Anda di halaman 1dari 10

Pembelajaran yang aktif

Keberhasilan pencapaian kompetensi satu mata pelajaran bergantung kepada beberapa


apsek. Salah satu aspek yang sangat mempengaruhi adalah bagaimana cara seorang guru
dalam melaksanakan pembelajaran. Kecenderungan pembelajarna saat ini masih berpusat
pada guru dengan bercerita atau berceramah.Siswa kurang terlibat aktif dalam proses
pembelajaran. Akibatnya tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran rendah. Di
samping itu, media jarang digunakan dalam pembelajarn sehingga pembelajaran menjadi
kering dan kurang bermakna. Akibatnya bagi guru melakukan pembelajaran tidak lebih
hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Asal tugasnya sebagai guru dalam melakukan
perintah yang terjadwal sesuai dengan waktu yang telah dilaksanakan tanpa peduli apa yang
telah diajarkan itu bisa dimengertiatau tidak.
Salah satu strategi yang dibuat dalam buku ini adalah bagaimana menjadikan pembelajaran
berlangsung secara aktif. Beberapa ciri dari pembelajaran yang aktif sebagaimana
dikemukakan dalam panduan pembelajaran model ALIS (Active Learing In School, 2009
adalah sebagai berikut:
(1) Pembelajaran berpusat pada siswa
(2) Pembelajaran terkait dengan kehidupan nyata
(3) Pembelajaran mendorong anak untuk berpikir tingkat tinggi
(4) Pembelajaran melayani gaya belajar anak berbeda-beda
(5) Pembelajaran mendorong anak untuk berinteraksi multiarah (siswa-guru)
(6) Pembelajaran menggunakan lingkungan sebaai media atau sumber belajar
(7) Pembelajaran berpusat pada anak
(8) Penataan lingkungan belajar memudahkan siswa untuk melakukan kegiatan belajr
(9) Guru memantau proses belajar siswa
(10) Guru memberikan umpan balik terhadap hasil kerja anak
Untuk menciptakan pembelajaran aktif, beberapa penelitian (Uno Hamzah, 2009)
menemukan salah satunya adalah anak belajar dari pengalamannya, selain anak harus
belajar dari pengalamannya, selain anak harus memecahkan masalah yang dia
peroleh.Anak-anak dapat belajar dengan baik dari pengalaman mereka. Mereka belajar
dengan cara melakukan, menggunakan indera mereka, menjelajahi lingkungan, baik

lingkungan berupa benda, tempat serta peristiwa-peristiwa di sekitar mereka. Mereka


belajar dari pengalaman langsung dan pengalaman nyata (menulis surat untuk temanya
menanam bunga, mengukur benda-benda disekitar dan sebagainya)maupun belajar dari
bentuk-bentuk pengalaman yang menyentuh perasaan mereka. Keterlibatan yang aktif
dengan objek-objek ataupun gagasan-gagasan tersebut dapat mendorong aktivitas mental
mereka untuk berpikir, menganalisa, menyimpulkan dan mengemukakan pemahaman
konsep baru dan mengintegrasikannya dengan konsep yang sudah mereka ketahui
sebelumnya.
Anak-anak juga belajar dengan baik dan memahami bila apa yang dipelajari terkait dengan
apa yang sudah diketahui dan metode pembelajaran yang digunakan sesuai dengan gaya
belajar mereka dan kecerdasan yang mereka miliki (Gadner, 2004, juga Uno Hamzah 2008)
seperti bahasa, musik, gerak, logika, antarpribadi, dan interpribadi.
Strategi pembelajaran yang aktif dalam proses pembelajaran adalah siswa diharapkan aktif
terlibat dalam kegiatan pembelajaran untuk berfikir, berinteraksi, berbuat, untuk mencoba,
menemukan konsep baru atau menghasilkan satu karya. Sebaiknya, anak tidak diharapkan
pasif menerima layaknya gelas kosong yang menunggu untuk diisi. Siswa bukanlalh gelas
kosong yang pasif hanya menerima kucuran ceramah sang guru tentang pengetahuan atau
informasi sebagaimana yang digambarkan diatas.
Bagaimana Merancang Strategi Pembelajaran Aktif?
Untuk menjadikan pembelajaran menjadi aktif, maka ini tidak tercipta begitu saja, tetapi
ada rancangan yang sengaja dibuat, yang dalam bahsa intruksional terjadi skenario guru
dalam pembelajaran. Dalam panduan DBE2 melalui Program ALIS beberapa hal yang harus
dilakukan guru meliputi (1) membuat rencana hati-hati dengan memperhatikan detail
berdasarkan atas sejumlah tujuan yang jelas yang dapat dicapai, (2) memberi kesempatan
bagi siswa untuk belajar secara aktif dan mengaplikasikan pembelajaran mereka dengan
metode yang beragam sesuai dengan konteks kehidupan nyata siswa, (3) secara aktif
mengelola lingkungan belajar agar tercipta suasana yang nyaman, tidak bersifat
mengancam, berfokus pada pembelajaran serta dapat membangkitkan ide yang pada
gilirannya dapat maksimalkan waktu, sumber-sumber yang menjamin pembelajaran aktif
berjalan, serta (4) menilai siswa dengan cara-cara yang dapat mendorong siswa untuk

