Anda di halaman 1dari 12

Jurnal POLITEIA|Vol.1|No.

2|Juli 2009
ISSN: 0216-9290
P. Anthonius Sitepu
Peranan Militer dalam Konfigurasi Politik Indonesia Kontemporer

Peranan Militer dalam Konfigurasi


Politik Indonesia Kontemporer
P. ANTHONIUS SITEPU
Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Medan, Jl. Dr. Sofyan No.1 Medan, 20155, Telepon: 061-8211965
Diterima tanggal 21 Juli 2006/Disetujui tanggal 3 September 2006
The role of military has come to interesting attention in political study about developing countries. This happened because in developing countries, military has had main role in politics
compared to civil, especially after World War II. This study addressed to see how military role
in political development in Indonesia. The result seen that there is relation between economic
development and need to care of military existence to economic stabilization even with limited
norms. Beside of that the role of regime military can be more efficient compares to civilian in
political development orientation. This study also has found since the new political order system
there is displacement characteristic of organization from in character bureaucratic polity to
patrimonial political system. This situation is marked military dominated refer to personality
form of authoritarian ruled and has culminated at singular capacity of President Soeharto.
Keywords: Military dominated, Political development, Bureaucratic polity.

Pendahuluan
Bagaimana militer melihat atau memandang
politik itu? Adakah perbedaan yang prinsipil
dalam cara pandang antara militer dan sipil?
Apa konsekuenesinya manakala militer akan
memainkan peranannya (dominan) dalam bidang/sektor pemerintahan?1 Ternyata ada
memang perbedaan-perbedaan dari beberapa
kecenderungan yang ada terhadap perkembangan antara tahun 1950-an dan 1990-an yang
menandai intensitas pengaruh militer dalam
masalah-masalah politik dan pemerintahan.
Dalam hal ini William Thompson (1972)
menunjukkan sejumlah data dari tahun 19461970 telah terjadi beberapa kudeta terutama
yang dialami oleh negara-negara berkembang. Eskalasi peranan militer dalam masalah-masalah politik dan pemerintahan (pembangunan politik) lebih dari dua dekade sejak
usai Perang Dunia II, memperkuat pendapat

bahwa untuk masa-masa mendatang, pemerintahan yang dikendalikan oleh pihak militer
akan terus semakin kuat. Hal ini disebabkan
semakin melemahnya kemampuan demokrasi
dan rejim karismatik untuk memimpin negara mereka dalam menyangkut kerangka pembangunan ekonomi. Namun demikian, ada
pula pandangan yang mengatakan bahwa
hancurnya rejim demokratik dikarenakan tidak disadarinya bahwa dalam kondisi tertentu, diperlukan suatu keadaan yang stabil dan
disiplin. Semua ini tentunya akan diperoleh
dalam diri kelompok militer. Oleh karena itu
kehadiran mereka diperlukan jika kehendak
untuk memenuhi suatu pembangunan yang
berkelanjutan?2
Dominasi dalam politik oleh militer tentunya
diharapkan akan memperkuat negara namun
tidak demikian halnya semua negara-negara
2

Harold Crouch, The Military Mind and the Developmental Proccess, (Singapore: Institute of
Southeast Asia Studies, 1987), hal. 1.

Monte Palmer, Dilemmas of Political Development and Introduction to the Political of Developing Countries, (Ithaca Ilonis: F E Peacock Publishing, 1989), hal. 233.

Jurnal POLITEIA|Vol.1|No.2|Juli 2009


ISSN: 0216-9290
P. Anthonius Sitepu
Peranan Militer dalam Konfigurasi Politik Indonesia Kontemporer
di dunia ketiga seperti misalnya Afrika. Secara kelembagan. Untuk melakukan suatu
tindakan represi sedikit agak melemah. Ada
beberapa faktor yang dianggap faktor penyebabnya bahwa militer disana, tidak memiliki
disiplin yang bedasarkan kepada perbuatan
pretorian, organisasi yang dimiliki sifat-sifat
professional semangat kelompok (espirit de
corps). Lagi pula militer tidak membuka
peluang bagi dukungan terhadap apa yang
disebut dengan istilah: personalized rule
dan malah dapat dikatakan hampir tidak komit terhadap pembangunan ekonomi, Militer
telah berada dalam komposisi yang lives off
destate.3
Tapi sebaliknya, kondisi di negara-negara kawasan Asia, Timur Tengah, dapat dikatakan
bahwa pengaruh militer akan cenderung
mendominasi dan menunjukkan gayanya
yang profesional dan lebih dapat merasuk lebih dalam berkaitan dengan masalah ekonomi dan politik. Di Korea Selatan, merupakan
contoh dan Indonesia, Thailand dan Taiwan
dimana peranan militer dinilai positif khususnya dalam bidang ekonomi. Namun pengaruh
tersebut tidak secara langsung dapat dirasakan dalam praktek secara berlebih-lebihan.
Di Indonesia militer mengelola perusahaan
negara dan Taiwan, Korea Selatan dan Filipina militer secara langsung aktif dalam menguasai pemerintahan serta pada sektor-sektor perusahaan lainnya.4 Pada akhir tahun
1950-an, dan permulaan 1960-an pada saat
ilmuan politik barat menanggapi bahwa peranan militer yang memiliki peran bidang menanggapi bahwa peranan militer yang memiliki peran bidang pemerintahan demokrasi
barat akan memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan politik di negara-negara
Dunia Ketiga pada umumnya.
Banyak negara-negara di dunia mencoba
mengupayakan sistem demokrasi dengan berdasarkan pada model yang terdapat di Barat.
Tapi dalam kenyataannya kebanyakan model
demokrasi liberal, seperti yang diterapkan di
3

Myron Weiner & Samuel P. Huntington (eds),


Understanding Political Development, (Boston,
Toronto: Little Brown and Company, 1987), hal.
40.
4
Ibid.

