Anda di halaman 1dari 9

I.

Pengantar

Teori feminisme posmodern mula- mula mendapatkan suara dari feminis


Perancis, seperti Luce Irigaray, Julia Kristeva dan Helene Cixous, yang
menghasilkan karya mereka dari tafsir psikoanalisis posmodern Lacan. Para
feminis Perancis ini belum banyak menghasilkan teori sosial yang sistematis.
Akan tetapi, mereka menulis esai dalam tafsir sastra, filsafat, budaya dan
psikoanalisis yang menantang banyak konvensi stilistik atas teori sosial kritis
karena mereka mencoba menunjukkan apa yang mereka sebut dengan L’ecriture
feminine, atau tulisan perempuan. Mengikuti Lacan, para teoretisi feminis ini
berpandangan bahwa perempuan memiliki hubungan yang berbeda dengan
ketidaksadaran mereka (yang, kata Lacan, terstruktur seperti bahasa)
dibandingkan dengan hubungan yang dimiliki laki- laki. Laki- laki menempati
ruang simbolik dan teknologis, sementara perempuan menempati wilayah
imajiner. Ini mirip dengan argumen feminis bahwa laki- laki menempati wilayah
berbeda yang di dalamnya mereka menjalani kehidupan sehari- hari secara
berbeda.

Tema kunci pertama feminisme posmodern adalah pernyataan bahwa


pembebasan diraih melalui narativitas atau pengkisahan yang membentuk
identitas feminis dan menciptakan budaya feminis. Ini adalah alasan mengapa
feminis Perancis menghabiskan banyak waktu untuk menteorikan tulisan sebagai
satu aktivitas yang terjenderkan. Mereka melihat perempuan dan laki- laki yang
“menceritakan” (berbicara dan menulis) dunia dengan cara yang berbeda
mencerminkan sifat yang berbeda, hubungan dengan kenirsadaran, dan posisi
subjek mereka. Selama posmodernis menyatakan bahwa manusia sebagian besar
diposisikan oleh bahasa dan wacana mereka, mudah kiranya untuk melihat
mengapa feminis Perancis menempatkan begitu banyak penekanan pada
narativitas feminis sebagai sarana pembebasan, identitas dan penciptaan budaya.

Seperti Lyotard, feminis posmodern menolak pandangan bahwa terdapat


narasi tunggal seperti Marxisme yang merangkum sejarah dan pengalaman

1
manusia. Feminis posmodern melawan bukan hanya narasi besar secara umum
namun juga narasi laki- laki selama cerita laki- laki tentang masyarakat cenderung
mengabaikan atau mengacaukan pengalaman perempuan. Seperti halnya argumen
feminis Afrika bahwa feminisme kulit putih tidak memiliki pengalaman sebagai
perempuan kulit berwarna, feminis posmodern juga berpandangan bahwa “cerita”
laki- laki secara sifat berbeda dengan “cerita” perempuan.

Tema kunci kedua feminisme posmodern adalah perbedaan, yang


sebagaimana dinyatakan oleh Lyotard dan Derrida, lebih merupakan ciri posisi
subjek manusia dan narasi yang mereka hasilkan, bukannya kesamaan dan
kemiripannya. Dalam menentukan apakah “mendukung” atau “menantang”
kesamaan, narativis posmodern meniadakan kemungkinan bagi narasi umum.
Feminis posmodern menolak kemungkinan bahwa narasi umum (besar) dapat
menekankan baik kesamaan atau perbedaan, misalnya menteorikan penindasan
yang dialami semua orang dan pada saat yang sama menteorikan penindasan
perempuan secara khusus.

