Anda di halaman 1dari 49

MAKALAH STATISTIKA DASAR

CONTOH PENGGUNAAN TES t

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Contoh Penggunaan Tes t ini sebatas
pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki.
Penulis menyadari betul sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari berbagai
pihak, makalah ini tidak akan terwujud dan masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu dengan segala kerendahan hati penulis berharap saran dan kritik demi
perbaikan-perbaikan lebih lanjut.
Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi yang membutuhkan.

Inderalaya, November 2013

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................................i
DAFTAR ISI .............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN .........................................................................................1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah ...........................................................................................1


1.3 Tujuan Penlisan ...............................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN ..........................................................................................3
2.1 Pengertian Tes t...... .....................................................................................3
2.2 Penggolongan Tes t ......................................................................................9
2.3 Tes t Untuk Dua Sampel Kecil Yang Saling Berhubungan .........................9
2.4 Tes t Untuk Dua Sampel Kecil Yang Satu Sama Lain Tidak Ada
Hubungannya ..................................................................................................17
2.5 Tes t Untuk Dua Sampel Besar Yang Satu Sama Lain Saling
Berhubungan ...................................................................................................27
2.6 Tes T Untuk Dua Sampel Besar Yang Satu Sama Lain Tidak
Mempunyai Hubungan....................................................................................37
BAB III PENUTUP ..................................................................................................44
3.1 Kesimpulan ......................................................................................................44
3.2 Saran ................................................................................................................44
3.3 Lampiran .........................................................................................................45
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam penelitian komperasional yang melakukan perbandingan antara dua
variabe, yaitu apakah memang secara signifikan dua variable yang sedang di
perbandingkan atau dicari perbedaanya itu memang berbeda, apakah perbedaan
itu terjadi semata-mata kebetulan saja (by chance), kita dapat menggunakan tes
t (t test) dan tes kal kauadrat (chi square test) sebagai teknik analisisnya.
Sebagai contoh, misalkan kita ingin mengetahui apakah memang secara signifikan
terdapat perbedaan sikap keagamaan antara kelompok sampel remaja yang
berdomisilih di suatu daerah yang berbeda. Jadi di sini kita akan menguji hipotesis
nihil yang menyatakan bahwa di antara kedua kelompok sampel remaja yang
berbeda domisilinya tidak terdapat perbedaan sikap keagamaan yang signifikan di
antara kedua kelompok. Maka teknik analisis yang dapat digunakan adalah teknik
Tes t, karena pada Tes t yang merupakan salah satu tes statistic yang
dipergunakan untuk menguji kebenaran atau kepalsuan hipotesisi nihil yang
menyatakan bahwa diantara dua buah Mean Sampel yang diambil secara random
dari populasi yang sama, tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Lain halnya
dengan teknik Tes Kai Kuadrat yang digunakan untuk menguji hipotesis nihil
berdasarkan frekuensi yang diobservasi .
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana menjelaskan pengertian Tes t ?
2. Bagaimana menjelaskan penggolongan Tes t ?Bagaimana menjelaskan
contoh
3. penggunaan Tes t untuk dua sampel kecil yang saling berhubungan ?
4. Bagaimana menjelaskan contoh penggunaan Tes t untuk dua sampel
kecil yang satu sama lain tidak ada hubungannya ?

5. Bagaimana menjelaskan contoh penggunaan Tes t untuk dua sampel


besar yang satu sama lain saling berhubungan ?
6. Bagaimana menjelaskan contoh penggunaan Tes T untuk dua sampel
besar yang satu sama lain tidak mempunyai hubungan ?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisannya adalah :
1. Untuk menjelaskan pengertian Tes t
2. Untuk menjelaskan penggolongan Tes t
3. Untuk menjelaskan contoh penggunaan Tes t untuk dua sampel kecil
yang saling berhubungan
4. Untuk menjelaskan contoh penggunaan Tes t untuk dua sampel kecil
yang satu sama lain tidak ada hubungannya
5. Untuk menjelaskan contoh penggunaan Tes t untuk dua sampel besar
yang satu sama lain saling berhubungan
6. Untuk menjelaskan contoh penggunaan Tes T untuk dua sampel besar
yang satu sama lain tidak mempunyai hubungan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tes t
Tes t atau t Test, adalah salah satu tes statistic yang dipergunakan
untuk menguji kebenaran atau kepalsuan hipotesisi nihil yang menyatakan bahwa
diantara dua buah Mean Sampel yang diambil secara random dari populasi yang
sama, tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
Sebagai salah satu tes statistic parametric, Tes t mula pertama
dikembangkan oleh William Sely Gosset pada 1915. Pada waktu itu ia
menggunakan nama samara Student, dan huruf t yang terdapat dalam istilah Tes
t itu diambilkan huruf terakhir dari nama beliau. Itu pula sebabnya mengapa
sering juga disebut dengan nama atau istilah Student t. Pangkal tolak berpikir pada
Tes t secara singkat adalah sebagaimana tergambar pada uraian berikut ini.
Tujuan utama kegiatan penelitian Antara lain ialah menemukan prinsip
yang dapat diberlakukan secara umum atau bersifat universal. Untuk dapat
menemukan prinsip yang berlaku universal itu, secara ideal teoretis, seorang
peneliti seharusnya meneliti keseluruhan objek yang ia hadapi, dengan kata lain:
meneliti

populasinya.dengan

meneliti

populaasinya,

generalisasi

yang

dikemukakan oleh seorang peneliti akan tidak terlalu jauh berbeda dengan
kenyataan yang sebenarnya.akan tetapi kenyataan menunjukkan, meneliti populasi
secara keseluruhan dalam rangka membuat generalisasi itu, kecuali tidak
mungkin, juga tidak praktis, sebab kenyataan acapkali menunjukkan sangat besar
atau sangat luasnya populasi itu, sehingga peneliti tidak mungkin mampu
melakukan pengukuran terhadap karakteristiknya. Itulah sebabnya mengapa
sebelum dilakukan pengukuran, populasi itu perlu diubah terlebih dahulu ke
dalam populasi yang lebih kecil, yang kemudian kita kenal dengan istilah
sampel.

