Anda di halaman 1dari 53

BAB II

SEJARAH DAN PENGEMBANGAN PASAR MODAL INDONESIA

A. Sejarah Pasar Modal Indonesia


Dalam pembangunan ekonomi nasional suatu negara, diperlukan
pembiayaan baik dari pemerintah maupun dari masyarakat. Kebutuhan
pembiayaan pembangunan di masa mendatang akan semakin besar.
Kebutuhan ini tidak akan dapat dibiayai oleh pemerintah saja melalui
penerimaan pajak dan penerimaan lainnya.

27

Kadang kala pemenuhan

kebutuhan ini dapat diperoleh dari bantuan luar negeri. Seperti halnya
negara-negara berkembang lainnya, Indonesia sering kali memperoleh
pinjaman luar negeri untuk mendukung pembangunan nasional. Namun
bagi pemerintah pinjaman luar negeri bukan merupakan cara yang
strategis untuk pembangunan, potensi dana masyarakat Indonesia harus
bisa dioptimalkan untuk digunakan. Untuk itu, dibentuk pasar modal yang
dimaksudkan sebagai wahana untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan
pembangunan. Fungsi strategis dan penting pasar modal membuat
pemerintah amat berkepentingan atas perkembangan dan kemajuan pasar
modal, karena berpotensi untuk penghimpunan dana secara masif,

27

Jusuf Anwar, Pasar Modal Sebagai Sarana Pembiayaan dan Investasi, cet 2
(Bandung: Alumni Bandung, 2007), Hal. 1.

Universitas Sumatera Utara

sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperbesar volume kegiatan


pembangunan. 28
Dalam era globalisasi, setiap negara harus tunduk pada peraturan
ekonomi regional dan organisasi ekonomi dunia serta tidak bebas lagi
atau terlarang menentukan aturan main yang bertentangan atau yang tidak
sesuai dengan aturan internasioanl

yang telah disepakati. Misalnya,

dengan WTO, suatu negara terikat oleh hukum internasional dan tidak
mungkin lagi membuat perundangan sendiri yang bertentangan dengan
hukum internasional walaupun untuk tujuan yang baik, yaitu mengatur
kepentingan negara sendiri oleh karena hal tersebut merupakan
pelanggaran terhadap hukum internasional yang akan menghapai
hukuman internasional yang serius. Alasan seperti inilah yang mendorong
setiap negara akan berusaha melakukan efisiensi atau menghilangkan
ekonomi biaya tinggi agar dapat bersaing ataupun melakukan merger,
konsolidasi, akuisisi, aliansi, dan kerajsama bilateral antarperusahaan
dalam bentuk apa pun agar dapat menang dalam persaingan. Salah satu
cara untuk menekan biaya tinggi adalah menggiring perusahaan swasta
masuk ke pasar modal agar struktur modal perusahaan menjadi lebih baik,
lebih efisien, dan lebih terkendali oleh masyrakat, serta privatisasi Badan
Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menghapuskan beban berat yang
ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),
karena kebanyakan BUMN menderita kerugian yang disebabkan oleh
28

M. Irsan Nasrudin, dkk., Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia, cet 5


(Jakarta: Kencana, 2008), Hal. 1.

Universitas Sumatera Utara

salah urus. 29 Pada hakikatnya, yang dimaksud dengan struktur


permodalan adalah pencerminan dari perimbangan antara hutang jangka
panjang dan modal sendiri dari suatu perusahaan. 30
Untuk dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan globalisasi
ekonomi dan pembangunan nasional secara bersamaan, pasar modal
sebagai salah satu alternatif pembiayaan pembangunan, harus dapat
memfasilitasi perkembangan ekonomi pasar. 31 Sistem ekonomi pasar di
Indonesia dianggap hanya memakmurkan sebagian kecil golongan
masyarakat. Di banyak negara tetangga, sistem ekonomi pasar berhasil
memakmurkan sebagian besar rakyatnya, sehingga banyak negara yang
sebelumnya beralih ke sistem ekonomi pasar sejak tahun 1988. 32 Negara
yang menganut paham sosialis pun, seperti RRC, dalam kehidupan
perekonomiannya sudah mengarah kepada praktik yang umum terdapat di
negara kapitalis. 33 Hal ini berarti kegagalan di Indonesia dapat
disebabkan oleh unsur manusianya yang tidak beres, pengelolaan negara
yang salah urus, atau subsistem ekonomi yang tidak komplit, dan bukan
kesalahan sistem ekonomi pasar itu sendiri. Mengingat pentingnya pasar
modal bagi pembangunan nasional, pemerintah hendaknya melalui
Bapepam mengatur pasar modal Indonesia dengan baik sehingga dapat
bermanfaat bagi kehidupan bangsa dan negara.

29

Mohammad Samsul, op. cit., Hal. 3


Jusuf Anwar, op.cit., Hal. 3.
31
Ibid, Hal. 2.
32
Mohammad Samsul, op.cit., Hal. 4.
33
Jusuf Anwar, op.cit. Hal. 3.
30

Universitas Sumatera Utara

Sejarah perkembangan pasar modal di Indonesia dapat dibagi


dalam beberapa periode. Pembagian tersebut dimaksudkan karena ada
hal-hal khusus yang terjadi dalam periode perkembangannya baik dilihat
dai sisi peraturan maupun dari sisi ekonomi, bahkan juga dari sisi politik
dan keamanan. Adapun periode yang dimaksud adalah sebagai berikut :34
1. Periode Permulaan

(1878-1912)

2. Periode Pembentukan Bursa

(1912-1925)

3. Periode Awal Kemerdekaan

(1925-1952)

4. Periode Kebangkitan

(1952-1977)

5. Periode Pengaktifan Kembali

(1977-1987)

6. Periode Deregulasi

(1987-1995)

7. Periode Kepastian Hukum

(1995-sekarang)

8. Periode Menyonsong Independensi Bapepam


Untuk lebih jelas perkembangan dinamika pasar modal Indonesia
akan ditinjau pada masing-masing periode :

35

1. Periode Permulaan (1878-1992)


Di Indonesia, kegiatan transaksi saham dan obligasi dimulai pada
abad ke -19. Menurut buku Effectengids yang dikeluarkan Vereniging
voor den Effectenhandel pada tahun 1939, transaksi efek telah
berlangsung sejak 1880. Berhubung bursa belum dikenal, maka

34
35

M . Irsan Nasrudin, dkk., op.cit., Hal. 62.


Ibid, Hal, 62.

Universitas Sumatera Utara

perdagangan saham dan obligasi dilakukan tanpa organisasi resmi


sehingga catatan resmi tentang transaksi tersebut tidak lengkap. 36
Menurut perkiraan, bahwa yang diperjualbelikan waktu itu adalah
saham atau obligasi yang listing di bursa Amsterdam yang dimiliki oleh
investor yang ada di Batavia, Surabaya, dan Semarang. 37 Dengan
demikian, karena belum ada bursa resmi, dapat dikatakan bahwa periode
ini adalah periode permulaan sejarah pasar modal Indonesia. 38
2. Periode Pembentukan Bursa (1912-1925)
Perkembangan transaksi efek semakin meningkat, tetapi bursa
yang resmi belum ada. Akhirnya, pada tanggal 14 Desember 1912,
Amserdamse Effectenbueurs mendirikan cabang bursa di Batavia. Bursa
ini merupakan bursa tertua keempat di Asia, setelah Bombay, Hongkong
dan Tokyo. Bursa yang dinamakan Vereniging voor de Effectenhandel,
memperjualbelikan saham dan obligasi perusahaan/perkebunan Belanda
yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang diterbitkan pemerintah
(propinsi dan kotapraja), sertifikat

saham perusahaan-perusahaan

Amerika yang diterbitkan oleh kantor administrasi di negeri Belanda serta


efek perusahaan Belanda lainnya. 39 Pada saat awal terdapat 13 anggota
bursa yang aktif (makelar) yaitu : Fa. Dunlop & Kolf; Fa. Gijselman &
Steup; Fa. Monod & Co.; Fa. Adree Witansi & Co.; Fa. A.W. Deeleman;
36

Winarto, Jaso, ed., Pasar Modal Indonesia : Retrospeksi Lima Tahun


Swastanisasi BEJ, (Jakarta: Sinar Harapan, 1997), Hal. 4.
37
Ibid, Hal. 5.
38
M . Irsan Nasrudin, dkk., op.cit., Hal 63.
39
http://www.kabarindonesia.com/berita/Perkembangan Pasar Modal
Indonesia.htm., diakses tanggal 2 September 2010

Universitas Sumatera Utara

Fa. H. Jul Joostensz; Fa. Jeannette Walen; Fa. Wiekert & V.D. Linden;
Fa. Walbrink & Co; Wieckert & V.D. Linden; Fa. Vermeys & Co; Fa.
Cruyff dan Fa. Gebroeders. 40 Setelah berdirinya Bursa Efek Batavia,
maka periode ini pada tanggal 11 Januari 1925 terbentuk Bursa Efek
Surabaya. Pada tanggal 1 Agustus 1925 terbentuk Bursa Efek
Semarang. 41
3. Periode Awal Kemerdekaan (1925-1952)
Perkembangan perdagangan efek pada periode ini berlangsung
marak, namun tidak bertahan lama karena dihadapkan pada resesi
ekonomi pada tahun 1929 dan pecahnya Perang Dunia II (PD II). Pada
saat PD II, bursa efek di negeri Belanda tidak aktif karena sebagian
saham-saham milik orang Belanda dirampas oleh Jerman. Hal ini sangat
berpengaruh terhadap bursa efek di Indonesia. Keadaaan makin
memburuk dan tidak memungkinkan lagi Bursa Efek Jakarta untuk
beroperasi, sehingga pada tanggal 10 Mei 1940, Bursa Efek Jakarta resmi
ditutup. Bursa Efek Surabaya dan Semarang telah lebih dulu ditutup. 42
Setelah tujuh bulan ditutup, pada tanggal 23 Desember 1940
Bursa Efek Jakarta kembali diaktifkan, karena selama PD II Bursa Efek
Paris tetap berjalan, demikian pula halnya dengan Bursa Efek London
yang hanya ditutup beberapa hari saja. Akan tetapi, aktifnya Bursa Efek

40

http://www.bapepam.go.id/old/profil/sejarah.htm., diakses tanggal 2


September 2010
41
M . Irsan Nasrudin, dkk., op.cit., Hal 64.
42
Ibid, Hal. 65.

