Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Metode manusia untuk memperoleh pengetahuan terdiri dari
pengalaman indera (Penglihatan, Pendengaran, Penciuman, Pengecapan,
dan Peraba), penalaran (akal pikiran merupakan faktor pokok dalam suatu
pengetahuan), Intuisi (kemampuan membuat pernyataan pengetahuantanpa mengalami pengalaman terlebih dahulu), Wahyu (berita Tuhan yang
dismapaikan melalui intelektual manusia), kesaksian (pengetahuan yang
diperoleh dari kesaksian yang dipercayai), dan keyakinan (pengetahuan
intelektual yang bersifat kondisoanal).
Proses penciuman yang dialami manusia adalah salah satu unsur
dari pengetahuan. Indera penciuaman manusia bersifat empiris. Karena
apa yang kita cium merupakan pengalaman konkret dan membentuk suatu
pengetahuan.
Proses penciuman setiap manusia berbeda. Hal ini karena
kemampuan berfikir, pengalaman-pengalaman individu tidak sama, maka
dalam mempersepsi dan mensensasikan sesuatu stimulus, hasil persepsi
dan sensasi mungkin akan berbeda antara individu satu dengan individu
lain. karena persepsi dan sensasi bersifat individual. Oleh karena itu,
kajian ini akan membahas pesepsi manusia mengenai indera penciuman
yang kemudian dapat membentuk suatu pengetahuan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Definisi dan Fungsi dari Hidung ?
2. Bagaimana Mofologi dan Anatomi Hidung ?
3. Bagaimana Bagian-bagian dari hidung Manusia ?
4. Bagaimana Proses Indra penciuman Manusia ?
5. Bagaimana Rangsangan reseptor dan Diskriminasi bau ?
6. Bagaimana Penyakit yang menyerang Hidung ?

C. Tujuan penulisan
1. Mengetahui definisi dan fungsi dari Hidung.
2. Mengetahui Morfologi dan Anatomi Hidung.
3. Mengetahui bagian-bagian dari Hidung.
4. Mengerahui proses Indra penciuman manusia.
5. Mengetahui rangsangan reseptor dan diskriminasi bau.
6. Mengetahui penyakit apa saja yang menyerang Hidung.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sistem Indra


Sistem indra adalah organ-organ akhir yang dikhususkan bentuk
penerimaan jenis rangsangan tertentu. Serabut saraf yang menanganinya
merupakan alat perantara yang membawa kesan rasa (sensori impression)
dari organ indra menuju ke otak dimana perasaan ini ditafsirkan.

B. Definisi Hidung
Secara anatomi, hidung (latin = nasale) adalah penonjolan pada
vertebrata yang mengandung nostril, yang menyaring udara untuk
pernapasan. Hidung sebagai suatu istilah, dapat juga digunakan untuk
menunjukkan ujung sesuatu, seperti hidung pada pesawat terbang.
Hidung adalah bagian yang paling menonjol di wajah, yang
berfungsi menghirup udara pernapasan, menyaring udara, menghangatkan
udara pernapasan, juga berperan dalam resonansi suara.

C. Fungsi Hidung
Hidung merupakan salah satu dari panca indra yang berfungsi
sebagai indra pembau. Indra pembau berupa kemoreseptor yang terdapat
di permukaan dalam hidung, yaitu pada lapisan lendir bagian atas.
Reseptor pencium tidak bergerombol seperti tunas pengecap. Epitelium
pembau mengandung 20 juta sel-sel olfaktori yang khusus dengan aksonakson yang tegak sebagai serabut-serabut saraf pembau. Di akhir setiap sel
pembau pada permukaan epitelium mengandung beberapa rambut-rambut
pembau yang bereaksi terhadap bahan kimia bau-bauan di udara
Bulu hidung di dalam kaviti hidung menapis debu dan
mikroorganisma dari udara yang masuk dan lapisan mukus yang
memerangkapnya. Bekalan darah yang banyak ke membran mukus
membantu mengawal udara yang masuk menjadi hampir sama dengan
suhu badan di samping melembabkannya. Selain itu hidung juga berfungsi

sebagai organ untuk membau kerana reseptor bau terletak di mukosa


bahagian atas hidung. Hidung juga membantu menghasilkan dengungan
(fonasi).

