Anda di halaman 1dari 37

Keracunan Pestisida sebagai

Penyakit Akibat Kerja (PAK)


Mariane Devi
102011023

Skenario 3
Sekelompok orang datang membawa seorang
laki-laki yang pingsan ke puskesmas di
pinggiran kota. Ketika dokter akan memulai
anamnesis, tiba-tiba datang lagi tiga orang
dari komunitas yang sama, yang masingmasing mengalami muntah-muntah, pusing
dan pandangan kabur.

Pestisida
pest yang berarti hama
cida yang berarti pembunuh

Insektisida

Organofosfat
Karbamate
Organoclorin
Arsenat
Piretroit

Organofosfat

EPN
Malation
OMPA
Paration
TEPP
DDVP
Sistoks

Struktur Kimia Organofosfat

Organofosfat Memblokade enzim


kolinesterase

Karbarmate karbamilasi dari enzim


asetil kholinesterase jaringan

Karbarmate
Mekanisme toksisitas dari karbamat adalah
sama dengan organofosfat, dimana enzim
achE dihambat dan mengalami karbamilasi.
Tetapi pengaruhnya terhadap enzim tersebut
tidak berlangsung lama, karena prosesnya
cepat reversibel.
Pada umumnya, pestisida kelompok ini dapat
bertahan dalam tubuh antara 1 sampai 24 jam
sehingga cepat diekskresikan.

Organoklorin

Organoklorin
Gejala yang terlihat pada intoksikasi DDT
adalah sebagai berikut: Nausea, vomitus,
paresthesis pada lidah, bibir dan muka,
iritabilitas, tremor, convulsi, koma, kegagalan
pernafasan, kematian.

Piretroid
Piretroid berasal dari piretrum diperoleh dari
bunga Chrysanthemum cinerariaefolium.
Insektisida tanaman lain adalah nikotin yang
sangat toksik secara akut dan bekerja pada
susunan saraf. Piretrum mempunyai toksisitas
rendah pada manusia tetapi dapat
menimbulkan alergi pada orang yang peka.

Herbisida
Fungisida
Rodentisida
Fumingan

Epidemiologi
WHO 1 juta kasus keracunan yang tidak
disengaja.
Kawasan Asia, diperkirakan bahwa mungkin
ada sebanyak 25 juta pekerja pertanian di
negara berkembang menderita sebuah
episode dari keracunan setiap tahun

Etiologi
Kecelakaan / bunuh diri
300.000 orang meninggal dari menyakiti diri setiap tahun
di wilayah Asia-Pasifik (WHO, 2004).
Okupasi
Eksposur pekerjaan Sebagian besar disebabkan oleh
penyerapan melalui kulit yang terbuka seperti wajah,
tangan, lengan, leher, dan dada. Paparan ini kadangkadang ditingkatkan dengan inhalasi pengaturan
termasuk penyemprotan operasi di rumah kaca dan
lingkungan tertutup lain, taksi traktor, dan
penyemprotan pestisida menggunakan blower atau
spray.

Keracunan pestisida
Keracunan Akut ringan, menimbulkan pusing, sakit kepala,
iritasi kulit ringan, badan terasa sakit dan diare.
Keracunan akut berat, menimbulkan gejala mual,
menggigil, kejang perut, sulit bernafas, keluar air liur, pupil
mata mengecil dan denyut nadi meningkat, pingsan.
Keracunan kronis, lebih sulit dideteksi karena tidak segera
terasa dan menimbulkan gangguan kesehatan. Beberapa
gangguan kesehatan yang sering dihubungkan dengan
penggunaan pestisida diantaranya: iritasi mata dan kulit,
kanker, keguguran, cacat pada bayi, serta gangguan saraf,
hati, ginjal dan pernafasan.

Pemeriksaan penunjang

PEDOMAN PENCEGAHAN
KERACUNAN PESTISIDA
MEMBELI PESTISIDA
1. Belilah pestisida di tempat penjualan resmi
2. Belilah pestisida yang masih mempunyai
label. LABEL adalah merek dan keterangan
singkat tentang pemakaian dan bahayanya.
3. Belilah pestisida yang wadahnya masih
utuh, tidak bocor.

MENGANGKUT PESTISIDA
1. Sewaktu membawa pestisida, wadahnya
harus tertutup kuat
2. Dalam membawa harus ditempatkan
terpisah dari makanan, dan pakaian bersih.

MENYIMPAN PESTISIDA
1. Pestisida harus disimpan dalam wadah atau pembungkus aslinya,
yang labelnya masih utuh dan jelas.
2. Letakkan tidak terbalik, bagian yang dapat dibuka berada
disebelah atas
3. Simpan ditempat khusus yang jauh dari jangkauan anak-anak,
jauh dari makanan, bahan makan dan alat-alat makan, jauh dari
sumur, serta terkunci.
4. Wadah pestisida harus tertutup rapat, dan tidak bocor
5. Ruang tempat menyimpan pestisida harus mempunyai ventilasi
(pertukaran udara ).
6. Wadah pestisida tidak boleh kena sinar matahari langsung
7. Wadah pestisida tidak boleh terkena air hujan.
8. Jika pada suatu saat pestisida yang tersedia di rumah lebih dari
satu wadah dan satu macam, dalam penyimpanannya harus
dikelompokan menurut jenisnya dan menurut ukuran wadahnya.

