Anda di halaman 1dari 40

MEKANIKA BATUAN

June 29, 2011izoreLeave a comment

1 Vote
Defenisi
Menurut Talobre Mekanika batuan adalah sebuah teknik dan juga sains yang tujuannya
adalah mempelajari perilaku (behaviour) batuan di tempat asalnya untuk dapat mengendalikan
pekerjaan pekerjaan yang dibuat pada batuan tersebut (seperti penggalian dibawah tanah dan
lain-lainnya).
Menurut Coates, seorang ahli mekanika batuan dari Kanada, Mekanika adalah ilmu yang mempelajari
efek dari gaya atau tekanan pada sebuah benda.
Mekanika Batuan merupakan ilmu teoritis dan terapan tentang perilaku mekanik batuan, berkaitan
dengan respons batuan atas medan gaya dari lingkungan sekitarnya (Deere, D.V., dalam Stagg &
Zienkiewicz, 1968)
Ilmu Mekanika Batuan : Ilmu Pengetahuan teoritik dan terapan : terapan yang mempelajari
karakteristik, perilaku dan respons massa batuan akibat perubahan keseimbangan medan gaya
disekitarnya,baik krn aktivitas manusia maupun alamiah.
Menurut US National Committee on Rock Mechanics(1964) dan dimodifikasi (1974):
Mekanika batuan mempelajari antara lain :
Sifat fisik ; mekanik serta karakteristik massa batuan.
Berbagai teknik analisis tegangan ; rengangan batuan.
Prinsip yg menyatakan respons massa batuan thd beban.
Metodologi yang logis untuk penerapan teori dan terapan; teknik mekanika untuk solusi problem
fisik nyata dibidang rekayasa batuan.

Sifat massa batuan di alam dan asumsi dasar :


1. Heterogen :
Mineralogis : jenis mineral pembentuk batuan yang berbeda-beda.
Butiran padatan :Ukuran dan bentuk berbeda-beda.
Void : ukuran, bentuk, penyebaran berbeda-beda.

2. Anisotrop :
Mempunyai sifat yang berbeda-beda pada arah yang berbeda.
3. Diskontinu :
Massa batuan selalu memiliki unsur struktur geologi yang mengakibatkannya tidak kontinu seperti
karena kekar, sesar, retakan, fissure, bidang perlapisan. Struktur geologi ini cenderung
memperlemah kondisi massa batuan.
Bidang bidang rekayasa disiplin mekanika batuan berperan penting dalam :
Rekayasa pertambangan : penentuan metode penggalian (rock cutting),pemboran &peledakan

batuan, stabilitas timbunan overburden, stabilitas timbunan overburden, stabilitas terowongan &
lombong(stoping).
Industri minyak bumi : pemboran oil drilling, rock fracturing.
Rekayasa sipil : pondasi jembatan & gedung bertingkat, underground storage, tunnel dangkal

dan dalam, longsoran lereng batu, pelabuhan, airport, bendungan dsb.


Lingkungan hidup ; rock fracturing kaitannya dengan migrasi polutan akibat limbah industri.
Interaksi fungsional dalam rekayasa pertambangan. Bertujuan utk mengembangkan suatu skedul
produksi & biaya yang berkesinambungan untuk operasi penambangan.
Mekanika batuan mempelajari :
1) Mekanisme deformasi kristal-kristal mineral yang mengalami tekanan tinggi pada temperatur
tinggi
2) Perilaku triaksial batuan di laboratorium
3) Stabilitas dinding terowongan, bahkan :
4) Mekanisme pergerakan-pergerakan kerak bumi sendiri, dalam hal ini jelas geologi berperan, antara
lain material-material yang terlibat :
- masa batuan yang keberadaannya tidak terlepas dari lingkungan geologi atau dihasilkan dari
lingkungan geologi
- karakter fisiknya, yang merupakan fungsi dari cara terjadinya dan dari semua proses yang terlibat
- stabilitas dinding terowongan, bahkan
- sejarah geologi pada lokasi kejadian
Sifat Fisik dan Sifat Mekanik Batuan
Sifat Fisik batuan , misalnya :
Berat isi ; Specific Gravity , Porositas , Absorbsi , Void ratio.
Sifat Mekanik Batuan misalnya :
Kuat tekan , Kuat tarik , Modulus elastisitas, Poisons ratio.
Kedua sifat tersebut dapat ditentukan di laboratorium , maupun dilapangan ( insitu-test )
Uji Sifat Mekanik Di Lapangan :
1.Rock loading test ( Jacking test )
2.Block Shear test
3.In situ Triaxial compression test
Uji Sifat Mekanik Di Laboratorium :
1.Pengujian Kuat Tekan ( Unconfined compressive strength test )
2.Pengujian Kuat Tarik ( Indirect tensile strength test )
3.Point Load test ( tes Franklin )
4.Pengujian Triaxial
5.Punch Shear test
6.Direct box shear strength test
7.Ultrasonic Velocity Test
Macam Macam Penimbangan Contoh Batuan :
1.Berat contoh batuan asli (Natural) : Wn
2.Berat contoh kering ( sesudah dimasukkan dalam oven 90 derajat Celcius selama 24 jam ) : Wo

3.Berat contoh jenuh ( sesudah direndam dalam air selama 24 jam ) : Ww


4.Berat contoh jenuh + berat air + berat bejana : Wa
5.Berat contoh jenuh tergantung dalam air + berat air + berat bejana : Wb
6.Berat contoh jenuh dalam air : Ws = ( Wa Wb )
7.Volume contoh total = Ww Ws
8.Volume Contoh tanpa pori-pori = Wo Ws
Perencanaan dan Perancangan Tambang
Geologi Mekanika
Pertambangan Batuan
Komponen ; urutan program Mekanika Batuan untuk pertambangan.
Karakteristik Lokasi Penentuan sifat sifat hidromekanika dari massa batuan induk yg akan
disambung.
Perumusan model tambang Konseptualisasi data karakterisasi lokasi.
Analisis Rancangan. Pemilihan & aplikasi metode matematika & Komputasional untuk mengkaji
beberapa tata letak dan strategi tambang.
Pemantauan kinerja batuan, pengukuran respons massa batuan akibat operasi penambangan.
Analisis Retrospektif Kuantifikasi sifat massa batuan insitu & identifikasi bentuk respon dominan dari
struktur tambang.
- Terhadap karakteristik lokasi tidak pernah menghasilkan data yang cukup komprenhensif yang dapat
dipakai untuk merencanakan seluruh umur tambang.
- Rancangan tambang adalah proses evolutif dimana respons rekayasa dirumuskan untuk
mencerminkan kinerja struktur tambang pada kondisi.

Mekanika Batuan
Mekanika batuan merupakan ilmu teoritis dan terapan tentang perilaku mekanik batuan, berkaitan dengan respons
batuan atas medan gaya dari lingkungan sekitarnya (Deere, D.V., dalam Stagg & Zienkiewicz, 1968)
Mekanika batuan mempelajari :
1) Mekanisme deformasi kristal-kristal mineral yang mengalami tekanan tinggi pada temperatur tinggi
2) Perilaku triaksial batuan di laboratorium
3) Stabilitas dinding terowongan, bahkan :
4) Mekanisme pergerakan-pergerakan kerak bumi sendiri, dalam hal ini jelas geologi berperan, antara lain materialmaterial yang terlibat :
- masa batuan yang keberadaannya tidak terlepas dari lingkungan geologi atau dihasilkan dari lingkungan geologi
- karakter fisiknya, yang merupakan fungsi dari cara terjadinya dan dari semua proses yang terlibat
- stabilitas dinding terowongan, bahkan
- sejarah geologi pada lokasi kejadian
PENTINGNYA LITOLOGI DAN JENIS BATUAN
Litologi suatu batuan memberikan acuan tentang mineraloginya, tekstur, kemas yang mengarahkan kepada klasifikasi
yang dapat diterima ; (lithology = ilmu tentang batuan).
Pentingnya klasifikasi yang dapat diterima :
Jenis batuan, mineralogy, tekstur, fabric (kemas) > deskriptif terminologi > sistem klasifikasi yang dapat
diterima, misalnya: oolitic limestone, bituminous shale.
Jenis batuan sama bisa memberikan rentang nilai sifat mekanik yang panjang Cenderung lithologic name
ditinggalkan, diganti dengan nama kelas yang menggunakan sifat mekanik > tetap dipertahankan untuk beberapa
alasan :
1) Setidaknya ada rentang nilai
Untuk jenis batuan tertentu sebagian rentang harganya tinggi/panjang, sebagian lagi pendek. Misalnya: limestone
5.000 lb/in2 hingga 35.000 lb/in2 (rentang harga 30.000; 1 lb/in2 = 0,70307 Ton/m2); rock salt, garam batuan, 3.000
5.000 lb/in2 > rentang harga 2.000 saja.
2) Sehubungan dengan tekstur, fabric, structural anisotropy dalam batuan yang terbentuk secara khusus (a particular
origin); misalnya:
a. batuan beku, umumnya punya suatu fabric yang padat dan interlocking, yang hanya sedikit saja memiliki
perbedaan sifat mekanik ke arah-arah yang berbeda.
b. batuan sedimen berlapis anisotropy in mechanical properties

c. batuan metamorf, foliasi > lebih-lebih anisotropy

Prinsip Dasar Mekanika Batuan


Mengenal dan menafsirkan tentang asal-usul dan mekanisme pembentukan suatu struktur geologi akan menjadi
lebih mudah apabila kita memahami prinsip-prinsip dasar mekanika batuan, yaitu tentang konsep gaya (force),
tegasan (stress), tarikan (strain) dan faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi karakter suatu materi/bahan.