II. Biografi Julia Kristeva

Julia Kristeva lahir di Bulgaria pada tanggal 24 Juni 1941. Saat berumur
23 tahun (pertengahan 1960- an), dia pindah ke Paris dan tinggal di sana sampai
sekarang. Dia memiliki minat yang sangat besar pada bahasa dan linguistik, dan
pemikirannya dipengaruhi oleh Lucian Goldmann dan Roland Barthes. Dia juga
mendalami psikoanalisis Freud dan Lacan, dan berkarir sebagai seorang peneliti
dan akademisi. Dia adalah seorang filosof, kritikus satra, ahli psikoanalis,
sosiologis, feminis dan sekarang ia juga menjadi seorang novelis.

Kristeva bergabung dengan kelompok 'Tel Quel' pada tahun 1965, dimana
dia bertemu dengan pria yang kelak menjadi suaminya, Phillipe Sollers, dan
menjadi anggota aktif kelompok itu yang berfokus pada politik bahasa.
Kelompok Tel Quel menganggap sejarah sebagai interpretasi teks dan tulisan
sejarah hanyalah sebuah produksi politik dan bukanlah tulisan yang objektif.

2
Artikel- artikel yang ditulis Kristeva mulai diterbitkan oleh kelompok Tel Quel
dan jurnal Critique pada tahun 1967, dan pada tahun 1970 dia menjadi anggota
dewan editor.

Bersama dengan Roland Barthes, Todorov, Goldmann, Gérard Genette,


Lévi-Strauss, Lacan, Greimas, dan Althusser, Kristeva menjadi salah satu tokoh
strukturalis ternama saat strukturalisme memegang peranan penting dalam ilmu
kemanusiaan. Karyanya juga memainkan peranan penting dalam pemikiran post-
strukturalisme. Penelitiannya di bidang linguistik, termasuk minatnya pada
seminar yang diadakan Lacan pada tahun yang sama, dituliskan dalam karyanya
Le Texte Du Roman (1970), Séméiotiké: Recherches pour une sémanalyse (1969),
dan akhirnya, La Revolution du langage poetique (desertasi doktornya) pada
tahun 1974. Publikasi selanjutnya membuatnya diterima menjadi anggota
kehormatan linguistik di University of Paris, dan sebagai tamu kehormatan di
Columbia University di New York.

Kristeva juga menunjukkan pengaruhnya dalam analisis kritik, teori


budaya dan feminisme setelah menerbitkan buku pertamanya Semeiotikè pada
tahun 1969. Ia menghasilkan hasil karya yang sangat banyak termasuk buku dan
essay mengenai intertekstualitas, semiotika dan penolakan secara psikologis
(abjection) di bidang linguistik, teori dan kritik sastra, psikoanalis, biografi dan
autobiografi, analisis politik dan budaya, seni dan sejarah seni.

Dalam karyanya, Kristeva menggunakan pendekatan psikoanalis untuk


kritik poststruktural. Sebagai contoh, pandangannya tentang subjek dan
pembentukannya mirip dengan pandangan Sigmund Freud dan Jacques Lacan.
Akan tetapi, Kristeva menolak pemahaman subjek dalam strukturalis. Sebaliknya,
ia menganggap kalau subjek selalu berada “dalam proses” atau “dalam krisis.”
Hal ini merupakan kontribusinya dalam kritik post strukturalis terhadap
strukturalisme, sementara menerapkan ajaran psikoanalis.

3
Salah satu proposisi Kristeva yang paling penting adalah Semiotika (yang
berbeda dengan Semiotikanya Ferdinand De Saussure). Bagi Kristeva, semiotika
berkaitan erat dengan infantile pre-Oedipal yang mengacu pada pemikiran Freud,
Otto Rank dan khususnya Melanie Klein dan psikoanalis British Object Relation,
dan Lacanian (pre-mirror stage). Hal ini merupakan bidang emosional yang
berkaitan dengan insting kita, yang berada dalam nadi dan unsur prosodi
(suprasegmental) bahasa, dan bukan berada dalam arti denotasi dari kata- kata.
Dalam artian ini, semiotika melawan simbol, yang menghubungkan kata- kata
dengan arti dalam arti matematis dan lebih sempit. Dia juga terkenal karena
konsep abjection (ide yang berkaitan dengan kekuatan psikologis utama berupa
penolakan, yang diarahkan terhadap figur ibu), dan intertekstualitas.

