Anda di halaman 1dari 98

PERAWATAN METODE KANGGURU TERHADAP KECEMASAN IBU

DAN STATUS BANGUN-TIDUR PADA BBLR


DI RUMAH SAKIT DI SURABAYA
Qorila Saidah
email:qori_ht07@yahoo.com
Pengajar Keilmuan Keperawatan Anak STIKES Hang Tuah Surabaya

Abstract : Clinical condition and treatment in NICU might effect on sleep-wake state
of Low Birth Weight baby and result on maternal anxiety. The aim of this study was to
identifiy the effect of kangaroo mother care on maternal anxiety and sleep-wake state
of LBW baby. This study use one group pretest-posttest design with 16 samples in
Surabaya. PSS:NICU and sleep-wake state scale from Priya were used. The Wilcoxon
sign rank test shows p value = 0,000 and the Friedman test shows p value = 0,000.
There were significan effect of KMC on maternal anxiety and sleep wake state of LBW
baby.
Key word : kangaroo mother care, maternal anxiety, sleep-wake state, low birth
weight baby

Latar Belakang
Bayi berat lahir rendah (BBLR)
merupakan permasalahan yang sering
dihadapi pada perawatan bayi baru lahir.
Sekitar sepertiga dari jumlah BBLR ini
meninggal sebelum stabil atau dalam 12
jam pertama kehidupan bayi. BBLR
memerlukan perawatan yang intensif
sampai berhasil mencapai kondisi stabil
(Blackwell,
2006).
Hasil
Survey
Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) 2002-2003 presentase BBLR di
Indonesia
menunjukkan
7,6%.
Berdasarkan data yang diperoleh dari
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun
2007, dari jumlah bayi yang diketahui
penimbangan berat badannya waktu lahir,
11,5% lahir dengan berat badan <2500
gram atau BBLR. Jika dilihat dari jenis
kelamin, presentase BBLR lebih tinggi
pada bayi perempuan dibandingkan lakilaki yaitu masing-masing 13% dan 10%
(Depkes RI, 2009).
Bayi prematur mempunyai fungsi
neurologis yang immatur. Bayi ini
mempunyai permasalahan dalam hal
kemampuan pengaturan, integrasi dan
koordinasi status bangun tidurnya.

Kesulitan yang dialami mencakup jumlah


waktu tidur tenang (quiet sleep), tidur
aktif dan jumlah fase transisi yang
tenang. Hal ini terkait dengan fungsi dan
kematangan neurologis. Pencapaian
status bangun-tidur yang stabil dan
transisi antara tiap fasenya merupakan
tugas perkembangan utama bayi pada
minggu-minggu pertama kehidupan (Als.
1982, 1986 dalam Blackburn, Foreman &
Thomas, 2008).
Status
bangun-tidur
bayi
merupakan bahasa bayi yang digunakan
untuk
mengekspresikan
kebutuhan
internal sebagai respon terhadap kondisi
lingkungan eksternal. Bayi bukan
merupakan individu yang bersifat pasif
terhadap stimulus lingkungan. Bayi
mampu menangani stimulus lingkungan
dengan merubah status bangun-tidurnya.
Bayi yang mempunyai ambang kontrol
yang
rendah
terhadap
stimulus
lingkungan akan sulit mentoleransi
stimulus lingkungan. Bayi-bayi dengan
resiko tinggi terlihat mempunyai ambang
yang rendah dan tidak mampu
beradaptasi dengan stimulus yang

Perawatan Metode Kangguru Terhadap Kecemasan Ibu Dan Status Bangun-tidur Pada BBLR
(Qorila Saidah)

berulang. Bayi mudah mengalami


kelelahan dan kewalahan terhadap
stimulus yang didapat, sehingga sering
terlihat kacau, mengalami henti nafas
atau sering menangis. Reaksi ini
menghalangi kemampuan bayi untuk
memfokuskan diri terhadap isyarat dari
lingkungan (Brazelton & Nugent, 1995).
Kesulitan adaptasi dengan lingkungan
tampak pada status bangun tidur bayi.
Menurut Brazelton dan Nugent (1995),
status bangun tidur bayi terlihat dari
tingkat aktifitas tubuh, pembukaan dan
penutupan mata, keteraturan nafas, reaksi
vokal dan respon terhadap stimulus
eksternal. Hal ini ditunjukkan dengan
status bangun tidur yang tampak, yang
terdiri dari status tidur tenang (quiet
sleep) dan tidur aktif. Perkembangan
dalam status tidur bayi dikategorikan
dengan adanya peningkatan status tidur
tenang, penurunan status tidur aktif,
peningkatan status terjaga, transisi antara
status bangun-tidur yang tenang dan
peningkatan kemampuan bayi untuk
mempertahankan periode tidur seiring
dengan peningkatan usia. Pada bayi
prematur terjadi status yang tidak sama,
bayi ini mengalami status tidur yang tidak
jelas. Adanya status ini menunjukkan
fungsi neurologik yang immatur. Bayi
terlihat mempunyai siklus tidur yang
kurang, periode tidur yang lebih pendek,
status tidur yang tidak jelas dan periode
tidur tenang yang lebih singkat (Foreman,
Thomas & Blackburn, 2008).
Status bangun-tidur tenang sangat
tergantung dari berat badan bayi (Ingersol
dan Thoman, 1999 dalam Foreman,
Thomas & Blackburn, 2008). BBLR
mengalami status tidur tenang yang lebih
sedikit, hal ini akan sangat berpengaruh
terhadap
perkembangan
bayi.
Peningkatan berat badan yang signifikan
sangat diperlukan. Peningkatan jumlah
tidur tenang perlu difikirkan dalam
pengembangan
pelayanan
agar
perkembangan bayi menjadi lebih
optimal. Hal ini akan membantu
94

pematangan fungsi neurologis bayi.


Mengingat permasalahan pada BBLR
sangat kompleks, perlu difikirkan
pemberian pelayanan yang memfasilitasi
interaksi bayi dengan keluarganya.
Kedekatan bayi dengan orang tuanya
dapat membantu peningkatan tumbuh
kembang bayi.
Masalah kesehatan pada bayi,
keluarga akan juga terpengaruh terkait
dengan kondisi bayi dan peran keluarga.
Bayi dengan BBLR sering kali
memerlukan perawatan yang intensif
sampai bayi stabil dan siap untuk
mendapatkan perawatan dirumah. Bayibayi ini secara umum berada di ruangan
khusus yang terpisah dengan ruang
perawatan ibunya. Perpisahan ini bisa
menyebabkan kecemasan pada ibu
tentang kondisi anaknya.
Menurut Ohgi, et al. (2002) isolasi dan
perpisahan dengan orang tua akan
mengurangi kesempatan interaksi antara
orang tua dengan bayinya dan bisa
menimbulkan stress pada interaksi antara
ibu dengan bayinya. Hal ini akan
mempengaruhi perkembangan hubungan
orang tua dengan bayi dan bisa
menghambat perkembangan bayi. Bayi
dengan BBLR memerlukan lingkungan
yang bisa membantu mengejar tumbuh
kembangnya. Interaksi dengan orang tua
merupakan faktor terpenting. Orang tua
memainkan peranan paling dominan
dalam kehidupan bayi, terlebih karena
perawatan di rumah sakit hanya bersifat
sementara. Interaksi yang dekat antara
anak dengan orang tuanya harus dimulai
sejak dini, oleh karenanya perawatan
perlu mengembangkan berbagai inovasi
untuk meningkatkan kedekatan bayi
dengan orang tuanya.
Perawatan bayi dengan metode
kangguru (PMK) merupakan salah satu
metode perawatan
noninvasif yang
memberikan keuntungan baik bagi bayi
maupun ibunya. PMK memfasilitasi
interaksi yang dekat antara bayi dengan
orang tuanya. Menurut penelitian

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

Whilhelm (2005) didapatkan bahwa PMK


mempunyai efek signifikan pada
temperatur payudara ibu, namun PMK
secara statistik tidak menunjukkan efek
signifikan
dalam
mempengaruhi
penurunan kadar kortisol atau hormon
stress ibu. Sedangkan menurut Shiau
(2005), PMK mempunyai efek yang
signifikan dalam menurunkan kecemasan.
Di Indonesia, penelitian tentang pengaruh
PMK terhadap kecemasan ibu dan
perkembangan prilaku bayi prematur
masih terbatas sehingga masih diperlukan
penelitian yang lebih mendalam.
Metodologi Penelitian
Rancangan dalam penelitian ini
menggunakan
Quasi-Experimental
Design dengan one group pretest posttest
design. Namun khusus untuk pengukuran
status bangun-tidur bayi dilakukan
dengan single subject design dengan
repeated measurement. Sampel pada
penelitian ini sebanyak 16 responden
yang diambil dengan consecutive
sampling. Kriteria BBLR yang menjadi
responden adalah bayi prematur dengan
BB<2500, usia gestasi 31-36 minggu,
telah stabil dan tidak mengalami kelainan
congenital. Sedangkan kriteria ibu adalah
bisa membaca dan menulis, tidak sedang
sakit selain nifas dan badan ibu dalam
keadaan bersih.
Alat pengumpul data pada
penelitian ini dengan menggunakan
kuesioner data demografi, lembar
observasi status bangun-tidur bayi dan
kuesioner kecemasan. Data demografi
pasien dituliskan dalam kuesioner data
demografi. Instrumen pengukur status
bangun-tidur bayi yang digunakan adalah
menilai status bangun-tidur bayi yang
dikembangkan oleh Priya (2004). Pada
instrumen ini status bangun-tidur bayi
akan diberikan skor, mulai dari status
bangun-tidur tenang (skor 6), tidur aktif
(skor 5), mengantuk (skor 4), terjaga
tenang (skor 3), terjaga aktif (skor 2) dan
menangis (skor 1).

Pengukuran kecemasan ibu pada


penelitian ini menggunakan instrumen
Parental Stressor Scale: Neonatal
Intensive Care Unit (PSS:NICU).
PSS:NICU
dikembangkan
untuk
mengukur persepsi orang tua terhadap
stressor yang meningkat yang berasal dari
lingkungan fisik dan psikis di NICU.
PSS:NICU terdiri dari 34 pernyataan
tentang pengalaman atau situasi yang
bisa terjadi terkait lingkungan NICU dan
bayi. Pengalaman atau situasi ini
dikelompokkan menjadi 3 klasifikasi,
yaitu pemandangan dan suara di ruang
NICU, kondisi klinis dan prilaku bayi,
serta hubungan orang tua dengan bayinya
dan peran orang tua. Penilaian hasil akhir
kecemasan dari skor dilakukan dengan
menggunakan metrik 2. Metrik 2
merupakan penilaian tingkat stress secara
keseluruhan.
Validitas
dan
reliabilitas
dilakukan dengan uji Kappa dan back
translation. Uji Kappa dilakukan untuk
menyamakan persepsi antara peneliti
dengan asisten peneliti terhadap hasil
pengamatan status bangun-tidur BBLR.
Hasil uji kappa didapatkan 0,848 yang
berarti tidak terdapat perbedaan persepsi
antara peneliti dan asisten peneliti.
Sedangkan back translation dilakukan
terhadap PSS: NICU. Hasil back
translation PSS: NICU menunjukkan
tidak terdapat perbedaan bermakna
dengan naskah aslinya sehingga cukup
valid. Namun, hasil back translation
tidak diujicobakan terlebih dahulu.
Peneliti menggunakan nilai reliabilitas
yang telah diujikan sebelumnya oleh
pengarang PSS: NICU.
Pelaksanaan PMK selama 3 hari.
Pengukuran kecemasan ibu dilakukan
pada hari pertama sebelum PMK dan hari
ketiga setelah PMK. Pelaksanaan PMK
dilakukan selama 2 jam setiap harinya.
Pengukuran status bangun tidur dilakukan
pada menit ke 0, ke 60 dan ke 120 dari
pelaksanaan PMK dengan menggunakan
lembar observasi.

95

Perawatan Metode Kangguru Terhadap Kecemasan Ibu Dan Status Bangun-tidur Pada BBLR
(Qorila Saidah)

Hasil Penelitian
Penelitian dilaksanakan di ruang
neonatologi RSAL dr. Ramelan dan RSI
Surabaya. Pengambilan data dilakukan
pada bulan Mei-Juni 2010.
A.
Karakteristik Responden
Karakteristik responden ibu pada
penelitian digambarkan dalam tabel 1.
Rata-rata usia responden 26,88 tahun.
Sebagian besar responden berpendidikan
SLTA. Jumlah responden dengan
primipara sama dengan multipara, yaitu
masing-masing sebanyak 8 responden.
Sebagian besar responden melahirkan
secara SC dan belum pernah mempunyai
pengalaman
melahirkan
BBLR
sebelumnya.
Tabel 1.
Distribusi frekuensi responden ibu
berdasarkan karakteristik pendidikan,
paritas, jenis persalinan dan pengalaman
sebelumnya di RSI dan RSAL dr.
Ramelan Sureabaya bulan Mei-Juni 2010
(n=16)
No

Variabel

Usia Ibu
Variabel

Mean

SD

26,88

3,26

Minimal-

95%

Maksimal

CI

21-32

18,80%

Tidakpernah

13

81,30%

B.

Pengaruh
PMK
Terhadap
Kecemasan Ibu
Distribusi
pasien
berdasarkan
kecemasan sebelum dan setelah PMK
didapatkan bahwa sebelum PMK
sebagian
besar
ibu
mempunyai
kecemasan sedang dengan jumlah 10
orang (62,5%). Sedangkan ibu yang
mempunyai kecemasan berat sebanyak 4
orang (25%) dan ibu yang mempunyai
kecemasan ringan 2 orang (12,5%).
Setelah dilakukan PMK jumlah ibu yang
mempunyai kecemasan ringan sebanyak
12 orang (75%). Sedangkan ibu yang
mempunyai tingkat kecemasan sedang
sebanyak 4 orang (25%) dan tidak ada
yang mempunyai kecemasan berat.
Tabel 2.
Distribusi frekuensi kecemasan ibu
sebelum dan setelah PMK di RSI dan
RSAL dr. Ramelan Surabaya Bulan MeiJuni 2010 (n=16)
Kecemasan

Pretest

Posttest

Cemas ringan

12,5%

12

75%

Cemas sedang

10

62,5%

25%

28,61

Cemas Berat

25,0%

Total

16

100%

16

100%

Frekuensi (f)

Prosentase (%)

SLTP

6,30%

SLTA

11

68,80%

PT

25%

Primi

50%

Multi

50%

31,30%

11

68,80%

Pendidikan

Paritas

Jenis

SC
Spontan
Normal
Pengalaman
sebelumnya

96

25,14-

Persalinan

Pernah

Karakteristik
Ibu
sebe;um
PMK
menunjukkan tingkat kecemasan sedang.
Setelah
dilakukan
PMK
terjadi
penurunan, sebagian besar ibu menjadi
ringan tingkat kecemasannya. Setelah
dilakukan uji dengan Wilcoxon sign rank
test didapatkan nilai p=0,000 yang berarti
secara statistik terdapat perbedaan yang
signifikan antara tingkat kecemasan
sebelum dan setelah PMK.
C. Pengaruh PMK terhadap Status
Bangun-Tidur
Status tidur bayi pada hari pertama
menunjukkan variasi yang beragam. Pada

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

menit ke 0 hari pertama sebagian besar


berada pada status tidur aktif sebanyak 9
bayi (56,25%). Sedangkan bayi dengan
status tidur tenang dan status mengantuk
hanya 2 bayi (12,5%), sedangkan yang
lainnya bervariasi antara status menangis,
terjaga aktif dan terjaga tenang yaitu
masing-masing sebanyak 1 orang
(6,25%). Pada menit ke 60, bayi yang
mengalami status tidur tenang sebanyak
10 bayi (62,5%). Bayi yang mengalami
status tidur aktif 4 bayi,(25%) dan
terdapat masing-masing 1 bayi (6,25%)
dengan status terjaga tenang dan
mengantuk. Pada menit ke 120 terdapat
13 bayi (81,25%) bayi yang mengalami
status tidur tenang dan lainnya yaitu 3
bayi (18,75%) mengalami status tidur
aktif.
Status tidur bayi pada hari ke 2
menit ke 0 masih didominasi oleh status
tidur aktif. Jumlah responden pada status
aktif di menit ke 0 sebanyak 12 bayi
(75%). Responden dengan status tidur
mengantuk sebanyak 3 bayi (18,75%).
Responden dengan status terjaga aktif 1
bayi (6,25%). Tidak ada responden yang
mempunyai status tidur tenang, terjaga
tenang maupun menangis. Pada menit ke
60 terdapat 7 bayi (43,75%) bayi dengan
status tidur aktif dan 9 bayi (56,25%)
bayi dengan status tidur tenang. Pada
menit ke 120 terdapat 13 bayi (81,25%)
dengan status tidur tenang dan lainnya 1
bayi (6,25%) mempunyai status tidur
aktif.
Pada hari ke 3 menit ke 0 sebagain
besar bayi mengalami status tidur aktif
sebanyak 7 bayi (43,75%). Terdapat 3
bayi (18,75%) dengan status tidur tenang,
3 bayi (18,75%) dengan status terjaga
tenang, 2 bayi dengan status mengantuk
dan 1 bayi (6,25%) dengan status terjaga
aktif. Pada menit ke 60 terdapat
perubahan status tidur bayi. Bayi dengan
status tidur tenang sebanyak 14 (87,5%)
bayi dan 2 (12,5%) bayi mempunyai
status tidur aktif. Pada menit ke 120,
jumlah bayi dengan status tidur tenang

sebanyak 15 bayi dan bayi dengan status


tidur aktif hanya 1 bayi (6,25%).
Hasil uji Friedman menunjukkan
nilai p=0,000 (p<0,05) baik pada hari
pertama, kedua maupun hari ketiga..
Interval kepercayaan 95% berarti pada
nilai = 5% dapat disimpulkan terdapat
perbedaan yang signifikan pada status
bangun tidur bayi hari ke 1, 2, 3 pada
menit ke 0, 60 dan 120. Selanjutnya,
dilakukan post hoc dengan Wilcoxon Sign
Rank Test untuk mengetahui perbedaan
status bangun-tidur pada tiap menit
penukuran yang digambarkan pada tabel
4.
Tabel 3.
Distribusi frekuensi responden bayi
menurut berat badan dan jenis kelamin
bayi di RSI dan RSAL dr. Ramelan
Surabaya bulan Mei-Juni 2010 (n=16)
N0

Variabel

Usia
Gestasi
Berat

Badan
Variabel

Min.-

Mean

SD

34,06

1,61

1722,8

Maks.
31-36

321,8

12882300

95% CI
33,20 34,92
1551,28
1894,22

Frekuensi (f)

Prosentase (%)

37,5%

10

62,5%

Jenis kelamin
3

Laki-laki
Perempua
n

Tabel 4.
Distribusi frekuensi status
bangun-tidur BBLR di RSI dan
RSAL dr. Ramelan Surabaya
bulan Mei-Juni 2010 (n=16)
p value (95% CI)

Hari I
Menit 0
Menit 0 -

Menit 60 -

- Menit

Menit 60

Menit 120

120

0,005

0,234

Asymp. Sig. (2tailed)

0,002

97

Perawatan Metode Kangguru Terhadap Kecemasan Ibu Dan Status Bangun-tidur Pada BBLR
(Qorila Saidah)

p value (95% CI)

Hari II
Menit 0
Menit 0 -

Menit 60 -

- Menit

Menit 60

Menit 120

120

0,001

0,034

Asymp. Sig. (2tailed)


p value (95% CI)

