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat atau
sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik, kalsifikasi di hilus,
keadaan ini terjadi pada lesi pneumonia yang luasnya lebih dari 5 mm dan kurang lebih 10%
diantaranya dapat terjadi reaktivasi lagi karena kuman yang dormant. Selain itu, kompleks
primer dapat berkomplikasi dan menyebar secara: a). perkontinuitatum, yakni menyebar ke
sekitarnya, b). secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru disebelahnya.
Kuman juga dapat tertelan bersama dengan sputum atau ludah sehingga dapat menyebar ke
usus, c). secara limfogen atau d). secara hematogen.2

Tuberkulosis Pasca Primer (Tuberkulosis Sekunder)


Kuman yang dormant pada tuberkulosis primer akan muncul setelah bertahun-tahun

kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis post primer atau tuberkulosis
sekunder. Mayoritas reinfeksi mencapai 90%. Tuberkulosis sekunder terjadi karena imunitas
menurun seperti pada malnutrisi, alkohol, penyakit maligna, diabetes, AIDS, gagal ginjal.
Tuberkulosis pasca primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di regio atas paru,
pada bagian apikal posterior lobus superior atau inferior. Invasinya adalah ke daerah
parenkim paru-paru dan tidak ke nodus hiler paru.2

16
Sarang dini ini mula-mula juga berbentuk sarang pneumonia kecil. Dalam 3 sampai 10
minggu sarang ini akan menjadi tuberkel yakni suatu granuloma yang terdiri dari sel-sel
Histiosit dan sel-sel Datia Langhans (sel besar dengan banyak inti) yang dikelilingi oleh selsel limfosit dan berbagai jaringan ikat.2
Tuberkulosis pasca primer juga dapat berasal dari infeksi eksogen dari usia muda
menjadi tuberkulosis usia tua (elderly tuberculosis). Tergantung dari jumlah kuman,
virulensinya dan imunitas pasien. Sarang dini ini dapat direabsorbsi kembali dan sembuh
tanpa meninggalkan cacat atau sarang yng mula-mula meluas, tetapi segera menyembuh
dengan serbukan jaringan fibrosis. Ada yang membungkus diri menjadi keras sehingga
menimbulkan perkapuran. Sarang dini yang meluas sebagai granuloma berkembang
menghancurkan jaringan ikat sekitarnya dan bagaian tengahnya mengalami nekrosis, menjadi
lembek menjadi perkijuan dan bila dibatukkan keluar akan menjadi kavitas. Kavitas ini mulamula berdinding tipis yang kemudian lama kelamaan dindingnya menebal karena infiltrasi
jaringan fibroblas dalam jumlah besar, sehingga menjadi kavitas sklerotik (kronik).
Terjadinya perkijuan dan kavitas adalah karena hidrolisis protein lipid dan asam nukleat oleh
enzim yang diproduksi oleh makrofag, dan proses yang berlebihan sitokinnya dengan TNFnya. Bentuk perkijuan lain yang jarang adalah cryptic disseminate tuberkulosis yang terjadi
pada imunodefisiensi dan usia lanjut.2
Kavitas dapat meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonia baru. Bila isi
kavitas ini masuk dalam peredaran darah arteri, maka dapat terjadi tuberkulosis milier.
Apabila masuk ke bagian paru sebelahnya atau tertelan masuk ke lambung dan selanjutnya ke
usus, maka dapat menjadi tuberkulosis usus. Bisa juga menjadi tuberkulosis endobronkial dan
tuberkulosis endotrakeal atau empiema bila ruptur ke pleura. Kavitas juga dapat memadat dan
membungkus diri sehingga menjadi tuberkuloma. Tuberkuloma ini dapat mengapur dan
manyembuh atau dapat aktif kembali menjadi cair dan menjadi kavitas kembali. Kavitas juga
dapat bersih dan menyembuh atau yang disebut open healed cavity. Dapat juga menyembuh
sendiri dengan membungkus diri menjadi kecil. Kadang-kadang berakhir sebagai kavitas
yang terbungkus, menciut dan berbentuk seperti bintang (stellate shaped).2
Secara keseluruhan akan terdapat 3 macam sarang yaitu, 1). sarang yang sudah
sembuh yang tidak perlu pengobatan lagi. 2). sarang aktif eksudatif. Sarang bentuk ini perlu
pengobatan yang lengkap. 3). sarang yang berada antara aktif san sembuh. Sarang ini dapat
sembuh spontan, tetapi ada kemungkinan terjadinya eksaserbasi kembali, sebaiknya diberikan
pengobatan yang sempurna juga.2

