Anda di halaman 1dari 10

Sejarah Pemilu 1955

Pemilu 1955 diselenggarakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1953


dan merujuk pada sistem parlementer UUDS 1950. Pada pelaksanaan pemilu tahun
1955, Angkatan bersenjata dan Polri juga ikut memilih. Dimana mereka digilir untuk
memilih di daerah-daerah yang rawan sehingga pemilu pada waktu itu berjalan relative
aman. Pemilu dipersiapkan di bawah pemerintahan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo.
Namun, Ali Sastroamidjojo mengundurkan diri dan pada saat pemungutan suara, kepala
pemerintahan telah dipegang oleh Perdana Menteri Burhanuddin Harahap.

Pada masa sesudah kemerdekaan, Indonesia menganut sistem multi partai yang
ditandai
dengan hadirnya 25 partai politik. Hal ini ditandai dengan Maklumat Wakil
Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945 dan Maklumat Pemerintah tanggal 3
November 1945. Isi dari maklumat tersebut adalah himbauan untuk melaksanakan
pemilu.

. Adapun bunyi Maklumat Pemerintah 3 November 1945 adalah sebagai berikut:


1. Pemerintah menyukai timbulnya partai-partai politik, karena dengan adanya partai-partai
itulah dapat dipimpin ke jalan yang teratur segala aliran paham yang ada dalam masyarakat.
2. Pemerintah berharap supaya partai-partai itu telah tersusun sebelum dilangsungkan pemilihan
anggota Badan-badan Perwakilan Rakyat. Pemilihan ini diharapkan dapat dilakukan pada
bulan Januari 1946.
Tidak terlaksananya pemilu pertama pada bulan Januari 1946 seperti yang
diamanatkan oleh Maklumat 3 Nopember 1945, paling tidak disebabkan 2 (dua) hal :
1. Belum siapnya pemerintah baru, termasuk dalam penyusunan perangkat UU Pemilu
2. Belum stabilnya kondisi keamanan negara akibat konflik internal antar kekuatan politik yang
ada pada waktu itu, apalagi pada saat yang sama gangguan dari luar juga masih mengancam.
Dengan kata lain para pemimpin lebih disibukkan oleh urusan konsolidasi. Namun, tidaklah
berarti bahwa selama masa konsolidasi kekuatan bangsa dan perjuangan mengusir penjajah
itu, pemerintah kemudian tidak berniat untuk menyelenggarakan pemilu. Ada indikasi kuat
bahwa pemerintah punya keinginan politik untuk menyelenggarakan pemilu.
A. Latar belakang diselenggarakannya pemilu tahun 1955 adalah :

a.
b.

a.
b.
c.
d.
e.