110

banyak negara barat, senantiasa akhirnya melahirkan rejim authoritarian di mana pihak
militer turut serta bermain di dalamnya. Oleh
karena itu demokrasi model barat itu terutama dibidang sosial, budaya dan ekonomi sering menghasilkan pemerintahan yang korup
dan didominasi oleh partai-partai yang hanya
mewakili kepentingan-kepentingan pribadi
yang tanpa bisa mengangkat kondisi perekonomian yang lebih baik. Dalam kelembagaan
yang bersifat professionalisme maka percaya
untuk dapat memberikan etos kerja bagi pejabat militer yang berbeda dengan pejabat sipil.
Mereka (militer) berjuang atas kepentingan
nasional dan bukan dengan kepentingan
bersifat seksional. Barangkali atas dasar inilah sepertinya mereka terhindar dari kecenderungan-kecenderungan berbuat korup.5
Maka timbul banyak pandangan ataupun persepsi mengenai peranan militer terutama di
negara-negara Dunia Ketiga.
Semula orang cenderung menekankan pada
isu komunisme di negara-negara Dunia Ketiga itu sebagai fokus perhatiannya. Namun
demikian, kajian mengenai peranan militer
dalam bidang politik (pembangunan) tetap
menarik untuk dianalisa. Intervensi militer
dalam kehidupan politik negara-negara dunia
ketiga (negara-negara berkembang) telah menumbuhkan semakin maraknya jumlah kepustakaan berkaitan dengan persoalan bahwa
rejim militer bisa lebih efesien dibanding dengan kaum sipil sebagai penggerak pembangunan politik. Setelah itu setidak-tidaknya
dalam teori rejim militer memiliki tiga dorongan utama yang sekaligus dijadikan sarana/atribut mendorong ke arah itu yang antaranya: (1).Nilai-nilai yang dimiliki oleh
militer pada umumnya didasarkan kepada
(lebih kental), developmental oriented dari
pada yang dimiliki oleh rakyat kebanyakan;
(2).Rejim militer dapat lebih tegas memisahkan dengan membuat keputusan yang tanpa
terikat oleh kebutuhan-kebutuhan kompromistis; (3).Militer memiliki akses yang lebih
menunjukkan sifatnya yang koersif/ kekerasan dan aparat-aparat organisasi yang diperlukannya kebijakannya dan memberikan peluang terhadap stabilitas yakni pada saat-saat
krisis demi aksesnya pembangunan.6
5
6

Harold Crouch, op.cit., hal. 251.


Monte Palmer, op.cit., 251.

Jurnal POLITEIA|Vol.1|No.2|Juli 2009


ISSN: 0216-9290
P. Anthonius Sitepu
Peranan Militer dalam Konfigurasi Politik Indonesia Kontemporer
Dalam pengertian istilah orientasi nilai-nilai
jadi tadi yang kondusif, senantiasa dihadapkan dengan modernisasi. Di dalam hal ini
sejumlah penulis telah mengungkapkan pendapatnya bahwa militer, lebih bersifat nasionalis, modern, dengan pandangan yang jauh
ke depan, disiplin dan sebagainya. Lebih-lebih lagi dengan siap dan pola perilaku yang
senantiasa diasosiasikan dengan nilai-nilai
modernisasi itu ke dalam negara-negara berkembang, maka aksentuasi nilai-nilai modernisassi yang dimiliki oleh militer akan memberikan kontribusi lebih besar lagi kepada
peran militer dalam pembangunan politik itu
jika dihadapkan dengan faktor-faktor sebagai
berikut; (1).Profesionalisme militer yang memiliki norma-norma yang menekankan pada
nasionalisme atau mengarah kepada nilai-nilai pelayanan umum; (2).Anggota militer
memiliki sifat-sifat parochial-kelompok yang
mendukung yang lebih condong nilai-nilai
perkembangan dan lebih toleran; (3).Pengangkatan lebih cenderung kepada sifat-sifat
yang berdasarkan atas prestasi; (4).Tehnologi
di bidang kemiliteran berkembang dengan
pesat dan semakin kompleks dan ini akan
membutuhkan latihan ketrampilan yang
intensif; (5).Keefektifan membutuhkan sitem
persenjatan yang modern. Sebab dukungan
bagi mesin militer pada umumnya memerlukan basis yang kuat dalam industri militer.7
Dibanyak negara-negara baru saja merdeka
dan masuk ke dalam era dekolonialisasi peran militer dilihat sebagai suatu kekuatan
yang vital. Dalam ilmu-ilmu sosial, khususnya secara sungguh-sunggh telah berusaha
secara terus menerus untuk mempelajari peran militer terutama di negara-negara baru
berkembang (dunia ketiga) yang berbasis
pada studi perbandingan. Di lebih dari tiga
puluh negara-negara yang memperoleh kedaulatannya sejak berakhirnya Perang Dunia
Kedua, kekuatan militer memposisikan dirinya dengan sangat strategis dan sangat penting artinya. Hanya beberapa dari negaranegara yang baru itu saja memiliki militer
sebagai kekuatan (armed forces) yang selama
ini berjuang sebagai gerilya yang ini lebih
signifikan dengan perang kemerdekaan (perjuangan kemerdekaan).

Di Indonesia, dan Burma, kekuatan gerilya


itu berlangsung terus selama pendudukan
pemerintahan militer Jepang dan selanjutnya
ini juga yang memainkan peranannya sebagai
bagian yang tak terpisahkan dalam angka
pencapaian kemerdekaan dari kekuasaan pemerintahan asing umumnya. Atau paling
tidak sedikitnya lima dari negara-negara
yang baru itu militer menempatkan dirinya,
sebagai pusat (central position) dalam kehidupan politik. Di Amerika Latin, dalam
sejarah negeri itu yakni dalam sejarah politik
militer tampaknya militer memainkan perannya yang penting yang sama dengan pentingnya peranan militer di negara-negara
wilayah Asia dan Afrika. Kebanyakan negara-negara yang baru tersebut telah memberikan pengaruhnya terhadap kebijakan dalam
negeri dan kebijakan luar negeri. Meskipun
telah banyak dan meluas perkembangan literatur mengenai peran politik militer khususnya di negara-negara Dunia Ketiga tampaknya masih ada jurang pemisah (gap) secara
pengetahuan ilmiah yang sangat mendasar
terutama jika dikaitkan dengan peranan militer khususnya ke dalam kerangka atau
teminologi hubungan sipil militer (in ternm
of military-civilian relationship).
Pendekatan dan Metode
Studi ini dilakukan dengan pendekatan prilaku politik. Fokusnya pada prilaku politik
militer pada orde lama dan Orde Baru, atau
tepatnya peran militer dalam politik di Indonesia pada era kemerdekaan sampai tahun
1980-an. Metode pengumpulan data menggunakan studi pustaka dan dokumen. Studi
hubungan sipil-militer melihat beberapa pola
yang dapat diamati secara empiris dalam sistem pemerintahan suatu negara. Negara-negara yang mengadopsi aliran pemikiran politik, ketatanegaraan yang liberal demokratik
biasanya menganut pola supremasi sipil.
Sedangkan negara-negara yang menganut
sistem politik atau rejim-rejim pemerintahan
otoriter biasanya cenderung menggunakan
pola supremasi militer. Namun demikian dalam teori politik demokrasi yakni kedaulatan
rakyat menjadi pusat perhatiannya adalah
sebagai pemegang supremasi adalah rakyat.
Oleh sebab itu dalam konteks ini tidak mempersoalkan sipil atau militer. Dalam titik ini