17
Manifestasi Klinis
Keluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis dapat bervariasi atau dapat juga
ditemukan pasien tuberkulosis paru tanpa keluhan sama sekali dalam pemeriksaan. Keluhankeluhan yang banyak dirasakan pasien adalah:2
Demam. Biasanya bersifat subfebril menyerupai demam influenza. Tetapi kadangkadang suhu tubuh dapat mencapai 40 sampai 41oC. Serangan demam pertama dapat sembuh
sebentar, kemudian dapat timbul kembali. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan
tubuh pasien dan berat ringannya infeksi kuman tuberkulosis yang masuk.
Batuk atau batuk darah. Gejala ini banyak ditemukan. Batuk ini terjadi karena adanya
iritasi pada bronkus. Batuk ini bertujuan untuk membuang produk-produk radang keluar.
Karena terlibatnya bronkus pada setiap penyakit tidak sama, mungkin saja batuk baru terjadi
setelah penyakit berkembang dalam jaringan paru yakni setelah berminggu-minggu atau
berbulan-bulan dari mulainya peradangan. Sifat batuk dimulai dengan batuk kering (nonproduktif) kemudian setelah peradangan, batuk menjadi produktif atau menghasilkan sputum.
Keadaan yang lanjut dapat berupa batuk darah karena adanya pembuluh darah yang pecah.
Kebanyakan batuk darah pada tuberkulosis terjadi pada kavitas, tetapi dapat juga terjadi pada
ulkus dinding bronkus.
Sesak napas. Pada penyakit yang ringan atau baru timbul, sesak napas belum
dirasakan. Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang infiltrasinya
sudah meliputi setengah bagian paru-paru.
Nyeri dada. Gejala ini jarang ditemukan. Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang
sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan kedua pleura
sewaktu pasien inspirasi atau ekspirasi.
Malaise. Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun. Gejala malaise sering
ditemukan berupa anoreksia sehingga berat badan menjadi turun. Dapat juga ditemukan sakit
kepala, nyeri otot, dan keringat malam. Gejala-gejala malaise ini semakin lama semakin berat
dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur.

Diagnosis TB dapat ditegakkan dengan melihat gejala klinis, pemeriksaan fisik,


pemeriksaan bakteriologis (sputum) sampai pemeriksaan radiologis. Alat diagnostik TB
adalah dengan pemeriksaan tuberkulin, kultur sputum dan rontgen dada. Bahan untuk
pemeriksaan bakteriologis ini dapat berasal dari dahak, cairan pleura, cairan serebrospinal,
bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan bronkoalveolar, urine, dan jaringan biopsi.2