Hari III
Menit 0
Menit 0 -

Menit 60 -

- Menit

Menit 60

Menit 120

120

0,001

0,157

Asymp. Sig. (2tailed)

0,001

Pembahasan
Analisis peneliti, bayi yang
mempunyai
pertumbuhan
dan
perkembangan yang optimal akan mampu
mengontrol stimulus yang datang
padanya dengan merubah berbagai status
bangun-tidurnya. Sebagian besar bayi
mengalami status tidur aktif dimana bayi
tidak tidur dengan nyenyak. Pada tahap
ini pertumbuhan dan perkembangan
kurang optimal dibandingkan dengan
bayi aterm yang mampu menghabiskan
sebagian besar waktunya dengan tidur
tenang. Tidur tenang merupakan fase
tidur yang mampu memberikan fasilitasi
pertumbuhan dan perkembangn yang
optimal. Oleh karenanya berbagai metode
untuk memfasilitasi fase tidur bagi bayi
merupakan hal yang penting. Hal ini
sesuai dengan penelitian Shiau (2005)
yang
menyatakan
bahwa
PMK
mempengaruhi penurunan hormon stress
pada bayi dan ibu.
Perawatan
metode
kangguru
mempengaruhi status bangun-tidur bayi
melalui perubahan hormonal yang
menurunkan stress pada bayi. Kedekatan
antara ibu dengan bayi melalui kontak
kulit menimbulkan rasa aman yang
mempengaruhi penurunan hormon stress.
Selanjutnya
akan
mempengaruhi
penurunan jumlah konsumsi energi yang
sebelumnya digunakan untuk merespon
dan mengontrol stimulus lingkungan.
98

Kecukupan energi ini disebabkan oleh


peningkatan aliran darah ke otak yang
berdampak pada peningkatan suplai
oksigen dan nutrisi ke otak. Kondisi ini
membantu bayi mencapai status tidur
tenang yang lebih lama.
Pada observasi menit ke 60 masih
banyak dijumpai bayi dengan status tidur
aktif. Perawatan metode kangguru dapat
membantu bayi untuk mencapai tidur
tenang. Hal ini terlihat pada menit ke 120
sebagian besar berada pada status tidur
tenang. Sedangkan pada menit ke 60 bayi
masih mengalami 1 siklus tidur, namun
beberapa bayi telah menunjukkan status
tidur tenang sehingga perbandingan status
bangun-tidur bayi pada menit ke 60
dengan menit ke 120 menunjukkan hasil
yang tidak signifikan. Meskipun pada
menit ke 60 bayi hanya mencapai 1 siklus
tidur, namun beberapa bayi telah
mencapai tidur tenang. Perubahan jumlah
bayi yang mencapai tidur tenang tidak
banyak sehingga perbandingan jumlah
bayi yang mencapai tidur tenang tidak
banyak dan ketika dilakukan uji statistic
tidak menunjukkan hasil yang signifikan.
Hal ini sesuai dengan penelitian Browne
dan Graven (2008) yang mengatakan
bahwa pada 1 siklus tidur beberapa bayi
telah mencapai tidur tenang.

Simpulan
Karakteristik ibu yang melahirkan
BBLR rata-rata berusia 26,88 tahun.
Sebagian
besar
ibu
mempunyai
pendidikan SLTA. Paritas ibu seimbang
antara
primipara
dan
multipara.
Sedangkan karakteristik ibu dilihat dari
jenis persalinan sebagian besar spontan
pervaginam. Sebagian besar ibu tidak
mempunyai pengalaman melahirkan
BBLR sebelumnya.
Karakteristik BBLR dilihat dari
usia gestasi menunjukkan rata-rata 34,01
minggu. Sedangkan berat-badan bayi
menunjukkan rata-rata 1722,75 gram.
Jenis kelamin bayi pada penelitian ini

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

sebagian besar perempuan. Sebagian


besar status bangun-tidur bayi pada menit
ke 0 adalah tidur aktif dan pada menit ke
120 sebagian besar adalah tidur tenang.
Perawatan
metode
kangguru
mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap kecemasan ibu yang mempunyai
BBLR prematur dengan nilai p=0,000.
Perawatan metode kangguru mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap status
bangun-tidur BBLR dengan nilai p pada
uji Friedman sebesar 0,000 baik pada
hari pertama, kedua dan hari ketiga.

Daftar Pustaka
Blackwell, K., & Cattaneo, A. (2006).
What is the evidence for kangaroo
mother care of the very low birth
weight
baby?.
(http://www.ichrc.org/pdf/kangaro
o.pdf diperoleh 27 Januari 2010).
Brazelton, T.B., & Nugent, J.K. (1995).
Neonatal behavior assessment
scale. (3rd edition). London : The
lavenham Press Ltd, Mac Keith
Press.
Browne, J.V., & Graven, S.N. (2008).
Sleep and brain development.
(http://www.wonderbabiesco.org/
UserFiles/File/Graven%20and%2
0Browne%20sleep%2008.pdf
diperoleh tanggal 20 Februari
2010).
Departemen
Kesehatan
Republik
Indonesia.
(2009).
Profil
kesehatan
Indonesia
2008.
Jakarta.
(http://www.depkes.go.id/downlo
ads/publikasi/profil%20kesehatan
%20Indonesia.pdf. diperoleh 1
Februari 2010).

(6): 657-665. doi:10.1111/j.15526909.2008.00292.x.


(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pm
c/articles/PMC2765199/pdf/nihms
-80781.pdf/tool=pmcentrez
diperoleh tanggal 23 Januari
2010).
Ohgi, et al. (2002). Comparison of
kangaroo care and standart care :
behavioral
organization,
development, and temperament in
healthy, low birth weight infant
through 1 year. Journal of
Perinatology (2002) 22, 374
379
doi:10.1038/sj.jp.7210749
(http://www.nature.com/jp/journal
/v22/n5/pdf/7210749a.pdf.
diperoleh tanggal 1 Februari
2010).
Priya, J.J. (2004). Kangaroo care for low
birth weight babies. Nursing
Journal of India, 95, 9.
Shiau,

S.H.
(2005).
Randomized
controlled trial of kangaroo care
with fullterm infants: Effects on
maternal anxiety, breastmilk
maturation, breast engorgement,
and breastfeeding status. Diakses
dari
http://neoreviews.aappublications.
org/cgi/reprint/neoreviews;8/2/e5
5 tanggal 1 Februari 2010.

Whilhelm, P.A. (2005). The effect of


early kangaroo care on breast skin
temperature,
distress,
and
breastmilk production in mother
of
premature
infants.
(http://www.newbornnetworks.or
g.uk/southern/PDFs/KangarooCar
eFinal.pdf diperoleh tanggal 1
Februari 2010).

Blackburn, T.S., Foreman, W.S. &


Thomas, A.K. (2008). Preterm
infant state development, j obstet
gynecol neonatal nurs. 2008 ; 37
99

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN TERHADAP


TERJADINYA PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK
DI KALIMANTAN SELATAN
Marwansyah
Jurusan Keperawatan Poltekkes Banjarmasin
Email : marwans.bjm@gmail.com
Abstract : Some diseases are caused largely influenced by lifestyles are less
healthy individuals such as stress , excessive workload ,eating habits /
unhealthy drinking , smoking , lack of personal hygine and others that may
increase the risk of infectious disease a non-communicable diseases such as
hypertension , diabetes mellitus , and heart failure hiperkolesterolnemia .
Often death occurs even not from the primary disease but rather caused by
complications such as kidney failure . The kidneys are organs that vital as the
volume and chemical composition of blood , if the two kidneys for some
reason fails to perform its functions it will have serious consequences for
patients . The goal in this research would like to get an overview of the
factors related to the occurrence of chronic kidney disease in southern Borneo
. Research is a descriptive , cross-sectional design with using the Ex Post
Facto . This study uses a place in space Hemodialysis and space Inpatient
Hospital Medicine Ulin Banjarmasin . Independent variables (independent ) is
heriditer factors , socio- cultural factors , factors environmental and clinical
factors . While the dependent variable ( tied ) is a chronic renal failure . Data
was analyzed by descriptive and analytical . Univariate data using frequency
distribution tables while the data is bivariate using Chi Square and analyzed
using SPSS computational techniques for Windows . The research found that
the rate of chronic renal failure category suffered by respondents in South
Kalimantan is largely Failed Terminal kidney with the largest percentage of
61.32 % . Of the four factors examined the results of the study showed that
there is no relationship significant but of the four factors that appear there are
two factors that have a tendency as a factor that can lead to Chronic kidney
disease is heriditer factors and environmental factors . factor heriditer had
2.04 times the odds for terminal kidney failure as compared with respondents
who did not support the heriditer factor while environmental factors had 1.46
times the odds for terminal kidney failure compared to those environmental
factors that do not support .
Keyword : Heriditer, environmental, social, cultural, health care, failing
chronic kidney
A. Pendahuluan
Latar Belakang

Beberapa penyakit yang timbul


sebagian besar dipengaruhi oleh pola
hidup individu yang kurang sehat
seperti stres, beban kerja yang
berlebihan, kebiasaan makan/minum
yang tidak sehat, merokok, kurangnya

personal hygine dan lain-lain sehingga


dapat meningkatkan resiko penyakit
dari penyakit menular menjadi
penyakit yang tidak menular misalnya
penyakit hipertensi, diabetes mellitus,
hiperkolesterolnemia dan
gagal
jantung. kematian yang terjadi
seringkali bahkan bukan berasal dari

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

penyakit
primernya
tetapi
lebih
disebabkan oleh komplikasi yang terjadi
seperti gagal ginjal.
Ginjal merupakan organ tubuh yang
vital sebagai pengatur volume dan
komposisi kimia darah, jika ke dua ginjal
karena sesuatu sebab gagal melakukan
fungsinya maka akan berakibat serius
bagi penderita. Jika ke dua ginjal gagal
dalam melakukan fungsinya maka akan
terjadi kematian dalam waktu 3 sampai 4
minggu. Tidak ada obat yang dapat
mengembalikan fungsi ginjal walaupun
teknologi bidang kesehatan semakin
canggih, saat ini penyakit gagal ginjal
hanya bisa diatasi dengan cuci darah atau
cangkok ginjal. Indonesia merupakan
negara dengan tingkat penderita gagal
ginjal
yang cukup tinggi. Menurut
Rully Roesli (2005) penyakit gagal
ginjal bisa menyerang setiap orang
baik
pria
maupun
wanita tanpa
memandang tingkat ekonomi, sekitar
50.000 pasien gagal ginjal
harus
menjalani cuci darah.
Bila gejala
diketahui
sedini mungkin penderita
bisa
mendapat
bantuan
untuk
mengubah atau menyesuaikan pola
hidupnya.
(http://www.kompas.com/kesehatan/news
/0411/22/060712.htm). Kemudian R.A
Habibie menyatakan bahwa banyak
penderita yang meninggal dunia akibat
tidak mampu berobat atau cuci darah
karena biaya yang sangat mahal.
Tindakan cuci darah dilakukan antara 2
3 kali seminggu. (http://www.pikiranrakyat.com/cetak/0804/10/0307.htm
).
Sri Soedarsono menyebutkan bahwa
kecenderungan kenaikan penderita gagal
ginjal antara lain dari meningkatnya
jumlah penderita cuci darah yang
jumlahnya rata-rata 250 orang /tahun
(http://www.pikiranrakyat.com/cetak/0804/10/0307.htm).
Begitu juga dengan kenaikan penderita
gagal ginjal di RSUD Ulin Banjarmasin
yang menjalani terapi cuci darah dari
tahun ketahun semakin meningkat pada

tahun 2004 sebanyak 5.865 tindakan dan


tahun 2005 sebanyak 8.951 tindakan atau
terjadi kenaikan sebesar 65,52%
Dari uraian di atas penyakit gagal
ginjal merupakan salah satu penyakit yang
tergolong berat serta cenderung mengalami
peningkatan dengan biaya pengobatan yang
mahal maka perlu upaya pencegahan
dengan mengetahui pola hidup penderita
penyakit gagal ginjal sehingga perlu
kiranya diketahui tentang faktor yang
berhubungan terjadinya penyakit gagal
ginjal kronik di Kalimantan selatan.
Rumusan Masalah
Faktor apa saja yang berhubungan terhadap
terjadinya penyakit gagal ginjal kronik di
Kalimantan selatan ?
Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
Ingin mendapatkan gambaran tentang
faktor yang berhubungan terjadinya
penyakit gagal ginjal kronik
di
Kalimantan selatan.
b. Tujuan Khusus
1) Ingin mengetahui gambaran faktor
heriditer penderita penyakit gagal
ginjal kronik di Kalimantan Selatan
2) Ingin mengetahui gambaran faktor
lingkungan penderita penyakit gagal
ginjal kronik di Kalimantan selatan
3) Ingin mengetahui gambaran faktor
Sosial budaya penderita penyakit gagal
ginjal kronik di Kalimantan selatan
4) Ingin mengetahui gambaran faktor
klinik/pelayanan kesehatan penderita
penyakit gagal ginjal kronik di
Kalimantan selatan.
B. Metode penelitian
Jenis Penelitian
Penelitian
merupakan penelitian
deskriptif, rancangan Crossectional dengan
menggunakan metode Ex Post Facto.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini menggunakan tempat di
ruang Hemodialisis dan ruang Rawat Inap

101

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Terhadap Terjadinya Penyakit Gagal Ginjal Kronik


(Marwansyah)

Penyakit Dalam RSUD Ulin Banjarmasin


dan dilaksanakan pada bulan Agustus
sampai dengan Oktober 2007.
Subjek Penelitian
Populasi yang diteliti adalah semua
pasien yang menderita gagal ginjal kronis
yang dirawat di ruang rawat inap dan
ruang hemodialisis dengan kriteria inklusi
:
a. Diagnosis penyakit gagal ginjal kronis
b. Bersedia menjadi responden
c. Dapat berkomunikasi dengan baik
.
Teknik pengambilann sampel
Pengambilan sampling menggunakan
teknik
Aksidental
sampling
yang
memenuhi kriteria inklusi penelitian.
Penentuan jumlah sampel di ruang
Hemodialisis menggunakan tabel Krecjie.
Rata-rata jumlah pasien yang dirawat di
ruang Hemodialisis setiap bulan 120
pasien, sehingga besar sampel yang
digunakan menurut tabel Krecjei adalah
92 pasien. Besar sampel untuk pasien
yang di rawat inap tersebar dibeberapa
ruang sebanyak 10 15 pasien, pasien
yang sesuai dengan kriteria menjadi
sampel sehingga besar sampel menurut
tabel Krecjei adalah 14 pasien. Jumlah
seluruh sampel dalam penelitian ini
adalah 106 responden.

1. Variabel Penelitian
Variabel Indipenden (bebas) adalah
faktor heriditer, faktor sosial budaya,
faktor lingkungan dan faktor klinik.
Sedangkan yang menjadi
variable
dependen (terikat) adalah gagal ginjal
kronik.
2. Alat pengumpulan Data
Alat pengumpul data terdiri dari 6
angket. Angket pertama meliputi data
umum tentang karakteristik reponden.
Angket ke dua, tiga, empat dan lima
tentang faktor yang mempengaruhi status
kesehatan
individu
terkait
dengan

102

terjadinya penyakit gagal ginjal kronis.


Disusun oleh peneliti berdasarkan pendapat
dari
Depkes
tentang
faktor
yang
mempengaruhi status kesehatan dengan
berpedoman kepada faktor resiko terjadinya
penyakit gagal ginjal.
Cara Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan meliputi data
primer dan sekunder. Data primer
didapatkan dari hasil angket untuk
mengetahui karakteristik responden dan
faktor yang mempengaruhi terjadinya gagal
ginjal kronis. Data sekunder didapatkan dari
data laboratorium yang dilihat dari rekam
medis/status pasien.
Teknik Analisa Data
Data dianalisis secara deskriptif
analitik. Data univariat menggunakan tabel
distribusi frekuensi sedangkan data bivariat
menggunakan uji Chi Square. Data
dianalisis menggunakan teknik komputasi
SPSS for Windows. Penyajian data hasil
penelitian dilakukan dengan melalui tabel
C. Hasil dan pembahasan penelitian
1. Karakteristik Responden
Data yang dideskripsikan meliputi data
distribusi responden menurut umur, jenis
kelamin, tingkat pendidikan dan pekerjaan.
Tabel. 1
Karakteristik responden berdasarkan Jenis
Kelamin yang menderita Gagal Ginjal Kronis di
RSUD Ulin Banjarmasin
No
1.
2.

Jenis
Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Jumlah

68
38
106

64,15
35,85
100,00

Dari tabel di atas bahwa jenis kelamin laki-laki


lebih banyak yaitu 64,15 % dibandingkan
dengan responden perempuan.
Tabel. 2

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

Karakteristik responden berdasarkan Umur


yang menderita Gagal Ginjal Kronis di RSUD
Ulin Banjarmasin
No
1.
2.
3.
4.
5.

Umur
(tahun)
15 25
26 35
36 45
45 65
>66
Jumlah

4
16
28
50
8
106

3,77
15,09
26,42
47,17
7,55
100,00

3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
/sederajad
Tamat SD/sederajad
SLTP/sederajad
SLTA/sederajad
Diploma
Sarjana
Paska sarjana/S-2
Jumlah

f
0
6

%
0,00
5,66

14
8
42
16
18
2
106

13,21
7,55
39,62
15,09
16,98
1,89
100,00

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa


tingkat pendidikan dengan prosentasi terbesar
menurut tingkat pendidikan responden adalah
pendidikan SLTA/sederajad sebesar 39,62%.
Tabel. 4
Karakteristik responden berdasarkan
Pekerjaan yang menderita Gagal Ginjal Kronis
di RSUD Ulin Banjarmasin
No
1.
2.

Pekerjaan
Tidak bekerja
Petani/nelayan

f
40
5

Pengawai Negeri
Buruh
Pegawai swasta
TNI/POLRI
Lain-lain
Jumlah

39
5
13
4
0
106

36,79
4,72
12,26
3,77
0,00
100,00

Berdasarkan tabulasi data distribusi frekuensi,


prosentasi
terbesar
menurut
pekerjaan
responden adalah tidak bekerja atau 37,74%
kemudian Pegawai Negeri Sipil sebesar 36,79%.

Berdasarkan tabulasi data distribusi frekuensi,


prosentasi terbesar menurut umur responden
adalah pada rentang usia 45-65 tahun sebesar
47,17 %.
Tabel. 3
Karakteristik responden berdasarkan Tingkat
Pendidikan yang menderita Gagal Ginjal
Kronis di RSUD Ulin Banjarmasin
No
1.
2.

3.
4.
5.
6.
7.