Ibid., 251-252

111

Jurnal POLITEIA|Vol.1|No.2|Juli 2009


ISSN: 0216-9290
P. Anthonius Sitepu
Peranan Militer dalam Konfigurasi Politik Indonesia Kontemporer
tidak ada supreme. Kemudian di dalam
pola lainnya adalah pola campuran antara
supremasi sipil dan supremasi militer. Namun sekali lagi dikatakan bahwa pemikiran
tentang hubungan sipil-militer itu ternyata
memiliki titik perbedaan-perbedaan dengan
segala variannya adalah yang sesuai dengan
rejim pemerintahannya atau sistem politik
yang dianutnya.
Perbedaan tersebut tidak saja terletak pada
peran dan pola hubungannya, akan tetapi
juga meliputi perbedaan-perbedaan persepsi
siapa itu militer dan siapa itu sipil. Maka
oleh sebab itu, penekanan pada soal peran
dan pola hubungan sipil militer yang relatif
berbeda variannya yakni yang menjadi substansi. Namun pengaturan mengenai pengertian tentang hubungan sipil-militer kebanyakannya itu merujuk kepada hubungan yang
berupa hubungan militer dengan masyarakat
(society), lembaga-lembaga militer (military
institution) dengan lembaga-lembaga swasta
dan para perwira senior dengan para politik.
Dan ada juga yang mengatakan bahwa hubungan sipil militer adalah hubungan antara
pihak militer dengan masyarakat politik (policy) yang diwakili oleh partai-partai politik.
Substansi dari hubungan sipil-militer yang
memiliki pola dan dan peranan yang berbeda-beda pula. Jikalau dilihat dari polanya,
adanya hubungan yang lebih menonjolkan
peran sipil (supremasi sipil) atau supremasi
militer ataupun dengan sebaliknya. Sehingga
terlihat hubungan yang bersifat kemitraan
(partnerships). Mana kala hubungan itu yang
menonjolkan supremasi sipil, maka dengan
demikian pada akhirnya memberikan dampak
pada peran militer hanya sebagai alat negara
yang mengurusi masalah pertahanan ataupun
melebur menjadi subordinasi pemerintahan
sipil. Akan tetapi, apabila terjadi yang
sebaliknya, maka peran militer akan melurus
tidak hanya berfungsi sebagai alat negara,
akan tetapi lebih menjadi alat kekuasaan
mengarah kepada dominasi semua peran
yang ada termasuk peran sipil itu sendiri,
walaupun demikian, pola hubungan sipil
militer, dalam tiap negara itu seperti dikatakan sebelumnya berbeda pada regime pemerintahannya yang dianut negara itu. Berkaitan

112

dengan soal ini Ikrar Nusa Bhakti8 mengartikan hubungan sipil militer (civilian supremacy upon the military) atau militer adalah
sub ordinasi dari pemerintahan sipil yang dipilih secara demokratis dengan melalui suatu
pemilihan umum. Kedua, model negara-negara berkembang yang menganggap bahwa
dikotomi sipil militer (model demokrasi liberal) tidak menggambarkan realitas sesungguhnya yang ada. Hal ini dikatakan keduanya
beranggapan bahwa dikhotomi sipil-militer
hanya akan mengakibatkan konfrontasi.
Mengacu kepada teoritik klasik tentang pola
hubungan sipil-militer tampaknya lebih menekankan kepada pola dua kutub yang berbeda yakni pertama, supremasi sipil, dan
campur tangan militer dalam politik tidak
sah. Dan dalam kutub kedua, tidak adanya
supremasi sipil dan campur tangan militer
dalam politik adalah demi kepentingan bangsa dibenarkan. Dalam hubungan ini apa yang
dikemukakan oleh Samuel P. Huntington9
bahwa jalan untuk mengarah ke sana dapat
digunakan dengan dua cara yakni; (a). Subjective civilian control (pengendalian sipil
objective. Pengendalian sipil objektif dapat
dilakukan dengan cara memperbesar kekuasaan sipil dibandingkan dengan kekuasaan
militer. Maka dengan cara seperti ini menurutnya, mengakibatkan hubungan sipil kurang sehat karena memberikan pengaruh kepada upaya untuk mengontrol posisi militer
dengan memposisikan mereka dan menjadikan mereka lebih dekat dengan sipil. Dan sebaliknya, dalam pengendalian (b).sipil objektif, militarizing the military, hal ini dapat
dicapai dengan cara memperbesar profesionalisme kelompok militer dalam hal ini kekuasaannya akan diminimalisir, Namun tidak
sama sekali dilenyapkan kekuasaan kelompok militer ini akan tetapi tetap menyediakan
kekuasaan yang terbatas tertentu yang diperlukan untuk melaksanakan profesinya.
Militer, SOB, dan Dewan Nasional
Persoalan militer dan politik yang menunjukkan militer (tentara) sebagai kekuatan politik
8

Syahdatul Kahfi, Peran Militer Indonesia:


Tuntutan atau Kepentingan, Jurnal Progresif 1
(Oktober 2002), hal. 34.
9
Ibid., hal. 34-35.