menggunakan apa yang telah mereka pelajari di kehidupan nyata, dalam hal ini disebut
penilaian otentik (khusus penilaian otentik ini dapat dibaca pada buku penulis yang sama
yang berjudul Assesment Pembelajaran.
Perencanaan yang cermat dan sungguh-sungguh melibatkan pemahaman akan tinggat
mana mereka perlu capai, dan strategi serta langkah untuk mencapai tingkat kebiasaan
yang dimiliki siswa padaaa sat ini, menyangkut tingkat mana mereka perlu capai dan
strategi serta langskah untuk mencapai tingkat tersebut. Perencana dimulai dengan
menggunakan informasi diagnostik untuk memperkirakan kemampuan siswa kemudian
menggunakan standar untuk menentukan pelajaran dan tujuan unit, scara kreatif
menciptakan pelajaran dan unit yang aktif agar dapt mencapai semua siswa,
mengembangkan perangkat pembelajaran yang efektif, dan mengintegrasikan topik yang
relevan antarkurikulum dengan usaha dari sekolah serta merencanakan penilaian.
Pengertian pembelajaran Inovatif
Pembelajaran yang inivatif adalah suatu proses pembelajaran yang dirancang sedemikian
rupa sehingga berbeda dengan pembelajaran pada umumnya yang dilakukan oleh guru
(konvesional). Pembelajaran semacam ini akan membuat anak kurang tertarik dan
termotivasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran yang berakibat pada rendahnya hasil
belajar siswa serta tidak bermakna pengetahuan yang diperoleh siswa di dalam kelas
cenderung artifisial dan seolah-oleh terpisah dari permasalahan dalam kehidupan seharihari yang dialami siswa.
Pembelajaran inovatif lebih mengarah pada pembelajaran yang berpusat pada siswa.
Proses pembelajaran dirancang, disusun, dan dikondisikan untuk siswa agar berjalan.
Dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa, pemahamna konteks siswa menjadi bagian
yang sangat penting, karena dari sinilah seluruh rancangan proses pembelajaran dimulai.
Hubungan antar guru dan siswa menjadi hubungan yang saring belajar dan saling
membangun. Otonomi siswa sebagai pribadi dan subjek penelitian menjadi titik acuan
seluruh perencanaan dan proses pembelajaran. Pembelajaran semacam ini disebut dengan
pembelajaran aktif .