Gaya (Force)

Gaya merupakan suatu vektor yang dapat merubah gerak dan arah pergerakan suatu benda. Gaya dapat bekerja
secara seimbang terhadap suatu benda (seperti gaya gravitasi dan elektromagnetik) atau bekerja hanya pada bagian
tertentu dari suatu benda (misalnya gaya-gaya yang bekerja di sepanjang suatu sesar di permukaan bumi).
Gaya gravitasi merupakan gaya utama yang bekerja terhadap semua obyek/materi yang ada di sekeliling kita.
Besaran (magnitud) suatu gaya gravitasi adalah berbanding lurus dengan jumlah materi yang ada, akan tetapi
magnitud gaya di permukaan tidak tergantung pada luas kawasan yang terlibat. Satu gaya dapat diurai menjadi 2
komponen gaya yang bekerja dengan arah tertentu, dimana diagonalnya mewakili jumlah gaya tersebut. Gaya yang
bekerja diatas permukaan dapat dibagi menjadi 2 komponen yaitu: satu tegak lurus dengan bidang permukaan dan
satu lagi searah dengan permukaan.
Pada kondisi 3-dimensi, setiap komponen gaya dapat dibagi lagi menjadi dua komponen membentuk sudut tegak
lurus antara satu dengan lainnya. Setiap gaya, dapat dipisahkan menjadi tiga komponen gaya, yaitu komponen gaya
X, Y dan Z.

Tekanan Litostatik

Tekanan yang terjadi pada suatu benda yang berada di dalam air dikenal sebagai tekanan hidrostatik. Tekanan
hidrostatik yang dialami oleh suatu benda yang berada di dalam air adalah berbanding lurus dengan berat volume air
yang bergerak ke atas atau volume air yang dipindahkannya.
Sebagaimana tekanan hidrostatik suatu benda yang berada di dalam air, maka batuan yang terdapat di dalam bumi
juga mendapat tekanan yang sama seperti benda yang berada dalam air, akan tetapi tekanannya jauh lebih besar
ketimbang benda yang ada di dalam air, dan hal ini disebabkan karena batuan yang berada di dalam bumi mendapat
tekanan yang sangat besar yang dikenal dengan tekanan litostatik. Tekanan litostatik ini menekan kesegala arah dan
akan meningkat ke arah dalam bumi.

Tegasan (Stress forces)

Tegasan adalah gaya yang bekerja pada suatu luasan permukaan dari suatu benda. Tegasan juga dapat didefinisikan
sebagai suatu kondisi yang terjadi pada batuan sebagai respon dari gaya-gaya yang berasal dari luar. Tegasan dapat
didefinisikan sebagai gaya yang bekerja pada luasan suatu permukaan benda dibagi dengan luas permukaan benda
tersebut: Tegasan (P)= Daya (F) / luas (A).
Tegasan yang bekerja pada salah satu permukaan yang mempunyai komponen tegasan prinsipal atau tegasan
utama, yaitu terdiri daripada 3 komponen, yaitu: P, Q dan R. Tegasan pembeda adalah perbedaan antara tegasan
maksimal (P) dan tegasan minimal (R). Sekiranya perbedaan gaya telah melampaui kekuatan batuan maka
retakan/rekahan akan terjadi pada batuan tersebut. Kekuatan suatu batuan sangat tergantung pada besarnya
tegasan yang diperlukan untuk menghasilkan retakan/rekahan.

Gaya Tarikan (Tensional Forces)

Gaya Tegangan merupakan gaya yang dihasilkan oleh tegasan, dan melibatkan perubahan panjang, bentuk
(distortion) atau dilatasi (dilation) atau ketiga-tiganya.
Bila terdapat perubahan tekanan litostatik, suatu benda (homogen) akan berubah volumenya (dilatasi) tetapi bukan
bentuknya. Misalnya, batuan gabro akan mengembang bila gaya hidrostatiknya diturunkan.
Perubahan bentuk biasanya terjadi pada saat gaya terpusat pada suatu benda. Bila suatu benda dikenai gaya, maka
biasanya akan dilampaui ketiga fasa, yaitu fasa elastisitas, fasa plastisitas, dan fasa pecah. Bahan yang rapuh
biasanya pecah sebelum fase plastisitas dilampaui, sementara bahan yang plastis akan mempunyai selang yang
besar antara sifat elastis dan sifat untuk pecah. Hubungan ini dalam mekanika batuan ditunjukkan oleh tegasan dan
tarikan.
Kekuatan batuan, biasanya mengacu pada gaya yang diperlukan untuk pecah pada suhu dan tekanan permukaan
tertentu. Setiap batuan mempunyai kekuatan yang berbeda-beda, walaupun terdiri dari jenis yang sama. Hal ini
dikarenakan kondisi pembentukannya juga berbeda-beda.
Batuan sedimen seperti batupasir, batugamping, batulempung kurang kuat dibandingkan dengan batuan metamorf
(kuarsit, marmer, batusabak) dan batuan beku (basalt, andesit, gabro).
Batuan yang terdapat di Bumi merupakan subyek yang secara terus menerus mendapat gaya yang berakibat tubuh
batuan dapat mengalami pelengkungan atau keretakan. Ketika tubuh batuan melengkung atau retak, maka kita
menyebutnya batuan tersebut terdeformasi (berubah bentuk dan ukurannya). Penyebab deformasi pada batuan
adalah gaya tegasan (gaya/satuan luas). Oleh karena itu untuk memahami deformasi yang terjadi pada batuan, maka
kita harus memahami konsep tentang gaya yang bekerja pada batuan. Tegasan (stress) dan tegasan tarik (strain
stress) adalah gaya gaya yang bekerja di seluruh tempat dimuka bumi. Salah satu jenis tegasan yang biasa kita kenal
adalah tegasan yang bersifat seragam (uniform-stress) dan dikenal sebagai tekanan (pressure). Tegasan seragam
adalah suatu gaya yang bekerja secara seimbang kesemua arah. Tekanan yang terjadi di bumi yang berkaitan
dengan beban yang menutupi batuan adalah tegasan yang bersifat seragam. Jika tegasan kesegala arah tidak sama
(tidak seragam) maka tegasan yang demikian dikenal sebagai tegasan diferensial.
Tegasan diferensial dapat dikelompokaan menjadi 3 jenis, yaitu:

Tegasan tensional (tegasan extensional) adalah tegasan yang dapat mengakibatkan batuan mengalami

peregangan atau mengencang.

Tegasan kompresional adalah tegasan yang dapat mengakibatkan batuan mengalami penekanan.

Tegasan geser adalah tegasan yang dapat berakibat pada tergesernya dan berpindahnya batuan.

Ketika batuan terdeformasi maka batuan mengalami tarikan. Gaya tarikan akan merubah bentuk, ukuran, atau
volume dari suatu batuan. Tahapan deformasi terjadi ketika suatu batuan mengalami peningkatan gaya tegasan yang
melampaui 3 tahapan pada deformasi batuan.
di bawah memperlihatkan hubungan antara gaya tarikan dan gaya tegasan yang terjadi pada proses deformasi
batuan.

Deformasi yang bersifat elastis (Elastic Deformation) terjadi apabila sifat gaya tariknya dapat berbalik

(reversible).

Deformasi yang bersifat lentur (Ductile Deformation) terjadi apabila sifat gaya tariknya tidak dapat kembali lagi

(irreversible).

Retakan / rekahan (Fracture) terjadi apabila sifat gaya tariknya yang tidak kembali lagi ketika batuan

pecah/retak.
Kita dapat membagi material menjadi 2 (dua) kelas didasarkan atas sifat perilaku dari material ketika dikenakan gaya
tegasan padanya, yaitu :

Material yang bersifat retas (brittle material), yaitu apabila sebagian kecil atau sebagian besar bersifat elastis

tetapi hanya sebagian kecil bersifat lentur sebelum material tersebut retak/pecah

Material yang bersifat lentur (ductile material) jika sebagian kecil bersifat elastis dan sebagian besar bersifat

lentur sebelum terjadi peretakan / fracture


Bagaimana suatu batuan / material akan bereaksi tergantung pada beberapa faktor, antara lain adalah:
Temperatur Pada temperatur tinggi molekul molekul dan ikatannya dapat meregang dan berpindah, sehingga
batuan/material akan lebih bereaksi pada kelenturan dan pada temperatur, material akan bersifat retas.
Tekanan bebas pada material yang terkena tekanan bebas yang besar akan sifat untuk retak menjadi berkurang
dikarenakan tekanan disekelilingnya cenderung untuk menghalangi terbentuknya retakan. Pada material yang
tertekan yang rendah akan menjadi bersifat retas dan cenderung menjadi retak.
Kecepatan tarikan Pada material yang tertarik secara cepat cenderung akan retak. Pada material yang tertarik
secara lambat maka akan cukup waktu bagi setiap atom dalam material berpindah dan oleh karena itu maka material
akan berperilaku / bersifat lentur.
Komposisi Beberapa mineral, seperti Kuarsa, Olivine, dan Feldspar bersifat sangat retas. Mineral lainnya, seperti
mineral lempung, mica, dan kalsit bersifat lentur. Hal tersebut berhubungan dengan tipe ikatan kimianya yang terikat
satu dan lainnya. Jadi, komposisi mineral yang ada dalam batuan akan menjadi suatu faktor dalam menentukan
tingkah laku dari batuan. Aspek lainnya adalah hadir tidaknya air. Air kelihatannya berperan dalam memperlemah
ikatan kimia dan mengitari butiran mineral sehingga dapat menyebabkan pergeseran. Dengan demikian batuan yang
bersifat basah cenderung akan bersifat lentur, sedangkan batuan yang kering akan cenderung bersifat retas.
KLASIFIKASI KETEKNIKAN > BATUAN PADU (INTACT ROCK)
a. Batuan padu (Intact rock)
merupakan material batuan yang dapat diambil sebagai sample dan diuji di laboratorium, dan bebas dari
kemampuan structural berskala besar, misalnya kekar, bidang-bidang perlapisan, zona gerusan (shear zones).
Klasifikasi batuan padu berdasarkan 2 sifat keteknikan, yaitu:
- Ketahanan kompresif satu-sumbu a(ult) (uni axial compressive strength)
- Modulus of elasticity, Et = tangen modulus pada 50% ultimate strength), ketahanan kompresif hasil uji spesimen
dengan nisbah ukuran panjang : diameter (h : D) paling tidak = 2 : 1. h : D = 2:1, malah boleh lebih besar