a. Revolusi fisik / Perang kemerdekaan, menuntut semua potensi bangsa untuk memfokuskan
diri pada usaha mempertahankan kemerdekaan. Tanda gambar peserta pemilu tahun 1955.
b. Pertikaian internal, baik dalam lembaga politik maupun pemerintahan cukup
mengurasenergi dan perhatian.
c. Belum adanya UU Pemilu yang mengatur tentang pelaksanaan pemilu ( UU Pemilu baru
disyahkan tanggal 4 April 1953 yang dirancang dan disyahkan oleh kabinet Wilopo).
Sekalipun masa kampanye dilakukan pada masa kabinet Ali, namun pemilu baru dapat
dilaksanakan oleh kabinet Burhanuddin Harahap.
Pemilu 1955 bertujuan untuk memilih anggota-anggota DPR dan Konstituante.
Jumlah kursi DPR yang diperebutkan berjumlah 260, sedangkan kursi Konstituante
berjumlah 520 (dua kali lipat kursi DPR) ditambah 14 wakil golongan minoritas yang
diangkat pemerintah.Sesuai tujuannya, Pemilu 1955 ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu:
Tahap pertama adalah Pemilu untuk memilih anggota DPR. Tahap ini diselenggarakan pada
tanggal 29 September 1955, dan diikuti oleh 29 partai politik dan individu,
Tahap kedua adalah Pemilu untuk memilih anggota Konstituante. Tahap ini diselenggarakan
pada tanggal 15 Desember 1955.
Selain pemilihan DPR dan Konstituante, juga diadakan pemilihan DPRD. Pemilu
DPRD dilaksanakan dalam dua tahap, Juni 1957 pemilu untuk Indonesia wilayah Barat, dan
Juli 1957 untuk pemilu Indonesia wilayah Timur. Dengan dipisahnya waktu penyelenggaraan
pemilu DPR, Konstituante, dan DPRD, pemilu menjadi fokus. Konstituen pemilih bisa
dengan cermat menyimak materi kampanye dan lebih bisa menilai kualitas calon yang
diusung oleh partai peserta pemilu. Artinya konstituen pemilih memiliki pertimbangan yang
lebih rasional sebelum memilih, tidak sekedar memilih hanya karena kedekatan emosional.
Pemilu diselenggarakan secara sederhana karenanya tidak menyerap biaya negara terlalu
besar. Pemilu tahun 1955 memperkenalkan asas jujur dan kebersamaan, langsung, umum,
bebas, dan rahasia. Pemilu tahun 1955 menggunakan sistem proporsional yang mendorong
multi partai. Pada pelaksanaannya, pemilu ini diikuti oleh lebih 30 partai politik dan lebih
dari seratus daftar kumpulan dan calon perorangan.
Pemilu 1955 dilaksanakan dengan asas :
Jujur, artinya bahwa pemilihan umum harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan per-undangan
yang berlaku
Umum, artinya semua warga negara yang telah memenuhi persyaratan minimal dalam usia,
mempunyai hak memilih dan dipilih.
Berkesamaan, artinya bahwa semua warga negara yang telah mempunyai hak pilih mempunyai
hak suara yang sama, yaitu masing-masing satu suara.
Rahasia, artinya bahwa pemilih dalam memberikan suara dijamin tidak akan diketahui oleh
siapapun dan dengan cara apapun mengenai siapa yang dipilihnya.
Bebas, artinya bahwa setiap pemilih bebas menentukan pilihannya menurut hati nura-ninya,
tanpa ada pengaruh, tekanan, paksaan dari siapapun dan dengan cara apapun.

f.

Langsung, artinya bahwa pemilih langsung memberikan suaranya menurut hati nura-ninya, tanpa
perantara, dan tanpa tingkatan.
Kampanye Pemilu Tahun 1955
Pemilu tahun 1955 tidak menjamin kelanjutan sistem demokrasi parlementer.
Sistem itu malah dihapuskan hanya beberapa tahun sesudahnya. Hal tersebut memang
besar ironi. Kampanye pemilu yang sangat sengit itu dan berlangsung lama sekali yang
memperuncing konflik sosial di banyak daerah. Ketiadaan konsensus politik yang
mencolok pada masa kamanye itu menjadi jelas lagi pada masa pasca pemilu, yaitu pada
masa kabinet Ali Sastroamidjojo kedua (Maret 1956-Maret 1957). Dari empat partai
yang keluar sebagai pemenang dalam pemilu 1955, PNI, Masyumi, NU dan PKI,
semuanya, kecuali PKI, diwakili dalam kabinet Ali itu. Tetapi, konflik PNI dan Masyumi
berjalan terus di dalam kabinet itu, sehingga kabinet dilihat lemah dan kurang tegas.
Hal itu menyuburkan lahan bagi beberapa aktor politik yang dari dulu merasa diri
dikesampingkan oleh sistem demokrasi parlementer. Yang paling nyata Presiden
Soekarno dan pimpinan tentara.