%
37,74
4,72

2. Faktor Heriditer Terhadap Gagal Ginjal


Kronik
Tabel 5
Perbandingan Faktor Heriditer Dengan Gagal
Ginjal Kronis

Faktor
Heriditer
Tidak
Mendukung
Mendukung
Total

Gagal Ginjal Kronis


Gagal Non
Gagal
Ginjal
ginjal
Terminal
Terminal
38 (40,4%) 56 (59,6%)
3 ( 25,0%)
41 (38,7%)

9 (75,0%)
65 (61,3)

Total
94 (100%)
12 (100%)
106
(100%)

Berdasarkan tabel 5 ada sebanyak 56 dari


94 (59,6%) responden dari faktor heriditer tidak
mendukung terjadinya gagal ginjal terminal,
sedangkan responden dari faktor heriditer yang
mendukung sebanyak 9 dari 12 (75%) yang
terjadi gagal ginjal terminal.
Hasil uji Chi Square terlihat nilai p value
0,362 lebih besar dari alpha (5%) berarti tidak
ada hubungan faktor heriditer dengan kejadian
gagal ginjal kronik. Dilihat dari nilai Odds Ratio
ada kecenderungan bahwa bila faktor heriditer
yang mendukung akan lebih besar kemungkinan
untuk terjadinya gagal ginjal terminal dimana
responden yang faktor heriditer mendukung
akan terjadi atau memiliki peluang 2,04 kali
untuk terjadi gagal ginjal terminal dibandingkan
dengan responden yang faktor heriditer tidak
mendukung.
Kalau
dibandingkan
dengan
hasil
penelitian, faktor heriditer yang mendukung

103

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Terhadap Terjadinya Penyakit Gagal Ginjal Kronik


(Marwansyah)

terjadinya gagal ginjal kronik lebih sedikit


dari pada yang tidak mendukung. Menurut
Hidayat, A., (2007) faktor heriditer atau
keturunan memberikan pengaruh terhadap
status kesehatan sesorang mengingat potensi
perubahan status kesehatan telah dimiliki
melalui faktor genitik, walaupun tidak terlalu
besar tetapi akan mempengaruhi respon
terhadap berbagai penyakit
3. Faktor Lingkungan Terhadap Gagal Ginjal
Kronik
Tabel 6
Perbandingan Faktor Lingkungan Dengan
Gagal Ginjal Kronis

Faktor
Lingkungan
Tidak
Mendukung
Mendukung
Total

Gagal Ginjal Kronis


Gagal Non
Gagal
Ginjal
ginjal
Terminal
Terminal
34 (40,5%) 50 (59,5%)
7 (31,8%)
41 (38,7%)

15 (68,2%)
65 (61,3)

Total
84 (100%)
22 (100%)
106
(100%)

Berdasarkan tabel 6 terlihat bahwa


sebanyak 50 dari 84 (59,5%) responden yang
faktor lingkungan tidak mendukung terjadi
gagal ginjal terminal sedangkan responden
yang faktor lingkungan mendukung ada 15
dari 22 (68,2%) yang terjadi Gagal ginjal
terminal.
Hasil uji Chi Square menunjukkan
bahwa nilai p value 0,620 lebih besar dari
alpha (5%) berati tidak ada hubungan faktor
lingkungan dengan kejadian gagal ginjal
terminal, namun ada kecenderungan bila
faktor lingkungan mendukung akan lebih
besar kemungkinan untuk terjadi gagal ginjal
terminal. Dilihat dari nilai Odds Ratio bahwa
responden yang faktor lingkungan mendukung
akan memiliki peluang 1,46 kali untuk terjadi
gagal ginjal terminal dibanding dengan
responden yang faktor lingkungan yang tidak
mendukung.
Lingkungan adalah segala sesuatu yang
mempunyai hubungan langsung dengan hidup
organisme atau manusia dengan kata lain
adalah dunia dengan segala aspeknya yang
104

selalu berhubungan dengan kita (Mukono, H.J.


2008). Penyakit dapat muncul terutama karena
lingkungan telah tercemar oleh bahan-bahan
yang beracun dan berbahaya. Bahan-bahan
unsur logam maupun pestisida ini dapat berasal
dari buangan industri, pertanian maupun rumah
tangga. Pembuangan limbah industri secara
sembarangan kelingkungan sangat merugikan
kesehatan manusia, berupa penyakit maupun
kecacatan. Demikian pula penggunaan berbagai
macam pestisida disektor pertanian maupun
rumah tangga, pada saatnya akan mencemari
lingkungan dan mengakibatkan berbagai
penyakit serta gangguan kesehatan.
4. Faktor sosial budaya Terhadap Gagal Ginjal
Kronik
Tabel 7
Perbandingan Faktor Sosial Budaya Dengan
Gagal Ginjal Kronis

Faktor Sosial
Budaya
Tidak
Mendukung
Mendukung
Total

Gagal Ginjal Kronis


Gagal Non
Gagal
Ginjal
ginjal
Terminal
Terminal
37 (38,5%) 59 (61,5%)
4 (40,0%)
41 (38,7%)

6 (60,0%)
65 (61,3)

Total
96 (100%)
10 (100%)
106
(100%)

Dari tabel 7 terlihat bahwa responden


yang faktor sosial budaya yang tidak
mendukung ada 59 dari 96 (61,5%) untuk terjadi
gagal ginjal terminal, begitu juga responden
yang faktor sosial budaya mendukung ada
sebesar 60% untuk terjadi gagal ginjal terminal.
Berdasarkan hasil analisis Chi Square
didapatkan p value 1,000 lebih besar dari alpha
(5%) yang erarti tidak ada hubungan antara
faktor sosial budaya dengan kejadian gagal
ginjal kronik.
Jika dilihat dari data di atas nampak faktor
sosial budaya lebih banyak dalam katagori tidak
mendukung terjadinya gagal ginjal, hal ini
mungkin disebabkan karena dalam perhitungan
score dilakukan secara kumulatif keseluruhan
maka hasil yang didapat lebih rendah dari nilai
yang termasuk dalam katagori mendukung.
Tetapi kalau dilihat dari masing-masing

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

subvariabel dari faktor sosial budaya


berdasarkan distribusi frekuensi terdapat ada
perbedaan (lihat lampiran), misalnya pada
subvariabel pola aktivitas didapatkan katagori
yang mendukung 58 responden atau 54,7%
dan yang tidak mendukung terjadinya gagal
ginjal 48 responden atau 45,3%. Begitu pula
dengan subvariabel penggunaan waktu
senggang
didapatkan
katagori
yang
mendukung 64 responden atau 60,4% dan
yang tidak mendukung gagal ginjal sebanyak
42 responden atau 39,6%. Perilaku
mempunyai pengaruh yang sangat besar
terhadap derajat kesehatan masyarakat maka
diperlukan upaya untuk mengurangi atau
menghilangkan perilaku masyarakat yang
bertentangan dengan norma hidup sehat.
Perilaku masyarakat tersebut biasanya bersifat
lokal spesifik karena perilaku masyarakat
disetiap daerah berbeda, terjadi pada
golongan, ras dan daerah tertentu dan
dipengaruhi oleh kondisi lingkungan serta
sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya.
Menurut Sarwono, (2004) Perilaku
kesehatan sebagai segala bentuk pengalaman
dan interaksi individu dengan lingkungannya,
khususnya yang menyangkut pengetahuan dan
sikapnya mengenai kesehatan, serta tindakan
yang
berhubungan dengan
kesehatan.
Termasuk di dalam perilaku kesehatan yang
dapat diobservasi adalah perilaku hidup sehat.
Anies (2006) menyebutkan bahwa perilaku
kesehatan
seseorang
atau
masyarakat
ditentukan atau merupakan fungsi dari
pemikiran dan perasaan seseorang, adanya
orang lain yang dijadikan referensi, sumber
atau fasilitas yang mendukung dan
kebudayaan masyarakat
5. Faktor Pelayanan Kesehatan Terhadap
Gagal Ginjal Kronik
Tabel 8
Perbandingan Faktor Pelayanan Kesehatan
Dengan Gagal Ginjal Kronis
Faktor
Pelayanan
Kesehatan

Gagal Ginjal Kronis


Gagal Non
Gagal
Ginjal
ginjal
Terminal
Terminal

Tidak
Mendukung
Mendukung
Total

29 (35,8%)

52 (64,%)

81 (100%)

12 (48,0%)
41 (38,7%)

13 (52,0%)
65 (61,3)

25 (100%)
106
(100%)

Dari tabel 8 menunjukkan bahwa ada 52


dari 81 (64,2%) responden yang faktor
pelayanan kesehatan tidak mendukung terjadi
gagal ginjal terminal, sedangkan responden
yang faktor pelayanan kesehatan mendukung
akan terjadi gagal ginjal terminal sebesar 52%.
Hasil uji statistik analisis Chi Square
didapatkan p value 0,39 lebih besar dari alpha
(5%) yang berarti tidak ada hubungan pelayanan
kesehatan dengan terjadinya gagal ginjal kronik.
Pengumpulan data difokuskan pada
riwayat penyakit/ kesehatan dahulu, riwayat
pemakaian obat dan riwayat pembedahan. Jika
dilihat dari data di atas nampak faktor pelayanan
kesehatan lebih banyak dalam katagori tidak
mendukung terjadinya gagal ginjal, hal ini
mungkin disebabkan juga
karena
dalam
perhitungan
score
dilakukan
secara
keseluruhan maka hasil yang didapat lebih
rendah dari nilai yang termasuk dalam katagori
mendukung. Tetapi kalau dilihat dari beberapa
subvariabel dari faktor pelayanan kesehatan
berdasarkan distribusi frekuensi terdapat ada
perbedaan, misalnya pada subvariabel riwayat
penggunaan obat didapatkan katagori yang
mendukung 68 responden atau 64,2% dan yang
tidak mendukung terjadinya gagal ginjal 38
responden atau 35,8%.
Simpulan
a. Faktor-faktor yang berhubungan dengan
terjadinya penyakit gagal ginjal kronik
pada penderita di Kalimantan Selatan
menunjukkan bahwa dari ke empat
faktor tidak ada suatu hubungan yang
bermakna tetapi terdapat dua faktor yang
mempunyai kencenderungan sebagai
faktor
yang dapat menyebabkan
terjadinya penyakit gagal ginjal kronis
yaitu faktor heriditer dan faktor
lingkungan.

Total

b. Faktor heriditer mempunyai peluang


2,04 kali untuk terjadi gagal ginjal
105

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Terhadap Terjadinya Penyakit Gagal Ginjal Kronik


(Marwansyah)

terminal
dibandingkan
dengan Mukono, H.J. (2008), Prinsif Dasar Kesehatan
responden yang faktor heriditer tidak
Lingkungan,
edisi
2,
Airlangga
mendukung
sedangkan
faktor
University Press, Surabaya.
lingkungan mempunyai peluang 1,46 Price, A.A & Wilson, L.M (1995), Patofisologi,
kali untuk terjadi gagal ginjal terminal
Konsep Klinis Proses-proses Penyakit,
dibanding dengan responden yang
Penerbit Buku Kedokteran, EGC,
faktor
lingkungan
yang
tidak
Jakarta.
mendukung.
R.A Habibie & Sri Soedarsono Tinggi, Tingkat
Gagal Ginjal, (http://www.pikiranSaran
a. Sebagian besar penderita yang
rakyat.com/cetak/0804/10/0307.htm )
menderita penyakit Gagal Ginjal
Kronis sudah dalam katagori Gagal Rully Roesli, Jangan Sampai Kurang Minum,
artikel,
Ginjal Terminal maka perlu upaya
http://www.kompas.com/kesehatan/news
pencegahan lebih dini terutama bagi
/0411/22/060712.htm
yang mempunyai faktor herediter
harus berupaya untuk meminimalkan
atau mengurangi tingkat keparahan Sarwono, S. (1993), Sosiologi Kesehatan,
Beberapa Konsep Beserta Aplikasinya,
penyakit Gagal ginjal
dengan
Gadjahmada
University
Press,
menjalankan pola hidup sehat.
Yogyakarta.
b. Beberapa penyakit yang timbul
sebagian besar dipengaruhi oleh pola Sugiyono, (1999), Metode Penelitian Adminitrasi,
Alfabeta, Jakarta.
hidup individu yang kurang sehat
seperti stres, beban kerja yang
berlebihan, kebiasaan makan/minum WHO, (2002), Bahaya Bahan Kimia Pada
Kesehatan Manusia Dan Lingkungan,
yang tidak sehat, merokok, kurangnya
Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta
personal hygine dan lain-lain sehingga
dapat meningkatkan resiko penyakit
Gagal Ginjal Kronis. Oleh karena itu
kepada instansi pemerintah maupun
Provider perlu meningkatkan upaya
promosi kesehatan kepada masyarakat
sebagai langkah awal untuk tindakan
preventif.
DAFTAR PUSTAKA
Anies (2006), Waspada Ancaman Penyakit
Tidak Menular, PT. Elex Media
Komputindo, Jakarta
Depkes R.I (2002), Paradigma Sehat, Pusat
Promosi Kesehatan R.I, Jakarta
Depkes R.I, (1995), Asuhan Keperawatan
Pasien dengan Gagal Ginjal/penyakit
Urogenital, Pusdiknakes, Jakarta

106

HUBUNGAN PERAN IBU DENGAN TINGKAT SIBLING RIVALRY PADA


ANAK PRASEKOLAH USIA 3-5 TAHUN DI WILAYAH
KELURAHAN KETAWANGGEDE MALANG
Rinik Eko Kapti, Soemardini, Chika Juni Rachmawati
Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya,
Email keperawatan.fk@ub.ac.id

Abstract : Sibling rivalry is an attitude of being antagonistic and jealous toward ones
biological sibling. This kind of attitude can attach to 3-5 year old preschool children easily
since a preschool period is a critical period when children start to develop their emotion.
This jealousy occurs for the sake of getting more attention from the mother. Out of that
context, the purpose of this research is to get some information on the relationship between
the mothers role and the level of sibling rivalry on the 3-5 year old preschool children.
Moreover, the research design is a descriptive analytic correlation with cross sectional
approach. The data collection was done by using a purposive sampling with 57 people as
the sample. In addition, questionnaire that has been checked its validity and reliability was
used as the research instrument. Then, the data are analyzed by using spearman rho
correlation. The result shows that most of mothers (43.9%) in Ketawanggede region
Malang are in a category of fair in doing their role as mothers and their childrens sibling
rivalry level is moderate (43.9%). Moreover, the test result of spearman rho correlation
(r=0.289 with p=0.03) shows that there is an existence of mothers role with as sibling
rivalry level of 3-5 year old preschool children. Based on the result of the research, it is
suggested that health officer should be able give counseling on how mothers do their role
as a mother in public health service. If counseling is well given, it is hoped that those
mothers are able to do their role perfectly so that the level of sibling rivalry can be
minimized.
Keywords: Mothers role, Sibling Rivalry, Preschool children

Latar Belakang
Anak usia prasekolah adalah anak
yang berumur antara tiga sampai enam
tahun. Salah satu perkembangan anak-anak
yang perlu mendapat perhatian adalah
perkembangan dari segi emosi. Emosi yang
rentan pada anak prasekolah adalah rasa
cemburu dimana timbul perasaan tidak
senang terhadap orang lain yang dipandang
telah merebut kasih sayang dari orang.
Kehadiran adik bayi bagi anak pertama
dapat memunculkan berbagai macam
kecemburuan atau persaingan yang berbeda

satu sama lainnya yang dikenal dengan


istilah sibling rivalry.
Sibling rivalry adalah sikap
bermusuhan dan cemburu di antara saudara
kandung. Hal ini biasanya terjadi antara dua
atau lebih saudara kandung yang berusia
berdekatan (1-3 tahun) dan jenis kelaminnya
sama.3 Reaksi yang sering ditampakkan
adalah anak lebih agresif, memukul atau
melukai
kakak
maupun
adiknya,
membangkang kepada ibunya, rewel,
mengalami
kemunduran
(berperilaku
menyerupai anak kecil seperti mengompol),
sering marah dan menangis tanpa sebab
serta menjadi lebih lengket dengan ibu.

Hubungan Peran Ibu Dengan Tingkat Sibling Rivalry Pada Anak Prasekolah Usia 3-5 Tahun
(Rinik Eko Kapti, Soemardini, Chika Juni Rachmawati)

Hasil penelitian mengenai sibling


rivalry pada anak prasekolah dari 35 anak
diperoleh 80% tingkat sibling rivalry
sedang, 16.67 % tingkat sibling rivalry
berat, dan 3.33% tingkat sibling rivalry
ringan.5 Dampak sibling rivalry pada
perkembangan anak dapat berupa perilaku
agresif yang mengarah ke fisik seperti
menggigit, memukul, mencakar, melukai
dan menendang adik bayinya.4 Oleh karena
itu, untuk mengurangi terjadinya sibling
rivalry maka dibutuhkan peran ibu yang
baik.
Peran ibu adalah memberikan kasih
sayang dan mendidik anak. Keberhasilan ibu
dalam melaksanakan peran tergantung dari
kondisi ibu.6 Kondisi yang menyebabkan
peran ibu tidak maksimal sehingga
menimbulkan sibling rivalry pada anak
antara lain kehadiran anggota keluarga baru
yang dapat memberikan tekanan pada anak
pertama karena perhatian ibu lebih banyak
pada adik bayi.7 Kesibukan ibu dengan
kariernya juga dapat menimbulkan sibling
rivalry
yang
mengakibatkan
waktu
kebersamaan dengan anak berkurang.
Peneliti
melakukan
studi
pendahuluan di Wilayah Kelurahan Karang
Besuki, Kelurahan Dinoyo dan Kelurahan
Ketawanggede. Dari ketiga tempat tersebut,
jumlah ibu yang mempunyai anak usia
prasekolah dan bayi lebih banyak ditemui di
Wilayah Kelurahan Ketawanggede. Di
wilayah
kelurahan
tersebut
peneliti
mendapatkan data melalui wawancara pada
10 orang ibu, 5 diantaranya masih
melakukan peran yang kurang baik seperti

suka mencubit, memukul, dan tidak


bisa mengendalikan emosi didepan anak.
Selain itu, peneliti juga melakukan
wawancara pada 14 orang ibu yang memiliki
anak usia 3-5 tahun dan bayi. Mereka
mengatakan bahwa sejak kehadiran adik
dirumah, sang kakak sering memukul,
menggigit adik bayi dan mencari perhatian
ketika ibu sedang menggendong adiknya.
Hal ini menunjukkan tanda-tanda sibling
rivalry tingkat berat.
Berdasarkan fenomena di atas,
peneliti tertarik untuk meneliti tentang
hubungan antara peran ibu dengan sibling
rivalry pada anak prasekolah usia 3-5 tahun
di Wilayah Kelurahan Ketawanggede
Malang.
Bahan dan Metode Penelitian
Desain penelitian yang digunakan
adalah deskripsi analitik korelasional dengan
pendekatan
cross
sectional.
Teknik
sampling yang digunakan adalah purposive
sampling. Sampel dalam penelitian ini
adalah ibu yang mempunyai anak
prasekolah usia 3-5 tahun dan bayi usia 0-1
tahun di Kelurahan Ketawanggede Malang
yang berlangsun pada tanggal 7 - 21
Desember 2011. Jumlah sampel dalam
penelitian
ini
adalah 57 orang.
Karakteristik responden adalah Ibu yang
mempunyai anak berusia 3-5 tahun dan bayi
0-1 tahun dan yang tidak bekerja ( Ibu
rumah tangga). Instrumen yang digunakan
dalam penelitian ini adalah kuesioner peran
ibu dan sibling rivalry.

Tabel 1. Peran Ibu berdasarkan Usia di Wilayah Kelurahan Ketawanggede Malang


21-30 tahun
Peran Ibu
Baik

108

108

N
14

30-40 tahun

%
24.6%

N
5

40-50 tahun
%

8.8%

N
1

%
1.8%

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

Cukup

12

21.1%

13

22.8%

0%

Kurang

8.8%

14.0%

1.8%

Total

29

26

45.6%

3.5%

50.9%

N = 57
berusia 21-30 tahun yaitu sebesar 24.6%. Peran
ibu dengan kategori kurang dilakukan oleh ibu
yang berusia 30-40 tahun yaitu sebesar 14%.