Universitas Sumatera Utara

Jakarta tidak berlangsung lama, karena Jepang masuk ke Indonesia pada


tahun 1942, Bursa Efek Jakarta kembali ditutup.43
Pada tanggal 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia dikumandangkan ke seluruh pelosok negeri, tetapi keadaan
ekonomi begitu buruk. Republik Indonesia yang baru merdeka berada
dalam kondisi keuangan yang amat memprihatinkan, sementara di sisi
lain, operasionalisasi pemerintahan tidak dapat ditunda. Kesulitan itu
masih ditambah dengan persoalan moneter. Di tengah-tengah masyarakat
beredar tiga jenis mata uang yaitu, mata uang Republik, mata uang
penjajahan Belanda, dan mata uang pendudukan Jepang. 44 Supaya roda
pemerintahan dapat berjalan, pemerintah RI meminta persetujuan Badan
Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) untuk melakukan
pencarian pinjaman nasional. Dengan Undang-Undang No. 4 Tahun
1946, pinjaman dari masyarakat mulai dihimpun. 45
Berdasarkan alasan itu, pada tahun 1947 pemerintah berencana
untuk membuka kembali Bursa Efek Jakarta. Akan tetapi, rencana ini
tertunda karena terhambat oleh situasi ekonomi yang memburuk. Sejak
penyerahan kedaulatan kepada pemerintah RI oleh pemerintah Belanda
pada tahun 1949, beban utang luar negeri dan dalam negeri kian
membengkak sehingga menyebabkan defisit yang sangat besar. 46
Keadaan tersebut membuat pemerintah Indonesia memprioritaskan

43

Ibid.
Winarto, op.cit., Hal. 11.
45
M . Irsan Nasrudin, dkk., op.cit., Hal 66.
46
Winarto, op.cit., Hal. 12.
44

Universitas Sumatera Utara

pembukaan kembali Bursa Efek Jakarta dalam program kerjanya, agar


masyarakat tidak dirugikan. Untuk menunjang maksud itu, pemerintah
Indonesia mengeluarkan Undang-Undang Darurat No 13. Tahun 1953
yang kemudian ditetapkan menjadi Undang-Undang No. 15 Tahun 1952
yang mengatur tentang Bursa Efek. Selanjutnya, berdasarkan Keputusan
Menteri Keuangan No. 289737/UU tanggal 1 November 1951
penyelenggaraan bursa diserahkan kepada Perserikatan Uang dan Efekefek (PPUE). Bank Indonesia (BI) ditunjuk sebagai penasihat dan
selanjutnya dipilih pengurus. 47
4. Periode Kebangkitan (1952-1976)
Tanggal 3 Juni 1952 seperti yang telah diputuskan oleh rapat
umum PPUE, Bursa Efek Jakarta kembali dibuka secara resmi oleh
Menteri Keuangan, Sumitro Djojohadikusumo. 48 Selanjutnya, pada
tanggal 26 September 1952 merupakan salah satu tonggak sejarah pasar
modal Indonesia, ditandai dengan dikeluarkannya Undang-Undang
Darurat yang kemudian ditetapkan menjadi Undang-Undang Bursa. 49
Memasuki tahun 1958 keadaan perdagangan efek menjadi lesu karena
beberapa hal :

50

1. Banyaknya warga Belanda yang meninggalkan Indonesia.

47

M . Irsan Nasrudin, dkk., op.cit., Hal 66-67.


Ibid, Hal. 67
49
Ibid, Hal. 68
50
Marzuki Usman, et.al., ABC Pasar Modal Indonesia, (Jakarta: LPPI/ IBI,
1994), Hal. 187.
48

Universitas Sumatera Utara

2. Adanya nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda oleh pemerintah


RI sesuai dengan Undang-Undang No. 86 Tahun 1958 tentang
Nasionalisasi.
3. Tahun 1960 Badan Nasionalisasi Persuahaan Belanda (BANAS)
melakukan larangan memperdagangkan efek-efek yang diterbitkan
oleh perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia termasuk
efek-efek dengan nilai mata uang Belanda (Nf).
Kemudian kondisi ini diperparah dengan adanya sengketa Irian
Barat dengan Belanda (1962) dan tingginya inflasi menjelang akhir
pemerintahan Orde Lama (1966) yang mencapai 650%. Keadaan itu
mengguncangkan sendi perekonomian dan kepercayaan masyarakat
menjadi berkurang terhadap pasar modal. Akibatnya, Bursa Efek Jakarta
ditutup dengan sendirinya. Kondisi ini berlangsung sampai tahun 1977. 51
5. Periode Pengaktifan Kembali (1977-1987)
Pasar modal tidak menjalankan aktivitasnya sampai tahun 1977.
Penutupan pasar modal Indonesia tersebut tidak lepas dari orientasi
politik pemerintah Orde Lama yang menolak modal asing dalam
kebijakan

nasionalisasi.

Setelah

pemerintahan

berganti

kepada

Pemerintahan Orde Baru, kebijakan politik dan ekonomi Indonesia tidak


lagi konfrontatif dengan dunia Barat. Pemerintahan Orde Baru segera
mencanangkan

pembangunan ekonomi secara sistematis dengan pola

target lima tahunan. Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Barat


51

M . Irsan Nasrudin, dkk., op.cit., Hal 68.

Universitas Sumatera Utara

untuk

membangun. Pertumbuhan mulai,

perekonomian bergerak.

Pemerintah pun berencana mengaktifkan kembali pasar modal.

52

Dengan surat keputusan direksi BI No. 4/16 Kep-Dir tanggal 26


Juli 1968, di BI di bentuk tim persiapan (PU) Pasar Uang dan (PM) Pasar
Modal. Hasil penelitian tim menyatakan bahwa benih dari pasar modal di
Indonesia sebenarnya sudah ditanam pemerintah sejak tahun 1952, tetapi
karena situasi politik dan masyarakat masih awam tentang pasar modal,
maka pertumbuhan Bursa Efek di Indonesia sejak tahun 1958 s/d 1976
mengalami kemunduran. Setelah tim menyelesaikan tugasnya dengan
baik,

maka

dengan

surat

keputusan

Kep-Menkeu

No.

Kep-

25/MK/IV/1/72 tanggal 13 Januari 1972 tim dibubarkan, dan pada tahun


1976 dibentuk Bapepam (Badan Pembina Pasar Modal) dan PT
Danareksa. Bapepam bertugas membantu Menteri Keuangan yang
diketuai oleh Gubernur Bank Sentral. Dengan terbentuknya Bapepam,
maka terlihat kesungguhan dan intensitas untuk membentuk kembali
pasar uang dan pasar modal. Selain sebagai pembantu Menteri Keuangan,
Bapepam juga menjalankan fungsi ganda yaitu sebagai pengawas dan
pengelola bursa efek. 53Akhirnya, pada tanggal 10 Agustus 1977, Presiden
Soeharto meresmikan pasar modal di zaman Orde Baru. 54

52
53

Ibid., Hal. 68-69


http://www.bapepam.go.id/old/profil/sejarah_orba.htm., diakses tanggal 5 September

2010
54

Ibid, Hal 70.

Universitas Sumatera Utara

Namun demikian, pengaktifan kembali pasar modal, tidak


menyebabkan kegiatan di bidang pasar modal menjadi marak. Yang
terjadi, justru munculnya sejumlah kendala di dalam kegiatan di bidang
pasar modal. Perjalanan pasar modal Indonesia ternyata masih
menentukan waktu dan proses yang cukup panjang untuk mencapai pasar
modal yang maju dan modern. Berdasarkan catatan paling tidak ada lima
persyaratan yang menghambat minat para pemilik perusahaan untuk
masuk ke pasar modal, yaitu : 55
1. Persyaratan laba minimum sebesar 10 % dari modal sendiri bagi
perusahaan yang ingin go public. Keuntungan itu harus diperoleh
perusahaan selama dua tahun sebelum melakukan penawaran umum
kepada

masyarakat.

Tentunya,

persyaratan

ini

memberatkan

perusahaan yang ingin go public.


2. Investor asing tidak mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi
dalam pemilikan saham perusahaan yang ditawarkan di pasar modal
Indonesia. Padahal, kalau melihat kondisi bangsa Indonesia yang saat
itu berpendapatan pada kisaran US$ 1,000 per kapita, potensi investor
asing lebih besar. Akibatnya, jumlah investor tidak berkembang dan
volume serta nilai transaksi boleh dikatakan tidak beranjak maju.
3. Adanya batasan maksimum fluktuasi harga saham sebesar 4 % dari
harga awal saham dalam setiap hari perdagangan di bursa. Batasan ini
menjadikan pasar modal kita kurang menarik. Padahal kalau kita
55

I Putu Gede Ary Suta, Menuju Pasar Modal Modern, (Jakarta: Yayasan Sad
Satria Bakti, 2000). Hal. 7.

Universitas Sumatera Utara

cermati bursa-bursa di dunia, dinamikanya begitu tajam dan cepat.