MENYIAPKAN PESTISIDA
1. Sewaktu menyiapkan pestisida untuk
dipakai, semua kulit, mulut, hidung dan kepala
harus tertutup. Karena itu, pakailah baju
lengan panjang, celana panjang, masker
(penutup hidung) yang menutupi leher, dan
sarung tangan karet.
2. Gunakan alat khusus untuk menakar dan
mengaduk larutan pestisida yang akan dipakai.
Jangan gunakan tangan

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi


Terjadinya Keracunan
INTERNAL
Usia
Status gizi
Jenis kelamin
Tingkat pendidikan
Pengetahuan

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi


Terjadinya Keracunan
EKSTERNAL
dosis yang dianjurkan 0,5 1,5 kg/ha
Lama kerja
searah dengan arah angin dengan kecepatan tidak
boleh melebihi 750 m per menit
waktu penyemprotan semakin siang akan mudah
terjadi keracunan pestisida terutama penyerapan
melalui kulit
Waktu yang dibutuhkan untuk dapat kontak dapat
kontak dengan pestisida maksimal 5 jam perhari
APD

APD
1) Alat pelindung kepala dengan topi atau helm kepala.
2) Alat pelindung mata, kacamata diperlukan untuk melindungi mata dari
percikan, partikel melayang, gas-gas, uap, debu yang berasal dari pemaparan
pestisida.
3) Alat pelindung pernafasan adalah alat yang digunakan untuk melindungi
pernafasan dari kontaminasi yang berbentuk gas, uap, maupun partikel zat
padat.
4) Pakaian pelindung, dikenakan untuk melindungi tubuh dari percikan bahan
kimia yang membahayakan.
5) Alat pelidung tangan, alat ini biasanya berbentuk sarung tangan, untuk
keperluan penyemprotan sarung tangan yang digunakan terbuat dari bahan
yan kedap air serta tidak bereaksi dengan bahan kimia yang terkandung
dalam pestisida.
6) Alat pelindung kaki, biasanya berbentuk sepatu dengan bagian atas yang
panjang sampai dibawah lutut, terbuat dari bahan yang kedap air, tahan
terhadap asam, basa atau bahan korosif lainnya.

Penatalaksanaan keracunan
organofosfat
Keracunan akut :
Tindakan gawat darurat :
1. Buat saluran udara.
2. Pantau tanda-tanda vital.
3. Berikan pernapasan buatan dengan alat dan beri oksigen.
4. Berikan atropin sulfat 2 mg secara i.m, ulangi setiap 3 8 menit
sampai gejala keracunan parasimpatik terkendali.
5. Berikan larutan 1g pralidoksim dalam air secara i.v, perlahan-lahan,
ulangi setelah 30 menit jika pernapasan belum normal. Dalam 24 jam
dapat diulangi 2 kali. Selain pralidoksim, dapat digunakan obidoksim
(toksogonin).
6. Sebelum gejala timbul atau setelah diberi atropine sulfat, kulit dan
selaput lendir yang terkontaminasi harus dibersihkan dengan air dan
sabun.
7. Jika tersedia Naso Gastric Tube, lakukan bilas lambung dengan air
dan berikan sirup ipeca supaya muntah.

Penatalaksanaan keracunan
organofosfat
Tindakan umum :
1. Sekresi paru disedot dengan kateter.
2. Hindari penggunaan obat morfin, aminofilin, golongan
barbital, golongan fenotiazin dan obat-obat yang
menekan pernapasan.
Keracunan kronik :
Jika keracunan melalui mulut dan kadar enzim
kolinesterase menurun, maka perlu dihindari kontak lebih
lanjut sampai kadar kolinesterase kembali normal.

Penalaksaan keracunan organoklorin


Tindakan gawat darurat :
a. Jika keracunan melalui mulut, usahakan untuk muntah
b. Pantau tanda-tanda vital.
c. Berikan karbon aktif, diikuti bilas lambung dengan air 2
4 liter. Kemudian berikan obat pencuci perut. Pembersihan
usus, juga dapat dilakukan dengan 200 mL larutan manitol
20 % dengan melalui pipa.
d. Jangan diberi lemak atau minyak.
e. Jika kulit juga terkena, bersihkan dengan air dan sabun.

Penalaksaan keracunan organoklorin


Tindakan umum :
1. Untuk mengatasi konvulsi, berikan diazepam 10 mg
secara i.v perlahan-lahan. Jika belum menunjukkan hasil
berikan obat yang memblokade neuromuscular.
2. Atasi hiperaktivitas dan tremor, berikan natrium
fenobarbital 100 mg secara s.c setiap jam sampai
mencapai jumlah 0,5 g atau sampai konvulsi terkendali.
3. Jangan diberi obat stimulan terutama epinefrin,
karena dapat menimbulkan fibrilasi ventrikuler.

Komplikasi
neurotoksisitas lama dan Organophosphorus
Induceddeleyed Neuropathy ( OPIDN ).
Sindrom ini berkembang dalam 8 35 hari
sesudah pajanan terhadap organofosfat.
Kelemahan progresif dimulai dari tungkai bawah
bagian distal, kelemahan pada jari dan kaki
berupa food drop.
Kehilangan sensori sedikit terjadi serta refleks
tendon dihambat.

Kesimpulan
Pestisida adalah senyawa kimia yang banyak digunakan
dalam kehidupan manusia terutama di bidang
pertanian dan perkebunan.
Organofosfat merupakan salah satu jenis yang paling
banyak digunakan masyarakat dalam berbagai
kegiatan.
Senyawa Organofosfat ini bekerja dengan
menghambat dan menginaktivasikan enzim
asetilkolinesterase. Enzim tersebut secara normal
menghidrolisis asetylcholin. menjadi asetat dan
kholin. Hambatan asetilkolinesterase menyebabkan
tertumpuknya sejumlah besar asetilkolin. Hal tersebut
menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang
berpengaruh pada seluruh bagian tubuh.

Terima kasih

Anda mungkin juga menyukai