Sampel sebagai miniature population, diperoleh dengan cara melakukan


reduksi terhadap populasi dan dengan mereduksi populasi ke dalam bentuk
sampel itu, seorang peneliti bermaksud untuk melakukan generalisasi terhadap
populasinya, atas dasar sampel tersebut.
Sebuah contoh dapat dikemukakan di sini : misalnya seorang peneliti ingin
mengetahui apakah diantara dua kelompok mahasiswa di sebuah Perguruan
Tinggi Agama Islam yang berbeda sekolah asalnya (Kelompok I adalah para
mahasiswa yang bersekolah asal dari SMTA Agama dan Kelompok II adalah
para mahasiswa yang bersekolah asal dari SMTA Umum), secara meyakinkan
berbeda prestasi belajarnya dalam bdang studi Dirasah Islamiyah. Populasi dari
mahasiswa yang (seharusnya) akan diteliti seluruh keseluruhannya berjumlah
5000 orang, dengan rincian: 3000 orang bersekolah asal dari SMTA Agama dan
2000 orang lainnya bersekolah asal dari SMTA Umum. Adalah sangat berat dan
sulit bagi peneliti untuk meneliti populasi sedemikian besarjumlahnya itu; karena
itulah maka terhadap populasi (yang berjumlah 5000 orang itu) dilakukan reduksi,
dengan menetapkan 300 orang mahasiswa yang bersekolah asal dari SMTA
Agama dan 200 orang mahasiswa yang bersekolah asal dari SMTA Umum,
sehingga jumlahnya 500 orang. Ke-500 orang mahasiswa yang merupakan hasil
reduksi populasi yang berjumlah 5000 orang tiu kita kenal dengan sampel.
Sampel adalah suatu proporsi kecil dari populasi yang seharusnya diteliti,
yang dipilih atau ditetapkan untuk keperluan analisis. Dengan meneliti sampelnya
saja peneliti berharap akan dapat menarik kesimpulan tertentu yang akan
dikenakan pada terhadap populasinya. Menarik kesimpulan secara umum terhadap
populasi dengan hanya menggunakan sampel inilah yang kita kenal dengan istilah
generalisasi. Sudah barang tentu agar penarikan kesimpulan (inferensi) itu tidak
terlalu jauh menyimpang dari populasinya, pengambilan sampel tidak boleh
dilakukan secara sembrono, melainkan dengan kecermatandan kesengajaan serta
keyakinan tertentu, sehingga pengaruh factor kebetulan saja dapat diperkirakan.
Salah satu tugas statistic inferensial adalah memperkirakan atau membuat estimasi

seberapa jauhkah kiranya hasil pengukuran yang dilakukan terhadap sampel


menyimpangdari hasil pengkuran yang dilakukan terhadap populasi.
Dalam hubungannya dengan penarikan sampel dari populasi, amak
sebagian besar prinsip inferensi statistika adalah didasarkan atas asumsi pemilihan
sampel secara random (secara acak), baik dengan cara melakukan undian, dengan
mengggunakan angka kelipatan, ataupun dengan menggunakan Tabel Bilangan
Random.
Kembali kepada contoh sebelumnya, apabila kita mencari atau menghitung
Mean dalam bidang studi Dirasah Islamyah dari sejumlah 300 orang mahasiswa
yang ditetapkan untuk mewakili 3000 orang mahasiswa yang bersekolah asal
dari SMTA Agama, besarnyaMean yang kitaperoleh itu berbeda dengan Mean
dari 3000 orang mahasiswa yang merupakan populasi mahasiswa yang bersekolah
asal dari SMTA Agama tersebut. Demikian pula apabila kita mencari Mean dari
200 orang mahasiswa yang bersekolah asal dari SMTAUmum, tentu akan berbeda
dengan Mean dari 2000 orang mahasiswa dari jenis sekolah asal yang sama itu.
Mungkin, Mean dari Sampel Kelompok I relative lebih tinggi daripada Mean
Populasi Kelompok I; atau sebaliknya. Demikian pula Mean dari Sampel
Kelompok II mungkin lebih rendah daripada Mean Populasi Kelompok II, atau
sebaliknya, seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa sampel merupakan
miniature population. Sekalipun Mean Sampel berbeda dengan Mean Populasi,
akan tetapi satu hal yang dapat dipastikan ialah, Mena-mean itu akan cenderung
untuk mengelompok atau berkerumundi sekitar MeanPopulasinya. Variasi dari
Mean Sampel adalah disebabkan oleh adanya apa yang disebut Sampling Error
(Kesalahan Sampling). Dengan istilah kesalahan sampling itu, bukan berarti
kesalah atau kekeliruan dalam proses pengambilan sampel, melainkan ia
menggambarkan variasi-variasi tak terelakkan, bagaimanapun juga pasti terjadi
sewaktu Mean Sampel yang dipilih secara random itu dihitung.
Para ahli statistic melalui berbagai macam penelitian dan eksperimentasi
pada akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa besar kecilnya kesalah sampling itu
dapat diketahui dengan melihat besar kecilnya suatu angka standar disebut

Standard Error of the Mean (SEM), yang dapat dicapai atau diperoleh dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
SEM =

SEM = Besarnya kesesatan Mean Sampel


SD = Deviasi Standar dari sampel yang diteliti.
N

= Number of Cases (banyaknya subjek yang diteliti).

= bilangan konstan.

Kita terapkan pada contoh di muka, yang Sampel Kelompok I-nya


berjumlah 300 orang mahasiswa (Jadi N1=300) dan Sampel Kelompok II
berjumlah 200 orang mahasiswa (Jadi N2=200), sedang Deviasi Standar Nilai
Hasil

Belajar Dirasah Islamiyah sampel Kelompok I sebesar 8,645 (Jadi

SD1=8,645), dan Deviasi Standar Nilai Hasil Belajar Dirasah Islamiyah sampel
Kelompok II sebesar 11,286 (Jadi SD2= 11,286), maka Standard Error kedua
Mean Sampel tersebut di atas besarnya adalah sebagai berikut:
SEM1 =
SEM2 =

=
=

= 0,50

= 0,50

Dengan diketahuinya Standard Error Mean Sampel Kelompok I dan


Standard Error Mean Sampel Kelompok II, makalebih lanjut dapat diketahui
Standard Error Perbedan Mean Dua Sampel yang sedang kita teliti, yang
dilambangkan dengan SEM1-M2.
Standard Error Perbedan Mean Dua Sampel itu dapat diperoleh dengan
rumus sebagai berikut :
SEM1-M2 =
Jika rumus ini kita terapkan ke dalam contoh di atas, maka Standard
Error Perbedan Mean Dua Sampel yang kita sedang hadapi itu adalah :

SEM1-M2 =

= 0,943.