Lembaga, Hasil, Jumlah Suara, Alokasi Suara dan Daerah Pemilihan Pada Pemilu Tahun
1955
Pada November tahun 1952, Kabinet Wilopo mengajukan rancangan undangundang pemilihan umum baru. Sistem perwakilan proporsional diajukan kepada parlemen
dan disetujui secara aklamasi. Undang-undang tersebut membagi Indonesia ke dalam 16
daerah pemilihan. Pendaftaran pemilih mulai dilaksanakan pada Mei 1954 dan baru
selesai pada November. Ada 43.104.464 pemilih yang memenuhi syarat masuk bilik
suara. Pada pemilu pertama tahun 1955, Indonesia menggunakan sistem proporsional
yang tidak murni. Proposionalitas penduduk dengan kuota 1; 300.000.
Tidak kurang dari 80 partai politik, organisasi massa, dan puluhan perorangan
ikut serta mencalonkan diri dalam pemilu yang pertama ini. Pada pemilu ini, anggota

TNI-APRI, juga menggunakan hak pilihnya berdasarkan peraturan yang berlaku ketika
itu.
Pada pelaksanaan pemilu pertama, Indonesia dibagi menjadi 16 daerah pemilihan
yang meliputi 208 daerah kabupaten, 2.139 kecamatan, dan 43.429 desa. Dengan
perbandingan setiap 300.000 penduduk diwakili seorang wakil. Pemilu pertama ini diikuti
oleh banyak partai politik karena pada saat itu NKRI menganut kabinet multi partai
sehingga DPR hasil pemilu terbagi ke dalam beberapa fraksi.
Jumlah anggota DPR hasil pemilu pertama (1955) adalah 272 orang dan dilantik
pada tanggal 20 Maret 1956. Dari jumlah tersebut 60 anggota merupakan Fraksi
Masyumi, 58 anggota Fraksi PNI, 47 anggota Fraksi NU, 32 anggota Fraksi PKI, 11
anggota Fraksi Nasional Progresif, yaitu gabungan partai/organisasi: Baperki, Permai,
Acoma, Murba, PRN, Gerindo, PIR. Wongsonegoro, dan anggota perorangan R.
Soedjono Prawirosoedardjo, 11 anggota Fraksi Pendukung Proklamasi yang terdiri dari
wakil-wakil partai/organisasi: IPKI, Partai Buruh, PRI, dan PRD, 9 anggota Fraksi
PARKINDO, 8 anggota Fraksi PSII, 8 anggota Fraksi katolik yang bergabung dengan
wakil Persatuan Daya, 5 wakil PSI, 4 wakil PERTI, 1 wakil PIR. Hazairin, 11 wakil
Nasional Progresif (merupakan gabungan dari partai/organisasi: Baperki, Acoma,
Murba, PRN, Grinda, PIR. Wongso, dan anggota perorangan R. Soedjono
Prawirosoedardjo), 11 wakil Pendukung Proklamasi (gabungan dari partai/organisasi
IPKI, Partai Buruh, PRIM, PRI, dan PRD), 7 wakil Pembangunan, 2 wakil Gerakan
Pembela Pancasila, 2 wakil P3RI, 1 wakil perorangan AKUI, 1 wakil perorangan PPTI, 5
wakil golongan/perwakilan/tak berpartai dan lain-lain (Budiardjo, 1985:194). Sedangkan
anggota konstituante berjumlah 542 orang dan dilantik secara resmi pada tanggal 10
November 1956. Dalam prakteknya konstituante dan DPR hasil pemilu pertama tidak
dapat menjalankan tugas dan fungsinya dikarenakan fraksi-fraksi yang ada, lebih
banyak mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan bangsa dan negara..
Menurut George McTurnan Kahin, pemilu tahun 1955 tersebut begitu penting
sebab dengan itu kekuatan partai-partai politik terukur lebih cermat dan parlemen yang
dihasilkan lebih bermutu sebagai lembaga perwakilan. Sebelum pemilu, parlemen selalu
menjadi sasaran kekecewaan, terutama dari kelompok militer yang merasa
kepentingannya selalu dicampuri. Selain itu, masyarakat luas juga memiliki harapan akan
suksesnya pemilu karena kabinet berulang-kali jatuh-bangun; wewenang pemerintah
yang selalu mendapat rintangan dari tentara; korupsi; nepotisme dan pemerintah yang
terkesan lumpuh di dalam menghadapi berbagai persoalan. Karena belum ada lembaga
penyelenggara pemilihan umum yang mapan, pengorganisasian pemungutan suara menjadi
tanggungjawab pemerintah dan wakil-wakil partai politik. Organisasi itu terdapat pada
setiap jenjang pemerintahan, mulai dari pusat sampai ke tingkat desa. Partai-partai
berjuang untuk merebut simpati rakyat dengan berbagai jalan, salah satunya
mengembangkan cara kampanye simpatik dengan mengunjungi rumah penduduk satu per
satu. Penggalangan massa ini dinilai efektif untuk meyakinkan calon pemilih yang masih
ragu-ragu untuk menentukan pilihannya.
Penyelenggaraan Pemilu tahun 1955 menelan biaya Rp 479.891.729. Angka itu
dikeluarkan untuk membiayai perlengkapan teknis pemilihan seperti pembuatan kotak
suara dan honorarium panitia penyelenggara Pemilu. Menurut Herbert Feith dana Pemilu