D. Morfologi dan Anatomi Hidung

Hidung merupakan indera khusus yang terletak didalam rongga


hidung. Daerah sensitif indera pembau terletak di bagian atas rongga
hidung. Struktur indera pembau terdiri dari sel penyokong yang berupa
sel epitel dan sel pembau yang berupa neuron sebagai reseptor.

Sel pembau memiliki tonjolan ujung dendrite berupa rambut yang


terletak pada selaput lendir hidung. Ujung lainnya berupa tonjolan akson
membentuk berkas yang disebut saraf otak I (saraf olfaktori). Saraf ini
akan menembus tulang tapis, masuk ke dalam otak kemudian bersinaps
dengan

neuron

traktus

olfaktori

pada

bulbus

olfaktorius.

Bulu hidung di dalam kaviti hidung menapis debu dan


mikroorganisma dari udara yang masuk dan lapisan mukus yang
memerangkapnya. Bekalan darah yang banyak ke membran mukus

membantu mengawal udara yang masuk menjadi hampir sama dengan


suhu badan di samping melembabkannya. Selain itu hidung juga
berfungsi sebagai organ untuk membau kerana reseptor bau terletak di
mukosa bahagian atas hidung. Hidung juga membantu menghasilkan
dengungan (fonasi).

E.

Bagian Bagian Hidung


Hidung manusia di bagi menjadi dua bagian rongga yang sama
besar yang di sebut dengan nostril. Dinding pemisah di sebut dengan
septum, septum terbuat dari tulang yang sangat tipis. Rongga hidung di
lapisi dengan rambut dan membran yang mensekresi lendir lengket.
1. Rongga hidung (nasal cavity) Rongga hidung mempunyai tiga
lapisan yang dipisahkan oleh tulang. Rongga atas berisi ujungujung

cabang

saraf

cranial,

yaitu

saraf

olfaktori

(saraf

pembau).Hidung terlindung dari lapisan tulang rawan dan bagian


rongga dalam mengandung sel-sel epitel yang berfungsi untuk
menerima rangsang kimia. Bagian tersebut dilengkapi lendir dan
rambut-rambut pembau.
2. Mucous

membrane,

berfungsi

menghangatkan

udara

dan

melembabkannya. Bagian ini membuat mucus (lendir atau ingus)


yang berguna untuk menangkap debu, bakteri, dan partikel-partikel
kecil lainnya yang dapat merusak paru-paru.

F.

Proses Indera Penciuman Manusia

Di dalam rongga hidung terdapat selaput lendir yang mengandung sel- sel
pembau. Pada sel-sel pembau terdapat ujung-ujung saraf pembau atau saraf
kranial (nervus alfaktorius), yang selanjutnya akan bergabung membentuk
serabut-serabut saraf pembau untuk menjalin dengan serabut-serabut otak
(bulbus olfaktorius). Zat-zat kimia tertentu berupa gas atau uap masuk
bersama udara inspirasi mencapai reseptor pembau. Zat ini dapat larut dalam
lendir hidung, sehingga terjadi pengikatan zat dengan protein membran pada
dendrit. Kemudian timbul impuls yang menjalar ke akson-akson. Beribu-ribu
akson bergabung menjadi suatu bundel yang disebut saraf I otak (olfaktori).
Saraf otak ke I ini menembus lamina cribosa tulang ethmoid masuk ke
rongga hidung kemudian bersinaps dengan neuron-neuron tractus olfactorius
dan impuls dijalarkan ke daerah pembau primer pada korteks otak untuk
diinterpretasikan.
G. Rangsangan Reseptor
Rangsangan reseptor hanya berespons terhadap senyawa yang
kontak dengan epitel olfaktorius dan dilarutkan dalam lapisan tipis mokus
yang menutupinya. Ambang olfaktorius yang menggambarkan sensitivitas
hebat reseptor olfaktorius terhadap sejumlah senyawa yang dapat dicium
pada konsentrasi kurang dari 500pg/l diubah sekitar 30% dari sebelum dapat

dideteksi.melekul penghasil

bau mengandung 3-20 atom karbon yang

mempunyai bau yang berbeda.