Batuan diklasifikasikan baik atas dasar strength maupun modulus ratio > sebagai AM, BL, BH, CM dan seterusnya.
Modulus-ratio = Et / a (ult)
Et

= target modulus pada 50% ultimate (final maximum) strength

a(ult) = qu = unconfined / uniaxial compressive trength (UCS)


(http://bosstambang.com/Surface-Mining/mekanika-batuan.html)
Sifat Fisik Batuan
Porositas
Porositas didefinisikan sebagai perbandingan volume pori-pori (yaitu volume yang ditempati oleh fluida) terhadap
volume total batuan. Ada dua jenis porositas yaitu porositas antar butir dan porositas rekahan. Secara matematis
porositas dapat dituliskan sebagai berikut:
Sebagai contoh, apabila batuan mempunyai media berpori dengan volume 0,001 m3, dan media berpori tersebut
dapat terisi air sebanyak 0,00023 m3, maka porositasnya adalah:
Pada kenyataannya, porositas didalam suatu sistem panasbumi sangat bervariasi. Contohnya didalam sistem
reservoir rekah alami, porositas berkisar sedikit lebih besar dari nol, akan tetapi dapat berharga sama dengan satu
(1) pada rekahannya. Pada umumnya porositas rata-rata dari suatu sistem media berpori berharga antara 5 30%.
Kecepatan Aliran Fluida
Kecepatan aliran darcy atau flux velocity (v) adalah laju alir rata-rata volume flux per satuan luas penampang di
media berpori. Sedangkan kecepatan rata-rata fluida yang melalui media berpori dikenal sebagai interstitial
velocity (u). Hubungan antara kedua parameter kecepatan tersebut adalah sebagai berikut:
Harga flux velocity pada umumnya sekitar 10-6 m/s. Besarnya interstitial velocity digunakan untuk kecepatan suatu
partikel (partikel kimia penjejak atau tracer) yang mengalir pada media berpori.
Permeabilitas
Permeabilitas adalah parameter yang memvisualisasikan kemudahan suatu fluida untuk mengalir pada media
berpori. Parameter ini dihubungkan dengan kecepatan alir fluida oleh hukum Darcy seperti di bawah ini
Tanda negatif dalam persamaan di atas menunjukkan bahwa apabila tekanan bertambah dalam satu arah, maka
arah alirannya berlawanan arah dengan pertambahan tekanan tersebut. Dari persamaan (2.3) dapat dinyatakan
bahwa kecepatan alir fluida (kecepatan flux) berbanding lurus dengan k/m, dimana didalam teknik perminyakan, k/m
dikenal sebagai mobility ratio.
Permeabilitas mempunyai arah, dimana ke arah x dan y biasanya mempunyai permeabilitas lebih besar dari pada ke
arah z. Sistem ini disebut anisotropic.
Apabila permeabilitas tersebut seragam ke arah horizontal maupun vertikal disebut sistem isotropik.
Satuan permeabilitas adalah m2. Pada umumnya pada reservoir panasbumi, permeabilitas vertikal berkisar antara 1014

m2, dengan permeabilitas horizontal dapat mencapai 10 kali lebih besar dari permeabilitas vertikalnya (sekitar 10-

13

m2). Satuan permeabilitas yang umum digunakan didunia perminyakan adalah Darcy (1 Darcy = 10-12 m2).

Densitas Batuan
Densitas batuan dari batuan berpori adalah perbandingan antara berat terhadap volume (rata-rata dari material
tersebut). Densitas spesifik adalah perbandingan antara densitas material tersebut terhadap densitas air pada
tekanan dan temperatur yang normal, yaitu kurang lebih 103 kg/m3.

Batuan mempunyai sifat-sifat tertentu yang perlu diketahui, dalam mekanika


batuan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu ;
a. Sifat fisik batuan seperti bobot isi Spesific Gravity porositas dan absorbsi Void Ratio.
b. Sifat mekanika batuan seperti kuat tekan, kuat tarik, modulus elastisitas, Poisson `s Ratio.
Kedua sifat tersebut dapat ditentukan, pada umumnya ditentukan terhadap sampel yang diambil dari lapangan. Satu
persatu dapat digunakan untuk menentukan kedua sifat batuan. Pertama-tama adalah penetuan sifak fisik batuan
yang merupakan pengujian tanpa merusak (Non Destructive Test), kemudian dilanjutkan dengan penentuan sifat
mekanik batuan yang merupakan pengujian merusak (Destructive Test) sehingga contoh fasture (hancur).
Pembutan contoh batuan dapat dilakukan dilaboratorium maupun dilapangan (insitu). Pembuatan percontohan
dilaboratorium dilakukan dari blok batuan yang diambil dilapangan hasil pemboran Core (inti). Sampel yang didapat
berbentuk selinder dengan diameter pada umumnnya antara 50-70 mm dan tingginya dua kali diameter tersebut.
Ukuran percontohan dapat lebih kecil dari ukuran yang disebut diatas tergantung maksud pengujian.
Pengujian ini dilakukan pada inti bor (core) dengan contoh berbentuk silinder dengan dimeter 50-70 mm kemudian
dipotong dengan mesin untuk mendapatkan ukuran tinggi dua kali diameternya.
Kemudian conto yang diambil dimasukkan eksikator dan udara yang ada dalam eksikator dihisap sehingga conto
dalam keadaan vacum.
Dari conto yang didalam eksikator didapatkan nilai berat jenis,berat jenuh tergantung dalam air dan berat kering
conto.

GEOTEKNIK HIDROLOGI
Pengumpulan data geoteknik dan hidrogeologi dilakukan dalam persiapan penambangan, umumnya
mulai pada tahap pre-feasibility study. Data-data geoteknik dan hidrogeologi digunakan sebagai
laporan di dalam tahap studi kelayakan, sekaligus sebagai dasar perancangan tambang.
A. SIFAT-SIFAT DATA TEKNIS BATUAN
Geoteknik atau dikenal sebagai engineering geology merupakan bagian dari rekayasa sipil yang
didasarkan pada pengetahuan yang terkumpul selama sejarah penambangan. Seorang ahli sipil yang
merancang terowongan, jalan raya, bendungan atau yang lainnya memerlukan suatu estimasi
bagaimana tanah dan batuan akan merespon tegangan, sehingga dalam hal ini penyelidikan
geoteknik merupakan bagian dari uji lokasi dan merupakan dasar untuk pemilihan lokasi. Bagian
dari ilmu geoteknik yang berhubungan dengan respon material alami terhadap gejala deformasi
disebut dengan geomekanika.
Dalam urutan kegiatan pertambangan, eksplorasi merupakan proses evaluasi teknis untuk
mendapatkan model badan bijih. Model cadangan suatu badan bijih yang diinterpretasikan dari
hasil eksplorasi langsung maupun tak langsung, sebelum ditentukan cara penambangannya apakah
dengan open pit atau underground mining harus dianalisis secara geoteknik. Salah satu faktor yang
mempengaruhi keputusan tersebut adalah ketidakselarasan struktur geologi. Pola-pola dari patahan,
rekahan, dan bidang perlapisan mendominasi perilaku batuan dalam tambang terbuka karena
terdapat gaya penahan yang kecil untuk mencegah terjadinya luncuran dan karena terdapat
semacam gaya tekan ke atas dari permukaan air yang terdapat dalam rekahan.
Dalam tambang bawah tanah pengaruh ketidakselarasan kurang dominan namun tetap harus
diperhatikan. Permukaan patahan pada kedalaman tertentu merupakan tempat yang memiliki
kohesi yang rendah dan berakumulasinya tegangan. Permukaan rekahan dan belahan merupakan
bidang lemah dengan resistansi yang rendah untuk menahan tegangan, dan memiliki
kecenderungan terbuka saat terganggu oleh aktivitas peledakan (blasting).
Instrumentasi yang modern dalam mekanika batuan memberikan cara pengukuran yang lebih baik
terhadap pengaruh kombinasi kekuatan batuan dan cacat struktur. Keuntungan khusus dari studi
mekanika batuan modern adalah lokasi dan material dapat diuji lebih lanjut. Daerah kerja tambang
dapat dirancang secara detail. Detail-line mapping dilakukan untuk menggambarkan proyeksi
rekahan dan kontak yang orientasinya menyebar sepanjang singkapan atau suatu muka tambang.
Gambar adalah lembar data tipikal yang digunakan dalam metoda ini, menunjukkan jenis informasi
yang dikumpulkan. Posisi rekahan yang dihasilkan dalam detail-line mapping diplot pada stereonet
untuk dievaluasi. Pendekatan lainnya untuk studi struktur detail dalam pertambangan adalah

fracture-set mapping yang dalam hal ini semua rekahan diukur dan dideskripsikan dalam beberapa
area tambang kemudian dikelompokkan berdasarkan karakteristik tertentu. Kelompok tersebut
dideskripsikan dan posisi individualnya diplot pada Schmidt net (equal-area net).
Persentase terbesar tentang informasi struktur yang digunakan dalam perencanaan tambang berasal
dari inti bor. Spasi rekahan, posisi relatif terhadap lubang bor, dan jenis pengisian rekahan harus
dideskripsikan secermat mungkin. Dalam pengamatan inti bor untuk informasi struktur dikenal
istilah RQD (rock-quality designation) yaitu persen inti bor yang diperoleh dan hanya dihitung
untuk inti bor yang memiliki panjang 10 cm atau lebih. Klasifikasi kualitas berdasarkan RQD.
Tabel Klasifikasi kualitas batuan berdasarkan RQD (Peters, 1978)

