Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kelenjar tiroid dibungkus mengitari bagian depan dari trachea bagian atas,
kelenjar ini terdiri dari 2 lobus dihubungkan oleh itsmus. Kelenjar ini diperdarahi dari
arteri tiroid superior dan inferior. Tiroid terbentuk atas masa kosong yang berbentuk
folikel. Setiap folikel mempunyai dinding satu sel tebal dan mengandung koloid seperti
jeli.
Lapisan sel-sel folikel mempunyai kemampuan yang sangat besar dalam
mengekstrasi iodin dari dalam darah dan menggabungkannya dengan tirosin asam amino,
untuk membentuk suatu hormon tri-iodotironin (T3) aktif. Sebagian tiroksin yang kurang
aktif juga dibentuk. Tiroksin (T4) diiubah menjadi tri-iodotironin (T3) di dalama tubuh.
Senyawa ini dan intermediat tertentu disimpan dalam koloid dari folikel. Penyimpanan ini
penting, karena iodin mungkin tidak terdapat didalam diet. Dimana dalam keadaan ini
kelenjar tiroid akan membesar yang disebut Goiter.
Mekanisme pembentukan hormon Tiroid Pembentukan hormon tiroid dimulai
dari aktivitas hipotalamus yang menghasilkan Thyroid Releasing Hormone (TRH). TRH
akan menstimulasi Hipofisis anterior untuk menghasilkan Thyroid Stimulating Hormon
(TSH). TSH akan menstimulasi pembentukan

T3 dan T4 dalam folikel dengan

menggabungkan iodin dalam darah dan tirosin asam amino.


Pembentukan TSH dihambat oleh tingginya kadar hormon tiroid. Hormon tiroid
meningkatkan laju metabolik dari semua jaringan, mungkin dengan meningkatkan sintesa
enzim pernafasan dalam sel.
1.2 GANGGUAN PADA THYROID
Terdapat 3 kelainan tiroid :
a. Pembesaran tiroid (goiter) :Merupakan pembesaran pada tiroid karena suatu
keadaan tertentu. Etiologi dari goiter antara lain adalah adalah defisiensi yodium
atau gangguan kimia intra tiroid. Akibat gangguan ini kapasitas kelenjar tiroid
untuk mensekresikan tiroksin terganggu, mengakibatkan peningkatan kadar TSH
dan hiperplasian serta hipertrofi folikel-folikel tiroid.
b. Hipotiroid
c. Hipertiroid

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
perawat dapat memahami dan dapat menarapkan tentang asuhan keperawatan
Hipotiroid dan Hipertiroid pada pasien yang mengalaminya.
1.3.2 Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui tentang hipotiroid dan hipertiroid
2. Untuk mengetahui konsep dasar keperawatan tentang gangguan pada kelenjar tyroid.
1.4

Manfaat
1. Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan dan keterampilan kelompok
dalam penerapan konsep dasar asuhan keperawatan hipotiroid dan hipertiroid
2. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi semua pembaca tentang gangguan kelenjar
tyroid

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 HIPOTIROID
2.1.1 PENGERTIAN HIPOTIROID
Merupakan keadaan yang ditandai dengan terjadinya hipofungsi tiroid yang
berjalan lambat dan diikuti oleh gejala-gejala kegagalan tiroid. Keadaan ini terjadi
akibat kadar hormone tiroid berada dibawah nilai optimal.
Hipotiroid dibagi menjadi 3 tipe:
1. Hipotiroid primer : kerusakan pada kelenjar tiroid
2. Hipotiroid sekunder: akibat defisiensi sekresi TSH oleh hipofisis
3. Hipotiroid Tersier : Akibat defiensi sekresi TRH oleh hipotalamus
2.1.2 ETIOLOGI
Hipothyroid primer
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Kelainan kongenital (cretinisme)


Kelainan sintesis hormone
Defisiensi iodine prenatal dan postnatal
Obat-obat antithyroid.
Terapi pembedahan atau radioaktif pada hyperthyroid
Hipothyroid sekunder (kelainan pituitary)
Penurunan stimulasi normal kelenjar thyroid, akibat malfungsi hipofise.
Hipothyroid tertier (kelainan hypothalamus)
Hipotalamus gagal memproduksi TRH sehingga sekresi TSH menjadi rendah.

