Anda di halaman 1dari 10

Kontrak konstruksi adalah suatu ikatan perjanjian atau negosiasi antara pemilik proyek dengan agen-agen

mengkoordinasikan seluruh kegiatan proyek dengan tujuan untuk meminimalkan biaya dan jadwal serta menjaga
mutu proyek. Kontrak merupakan dokumen yang penting dalam proyek. Segala hal terkait hak dan kewajiban antar
pihak serta alokasi risiko diatur dalam kontrak. Pemahaman kontrak mutlak diperlukan oleh Tim proyek dalam
menjalankan proyek agar semua masalah dan risiko yang terkandung di dalamnya dapat diatasi dan sesuai dengan
kemampuan masing-masing pihak untuk mengatasinya.
Di bawah ini kami mencoba untuk men-share beberapa jenis kontrak konstruksi menurut sepengetahuan penulis,
yaitu :
1.
2.
3.

Kontrak berdasarkan aspek perhitungan biaya


Kontrak berdasarkan aspek perhitungan jasa
Kontrak berdasarkan aspek cara pembayaran

4.

Kontrak berdasarkan aspek pembagian tugas

Kontrak berdasarkan aspek perhitungan biaya


Kontrak berdasarkan aspek perhitungan biaya dibagi menjadi 2, yaitu :

Fixed Lump Sum Price

Kontrak ini menyatakan bahwa kontraktor akan melaksanakan proyek sesuai dengan rancangan biaya tertentu. Jika
terjadi perubahan dalam kontrak, perlu dilakukan negosiasi antara pemilik dan kontraktor untuk menetapkan
besarnya pembayaran (tambah atau kurang) yang akan diberikan kepada kontraktor terhadap perubahan tersebut.
Kontrak ini dapat diterapkan jika perencanaan benar-benar telah selesai, sehingga kontraktor dapat melakukan
estimasi kuantitas secara akurat. Pemilik dengan anggaran terbatas akan memilih jenis kontrak ini, karena
merupakan satu-satunya jenis kontrak yang memberi nilai pasti terhadap biaya yang akan dikeluarkan.

Unit Price

Kontrak jenis ini adalah suatu kontrak yang menitik beratkan biaya per unit volume, per unit panjang ataupun per unit
berat. Kontrak ini dipakai jika kualitas dan bentuk dari pekerjaan tersebut secara mendetil dapat dispesifikasikan,
tetapi jumlah volume atau panjangnya tidak dapat diketahui dengan tepat. Jumlah pasti dari volume pekerjaan dapat
diketahui di akhir pekerjaan. Untuk menentukan kuantitas pekerjaan yang sesungguhnya, dilakukan
pengukuran(opname) bersama pemilik dan kontraktor terhadap kuantitas terpasang. Kelemahan dari penggunaan
kontrak jenis ini, yaitu pemilik tidak dapat mengetahui secara pasti biaya aktual proyek hingga proyek itu selesai.

Kontrak berdasarkan aspek perhitungan jasa


Kontrak berdasarkan aspek perhitungan jasa dibagi menjadi 3, yaitu :

Biaya Tanpa Jasa (Cost Without Fee)

Pada jenis kontrak ini kontraktor dibayar berdasarkan atas semua biaya pengeluarannya. Kontrak jenis ini biasanya
untuk proyek-proyek pembangunan tempat ibadah, yayasan sosial dan lain-lain.

Biaya Ditambah Jasa (Cost Plus Fee)

Pada kontrak jenis ini, kontraktor akan menerima pembayaran atas pengeluarannya, ditambah dengan biaya untuk
overhead dan keuntungan. Besarnya biaya overhead dan keuntungan, umumnya didasarkan atas persentase biaya
yang dikeluarkan kontraktor.
Kontrak jenis ini umumnya digunakan jika biaya aktual dari proyek belum bisa diestimasi secara akurat, karena
perencanaan belum selesai, proyek tidak dapat digambarkan secara akurat, proyek harus diselesaikan dalam waktu
singkat, sementara rencana dan spesifikasi belum dapat diselesaikan. Kekurangan dari kontrak jenis ini, yaitu pemilik
tidak dapat mengetahui biaya aktual proyek yang akan dilaksanakan.