18
Penatalaksanaan
Tujuan dari pengobatan tuberkulosis adalah menyembuhkan penderita, mencegah
kematian, mencegah terjadinya kekambuhan, dan menurunkan tingkat penularan.
Prinsip pengobatan tuberkulosis adalah obat tuberkulosis diberikan dalam bentuk
kombinasi dari beberapa jenis, dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6 bulan sampai 8
bulan bertujuan untuk membunuh semua kuman tuberkulosis.
Tujuan pengobatan tuberkulosis adalah memusnahkan basil tuberkulosis dengan cepat
dan mencegah kekambuhan. Selain itu juga bertujuan mengurangi transmisi tuberkulosis
kepada orang lain dan mencegah atau memperlambat timbulnya resistensi tuberkulosis
terhadap obat. Idealnya pengobatan untuk menghasilkan pemeriksaan sputum negatif baik
pada uji pemeriksaan dahak maupun pada biakan kuman, dan hasil ini tetap negatif
selamanya. Ada kesepakatan umum bahwa apa yang disebut sebagai paduan pengobatan yang
efektif adalah paduan pengobatan yang gagal-kambuhnya kurang dari 5%.11
Obat yang digunakan untuk tuberkulosis digolongkan atas dua kelompok yaitu obat
lini pertama dan obat lini kedua. Kelompok obat lini pertama, yaitu isoniazid, rifampisin,
etambutol, streptomisin, dan pirazinamid, memberikan efektivitas yang tinggi dengan
toksisitas yang dapat diterima. Sebagian besar pasien dapat disembuhkan dengan obat-obat
lini pertama ini. Walaupun kadang terpaksa diguanakan obat lain yang kurang efektif karena
pertimbangan resistensi atau kontraindikasi pada pasien. Antituberkulosis lini kedua adalah
antibiotik golongan fluorokuinolon (siprofloksasin, ofloksasin, dan levofloksasin), sikloserin,
etionamid, amikasin, kanamisin, kapreomisin dan paraaminosalisilat.11
Ada dua prinsip pengobatan tuberkulosis, yaitu paling sedikit menggunakan dua obat
dan pengobatan harus berlangsung setidaknya 3 sampai 6 bulan setelah sputum negatif untuk
tujuan sterilisasi lesi dan mencegah kekambuhan. Hanya basil yang sedang membelah yang
dapat dibunuh oleh anti tuberkulosis.11
Pengobatan tuberkulosis paru hampir selalu menggunakan tiga obat yaitu INH,
rifampisin, dan pirazinamid pada dua bulan pertama selama tidak ada resistensi terhadap satu
atau lebih antituberkulosis primer ini. Isoniazid dan rifampisin adalah dua obat yang sangat
kuat dan bersifat bakterisid untuk basil ekstrasel, intrasel (dalam magrofag), dan basil dalam
jaringan yang berkiju. Tetapi rifampisin dan pirazinamid lebih aktif pada basil dalam sel
(magrofag) dan dalam jaringan berkiju daripada isoniazid. Efek samping yang paling sering
terjadi pada pemberian isoniazid dosis 5 mg/kgBB/hari adalah neuritis perifer. Efek samping
lainnya dari isoniazid adalah neurotoksisitas, reaksi hipersensitivitas, kelainan hepar.11

