Anda di halaman 1dari 11

FISIKA FARMASI

BAB 9
DIFUSI DAN DISOLUSI
Dalam bab ini akan dibahas sesuai GBPP :
1. Difusi dan hukum Fick
2. Prinsip difusi dan sistem biologi
3. Termodinamika difusi
4. Proses disolusi
5. Uji disolusi
Difusi bebas atau transport pasif suatu zat melalui cairan, zat padat atau melalui membran adalah
suatu proses yang sagat penting dalam ilmu farmasi. Pokok dari fenomena transpor massa yang
diterapkan dalam bidang farmasi adalah disolusi obat dari tablet, serbuk dan granul; liofilisa,
ultrafiltrasi dan proses mekanik lainnya; pelepasan obat dari basis salep atau suppositoria;
lewatnya uap air, gas, obat atau zat tambahan pada sediaan obat melalui penyalutan pengemasan,
lapisan-lapisan tipis, dinding wadah plastik, seal dan tutup; serta permeasi dan distribusi molekul
obat dalam jarigan hidup.
Difusi.
Difusi didefinisikan sebagai suatu proses perpindahan massa molekul suatu zat yang
dibawa oleh gerakan molekular secara acak dan berhubungan dengan adanya perbedaan
konsentrasi aliran melekul melalui suatu batas, misalnya suatu membran polimer, merupakan
suatu cara yang mudah untuk menyelidiki proses difusi. Perjalanan suatu zat melalui suatu batas
(gbr 6-1) bisa terjadi oleh suatu permeasi molekular sederhana atau oleh gerakan melalui pori
dan lubang (saluran).
Dialisis
Hwang dan Kammermeyer mendefinisikan dialisis sebagai suatu proses pemisahan
berdasarkan kecepatan lewatnya zat terlarut dan pelarut yang tidak sama melalui membran yang
berpori-pori sangat kecil, yang diangkut dengan cara paket demi paket atau cara kontinu.
Hemodialisis digunakan dalam ginjal yang kurang berfungsi untuk membebaskan darah dari sisa
buangan metabolik (molekul-molekul kecil) sambil melindungi komponen-komponen darah
yang berbobot molekul besar.
Osmosis.
Suatu proses yang berhubungan dengan dialisis. Osmosis mula-mula didefinisikan sebagai
lewatnya zat terlarut dan pelarut melalui suatu membran, tapi sekarang didefiisikan sebagai suatu
proses dimana hanya pelarut yang berpindah. Pelarut menembus membran semipermiabel untuk
mengencerkan larutan yang mengandung zat terlarut dan pelarut (lihat jilid I). lewatnya zat
terlarut bersama-sama dengan pelarut sekarang ini disebut difusi atau dialisis.
Ultrafiltrasi
Proses ini digunakan untuk memisahkan partikel koloid dan molekul besar dengan
menggunakan suatu membran. Tekanan hidrolik digunakan untuk menekan pelarut melewati
252394659.doc

- 83 -

FISIKA FARMASI

membran, sedang membran mikropori mencegah lewatnya molekul zat terlarut yang besar.
Ultrafiltrasi serupa dengan proses yang disebut osmosis bolak-balik, tetapi dalam osmosis bolakbalik tekanan osmosisnya lebih tinggi, yang digunakan dalam desalinasi air sadah. Ultrafiltrasi
digunakan dlm penelitian untuk memurnikan albumin dan enzim serta dalam industri kertas.
DIFUSI MASA TUNAK
Hukum Fick pertama
Sejumlah M benda yg mengalir melalui satu satuan penampang melintang S dr suatu pembatas
dalam satu satuan waktu t dikenal sebagai aliran dengan symbol, J.
J

dM
S .dt

dimana :

D = koefisien difusi dari difusan (penetran) dalam

(1) cm2/detik. C = konsentrasi dalam gram/cm 3. x jarak dalam cm dari

pergerakan tegak lurus terhadap permukaan batas tsb

sebaliknya aliran berbanding lurus dgn perbedaan konsentrasi, dC/dx :