Pada akhirnya, untuk menolak atau menerima Hipotesis Nihil tentang ada
atau tidak adanya perbedaan dua Mean Sampel secara signifikan, kita harus
mencari harga kritik t. Di sini t merupakan suatu angka atau koefisien yang
melambangkan derajat perbedaan Mean kedua kelompok sampel yang sedang kita
teliti. Besarnya t sama dengan selisih ke dua Mean Sampel, dibagi dengan
Standard Error Perbedan Mean Dua Sampel; atau apabila kita formulasikan ke
dalam bentuk rumus, adalah sebagai berikut :
t=
misalkan dari kedua kelompok sampel yang sedang kita bicarakan di sini
diperoleh Mean sebagai berikut: Mean Hasil Belajar Dirasa Islamiyah Sampel
Kelompok I (SMTA Agama) sebesar 64,48 (jadi M1 = 64,48); sedangkan Mean
Hasil Belajar Dirasa Islamiyah Sampel Kelompok II (SMTA Umum) sebesar
60,72 (jadi M2 = 60,72); sedangkan Standard Error Perbedan Mean Dua Sampel
telah kita ketahui sebesar 0,943, atau; SEM1-M2 = 0,943. Dengan denikian dapat
kita peroleh harga t sebagai berikut:
t=

= 3,99

terhadap t yang telah kita peroleh dari hasil perhitungan di atas (lazim
disebut tobservasi dengan diberi lambing to) selanjutnya kita berikan interpretasi
dengan menggunakan Tabel Nilai t (Tabel Harga Kritik t) dengan ketentuan
sebagai berikut :
1. Jika tosama dengan atau lebih besar daripada harga kritik t yang
tercantum dalam Tabel (diberi lambing tt), maka Hipotesis Nihil yang
mengatakan tidak adanya perbedaan mean dari kedua sampel, ditolak;
berarti perbedaan Mean dari kedua sampel itu adalah perbedaan yang
signifikan.
2. Jika to lebih kecil daripada tt, maka Hipotesis nihil yang menyatakan tidak
adanya perbedaan Mean dari kedua sampel yang bersangkutan, disetujui;
7

berarti perbedaan Mean kedua sampel itu bukanlah perbedaan Mean yang
signifikan, melainkan perbedaan yang terjadi hanya secara kebetulan saja
sebagai akibat Sampling Errror
Pada contoh di atas telah kita peroleh to sebesar 3,99; marilah kita berikan
interpretasi terhadap to tersebut. Untuk mencari harga kritik t dalam Tabel Nilai
t, maka terlebih dahulu kita harus perhitungkan degrees of freedomnya (diberi
lambing df), atau kita pehitungkan derajat kebebasannya (diberilambang db),
dengan menggunakan rumus:
df atau db = (N1 + N2 2).
df atau db

= degress of freedom atau derajat kebebasan.

N1

= banyaknya subjek kelompok I (sampel kelompok I).

N2

= banyaknya subjek kelompok II (sampel kelompok II).

Pada contoh di muka, N1 = 300, sedangkan N2 = 200; jad df atau db = (300


+200 2) = 498.
Dengan df sebesar 498 kita berkonsultasi pada Tabel Nilai t. ternyata
dalam table tersebut tidak kita jumpai df sebesar 498. Dalam keadaan seperti ini,
kita gunakan df yang terdekat dengan 498, yaitu df sebesar 500. Dengan df
sebesar 500 itu diperoleh tt sebagai berikut :
Pada tariff signifikansi 5 % : tt = 1,96;
Pada tariff signifikansi 1 % : tt = 2,59.
Dengan demikian to (yaitu harga t yang kita peroleh dari hasil
perhitungan di muka) adalah jauh lebih besar ketimbang tt, yaitu :
1,96<3,99>2,59. Karena itu Hipotesis Nihil yang menyatakan tidak adanya
Perbedaan Mean Hasil Belajar Dirasah Islamiyah dari kedua kelompok sampel
yang kita selidiki itu ditolak. Berarti perbedaan dua Mean Sampel itu adalah
perbedaan yang signifikan. Kesimpulan kita (dengan memperbandingkan
besarnya Mean dari kedua sampel di atas), para mahasiswa yang bersekolah asal

dari SMTA Agama, secara signifikan berbeda (dalam hal ini lebih baik) jika
dibandingkan dengan para mahasiswa yang bersekolah asal dari SMTA Umum,
dalam bidang stud Dirasah Islamiyah.
2.2 Penggolongan Tes t
Rumus untuk memperoleh harga t seperti yang telah dikemukakan pada
pembicaraan terdahulu merupakan rumus umum. Karena itu penggunaan Tes t
sebagai salah satu teknik analisis komparasional bivariate harus sesuai dengan
keadaan sampel yang sedang kita seldiki.
Berdasarkan keadaaan sampelnya itu, pada umumnya para ahli statistic
menggolongkan Tes t menjadi dua macam, yaitu :
1. Tes t untuk Sampel Kecil (N < 30).
2. Tes t untuk Sampel Besar (N 30).
Tes t unutk Sampel Kecil, dibedakan menjadi dua golongan yaitu :
a. Tes t untuk Sampel Kecil yang kedua sampelnya satu sama lain
mempunyai hubungan.
b. Tes t untuk Sampel Kecil yang kedua sampelnya satu sama lain tidak
ada hubungannya.
Tes t untuk Sampel Besar, juga dibedakan menjadi dua golongan, yakni
:
a. Tes t untuk Sampel Besar yang kedua sampelnya satu sama lain
mempunyai hubungan.
b. Tes t untuk Sampel Besar yang kedua sampelnya satu sama lain tidak
ada hubungannya.
2.3 Tes T Untuk Dua Sampel Kecil Yang Saling Berhubungan
1. Rumusnya
Rumus untuk mencari t atau to dalam keadaan dua sampel yang kita teliti
merupakan sampel kecil (N kurang dari 30), sedangkan kedua sampel kecil

tiu satu sama lain mempunyai pertalian atau hubungan, adalah sebagai
berikut :
MD
to =
SEMD
MD = Mean of Difference Nilai Rata-rata Hitung dari Beda/ Selisih Antara Skor
Variabel I dan Skor Variabel II, yang dapat diperoleh dengan rumus:
MD =
D

= Jumlah Beda/ Selisih antara Skor Variabel I (Variabel X) dan

SkorVariabel II (VariabelY), dan D dapat diperoleh dengan rumus :


D=XY
N

= Number of Cases = Jumlah Subjek yang kita teliti.