Biaya Ditambah Jasa Pasti (Cost Plus Fixed Fee)

Pada jenis kontrak ini imbalan/ jasa bervariasi tergantung besarnya biaya, jumlah fee sudah ditetapkan. Berisiko bagi
pengguna jasa karena tidak ada batasan biaya yang diperlukan.

Kontrak berdasarkan aspek cara pembayaran


Kontrak berdasarkan aspek cara pembayaran dibagi menjadi 3, yaitu :

Cara Pembayaran Bulanan (Monthly Payment)

Yaitu prestasi pekerjaan kontraktor dihitung setiap bulan dan dibayar setiap bulan. Kelemahan cara pembayaran ini
adalah berapapun kecilnya prestasi penyedia jasa pada suatu bulan tertentu, tetap harus dibayar. Untuk menutupi
kelemahan cara pembayaran ini sering dimodifikasi dengan mempersyaratkan jumlah pembayaran minimum yang
harus dicapai untuk setiap bulan diselaraskan dengan prestasi yang harus dicapai sesuai jadwal.
Seringkali penyedia jasa mengkompensasi kurangnya prestasi kerja dengan prestasi bahan dengan cara menimbun
bahan di lapangan. Untuk mengatasinya bisa dipersyaratkan bahwa bahan yang ada di lapangan tidak dihitung
sebagai prestasi, kecuali pekerjaan yang betul-betul selesai/terpasang atau bisa juga barang-barang setengah jadi

Cara Pembayaran atas Prestasi (Stage Payment)

Pembayaran dilakukan atas dasar prestasi/ kemajuan prestasi. Besarnya prestasi dinyatakan dalam persentase.
Cara Pembayaran Termin atau Prestasi (Stage Payment). Seringkali prestasi yang diakui penyedia jasa bukan saja
prestasi fisik (pekerjaan selesai) tetapi termasuk pula prestasi bahan mentah dan setengah jadi walaupun barangbarang tersebut sudah berada di lapangan (front end loading)

Pra Pendanaan Penuh dari Penyedia Jasa (Contractors Full Pre-financed)

Penyedia jasa mendanai terlebih dahulu sampai pekerjaan selesai 100 % diterima baik oleh pengguna jasa baru
dibayar oleh penyedia jasa. Pengguna jasa memberi jaminan kepada penyedia jasa berupa jaminan Bank Kontrak
bentuk ini biasanya nilainya lebih tinggi.

Kontrak berdasarkan aspek pembagian tugas


Kontrak berdasarkan aspek pembagian tuas dibagi menjadi 6, yaitu :

Bentuk Kontrak Konvensional

Pengguna Jasa menugaskan Penyedia Jasa untuk melaksanakan salah satu aspek pembangunan saja. Setiap
aspek satu Penyedia Jasa dimana perencanaan, pengawasan, pelaksanaan dilakukan Penyedia Jasa yang berbeda.
Oleh karena itu pengawas pekerjaan secara khusus diperlukan untuk mengawasi pekerjaan.

Bentuk Kontrak Spesialis

Penggunan jasa menandatangani kontrak dengan beberapa perusahaan spesialis untuk masing-masing keahlian.
Keuntungan dari kontrak ini adalah :
1.
2.
3.

Mutu pekerjaan lebih handal,


Penghematan waktu, dan
Keleluasaan dan kemudahan mengganti penyedia jasa.

Bentuk Kontrak Rancang Bangun (Design Construction/Built, Turn-key)

Dalam bentuk kontrak ini, penyedia jasa bertugas membuat perencanaan yang lengkap dan melaksanakannya dalam
suatu kontrak konstruksi. Perbedaan antara design construction/built, dan turn-key adalah dari sistem
pembayarannya, dimana pada design construction/built pembayaran secara termijn sesuai pekerjaan.
Sedangkankey-turn pembayarannya sekaligus setelah pekerjaan selesai.

Bentuk Kontrak Engineering, Procurement dan Construction (EPC)

Pada bentuk kontrak ini proses mulai dari perencanaan, pengadaan dan peralatan dan pemasangan / pengerjaan
menjadi tanggung jawab penyedia jasa. Pengguna jasa hanya memberikan TOR atau pokok-pokok acuan tugas.
Kontrak ini biasa dipakai untuk pembayaran pekerjaan-pekerjaan dalam industri.