H. Diskriminasi bau
Manusia dapat membedakan bau antara 200-4000 bau yang berbeda dan
menghasilkan pola ruang yang berbeda dari peningkatan aktivitas metabolic
didalam olfaktori. Bau khusus bergantung pada pola ruang perangsangan
secara kontinu pada bau yang paling tidak disukai, maka persepsi bau
menurun kemudian berhenti.ini disebabkan oleh adaptasi yang cukup cepat
yang timbul dalam system olfaktorius..

I.

Kelainan Pada Hidung


Sebagai indra pembau, hidung dapat mengalami gangguan.
Akibatnya, kepekaan hidung menjadi berkurang atau bahkan tidak dapat
mencium bau suatu benda. Kelainan-kelainan pada hidung yaitu:
1.

Angiofibroma Juvenil,
Angiofibroma Juvenil adalah tumor jinak pada hidung
bagian belakang atau tenggorokan bagian atas (nasofaring), yang
mengandung pembuluh darah. Tumor ini paling sering ditemukan
pada anak-anak laki yang sedang mengalami masa puber. Tumor
ini tidak ganas, tetapi dapat merusak jaringan pada lapisan hidung
dan sering menyebabkan perdarahan hidung (epistaksis, mimisan).
Tumor juga bisa menghalangi saluran pernafasan. Jika tumbuh
membesar, tumor bisa meluas ke jaringan di sekitarnya, kantung
mata atau rongga kranial (rongga yang berisi otak).
Tumor dapat terlihat pada pemeriksaan CT scan atau MRI.
Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan biopsi mukosa
hidung. Dengan angiografi dapat dilihat pembuluh darah yang
menuju ke tumor dan kemungkinan penyebarannya ke dalam
kantung mata atau rongga kranial.

Pengobatan perlu dilakukan jika angiofibroma tumbuh


membesar,

menghalangi

saluran

udara

atau

menyebabkan

epistaksis menahun. Pada beberapa kasus, tidak perlu dilakukan


pengobatan.
Pembedahan dilakukan untuk mengangkat tumor. Pengangkatan
tumor seringkali sulit dilakukan karena tumor terbungkus dan
menyusup ke dalam, sehingga setelah pengangkatan tumor
seringkali terjadi kekambuhan.
Embolisasi (penyumbatan arteri dengan suatu bahan) bisa
menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada tumor dan
menghentikan perdarahan. Embolisasi dilakukan dengan cara
menyuntikkan suatu zat ke dalam pembuluh darah untuk
menyumbat aliran darah yang melaluinya. Embolisasi efektif untuk
mengatasi perdarahan hidung dan tindakan ini bisa diikuti dengan
pembedahan untuk mengangkat tumor. Jika tumor telah menyebar
ke rongga kranial dan tidak dapat diangkat melalui pembedahan,
kadang dilakukan terapi penyinaran.
2.

Papiloma Juvenil,
Papiloma Juvenil adalah tumor jinak pada kotak suara
(laring). Papiloma disebabkan oleh virus. Papiloma bisa ditemukan
pada usia 1 tahun. Papiloma bisa menyebabkan suara serak, kadang
cukup berat sehingga anak tidak dapat berbicara dan bisa
menyumbat saluran udara. Papiloma dapat dilihat dengan bantuan
laringoskopi dan untuk memperkuat diagnosis, dilakukan biopsi.
Papiloma yang ditemukan pada beberapa tempat bisa
tumbuh membesar sehingga perlu dilakukan pembedahan untuk
membuka tabung udara (trakea) agar anak bisa bernafas.
Untuk mengobati papiloma, biasanya dilakukan pembedahan
maupun penguapan dengan laser. Sering terjadi kekambuhan,

tetapi papiloma biasanya menghilang dengan sendirinya pada masa


puber.
3.

