Anda di halaman 1dari 16

I.

NOMOR PERCOBAAN : VIII


II. JUDUL PERCOBAAN : Lipid
III.TUJUAN

Menguji kelarutan lemak dan minyak pada berbagai jenis pelarut

Menentukan bilangan penyabunan suatu lemak/minyak.

IV. DASAR TEORI

Lipid adalah nama suatu golongan senyawa organik yang meliputi sejumlah
senyawa yang terdapat di alam yang semuanya dapat larut dalam pelarut-pelarut organik
tetapi sukar larut atau tidak larut dalam air. Pelarut organik yang dimaksud adalah pelarut
organik nonpolar, seperti benzen, pentana, dietil ether dan karbon tetraklorida. Dengan
pelarut-pelarut tersebut lipid dapat diekstraksi dari sel dan jaringan tumbuhan ataupun
hewan (Chitika, 2013).
Lipid mengacu pada golongan senyawa hidrokarbon alifatik nonpolar dan
hidrofobik. Karena nonpolar, lipid tidak larut dalam pelarut polar seperti air tetapi larut
dalam pelarut nonpolar, seperti alkohol, ether atau kloroform. Fungsi biologis terpenting
lipid diantaranya untuk menyimpan energi, sebagai komponen struktural membran sel dan
sebagai pensinyalan molekul (Anonim, 2013).
Lipid merujuk pada sekelompok besar molekul-molekul alam yang terdiri atas
unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen meliputi asam lemak, malam, sterol, vitaminvitamin yang larut di dalam lemak, monogliserida, digliserida, fosfolipid, glikolipid,
terpenoid (termasuk di dalamnya getah dan steroid) dan lain-lain (Chitika, 2013).
Karena begitu besar peranannya sebagai senyawa organik yang terdapat dalam
tumbuhan, hewan atau manusia dan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia adalah
PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL

Page 1

lipid. Untuk memberikan defenisi yang jelas tentang lipid sangat sukar, sebab senyawa
yang termasuk lipid tidak mempunyai rumus struktur yang serupa atau mirip (Anonim,
2013).
Suatu lipid didefinisikan sebgai senyawa organik yang terdapat dalam alam serta tak
larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non polar sperti suatu hidrokarbon atau
dietil eter. Lemak dan minyak adalah trigliserida atau triasilgliserol, kedua istilah ini
berarti triester (dari) gliserol. Perbedaan antara suatu lemak dan minyak bersifat
sebarang: pada temperatur kamar lemak berbentuk padat dan minyak bersifat cair. Sebagian
besar gliserida pada hewan adalah berupa lemak, sedangkan gliserida dalam tumbuhan
cenderung berupa minyak.
Senyawa organik ini terdapat dalam semua sel dan berfungsi sebagai :
1. Penyimpan energi dan transpor
2. Struktur membran
3. Kulit pelindung, komponen dinding sel
4. Penyampai kimia
Beberapa senyawa lipida mempunyai aktivitas biologis yang sangat penting dalam
tubuh, diantaranya vitamin dan hormon. Ditinjau dari sudut nutrisi, lemak merupakan
sumber kalori penting disamping berperan sebagai pelarut berbagai vitamin.
a.

LipidTerhidrolisis

Lipid terhidrolisis merupakan ester dari gliserol dengan suatu asam lemak atau asam fosfat
yang mengikat etanolamin atau serin
b. Steroid
Steroid merupakan senyawa turunan (derivat) lipid yang tidak terhidrolisis. Senyawa yang
termasuk turunan steroid, misalnya kolesterol, ergosterol, dan estrogen. Pada umumnya
steroid berfungsi sebagai hormon. Steroid mempunyai struktur inti. Perbedaan jenis steroid
yang satu dengan steroid yang lain terletak pada rantai samping (cabang) yang diikatnya.
c.