Bentuk Kontrak BOT/BLT

Pada jenis kontrak ini Investor membangun pada lahan pemilik (Build). Setelah itu Investor mengelola selama kurun
waktu tertentu (Operate) dan setelah masa pengoperasian selesai fasilitas tersebut dikembalikan kepada pemilik
(Transfer).

Bentuk Swakelola (Force Account)

Yaitu suatu

tindakan pemilik proyek yang melibatkan diri dan bertanggung jawab secara langsung dalam

pelaksanaan proyek tsb.


Demikian jenis-jenis kontrak dalam konstruksi / proyek sepengetahuan penulis. Semoga bermanfaat....

Dalam dunia konstruksi, perjanjian antara pihak ownerdengan pihak kontraktor diikat dalam sebuah kontrak
kerja. Pengaturan hukum kontrak kerja proyek konstruksi diatur oleh pihak-pihak yang terlibat dan sesuai
dengan ketentuan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku (KUHP pasal 1601b). Kontrak proyek
konstruksi ini berupa dokumen tertulis dan wajib menjelaskan tentang kesepakatan keselamatan umum dan
tertib bangunan karena sebuah proyek konstruksi merupakan pekerjaan yang mengandung resiko tinggi.
Jenis-jenis kontrak proyek konstruksi adalah:

Kontrak harga satuan (Unit price contract)


Dalam kontrak ini, pihak kontraktor hanya menentukan harga satuan pekerjaan untuk biaya semua jenis
pekerjaan yang mungkin dikeluarkan termasuk biaya overhead dan keuntungan. Biasanya, kontrak ini
digunakan jika kuantitas aktual dan masing-masing item pekerjaan sulit untuk diestimasi secara akurat sebelum
proyek dimulai. Pemilik dan kontraktor akan melakukan opname atau pengukuran bersama terhadap jumlah
bahan yang terpasang untuk menentukan kuantitas pekerjaan yang sesungguhnya. Kelemahan dari jenis
kontrak ini yaitu pemilik tidak dapat mengetahui secara pasti biaya aktual proyek hingga proyek itu selesai.

Kontrak biaya plus jasa (Cost plus fee contract)


Dalam kontrak ini, kontraktor akan menerima pembayaran atas pengeluarannya, ditambah dengan biaya untuk
overhead dan keuntungan. Besarnya biaya overhead dan keuntungan biasanya dihitung berdasarkan presentase
biaya yang akan dikeluarkan kontraktor. Yang menjadi kelemahan jenis kontrak ini hampir sama dengan jenis
kontrak harga satuan dimana pemilik tidak dapat mengetahui biaya aktual proyek yang akan dilaksanakan.
Biasanya kontrak jenis ini dipakai jika proyek tersebut harus diselesaikan dalam waktu yang singkat sementara
rencana dan spesifikasinya belum dapat diselesaikan.

Kontrak biaya menyeluruh (Lump sum contract)


Dalam kontrak ini menyatakan bahwa kontraktor akan melaksanakan proyek sesuai dengan rancangan biaya
tertentu. Apabila terjadi perubahan dalam kontrak, perlu dilakukan negosiasi antara pemilik dan kontraktor
untuk menetapkan besarnya pembayaran (baik tambah maupun kurang) yang akan diberikan kepada kontraktor
terhadap perubahan tersebut.
Kontrak jenis ini hanya bisa diterapkan apabila ada perencanaan yang telah benar-benar selesai, dimana
kontraktor sudah dapat melakukan estimasi kuantitas secara akurat. Biasanya pemilik proyek dengan jumlah
anggaran yang terbatas akan memilih jenis kontrak ini karena merupakan satu-satunya jenis kontrak yang
memberi nilai pasti terhadap biaya yang akan dikeluarkan.

Leave a Reply

jenis Jenis Kontrak Dalam Proyek Konstruksi (lanjutan)