J D

dC
dx

(2)

Dalam persamaan (1) massa M dalam gram, permukaan batas S dalam cm 2 dan waktu t dalam
detik. Tanda negatif () dalam persamaan (2) menunjukkan, bahwa difusi terjadi dalam arah
berlawanan dengan naiknya konsentrasi (arah x positif).
DISOLUSI
Biofarmasetika dan desain sediaan modern sebagian berdasarkan prinsip disolusi dan teori difusi.
Laju Disolusi, bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan kedalam beaker yang
berisi air atau dimasukkan ke dalam saluran cerna (gastrointestinal), obat tersebut mulai masuk
ke dalam larutan dari bentuk padatnya. Kalau tablet tersebut tidak dilapisi polimer, matriks padat
juga
mengalami
disitegrasi, menjadi gra
nul-granul, dan granulgranul ini mengalami
pemecahan menjadi par
tikel-partikel yang halus.
Disinterasi,
deagregasi
dan
disolusi
bisa
berlangsung
secara
serentak
dengan
melepasnya suatu obat
dari bentuk di mana obat
tersebut
diberikan.
Tahapan-tahapan
ini
dipisahkan agar lebih
jelas seperti tampak pada
gbr 9-1.
Gbr 9- 1 Tahap-tahap disitegrasi, deagregasi dan disolusi ketika obat
meninggalkan suatu tablet atau matriks granul
252394659.doc

- 84 -

FISIKA FARMASI

Efektivitas dari suatu tablet dalam melepas obatnya untuk absorpsi sistemik agaknya bergantung
pada laju disitegrasi dari bentuk sediaan dan deagregasi dari granul-granul tersebut. Tetapi yang
biasanya lebih penting adalah laju disolusi dari obat padat tersebut. Seringkali disolusi
merupakan tahapan yang membatasi atau tahap yang mengontrol laju bioabsorpsi obat-obat yang
mempunyai kelarutan rendah, karena tahapan ini seringkali merupakan tahapan yang paling
lambat dari berbagai tahapan yang ada dalam penglepasan obat dari bentuk sediaannya dan
perjalanannya ke dalam sirkulasi sistemik. Disolusi telah dibicarakan oleh Wursterdan Taylor,
Wagner serta Leeson dan Carstensen. Proses-proses laju penglepasan pada umumnya telah
dibicarakan oleh W.Higuchi.
Kecepatan disolusi
Laju di mana suatu padatan melarut di dalam suatu pelarut telah diajukan dalam batasanbatasan kuantitatif oleh Noyes dan Whitney pada tahun 1897 dan telah dikerjakan dengan teliti
oleh peneliti-peneliti lain.
Persamaan tersebut bisa dituliskan sebagai :
dM DS

(Cs C )
dt
h

(15)

dC DS

(Cs C )
dt
Vh

(16)

atau

dimana :
M = masa zat terlarut yang dilarutkan pada waktu t.
dM/dt = laju disolusi dari masa tersebut (masa/waktu);
D = koefisien difusi dari zat tersebut dalam larutan,
S = luas permukaan zat padat yang menyentuh larutan,
h = ketebalan lapisan difusi;
Cs = kelarutan dari zat padat, yakni konsentrasi larutan jenuh
dari senyawa tersebut pada temperatur percobaan, dan
C = konsentrasi zat terlarut pada waktu t. besarnya
dC/dt = adalah laju disolusi dan V adalah volume larutan.

