Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH STATISTIKA DASAR

CONTOH PENGGUNAAN TES KAI KUADRAT

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2012

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Illahi Rabby atas karunia-Nya,
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Contoh Penggunaan Tes kai Kuadrat
ini. Shalawat serta salam kami limpahkan kepada junjungan alam Nabi Muhammad
SAW, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan kepada umatnya yang turut dan
setia kepada ajaran-Nya sampai akhir zaman.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah statistika
dasar. Dan dalam menyusun makalah ini, kami ingin menyampaikan rasa hormat dan
terima kasih yang sebesar-besarnya, terutama kepada Apit Fathurahman,S.Pd.,M.Si
sebagai dosen mata kuliah Statistika Dasar juga tak lupa kepada seluruh pihak yang telah
ikut membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Dengan kerendahan hati, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, keritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca
sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Besar harapan kami semoga makalah ini bermanfaat, khusunya bagi penulis dan
umumnya bagi pembaca serta diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi kepentingan
dunia pendidikan.

Inderalaya, 26 November 2013

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ ii


DAFTAR ISI............................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 1
1.2 Tujuan ..................................................................................................................... 1
1.3 Masalah ................................................................................................................... 1
1.4 Manfaat ................................................................................................................... 1
BAB II ISI
2.1 Tes kai kuadrat variabel Tunggal ............................................................................. 3
2.2 Variabel ganda yang sel frekuensi 10 atau lebih .....................................................
2.3 Variabel ganda yang sel frekuensi kurang dari 10 ..................................................
2.4 Perbedaan persentase ...............................................................................................
2.5 Signifikansi korelasi .................................................................................................
2.6 Signifikansi Normalitas Distribusi ...........................................................................
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .............................................................................................................17
3.2 Saran........................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................18

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Uji kai kuadrat (dilambangkan dengan "2" dari huruf Yunani "Chi"
dilafalkan "Kai") digunakan untuk menguji dua kelompok data baik variabel
independen maupun dependennya berbentuk kategorik atau dapat juga
dikatakan sebagai uji proporsi untuk dua peristiwa atau lebih, sehingga
datanya bersifat diskrit. Misalnya ingin mengetahui hubungan antara status
gizi ibu (baik atau kurang) dengan kejadian BBLR (ya atau tidak).
Dasar uji kai kuadrat itu sendiri adalah membandingkan perbedaan frekuensi
hasil observasi (O) dengan frekuensi yang diharapkan (E). Perbedaan tersebut
meyakinkan jika harga dari Kai Kuadrat sama atau lebih besar dari suatu harga
yang ditetapkan pada taraf signifikan tertentu
Metode chi-kuadrat (x2) digunakan untuk mengadakan pendekatan
(mengestimate) dari beberapa faktor atau mengevaluasi frekuensi yang diselidiki atau
frekuensi hasil observasi (fo) dengan frekuensi yang diharapkan (fe) dari sampel
apakah terdapat hubungan atau perbedaan yang signifikan atau tidak. Untuk
mengatasi permasalahan seperti ini, maka perlu diadakan teknik pengujian yang
dinamakan pengujian x2.Metode x2 menggunakan data nominal (deskrit), data
tersebut diperoleh dari hasil menghitung. Sedangkan besarnya nilai x2 bukan
merupakan ukuran derajat hubungan atau perbedaan.
Cara menguji x2 pertama buatlah hipotesis berbentuk kalimat, tetapkan tingkat
signifikansi, hitunglah nilai x2, buatlah kaidah keputusan yaitu jika x2hitung x2tabel,
maka tolak Ho artinya signifikan, carilah x2tabel, dengan menggunakan tabel x2
kemudian buatlah perbandingan antara x2hitung dengan x2tabel, yang terakhir simpulkan.
1.2 Tujuan
1. Memahami contoh penggunaan tes kai kuadrat
2. Mengetahui rumus tes kai kuadrat
3. Dapat menggunakan tes Kai kuadrat nantinya

1.3 Masalah
1. Apa contoh penggunaan tes Kai kuadrat ?
2. Bagaimana rumus penggunaan tes Kai Kuadrat?
3. Bagaimana langkah-langkah perhitungan tes Kai kuadrat ?

1.4 Manfaat
1. Mahasiswa memahami contoh penggunaan tes kai kuadrat
2. Mahasiswa mengetahui rumus tes kai kuadrat
3. Mahasiswa dapat menggunakan tes Kai kuadrat nantinya

BAB II
PEMBAHASAN
CONTOH PENGGUNAAN TES KAI KUADRAT
2.1 Tes Kai Kuadrat Untuk Mengetes Perbedaan Frekuensi Variabel Tunggal
Berikut dikemukakan sebuah contoh
Misalkan suatu kegiatan peenelitian dilakukan dengan tujuan antara lain untuk
mengetahui bagaimana pendapat para staf pengajar di sebuah Perguruan tinggi terhadap
efeektifitas pelaksanan Sistem Kredit Semester (SKS) sebagai sistem baru yang
diterapkan secara menyeluruh di semua fakultas di dalam lingkungan perguruan tinggi
tersebut.
Kepada 100 orang staf pengajar yang secara random telah ditetapkan sebagai
sampel penelitian, di ajukan pertanyaan yang isinya meminta pendapat mereka, Apakah
Sistem Kredit Semester yang mulai diterapkan di lingkungan perguruan tinggi itu, lebih
efektf, sama saja, atau lebih efektif jika dibandingkan dengan sistem lama.
Terhadap pertanyaan yang diajukan kepada 100 orang staf pengajar itu, mereka
memberikan jawaban seperti dapat diperiksa pada tabel 9.1
Tabel 9.1. Pendapat 100 Orang Staf Pengajar di Sebuah Perguruan
Tinggi Mengenai Efektif/Tidaknya Sistem Kredit Semester yang
Diterapkan di Perguruan Tinggi tersebut
Pendapat
A. Sistem Kredit Semester lebih baik daripada
sistem lama
B. Sistem lama lebih baik daripada sistem
kredit semester
C. Sistem Kredit Semester dan Sistem lama
sama-sama baik
D. Tidak mengemukakan pendapat
Total