2.1.3 PATOFISIOLOGI
1. Kelenjar thyroid membutuhkan iodine untuk sintesis dan sekresi hormone
thyroid.
2. Produksi hormon thyroid tergantung sekresi TSH oleh hipofise anterior dan
ingesti iodine yang adekuat.
3. Hipotalamus juga mengatur sekresi TSH melalui sistem feedback negative.
4. Jika seseorang kekurangan diet iodine atau produksi hormon thyroid terhambat,
maka akan terjadi pembesaran thyroid untuk mengkompensasi defisiensi
hormonal.
5. Pembesaran kelnjar thyroid juga sebagai respon terhadap peningkatan TSH.
2.1.4 MANIFESTASI KLINIS
Kardiovaskuler :
1. Penurunan HR + penurunan SV = penurunan CO
2. Kebutuhan oksigen miokardium menurun
3. Peningkatan tahanan vaskuler perifer

4. Hiperlipidemia
5. Hiperkolestrolemia
Hematologi :
1. Anemia
Pernapasan :
1.
2.
3.
4.

Penurunan transportasi oksigen


Hiperkapnea
Kelemahan otot pernapasan
Dyspnea

Ginjal :
1.
2.
3.
4.

Retensi cairan
Penurunan output urine
Hiponatremi dilusi
Penurunan produksi eritropoetin

Gasterointestinal :
1. Penurunan peristaltik
2. Anoreksia
3. Peningkatan BB
4. Konstipasi
5. Penurunan metabolisme protein
6. Peningkatan lipid serum
7. Uptake glukosa lambat
8. absorbsi glukosa lambat
Muskuloskeletal :
1.
2.
3.
4.
5.

Nyeri yang berpindah-pindah


Kejang otot
Pergerakan lambat
Peningkatan densitas tulang
Penurunan pembentukan tulang

Integumen :
1. Kulit kering dan bersisik
2. Rambut mudah dicabut
3. Kuku kaku
4. Edema periorbital
5. Tidak tahan terhadap dingin
Endokrine :

1. Thyroid membesar atau normal


Neurologi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Penurunan refleks tendon


Fatigue
Somnolen
Bicara lambat
Apati, depresi, paranoia
Gangguan memori jangka pendek
Letargi

Reproduksi :
1. Wanita : menorragia, anovulasi, mensturasi tidak teratur, penurunan libido
2. Pria : penurunan libido, impoten.
Lain-lain :
1. mixedema. (Penurunan kecepatan metabolisme drastis, hipoventilasi yang
menyebabkan asidosis respiratori, hipotermi, dan hipotensi)

2.2 ASUHAN KEPERAWATAN


2.2.1 PENGKAJIAN
a. Identitas klien : Merupakan biodata klien yang meliputi : nama, umur, jenis
kelamin, agama, suku bangsa / ras, pendidikan, bahasa yang dipakai,
pekerjaan, penghasilan dan alamat.
b. Keluhan utama : Keluhan utama yaitu kurang energi, manifestasinya sebagai lesu,
lamban bicara, mudah lupa, obstipasi. Metabolisme rendah menyebabkan
bradikardia, tidak tahan dingin, berat badan naik dan anoreksia. Kelainan
psikologis meliputi depresi, meskipun nervositas dan agitasi dapat terjadi.
Kelainan reproduksi yaitu oligomenorea, infertil, aterosklerosis meningkat.
c. Riwayat penyakit sekarang : Pada orang dewasa, paling sering mengenai wanita
dan ditandai oleh peningkatan laju metabolik basal, kelelahan dan letargi,
kepekaan terhadap dingin, dan gangguan menstruasi. Bila tidak diobati, akan
berkembang menjadi miksedema nyata.
d. Pada bayi, hipotiroidisme hebat menimbulkan kretinisme.
e. Pada remaja hingga dewasa, manifestasinya merupakan peralihan dengan retardasi
perkembangan dan mental yang relatif kurang hebat serta miksedema disebut

