Anda di halaman 1dari 12

BAB IV

KONSERVASI PADA TINGKAT SPESIES


Spesies dan Spesiasi
Keanekaragaman hayati meliputi semua variasi genetik yang ada dalam
spesies, variasi spesies dalam komunitas dan variasi ekosistem di bumi. Spesies
sebagai unit terkecil dalam ekosistem merupakan obyek konservasi yang paling
utama. Hilangnya satu spesies mahluk hidup di alam, menyebabkan hilangnya
keanekaragaman genetik, mengganggu keseimbangan komunitas, dan pada gilirannya
akan menyebabkan kehancuran ekosistem. Oleh karena itu, tingkatan yang paling
penting dalam konservasi adalah konservasi pada tingkat spesies.
Spesies adalah tingkatan dalam taksonomi untuk organisme hidup yang
memiliki kemiripan genetik, anatomi dan morfologi sehingga antar individu dalam
spesies tersebut mampu melakukan perkawinan dan menghasilkan keturunan yang
fertil. Karena antar individu dalam satu spesies dapat kawin atau bereproduksi, jumlah
individu dalam spesies selalu berubah akibat adanya kelahiran dan kematian.
Kumpulan individu dari spesies yang sama yang menempati suatu habitat dalam kurun
waktu yang sama akan membentuk populasi.
Terbentuknya suatu spesies di alam, menurut pandangan teori biologi adalah
melalui proses spesiasi, yaitu suatu rangkaian evolusi yang sangat panjang yang
memisahkan spesies tetua dengan spesies keturunannya. Spesiasi tersebut dimulai dari
satu jenis mahluk hidup yang beradaptasi terhadap perubahan lingkungannya.
Kompetisi dan seleksi alamlah yang menyebabkan keturunan menyesuaikan diri
secara morfologi, fisiologi dan genetik. Penyesuaian diri bertahap, dari generasi ke
generasi dan memakan waktu sangat panjang ini pada akhirnya menyebabkan
keturunan tersebut memiliki perbedaan morfologi, fisiologi dan genetik dengan
tetuanya. Sebagai akibatnya, perkawinan antara spesies tetua dengan keturunannya
yang sudah berubah, tidak dapat dilakukan. Hal ini berarti antara tetua dengan
keturunannya tersebut sudah berbeda spesies. Tentu saja spesiasi yang menghasilkan
spesies baru di alam berlangsung sangat kompleks dan memakan waktu jutaan tahun.
Hilangnya satu spesies di muka bumi, berarti hilang satu karya evolusi yang prosesnya
jutaan tahun.
Salah satu penyebab terjadinya spesiasi adanya isolasi yang menyebabkan
terhalanganya perkawinan. Terdapat beberapa macam isolasi penyebab spesiasi yaitu:
a. Isolasi ecogeografik.
Yaitu isolasi yang disebabkan oleh barier geografik. Misalnya satu
populasi terpisah oleh samudra yang luas, pegunungan yang tinggi
atau hamparan gurun yang luas. Pemisahan individu dalam populasi
oleh barier geografik ini menyebabkan tidak dapat terjadinya
perkawinan. Setelah sekian lama terisolasi, anggota populasi terebut
masing-masing beradaptasi dengan lingkungannya dan menghasilkan
ciri morfologi dan fisiologi berbeda. Pada gilirannya, kedua populasi
tersebut menjadi spesies yang berbeda.
b. Isolasi habitat.
Yaitu isolasi yang disebabkan perbedaan tempat hidup. Terkadang
walau tidak terpisah oleh barier geografis, sebagian individu dalam
32

populasi menempati habitat yang berbeda. Misalnya populasi ikan


yang memiliki toleransi sempit terhadap kadar garam tersebar
memisah di habitat payau dengan kadar garam kurang dari 1 % dan
habitat air laut dengan kadar garam lebih dari 1 %. Setelah melalui
proses adaptasi yang panjang, masing masing kelompok menghasilkan
anatomi, morfologi dan fisiologi yang berbeda satu dengan lainnya
dan sudah tidak memungkinkan lagi terjadi perkawinan antar
kelompok yang berbeda habitat tersebut atau dengan kata lain, sudah
terjadi spesiasi.
c. Isolasi iklim/musim.
Kondisi lingkungan bumi sangat dipengaruhi oleh matahari, udara dan
air. Tiap tempat di muka bumi mendapatkan panas matahari yang
berbeda dan memiliki kondisi atmosfir dengan kandungan udara dan
air yang berbeda pula. Kondisi demikian menyebabkan tiap tempat di
bumi memiliki iklim tertentu. Sekelompok mahluk hidup yang
awalnya merupakan satu populasi, dapat tersebar ke dalam habitat
dengan iklim berbeda.Misalnya populasi burung yang bermigrasi dari
wilayah utara Eropa menuju wilayah timur laut Cina untuk
menghindari musim dingin. Setelah musim dingin berlalu, sebagian
anggota populasi tidak kembali ke Eropa, sedangkan sebagian lainnya
kembali. Seiring dengan berjalannya waktu yang panjang, masing
masing kelompk tersebut beradaptasi dengan kondisi iklim yang
berbeda. Akibatnya antara dua kelompok tersebut memisah secara
morfologi dan fisiologi dan terjadilah spesiasi.
d. Isolasi perilaku
Salah satu upaya untuk bertahan hidup dalam kondisi lingkungan yang
berubah ubah adalah dengan adaptasi tingkah laku. Sebagai contoh,
dalam satu populasi kelelawar pemakan serangga, persaingan terhadap
sumber pakan memaksa individu individu dalam populasi
mengembangkan strategi. Sebagian mengembangkan strategi berburu
serangga yang terbang rendah, dekat dengan permukaan tanah. Untuk
mengurangi persaingan, sebagian lainnya mengembangkan strategi
berburu serangga yang terbang tinggi dari permukaan tanah. Lama
kelamaan pemisahan perilaku ini menghasilkan spesiasi, kerena
kelompok yang terbang rendah dengan yang terbang tinggi mengisi
relung habitat yang berbeda.
e. Isolasi mekanis.
Seleksi alam mengarahkan fenotip mahluk hidup pada kondisi yang
paling sesuai dengan lingkungannya. Terdapat 3 macam mekanisme
seleksi yaitu : Seleksi penstabilan (pemantapan), seleksi terarah
(direksional) dan seleksi diversi (memecah). Pada seleksi penstabilan,
terdapat pelestarian fenotip tertentu karena sesuai dengan tuntutan
lingkungan. Dalam hal ini seleksi alam akan melestarikan genotip
yang sesuai (diuntungkan). Seleksi terarah menyebabkan individu33