Banyaknya (f)
46
27
20
7
100 = N

Soal yang harus kita jawab adalah sebagai berikut : Berdasarkan pertimbangan
bahwa pendapat yang dikemukakan oleh para staf pengajar di Perguruan Tinggi yang
sedang melaksanakan Sistem Kredit Semester itu merupakan faktor determinan (faktor
yang menentukan ) terhadap lancar-tidaknya pelaksanan Sistem Kredit Semester , kita
diminta menyelidiki cara signifikan terdapat perbedaan antara frekuensi yang
diobservasi dan frekuensi teoritisnya?
1. Rumusnya
Rumus yang kita gunakan di sini adalah :

X2 =

f0 = frekuensi yang diobservasi = frekuensi yang diperoleh dalam penelitian = frekuensi


sebagaiman yang tampak di hadapan kita
ft = frekuensi yang diharapkan jika seandainya tidak terdapat perbedaan frekuensi =
perbedaannya tidak ada atau sama dengan nol
2. Langkah
Langkah pertama kita rumuskan terlebih dahulu Hipotesis alternatif (Ha) dan
hipotesis nihilnya (H0) :
1) Ha : Di kalangan para stafpengajar diperguruan tinggi tersebut, ada/terdapat
perbedaan frekueensi yang signifika antara frekuensi yang di observasi dan
frekuensi teoritisnya.
2) H0 : Di kalangan para stafpengajar diperguruan tinggi tersebut, tidak terdapat
perbedaan frekuensi yang signifikan antara frekuensi yang diobservasi dan
frekuensi teoritisnya.
Menyiapkan tabel kerja dan melakukan perhitungan untuk memperoleh harga kai kuadrat.
Pendapat staf pengajar

A.

B.
C.
D.

Total

Frekuensi
yang
di Frekuensi teoritis dalam
observasi/ frekuensi hasil keadaan dimana tidak
penelitian (f0)
terdapat
perbedaan
frekuensi ( ft )
SKS
lebih
baik 46
25
daripada
Sistem
Lama
27
25
Sistem lama lebih
baik daripada SKS
20
25
SKS dan Sistem
lama sama-sama baik 7
25
Tidak
mengemukakan
pendapat
100= N
100 = N

Karena f0 dan ft masing-masing telah diketahui, maka dengan mudah dapat kita cari Kai
kuadrat-nya
X2

=
=

=17,64+0,16+1+12,96
=31,76

c. Memberikan interprestasi terhadap Kai kuadrat hasil perhitungan atau : X 20 dengan


terlebih dahulu mencari df atau db-nya. Df dan db = banyak jalur dikurangi 1 atau = r 1
. Karena lajur yang kita miliki ada 4 buah, maka : df = 4-1= 3. Dengan Df sebesar 3 kita
berkonsultasi dengan tabel Nilai harga kritik Kai kuadrat , baik pada taraf signifikansi 5
% maupun pada taraf signifikansi 1 %.
Ternyata dengan menggunaakan df sebesar 3,diperoleh X2sebagai berikut :
-

Pada taraf signifikkansi 5% : X2t= 7,815


Pada taraf signifikansi 1 % : X2t= 11,345

Dengan demikian Kai kuadrat yang kita peroleh dari perhitungan di atas (= Kai kuadrat
observasi atau X20= 31,76 ) jauh lebih besar daripada X2t, lebih baik pada taraf
signifikansi 5% maupun taraf signifikansi 1 %; yaitu : 7,815 <31,67>11,345
Dengan demikian hipotesis Nihil ditolak .Berarti ada perbedaan yang signifikan antara
frekuensi yang di observasi dan frekuensi teoritis.
Menarik kesimpulan :
Bertitik-tolak dari hasil perhitunngan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan :
pendapat paraa staf pengajar perguruan tinggi itu merupakan faktor determinan dalam
pelaksanaan program SKS di perguruan tinggi tersebut.
Karena kecenderungan pemilihan jawaban para staf pengajar tersebuat adalah : SKS
lebih baik adripada sistem lama (46 orang= 46%), maka dapat disimpulkan pula,
pendapat dari paraa staf pengajar bahwa SKS lebih baik daripada Sistem lama
merupakan faktor yang dapat dijadikan pegangan bagi Pimpinan Perguruan Tinggi yang
bersangkutan, untuk terus meningkatkan dan melanjutkan program SKS di perguruan
tinggi itu, tanpa ragu-ragu.
Satu contoh lagi dikemukakan di sini. Misalkan sebuah biro jasa yang biasa
menyenggarakan kegiatan bimbingan Tes Sipenmaru, telah melaksanakan penelitian yang
antara lain dimaksudkan untuk meengetahui bagaimanaa sebenarnya pendapat para
lulusan SMTA tentang kegiatan bimbingan Tes Masuk Perguruan Tinggi yang
dilaksanakan oleh biro jasa tersebut.
Sejumlah 240 orang tamatan SMTA yang pernah terdaftar sebagi peserta
bimbingan tes diminta memilih salah satu diantara tiga jawaban berikut ini : (a) Bagi
saya, bimbingan tes mempunyai arti dan manfaat yang besar; (b) Mengikuti atau tidak
mengikuti bimbingan tes, bagi saya sama saja; (c) Saya tidak dapat mengemukakan
peendapat.
Data yang berhasil dikumpulkan dari 240 orang sampel tersebut, yang pada
dasarnya mencerminkan pendapat mereka mengenai kegiatan bimbingan tes dimaksud di
atas, dapat diperiksa pada tabel 9.2.
Tabel 9.2. Pendapat dari 240 orang Tamatan SMTA
Tentang Bimbingan Tes Sipenmaru

Pendapat
A. Bagi
saya,
bimbingan
tes
mempunyai arti dan manfaat yang
besar.
B. Mengikuti atau tidak mengikuti
bimbingan tes, bagi saya sama saja.
C. Saya tidak dapa mengemukakan
pendapat.

