Anda di halaman 1dari 20

Kebutuhan spiritual

Perawat mampu untuk menghormati klien dalam memenuhi kebutuhan spiritualnya dan meyakinkan
pasien bahwa kepercayaan, keyakinan dan agama sangat berpengaruh terhadap upaya penyembuhan.

KEBUTUHAN SPIRITUAL DALAM KEPERAWATAN


KEBUTUHAN SPIRITUAL

A. PENDAHULUAN

Penting sekali bagi seorang perawat memahami perbedaan antara spiritual, keyakinan dan
agama guna menghindarkan salah pengertian yang akan mempengaruhi pendekatan perawat
dengan pasien. Spiritualitas merupakan suatu konsep yang unik pada masing-masing
individu.Manusia adalah makhluk yang mempunyai aspek spiritual yang akhir-akhir ini banyak
perhatian dari masyarakat yang disebut kecerdasan spiritual yang sangat menentukan kehagiaan
hidup seseorang. Perawat memahami bahwa aspek ini adalah bagian dari pelayanan yang
komprehensif. Karena selama dalam perawatan, respon spiritual kemungkian akan muncul pada
pasien.
Pasien yang sedang dirawat dirumah sakit membutuhkan asuhan keperawatan yang holistik
dimana perawat dituntut untuk mampu memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif
bukan hanya pada masalah secara fisik namun juga spiritualnya. Untuk itulah materi spiritual
diberikan kepada calon perawat guna meningkatkan pemahaman dan kemampuan perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan kebutuhan spiritual.

B. SPIRITUAL
1.

Pengertian
Spiritual berasal dari bahasa latin spiritus, yang berarti bernafas atau angin. Ini berarti segala
sesuatu yang menjadi pusat semua aspek dari kehidupan seseorang (McEwan, 2005). Spiritual
adalah keyakinan dalam hubungannya dengan yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta (Hamid,
1999).

Spiritual merupakan kompleks yang unik pada tiap individu dan tergantung pada budaya,
perkembangan, pengalaman hidup, kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan seseorang (Potter
& Perry, 1999)

Menurut Burkhardt (1993) dalam Hamid (1999) spiritual meliputi aspek sebagai berikut:
a.

Berhubungan dengan sesuatu yang tidk diketahui

b. Menemukan arti dan tujuan hidup


c.

Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri.
Kepercayaan artinya mempunyai kepercayaan atau komitmen terhadap sesuatu atau seseorang,
sementara agama merupakan sistem ibadah yang teratur dan terorganisasi (Hamid, 1999)

2.

Karakteristik

1. Hubungan dengan diri sendiri


Kekuatan dalam dan self relience
a.

Pengetahuan diri (siapa dirinya dan apa yang dapat dilakukannya)

b. Sikap (percaya diri sendiri, percaya pada kehidupan/ masa depan, ketenangan pikiran, harmoni/
keselarasan dengan diri sendiri)
2. Hubungan dengan alam
Harmoni

a.

Mengetahui tentang alam, iklim, margasatwa

b. Berkomunikasi dengan alam (berjalan kaki, bertanam), mengabdikan dan melindungi alam
3. Hubungan dengan orang lain
Harmoni/ Suportif
a.

Berbagi waktu, pengetahuan dan sumber secara timbal balik

b. Mengasuh anak, orang tua dan orang sakit


c.

Meyakini kehidupan dan kematian (mengunjungi, melayat)


Tidak harmonis

a.

Konflik dengan orang lain

b. Resolusi yang menimbulkan ketidakharmonisan dan friksi


4.

Hubungan dengan Ketuhanan


Agamis atau tidak agamis

a.

Sembahyang/ berdoa/ meditasi

b. Perlengkapan keagamaan
a.

Bersatu dengan alam

3.

Perkembangan spiritual

a.

Bayi dan todler (1-3 tahun)


Tahap awal perkembangan spiritual adalah rasa percaya dengan yang mengasuh dan sejalan
dengan perkembangan rasa aman, dan dalam hubungan interpersonal, karena sejak awal
kehidupan mengenal dunia melalui hubungan dengan lingkungan kususnya orangtua. Bayi dan
todler belum memiliki rasa bersalah dan benar, serta keyakinan spiritual. Mereka mulai meniru
kegiatan ritual tanpa tau arti kegiatan tersebut dan ikut ketempat ibadah yang mempengaruhi
citra diri mereka.

b.

Prasekolah
Sikap orang tua tentang moral dan agama mengajarkan pada anak tentang apa yang dianggap
baik dan buruk.anak pra sekolah belajar dari apa yang mereka lihat bukan pada apa yang
diajarkan. Disini bermasalah jika apa yang terjadi berbeda dengan apa yang diajarkan.

c.

Usia sekolah
Anak usia sekolah Tuhan akan menjawab doanya, yang salah akan dihukum dan yang baik akan
diberi hadiah. Pada mas pubertas, anak akan sering kecewa karena mereka mulai menyadari

bahwa doanya tidak selalu dijawab menggunakan cara mereka dan mulai mencari alasan tanpa
mau menerima keyakinan begitu saja.
Pada masa ini anak mulai mengambil keputusan akan meneruskan atau melepaskan agama yang
dianutnya karena ketergantungannya pada orang tua. Remaja dengan orang tua berbeda agama
akan memutuska memilih pilihan agama yang dianutnya atau tidak memilih satupun dari agama
orangtuanya.
d.