Dalam teori disolusi diangap bahwa lapisan difusi air (aqueus diffusion layer) atau
lapisan aliran stagnan dengan ketebalan h ada pada permukaan zat padat yang sedang
berdisolusi, seperti tampak dalam gbr 9-9. Ketebalan h ini menyatakan lapisan pelarut stasioner
di dalam mana molekul-molekul zat terlarut berada dalam konsentrasi dari Cs sampai C.
Dibelakang lapisan difusi statis tersebut pada harga x
yang lebih besar dari h, terjadi percampuran dalam
larutan, dan obat terdapat pada konsentrasi yang sama
C, pada seluruh fase bulk.
Pada antarmuka permukaan padat dan lapisan difusi,
x = 0, obat dalam bentuk padat berada dalam
keseimbangan dengan obat dalam lapisan difusi.
Perbedaan atau perubahan konsentrasi dengan
berubahnya jarak untuk melewati l;apisan difusi
adalah konstan, seperti terlihat oleh garis lurus yang
mempunyai kemiringan (slop) menurun. Ini adalah
penurunan yag dinyatakan dalam persamaan (15)
Gambar 9-9: Disolusi suatu obat dari suatu matriks
padat, menunjukkan lapisan difusi stagnan antara
dan (16) dalam bentuk (Cs-C)/h. Persamaan (15)
permukaan sediaan obat dan larutan bulk.
membuktikan adanya kesamaan antara persamaan
Noyes-Whitney dengan hukum Fick pertama.
252394659.doc

- 85 -

FISIKA FARMASI

Jika C jauh lebih kecil daripada kelarutan obat, Cs, sistem tersebut digambarkan oleh
keadaan sink (sink conditions), dan konsentrasi C bisa dihilangkan dari persamaan (15) dan (16).
Maka persamaan (15) menjadi :
dM/dt = DS Cs/h
(17)
Dalam penurunan persamaan (15) dan (16), h dan S dianggap konstan, tapi masalahnya bukan
demiian. Ketebalan lapisan difusi status diubah oleh gaya pengocokan pada permukaan tablet
yang sedang melarut dan ini akan ditunjukkan nanti. Luas permukaan S jelas tidak konstan ketika
bubuk, granul dan tablet melarut dan sulit untuk mendapatkan pengukuran s yang tepat selama
proses berlangsung.
Disolusi dari Tablet dan Granul
Sejumlah metode untuk menguji disolusi dari tablet
dan granul secara in vitro telah diutarakan, ini bisa
ditemukan dalam majalah-majalah dan buku seperti
Farmakope. Berbagai alat disolusi dan metode
diuraikan secara rinci dalam farmakoe USP dan FI
edisi IV. Alat paddle dari Hansen dan suatu alat
penelitian menyediakan dua sistem yang tepat seperti
terlihat dalam gbr.9-10a dan b. Alat paddle dikenal
sebagai alat disolusi 2 dari USP dan FI ed IV dan alat
keranjang putar dikenal sebagai alat disolusi 1 dari
USP dan FI ed IV.
Gbr.9-10 Alat disolusi a. system paddle dan b
Dalam mengitung koefisien difusi dan konstanta
system basket
laju disolusi, penerapan dari persamaan (15) ke (17)
terlihat dalam dua contoh berikut :
Contoh 1 Suatu sediaan granul obat seberat 5,50 g dan luas permukaannya (S)= 0,28 m 2 (0,28 x
104 cm2) dibiarkan melarut dalam 500 ml air pada 25 oC. Sesudah menit pertama, jumlah yang
ada dalam larutan adalah 0,76 g. Kuantitas D/h dikenal sebagai konstanta laju disolusi, k. Jika
kelarutan, Cs dari obat tersebut adalah 15 mg/ml pada 25 0C, berapakah k ? Dari persamaan (17)
M berubah secara linier dengan t awal dan
760 mg
dM

12,67 mg / det
dt
60 det

perhatikan : dM/dt = D/h x S. Cs D/h = k

12,67 mg/detik = k x 0,28 x 104 cm2 x 15 mg/cm3 k = 3,02 x 10-4 cm/detik.