fo
90
85
65

Persoalan yang harus kita jawab adalah , apakah berdasarkan data hasil penelitian tersebut
kita dapat menyatakan bahwa antara frekuensi yang diobservasi dan frekuensi teoritis
dapat perbedaan yang signifikan di antara keduanya ?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertama-tama kita rumuskan terlebih dahulu Ha
dan H0 nya :
Ha: Ada/terdapat perbedaan yang signifikan antara frekuensi yang diobservasi dan
frekuensi teoritis.
H0: Tidak ada/ tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara frekuensi yang di
observasi dan frekuensi teoritis.
Selanjutnya kita lakukan perhitungan untuk memperoleh harga Kai kuadrat observasi
(X2t) dengan bantuaan tabel sebagai berikut:
Tabel 9.3. tabel kerja untuk memperoleh Kai Kuadrat
Pendapat

Frekuensi yang
observasi (f0)
A. Bagi
saya, 90
bimbingan
tes
mempunyai arti
dan manfaat yang
besar.
B. Mengikuti
atau 85
tidak mengikuti
bimbingan
tes
bagi saya sama
saja.
65
C. Saya tidak dapat
mengemukakan
pendapat.

di Frekuensi
teoritis ( ft )
80

Perbadaan selisih
antara f0dan ft
10

80

80

15

Karena f0dan ft telah dapat kita ketahui ,maka dengan mudah dapat kita cari Harga Kai
Kuadrat observasi (X20) sebagai berikut :
X20

=
=

= 1,25+0,3125+2,8125= 4,375

Interprestasi : df =( r-1 ). Karena lajur (baris) yang kita miliki adalah 3 buah , atau r = 3;
maka: df=3-1=2. Dengan df sebesar 2 kita berkonsultasi dengan tabel Nilai Kai kuadrat
baik pada taraf signifikansi 5% maupun 1% . Ternyata dengan df sebesar 2 itu diperoleh
harga kritik Kai kuadrat padaa tabel, sebagai berikut :
-

Pada taraf signifikansi 5% : X2t= 5,991


Pada taraf signifikansi 1 % : X20 =9,210

Karena Kai Kuadrat hasil perhitungan kita adalah sebesar 4,375 (X20 =4,375), maka
jika kita bandingkan dengan X20adalah lebih kecil, yaitu :
5,991>4,375<9,210
Karena X2tlebih kecil daripada X2tmaka hipotesis Nihil di setujui ;berarti tidak dapaat
perbedaan yang signifikansi antara frekuensi yang di observasi dan fekuensi teoritisnya.
Berdasarkan hasil perhitungan di atas,terbukti bahwa sekalipun terdapat kecenderungan
untuk memilih jawaaban bahwa bimbingan tes mempunyai arti dan manfaat yang besar
(90 orang = 37,5% ), namun pendapaat tersebut tidak dapat djaadikan pegangan bagi
pimpinan biro jasa tersebut untuk pengembangan program bimbungan tes yang
diusahakanya, setidak-tidaknya perlu dilakukan perbaikan ,evaluasi, mengapa hal tersebut
sampai terjadi.
2.2 Tes Kai Kuadrat Untuk Mengetes Perbedaan Frekuensi Variabel Ganda yang
Sel-Selnya BerFrekuensi 10 Atau lebih dari 10
1. Rumusnya
Apabila variabel yang kita akan cari perbedan frekuensi adalah ganda dan
perbedaan sel-selnya berfrekuensi 10 atau lebih dati 10 ,maka sebagaimana
dikemukakan oleh Henry E. Garret2, rumu yang dipergunakan adalah :
X2= (

(
)(

)
)(

)(

N= number of cases
A,B,C,D, masing-msing adalah lambang bagi sel yang terdapat pada tabel kontigensi,
yaitu sel pertam, kedua,ketiga dan keempat (dengan kata lain tabel kerja kita adalah
berbentuk tabel 2x2.
2. Contoh dan Langkah Perhitungannya
Sejumlah 80 orang Pegawai negeri yang dikelompokan mejadi dua
kategori yaitu Pegawai Golongan III ke atas (30 orang) dan pegawai Golongan II
kebawah (50 orang),telah diterapkan sebagai sampel yang di ambil secara random
dalam kegiatan penelitian yang antara lain bartujuan ingin mengetahui bagaimana
sikap para Pegawai negeri tersebut terhadap kemungkinan yang dilakukan
pemotongan gaji pada setiap bulan, untuk di tabung sebagia asuransi

pensiun.Mereka diminta menjawab salah-satu di antara dua jawaaban ,yaitu :


setujuatautidak setuju.

Tabel 9.4.
Sikap yang Dikemukan oleh 80 Orang pegawai Negeri Sipil
Mengenai Kemungkinan Pemotongan Gaji Setiap Bulan untuk
Keperluan Tabungan Asuransi Pegawai, dan Proses Perhitungan untuk
Memperoleh Harga Kai Kuadrat.
Setuju
Pegawai
15(A)
Golongan III Ke
Atas
Pegawai
40(C)
Golongan II Ke
Bawah
Total
55
Keterangan :

Tidak Setuju

Total

15 (B)

30

10 (B)

50

25

80 = N

Untuk tabel 2x2 seperti ini (2 kolom dan 2 jalur) dalam mencari
harga Kai Kuadrat, tidak perlu dicari frekuensi teoritisnya lebih
dahulu. Kai Kuadrat dapat diperoleh dengan cara langsung
memperhitungkan frekuensi observasinya, dengan rumus (seperti
telah disebutkan di muka) :

X2 = (

(
)(

)
)(

)(

Dari Tabel 9.2 telah kita ketahui :


N = 80.
Frekuensi obeservasi pada sel A = 15
Frekuensi obeservasi pada sel B = 15
Frekuensi obeservasi pada sel C = 15
Frekuensi obeservasi pada sel D = 15.
Dengan mensubstitusikannya ke dalam rumus Kai Kuadrat, maka :

X20 =
=

)(
(

)(

)(
)

=
=
= 7,855
Perhitungan diatas kita lakukan tanpa mencari frekuensi teoritisnya lebih dahulu.
Akan tetapi apabila (untuk maksud pengecekan) kai Kuadrat ingin kita cari
dengan mempergunakan frekuensi teoritisnya, maka proses perhitungnnya adalah
sebagai berikut:

Ternyata hasilnya sama, yaitu X2 = 7.855.