III. Kristeva dan feminisme

Walaupun Kristeva tidak pernah menyatakan tulisannya sebagai tulisan


feminis, banyak feminis yang menggunakan karya Kristeva untuk memperluas
dan mengembangkan berbagai macam diskusi dan debat tentang teori dan kritik
feminis. Tiga pemikiran Kristeva yang dianggap penting oleh teori feminis adalah
sebagai berikut:

1. Usaha Kristeva untuk memasukkan kembali tubuh ke dalam wacana


ilmu kemanusiaan;

2. Fokus Kristeva pada pentingnya maternal dan preoedipal dalam


pembentukan subjektivitas; dan

3. Ide Kristeva tentang penolakan sebagai sebuah penjelasan untuk


penindasan dan diskriminasi.

Tubuh

Teori- teori tentang tubuh sangat penting bagi para feminis karena dalam
sejarah kemanusiaan, tubuh diasosiasikan dengan feminin, perempuan atau wanita

4
dan dianggap rendah sebagai makhluk yang lemah, tak bermoral, tidak bersih atau
inferior. Melalui tulisan- tulisannya selama tiga dekade terakhir, Kristeva
menciptakan teori tentang hubungan antara pikiran dan tubuh, budaya dan alam,
psikis dan soma, materi dan perwakilan, dengan berpendapat bahwa kedua
tindakan badaniah tersebut telah dicabut dalam perwakilan dan bahwa logika
penandaan telah berlaku pada materi tubuh. Kristeva menggambarkan tindakan
badaniah sebagai "batas antara 'soma' dan ‘psikis', antara biologi dan perwakilan.

Kristeva terkenal dengan pembedaan antara "semiotika" dan "simbol,"


yang dia kembangkan dalam karya awalnya termasuk Revolution in Poetic
Language , "From One Identity to the Other" dalam Desire in Language, dan
Powers of Horror. Dia menyatakan bahwa semua signifikasi terdiri dari dua
elemen. Elemen semiotika adalah tindakan badaniah yang dilepaskan dalam
proses signifikasi. Semiotika diasosiasikan dengan ritme, nada, dan tindakan yang
menandakan gerakan menandai. Seiring dengan pelepasan mekanisme, hal itu
juga diasosiasikan dengan tubuh ibu, sumber pertama dari ritme, nada, dan
gerakan untuk setiap manusia karena kita semua bertempat di tubuh tersebut.
Simbol elemen dari signifikasi diasosiasikan dengan tata bahasa dan struktur
signifikasi. Elemen simbol adalah hal yang membuat referensi menjadi mungkin.
Sebagai contoh, kata- kata memiliki arti referensi karena simbol struktur dari
bahasa. Sebaliknya, kita dapat mengatakan kalau kata- kata memberikan arti pada
kehidupan (arti tanpa referensi) yang disebabkan oleh isi semiotiknya. Tanpa
simbol, semua signifikasi akan menjadi gumaman atau delirium. Akan tetapi,
tanpa semiotika, semua signifikasi akan menjadi kosong dan tidak penting bagi
kehidupan kita. Intinya, signifikasi memerlukan dua-duanya semiotika dan
simbol; tidak ada signifikasi tanpa kedua unsur tersebut.

Seperti halnya tindakan badaniah yang dinyatakan dalam bentuk


signifikasi, logika signifikasi sudah beroperasi dalam materialitas tubuh. Kristeva
menyarankan kalau operasi identifikasi dan differensiasi yang diperlukan untuk
signifikasi ditandai dalam penyatuan tubuh dan khususnya pengeluaran makanan.
Proses "identifikasi" dan "differensiasi" tubuh ini diatur oleh tubuh ibu sebelum

5
kelahiran dan oleh ibu pada saat anaknya masih bayi. Dia juga mengajukan bahwa
ada aturan ibu atau hukum yang menandakan hukum Ayah, yang menurut
psikoanalis Freudian diperlukan untuk signifikasi. Jadi, aturan atau tata bahasa
dan hukum dari bahasa sudah beroperasi pada tahap tersebut.