individu mengarah pada morfologi yang ekstrim. Misalnya suatu


populasi terdapat dalam keadaan dengani ndividu-individu yang
mempunyai sifat ekstrim dibandingkan individu lainnya. Perubahan
drastic lingkungan fisik menguntungkan individu tersebut. Misalnya
kelompok herbivora dengan individu individu yang sangat tinggi
bertahan pada habitat yang dalam waktu lama tergenang air karena
bencana banjir. Seiiring berjalannya waktu, seleksi alam ini
mengarahkan populasi ke morfologi yang lebih tinggi. Seleksi disersi
terjadi dalam suatu keadaan dengan fenotip pada kisaran yang ekstrim
lebih sesuai daripadaindividu dengan kisarantengah. Misalnya
populasi dengan individu bermorfologi pendek dan tingi cenderung
lebih tahan dibandingkan dengan individu bertubuh sedang. Ketiga
seleksi diatas, meyebabkan populasi terpcah dengan kelompok yang
berbeda ukuruan tubuh. Populasi yang telah terpecah ini secara
mekanis tidak dapat lagi melakukan perkawinan. Misalnya kelompok
individu yang sangat kecil tidak dapat kawin dengan kelompok
individu yang sangat besar. Hambatan perkawinan yang disebabkan
perbedaan ukuran organ reproduksi ini disebut isolasi mekanis.
Setelah berlangsung lama, isolasi mekanis akan menghasilkan spesies
baru atau spesiasi.

Gambar 7. Spesiasi burung (sumber : Maccikonon (1993)

Terbentuknya spesies mahluk hidup menurut pendangan teori evolusi berbeda


dengan konsep terbentuknya spesies mahluk hidup menurut pandangan Islam. Dalam
pandangan Islam, Allah SWT menciptakan berbagai jenis mahluk hidup sebagaimana
adanya. Megenai penciptaan spesies mahluk hidup banyak dijelaskan dalam ayat
Alquran. Diantaranya tertulis dalam Al-quran surat Al Anbiya ayat 30 yang artinya:
Dan apakah orang orang kafir tidak melihat bahwa langit dan bumi keduanya dahulu
adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan keduanya. Dan kami jadikan dari
34