Jurnal POLITEIA|Vol.1|No.2|Juli 2009


ISSN: 0216-9290
P. Anthonius Sitepu
Peranan Militer dalam Konfigurasi Politik Indonesia Kontemporer
(political power) berasal dari kaburnya makna tentang persepsi militer sebagai fungsi
bersenjata. Perjuangan kemerdekaan melawan Belanda untuk merebut kemerdekaan itu
sendiri sudah bersifat politis sekaligus juga
bernuansa militer.10 Militer yang lahir di Medan perjuangan mempunyai latar belakang
yang berbeda-beda. Pertama, militer yang
lahir tanpa basis pendidikan yang jelas seperti Laskar atau tentara organik. Kedua, militer
yang dilatih oleh Jepang yakni PETA (Pembela Tanah Air). Ketiga, KNIL (Koninklijk
Nederlandsch Leger) sebagai tentara nasional
dengan latar belakang pendidikan Belanda.
Namun demikian, proses pembentukan militer di Indonesia pada umumnya dipengaruhi
oleh dua faktor yang dianggap dapat menjelaskannya yakni; Pertama, tersingkirnya laskar dari kehidupan militer di Indonesia.
Awalnya, kelahiran tentara dibadani oleh
partai yang mengabdi pada kepentingan ideologi partai seperti halnya dengan Laskar Napindo (PNI), Laskar Hizbullah (Golongan
Islam), Barisan Pemuda Kristen (Devisi
Pnah) dari Parikindo dan Barisan Pemuda
Sosialis Indonesia (PSI).
Kemudian laskar-laskar perjuangan ini menjadi bagian dari BKR (Badan Keamanan
Rakyat), TNI (Tentara Nasional Indonesia)
atau ABRI (Angkatan Republik Indonesia)
dan sekarang kembali lagi menjadi Tentara
Nasional Indonesia (TNI). Kedua, ambiguitas
pemerintah dalam kebijakan. Di satu sisi
pemerintah menganjurkan agar laskar-laskar
itu menjadi organisasi yang rasional akan
tetapi di sisi lain pemerintah itu merampingkan kekuatan bersenjata dan menyudutkan
posisi tentara, dengan melakukan intrik dan
provokasi. Akibatnya tentara lahir dengan
sendirinya dan berada di luar sistem pada saat itu.11
Laskar-laskar perjuangan yang ada menjadi
bagian dari BKR (Badan Keamanan Rakyat)
yang berada di bawah wewenang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang dibangun mulai Pusat sampai ke daerah tanggal
22 Agustus 1945, statusnya bukan dimaksudkan sebagai organisasi kemiliteran tetapi bersifat kerakyatan, juga ditentukan atas dasar
10
11

Ibid., 34.
Ibid.

individual bukan secara en block persekutan.12 Pemerintah yang baru saja dibangun itu
lantas benar-benar mempertimbangkan pembentukan sebuah tentara republik. Oerip
Soemahardjo seorang bekas mayor KNIL dipanggil dan diberi tugas untuk segera membentuk sebuah tentara. Akhirnya pada tanggal 5
Oktober 1945, Soekarno menandatangani Maklumat Pemerintah tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).13
Selanjutnya atas prakarsa dari Markas Tertinggi TKR, pada 1 Januari 1946, Pemerintah
mengeluarkan Penetapakan Pemerintah No.2/
SD 1946 yang mengubah Tentara Keamanan
Rakyat (TKR) menjadi Tentara Keselamatan
Rakyat. Namun belum sampai satu bulan, keluarlah pula Maklumat Pemerintah No.Z
Tanggal 26 Januari 1946 menggantikan Tentara Keselamatan Rakyat dengan Tentara Republik Rakyat Indonesia dalam pandangan A
Hasnan Habib14 mengenai asal usul keterlibatan militer dalam politik adalah merupakan
fenomena umum dunia ketiga.
Penyebabnya banyak walaupun tidak dapat
dikatakan universal dalam arti jika di negara
A berlaku kondisi X,Y,Z, yang mengandung
intervensi militer, di negara B yang juga terdapat kondisi yang relatif serupa, belum
tentu militernya melakukan intrvensi yang
menentukan ialah karakteristik sosial yang
unit bagi setiap negara, unit penampilannya,
unit proses sejarahnya dan unik pula dampaknya bagi masyarakat bersangkutan. Bahkan Amos Perlmutter15 mengatakan bahwa
terdapat suatu hubungan (korelasi) antara stabilitas lembaga-lembaga sipil dan kecenderungan militer untuk melakukan intervensi. Semakin lemah infrastruktur politik, semakin
besar kemungkinan aparat sipil semakin kecil

12

Yahya A. Muhaimin, Perkembangan Militer


dalam Politik di Indonesia 1945-1966, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1982), hal.
22.
13
Hendri Supiyatmoko, Nasution, Dwi Fungsi
ABRI dan Kontribusi ke Arah Reformasi Politik,
(Solo: Sebelas Maret University Press, 1994), hal.
15-16.
14
A. Hasnan Habib, Hubungan Sipil Militer Pasca Orde Baru dan Prospeknya di Masa Depan,
Jurnal Progresif, op.cit., hal. 15-17.
15
Hendri Supriyatmoko, op.cit., hal.18.

113

Jurnal POLITEIA|Vol.1|No.2|Juli 2009


ISSN: 0216-9290
P. Anthonius Sitepu
Peranan Militer dalam Konfigurasi Politik Indonesia Kontemporer
kemungkinan militer untuk mengambil alih
kekuasaan dan menjalankan pemerintahan.
Militer telah menjadi fenomea politik yang
menarik di negara-negara berkembang (Dunia Ketiga) pada umumnya, sepertinya misalnya Indonesia. Karena tampilnya militer di
panggung politik, menjadi salah satu faktor
penentu dalam melakukan perubahan politik
(political change). Perusahaan politik akhirnya menjadi titik problem mendasar di beberapa negara yang baru merdeka adalah menciptakan stabilitas politik dalam rangka mencari identitias diri. Akan tetap sebaliknya,
jika hal itu mengalami ketimbangan tentunya
resiko yang dihadapinya yakni instabilitas
politik (kekacauan Politik) dalam mana para
politisi sipil tidak memiliki kemampuan untuk menata struktur kelembagaan politik
(TRI)16.
Dari maklumat Soekarno 25 Januari 1946 itu,
yang isinya tentang penggantian nama TKR
menjadi TRI dipandang sebagai salah satu
hasil penting dari negosiasi itu adalah ditegaskannya TRI sebagai satu-satunya organisasi militer di Indonesia17. Dari serangkaian
proses perkembangan yang dialami militer
Indonesia sejak masa pembentukannya sampai dengan berakhirnya perang kemederkaan,
atau sampai pada dekrit Presiden 7 Juni 1947
bahwa semua organisasi bersenjata dinyatakan melebar kedalam satu organisasi kemiliteran yakni bernama Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Melihat perkembangan di Indonesia yang
merupakan salah satu negara yang masih
berada di bawah rejim otoritarianisme-militeristik di mana pengaruh militer dalam kehidupan politik dominan Peran Politik militer
dalam sistem politik menimbulkan persoalan
yang rumit. Karena kekuatan fisik senantiasa
mengandung unsur politik. Maka penting untuk diajukan pertanyaan, mengapa militer secara aktif memasuki arena (dominan) politik
dengan memainkan peranan politik dalam
kehidupan politik18.

16

Yahya Muhaimin, op.cit., hal. 26.


Hendri Supriyatmoko, op.cit., hal.18.
18
Yahya Muhaimin, op.cit., hal. 3-4.