Dengan demikian, harga saham yang terbentuk bukan karena
mekanisme pasar, karena ada batas pagu (plafond) fluktuasi harga
saham.
4. Tidak adanya perlakuan yang sama untuk pajak atas penghasilan dari
bunga deposito dan dividen. Akibatnya, menanamkan uang dalam
bentuk deposito jauh lebih menarik ketimbang berinvestasi di pasar
modal.
5. Belum dibukanya kesempatan bagi perusahaan untuk mencatatkan
seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh di bursa.
6. Periode Deregulasi (1987-1995)
Hambatan-hambatan yang merintangi perkembangan pasar modal
telah disadari pemerintah. Pemerintah melakukan perombakan peraturan
yang nyata-nyata menghambat minat perusahaan untuk masuk pasar
modal dan investor untuk melakukan investasi pada pasar modal
Indonesia. 56 Untuk mengatasi masalah itu pemerintah mengeluarkan
berbagai deregulasi yang berkaitan dengan perkembangan pasar modal,
yaitu : 57
1. Paket Kebijaksanaan Desember 1987 (Pakdes 1987)
Pakdes 1987 merupakan penyederhanaan persyaratan proses emisi
saham dan obligasi, dihapuskannya biaya yang sebelumnya dipungut

56

M . Irsan Nasrudin, dkk., op.cit., Hal 71.


http://www.bapepam.go.id/old/profil/sejarah_orba.htm, diakses tanggal 8
September 2010
57

Universitas Sumatera Utara

oleh Bapepam, seperti biaya pendaftaran emisi efek. Selain itu dibuka
pula kesempatan bagi pemodal asing untuk membeli efek maksimal
49% dari total emisi. Pakdes 87 juga menghapus batasan fluktuasi
harga saham di bursa efek dan memperkenalkan bursa paralel. Sebagai
pilihan bagi emiten yang belum memenuhi syarat untuk memasuki
bursa efek.
2. Paket Kebijaksanaan Oktober 1988 (Pakto 88)
Pakto 88 ditujukan pada sektor perbankan, namun mempunyai dampak
terhadap perkembangan pasar modal. Pakto 88 berisikan tentang
ketentuan 3 L (Legal, Lending, Limit), dan pengenaan pajak atas
bunga

deposito.

Pengenaan pajak ini berdampak positif terhadap perkembangan pasar


modal. Sebab dengan keluarnya kebijaksanaan ini berarti pemerintah
memberi perlakuan yang sama antara sektor perbankan dan sektor
pasar modal.

3. Paket Kebijaksanaan Desember 1988 (Pakdes 88)


Pakdes 88 pada dasarnya memberikan dorongan yang lebih jauh pada
pasar

modal

dengan

membuka

peluang

bagi

swasta

untuk

menyelenggarakan bursa.

Universitas Sumatera Utara

Deregulasi pada intinya adalah melakukan penyederhanaan dan


merangsang minat perusahaan untuk masuk ke bursa serta menyediakan
kemudahan-kemudahan bagi investor. 58
Jika selama masa 1984-1988 tidak satu pun perusahaan yang go
public, tahun 1999 sejak deregulasi dilancarkan, pasar modal Indonesia
benar-benar booming. Selama tahun 1989 terdapat 37 perusahaan go
public dan sahamnya tercatat (listed) di BEJ. Sedemikian banyaknya
perusahaan-perusahaan yang mencari dana lewat pasar modal, sehingga
pada masa itu masyarakat luas pun berduyun-duyun untuk menjadi
investor. Pasar modal mengalami kemajuan yang pesat. Perkembangan
yang menggembirakan ini terus berlanjut dengan swastanisasi bursa. 59
1. 16 Juni 1989, berdiri PT Bursa Efek Surabaya (BES).
2. 2 April 1991, berdiri Bursa Paralel Indonesia (BPI).
3. 13 Juli 1992, berdiri PT Bursa Efek Jakarta (BEJ), yang
menggantikan peran Bapepam sebagai pelaksana bursa.
4. 22 Juli 1995, penggabungan Bursa Paralel dengan PT BES.

7. Periode Kepastian Hukum (1995-sekarang)


Dampak postitif dari kebijakan deregulasi telah menebalkan
kepercayaan investor dan perusahaan terhadap pasar modal Indonesia.
Puncak kepercayaan itu ditandai dengan lahirnya Undang-Undang No. 8
Tahun 1995 tentang Pasar Modal yang berlaku efektif sejak tanggal 1
58
59

M . Irsan Nasrudin, dkk., op.cit., Hal 71.


Ibid., Hal. 73.

Universitas Sumatera Utara

Januari 1996. Undang-undang ini dapat dikatakan sebagai undang-undang


yang cukup komprehensif, karena mengacu pada aturan-aturan yang
berlaku secara internasional. 60
Undang-undang ini dilengkapi dengan PP No. 45 Tahun 1995 tentang
Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal dan PP No. 46 Tahun
1995 tentang Tata Cara Pemeriksaan di Bidang Pasar Modal. Kemudian
ada beberapa keputusan menteri dan seperangkat peraturan yang
dikeluarkan oleh Bapepam yang jumlahnya lebih dari 150 buah
peraturan.61
Salah satu hal yang perlu dicermati dalam Undang-Undang Pasar
Modal adalah diberikannya kewenangan yang cukup besar dan luas
kepada Bapepam selaku badan pengawas. Undang-undang ini dengan
tegas mengamanatkan kepada Bapepam untuk melakukan penyelidikan,
pemeriksaan, dan penyidikan terhadap kejahatan yang terjadi di bidang
pasar

modal. Selain

itu, Bapepam merupakan Self Regulation

Organization (SRO) yang menjadikan Bapepam mudah untuk bergerak


dan menegakkan hukum, sehingga menjamin kepastian hukum. 62
8. Periode Menyongsong Independensi Bapepam
Menurut UUPM, Bapepam bertugas untuk mencipatakan pasar
modal yang teratur, wajar, dan efisien, serta melindungi kepentingan
pemodal dan masyarakat. Bapepam mempunyai 17 kewenangan yang

60

Ibid.
Ibid.
62
Ibid, Hal. 73-74.
61

Universitas Sumatera Utara

diberikan UUPM yang secara sederhana dikategorikan ke dalam tiga


macam, yaitu kewenangan untuk melakukan pembinaan, pengaturan, dan
pengawasan. Untuk mengekefktifkan independensi Bapepam menjadi
suatu hal yang amat penting untuk menegakkan hukum secara konsisten,
imparsial, dan adil. Posisi struktural Bapepam sebagai badan yang berada
di bawah Departemen Keuangan menjadi titik perhatian. 63
Saat ini posisi struktural Bapepam membuka peluang pihak-pihak
lain untuk melakukan intervensi demi kepentingan lain di luar soal
penegakan hukum yang konsisten, tegas, adil dan imparsial. 64 Dengan
demikian kinerja dan wibawa Bapepam akan lebih terjaga lagi. Persiapan
menuju independensi Bapepam harus segera dilaksanakan, karena dasar
hukum untuk mengimplementasikannya sudah ada, yaitu : 65
a. Amanat GBHN (1999-2004) Bab IV huruf b angka 8.
Mengembangkan pasar modal yang sehat, transparan, efisien, dan
meningkatkan penerapan peraturan perundang-undangan yang sesuai
dengan standar internasional yang diawasi oleh lembaga independen.
b. UU Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia Penjelasan Pasal
34.
Lembaga pengawasan jasa keuangan yang akan dibentuk melakukan
pengawasan terhadap bank dan perusahaan-perusahaan sektor jasa
keuangan lainnya, yaitu asuransi, dana pensiun, sekuritas, perusahaan
pembiayaan,

dan

badan-badan

lain

yang

menyelenggarakan

63

Ibid, Hal. 74-75.


Ibid, Hal. 75.
65
Ibid, Hal. 75-76
64

Universitas Sumatera Utara

pengelolaan dana masyarakat. Lembaga ini bersifat independen dalam


menjalankan tugasnya, kedudukannya berada di luar kendali
pemerintah serta berkewajiban menyampaikan laporan kepada BPK
dan DPR.
c. Amandemen UU Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia telah
diselesaikan oleh Panitia Khusus DPR RI. Hasil amandemen tersebut
menyatakan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus sudah
terbentuk selambat-lambatnya pada tanggal 31 Desember 2010.
Perkembangan terbaru berkaitan dengan independensi Bapepam
yaitu mengenai pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) seperti yang
tersebut dalam poin huruf c di atas. UU No. 23 Tahun 1999 dan kemudian
disempurnakan melalui UU No. 3 Tahun 2004 yang mengamanatkan
fungsi pengawasan perbankan dan keuangan lainnya akan dialihkan ke
Lembaga Pengawas Jasa Keuangan (LPJK) independen atau sering
disebut dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sesuai dengan UU Nomor
3 Tahun 2004, OJK harus terbentuk selambat-lambatnya 31 Desember
2010 sebagai lembaga independen yang mengawasi lembaga keuangan,
baik bank maupun bukan bank, seperti perusahaan sekuritas, anjak
piutang, sewa guna usaha, modal ventura, perusahaan pembiayaan, reksa
dana, asuransi, dan dana pensiun serta lembaga lain yang berkegiatan
mengumpulkan dana masyarakat. 66

66

http://adpi.or.id/news/Otoritas-jasa-keuangan, diakses tanggal 12 September

2010

Universitas Sumatera Utara

Salah satu embrio OJK adalah Badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) yang sekarang masih di bawah
Kementerian Keuangan. Dengan adanya OJK maka Bapepam-LK akan
lepas dari Kementerian Keuangan. Ide pembentukan OJK berasal dari
pengalaman Indonesia dalam menghadapi krisis keuangan. Alhasil,
setelah munculnya krisis keuangan global dan ditambah dengan isu panas
Bank Century maka pembentukan OJK semakin ramai dibicarakan.
Bahkan UU No 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia mengamanatkan
bahwa sebelum 31 Desember 2010, OJK sudah harus terbentuk. 67 Oleh
karena OJK merupakan hal yang baru dan berkembang dalam pasar
modal Indonesia maka pembahasan mengenai OJK ini akan dibahas pada
bagian selanjutnya yaitu Bab II bagian b mengenai Pengembangan Pasar
Modal Indonesia.