air segala sesuatu yang hidup. Maka apaka sehingga mereka tidak beriman (QS Al
Anbiya:30). Pada ayat lain Allah berfirman: Dan Allah telah menciptakan semua
jenis hewan dari air. Maka sebagian dari mereka ada yang berjalan di atas perutnya
dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian berjalan dengan empat kaki.
Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya, sesungguhnya Allah maha kuasa atas
segala sesuatu (QS An Nur: 45). Sementara penciptaan spesies manusia dijelaskan
oleh Allah melalui surat Al-Anam ayat 2, yang artinya : Dialah yang menciptakan
kamu dari tanah, sesudah itu ditentukanNya ajal dan ada lagi suatu ajal yang
ditentukan disisiNya, kemudian kamu masih terus menerus ragu ragu (QS Al
Anam:2).
Karena Allah SWT menciptakan segala sesuatu dengan akurasi
perhitungan yang tinggi, pastilah ada maksud maksud tertentu dari penciptaan spesies
ini. Allah SWT menegaskan dalam alquran surat Shad ayat 27 : Kami tidak
menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantaranya dengan bathil. Yang
demikian itu adalah anggapan orang orang kafir, maka celakalah orang orang kafir itu
karena mereka akan masuk neraka (QS Shad:27). Dengan demikian, menurut
pandangan Islam, tiap spesies diciptakan Allah dengan tujuan tertentu, tidak ada yang
sia-sia, semuanya memiliki manfaat dimuka bumi. Hilangnya spesies di bumi, berarti
manfaat spesies tersebut di bumi akan hilang.
Berdasarkan teori ekologi, setiap spesies yang betahan hidup dalam suatu
ekosistem pasti menempati relung dan memegang peran dalam ekosistem. Hialngnya
satu spesies dalam ekosistem berarti hilang pula pemegang peran dalam ekosistem
tersebut, yang pada gilirannya menyebabkan gannguan dalam ekosistem. Tanpa
mempertentang kan teori penciptaan spesies sebagaiman diuraikan di atas, telah
disepakati bahwa setiap spesies memegang peran yang tidak dapat diabaikan di dalam
ekosistem. Oleh karenanya keberadaan semua spesies dalam ekosistem harus
dipertahankan. Tanpa melihat apakah spesies tersebut memberikan manfaat langsung
atau tidak bagi manusia.
Sebaran Spesies.
Keberadaan suatu spesies dalam ekosistem dimulai dari proses distribusi yang
mengantarkan spesies tersebut ke dalam habitat. Proses distribusi ini dapat terjadi secara
aktif maupun pasif. Distribusi aktif terjadi pada organisme yang memiliki kemampuan
lokomosi misalnya dengan berjalan, terbang atau berenang.Dalam hal ini, spesies yang
mampu terbang biasanya memiliki sebaran yang lebih luas daripada sepsies yang tidak dapat
terbang, karena dengan kemampuan terbangnya spesies tersebut dapat melewati barier
geografis berupa lautan, lembah ataupun pegunungan. Sementara spesies yang bergerak
dengan melata biasanya tidak memiliki sebaran luas, karena tidak mampu meleati barier
geografis. Distribusi pasif adalah persebaran mahluk hidup melalui pembawa atau carier.
Pembawa tersebut bisa mahluk hidup lain atau benda mati. Sebagai contoh distribusi pasif
oleh mahluk hidup adalah serangga parasit yang didistribusikan oleh hewan inangnya dan
biji tumbuh-tumbuhan yang disebarkan oleh kelelawar, burung atau tupai. Distribusi pasif
dengan bantuan benda mati dapat terjadi dengan bantuan angin, air, atau benda yang
ditumpanginya.
Setelah terdistribusi di suatu habitat, bukan berarti spesies tersebut telah terbebas dari
rintangan.
Di tempat baru, spesies harus mampu memenangkan kompetisi dalam
memperebutkan makanan, tempat hidup, udara dan air. Selain itu, spesies tersebut juga
harus mampu bertahan dari serangan predator dan hama penyakit. Terseleksi oleh kompetitor
dan predator, spesies yang baru hadir masih harus terus menerus beradaptasi terhadap kondisi
fisik dan kimia lingkungan hingga spesies tersebut mampu bertahan hidup dalam waktu yang
35

lama dan mampu berkembang biak. Seiring berjalannya waktu spesies yang telah mampu
bertahan hidup didalam ekosistembaru ini, akan menempati relung (niche) tertentu dan
memegang peran spesifik. Bersama dengan anggota ekosistem lainnya,satu kesatuan mahluk
hidup beserta faktor faktor lingkungan yang berada didalamnya
bergerak menuju
terbentuknya ekosistem yang lebih mantap. Sebaran suatu spesies mahluk hidup di bumi
berbeda satu dengan lainnya. Spesies yang hanya ditemukan di wilayah tertentu yang
memiliki karekter ekologis yang khas, disebut spesies endemik. Sementara spesies lainnya
dapat ditemukan di berbagai tipe ekosistem, disebut spesies kosmopolit.
Kehadiran dan ketiadaan atau kegagalan suatuorganisme dapat dikendalikan oleh
kekurangan atau kelebihan secara kualitatif atau kuantitatif salah satu dari beberapa fakto
rpembatas tersebut.Organisme dapa tmemilki kisaran yang lebar untuk satu factor tetapi
sempit untuk faktorlainnya.Organisme yang mempunyai kisaran lebar untuk semua factor
memiliki sebaran yang luas.Apabila keadaan keadaan tidak optimal bagi satu jenis mengenai
satu faktore kologis, batas batas toleransi terhadap faktor-faktor ekologi lainnya dapat
dikurangi berkenaan dengan factor faktor ekologi lainnya.Seringkali ditemukan organisme
organisme di alam sebenarnya tidak hidup dalam kisaran optimum berkenaan dengan faktor
fisik tertentu. Dalam kasus tersebut beberapa faktor mempunyai arti lebih besar misalnya,
persaingaan, pemangsaan, parasit dan sebagainya menghalangi organisme itu mengambil
keuntungan dari keadaan fisik optimum.Periode reproduksi biasanya merupakan periode yang
rentan apabila faktor faktor lingkungan bersifat membatasi. Batas toleransi individu
reproduktif seperti biji,embrio, kecambah atau anak anak lebih sempit daripada batas
toleransi induvidu non produktif dan dewasa.
Penyebaran mahluk hidup di bumi erat kaitannya dengan sejarah geologi, dan evolusi bumi.
Perubahan perubahan geologis dan evolusi serta perubahan perubahan iklim jangka panjang
menentukan tipe, komposisi vegetasi dan serta penyebaran hewan, sehingga saat ini dapat
dikenal wilayah biogeografi yang khas. Konsep geologi yang dapat menjelaskan penyebaran
mahluk hidup adalah teori kepingan tektonik dan penyebaran lantai samudra. Menurut teori
tersebut benua merupakan kepingan-kepingan massa yang besar yang mengapung di atas inti
bumi cair. Karena adanya aliran konveksi menyababkan kepingan kepingan massa senantiasa
bergerak terhadap sesamanya. Kepingan-kepingan yang menyatu didaratan menyebabkan
satu kepingan tertindas dibawah kepingan lainnya sehingga membentuk parit-parit dan
pegunungan. Pergerakan benua tersebut tentu saja beserta mahluk hidup yang berada di
dalamnya. Terutama tumbuhan dan hewan yang pergerakannya terbatas, penyabarannya
terkunci pada pergerakan lempeng benua tersebut. Kurang lebih 200 juta tahun yang lalu
benua benua membentuk satu masa tunggal yang disebut Pangea. Pada zaman Triasik, ketika
mamalia bertelur primitif yang pertama dan dinosaurus muncul, Pangea mulai terpisah
menjadi Laurasia (Amerika Utara, Eurasia) dan Gondwana (India, Australia,Afrika, Amerika
Selatan,Antartika). Selama zaman Jurasik ketika mamalia berkantung muncul dan dinosaurus
menyebar Gondwana terpecah pecah dan India mengapung ke arah Asia dengan kecepatan
10-18 cm per tahun. Periode kuarter yang dimulai 2 atau 3 juta tahun lalu, merupakan periode
aktif dengan kejadian kejadian tektonik , perubahan iklim dan permukaan laut.Pembentukan
gunung menyebabkan terbentuknya endapan endapan erosi yang menunjang padang padang
rumput subur dan pemusatan mamalia besar. Perubahan perubahan permukaan laut yang
menyertai ke empat zaman es besar di belahan bumi utara sangat penting artinya bagi
penyebaran fauna. Pada waktu itu banyak air yang terikat dalam bentuk es, permukaan laut
menjadi lebih rendah dan membentuk benua benua yang lebih luas.Adanya perubahan
geologis,perubahan iklim yang radikal dan fluktuasi permukaan laut mengisolasi satuan
satuan daratan dari sesamanya, menyebabkan populasi yang
terpisah tidak dapat
melakukan perkembangbiakan silang dengan individu individu di daratan utama, kerena telah
terjadi penghalang-penghalang reroduktif sehingga individu individu anggota populasi yang
36