RQD (%)

Kualitas

0 - 25

Sangat buruk

25 - 50

Buruk

50 - 75

Sedang

75 - 90

Baik

90 - 100

Baik Sekali

Sebagai contoh :
Jika total kemajuan pemboran 130 cm, total inti bor yang diperoleh 104 cm, maka perolehan inti bor
(core recovery) adalah 104/130 = 80%. Jumlah panjang inti bor dengan panjang 10 cm atau lebih
adalah 71,5 cm, sehingga besarnya RQD = 71,5/130 = 55% artinya kualitas batuan yang bersangkutan
adalah sedang.
Penyelidikan dengan seismik kadang-kadang digunakan untuk pengukuran secara tidak langsung
terhadap rock soundness. Salah satu aplikasi khusus metoda seismik adalah untuk menentukan
rippability yaitu suatu ukuran dimana batuan dan tanah dapat dipindahkan oleh bulldozer-ripper
dan scraper tanpa peledakan.

Tabel Informasi geologi yang diperlukan untuk merekam cacat struktur dalam batuan (Peters, 1978)
INFORMASI GEOTEKNIK
1. Peta lokasi atau rencana tambang.
2. Kedalaman di bawah datum referensi.
3. Kemiringan (dip).
4. Frekuensi atau spasi antar bidang ketidakselarasan yang berdekatan.
5. Kemenerusan atau perluasan bidang ketidakselarasan.
6. Lebar atau bukaan bidang ketidakselarasan.
7. Gouge atau pengisian antar muka bidang ketidakselarasan.
8. Kekasaran permukaan dari muka bidang ketidakselarasan.
9. Waviness atau lekukan permukaan bidang ketidakselarasan.
10. Deskripsi dan sifat-sifat batuan utuh diantara bidang ketidakselarasan.
Berikut ini merupakan beberapa istilah dan pengertiannya berkaitan dengan pengujian geomekanika
:
1. Tegangan (stress) adalah gaya yang bekerja tiap satuan luas permukaan. Simbolnya adalah s
(baca: sigma) untuk tegangan normal dan t (baca: tau) untuk tegangan geser.
2. Regangan (strain) adalah respon yang diberikan oleh suatu material akibat dikenai tegangan.
Simbolnya adalah e (baca: epsilon) yang menunjukkan deformasi (pemendekan atau pemanjangan)
per satuan panjang mula-mula.
3. Kuat geser (shear strength) adalah besarnya tegangan atau beban pada saat material hancur
dalam geserannya.

4. Modulus Young (E) adalah ukuran kekakuan yang merupakan suatu konstanta untuk setiap
padatan yang klastik. Sering disebut modulus elastisitas yang merupakan perbandingan antara
tegangan terhadap regangan (E=s/e).
5. Rasio Poisson (, baca: nu) berkaitan dengan besarnya regangan normal transversal terhadap
regangan normal longitudinal di bawah tegangan uniaksial. Nilainya berkisar sekitar 0,2 dan
persamaannya adalah :

Ey

Ez

= ----- atau = ---x

Terdapat beberapa jenis kekuatan batuan, yaitu :


1. Kuat kompresif tak tertekan (uniaksial) yang diuji dengan suatu silinder atau prisma terhadap titik
pecahnya. Gambar menunjukkan jenis uji dan rekahan tipikal yang berkembang di atas bidang
pecahnya.
2. Kuat tarik (tensile strength) ditentukan dengan uji Brazilian dimana suatu piringan ditekan
sepanjang diameter atau dengan uji langsung yang meliputi tarikan sebenarnya atau bengkokan dari
prisma batuan.
3. Kuat geser (shear strength) yang diuji secara langsung dalam suatu shear box atau diukur
sebagai komponen pecahan kompresi.

B. SIFAT-SIFAT DATA TEKNIS TANAH DAN AIR


Tanah merupakan hasil pelapukan dari batuan. Jika suatu batuan berasal dari material yang tak
terkonsolidasi, seharusnya mengikuti aturan mekanika tanah, dimana klasifikasi material
ditunjukkan pada Gambar.

Gambar Klasifikasi tanah berdasarkan ukuran butir (Peters, 1978)

Pola perilaku tanah dan batuan dipengaruhi oleh kehadiran air dan udara; terutama air. Klasifikasi
teknis yang umum untuk tanah berbutir halus melibatkan grafik plastisitas dimana batas likuid
diplot berlawanan terhadap indeks plastisitas. Garis A pada grafik merupakan suatu batas empiris
dengan lempung inorganik di atas dan dengan lanau dan lempung organik di bawah.

Sebagai tambahan peralatan pengujian kompresi triaksial, laboratorium pengujian tanah melibatkan
konsolidometer untuk mengukur konsolidasi di bawah pembebanan, dan direct shear box. Uji
kompresi tak tertekan dilakukan pada tanah kohesif. Untuk uji insitu di lapangan, vane shear test
digunakan; dalam hal ini pipa dengan empat-sayap disisipkan ke dalam tanah dan diputar dengan
suatu gaya ukur untuk menentukan kuat pergeseran.
Gambar Grafik plastisitas tanah menunjukkan
karakteristik beberapa jenis tanah (Peters, 1978)

Data hidrologi sangat diperlukan untuk pengontrolan aktivitas penambangan di suatu daerah. Aliran
air permukaan dapat diperkirakan dan lokasi sumber mata air dapat diplot selama pemetaan
geologi. Pengukuran dapat dibuat selama program pemboran eksplorasi. Contoh kualitas air dapat
diambil dan uji pemompaan sederhana dapat dilakukan sementara data geologi dikumpulkan.
Masalah air memiliki dampak sosial maupun politik. Penyaliran suatu tambang dapat menyebabkan
sumur seseorang atau suatu sumber aliran menjadi kering. Gambar menunjukkan beberapa hal yang
berkaitan dengan air tanah. Pada semua jenis batuan terdapat variasi lokal mengenai level air,
misalnya disebabkan oleh isolasi dari blok-blok tanah oleh barrier patahan yang terisi dengan suatu
material dan dike impermeabel

Dua parameter pengukuran yang terpenting dalam hidrologi airtanah adalah koefisien permeabilitas
dan koefisien penyimpanan, atau porositas efektif. Koefisien permeabilitas (k) merupakan suatu
elemen dari Hukum Darcy : V = k.i, dimana V adalah kecepatan aliran laminer (kondisi
nonturbulen) dan I adalah gradien hidraulik yang merupakan rasio kehilangan dalam tinggi
hidraulik (tekanan) oleh resistansi friksional terhadap satuan jarak dalam arah aliran. Koefisien
permeabilitas ditentukan secara eksperimen untuk daerah yang spesifik dengan uji pompa dan di
laboratorium dengan uji permeameter.
Koefisien penyimpanan dalam suatu akifer ditunjukkan sebagai fraksi desimal, yang menunjukkan
volume air yang dapat diharapkan untuk dikuras dari suatu satuan volume tanah. Parameter
tersebut berkaitan dengan pori, rekahan, dan lubang bukaan larutan untuk pengisian oleh airtanah.
Koefisien penyimpanan umumnya dihitung dari uji pompa dalam sumur observasi yang digunakan
untuk memonitor perbedaan kurva penurunan atau permukaan piezometrik di sekitar sumur atau
shaft, seperti yang diperlihatkan pada Gambar.
Gambar Uji drawdown dengan pemompaan dalam suatu tambang atau sumur (Peters)

sumber :http://artikelbiboer.blogspot.com/2009/11/geotechnic-hydrology.html
READ MORE - GEOTEKNIK HIDROLOGI
P O S T E D B Y A N D RY AT 2 1 : 5 1 1 C O M M E N T S

E M A I L T H I S B L O G T H I S ! S H A R E TO T W I T T E R S H A R E TO FAC E B O O K S H A R E TO P I N T E R E S T

LABELS: GEOTEKNIK

Pekerjaan Geoteknik pada Penambangan

Pekerjaan Geoteknik pada Penambangan

Geoteknik adalah ilmu yang mempelajari perilaku tanah maupun batuan. Di alam dunia pertambangan
peran seorang geotek sangatlah penting. Tidak hanya untuk mendesain atau menganalisis lereng agar
aman, akan tetapi geoteknik engineer juga diperlukan untuk mendesain stock pile, barge loading
Conveyor/ Jety Manual maupun pelabuhan. Seorang geotek akan melakukan perhitungan seberapa besar
beban yang dapat diterima oleh suatu tanah/batuan, sehingga dapat mencegah terjadinya longsor akibat
beban

yang

berlebihan

yang

ditanggung

oleh

tanah/batuan

tersebut.