Berdasarkan tabel 1 diatas dapat


disimpulkan bahwa peran ibu dengan kategori
baik sebagian besar dilakukan oleh ibu yang

Tabel 2. Peran Ibu berdasarkan Tingkat Pendidikan di Wilayah Kelurahan Ketawanggede


Malang
SD
Peran Ibu

SMP

SMA
%

Perguruan Tinggi
%

Baik

8.8%

5.3%

15.8%

5.3%

Cukup

3.5%

15.8%

11

19.3%

5.3%

Kurang

7%

8.8%

3.5%

1.8%

Total

11

19.3%

17

29.8%

22

38.6% 7

12.3%

19.3%. Sedangkan peran ibu dengan kategori


kurang dilakukan oleh ibu yang berpendidikan
terakhir SMP yaitu sebanyak 8.8%.

Berdasarkan tabel 2 diatas dapat


disimpulkan bahwa peran ibu dengan kategori
cukup sebagian besar dilakukan oleh ibu yang
berpendidikan terakhir SMA yaitu sebanyak

Tabel 3. Peran Ibu berdasarkan Jumlah Anak Yang Dimiliki di Wilayah Kelurahan
Ketawanggede Malang
2

Peran Ibu
N

Baik

12

21.1%

5.3%

5.3%

1.8%

Cukup

19

33.3%

7%

3.5%

0%

Kurang

12.3%

7%

3.5%

0%

Total

38

66.7%

11

19.3%

12.3%

1.8%

N = 57
109

109

Hubungan Peran Ibu Dengan Tingkat Sibling Rivalry Pada Anak Prasekolah Usia 3-5 Tahun
(Rinik Eko Kapti, Soemardini, Chika Juni Rachmawati)

Peran ibu dengan kategori kurang juga


dilakukan oleh ibu yang memiliki jumlah anak 2
yaitu sebanyak 12.3%.

Berdasarkan tabel 3 diatas dapat


disimpulkan bahwa peran ibu dengan kategori
cukup sebagian besar dilakukan oleh ibu yang
memiliki jumlah anak 2 yaitu sebanyak 33.3%.

Tabel 4.

Tingkat Sibling Rivalry berdasarkan Usia Anak Prasekolah di Wilayah

Kelurahan Ketawanggede Malang


Tingkat

3-4 tahun

Sibling Rivalry

4-5 tahun

Ringan

8.8%

14

24.6%

Sedang

14

24.6%

11

19.3%

Berat

14%

8.8%

Total

29

50.9%

26

45.6%

dengan tingkat sedang dan berat banyak terjadi


pada anak usia 3-4 tahun masing-masing
sebanyak
24.6%
dan
14

Berdasarkan tabel 4 diatas dapat


disimpulkan bahwa sibling rivalry tingkat ringan
banyak terjadi pada anak usia 4-5 tahun
sebanyak 24.6%. Sedangkan sibling rivalry

Tabel 5. Tingkat Sibling Rivalry berdasarkan Jenis Kelamin Antar Saudara di Wilayah
Kelurahan Ketawanggede Malang
Tingkat

Laki-Laki

Perempuan-

Perempuan-

Sibling

dengan laki-laki

Laki-laki

perempuan

Rivalry

Ringan

7%

14.1%

12.3%

Sedang

10.5%

10

17.6%

Berat

7%

5.3%

10.5%

Total

14

24.6%

21

36.8%

22

38.6%

15.8%

N = 57
Berdasarkan tabel

5 disimpulkan

sibling rivalry tingkat ringan dan sedang terjadi

bahwa sebagian besar anak yang mengalami

pada anak dengan jenis kelamin perempuan

110

110

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

dengan laki-laki masing-masing sebanyak 14.1%

anak dengan jenis kelamin perempuan dengan

dan 17.6%. Sedangkan anak yang mengalami

perempuan

yaitu

sebanyak

10.5%.

sibling rivalry tingkat berat banyak terjadi pada

Tabel 6. Tingkat Sibing Rivalry berdasarkan Jumlah Saudara Yang Dimiliki di Wilayah
Kelurahan Ketawanggede Malang
Tingkat Sibling

Rivalry
N

Ringan

11

19.3%

8.8%

5.3%

0%

Sedang

19

33.3%

7%

1.8%

1.8%

Berat

14%

3.5%

5.3%

0%

Total

38

66.7%

11

19.3%

12.3%

1.8%

ringan, sedang dan berat banyak terjadi pada


Berdasarkan

tabel

diatas

dapat

anak yang memiliki jumlah saudara 1 masing-

disimpulkan bahwa sibling rivalry tingkat

masing

sebanyak

19.3%,33.3%

dan

14%.

Tabel 7. Tingkat Sibling Rivalry Berdasarkan Urutan kelahiran Di Wilayah kelurahan


Ketawanggede Malang
Anak
Tingkat

ke-1 Anak

dan ke-2

ke-2 Anak ke-3 dan Anak ke-4 dan

dan ke-3

ke-4

ke-5

Sibling
Rivalry

Ringan

10

17.5%

10.5%

5.3%

0%

Sedang

21

36.8%

3.5%

1.8%

1.8%

Berat

14%

3.5%

5.3%

0%

Total

39

68.4%

10

17.5%

12.3%

1.8%

Berdasarkan

tabel

diatas

dapat

tingkat ringan, sedang dan berat banyak

disimpulkan bahwa sibling rivalry dengan

terjadi pada anak dengan urutan kelahiran 1


111

111

Hubungan Peran Ibu Dengan Tingkat Sibling Rivalry Pada Anak Prasekolah Usia 3-5 Tahun
(Rinik Eko Kapti, Soemardini, Chika Juni Rachmawati)

dan 2 masing-masing sebanyak 17.5%,

36.8%

dan

14

Tabel 8. Hubungan Peran Ibu Dengan Tingkat Sibling Rivalry Pada Anak Prasekolah
Tingkat
Peran Ibu

Sibling

Rivalry

Sedang

Berat

Ringan
N

Baik

14

24.6%

8.8%

1.8%

Cukup

12

21.1%

13

22.8%

0%

Kurang

8.8%

14.0%

1.8%

Total

29

26

45.6%

3.5%

50.9%

Berdasarkan
tabel
8
dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar ibu yang
melakukan perannya dengan kategori baik, sang
anak mengalami tingkat sibling rivalry ringan
yaitu sebanyak 17.5%. Sementara ibu yang

melakukan perannya dengan kategori cukup,


sang anak mengalami tingkat sibling rivalry
sedang sebanyak 26.3%. Sedangkan ibu yang
melakukan perannya dengan kategori kurang,
sang anak mengalami tingkat sibling rivalry
berat sebanyak 10.5%.

Tabel 9. Uji Korelasi Spearman Rho

Variabel

Sampel

Korelasi (r)

Sig.(p)

57

-0.289

0.03

Dari tabel 9 dapat diketahui bawha


hasil uji korelasi Spearman Rho diperoleh nilai
koefisien antara variable 1 dan 2 sebesar 0.289
yang berarti peran ibu memiliki hubungan
dengan tingkat sibling rivalry. Nilai tersebut

112

112

masuk dalam rentang interval koefisien 0.200.399 yang menunjukan tingkat hubungan
rendah. Arah korelasi negatif menunjukkan
bahwa semakin baik peran ibu maka tingkat
sibling rivalry semakin rendah atau ringan.

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

Pembahasan
Peran Ibu Terhadap Perkembangan
Anak
di
Wilayah
Kelurahan
Ketawanggede Malang
Dari data penelitian diperoleh
bahwa peran ibu dengan kategori baik
sebagian besar dilakukan oleh ibu yang
berusia 21-30 tahun sebanyak 22.8%.
Sedangkan ibu yang berusia 30-40 tahun dan
40-50 tahun yaitu masing-masing sebanyak
10.5% dan 1.8%. Menurut Chomaria (2008),
ibu yang berusia lebih muda (21-30 tahun)
cenderung menerapkan pola asuh yang
demokratis. Pola asuh demokratis ini
ditandai dengan sikap terbuka antara ibu
dengan anak sehingga dapat terjalin
komunikasi yang harmonis. Hal ini
mempermudah ibu untuk melaksanakan
perannya seperti mudah untuk memberi
pengarahan dan nasihat kepada anak.
Sementara ibu yang berusia lebih tua lebih
memilih cara pengasuhan yang berpusat
pada orang tua yang dapat menimbulkan
rasa kurang puas pada anak dan merasa
dirinya tidak didengar.
Pendidikan terakhir ibu juga
merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi peran ibu. Dari hasil
penelitian didapatkan data bahwa ibu yang
melakukan peran dengan kategori baik dan
cukup banyak dilakukan oleh ibu yang
berpendidikan terakhir SMA masing-masing
sebanyak 15.8% dan 19.3%. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Yulistyowati (2008)
bahwa ibu yang memiliki tingkat pendidikan
tinggi cenderung lebih mudah menyerap dan
menerima
informasi
mengenai
perkembangan
anak.
Tetapi
pada
kenyataannya, ada juga ibu dengan
pendidikan SD mampu melakukan peran
dengan kategori baik. Terlihat dari data
penelitian yang menunjukkan bahwa 8.8%
ibu yang berpendidikan terakhir SD mampu
melakukan peran dengan kategori baik

dibandingkan
dengan
ibu
yang
berpendidikan SMP dan perguruan tinggi
masing-masing sebanyak 5.3%. Menurut
Hurlock (2005) ibu yang berpendidikan
rendah belum tentu pengetahuannya juga
rendah. Hal tersebut dikarenakan ibu
memperoleh
pengetahuan
tentang
perkembangan anak dari pengalaman
sendiri, pengalaman orang lain, media massa
serta lingkungan. Pendapat yang tidak sesuai
dengan hasil penelitian diungkapkan oleh
Habibi (2006) bahwa pendidikan ibu yang
tinggi atau pengetahuan yang luas akan
membuat ibu memahami bagaimana
memposisikan
diri
dalam
tahapan
perkembangan anak. Pendapat lain yang
juga tidak sesuai dikemukakan oleh
Hetherington dan Parke (1979) dalam
Petranto (2006) yang menyatakan bahwa ibu
dengan latar belakang pendidikan tinggi
dalam melakukan peran sebagai ibu tampak
sering mengikuti kemajuan mengenai
perkembangan dalam mendidik anak
sedangkan ibu dengan latar belakang
pendidikan rendah memiliki pengetahuan
dan pengertian yang terbatas tentang
kebutuhan perkembangan anak.
Jumlah anak yang dimiliki oleh ibu
juga menjadi faktor yang mempengaruhi
peran ibu. Dari hasil penelitian didapatkan
data bahwa 21.1% ibu yang memiliki anak
dengan jumlah 2 melakukan peran dengan
kategori baik. Ibu yang memiliki anak
dengan jumlah 3 dan 4 melakukan peran
dengan kategori baik masing-masing
sebanyak 5.3%.
Menurut Gichara (2008) jumlah
anak yang dimiliki mempengaruhi ibu dalam
mengasuh anak. Semakin banyak anak maka
perhatian ibu kepada anak semakin
berkurang karena ibu bukan saja hanya
mengurus satu anak melainkan juga harus
mengurus anaknya yang lain. Hurlock
113

113

Hubungan Peran Ibu Dengan Tingkat Sibling Rivalry Pada Anak Prasekolah Usia 3-5 Tahun
(Rinik Eko Kapti, Soemardini, Chika Juni Rachmawati)

(2005) juga menyatakan bahwa semakin


banyak anak maka semakin banyak pula
permasalahan yang muncul di rumah
sehingga menyebabkan peran ibu tidak
maksimal. Teori tersebut menunjukkan
kesesuaian data hasil penelitian dengan teori
Tingkat Sibling Rivalry Pada Anak
Prasekolah Di Wilayah Kelurahan
ketawanggede Malang
Dari hasil penelitian didapatkan
bahwa sebagian besar anak yang berusia 3-4
tahun mengalami sibling rivalry tingkat
sedang dan berat masing-masing sebanyak
24.6% dan 14%. Sedangkan sibling rivalry
tingkat ringan banyak terjadi pada usia 4-5
tahun yaitu sebanyak 24.6%.
Data penelitian tersebut sesuai
dengan teori yang disampaikan
oleh
Gottlieb dan Mandelson (1990) dalam Kail
(2001) menyatakan bahwa anak yang
berusia di bawah 4 tahun menunjukkan
adanya regresi tingkah laku akibat kehadiran
adik dalam keluarga. Pada usia tersebut anak
mengembangkan kemampuan fisik, kognitif
dan sosial. Walaupun mereka semakin
percaya diri dan menuju pada kemandirian,
namun anak membutuhkan bimbingan,
ketenangan hati serta pengakuan yang tetap
dari orang tua. Tanpa dukungan ini, anak
akan
menjadi
frustrasi
dan
tidak
bersemangat. Anak pada usia tersebut juga
cenderung egosentrik dan mereka sering
tidak dapat menerima adanya pembagian
perhatian dan kasih sayang orang tua
(Sawicki dalam binotiana, 2008)
Teori lain yang sesuai dengan hasil
penelitian dikemukakan oleh Helm dan
tuner (1996) dalam Binotiana (2008) yang
menyebutkan bahwa sibling rivalry dapat
berkembang apabila rentang usia anak
antara 1 - 3 tahun. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa semakin muda usia anak
saat hadirnya adik akan semakin besar
kemungkinan anak tersebut mengalami
sibling rivalry.
114

114

Sibling rivalry pada anak juga


dipengaruhi oleh jenis kelamin antara
saudara kandung. Dari hasil penelitian
didapatkan bahwa sibling rivalry tingkat
berat sebagian besar terjadi pada kakak-adik
dengan jenis kelamin perempuan dengan
perempuan sebanyak 10.5%. Sedangkan
kakak-adik dengan jenis kelamin laki-laki
dengan laki-laki dan perempuan dengan
laki-laki masing-masing sebanyak 7% dan
5.3%. Sesuai dengan pendapat Gichara
(2006) yang menyebutkan bahwa sibling
rivalry lebih tinggi pada pasangan kakakadik yang berjenis kelamin sama
dibandingkan dengan kakak-adik yang
berjenis kelamin berbeda.
Dari hasil penelitian juga dapat
diketahui sibling rivalry tingkat sedang dan
berat sebagian besar terjadi pada kakak-adik
dengan jenis kelamin perempuan dengan
perempuan masing-masing sebanyak 15.8%
dan 10.5 %. Kemungkinan hal ini
disebabkan karena anak
perempuan
perasaannya lebih sensitif dibandingkan
dengan laki-laki. Berdasarkan hasil beberapa
penelitian didapatkan pada anak perempuan,
daerah otak yang membantu mengontrol
bahasa dan emosi cenderung lebih besar
sehingga emosi anak perempuan akan lebih
terlihat (Hurlock, 2005).
Namun hal ini tidak sesuai dengan
pernyataan Gichara (2006) bahwa pada
kakak-adik dengan jenis kelamin sama,
sibling rivalry cenderung tinggi pada
pasangan kakak-adik yang berjenis kelamin
laki-laki dengan laki-laki. Pernyataan lain
yang juga tidak sesuai dengan hasil
penelitian dikemukakan oleh Sawicki (1997)
bahwa anak laki-laki akan menunjukkan
lebih banyak penurunan tingkah laku akibat
kehadiran adik dalam keluarga dibandingkan
dengan dengan anak perempuan.
Dari hasil penelitian didapatkan
bahwa sebagian besar anak yang memiliki
jumlah saudara 1 orang mengalami sibling
rivalry tingkat sedang dan berat masing-

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

masing sebanyak 33.3% dan 14%. Menurut


Boyse (2009) jumlah saudara kecil
cenderung menghasilkan hubungan yang
lebih banyak perselisihan daripada jumlah
saudara yang besar. Teori lain yang juga
sesuai dikemukakan oleh Haritz (2008) yang
menyatakan bahwa jumlah saudara kecil
akan menyebabkan anak kurang dapat
bersosialisasi antar saudara sehingga sering
menyebabkan perselisihan. Teori tersebut
menunjukkan adanya kesesuaian data hasil
penelitian dengan teori.
Urutan kelahiran anak juga dapat
mempengaruhi terjadinya sibling rivalry.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa
bahwa sibling rivalry dengan tingkat sedang
dan berat banyak terjadi pada anak dengan
urutan kelahiran 1 dan 2 masing-masing
sebanyak 36.8% dan 14%. Kemungkinan
yang menyebabkan sibling rivalry banyak
terjadi pada anak dengan urutan kelahiran 1
karena lahirnya adik baru menjadi
permasalahan bagi anak pertama, dimana ia
harus membagi cinta, kasih sayang dan
perhatian ibu kepada adiknya (Haritz, 2008).
Anak pertama yang memiliki adik baru
dengan jangka waktu yang pendek, mereka
cenderung cemas karena ibu pasti lebih
banyak meluangkan waktu untuk adik
bayinya. Ia akan merasa terabaikan sehingga
menunjukkan perilaku sibling rivalry
(Sawicki, 1997)
Boyse (2009) berpendapat bahwa
urutan kelahiran dalam keluarga yang
memiliki anak lebih dari satu, tentunya
semua anak diberi peran menurut urutan
kelahiran
dan
mereka
diharapkan
memerankan peran tersebut. Jika anak
menyukai peran yang diberikan padanya,
semuanya akan berjalan dengan baik. Tetapi
apabila peran yang diberikan bukan peran
yang dipilihnya sendiri maka kemungkinan
terjadi perselisihan besar sekali. Hal ini
dapat
menyebabkan
memburuknya
hubungan ibu-anak maupun hubungan antar
saudara kandung.

Hubungan Peran Ibu Dengan Tingkat


Sibling Rivalry Pada Anak Prasekolah
Hasil
penelitian
menunjukkan
bahwa ibu yang melakukan peran dengan
kategori kurang, sang anak mengalami
tingkat sibling rivalry sedang dan berat
masing-masing sebanyak 7% dan 10.5%.
Sesuai dengan pendapat Haritz (2008)
menyatakan bahwa ibu yang memberikan
perhatian dan kasih sayang lebih pada salah
satu anak dapat menyebabkan terjadinya
sibling rivalry. Hal ini juga bisa disebabkan
karena pada saat adik lahir, kakak masih
terlalu kecil untuk menyadari kehadiran adik
bayi sehingga kakak selalu berusaha
merebut perhatian ibu. Sementara ibu sibuk
mengurusi pekerjaan rumah tangga.
Konsekuensinya, ibu akan mendapat tugas
lebih berat saat harus menghadapi kerewelan
anak prasekolah serta bayinya dalam waktu
yang bersamaan
Sifat-sifat penunjang keberhasilan
peran ibu seperti rasa cinta, kasih sayang
dan perhatian yang diungkapkan oleh
Chomaria (2008) berbanding lurus dengan
salah satu penyebab terjadinya sibling
rivalry akibat kurangnya perhatian dan kasih
sayang yang diungkapkan oleh Haritz
(2008), hal tersebut terbukti dengan hasil
penelitian tentang hubungan peran ibu
dengan tingkat sibling rivalry pada anak
prasekolah usia 3-5 tahun di Wilayah
Kelurahan Ketawanggede Malang yang
menunjukkan hubungan negatif dan
berhubungan satu sama lain
Simpulan dan Saran
KesImpulan dari hasil penelitian tentang
peran ibu dengan tingkat sibling rivalry
adalah Adanya hubungan yang nyata
(signifikan) antara peran ibu dengan tingkat
sibling rivalry pada anak prasekolah usia 3-5
tahun di Wilayah Kelurahan Ketawanggede
Malang yaitu semakin baik peran ibu maka

115

115

Hubungan Peran Ibu Dengan Tingkat Sibling Rivalry Pada Anak Prasekolah Usia 3-5 Tahun
(Rinik Eko Kapti, Soemardini, Chika Juni Rachmawati)

tingkat sibling rivalry yang dialami semakin


ringan atau rendah.
Bagi petugas kesehatan diharapkan mampu
memberikan konseling dan informasi kepada
ibu di puskesmas atau posyandu agar ibu
dapat melakukan perannya dengan baik
untuk mengurangi tingkat sibling rivalry
pada anak. Untuk penelitian selanjutnya
tentang peran ibu dan tingkat sibling rivalry
menggunakan jenis penelitian kualitatif
sehingga dapat mengetahui peran ibu dan
tingkat sibling rivalry secara terperinci.