Pembelajaran aktif merupakan proses pembelajaran dimana seorang guru harus bisa
menciptakan

suasana

yang

sedemikian

rupa

sehingga

siswa

aktif

bertanya,

mempertanyakan danjuga mengemukakan gagasannya. Disamping aktif, pembelajaran


juga harus menyenangkan.
Pembelajaran yang menyenangkan berkaitan dengan suasana belajar yang menyenangkan
sehingga siswa dapat memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajarnya. Keadaan
yang aktif dan menyenangkan tidaklah cukup, jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu
menghasilkan apa yang harus dikuasai oleh para siswa, sebab pembelajaran memiliki
sejumlah tujuan yang harus dicapai.
Berpikir lebih kreatif
Berpikir kreatif tidak akan lahir secara tiba-tiba tanpa adanya kemampuan.
Keingintahuan yang tinggi dan diikuti dengan keterampilan dalam membaca. Seperti
yang diunggkapkan oleh Porter dan Hernacki bahwa seorang yang kreatif selalu
mempunyai rasa ingin tahu, ingin mencoba berpetualang secara intuisi.
Berpikir kreatif berarti berusaa untuk menyelesaikan suatu permasalahan dengan
melibatkan segala tampilan dan fakta pengolahan data di otak. Adda lima proses
kreatif yang diungkapkan oleh Deporter dan Mike Hernacki, yaitu:
1. Persiapan, mendefinisikan masalah =,tujuan atau tantangan.
2. Inkubasi, mencerna fakta-fakta dan mencernanya dalam otak.
3. Iluminasi,mendesak ke permukaan, gagasan bermunculaan.
4. Verifikasi, memastikan apakah solusi itu benar-benar memecahkan masalah.
5. Aplikasi, mengambil langkah-langkah untuk menindaklanjuti solusi tersebut.
Proses kreatif tersebut tentunya tidak akan dapat dilaksanaakan tanpa adanya
pengetahuan yang didapatkan dari membaca, berbahasa, dan aspek-aspek lain.
Oleh sebab itu, seorang mahasiswa dituntut dapat mengembangkan dan melatih
pola pikirnya untuk lebih kreatif. Hal ini menunjukan jika mahasiswa telah
melakukan pembelajaran dan pengembangan pemikiran dengan baik dan
membuktikan strategi pembelajaran sudah tepat dan berhasail.
Dewasa ini banyak sekali guru-guru yang mengatakan capek, bosan dan lesu
apabila harus melaksanakan preses belajar mengajar. Ada beberapa faktor yang
menyebabkan hal ini terjadi, yaitu faktor yang berasal dari guru itu sendiri dan

faktor yang berasal dari murid. Untuk melanjarkan proses belajar mengajar guru
harus memiliki wawasan pengetahuan yang luas dan cara yang baik berkomunikasi
bersama siswa. Guru dituntut untuk lebih kreatif dalam proses pembelajaran di
sekolah karena di masa mendatang guru tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang
paling pintar di tengah-tengah siswanya.
Hakikat pembelajaran efektif
Menurut Yusuf Hadi Miarso memandang bahwa pembelajaran yang efektif adalah
pembelajaran yang dapat menghasilkan belajar yang bermanfaat dan terfokus pada siswa
melalui penggunaan prosedur yang tepat. Definisi ini mengandung arti bahwa pembelajaran
yang efektif terdapat dua hal penting, yaitu terjadinya belajar pada siswa dan apa yang
dilakukan oleh guru untuk membelajarkan siswanya.
Suatu proses belajar mengajar tersebut dapat membangkitkan proses belajar. Penentuan
atau ukuran dari pembelajaran yang efektif terletak pada hasilnya dan memerlukan
beberapa indikator. Indikator yang dapat menunjukan pembelajaran yang efektif, yaitu:
1. Pengorganisasian Materi yang Baik
Pengorganisasian adalah bagaimana cara mengurutkan materi yang akan
disampaikan secara logis dan teratur, sehingga dapat terlihat kaitan yang jelas antara
topik satu dengan topik lainnya selama pertemuan berlangsung. Uraian tahapantahapan tentang model pembelajaran sebagai berikut:
Tahap 1