SEMD = Standard Error (Standar Kesesatan) dari Mean of Difference yang dapat
diperoleh dengan rumus :
SDD
SEMD =

SDD

= Deviasi Stanar dariperbedaan antara Skor Varibel I dan Skor Variabel II,
yang dapat diperoleh dengan rumus :
SDD =

= Number of Cases.
2. Langkah Perhitungannya

10

Tingkah yang perlu di tempuh dalam rangka memperoleh harga to berturutturut adalah sebagai berikut :
a. Mencari D (Difference = Perbedaan) anatara skor Variabel I dan SKor
Variabel II kita beri lambing X sedang Variabel II kita beri lambing Y,
maka : D = X Y.
b. Menjumlahkan D, sehingga diperoleh D .
perhatian: Dalam menjumlahkan D, tanda aljabar (yaitu tanda-tanda plus
dan minus) harus diperhatikan; artinya tanda plus dan minus itu ikut
serta diperhitungkan dalam penjumlahan).
c. Mencari Mean dari Diffrence, dengan rumus : MD =

d. Mengkuadratkan D ; setelah tiu lalu dijumlahkan sehingga diperoleh D2.


e. Mencari Deviasi standar dari Difference (SDD), dengan rumus :
SDD =
Catatan : D2 diperoleh dari hasil perhitungan pada butir d, sedangkan D
diperoleh dari hasil perhitungan pada butir b.
f. Mencari Standard Error dari Mean of Difference, yaitu SEMD, dengan
menggunakan rumus:
SEMD =

g. Mencari to dengan menggunakan rumus : to =


h. Memberikan interpretasi terhadap todengan prosedur kerja sebagai
berikut.
1) Merumuskan terlebih dahulu Hipotesis alternative (Ha) dan
Hipotesis Nihilnya (Ho).
2) Menguji signifikansi to, dengan cara membandingkan besarnya to
(t hasil observasi atau t yang tercantum dalam Tabel Nilai t),
dengan terlebih dahulu menetapkan degrees of freedom-nya (df)
atau derajat kebebasannya (db), yang dapat diperoleh dengan
rumus : df atau db = N 1.

11

3) Mencari harga kritik t yang tercantum pada Tabel Nilai t


dengan berpegang pada df atau db yang telah diperoleh, baik pada
taraf signifikansi 5% ataupun taraf signifikansi 1%.
4) Melakukan pembandingan antara to dengan tt, dengan patokan
sebagai berikut :
a. Jika to lebih besar atau sama dengan ttmaka Hipotesis Nihil
ditolak; sebaliknya Hipotesis alternative diterima atau
disetujui. Berarti Antara kedua variable yang sedang kita
selidiki perbedaannya, secara signifikan memang terdapat
perbedaan.
b. Jika to lebih kecil dari tt maka Hipotesis Nihil diterima atau
disetujui; sebaliknya Hipotesis alternative ditolak. Berarti
bahwa perbedaan yang berarti, atau bukan perbedaan yang
signifikan.
i. Menarik kesimpulan hasil penelitian.

3. Contoh Penggunaannya
a. Contoh Pertama
Suatu kegiatan penelitian eksperimental, telah berhasil menemukan
metode M sebagai metode baru untuk mengajarkan bidang studi Agama
Islam di lain Sekolah Menengah Tingkat Atas. Dalam rangka uji coba
terhadap efektivitas atas keampuhan metode baru itu, dilaksanakanlah
penelitian lanjutan, dengan mengajukan Hipotesis Nihil yang menyatakan:
Tidak Terdapat Perbedaan Sikap Keagamaan yang signifikan dikalangan
Siswa SMTA, Antara sebelum ddan sesudah diterapkannya Metode M
sebagai metode mengajar Agama Islam yang baru pada Sekolah Menengah
Tingkat Atas.
Dalam hubungan ini dari jumlah 20 orang siswa SMTA yang termasuk
dalam kelompok kelas coba (kelas eksperimen), yang ditetapkan sebagai
sampel penelitian, telah berhasil dihimpun data berupa skor yang
melambangkan sikap keagamaan mereka pada pre-test (sebelum

12

diterapkanmetode M) dan skor yang melambangkan sikap keagamaan


mereka yang melambangkan posttest (setelah mereka diajar agama islam
dengan menggunakan metode M yang baru itu), sebagaimana tertera
pada table 8.1.

TABEL 8.1. Skor yang Melambangkan Sikap Keagamaan dari 20 Orang SIswa
SMTA, Pada Saat Pre-test dan Post-test
Skor Sikap Keagamaan
Nama Siswa

Sebelum diterapkannya

Sesudah diterapkannya

Metode Baru (X)

Metode Baru (Y)

78

75

60

68

55

59

70

71

57

63

49

54

68

66

70

74

81

89

30

33

55

51

40

50

63

68

85

83

70

77

62

69

58

73

65

65

75

76

69

86

13

TABEL 8.2. Perhitungan untuk Memperoleh t dalam Rangka Menguji


Kebenaran / Kepalsuan Hipotesis Nihil Tentang TidakAdanya Perbedaan Sikap
Keagamaan yang Signifikan di Kalangan SMTA, Antara Sebelum dan Sesudah
Diterapkan Metode Baru M

Skor Sikap Keagamaan

D=

D=

(X-Y)

(X-Y)2

Sebelum

Sesudah

diterapkannya

diterapkannya

Metode Baru

Metode Baru

(X)

(Y)

78

75

+3

60

68

-8

64

55

59

-4

16

70

71

-1

57

63

-6

36

49

54

-5

25

68

66

+2

70

74

-4

16

81

89

-8

64

30

33

-3

55

51

+4

16

40

50

-10

200

63

68

-5

25

85

83

+2

70

77

-7

49

62

69

-7

49

58

73

-15

225

65

65

Nama Siswa

14

75

76

-1

69

86

-17

289

20 = N

-90 = D2

1002 = D2

Tanda-(minus) disini bukanlah tanda aljabar, karena itu hendaknya

dibaca: ada selisih / beda skor Antara variable X dan variable Y sebesar 90.

Persoalan pokok yang harus kita pecahkan atau kita jawab dalam
penelitian ini ialah: Apakah Hipotesis Nihil (yang telah diajukan di muka) yang
menyatakan tidak adanya perbedaan sikap keagamaan yang signifikan dikalangan
para siswa SMTA tersebut diatas, Antara sebelum dan sesudah diterapkannya
Metode M itu dapat diterima (disetujui) karena terbukti kebenarannya, ataukah
harus ditolak karena tidak terbukti kebenarannya (tidak didukung oleh data hasil
penelitian)? Menerima atau menyetujui Hipotesis Nihil akan berarti menolak
Hipotesis Alternatif. Untuk mengetes mana yang benar diantara kedua hipotesis
tersebut, kita lakukan perhitungan yang langkah langkahnya seperti pada subBab 2.
Pada table 8.2. telah berhasil kita peroleh: D = - 90 dan D2 = 1002.
Dengan dierolehnya D dan D2 itu, maka dapt kita ketahui besarnya
Deviasi Dtandar Perbedaan Skor Antara Variabel X dan Variabel Y (dalam hal ini
SDD) :
SDD

=
=
=
=

= 5,464

15

Dengan diperolehnya SDDsebesar 5,464 itu, lebih lanjut dapat kita


perhitungkan Standard Error dari Mean Perbedaan skor Antara Variabel X dan
Variabel Y:
SEMD =
=
=

=
= 1,253.
Langkah berikutnya adalah mencari harga to dan menggunakan rumus :
to

MD telah kita ketahui yaitu -4,50 ; sedangkan


to

= 1,253, jadi :

=
=

Langkah berikutnya, kita berikan interpretasi terhadapto, dengan terlebih


dahulu memperhitungkan df atau db-nya: df atau db = N-1 = 20-1 = 19. Dengan
df sebesar 19 kita berkonsultasi pada Table Nilai t, baik pada taraf signifikansi
5% maupun pada taraf signifikansi 1%.
Ternyata dengan df sebesar 19 itu diperoleh harga kritik t atau table pada
ttabel signifikansi 5% sebesar 2,09; sedangkan pada taraf signifikansi 1% tt
diperoleh sebesar 2,86.
Dengan membandingkan besarnya t yang kita peroleh

dalam

perhitungan (to = 3,591) dan besarnya t yang tercantum


3

Sekali lagi diingatkan bahwa tanda (minus) disini bukanlah tanda

aljabar ; karena itu dengan to sebesar -3,591 itu dapat kitabaca: ada selisih derajat
perbedaan sebesar 3,591.