bersangkutan menjadi species baru. Species yang berkembang di suatu pulau selanjutnya
dengan berbagai cara, melakukan penyebaran. Karena kemampuan terbangnya, burung
merupakan hewan yang peling merata penyebarannya. Sedangkan mamalia dan hewan
hewan melata, mempunyai wilayah penyebaran yang terbatas karena adanya penghalang
ekologis seperti gunung yang tinggi dan samudra.
Toleransi yang sempit terhadap faktor faktor lingkungan dan terkungkung oleh adanya
penghalang ekologis menyebabkan endemisitis. Karena hanya hidup di habitat tertentu,
spesies endemis sangat rentan. Ganguan sedikit saja pada lingkungan akan menyebabkan
kepunahan spesies endemik. Oleh karenanya konservasi memberikan perhatian yang lebih
pada spesies spesies endemik yang ada di dunia. Salah satu spesies endemik yang ada di
Indonesia adalah komodo (Varanus comodensis). Komodo merupakan reptil purba yang
masih hidup di Pulau Komodo Nusa Tengara Indonesia. Secara geografis, pulau ini terletak
di antara kepulauan Nusa Tenggara dan terisolasi diantara hamparan laut samudra Indonesia.
Ekosisetem Pulau Komodo dengan lingkungan fisik yang panas, kering dan berangin
mengarahkan seleksi alam dengan memenangkan komodo sebagai hewan predator yang
eksis pada ekosistem tersebut. Gangguan terhadap habitat Pulau Komodo tentu saja sangat
mengancam keberadaannya. Apabila hewan ini punah di Pulau Komodo, maka tidak akan
ada lagi komodo di tempat lain, karena hewan ini hanya hidup di Pulau Komodo. Selain
komodo hewan yang endemik lainnya yang hidup di Indonesia adalah harimau jawa
(Panthera tigris sondaicus); harimau bali (sudah punah), jalak bali putih (Leucopsar
rothschildi) di Bali, badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus) di Ujung Kulon, binturong
(Artictis binturong), monyet (Presbytis thomasi), tarsius (Tarsius bancanus) di Sulawesi
Utara, kukang (Nycticebus coucang), dan maleo (hanya di Sulawesi) Tumbuhan yang
endemik yang hidup di Indonesia terutama dari genus Rafflesia misalnya Rafflesia arnoldii
(endemik di Sumatra Barat, Bengkulu, dan Aceh), Rafflesia borneensis (Kalimantan),
Rafflesia cilliata (Kalimantan Timur), Rafflesia horsfilldii (Jawa), Rafflesia patma (Nusa
Kambangan dan Pangandaran), Rafflesia rochussenii (Jawa Barat), dan Rafflesia contleyi
(Sumatra bagian timur).
Kemampuan spesies untuk bertahan terhadap gangguan lingkungan menyebabkan
suatu spesies dapat sukses berada dilingkungannya dan memperbanyak keturunannya dari
generasi ke generarasi. Di alam, terdapat spesies dengan ketahanan yang tinggi terhadap
tekanan. Spesies yang demikian disebut dengan spesies eksotik. Spesies eksotik memiliki
daya adaptasi yang tinggi; tingkat reproduksi tinggi dan memiliki sebaran yang luas. Dalam
suatu ekosistem, spesies eksotik biasanya mudah mengalahkan pesaingnya, sehingga
menjadi spseis yang dominan. Selain itu spesies eksotik seringkali bersifat invasif, cenderung
memasuki ekosistem yang bukan ekosistem aslinya. Sebagai akibatnya keberadaan spesies
ekosotik dapat mengancam spesies asli. Dalam upaya konservasi, eksotik spesies perlu
mendapatkan perhatian tersendiri. Terutama invasi eksotik spesies ke dalam kawasan
konservasi perlu dipandang sebagai ancaman.
Konservasi Berbasis Spesies.
Berbagai pendekatan dilakukan untuk mencapai tujuan konservasi ini. Dalam hal ini,
terdapat 3 kriteria spesies yang mendapat prioritas konservasi yaitu Umbrellaspecies,
flagshipspecies dan keystonespecies. Berikut penjelasan dari masing-masing katagori
spesies:
a) Umbrellaspecies (spesies payung)
Katagori Umbrellaspecies diberikan untuk spesies yang memiliki penyebaran
yang luas yang membutuhkan banyak spesies lain; spesies ini membutuhkan area yang
37