Banyak perusahaan tambang kita yang masih mengabaikan peran geoteknik di dalam tambang. Anggapan
bahwa penyelidikan geoteknik itu mahal adalah salah. Biaya yang dikeluarkan untuk penyelidikan
geoteknik tidaklah semahal biaya yang akan terbuang bila terjadi longsor di tambang, stock pile, barge
loading atau bahkan pelabuhan. Sebagai contoh, perusahaan tambang yang baru sekitar satu minggu
memasang hopper seberat 200 ton di lokasi barge loading conveyor, tiba-tiba mengalami longsor. Hopper
terlepas dari pondasinya dan menggeser semua bangunan yang sudah terpasang disekitar BLC. Kaki
conveyor terangkat, dolpin bergerak dan jatuh ke sungai akibat terjadinya pergerakan tanah disekitarnya.
Kerugian struktur yang diderita mencapai lebih dari 1M, belum lagi kerugian yang timbul akibat
terhentinya aktifitas disekitar BLC. Banyak juga perusahaan tambang yang membuat lokasi stock pilenya
dekat

dengan

sungai.

Akibat

beban

yang

berlebihan

dari

penumpukan

batubara,

lebih besar maka sebagian dari batubara tersebut longsor ke sungai. Dapat dibayangkan berapa kerugian
yang diderita oleh perusahaan akibat hilangnya batubara dan pencemaran yang ditimbulkan. Untuk

itulah

peran

geotek

cukup

penting

agar

terhindar

dari

kerugian-kerugian

tersebut.

Pekerjaan penting lain yang harus dilakukan seorang engineer geotek adalah memberikan panduan
kepada pihak terkait mengenai potensi bahaya geoteknik yang akan terjadi kepada pihak terkait
(manajemen

Peran

seorang

1.

perusahaan,

engineer

institusi,

geotek

secara

Eksplorasi

mineplanner,

umum

dalam

dan

pertambangan

Mine

dll).

adalah

Development.

Geoteknik diperlukan untuk memandu kepada arah pembuatan desain pit yang optimal dan aman (single
slope degree, overall slope degree, tinggi bench, potensi bahaya longsor yang ada contohnya: longsoran
bidang, baji, topling busur, dll) sesuai dengan kriteria faktor keamanannya. Disini ahli geotek tidak hanya
melakukan analisis namun juga ikut turun memetakan kondisi geologi (patahan/lipatan/rekahan, dll)
dilokasi yang akan dibuka tambang. Selain itu juga geoteknik diperlukan dalam pembangunan
infrastruktur tambang seperti stockpile, port, jalan hauling di areal lemah, dll. Disini, peran ahli geotek
adalah memberikan analisis mengenai daya dukung tanah yang aman, cut fill volume, serta langkahlangkah yang diperlukan untuk memenuhi faktor keamanan sehingga ketika dilakukan kontruksi dan
digunakan

tidak

terjadi

2.

longsoran

(failure).

Operasional

Tambang

Pada kondisi ini ahli geotek berperan dalam pengawasan kondisi pit dan infrastruktur yang ada, sebagai
contoh pengawasan pergerakan lereng tambang, zona-zona potensi longsor di areal tambang (pit dan
waste dump) akibat proses penambangan, prediksi kapan longsor akan terjadi, apakah berbahaya untuk
operasional

di

pit

atau

tidak,

langkah apa saja yang harus dilakukan untuk mengantisipasi longsor seperti mengevakuasi alat,
melakukan push back untuk menurunkan derajat kemiringan lereng, melakukan penguatan, melakukan
pengeboran horizontal untuk mengeluarkan air tanah,dll. Disini peran ahli geotek memandu tim safety
dalam pengawasan operasional tambang dan ahli geotek bisa melakukan penyetopan operasional pit jika
membahayakan
3.

keselamatan
Post

manusia

dan

alat,

Mining

hal

ini

juga

berlaku

(Pasca

pada

infrastruktur.
Penambangan)

Setelah kegiatan penambangan selesai, geotek bekerja sama dengan safety juga berperan untuk
memastikan bahwa kondisi waste dump dan pit dalam kondisi aman dan tidak terjadi longsor dalam
jangka waktu lama, karena setelah tambang selesai lahan tersebut akan dikembalikan kepada pemerintah
dan

masyarakat

dan

menyangkut

masalah

citra perusahaan, bagi perusahaan yang berstatus green company hal ini merupakan kewajiban yang
harus dilakukan.
Sumber : http://matonimous.blogspot.com/2010/03/pekerjaan-geoteknik-pada-penambangan.html
READ MORE - Pekerjaan Geoteknik pada Penambangan
P O S T E D B Y A N D RY AT 2 1 : 4 8 0 C O M M E N T S

E M A I L T H I S B L O G T H I S ! S H A R E TO T W I T T E R S H A R E TO FAC E B O O K S H A R E TO P I N T E R E S T

L A B E L S : B A N G U N A N G E O T E K N I K , G E O T E K N I K , R E K A YA S A

GEO-STUDIO 2007

GEO-SLOPE Office adalah sebuah paket aplikasi untuk pemodelan geoteknik dan geo-lingkungan.
Software ini melingkupi SLOPE/ W, SEEP / W, SIGMA / W, QUAKE/ W, TEMP / W, dan CTRAN / W.
Yang sifatnya terintegrasi sehingga memungkinkan untuk menggunakan hasil dari satu produk ke dalam
produk yang lain. Ini unik dan fitur yang kuat sangat memperluas jenis masalah yang dapat dianalisis dan
memberikan fleksibilitas untuk memperoleh modul seperti yang dibutuhkan untuk proyek yang berbeda.
SLOPE / W merupakan produk perangkat lunak untuk menghitung faktor keamanan tanah dan
kemiringan batuan. Dengan SLOPE / W, kita dapat menganalisis masalah baik secara sederhana maupun
kompleks dengan menggunakan salah satu dari delapan metode kesetimbangan batas untuk berbagai
permukaan yang miring, kondisi tekanan pori-air, sifat tanah dan beban terkonsentrasi. Kita dapat
menggunakan elemen tekanan pori air yang terbatas, tegangan statis, atau tekanan dinamik pada analisis
kestabilan lereng. Anda juga dapat melakukan analisis probabilistik.

SEEP / W adalah salah satu software yang digunakan untuk menganalisis rembesan air tanah, masalah
kelebihan disipasi tekanan pori-air. Dengan SEEP / W, kita dapat mempertimbangkan analisis mulai dari
masalah tingkat kejenuhan yang tetap sampai yang tidak jenuh, tergantung dari masalah itu terjadi.
SIGMA / W adalah salah satu software yang digunakan untuk menganalisis tekanan geoteknik dan
masalah-masalah deformasi. Dengan SIGMA / W, kita dapat mempertimbangkan analisis mulai dari
masalah deformasi sederhana hingga masalah tekanan-efektif lanjutan secara bertahap dengan
menggunakan model konstitutif tanah seperti linier-elastis, anisotropik linier-elastis, nonlinier-elastis

(hiperbolik), elastis-plastik atau Cam-clay.


QUAKE / W adalah salah stu software yang digunakan untuk menganalisis gerakan dinamis dari struktur
bumi hingga menyebabkan gempa bumi. QUAKE / W sangat cocok sekali untuk menganalisis perilaku
dinamis dari bendungan timbunan tanah, tanah dan kemiringan batuan, daerah di sekitar tanah
horizontal dengan potensi tekanan pori-air yang berlebih akibat gempa bumi.
TEMP / W adalah salah satu software yang digunakan untuk menganalisis masalah panas bumi. Software
ini dapat menganalisis masalah konduksi tingkat panas yang tetap . Kita dapat mengontrol tingkat di
mana panas diserap atau dibebaskan selama fase perubahan . Kondisi batas termal dapat ditentukan dari
memasukkan data iklim, dan kondisi batas disediakan untuk thermosyphons dan pipa pembekuan.
CTRAN / W adalah salah satu software yang dalam penggunaannya berhubungan dengan SEEP / W
untuk pemodelan transportasi kontaminasi. CTRAN / W dapat menganalisa masalah yang sederhana
seperti pergerakan partikel dalam gerakan air atau serumit menganalisis proses yang melibatkan difusi,
dispersi, adsorpsi, peluruhan radioaktif dan perbedaan massa jenis.
VADOSE / W adalah salah satu software yang berhubungan dengan lingkungan, permukaan tanah, zona
vadose dan daerah air tanah lokal. Software ini dapat menganalisa masalah batas fluks seperti:
1. Rancangan dan memonitor performa satu atau lebih lapisan yang menutupi tambang dan fasilitas
limbah rumah.
2. Menentukan iklim yang mengontrol distribusi tekanan pori-air pada lereng untuk digunakan dalam
analisis stabilitas.
3. Menentukan infiltrasi, evaporasi dan transpirasi dari proyek-proyek pertanian atau irigasi
Seep3D digunakan untuk pemodelan 3D dari air tanah yang jenuh atau tidak jenuh. Dengan
menggunakan Seep3D, kita dapat memperluas analisis aliran air tanah regional dengan menyertakan
geometri struktur tertentu seperti waduk dan bendungan, hambatan arus cutoff, rembesan saluran air
atau sumur, gabungan aliran dari samping dan bawah lereng, dan infiltrasi dan aliran dalam sistem
penghalang limbah.
READ MORE - GEO-STUDIO 2007
P O S T E D B Y A N D RY AT 2 1 : 4 3 0 C O M M E N T S

E M A I L T H I S B L O G T H I S ! S H A R E TO T W I T T E R S H A R E TO FAC E B O O K S H A R E TO P I N T E R E S T

L A B E L S : S L O P E , S O F T WAR E

M O N D A Y, 6 F E B R U A R Y 2 0 1 2

Hammer Test Civil engineering

PENGUJIAN STRUKTUR BETON DENGAN METODE HAMMER TEST DAN


METODE UJI PEMBEBANAN (LOAD TEST)
BAB-I
PENDAHULUAN
1.1. UMUM
Dalam pelaksanaan suatu konstruksi bangunan sering terdapat kegagalankegagalan akibat kerusakankerusakan yang terjadi pada struktur atau bahagianbahagian struktur pada waktu tahap pelaksanaannya
maupun setelah selesai dikerjakan. Kejadian ini antara lain disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang
sebelumnya tidak diperhitungkan misalnya kesalahan dalam perencanaan dan pelaksanaan serta adanya
pelampauan beban akibat perubahan fungsi dari bangunan.