Tubuh Ibu

Mengikuti Melanie Klein dan bertolak belakang dengan Freud dan Lacan,
Kristeva mementingkan fungsi ibu dan kepentingannya dalam pengembangan
subjektivitas dan akses pada budaya dan bahasa. Sementara Freud dan Lacan
mempertahankan pendapat mereka bahwa anak memasuki kehidupan sosial
dengan memenuhi fungsi ayah, khususnya ancaman ayah tentang pengebirian,
Kristeva mempertanyakan mengapa, jika motivasi kita untuk memasuki
kehidupan sosial, kenapa kebanyakan dari kita tidak menjadi psikotik? Dia juga
mempertanyakan ide Freudian-Lacanian bahwa ancaman ayah menyebabkan anak
untuk meninggalkan tubuh ibu yang aman dan nyaman. Mengapa meninggalkan
tempat yang seperti surga jika yang akan kau dapatkan nanti adalah ketakutan dan
ancaman? Dia tertarik pada perkembangan awal subjektivitas, yang disebabkan
oleh situasi oedipal Freud dan tahap cermin Lacan.

Kristeva berargumen kalau peraturan ibu adalah hukum sebelum hukum


ayah. Dia menuntut wacana baru tentang keibuan yang mengakui kepentingan
fungsi ibu dalam pengembangan subjektivitas dan dalam budaya. Dia juga
berargumen kalau kita tidak memiliki wacana yang cukup tentang keibuan.
Agama, khususnya Katolik (yang menganggap ibu suci), dan ilmu pengetahuan
(yang mengurangi ibu sebagai alam) adalah satu- satunya wacana tentang ibu
yang tersedia dalam budaya Barat.

Selain itu, Kristeva menyatakan kalau fungsi ibu tidak bisa dikurangi
menjadi ibu, feminin atau wanita. Dengan mengidentifikasi hubungan ibu dengan
anak sebagai fungsi, ia memisahkan fungsi untuk memenuhi kebutuhan anak akan
cinta dan nafsu. Sebagai seorang wanita dan ibu, seorang wanita mencintai dan

6
memiliki nafsu karena ia adalah makhluk sosial dan wicara. Sebagai seorang
wanita dan ibu, dia selalu didiskriminasi. Tetapi, jika dia memenuhi fungsi ibu,
dia tidak didiskriminasi. Analisis Kristeva menyatakan bahwa siapapun bisa
memenuhi fungsi ibu, perempuan atau lelaki.

Dengan memaksakan pendapatnya bahwa tubuh ibu bertindak antara alam


dan budaya, Kristeva mencoba melawan stereotipe yang mengurangi keibuan
menjadi alam. Bahkan jika ibu tidak menjadi subjek atau agen dari kandungannya
dan kelahirannya, dia tidak pernah berhenti untuk menjadi subjek aktif. Bahkan, ia
menggunakan tubuh ibu dengan dua dalam satunya, atau lainnya, sebagai sebuah
model untuk semua hubungan subjek. Seperti tubuh ibu, dia menyebut setiap dari
kita sebagai subjek dalam proses. Sebagai subjek dalam proses, kita selalu
bernegosiasi dengan yang lain, yaitu kembalinya yang direpresi. Seperti tubuh
ibu, kita tidak pernah benar- benar menjadi subjek dari pengalaman kita sendiri.
Beberapa feminis telah menemukan ide Kristeva subjek dalam feminis sebagai
alternatif yang dapat digunakan daripada ide tradisional tentang subjek terpadu
yang otonom (maskulin).