Dewasa
Kelompok dewasa muda yang dihadapkan pada pertanyaan bersifat keagamaan dari anaknya
akan menyadari apa yang diajarkan padanya waktu kecil dan masukan tersebut dipakai untuk
mendidik anakya.

e.

Usia pertengahan
Usia pertengahan dan lansia mempunyai lebih banyak waktu untuk kegiatan agama dan berusaha
untuk mengerti nilai agama yang di yakini oleh generasi muda.

4.

Konsep kesehatan spiritual.

a.

Spiritualitas
Konsep spiritual memiliki delapan batas tetapi saling tumpang tindih: Energi, transendensi diri,
keterhubungan, kepercayaan, realitas eksistensial, keyakinan dan nilai, kekuatan batiniah,
harmoni dan batin nurani.

1)

Spiritualitas memberikan individu energi yang dibutuhkan untuk menemukan diri mereka, untuk
beradaptasi dengan situasi yang sulit dan untuk memelihara kesehatan.

2)

Transedensi diri (self transedence) adalah kepercayaan yang merupakan dorongan dari luar yang
lebih besar dari individu.

3)

Spiritualitas memberikan pengertian keterhubungan intrapersonal (dengan diri sendiri),


interpersonal (dengan orang lain) dan transpersonal (dengan yang tidak terlihat, Tuhan atau yang
tertinggi) (Potter & Perry, 2009)

4)

Spiritual memberikan kepercayaan setelah berhubungan dengan Tuhan. Kepercayaan selalu


identik dengan agama sekalipun ada kepercayaan tanpa agama.

5)

Spritualitas melibatkan realitas eksistensi (arti dan tujuan hidup).

6)

Keyakinan dan nilai menjadi dasar spiritualitas. Nilai membantu individu menentukan apa yang
penting bagi mereka dan membantu individu menghargai keindahan dan harga pemikiran, obysk
dsn prilaku.(Holins, 2005; Vilagomenza, 2005)

7)

Spiritual memberikan individu kemampuan untuk menemukan pengertian kekuatan batiniah


yang dinamis dan kreatif yang dibutuhkan saat membuat keputusan sulit (Braks-wallance dan
Park, 2004).

8)

Spiritual memberikan kedamaian dalam menghadapi penyakit terminal maupun menjelang ajal
(Potter & Perry, 2009).
Beberapa individu yang tidak mempercayai adanya Tuhan (atheis) atau percaya bahwa tidak ada
kenyataan akhir yang diketahui (Agnostik). Ini bukan berati bahwa spiritual bukan merupakan
konsep penting bagi atheis dan agnostik, Atheis mencari arti kehidupan melalui pekerjaan
mereka dan hubungan mereka dengan orang lain.agnostik menemukan arti hidup dalam
pekerjaan mereka karena mereka percaya bahwa tidak adanya akhir bagi jalan hidup mereka.

b.

Dimensi Spiritual ( Kozier, Erb, Blais & Wilkinson, 1995)

1)

Mempertahankan keharmonisan / keselarasan dengan dunia luar

2)

Berjuang untuk menjawab / mendapatkan kekuatan

3)

Untuk menghadapi : Stres emosional, penyakit fisik dan menghadapi kematian

c.

Konsep kesejahteraan spiritual ( spiritual well-being) (Gray,2006; Smith, 2006):

1)

Dimensi vertikal. Hubungan positif individu dengan Tuhan atau beberapa kekuasaan tertinggi

2)

Dimensi horizontal. Hubungan positif individu dengan orang lain

5.

Hubungan antara spiritual kesehatan dan sakit


Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat kesehatan
dan prilaku klien. Beberapa pengaruh yang perlu dipahami:

1) Menuntun kebiasaan sehari-hari


Praktik tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan mungkin
mempunyai makna keagamaan bagi klien, sebagai contoh: ada agama yang menetapkan diet
makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan.
2) Sumber dukungan

Pada saat stress, individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya. sumber kekuatan
sangat diperlukan untuk dapat menerima keadaan sakitnya khususnya jika penyakit tersebut
membutuhkan waktu penyembuhan yang lama.
3) Sumber konflik
Pada suatu situasi bisa terjasi konflik antara keyakinan agama dengan praktik kesehatan.
Misalnya: ada yang menganggap penyakitnya adalah cobaan dari Tuhan

6.

Manifestasi perubahan fungsi spiritual

a.

Verbalisasi distress
Individu yang mengalami gangguan fungsi spiritual, biasanya akan meverbalisasikan yang
dialaminya untuk mendalatkan bantuan.

b.

Perubahan perilaku
Perubahan perilaku juga dapat merupakan manifestasi gangguan fungsi spiritual. Klien yang
merasa cemas dengan hasil pemeriksaan atau menunjukkan kemarahan setelah mendengar hasil
pemeriksaan mungkin saja sedang menderita distress spiritual. Untuk jelasnya berikut terdapat
tabel ekspresi kebutuhan spiritual.

C. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SPIRITUAL

1.

Pengkajian

Pengkajian dilakukan untuk mendapatkan data subyektif dan obyektif. Aspek spiritual sangat
bersifat subyektif, ini berarti spiritual berbeda untuk individu yang berbeda pula (Mcsherry dan
Ross, 2002)
Pada dasarnya informasi awal yang perlu digali adalah
a)

Alifiasi nilai; Partisipasi klien dalam kegiatan agama apakah dilakukan secara aktif atau tidak,
Jenis partisipasi dalam kegiatan agama

b) Keyakinan agama dan spiritual; Praktik kesehatan misalnya diet, mencari dan menerima ritual
atau upacara agama, strategi koping

Nilai agama atau spiritual, mempengaruhi tujusn dan arti hidup, Tujuan dan arti kematian,
Kesehatan dan arti pemeliharaan serta Hubungan dengan Tuhan, diri sendiri dan orang lain

2.

Diagnosa Keperawatan

a)

Distress spiritual

b) Koping inefektif
c)

Ansietas

d) Disfungsi seksual
e)

Harga diri rendah

f)

Keputusasaan

3.

Perencanaan

1. Distress spiritual b.d anxietas


Definisi : gangguan pada prinsip hidup yang meliputi semua aspek dari seseorang yang
menggabungkan aspek psikososial dan biologis
NOC :
a.

Menunjukkan harapan

b. Menunjukkan kesejahteraan spiritual:


-

Berarti dalam hidup

Pandangan tentang spiritual

Ketentraman, kasih sayang dan ampunan

Berdoa atau beribadah

Berinteraksi dengan pembimbing ibadah

Keterkaitan denganorang lain, untuk berbagi pikiran, perasaan dan kenyataan

c.

Klien tenang
NIC :

Kaji adanya indikasi ketaatan dalam beragama

Tentukan konsep ketuhanan klien

Kaji sumber-sumber harapan dan kekuatan pasisien

Dengarkan pandangan pasien tentang hubungan spiritiual dan kesehatan

Berikan prifasi dan waktu bagi pasien untuk mengamati praktik keagamaan

Kolaborasi dengan pastoral

2. Koping inefektif b.d krisis situasi


Definisi : ketidakmampuan membuat penilaian yang tepat terhadat stressor, pilihan respon untuk
bertindak secara tidak adekuat dan atau ketidakmampuan menggunakan sumber yang tersedia
NOC:
-

Koping efektif

Kemampuan untuk memilih antara 2 alternatif

Pengendalian impuls : kemampuan mengendalikan diri dari prilaku kompulsif

Pemrosesan informasi : kemampuan untuk mendapatkan dan menggunakan informasi


NIC :

Identifikasi pandangan klien terhadap kondisi dan kesesuaiannya

Bantu klien mengidentifikasi kekuatan personal

Peningkatan koping:
nilai kesesuaian pasien terhadap perubahan gambaran diri
nilai dampak situasi kehidupan terhadap peran
evaluasi kemampuan pasien dalam membuat keputusan
Anjurkan klien menggunakan tehnik relakssi
Berikan pelatihan ketrampilan sosial yang sesuai

Libatkan sumber sumber yang ada untuk mendukung pemberian pelayanan kesehatan

D. Pelaksanaan
Dilaksanakan sesuai dengan NIC yang telah ditentukan

E. Evaluasi
Evaluasi dengan melihat NOC yang telah ditentukan , secaara umum tujuan tercapai apabila
klien ( Hamid, 1999)
1. Mampu beristirahat dengan tenang
2. Menyatakan penerimaan keputusan moral
3. Mengekspresikan rasa damai
4. Menunjukkan hubungan yang hangat dan terbuka
5. Menunjukkan sikap efektif tanpa rasa marah, rasa berslah dan ansietas
6. Menunjukkan prilaku lebih positif
7. Mengekspresikan arti positif terhadap situasi dan keberadaannya

DAFTAR PUSTAKA
Dochterman, J. M and Bulecheck, G. M., 2004, Nursing Interventions Clasification (NIC), Mosby:
St. Louis, Missouri
Doenges, M. E., Moorhouse. M. F., Geisler. A. C., Rencana Asuhan Keperawatan, EGC: Jakarta
Hamid, A, Y., 1999, Buku ajar Aspek Spiritual dalam Keperawatan, Widya medika: Jakarta
Nurjanah, I, 2010, Intans Screening Diagnoses Assesment (ISDA), Mocomedia: Yogyakarta
Nurjanah, I, 2004, Pedoman Penanganan pada Gangguan Jiwa, Mocomedia: Yogyakarta

NANDA, 2007, Nursing Diagnoses: Definitions and Clasification 2007-2008, Philadelphia


NANDA, 2010, Diagnosa Keperawatan: Definisi dan klasifikasi 2009-2010, EGC: Jakarta
Potter, P. A., Perry, A. G., 1999, Fundamental Keperawatan, Salemba medika: Jakarta
Sue Moorhead., Johnson, M., Mass. M., 2004, Nursing Outcomes Clasification (NOC), Mosby: St.
Louis, Missouri
Taylor, Lilis, Lemone, Lyn, 2011, Fundamental of Nursing The art and Sience of Nursing Care,
Lippincott