luas sehingga perlindungan jenis ini juga melindungi hewan lain yang juga menempati
daerah yang sama. Perlindungan terhadap umbrella species otomatis akan memperluas
perlindungan ke jenis lain. Misalnya perlindungan terhadap pohon beringin tua akan
melindungi ratusan spesies serangga penyerbuk yang bersarang di daun dan rantingnya.
Untuk kelompok hewan, umbrellaspecies digunakan pada hewan yang badannya relatif
lebih besar dan jenis hewan vertebrata tingkat tinggi yang penyebarannya luas. Misalnya
spesies banteng (Bos javanicus)
di Taman Nasional Meru Betiri merupakan
Umbrellaspecies.
b) Flagshipspecies
Adalah spesies yang dipilih sebagai duta, ikon atau simbol untuk mendefinisikan
suatu habitat, isu, kampanye atau dampak lingkungan. Dengan memfokuskan dan
mengusahakan konservasi spesies ini, status dari jenis lain yang menempati habitat yang
sama akan terlindungi. Katagori Flagshipspeciesdapat diberikan pada spesies yang
menarik, unik, endemik atau khas suatu daerah yang merupakan penciri dari daerah
tersebut. Diantara spesies dengan katagori ini adalah mamalia besar seperti Harimau
Sumatra (Pantera tigris sumatrae), Gajah Sumatra ( Elephas maximus sumatrensis) dan
orang utan (pongo pigmaeus).
c) keystone species
Spesies dengan katagori keystonememainkan peranan yang penting di dalam struktur,
fungsi atau produktifitas dari habitat atau ekosistem (habitat, tanah, dan pemencar biji,
dll). Hilangnya spesies ini akan mengakibatkan perubahan yang signifikan yang bisa
berefek pada skala yang lebih besar. Contohnya termasuk peranana gajah dalam
memelihara struktur habitat, dan kelelawar dan serangga di dalam polinasi. Dengan
memfokuskan pada keystone species, aksi konservasi dari spesies ini membantu
melindungi struktur dan fungsi habitat yang luas yang berhubungan dengan spesies ini
selama siklus hidupnya. Misalnya kelelawar (Ordo Chiroptera) merupakan keystone
speciesyang memegang peran kunci dalam ekosistem gua. Tanpa adanya kelelawar
yang membawa energi dari luar gua ke dalam gua, ekosistem gua tidak akan hidup.
Selain memiliki keiistimewaan, beberapa spesies perlu mendapat perlindungan
karena rentan terhadap kepunahan. Ciri ciri yang spesies yang rentan terhadap
kepunahan adalah (Renwarin dan Renwarin 1996):
a) Spesies dengan kisaran geografi sangat sempit.
Spesies yang hanya dijumpai pada beberapa lokasi dengan kisaran
geografi terbatas memiliki resiko yang tingi akan kepunahan. Apabila
keseluruhan kisaran geografi tersebut digangu oleh kegiatan manusia,
spesies tersebut akan hilang. Sebagai contoh burung Jalak Bali,
menempati habitat khusus di Cagar Alam Pulau Dua di Pula Bali.
b) Spesies dengan hanya satu atau beberapa populasi.
Spesies yang hanya terdiri dari satu populasi dapat punah seketika
karena gangguan alam tertentu.
c) Spesies berukuran populasi kecil
Spesies dengan ukuran populasi kecil rentan punah dibandingkan
spesies dengan ukuran populasi besar. Hal ini karena spesies dengan
populasi kecil memiliki keragaman demografi, keragaman lingkungan
dan keragaman genetik kecil. Perubahan lingkungan sedikit saja dapat
mengancam spesies ini. Misalnya populasi Harimau Jawa diduga
hanya terdiri atas satu populasi kecil. Spesies ini sangat rentan
terhadap gangguan alam ataupun gangguan oleh manusia.
38

d)

e)

f)

g)

h)

i)

j)

k)

l)

Spesies dengan kepadatan populasi rendah.