Rhinitis Allergica,
Rhinitis, dikenal sebagai beringus, adalah istilah medis yang
menggambarkan iritasi dan peradangan daerah internal hidung.
Gejala utama rhinitis adalah menetes hidung. Ini disebabkan oleh
peradangan kronis atau akut membran mukosa hidung virus,
bakteri atau iritasi.
Peradangan

mengakibatkan

menghasilkan

jumlah

berlebihan lendir, umumnya menghasilkan tersebut beringus, serta


hidung tersumbat dan post-nasal tetes.
Menurut studi terbaru selesai di Amerika Serikat, lebih dari
50 juta orang Amerika adalah penderita saat ini. Rhinitis juga telah
ditemukan untuk mempengaruhi lebih dari sekedar hidung,
tenggorokan, dan mata.
Telah dikaitkan dengan tidur masalah, kondisi telinga, dan
bahkan belajar masalah. Rhinitis disebabkan oleh peningkatan
histamin. Peningkatan ini paling sering disebabkan oleh udara
alergen. Alergen ini dapat mempengaruhi individu hidung,
tenggorokan, atau yang mata dan menyebabkan peningkatan
produksi cairan dalam bidang ini.
Rhinitis dikategorikan menjadi tiga jenis: infektif rhinitis
termasuk akut dan kronis infeksi bakteri; nonallergic (vasomotor)
rhinitis termasuk otonom, hormon, obat induced, atrophic, dan
gustatory rhinitis, serta rhinitis medicamentosa; reaksi mic yang
dipicu oleh serbuk sari, cetakan, hewan ketombe, debu dan
sejenisnya alergi rhinitis, menghirup penyebab alergi.

4.

Sinusitis
Sinusitis adalah peradangan saluran pada rongga tengkorak
yang menghubungkan hidung dan rongga mata. Kata sinusitis itu
sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu sinus yang artinya cekungan
dan akhiran itis yang berarti radang.
Gejala sinusitis :
1.

Pilek yang berlangsung lama. Biasanya penderita tidak


menyadari dirinya terkena sinusitis, karena gejalanya sering
didahului pilek yang berlangsung lama sehingga dianggap
biasa.

2.

Bila sudah terjadi penumpukan cairan dalam rongga maka


kepala menjadi sakit, terutama jika sedang menunduk.

3.

Kadang pendengaran berkurang dan badan meriang, sementara


ingus terus mengalir.

4.

Kehilangan nafsu makan dan indera penciuman menjadi


lemah.

Penyebab sinusitis :
1.

Hidung tersumbat antara lain disebabkan oleh infeksi virus flu


di saat tubuh kurang fit. Infeksi yang menyerang di sekitar
hidung dan tenggorokan ini tak jarang menjalar ke sinus
(rongga di sekitar hidung yang mengalirkan lendir).

2.

Radang pada rongga hidung ini bisa juga disebabkan oleh cara
kita membuang ingus yang salah. Ingus yang seharusnya
keluar malah tersedot masuk ke rongga sehingga susah
dikeluarkan. Dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur.

3.

Kuman

yang

biasa

menyerang

adalah

Streptococcus

pneumoniae dan Haemo philus influenzae yang ditemukan


hampir pada 70% kasus.
4.

Dapat juga disebabkan oleh radang ditempat lain yang


berdekatan misalnya radang tenggorokan, radang Amandel,
10

radang pada gigi geraham atas, kadang juga disebabkan karena


berenang, menyelam, trauma tekanan udara (biasanya pada
awak pesawat).
5.

Allergi dapat memperberat penyakit ini, sehingga orang yang


memang telah mengidap alergi akan lebih mudah terkena
radang sinus ini.