B. Pengembangan Pasar Modal Indonesia


1. Pasar Modal Syariah
Perkembangan pasar modal di negara-negara maju, termasuk di
negara-negara muslim sekalipun, kiranya menarik untuk dicermati lebih
lanjut. Hal demikian menjadi keharusan, selain terkait dengan semakin
membesarnya peran pasar modal di dalam memobilisasi dana ke sektor
riil,

juga

disebabkan

adanya

tuntutan

bahwa

sekuritas

yang

67

http://shiningsiko.multiply.com/journal/item/5/Dilema_Terlupakan_dari_Pem
bentukan_Otoritas_Jasa_Keuangan, diakses tanggal 14 September 2010

Universitas Sumatera Utara

diperdagangkan harus selaras dengan syariat Islam. 68 Hal demikian


sependapat dengan hipotesa Fauzi bahwa masyarakat yang semakin
terdidik akan semakin tidak suka menanamkan dana mereka di bank
komersial karena bank komersial memberikan return yang relatif kecil,
meskipun risikonya juga relatif kecil. Tetapi, justru di situlah masalahnya,
masyarakat yang semakin paham akan pasar keuangan, semakin mengerti
akan penilaian dan pengendalian risiko investasi, serta akan semakin
berani memasuki area yang akan lebih beresiko. 69
Dalam konteks investasi syariah di pasar modal, pemahaman akan
pengendalian risiko dan return saja tidak cukup, hal lain yang tak kalah
penting untuk dipahami adalah pengenalan akan sekuritas-sekuritas mana
yang selaras dengan syariah Islam. 70 Pada industri pasar modal, prinsip
syariah telah diterapkan pada instrumen obligasi, saham dan fund (reksa
dana). Adapun negara yang pertama kali mengintrodusir untuk
menginmplementasikan prinsip syariah di sektor pasar modal adalah
Jordan dan Pakistan, dan kedua negara tersebut telah menyusun dasar
hukum penerbitan obligasi syariah. Selanjutnya, pada tahun 1978,
pemerintah Jordan telah mengizinkan Jordan Islamic Bank untuk
menerbitkan muqaradah bond act pada tahun 1981. Sementara

68

Adrian Sutedi, op. cit., Hal. 60.


Iggie H. Achsien, Investasi Syariah di Pasar Modal : Menggagas Konsep
dan Praktik Manajemen Portofolio Syariah, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,
2003), Hal. 15.
70
Adrian Sutedi, op.cit., Hal.60.
69

Universitas Sumatera Utara

pemerintah Pakistan, baru pada tahun 1980 menerbitkan The Madarabas


Company dan Madarabas Ordinance. 71
Obligasi syariah di dunia internasional dikenal dengan istilah
sukuk. Sukuk berasal dari bahasa Arab sak (tunggal) dan sukuk
(jamak), yang memiliki arti mirip dengan sertifikat atau note. Dalam
pemahaman praktisnya, sukuk merupakan bukti (claim) kepemilikan.
Sebuah sukuk mewakili kepentingan, baik penuh maupun proporsional
dalam sebuah atau sekumpulan aset.72
Berbeda dengan konsep obligasi konvensional selama ini, yakni
obligasi yang bersifat utang dengan kewajiban membayar berdasarkan
bunga, obligasi syariah adalah surat berharga jangka panjang berdasarkan
prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi
syariah berupa bagi hasil/ margin/ fee serta membayar kembali dana
obligasi pada saat jatuh tempo. 73
Untuk

investor muslim, Achsien berpendapat, investasi pada

saham (equity investment) memang sudah semestinya menjadi preferensi


untuk menggantikan investasi pada interest yielding bonds atau sertifikat
deposito, walaupun jika kemudian dinyatakan dalam fikih klasik bahwa
ekuitas, dalam hal ini saham tidak bisa dipersamakan dengan instrumen
keuangan

Islam,

seperti

kontrak

mudharabah.

Saham

dapat

diperdagangkan kapan saja di pasar sekunder, tanpa memerlukan

71

Ibid, Hal. 58.


Cecep Makanul Hakim, Obligasi Syariah di Indonesia : Kendala dan Prospek, dikutip
dari Adrian Sutedi, Segi-Segi Hukum Pasar Modal , (Jakarta:Ghalia Indonesia, 2009), Hal. 58.
73
Adrian Sutedi, op.cit., Hal.58.
72

Universitas Sumatera Utara

persetujuan dari perusahaan yang mengeluarkan saham, sementara


mudharabah ditetapkan berdasarkan persetujuan rab al mal (investor) dan
perusahaan sebagai mudharib untuk suatu periode tertentu. Karena
batasan periode kontrak yang mengikat tersebut, yang kemudian
menjadikan mudharabah sering kali dianggap tidak likuid. Sementara
saham, memungkinkan untuk dijual kapan saja sehingga sudah pasti lebih
likuid dan lebih atraktif, meskipun kemudian terjadi modifikasi untuk
membuat kontrak keuangan Islam menjadi likuid 74.
Tidak semua saham yang terdaftar di pasar modal memenuhi
prinsip-prinsip syariah. Untuk itulah, Bursa Efek Jakarta yang saat ini
namanya Bursa Efek Indonesia (BEI) bekerja sama dengan Danareksa
Investment Management mengembangkan suatu indeks untuk me-listing
saham-saham mana saja yang layak dianggap memenuhi prinsip-prinsip
syariah, indeks ini disebut juga Jakarta Islamic Index (JII). Saham-saham
yang masuk dalam indeks ini adalah saham yang kegiatan emitennya
tidak bertentangan dengan syariah, misalnya: 75
1. usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan
terlarang;
2. usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan
dan asuransi konvensional;
3. usaha yang memproduksi, mendistribusi serta memperdagangkan
makanan dan minuman yang tergolong haram;
74
75

Ibid, Hal. 59.


Ibid, Hal. 60.

Universitas Sumatera Utara

4. usaha yang memproduksi, mendistribusi dan atau menyediakan


barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat.
Perbedaan mendasar antara pasar modal konvensional dengan
pasar modal syariah dapat dilihat pada instrumen dan mekanisme
transaksinya, sedangkan perbedaan nilai indeks saham syariah dengan
nilai indeks saham konvensional terletak pada kriteria saham emiten yang
harus memenuhi prinsip-prinsip dasar syariah. Secara umum, konsep
pasar modal syariah disebutkan bahwa saham yang diperdagangkan harus
berasal dari perusahaan yang bergerak dalam sektor yang memenuhi
kriteria syariah dan terbebas dari unsur ribawi, serta transaksi saham
dilakukan dengan menghindarkan berbagai praktik spekulasi. 76

Spekulasi dilarang bukan karena ketidakpastian yang ada di


hadapannya, melainkan tujuan/ niat dan cara orang mempergunakan
ketidakpastian tersebut. Manakala seseorang meninggalkan sense of
responsibility dan rule of law-nya untuk memperoleh keuntungan semata
dari adanya ketidakpastian, itulah yang dilarang dalam konsep gharar dan
maysir dalam Islam. Al gharar dan maysir sendiri adalah konsep yang
sangat berkaitan dengan mudharat, negative result, atau bahaya
(hazard). 77

76

Ibid, Hal. 63.


http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/ekonomi-syariah/1156-pasarmodal-syariah,diakses tanggal 21 September 2010
77

Universitas Sumatera Utara

Di pasar modal, larangan syariah di atas mesti diimplementasikan


dalam bentuk aturan main yang mencegah praktek spekulasi, riba, gharar
dan maysir. Salah satunya adalah dengan menetapkan minimum holding
period atau jangka waktu memegang saham minimum. Dengan aturan ini,
saham tidak bisa diperjualkan setiap saat, sehingga meredam motivasi
mencari untung dari pergerakan harga saham semata. Pembatasan itu
memang meredam spekulasi, akan tetapi juga membuat investasi di pasar
modal menjadi tidak likuid. Padahal bukan tidak mungkin seorang
investor yang rasional betul-betul membutuhkan likuiditas mendadak
sehingga harus mencairkan saham yang dipegangnya, sedangkan ia
terhalang karena belum lewat masa minimum holding period-nya.
Metwally, seorang pakar ekonomi Islam dan modelling economics
mengusulkan minimum holding period setidaknya satu pekan. Selain itu
Ia juga memandang perlu adanya celling price berdasarkan nilai pasar
perusahaan. Lebih lanjut Akram Khan melengkapi, untuk mencegah
spekulasi di pasar modal maka jual beli saham harus diikuti dengan serah
terima bukti kepemilikan fisik saham yang diperjualbelikan. 78

Mengenai kekhawatiran bahwa penjualan saham di tengah masa


usaha, akan menimbulkan kemungkinan gharar, seperti halnya jual beli
ikan di dalam laut dapat diatasi dengan praktek akuntasi modern dan
adanya kewajiban disclosure laporan keuangan kepada pemilik saham.
Dengan berbagai model penilaian modern saat ini, investor dan pasar
78

Ibid.

Universitas Sumatera Utara

secara luas akan dapat memiliki pengetahuan tentang nilai sebuah


perusahaan, sehingga saham-saham dapat diperjual belikan secara wajar
dengan harga pasar yang rasional. Dalam hal ini, market value tampaknya
lebih mencerminkan nilai yang lebih wajar dibandingkan dengan book
value. Dengan demikian dapat ditarik kjesimpulan bahwa sekuritas
sekuritas dapat diperjual belikan dengan menggunakan mekanisme pasar
sebagai penentu harga, sehingga capital gain maupun profit sharing dari
dividen dapat diperoleh.

79

Dalam perjalanannya, perkembangan pasar modal syariah di


Indonesia telah mengalami kemajuan, sebagai gambaran bahwa
setidaknya terdapat beberapa perkembangan dan kemajuan pasar modal
syariah yang patut dicatat hingga tahun 2004, di antaranya adalah telah
diterbitkan 6 (enam) Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama
Indonesia (DSN-MUI) yang berkaitan dengan industri pasar modal.
Adapun keenam fatwa dimaksud adalah sebagai berikut :80

1. Fatwa No. 05/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Saham.


2. Fatwa No. 20/DSN-MUI/IX/2000 tentang Pedoman Pelaksanaan
Investasi untuk Reksa Dana Syariah.
3. Fatwa No.32/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah.
4. Fatwa

No.33/DSN-MUI/IX/2002

tentang

Obligasi

Syariah

Mudharabah.
79
80

Ibid.
Adrian Sutedi, op.cit., Hal. 64.