19
Streptomisin bersifat bakterisid hanya pada sebagian besar basil ekstrasel yang
membelah dengan cepat di lesi rongga. Penggunaan obat ini terbatas, karena harus diberikan
secara intramuskular dan jelas bersifat ototoksik dan nefrotoksik. Sekarang streptomisin
hanya diberikan bila terdapat resistensi terhadap salah satu dari obat yang digunakan dalam
paduan pengobatan jangka pendek.11
Etambutol dalam dosis 15 mg/kgBB bersifat bakteriostatik, tetapi dalam dosis 25
mg/kgBB bersifat bakterisid. Alasan penggunaan obat ini dalam paduan terapi adalah karena
kemampuannya mencegah dan menghambat timbulnya resistensi terhadap obat lain dalam
paduan ini. Biasanya etambutol tidak dimasukkan dalam paduan pengobatan baru, karena
khasiatnya dalam dosis biasa hanya sebagai bakteriostatik. Efek samping dari etambutol
jarang terjadi, tetapi dapat berupa neuritis retrobulbular, pruritus, nyeri sendi, gangguan
gastrointestinal, malaise, sakit kepala, binging dan halusinasi. Dalam memilih obat, selain
dipertimbangkan efektivitasnya harus dipertimbangkan juga efek samping dan efek
toksiknya.11
Regimen pengobatan dibagi menjadi pengobatan jangka panjang dan pengobatan
jangka pendek. Pengobatan jangka panjang tanpa kombinasi dengan rifampisin dilakukan
sekitar 18 bulan atau lebih. Sedangkan pengobatan jangka pendek selalu menggunakan
rifampisin selama 6 sampai 8 bulan. Sekarang hampir semua kasus tuberkulosis diberikan
pengobatan jangka pendek.11
Penilaian hasil pengobatan tuberkulosis dengan BTA positif paling baik dilakukan
setiap bulan sampai hasil pemeriksaan BTA negatif. Pada pengobatan jangka pendek
biasanya 80% hasil pemeriksaan BTA akan negatif dalam waktu 3 bulan. Kalau tidak, harus
dilakukan penilaian ulang. Kegagalan pengobatan dapat terjadi karena mungkin paduan
pengobatan tidak memadai, dosis yang tidak cukup, konsumsi obat yang tidak teratur, amsa
pengobatan yang kuarng lama, adanya kuman yang resisten atau menjadi resisten, putus obat,
adanya kerusakan jaringan yang luas, dan mungkin juga karena organisasi pelayanan
kesehatan yang tidak memadai.11
Untuk mencapai hasil penyembuhan pasien TB yang tinggi, WHO merekomendasikan
strategi program pengobatan TB yaitu DOT (Directly Observed Treatment, Short-course).
Strategi observasi langsung pada program ini maksudnya satu pengawas makan obat (PMO)
melihat pasien menelan obat anti-TB yang diberikan. Hal ini bertujuan untuk menjamin
pasien meminum obat dengan benar, dosis yang benar, dan pada interval waktu yang benar.

20
PMO bisa seorang petugas kesehatan atau anggota masyarakat yang sudah dilatih. Karena
semua pasien diobati dengan regimen jangka pendek (short-course) maka DOTS merupakan
strategi yang dianjurkan, kecuali terdapat kontraindikasi untuk rifampisin.11

Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan :10

Hindari kontak langsung dengan penderita TB terutama saat penderita batuk, bersin,
droplet.

Pemeriksaan kontak, yaitu pemeriksaan terhadap individu yang bergaul erat dengan
penderita tuberkulosis paru BTA positif. Pemeriksaan dapat meliputi uji tuberkulin,
klinis dan radiologis. Dan diperlukannya early diagnosis pada penderita.

Imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin).


Vaksin BCG merupakan vaksin hidup yang memberi perlindungan terhadap penyakit
tuberkulosis. Vaksin tuberkulosis tidak mencegah infeksi tuberkulosis, tetapi
mencegah infeksi tuberkulosis berat seperti meningitis tuberkulosis dan tuberkulosis
milier. Vaksin BCG memberikan proteksi yang bervariasi antara 50 % sampai 80 %
terhadap tuberkulosis. Pemberian vaksin BCG sangat bermanfaat bagi anak-anak,
sedangkan bagi orang dewasa manfaatnya masih kurang jelas.9
Vaksin ini berisi basil TBC yang telah dilemahkan. Vaksin BCG ini sebaiknya
diberikan pada bayi berusia 0-12 bulan dan paling tepat kurang dari 2 bulan di lengan
kanan atas.

Komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) tentang penyakit tuberkulosis kepada


masyarakat.

Pengobatan pencegahan. Profilaksis diberikan kepada 2 jenis pasien, yaitu:11


1) Individu dengan kontak positif, tetapi uji Mantoux negatif. Tujuan profilaksis
disini adalah mencegah infeksi (true chemoprophylaxis). Obat yang dapat
diberikan adalah isoniazid 300 mg/hari dengan piridoksin 15-50 mg/hari. Uji
kulit dilakukan kembali dalam 3 bulan. Bila negatif dan kontak telah terhenti,
pemberian obat dihentikan.