jenis Jenis Kontrak Dalam Proyek Konstruksi (lanjutan)
[lanjutan dari tulisan 'Jenis-jenis Kontrak Dalam Proyek Konstruksi'...]
& FIXED PRICE CONTRACTS
Kontraktor menyelesaikan pekerjaan berdasarkan harga yang disetujui dan pelaksanaannya
menurut bestek (tender dokumen) yang ditetapkan dan diterima kontraktor.
Keuntungan kontrak ini adalah pemilik dapat mengetahui biaya yang akan dikeluarkan pada
awal dan akhir pekerjaan serta mendapatkan harga yang bersaing dari pada kontraktor
dengan cara pelelangan.
a. LUMP-SUM CONTRACT
Pekerjaan yang dilakukan dibawah kontrak semacam ini memerlukan gambar kerja yang
jelas, spesifikasi bestek yang akurat dimana kedua belah pihak mempunyai satu
interpretasi yang sama terhadap isi dan maksud dari dokumen tender tersebut.
Keuntungan bagi kontraktor yaitu pelaksanaan pekerjaan dapat diprogramkan,
memungkinkan melaksanakan kontrol denganefisien dan kelengkapan gambar dan bestek
menjamin bahwa pekerjaan tambah/kurang ataupun perubahan konstruksi akan minimum.
b. UNIT PRICE CONTRACT
Suatu kontrak yang menitik beratkan beaya per unit volume, perunit panjang ataupun per
unit berat.. kontrak ini dipakai jika kwalitas dan bentuk dari pekerjaan tersebut secara
mendetil dapat dispesifikasikan, tetapi jumlah volume atau panjangnya taj dapat diketahui
dengan tepat. Jumlah pasti dari volume pekerjaan dapat diketahui di akhir pekerjaan.
Variasi dari unit price contract ini yaitu harga tetap tak berubah sampai kontrak selesai
(flat rate); atau harga dapat dikaitkan dengan perkiraan volume (sliding rate).
> PRIME COST CONTRACTS
Semua kontarak yang berada dibawah predikat ini memiliki kesamaan yaitu pemilik
mengganti ongkos yang dikeluarkan kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan, ditambah
dengan sutu tambahan ongkos untuk beaya kerja pemborong.
Perbedaan yang terdapat dalam macam-macam kontrak dalam prime cost contracts ini
hanya pada penetapan dan pengaturan biaya tambahannya. Macam-macam prime cost
contract yaitu :
a. COST PLUS PERCENTAGE FEE CONTRACT
Jenis kontrak ini memiliki fleksibilitas yang tinggi artinya bahwa pekerjaan detail dapat
diselesaikan bersamaan dengan pekerjaan konstrusinya. Percentage fee adalah beaya
tambahan yang merupakan persentasi tertentu dari biaya fisik pekerjaan yang dihasilkan.
Secara teknis dan pembiayaan, kontrak semacam ini tidak memiliki mekanisme untuk
menekan waktu dan beaya yang lebih banyak merugikan pemilik pekerjaan (owner). Kontrak
semacam ini hanya cocok untuk pekerjaan gawat darurat.
b. COST PLUS FIXED FEE CONTRACT
Fixed fee diartikan jumlah fee yang tertentu atau pasti tanpa meliaht besarnya beaya

fisik pekerjaan. Kontrak ini dapat diterapkan bila pekerjaan dapat dirumuskan secara garis
besar dan jelas. Meskipun fee telah ditetapkan, pelaksanaan pekerjaan bisa menjadi tidak
efisien sehingga dapat meningkatkan beaya yang trjadi dan perpanjangan waktu konstruksi.
c. COST PLUS VARIABLAE PERCENTAGE FEE CONTRACT
Kontrak ini merupakan perbaikan dari kontrak diatas yaitu kontraktor didorong untuk
bekerja lebih efisien karena fee kontraktor dikaitkan dengan beaya yang sebenarnya
(actual cost) dari pekerjaan konstruksinya.
Rumus :
F = R (2E A)
Ket :
F
= fee pemborong
R
= prosentase pokok
E
= estimasi biaya tanpa fee
A
= biaya proyek aktual tanpa fee
d. TARGET ESTIMATE CONTRACT
Kontak ini dipakai bila persyaratan untuk memakai unit price masih belum terpenuhi. Fee
aktual yang diberikan pada kontraktor akan berkurang/bertambah berkaitan dengan deviasi
yang terjadi dari beaya sebenarnya terhadap beaya yang diperkirakan. Target cost
ditetapkan oleh pemborong.
Rumus :
F = Ls + n ( T A )
Ket :
F
= fee pemborong
Ls
= Lump-sum fee
T
= Tarhet estimate cost
A
= Actual cost
n
= 0,3 0,6
Kadang-kadang ditambahkan ketentuaan bahwa fee pemborong minimum setengan dari
beaya yang sebenarnya (actual cost).
e. GUARANTED MAXIMUM COST CONTRACT
Kontraktor menawarkan fee-nya dan sekaligus menjamin bahwa harga total proyek tidak
akan melebihi suatu harga tertentu (maksimum). Pengeluaran yang terjadi diatas harga
maksimum akan menjadi beban kontraktor.
Sebaliknya bilamana beaye total lebih kecil dari maksimum, maka selisih beaya yang
terjadi dapat dibagi antara pemilik dan kontraktor sesuai dengan pengaturan yang telah
disepakati sebelumnya.
f. CONVERTIBLE COST CONTRACT
Pemilik dihadapkan pada suatu keinginan untuk melelangkan suatu pekerjaan dan diatur
secara Fixed Price Contract, tetapi tidak menemukan kontraktor yang mau menawar
dengan harga yang memadai.
Dengan keadaan ini pemilik dapat mempekerjakan kontraktor kepercayaannya secara cost
plus basis dan meneliti pengeluaran-pengeluaran yang terjadi sampai suatu saat dapat