Universitas Sumatera Utara

5. Fatwa No.40/DSN-MUI/IX/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman


Umum Penerapan Prinsip syariah di Bidang Pasar Modal.
6. Fatwa No.41/DSN-MUI/III/2004 tentang Obligasi Syariah Ijarah.

Fatwa-fatwa tersebut di atas mengatur prinsip-prinsip syariah di


bidang pasar modal, yang meliputi bahwa suatu efek telah memenuhi
prinsip-prinsip syariah apabila telah memperoleh pernyataan kesesuaian
syariah secara tertulis dari DSN-MUI. Adapun tahapan-tahapan yang
harus dilalui untuk memperoleh sertifikat/predikat syariah dari DSNMUI, yaitu bahwa calon emiten terlebih dahulu harus mempresentasikan,
terutama struktur bagi hasilnya dengan nasabah/investor, struktur
transaksinya, bentuk perjanjiannya, seperti perjanjuan perwaliamanatan,
dan lain-lain. 81

2. Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah lembaga independen


pengawas perbankan dan lembaga keuangan, yang semestinya sudah ada
pada 2002, sesuai amanat UU No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia.
Namun dengan adanya UU No. 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas
UU RI No. 23 Tahun 1999, pembentukan OJK diperpanjang dan akan
dilaksanakan selambat-lambatnya 31 Desember 2010. OJK yang
merupakan lembaga pengawasan jasa keuangan seperti industri

81

Ibid, Hal. 64.

Universitas Sumatera Utara

perbankan, pasar modal , reksadana, perusahaan pembiayaan, dana


pensiun dan asuransi.

Secara teoritis, terdapat dua aliran (school of thought) dalam hal


pengawasan lembaga keuangan yaitu : 82
1. Aliran yang berpendapat bahwa pengawasan industri keuangan
sebaiknya dilakukan oleh satu institusi.
2. Aliran yang berpendapat bahwa pengawasan industri keuangan
sebaiknya dilakukan oleh beberapa institusi.
Di Inggris misalnya industri keuangannya diawasai oleh Financial
Supervisory Authority (FSA), sedangkan di Amerika Serikat industri
keuangan diawasi oleh beberapa institusi. SEC misalnya mengawasi
perusahaan sekuritas sedangkan industri perbankan diawasi oleh bank
sentral (the Fed), FDIC dan OCC. Alasan dasar yang melatarbelakangi
kedua aliran ini adalah kesesuaian dengan sistem perbankan yang dianut
oleh negara tersebut. Juga, seberapa dalam konvergensi di antara lembaga
lembaga keuangan. 83
Hal ini berbeda dengan universal banking, yang dianut oleh antara
lain negara-negara Eropa dan Jepang, yang membolehkan bank
melakukan kegiatan usaha keuangan non bank seperti investment banking
dan asuransi. Di samping alasan sistem perbankan yang berlaku yang juga

82

http://zulsitompul.files.wordpress.com/2007/06/menyambut-ojkpilar.pdf .,
diakses tanggal 23 September 2010
83
Ibid

Universitas Sumatera Utara

menjadi dasar pertimbangan adalah seberapa dalam telah terjadi


konvergensi pada industri keuangan. 84
Konvergensi yang dalam akan menyebabkan munculnya masalah
kewenangan regulasi. Hal ini terjadi karena produk-produk yang
dihasilkan lembaga-lembaga keuangan sudah sedemikian menyatunya
sehinga sulit menentukan apakah suatu produk keuangan tertentu
dihasilkan oleh industri perbankan sehingga diregulasi oleh bank sentral
atau produk perusahaan sekuritas dan harus tunduk pada regulasi
Bapepam. Dengan diserahkannya kewenangan pengawasan kepada satu
institusi maka masalah kewenangan regulasi tersebut akan terpecahkan. 85

84
85

Ibid
Ibid

Universitas Sumatera Utara

Tabel 1.
Struktur pengawasan sistem keuangan berdasarkan industri 86
Populasi
Pasar Keterlibatan bank
Negara (dalam Perbankan Asuransi
modal
sentral
juta)
Bangladesh 162,22
CB
CB
S
Jerman

81,76

FSA

FSA

FSA

Ya

Prancis

65,45

FSA

FSA

FSA

Ya

Inggris

62,04

CPMA

Italia

60,34

CB

Ya

Spanyol

46,03

CB

Ya

Australia

22,38

FSA

FSA

FSA

Belanda

16,62

CB

IS

IS

Ya

Belgia

10,83

BSS

IS

BSS

Ya

Portugis

10,64

CB

Ya

Swedia

9,35

FSA

FSA

FSA

Ya

Austria

8,37

FSA

FSA

FSA

Ya

Denmark

5,54

FSA

FSA

FSA

Tidak

Finlandia

5,36

BSS

IS

BSS

Ya

Singapura

4,99

FSA

FSA

FSA

Tidak

Irlandia

4,46

CB

CB

Ya

Luksemburg

0,50

BS

BS

Tidak

86

CPMA CPMA

Ya

http://www.bisnis.com/artikel/2id3031.html, diakses tanggal 25 September

2010

Universitas Sumatera Utara

Sumber : Bisnis Indonesia


Ket :
FSA

= Pengawasan Terpadu.

CB

= Bank Sentral.

B, I, S = Pengawas Khusus untuk perbankan (B), asuransi (I) dan


pasar modal (S), bisa juga adalah kombinasi ketiganya.
D

= Departemen Pemerintah.

CPMA = Consumer Protection and Market Authority.

Berkaitan dengan konvergensi yang menyebabkan masalah


kewenangan regulasi seperti yang disebutkan di atas, Ketua BapepamLK, Fuad Rahmany selaku ketua Tim Penyusun RUU OJK menyatakan
OJK akan menghilangkan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power)
yang selama ini cenderung muncul. Sebab dalam OJK, fungsi
pengawasan dan pengaturan dibuat terpisah. Selama ini, Bapepam-LK
tidak hanya mengawasi tetapi juga membuat peraturan untuk perusahaan
sekuritas atau efek. Hal ini berpotensi menimbulkan abuse of power
sehingga pengaturan dan pengawasan harus dipisahkan. Meski OJK
memiliki fungsi pengaturan dan pengawasan dalam satu tubuh, fungsinya
tidak akan tumpang tinding, sebab OJK terdiri atas tujuh dewan
komisioner. Ketua Dewan Komisioner akan membawahkan tiga anggota
dewan komisioner yang masing-masing mewakili perbankan, pasar modal
dan lembaga keuangan nonbank (LKNB). Kewenangan pengawasan

Universitas Sumatera Utara

perbankan oleh BI akan dikurangi, namun BI masih mendampingi


pengawasan. Dengan demikian, jika selama ini mikro dan makro
prudensialnya di BI, maka OJK akan fokus menangani mikro
prudensialnya. Mengacu pada kajian di sembilan negara, Fuad dan tim
perumus OJK akan membuat sistem pengawasan dan pengaturan baru
yang mengarah pada Unified Supervisory Model seperti Financial Service
Authority (FSA) yang telah disebutkan di atas. Dengan sistem ini, fungsi
pengawasan dan pengaturan perbankan, asuransi, dan pasar modal
menjadi satu. Namun, fungsi moneter tetap ada di BI, seperti yang
berlaku di Jerman. 87

Dari

segi industri, pembentukan OJK mempertegas fungsi

pengawasan produk. Misalnya, saat kasus Bank Century, Bank Indonesia


beranggapan reksadana yang dijual Bank Century sudah didaftarkan ke
Bapepam LK. Padahal Bapepam-LK tidak tahu-menahu soal reksadana,
yang ternyata palsu tersebut. Hal ini dikarenakan jasa lembaga keuangan
bank-bank seperti Bank Century juga telah berkembang pesat sehingga
memungkinkan bank juga bergerak dalam perusahaan sekuritas, asuransi,
dan dana pensiun. Kompleksitas inilah yang belum diawasi maksimal.
Meski tugas pengawasan bank ada pada bank sentral dan sekuritas
diawasi Bapepam-LK, tapi masih ada kebingungan untuk mempertegas
kewenangan masing-masing Dengan adanya suatu lembaga pengawasan

87

http://www.adpi.or.id/news/Otoritas-jasa-keuangan, diakses tanggal 25


September 2010

Universitas Sumatera Utara

berada pada satu atap seperti OJK, pengawasan terhadap lembagalembaga keuangan akan lebih efektif sehingga diharapkan kasus seperti
Bank Century tidak akan terulang kembali. 88

C. Penggabungan Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Burse Efek


Surabaya (BES) menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI)
Sebelum tahun 2007 di Indonesia terdapat dua bursa efek yaitu
Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES). BEJ berawal
dengan dibukanya sebuah bursa saham oleh pemerintah Hindia Belanda
pada 1912 di Batavia. Setelah sempat tutup beberapa kali karena
terjadinya perang, BEJ kembali dibuka pada 1977 di bawah pengawasan
Bapepam. Pada 13 Juli 1992, BEJ diprivatisasi dengan dibentuknya PT.
Bursa Efek Jakarta. 89 Sedangkan BES sendiri merupakan bursa efek
swasta pertama di Indonesia, yang didirikan pada tanggal 16 Juni 1989
berdasarkan SK Menteri Keuangan Nomor 645/KMK.010/1989, oleh
Menteri Keuangan waktu itu JB Sumarlin. Pendirian BES dimaksudkan
untuk mendukung perkembangan ekonomi wilayah Indonesia bagian
timur, dengan mengembangkan industri pasar modal di Surabaya dan
Jawa Timur. 90

88

http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=7096&coid=2&caid=19&gid=2,
diakses tanggal 25 September 2010
89
http://id.wikipedia.org/wiki/Bursa_Efek_Jakarta, diakses tanggal 25 September 2010
90
http://id.wikipedia.org/wiki/Bursa_Efek_Surabaya, diakses tanggal
25September 2010

Universitas Sumatera Utara

Pada tahun 2007 BES melakukan merger dengan melebur ke


dalam Bursa Efek Jakarta yang selanjutnya berganti nama menjadi Bursa
Efek Indonesia (BEI). Penggabungan ini menjadikan Indonesia hanya
memilki satu pasar modal. 91 Langkah merger PT Bursa Efek Jakarta
(BEJ) dan PT Bursa Efek Surabaya (BES) adalah upaya untuk
meningkatkan efisiensi pasar modal guna bersaing dengan bursa luar
negeri. Hal ini dikarenakan bahwa perkembangan pasar modal di
Indonesia pada saat itu dapat dikatakan lamban dan cenderung tertinggal
dari kawasan Asia lainnya, baik dari segi jumlah emiten, produk
investasi, minimnya investor lokal dan persaingan antar bursa di dalam
negeri. Untuk itu dengan langkah merger yang dilakukan BEJ-BES ini
untuk meningkatkan efisensi pasar modal nasional yang diharapkan dapat
mendorong peningkatan daya tarik dan daya saing industri di tingkat
internasional.