Tahap 2

Tahap 3

Pendahuluan

Pelaksanaan

Penutup

Kegiatan membuka

Kegiatan penyajian materi

Kegiatan perangkuman,

pembelajaran

evaluasi dan tindak lanjut

2. Komunikasi yang Efektif


Kecakapan dalam penyajian materi termasuk pemakaian media dan alat bantu atau
teknik lain untuk menarik perhatian perhatian siswa, merupakan salah satu
karakteristik pembelajaran yang baik. Komunikasi yang efektif dalam pembelajaran
mencakup penyajian yang jelas, kelancaran berbicara, interpretasi gagasan abstrak

dengan contoh-contoh, kemampuan wicara yang baik dan kemampuan untuk


mendengar.
Jenis komunikasi yang paling penting adalah komunikasi interpersonal. Bagi seorang
guru, membangun suasana ynag hangat dengan para siswa dan antara sesama siswa
sangatlah penting. Suasana saling menerima, saling percaya akan meningkatkan
efektivitas komunikasi.
3. Penguasaan dan Antusiasme terhadap Materi Pembelajaran
Seorang guru dituntut agar dapat menguasai materi pelajaran dengan baik dan
benar, jika telah menguasainya maka materi dapat diorganisasikan secara sistematis
dan logis. Seorang guru harus mampu menghubungkan materi yang diajarkan
dengan pengetahuan yang telah dimiliki para siswanya, maupun mengaitkan materi
dengan perkembangan yang sedang terjadi sehingga proses pembelajaran menjadi
hidup.
Untuk dapat mengetahui sejauh mana guru menguasai materi dengan baik dapat
dilihat daro pemilihan buku-buku wajib dan bacaan, penentuan topik pembahasan,
pembuatan ikhtisar, pembuatan bahansajian dan yang paling penting guru dapat
menjawab pertanyaan siswanya.
4. Sikap Positif terhadap Siswa
Sikap positif yaitu menerima respon siswa baik yang benar maupun yang salah,
sebagai usaha untuk belajar. Kemudian diikuti dengan komentar:Anda dapat
mencoba kembali dan menghindari komentar:saya heran anda dapat melakukan
kesalahan seperti ini.
Sikap positif ini dapat ditunjukan, baik kepada kelas keci maupun kelas besar. Dalam
kelas kecil guru dapat memberikan perhatian kepada orang per orang, sedangkan
dikelas besar ditunjukan dengan memberikan saran kepada kelompok yang
mengalami kesulitan saat pembelajaran.
5. Pemberian Nilai yang Adil
Sejak dari awal pembelajaran siswa dapat diberitahu berbagai macam penilaian yang
akan dilakukan, seperti tes formatif, makalah, proyek, test akhir dan pertanyaan
lainnya yang mempunyai kontribusi terhadap penilaian akhir. Keadailan dalam
pemberian nilai ini tercermin dari adanya:

a. Kesesuaian soal test dengan materi yang diajarkan merupakan salah satu tolak
ukur keadilan.
b. Sikap konsisten terhadap pencapaian tujuan pembelajaran
c. Usaha yang dilakukan siswa untuk mencapai tujuan
d. Kejujuran siswa dalam memperoleh nilai
e. Pemberian umpan balik terhadap hasil pekerjaan siswa.
6. Hasil Belajar Siswa yang Baik
Memberikan nilai terhadap hasil belajar siswa merupakan kewajiban seorang guru
dan mutlak dilakukan. Dikatakan wajib bagi setiap guru karena pada akhirnya guru
harus dapat memberikan informasi ketercapaian siswanya dalam proses
pembelajaran. Menurut W.J. Kripsin dan Feldhusen evaluasi adalah satu-satunya
cara untuk mengetahui ketepatan pembelajaran dan keberhasilan. Dengan demikian
dapat dikatakan indikator pembelajaran efektif dapat diketahui dari hasil belajar
siswa yang baik.
Prinsip-Prinsip Belajar pada Pembelajaran Efektif
Berikut ini adalah prinsip dasar dan implikasinya pada pembelajaran efektif, yaitu:
a. Perhatian
b. Motivasi
c. Keaktifan
d. Keterlibatan langsung dan pengalaman
e. Pengulangan
f. Tantangan
g. Balikan atau penguatan
h. Perbedaan individual
Pembelajaran yang Menarik
Pembelajaran yang menarik adalah konsep belajar konsep belajar yang membantu
guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh
komponen

utama

pembelajaran

efektif,

yakni

kontruktivisme,

bertanya,

menemukan(inquiri), masyarakat belajar, pemodelan dan penilaian sebenarnya.