itu sebenarnya terlampau mahal. Salah satu faktor yang mendongkrak kenaikan biaya
adalah kelambanan unit-unit kerja panitia Pemilu yang pada akhirnya menambah beban
biaya.

Dasar Hukum Pemilu Indonesia


Landasan hukum Pemilu 1955 adalah Undang-Undang Nomor 7 tahun 1953 yang
diundangkan 4 April 1953. Dalam UU tersebut, Pemilu 1955 bertujuan memilih anggota
bikameral: Anggota DPR dan Konstituante (seperti MPR). Sistem yang digunakan adalah
proporsional. Menurut UU nomor 7 tahun 1953 tersebut, terdapat perbedaan sistem bilangan
pembagi pemilih (BPP) untuk anggota konstituante dan anggota parlemen.
Pemilu 1971 diadakan tanggal 3 Juli 1971. Pemilu ini dilakukan berdasarkan Undangundang Nomor 15 Tahun 1969 tentang Pemilu dan Undang-undang Nomor 16
tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD.
Dasar hukum Pemilu 1977 adalah Undang-undang No. 4 Tahun 1975. Pemilu ini
diadakan setelah fusi partai politik dilakukan pada tahun 1973. Sistem yang digunakan pada
pemilu 1977 serupa dengan pada pemilu 1971 yaitu sistem proporsional dengan daftar
tertutup.
Pemilu 1982 diadakan tanggal 4 Mei 1982. Tujuannya sama seperti Pemilu 1977 di mana
hendak memilih anggota DPR (parlemen). Hanya saja, komposisinya sedikit berbeda.
Sebanyak 364 anggota dipilih langsung oleh rakyat, sementara 96 orang diangkat oleh
presiden. Pemilu ini dilakukan berdasarkan Undang-undang No. 2 tahun 1980.
Pada pemilu 2004, mekanisme pengaturan pemilihan anggota parlemen ini ada di
dalam Undang-undang Nomor 12 tahun 2003. Untuk kursi DPR, dijatahkan 550 kursi.
Daerah pemilihan anggota DPR adalah provinsi atau bagian-bagian provinsi.
Pemilu 2009 dilaksanakan menurut Undang-undang Nomor 10 tahun 2008. Jumlah
kursi DPR ditetapkan sebesar 560 di mana daerah dapil anggota DPR adalah provinsi atau
bagian provinsi. Jumlah kursi di tiap dapil yang diperebutkan minimal tiga dan maksimal
sepuluh kursi. Ketentuan ini berbeda dengan Pemilu 2004.
Gambar tentang gunting syafruddin :

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB MEMBURUKNYA KEADAAN EKONOMI DAN


KEUANGAN DIINDONESIA PADA AWAL KEMERDEKAAN
Pada akhir pendudukan Jepang dan pada awal berdirinya Republik Indonesia keadaan
ekonomi Indonesia sangat kacau. Hal ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
1. Inflasi yang sangat tinggi (Hiper-Inflasi).
Penyebab terjadinya inflasi ini adalah beredarnya mata uang pendudukan Jepang secara
tak terkendali. Pada saat itu diperkirakan mata uang Jepang yang beredar di masyarakat
sebesar 4 milyar. Dari jumlah tersebut, yang beredar di Jawa saja, diperkirakan sebesar