demikian karena adanya edematus, penebalan merata dari kulit yang timbul akibat
penimbunan mukopolisakarida hidrofilik pada jaringan ikat di seluruh tubuh.
f. Riwayat penyakit dahulu : Hipotiroidisme tidak terjadi dalam semalam, tetapi
perlahan selama berbulan-bulan, sehingga pada awalnya pasien atau keluarganya
tidak menyadari, bahkan menganggapnya sebagai efek penuaan. Pasien mungkin
kedokter ketika mengalami keluhan yang tidak khas seperti lelah dan penambahan
berat badan. Dokter akan meminta pemeriksaan laboratorium yang tepat, yaitu
kadar T4 rendah dan TSH yang tinggi, sehingga diagnosis hipotirodisme dapat
diketahui pada tahap awal ketika gejalanya masih ringan.
g. Pemeriksaan Fisik
1) Breathing ( B1 )
Bagaimana pernafasannya, reguler/tidak, bagaimana kesimetrisannya, bagaimana
suaranya apakah terdapat suara tambahan. Apakah terdapat pergerakan otot antar
rusuk, bagaimana gerakan dada, bagaimana suaranya apakah ada pembesaran
dada.
2) Blood ( B2 )
Tanda :
Hipertensi

(kadang-kadang

terlihat

senbagai

respon

terhadap

nyeri/ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah)


Takikardi ( respon stress, hipovolemi )
Penurunan/tidak ada nadi pada bagian distal yang cedera, pengisian

kapiler, lambat, pusat bagian yang terkena.


Pembengkakan jaringan atau masa hematon pada sisi cedera.
3) Brain ( B3 )
Gejala :
Hilang gerakan/sensori, spasme otot
Kesemutan
Tanda :
Deformitas local angurasi abnormal, pemendekan, rotasi krepitasi (bunyi
berdent) spasme otot, terlihat kelemahan atau hilang fungsi.
Agitasi (mungkin badan nyeri/ansietas/trauma lain)
4) Bowel ( B4 )
Bagaimana bentuk/kesimetrisnya, turgor kulit abdomen apakah suara tambahan
dan bagaimana peristaltik ususnya.
5) Bladder ( B5 )
Bagaimana bentuk/kesimetrisannya, apakah terdapat lesi, apakah terjadi
inkontinensia urun.
6) Bone ( B6 )
Tanda :
Laserasi kulit, avulasi jaringan, perdarahan, perubahan warna.
Pembengkakan local (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba)
7) Penyuluhan/pembelajaran
Gejala :

Lingkungan cedera memerlukan bantuan dengan transplantasi, aktivitas


perawatan diri dan tugas pemeliharaan/perawatan rumah.

h. Pemeriksaan Penunjang :
1) Pemeriksaan kadar T3 dan T4 pada pasien yaitu : Kadar T3 15pg/dl, dan kadar T4
20g/dl.
2) Pemeriksaan TSH (pada klien dengan hipotiroidisme primer akan terjadi
peningkatan TSH serum, sedangkan pada yang sekunder kadar TSH dapat
menurun atau normal) : Kadar TSH pada pasien tersebut yaitu <0,005IU/ml,
3) Pemeriksaan USG : Pemeriksaan ini bertujuan untuk memberikan informasi yang
tepat tentang ukuran dan bentuk kelenjar tiroid dan nodul.
i. Analisis Data :
1) Gangguan persepsi sensorik (penglihatan) berdasarkan gangguan transmisi impuls
sensorik sebagai akibat oftalmopati
2) Data yang didapat : fungsi intelektual yang lambat, berbicara lambat dan terbatabata, gangguan memori, perhatian kurang, bingung, hilang pendengaran,
parastesia, penurunan refleks tendom
3) Penurunan curah jantung berdasarkan penurunan volume sekuncup sebagai akibat
bradikardi, hipotensi
4) Data yang didapat : bradikardi, disritmia, pembesaran jantung dan hipotensi :
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berdasarkan

penurunan

kebutuhan metabolisme, dan napsu makan yang menurun.


5) Mata yang didapat : anoreksia, obtipasi, distensi abdomen, hemoglobin menurun,
dingin, pucat, kering, bersisik dan menebal, pertumbuhan kuku buruk, serta kuku
menebal.
6) Pola nafas tidak efektif berdasarkan penurunan tenaga/ kelelahan, ekspansi paru
yang menurun, dispnea.
7) Data yang didapat : hipoventilasi, dispenia, efusi pleural
2.2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Intoleransi aktivitas b/d kelemahan atau keletihan dan penurunan fungsi kognitif.
2) Pola nafas tidak efektif b/d depresi ventilasi.
3) Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan kecepatan
metabolisme.
4) Konstipasi b/d penurunan fungsi gastointestial.
5) Perubahan suhu tubuh (hipotermi) b/d penurunan metabolisme.
6) Perubahan pola berfikir b/d hipoksia, gangguan metabolisme dan perubahan
status kardiovaskuler serta pernafasan.
7) Kurangnya pengetahuan b/d kurangnya informasi tentang program pengobatan
untuk terapi penggantian tiroid seumur hidup.

