Anda di halaman 1dari 6

Akuntansi Kreatif (Creative Accounting)

AKUNTANSI KREATIF (CREATIVE ACCOUNTING)

Pengertian Akuntansi Kreatif


Akuntansi kreatif (creative accounting) biasanya dikenal juga dengan sebutan akuntansi
agresif (aggresive accounting). Akuntasi kreatif (creative accounting) adalah suatu kegiatan
memanipulasi angka-angka dalam laporan keuangan untuk menghasilkan suatu laporan
keuangan yang diinginkan, untuk suatu keperluan tertentu. Akuntansi kreatif termasuk juga
penjualan aset dengan dasar biaya rendah (low cost basis), pengiriman produk dalam jumlah
yang luar biasa besar ketika mendekati akhir tahun, dan kegagalan menuliskan persediaan yang
telah mengalami penurunan nilai. Menurut Bake Amat dan Dowd, akuntansi kreatif (creative
accounting) merupakan suatu proses dimana beberapa pihak menggunakan kemampuan
pemahaman pengetahuan akuntansi (termasuk di dalamnya standar, teknik, dll) dan
menggunakannya untuk memanipulasi pelaporan keuangan (Amat, Blake dan Dowd, 1999).
Sehingga arti dari creative accounting yaitu akar dari sejumlah skandal akuntansi, dan
banyak usulan untuk reformasi akuntansi - biasanya berpusat pada analisis diperbarui modal dan
faktor produksi yang benar akan mencerminkan bagaimana nilai tambah. Akuntansi kreatif dan
manajemen laba merupakan eufemisme mengacu pada praktik akuntansi yang mungkin
mengikuti surat aturan praktik akuntansi standar, tapi jelas menyimpang dari semangat peraturan
tersebut.

HERDAWATI
A311 11 022

Akuntansi Kreatif (Creative Accounting)


Tujuan Akuntansi Kreatif
Tujuan-tujuan seseorang melakukan creative accounting bermacam-macam, di antaranya
adalah untuk pelarian pajak, menipu bank demi mendapatkan pinjaman baru, atau
mempertahankan pinjaman yang sudah diberikan oleh bank dengan syarat-syarat tertentu,
mencapai target yang ditentukan oleh analisis pasar, atau mengecoh pemegang saham untuk
menciptakan kesan bahwa manajemen berhasil mencapai hasil yang cemerlang. Motivasi
materialisme

merupakan

suatu

dorongan

besar

manajemen

dan

akuntan-akuntan

melakukan creative accounting. Adapun klasifikasi tindakan yang meliputi kecurangan laporan
keuangan adalah sebagai berikut :
1. Sengaja distorsi laporan keuangan sebagai alat untuk bertindak curang dengan mengecoh
pemakai atau kelompoknya tentang hasil usaha perusahaan.Dalam hal ini yang menerima
keuntungan langsung adalah pihak perusahaan atau pelaku kecurangan. Adapun tujuan khusus
dari tindakan ini adalah :
a. Mendapatkan kredit, modal jangka panjang, atau tambahan modal investasi berdasarkan
informasi keuangan yang didistorsi atau dihapus
b. Menyembunyikan kinerja tidak baik dari perusahaan.
c. Menghapus hutang pajak
d. Manipulasi harga saham.
e. Menyembunyikan kinerja tidak baik oleh manajemen.
2. Sengaja distorsi laporan keuangan untuk penyamaran tindakan kecurangan.dalam hal ini yang
diuntungkan tetap pihak perusahaan atau pelaku kecurangan. Adapun tujuan khusus dari
tindakan ini adalah:
a. Menyembunyikan penjualan fiktif atau harta milik dipalsukan.
HERDAWATI
A311 11 022

Akuntansi Kreatif (Creative Accounting)


b. Menyembunyikan pembayaran yang tidak benar.
c. Menyembunyikan tindakan penyelewangan dana atau harta.
Unsur-Unsur Akuntansi Kreatif
Menurut Charles W. Mulford & Eugene E. Comiskey membagi Creative Accounting
menjadi beberapa unsur, yaitu : Recognizing Premature or Fictitious Revenue, yakni mengakui
penghasilan prematur atau penghasilan fiktif itu berbeda jika ditinjau dari sudut aggressive
accounting.Untuk premature revenue, pengakuannya sudah sesuai dengan GAAP. Sementara itu,
untuk fictitious revenue , penghasilan dicatat tanpa adanya penjualan yang terjadi.
Bentuk dari prematur revenue bisa berupa pengakuan penjualan dilakukan pada saat
barang sudah dipesan, tapi belum dikirim (goods ordered, but not shipped) atau barang sudah
dikirim, tapi belum dipesan (goods shipped, but not ordered). Sementara itu, contoh penjualan
fiktif adalah backdated invoice, tanggal pengiriman yang diubah, atau sengaja salah mencatat
penjualan. Cara mendeteksi penjualan prematur atau fiktif yaitu:
a. Pahami kebijakan pengakuan pendapatan, termasuk perubahannya
b. Cermati piutang usaha
c. Cermati akun-akun yang mungkin digunakan untuk meng-offset penjualan
prematur atau fiktif
d. Review transaksi hubungan istimewa
e. Perhatikan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan pendapatan sesuai
laporan

HERDAWATI
A311 11 022

Akuntansi Kreatif (Creative Accounting)