16

Pada table nilai t (tt.ts.5% = 2,09 dan tt.ts.1%= 2,86) maka dapat kita ketahui
to adalah lebih besar dari pada tt yaitu:
2,09<3,591>2,86
Karena to lebih besar dari pada tt maka Hipotesis Nihil yang diajukan
dimuka ditolak; ini berarti bahwa adanya perbedaan skor sikap keagamaan para
siswa SMTA antara sebelum dan sesudah diterapkannya Metode baru M
merupakan perbedaan yang berarti atau perbedaan yang meyakinkan (signifikan).
Kesimpulan yang dapat kita tarik disini ialah , berdasarkanhasil uji coba
tersebut diatas, secara meyakinkan dapat dikatakan Metode Mengajar Agama
Islam M yang baru itu, telah menunjukkan efektivitasnya yang nyata; dalam arti
kata: dapat diandalkan sebagai metode yang baik untuk mengajarkan biang studi
agama islam pada tingkat Sekolah Menengah Atas.
1.4 Tes T Untuk Dua Sampel Kecil Yang Satu Sama Lain Tidak Ada
Hubungannya

Contoh seperti yang dikemukakan di atas merupakan contoh penggunaan


tes t , dengan dua sampel yang sedang kita teliti perbedaannya (sampel kecil)
mempunyai hubungan antara sampel I dan sampel II, sebab skor yang kita cari
perbedaan itu bersumber dari subjek yang sama (dalam contoh diatas misalnya,
skor 78 dan skor 75

adalah skor yang dimiliki A

sebelum dan sesudah

diterapkannya metode baru M ; jadi kedua skor sikap keagamaan itu ada
pertaliannya Antara yang satu dengan yang lain).
Pada pembicaraan lebih lanjut akan dikemukakan contoh penggunaan Tes
t untuk Dua buah Sampel Kecil, yang tidak ada hubungannya antara yang satu
dengan yang lain.

17

1.

RUMUSNYA

Untuk Dua Sampel Kecil yang satu sama lain tidak ada hubungannya, to
dapat diperoleh dengan menggunakan dua buah rumus yaitu:

Rumus Pertama:
to

Rumus Kedua:

to

(Rumus kedua ini dikenal dengan: Rumus Fisher).

2. LANGKAH PERHITUNGANNYA

a. Untuk rumus pertama:


Jika kita gunakan Rumus Pertama untuk mencari to, maka langkah yang
perlu ditempuh adalah :
1) Mencari Mean Variabel I (Variabel X), dengan rumus:
Mx atau MI

2) Mencari Mean Variabel II (Variabel Y), dengan rumus:


My atau MII

3) Mencari Deviasi Standar Skor Variabel X dengan rumus:


SDx atau SDI =

4) Mencari Deviasi Standar Skor Variabel Y dengan rumus:


SDy atau SDII =

18

5) Mencari Standard Error Mean Variabel X, dengan rumus:


atau

6) Mencari Standard Error Mean Variabel Y, dengan rumus:


atau

7) Mencari Standard Error Perbedaan Antara Mean Variabel X dan


Mean Variabel Y, dengan rumus:
=
8) Mencari to dengan rumus yang telah disebutkan di muka, yaitu:
to

9) Memberikan interpretasi terhadap to dengan prosedur sebagai


berikut:
a) Merumuskan Hipotesis alternatifnya (Ha): Ada (terdapat)
perbedaan Mean yang signifikan antara Variabel X dan
Variabel Y.
b) Merumuskan Hipotesis nihilnya (Ho) Tidak ada (tidak
terdapat perbedaan Mean yang signifikan Antara Variabel
X dan Variabel Y).
10) Menguji kebenaran/ kepalsuan kedua hipotesis tersebut di atas
dengan membandingkan besarnya t hasil perhitungan (to) dan t
yang tercantum pada Tabel Nilai t,dengan terlebih dahulu
menetapkan degrees of freedomnya atau derajat kebebasannya,
dengan rumus:
Df atau db = (

)2

Dengan diperolehnya df atau db itu, maka dapat dicari harga tt pada


taraf signifikansi 5% atau 1 %. Jika to sama besar atau lebih besar
daripada tt maka Ho ditolak;berarti ada perbedaan Mean yang
signifikan di antara kedua variable yang kita selidiki. Jika to lebih

19

kecil daripada tt maka Ho diterima; berarti tidak terdapat perbedaan


Mean yang signifikan antara variable I dan variable II.
b. Untuk Rumus Kedua:
Jika Rumus Kedua (Rumus Fisher) yang kita pergunakan, maka langkah
perhitungan yang perlu kita tempuh adalah:
Pertama-tama

untuk

menyesuaikan

diri

dengan

lambing

yang

dipergunakan pada RumusFisher: Variabel I kita beri lambang X 1,


Variabel II kita beri lambing X2, Deviasi Skor Variabel I kita beri lambing
x1, dan Deviasi Skor Variabel II kita beri lambing x2.
1) Mencari Mean Variabel X1 dengan rumus:
M1

2) Mencari Mean Variabel X2 dengan rumus:


M2

3) Mencari deviasi skor Variabel X1, dengan rumus:


x1

= X1 - M1

Catatan : Jumlah x1 atau

harus sama dengan nol.

4) Mencari deviasi skor Variabel X2, dengan rumus:


= X2 M2

x2

Catatan : Jumlah x2 atau

harus sama dengan nol.

5) Menguadratkan x1, lalu dijulahkan; diperoleh

6) Menguadratkan x2, lalu dijulahkan; diperoleh

7) Mencari to dengan rumus:

to =

8) Memberikan interpretasi terhadap to dengan mempergunakan Tabel


Nilai t, dengan cara yang sama seperti telah disebutkan di muka.
9) Menarik kesimpulan.