1,6 milyar. Jumlah itu kemudian bertambah ketika pasukan Sekutu berhasil menduduki
beberapa kota besar di Indonesia dan meguasai bank-bank. Dari bank-bank itu Sekutu
mengedarkan uang cadangan sebesar 2,3 milyar untuk keperluan operasi mereka.
Kelompok masyarakat yang paling menderita akibat inflasi ini adalah petani. Hal itu
disebabkan pada zaman pendudukan Jepang petani adalah produsen yang paling banyak
menyimpan mata-uang Jepang.
Pemerintah Republik Indonesia yang baru berdiri, tidak dapat menghentikan peredaran
mata uang Jepang tersebut, sebab negara RI belum memiliki mata-uang baru sebagai
penggantinya. Maka dari itu, untuk sementara waktu pemerintah RI menyatakan tiga
mata uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu :
a. mata-uang De Javasche Bank;
b. mata-uang pemerintah Hindia Belanda;
c. mata-uang pendudukan Jepang.
Pada saat kesulitan ekonomi menghimpit bangsa Indonesia, tanggal 6 Maret 1946,
Panglima AFNEI yang baru, Letnan Jenderal Sir Montagu Stopford mengumumkan
berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang diduduki Sekutu. Uang NICA ini
dimaksudkan sebagai pengganti uang Jepang yang nilainya sudah sangat turun.
Pemerintah melalui Perdana Menteri Syahrir memproses tindakan tersebut. Karena
hal itu berarti pihak Sekutu telah melanggar persetujuan yang telah disepakati, yakni
selama belum ada penyelesaian politik mengenai status Indonesia, tidak akan ada mata
uang baru.
Oleh karena itulah pada bulan Oktober 1946 Pemerintah RI, juga melakukan hal yang
sama yaitu mengeluarkan uang kertas baru yaitu Oeang Republik Indonesia (ORI)
sebagai pengganti uang Jepang. Untuk melaksanakan koordinasi dalam pengurusan
bidang ekonomi dan keuangan, pemerintah membentuk Bank Negara Indonesia pada
tanggal 1 November 1946. Bank Negara ini semula adalah Yayasan Pusat Bank yang
didirikan pada bulan Juli 1946 dan dipimpin oleh Margono Djojohadikusumo. Bank
negara ini bertugas mengatur nilai tukar ORI dengan valuta asing.
2. Adanya blokade ekonomi, oleh Belanda (NICA). Blokade laut ini dimulai pada
bulan November 1945 ini, menutup pintu keluar-masuk perdagangan RI. Adapun alasan
pemerintah Belanda melakukan blokade ini adalah :
a. Untuk mencegah dimasukkannya senjata dan peralatan militer ke Indonesia;
b. Mencegah dikeluarkannya hasil-hasil perkebunan milik Belanda dan milik asing
lainnya;
c. Melindungi bangsa Indonesia dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang
bukan Indonesia.
Akibat dari blokade ini barang-barang dagangan milik pemerintah RI tidak dapat
diekspor, sehingga banyak barang-barang ekspor yang dibumihanguskan. Selain itu
Indonesia menjadi kekurangan barang-barang impor yang sangat dibutuhkan.
3. Kas negara kosong, pajak dan bea masuk sangat berkurang, sehingga pendapatan
pemeritah semakin tidak sebanding dengan pengeluarannya. Penghasilan pemerintah
hanya bergantung kepada produksi pertanian. Karena dukungan petani inilah pemerintah
RI masih bertahan, sekali pun keadaan ekonomi sangat buruk.
B. USAHA MENEMBUS BLOKADE EKONOMI
Usaha-usaha untuk menembus blokade ekonomi yang dilakukan oleh pihak Belanda
dilaksanakan oleh pemerintah dengan berbagai cara, diantaranya sebagai berikut :
1. Diplomasi Beras ke India