Dalam contoh ini, 0,760 g larut dalam 500 ml sesudah waktu 1 menit atau 760 mg/500 ml = 1,5
mg/ml. Harga ini sepersepuluh dari kelarutan obat dan bisa dibuang/diabaikan dari persamaan
(15) tanpa menimbulkan kesalahan yang berarti, yang dapat dilihat dengan menggunakan
persamaan (15) sepenuhnya :
k

12,67 mg / det
(0,28 10 cm )(15 mg / cm 3 1,5 mg / cm 3 )

252394659.doc

k = 3,35 x 10-4 cm/detik

- 86 -

FISIKA FARMASI

Jika hasil ini dibandingkan dengan 3,02 x 10-4 cm/detik yang didapat dengan
menggunakan persamaan (17) yang tidak begitu tepat, ini menunjukkan bahwa terjadi kondisi
sink, dan konsentrasi C bisa dihilangkan dari persamaan laju tersebut.
Contoh 2. Tebal lapisan difusi dalam Contoh 1 diperkirakan 5 x 10-3 cm. Hitung koefisien difusi
(D) dengan menggunakan persamaan, laju disolusi k = D/h
D = (3,35 x 10-4 cm/detik) x (5 x 10-3 cm) = 1,68 x 10-6 cm2/detik
Contoh 3
Tebal lapisan difusi dalam contoh 2 diperkirakan 5 x 10-3 cm. Hitung D, koefisien difusi ,
dengan menggunakan persamaan, k = D/h
Jawab :
D = (3,35 x 10-4 cm/detik) x (5 x 10-3 cm) =
= 1,68 x 10-6 cm2/detik
Kondisi hilang (Sink condition)
Sebagaimana telah disebutkan kondisi hilang adalah satu kondisi yang selalu harus
dipertahankan selama uji disolusi. Salah satu cara untuk mencapai hal tersebut ialah agar Csol
jauh lebih kecil dari Csat, yaitu Csol 15% x Csat.
Contoh 4
Suatu serbuk zat aktif sebanyak 2,5 g dengan luas permukaan 0,5 m 2/g. Jika zat aktif itu
seluruhnya dimasukkan dalam 2.000 ml air, zat aktif yang terdisolusi sebanyak 600 mg setelah 1
menit. Jika konstanta disolusi K = 7,5 x 10-5 cm ..... hitung kelarutan jenuh Cs dan kecepatan
disolusi dM/dt zat aktif selama 1 menit pertama itu. Apakah percobaan ini dalam kondisi hilang ?
Jawab :
Luas permukaan 2,5 g zat aktif = 2,5 x 0,5 x 104 cm2 = 1,25 x 104 cm2
dM
DS
dM

(Cs C )
kS .Cs
dt
h
dt
600 mg
7,5 10 5 cm. det 1 1,25 10 4 cm 2 Cs
60 det

Csat (Cs ) 10,67 mg .cm 3

kecepatan disolusi dM/dt = 600 mg/60 det = 10 mg/det


sekarang Csol = 2,5 g dalam 2000 cm3 = 1,25 mg/cm3
C
1,25

0,117 11,72% Csol 11,72% Csat , berarti 15%


Cs 10,67

Jadi kondisi hilang berlaku dalam uji disolusi ini.


Disolusi Serbuk
Untuk suatu serbuk obat yang terdiri dari partikel-partikel yang berukuran sama,
dptditurunkan suatu persamaan yang menyatakan laju disolusi berdasarkan akar pangkat tiga dari
berat partikel-partikel tersebut. Jari-jari partikel tidak dianggap konstan.
dM
kS (Csat Csol )
dt

untuk menghitung konstanta disolusi serbuk, k dapat digunakan persamaan akar pangkat tiga dari
Hexson dan Crowell :
252394659.doc

dimana :
Mo = massa zat aktif pada permulaan
M = massa zat aktif yang tdk terdisoluli pada waktu t
K = konstanta disolusi intrinsik
d = diameter partikel zat aktif pada t = 0