Pembelajaran yang menarik merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan
bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang
dipelajarinya dengan mengaitkan materi dalam konnteks kehidupan mereka seharihari sehingga siswa memiliki pengetahuan atau keterampilan yang secara fleksibel
dapat diterapkan dari satu permasalahan atau konteks ke permasalahan atau
konteks lainnya.
Model pembelajarna yang menarik
Model pembelajarna biasanya disusun berdasarkan prinsip-prinsip dan teori
pengetahuan. Para ahli menyusun model-model pembelajaran berdasarkan prinsipprinsip pendidikan, teori psikologis, sosiologis, psikiatri, analisis sistem, dan lain-lain.
Joyce dan Weil mempelajari model-model pembelajaran berdasarkan teori yang
dikelompokan menjadi empat model pembelajaran.
Model tersebut merupakan pola umum perilaku pembelajaran untuk mencapai
kompetensi atau tujuan pembelajaran yang diharapkan. Model perencanaan adlah
suatu rencana atua pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulu ,
merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas.
Berikut 2 contoh model pembelajarna yang menarik:
1. Model Role Playing dalam Aktivitas Pembelajaran
Tujuan pendidikan di sekolah harus mampu mendukung kompetensi tamatan
sekolah, yaitu pengetahuan, nilai, sikap, dan kempuan untuk mendekatkan
dirinya dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan kebutuhan daerah. Salah
satu alternatif model pembelajaran yang dapat dikembangkan untuk memenuhi
tuntutan tersebut adalah model belajar role playing. Menurut Zuhaerini model
ini digunakan apabila pelajaran dimaksudkan untuk menerangkan suatu
peristiwa yang didalamnya menyangkut orang banyak dan berdasarkan
pertimbangkan didaktik lebih baik didramatisasikan daripada diceritakan karena
akan lebih jelas dan dapat dihayati oleh anak. Selain itu, melatih anak-anak agar
mereka mampu menyelesaikan masalah-masalah sosial psikologis dan melatih
anak-anak agar mereka dapat bergaul dan memberi kemungkinan bagi
pemahaman terhadap orang lain beserta masalahnya.

2. Model pembelajaran Creative Problem Solving


Model CPS adalah suatu model pembelajaran yang melakukan pemusatan pada
pembelajaran dan keterampilan pemecahan masalah yang diikuti dengan
penguatan keterampilan ketika dihadapkan dengan suatu pernyataan, siswa
dapat melakukan keterampilan memecahkan masalah untuk memilih dan
mengembangkan tanggapannya.
Adapun proses dari model pembelajaran CPS terdiri dari langkah-langkah sebagai
berikut:
a. Klarifikasi Masalah
Klarifikasi masalh meliputi penjelasan mengenai masalah yang diajukan, agar
siswa dapat memahami tentang penyelesaian seperti apa yang diharapkan.
b. Evaluasi dan Pemilihan
Pada tahap evaluasi dan pemilihan ini, setiaqp kelompok mendiskusikan
pendapat-pendapat

atau

strategi-strategi

mana

yang

cocok

untuk

menyelesaikan masalah.
c. Implementasi
Pada tahap ini menentukan strategi mana yang dapat diambil untuk
menyelesaikan masalah, kemudian menerapkan sampai menemukan
penyelesaikan dari masalah tersebut.
3. Model Group Investigation
Pada pembelajaran ini memberi kebebasan kepada pembelajar untuk berpikir
kritis, analitis, reflektif dan produktif. Oleh karena itu, penelitian dilakukan
dengan mengambil tema yang berkaitan dengan model pembelajaran dengan
maksud untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajr siswa pada mata diklat.
Yang harus diperhatikan dalam melaksanakan pembelajaran menarik adalah:
a. Memahami sifat yang dimiliki anak.
b. Mengenal anak secara perseorangan.
c. Memanfaatkan prilaku anak dalam pengorganisasian belajar.
d. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan
memecahkan masalah.
e. Mengembangkan ruang kelas sebagi lingkungan belajar yang menarik.
f. Memanfaatkan linhkungan sebagai sumber belajar.

g. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar.


h. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental.

Anda mungkin juga menyukai