BAB IV
KEBUTUHAN SPIRITUAL PASIEN
PENDAHULUAN
Penting bagi perawat untuk memahami konsep yang mendasari kesehatan spiritual. Spiritualitas
merupakan suatu konsep yang unik pada masing-masing individu.Manusia adalah makhluk yang
mempunyai aspek spiritual yang akhir-akhir ini banyak perhatian dari masyarakat yang di sebut
kecerdesan spiritual yang sangat menentukan kehagiaan hidup seseorang. Perawat atau ners
memahami bahwa aspek ini adalah bagian dari pelayanan yang komprehensif. Karena respon
spiritual kemungkian akan muncul pada pasien.
Kompetensi standar yang di capai adalah perawat mampu mengidentifikasi aspek spiritual yang
terjadi pada pasien. Dengan kompetensi dasar sebagai berikut.
1. Perawat mampu mendifinisikan aspek spiritual pada manusia atau pasien.
2. Perawat mampu mengidentifikasi kebutuhan spiritual pada pasien yang sakit.
3. Perawat mampu memberikan alternatif cara untuk memenuhi kebutuhan spiritual.
PENGERTIAN SPIRITUAL
Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha
Pencipta. Menurut Burkhardt (1993) spiritualitas meliputi aspek-aspek :
1)

berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam kehidupan,

2)

menemukan arti dan tujuan hidup,

3)

menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri,

4)

mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan Yang Maha Tinggi.

Mempunyai kepercayaaan atau keyakinan berarti mempercayai atau mempunyai komitmen


terhadap sesuatu atau seseorang. Konsep kepercayaan mempunyai dua pengertian. Pertama,
kepercayaan didefinisikan sebagai kultur atau budaya dan lembaga keagamaan seperti Islam,
Kristen, Budha, dan lain-lain. Kedua, kepercayaan didefinisikan sebagai sesuatu yang
berhubungan dengan Ketuhanan, kekuatan tertinggi, orang yang mempunyai wewenang atau
kuasa, suatu perasaan yang memberikan alasan tentang keyakinan (belief) dan keyakinan
sepenuhnya (action). Harapan (hope), harapan merupakan suatu konsep multidimensi, suatu
kelanjutan yang sifatnya berupa kebaikan, perkembangan, dan bisa mengurangi sesuatu yang
kurang menyenangkan. Harapan juga merupakan energi yang bisa memberikan motivasi kepada
individu untuk mencapai sutau prestasi dan berorientasi ke depan. Agama, adalah sebagai sistem
organisasi kepercayaan dan peribadatan dimana seseorang bisa mengungkapkan dengan jelas
secara lahiriah mengenai spiritualitasnya. Agama adalah suatu sistem ibadah yang terorganisasi
atau teratur.

Definisi spiritual setiap individu dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup,
kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan. Spiritualitas juga memberikan suatu perasaan yang
berhubungan dengan intrapersonal (hubungan antara diri sendiri), interpersonal (hubungan antara
orang lain dan lingkungan) dan transpersonal (hubungan yang tidak dapat dilihat yaitu suatu
hubungan dengan ketuhanan yang merupakan kekuatan tertinggi). Adapun unsur-unsur
spiritualitas meliputi kesehatan spiritual, kebutuhan spiritual dan kesadaran spiritual. Dimensi
spiritual merupakan suatu penggabungan yang menjadi satu kesatuan antara unsur psikologikal,
fisiologikal atau fisik, sosiologikal dan spiritual.
Kata spiritual sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Untuk memahami pengertian
spiritual dapat dilihat dari berbagai sumber. Menurut Oxford English Dictionary, untuk
memahami makna kata spiritual dapat diketahui dari arti kata-kata berikut ini : persembahan,
dimensi supranatural, berbeda dengan dimensi fisik, perasaan atau pernyataan jiwa, kekudusan,
sesuatu yang suci, pemikiran yang intelektual dan berkualitas, adanya perkembangan pemikiran
dan perasaan, adanya perasaan humor, ada perubahan hidup, dan berhubungan dengan organisasi
keagaamaan. Sedangkan berdasarkan etimologinya, spiritual berarti sesuatu yang mendasar,
penting, dan mampu menggerakan serta memimpin cara berfikir dan bertingkah laku seseorang .
Berdasarkan konsep keperawatan, makna spiritual dapat dihubungkan dengan kata-kata : makna,
harapan, kerukunan, dan sistem kepercayaan (Dyson, Cobb, Forman, 1997). Dyson mengamati
bahwa perawat menemukan aspek spiritual tersebut dalam hubungan seseorang dengan dirinya
sendiri, orang lain, dan dengan Tuhan. Menurut Reed (1992) spiritual mencakup hubungan intra, inter-, dan transpersonal. Spiritual juga diartikan sebagai inti dari manusia yang memasuki dan
mempengaruhi kehidupannya dan dimanifestasikan dalam pemikiran dan prilaku serta dalam
hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, alam, dan Tuhan (Dossey & Guzzetta, 2000).
Para ahli keperawatan menyimpulkan bahwa spiritual merupakan sebuah konsep yang dapat
diterapkan pada seluruh manusia. Spiritual juga merupakan aspek yang menyatu dan universal
bagi semua manusia. Setiap orang memiliki dimensi spiritual. Dimensi ini mengintegrasi,
memotivasi, menggerakkan, dan mempengaruhi seluruh aspek hidup manusia.
KETERKAITAN ANTARA SPIRITUAL, KESEHATAN DAN SAKIT
Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat kesehatan
dan perilaku self-care klien. Keyakinan spiritual yang perlu di pahami antara lain
1. menuntun kebiasaan hidup sehari-hari
Praktik tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan mungkin
mempunyai makna keagamaan bagi klien, seperti tentang makanan diet.
1. sumber dukungan
Saat stress individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya.
1. sumber kekuatan dan penyembuhan