Selanjutnya untuk memberikan interpretasi terhadao Kai Kuadrat, kita
perhitungan terlebih dahulu df atau db-nya, dengan rumus : df atau db = (c-1) (r1). Jumlah kolom kita (c) = 2, sednag jumlah lajur (c) = 2. Jadi: df = (2-1) (2-1) =
1.
Dengan menggunakan df sebesar 1, diperoleh harga Kai Kuadrat pada
Tabel Nilai Kai Kuadrat sebagai berikut :
-

Pada taraf signifikansi 5% : X2t = 3,841.


Pada taraf signifikansi 1 %: X2t = 6,635.

Dengan demikian Kai Kuadrat yang kita peroleh X20 (yaitu: 7,855) adalah lebih
besar daripada Kai Kuadrat yang tercantum pada tabel, yaitu: 3,841 < 7,855 >
6,635.
Dengan demikian Hipotesis Nihil yang meyatakan tidak adanya perbedaan
antara frekuensi yang diobservasi dan frekuensi teoritisnya ditolak. Karena
kecenderungan pada Pegawai Negeri tersebut diatas adalah setuju (55 dari 80
orang = 68,75%), maka dengan adanya perbedaan yang signifikan antara
frekuensi untuk dapat dilaksanakannya pemotongan gaji para pegawai tersebut
pada setiap bulan, untuk tabungan asuransi pensiun mereka.
2.3. Tes Kai Kuadrat Untuk Mengetes Perbedaan Variabel Frekuensi Dari
Variabel Ganda, Dimana Terdapat Sel yang Berfrekuensi Kurang dari 10
(Dengan Korelasi YATES)
1. Rumusnya

Jika di antara sel-sel dalam tabel kontingensi kita terdapat sel yang
berfrekuensi kurang dari 10, maka dalam perhitungan untuk memperoleh harga
Kai Kuadrat, perlu dilakukan koreksi, yaitu dengan menggunakan Rumus Koreksi
Yate sebagai berikut:
*

X2 = (

)(

)(

)(

2. Contoh dan Langkah Perhitungannya


Misalnya sejumlah 50 orang Sisiwi SMTA dan 30 orang siswa SMTA
diminta menjawab Setuju atau Tidak Setuju terhadap ajakan untuk
membentuk Catur Warga setelah mereka kelak berumah tangga (Suami istri pus
2 orang anak). Jawabannya mereka sebagai berikut :
Tabel 9.7. Jawaban 50 Orang Siswi SMTA dan 30 Orang Siswa SMTA Terhadap
Pertanyaan/Ajakan untuk Membentuk Catur Warga (Suami-Istri dan
2 Orang Anak)
Setuju

Tidak Setuju

Total

Siswi

42 = A

8=B

50 = A + B

Siswa

9=C

21 = D

30 = C + D

Total

51 = A + C

29 = B + D

80 = N

Dari Tabel 9.7 telah kita ketahui :


N = 80; A=42; B=8; C=9; D=21;
A+B = 50; C+D = 30; A+C = 51; B+D = 29.
Dengan mensubtitusikannya ke dalam rumus yang telah dikemukakan, maka:
*

X2= (

)(

)(

)(
)

*(

)
+

=
=

*(
(
(

)(

)(

)(

+
)

= 21,38

X20 = 21,38
Selanjutnya kita berikan interpretasi terhadap Kai Kuadrat. Kita rumuskan
lebih dahuu Ha dan H0 nya:

Ha : Di kalangan para siswa dan siswa SMTA ad/terdapt perbedaan sikap


yang signifikan terhadap ajakan untuk membentuk catur warga setelah
mereka beumah-tangga.
H0 : Di kalangan para siswa dan siswi SMTA tidak ada/tidak terdapat
perbedaan sikap yang signifikan terhadap ajakan untuk membentuk catur
warga setelah mereka berumah tangga.

Interpretasi : df = (c-1) (r-2) = (2-1) (2-1) = 1. Dengan df sebesar 1 kita


berkonsultasi dengan Tabel Nilai Kai Kuadrat. Ternyata pada taraf signifikan
5 % diperoleh X2t sebesar 3,841; sedangkan pada taraf signifikan 1% dipeoleh
X2t sebesar 6,635. Jadi X20 (yaitu = 21,38) adalah jauh lebih besar jika
dibandingkan dengan :
X2 (3,841 < 21,38 > 6,635). Dengan demikian Hipotesis Nihil ditolak; berarti
ada perbedaan sika yang signifikan antara siswa dan siswi SMTA, terhadap
ajakan untuk membentuk catur warga setelah mereka berumah-tangga kelak.
Karena kecenderungan pendapat para siswa dan siswi SMTA seperti tercermin
pada Tabel. 9.7. itu ialah setuju terhadap ajakan untuk membentuk
caturwarga, maka dalam rangka memasyarakatkan NKKBS (Norma
Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera) di kalangan para remaja, tampak tidak ada
masalah yang berarti. Demikianlah lebih kurang kesimpulan yang dapat kita
tarik.
2.4. Tes Kai Kuadrat Untuk Mengetes Perbedaan Persentase
1. Rumusnya
Rumus kai Kuadrat yang kita pergunakan disini sama saja dengan rumusrumus Kai Kuadrat yang telah dikemukakan terdahulu. Hanya saja disini harus
diingat, harga Kai Kuadrat yang kita peroleh adalah haruga Kai Kuadrat yang
merupakan angka persentase. Karena itu sebelum diberikan interpretasi terhadap
Kai Kuadrat, harus kita ubah terlebih dahulu ke dalam bentuk angka frekuensi,
dengan rumus :