Spesies yang menempati satuan luas area dengan hanya beberapa
individu saja sangat terancam bila wilayahnya terfragmentasi.
Fragmentasi habitat akan menyebabkan populasi menjadi sangat kecil.
Spesies yang memerlukan kisaran tempat tingal yang luas.
Spesies yang membutuhkan wilayah jelajah yang luas untuk hidupnya,
misalnya harimau sangat rentan untuk punah apabila bagian dari
wilayahnya dirusak.
Spesies yang memiliki ukuran tubuh besar
Hewan besar membutuhkan sumber makanan lebih banyak, wilayah
yang lebih luas dan lebih mudah diburu oleh manusia. Oleh karena itu
hewan bertubuh besar lebih rentan untuk punah.
Spesies dengan laju perkembangan populasi rendah.
Beberapa spesies yang hidup di habitat yang stabil cenderung menunda
reproduksi sampai umur lanjut dan bereproduksi hanya beberapa
keturunan bertubuh besar. Strategi ini dikenal dengan strategi k.
Spesies ini lebih rentan untuk punah karena jumlah keturunan yang
sedikit akan habis bila terjadi ganguan. Misalnya Badak Jawa
(Rhinocoren sondaecus) hanya memiliki satu ekor anak setiap
reproduksi.
Spesies yang tidak efektif berdispersi.
Salah satu strategi spesies yang mendapat tekanan di habitat aslinya
adalah pindah ke habitat baru. Spesies yang tidak mampu melintasi
jalan, padang pengembalaan atau perubahan iklim ketika bermigrasi ke
habitat baru rentan terhadap kepunahan.
Spesies yang bermigrasi
Spesies yang bermigrasi secara musiman tergantung pada dua atau
lebih tipe habitat berbeda,apabila salah satu dari habitat tersebut
dirusak spesies tersebut terancam. Demikian juga apabila aktivitas
manusia menghalangi jalur migrasi, spesies tersebut kurang mampu
bertahan karena kurang nutrisi atau gagal bereproduksi karena tekanan
iklim di habitat asal. Sebagai contoh, ikan salmon habitat peneluran di
muara sungai, sementara habitat pencarian makanya di air laut.
Spesies dengan keragaman genetik kecil
Variasi genetik dalam spesies memberikan peluang bagi populasi
untuk bisa bertahan terhadap perubahan lingkungan. Spesies dengan
keragaman genetik rendah cenderung terancam punah karena ancaman
penyakit atau perubahan lingkungan.
Spesies dengan persyaratan relung khusus.
Spesies dengan syarat relung khusus sangat terancam untuk punah,
karena hilangnya relung yang tidak dapat tergantikan menyebabkan
hilangnya habitat. Sebagai contoh, penyu sisik memiliki habitat
berbiak dengan syarat khusus. Hilangnya habitat berbiak neyebabkan
kepunahan jenis tersebut.
Spesies yang selalu ditemukan di lingkungan yang stabil.
Spesies yang hidup dilingkungan stabil biasanya memiliki toleransi
yang sempit terhadap perubahan iklim mikro. Sebagai contoh spesies
tumbuhan yang hidup di hutan hujan tropis teradaptasi pada kondisi
intensitas sinar yang rendah. Pembalakan hutan menyebabkan sinar