- 87 -

FISIKA FARMASI

Mo1 / 3 M 1 / 3 kt
k Mo1 / 3

2kCsat
do

Contoh 5
Serbuk tolbutamid , diameter 150 m, beratnya 75 mg. Disolusi ditentukan dalam 1000 ml air
pada 25oC. sebagai fungsi dari waktu. Tentukan harga k konstanta laju disolusi akar pangkat tiga,
pada tiap interval waktu dan hitung rata-rata dari k
Data dan hasil disusun dalam tabel berikut
Kons.yg terlarut
Berat yg tdk
G1/3/menit
Waktu (menit)
Mo1/3 M1/3
(mg/ml)
terlarut (gram) M
(k)
0
0
Mo = 0,0750
0
10
0,0197
0,0553
0,0406
0,0041
20
0,0374
0,0376
0,0866
0,0043
30
0,0510
0,0240
0,1332
0,0044
40
0,0595
0,0155
0,1724
0,0043
50
0,0650
0,0100
0,2063
0,0041
Krata-rata =

k 0,0212

0,00424 g 1 / 3 / menit
5
5

UJI DISOLUSI NYATA


Pengertian
Uji disolusi (in-vitro) yang diterapkan pada sediaan obat padat bertujuan untuk mengukur
jumlah zat aktif yang terdisolusi dalam media cair yang diketahui volumenya pada suatu waktu
tertentu, menggunakan suatu alat tertentu yang diidsain untuk menguji parameter disolusi.
Jumlah zat aktif yang terlarut dapat ditentukan pada suatu waktu tertentu (misalnya 45 menit)
atau berbagai frekuensi waktu secara berturut-turut dan ini tergantung jenis informasi yang
diperlukan (profil disolusi) sediaan.
Kebanyakan monografi sediaan dalam farmakope yang mencantumkan uji disolusi mensyaratkan
sejumlah persentase tertentu ssuatu zat aktif yang dikandung sediaan padat yang harus larut
dalam waktu tertentu, misalnya 75% larut dalam waktu 45 menit.
Farmakope Indonesia edisi IV telah mencantumkan uji disolusi dalam monografi umum maupun
dalam monografi sediaan tablet. Oleh karena itu uji disolusi sudah merupakan persyaratan mutu
beberapa sediaan tablet.
Uji disolusi in-vitro bertujuan mengukur kecepatan dan jumlah zat aktif yang terdisolusi dalam
media berair dari sediaannya. Jika dipilih metode in-vitro yang cocok, kecepatan disolusi zat
aktif dapat dikorelasikan dengan kecepatan absorpsi zat aktif dalam tubuh. Oleh karena itu hasil
uji disolusi in-vitro merupakan profil pelepasan zat aktif dan dapat digunakan sebagai indikator
untuk menguji keserbasamaan pelepasan zat aktif dari sediaan tablet dari batch ke batch.

252394659.doc

- 88 -

FISIKA FARMASI

Pada dasarnya waktu hancur sudah termasuk dalam waktu disolusi keseluruhan, karena itu
uji waktu hancur tidak perlu dilakukan lagi, jika uji disolusi dilaksanakan.
Kriteria sediaan tablet yang diuji Disolusi
Kriteria sediaan tablet yang perlu diuji disolusi adalah mengikuti kriteria sediaan yang perlu diuji
ketersediaan hayati pada manusia, yaitu :
Mengandung zat aktif yang digunakan untuk pengobatan penyakit gawat,
Mengandung zat aktif yang jarak terapinya (LD50/ED50) relatif kecil,
Mengandung zat aktif yang sulit atau tidak larut (asam lemah, basa lemah, bersifat netral dan
amfoter),
Mengandung zat aktif yang dapat berubah menjadi bentuk tidak larut dl cairan pencernaan,
Disamping itu perlu ditambahkan satu kriteria lagi, yaitu zat aktif dari tablet bersalut.
Faktor-Faktor Langsung yang Mempengaruhi Uji Disolusi
1. Pengadukan
dW DS
dW