2.2.3
a.

INTERVENSI
DIAGNOSA
NOC
NIC
a. Intoleransi aktivitas NOC:
Terapi aktivitas
Ketidak cukupan energi
b/d kelemahan atau
1. memberi
anjuran
fisiologis atau psikologis
keletihan dan penurunan
tentang dan bantuan
untuk melanjutkan atau
fungsi kognitif.
dalam aktivitas fisik,
menyelesaikan
aktivitas
kognitif, sosial, dan
sehari-hari yang ingin atau
spritual yang spesifik
harus dilakukan.
untuk meningkatkan
Kriteria hasil:
rentang,
frekuensi,
toleransi aktivitas:
atau durasi aktivitas
1. respon
fisiologi
terhadap

gerakan

yang memakan energi


dalam

aktivitas

dalam

mengelola

individu
2. rencanakan

aktivitas

bersama pasien dan

keluarga yang
sehari-hari.
3. meningkatkan
2. Ketahanan: kapasitas
kemandirian
dan
untuk menyelesaikan
ketahanan.
aktivitas.
3. Penghematan energi: Manajemen energy
tindakan
individu 1. mengatur
penggunaan

energi

energi untuk memulai

untuk mengatasi atau

dan

mencegah kelelahan

menyelesaikan

aktivitas.

dan mengoptimalkan
fungsi.

b.

b. Pola nafas tidak NOC:


Manajemen jalan nafas
Inspirasi dan atau ekspirasi
efektif
b/d
depresi
1. buka jalan nafas,
yang tidak menyediakan
ventilasi.
gunakan teknik chin
ventilasi yang adekuat.
lift atau jaw thrust,
Kriteria hasil:
sesuai
dengan
1. status pernafasan:
2. kepatenan jalan nafas
kebutuhan
3. status
pernafasan: 2. posisikan
pasien
ventilasi
4. status
vital

untuk
tanda-tanda

memaksimalkan
ventilasi
3. identifikasi
kebutuhan
akan

pasien

insert

jalan

nafas
aktual/potensial.
4. Dukung
untuk
bernafas

pelan,

dalam.
Penurunan ansietas
1. Gunakan pendekatan
yang menyenangkan
2. Beri
ketenangan,
yang

bisa

menentramkan hati
3. Identifikasi
perubahan

tingkat

kecemasan pasien
untuk

4. Dukung

menggunakan
mekanisme
pertahanan

c.Gangguan

nutrisi NOC:

Pengaturan diet

kurang dari kebutuhan Asupan nutrisi tidak

Terapi menelan

tubuh b/d peningkatan mencukupi untuk


kecepatan metabolisme.

memenuhi kebutuhan
metabolic.
Kriteria hasil:
1. status nutrisi
2. status nutrisi: asupan
makanan dan cairan
3. status nutrisi: intake
nutrient
4. pengontrolan

berat

badan

2.3HIPERTIROID
2.3.1

PENGERTIAN
Respon jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolic hormone tiroid yang
berlebihan. Keadaan ini dapat timbul spontan atau akibat asupan tiroid yang
berlebihan. Thyrotoksikosis adalah manifestasi klinik yang terjadi bila jaringan
tubuh dirangsang oleh peningkatan hormon thyroid.

2.3.2

PATOFISIOLOGI
1) Hiperthyroid ditandai oleh kontro regulasi normal hormon thyroid ,
menyebabkan

hormon thyroid, mengakibatkan hipermetabolisme dan

aktifitas sistem saraf simpatik.


2) Jumlah hormon thyroid merangsang sistem jantung dan

jumlah reseptor

andrenergik, menyebabkan tachicardi dan CO, SV, aliran darah perifer.