Penyebab Dan Pola Akuntansi Kreatif
Stolowy dan Breton [2000] menyebut creative accounting merupakan bagian dari
accounting manipulation yang terdiri dari earning management , income smoothing dan
creative accounting itu sendiri. Dalam pemahaman mengenai creative accounting ini bukan
berarti akuntan yang memanfaatkan pemahaman akuntansi tersebut, tetapi pihak-pihak yang
mempunyai kepentingan dan kekuatan untuk menggunakan creative accounting tersebut,
seperti manajer, akuntan, pemerintah, asosiasi industri dan sebagainya. Hal yang menyebabkan
terjadinya creative accounting adalah karena adanya kebijakan dari perusahaan yang
menyebabkan banyak pihak manjemen yang melakukan manipulasi data untuk mendapatkan
keuntungan yang lebih khususnya manajer perusahaan. Manajer dalam bereaksi terhadap
pelaporan keuangan menurut Watt dan Zimmerman [1986] digolongkan menjadi tiga buah
hipotesis, yaitu
1. Bonus plan hyphotesis
Healy [1985] dalam Scott [1997] menyatakan bahwa manajer seringkali berperilaku
seiring dengan bonus yang akan diberikan. Jika bonus yang diberikan tergantung pada laba
yang akan dihasilkan, maka manajer akan melakukan creative accounting dengan menaikkan
laba atau mengurangi laba yang akan dilaporkan. Pemilik biasanya menetapkan batas bawah
laba yang paling minim agar mendapatkan bonus. Dari pola bonus ini manajer akan
menaikkan labanya hingga ke atas batas minimal tadi.
2. Debt-covenant hyphotesis
Penelitian dalam bidang teori akuntansi positif juga menjelaskan praktek akuntansi
mengenai bagaimana manajer menyikapi perjanjian hutang. Manajer dalam menyikapi adanya
pelanggaran atas perjanjian hutang yang telah jatuh tempo, akan berupaya menghindarinya
HERDAWATI
A311 11 022

Akuntansi Kreatif (Creative Accounting)


dengan memilih kebijakan-kebijakan akuntansi yang menguntungkan dirinya. Fields, Lys dan
Vincent [2001] mengemukakan ada dua kejadian dalam pemilihan kebijakan akuntansi, yaitu
pada saat diadakannya perjanjian hutang dan pada saat jatuh temponya hutang. Kontrak hutang
jangka panjang (debt covenant) merupakan perjanjian untuk melindungi pemberi pinjaman dari
tindakan-tindakan manajer terhadap kepentingan kreditur, seperti pembagian deviden yang
berlebihan, atau membiarkan ekuitas berada di bawah tingkat yang telah ditentukan.
3. Political-cost hyphotesis.
Dalam pandangan teori agensi (agency theory), perusahaan besar akan mengungkapkan
informasi lebih banyak daripada perusahaan kecil. Perusahaan besar melakukannya sebagai
upaya untuk mengurangi biaya keagenan tersebut.Perusahaan besar menghadapi biaya politis
yang lebih besar karena merupakan entitas yang banyak disorot oleh publik secara umum.Para
karyawan berkepentingan melihat kenaikan laba sebagai acuan untuk meningkatkan
kesejahteraannya melalui kenaikan gaji. Pemerintah melihat kenaikan laba perusahaan sebagai
obyek pajak yang akan ditagihkan.
Cara Mendeteksi Dan Mencegah Kecurangan Akuntansi Dalam Praktik Creative
Accounting
Creative accounting memiliki dampak yang kurang baik untuk penusahaan baik itu
pemilik perusahaan tersebut maupun investor yang ingin menanamkan modalnya ke perusahaan
tersebut. Ada beberapa metode dan carayang bisa untuk mengetahui adanya creative accounting
dan cara mencegahnya. Fraudulent financial reporting di suatu perusahaan merupakan hal yang
akan berpengaruh besar terhadap semua pihak yang mendasarkan keputusannya atas informasi
dalam laporan keuangan (financial statement) tersebut. Oleh karena itu akuntan publik harus
bisa menccegah dan mendeteksi lebih dini agar tidak terjadi fraud. Untuk mengetahui adanya
HERDAWATI
A311 11 022

Akuntansi Kreatif (Creative Accounting)


fraud, biasanya ditunjukkan oleh timbulnya gejala-gejala (symptoms) berupa red flag (fraud
indicators), misalnya perilaku tidak etis manajemen.Red flag ini biasanya selalu muncul di
setiap kasus kecurangan (fraud) yang terjadi. Hasil penelitian Wilopo (2006) membuktikan serta
mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa perilaku tidak etis manajemen dan kecenderungan
kecurangan akuntansi dapat diturunkan dengan meningkatkan kefektifan pengendalian internal,
ketaatan aturan akuntansi, moralitas manajemen, serta menghilangkan asimetri informasi. Hasil
penelitian Wilopo tersebut juga menunjukkan bahwa dalam upaya menghilangkan perilaku
tidak etis manajemen dan kecenderungan kecurangan akuntansi memerlukan usaha yang
menyeluruh, tidak secara partial. Menurut Wilopo, upaya menghilangkan perilaku tidak etis
manajemen dan kecenderungan kecurangan akuntansi, antara lain :
a. Mengefektifkan pengendalian internal, termasuk penegakan hukum.
b. Perbaikan sistem pengawasan dan pengendalian.
c. Pelaksanaan good governance.
d. Memperbaiki moral dari pengelola perusahaan, yang diwujudkan dengan
mengembangkan sikap komitmen terhadap perusahaan, negara dan masyarakat.

HERDAWATI
A311 11 022