39

matahari penuh masuk kedalam lantai hutan. Kondisi ini mengancam


berbagai jenis tumbuhan bawah.
m) Spesies yang membentuk kelompok sementara atau tetap.
Beberapa spesies melakukan perburuan dengan kelompok sementara
ataupun tetap. Kebanyak soesies primata membentuk kelompok
dengan struktur yang baku, meliputi alfa male dan beta male sebagai
raja atau pemimpin serta betina dewasa, muda dan anak anak sebagai
anggota.
n) Spesies yang dipanen atau diburu
Untuk memenuhi kebutuhan manusia, terdapat beberapa spesies yang
menjadi target buruan. Diantaranya adalah jenis jenis hewan yang
digunakan sebagai sumber pakan seperti rusa, kelinci hutan, banteng
dan sebagainya atau jenis jenis yang digunakan sebagai hiasan
misalnya gajah untuk diambil gadingnya.
Secara Internasional, lembaga yang bergerak dalam konservasi adalah IUCN dengan
memiliki komisi Species Survival Commission yang bergerak khusus di konservasi berbasis
spesies dengan berbagai program dan aksi konservasinya.IUCN (International Union for
Conservation of Nature) beranggotakan 1000 organisasi pemerintahan dan LSM dan hampir
11000 ilmuwan sukarelawan dari lebih dari 160 negara. Salah satu divisi dalam IUCN adalah
SSC, yang memberikan saran dalam aspek teknis dari konservasi spesies dan menggerakkan
aksi untuk spesies tersebut.Anggota SSC terbagi ke dalam lebih dari 100 Specialist Group
dan Task Forces. Beberapa kelompok menangani isu konservasi yang berkaitan dengan
tumbuhan atau hewan, sedangkan yang lain fokus pada isu-isu dengan topik seperti
reintroduksi spesies kembali ke habitat atau masalah kesehatan satwa liar.
Salah satu bentuk program yang dibentuk oleh IUCN SSC adalah IUCN Red List.
IUCN Redlist adalah sebuah pendekatan global dan mengevaluasi status konservasi dari jenis
tumbuhan dan hewan. status ini sekarang digunakan dan berperan penting dalam bentuk
aktifitas konservasi yang dilakukan oleh pemerintahan, LSM dan lembaga penelitian. Tujuan
dari IUCN Red List ini adalah untuk mengidentifkasi dan mendokumentasikan spesies yang
sangat butuh perhatian serta menyediakan indeks global dari bentuk perubahan
keanekaragaman hayati.Dalam penilaiannya terhadap kondisi dan status jenis hewan dan
tumbuhan, Red List membuat dan mengelompokkan berdasarkan status keterancaman dan
kondisinya.
Kategori status konservasi dalam IUCN Red List pertama kali dikeluarkan pada tahun
1984. Sampai kini daftar ini merupakan panduan paling berpengaruh mengenai status
konservasi keanekaragaman hayati. IUCN Red List menetapkan kriteria untuk mengevaluasi
status kelangkaan suatu spesies. Kriteria ini relevan untuk semua spesies di seluruh dunia.
Tujuannya adalah untuk memperingatkan betapa pentingnya masalah konservasi kepada
publik dan pembuat kebijakan untuk menolong komunitas internasional dalam memperbaiki
status kelangkaan spesies.IUCN akan memperbaiki dan mengevaluasi status setiap spesies
lima tahun sekali jika memungkinkan, atau setidaknya sepuluh tahun sekali. Dan sejak
pertama kali dikeluarkan status konservasi IUCN telah mengalami beberapa kali revisi, yaitu:
1. Versi 1.0: Mace and Lande (1991). Dokumen pertama yang mendiskusikan aturan
baru untuk klasifikasi.
2. Versi 2.0: Mace et al. (1992). Revisi besar terhadap versi 1.0.
3. Versi 2.1: IUCN (1993).
4. Versi 2.2: Mace and Stuart (1994)
5. Versi 2.3: IUCN (1994).
6. Versi 3.0: IUCN/SSC Criteria Review Working Group (1999)
40

Versi 3.1: IUCN (2001).


Kategori-kategori yang saat ini telah ditetapkan yaitu Extinct (EX), Extinct in the
Wild (EW), Critically Endangered (CR), Endangered (EN), Vulnerable (VU), Near
Threatened (NT) dan Least Concern (LC). Bagi jenis yang kekurangan informasi tentang
kondisi populasinya, dikelompokkan ke dalam Data Deficient (DD), dan bagi jenis yang
belum dianalisa dimasukkan ke dalam kategori Not Evaluated (NE).
7.

Gambar 8: Bagan status spesies berdasarkan IUCN red list.


Sumber:http://www.iucnredlist.org/documents/redlist_cats_crit_en.pdf
Berikut penjelasan masing masing katagori spesies berdasarkan IUCN red list:
1. Extinct (EX; Punah) adalah status konservasi yag diberikan kepada spesies yang
terbukti (tidak ada keraguan lagi) bahwa individu terakhir spesies tersebut sudah
mati. Dalam IUCN Redlist tercatat 723 hewan dan 86 tumbuhan yang berstatus
Punah. Contoh satwa Indonesia yang telah punah diantaranya adalah; Harimau Jawa
dan Harimau Bali.
2. Extinct in the Wild (EW; Punah Di Alam Liar) adalah status konservasi yang
diberikan kepada spesies yang hanya diketahui berada di tempat penangkaran atau di
luar habitat alami mereka. Dalam IUCN Redlist tercatat 38 hewan dan 28 tumbuhan
yang berstatus Extinct in the Wild.
3. Critically Endangered (CR; Kritis) adalah status konservasi yang diberikan kepada
spesies yang menghadapi risiko kepunahan di waktu dekat. Dalam IUCN Redlist
tercatat 1.742 hewan dan 1.577 tumbuhan yang berstatus Kritis. Contoh satwa
Indonesia yang berstatus kritis antara lain; Harimau Sumatra, Badak Jawa, Badak
Sumatera, Jalak Bali, Orangutan Sumatera, Elang Jawa, Trulek Jawa, Rusa Bawean.
4. Endangered (EN; Genting atau Terancam) adalah status konservasi yang diberikan
kepada spesies yang sedang menghadapi risiko kepunahan di alam liar yang tinggi
41

5.

6.

7.

8.