20

3. CONTOH PENGGUNAANNYA
Berikut ini akan dikemukakan contoh tes t dengan menggunakan dua
macam rumus seperti yang telah dikemukakan diatas.
a. Contoh Penggunaan Tes t untuk Dua Sampel Kecil yang Tidak Saling
Berhubungan, Dengan Menggunakan Rumus yang Pertama

Dari suatu kegiatanpenelitian dengan menggunakan sampel sejumlah 10


orang remaja yang berdomisili di derah rural dan 10 orang remajayang
berdomisili di daerahurban, telah berhasil dihimpun data kuantitatif berupa skor
yang melambangkan sikap keagamaan dari keduakelompok remaja tersebut,
sebagaimana tertera pada Table 8.3.
Misalkan kita ingin menjawab pertanyaan: Apakah memang dengan cara
signifikan terdapat perbedaan sikap keagamaan diantara kedua kelompok remaja
tersebut diatas?
TABEL 8.3. Skor yang Melambangkan Sikap Keagamaan dari Sejumlah 10
Orang Remaja yang Berdomisili di Daerah Rural dan 10 Orang Remaja yang
Berdomisili di Daerah Urban

Remaja yang berdomisili

Remaja yang berdomisili

Di daerah rural (X)

Di daerah urban (Y)

21

Dalam rangka memperoleh jawab atas pertanyaan atau permasalahan


tersebut, pertama tama kita ajukan hipotesis alternative (Ho) dan hipotesis
nihilnya (Ha), Sebagai berikut
Ha :

Dikalangan para remaja yang berdomisili di daerah rural dan para remaja

yang berdomisili

di daerah urban, terdapat perbedaan sikap keagamaan yang

signifikan .
Ho :

Dikalangan para remaja yang berdomisili di daerah rural dan para remaja

yang berdomisili

di daerah urban, tidak terdapat perbedaan sikap keagamaan

yang signifikan.
Langkah kedua, kita lakukan perhitungan untuk memperoleh Mean dan
SD, dengan bantuan Tabel Perhitungan di bawah ini:
TABEL 8.4. Perhitungan Untuk Memperoleh Mean dan SD Dari Data yang
Tertera Pada Tabel 8.3.
Skor

x2

y2

+1

+1

+2

+2

-1

-1

22

-1

-2

+2

+1

-1

-1

+1

-2

-1

+2

-1

-1

70 = X

60 = Y

0 = x

0 = y

18 = x2

18 = y2

Dari Tabel 8.4. telah kita peroleh : X = 70; Y = 60; x2 = 18; y2 = 18;
adapun N =10.
Mencari Mean Variabel X: Mx atau M1 =

Mencari Mean Variabel Y: My atau M2 = =

=7.
=6.

Mencari SD Variabel X:
SDx atau SD1 =

= 1,342

= 1,342.

Mencari SD Variabel Y:
SDy atau SD2 =

Dengan diperolehnya SD1 dan SD2 maka selanjutnya dapat kita cari
Standard Error dari M1 dan Standard Error dari M2 :

23

= 0,447

= 0,447.

Setelah berhasil kita peroleh SEM1dan SEM2, maka langkah berikutnya


adalah mencari Standard Error perbedaanya antara M1 dan M2:

Dengan diperolehnya
to=

= 0,632
akhirnya dapat diketahui harga to yaitu :

= 1,582.

Langkah berikutnya, memberikan interpretasi terhadap to : df = (N1 + N2)


2 = (10 +10) 2 = 18. Dengan df sebesar 18 kita berkonsultasi dengan Tabel Nilai
t, baik pada taraf signifikan 5% maupun pada taraf signifikansi 1%. Ternyata
bahwa:
Pada taraf signifikansi 5%, ttabel atau tt = 2,10.
Pada taraf signifikansi 1%, ttabel atau tt = 2,88.
Karena to telah kita peroleh sebesar 1,582; sedangkan tt = 2,10 dan 2,88
maka to adalah lebih kecil daripada tt, baik pada taraf signifikansi 5% maupun
pada taraf signifikansi 1%. Dengan demikian Hipotesis Nihil yang menyatakan
tidak adanya perbedaan sikap keagamaan yang signifikan diantara kedua
kelompok remaja yang disebutkan dimuka diterima atau disetujui.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan, adanya perbedaan lingkungan
tempat tinggal (domisili) di kalangan para remaja yang sedang diteliti perbedaan

24

sikap keagamaannya itu, tidaklah membawa perbedaan secara signifikan


terhadap sikap keagamaan mereka.
b. Contoh Penggunaan Tes t untuk Dua Sampel Kecil yang tidak saling
berhubungan, dengan menggunakan Rumus Kedua (Rumus Fisher).
Jika data yang tertera pada Tabel 8.3. dipergunakan lagi di sini
maka prosedur kerja yang perlu ditempuh adalah:
Pertama, kita siapkan lebih dahulu Tabel Perhitungannya:
Tabel 8.5. Perhitungan untuk Memperoleh Mean dan Deviasi dari
Data yang Tertera pada Tabel 8.3.
Sektor

x1

y2

x12

y22

Var. X1

Var. X2

+1

+1

+2

+2

-1

-1

-1

-2

+2

+1

-1

-1

+1

-2

-1

+2

-1

-1

70 = X

60 = Y

0 = x1

0 = x\2

18 = x12

18 = x22

25

Dari Tabel 8.5. telah kita peroleh: X = 70; Y = 60; x12 = 18; x12 =18,
sedangkan N1 dan N2 masing-masing 10.
Kedua, mencari M1 : M1 =

=7.

Ketiga, mencari M2 : M2 =

= 6.

Dengan telah diketahuinya: M1, M2, x12, x22, N1 dan N2 maka dapat kita
cari to.

to =

=
=

= 1,582.

(Hasilnya sama dengan rumus I)


Dengan cara yang sama, dapat kita berikan interpretasi terhadap to, seperti
telah dikemukakan di atas.