Dalam perencanaan suatu struktur bangunan biasanya didahului dengan membuat beberapa asumsiasumsi misalnya besaran gaya-gaya yang bekerja dan mutu bahan yang akan digunakan yang pada
akhimya syclus perencanaan harus diuji kebenarannya. Pembuktian asumsi-asumsi yang dibuat
mebutuhkan pengujian-pengujian dan percobaan-percobaan yang dapat berupa Quality Control dan

Quality Assurance. Walaupun telah didahului oleh Quality Control dan quality Assurance yang terencana
sering terjadi bahwa hasil akhir mutu bahan yang dilaksanakan masih tetap berada dibawah kwalitas
yang diinginkan. Hal ini dapat terjadi karena kesalahan dalam pelaksanaan/perencanaan, penurunan
kinerja struktur yang sudah berdiri (struktur eksisting) dan apa yang disebut dengan pengaruh skala
(scale etfecs) .

Kwalitas produk dalam skala besar, misalnya untuk beton yang akan digunakan dalam pembuatan suatu
bangunan yang diproduksi secara besar besaran dicoba diramalkan berdasarkan kwalitas bahwa tes yang
diacu dalam skala kecil dilaboratorium (test kubus) sewaktu melaksanakan perencanaan campuran teton
(mixed design).

Penyimpangan kwalitas akhir misalnya pada struktur yang menggunakan beton sebagai materialnya
dapat menyebabkan terjadinya retakan-retakan pada sebahagian atau keseluruhan dari struktur
bangunan. Jika penyimpangan kwalitas akhir ini dijumpai pada pelaksanaan suatu bangunan ada dua
alternatif yang dapat diambil dalam penanggulangannya. Pertama

mengganti sebahagian atau

keseluruhan struktur yang tidak memenuhi persyaratan dan yang kedua mengadakan penelitian secara
menyeluruh tentang kekuatan dan kekakuan konstruksi untuk kemudian memberi rekomendasi terhadap
penggunaan tats ruang perkuatan konstruksi tersebut.

Untuk mendapatkan informasi tentang kekhawatiran mengenai tingkat keamanan struktur dari suatu
komponen bangunan ataupun bangunan secara keseluruhan akibat adanya faktor-faktor yang tidak
diperhitungkan sebelumnya diperlukan pengujian-pengujian. Ada beberapa bentuk metode pengujian
yang dapat digunakan diantaranya pengujian-pengujian setempat yang bersifat tidak merusak seperti
pengujian ultrasonik dan hammer serta bersifat setengah merusak ataupun merusak secara keseluruhan
komponen-komponen bangunan yang diuji berupa pengujian pembebanan (Load Test). Dasar-dasar dan
tahapan-tahapan yang dilakukan dalam pengujian struktur eksisting yang umum ditarapkan dapat
dikemukakan secara ringkas pada uraian berikut ini.

1.2. DASAR.DASAR PENGUJIAN STRUKTUR


1. Kesalahan perencanaan/pelaksanaan.

1.

Hasil pengamatan lapangan dimana terlihat adanya retak-retak atau lendutan yang

berlebihan pada bagian-bagian struktur.


2.

Sifat material yang diuji selama pelaksanaan pembangunan struktur, yang menunjukkan

hasil-hasil yang tidak memenuhi syarat baik dari segi kekuatan maupun durabilitas (sifat
kekedapan terhadap air yang disyaratkan untuk bangunan seperti kolam renang).
3.

Hasil Perhitungan (dengan memakai kekuatan material yang aktual) yang menunjukkan

adanya penurunan kapasitas kekuatan struktur atau komponen-komponen struktur

2. Penurunan kinerja struktur eksisting yang diakibatkan oleh:


1.

Adanya pelapukan material pada struktur karena usianya yang sudah tua, atau karena

serangan zat-zat kimiawi tertentu yang merusak (seperti jenisjenis senyawa asam).
2.

Adanya kerusakan pada struktur atau bagian-bagian struktur karena bencana kebakaran

atau gempa atau karena struktur mengalami pembebanan tambahan akibat adanya ledakan
disekitar struktur ataupun beban lainnya yang tidak direncanakan.
3.

4.

Rencana pembebanan tambahan pada struktur karena adanya :


1.

Perubahan fungsi / penggunaan struktur.

2.

Penambahan tingkat (pengembangan struktur).

Syarat untuk proses jual beli atau asuransi suatu struktur bangunan. Untuk hal ini

biasanya cukup dilakukan penyelidikan secara visual kecuali jika ada tandatanda yang
mencurigakan pada struktur.

1.3. TAHAPAN DALAM PENGUJIAN STRUKTUR.


1. Tahapan Perencanaan

Tahapan ini mencakup pendefinisian masalah, pemilihan jenis test yang akan dilakukan yang tentunya
sesuai dengan masalah yang dihadapi, penentuan banyaknya pengujian yang akan dilakukan, dalam
pemilihan lokasi pengujian
pada struktur/komponen struktur yang tentunya diharapkan dapat mewakili kondisi struktur yang
sebenamya. Tahapan-tahapan yang umumnya lakukan pada tahap perencanaan ini dapat diuraikan
sebagai berikut ini:

a. Penyelidikan visual.
Pengamatan Visual diperlukan sebagai tahapan awal untuk mendefinisikan permasalahan yang ada
dilapangan. Dari pengamatan visual ini bisa didapatkan imformasi mengenai tingkat layanan (service
ability) dari komponen struktur (seperti lendutan), baik tidaknya pengerjaan pada saat pembangunan
struktur/ komponen struktur (misalnya ada bagian keropos dan
"honeycombing" pada beton) material (misal pelapukan beton) maupun tingkat struktural (seperti retakretak akibat lenturan pada struktur beton).

Untuk tahapan ini diperlukan adanya tenaga ahli yang terlatih yang dapat mendeteksi hal-hal yang tidak
normal yang terjadi pada struktur dan dapat membedakan jenis-jenis kerusakan yang terjadi dan
penyebabnya. Sebagai contoh tenaga ahli tersebut harus mampu membedakan jenis-jenis retak yang
mungkin terjadi pada struktur beton. Sementara itu jenis
pengujian lain yang tersedia seperti pengambilan sample core dari struktur baton yang kemudian
dilanjutkan dengan pengujian tekan dapat ssss ililloririasi yang lebih akurat mengenai kuat tekan beton.

Jadi, tingkat keandalan hasil pengujian core tersebut tergolong tinggi. Namun, cara ini membutuhkan
biaya yang sangat tinggi yang memerlukan waktu pengerjaan yang lebih lama. Selain itu, cara ini juga
menimbulkan kerusakan pada struktur. Jadi bisa dilihat disini bahwa sebagai langkah awal dalam
memilih jenis pengujian yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada perlu disusun terlebih

dahulu tingkat prioritas dari hal-hal yang akan dijadikan sebagai dasar pemilihan. Namun perlu
diperhatikan, bahwa biasanya tingkat akurasi hasil pengukuran merupakan kriteria yang paling penting
dalam
pemilihan jenis pengujian.

Biasanya untuk mengatasi kelemahan yang ada dari pengujian-pengujian yang disebabkan pada ilustrasi
diatas, dapat dilakukan penggabungan beberapa jenis pengujian. Sebagai contoh, karena dapat
memberikan hasil yang akurat, pengujian core dapat digunakan untuk mengkalibrasi hasil pengujian
ultrasonik dan hammer. Karena sifatnya yang hanya sebagai
mengkalibrasi, jumlah core yang diperlukan dapat diperkecil, sehingga kerusakan yang timbul pun dapat
diminimkan.
Untuk dapat membedakan jenis-jenis retak tersebut beserta penyebabnya, perlu dilakukan penyelidikan
yang mendalam mengenai pola retak yang terjadi. Dari penyelidikan tersebut bisa didapat dugaandugaan awal mengenai penyebab retak.

b. Pemilihan Jenis Pengujian.


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis pengujian struktur terdiri atas :

- Tingkat kerusakan struktur yang diizinkan terjadi.

- Waktu penge~aan

- Tingkat keandalan hasil pengujian

- Jenis permasalahan yang dihadapi.

Kemungkinan besar jenis pengujian yang tersedia tidak dapat memenuhi semua hal diatas secara optimal,
sehingga diperlukan suatu kompromi. Sebagai ilustrasi disampaikan disini bahwa metoda-metoda
pengujian beton yang sifatnya tidak merusak (seperti ultrasonik dan hammer test yang dapat digunakan
untuk mengetahui kuat tekan beton pad a struktur) biasanya merupakan bentuk pengujian yang sangat
sederhana, cepat dan murah.

Namun, tingkat kesulitan dalam mengkalibrasi hasil pengujian untuk proses interpretasi parameter kuat
tekan tergolong tinggi. Disamping itu, jika kalibrasi ini tidak dilakukan secara baik dan benar, tingkat
keandalan hasil pengujian dengan menggunakan alaI-alaI tersebut akan menjadi rendah.

c. Jumlah dan Lokasi Pengujian.


Penentuan jumlah mengujian yang dibutuhkan ditentukan oleh :

- Tingkat akurasi yang ditentukan (hubungannya dengan statistik).

- Tingkat kesulitan pengujian/pengambilan sample

- Biaya yang dibutuhkan

- Tingkat kerusakan.