Individu bisa menahan distress fisik yang luar biasa karena mempunyai keyakinan yang kuat.
1. sumber konflik
Pada situasi tertentu, bisa terjadi konflik antara keyakinan agama dengan praktik kesehatan,
seperti pandangan penyakit.
Dapat disimpulkan bahwa kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk mencari arti dan
tujuan hidup, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta rasa keterikatan, dan kebutuhan untuk
memberikan dan mendapatkan maaf .
KARAKTERISTIK SPIRITUAL
Spiritualitas mempunyai suatu karakter, sehingga bisa diketahui bagaimana tingkat spiritualitas
seseorang. Karakteristik spiritual tersebut, antara lain
1. hubungan dengan diri sendiri
1)

Pengetahuan diri (siapa dirinya, apa yang dapat dilakukannya).

2) Sikap (percaya pada diri sendiri, percaya pada kehidupan atau masa depan, harmoni atau
keselarasan diri).
1. hubungan dengan alam
1)

Mengetahui tentang tanaman, pohon, margasatwa dan iklim.

2) Berkomunikasi dengan alam (bertanam, berjalan kaki), mengabadikan dan melindungi


alam.
1. hubungan dengan orang lain
Harmonis
1)

Berbagi waktu, pengetahuan dan sumber secara timbal balik.

2)

Mengasuh anak, orang tua dan orang sakit.

3)

Menyakini kehidupan dan kematian.

Tidak harmonis
1)

Konflik dengan orang lain.

2)

Resolusi yang menimbulkan ketidakharmonisan dan friksi.

1. hubungan dengan Ketuhanan


Agamis atau tidak agamis
1)

Sembahyang/berdoa/meditasi.

2)

Perlengkapan keagamaaan.

3)

Bersatu dengan alam.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa seseorang terpenuhi kebutuhan spiritualnya apabila mampu :
1)

merumuskan arti personal yang positif tentang tujuan keberadaannya di dunia/kehidupan,

2) mengembangkan arti penderitaan dan menyakini hikmah dari suatu kejadian atau
penderitaan,
3)

menjalin hubungan positif dan dinamis melalui keyakinan, rasa percaya dan cinta,

4)

membina integritas personal dan merasa diri berharga,

5)

merasakan kehidupan yang terarah yang terlihat melalui harapan,

6)

mengembangkan hubungan antar manusia yang positif.

KONSEP-KONSEP YANG TERKAIT DENGAN SPIRITUAL


Sebuah isu yang sering muncul dalam konsep keperawatan adalah kesulitan dalam membedakan
antara spiritual dengan aspek-aspek yang lain dalam diri manusia, khususnya membedakan
spiritual dari religi. Selain itu perawat juga perlu memahami perbedaan dimensi spiritual dengan
dimensi psikologi, dan memperkirakan bagaimana kebudayaan dengan spiritual saling
berhubungan.
1. Religi
Berdasarkan kamus, religi berarti suatu sistem kepercayaan dan praktek yang berhubungan
dengan Yang Maha Kuasa (Smith, 1995). Pargamet (1997) mendefinisikan religi sebagai suatu
pencarian kebenaran tentang cara-cara yang berhubungan dengan korban atau persembahan.
Seringkali kali kata spiritual dan religi digunakan secara bertukaran, akan tetapi sebenarnya ada
perbedaan antara keduanya. Dari definisi religi, dapat digunakan sebagai dasar bahwa religi
merupakan sebuah konsep yang lebih sempit daripada spiritual. Mengingat spiritual lebih
mengacu kepada suatu bagian dalam diri manusia, yang berfungsi untuk mencari makna hidup
melalui hubungan intra-, inter-, dan transpersonal (Reed, 1992). Jadi dapat dikatakan religi
merupakan jembatan menuju spiritual yang membantu cara berfikir, merasakan, dan berperilaku
serta membantu seseorang menemukan makna hidup. Sedangkan praktek religi merupakan cara
individu mengekspresikan spiritualnya .