92

Dengan penggabungan Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek


Surabaya menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) akan memudahkan
investor sehingga investor tidak harus datang ke beberapa bursa untuk
menentukan pilihan investasinya. Hal ini dikarenakan bahwa sebelum
penggabungan BEJ-BES, produk-produk acuan pasar modal berada di
BEJ sedangkan produk-produk derivatifnya berada di BES. Dari aspek
operasional penghematan biaya operasional yang timbul akibat merger,
91

http://id.wikipedia.org/wiki/Bursa_Efek_Indonesia, diakses tanggal 25


September 2010
92
http://www.antaranews.com/view/?i=1190303412&c=EKB&s=, diakses
tanggal 25 September 2010

Universitas Sumatera Utara

meliputi biaya penyediaan sistem dan sarana perdagangan, biaya


penyediaan sistem internal, biaya penyediaan jaringan dan sarana
komunikasi, biaya penyediaan band width, serta biaya data center. Selain
itu, dari aspek pelaku, penggabungan bursa efek akan menghemat biaya
emiten dan investor. Merger ini juga akan mempermudah untuk
melakukan pengembangan produk yang akan diluncurkan di pasar. Jika
ditinjau dari aspek bisnis, sasaran penggabungan BEJ dan BES adalah
bursa hasil merger diharapkan mampu mengembangkan berbagai
instrumen bursa, baik yang pada saat itu diperdagangkan maupun yang
akan diperdagangkan, yakni meningkatnya jumlah emiten tercatat,
maupun berkembangnya instrumen yang sudah mulai diperdagangkan
saat itu dan menumbuhkan instrumen-instrumen baru yang dapat
diperdagangkan di bursa hasil merger. 93

Dalam merger tersebut, BEI meningkatkan sistem komputerisasi


dengan menggunakan teknologi yang modern dan yang sangat
diperlukan, karena industri pasar modal adalah industri yang sangat cepat
perubahannya, baik dari segi sistem dan teknologi, organisasi maupun
variasi produk yang diperdagangkan. Kondisi tersebut mendorong
industri pasar modal untuk selalu berinovasi dalam meningkatkan
efisiensinya agar dapat bersaing di tingkat internasional. Tingkat efisiensi

93

http://economy.okezone.com/read/2010/09/02/278/369221/278/penutupantrading-floor-tak-berdampak-luas , diakses tanggal 25 September 2010

Universitas Sumatera Utara

industri ini akan meningkatkan daya tarik dan daya saing industri di mata
para pelaku pasar, baik lokal maupun internasional.

Komputerisasi merupakan upaya memodernisasi bursa. Dengan


komputerisasi, papan perdagangan tunggal terpecah menjadi ratusan atau
miliaran data perdagangan

yang masuk ke layar monitor yang bisa

diakses secara online dalam satu jaringan. Antrian pialang lenyap dari
pandangan karena kemungkinan mengakses secara bersamaan ke papan
perdagangan.

Lantai bursa tidak lagi dipadati oleh para pialang,

kecepatan perdagangan atau transaksi berlipat ganda, kecepatan transaksi


berdurasi singkat. 94

Pada tanggal 1 September 2010, Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi


menghapus lantai perdagangan (trading floor). Dewasa ini, perdagangan
di BEI sudah beralih ke remote trading yang telah dicanangkan sebagai
pengganti dari floor trading. Dulunya sebelum terjadi komputerisasi,
eksekusi transaksi bursa masih menggunakan spidol dan papan di lantai
perdagangan. Akan tetapi, lantai perdagangan yang selama ini menjadi
simbol tersebut dinilai mubazir dan tidak efektif lagi dewasa ini. Hal ini
dikarenakan para Anggota Bursa (AB) lebih menikmati transaksi lewat
remote trading (perdagangan jarak jauh) daripada berjejal di lantai
bursa. 95 Selain itu, penggunaan lantai perdagangan sudah tidak efisien.
Pasalnya, transaksi tersebut memakan waktu yang relatif lebih lama
94
95

M . Irsan Nasrudin, dkk., op.cit., Hal 85.


http://www.bataviase.co.id/node/363215, diakses tanggal 27 September 2010

Universitas Sumatera Utara

dibandingkan remote trading. Hal ini dikarenakan semua transaksi yang


lewat floor harus diproses lagi di back office AB (anggota bursa) dulu
sehingga prosesnya lama. Dengan adanya remote trading, transaksi bursa
dapat diselesaikan hanya dalam beberapa detik saja. 96

D. Kegiatan dan Kelembagaan Pasar Modal Indonesia

Pada dasarnya, pasar modal menjembatani hubungan antara


pemilik dana (investor) dan pengguna dana. Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa pasar modal adalah wahana investasi bagi investor dan
wahana sumber dana bagi pengguna dana. Peranan lain dari pasar modal
adalah mengumpulkan dan mengerahkan tabungan masyarakat untuk
keperluan investasi. Pasar modal tergolong dalam pengertian financial
market yang bertujuan untuk mengadakan alokasi tabungan (saving)
secara efeisien dari pemilik dana (saver) kepada pemakai dana terakhir
(ultimate user). 97
Dengan meningkatnya investasi, maka kapasitas produksi akan
meningkat, yang berarti menambah barang dan jasa yang diperlukan
masyarakat serta memperluas lapangan kerja. Sektor swasta menjadi lebih
kompetitif dan pasar modal yang maju terutama bagian sekuritasnya

96

http://www.inilah.com/read/detail/789731/bei-trading-floor-ke-remotetrading/, diakses tanggal 27 September 2010


97
Jusuf Anwar, op.cit., Hal. 121-122.

Universitas Sumatera Utara

memungkinkan individu, bagaimanapun kecilnya kontribusi mereka,


menikmati kemakmuran karena adanya sektor swasta yang kompetitif. 98
Dalam menjalankan fungsinya, pasar modal dibagi menjadi tiga
macam, yaitu pasar perdana, pasar sekunder, dan pasar paralel.

99

a. Pasar Perdana
Pasar perdana adalah pasar saham dalam masa penawaran efek dan
perusahaan penjual efek (emiten) kepada masyarakat untuk pertama
kalinya. Dengan demikian, berarti kegiatan pasar modal yang berkaitan
dengan penawaran umum berlangsung di pasar perdana atau pasar
primer. Pasar perdana adalah penjualan perdana efek oleh perusahaan
yang menerbitkan efek sebelum efek tersebut dijual dengan harga
emisi sehingga perusahaan yang menerbitkan dana dari penjualan
tersebut.
b. Pasar Sekunder
Pasar sekunder adalah titik sentral kegiatan pasar modal karena pada
pasar sekunder terjadi aktivitas perdagangan yang mempertemukan
penjual dan pembeli efek. Di pasar sekunder ini penerbit efek disebut
investor jual sedangkan pembeli efek disebut pembeli. Pasar sekunder
adalah penjualan efek setelah penjualan pada pasar perdana berakhir.
Pada pasar sekunder ini harga efek ditentukan berdasarkan kurs efek
98

Meir Kuhn, Financial Institutions and Markets, dikutip dari Jusuf Anwar,
Pasar Modal Sebagai Sarana Pembiayaan dan Investasi, cet 2 (Bandung: PT. Alumni
Bandung, 2007), Hal. 122.
99
Warkum Sumitro, Asas-asas Perbankan dan Lembaga-lembaga Terkait,
dikutip dari Adrian Sutedi, Segi-Segi Hukum Pasar Modal , (Jakarta:Ghalia Indonesia,
2009), Hal. 21.

Universitas Sumatera Utara

tersebut. Jadi pasar sekunder adalah penjualan efek/sertifikat setelah


pasar perdana berakhir. Pada pasar ini efek yang diperdagangkan
dengan harga kurs.
c. Bursa Paralel
Bursa paralel merupakan bursa efek yang ada. Bagi perusahaan yang
menerbitkan efek yang akan menjual efeknya melalui bursa dapat
dilakukan melalui bursa paralel. Bursa paralel merupakan alternatif
bagi perusahaan yang go public memperjualbelikan efeknya jika dapat
memenuhi syarat yang ditentukan pada bursa efek. Jadi, bursa paralel
merupakan suatu sistem perdagangan efek yang terorganisir di luar
Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan bentuk pasar sekunder, diatur dan
diselenggarakan oleh Perserikatan Perdagangan Uang dan Efek-efek
(PPUE), diawasi dan dibina oleh Badan Pengawas Pasar Modal
(Bapepam).
Di dalam pasar modal terdapat lembaga-lembaga yang menjalani
kegiatan-kegitatan pasar modal, yang antara lain sebagai berikut : 100
1.

Emiten
Emiten adalah pihak yang melakukan penawaran umum.

2.

Perusahaan Publik
Perusahaan publik adalah perseroan yang sahamnya telah dimiliki
sekurang-kurangnya 300 (tiga ratus) pemegang saham dan
memiliki modal disetor sekurang-kurangnya Rp. 3.000.000.000

100

Adrian Sutedi, op. cit., Hal. 23-33

Universitas Sumatera Utara

(tiga miliar rupiah) atau suatu jumlah pemegang saham dan modal
disetor yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah.
3.

Bapepam
Badan pengawas pasar modal yang bertujuan mewujudkan
tercipatanya kegiatan pasar modal yang teratur, wajar, dan efisien
serta melindungi kepentingan pemodalnya dan masyarakat.