Ada tiga faktor yang mendorong militer masuk ke dalam arena politik yakni, (a). Rangkaian sebab yang menyangkut adanya ketidakstabilan system politik; (b).Rangkaian
sebab bertalian dengan kemampuan golongan
militer untuk mempengaruhi atmosfer kehidupan politik dan bahkan untuk mempengaruhi peranan-peranan politik yang menentukan; (c).Rangkaian sebab yang berhubungan dengan political perspective kaum
militer. Akan tetapi kondisi semacam inilah
kiranya mengundang militer sebagai lembaga
yang teroganisir menjadi kekuatan menjaga
pertahanan dan keamanan untuk menata stabilitas politik. Dalam kekacauan sosial politik, militer sebagai unsur yang teroganisasi
secara efektif yang mampu bersaing untuk
memperoleh kekuasaan politik (political
power).
Keterlibatan mereka (militer) yang intens
dalam soal-soal politik yang luas dan kehadiran mereka menjadi sebuah kekuatan strategis yang menentukan perkembangan bangsa
selanjutnya. Jelas hal ini tidak dapat dipandang sebagai fenomena kecenderungan yang
secara tiba-tiba, akan tetapi hendaklah diamati dan dipahami dari prosesnya yang
panjang.19 Dikatakan bahwa sejak kemerdekaan diproklamirkan, kosistensi politik dan
maraknya percaturan politik tidak terlepas
dari faktor dan pengaruh keberadaan militer.
Sehingga dapat dikatakan pula bahwa dunia
politik di Indonesia di dominasi oleh pejuang
kemerdekaan yang bersenjata. Perang kemerdekaan sebagai perjalanan yang berharga
memberi persiapan bagi militer untuk tampil
ke depan mengatasi kemelut politik setelah
hampir 15 tahun menyediakan diri sebagai
pendukung pemerintahan sipil (1945-1959)
dan kemudian jalan tengah militer (19591966) sampai dengan dwifungsi ABRI memperlihatkan bentuknya.
Di Indonesia keterlibatan militer dalam
politik diawali oleh kekecewaannya terhadap
partai politik. Partai politik dilihat yang mendominsi dan mengontrol kehidupan militer
secara subjektif terutama pada masa sistem
politik demokrasi parlementer. Secara konstitusional kekuasaan politik memang berpusat
di parlemen dan di dalam prakteknya partai

17

114

19

Syahdatul Kahfie, op.cit., hal. 39

Jurnal POLITEIA|Vol.1|No.2|Juli 2009


ISSN: 0216-9290
P. Anthonius Sitepu
Peranan Militer dalam Konfigurasi Politik Indonesia Kontemporer
politiklah yang secara tradisional saling bergantian menguasai (pemerintah) yang sedang
berkuasa. Kondisi seperti ini kemudian menetapkan picu sebelum akhirnya meletus sebagai Peristiwa 17 Oktober 1952 atau sebuah
kudeta kecil yang gagal, ketika sejumlah
pasukan elit TNI AD mengarahkan moncong
meriam ke Istana Merdeka untuk memaksa
Presiden Soekarno membumbarkan konstituante; karena mereka mengangap bahwa telah
terlalu jauh mencampuri urusan internal militer. Aksi yang ditujukan ke parlemen yang
dicatat sebagai peristiwa 17 Oktober 1952
adalah merupakan suatu manuver politik dan
juga merupakan salah satu potret (gambar)
atas perjuangan kelompok militer sebagai satu rentetan (serangkaian) proses di mana militer melakukan upaya-upaya mencari posisinya yang paling tepat dalam kehidupan kenegaraan. Peristiwa itu pula yang mencerminkan fenomena kuat bahwa militer concern
terhadap persoalan-persoalan politik negara.
Ini menunjukkan bagaimana militer berpotensi dan berpretensi mengambil suatu peranan politik tertentu dalam pengelolaan penyelenggaraan negara dan menghendaki suatu posisi atu kedudukan politik.
Terlepas dari seberapa besar pretensi politik
dikalangan militer pasca peristiwa 17 Oktober 1952 itu, bahwa sebagai manuver politik
pada akhirnya mengalami kegagalan. Kegagalan tersebut disebabkan sebagian besar
Soekarno sebagai faktor (faktor Soekarno)
justru ganda yang sama menunjukkan dirinya
faktor politik yang semakin kuat dan juga
faktor internal militer (AD) yang pada saat
itu masih begitu terpolarisasi dalam persoalan-persoalan politik. Di samping itu, konsepsi Soekarno tentang demokrasi terpimpin
dengan SOB (Staat van Oorlog en Beleg)
dijadikan pula sebagai sarana yang baik untuk mendorong militer masuk ke dalam kawasan justifikasi kepada militer untuk melakukan peran-peran politiknya.
Diberlakukannya jawaban atas persoalanpersoalan politik yang sedang terjadi di Indonesia pada saat itu. Meskipun demikian,
peran-peran politik militer yang lebih konkret lagi terjadi pada fenomena yang menarik
karena dalam hal ini Soekarno menghendaki
adanya perwakilan militer dalam dewan ini.
Di dalamnya duduk Kepala Staf Angkatan

Darat, Kepala Staf Angkatan Laut, Kepala


Staf Angkatan Udara, dan Kepala Kepolisian
Negara sebagai anggota ex-officio yang terbentuk dalam golongan fungsional dan bukan
pada partai-partai politik. Dan juga sebagaimana terdapat di Parlemen (DPR) atau dalam
badan-badan yang bersifat legislatif dan di
kabinet-kabinet. Hal ini harus dipandang sebagai pengakuan secara de jure atas kedudukan dan pernan politik militer secara implikasinya lebih lanjut yang secara formal legitimasi militer dalam struktur pemerintahan.
Dwifungsi ABRI dan Partisipasi Politik
Militer
Konsepsi Nasution yang kemudian dikenal
sebagian jalan tengah tentara, memberikan
pintu terbuka pada political will secara
mendasar bagi kelompok militer untuk masuk ke dalam domain politik yang lebih nyata
dan luas. Dan itu pula yang pertama-tama
kalinya inti formulasi konsep Dwi Fungsi
ABRI. Dalam hubungan ini militer Indonesia
tidak saja berfungsi sebagai kekuatan keamanan juga harus mengambil peranan sebagai
kekuatan sosial politik dalam pengeloaan
negara. Dwi fungsi ABRI pada intinya, terdapat dalam jalan tengah tentara yang merupakan gambaran bagaimanakah bentuk yang
paling ideal dari kedudukan dan peranan militer di Indonesia. Pemahaman lebih tegas
Dwi Fungsi ABRI adalah konsep pokok dalam kehidupan politik dan pada prakteknya,
konsep Dwi Fungsi ABRI menjadi mesin politik untuk mempertahankan kekuasan.
Dwi fungsi ABRI dipersoalkan bukan lagi
peranan militer di masa revoluasi, atau jalan
tengah tentara, yang dirumuskan AH. Nasution pada tahun 1957-an, melainkan sebagai
sebilah realitas sosial politik yang dibangun
secara sistematis dan dalam pandangan lain,
bahwa Dwi Fungsi ABRI ini merupakan perluasan peran militer diluar bidang militer
(non militer). Di dalam praktek kerjanya,
Dwi Fungsi ABRI ini ditransformasikan ke
dalam golongan Karya (Golkar). Dalam
MPR hasil pemilihan umum 1971, mengukuhkan Dwi Fungsi ABRI di bidang hukum
dan konsepsi stabilitator dan dinamisator.
Maka dengan demikian Hankamnas dengan
konsep stabilisator dan dinamisator di dalamnya terdapat mesin politik utamanya untuk