Seseorang yang berpotensi sinusitis :


1.

Perokok, karena hawa panas yang dihisap dapat merangsang


organ di sekitar hidung sehingga menimbulkan iritasi dan
memperbesar kemungkinan timbulnya sinusitis.

2.

Penderita alergi. Perubahan temperatur dan kelembaban yang


mencolok dapat mengakibatkan peradangan di dalam hidung
yang mungkin merambat ke dalam sinus.

5.

3.

Perenang.

4.

Penderita influenza

5.

Mereka yang tinggal di udara kering.

Influenza
Influenza adalah salah satu penyakit paling umum yang
sangat menular yang menyebabkan rasa sakit pada otot dan sendi,
sakit kepala dan demam antara 38 40 derajat. Virus influenza
menyebar melalui udara dari kontak antar manusia. Penyakit ini
ditularkan melalui cairan (droplet) dari hidung atau mulut dan
melalui tangan yang terkontaminasi virus. menularkan infeksi
sampai beberapa hari setelah demam menghilang.
Penyakit ini dapat berkembang menjadi epidemi yang
menyebar dari kota ke kota dan dari negara ke negara. Sebuah
wilayah dapat dilanda epidemi flu selama 4-6 minggu sebelum
mereda.

11

Jenis virus influenza


Ada tiga tipe virus influenza: A, B dan C. Virus influenza
A dan B menyebabkan epidemi musiman. Virus influenza tipe C
tidak menyebabkan epidemi dan memberikan gejala yang lebih
ringan.
Virus influenza A dibagi menjadi beberapa subtipe
berdasarkan dua protein pada permukaan virus: hemaglutinin (H)
dan neuraminidase (N). Ada 16 subtipe hemaglutinin dan 9
subtipe neuraminidase yang berbeda. Setiap subtipe virus influenza
A dapat dipecah lagi menjadi strain yang berbeda. Subtipe virus
influenza A yang ditemukan pada manusia adalah H1N1, H3N2
dan H5N1 dengan aneka strain yang berbeda. Virus influenza B
tidak dibagi menjadi subtipe tetapi juga memiliki beberapa strain
yang berbeda.
Anda tidak mendapatkan influenza dari strain yang sama
dua kali karena 2-4 minggu setelah terkena penyakit, Anda
mengembangkan antibodi terhadapnya. Namun, virus flu terus
berkembang menjadi strain-strain baru. Strain ini terjadi melalui
mutasi virus dari binatang yang bercampur dengan virus flu dari
manusia. Dalam kasus tersebut tidak ada kekebalan (resistensi) kita
terhadap virus flu baru, sehingga epidemi besar dapat terjadi.
Sejak akhir 1990-an, misalnya, muncul sebuah strain baru dari
influenza A (flu burung, H5N1) yang menyebabkan epidemi besar
pada ayam dan bebek, terutama di Cina, Thailand, Vietnam dan
Indonesia, yang menginfeksi sejumlah kecil manusia dan beberapa
di antaranya meninggal dunia. Virus flu ini telah menyebar melalui
burung migran ke ayam dan itik di beberapa negara lain, termasuk
Eropa dan Afrika.
Apakah tanda-tanda flu?