DAFTAR PUTAKA
Hurlock, Elizabeth B. 1997. Perkembangan
Anak Jilid 1 Edisi Keenam, Erlangga,
Jakarta.
Mansur, Herawati. 2009. Psikologi Ibu dan
Anak Untuk Kebidanan, Salemba
Medika, Jakarta.
Gichara, Jenny. 2006. Mengatasi Perilaku
Buruk Anak, Kawan Pustaka, Jakarta
Priatna & Yulia, A. 2006. Mengatasi
Persaingan Saudara Kandung Pada
Anak-Anak,
PT.Elex
Media
Komputindo, Jakarta.
Purwanto, Kukuh Hari. 2006. Hubungan
Antara Tingkat Sibling Rivalry Dengan
Tingkat
Perkembangan
Anak
Preschool. Tugas Akhir. Tidak
diterbitkan, Universitas Brawijaya,
Malang.
Paul, Hendry. 2008. Konseling Psikoterapi
Anak, Idea Publising, Yogjakarta.
Woolfson, Richard. 2006. Persaingan
Saudara Kandung. Erlangga, Jakarta
Yulistyowati, Tri. 2008. Hubungan Peranan
Ibu dan Peranan Kader dengan Status
116

116

Imunisasi Campak. Tugas Akhir. Tidak


diterbitkan, Universitas Airlangga,
Surabaya
Hariweni, Trie. 2003. Pengetahuan, Sikap
Dan Perilaku Ibu Bekerja Dan Tidak
Bekerja Tentang Stimulasi Pada
Pengasuhan Anak Balita, (online),
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/12
3456789/6267/1/anak-tri%20hariweni.
pdf, diakses taggal 12 Desember 2011).
Chomaria, Nurul. 2008. Menjadi Ibu Penuh
Cinta, PT. Elex Komputindo, Jakarta
Hurlock, Elizabeth B. 2005. Perkembangan
Anak Jilid 2 Edisi Keenam, Erlangga,
Jakarta
Binotiana, 2008. Gambaran Sibling Rivalry
Pada Anak ADHD Dan Saudara
Kandungnya,
(online),(http://
www.lontar.ui.ac.id, diakses tanggal 10
Agustus 2011).
Boyse, K. 2009. Sibling Rivalry,(online),
(http://www.med.umich.edu/1libr/yourc
hild/ sibriv.html, diakses 17 September
2011).
Haritz, Ummu. 2008. Mengelola Persaingan
Kakak Adik, Afra Publishing, Surakarta.
Sawicki, J.A. 1997. Sibling Rivalry and The
New Baby: Anticipatory Guidance AND
Management Strategies Journal Of
Pediatric and Nursing, (online) (http
://www.highbeam.com/doc/1G119556572.html), diakses tanggal 24
September 2011.
Boyse, K. 2009. Sibling Rivalry,(online),
(http://www.med.umich.edu/1libr/yourc
hild/ sibriv.html, diakses 17 September
2011)

PENGEMBANGAN MODEL PELAYANAN KESEHATAN PADA


POSYANDU LANSIA BERDASARKAN INDIKATOR KUALITAS
HIDUP DI KOTA MOJOKERTO

AGUS MURDIANTO
Departemen Promosi Kesehatan Kesehatan Masyarakat Universitas Unair
E-mail: agusmurdiantoskm@ymail.com
Abstract : Elderly health was included physical health, spiritual and social so
that not only the state that was free of diseases, defects and weaknesses were
seen. The WHO was established the WHOQOL-BREF instrument consists of
four domains: physical, psikologik, social, and environmental. The purpose of
this research, how the developing model of service on the elderly at the
Posyandu Mojokerto based on indicators the quality of life. The kind of
research it includes observational analytic approach, while based on the time
of its research, this research including research cross sectional. For the
development of model using a combination of quantitative and qualitative
approaches. This research was the location of the elderly in Mojokerto City
Posyandu. The population in this study the elderly enrolled in the elderly as
much as posyandu 9744. Sample research as much as 95 elderly and taken
from a random sampling of class 19. Samples random sampling techniques
research using two levels. Test results obtained using spearmen value
significance (0,229) (p) > alfa ( = 0,05), Then can say the quality of life
insignificant with judgment on health services in posyandu. In terms of service
the majority there was not been a simple lab (urinalysis and haemoglobin)
and no mental examination. Conclusion that the development of research was
relevant was to enhance the role of posyandu in terms of reference health
services and services according to instructions in elderly kms.
Key words: elderly, Model development, Elderly Posyandu, and quality of life

Latar Belakang
Salah satu ciri kependudukan
abad 21 adalah meningkatnya
pertumbuhan penduduk lanjut usia
yang sangat cepat. Jumlah ini
diperkirakan pada tahun 2025 yaitu
9,7% populasi penduduk indonesia
(Bustan, 2000). Berdasarkan data
Departemen Kesehatan RI (2000b),
pada tahun 2000 diperkirakan jumlah
penduduk yang berusia di atas 60
tahun mencapai 7,4% atau sekitar 15,3
juta orang, sedangkan antara tahun
2005-2010 jumlah lansia (lansia)
diperkirakan akan sama dengan
jumlah balita yaitu sekitar 19 juta atau
8,5% dari jumlah seluruh penduduk.

Kesehatan lansia meliputi kesehatan


jasmani, rohani dan sosial sehingga
bukan hanya keadaan yang bebas dari
penyakit, cacat dan kelemahan.
Meningkatnya jumlah penduduk lansia
menimbulkan masalah terutama dari
segi kesehatan dan kesejahteraan
lansia. Masalah tersebut jika tidak
ditangani akan berkembang menjadi
masalah yang lebih kompleks.
Meningkatnya gangguan/ penyakit
pada lansia dapat menyebabkan
perubahan pada kualitas hidup mereka.
Yang dimaksud dengan kualitas hidup
menurut World Health Organization
(WHO) adalah persepsi seseorang
dalam konteks budaya dan norma yang

Pengembangan Model Pelayanan Kesehatan Pada Posyandu Lansia Berdasarkan Indikator Kualitas
Hidup Di Kota Mojokerto (Agus Murdianto)

sesuai dengan tempat hidup orang


tersebut serta berkaitan dengan tujuan,
harapan, standar dan kepedulian
selama hidupnya.
osyandu
lansia
merupakan
wahana pelayanan kesehatan bagi
kaum lansia, yang dilakukan dari, oleh
dan untuk kaum lansia yang
menitikberatkan
pada
pelayanan
promotif
dan
preventif,
tanpa
mengabaikan upaya kuratif dan
rehabilitatif (Notoatmodjo, 2007).
Dalam
mengakses
pelayanan
kesehatan pada posyandu lansia,
ditinjau
berbagai
faktor
yang
mempengaruhi
lansia
dengan
berdasarkan pada teori PrecedeProceed menurut Lawrence Green
(1980) dalam (Notoatmodjo, 2005,
p.60). Teori ini menganalisis perilaku
manusia dalam perilaku kesehatan.
Selanjutnya
perilaku
kesehatan
dipengaruhi oleh faktor predisposisi
(predisposising
factors),
faktor
pendukung (enabling factor) dan
faktor penguat (reinforcing factors).
Masalah dalam posyandu lansia bukan
hanya terkait masalah kesehatan saja
melainkan
juga
masalah
non
kesehatan, baik itu ekonomi, sosial,
budaya dan spiritual. Dimana semakin
tinggi angka harapan hidup dari lansia
maka kualitas hidupnya akan semakin
menurun. Untuk mengukur kualitas
hidup
seseorang
WHO
telah
membentuk WHO Quality of Life
(QOL) Group, WHOQOL-BREF
terdiri dari empat domain yaitu fisik,
psikologik, sosial dan lingkungan
Ditinjau dari data proyeksi
penduduk tahun 2011 menjelaskan
bahwa jumlah penduduk lansia di Kota
Mojokerto sebesar 10.048 orang dan
yang
memperoleh
pelayanan
kesehatan sebanyak 4.006 orang atau
39,87%. bagaimana mengembangkan
model pelayanan kesehatan pada
Posyandu Lansia di wilayah Kota
Mojokerto berdasarkan Indikator
Kualitas Hidup
118

Metode penelitian
Penelitian ini penelitian ini
menggunakan 2 pendekatan, yaitu
pada saat penggumpulan informasi
dan variabel menggunakan pendekatan
kuantitatif
sedangkan
untuk
pengembangan modelnya peneliti
menggunakan pendekatan kuantitatif
dan kualitatif. Untuk pendekatan
kuantitatif menggunakan penelitian
observasional analitik, sedangkan
pendekatan
kualitatifnya
menggunakan penelitian desktriptif.
Berdasarkan waktu penelitiannya,
penelitian ini termasuk penelitian
cross sectional.
Penelitian ini dilakukan di
posyandu lansia di Kota Mojokerto.
Ada 75 Posyandu lansia yang tersebar
di 5 puskesmas Kota Mojokerto yaitu
Mentikan,
Wates,
Kedudung,
Gedongan dan Blooto. Penelitian
dilaksanakan dari bulan Maret 2013
hingga Juli 2013. Populasi dalam
penelitian ini adalah murid semua
sasaran posyandu lansia yang meliputi
lansia yang terdaftar di posyandu
lansia dan bertempat tinggal di Kota
Mojokerto yakni sebanyak 9744 jiwa
lansia berusia 60-70 tahun. Besar
sampel minimal dalam penelitian ini
adalah 95 lansia dari 19 posyandu
yang sudah dipilih berdasarkan two
stage random sampling. Sedangkan
untuk pendekatan kualitatif untuk
subjek penelitian merupakan informan
yang berkompeten mengenai program
posyandu lansia di Kota Mojokerto,
sedangkan objek dalam penelitian ini
adalah
pengembangan
model
pelayanan kesehatan pada posyandu
lansia.
Hasil Penelitian
Karakteristik Lansia
Lansia
yang
menjadi
responden adalah lansia yang tidak
termasuk dalam kategori lansia resiko
tinggi (> 70 tahun), dan menurut

Junal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

WHO seseorang dikatakan lansia pada


saat usia 60 tahun keatas. Karakteristik
responden dapat dilihat pada tabel 5.1
sebagai berikut
Tabel 1. Distribusi
responden penelitian
Karakteristik
responden
Jenis kelamin
L
P
Pendidikan
Tidak Sekolah
Dasar
Menengah
Tinggi
Pekerjaan
Tidak bekerja
Bekerja
Status
Pernikahan
Nikah
Janda
Duda
Asuransi
Kesehatan
Tidak Memiliki
Jamkesda dan
Jamkesmas
Askes dan
Asuransi lain

karakteristik

N (95)

31
64

32,6
67,84

24
50
16
5

25,3
52,6
16,8
5,3

78
17

82,1
17,9

68
20
7

71,6
21,1
7,4

47
30

49,5
31,26

18

18,9

Berdasarkan hasil penelitian


yang tercantum pada tabel 5.1
sebagian besar responden lansia
adalah wanita yaitu sebanyak 64 orang
(67,84%).
Untuk
pendidikan
responden lansia sebagian besar
tergolong pendidikan dasar sebanyak
50 orang (52,6%) dan responden
sebagian besar sudah tidak bekerja
sebanyak 78 responden (82,1%).
Untuk
status
pernikahan
responden sebagian besar masih
memiliki pasangan hidup sebanyak 68
responden
(71,6 %)
dan untuk
karakterisitik
mengenai
asuransi
sebagian besar lansia tidak memilik
asuransi kesehatan sebesar 47
responden (49,5%). Berdasarkan tabel

5.1 hasil penelitian yang dilakukan


pada 95 responden diperoleh bahwa
47 responden (49,5 %) belum
memiliki asuransi kesehatan.
Faktor
yang
mempengaruhi
pelayanan kesehatan pada posyandu
lansia Kota Mojokerto
a. Tingkat Pendidikan
Sebagian besar yang memiliki
pelayanan kesehatan yang tergolong
cukup adalah berpendidikan dasar
yaitu tamat SD sampai tamat SMP
sebanyak 37 responden (75,3%).
Dalam distribusi ini dapat terlihat
bahwa tidak ada lansia yang
berpendidikan menengah dan tinggi di
posyandu yang kurang.
Hasil
tabel
silang
diuji
menggunakan
kendall
tau
b
didapatkan nilai signifikansi (0,000)
(p) < alfa ( = 0,05), maka dapat
dikatakan
riwayat
pendidikan
signifikan dengan penilaian pada
pelayanan kesehatan pada posyandu.
b. Pekerjaan
Sebagian besar yang memiliki
pelayanan kesehatan yang tergolong
cukup adalah lansia yang memiliki
status tidak bekerja sebanyak 58
responden (61,1 %).
Hasil
tabel
silang
diuji
menggunakan
kendall
tau
b
didapatkan nilai signifikansi (0,004)
(p) < alfa ( = 0,05), maka dapat
dikatakan pekerjaan signifikan dengan
pelayanan kesehatan pada posyandu.
Karena jika lansia bekerja maka
pelayanan kesehatan pada posyandu
akan cenderung baik dari segi
ekonomi dan pemenuhan kebutuhan.
c. Status pernikahan
Sebagian besar yang memiliki
pelayanan kesehatan yang tergolong
cukup adalah lansia yang memiliki
status nikah dan masih memiliki
pasangan
hidup
sebanyak
42
responden (61,8 %).
Hasil
tabel
silang
diuji
menggunakan
kendall
tau
b
119

Pengembangan Model Pelayanan Kesehatan Pada Posyandu Lansia Berdasarkan Indikator Kualitas
Hidup Di Kota Mojokerto (Agus Murdianto)

didapatkan nilai signifikansi (0,033)


(p) > alfa ( = 0,05), maka dapat
dikatakan status pernikahan signifikan
dengan pelayanan kesehatan pada
posyandu. Hal ini dikarenakan lansia
kebanyakan yang aktif karena
partisipasi dari pasangan lansia itu
sendiri
d. Asuransi yang dimiliki
sebagian besar yang memiliki
pelayanan kesehatan yang tergolong
cukup adalah lansia yang tidak
memiliki asuransi kesehatan sebanyak
39 responden (41,1%).
Hasil
tabel
silang
diuji
menggunakan
kendall
tau
b
didapatkan nilai signifikansi (0,259)
(p) > alfa ( = 0,05), maka dapat
dikatakan kepemilikan asuransi tidak
signifikan dengan pelayanan kesehatan
pada posyandu.
e. Pengetahuan
Sebagian besar yang memiliki
pelayanan kesehatan yang tergolong
cukup adalah lansia yang memiliki
pengetahuan sedang sebanyak 25
responden (26,3%). Hampir sama
dengan riwayat pendidikan tidak
dijumpai pengetahuan rendah pada
posyandu yang memiliki penilaian
baik.
Hasil
tabel
silang
di
uji
menggunakan spearmen didapatkan
nilai signifikansi (0,002) (p) < alfa (
= 0,05), maka dapat dikatakan
pengetahuan
signifikan dengan
penilaian pada pelayanan kesehatan
pada posyandu.
Pengembangan model pelayanan
kesehatan pada posyandu lansia
berdasarkan
analisis
indikator
kualitas hidup
Faktor yang belum memiliki
kategori baik pada hasil penelitian
tersebut akan dijadikan sebagai hasil
dari step 1 pada intervention mapping
yaitu
kebutuhan
program
pengembangan
model
pelayanan

120

dalam posyandu lansia sebagai


berikut.
a. Predisposing Factor meliputi :
1). Tingkat pengetahuan terhadap
posyandu
kategori
cukup
(42,1%).
2). Lansia belum memiliki asuransi
kesehatan (49,5%).
3). 61,1 % lansia status tidak bekerja
b. Enabling Factor meliputi :
1). Sebagian besar posyandu belum
melakukan pemeriksaan lab sederhana
(urine dan hemaglobin)
2). Lansia tidak pernah mendapatkan
pemeriksaan mental sebesar 53,7%.
3).
Sebagian
kecil
posyandu
melakukan kegiatan arisan dan
pengajian untuk meningkatan minat
lansia datang pada posyandu lansia.
4). Sebagian besar lansia datang hanya
untuk tensi dan mendapatkan obat.
Perencanaan Pengembangan model
pelayanan kesehatan pada posyandu
lansia
berdasarkan
indikator
kualitas hidup Kota Mojokerto.
Berdasarkan
hasil
wawancara
mendalam dengan penanggung jawab
program posyandu lansia diperoleh
pengembangan
model
untuk
meningkatkan cakupan pelayanan
pada posyandu lansia berdasarkan
indikator kualitas hidup.
a. Kebijakan mengenai pengobatan
dan pemeriksaan lab pada
posyandu lansia.
Berdasarkan dari hasil wawancara
mendalam
dan
analisis
data
didapatkan hasil bahwa mayoritas
lansia
menghendaki
adanya
pengobatan di posyanda,
kedua orang yang datang ke
posyandu lansia menghendaki adanya
pengobatan
secara
langsung,
sedangkan di program lansia ini
tujuannya hanya diteksi dini, dan
selanjutnya mungkin perlu adanya
lab-lab sederhana sehingga para
lansia
itu
tidak
jauh-jauh
melaksanakan lab ke puskesmas,