X20 = X2% X
2. Contoh dan Langkah Perhitungannya
Misalkan sejumlah 400 orang mahasiswa pada sebuah Perguruan Tinggi
Agama Islam ditetapkan sebagai sampel daam penelitian yang dilaksanakan
dengan tujuan antara lain untuk mengetahui apakah di kalangan para siswa yang
berbeda sekolah asalnya 9SMTA Agama dan SMTA Umum) terdapat perbedaan
prestasi belajar dalam bidang studi ilmu Tafsir yang signifikan. Dari jumlah 400

orang mahasiswa itu, 62,5% diantaranya bersekolah asal dari SMTA Agama,
sedangkan 37,5% lainnya bersekolah asal dari SMTA Umum.
Pencatatan yang berhasil dilakukan penelitian tentang prestasi belajar yang
dicapai oleh kedua kelompok mahasiswa yang berbeda sekolah asalnya itu, pada
Ujian Utama dan Ujian Ulangan, meunjukkan angka persentase sebagaimana
terter pada Tabel 9.8.
Langkah yang perlu kita tempuh disini adalah:
-

Pertama
: Merumuskan Ha dan H0 nya:
Ha : Di kalangan para mahsiswa PTAI yang berbeda sekolah asalnya,
terdapat perbedaan prestasi belajar yang signifikan dalam bidang
studi Ilmu Tafsir.
H0 : Di kalangan para mahsiswa PTAI yang berbeda sekolah asalnya,
tidak terdapat perbedaan prestasi belajar yang signifikan dalam
bidang studi Ilmu Tafsir.
Kedua
: Mengetes kebenaran/kepalsuan kedua hipotesis di atas,
dengan mempergunakan Teknik Analisis Kai Kuadrat. Untuk keperluan
tersebut kita siapkan Tabel Perhitungan.

Tabel. 9.8. Angka Persentase Keberhasilan Studi Para Mahasiswa PTAI yang
Berbeda Sekolah Asalnya, Pada Ujian Utama dan Ujian Ulangan
Dalam Bidang Studi Ilmu Tafsir

Prestasi
Sekolah
Asal
SMTA
Agama
SMTA
Umum
Total

Lulus pada
Ujian
Utama
20,0

Lulus pada
Ujian
Ulangan
30,0

Gagal

Total

12,5

62,5

10,0

20,0

7,5

37,5

30,0

50,0

20,0

100,0

Dari perhitungan pada Tabel 9.9. berhasil doperoleh Kai Kuadrat sebesar 0,3555.
Tetapi harus diingat bahwa Kai Kuadrat itu masih merupakan angka
persentase. Karena itu sebelum kita berikan interpretasi terhadap Kai
Kuadrat, terlebih dahulu kita ubah dalam bentuk angka frekuensi;
caranya ialah dengan memperkalikan X2% dengan

. (N diketahui =

400). Jadi Kai Kuadrat yang kiat cari adalah X2% X


= 0,3555 X 4 = 1,422

= 0,3555X

Marilah kita berikan interpretasi terhadap Kai Kuadrat yang telah kita peroleh itu,
dengan memperhitungkan df atau db-nya lebih dahulu.
Tabel 9.9. Perhitungan untuk Memperoleh Harga kai Kuadrat dari Data Pada
Tabel 9.6.
Sel
1
2
3
4
5
6

f0
20,0
30,0
12,5
10,0
20,0
7,50
100,0 = N

ff
18,75
31,25
12,50
11,25
18,75
7,50
100,0 = N

(f0-ff)
+1,25
-1,25
0
-1,25
+1,25
0
0 = (f0-ff)

(f0-ff)2
1,5625
1,5625
0
1,5625
1,5625
0
-

(f0-ff)2 / ff
0,0833
0,0500
0
0,0833
0,0500
0
0,3555 = X2%

Df atau db = (c-1) (r-1)


Seperti dapat kita lihat pada Tabel 9.8. Tabel kerja tersebut memiliki kolom (c) 3
buah (jadi c = 3); sedangkan lajurnya 2 buah (jadi r = 2). Dengan demikian df =
(3-1) (2-1) = 2.
Dengan df sebesar 2, diperoleh harga kritik Kai Kuadrat dalam Table taraf
signifikan 5% sebesar 5,991; sedangkan pada taraf signifikan 1% sebesar 9,210.
Ternyata Kai Kuadrat yang kita peroleh adalah dalam perhitungan, jauh lebih
kecil jika dibandingkan dengan kai Kuadrat yang tercantum pada tabel. Dengan
demikian Hipotesis Nihil disetujui/diterima; berarti tidak terdapat kedua
kelompok mahasiswa PTAi tersebut diatas.
Kesimpulan yang dapat kita tarik ialah, adanya perbedaan sekolah asal
para mahasiswa PTAI tersebut (SMTA Agama dan SMTA Umum) tidak
membawa perbedaan yang signifikan dalam proses belajar mereka dalam bidang
Ilmu Tafsir. (Jadi perbedaan yang tampak antara frekuensi itu, bukanlah
merupakan yang berarti).

2.5. Tes Kai Kuadrat Untuk Mengetes Signifikansi Korelasi


Tes Kai Kuadrat juga berguna untuk mngetes apakah korelasi antardua
variabel yang kita selidiki korelasinya itu, termasuk korelasi yang signifikan
ataukah tidak.
Adapun pedoman yang kita pegang di sini ialah :
1. Jika hrga Kai Kuadrat observasi (X20) sama atau lebih besar daripada
harga kritik Kai Kuadrat yang tercantum pada Tabel (X2t) 9yng berarti

bahwa di antara faktor yang diselidiki perbedaannya itu ternyata secara


signifikan memang berbeda)- maka adanya perbedaan yang signifikan itu
mengandung makna pula bahwa faktor yang sedang diselidiki korelasinya,
ternyata secara signifikan memang ada korelasinya. Dengan demikian
Hipotesis Nihil yang menyatkan tidak adanya korelasi yang signifikan
antara faktor yang satu dengan faktor lainnya ditolak.
2. Jika harga kai Kuadrat observasi (X20) lebih kecil daripada harga kritik
Kai Kuadrat yang tercantum pada Tabel (X2t)- 9yang berarti bahwa
diantara faktor yang diselidiki perbedaanya itu ternyata secara signifikan
tidak berbeda)- maka tidak adanya perbedaan yang signifikan itu
mengandung makna pula bahwa diantara faktor yang sedang diselidiki
atau dicari korelasinya itu, ternyata memang tidak ada korelasinya yang
signisikan.
1. Rumusnya
Rumus yang kita pergunakan adalah :