1. Dimensi Psikologi
Karena fisik, psikologi, dan spiritual merupakan aspek yang saling terkait, sangat sulit
membedakan dimensi psikologi dengan dimensi spiritual. Akan tetapi sebagai perawat harus
mengetahui perbedaan keduanya.Spilka, Spangler, dan Nelson (1983) membedakan dua dimensi
ini dengan mengatakan bahwa dimensi psikologi berhubungan dengan hubungan antar manusia
seperti : berduka, kehilangan, dan permasalahan emosional. Sedangkan dimensi spiritual
merupakan segala hal dalam diri manusia yang berhubungan dengan pencarian makna, nilainilai, dan hubungan dengan Yang Maha Kuasa.
1. Kebudayaan
Kebudayaan merupakan kumpulan cara hidup dan berfikir yang dibangun oleh sekelompok
orang dalam suatu daerah tertentu (Martsolf, 1997). Kebudayaan terdiri dari nilai, kepercayaan,
tingkah laku sekelompok masyarakat. Kebudayaan juga meliputi perilaku, peran, dan praktek
keagamaan yang diwariskan turun-temurun. Menurut Martsolf (1997) ada tiga pandangan yang
menjelaskan hubungan spiritual dengan kebudayaan, yaitu spiritual dipengaruhi seluruhnya oleh
kebudayaan, spiritual dipengaruhi pengalaman hidup yang tidak berhubungan dengan
kebudayaan, dan spiritual dapat dipengaruhi kebudayaan dan pengalaman hidup yang tidak
berhubungan dengan kebudayaan.
MANIFESTASI SPIRITUAL
Manifestasi spiritual merupakan cara kita untuk dapat memahami spiritual secara nyata.
Manifestasi spiritual dapat dilihat melalui bagaimana cara seseorang berhubungan dengan diri
sendiri, orang lain, dan dengan Yang Maha Kuasa, serta bagaimana sekelompok orang
berhubungan dengan anggota kelompok tersebut (Koenig & Pritchett, 1998).
Contoh kebutuhan spiritual individu adalah kebutuhan seseorang untuk mencari tujuan hidup,
harapan, mengekspresikan perasaan kesedihan maupun kebahagiaan, untuk bersyukur, dan untuk
terus berjuang dalam hidup. Kebutuhan spiritual menyangkut individu dengan orang lain
meliputi keinginan memaafkan dan dimaafkan serta mencintai dan dicintai. Menurut Nolan &
Crawford (1997) kebutuhan spiritual sekelompok orang meliputi keinginan kelompok tersebut
untuk dapat memberikan kontribusi positif terhadap lingkungannya.
Dalam kenyataannya, semua manusia memiliki dimensi spiritual, semua klien akan
mengekspresikan dan memanifestasikan kebutuhan spiritual mereka kepada perawat. Karena
kurangnya pemahaman tentang kebutuhan spiritual, seringkali perawat gagal dalam mengenali
ekspresi kebutuhan spiritual klien, sehingga perawat gagal dalam memenuhi kebutuhan
tersebut.Kesejahteraan Spiritual,merupakan suatu kondisi yang ditandai adanya penerimaan
hidup, kedamaian, keharmonisan, adanya kedekatan dengan Tuhan, diri sendiri, masyarakat, dan
lingkungan sehingga menunjukkan adanya suatu kesatuan (Greer & Moberg, 1998). Dalam
hierarki kebutuhan dasar manusia, kesejahteraan spiritual termasuk dalam tingkat kebutuhan
aktualisasi diri .
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SPIRITUAL

Menurut Taylor & Craven (1997), faktor-faktor yang mempengaruhi spiritual seseorang adalah
1. tahap perkembangan seseorang
Berdasarkan hasil penelitian terhadap anak-anak dengan empat negara berbeda, ditemukan
bahwa mereka mempunyai persepsi tentang Tuhan dan bentuk sembahyang yang berbeda
menurut usia, seks, agama, dan kepribadian anak.
1. keluarga
Peran orang tua sangat menentukan dalam perkembangan spiritual anak. Hal yang penting bukan
apa yang diajarkan oleh orang tua pada anak tentang Tuhan, tetapi apa yang anak pelajari
mengenai Tuhan, kehidupan, diri sendiri dari perilaku orang tua mereka. Oleh karena keluarga
merupakan lingkungan terdekat dan pengalaman pertama anak dalam mempersepsikan
kehidupan di dunia, maka pandangan anak ada umumnya diwarnai oleh pengalaman mereka
dalam berhubungan dengan saudara dan orang tua.
1. latar belakang etnik dan budaya
Sikap, keyakinan, dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan budaya. Pada umumnya
seseorang akan mengikuti tradisi agama dan spiritual keluarga. Anak belajar pentingnya
menjalankan kegiatan agama termasuk nilai moral dari hubungan keluarga. Akan tetapi perlu
diperhatikan apapun tradisi agama atau sistem kepercayaan yang dianut individu, tetap saja
pengalaman spiritual unik bagi setiap individu.
1. pengalaman hidup sebelumnya
Pengalaman hidup baik yang positif maupun pengalaman negatif dapat mempengaruhi spiritual
seseorang. Pengalaman hidup yang menyenangkan seperti pernikahan, kelulusan, atau kenaikan
pangkat menimbulkan syukur pada Tuhan. Peristiwa buruk dianggap sebagai suatu cobaan yang
diberikan Tuhan pada manusia untuk menguji imannya.
1. krisis dan perubahan
Krisis dan perubahan dapat menguatkan kedalaman spiritual seseorang. Krisis sering dialami
ketika seseorang menghadapi penyakit, penderitaan, proses penuaan, kehilangan, dan bahkan
kematian. Bila klien dihadapkan pada kematian, maka keyakinan spiritual dan keinginan untuk
sembahyang atau berdoa lebih meningkat dibandingkan dengan pasien yang berpenyakit tidak
terminal.
1. terpisah dari ikatan spiritual
Menderita sakit terutama yang bersifat akut, seringkali membuat individu terpisah atau
kehilangan kebebasan pribadi dan sistem dukungan sosial. Kebiasaan hidup sehari-hari juga
berubah antara lain tidak dapat menghadiri acara sosial, mengikuti kegiatan agama dan tidak