Penolakan dan Sexisme

Kristeva mengembangkan sebuah ide tentang penolakan yang sangat


berguna untuk mendiagnosa dinamika penindasan. Dia menggambarkan
penolakan sebagai sebuah tindakan psikis yang mana identitas grup dan subjek
dibentuk dengan cara mengesampingkan apapun yang mengancam batasan
seseorang. Ancaman utama pada subjek baru adalah ketergantungannya pada
tubuh ibu. Oleh karena itu, penolakan pada dasarnya berkaitan dengan fungsi ibu.
Dia juga mengklaim bahwa pembunuhan ibu adalah kepentingan kita karena
untuk menjadi subjek (dalam budaya patriarkal) kita harus menolak tubuh ibu.
Akan tetapi, karena wanita tidak bisa menolak tubuh ibu yang mengidentifikasi
mereka sebagai perempuan, mereka mengembangkan seksualitas yang terdepresi.
Oleh karena itu, kita memerlukan tidak hanya wacana baru tentang keibuan tetapi
juga wacana tentang hubungan antara ibu dan anak perempuan, sebuah wacana

7
yang tidak melarang cinta lesbian antara perempuan yang mana subjektivitas
perempuan dilahirkan.

Kristeva menyarankan kalau penolakan yang salah adalah salah satu sebab
dari penindasan perempuan. Dalam budaya patriarkal, perempuan telah dikurangi
menjadi fungsi ibu; atau dengan kata lain, perempuan telah dikurangi menjadi
fungsi reproduksi. Jadi, jika diperlukan untuk menolak fungsi ibu untuk menjadi
seorang subjek, dan perempuan, keibuan dan femininitas semuanya telah
direduksi menjadi fungsi ibu, maka dalam patriarkal, ibu, keibuan, dan femininitas
semuanya ditolak bersamaan dengan fungsi ibu. Penolakan yang salah tempat ini
adalah salah satu cara penindasan dan penurunan harkat perempuan dalam budaya
patriarkal.

IV. Kesimpulan

Julia Kristeva adalah salah seorang tokoh feminis Perancis yang juga
dianggap sebagai tokoh feminis posmodern. Sebagai seorang filosof, kritikus
satra, ahli psikoanalis, sosiologis, feminis dan juga novelis, ia telah menghasilkan
banyak tulisan yang digunakan untuk memperluas dan mengembangkan berbagai
macam diskusi dan debat tentang teori dan kritik feminis. Tiga pemikiran Kristeva
yang dianggap penting oleh teori feminis adalah sebagai berikut: Usaha Kristeva
untuk memasukkan kembali tubuh ke dalam wacana ilmu kemanusiaan; Fokus
Kristeva pada pentingnya maternal dan preoedipal dalam pembentukan
subjektivitas; dan ide Kristeva tentang penolakan sebagai sebuah penjelasan untuk
penindasan dan diskriminasi.

8
Daftar Pustaka

Agger, ben. 2003. Teori Sosial Kritis, Kritik, Penerapan dan Implikasinya.
Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Cavallaro, dani. 2004. Teori Kritis dan Teori Budaya. Yogyakarta: Niagara.

Lechte, john. 2001. 50 Filsuf Kontemporer Dari Strukturalisme Sampai


Postmodernitas. Yogyakarta: Kanisius.

Nietzsche. 2008. Zarathustra. Yogyakarta: Quills Book Publisher.

Piliang, yasraf amir. 2003. Hipersemiotika Tafsir Cultural Studies Atas Matinya
Makna. Yogyakarta: Jalasutra.

Yusuf, akhyar. 2009. Pengetahuan Ilmiah Dan Pengetahuan Naratif Pada


Posmodernisme Francois Lyotard. Depok: Universitas Indonesia.

Zarate, oscar dan Rupert Woodfin. 2008. Marxisme Untuk Pemula. Yogyakarta:
Resist Book.