4.

Bursa Efek
Bursa

efek

adalah

pihak

yang

menyelenggarakan

dan

menyediakan sistem dan atau sarana untuk mempertemukan


penawaran jual dan beli efek, pihak-pihak lain dengan tujuan
memperdagangkan efek di antara mereka.
5.

Lembaga Kliring Penjaminan


Lembaga

kliring

dan

penjaminan

adalah

pihak

yang

menyelenggarakan jasa kliring dan penjaminan penyelenggaraan


transaksi bursa (Pasal 1 angka 9 UUPM), yaitu kontrak yang
dibuat oleh anggota bursa efek, yaitu perantara pedagang efek
yang telah memperoleh izin usaha dari Bapepam dan mempunyai
hak untuk memperdagangkan sistem dan atau saran bursa efek
menurut peraturan bursa efek.
6.

Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (LPP)


Lembaga penyimpanan dan penyelesaian adalah pihak yang
menyelenggarakn kegiatan kustodian sentral bagi bank kustodian,
perusahaan efek, dan pihak lain.

Universitas Sumatera Utara

7.

Reksa Dana
Reksa dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun
dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan
dalam portofolio efek oleh manajer investasi.

8.

Perusahaan efek
Perusahaan efek adalah pihak yang melakukan kegiatan usaha
sebagai penjamin emisi efek, perantara pedagang efek atau
manajer investasi.

9.

Wakil Perusahaan Efek


Wakil dari pihak yang melakukan kegiatan usaha sebagai
penjamin emisi efek, perantara pedagang efek atau manajer
investasi.

10.

Perantara Pedagang Efek


Perantara Pedagang Efek adalah pihak yang melakukan usaha jual
beli efek untuk kepentingan sendiri atau pihak lain.

11.

Penjamin Emisi Efek


Penjamin emisi efek adalah pihak yang membuat kontrak dengan
emiten untuk melakukan perdagangan umum bagi kepentingan
emiten dengan atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa efek
yang tidak terjual.

Universitas Sumatera Utara

12.

Penasihat Investasi
Penasihat investasi adalah pihak yang memberi nasihat kepada
pihak lain mengenai penjualan atau pembelian efek dengan
memperoleh imbalan jasa.

13.

Manajer Investasi
Manajer investasi adalah pihak yang kegiatan usahanya mengelola
portofolio efek untuk para nasabah atau mengelola portofolio
investasi kolektif untuk sekelompok nasabah, kecuali perusahaan
asuransi, dana pensiun, dan bank yang melakukan sendiri kegiatan
usahanya

berdasarkan peraturan perundang-undangan

yang

berlaku.
14.

Investor atau pemodal


Investor adalah pihak yang melakukan kegiatan investasi atau
menanamkan modalnya di pasar modal. Investor yang dikenal di
pasar modal terdiri atas investor perorangan dan kelembagaan.

15.

Lembaga Penunjang Pasar Modal


1) Kustodian
Kustodian adalah pihak yang memberikan jasa penitipan efek
dari harta lain yang berkaitan dengan efek dan jasa lain,
termasuk menerima deviden, bunga dan hal-hal lain,
menyelesaikan transaksi efek, dan mewakili pemegang
rekening yang menjadi nasabahnya (pasal 1 angka 8 UUPM).

Universitas Sumatera Utara

2) Biro Administrasi Efek


Biro administrasi efek adalah pihak berdasarkan kontrak
dengan emiten melaksanakan pencatatan pemilikan efek dan
pembagian hak yang berkaitan dengan efek.
3) Wali Amanat
Wali amanat adalah pihak yang mewakili kepentingan
pemegang efek yang bersifat utang.
4) Bank Kustodian
Bank kustodian adalah pihak yang memberikan jasa penitipan
kolektif dan harta lainnya yang berkaitan dengan efek.
5) Pemeringkat Efek
Perusahaan pemeringkat efek adalah pihak yang menerbitkan
peringkat-peringkat bagi surat utang (debt securities), seperti
obligasi dan commercial paper.
16.

Profesi Penunjang Pasar Modal


a) Akuntan Publik
Akuntan publik adalah pihak yang memberikan pendapat atas
kewajaran dalam semua hal yang material, posisi keuangan,
hasil usaha, serta arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku umum. Akuntan publik berperan dalam
mengungkapkan

informasi

keuangan

perusahaan

dan

memberikan pendapat mengenai kewajaran atas data yang


disajikan dalam laporan keuangan.

Universitas Sumatera Utara

b) Konsultan Hukum
Konsultan hukum merupakan ahli dalam bidang hukum yang
memberikan dan menandatangani pendapat hukum mengenai
emisi dan atau emiten. Peran konsultan hukum diperlukan
dalam setiap emisi efek karena lembaga ini mempunyai fungsi
untuk membuktikan pendapat dari segi hukum (legal opinion)
mengenai keadaan emiten.
c)

Penilai
Penilai adalah pihak yang melakukan penilaian terhadap
aktiva perusahaan. Peran penilai adalah dalam menentukan
nilai wajar dari harta milik perusahaan. Nilai ini diperlukan
sebagai bagan informasi bagi para investor bagi para investor
di dalam mengambil keputusan investasi.

d)

Penasihat Investasi
Penasihat investasi adalah pihak yang memberi nasihat kepada
pihak lain mengenai penjualan atau pembelian efek dengan
memperoleh imbalan jasa.

e)

Notaris
Notaris adalah pejabat umum yang berwenang membuat aka
otentik dan kewenagan lainnya sebagaimana dimaksud dalam
UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. 101 Dalam
pasar modal,

notaris merupakan pejabat umum yang

101

Lihat Pasal 1 angka 1 UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris


(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 117)

Universitas Sumatera Utara

berwenang membuat anggaran dasar dan akta perubahan


anggaran dasar, termasuk pembuatan perjanjian penjaminan
emisi efek, perjanjian antarpenjamin emisi efek, perjanjian
perwaliamanatan, perjanjian agen penjual, dan perjanjian lain
yang diperlukan.

E. Good Corporate Governance dalam Pengembangan Pasar Modal


Indonesia
Berbagai peristiwa yang terjadi beberapa waktu terakhir telah
menjadikan corporate governance sebagai sebuah isu penting di kalangan
para

eksekutif,

organisasi-organisasi

non

pemerintah

atau

non

governmental organization (NGO), para konsultan korporasi, akademisi,


dan regulator (pemerintah) di berbagai belahan dunia. Isu-isu yang terkait
corporate governance seperti perdagangan orang dalam (insider trading),
transparansi, akuntabilitas, independensi, etika bisnis, tanggung jawab
sosial (corporate social responsibility), dan perlindungan investor telah
menjadi isu penting yang diperbincangkan di kalangan para pelaku usaha
bahkan para pelaku usaha di negara kita. 102
Latar belakang dari aspek pasar modal, industri pasar modal telah
menjadi salah satu barometer penting perekonomian suatu negara.
Melalui industri ini lahir public listed companies

yakni perusahaan-

perusahaan yang diizinkan untuk menawarkan saham mereka kepada


102

I Nyoman Tjager, dkk., Corporate Governance-Tantangan dan Kesempatan bagi


Komuitas Bisnis Indonesia, (Jakarta: PT. Prenhallindo, 2004), Hal. 18.

Universitas Sumatera Utara

publik setelah proses penawaran saham perdana (initial public


offering/IPO) atau going public. Dengan sistem ini, para pemodal atau
investor kecil dapat turut memiliki saham pada sebuah perusahaan
terbuka. 103
Namun

industri pasar

modal

juga

menimbulkan

banyak

permasalahan mendasar. Sesuai dengan fungsinya, pasar

modal

mengubah nilai ekonomi suatu perusahaan menjadi nilai finansial (nilai


pasar dari saham suatu perusahaan). Dan dengan sejumlah alasan, nilai
finansial sebuah perusahaan terbuka dapat dicitrakan jauh di atas,
sebaliknya

terjerumus

jauh

di

bawah,

nilai ekonominya

yang

sesungguhnya. Hal ini melahirkan tuntutan agar perusahaan-perusahaan


terbuka tersebut dikelola dengan sebaik-baiknya, bagi kesejahteraan
pihak-pihak

yang berkepentingan (stakeholders), terutama agar

kepentingan para pemegang saham minoritas (minority) terlindungi


dengan semestinya.
Perkembangan korporasi modern juga melatarbelakangi mengapa
corporate governance kini menjadi keharusan.

Good Corporate

Governance pada dasarnya digunakan untuk menentukan arah dan


pengendalian
mengendalikan

kinerja

suatu

keputusan

perusahaan
serta

seperti

tindakan

yang

memonitor
akan

dan

diambil,

mempengaruhi implementasi strategi, memberi perlindungan terhadap

103

Ibid., Hal. 18.

Universitas Sumatera Utara

hak-hak pemegang saham khususnya pemegang saham minoritas, serta


hubungan antara pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders). 104
Pembahasan mengenai GCG tidak dapat dipisahkan dengan
konsep dan sistem korporasi itu sendiri, serta kerterkaitan hubungan antar
manajemen, Direksi, Dewan Komisaris, shareholders, dan stakeholders
dalam suatu korporasi. Hal ini yang mengakibatkan GCG berkembang
pesat. Setiap negara atau lembaga internasional memiliki definisi yang
berbeda berkenaan dengan GCG.
Beberapa definsi GCG, antara lain:
a. Forum for Coporate Governance in Indonesia (FCGI)
Corporate Governance adalah seperangkat peraturan yang
mengatur hubungan antara pemegang, pengurus (pengelola)
perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para
pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang
berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata
lain suatu sistem yang mengendalikan perusahaan. 105
b. World Bank
Good Corporate Governance merupakan suatu gabungan daripada
hukum, peraturan, serta praktik-praktik usaha yang diterapkan
dalam dunia korporasi, dengan tujuan untuk menarik masyarakat

104

Mas Ahmad Daniri, Good Corporate Governance Konsep dan


Penerapannya Dalam Konteks Indonesia, (Jakarta: Ray Indonesia, 2005), Hal. 7.
105
Forum for Good Corporate in Indonesia, Corporate Governance Tata Kelola
Perusahaan, (Jakarta: FCGI, 2000), Hal.3.