dapat berkumpul dengan keluarga atau teman yang biasa memberikan dukungan setiap saat
diinginkan. Terpisahnya klien dari ikatan spiritual beresiko terjadinya perubahan fungsi spiritual.
1. isu moral terkait dengan terapi
Pada kebanyakan agama, proses penyembuhan dianggap sebagai cara Tuhan untuk menunjukkan
kebesaranNya walaupun ada juga agama yang menolak intervensi pengobatan. Prosedur medis
seringkali dapat dipengaruhi oleh ajaran agama seperti sirkumsisi, transplantasi organ,
sterilisasi,dll. Konflik antara jenis terapi dengan keyakinan agama sering dialami oleh klien dan
tenaga kesehatan.
CARA PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL PERAWAT
Perawat diharapkan terlebih dahulu terpenuhi kebutuhan spiritualnya, sebelum membantu pasien
dalam memenuhi kebutuhan spiritual klien. Dengan hal ini diharapkan perawat dapat lebih
memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk
dapat memenuhi kebutuhan spiritual perawat antara lain sebagai berikut.
1. Beribadah dalam suatu komunitas.
Berpartisipasi dalam suatu komunitas rohani dapat meningkatkan spiritualitas. Banyak orang
merasa asing dengan orang-orang yang memiliki agama atau kepercayaan sama. Tetapi dengan
bergabung dalam suatu komunitas rohani dapat menimbulkan rasa nyaman dan dapat
meningkatkan rasa spiritual.
1. Berdoa.
Berdoa, membaca kitab suci, merenungkan berkat dalam hidup dan berserah kepada Yang Maha
Kuasa merupakan cara yang baik dalam meningkatkan spiritual.
1. Meditasi.
Beberapa orang manggunakan yoga atau meditasi untuk kembali menenangkan diri dan
memfokuskan pikiran kembali untuk menemukan makna dari suatu hal.
1. Pembenaran yang positif.
Pembenaran yang positif dapat membantu seseorang menghadapi situasi stress. Salah satu cara
untuk mendapat pembenaran positif adalah dengan berdiam diri, sambil merenungkan kitab suci
atau nyanyian.
1. Menulis pengalaman spiritual.
Perawat dapat menulis perasaan yang sedang dirasakan, pengalaman spiritual yang dialami, atau
semua inspirasi dan pikiran-pikiran yang timbul. Cara ini sangat bermanfaat bagi perawat untuk
dapat keluar dari situasi stress.

1. Mencari dukungan spiritual.


Dukungan spiritual dapat datang dari mana saja. Perawat dapat mencari dukungan spiritual dari
komunitas rohaninya. Selain itu dukungan spiritual juga dapat diperoleh dari teman, mentor,
ataupun konselor.
Menurut Agus (2002) inti dari pemenuhan kebutuhan spiritual untuk mencapai kecerdasan
spiritual (Spiritual Quotient) adalah proses transendensi dan realisasi. Dalam proses transendensi
(menyendiri), pencerahan-pencerahan spiritual terjadi. Seseorang dapat menjalankan hubungan
yang paling intim dengan hakikat diri terdalamnya atau dengan Tuhannya. Dengan memusatkan
diri untuk sementara waktu dari keributan dunia, seseorang dapat mencurahkan segenap
kemampuannya untuk memahami makna dari apa yang telah terjadi dan bagaimana seharusnya
kejadian itu dapat diperbaiki .
Hal serupa juga dikemukakan oleh Danah Zohar & Ian Marshall (2002). Secara umum kita dapat
meningkatkan kecerdasan spiritual dengan meningkatkan proses tersier psikologi kita, yaitu
kecenderungan untuk bertanya mengapa, untuk mencari keterkaitan antara segala sesuatu, untuk
membawa ke permukaan asumsi-asumsi mengenai makna dibalik atau di dalam sesuatu. Kita
menjadi lebih suka merenung, sedikit menjangkau di luar diri kita, bertanggung jawab, lebih
sadar diri, lebih jujur terhadap diri sendiri, dan lebih pemberani.
LATIHAN
1. Anda merawat pasien beragama kristen, kemudian anda melihat pasien yang sudah sakit
lama sedang berdoa, sambil menangis, apa yang harus Anda lakukan sebagai perawat
yang beragama islam?
2. Anda mendengar ibu pasien berkata Kenapa anak saya sakit ya Allah, apa dosa saya?,
jelaskan bagaimana Anda memenuhi kebutuhan spiritual pasien.
3. Bagaimana Anda mengenal aspek spiritual anda sendiri sebagai seorang perawat.
TEST FORMATIF
1.
2.
3.
4.
5.