3) Metabolisme meningkat tajam, menyebabkan balance nitrogen negatif,
lipid dan status nutrisi .
2.3.3

MANIFESTASI KLINIS
Kardiovaskuler :
1. Peningkatan HR + peningkatan SV = peningkatan CO
2. Peningkatan konsumsi oksigen
3. TD sistolik meningkat 10-15 mmHg
4. TD diastolik meningkat 10-15 mmHg
5. Palpitasi
6. Nadi cepat dan kuat

7. Kemungkinan CHF dan edema


Pernapasan :
1. Peningkatan kecepatan dan kedalaman pernapasan

2. Napas pendek
Ginjal :
1. Retensi caira
2. Output urine menurun
Gasterointestinal :
1.
2.
3.
4.

Peningkatan peristaltic\
Peningkatan nafsu makan
Berat badan menurun
Diare
5. Peningkatan penggunaan protein jaringan
6. Penurunan serum lipid
7. Peningkatan sekresi gasterointestinal, muntah, nyeri abdomen
Muskuloskeletal :
1. Balance nitrogen negatif
2. Malnutrisi
3. Fatigue
4. Kelemahan otot
5. Gangguan koordinasi dan tremor
Integumen :
1. peningkatan keringat
2. Kulit lembab
3. Warna kulit kemerahan
4. Rambut : lembut dan mudah dicabut
5. Tidak tahan terhadap panas
Endokrin : pembesaran thyroid
Neurologi :
1. Peningkatan refleks tendon
2. Tremor halus
3. Nervous, kelalahan
4. Emosi tidak stabil : kecemasan, kawatir dan paranoid
Reproduksi :
1. Wanita

amenore,

mensturasi

kecenderungan abortus spontan.

tidak

teratur,

penurunan

fertilitas,

2. Laki-laki : impoten, poenurunan libido, penurunan perkembangan seksual


sekunder
Lain-lain : exopthalmus.
2.3.4

Pemeriksaan penunjang :
1. TRH menurun
2. TSH menurun
3. T4 meningkat
4. T3 meningkat

2.4 ASUHAN KEPERAWATAN


2.4.1 Pengkajian
Aktifitas / Istirahat
S : insomnia, sensitifitas meningkat, otot lemah.
O : atrofi otot
Eliminasi :
S : Peningkatan urine, perubahan feces, diare.
Integritas ego :
S : mengalami stres fisik atau emosional
O : emosi labil (euphoria sampai delirium), depresi
Pernapasan :
O : peningkatan frekuensi napas, tachipnea, dispnea, edema paru.
Keamanan :
S : tidak tahan terhadap panas, keringat berlebihan.
O : suhu tubuh meningkat, diaporesis, kulit halus, hangat dan kemerahan,
exopthalmus.
Seksualitas :
S : penurunan libido, hipermenore, amenore, impoten.

2.4.2

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung b/d hipertiroid tidak terkontrol,
keadaan hipermetabolisme; peningkatan beban kerja jantung; perubahan dalam
arus balik vena dan tahan vaskuler sistemik; perubahan frekuensi, irama dan
konduksi jantung
2. Kelelahan b/d hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi; peka
rangsang dari saraf sehubungan dengan gangguan kimia tubuh.

2.4.3 RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


NO DIAGNOSA

NOC

NIC

Resiko tinggi terhadap Setelah dilakukan

Cardiac care 4040

penurunan curah jantung tindakan keperawatan

1. Pantau tekanan darah pada posisi

b/d

hipertiroid

terkontrol,

tidak selama 5x24 jam

keadaan diharapkan klien tidak

hipermetabolisme;

berisiko tinggi

peningkatan beban kerja terhadap penurunan


jantung;

perubahan curah jantung dengan

dalam arus balik vena


dan

tahan

sistemik;
frekuensi,

perubahan cardiac pump

konduksi jantung.

dan effective 0400:


040001 sistolik dalam
rentang normal
040019 diastole dalam
rentang normal
040020 respirasi
dalam rentang normal
16-24x/menit

Kelelahan
hipermetabolik

memungkinkan
2. Pantau CVP jika klien menggunakannya
3. Periksa adanya nyeri dada a/ angina
yang dikeluhka klien
4. Auskultasi suara jantung ,perhatikan
adanya bunyi jantung tambahan adanya

vaskuler kriteria hasil


irama

baring,duduk,&berdiri jika

b/d Setelah dilakukan


dengan tindakan keperawatan

peningkatan kebutuhan selama 3x24 jam


energi; peka rangsang diharapkan klien
dari saraf sehubungan berkurang rasa lelah
dengan gangguan kimia dengan criteria hasil
tubuh.