Terpenoid

PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL

Page 2

Seperti halnya steroid, terpenoid juga merupakan derivat dari lipid. Senyawa ini umumnya
terdapat pada minyak atsiri, misalnya sitral (minyak sereh), geraniol (minyak mawar),
limonen (jeruk), dan juga sebagai vitamin A. Berikut ini beberapa contoh senyawa
terpena.
Secara Kimia, Lemak terbagi tiga , yaitu:
1. Lemak Sederhana
Lemak jenis ini bila dihidrolisis akan menghasilkan alkohol, biasanya berupa gliserol, serta
menghasilkan asam lemak. Contoh yang paling banak ditemukan adalah Triasilgliserol
yang disebut juga Trigliserida (TG), yang ditemukan antara lain dalam serum, dalam
minyak kelapa dan dalam berbagai minya lain yang berasal dari mahluk hidup. Yang
dimaksud dengan minyak adalah lemak yang dalam suhu ruang berada dalam bentuk cair ,
lemak yang dalam suhu ruang masih berbentuk padat disebut lemak saja. Biasanya minyak
berasal dari tumbuhan dan lemak dari hewan. Konsistensi cair atau padat pada suhu ruang
ini biasanya ditentukan dari jumlah atom C yang menyusun asam lemak dari TG. Makin
panjang atom C, biasanya makin padat. Dilain pihak, makin banyak ikatan rangkap,
konsistensi semakin cair. Lemak yang banyak mengandung ikatan rangkap ini disebut asam
lemak essensial, yang harus ada dalam makanan. Lemak tumbuhan berupa minyak karena
jumlah atom C-nya lebih pendek dan ikatan rangkapnya relatif lebih banyak.
2. Lemak Majemuk
Lemak jenis ini bila dihidrolisis akan menghasilkan alkohol, asam lemak dan senyawa
lain seperti fosfat, asam amino, basa organik, sepert kolin atau betain. Umumnya lemak
majemuk mengandung listrik atau paling tidak mempunyai pengkutuban muatan dalam
molekulnya, sehingga menjadi lebih mudah berinteraksi dengan air. Lemak Majemuk ini
ikut menyusun membran sel dan juga selubung sel dan serat syaraf.

3. Turunan Lemak
Yaitu berbagai senyawa yang diperoleh dari hidrolisis atau pemecahan kedua jenis
lemak terdahulu. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Gliserol dan berbagai alkohol
lain yang ikut menyusun lemak, asam lemak, dengan ikatan rangkap (ikatan tak jenuh) dan

PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL

Page 3

asam lemak tanpa ikatan rangkap (jenuh), kolesterol dan berbagai macam senyawa steroid
seperti hormon steroid (kortisol, prednison, estrogen, progesteron, testosteron, dan
aldosteron).
Meskipun bukan termasuk lemak, perlu juga diketahui bahwa vitamin-vitamin A, D, E dan
K sangat memerlukan lemak untuk dapat diserap dan digunakan tubuh. Karena vitaminvitamin ini tidak larut dalam air dan hanya larut dalam lemak atau pelarut lemak.
Lipida dapat dikelompokkan menurut sifat kimia dan sifat fisiknya. Bloor membagi
lipida sebagai berikut:
1. Lipida Sederhana
Kelompok ini disebut juga homolipida yaitu suatu bentuk ester yang mengandung
karbon, hydrogen, dan oksigen. Jika dihidrolisis, lipida yang termasuk ini hanya
menghasilkan asam lemak dan alcohol. Lipida sederhana ini dapat dibagi kedalam tiga
golongan, yaitu:
a. Lemak, ester asam lemak dan gliserol
b. Lilin, ester asam lemak
2. Lipida Majemuk
Kelompok ini berupa ester asam lemak dengan alcohol yang mengandung gugus
lain, contohnya fosfolipida, serebrosida (glikolipida), sulfolipida, amino, lipida, dan
lipoprotein.
3. Derivat Lipida
Derivat lipida merupakan hasil hidrolisis kelompok yang telah disebut terdahulu.
Termasuk ke dalam golongan ini ialah asam lemak, gliserol, steroid, alcohol, aldehida, dan
keton.
Banyak lipida yang mempunyai sifat fisik amfipatik. Istilah amfipatik yang semula
digunakan oleh Hartley pada tahun 1936, memberikan turunan hidrokarbon yang
mempunyai satu bagian (polar) bersimpati dengan suasana air dan satu bagian
hidrokarbon (hidrofobik) yang tidak bersimpati dengan suasana air.
Asam lemak jarang terdapat bebas di alam tetapi terdapat sebagai ester dalam
gabungan dengan fungsi alcohol. Kita dapat membuat beberapa penyamarataan mengenai
asam lemak, walaupun ada perkecualian seperti yang akan kita lihat.

PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL

Page 4

1. Asam lemak pada umumnya adalah asam monokarboksilat berantai lurus.


2. Asam lemak pada umumnya mempunyai jumlah atom karbon genap.
3. Asam lemak dapat dijenuhkan atau dapat mempunyai satu atau lebih ikatan rangkap
Berdasarkan ada tidaknya ikatan rangkap, asam lemak terbagi menjadi asam lemak
jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Hewan-hewan tingkat yang lebih tinggi dapat
mengadakan biosintesa asam-asam lemak jenuh dan yang mono tak jenuh dari sumbersumber lain seperti karbohidrat. Asam-asam linoleat dan linolenat dan asam-asam lemak
poli tak jenuh bertingkat lebih tinggi tidak dapat dihasilkan pada hewan bertingkat lebih
tinggi dan karena itu diistilahkan asam lemak essensial.
Garam asam lemak biasanya disebut sabun. Daya pembersih sabun bertumpu pada
sifat amfipatrik molekul sabun. Dengan ion Ca++ dan Mg++ sabun dapat membentuk
garam Ca atau Mg yang mengendap. Oleh karena itu, apabila dalam air terdapat ion-ion
tersebut atau yang disebut air sadah. Sabun mempunyai sifat dapat menurunkan tegangan
permukaan air. Hal ini tampak dari timbulnya busa apabila sabun dilarutkan dalam air dan
diaduk.Asam lemak tak jenuh mudah mengadakan reaksi pada ikatan rangkapnya. Dengan
gas hidrogen dan katalis Ni dapat terjadi reaksi hidrogenasi, yaitu pemecahan ikatan
rangkap menjadi ikatan tunggal. Proses hidrogenasi ini mempunyai arti penting karena
dapat mengubah asam lemak yang cair menjadi asam lemak padat. Ini adalah salah satu
proses pada pembuatan margarin dari minyak kepala sawit.
Lemak netral disebut juga asil gliserol atau gliserida. Lemak ini merupakan
komponen utama lemak simpanan pada sel-sel hewan dan tumbuhan, terutama pada
jaringan adipose vertebrata. Sifat-sifat fisik lemak netral mencerminkan susunan asam
lemak dari lemak. Sebagai dalil umum adalah titik lebur suatu asam lemak berkurang
dengan bertambahnya ketidakjenuhan dan berkurangnya bobot molekulernya.
Lemak hewan dan tumbuhan mempunyai susunan asam lemak yang terkandung
didalamnya diukur dengan bilangan iodium. Bilangan iodium adalah banyaknya gram
iodium yang dapat bereaksi dengan 100 gram asam lemak. Jadi, makin banyak ikatan
rangkap, makin besar bilangan iodium.
Dengan proses hidrolisis lemak akan terurai menjadi asam lemak gliserol. Proses ini
dapat berjalan dengan menggunakan asam, basa, atau enzim tertentu. Proses hidrolisis yang

PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL

Page 5

menggunakan basa menghasilkan gliserol dan garam asam lemak atau sabun. Oleh karena
itu, proses hidrolisis yang menggunakan basa disebut proses penyabunan.
Oksidasi asam lemak tidak jenuh akan menghasilkan peroksida dan selanjutnya akan
terbentuk aldehida. Inilah yang menyebabkan terjadinya bau dan rasa yang tak enak atau
tengik. Kelembapan udara, cahaya, suhu tinggi dan adanya bakteri perusak adalah factorfaktor yang menyebabkanterjadinya ketengikan lemak.
Lilin adalah ester dari asam lemak berantai panjang dengan alcohol monohidrat.
Terdapat sebagai pelidung kulit dan bulu, pelindung daun danbuah, atau sebagai sekresi
insekta. Lilin tak larut dalam air.
Fosfolipida adalah suatu gliserida yang mengandung fosfor dalam bentuk ester asam
fosfat. Fosfolipida banyak terdapat pada bakteri, jaringan tumbuhan dan hewan.
Fosfolipida yang disebut fosfatidil kolin biasanya didapat pada membran dan hanya
sedikit sekali fosfolipida ini terdapat pada lemak simpanan.
Sfingolipida merupakan lipida yang tak mengandung gliserol amfipatik, terutama
berlimpah dalam jaringan otak dan syaraf. Lipida ini diturunkan dari sfingosin.
Sfingolipida yang paling berlimpah adalah sfingomyelin yang terdapat dalam jaringan
otak dan saraf dan dalam bagian lipida darah.
Terpena dan steroid adalah lipida yang tak dapat disaponifikasikan yang berarti bahwa
hidrolisis alkali tak menghasilkan sabun. Struktur umum yang biasa bagi semua steroida
adalah kerangka siklompentano perhidro penantren. Steroid banyak terdapat di alam.
Diantaranya dalam jumlah yang terbatas tetapi mempunyai aktivitas biologis yang
penting yaitu asam empedu, hormon seks betina dan jantan, hormon korteks adreval dan
beberapa racun steroid yang terdapat dalam jumlah lebih banyak yakni golongan sterol.
Contohnya kolesterol, lanosterol, fitosterol, dan mikosterol.

PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL

Page 6

V. ALAT DAN BAHAN


a. Alat :
1. Pipet tetes
2. Gelas ukur
3. Beker gelas
4. Tabung reaksi
5. Rak tabung reaksi
6. Pengaduk
7. Penangas air

b. Bahan
1. Minyak goreng
2. Mentega
3. Larutan ikan
4. Susu
5. Bensin
6. Air
7. Eter
8. Alkohol 95%
9. NaOH

PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL

Page 7

VI. PROSEDUR PERCOBAAN


a. Pemeriksaan Kelarutan Lemak
1. Siapkan 5 buah tabung reaksi yang bersih dan kering
2. Tambahkan pada masing-masing tabung reaksi 1 ml minyak goreng
kemudian dicampurkan dengan bahan sebagai berikut :
Tabung 1 : ditambah 1 ml air
Tabung 2 : ditambah 1 ml bensin
Tabung 3 : ditambah 1 ml alkohol 95 %
Tabung 4 : ditambah 1 ml eter
Tabung 5 : ditambah 1 ml NaOH

3. Aduk-aduk sampai homogen, diamkan beberapa menit dan amati serta catat
perubahan yang terjadi
4. Ulangi percobaan diatas dengan memakai mentega sebagai sumber lipida
b. Reaksi Penyabunan dan sifat-sifat asam lemak
1. 5 gram minyak goring Dimasukkan kedalam beker gelas kemudian
ditambahkanNaOH 1 N sedikit demi sedikit sambil dipanaskan pada suhu
700C sebanyak 5x 0,142 g = 1,71 g (yang terdapatdalamsekitar 42 ml 1 N
NaOH).
2.

Pemanasan dilanjutkan sampai terbentuk sabun kedalam larutan sabun yang


telah terbentuk ditambahkan HCl 1N kemudian amatiapa yang terjadi

3. Kedalam campuran yang telah ditambahkan HCl ditambahakan alcohol 96%


dan amati apa yang terjadi.

PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL

Page 8

VII. HASIL PENGAMATAN


a. Pemeriksaan Kelarutan Lemak
Sample

Reagen
+ 1 ml H2O

Hasil Pengamatan
Larutan 2 fase, bagian atas minyak dan
bagian bawah air
Larutan larut namun bila dikocok akan

+ 1ml Bensin

Bila

didiamkan

kembali

terpisah dan terbentuk endapan

1 ml Minyak
Sayur

menyatu.

+ 1ml alkohol
96%
+ 1ml eter
+ 1 ml NaOH

Larutan 2 fase, bagian atas alkohol (tak


berwarna) dan bagian bawah minyak
(kuning).
Larutan 2 fase, tidak larut
Larutan larut
Larutan 2 fase, mentega

+ 1 ml H2O

di atas

mengendap (kuning) dan air dibawah (tak


berwarna)

+ 1ml Bensin

1 ml Mentega
Cair

+ 1ml Alkohol
96%

+ 1ml eter

Larutan berwarna kuning keruh.


Larutan 2 fase, bagian atas alkohol (tak
berwarna) dan bagian bawah mentega
(kuning).
Larutan

berwarna

kuning

keruh

menggumpal.
Larutan 2 fase, bagian atas mentega

+ 1ml NaOH

(kuning) dan bagian bawah NaOH (tak


berwarna)

1 ml larutan ikan

+ 1 ml H2O

Larutan larut keruh

+ 1ml Bensin

Larutan 2 fase, tidak larut

+ 1ml Alkohol
96%

PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL

Larutan larut

Page 9

+ 1ml eter
+ 1ml NaOH

1 ml susu

Larutan larut
Larutan terpisah dengan padatan

+ 1ml H2O

Larutan larut putih keruh

+ 1ml Bensin

Larutan 2 fase, tidak larut

+ 1ml Alkohol
96%

Larutan larut putih keruh

+ 1ml eter

Larutan 2 fase, tidak larut

+ 1ml NaOH

Laruan larut putih keruh

b. Reaksi Penyabunan dan Sifat-Sifat Asam Lemak


Mentega (kuning) + NaOH (bening)
Mentega + NaOH 1N dipanaskan
+ HCl 1N diamati + alkohol 96%

dipanaskan
berbentuk sabun + HCl + alkohol

larutan sabun berbusa, 2 fase


96%

Minyak goreng + NaOH 1N

Minyak goreng (kuning) + NaOH (bening)