115

Jurnal POLITEIA|Vol.1|No.2|Juli 2009


ISSN: 0216-9290
P. Anthonius Sitepu
Peranan Militer dalam Konfigurasi Politik Indonesia Kontemporer
memutar roda politik Dwi Fungsi ABRI baru
dapat pembenaran konstitusi di tahun 1992
dengan melalui UU.20 Tahun 1982, tentang
ketentuan-ketentuan pokok pertahanan keamanan negara. Di sana dikatakan bahwa
ABRI pada Pasal 26 sebagai kekuatan sosial
politik. Lebih lanjut peran seperti itu diperkuat dalam Undang-undang No.1 Tahun
1988 tentang Konsensus Nasional. UndangUndang ini merupakan kelanjutan dari Tap
MPT/No.IV tahun 1978 tentang GBHN yang
mengukuhkan peran militer dalam sosial
politik ABRI.
Dwi Fungsi ABRI dalam prakteknya (sosial
politik) dapat dijumpai dalam beberapa kebijakan-kebijakan politik negara, seperti
misalnya hampir sebagian besar Gubernur
dan wakil Gubernur berasal dari militer. Demikian pula dengan jabatan Bupati dan
bahkan sebagian besar Ketua Fraksi DPR I
dan DPRD II dari ABRI. Dengan demikian,
jika dihitung Fraksi utusan daerah di MPR
90% adalah dari militer (ABRI). Karena
yang menjadi utusan Daerah itu selalu Gubernur. Dan tidak sedikit Kadit Sospol, Ijen,
Sekjen dan Dirjen sampai kepada pengangkatan duta duta besar diluar negeri dari perwira-perwira sebagai perwakilan Indonesia di
luar negeri.20
Selain itu dibentuklah pula pemerintahan
militer yang menguasai teritorial yang dimulai dari Kodam, Kodim, Koramil dan sampai
dengan Babinsa (Badan Pembinaan Masyarakat). Untuk mengawasi/kontrol perkembangan politik lokal dibentuk Muspida (Musyawarah pimpinan daerah), Muspika serta Kadit sospol pada tiap provinsi dan kabupaten/
kota bahkan dalam lembaga perwakilan
(MPR/DPR) ABRI Fraksi Golkar. Kekuasaan seperti ini ditingkatkan pula dengan hubungan-hubungan dengan organisasi-organisasi
masyarakat (ormas) atau organisasi Massa
kepemudaaan dan berbagai organisasi massa
(ormas) yang berafiliasi dengan instansi militer. Meskipun tampaknya tidak signifikan hubungan antara Dwifungsi ABRI ini dengan
pertumbuhan neo-feodalisme dan peternalistik ikut dalam konfigurasi politik orde baru

yang tampaknya lebih jelas ada dalam kolusi


dan nepotisme. Seperti yang dikatakan oleh
Cornelis Lay bahwa sebagai proses pembentukan kelas baru dalam masyarakat Indonesia
adalah khas yang mendominasi ekonomi dan
politik atas hubungan-hubungan darah dan
keluarga atau munculnya kasta itu dalam
konfigurasi politik Orde Baru. Dalam kasta
elit politik inilah menjamur kolusi dan nepotisme.
Berkaitan dengan soal di atas, Ulf Sundhausen21 membangun teori sebab keterlibatan militer dalam perpolitikan Indonesia.
Sundhaussen melihat ada tiga hal utama yang
perlu untuk diperhatikan untuk menjawab
pertanyaan mengapa militer Indonesia turut
serta dalam masalah-masalah Politik: (a).Semata-mata untuk membela dan memajukan
kepentingan militer itu sendiri secara luas
(TNI-AD); (b).Kepentingan-kepentingan individu-individu yang secara langsung ataupun tidak secara langsung sering ikut mempengaruhi berbagai kebijakan yang akan
diambil para pimpinan militer itu sendiri.
Yang menjadi persoalan sebetulnya terletak
dalam pertanyaan bagaimana formulasi peran
militer itu dalam pembangunan politik? Sejauh manakah peran mereka itu dalam rangka
meningkatkan pengaruh terhadap pembangunan politik? Jawaban atas pertanyaan itu
coba dikembangkan dalam bagian tulisan ini
yang ternyata bahwa peran militer pada prinsipnya berkembang secara berbedabeda terutama di negara-negara berkembang khususnya Asia Tenggara seperti yang pernah
dikemukakan oleh Harold Crouch22, bahwa
militer di Singapura, Malyasia, dan Brunai,
tidak sedemikian dominan terutama dalam
politik dan pemerintahan sebab disana pemerintahan sipil. Di Indonesia dan Brunai peranan militer amat mencolok. Akan tetapi militer tidak memperoleh porsi secara langsung
untuk akses dalam bidang pemerintahan itu,
meskipun ada dalam bidang politik dan pemerintah. Di Thailand, militer tetap memiliki
akses yang kuat dan penuh dalam politik
pemerintahan yang di pegang oleh seorang
21

20

Amiruddin, Dwi Fungsi ABRI, Perspektif


Sejarah dan Masa Depannya, Jurnal HAM dan
Demokrasi 7 (1999), hal. 21-27.

116

Ulf Sundhaussen, Politik Militer Indonesia


1945-1967, Menuju Dwi Fungsi ABRI, (Jakarta:
LP3ES, 1998), hal. 400-448.
22
Harold Crouch, op.cit., hal. 4.