irama gollap & murmur sistolik


5. Auskultasi suara nafas
6. Berikan cairan melalui IV sesuai dengan
indikasi
7. Berikan obat sesuai dng idikasi
8. Memberikan ukuran volume sirkulasi yg
langsung & lebih akurat dan mengukur
fungsi jantung secara langsung pula
9. Instruksikan pada pasien dan keluarga
pasien pentingnya untuk melaporkan
segera jika ada ketidaknyamanan pada
dada
10. Kolaborasi dengan dokter ahli jantung
Energy management 0180
1. Pantau tanda vital & catat tanda vital
baik saat istirahat maupun saat
melakukan aktivitas
2. Catat berkembangnya
Takipnue,dipneu,pucat,dan sianosis
3. Berikan/ciptakan lingkungan yg
tenang;ruangan dingin,turunkan

Endurance 0001:
000102 klien mampu
beraktivitas seperti
biasa
000104 konsentrasi

stimulasi sensori,warna2 yg sejuk,musik


santai
4. Berikan tindakan yg membuat klien
nyaman, separti; sentuhan bedak yg

000113 hemoglobin
dalam rentang normal

sujuk
5. Barikan obat sesuai dengan indikasi
Ex :sedatif : fenobarbital(luminal)
6. Kebutuhan dan konsumsi oksigen akan
di tingkatkan pada keadaan
hipermetabolik,yg mrpakan potensial
akan terjadi hipoksia saat melakukan
aktivitas
7. Sarankan klien u/ mengurangi aktivitas
& meningkatkan istirahat di tempat tidur
sebanyak2 nya jk memungkinkan
8. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
pemberian makanan tinggi energi

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Hipotiroidisme (hiposekresi hormone tiroid) adalah status metabolic yang di
akibatkan oleh kekurangan hormone tiroid. Hipotiroidisme kognital dapat mengakibatkan
kretinisme.Hipotiroid dibagi menjadi 3 tipe: (1) Hipotiroid primer: kerusakan pada
kelenjar tiroid, (2) Hipotiroid sekunder: akibat defisiensi sekresi TSH oleh hipofisis, (3)
Hipotiroid Tersier : Akibat defiensi sekresi TRH oleh hipotalamus.
lstilah hipertiroidisme dan tirotoksikosis sering dipertukarkan. Tirotoksikosis
berhubungan dengan suatu kompleks fisiologis dan biokimiawi yang ditemukan bila suatu
jaringan memberikan hormon tiroid berlebihan. Sedangkan hipertiroidisme adalah
tirotokosis sebagai akibat produksi tiroid itu sendiri.
Hipertiroidisme : tirotoksikosis yang dilakukan oleh kelenjar tiroid yang
hiperaktif. Adapun sebabnya manifestasi klinisnya sama, karena efek ini disebabkan
ikatan T3 dengan reseptor T3 inti yang makin penuh. Rangsang oleh TSH / TSH like
substances (TSI, TS Ab), autonomi insintrik kelenjar menyebabkan toroi T, terlihat dari
radiasi,akan terjadi kerusakan sel hingga hormon yang tersimpan dalam folikel keluar
masuk dalam darah. Dapat pula pasien mengkonsumsi hormon tiroid berlebihan dalam hal
ini justru radiactive neck update turun. Membedakan ini perlu, lebab umumnya peristiwa
kedua ini, loksikosis tanpa hiper, biasanya self limiting disease.
3.2 SARAN
Diharapkan asuhan keperawatan ini dapat dibermanfaat untuk pembaca dan
mahasiswa keperwatn agar dapat memberikan pendidikan kesehatan tentang pola hidup
sehat, dan pentingnya pengetahuan tentang penyakit Hipotiroidisme dan Hipertiroiisme
agar kita semua dapat mencapai hidup sehat. Jika dalam penulisan asuhan keperawatan ini
masih banyak kekurangan dan kesalahan penulis meminta maaf . Kritik dan saran dari
pembaca sangat diharapkan oleh penulis untuk menperbaiki Asuhan Keperawatan agar
lebih sempurna dari ini.

ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN HIPOTIROIDISME DAN
HIPERTIROIDISME

Disusun Oleh :
1.
2.
3.
4.
5.

Andri Asrianingrum
Choirun Nisaa
Ega wulandari
M. Slamet Hariadi
Yusi Kurniawan

Kelas VC
SI KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2013