dipanaskan + HCl 1N diamati +

dipanaskan
berbentuk sabun + HCl + alkohol

alkohol 96%

larutan sabun berbusa, 2 fase


96%

PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL

Page 10

VIII. Persamaan Reaksi :


a. Pemeriksaan Kelarutan Lemak

Dengan air

Dengan alkohol 96%

Dengan NaOH

R-COONa + H2O
R-COOH + NaOH
b. Hidrolisis Asam Lemak

c. Reaksi Penyabunan dan Sifat-Sifat Asam Lemak

PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL

Page 11

d. Mentega

PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL

Page 12

IX. PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini mengenai lipid yang bertujuan untuk Menguji kelarutan
lemak dan minyak pada berbagai jenis pelarut dan Menentukan bilangan penyabunan suatu
lemak/minyak dan sifat-sifat asam lemak. Dengan larutan yang diuji cobakan yaitu minyak
goreng, mentega dan larutan ikan serta susu.
Pada Uji Kelarutan ini, minyak goreng, larutan ikan dan mentega digunakan sebagai
bahan terlarut. Bahan pelarut digunakan Air, Alkohol, Eter, dan bensin serta NaOH. Uji
kelarutan diperoleh hasil bahwa ketiga sampel tidak larut dalam air, NaOH dan alkohol.
Namun semua sampel larut pada pelarut organik polar yaitu eter dan bensin. yang
menunjukkan bahwa lipid tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik polar. ciri
khusus dari zat atau senyawa lipid ialah tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarutpelarut lemak, yaitu cairan pelarut nonpolar, seperti khloroform, eter, aseton, dan
sebagainya. Pelarut seperti eter dan klorofom yang digunakan disebut juga sebagai pelarut
lemak.
Pada Uji Penyabunan untuk asam-asam lemak dilakukan dengan menambahkan 10
ml NaOH kedalam minyak yang hendak diuji, kemudian dipanaskan dengan penangas air.
Pada proses pemanasan ini minyak dapat larut dalam NaOH dan larutan berwarna kuning
muda. Lalu larutan ditambahkan alkohol dan HCl. Proses hidrolisis yang menggunakan
basa disebut proses penyabunan. Jumlah mol basa yang digunakan dalam proses
penyabunan ini tergantung pada jumlah mol asam lemak. Untuk lemak dengan berat
tertentu jumlah mol asam lemak tergantung pada panjang rantai karbon pada asam lemak
tersebut. Apabila rantai karbon itu pendek,maka jumlah mol asam lemak besar,sebaliknya
apabila rantai karbon itu panjang,jumlah mol asam lemak kecil. Jumlah miligram KOH
yang diperlukan untuk menyabunkan 1gram lemak disebut bilangan penyabunan. Jadi besar
atau kecilnya bilangan penyabunan ini tergantung pada panjang atau pendeknya rantai
karbon asam lemak atau dapat dikatakan juga bahwa besarnya bilangan penyabunan
tergantung pada berat molekul lemak tersebut. Makin kecil berat molekul lemak, makin
besar bilangan penyabunannya.
Pada proses saponifikasi trigliserida dengan suatu alkali, kedua reaktan tidak mudah
bercampur. Reaksi saponifikasi dapat mengkatalisis dengan sendirinya pada kondisi

PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL

Page 13

tertentu dimana pembentukan produk sabun mempengaruhi proses emulsi kedua reaktan
tadi, menyebabkan suatu percepatan pada kecepatan reaksi. Jumlah alkali yang dibutuhkan
untuk mengubah paduan trigliserida menjadi sabun.

PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL

Page 14

X. KESIMPULAN
1. lemak tidak larut dan tidak mengemulsi dalam air, tetapi larut dalam pelarut-pelarut
lemak yaitu cairan pelarut non polar seperti chloroform, eter, aseton dan sebagainya
2. pada reaksi penyabunan busa pada minyak goreng lebih banyak daripada busa pada
mentega
3. Bilangan penyabunan adalah Jumlah miligram KOH yang diperlukan untuk
menyabunkan 1 gram lemak. Besar kecilnya bilangan penyabunan tergantung pada
panjang pendeknya rantai karbon. Semakin pendek rantai karbon, semakin kecil
bilangan penyabunannya.

PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL

Page 15

DAFTAR PUSTAKA

Lehninger, Albert, 1992, Dasar-dasar Biokimia Jilid 1, Erlangga: Jakarta.


Fessenden dan Fessenden, 1999, Kimia Organik Edisi ketiga Jilid 2, Erlangga: Jakarta.
Pudjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta:Universitas Indonesia.
Sukaryawan, Made. 2011. Petunjuk Praktikum Biokimia. Universitas Sriwijaya:Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL

Page 16