26

2.5 Tes T Untuk Dua Sampel Besar Yang Satu Sama Lain Saling
Berhubungan
1. Rumusnya
Rumus yang kita pergunakan disini adalah:
to

2. Langkah Perhitungannya
a. Untuk Data Tunggal (Range-nya <30).
1) Mencari Mean Variabel 1(Variabel X) : M1 =
2) Mencari Mean Variabel 2(Variabel Y) :M2 =
3) Mencari Deviasi Standar Variabel I:
SD1 =

4) Mencari Deviasi Standar Variabel II:


SD1I =

5) Mencari Standar Error Mean Variabel I:


=

6) Mencari Standar Error Mean Variabel II:


=

7) Mencari koefisien korelasi r Product Moment (rxy atau r12)

27

rxy atau r12 =

)(

8) Mencari Standar Error Perbedaaan Mean antara sampel 1 dan sampel 2:


=

9) Mencari to dengan rumus:


to

c. Untuk Data Kelompokan (R sama atau lebih dari 30)


1) Mencari mean untuk Variabel I : MI :
2) Mencari mean Variabel II:MII :

3) Mencari deviasi standar Variabel I:


SD1 = i
4) Mencari deviasi standar Variabel II:
SD2 = i

5) Mencari Standar Error Mean Variabel 1:


=

6) Mencari standar Error mean Variabel 2:


=

7) Mencari koefisien korelasi r Product Moment (rxy atau r12), yang


menunjukkan kuat-lemahnya hubungan (korelasi) antara Variabel I dan
Variabel II (dengan bantuan Peta Korelasi), dengan rumus:

28

rxy atau r12 =

)(

8) Mencari Standar Error Perbedaaanantara mean variabel 1 dan mean


variabel 2:
=

)(

)(

9) Mencari to dengan rumus:


to

Seterusnya baik data untuk data tunggal maupun data kelompokansetelah


diperoleh harga to, lalu diberikan interpretasi terhadap to dengan prosedur kerja
sebagai berikut.
10) Mencari df atau db dengan rumus: df atau db=N-1.
11) Berdasarkan besarnya df atau db tersebut, kita cari harga kritik tyang
tercantum dalam tabel nilai t, pada taraf signifikansi 5% dan taraf 1%,
dengan catatan
a. Apabila tosama dengan atau lebih besar daripada tt maka hipotesis nihil
ditolak.
b. Apabila to lebih kecil daripada tt maka hipotesis nihil diterima.
12) Menarik kesimpulan.

29

3. Contoh penggunaannya
TABEL 8.6. Skor yang Melambangkan Sikap Keagamaan 50 Orang Siswa Kelas
Coba, sesudah dan sebelum Diajar Dengan Metode Baru
Skor Sikap Keagamaan

Nomor
Subjek

Sesudah diajar dengan metode baru

Sebelum diajar dengan metode baru

70

62

67

59

71

65

73

65

71

63

68

60

72

64

69

60

74

66

10

73

65

11

74

66

12

66

58

13

68

62

14

66

58

15

69

61

16

66

58

17

70

62

18

67

60

19

72

64

30

20

68

60

21

68

60

22

73

65

23

69

69

24

73

65

25

66

68

26

71

63

27

72

64

28

70

64

29

70

62

30

72

64

31

73

65

32

70

62

33

71

66

34

72

64

35

71

63

36

67

59

37

69

61

38

72

63

39

73

65

40

70

62

41

69

61

42

71

63

31

43

69

59

44

71

63

45

69

61

46

72

64

47

69

61

48

72

60

49

72

64

50

68

60

Contoh Soal:
Selidikilah dengan seksama, apakah memang secara signifikan terdapat
perbedaan sikap keagamaan di kalangan para siswa tersebut di atas, antara
sesudah dan sebelum diajar dengan metode baru, dengan cara:
a. Merumuskan terlebih dahulu Hipotesis alternatif dan hipotesis Nihilnya.
b. Melakukan perhitungan untuk memperoleh t.
c. Memnerikan interpretasi terhadap to dengan mempergunakan tabel nilai
t.
d. Menarik kesimpulan.
Jawaban keempat soal di atas:
a. Hipotesis alternatifnya:Di kalangan para Siswa Kelas Coba ada(terdapat)
perbedaan sikap keagamaan yang signifikan antara sesudah dan sebelum
mereka diajarkan Agama Islam dengan menggunakan metode baru.
Hipotesis nihilnya:Di kalangan para Siswa Kelas Coba tidak ada
perbedaan sikap keagamaan yang signifikan antara sesudah dan sebelum
mereka diajar Agama Islam dengan menggunakan metode baru.
b. Melakukan perhitungan untuk memperoleh t atau to.
1. Menyipakan tabel distribusi frekuensi Skor Sikap Keagamaan para siswa,
sesudah diajar dengan Metode Baru (variabel x) dan sebelum diajar
dengan Metode Baru (variabel y).

32

2. Mencari mean, deviasi standar, dan standard error dari Mean variabel x
dan Mean dari variabel y.

Tabel disribusi frekuensi


Variabel x (sesudah)
Skor

Tanda

(X)
74

//

73

///// /

72

///// ////

71

///// //

70

///// /

69

///// ///

68

/////

67

///

66

////

4
N=50

Variabel y(sebelum)
Skor
Tanda

(Y)
66

///

65

///// //

64

///// ///

63

///// /

62

///// /

33

61

/////

60

///// //

59

////

58

////

4
N=50

Variabel X:
X
74

F
2

FX
148

FX2
10952

73

438

31974

72

648

46656

71

497

35287

70

420

29400

69

552

38088

68

340

23120

67

201

13467

66

4
N=50

264
FX=3508

17424
FX2=246368

M1 =
SD1

= 70,16.

34

=
=
=

= 2,221
=

= 0,317

Variabel Y:
Y
66

F
3

FY
198

FY2
13068

65

455

29575

64

512

32768

63

378

23814

62

372

23064

61

305

18605

60

420

25200

59

236

13924

58

4
N=50

232
FY=3108

13456
FY2=193474

M2 =
SD2

= 62,16

=
=

35

=
=

= 2,369.
=

= 0,338

3. Mencari koefisien korelasi t product moment.


Dari peta korelasi kita peroleh:
fx=8; fx2=248; fy=241
fy=8; fy2=282;N=50
Cx =
SDx

= 0,16 ; Cy =

=i

= 0,16

=
=1

rxy atau r12

= 2,221

)(

= 0,911

4. Standard error dari perbedaan mean variabel 1 dan mean variabel 2:


=

)(

)(

=
36

=
=
=
= 0,140
5. Mencari to:
to
=

= 57,143

6. Memberikan interpretasi terhadap to:


df =N-1=50-1=49
Ternyata dalam tabel tidak dijumpai df sebesar49; karena itu kita gunakan
df terdekat, yaitu df sebesar 50.

Pada taraf signifikan 5%:tt=2,01

Pada taraf signifikan 1%:tt=2,68


to jauh lebih besar darapada tt;yaitu:
2,01<57,143>2,68
Karena itu hipotesis nihil ditolak.

7. Kesimpulan : Dengan digunakannya metode baru dalam rangka


pengajaran agama islam, secara meyakinkan dapat mengubah sikap
keagamaan para siswa tersebut, dari kurang positif menjadinlebih
positif(lebih baik). Metode baru itu secara signifikan telah dapat
menunjukkan keampuhan atau efektivitasnya sebagai metode pengajaran
agama islam.