Junal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

karena puskesmas yang memiliki lab


kebanyakan dekat jalan raya jadi
lansia kesulitan untuk hal itu.
(informan Ag)
Walaupun hal ini bertentangan dengan
prinsip preventif dan promotif
Pemberian obat di puskesmas, jadi
lansia periksa ke posyandu lalu ambil
obatnya di puskesmas. Kan posyandu
lansia itu isinya preventif dan promotif
kalau kuratif dan rehabilitatif itu baru
di puskesmas.tidak boleh pemberian
obat pada posyandu. (informan R)
Melihat dari perkembangan situasi
dan kondisi saat ini posyandu lansia
akan semakin ditinggalkan, hal ini
sesuai dengan wawancara mendalam :
Ya itu rata-rata kami tanya ke
petugas
dilapangan,
gapain
(menegaskan) ke posyandu nungguin
orang omong gak dapat obat, hanya
tensi dan timbang saja, mending ke
puskesmas dapat obat atau ke pustu.
(informan R)
Oleh sebab itu perlu adanya
advokasi kebijakan mengenai batasan
pelayanan sehingga meningkatkan
daya jual dari posyandu lansia. Hal ini
bisa diwujudkan melalui salah satu
contohnya
adalah
penyediaan
ambulance untuk lansia. Dimana
nantinya lansia tidak perlu jauh-jauh
datang ke puskesmas sehingga
fasilitias ini bisa dibuat secara
swadana dan dibantu oleh pemerintah
kota mengingat kesejahteraan lansia
tidak hanya menjadi tugas Dinas
Kesehatan, melainkan usaha bersama
dalam peningkatan kesejahteraan
lansia.
b. Posyandu lansia dalam sistem
rujukan berjenjang
Dari hasil assement dan wawancara
mendalam dapat dilihat bahwa Kota
Mojokerto sudah memiliki sistem
kesehatan yang berjenjang :
Rujukan yang selama ini kita lakukan
adalah rujukan secara berjenjang
dimana di rujuk ke puskesmas

terdekat. Kalau puskesmas tidak


mengatasi baru bisa dirujuk ke
rumahsakit.
(Informasi Ag)
Sebagai usulan dimana untuk
meningkatkan nilai jual dari posyandu
lansia, mungkin bisa dipertimbangkan
mengenai posyandu lansia untuk bisa
mengakses layanan lebih tinggi,
mengingat kondisi lansia yang rentang
terhadap
penyakit
degeneratif.
Sehingga lansia tidak harus susah dulu
ke puskesmas dulu untuk pemeriksaan
lebih lanjut ke rumah sakit (dalam
kontek
lansia
memiliki
akses
penggunaan
jamkesda
Kota
Mojokerto)
Posyandu rata-rata hanya dilakukan
sebulan sekali pas seperti kontrol yang
dilakukan
penderita
penyakit
degeneratif (DM, Jantung) yang selalu
kontrol 1 bulan sekali ke dokter
spesialis di RS. Hal ini menjadi satu
usulan yang perlu dikaji lagi melihat
dari segi keefisiean dan keefektifan.
Pembahasan
Pelayanan
kesehatan
pada
posyandu
lansia
dengan
berdasarkan Indikator kualitas
hidup lansia di Kota Mojokerto
Sebagian besar responden berada
pada kelompok umur 60-70 tahun.
Nisman (1998, dalam Rahayu, 2009)
dalam penelitiannya menyatakan
bahwa semakin tua umur lansia tingkat
ketergantungannya akan semakin
tinggi. Mayoritas responden penelitian
berada kelompok umur yang sama,
sehingga penurunan fisik akibat proses
penuaan yang dialami lansia.
Tingkat pendidikan pada lansia
dipengaruhi oleh ketersediaan dana
pendidikan dan sarana pendidikan
masa lalu. Kelemahan ekonomi
memiliki andil yang besar terhadap
tingkat pendidikan seseorang, karena
pada zaman dahulu masih belum
banyak dana bantuan pendidikan dan
121

Pengembangan Model Pelayanan Kesehatan Pada Posyandu Lansia Berdasarkan Indikator Kualitas
Hidup Di Kota Mojokerto (Agus Murdianto)

mereka
cenderung
lebih
mendahulukan kebutuhan pokoknya
sehari-hari. Meskipun pada awal
kemerdekaan sudah didirikan beberapa
pendidikan tinggi seperti UGM dan
UI, namun sistem pendidikan pada
saat itu masih dibuat berjenjang, tidak
berlaku untuk semua kalangan dan
berdasarkan tingkat kelas (Syaif,
2009)
Penelitian Rini (2008) menyatakan
ada pengaruh peer group support
terhadap interaksi sosial lansia. Peer
group support membantu lansia
mendapatkan kesempatan berinteraksi
dengan sesamanya sehingga akan
terbentuk hubungan yang positif
dalam diri lansia dan hubungan
sosialnya akan meningkat.
Pengembangan Model Pelayanan
Kesehatan Lansia Pada Posyandu
Kota Mojokerto.
Berdasarkan
hasil
penelitian
diperoleh bahwa 49,5 % lansia belum
memiliki asuransi kesehatan. Hal ini
bertentangan dengan data dari Dinas
Kesehatan Kota Mojokerto bahwa per
1 januari 2013, Kota Mojokerto sudah
menjalankan Total coverage untuk
masalah jaminan kesehatan di seluruh
warga Kota Mojokerto. Hal ini terjadi
karena mayoritas lansia belum
mengetahui dan merasa belum
menggunakan askes total coverage
dari Dinas Kesehatan.
Untuk pengembangan pelayanan
pada posyandu lansia ada beberapa hal
yang dapat menjadi usulan yaitu
adovaksi posyandu lansia dalam
sistem rujukan berjenjang, advokasi
kebijakan mengenai pengobatan dan
pemeriksaan lab pada posyandu lansia,
Penambahan petugas kesehatan dalam
program posyandu lansia. Semua
usulan diatas bersumber dari faktor
enabling karena faktor individu lansia
berdasarkan kualitas hidup sudah
cukup. Dan masalah dilapangan yang
terjadi karena faktor pelayanan yang

122

kurang memadai sehingga cakupan


pelayanan tidak tercapai dengan baik.
Kesimpulan
a. Karakteristik lansia pada posyandu
Kota Mojokerto sebagian besar
adalah
lansia
wanita,
berpendidikan dasar yaitu antara
lulus sd dan tamat SMP, tidak
bekerja, tidak memiliki asuransi
kesehatan dan berstatus masih
memiliki pasangan. Mengenai
pengetahuan dan sikap responden
sebagian besar termasuk dalam
kategori cukup;
b. Faktor
yang
mempengaruhi
pelayanan
kesehatan
pada
posyandu lansia Kota Mojokerto
berdasarkan hasil perhitungan
diperoleh
bahwa
pendidikan,
pekerjaan dan pengetahuan menjad
sebagian besar faktor yang
berpengaruh pelayanan kesehatan
pada posyandu lansia;
c. Berdasarkan indikator pelayanan
kesehatan diperoleh kesimpulan
bahwa sebagian besar posyandu
lansia di Kota Mojokerto termasuk
dalam kategori sedang, ada 2
posyandu di daerah blooto dan
mentikan masih mendapatkan skor
kurang dikarenakan ada beberapa
item belum memenuhi yaitu
frekuensi berjalanannya posyandu
dan pelayanan lab;
d. Alur pelayanan pada posyandu
lansia Kota Mojokerto sebagian
besar masih menggunakan sistem
3
meja
yaitu
pendaftaran,
pemeriksaan tensi dan berat badan
serta penyuluhan kesehatan;
e. Kualitas hidup lansia pada
posyandu di Kota Mojokerto
sebagian
besar
mendapatkan
indeks cukup, hal ini dikarenakan
pada setiap domain kualitas hidup
pun
sebagian
besar
lansia
mendapatkan cukup juga dalam
domain kesehatan fisik, psikologis,
hubungan sosial dan lingkungan;

Junal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

f. Pengembangan model pelayanan


kesehatan lansia pada posyandu
Kota Mojokerto yaitu kebijakan
mengenai posyandu lansia dalam
sistem
rujukan
berjenjang,
kebijakan mengenai pengobatan
dan
pemeriksaan
lab
pada
posyandu lansia serta penambahan
petugas kesehatan dalam program
posyandu lansia;
g. Berdasarkan hasil analisa data
menggunakan
uji
spearmen
mengenai hubungan pelayanan
kesehatan pada posyandu dengan
kualitas hidup didapatkan nilai
signifikansi (0,229) (p) > alfa ( =
0,05), maka dapat dikatakan
kualitas hidup tidak signifikan
dengan penilaian pada pelayanan
kesehatan pada posyandu.
Saran
Bagi Posyandu lansia
a. Meningkatkan
akses
lansia
terhadap
pelayanan
kesehatan
dengan
cara
dibentuknya
kelompok-kelompok
lansia,
terutama di komunitas, guna
pemenuhan kebutuhan akan dana
kesehatan.
b. Meningkatkan
informasi
dan
pengetahuan
lansia
mengenai
kesadaran dirinya mengenai proses
penuaan yang mereka alami,
perilaku sehat bagi lansia dan
manajemen keuangan yang dapat
diberikan pada kelompok lansia
Bagi Dinas Kesehatan Kota Mojokerto
a. Meningkatkan
brand
image
posyandu
lansia,
dengan
memberikan layanan yang sesuai
dengan pedoman dalam KMS
lansia yang konsepnya tetap bukan
sebagai suplyer melainkan rekan
kerja dalam upaya peningkatan
UKBM.
Bagi Peneliti selanjutnya
a. Diharapkan dapat lebih spesifik lagi
dalam menentukan batasan variabel
yang akan diteliti dengan jumlah

sampel yang lebih besar dan


homogen, sehingga hasil penelitian
lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Ajzen, I. (1991). The Theory of
Planned
Behavior.
[Organizational Behavior and
Human Decision Processes].
Organ Behav Hum Decis
Process , 50 : 179-211.
Bridgman, R. F. (1967). An
International Study on Hospital
Utilization. World Health
Organization, Geneva.
Bustan, N. (2000). Epidemiologi
Penyakit
Tidak
Menular.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Bartholomew, L. K., Parcel, G. S.,
Kok, G., & Gottlied, N. H.
(2006).
Planning
Health
Promotion : An Intervention
Mapping Approach 2nd edition
(2 ed.). san francisco: JosseyBass.
Depkes
RI.
2000a.
Pedoman
Pembinaan Kesehatan Usia
Lanjut Bagi Petugas Kesehatan
I. Jakarta : Depkes RI.
Depkes
RI.
2000b.
Pedoman
Pembinaan Kesehatan Usia
Lanjut Bagi Petugas Kesehatan
II. Jakarta : Depkes RI.
Depkes
RI.
2003.
Pedoman
Pengelolaan Kesehatan di
Kelompok Usia Lanjut. Jakarta
: Depkes RI.
Depkes RI. 2007. Kartu Menuju Sehat
Lanjut Usia. Propinsi Jawa
Timur :
Program
Upaya
Kesehatan Masyarakat.
Gounaris, C. C. (2010). Health
Services
Quality
and
123

Pengembangan Model Pelayanan Kesehatan Pada Posyandu Lansia Berdasarkan Indikator Kualitas
Hidup Di Kota Mojokerto (Agus Murdianto)

Management
in
Greece
Efficiency and Effectiveness of
NHS Secondary Health Care
Units. Athens University of
Economic and Business .

Hsu, J. (2010). The relative effciency


of public and private sector.
World Health Organization,
Geneva.

Group, T. W. (1988). Psycol Med.


Development of the World
Health
Organization
WHOQOL-BREF quality Of
Life Assessment , 28 : 551-58.

Lemeshow, S & David W.H.Jr, 1977.


Besar Sampel dalam Penelitian
Kesehatan
(terjemahan),
Gajahmada Universty Press,
Yogyakarta.

Greenfield, et al. 2009. Do Formal


Religious Participation And
Spiritual Perceptions Have
Independent Linkages With
Diverse
Dimensions
Of
Psychological Well-Being?. J
Health Soc Behav. 2009 June;
50(2): 196-212

Nazir.

Gilmore, & Campbell. (1996). Need


assessment
strategies
for
health education and health
promotion (2nd ed.). Madison
WI: Brown & Benchmark.
Goodman, R., Speers, McLeroy,
Fawcett, Kegler, & Parker.
(1998).
Identifying
and
defining the dimensions of
community capacity to provide
a basis for measurement.
Health
Education
and
Behaviour (25), 258-278.
Hawari, D. (2007). Sejahtera di Usia
Senja. Jakarta: FKUI.
Henniwati. 2008. Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Pemanfaatan
Pelayanan Posyandu Lanjut
Usia di Wilayah Kerja
Puskesmas Kabupaten Aceh
Timur
[tesis].
Medan:
Universitas Sumatera Utara.
USU e-Repository @2009.
Hutapea, R. 2005. Sehat & Ceria
diusia Senja: Suatu Awal Baru.
Jakarta: PT. Rineka Cipta
124

2003. Metode
Jakarta : Ghalia.

Penelitian.

Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan


Perilaku Kesehatan. Jakarta:
PT Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. 2005. Metode
Penelitian Kesehatan. Cetakan
ketiga. Jakarta : PT Rineka
Cipta.
Notoatmodjo, S. 2007. Kesehatan
Masyarakat: Ilmu dan Seni.
Jakarta : PT Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2007). Kesehatan
Masyarakat: Ilmu dan Seni.
Jakarta: PT Rineka Cipta
Nurkusuma, D. D. (2001). Posyandu
Lanjut Usia di Puskesmas Pare
Kabupaten
Temanggung.
Retrieved Oktober 31, 2010,
from
Tempo:
http://www.tempo.co.id/medik
a/arsip/082001/lap-1.htm.
World
Health
Organization.
Introduction, administration,
scoring and generic version of
the assessment: field trial
version. Geneva: World Health
Organization; 1996

UPAYA MENINGKATKAN BED OCCUPANCY RATE BERDASARKAN


ANALISIS KARAKTERISTIK KONSUMEN, BRAND IMAGE
DAN KEPUTUSAN PEMBELIAN PASIEN UMUM
DI RUMKITAL Dr. RAMELAN SURABAYA
Caecilia Indarti1 Widodo J Pudjirahardjo2 Darmawan Setijanto3
1

Rumah Sakit TNI AL Dr. Ramelan Surabaya


E-mail: caeciliaindarti@ymail.com
2
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga Surabaya
3
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga Surabaya

Abstract : The aims of this research was to increase bed occupancy rate
(BOR) based on analysis of consumer characteristics, brand image and
purchase decisions public patient in Dr. Ramelan the Navy Hospital
(Rumkital Dr. Ramelan). This research was observational analytic, a
marketing research with cross sectional method. Method of analysis was
descriptive statistics and chi-square test. The results of this study indicate
that there was no significance difference on individual and social
characteristics of patients who are taking inpatient treatment and those who
are not in Dr. Ramelan Navy Hospital expect for individual characteristics in
term of the frequency in inpatient service use. On psychographic
characteristics showed significant correlation in the four sub variables:
motivation, perception, learning, attitudes and beliefs. The brand image
variabels showed significant correlation on types of brand association and
favorability of brand association. On strength of brand association and
uniqueness of brand association there was no significant correlation in
purchasing decisions. The types of brand association consisting of product
related attributes, non products related attrbutes, benefits and attitudes have
a significant relationship. The benefits of the service is very influential factors
in purchase decision. Speed and efficiency of service were very strong
influence favorability of brand association on the purchase decision.
According to these results it can be concluded that brand image of Rumkital
Dr. Ramelan influences inpatient purchasing decisions, while the individual
characteristics factors, social and psychographics influence the brand image
on purchase decisions hospitalization. Building a positive brand image will
improve inpatient decision in Rumkital Dr Ramelan.
Keywords: consumer characteristics, brand image, purchase decision

Latar Belakang
Pelayanan kesehatan di Indonesia
tahun 2014
mengalami
perubahan
paradigma. Adanya Peraturan Presiden
Republik Indonesia nomor 12 tahun
2013 tentang
Jaminan Kesehatan,
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004
tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
(SJSN), dan Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial (BPJS) selaku badan

hukum
yang
dibentuk
untuk
menyelenggarakan
program
Jaminan
Kesehatan. Perubahan pelayanan berbasis
kendali mutu dan biaya ini, harus disikapi
majaerial rumah sakit.
Dengan adanya SJSN ini, Rumkital
Dr. Ramelan perlu membangun brand
image yang positif, karena di era BPJS
anggota TNI AL dan keluarganya serta
masyarakat bebas bisa berobat ke fasilitas
kesehatan dimanapun berada yang bekerja

Upaya Meningkatkan Bed Occupancy Rate Berdasarkan Analisis Karakteristik Konsumen, Brand Image Dan
Keputusan Pembelian Pasien Umum

sama dengan BPJS. Dengan demikian


keputusan pembelian akan pelayanan
kesehatan bagi anggota TNI AL dan
keluarganya serta masyarakat akan sangat
dipengaruhi oleh rumah sakit yang brand
imagenya positif
Brand image merupakan cerminan
dari dimensi mutu pelayanan. Menurut
Kotler
dan
Keller
(2009)
yang
mendefinisikan citra merek (brand image)
sebagai seperangkat keyakinan, ide, dan
kesan yang dimiliki oleh seseorang
terhadap suatu merek. Dengan brand
image Rumkital Dr. Ramelan akan
berpengaruh terhadap perilaku konsumen
dalam memanfaatkan jasa pelayanan di
Rumkital Dr. Ramelan.
Pasien yang berobat di Rumkital
Dr. Ramelan dikatagorikan menjadi 3
kelompok yaitu kelompok pertama adalah
TNI (TNI AD,TNI AL,TNI AU) dan
keluarganya, kelompok yang kedua adalah
pasien umum yang terdiri dari pasien
umum yang datang sendiri, pasien
kerjasama dan pasien pribadi dari dokter
keluarga pasien yang bersangkutan,
kelompok ketiga adalah pasien Askes yang
terdiri dari Askes Hankam, Askes Non
Hankam dan Jamkesmas.
Komposisi kontribusi pasien yang
berobat di Rumkital Dr. Ramelan adalah
sebagai berikut:
pasien TNI dan
keluarganya sekitar 43 %, pasien Askes 35
%, pasien umum kurang lebih 22 %
(Minmed Rumkital Dr. Ramelan, 2012)..
Kemungkinan
penyebab
rendahnya persentase pasien umum yang
berobat ke Rumkital Dr. Ramelan adalah
kualitas pelayanan dirasakan belum sesuai
dengan
harapan
pasien,
kebijakan
pelayanan untuk memberikan prioritas
kepada pasien TNI dan keluarganya dalam
hal cadangan ruangan serta kurangnya
promosi pemasaran.
Salah satu indikator pelayanan
rumah sakit yang digunakan untuk
mengetahui kondisi kinerja pelayanan,
tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi
pelayanan rumah sakit adalah nilai BOR
Pemanfaatan rumah sakit dapat dicapai
126

melalui keputusan pembelian pasien untuk


berobat ke Rumkital Dr. Ramelan, akan
tetapi sebaliknya apabila keputusan
pembelian pasien pada Rumkital Dr.
Ramelan tidak sesuai dengan harapan
rumah sakit, maka hal ini mengakibatkan
rendahnya tingkat hunian rawat inap
(BOR). BOR Rumkital Dr. Ramelan ratarata 4 tahun terakhir sebagaimana
ditunjukkan pada tabel 1 sebagai berikut:

Tabel 1

Tingkat Hunian Pasien Rawat


Inap (BOR) Rumkital Dr.
Ramelan Tahun 2009-2012

Tingkat Hunian Rawat Inap (BOR)


Bu
lan

Tahun
2009
56,4%

2010
51,9 %

2011
56,3%

2012
65,2%

55,7%

51,9 %

57,3 %

64,5%

59,7%

58,0 %

59,4 %

61,1%

62,7%

60,8 %

58,4 %

61,5%

57,7%

63,7 %

61,8 %

60,6%

55,3%

53,0 %

59,0 %

61,9%

59,1%

58,3 %

44,6 %

63,4%

52,1%

54,7 %

49,4 %

53.0%

42,0%

47,0 %

53,9 %

61,7%

58,4%

54,1 %

57,6 %

63,1%

47,2%

59,3 %

60,1 %

64,3%

51,7%

58,0 %

55,0 %

60,3%

54,8%

55,9 %

56,1 %

62,5%

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Re
Ra
ta

Rerata
Persen
tase
BOR
57,45
%
57,35
%
59,55
%
60.85
%
60,95
%
57,30
%
59.57
%
52,30
%
51,15
%
58,30
%
57,73
%
56,25
%
57,33
%

Sumber :Data sekunder dari Minmed Rumkital


Dr.Ramelan, 2012

Berdasarkan tabel 1 menunjukkan


bahwa tingkat hunian rawat inap (BOR)
tahun 2009 sampai tahun 2012 berkisar
57,33%, di mana angka ini masih dibawah
ketentuan BOR yang ideal (Depkes RI,
60-85%). Lebih lanjut dapat dipelajari
pada tabel 2, tingkat hunian rawat inap

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

(BOR) dan kontribusi pasien berdasarkan


kelas perawatan yang dikelompokkan
menjadi 3 kelompok yaitu kelompok
pasien TNI, Umum dan Askes pada tahun
2009-2012 di Rumkital Dr. Ramelan
sebagai berikut:
Tabel 2 Tingkat Hunian Pasien Rawat
Inap (BOR) dan Kontribusi
Kelompok
Pasien
(%)
Berdasarkan Kelas Perawatan
Rumkital Dr. Ramelan, Tahun
2009-2012
N
o.