Sebagai contoh, untuk pengujian hammer, untuk mengetahui kuat tekan beton dengan tingkat akurasi
yang tinggi, diperlukan pengujian minimal 10 titik didekitar lokasi yang diuji pada struktur atau
komponen struktur beton.
Untuk jenis-jenis pengujian yang tidak merusak, karena kecepatan pelaksanaannya, biasanya dapat
dilakukan dalam jumlah yang besar yang lokasinya dapat disebaran sehingga mencakupi semua daerah
dari komponen struktur yang akan diuji.

2. Tahapan Pelaksanaan.
Pada tahap pelaksanaan pertu diperhatikan tingkat kesulitan dalam mencapai lokasi-lokasi yang telah
ditentukan sebagai lokasi pengujian. Jika diperlukan, sistem perancah dapat digunakan, namun
sistemnya harus direncanakan dan dipersiapkan dengan baik. Penanganan peralatan pengujian harus
dilakukan dengan baik selama pelaksanaan.

Demikian juga dengan keselamatan tenaga pelaksana harus diperhatikan (tenaga pekerja perlu dilengkapi
dengan peralatan keselamatan seperti "hard har tali pengikat dan lain-lain). Perlu juga diperhatikan
pada saat pelaksanaan, pengaruh gangguan yang mungkin timbul dari pengujian tersebut terhadap
gedung-gedung/strukturstruktur disekitas lokasi struktur yang akan diuji.

3. Tahapan Interpretasi.
Tahap interpretasi dapat dibagi menjadi tiga tahapan yang berbeda :

a. Peninjauan mengenai kekuatan bahan.

b. Kalibrasi

c. Analisa / Perhitungan.

BAB-II
METODE HAMMER TEST
UMUM

Hammer test yaitu suatu alat pemeriksaan mutu beton tanpa merusak beton. Disamping itu dengan
menggunakan metode ini akan diperoleh cukup banyak data dalam waktu yang relatif singkat dengan
biaya yang murah. Metode pengujian ini dilakukan dengan memberikan beban intact (tumbukan) pada
permukaan beton dengan menggunakan suatu massa yang
diaktifkan dengan menggunakan energi yang besarnya tertentu. Jarak pantulan yang timbul dari massa
tersebut pada saat terjadi tumbukan dengan permukaan beton benda uji dapat memberikan indikasi
kekerasan juga setelah dikalibrasi,
dapat memberikan pengujian ini adalah jenis "Hammer". Alat ini sangat berguna untuk mengetahui
keseragaman material beton pada struktur. Karena kesederhanaannya, pengujian dengan menggunakan
alat ini sangat cepat, sehingga dapat mencakup area pengujian yang luas dalam waktu yang singkat.

Alat ini sangat peka terhadap variasi yang ada pada permukaan beton, misalnya keberadaan partikel batu
pada bagian-bagian tertentu dekat permukaan. Oleh karena itu, diperlukan pengambilan beberapa kali
pengukuran disekitar setiap lokasi pengukuran, yang hasilnya kemudian dirata-ratakan British Standards
(BS) mengisyaratkan pengambilan antara 9 sampai 25 kali pengukuran untuk setiap daerah pengujian
seluas maksimum 300 mm2.

Secara umum alat ini bisa digunakan untuk:

- Memeriksa keseragaman kwalitas beton pada struktur.

- Mendapatkan perkiraan kuat tekan beton.

2. SPESIFIKASI

Spesifikasi mengenai penggunaan alat ini bisa dilihat pada BS4408 pt. 4 atau ASTM G80S-89.

a. Kelebihan dan kekurangan "Hammer test".


Kelebihan :

- Murah

- Pengukuran bisa dilakukan dengan cepat

- Praktis (mudah digunakan).

- Tidak merusak

Kekurangan :

Hasil pengujian dipengaruhi oleh kerataan permukaan, kelembaban beton, sifatsifat dan jenis
agregat kasar, derajad karbonisasi dan umur beton. Oleh karena itu perlu diingat bahwa beton yang akan
diuji haruslah dari jenis dan kondisi yang sama.

Sulit mengkalibrasi hasil pengujian.

Tingkat keandalannya rendah.

Hanya memberikan imformasi mengenai karakteristik beton pada permukaan

b. Kalibrasi.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, banyak sekali variabel yang berpengaruh terhadap hasil pengukuran
dengan menggunakan peralatan hammer. Oleh karena itu sangat sulit untuk mendapatkan diagram
kalibrasi yang bersifat umum yang dapat menghubungkan parameter tegangan beton sebagai fungsi dari
pada jumlah skala pemantulan hammer dan dapat diaplikasikan untuk sembarang beton.

Jadi dengan kata lain diagram kalibrasi sebaiknya berbeda untuk setiap jenis campuran beton yang
berbeda. Oleh karena itu setiap jenis beton yang berbeda, perlu diturunkan diagram kalibrasi tersebut
perlu dilakukan pengujian tekan sample hasil coring untuk setiap jenis beton yang berbeda dari struktur
yang sedang ditinjau. Hasil uji coring tersebut kemudian dijadikan sebagai konstanta untuk
mengkalibrasikan bacaan yang didapat dari peralatan hammer tersebut.

Perlu diberi catatan disini bahwa penggunaan diagram kalibrasi yang dibuat oleh produsen alat uji
hammer sebagainya dihindarkan, karena diagram kalibrasi tersebut diturunkan atas dasar pengujian
beton dengan jenis dan ukuran agregat tertentu, bentuk benda uji yang tertentu dan kondisii test yang
tertentu.

II. 3. PERSIAPAN DAN TATA CARA PENGUJIAN.


II. 3. 1. Persiapan.
1.

Menyusun rencana jadwal pengujian, mempersiapkan peralatan-peralatan serta

perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan.

2.

Mencari data dan informasi termasuk diantaranya data tentang letak detail konstruksi,

tata ruang dan mutu bahan konstruksi selama pelaksanaan bangunan berlangsung.
3.

Menentukan titik test.

4.

Titik test untuk kolom diambil sebanyak 5 (lima) titik, masing-masing titik test terdiri

dari 8 (delapan) titik tembak, untuk balok diambil sebanyak 3 (tiga) titik test masing-masing titik
terdiri dari 5 (lima) titik tembak sedang pelat lantai diambil sebanyak 5 (lima) titik test masingmasing terdiri dari 5 (lima) titik tembak.

II. 3. 2. Tata Cara Pengujian.

1.

Sentuhan ujung plunger yang terdapat pada ujung alat hammer test pada titik-titik yang

akan ditembak dengan memegang hammer sedemikian rupa dengan arah tegak lurus atau miring
bidang permukaan beton yang akan ditest.
2.

Plunger ditekan secara periahan-lahan pada titik tembak dengan tetap menjaga

kestabilan arah dari alat hammer. Pada saat ujung plunger akan lenyap masuk kesarangnya akan
terjadi tembakan oleh plunger terhadap beton, dan tekan tombol yang terdapat dekat pangkal
hammer.
3.

Lakukan pengetesan terhadap masing-masing titik tembak yang telah ditetapkan semula

dengan cara yang sama.


4.

Tarik garis vertikal dari nilai pantul yang dibaca pada grafik 1 yaitu hubungan antara nilai

pantul dengan kekuatan tekan beton yang terdapat pada alat hammer sehingga memotong kurva
yang sesuai dengan sudut tembak hammer.
5.

Besar kekuatan tekan beton yang ditest dapat dibaca pada sumbu vertikal yaitu hasil

perpotongan garis horizontal dengan sumbu vertikal.

Oleh karena itu mutu beton yang dinyatakan dengan kekuatan karakteristik bk didasarkan atas
kekuatan tekan beton yang diperoleh pada saat pengetesan Grafik I: Hubungan antara Nilai Pantul
dengan Kekuatan tekan beton

BAB -III
METODE UJI PEMBEBANAN (LOAD TEST)

III.1. UMUM.

Uji pembebanan (load test) adalah merupakan suatu metode pengujian yang bersifat setengah merusak
atau merusak secara keseluruhan komponenkomponen bangunan yang diuji. Pengujian yang dimaksud
dapat dilakukan dengan beberapa metode salah satu diantaranya adalah metode uji beban (Load Test).

Tujuan load test pada dasarnya adalah untuk membuktikan bahwa tingkat keamanan suatu struktur atau
bagian struktur sudah memenuhi persyaratan peraturan bangunan yang ada, yang tujuannya untuk
menjamin keselamatan umum. Oleh karena itu biasanya load test hanya dipusatkan pada bagian-bagian
struktur yang dicurigai tidak memenuhi persyaratan tingkat keamanan berdasarkan data-data hasil
pengujian material dan hasil pengamatan.

III. 2. PEMAKAIAN UJI PEMBEBANAN.

Uji pembebanan biasanya perlu dilakukan untuk kondisi-kondisi seperti berikut ini:
1.

Perhitungan analistis tidak memungkinkan untuk dilakukan karena keterbatasan

imformasi mengenai detail dan geometri struktur.

2.

Kinerja struktur yang sudah menurun karena adanya penurunan kwalitas bahan, akibat

serangan zat kimia, ataupun karena adanya kerusakan flsik yang dialami bagian-bagian
struktur,akibat kebakaran, gempa, pembebanan yang berlebihan dan lain-lain.
3.

Tingkat keamanan struktur yang rendah akibat jeleknya kwalitas pelaksanaan ataupun

akibat adanya kesalahan pada perencanaan yang sebelumnya tidak terdeteksi.


4.

Struktur

direncanakan

dengan

metode-metode

yang

non-stardard,

sehingga

menimbulkan kekhawatiran mengenai tingkat keamanan struktur tersebut.


5.

Perubahan fungsi struktur, sehingga menimbulkan pembebanan tambahan yang belum

diperhitungkan dalam perencanaan.


6.