Usaha ini lebih bersifat politis daripada ekonomis. Ketika terdengar berita bahwa rakyat
India sedang ditimpa bahaya kelaparan, pemerintah RI segera menyatakan kesediaannya
untuk membantu pemerintah India dengan mengirimkan 500.000 ton beras, dengan
harga sangat rendah. Pemerintah bersedia melakukan hal ini karena diperkirakan pada
musim panen tahun 1946 akan diperoleh surplus sebesar 200.000 sampai 400.000 ton.
Sebagai imbalannya pemerintah India menjanjikan akan mengirimkan bahan pakaian
yang sangat dibutuhkan oleh rakyat Indonesia. Keuntungan politik yang diperoleh oleh
pemerintah RI adalah dalam forum internasional India adalah negara Asia yang paling
aktif membantu perjuangan kemerdekaan RI.
2. Mengadakan Hubungan Dagang Langsung ke Luar Negeri
Usaha untuk membuka hubungan langsung ke luar negeri, dilakukan oleh pihak
pemerintah maupun pihak swasta. Diantara usaha-usaha tersebut adalah sebagai berikut
:
a. Mengadakan kontak hubungan dengan perusahaan swasta Amerika (Isbrantsen Inc.).
Usaha ini dirintis oleh BTC (Banking and Trading Corporation), suatu badan perdagangan
semi-pemerintah yang dipimpin oleh Dr. Sumitro Djojohadikusumo dan Dr. Ong Eng
Die. Dalam transaksi pertama pihak Amerika Serikat bersedia membeli barang-barang
ekspor dari Indonesia seperti gula, karet, teh, dan sebagainya. Kapal Isbrantsen Inc. yang
masuk ke pelabuhan Cirebon adalah kapalMartin Behrmann yang mengangkut barangbarang pesanan RI dan akan memuat barang-barang ekspor dari RI. Akan tetapi kapal itu
dicegat oleh kapal Angkatan Laut Belanda dan diseret ke pelabuhan Tanjung Priuk dan
seluruh muatannya disita.
b. Menembus blokade ekonomi Belanda di Sumatera dengan tujuan Singapura dan
Malaysia. Oleh karena jarak perairan yang relatif dekat, maka usaha ini dilakukan dengan
perahu layar dan kapal motor cepat. Usaha ini secara sistimatis dilakukan sejak tahun
1946 sampai dengan akhir masa Perang Kemerdekaan. Pelaksanaan penembusan
blokade ini dilakukan oleh Angkatan Laut RI dengan dibantu oleh pemerintah daerah
penghasil barang-barang ekspor.
Sejak awal tahun 1947 pemerintah RI membentuk perwakilan resmi di Singapura yang
diberi namaIndonesia Office (Indoff). Secara resmi Indoff ini merupakan badan yang
memperjuangkan kepentingan politik di luar negeri, namun secara rahasia juga berusaha
menembus blokade dan usaha perdagangan barter.
Kementerian Pertahanan juga membentuk perwakilannya di luar negeri yang
disebut Kementerian Pertahanan Usaha Luar Negeri (KPLULN) yang dipimpin oleh Ali
Jayengprawiro. Tugas pokok badan ini adalah membeli senjata dan perlengkapan
Angkatan Perang. Sebagai pelaksana upaya menembus blokade ini yang terkenal
adalah John Lie, O.P. Koesno, Ibrahim Saleh dan Chris Tampenawas. Selama tahun
1946 pelabuhan di Sumatera hanya Belawan yang berhasil diduduki Belanda. Karena
perairan di Sumatera sangatlah luas, maka pihak Belanda tidak mampu melakukan
pengawasan secara ketat. Hasil-hasil dari Sumatera terutama karet yang berhasil
diselundupkan ke luar negeri, utamanya ke Singapura, mencapai jumlah puluhan ribu
ton. Selama tahun 1946 saja barang-barang yang diterima oleh Singapura dari Sumatera
seharga Straits $ 20.000.000,-. Sedangkan yang berasal dari Jawa hanya Straits $
1.000.000,-. Sebaliknya barang-barang yang dikirim ke Sumatera dari Singapura
seharga Straits $ 3.000.000,- dan dari Singapura ke Jawa seharga Straits $ 2.000.000,-.
C. USAHA-USAHA MENGATASI KESULITAN EKONOMI
Pada awal kemerdekaan masih belum sempat melakukan perbaikan ekonomi secara baik.
Baru mulai Pebruari 1946, pemerintah mulai memprakarsai usaha untuk memecahkan

masalah-masalah ekonomi yang mendesak. Upaya-upaya itu diantaranya sebagai berikut


