Anda di halaman 1dari 2

Conceptual Framework for Auditing Standard

Perumusan teori komprehensif umum tentang auditing dilakukan oleh Mautz dan Sharaf pada
tahun 1961. Mautz dan Sharaf mencoba membuat landasan teori tentang disiplin pengauditan
berdasarkan prakteknya. Mereka memandang bahwa pengauditan bukan merupakan sub divisi dari
akuntansi sehingga kegiatan auditor tidak hanya terbatas pada verifikasi informasi akuntansi. Di samping
itu mereka mempertanyakan kesesuaian antara jasa pengauditan dan konsultasi serta menyarankan jasa
keduanya dipisahkan pelaksanaannya untuk melindungi independensi sang auditor. Selanjutnya teori
mereka dikembangkan oleh American Accounting Association pada tahun 1970-an.
Perdebatan mengenai teori pengauditan berlanjut pada tahun 1980-an yang berfokus pada
peran dari struktur dan kuantifikasi dalam pengumpulan bukti serta proses evaluasi. Semua perdebatan
ini berkontribusi pada perkembangan proses yang sangat terstruktur dan formal pada firm akuntansi.
Namun, menurut Knochel pada tahun 1990-an usaha untuk memformalisasi proses pengauditan ini
terganjal oleh kekuatan selain profesi auditing. Salah satu kekuatan lain tersebut adalah klien auditor itu
sendiri. Para klien menuntut agar auditor dapat mengurangi biaya pengauditan dan memberikan nilai
lebih terhadap klien. Knochel juga menyarankan untuk memberikan satu interpretasi yang
menghubungkan dua factor tersebut (formalisasi dan ganjalan) yaitu dengan melakukan perubahan
pada metode auditing tradisional secara bertahap. Dimulai dengan mengurangi penekanan pada direct
testing of transaction dan lebih menekankan pada pengujian system control klien. Hal ini termasuk
pengurangan durasi waktu pengauditan, pengurangan substantive test, dan pengurangan besaran
ukuran sampel yang diambil. Proses ini dikenal dengan business risk auditing.
Business risk auditing adalah bentuk pengauditan yang mempertimbangkan resiko klien sebagai
bagian dari proses pengumpulan bukti audit. Model resiko pengauditan membutuhkan auditor untuk
mempertimbangkan, antara lain :

Resiko opini audit yang tidak sesuai

Resiko bahwa system control klien tidak mendeteksi dan mencegah terjadinya errors

Resiko prosedur audit yang digunakan auditor tidak mendeteksi terjadinya errors

Business risk auditing menekankan bahwa resiko pengauditan dipengaruhi oleh kompleksitas
lingkungan bisnis dan resiko bisnis dari klien tersebut. Hal ini merubah kunci konseptual dari
mendahulukan untuk memikirkan errors pada perlakuan akuntansi menjadi memikirkan hubungan
kausal antara model bisnis klien dengan perlakuan operasi finansial mereka.
Persepsi mengenai resiko sendiri berubah secara drastic setelah diterbitkannya Internal Control
Integrated Framework oleh Committee of Sponsoring Organization (COSO) pada tahun 1992. Auditor
menjadi lebih memperhatikan hubungan antara internal control dengan pelaksanaan pengauditan. Klien
yang memiliki internal control lebih baik maka dilihat memiliki resiko fraud dan errors lebih kecil. Hal ini
memberikan kesempatan auditor untuk mengurangi sumber daya dan biaya untuk proses pengauditan.
Disamping itu internal control membuka peluang auditor untuk menyediakan jasa konsultasi.
Pengembangan business risk model utamanya dilakukan oleh firma akuntansi besar, seperti
KPMG yang memunculkan metodologi pengauditan baru yang disebut Strategic System Audit pada
periode 1997 2006. Namun beberapa bukti mendapati bahwa para auditor enggan melakukannya
karena mereka menganggap hal ini tidak berpengaruh banyak terhadap peningkatan efisiensi
penghasilan. Para pengkritik menyebutkan bahwa business risk auditing bukan merupakan hal
revolusioner karena auditor besar telah focus terhadap resiko bisnis sejak lama namun hal itu tidak
dituliskan secara formal sampai dengan tahun 1990-an. Disamping itu mereka juga mengkritik bahwa
model ini dikembangkan untuk meningkatkan penjualan terhadap jasa konsultasi yang pada salah satu
kasus menyebabkan terjadinya skandal akuntansi besar seperti Enron dengan auditor Arthur Anderson.
Setelah terjadinya kasus tersebut diterbitkanlah Sarbanes-Oxley Act (2002) di Amerika Serikat yang salah
satu isinya melarang auditor untuk menyediakan jasa konsultasi. Knochel berpendapat bahwa pada
pengauditan internal control klien masih disediakan bagi auditor untuk mempertimbangkan resiko
dalam lingkungan dan proses bisnis klien sebagai bagian dari pengauditan laporan keuangan.