2) Individu yang telah terinfeksi tetapi tanpa gejala klinik, uji Mantoux positif
tetapi gambaran radiologi normal. Tujuan profilaksis disini adalah mencegah
timbulnya penyakit yang aktif (chemoprophylaxis of subclinical infection).

21
Obat yang dapat diberikan adalah isoniazid 300 mg/hari dengan piridoksin 1550 mg/hari selama 12 bulan.

Komplikasi
Penyakit tuberkulosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan
komplikasi. Komplikasi dibagi atas komplikasi dini dan komplikasi lanjut. Komplikasi dini
meliputi pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis. Sedangkan komplikasi lanjut meliputi
obstruksi jalan napas-SOPT (sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis), kerusakan parenkim
berat menjadi fibrosis paru, kor pulmonal, amiloidosis, karsinoma paru, sindrom gagal napas
dewasa (ARDS), sering terjadi pada tuberkulosis milier dan kavitas tuberkulosis.2

Prognosis
Prognosis TB paru bergantung pada tuntasnya pengobatan dan tingkat keparahan dari
kerusakan jaringan atau organ yang terkena. Oleh karena itu, pasien TB harus bersungguhsungguh dalam melakukan pengobatan TB dan menghindari faktor pencetus kekambuhan TB.

Penutup
Tuberkulosis paru merupakan suatu penyakit infeksi yang menyerang paru-paru yang
disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penularan dari TB ini melalui droplet
yang dikeluarkan oleh penderita. Keluhan yang biasa dirasakan seperti demam, batuk atau
batuk berdarah, sesak napas, nyeri dada, malaise,dan penurunan berat badan. Diagnosis TB
dapat ditegakkan dengan melihat gejala klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan bakteriologis
(sputum), uji tuberkulin sampai pemeriksaan radiologis.

22
Daftar Pustaka:
1. Laksmiarti T. Jurnal Medika. Jangan biarkan tuberkulosis hadir. Edisi 2010. Diunduh
dari

http://jurnalmedika.com/component/content/article/188-artikel-penyegar/297-

jangan-biarkan-tuberkulosis-hadir, 3 Juli 2013.


2. Amin Z, Bahar A. Tuberkulosis paru. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Simadibrata MK, Setiadi S, penyunting. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke-5.
Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.2230-8.
3. Kenyorini,

Suradi,

Surjanto

E.

Uji

tuberkulin.

Diunduh

dari

http://tbindonesia.or.id/pdf/Jurnal_TB_Vol_3_No_2_PPTI.pdf, 3 Juli 2013


4. Perhimpunan

Dokter

Paru

Indonesia.

Kanker

paru.

Diunduh

http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-kankerparu/kankerparu.pdf,

dari
Juli

2013
5. Robins, Cotrans. Buku saku dasar patologi penyakit. Edisi ke-7. Jakarta: EGC;
2008.h.451-3.
6. Perhimpunan

Dokter

Paru

Indonesia.

Pneumonia

komuniti.

Diunduh

dari

http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-pneumoniakom/pnkomuniti.pdf, 5 Juli
2013.
7. Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta: PT Gramedia Pusaka
Utama; 2009.h.260-1, 265-6.
8. Sherwood L. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta: EGC;
2011.h.497-500, 502, 506-7, 529-34.
9. Cahyono JBSB. Lusi RA, Verawati, Rosmawati, Utami RCB. Vaksinasi, cara ampuh
cegah penyakit infeksi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius; 2010.h.49,51.
10. Muttaqin A. Asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem pernapasan. Jakarta:
Salemba; 2008.h.79.
11. Istiantoro YH, Setiabudy R. Tuberkulostatik. Dalam: Setiabudy R, Nafrialdi,
Gunawan SG, penyunting. Farmakologi dan terapi. Edisi ke-5. Jakarta: Badan
Penerbit FKUI; 2011.h.613-30.