dibuat suatu kontrak dengan sistem Lump-Sum dan Unit Price.


g. COST PLUS TIME AND MATERIAL CONTRACT
Pekerjaan borong kerja dengan atau tanpa materialnya berdasarkan waktu kerja. Material
dapat disuplai oleh pemilik atau oleh pemborong. Misalnya untuk pekerjaan pengadaan
barang dan instalasinya.

Jenis, Bentuk, dan Isi Kontrak


Banyaknya jenis dan standar kontrak yang berkembang dalam industri konstruksi
memberikan beberapa alternatif pada pihak pemilik untuk memilih jenis dan standar kontrak yang
akan digunakan. Beberapa jenis dan standar kontrak yang berkembang diantaranya
adalah Federation Internationale des Ingenieurs Counseils (FIDIC), Joint Contract
Tribunal (JCT), Institution of Civil Engineers (I.C.E), General Condition of Goverment Contract for
Building and Civil Engineering Works (GC/Works), dan lain-lain.
Bentuk kontrak konstruksi bermacam-macam dipandang dari aspek-aspek tertentu. Ada
empat aspek atau sisi pandang bentuk kontrak konstruksi, yaitu:
1. Aspek Perhitungan Biaya
a. Fixed Lump Sum Price
b. Unit Price
2. Aspek Perhitungan Jasa
a.

Biaya Tanpa Jasa (Cost Without Fee)

b. Biaya Ditambah Jasa (Cost Plus Fee)


c.

Biaya Ditambah Jasa Pasti (Cost Plus Fixed Fee)

3. Aspek Cara Pembayaran


a.

Cara Pembayaran Bulanan (Monthly Payment)

b. Cara Pembayaran atas Prestasi (Stage Payment)


c.

Pra Pendanaan Penuh dari Penyedia Jasa (Contractors Full Pre-financed)

4. Aspek Pembagian Tugas


a.

Bentuk Kontrak Konvensional

b. Bentuk Kontrak Spesialis

c.

Bentuk Kontrak Rancang Bangun (Design Construction/Built, Turn-key)

d. Bentuk Kontrak Engineering, Procurement dan Construction (EPC)


e.

Bentuk Kontrak BOT/BLT

f.

Bentuk Swakelola (Force Account)

Secara substansial, kontrak konstruksi memiliki bentuk yang berbeda dari bentuk kontrak
komersial lainnya, hal ini dikarenakan komoditas yang dihasilkan bukan merupakan produk standar,
namun berupa struktur yang memiliki sifat yang unik dengan batasan mutu, waktu, dan biaya. Dalam
kenyataannya, kontrak konstruksi terdiri dari beberapa dokumen yang berbeda dalam tiap proyek.
Namun secara umum kontrak konstruksi terdiri dari:
1. Agreement (Surat Perjanjian)
Menguraikan pekerjaan yang akan dikerjakan, waktu penyelesaian yang diperlukan, nilai kontrak,
ketentuan mengenai pembayaran, dan daftar dokumen lain yang menyusun kelengkapan kontrak..
2. Condition of the Contract (Syarat-syarat Kontrak)
Terdiri dari general conditions (syarat-syarat umum kontrak) yang berisi ketentuan yang diberikan
oleh pemilik kepada kontraktor sebelum tender dimulai dan special condition (syarat-syarat khusus
kontrak) yang berisi ketentuan tambahan dalam kontrak yang sesuai dengan proyek..
3. Contract Plan (Perencanaan Kontrak)
Berupa gambar yang memperlihatkan lokasi, dimensi dan detil pekerjaan yang harus dilaksanakan.
4. Spesification (Spesifikasi)
Keterangan tertulis yang memberikan informasi detil mengenai material, peralatan dan cara
pengerjaan yang tidak tercantum dalam gambar.
Dokumen kontrak adalah kumpulan dokumen yang berkaitan dengan pelaksanaan kontrak
yang sekurang-kurangnya berisi ketentuan yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah No
29/2000 Pasal 22, yaitu:
a.