Universitas Sumatera Utara

pemodal melaksanakan efisiensi, serta untuk eksistensi daripada


usaha yang dimaksud. 106
c. Asian Development Bank
Good Corporate Governance adalah suatu sistem, kebijakan,
prosedur suatu perusahaan sebagai pedoman agar perusahaan
tersebut memenuhi kewajiban hukum dan peraturan perundangundangan. 107
d. Cadbury Commitee
Corporate Governance merupakan seperangkat peraturan yang
merumuskan hubungan antara pemegang saham, manajer,
kreditor,

pemerintah,

berkepentingan

karyawan,

lainnya

baik

dan

internal

pihak-pihak
maupun

yang

eksternal

sehubungan dengan hak-hak dan tanggung jawab mereka. 108


e. Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara No. KEP-117/MMBU/2002

Tentang

Penerapan

Praktik

Good

Coporate

Governance pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN).


Corporate Governance adalah suatu proses dan struktur yang
digunakan oleh organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan
usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai
pemegang

saham

dalam

jangka

panjang

dengan

tetap

106

Bernei Carmody, Implementasi of Corporate Governance in Indonesia,


ADB Corporate Governance Reform Project, pg. 5.
107
Ibid
108
I Nyoman Tjager dkk., op. cit, Hal.27.

Universitas Sumatera Utara

memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan


peraturan perundang-undangan dan nilai-nilai etika. 109
Pada umumnya prinsip-prinsip utama dari GCG yang sejalan
dengan prinsip-prinsip yang dirumuskan oleh OECD adalah sebagai
berikut : 110
a. Transparansi (Disclosure and Transparency)
Prinsip ini menekankan pada keterbukaan dalam melaksanakan proses
pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan
informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan. Dalam hal ini,
hak-hak para pemegang saham harus diberi informasi dengan benar
dan tepat pada waktunya serta dapat ikut berperan serta serta dalam
pengambilan

keputusan

mengenai

perubahan-perubahan

yang

mendasar atas perusahaan dan turut memperoleh bagian dari


keuntungan perusahaan.
Prinsip ini diwujudkan antara lain dengan mengembangkan sistem
akuntansi (accounting system) yang berbasiskan standar akuntansi
yang menjamin adanya laporan keuangan dan pengungkapan yang
berkualitas; mengembangkan Information Technology System (ITS)
untuk menjamin adanya pengukuran kinerja yang memadai dan proses
pengambilan keputusan yang efektif oleh dewan komisaris dan direksi;
mengembangkan enterprise risk management yang memastikan bahwa

109
110

Ibid., Hal. 225.


Ibid., Hal. 49.

Universitas Sumatera Utara

semua resiko signifikan telah diidentifikasikan, diukur dan dapat


dikelola pada tingkat toleransi yang jelas.
b. Kewajaran (Fairness)
Prinsip ini tercermin melalui keadilan dan kesetaraan di dalam
memenuhi hak-hak stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian
dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dengan memberikan
perlakuan yang sama terhadap para pemegang saham, terutama kepada
pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing, melalui
keterbukaan informasi serta melarang pembagian untuk pihak sendiri
dan perdagangan saham oleh orang dalam.
Prinsip ini diwujudkan antara lain dengan membuat peraturan
korporasi yang melindungi kepentingan minoritas, membuat pedoman
perilaku perusahaan (corporate conduct) dan/atau kebijakan-kebijakan
yang melindungi korporasi terhadap perbuatan buruk orang dalam
serta konflik kepentingan. Hal ini direalisasikan dengan menetapkan
peran dan tanggung jawab dewan komisaris, direksi, dan komite,
termasuk sistem remunerasi, penyajian informasi secara wajar dan
pengungkapan

material

secara

penuh,

serta

mengedepankan

kesempatan kerja yang seimbangan (equal job opportunity).


c. Akuntabilitas (Accountability)
Prinsip ini terlihat melalui tanggung jawab manajemen melalui
pengawasan yang efektif antara manajer, pemegang saham, dewan
komisaris, dan auditor secara seimbang. Hal ini merupakan bentuk

Universitas Sumatera Utara

kejelasan fungsi, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban organ secara


efektif.
Prinsip ini diwujudkan antara lain dengan menyiapkan laporan
keuangan

(financial

statement)

pada

waktu

yang

tepat;

mengembangkan komite audit dan resiko untuk mendukung fungsi


pengawasan oleh dewan komisaris; mengembangkan dan merumuskan
kembali peran dan fungsi internal audit sebagai mitra bisnis yang
strategis; menjaga manajemen kontrak yang bertanggung jawab dan
menangani pertentangan (dispute); penegakan hukum melalui sistem
penghargaan dan sanksi; serta menggunakan external auditor yang
professional.
d. Pertanggungjawaban (Responsibility)
Suatu prinsip mengenai kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan
terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk yang
berkaitan dengan masalah pajak, perlindungan lingkungan hidup,
kesehatan dan keselamatan kerja, standar penggajian, dan persaingan
yang sehat; serta prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
Prinsip ini diwujudkan melalui kesadaran bahwa tanggung jawab
merupakan konsekuensi logis dari adanya wewenang; menyadari akan
adanya

tanggung

jawab

sosial;

menghindari

penyalahgunaan

kekuasaan; menjadi professional dan menjunjung etika; serta


memelihara lingkungan bisnis yang sehat. Dalam hal ini perusahaan

Universitas Sumatera Utara

harus menyadari bahwa dalam aktivitas operasionalnya sering


menghasilkan eksternalitas negatif yang harus ditanggung masyarakat.
e. Kemandirian (Independency)
Prinsip di mana suatu perusahaan dikelola secara professional tanpa
adanya benturan kepentingan dan pengaruh atau tekanan dari pihak
manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku dan prinsip korporasi yang sehat. Ditekankan bahwa
dalam menjalankan fungsi, tugas, dan tanggung jawabnya, dewan
komisaris, direksi, maupun pihak terkait lainnya yang mengelola
kegiatan perusahan terbebas dari tekanan dan pengaruh baik dalam
maupun dari luar perusahaan.
Tujuan dari penerpan GCG yang paling utama adalah menaikkan
nilai dari perusahaan tersebut, maksudnya adalah apabila suatu
perusahaan menerpakan GCG maka tentunya nilai dari perusahaan itu
akan naik dalam kaitannya dengan perusahaan terbuka tentunya akan
banyak investor yang akan membeli saham perusahaan tersebut.
Penerapan praktek GCG pada BUMN menjelaskan bahwa tujuan
dari penerpan GCG adalah :

111

a. Memaksimalkan nilai BUMN dengan cara meningkatkan prinsip


keterbukaan, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan
adil agar perusahaan memilik daya saing yang kuat, baik secara
nasional maupun internasional.
111

Departemen Negara Badan Usaha Milik Negara, Keputusan Menteri Badan


Usaha Milik Negara, Tentang Penerapan Praktek Good Corporate Governance Pada
Badan Usaha Milik Negara, Kep-117/M-MBU/2002, pasal 4.

Universitas Sumatera Utara

b. Mendorong pengelolaan BUMN secara professional, transparan dan


efisien, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian
organ.
c. Mendorong agar organ dalam membuat keputusan dan menjalankan
tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap
peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta kesadaran akan
adanya tanggung jawab sosial BUMN terhadap peraturan perundangundangan yang berlaku, serta kesadaran akan adanya tanggung jawab
sosial BUMN terhadap stakeholders maupun kelestarian lingkungan
sekitar BUMN.
d. Meningkatkan kontribusi BUMN dalam perekonomian nasional.
e. Meningkatkan iklim investasi nasional.
f. Mensukseskan program privatisasi.
Manfaat dari penerapan GCG bagi kepentingan pemerintah dan
keadaan ekonomi secara luas adalah : 112
a. Meningkatkan

kinerja

perusahaan

melalui

terciptanya

proses

pengambilan keputusan yang lebih baik dan meningkatkan efisiensi


operasional perusahaan (menjaga going concern perusahaan).
b. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah dan
rigrid (karena factor kepercayaan) yang pada akhirnya meningkatkan
corporate value.

112

I Nyoman Tjager, op.cit., Hal. 5.

Universitas Sumatera Utara

c. Mengembalikan kepercayaan investor publik untuk menanamkan


modalnya.
d. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena
sekaligus akan meningkatkan shareholders value dan deviden, khusus
bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta meningkatkan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari hasil
privatisasi. 113
e. Meningkatkan produktivitas perusahaan serta dapat mengukur target
kinerja perusahaan.
f. Mengurangi distorsi (management risk).
Dengan adanya penerapan Good Corporate Governance (GCG)
yang baik dalam pasar modal, diharapkan emiten-emiten yang ada di
Bursa Efek Indonesia (BEI)

dapat mampu bersaing dengan emiten-

emiten yang ada di negara-negara lain. Selain itu, kepentingan


stakeholders, khususnya para pemegang saham minoritas akan terjaga.
Bagi masyarakat Indonesia, penerapan Good Corporate Governance
(GCG) akan menambah kesejahteraan masyarakat dengan adanya prinsip
tanggung

jawab

sosial

emiten-emiten

terhadap

masyarakat

dan

lingkungan. Pada akhirnya, praktek pelaksanaan Good Corporate


Governance (GCG) yang baik di pasar modal akan memberikan dampak
positif bagi semua lapisan, yakni perkembangan ekonomi yang akan
membuka banyak lapangan kerja dan meningkatkan kualitas hidup bangsa
113

Forum for Corporate Governance in Indonesia, op. cit., Hal. 4.

Universitas Sumatera Utara

Indonesia serta peningkatan daya tarik investasi, dengan makin


banyaknya investor dalam negeri maupun luar negeri yang akan bersedia
menanamkan modalnya di pasar modal Indonesia.

Universitas Sumatera Utara