1.

2.

3.

4.

Kelas
Perawata
n

Kontribusi
Rerata
Persentase dan Tingkat
persen
Hunian Rawat Inap (%)
tase
Tahun
&
200 201 20 201
BOR
PAV
9
0
11 2
8 (VIP)
TNI
12,
12,
12 10,
9
2
,3
3
11,9
(TT= 10)
24,
23,
21 38,
Umum 7
27,2
6
,5
9
62,
64,
66 50,
4
2
,2
8
Askes
60,0
BOR
37,
38,
39 39,
38,7
1
2
,8
6
Kelas I
25,
24,
24 16,
22,7
(TT= 92) TNI
1
9
,3
2
31,
31,
31 41,
4
,6
8
Umum 5
30.1
43,
43,
44 42,
Askes
43,2
4
7
,1
0
59,
58,
58 62,
59,7
9
4
.4
0
BOR
Kelas II
28,
27,
28 34,
9
6
,3
2
TNI
29,8
(TT=
24,
25,
25 26,
189)
Umum 9
25,4
3
,0
7
46,
47,
46 39,
2
1
,7
1
Askes
44,8
60,
65,
65 65,
64,2
7
2
,2
5
BOR
Kelas III
47,
47,
47 48,
TNI
47,8
9
9
,3
2
(TT=
37,
36,
37 35,
287)
1
,7
4
Umum 3
36,6
14,
16,
15 16,
8
0
,0
4
Askes
15,6
61,
62,
61 62,
61,9
7
2
,2
3
BOR
Sumber : Data sekunder dari Minmed Rumkital
Dr. Ramelan, 2012
Kelom
pok
Pasien
dan
BOR

Pada tabel 2 menunjukkan BOR


pada kelas VIP paling rendah. Pada Kelas

VIP, I dan II pasien yang paling banyak


adalah Askes, dimana pasien Askes ini
dari Askes Hankam yang merupakan
peserta Askes dari para purnawirawan
TNI. Pada kelas III pasien yang terbanyak
adalah dari TNI. Untuk pasien TNI dan
keluarganya penempatan kelas rawat inap
berdasarkan
kepangkatannya.
Pasien
umum baik pada VIP, kelas I, kelas II, dan
kelas III berkisar 30%. Dari tabel ini dapat
disimpulkan bahwa pasien yang berobat ke
Rumkital
Dr.
Ramelan
persentase
terbanyak dari keluarga besar TNI baik
yang masih aktif maupun yang sudah
purnawirawan.
Berdasarkan tabel 2 kontribusi
kelompok
pasien
menurut
kelas
perawatan, dimana kontribusi pasien
umum yang rendah, maka masalah yang
diangkat dalam penelitian ini adalah
Rendahnya kontribusi pasien umum
yang menggunakan
rawat
inap di
Rumkital Dr. Ramelan rata-rata dari tahun
2009 sampai 2012 sebesar 25,4%-36,6%
.
Metode Penelitian
Penelitian ini adalah observasional
deskriptif dengan rancang bangun
penelitian cross sectional. Unit analisis
penelitian adalah Rumkital Dr. Ramelan
Surabaya. Pengumpulan data dilakukan
pada bulan Mei-Juni 2013. Sumber
informasi penelitian ini dibagi menjadi 2
kelompok:
a. Kelompok pasien umum yang
pada saat penelitian ini sedang
menggunakan pelayanan rawat
inap di Rumkital Dr. Ramelan
(kelompok A) sedikitnya 2 hari
perawatan.
b. Kelompok pasien umum yang
rawat jalan namun tidak
bersedia menggunakan rawat
inap di Rumkital Dr. Ramelan
dan memilih menggunakan
rumah sakit lain, namun pernah
menggunakan rawat inap di
Rumkital
Dr.
Ramelan
(kelompok B)

127

Upaya Meningkatkan Bed Occupancy Rate Berdasarkan Analisis Karakteristik Konsumen, Brand Image Dan
Keputusan Pembelian Pasien Umum

c. Apabila pasien belum berusia


dewasa (bukan pengambil
keputusan) maka wawancara
dilakukan
dengan
orang
tuanya.
Dalam penelitian ini, digunakan
kuesioner dengan metode Likerts
Summated Rating pada pertanyaan
karakteristik psikografis dan brand image.
Sebelum dilakukan penelitian, terlebih
dahulu dilakukan uji validitas dan
realibitas. Uji validitas dan reliabilitas ini
dilakukan dengan uji coba pada pasien
umum yang menggunakan rawat inap
sebanyak 30 orang. Uji validitas dan
reliabilitas ini dilakukan pada variabel
psikografis yang meliputi: motivasi,
persepsi, sikap dan keyakinan dan variabel
brand image.
Perhitungan validitas. Nilai Sig. (2tailed) antara masing-masing variabel
dengan skor total
variabel dengan
=
menggunakan tingkat signifikansi
0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa ada
hubungan yang signifikan antara variabel
dengan skor total variabel apabila nilai p<
0,05. Hasil dari uji validitas ini pada
masing-masing variabel diatas dinyatakan
valid.
Penghitungan reliabilitas dilakukan
dengan menggunakan metode konsistensi
internal melalui Alpha Cronbach.. Untuk
melihat aitem yang reliabel dan tidak,
maka
dapat
dilakukan
dengan
membandingkan Cronbach Alpha if Item
Deleted dengan Cronbach Alpha, jika
nilainya lebih besar maka aitem tersebut
dinyatakan tidak reliabel. Hasil yang
didapat masing-masing variabel diatas
dinyatakan reliabel.
Tahap analisa data penelitian untuk
menyusun upaya meningkatkan tingkat
hunian rawat inap pasien umum dan
branding Rumkital Dr. Ramelan, yaitu:
1. Untuk identifikasi karakteristik
konsumen maka data diolah secara
deskriptif dengan menampilkan
nilai frekuensi dan persentasenya.

128

2. Untuk analisis terhadap brand


image data diolah secara deskriptif
dengan
menampilkan nilai
frekuensi dan persentasenya.
3. Analisis dengan uji chi-square
dilakukan
untuk
mengetahui
perbedaan pada setiap variabel
karakteritik
individu,
sosial,
psikografis dan brand image antara
individu yang menggunakan dan
yang tidak menggunakan rawat
inap Rumkital Dr. Ramelan dengan
0,05.
4. Untuk melihat besarnya perbedaan
atau kekuatan dan arah hubungan
dianalisis
dengan
correlation
coefficient (Coefficient Contigency
atau Cramers V atau Coefficient
phi)
5. Hasil dari analisis data tersebut
dapat disusun isu strategis, dengan
cara membandingkan hasil analisis
brand image yang menggunakan
rawat inap dengan yang tidak
menggunakan rawat inap. Penilaian
brand image berdasarkan katagori
nilai mean pada tiap komponen
6. Brand image yang nilai katogori
mean sangat jelek dan jelek,
dinilai sebagai brand image yang
negatif, dan diangkat sebagai isu
strategis. Selanjutnya dipelajari
pada kelompok pasien yang mana,
apakah yang menggunakan atau
yang tidak menggunakan rawat
inap.
Kemudian dianalisis
karakteristik individu, sosial dan
psikografisnya.
7. Tahap berikutnya dilakukan Focus
Group Discussion (FGD) dengan
jajaran manajemen Rumkital Dr.
Ramelan, dan dilakukan telaah
peneliti.
8. Tahap terahkir adalah menyusun
rekomendasi upaya meningkatkan
BOR ruang rawat inap pasien
umum dan branding Rumkital Dr.
Ramelan pada komponen yang
brand imagenya masih negatif.

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

Hasil dan Pembahasan


1.
Pengaruh
Karakteristik
Konsumen Dengan Keputusan
Pembelian Ruang Rawat Inap di
Rumkital Dr. Ramelan
Hubungan karakteristik konsumen
dan keputusan pembelian disajikan pada
tabel 3 berikut ini:
Tabel 3 Uji
Statistik
Karakteristik
Konsumen dengan Keputusan
Pembelian Pasien umum pada
Ruang Rawat Inap di Rumkital
Dr. Ramelan
N
o

1
2

3
4

Keteran
gan

Umur

0,19
6

Pendapata
n

0,25
3

Gaya
Hidup

0,33
0

Pendidikan

0.41
2

Domisili

0.45
7

Pekerjaan

0.74
3

Kepribadia
n

0,83
7

Jenis
Kelamin

0,97
2

Karakterist
ik Sosial
Kelompok
acuan

Karakterist
ik
Konsumen
Karaktersi
stik
Psikografi
s

Total Sikap
dan
Keyakinan
Total
Pembelajar
an
Total
Pembelajar
an
pelayanan
dokter
Total
Pembelajar
an
pelayanan
perawat
Total
Pembelajar
an
pelayanan
petugas
administrasi
Total
Motivasi
Total
Persepsi

0,00
1

Signifik
an

0,718

0,00
1

Signifik
an

0,670

1.

0.00
1

Signifik
an

0.670

2.

Keluarga

0.94
4

3.
0.00
1

Signifik
an

0,461

Peran dan
Status

0,68
3

Coeffici
ent

0,00
1

Signifika 0.444
n

0,00
1
0,00
1

Signifik
an
Signifik
an

Karakteristi
k Individu

Frekuensi
Penggunaa
n Rawat
Inap

0,00
5

Keteran Coeffici
gan
ent
Signifika 0.315
n

0,611
0,592

0,52
2

Tidak
signifika
n
Tidak
Signifika
n
Tidak
Signifik
an
Tidak
signifika
n
Tidak
signifika
n
Tidak
signifika
n
Tidak
signifika
n
Tidak
signifika
n
Keteran
gan
Tidak
signifika
n
Tidak
signifika
n
Tidak
signifika
n

0,271

0,252

0,213

0,195

0,220

0,218

0,139

0.033

Coeffici
ent
0,208

0,101

0,144

Berdasarkan tabel 3, dapat


dipelajari bahwa pada karaktersitik
konsumen, variabel yang mempunyai
pengaruh hubungan dengan keputusan
pembelian adalah karakteristik psikografis.
Pada karakteristik psikografis ini keempat
variabel tersebut (motivasi, persepsi,
pembelajaran, sikap dan keyakinan)
mempunyai hubungan yang signifikan.
Dari keempat variabel tersebut, yang
kekuatan hubungan paling kuat dengan
keputusan pembelian adalah pada variabel
sikap dan keyakinan dengan kekuatan
hubungan katagori kuat (coefficient =
0,718). Berikutnya adalah pembelajaran
(coefficient = 0,670), motivasi (coefficient
129

Upaya Meningkatkan Bed Occupancy Rate Berdasarkan Analisis Karakteristik Konsumen, Brand Image Dan
Keputusan Pembelian Pasien Umum

= 0,611), dan persepsi (coefficient =


0,592).
Pada karakteristik individu, yang
berpengaruh signifikan pada keputusan
pembelian adalah frekuensi penggunaan
rawat inap dengan kekuatan hubungan
pada keputusan pembelian adalah lemah
(coefficient = 0,315) artinya orang yang
pernah menggunakan rawat inap apabila
orang tersebut puas maka cenderung akan
mengambil keputusan untuk menggunakan
kembali, sebaliknya jika tidak sesuai
dengan yang diharapkan, maka ada
kecenderungan orang tersebut tidak
menggunakan kembali rawat inap di
Rumkital Dr. Ramelan.
Pada karakteristik sosial, tidak
mempunyai pengaruh dalam keputusan
pembelian, artinya siapa saja yang
berperan mempengaruhi atau mendorong
orang dalam pengambilan keputusan
pembelian baik itu kelompok acuan,
keluarga responden maupun peran dan
status
antara
responden
yang
menggunakan
dengan
yang
tidak
menggunakan
rawat
inap
tidak
berpengaruh secara signifikan pada
keputusan pembelian.
Karakteristik
psikografis
memegang peranan kunci dalam keputusan
pembelian, dimana komponen pada
karakteristik
psikografis
ini,
yaitu
motivasi,
persepsi,
sikap
dan
pembelajaran mempunyai hubungan yang
signifikan dengan keputusan pembelian..
Sikap (attitudes) konsumen adalah faktor
penting yang
akan
mempengaruhi
keputusan konsumen.
Berdasarkan hasil penelitian, sikap
dan keyakinan pasien yang katagori jelek
maka pasien tidak menggunakan rawat
inap (nilai mean 2,38), pasien merasa
kurang puas sewaktu menggunakan rawat
inap, karena kurang yakin akan cepat
segera mendapatkan kesembuhan, tentunya
hal ini akan berakibat pada keputusan
pembelian di masa mendatang. Menurut
Schiffman
dan
Kanuk
(2008)
mendefinisikan sikap adalah respon yang
konsisten baik itu respon positif maupun
130

negatif terhadap suatu objek sebagai hasil


dari proses belajar. Sedangkan menurut
Hawkins (2009), sikap adalah proses
pengorganisasian motivasi, emosi persepsi,
kognitif yang bersifat jangka panjang.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
sikap bersifat menetap karena sikap
memiliki kecenderungan berproses dalam
kurun waktu panjang sebagai hasil dari
pembelajaran.
Demikian juga dengan motivasi
berpengaruh pada keputusan pembelian
karena setiap produk atau jasa layanan
mampu membangkitkan sekumpulan motif
yang unik dalam diri konsumen (Keller,
2008). Lebih lanjut dikatakan, penjual
harus berusaha menghindari faktor yang
menyebabkan
ketidak
puasan
dan
mengindentifikasi serta menyediakan
faktor yang mampu memberikan kepuasan
pasien. Berdasarkan hasil penelitian yang
didapat bahwa promosi yang dilakukan
Rumkital Dr. Ramelan belum mampu
menjadi daya tarik untuk medorong
responden yang tidak menggunakan rawat
inap (nilai mean 2,17 katagori jelek).
Promosi
bertujuan
untuk
mengkomunikasikan
manfaat
dan
kelebihan produk atau nilai jasa yang
ditawarkan rumah sakit kepada pasien
yang
membutuhkan
dan
akan
memanfaatkan pelayanan jasa tersebut.
Untuk itu Rumkital Dr. Ramelan perlu
melakukan upaya promosi sebagai sarana
untuk menyampaikan informasi yang
lengkap kepada pasien agar dapat menarik
pasien menggunakan rawat inap di
Rumkital Dr. Ramelan.
Pengalaman
yang
di
dapat
berdasarkan
pembelajaran
akan
menentukan tindakan dan pengambilan
keputusan untuk membeli, karena jika
pengalaman tersebut baik, maka besar
kecenderungan
untuk
menggunakan
kembali. Hasil penelitian menunjukkan
pembelajaran pada pelayanan dokter baik
bagi pasien yang menggunakan maupun
tidak menggunakan rawat inap, namun
pada visite dokter merupakan pengalaman
yang dirasakan tidak memuaskan pasien

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

(mean 2,13 katogori jelek). Pada


dengan tarif pelayanan. Hal ini karena
pembelajaran
perawat,
ketrampilan
terkait dengan tarif yang harus dinaikan
perawat masih dirasakan kurang sesuai
agar biaya penyelenggaraan pelayanan
dengan yang diharapkan pasien yang tidak
dapat tertutup (cost recovery), karena jika
menggunakan rawat inap mean 2,50
tidak persepsi terhadap tarif bisa menjadi
katagori jelek). Pada pembelajaran petugas
kendala karena kehilangan pasien.
administrasi, hal yang belum sesuai
Menurut pengamatan peneliti, tarif di
dengan persepsi pasien adalah petugas
Rumkital Dr. Ramelan setara dengan tarif
dirasa kurang tanggap terhadap keluhan
yang ada pada rumah sakit lain. Oleh
(mean 2,50 katagori jelek).
karenanya perlu dilakukan evaluasi lebih
Dikatakan oleh Schiffman dan
mendalam apakah perlu merubah tarif atau
Kanuk (2008) bahwa pembelajaran
tidak. Langkah yang perlu diambil adalah
konsumen akan menentukan tindakan dan
menginformasikan tarif melalui media
pengambilan keputusan untuk membeli.
promosi dan web site yang bisa diakses
Apabila pengalaman yang didapat sewaktu
secara terbuka, sehingga masyarakat tidak
membeli baik, maka kemungkinan besar
mempunyai persepsi yang salah, perihal
akan kembali membeli di masa mendatang
tarif,
mensosialisasi
tarif
dengan
ketika membutuhkan. Demikian juga
menyebarkan brosur kepada pasien, serta
sebaliknya.
membuat paket pemeriksaan dengan tarif
Berdasarkan hasil penelitian yang
yang terjangkau, untuk memberikan brand
didapat, persepsi terhadap pelayanan
image terhadap tarif pelayanan Rumkital
masih kurang memberikan kepuasan
Dr. Ramelan.
pasien (mean 2,33 katagori jelek), hal ini
disebabkan pelayanan yang diberikan
2
Pengaruh Brand Image Dengan
belum sesuai dengan harapan, dan fasilitas
Keputusan Pembelian Ruang
belum sesuai dengan kebutuhan serta
Rawat Inap di Rumkital Dr.
persepsi masalah tarif menjadi kendala
Ramelan
bagi responden yang tidak menggunakan
rawat inap. (mean 1,80, katagori sangat
Variabel brand image ini terdiri
jelek).
dari 4 sub variabel. Pada sub variabel
Menurut Hartono (2010), pada
brand image yang mana yang mempunyai
umumnya rumah sakit menghadapi
kekuatan hubungan dan berpengaruh pada
masalah yang rumit bila berhadapan
keputusan pembelian, disajikan pada tabel 4 sebagai berikut:
Tabel 4
Uji Statistik Brand Image dengan Keputusan Pembelian Pasien Umum Pada Ruang Rawat
Inap di Rumkital Dr. Ramelan
No
1
2
a

b.
c.
d
3
4.