2.6 Tes T Untuk Dua Sampel Besar Yang Satu Sama Lain Tidak
Mempunyai Hubungan
1. Rumus yang kita pergunakan adalah :
to

2. Langkah perhitungannya :

37

Langkah yang perlu ditempuh adalah :


a. Mencari Mean Variabel X (variabel I ), dengan rumus :
MI :

b. Mencari Mean Variabel Y (variabel II ),dengan rumus :


MII :

c. Mencari Deviasi Standar Variabel I dengan rumus :

SD1 = i

d. Mencari Deviasi standar Variabel II dengan rumus :

SD2 = i

e. Mencari standar error Mean Variabel I dengan rumus :

f. Mencari standar error Mean Variabel II dengan rumus :


=

g. Mencari standar error perbedaan Mean Variabel I dan Mean Variabel II


dengan rumus :
38

h. Mencari t0 dengan rumus :


to

3. Contoh penggunaannya
Studi eksperiman yang dilaksanakan dengan tujuan untuk menguji
kebenaran atau kepalsuan Hipotesis yang menyatakan bahwa dengan
menggunakan metode mengajar yang baru, prestasi belajar para siswa
SMTA lebih baik daripada diajar dengan menggunakan metode lama,telah
menetapkan 50 orang siswa SMTA yang diajar dengan menggunakan
metode baru (variabel X ) dan 50 orang siswa SMTA yang diajar dengan
metode lama (variabel Y ), sebagai sampel penelitian.Setelah eksperimen
berakhir, dari kedua kelompok siswa SMTA itu diperoleh skor hasil
belajar sebagai berikut :

TABEL 8.8 Skor hasil belajar siswa SMTA yang diajar dengan metode
baru (x)
Skor

85 89

80 84

75 79

39

70 74

65 69

60 64

10

55 59

50 54

45 49

40 44

2
50 = N1

TABEL 8.9 Skor hasil belajar siswa SMTA yang diajar dengan metode lama (Y)
Skor

85 89

80 84

75 79

70 74

65 69

60 64

55 59

50 54

45 49

40 44

2
50 = N2

Untuk menguji kebenaran atau kepalsuan hipotesis yang telah disebutkan di


muka,ditempuh langkah sebagai berikut :

Mencari Mean, Deviasi Standar dan standar Error dari Mean variabel I :
x

fx

fx2

+5

+15

75

+4

+20

80

Skor

85 89
80 84

40

75 79

+3

+21

63

70 74

+2

+14

28

65 69

+1

+8

60 64

10

(62)

55 59

-1

-3

50 54

-2

-6

12

45 49

-3

-6

18

40 44

-4

-8

32

55=fx

319=fx2

50 = N1
1. MI :

2. SD1

)=62+ 5 (

) = 62 + 5,5 = 67,50

=i

=5

= 5 2,274

=5

= 11,37
3.

= 1,624

Mencari Mean, deviasi Standar , dan standar error dari mean variabel II :
y

fy

fy2

+5

10

+50

80 84

+4

12

+48

75 79

+3

15

+45

70 74

+2

10

+20

65 69

+1

+7

60 64

55 59

-1

-8

+8

50 54

-2

-12

+24

45 49

-3

-12

+36

40 44

-4

-8

+32

14=fy

270= fy2

Skor

85 89

50 = N2

(62)

41

Mencari M2 :
MII :

= 62 + 5 ( ) = 62 + 1,40 = 63,40

Mencari SD2 :

SD2

= i

) = i

( ) = 5

5
= 5 x 2,307 = 11,535.

Mencari

:
=

= 1,648

Mencari standar error perbedaan Mean Variabel I dan Mean Variabel II


dengan rumus :

=
=
=
= 2,314

Mencari t atau t0 :

to

Memberikan interpretasi terhadap t0 df atau db = ( N1 +N2 2) = 50 +

= 1,772

50 2 = 98 (Konsultasi Tabel Nilai t). Ternyata dalam tabel tidak


ditemui df sebesar 98 ; karena itu dipergunakan df yang terdekat, yaitu
df.100.Dengan df sebesar 100 diperoleh ttabel sebagai berikut :

42

Pada taraf signifikansi 5 % : tt = 1,98

Pada taraf signifikansi 1 % : tt = 2,63


Karena t yang kita peroleh dalam perhitungan (yaitu t0 = 1,772 ) adalah
lebih kecil daripada tt (baik pada taraf signifikansi 5 % Maupun Pada taraf
signifikansi 1 %), maka hipotesis nihil diterima. Berarti antara variabel I
dan Variabel II tidak terdapat perbedaan yang signifikan.

Kesimpulan :
Sekalipun terdapat perbedaan Mean Hasil Belajar di antara kedua
kelompok siswa SMTA tersebut namun perbedaan Mean itu bukanlah
perbedaan

yang signifikan.Karena

itu

kita

dapat

mengatakan

menyimpulkan,Metode baru yang dieksperimentasikan itu,tidak lebih baik


jika dibandingkan dengan metode lama.

43

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tes t atau t Test, adalah salah satu tes statistic yang dipergunakan
untuk menguji kebenaran atau kepalsuan hipotesisi nihil yang menyatakan bahwa
diantara dua buah Mean Sampel yang diambil secara random dari populasi yang
sama, tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Berdasarkan keadaaan sampelnya
itu, pada umumnya para ahli statistic menggolongkan Tes t menjadi dua macam,
yaitu :
3. Tes t untuk Sampel Kecil (N < 30).
4. Tes t untuk Sampel Besar (N 30)
3.2 Saran
Makalah ini kami susun agar memberikan manfaat yang besar bagi para
pembaca. Kami berharap makalah ini dapat dijadikan

sebagai bahan kajian

sehingga dapat memberikan lebih kejelasan bagi para pembaca tentang sub bab
yang telah kami bahas. Kemudian menurut hemat kami, makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan. Untuk itu kami berharap kesedian bagi para pembaca untuk
memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun, penulis harapkan semoga
menjadi hasil yang terbaik dan lebih sempurna di kemudian hari.

44

3.3 Lampiran

45

DAFTAR PUSTAKA
http://dc441.4shared.com/doc/Lpk-YWha/preview.html.

Diakses

tanggal

17

novembar 2013. (Sumber dari Internet )

_____________,Test.

http://dc143.4shared.com/doc/xyWW4zny/preview.html.

Diakses tanggal 17 novembar 2013. (Sumber dari Internet )


Husaini Husman, M.Pd, R. Purnomo Setiady Akbar, S.Pd., M.Pd, Pengantar Statistika,
Jakarta: Bumi Aksara, 2003.
Pasaribu, Amudi. 1965. Pengantar Statistik .Medan: Imballo.

Sudijono, Anas. 2000. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT Raja Prapindo


Persada.
Subana. Statistik Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Sehan
Sukardi. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya.
Jakarta: Bumi Aksara.

46