X2 =

2. Contoh dan Cara Perhitungannya


Kita ambil sebagai contoh, misalnya sejmlah 210 orang mahasiswa
telah ditetapkan sebagai sampel yang diambil secara random dalam
kegiatan penelitian yang antara lain bertujuan untuk mengetahui apakah
dengan cara meyakinkan dapat dinyatakan bahwa perbedaan bentuk
pendidikan yang mereka alami (dalam hal ini: bentuk pendidikan yang koedukadi dan bentuk pendidikan yang non-ko-edukasi) ada hubungannya
dengan sikap pergaulan mereka dengan pria (dalam hal ini: reaktif netral,
dan pasif).
Berdasarkan hasil penelitian yang mendalam, diperoleh data dari
sejumlah 90 orang mahasiswi yang bersekolah asal dari lembaga
pendidikan yang non-ko-edukasi dan 120 orang mahasiswi yang
bersekolah asal dari lembaga pendidikan yang bersifat ko-edukasi
sebagaimana tertera pada Tabel 9.10.
Tabel 9.10. Data Hasil Penelitian Mengenai Sikap Pergaulan Dengan Pria
dari Sejumlah 210 Orang Mahasiswa yang Berbeda Sekolah
Asalnya. (Ko-edukasi dan Non-ko-edukasi).

Lembaga
Pendidikan
ko-edukasi
Lembaga
Pendidikan

Reaktif

Netral

Pasif

Total

42

20

28

90 = rN

28

60

32

120 = rN

Non-

Ko-

edukasi
Total

70 = CN

80 = CN

60 = CN

210 = CN

Soal :
Bertitik tolak dari data yang tertera pada Tabel 9.10. cobalah diselidiki,
apakah memang secara meyakinkan dapat dinyatakan bahwa perbedaan sekolah
asal dari 210 orang mahasiswi tersebut diatas ada hubungannya dengan perbedaan
sikap pergaulan mereka terhadap pria?
Untuk menjawab pertanyaan diatas, pertama-tama kita rumuskan lebih
dahulu Hipotesis Alternatif dan Hipotesis Nihilnya:
-

Ha : Ada (terdapat) perbedaan yang signifikan antara frekuensi yang


diabservasi dan frekuensi teoritik.
H0 : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara frekuensi yang
diabservasi teoritik.

Selanjutnya, untuk menguji kebenaran/kepalsuan hipotesis yang telah


dikemukakan di atas kita lakukan perhitungan terhadap data yang tertera pada
Table.9.10 dengan menggunakan Teknik Analisis Kai Kuadrat.
Untuk keperluan tersebut, kita siapkan
sebagaimana dapat diperiksa pada Tabel.9.11.

Table

Perhitungannya,

Tabel 9.11. tabel perhitungan untuk Memperoleh Harga Kai Kuadrat


Observasi, dari Data Tertera pada Tabel 9.10.
Sel

f0

42

20

28

28

60

32

Total

20 = 210 =N

ff =
= 30,00
= 34,29
= 25,71
= 40,00
= 45,71
= 34.29

f0 - ff

(f0 - ff)2

+ 12,00

144,0000

4,8000

-14,29

204,2041

5,955

+ 2,29

5,2441

0,204

-12,00

144,0000

3,600

+14.29

204,2041

4,467

-2,29

5,2441

0,153

=0

19,179 = X20

Dari perhitungan di atas, telah berhasil kita peroleh X20, sebesar 19,179.
Selanjutnya marilah kita interpretasi terhadap X20 tersebut, dengan terlebih dahulu
memperhitungkan df atau db-nya; df atau db = (c-1) (r-1) = (3-1) (2-1) = 2.
Dengan mempergunakan pada Tabel Nilai Kai Kuadrat pada Tabel Nilai Kai
Kuadrat sebagai berikut:
-

Pada taraf signifikansi 5% X2t = 5,991.


Pada taraf signifikansi 1% X2t = 9,210.

Ternyata X20 lebih besar daripada X2t baik pada taraf signifikan 5% maupun pada
taraf signifikan 1%.
Dengan demikian hipotesis nihil yang menyatakan tidak adanya perbedaan
yang signifikan antara frekuensi yang diobservasi dan frekuensi teoritis ditolak.
Dengan demikian kita dapat mengambil kesimpulan bahwa perbedaan
sekolah asal di kalangan para mahasiswa (Ko-edukasi dan Non-Ko-edukasi) ada
korelasinya yang signifikan dengan perbedaan sikap bergaul mereka terhadap
pria. Karena kecenderungan yang tampak ialah bahwa para mahasiswa yang
bersekolah asal dari lembaga pendidikan non-edukasi lebih banyak bersikap
reaktif dalam pergaulan dengan pria, maka lebih lanjut kita dapat menarik
kesimpulan bahwa para mahasiswa yang bersekolah asal dari lembaga pendidikan
non-ko-edukasi cenderung lebih bersikap reaktif pria daripada para mahasiswa
yang bersekolah asal dari lembaga pendidikan ko-edukasi.
2.6. Tes Kai Kuadrat Mengetes Signifikan Normalitas Distribusi
Kai Kuadrat juga dapat dipergunakan untuk mengetes signifikansi
normalitas distribusi, yaitu untuk mnegujii hipotesis nihil yang menyatakan bahwa
Frekuensi yang diobservasi dari distribusi nilai-nilai yang sedang diselidiki
normalitas distribusi, tidak menyimpang secara signifikan dari frekuensi
teoritiknya dalam Distribusi Normal Teoritis.
Mengenai rumus dan cara perhitungan , perhatikanlah contoh yang
dikemukakan ini.
Misalkan dari sejumlah 618 orang calon yang mengikuti Tees Seleksi
Penerimaan Calon Mahasiswa baru pada sebuah Perguruan Tinggi Agama Islam,
berhasil dihimpun data berupa nilai hasil tes seleksi dalam mata ujian Pendidikan
Moral Pancasila, sebagaimaa tertera pada Daftar IX.1.
Soal :