12

sakit kepala

demam sekitar 38 40 derajat

sakit otot dan sendi

nyeri dada

kehilangan nafsu makan

kelelahan dan kelemahan

hidung meler dan sakit tenggorokan

batuk kering dan susah tidur

merasa kedinginan dan menggigil


Gejala flu biasanya berlangsung 3-5 hari. Gejala flu yang

berlangsung lebih dari seminggu mungkin merupakan tanda bahwa


penyakit telah terkomplikasi oleh infeksi bakteri dalam bentuk
pneumonia, otitis media atau sinusitis . Konsultasikan dengan
dokter Anda jika gejala tidak mereda setelah seminggu. Untuk
mempercepat penyembuhan, terapkan 5 Tips Agar Cepat Sembuh
dari Flu. Anda juga harus menghindari penularan ke orang lain
dengan menutup bersin/ batuk dengan sapu tangan dan sering
mencuci tangan.
Pengobatan Flu
Pada kebanyakan kasus, Anda tidak memerlukan obat
untuk mengatasi flu, kecuali untuk meringankan gejala-gejalanya.
Obat flu hanya diberikan pada kasus flu yang berbahaya. Influenza
tipe A dan B dapat diobati dengan Tamiflu, yang menghambat
perkembangan virus. Obat ini tidak menyembuhkan flu tetapi
mengurangi gejala dan mengurangi penyakit dari waktu ke waktu
jika digunakan dalam waktu dua hari pertama dari penyakit. Obat
ini juga dapat digunakan untuk mencegah influenza pada situasi
tertentu. Jika telah terjadi komplikasi dengan bakteri, dokter
mungkin juga meresepkan antibiotik.

13

6.

Anosmia, adalah gangguan pada hidung berupa kehilangan


kemampuan untuk membau. Penyakit ini dapat terjadi karena
beberapa hal, misalnya cidera atau infeksi di dasar kepala,
keracunan timbel, kebanyakan merokok, atau tumor otak bagian
depan. Untuk mengatasi gangguan ini harus diketahui dulu
penyebabnya.

14

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Hidung adalah bagian yang paling menonjol di wajah, yang
berfungsi menghirup udara pernapasan, menyaring udara, menghangatkan
udara pernapasan, juga berperan dalam resonansi suara. Indra pembau
berupa kemoreseptor yang terdapat di permukaan dalam hidung, yaitu
pada lapisan lendir bagian atas. Reseptor pencium tidak bergerombol
seperti tunas pengecap.Epitelium pembau mengandung 20 juta sel-sel
olfaktori yang khusus dengan akson-akson yang tegak sebagai serabutserabut saraf pembau. Di akhir setiap sel pembau pada permukaan
epitelium mengandung beberapa rambut-rambut pembau yang bereaksi
terhadap bahan kimia bau-bauan di udara.
Rongga hidung mempunyai tiga lapisan yang dipisahkan oleh
tulang. Rongga atas berisi ujung-ujung cabang saraf cranial, yaitu saraf
olfaktori (saraf pembau).Hidung terlindung dari lapisan tulang rawan dan
bagian rongga dalam mengandung sel-sel epitel yang berfungsi untuk
menerima rangsang kimia. Bagian tersebut dilengkapi lendir dan rambutrambut pembau.
Manusia dapat membedakan bau antara 200-4000 bau yang
berbeda dan menghasilkan pola ruang yang berbeda dari peningkatan
aktivitas metabolic didalam olfaktori

15

DAFTAR PUSTAKA

Sudirman J, 2002, Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan,


Kanisius: Yogyakarta
Wahyudi Imam, 2007, Epistemologi Dasar, Lima: Yogyakarta
Riska Andani Simargolang , Sensasi dan Persepsi: Makalah Psikologi Umum 1,
Diposkan pada Rabu 03 Juli 2013,
http://12012ras.blogspot.com/2013/07/persepsi-dan-sensasi.html
http://sofiyahangrangkusuma.blogspot.com/2013/10/persepsi-indera-penciumanpada-manusia_3022.html
http://rizmawan.blogspot.com/2012/02/sistem-indra-pada-tubuh-manusia.html
http://ridhwanyunaser.blogspot.com/2013/04/hidung.html
http://dauzbiotekhno.blogspot.com/search/label/ANATOMI%20FISIOLOGI%20
MANUSIA?updated-max=2013-01-10T18:42:00-08:00&maxresults=20&start=2&by-date=false
http://ipaasyik.blogspot.com/2007_08_01_archive.html
http://luv4all.wordpress.com/2011/03/27/angiofibroma-nasofaring-juvenile/
http://obatkistamiom.wordpress.com/2010/09/page/7/

16

17