(Csat Csol )
KD (Csat Csol )
dt
Vh
dt

hubungan antara konstanta kecepatan disolusi (K) dengan kecepatan pengadukan telah
dirumuskan oleh POLLI secara empirik
dimana : K = konstanta kecepatan disolusi
K = N
dan = konstanta
N = kecepatan pengadukan
Jika disolusi zat aktif melalui proses difusi molekul dari permukaan padat, maka
ketebalan lapisan difusi (h) merupakan faktor penting dalam proses disolusi. Maka nilai = 1
atau mendekati 1. hal itu sesuai dengan teori NERNST, bahwa ketebalan lapisan difusi
berbanding terbalik dengan kecepatan pengadukan.
2. Sifat-sifat media disolusi Diantara begitu banyak faktor-faktor yang mempengaruhi
disolusi, sifat media disolusi memegang pernan penting. Misalnya pH, suhu, viskositas
tegangan permukaan dan peristiwa absorpsi.
3. Pengaruh udara atau gas yang terlarut dalam media
Udara atau gas yang terlarut dalam media akan menimbulkan gelembung-gelembung udara.
Gelembung udara ini berkumpul pada permukaan sediaan padat atau pada permukaan
partikel-partikel menyebabkan sediaan atau partikel itu terapung dan menghalangi kontak
antara sediaan dengan media disolusi, dan kondisi ini menggasnggu kecepatan disolusi.

252394659.doc

- 89 -

FISIKA FARMASI

4. Pemasangan Alat disolusi


Penempatan alat disolusi pada tempat ygtdk layak, misalnya dekat jendela yang dapat
mempengaruhi kestabilan suhu (cahaya dan angin) atau pada meja yang dapat menimbulkan
vibrasi akan mengganggu hasil uji diisolusi.
METODOLOGI DISOLUSI
1. Wadah
Untuk percobaan disolusi hrs dipilih wadah yang sesuai. Sesuai dg metode volume dan btk
wadah itu macam-macam, misalnya gelas piala, wadah bundar (poole) atau btk khusus.
Ada dua keburukan dalam pemakaian gelas pila sebagai wadah disolusi; pertama tablet dapat
terletak dimana saja pada dasar gelas. Kalau tablet cepat terintegrasi tak ada masalah, tetapi jika
waktu hancur tablet lambat maka kecepatan disolusi bervariasi disebabkan letak tablet yang tdk
tepat pada dasar gelas piala. Kedua jika tab sudah terintegrasi, maka serbuk atau granul dapt
bergerak kepingggir wadah sehingga menimbulkan heterogenitas pada hsil kecepatan disolusi.
Poole dan USP XXI memakai wadah balon dengan dasar bundar bervolume 1 liter dan 2 liter.
Tablet selalu terletak pada tempat yang sama pada dasar balon sehingga partikel-partikel
terdispers serba sama dalam media disolusi.
2. Pengadukan
Pengadukan bertujuan untuk selalu memperbaharui cairan yang kontak dengan permukaan zat
aktif, memperbesar difusi dan menyeragamkan suhu, karena itu dapat menambah kecepatan
disolusi.dlm pengujian kecepatan disolusi intensitas pengadukan cukup kecil saja, biasanya 50
sampai 150 rotasi per menit sudah mencukupi. Dan sudah dpata membuat media disolusi serba
sama. Kecepatan putaran sudah tercantum dalam masing-masing monografi. Jika tdk disebut,
dianjurkan agar diterapkan 50 rpm untuk metode dayung dan 100 rpm untuk metode keranjang.
3. Media disolusi
Untuk memilih media, dapat dipertimbangkan hal-hal berikut. Jika kelarutan tdk dipengaruhi
oleh pH, maka sebagai media disolusi dipakai air suling. Jika kelarutan zat aktif dipengaruhi oleh
pH, maka sebagai media disolusi dipakai cairan lambung buatan atau cairan usus buatan.
Dalam berbagai farmakope sebagai media disolusi diguanakan : air, asam klorida dengan
berbagai pengenceran, dapar fosfat mulai pH 4 sam[pai pH 10, dapar asetat (ph 4 pH 4,7),
dapar sitrat, cairan lambung buatan dan cairan usus buatan.
4. Volume media disolusi
Volume mudia tergantung dari kelarutan zat aktif yang ditentukan kecepatan disolusinya.
Jika kelarutan zat aktif kecil, dan akdarnya cukup besar dalam suatu sediaan. Maka diperlukan
volume yang cukup besar. Penjenuhan media disolusi harus dicegah, sebagai patokan dipakai
aturan 25% artinya volum media disolusi minimal 4 x lebih besar dari yang dibutuhkan untuk
larutan jenuh yang berkisar antara 500 ml 1000 ml.
5. Suhu
Suhu dalam wadah harus dikendalikan sekasama/ kelarutan zat aktif tergantung pila pada suhu
media, karena itu variasi suhu selama pengujian harus dihindari. Wadah disolusi biasanya