Jelaskan tentang kebutuhan spiritual pada pasien?


Cara-cara perawat memenuhi kebutuhan spiritual pada pasein bagaimana?
Mengapa perawat harus memperhatikan aspek spiritual?
Bagaimana anda mengetahui bahwa pasien mempunyai masalah spiritual?
Prinsip apa yang harus anda pahami dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien?

RANGKUMAN
Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat kesehatan
dan perilaku self care klien. Keyakinan spiritual yang perlu dipahami ,menuntun kebiasaan hidup
sehari-hari gaya hidup atau perilaku tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan
pelayanan kesehatan mungkin mempunyai makna keagamaan bagi klien seperti tentang
permintaan menu diet.

Sumber dukungan, spiritual sering menjadi sumber dukungan bagi seseorang untuk menghadapi
situasi stress. Dukungan ini sering menjadi sarana bagi seseorang untuk menerima keadaan hidup
yang harus dihadapi termasuk penyakit yang dirasakan.
Sumber kekuatan dan penyembuhan,individu bisa memahami distres fisik yang berat karena
mempunyai keyakinan yang kuat. Pemenuhan spiritual dapat menjadi sumber kekuatan dan
pembangkit semangat pasien yang dapat turut mempercepat proses kesembuhan.
Sumber konflik pada situasi tertentu dalam pemenuhan kebutuhan spiritual pasien, bisa terjadi
konflik antara keyakinan agama dengan praktik kesehatan seperti tentang pandangan penyakit
ataupun tindakan terapi. Pada situasi ini, perawat diharapkan mampu memberikan alternatif
terapi yang dapat diterima sesuai keyakinan pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Aziz Alimul Hidayat. 2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Black M. Joyce&Jane H. Hawks. 2005. Medical Surgical Nursing : Clinical Management For
Positive Outcome. 7th edition. St Louis : Elseiver Inc.
Dugan, D.O. (1989). Laughter and Tears: Best Medicine for Stress. Nursing Forum, 24 (1)
: 18
Farland M&Leininger M. 2002. Transcultural Nursing, Concept, Theories, Research & Practice.
Mc. Grow-Hill Companies.
Leininger M. Madeline. Culture Care Diversity and Universality : A Theory Of Nursing. 1991.
New York : National league for nursing press.
Lindbert, J. Hunter, M. & Kruszweski, A. (1983). Introduction to Person Centered Nursing.
Philadelphia : J.B.Lippincott Company.
Meidiana Dwidiyanti. 1998. Aplikasi Model Konseptual Keperawatan. Edisi 1. Semarang :
Akper Depkes Semarang
Potter, P.A. & Perry, A.G. (1993). Fundamental of Nursing Concept, Process and Practice.
Third edition. St. Louis : Mosby Years Book.
Soekidjo Notoatmodjo. 1993. Pendidikan Kesehatan dan Perilaku Manusia. Edisi revisi. Jakarta
: Rineka Cipta.
Stuart G. W, Laraia M. T. 2001. Principles and Practice Of Psychiatric Nursing. 7th edition. St
Louis : Mosby.

PEMBAHASAN
DEFINISI KEBUTUHAN SPIRITUAL
Kebutuhan spiritual adalah suatu kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi.Kebutuhan spiritual mengandung
arti suatu keyakinan, pendekatan, harapan dankepercayaan pada Tuhan serta kebutuhan untuk menjalankan agama
yang dianut,kebutuhan untuk dicintai dan diampuni oleh Tuhan yang seluruhnya dimiliki dan harusdipertahankan
oleh seseorang sampai kapanpun agar memperoleh pertolongan, ketenangan,keselamatan, kekuatan, penghiburan
serta kesembuhan. Kebutuhan spiritual adalahsemangat, atau motivasi untuk hidup, kebutuhan untuk
mempertahankan/mengembalikankeyakinan dan membantu memenuhi kewajiban agama.
KOMPONEN SPIRITUAL YANG MENDASARI PEMBERIAN ASUHANKEPERAWATAN
Komponen spiritual yang mendasari pemberian asuhan keperawatan adalah memberimotivasi pada pasien,
memberi semangat, mengarahkan, menganjurkan berdoa danmendoakan, pendampingan, menerima keluhan,
menghibur dan lain-lain.Pemahaman perawat terhadap pengertian kebutuhan spiritual dipengaruhi oleh
faktorpengalaman, waktu, lingkungan, karakter dan pengetahuan tentang piritual.dasar yangharus dipenuhi. Dengan
memberikan asuhan keperawatan konsep diri yang diintegrasikansecara komprehensif pada program asuhan klien
diharapkan klien dan keluarga sesegera
mungkin dapat berperan serta sehingga
self-care
dan
family support
dapat terwujud.
Salah satu aspek yang dapat dilakukan adalah asuhan keperawatan psikososial khususnyaperawatan konsep diri
dengan memberdayakan keluarga dan sistem pendukung klien. CaraPerawat Memandang Klien adalah
memandang klien sebagai Individu. Individu adalahanggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari aspek
biologi, psikologi, social

Anda mungkin juga menyukai