9.

pada waktu yang akan datang. Dalam IUCN Redlist tercatat 2.573 hewan dan 2.316
tumbuhan yang berstatus Terancam. Contoh satwa Indonesia yang berstatus Terancam
antara lain; Banteng, Anoa, Mentok Rimba, Maleo, Tapir, Trenggiling, Bekantan, dan
Tarsius.
Vulnerable (VU; Rentan) adalah status konservasi yang diberikan kepada spesies
yang sedang menghadapi risiko kepunahan di alam liar pada waktu yang akan datang.
Dalam IUCN Redlist tercatat 4.467 hewan dan 4.607 tumbuhan yang berstatus
Rentan. Contoh satwa Indonesia yang berstatus Terancam antara lain; Kasuari, Merak
Hijau, dan Kakak Tua Maluku.
Near Threatened (NT; Hampir Terancam) adalah status konservasi yang diberikan
kepada spesies yang mungkin berada dalam keadaan terancam atau mendekati
terancam kepunahan, meski tidak masuk ke dalam status terancam. Dalam IUCN
Redlist tercatat 2.574 hewan dan 1.076 tumbuhan yang berstatus Hampir Terancam.
Contoh satwa Indonesia yang berstatus Terancam antara lain; Alap-alap Doria, Punai
Sumba,
Least Concern (LC; Berisiko Rendah) adalah kategori IUCN yang diberikan untuk
spesies yang telah dievaluasi namun tidak masuk ke dalam kategori manapun. Dalam
IUCN Redlist tercatat 17.535 hewan dan 1.488 tumbuhan yang berstatus Contoh
satwa Indonesia yang berstatus Terancam antara lain; Ayam Hutan Merah, Ayam
Hutan Hijau, dan Landak.
Data Deficient (DD; Informasi Kurang), Sebuah takson dinyatakan informasi
kurang ketika informasi yang ada kurang memadai untuk membuat perkiraan akan
risiko kepunahannya berdasarkan distribusi dan status populasi. Dalam IUCN Redlist
tercatat 5.813 hewan dan 735 tumbuhan yang berstatus Informasi kurang. Contoh
satwa Indonesia yang berstatus Terancam antara lain; Punggok Papua, Todirhamphus
nigrocyaneus,
Not Evaluated (NE; Belum dievaluasi); Sebuah takson dinyatakan belum dievaluasi
ketika tidak dievaluasi untuk kriteria-kriteria di atas. Contoh satwa Indonesia yang
berstatus Terancam antara lain; Punggok Togian.

Konservasi Berbasis Spesies di Indonesia


Dasar hukum konservasi di Indonesia adalah Undang-Undang no 5 th 1990 tentang
Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya. Pada tahun 1990 itu juga Indonesia
membuat flora dan fauna maskot propinsi melalui SK Mendagri no 522.4/1458/SJ tanggal 2
Juni 1990 tentang flora dan fauna maskot propinsi. Terdapat 27 maskot untuk masing-masing
propinsi. Contohnya maskot propinsi Sumatera Barat adalah andalas (Morus macroura)
untuk flora dan burung kuau (Argusianus argus) untuk faunanya. Pada saat itu masingmasing daerah tingkat kabupaten dan kota juga dihimbau untuk menetapkan maskot flora dan
faunanya.
Pembentukan flora dan fauna maskot bertujuan:
1. sebagai upaya pengenalan suatu daerah dipandang dari keunikan suatu jenis tumbuhan
dan satwa asli/khas yang terdapat di daerah sehingga menggambarkan ciri khas
daerah.
2. diharapkan dapat meningkatkan rasa ikut memiliki dan menanamkan kebanggaan
terhadap suatu jenis tumbuhan dan satwa,
3. meningkatkan kesadaran masyarakat agar dapat berperan secara aktif dalam upaya
melestarikan keberadaannya
4. serta sebagai sarana peningkatan promosi kepariwisataan daerah.

42

Pada tahun 1993, presiden Soeharto menerbitkan Keppres no 4 tahun 1993 tentang satwa dan
bunga nasional. Tiga jenis satwa yang masing-masing mewakili satwa darat, air, dan udara,
dinyatakan sebagai Satwa Nasional, dan selanjutnya dikukuhkan penyebutannya sebagai
berikut :
1. Komodo (Varanus komodoensis), sebagai satwa nasional;
2. Ikan Siluk Merah (Sclerophages formosus), sebagai satwa pesona; dan
3. Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), sebagai satwa langka.
Tiga jenis bunga dinyatakan sebagai bunga Nasional, dan selanjutnya dikukuhkan
penyebutannya sebagai berikut :
1. Melati (Jasminum sambac), sebagai puspa bangsa
2. Anggrek bulan (Palaenopsis amabilis), sebagai puspa pesona
3. Padma Raksasa (Rafflesia arnoldi), sebagai puspa langka.
Pada tahun 1999, pemerintah membuat PP no 7 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan
Dan Satwa dan membuat daftar jenis-jenis hayati yang dilindungi. Pada tahun 2003,
Indonesia membuat rencana jangka panjangnya dalam menghadapi persoalan
keanekaragaman hayati yaitu dengan menyusun dokumen Strategi dan Rencana Aksi
Keanekaragaman Hayati Indonesia / IBSAP (Indonesia Biodiversity Strategy and Action
Plan) 2003-2020. Dengan telah tersusunnya dokumen ini, maka pada tahun 2007, Indonesia
membuat Rencana Aksi (Action Plan) untuk beberapa hewan flagship species yang sering
menjadi simbol dan acuan di dalam kegiatan konservasi di Indonesia. Hewan tersebut adalah
orangutan, harimau, badak, gajah, elang jawa. Dokumen ini dipersiapkan sebagai arahan
kegiatan konservasi yang berlaku sampai tahun 2017.

43