252394659.doc

- 90 -

FISIKA FARMASI

tercelup dalam penangas air yang dilengkapi dengan thermostat. Suhu yg biasa dipakai ialah
suhu 37oC, krn suhu ini merupakan parameter in vivo.
6. Lokasi pengambilan sampel/alikuot
Jika suatu sediaan tablet terdis[persi menjadi partikel-partikel halus dan perbedaan BJ antara
partikel dan media cukup kecil, maka pengambilan alikuot dapat dilakukan dimana saja pada
wadah disolusi. Sebaliknya bila tablet terdiesintegrasi menjadi partikel-partikel besar dan
perbedaan BJ cukup besar, maka pengambilan alikuot dari lokasi sembarang dalam wadah dapat
menunjukkan variasi dalam kecepatan disolusi. Karena itu pengambilan agar dilakukan pada
suatu titik/tempat tertentu dalam wadah disolusi.
7. Lama Pengujian
Lama pengujain tergantung pada kelarutan zat aktif. Pengujian dilakukan paling sedikit sampai
memperoleh T-80% (atau lebih). Jika hanya sampai ke T 20% penarikan kesimpulan dapat
menyesatkan. Jika hanya karena kelarutan yang menyebabkan keterlambatan mencapai T 80%,
maka sebaiknya pelarut harus diganti.
PERSIAPAN, PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN
Sebelum memulai uji disolusi perlu direncanakan hal-hal berikut :
1. Pemilihan Metode
Dari kedua macam alat yang tercantum dalam farmakope, yang paling banyak digunakan
adalah alat tripe-2 (metode dayung). Metode 1 (basket) banyak kelemahannya, antara lain :
i. granul-garanul dapat menyumbat lubang basket yang akan mengganggu uji disolusi.
ii. Tablet atau kapsul tidak dapat diobservasi selama proses pengujian
iii. Gelembung udara yang terperangkap dlm basket dapat mengakibatkan kelainan hasil uji
disolusi.
2. Posisi pengambilan aliquot
Posisi pengambilan aliquot sangat penting diperhatikan dan ditentukan, sebab konsentrasi zat
aktif terlarut tidak sama pada semua bagian media disolusi. Pengambilan dilakukan pada
bagian tengah antara bagian atas pengaduk dan permukaan media dan tidak lebih dekat 1cm
dari dinding wadah.
3. Volume aliquot
Volume aliquot yang diambil sangat tergantung pada metode analisa yang digunakan untuk
menentukan kadar zat aktif terlarut. Pada waktu pengambilan aliquot harus dijaga agar
partikel-partikel sediaan tidak ikut, sebab dapat mempengaruhi hasil uji. Karena itu
digunakan pipet yang telah didisain sedemikian agar pertikel tidak ikut terambil.
4. Frekuensi pengambilan aliquot
Frekuensi sangat tergantung pada informasi yang dibutuhkan. Uji disolusi menurut
monografi Farmakope dilakukan hanya satu waktu tertentu saja. Kecuali kalau dibutuhkan
informasi tentang kinetika kecepatan disolusi, maka frekuensi pengambilan aliquot harus
dilakukan berulangkali sesuai interval waktu yang diprogramkan lebih dulu.