Bertitik tolak dari data berupa nilai hasil tes dalam mata ujian Pendidikan
Moral Pancasila tersebut, ujilah hipotesis yang menyatakanbahwa Frekuensi
yang diobservasi (f0) dari Distribusi Nilai Hasil Tes Pendidikan Moral Pancasila
yang diikuti oleh 618 orang calon itu, tidak menyimpang secara signifikan dari
frekuensi teoritisnya (ft) dalam Distribusi Normal Teoritis.
Langkah yang diperlukan untuk menjawab persoalan tersebut di atas
adalah:
Langkah pertama :
Kita siapkan terlebi dahulu Tabbel Distribusi Frekuensi Nilai.

Hasil Tes dalam mata ujian Pendidikan Moral Pancasila itu, seperti dapat dilihat
padaTabel 9.12.

Tabel 9.12. Distribusi Frekuensi Nilai Hasil Tes Seleksi dalam mata Ujian
Pendidikan Moral Pancasila, yang Diikuti oleh 618 Orang Calon.
Interval Nilai :
95-99
90-94
85-89
80-84
75-79
70-74
65-69
60-64
55-54
50-59
45-49
40-44
35-39
30-34
25-29

F
3
6
12
30
39
54
102
90
111
81
45
30
6
6
3
618 = N

Langkah Kedua :
Mencari Mean (Nilai Rata-rata Hitung) dari data yang disajikan pada Tabel 9.12.
itu (Lihat Tabel 9.13.
Langkah Ketiga :
Mencari Deviasi Standarnya :
Tabel 9.13. Perhitungan untuk Mencari Mean dan Deviasi Standar dari Data yang
Disajikan Pada Tabel 9.12.
Interval
Nilai
95-99
90-94
85-89
80-84
75-79
70-79
65-69
60-64
55-59
50-54
45-49
40-44

fx

fx2

3
6
12
30
39
54
102
90
111
81
45
30

97
92
87
82
77
72
67
62
(57)
52
47
42

+8
+7
+6
+5
+4
+3
+2
+1
0
-1
-2
-3

+24
+42
+72
+150
+156
+162
+204
+90
0
-81
-90
-90

192
294
432
750
624
486
408
90
0
81
180
270

35-39
30-34
35-29
Total

M = M + i (

6
6
3
618 = N2

37
32
27
-

) = 57 + 5(

SD = i

-4
-5
-6
-

-24
-30
-18
+ 567 =
fx

96
150
108
4164 =
fx2

) = 57 + 4,59 = 61,59

) =5

) = 12,14

Dari perhitungan diatas, dapat kita ketahui besarnya Mean dan Deviasi
Standar, yaitu:
Mean = 61,59
SD = 12,14
Langkah Keempat :
Memperhitungkan Interval Nilai Sepanjang Distribusi Data, yang terbagi menjadi
6 SD, yaitu mulai dari Mean 3SD sampai dengan Mean + 3SD, sebagaimana
tertera di bawah ini:
Mean + 1SD = 61,59 + (1) (12,14) = 61,59 + 12,14 = 73,73.
Mean + 2 SD = 61,59 + (2) (12,14) = 61,59 + 24,28 = 85,87.
Mean 3 SD = 61,59 + (1) (12,14) = 61,59 12,14 = 49,45.
Mean 2SD = 61,59 + (2) (12,14) = 61,59 24,28 = 37,31.
Dengan demikian, lebih lanjut dapat diketahui :
Mean + 2SD keatas

= 85,87 ke atas

= 2%

Mean + 1 SD s.d. Mean + 2SD

= 73,73 85,87

= 14%

Mean s.d. Mean + 1SD

= 61,59 73,73

= 34%

Mean 1SD s.d. Mean

= 49,45 61,59

= 34%

Mean 2SD s.d. Mean 1SD

= 37,31 49,45

= 14%

Mean 2SD ke bawah

= 37,31 ke bawah

=2%

Apabila kita lukiskan dalam bentuk kurva, maka lukisannya adalah sebagai
berikut.
Selanjutnya apabila Niali tersebut diatas kita bulatkan dan kita golongkan lagi ke
dalam 6 golongan secara konvensional, maka kita akan memperoleh distribusi
sebaai berikut.

Tabel 9.14. Frekuensi yang Diobservasi dan Frekuensi teoritik dan Nilai Hasil Tes
Pendidikan Moral Pancasila yang Diketahui oleh 618 orang calon
Interval nilai setelah
distandarisasikan
89-99
74-85
62-73
49-61
37-48
25-36

Frekuensi yang di
observasi (f0)
18
78
219
210
78
15

Total

618 =N

Frekuensi teoritis (ft)


618-(98% X 618) =
12,36
618-(86% X 618) =
86,52
618-(66% X 618) =
210,12
618-(66% X 618) =
210,12
618-(86% X 618) =
86,52
618-(98% X 618) =
12,36
618,00 = N