:
1. Pinjaman Nasional
Program Pinjaman Nasional ini dilaksanakan oleh Menteri Keuangan. lr.
Surachman dengan persetujuan BP-KNIP. Pinjaman Nasional akan dibayar kembali
selama jangka waktu 40 tahun. Besar pinjaman yang dilakukan pada bulan Juli 1946
sebesar Rp. 1.000.000.000,00. Pada tahun pertama berhasil dikumpulkan uang sejumlah
Rp. 500.000.000,00. Sukses yang dicapai ini menunjukkan besarnya dukungan dan
kepercayaan rakyat kepada Pemerintah RI.
2. Konferensi Ekonomi, Februari 1946
Konferensi ini dihadiri oleh para cendekiawan, para gubernur dan para pejabat lainnya
yang bertanggungjawab langsung mengenai masalah ekonomi di Jawa. Konferensi ini
dipimpin oleh Menteri Kemakmuran, Ir. Darmawan Mangunkusumo. Tujuan konferensi
ini adalah untuk memperoleh kesepakatan yang bulat dalam menanggulangi masalahmasalah ekonomi yang mendesak, seperti :
a. masalah produksi dan distribusi makanan
Dalam masalah produksi dan distribusi bahan makanan disepakati bahwa
sistem autarki lokal sebagai kelanjutan dari sistem ekonomi perang Jepang, secara
berangsur-angsur akan dihapuskan dan diganti dengan sistem desentralisasi.
b. masalah sandang
Mengenai masalah sandang disepakati bahwa Badan Pengawasan Makanan
Rakyat diganti denganBadan Persediaan dan Pembagian Makanan (PPBM) yang dipimpin
oleh dr. Sudarsono dan dibawah pengawasan Kementerian Kemakmuran. PPBM dapat
dianggap sebagai awal dari terbentuknya Badan Urusan Logistik (Bulog).
c. status dan administrasi perkebunan-perkebunan
Mengenai masalah penilaian kembali status dan administrasi perkebunan yang
merupakan perusahaan vital bagi RI, konferensi ini menyumbangkan beberapa pokok
pikiran. Pada masa Kabinet Sjahrir, persoalan status dan administrasi perkebunan ini
dapat diselesaikan. Semua perkebunan dikuasai oleh negara dengan sistem sentralisasi
di bawah pengawasan Kementerian Kemakmuran.
Konferensi Ekonomi kedua diadakan di Solo pada tanggal 6 Mei 1946. Konferensi kedua
ini membahas masalah perekonomian yang lebih luas, seperti program ekonomi
pemerintah, masalah keuangan negara, pengendalian harga, distribusi dan alokasi
tenaga manusia. Dalam konferensi ini Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta memberikan
saran-saran yang berkaitan dengan masalah rehabilitasi pabrik gula. Hal ini disebabkan
gula merupakan bahan ekspor yang penting, oleh karena itu pengusahaannya harus
dikuasai oleh negara. Hasil ekspor ini diharapkan dapat dibelikan atau ditukar dengan
barang-barang lainnya yang dibutuhkan RI.
Saran yang disampaikan oleh Wakil Presiden ini dapat direalisasikan pada tanggal 21 Mei
1946 dengan dibentuknya Badan Penyelenggara Perusahaan Gula Negara (BPPGN)
berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 3/1946. Peraturan tersebut disempurnakan
melalui Peraturan Pemerintah No. 4 tahun 1946, tanggal 6 Juni 1946 mengenai
pembentukan Perusahaan Perkebunan Negara (PPN).
3. Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) pada tanggal 19
Januari 1947
Pembentukan Badan ini atas inisiatif Menteri Kemakmuran, dr. A.K. Gani. Badan ini
merupakan badan tetap yang bertugas membuat rencana pembangunan ekonomi untuk
jangka waktu 2 sampai 3 tahun. Sesudah Badan Perancang ini bersidang, A.K.