252394659.doc

- 91 -

FISIKA FARMASI

PERALATAN UJI DISOLUSI


Ada dua proses utma dlam uji disolusi yaitu proses mendisolusi zat aktif dl media dan
proses penetapan jumlah zat aktif terdisolusi dlm media tersebut.
Jadi sesuai dengan proses tadi maka dlm uji disolusi ada dus jenis alat utama, yaitu :
Alat uji disolusi
Alat pengukur konsentrasi zat aktif (Spektrofotometer, HPLC)
Jenis alat disolusi
Dari segi kontinuitas penetapan zat aktif terlarut maka alat uji dibagi tiga kelompok, yaitu :
a. alat uji disolusi manual : semua proses ditangani oleh penguji, mulai dari memipet alikuot
dari wadah, sampai mengukur kadar zat aktif terlarut.
b. Alat uji disolusi semi otomatis : alat ini banyak digunakan dewasa ini, karena cukup
ptraktis. Alikuot pada waktu yang diprogramkan akan keluar sendiri, kemudian penetapan
kadar dilakukan penguji.
c. Alat uji otomatis : disini semua proses dilakukan secara otomatis, dimana alat disolusi
tersambung dengan alat ukur konsentrasi zat aktif. Alikuot yang keluar langsung masuk
ke sel spektro atau HPLC.
Type alat uji disolusi
Ada dua jenis alat uji disolusi dalam FI ed IV dan USP XXI, seperti terlihat pada gambar
dibawah ini.

252394659.doc

- 92 -

FISIKA FARMASI

1. Alat tipe 1, terdiri dari :


a. wadah kaca atau bahan lain yang inert dan transparant. Bagian bawah bundar tinggi
160-175 mm, diameter dalam 98-100 mm. Umumnya ber volume 1.000 ml dilengkapi
tutup yang sesuai.
b. Basket logam bentuk silinder (lihat gbr-1)
c. Motor yang memutar as basket dengan kecepat yang dapat diatur
d. Wadah tercelup dlm tangas air (water bath) dilengkapi thermostat.
2. Alat tipe 2
Sama dengan alat tipe 1, kecuali basket diganti dengan pengaduk bebentuk dayung atau pedal
(lihat gbr-2)
Alat uji disolusi dapat terdiri dari satu wadah (single vessel) atau beberapa wadah dalam satu unit
(2, 4 atau 6 wadah). Alat dengan wadah ganda sangat menguntungkan karena mempersingkat
waktu pengujian dibandingkan wadah tunggal. Sebab untuk setiap batch minimal dilakukan
enam kali uji disolusi yang dengan alat 6 wadah bisa dilakukan sekali jalan.
HASIL DAN PERSYARATAN UJI DISOLUSI
Untuk mendapatkan hasil uji yang meyakinkan, maka pengujian disolusi untuk satu batch
minimal dilakukan 6 seri. Tiap kali pengujain digunakan satu tablet/kapsul dalam satu wadah.
Jika 6 tablet pertama telah memenuhi persyaratan, maka uji disolusi dianggap cukup.
Jika kelompok pertama tadi gagal, tapi hasil rata-rata kelompok pertama dan kelompok kedua
(sebanyak 6 tablet( memenuhi persyaratan maka uji disolusi dianggap cukup.
Jika yang pertama dan kedua gagal, maka dilakukan kelompok ketiga (sebanayak 12 tablet)
kemudian dihitung rata-rata hasil I, II dan III bila mmenuhi kriteria dianggap memenuhi syarat.
Tabel persyaratan Uji Disolusi
Tahap Jumlah tablet
Kriteria yang dapat diterima
yang diuji
S1
6
Tiap tablet tidak kurang dari Q + 5%
Rata-rata dari 12 tablet (S1 + S2) sama atau lebih besar dari Q dan
S2
6
tidak ada tablet kurang dari Q 15%
Rata-rata dari 24 tablet (S1+S2+S3) sama atau lebih besar dari Q dan
S3
12
tidak lebih dari 2 tablet kurang dari Q 15%
Q adalah jumlah zat aktif yang harus terdisolusi pada waktu yang tertera dalam monografi.
Contoh tablet parasetamol dalam waktu 30 menit harus larut tidak kurang dari 80% (Q)
parcetamol yang tertera pada etiket

252394659.doc

- 93 -