Surat Perjanjian

b.

Dokumen Tender

c.

Penawaran

d.

Berita Acara

e.

Surat Pernyataan Pengguna Jasa

f.

Surat Pernyataan Penyedia Jasa

a.

Isi Perjanjian/Kontrak harus memuat antara lain:


Uraian para pihak

b. Konsiderasi
c.

Lingkup Pekerjaan

d. Nilai Kontrak
e.

Bentuk Kontrak yang Dipakai

f.

Jangka Waktu Pelaksanaan

g. Prioritas Dokumen
Dokumen Kontrak adalah kumpulan dokumen yang saling melengkapi menjadi suatu
dokumen perjanjian antara Pemberi Tugas dan Penerima Tugas. Prinsip dari urutan kekuatan
(prioritas untuk diikuti/dilaksanakan) adalah dokumen yang terbit lebih akhir adalah yang lebih
kuat/mengikat untuk dilaksanakan. Apabila tidak ditentukan lain, sesuai dengan prinsip tersebut
diatas, maka urutan/prioritas pelaksanaan pekerjaan di Proyek adalah berdasarkan:
1. Instruksi tertulis dari Konsultan MK (jika ada)
2. Addendum Kontrak (jika ada)
3. Surat Perjanjian pemborongan (Article of Agreement) dan syarat-syarat
Perjanjian (Condition of Contract)
4. Surat Perintah Kerja (Notice to Proceed), Surat Penunjukan (Letter of
Acceptance)
5. Berita Acara Negosiasai
6. Berta Acara Klarifikasi
7. Berita Acara Aanwijzing
8. Syarat-syarat Administrasi
9. Spesifikasi/Syarat Teknis
10. Gambar Rencana Detail
11. Gambar Rencana
12. Rincian Nilai Kontrak

Berdasarkan pengalaman, terdapat pasal-pasal kontrak yang sering menimbulkan


kesalahpahaman (dispute) antara Pemilik proyek dan Kontraktor. Pasal-pasal ini perlu mendapat
perhatian pada saat penyusunan kontrak sebelum
ditandatangani. Pasal-pasal penting dalam kontrak adalah sebagai berikut:
a.

Lingkup pekerjaan : berisi tentang uraian pekerjaan yang termasuk dalam kontrak..

b. Jangka waktu pelaksanaan, menjelaskan tentang total durasi pelaksanaan, Pentahapan (milestone)
bila ada, Hak memperoleh perpanjangan waktu, Ganti rugi keterlambatan..
c.

Harga borongan menjelaskan nilai yang harus dibayarkan oleh pemilik proyek kepada
kontraktor untuk melaksanakan seluruh lingkup pekerjaan, Sifat kontraklumpsum fixed
price atau unit price, Biaya-biaya yang termasuk dalam harga borongan..

d. Cara pembayaran, berisi ketentuan tentang tahapan pembayaran, cara pengukuran prestasi,
Jangka waktu pembayaran, Jumlah pembayaran yang ditahan pada setiap tahap (retensi),
Konsekuensi apabila terjadi keterlambatan pembayaran (misalnya denda).
e.

Pekerjaan tambah atau kurang, berisi Definisi pekerjaan tambah/kurang, Dasar pelaksanaan
pekerjaan tambah/kurang (misal persetujuan yang diperlukan), dampak pekerjaan tambah/kurang
terhadap harga borongan, Dampak pekerjaan tambah/kurang terhadap waktu pelaksanaan, Cara
pembayaran pekerjaan tambah/kurang..

f.

Pengakhiran perjanjian, berisi ketentuan tentang hal-hal yang dapat mengakibatkan pengakhiran
perjanjian, Hak untuk mengakhiri perjanjian, Konsekuensi dari pengakhiran perjanjian.