Gani mengumumkan Rencana Pembangunan Sepuluh Tahun. Untuk mendanai Rencana


Pembangunan ini terbuka baik bagi pemodal dalam negeri maupun bagi pemodal asing.
Untuk menampung dana pembangunan tersebut pemerintah akan membentuk Bank
Pembangunan.
Pada bulan April 1947, Badan Perancang ini diperluas menjadi Panitia Pemikir Siasat
Ekonomiyang dipimpin langsung oleh Wakil Presiden Moh. Hatta, sedangkan A.K. Gani
sebagai wakilnya. Panitia ini bertugas mempelajari, mengumpulkan data dan
memberikan saran kepada pemerintah dalam merencanakan pembangunan ekonomi dan
dalam rangka melakukan perundingan dengan pihak Belanda.
Semua hasil pemikiran ini belum berhasil dilaksanakan dengan baik, karena situasi politik
dan militer yang tidak memungkinkan. Agresi Militer Belanda mengakibatkan sebagian
besar daerah RI yang memiliki potensi ekonomi baik, jatuh ke tangan Belanda. Wilayah RI
tinggal beberapa keresidenan di Jawa dan Sumatera yang sebagian besar tergolong
sebagai daerah minus dan berpenduduk padat. Pecahnya Pemberontakan PKI Madiun
dan Agresi Militer Belanda II mengakibatkan kesulitan ekonomi semakin memuncak.
4. Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (RERA) pada tahun 1948.
Program yang diprakarsai oleh Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta ini, dimaksudkan untuk
mengurangi beban negara dalam bidang ekonomi, disamping meningkatkan efesiensi.
Rasionalisasi ini meliputi penyempurnaan administrasi negara, Angkatan Perang dan
aparat ekonomi. Sejumlah satuan Angkatan Perang dikurangi secara dratis. Selanjutnya
tenaga-tenaga bekas Angkatan Perang ini disalurkan ke bidang-bidang produktif dan
diurus oleh Kementerian Pembangunan dan Pemuda.
5. Rencana Kasimo (Kasimo Plan)
Program ini disusun oleh Menteri Urusan Bahan Makanan I.J. Kasimo. Pada dasarnya
program ini berupa Rencana Produksi Tiga Tahun, 1948-1950 mengenai
usaha swasembada pangan dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis. Untuk
mningkatkan produksi bahan pangan dalam program ini, Kasimo menyarankan agar :
a. menanami tanah-tanah kosong di Sumatera timur seluas 281.277 ha.;
b. di Jawa dilakkan intensifikasi dengan menanam bibit unggul;
c. pencegahan penyembelihan hewan-hewan yang berperan penting bagi produksi
pangan;
d. disetiap desa dibentuk kebun-kebun bibit;
e. tranmigrasi.
6. Persatuan Tenaga Ekonomi (PTE)
Organisasi yang dipimpin B.R. Motik ini, bertujuan untuk menggiatkan kembali
partisipasi pengusaha swasta. Dengan dibentuknya PTE juga diharapkan dapat dan
melenyapkan individualisasi di kalangan organisasi pedagang sehingga dapat
memperkokoh ketahanan ekonomi bangsa Indonesia. Pemerintah menganjurkan agar
pemerintah daerah usaha-usaha yang dilakukan oleh PTE. Akan tetapi nampaknya PTE
tidak dapat berjalan dengan baik. PTE hanya mampu mendirikan Bank PTE di Yogyakarta
dengan modal awal Rp. 5.000.000. Kegiatan PTE semakin mundur akibat dari Agresi
Militer Belanda.
Selain PTE perdagangan swasta lainnya yang juga membantu usaha ekonomi pemerintah
adalahBanking and Trading Corporation (Perseroan Bank dan Perdagangan).