Jurnal POLITEIA|Vol.1|No.2|Juli 2009


ISSN: 0216-9290
P. Anthonius Sitepu
Peranan Militer dalam Konfigurasi Politik Indonesia Kontemporer
Jenderal. Kemudian kalau di Filipina, pada
masa pemerintahan Ferdinand Marcos, kelompok militer memegang berbagai posisi
walau yang semestinya harus diserahkan kepada pihak sipil. Namun mereka tetap sebagai subordinat dari seorang Presiden. Semenjak Cory Aquino naik ke atas pentas perpolitikan Manila, peranan militer ini tetap dipertahankan sebagai faktor penting sektor-sektor
politik dan pemerintahan meskipun pejabatpejabat militer itu tidak secara langsung menguasai posisi di pemerintahan.
Dengan berdasarkan penuturan di atas, Harold Crouch membuat kategorisasi bagi polapola sejauh mana peranan militer dalam politik terutama berlaku di kawasan Asia Tenggara; (a).Para pejabat militer jelas secara
langsung mendominasi (Indonesia dan Burma); (b).Militer mempunyai kekuatan (akses)
yang cukup besar kendati relatif terbatas
(Thailand dan Singapura); (c).Militer mempunyai pengaruh terbatas hanya pada bidang
seperti keamanan dan para pejabat militer tidak signifikan dengan kontribusinya terhadap
pembuatan kebijakan (Singapura, Malaysia,
dan Brunai); (d).Semacam kasus khusus usainya revolusi rejim komunis dimana militer otonomi sebagai akibat rembesan dari pengaruh partai politik yang terbatas (Indocina).
Sejak munculnya gagasan yang melahirkan
Orde Baru pada tahun 1966 tampaknya
secara tidak langsung disertai dengan munculnya suatu pergeseran arti yang system of
personal rule yang mengarah kepada sifatsifat perlembagaan yang berakrakter presidential military bureaucratic complex23.
Tentunya yang menjadi pertanyaan di sini
adalah bagaimana dan sejauh mana peran
militer dalam politik dan pemerintahan serta
bagaimana formulasinya peran militer setelah
terjadinya pergeseran tadi. Untuk itu Liddle
membangun argumentasinya dengan membuat sebuah kontruksi politik berupa sebuah
piramida dari struktur sebagai titik puncaknya di dominasi oleh seorang aktor tunggal
yaitu seorang presiden. Presiden memainkan
perannya sebagai komandan militer yang

primus inter pares, ke dalam birokrasi.


Terdapat suatu departemen yakni Departemen pertahanan dan keamanan (Denhamkam) yang memainkan perananya yang
menurut Liddle termasuk jenis yang unik;
Pertama, setiap ibukota provinsi diwakili
oleh seorang komandan militer (Pangdam)
yang bertanggungjawab penuh terhadap keamanan daerah (Subversi datang dari dalam
negeri) dan memberikan benang merah batas
antara fungsi militer dan sipil di daerah (pemerintah), Pemilihan umum tahun 1971,
1977, dan 1982 yang merupakan contoh konkrit sejauh manakah peranan pejabat militer
memegang kunci dalam memberhasilkan golkar keluar sebagai pemenang dalam beberapa
kali pelaksanaan pemilihan umum terebut;
Kedua, suatu kebiasaan dari pada pejabat
yang menduduki jabatan pemerintahan sering
harus melalui badan tersebut yang secara sengaja diciptakan untuk mengejar target (tujuan) tersebut. Dari 37 menteri ada saja 14
orang yang berlatar belakang militer; Ketiga,
para pejabat pemerintahan (pertahanan dan
keamanan) memainkan peranannya yang sangat penting dalam suatu pemecahan masalah atau isu-isu yang terkadang melebihi batas-batas norma-norma yang seharusnya dapat dipertanggunjawabkan.
Aksentuasi yang lebih dalam arti peranan militer ini ditunjukan dalam burecratic populits
ideolgy yang bepusat pada konsep Dwi
Fungsi ABRI (pertahanan Keamanan sebagai
kekuatan politik). Berbagai terminologi melekat dalam fungi-fungi tersebut. Ada yang
mengatakan ABRI sebagai penyelamat (juru
selamat) negara dalam keadaan genting (krisis) sebagaimana yang pernah ditunjukkan
dalam masa tahun 1945-1949 dan awal tahun
1950-an dan tahun 1965 ABRI sebagai sarana atau alat pemersatu dari sifat bangsa Indonesia yang pluralistik, pengayom dan dinamisator (driving force) masyarakat dan pembangunan ekonomi politik. Meskipun kekuasaan beradaa pada tangan seorang presiden, kata Karl, D Jackson24 birokrasi Indonesia itu
berkembang di mana pejabat militer dijadikan sebagai tulang punggung (back boned)
24

23

R. William Liddle, Soehartos Indonesia Personal Rule and Political Institutions, Pasific
Affairs 1 (1985), hal. 70-71.

Karl D. Jackson & Lucian Pye (eds), Political


Power and Communication in Indonesia (Barkely, Los Angels: University of California Press,
1978), hal. 13.

117

Jurnal POLITEIA|Vol.1|No.2|Juli 2009


ISSN: 0216-9290
P. Anthonius Sitepu
Peranan Militer dalam Konfigurasi Politik Indonesia Kontemporer
yang secara terus menerus dicerminkan ke
dalam prioritas kebijaksanaan, namun bukan
bersifat tipikal yang bersosiasi kebijaksanaan
yang berasosiasi dengan diktator militerisme
kendati Presiden sendiripun adalah seorang
Jenderal.
Di dalam Musyawarah Nasional (Munas) IV
Golkar pada tanggal 20-25 Oktober 1988,
terdapat hal-hal yang dipersoalkan yang
membuat argumentasi posisi militer, terutama dalam sektor politik dan pemerintahan
Indonesia. Musyawarah Nasional Golongan
Karya (Golkar) 1988 tersebut telah memberikan suatu indiaksi bahwa fungsi Golongan
Karya adalah untuk memperkuat posisi atau
kedudukan atupun peranan militer di mana
ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) sebagai pendukung kuat Golongan Karya. Ada sertus dua puluh ketua-ketua Golongan Karya yang di daerah-daerah, diambil
alih oleh militer (ABRI) termasuk di dalamnya
19 dari 27 Provinsi daerah Tingkat I di
Indonesia, menjabat Ketua Golongan Karya.25
Dalam tahun-tahun sebelumnyapun, fenomena seperti ini dapat dikatakan sebagai suatu
gambaran dari peranan militer yang terkonsepsikan ke dalam konstruksi-konstuksi kekuatan militer yang bersumber dari akarnya
yang disebut: dwi fungsi militer. Konstruksikonstruksi dalam konsep Golongan Karya
ini diletakkan kembali ke dalam tataran
fungsi sebuah partai politik atau katakan
sebagai organisasi Masyarakat (Ormas).
Gagasan ini dikembangkan lagi menjadi
suatu konsep yang lebih bersifat kekeluargaan dan dipadankan dengan sosialisme tanpa
perjuangan kelas-kelas. Bisa juga diartikan
sebagai suatu pencerminan atau sebuah
kebajikan menuju sifat paternalisme. Perkembangan sistem hubungan seperti ini akan
sangat diperlukan dan dibutuhkan demi menjaga tertib dan damai, dalam kaitannya
dengan kedudukan militer. Maka pola
hubungan antara militer (ABRI) dengan sipil.
Berakumulasi ke dalam sifatnya sebagai badan kerja sama yang akan memberikan peluang bagi cetak birunya restruktursasi dalam
konteks hubungan negara dan masyarakat.
25