Diperlukannya pembuktian mengenai kinenja suatu struktur yang baru saja di renovasi.

III. 3. JENIS-JENIS LOAD TEST.

Uji pembebanan dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu :

Pengujian ditempat (in.situ) yang biasanya bersifat non-destructive.

Pengujian bagian-bagian struktur yang diambil dari struktur utamanya.

Pengujian biasanya dilakukan dilaboratorium dan sifat merusak. Pemilihan jenis uji pembebanan ini
tergantung pad a situasi dan kondisi tetapi biasanya cara kedua dipilih jika cara pertama tidak peraktis
(tidak mungkin) untuk dilaksanakan. Selain itu pemilihan jenis pengujian bergantung pada tujuan
diadakannya load test. Kalau tujuannya hanya ingin mengetahui
tingkat layanan struktur, maka pilihan pertama tentunya yang paling baik. Tetapi ingin mengetahu
kekuatan batas dari suatu bagian struktur, yang nantinya akan digunakan sebagai kalibrasi untuk bagianbagian struktur lainnya yang mempunyai kondisi yang sama, maka cara kedualah yang pilih.

III. 3. 1. Pengujian Pembebanan di tempat (In-Situ Load test).

Tujuan utama dari pembebanan ini adalah untuk memperhatikan apakah prilaku suatu struktur pada
saat diberi beban kerja (working load) memenuhi persyaratan banguan yang ada yang pada dasarnya
dibuat agar keamanan masyarakat umum terjamin. Prilaku struktur tersebut dinilai berdasarkan
pengukuran lendutan yang terjadi. Selain itu penampakan struktur pada saat retak-retak yang terjadi
selama pengujian masih dalam batas-batas yang wajar. Beberapa hal yang patut menjadi perhatian dalam
pelaksanaan loading test akan diberikan dalam uraian berikut ini.

Persiapan dan Tata Cara Pengujian. ACI-31889 mengisyaratkan bahwa uji pembebanan hanya
bisa dilakukan jika struktur beton berumur lebih dari 56 hari. Pemilihan bagian struktur yang akan diuji
dilakukan dengan mempertimbangkan :

Permasalahan yang ada

Tingkat keutamaan bagian struktur yang akan diuji.

Kemudahan pelaksanaan.

Bagian struktur yang akan memikul bagian struktur yang akan diuji dan beban ujinya juga harus
dipertimbangkan/dilihat apakah kondisinya baik dan kuat Selain itu "scaffolding" juga harus
dipersiapkan untuk mengantisipasi beban-beban yang timbul jika terjadi keruntuhan bagian struktur
yang diuji.

Beban pengujian harus direncanakan sedemikian rupa sehingga bagian struktur yang dimaksud benarbenar mendapatkan beban yang sesuai dengan yang direncanakan. Hal ini kadang kala sulit
direncanakan, terutama untuk pengujian struktur lantai. Hal ini dikarenakan adanya keterkaitan antara
bagian struktur yang diuji dengan bagian struktur lain yang ada disekitarnya. Sehingga Timbul apa yang
disebut pengaruh pembagian pembebanan ("Load sharing effect"). Pengaruh ini juga bisa ditimbulkan
oleh elemen-elemen nonstruktual yang menempel pada lagian struktur yang akan diuji, sebagai
contoh "ceiling board", Elemen non struktural ini dapat berfungsi mendistribusikan beban pada
komponen-komponen struktur dibawahnya yang sebenarnya tidak saling berhubungan.

Untuk menghindari terjadinya distribusi beban yang akan diinginkan maka bagian struktur yang akan
diuji sebaiknya
diisolasikan dari bagian struktur yang ada disekitarnya. ACI-318- 89 mengisyaratkan bahwa besamya
beban yang harus
diaplikasikan selama load test" (termasuk beban mati yang sudah ada pada struktur) adalah :

Beban total = 0,85 (1,4D + 1,7 L)


Dimana : D = beban mati
L = benda hidup (termasuk faktor reduksinya)

Beban mati harus diaplikasikan 48 jam sebelum "load test" dimulai. Sebelum beban diterapkan, terlebih
dahulu dilakukan pembacaan lendutan awal yang nantinya dijadikan sebagai acuan untuk pembacaan
lendutan setelah penerapan beban. Pembebanan harus dilakukan secara bertahap dan perlahan-lahan,
sehingga tidak menimbulkan beban kejutan pede struktur.
Setelah beban-beban yang direncanakan berada pada struktur yang diuji selama 24 jam, pembacaan
lendutan bisa dilakukan.

Setelah pembacaan beban bisa dilepaskan dari struktur. Dua puluh empat jam setelah itu pembacaan
lendutan dilakukan kembali. Kriteria umum yang harus dipenuhi dari hasil load test ini adalah struktur
tidak boleh memperlihatkan tanda-tanda keruntuhan seperti terbentuknya retak-retak yang berlebihan
atau menjadi lendutan yang melebihi persyaratan keamanan yang telah ditetapkan dalam peraturanperaturan bangunan. Sebagai contoh, ACI mensyaratkan bahwa untuk balok/lantai diatas tumpuan:

L2 maks < 20000 h


dimana, maks = lendutan maksimum yang terjadi, inch
L = Panjang bentang, inch
h = Tinggi penampang

Persyaratan lendutan diatas bisa dilanggar tapi dengan syarat lendutan yang terjadi setelah beban-beban
bekerja yang dilepaskan haruslah lebih kecil dari 25 % maks. Jika struktur gagal dalam "load test",
maka : Struktur tidak boleh digunakan sama sekali jika sudah terjadi tanda-tanda kerusakan struktural
yang fatal).

Struktur masih bisa digunakan, tapi dengan pembatasan beban-beban yang bekerja sehingga sesuai
dengan kekuatan struktur yang sebenarnya. Jadi disini fungsi struktur dikurangi

b. Teknik Pembebanan.
Pembebanan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga laju distribusi pembebanan dapat dikontrol
(gambar 1). Beban yang bisa digunakan diantaranya air, bata/batako, kantong semen/pasir, pemberat
baja dan lainlain. Pemilihan beban yang akan digunakan tergantung dengan distribusi pembebanan yang
diinginkan, besarnya total beban yang dibutuhkan, dan
kemudahan pemindahannya.

c. Pengukuran.
Parameter yang biasanya diukur dalam "load test" adalah lendutan, lebar retak. dan regangan. Gambar 2
memperlihatkan aplikasi beberapa jenis alat ukur dalam "load test". Lebar retak yang terjadi biasanya

diukur dengan mikroskop tangan yang dilengkapi dengan lampu dan mempunyai lensa yang diberi garisgaris berskala yang ketebalannya berbeda-beda (gambar 3).

Cara pengukuran adalah dengan membandingkan lebar retak yang terjadi, lewat peneropongan dengan
mikroskop dengan lebar garis-garis berskala tersebut. Pola retak-retak yang terjadi biasanya ditandai
dengan menggambarkan garis-garis yang mengikuti pola retak yang ada dengan menggunakan spidol
berwarna (diujung garis-garis tersebut dituliskan imformasi mengenai tingkat pembebanan dan lebar
retak yang sudah terjadi).

Gambar 1: Teknik Pembebanan


Gambar 2: Teknik Pengukuran
Gambar 3: Mikroskop untuk Pemeriksaan retak-retak pada beton

III. 3. 2. Uji Merusak

Uji merusak biasanya ditempuh jika pengujian ditempat (in-situ) tidak mungkin dilakukan atau jika
tujuan utama pengujian adalah mengetahui kapasitas suatu bagian struktur yang nantinya akan dijadikan
sebagai acuan dalam menilai bagian-bagian struktur lainnya yang identik dengan bagian yang diuji.
Pengujian jenis ini biasanya memakan waktu dan biaya yang
besar, terutama untuk pemindahan dan penggantian bagian struktur yang akan diuji dilaboratorium.
Namun, walaupun begitu hasil yang bisa diharapkan dari pengujian jenis ini tergolong sangat akurat dan
informatif. Mengenai teknik pelaksanaan dalam pengukuran untuk pengujian jenis ini sama dengan
teknik-teknik yang sudah diuraikan sebelumnya.

BAB - IV
PENUTUP

KESIMPULAN
1. Methode Hammer Test
1.

Pengujian jenis ini dilakukan pada pengujian-pengujian setempat dan bersifat tidak

merusak struktur. Dapat digunakan dengan mudah (praktis), pengukuran dapat dilakukan
dengan cepat dengan memperoleh data yang cukup banyak dan biaya murah.
2.

Beton yang diuji haruslah dari jenis dan kondisi yang sama karena hasil pengujian

dipengaruhi oleh kerataan permukaan, kelembaman beton, sifat dan jenis agregat kasar, drajad
kombinasi dan umur beton.
3.

Tingkat keandalan rendah, sulit mengkalibrasi hasil pengujian dan sifatnya hanya

memberikan informasi mengenai karakteristik teton pada permukaan

2. Metode Uji Pembebanan.

1.

Pengujian dilakukan apabila perhitungan analitis tidak mungkin dilakukan karena

keterbatasan informasi, kinerja struktur sudah menurun, tingkat keamanan yang rendah dan
perubahan fungsi struktur.
2.

Pengujian dapat berupa pengujian ditempat dan bagian-bagian struktur yang

penggunaannya tergantung pada situasi, kondisi dan tujuan dilakukannya pengujian yang
bersifat setengah merusak maupun merusak secara keseluruhan komponen-komponen struktur.

3.

Jika terjadi kerusakan yang fatal setelah dilakukan pengujian, struktur tidak boleh

digunakan sama sekali, kalaupun masih digunakan dengan pembatasan beban-beban yang
bekerja atau fungsi struktur dikurangi.