Langkah Kelima :
Mengetes Hipotesis yang diajukan di muka dengan menggunakan Teknik
Analisis kai Kuadrat, dengan menempuh perhitungan sebgaia berikut :
Dari perhitungan diatas, pada akhirnya kita peroleh harga Kai Kuadrat
Obseravasi (X20) sebesar 5,191. Kia berikanb interpretasi terhadap Kai Kuadrat :
df = (r-1). Jumlah lajur (r) yang kita miliki adalah 6 buah ; dengan demikian : df =
6-1 = 5.
Dengan df sebesar 5, diperoleh harga Kai Kuadrat pada Tabel Nilai Kai
Kuadrat sebagai berikut :
- Pada taraf signifikan5% : x2t = 11,070
- Pada taraf signifikan 1% : x2t = 15,086
Ternyata Kai Kuadrat yang kita peroleh dalam perhitungan jauh lebih kecil
jika dibandingkan dengan harga Kai Kuadrat yang tertera pada Tabel, baik pada
taraf signifikan 5% maupun pada taraf 1% yaitu:
11,070 < 5,191 < 15,086
Dengan demikian Hipotesis Nihil disetujui (diterima)
Kesimpulan bahwa hipotesis yang menyatakan frekuensi yang diobservasi
dan distribusi nilai-nilai hasil tes dalam mata ujian Pendidikan Moral Pancasila itu
tidak menyimpang secara signifikan dari frekuensi teoritis dalam Distribusi
Normal Teoritis, terbukti kebenarannya. Hal ini mengandung pengertian bahwa
nilai hasil tes dalam mata ujian Pendidikan Moral Pancasila yang diikuti 618
orang calon itu, distribusi adalah normal.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Kai kuadrat memang merupakan salah satu teknik statistik yang kerapkali
digunakan dalam penyelidikan-penyelidikan. Sungguhpun begitu, teknik ini
mengandung dalam dirinya batas-batas penggunaan tertentu.

(1) Kai kuadrat pada dasarnya hanya dapat digunakan untuk menganalisa data
yang berwujud frekuensi. Perlu diingatkan kembali frekuensi adalah bilangan
sebagai hasil daripada perhitungan atau counting.
(2) Untuk pengetesan korelasi kai kuadrat hanya dapat menunjukkan apakah
korelasi antara dua gejala (atau lebih) signifikan ataukah tidak. Dengan chi
kuadrat sama sekali tak dapat diungkapkan kenyataan tentang besar-kecilnya
korelasi yang diselidiki.
(3) Pada dasarnya kai kuadrat belum dapat menghasilkan kesimpulan yang
memuaskan untuk menyelidiki tabel-tabel kontingensi dengan petak-petak kecil.
Korelasi YATES pada umumnya hanya digunakan sekiranya jalan lain tertutup
untuk bekerja dengan sampel-sampel yang lebih besar. Jika jumlah individu dan
jumlah sampel cukup banyak, cara membuang atau mengkombinasikan kategorikategori yang mempunyai petak kecil memberikan hasil yang lebih memuaskan.
(4) Kai kuadrat paling tepat digunakan pada data yang diperoleh dari sampelsampel dan ketegori-kategori yang terpisah (eksklusif) satu sama lain. Data
semacam ini disebut data kategorik, data diskrit, atau data nominal.
3.2 Saran

Makalah ini kami susun agar memberikan manfaat yang besar bagi para
pembaca. Kami berharap makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian
sehingga dapat memberikan lebih kejelasan bagi para pembaca tentang sub
bab yang telah kami bahas. Kemudian menurut hemat kami, makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan.

LAMPIRAN

1) Untuk gejala yang berdistribusi x2 dengan dk = 17, nilai x2 sehingga luas


daerah dari x2 ke kanan sama dengan 0,025 ialah....
A. 5,70
B. 7,56
C. 12,8
D. 30,2
E. 17,5
2) Dengan dk =20,nilai x2 sehingga luas daerah dari x2 ke kiri sama dengan
0,25 ialah:
A. 15,5

B.
C.
D.
E.

19,3
23,8
34,2
30,2

3) Dengan dk =9,nilai x2 sehingga luas daerah x2 ke kiri sama dengan 0,95


ialah:
A.3,33
B.5,90
C.16,9
D.23,6
e. 24,3
4) Dengan dk = 13, nilai x2 sehingga luas daerah x2 ke kiri sama dengan 0,01
ialah:
A.3,57
B.4,11
C.7,04
D. 27,7
E. 30,4
5) Dengan dk =29, nilai x2 sehingga luas daerah x2 ke kanan sama dengan
0,01 ialah:
A.13,1
B.14,3
C. 39,1
D. 49,6
E. 51,9
6) Dengan dk = 25,nilai x2 sehingga luas daerah x2 ke kanan sama dengan
0,90 ialah:
A.16,5
B.34,4
C.37,7
D.44,3
E. 49,6
7) Dengan dk = 30,nilai x2 sehingga luas daerah antara x12 dan x22 =0,90
ialah
A. 45,6 dan 24,5
B. 24,5 dan 16,8
C. 24,5 dan 34,8

D. 18,5 dan 43,8


E. 20,3 dan 49,5
8) Nilai x2 untuk dk= 9 sebesar 11,4 , maka luas daerah dari x2 itu kekiri
ialah:
A. 0,25
B. 0,75
C. 0,025
D. 0,975
E. 1,25
9) Nilai x2 untuk dk = 17 sebesar 12,8 maka luas daerah dari nilai x2 ke kanan
ialah:
A. 0,025
B. 0,25
C. 0,50
D. 0,75
E. 1,00
10) . Nilai x2 untuk dk = 5 sebesar 9,24 maka luas daerah dari nilai x2 ke kanan
ialah:
A.0,90
B. 0,75
C. 0,10
D. 0,05
E. 0,02
Kunci jawaban
1.d
2.a
3.c
4.b
5.d
6.a
7.d
8.b
9.d
10.c

DAFTAR PUSTAKA

Sudijono, Anas. 2000. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT Raja Prapindo


Persada.
Subana.2000. Statistik Pendidikan. Bandung:CV Pustaka Sehan
Husaini Husman, Purnomo Setiady Akbar. 2003. Pengantar Statistika.Jakarta: Bumi
Aksara.
http://eprints.uny.ac.id/7055/1/S.3%20H.%20Bernik%20Maskun.pdf diakses pada 18
november 2013
Pasaribu, Amudi. 1965. Pengantar Statistik .Medan: Imballo.

Carret. E.1960. Statistics in Psyhology and Education. New York : Longmans,


Green and Co,
Spegel,M.R. 1972.Statistics,new York: Mc Craw-Hill Book Co,
surjadi,P.A. Pendahuluan teori Kemungkinan dan Statistika, Bandung : 1980
Sudjana,1892.Metode Statistika Bandung : Tarsito