Arif Budiman (ed), State and Civil Society in


Indonesia, (Australia: Aristic Press, 1990), hal.
156.

118

Maka kalau kita berpijak pada konsep seperti


diatas, militer sebenarnya melakukan proses
golkarisasi sistem politik yang kemudian
dicoba diperluas lagi ke dalam sistem politik
Orde Baru. Untuk menuju ke arah itu dianggap perlu untuk membentuk beberapa
elemen-elemen pokok yakni: (a). Memasukkan militer yang sudah senior sebagai figur
dalam lembaga-lembaga politik dan menekan
birokrasi sipil dengan melalui penempatan
pejabat-pejabat tertentu berdasarkan kepada
kekayaan; (b).Kampanye melawan partaipartai politik dengan tujuan utama adalah
untuk membubarkannya atau setidak-tidaknya dengan melaksanakan penyederhanaan
sistem kepartaian (simplikasi); (c). Dikampanyekan untuk menciptakan Golongan Karya
(Golkar) dengan melalui cara atau langkahlangkah, bagaimana agar organisasi-organisasi Masyarakat (Ormas) bisa berfungsi
dengan Golongan Karya (golkar) dan dengan
memantapkan organisasi-organisasi masyarakat ini; (d).Menarik organisasi-organisasi
profesi kedalam Golongan Karya (Golkar);
(e).Meningkatkan lebih giat konsep-konsep
karyawan dalam perusahaan negara.26
Konsep karyawan dalam perusahaan-perusahaan negara, dilaksanakan dengan melalui
organsiasi yang disebut dengan Serikat Organisasi Karyawan Seluruh Indonesia (SOKSI)
sebagai anggota Golongan Karya (Golkar).
Konsep ini berkembang terus merembes lebih dalam dan jauh lagi kedalam sistem
politik Orde Baru dan akan membuka peluang pembenaran atas teori bagi implementasi sifatnya yang monoloyalitas terhap
pegawai negeri yang tergabung ke dalam
Korps Pegawai Reublik Indonesia (KORRPI). Maka sejak tahun 1973-an, Golongan
Karya menyatakan diri bahwa ada hubungan
antara militer ABRI-KORPRI-GOLKAR.
Sistem hubungan ini merupakan sebuah
keluarga besar Golongan Karya.
Penutup
Terutama di negara-negara Asia Tenggara,
peranan militer dalam pembangunan politik
(politik dan pemerintahan) memang tidaklah
sama di setiap negara. Dalam hal tertentu
kehadiran militer diperlukan sebagai alat
26

David Reeve, ibid., hal. 165.

Jurnal POLITEIA|Vol.1|No.2|Juli 2009


ISSN: 0216-9290
P. Anthonius Sitepu
Peranan Militer dalam Konfigurasi Politik Indonesia Kontemporer
keamanan negara saja, tapi sebaliknya dalam
kesempatan lain, sebagai akibat perbedaan
kepemilikan perangkat, maka militer seringkali yang lebih menonjol dalam bidang
politik dibanding sipil. Peran militer yang
secara khusus di Indonesia menunjuk pada
fungsinya yang menjaga stabilitas politik
ketimbang untuk lebih meningkatkan pembangunan sosial-ekonomi. Ada keterhubungan antara pembangunan ekonomi dan kebutuhan demi menjaga kehadiran militer bagi
stabilitas ekonomi meskipun dalam normanorma yang terbatas. Namun sejak sistem politik orde baru telah terjadi suatu pergeseran
organisasi politik dari sifatnya yang burecratic politiy kepada sifatnya yang patrimonialis political system ditandai dengan
dominasi kelompok militer (ABRI) yang
menunjuk pada personalictic form of authoritarian ruled berpuncak pada singular capacity of President Soeharto.
Daftar Pustaka
Amiruddin. 1999. Dwi Fungsi ABRI, Perspektif
Sejarah dan Masa Depannya. Jurnal HAM
dan Demokrasi 7.
Budiman, Arif (ed). 1990. State and Civil Society
in Indonesia. Australia: Aristic Press.

Crouch, Harold. 1987. The Military Mind and The


Developmental Process. Singapore: Institute
of Southeast Asia Studies.
Habib, A. Hasnan. 2002. Hubungan Sipil Militer
Pasca Orde Baru dan Prospeknya di Masa
Depan. Jurnal Progresif 1 (Oktober).
Jackson, Karl D. et al (eds). 1978. Political
Power and Communication in Indonesia.
Barkley: University of California Press.
Liddle, R. William. 1985. Soehartos Indonesia
Personal Rule and Political Institutions. Pasific Affairs 1.
Muhaimin, Yahya A.. 1982. Perkembangan Militer dalam Politik di Indonesia 1945-1966.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Palmer, Monte. 1989. Dilemmas of Political Development and Introduction to the Political
of Developing Countries. Ithaca Ilonis: F.E.
Peacock. Publishing.
Sundhaussen, Ulf. 1998. Politik Militer Indonesia
1945-1967, Menuju Dwi Fungsi ABRI. Jakarta: LP3ES.
Supiyatmoko, Hendri. 1994. Nasution, Dwi
Fungsi ABRI dan Kontribusi ke Arah
Reformasi Politik. Solo: Sebelas Maret University Press.
Weiner, Myron et al (eds). 1987. Understanding
Political Development. Toronto: Little
Brown and Company Boston.
Kahfi, Syahdatul. 2002. Peran Militer Indonesia:
Tuntutan atau Kepentingan. Jurnal Progresif
1 (Oktober).

119

Jurnal POLITEIA|Vol.1|No.2|Juli 2009


Petunjuk Penulisan

120

ISSN: 0216-9290
Volume 1