Variabel
Total Favorability of Brand Association
Total Type of Brand Associiation
Total Manfaat
Manfaat Pengalaman
Manfaat Simbolik
Manfaat Fungsional
Total Atribut Non Produk
Total Sikap
Total Atribut Produk
Total Strength of Brand Association
Total Uniqueness of Brand Association

P
0,001
0.001
0,001
0,002
0,002
0.006
0,001
0.001
0.005
0.528
0,365

Keterangan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Tidak Signifikan
Tidak Signifikan

Coefficient
0,529
0.447
0,529
0,408
0,390
0,358
0.480
0.444
0.365
0,111
0,305

131

Upaya Meningkatkan Bed Occupancy Rate Berdasarkan Analisis Karakteristik Konsumen, Brand Image Dan
Keputusan Pembelian Pasien Umum

Dari tabel 4 terlihat bahwa dari 4


variabel faktor pendukung brand image
yaitu Favorability of Brand Association
dan Type of Brand Associiation
berpengaruh secara signifikan pada
keputusan pembelian. Sedangkan Strength
of Brand Association dan Uniqueness of
Brand Association tidak berpengaruh
secara
signifikan
pada
keputusan
pembelian.
Pada Type of Brand Associiation
yang paling dominan mempunyai kekuatan
hubungan dengan keputusan pembelian
adalah manfaat. Dapat dimaknai bahwa
manfaat yang diterima dalam menjalani
perawatan rawat inap di Rumkital Dr.
Ramelan
sangat
penting
dalam
pengambilan keputusan, dalam hal ini
adalah manfaat pengalaman. Responden
yang berdasarkan pengalamannya yang
dulu, merasa medapatkan ketenangan,
kenyamanan, dan keadilan layanan akan
cenderung untuk menggunakan pelayanan
rawat inap di Rumkital Dr. Ramelan
kembali, disamping manfaat simbolik
yang dirasakan bahwa pelayanan yang
diberikan adalah pelayanan yang bermutu
dan manfaat fungsional yang didapatkan
yaitu mendapatkan jaminan kesembuhan
dan keakuratan diagnosa.
Disamping nilai manfaat, atribut
non produk, sikap, dan atribut produk
mempunyai pengaruh yang signifikan pada
keputusan pembelian.
Konsumen dengan brand image yang
positif akan lebih memungkinkan untuk
melakukan
pembelian.
Merek
menyediakan daya tarik emosional ketika
pemikiran rasional tidak mampu memilih.
Citra merek yang positif dapat membantu
konsumen untuk menolak aktifitas yang
dilakukan oleh pesaing dan sebaliknya
menyukai aktifitas yang dilakukan oleh
merek yang disukainya serta selalu
mencari informasi yang berkaitan dengan
merek tersebut (Schiffman dan Kanuk,
2008). Brand image berpengaruh positif
terhadap keputusan pembelian dengan

132

perantara brand Attitude juga disampaikan


oleh Shwu-lng and Chen-Lien (2009).
Hasil penelitian didapatkan bahwa
Favorability
of
Band
Association
berpengaruh
kuat
pada
keputusan
pembelian. Kesabaran dokter untuk
mendengarkan apa yang dikeluhkan
pasien, perhatian perawat dengan rasa
empati kepada pasien, prosedur pelayanan
dan proses pelayanan menunjukkan
hubungan
yang
signifikan
dengan
keputusan pembelian.

Pada Types of Brand Association


juga
menunjukkan
pengaruh
pada
keputusan pembelian, dengan korelasi
hubungan yang kuat pada manfaat.
Apabila pasien merasakan nilai manfaat
diterima sesuai dengan motivasi keputusan
pembelian, maka akan sangat berpengaruh
pada keputusan beli di masa mendatang.
Nilai manfaat yang berpengaruh pada
keputusan pembelian adalah manfaat
fungsional, manfaat pengalaman dan
manfaat simbolik. Manfaat pangalaman
menunjukkan korelasi yang kuat dengan
keputusan pembelian. Menurut Keller
(2003), manfaat pengalaman sangat kuat
pengaruhnya dalam keputusan pembelian.
Disamping
manfaat,
atribut
juga
berpengaruh pada keputusan pembelian.
Atribut ini dibagi menjadi atribut produk
dan atribut non produk.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pada atribut produk Rumkital Dr.
Ramelan seluruh komponen yang diteliti
yaitu jenis pelayanan, alat peneriksaan,
profesionalisme
dokter,
ketrampilan
perawat di nilai baik oleh pasien. Satu hal
yang katagori jelek adalah kebersihan
ruang rawat inap. Pada atribut non produk
yang imagenya masih negatif adalah tarif
dan layanan makanan bagi pasien.
Menurut Kotler (2005), hubungan atribut
dengan keputusan pembelian sangat erat
kaitannya, karena konsumen sebelum
melakukan pembelian akan menempatkan
atribut produk dan non produk ini sebagai
salah satu pertimbangan penting dalam

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

pengambilan keputusan pembelian. Atribut


produk dan non produk juga akan
memberikan positioning yang jelas
terhadap suatu produk. Konsumen sampai
pada sikap (keputusan, preferensi) atas
bermacam-macam merek melalui evaluasi
atribut tersebut. Keputusan untuk membeli
dipengaruhi oleh nilai produk yang
dievaluasi. Bila manfaat yang dirasakan
lebih besar dibandingkan pengorbanan
untuk mendapatkannya, maka dorongan
untuk membelinya semakin tinggi dan
sebaliknya apabila manfaat yang dirasakan
jauh lebih kecil dibanding pengorbanan
yang diberikan, maka konsumen akan
cenderung untuk beralih ke produk lain
yang sejenis.
Hasil dari semuanya ini berakibat
pada sikap pasien paska pembelian, apakah
pasien akan menggunakan kembali dan
mau merekomendasikan kepada orang lain
tergantung dari manfaat yang diperoleh
pasien, atribut yang dinilai sesuai dengan
kebutuhan dan harapan pasien.
3.
Brand Image Rumkital Dr.
Ramelan

beberapa variabel brand image masuk


dalam katagori jelek. Brand image yang
negatif pada jenis asosiasi merek (Types of
Brnad Association) yaitu kebersihan
ruangan rawat inap, tarif, makanan yang
disajikan untuk pasien, manfaat fungsional
serta sikap. Pada keunggulan produk
(Favorability of Brand Association) yang
citra mereknya masih negatif adalah
kecepatan proses layanan. Pada strength of
brand association dan uniqueness of brand
association, brand image responden baik.
Berikut disajikan brand image yang
negatif pada responden yang tidak
menggunakan rawat inap dapat dipelajari
pada tabel 5 di bawah ini:

Brand image Rumkital Dr.


Ramelan terhadap keputusan pembelian
pada responden yang menggunakan rawat
inap sudah baik, namun pada responden
yang tidak menggunakan rawat inap,
Tabel 5.

Analisis Brand Image Yang Negatif Pada Responden Yang Tidak Menggunakan
Rawat Inap di Rumkital Dr. Ramelan
N
o

Variabel
Brand Image

Indikator

Tidak
rawat Inap
Mean Katagori

Tipe of brand
association
a.Atribut
Produk
b.Atrbut Non
Produk
c.Manfaat
Fungsional

d.Sikap

Kebersihan
ruang rawat inap
Tarif pelayanan
Makanan Pasien
Kecepatan
kesembuhan
Keakuratan
Diagnosa dan
terapi
Menggunakan

2,29

Jelek

2,23
2,16
2,17

Jelek
Jelek
Jelek

2,33

Jelek

2,37

Jelek

133

Upaya Meningkatkan Bed Occupancy Rate Berdasarkan Analisis Karakteristik Konsumen, Brand Image Dan
Keputusan Pembelian Pasien Umum

3.

Favorability of
Brand
Association

kembali
Merekomendasi
kan
Kecepatan
proses pelayanan
obat
Kecepatan
proses pelayanan
pemeriksaan
penunjang

Pengaruh Karakteristik Pasien


Terhadap Brand Image Rumkital
Dr. Ramelan

Dari
hasil
penelitian
yang
diperoleh
ada pengaruh antara
karakteristik pasien dengan brand image.
Pada responden yang tidak menggunakan
rawat inap di Rumkital Dr. Ramelan
cenderung mempunyai penilaian brand
image yang lebih jelek dibandingkan
dengan yang menggunakan rawat inap.
Untuk itu perlu mengetahui karakteristik
responden yang tidak menggunakan rawat
inap. Karakteristik pasien yang tidak
menggunakan rawat inap di Rumkital Dr.
Ramelan sebagai berikut:
1. Karakteristik individu: Umur:
35-45 tahun, Pendidikan: SMA,
Domisili: 10-15 km Pekerjaan:
Pegawai swasta Penghasilan: <
1 juta- 3 juta Gaya hidup
2. dalam menentukan prioritas
pilihan rawat inap adalah:
faktor pelayanan Kepribadian
dalam memilih tempat berobat
adalah: puskesmas. Frekuensi
penggunaan rawat inap di
Rumkital Dr. Ramelan: 1-2
kali. Jenis Kelamin: Laki-laki.
3. Karakteristik Sosial
Kelompok acuan: Diri sendiri
Keluarga: Diri sendiri, saudara
Peran status : Saudara, teman,
sahabat
4. Karakteristik Psikografis
Motivasi:
mencari
tempat
berobat yang murah, promosi
Rumkital Dr. Ramelan dinilai
tidak
menarik.
Persepsi:
134

2.33

Jelek

2,35

Jelek

2,30

Jelek

Pelayanan di Rumkital Dr.


Ramelan tidak memuaskan
(Fasilitas ruang rawat inapnya
tidak sesuai dengan kebutuhan,
Pelayanan tidak sesuai dengan
harapan) namun harga mahal.
Pembelajaran:
Responden
menilai visite dokter tidak tepat
waktu, perawatnya kurang
terampil
dan
petugas
administrasinya kurang tanggap
terhadap keluhan. Sikap dan
Keyakinan:
Rumkital
Dr.
Ramelan bukan merupakan
pilihan yang tepat karena
pelayanan rawat inap di
Rumkital Dr. Ramelan dinilai
tidak baik, dan tidak yakin akan
cepat sembuh.
Berdasarkan penilaian brand image
yang
negatif
dikaitkan
dengan
karakteristik
pasien
yang
tidak
menggunakan rawat inap tersebut diatas,
dapat
disimpulkan peneliti bahwa
karakteristik konsumen berpengaruh pada
brand image. Hal ini dapat dijelaskan,
karena motivasi pasien yang tidak
menggunakan rawat inap dalam mencari
rumah sakit yang dekat dengan rumah,
murah, dan pada karakteristik individu
tingkat penghasilannya relatif lebih rendah
dibandingkan
responden
yang
menggunakan rawat inap di Rumkital Dr.
Ramelan, maka persepsi pasien menilai
tarif menjadi mahal. Karena usianya lebih
muda, tingkat pendidikannya cukup,
keputusan pembelian dari dirinya sendiri,
dan peran teman, sahabat, saudara, maka
keinginan untuk mencari alternatif
pelayanan kesehatan yang lain cukup

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

besar,
sehingga
persepsi
terhadap
pelayanan menjadi tinggi.
Karakteristik
psikografis
responden
dengan
katagori
jelek
mempunyai brand image yang negatif.
Motivasi pasien dalam berobat mencari
fasilitas pelayanan kesehatan yang murah,
maka persepsi terhadap tarif akan berbeda.
Persepsi terhadap tarif bagi yang tidak
menggunakan rawat inap Rumkital Dr.
Ramelan dinilai mahal, hal ini terkait
dengan tingkat sosial ekonomi pasien yang
lebih rendah jika dibandingkan dengan
pasien yang menggunakan rawat inap.
Pasien dengan pembelajaran tidak baik,
cenderung mempunyai image yang
negatif.
Persepsi tidak hanya tergantung
pada stimulasi fisik tetapi juga pada
stimulasi yang berhubungan dengan
lingkungan sekitar dan keadaan individu
tersebut. Perbedaan pandangan pelanggan
atas sesuatu objek (merek) akan
menciptakan proses persepsi dalam
perilaku pembelian yang berbeda. Kotler
(2005), menyebutkan bahwa para pembeli
mungkin mempunyai tanggapan berbeda
terhadap citra perusahaan atau merek.
Citra dipengaruhi oleh banyak faktor yang
di luar kontrol perusahaan. Diantaranya
dari karakteristik konsumen dan pengaruh
lingkungan.
Brand image yang efektif akan
berpengaruh terhadap tiga hal yaitu:
pertama,
memantapkan
karakteristik
produk,
menyampaikan
karakteristik
produk itu dengan cara yang berbeda
sehingga tidak dikacaukan dengan
karakteristik
pesaing,
memberikan
kekuatan emosional yang lebih dari
sekadar citra mental. Supaya bisa
berfungsi, image harus disampaikan
melalui setiap sarana komunikasi yang
tersedia dan kontak merek.
Semakin kuat brand image di
benak pelanggan maka semakin kuat pula
rasa percaya diri pelanggan untuk tetap
loyal atau setia terhadap produk atau jasa
yang dibelinya. Hanya produk atau jasa
yang memiliki brand image yang kuat

yang tetap mampu bersaing dan mampu


menguasai pasar. Kesadaran konsumen
terhadap merek dibangun secara terusmenerus sepanjang daur hidup produk itu
berlangsung. Maka dari itu, elemen brand
image yaitu keunggulan asosiasi merek
(favorability of brand association),
kekuatan asosiasi merek (strenght of brand
association) dan keunikan asosiasi merek
(uniqueness of brand association) perlu di
evaluasi agar dapat diketahui yang mana
yang mempengaruhi loyalitas pelanggan.
5.
Isu Strategis, Telaah Peneliti dan
FGD
Dari hasil analisis data penelitian
didapatkan isu strategis
berdasarkan
analisis Brand Image pada responden yang
menggunakan
dan
yang
tidak
menggunakan rawat inap di Rumkital Dr.
Ramelan.
Dari hasil penelitian yang
didapat, brand image yang negatif
dianalisis lebih lanjut dengan melihat
karakteristik konsumen.
Dari isu strategis ini selanjutnya
dilakukan Focus Group Discussion (FGD)
bersama manajemen Rumkital Dr.
Ramelan untuk klarifikasi isu strategis dan
untuk mendapatkan masukan penyelesaian
atas isu yang diangkat peneliti, selanjutnya
dilakukan telaah. Dari
isu strategis,
dilakukan telaah peneliti dan FGD menjadi
bahan rekomendasi upaya peningkatan
BOR ruang rawat inap. Adapun isu
strategis yang diperoleh sebagai berikut:
Pada atribut produk adalah kurangnya
kebersihan rawat inap. Pada atibut non
produk adalah tarif pelayanan yang dinilai
mahal, pelayanan makanan pasien kurang
memuaskan Pada manfaat fungsional
adalah manfaat kecepatan kesembuhan dan
keakuratan diagnosa dan terapi. Pada sikap
enggan untuk menggunakan kembali dan
merekomedasikan.
Pada
keunggulan
merek adalah kecepatan proses layanan
laboratorium dan apotek.
6.

Rekomendasi
Berdasarkan brand image yang
negatif yang diangkat menjadi isu
strategis, telaah peneliti dan hasil FGD
135

Upaya Meningkatkan Bed Occupancy Rate Berdasarkan Analisis Karakteristik Konsumen, Brand Image Dan
Keputusan Pembelian Pasien Umum

maka rekomendasi yang diajukan guna


meningkatkan tingkat hunian rawat adalah
sebagai berikut: (1) Meningkatkan
kebersihan ruang rawat inap (kebersihan
sprei, toilet dan wastafel)
karena
kebersihan merupakan salah satu bukti
fisik yang ditawarkan penyedia jasa
pelayanan untuk memberikan kenyamanan
pada pasien dengan: (a) Membuat dan
melaksanakan program
pelatihan
manajemen linen
pada bagian
pencucuian. (b) Melaksanakan evaluasi
SOP tentang kebersihan ruang rawat inap,
melakukan pengawasan dan pengendalian
kebersihan ruangan rawat inap. (2) Perlu
pengkajian strategi tarif
karena tarif
sangat menentukan dalam keputusan
pembelian
seseorang
dengan
mempertimbangkan karakteristik individu
pasien dengan upaya (a) Melakukan riset
pasar terhadap tarif pesaing. (b)
Menginformasikan tarif melalui media
promosi dan web yang bisa diakses secara
terbuka. (3) Perlu peningkatan layanan
makanan
tidak
saja
hanya
mempertimbangkan masalah diet bagi
pasien, namun juga perbaikan masalah
menu, variasi dan rasa makanan dengan
upaya: (a) Melakukan komunikasi yang
lebih baik dengan memberikan penjelasan
perihal diet pasien. (b) Melakukan evaluasi
sisa makan pasien dan melakukan survey
perihal kebutuhan dan harapan pasien
tentang makanan yang disajikan untuk
pasien, (4) Meningkatkan nilai manfaat
yang diberikan kepada pasien dengan: (a)
Melakukan penyusunan promotion mix
yang tepat melalui elemen promosi agar
dapat mengenalkan kepada pasien produk
jasa layanan, manfaat, keuntungan,
keunggulan untuk dapat menarik pasien
menggunakan jasa layanan melalui media
massa, surat kabar, TV, brosur. (b)
Membuat program pemasaran tentang
pelayanan Rumkital Dr. Ramelan baik
jenis pelayanan, fasilitasnya, dan tarif
rawat inapnya melalui pendekatan
karakteristik individu, dan karakeristik
sosialnya dengan sasaran pendekatan pada
dokter
dan
keluarganya.
supaya
136

mengadvokasi
untuk
menggunakan
Rumkital Dr. Ramelan. (c) Perlu
peningkatan ketrampilan dan pendidikan
bagi petugas layanan untuk meningkatkan
kompetensi petugas. (d) Melaksanakan
clinical pathway sesuai dengan kasus
penyakitnya. (e) Memberikan informasi
yang jelas terkait dengan diagnose
penyakit dan terapi yang diberikan. (5)
Guna memperbaiki sikap
terhadap
pelayanan yang diberikan, dengan upaya:
(a) Menjalin komunikasi dan kehadiran
dokter dan mensosialisasikan visite dokter
ke pasien agar tepat waktu. (b)
Meningkatkan perhatian kepada pasien dan
memberikan informasi yang dibutuhkan
pasien secara jelas. (6) Untuk memperbaiki
proses pelayanan yang cepat dengan cara
(a)
Melakukan
sosialisasi
standar
pelayanan minimal dan evaluasi secara
rutin indikator klinis yang berhubungan
dengan
waktu pelayanan di apotek,
laboratorium
dan
radiologi.
(b)
Menerapkan kepastian waktu pelayanan.
(c) Memperbaiki sistem informasi
manajemen terhadap proses pelayanan.
Simpulan
Brand image Rumkital Dr. Ramelan bagi
responden yang menggunakan rawat inap
sudah baik, namun brand image responden
yang tidak menggunakan rawat inap
beberapa hal tidak sesuai dengan persepsi
pasien (brand image negatif), antara lain:
pada atribut produk masalah kebersihan
ruangan rawat inap. Pada atribut non
produk adalah makanan pasien belum
sesuai harapan pasien dan tarif yang dinilai
mahal. Pada manfaat fungsional, ketepatan
dan keakuratan diagnose masih belum
sesuai dengan persepsi pasien, demikian
juga pada kecepatan proses layanan pada
apotek dan laboratorium masih belum bisa
menjadi keunggulan merek. Brand Image
terkait erat dengan karakteristik pasien..
Saran
Rumkital Dr. Ramelan perlu
melakukan strategi promosi
melalui
bauran promosi, melibatkan seluruh media

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

baik elektronik maupun non elektronik


untuk
menunjukkan
image
dan
kemampuan yang dimiliki Rumkital Dr.
Ramelan kepada masyarakat, melakukan
riset pemasaran secara rutin untuk lebih
memahami kebutuhan dan harapan pasien,
dan perlu melakukan upaya strategi
branding (branding tarif, branding nilai
manfaaat, branding mutu layanan) untuk
menciptakan brand image yang baik. Hal
ini terkait dengan pelayanan kesehatan ke
depan dengan adanya SJSN di mana
pasien mempunyai kebebasan dalam
memilih rumah sakit dan tentunya rumah
sakit yang mempunyai brand image yang
positif akan menjadi pilihan.

Investigating
the
relationship
between brandequity and
firms performance. Cornell H. R.
A. Quarterly, 45(2),115131
Keller,

K.L., 1993. Conceptualising,


Measuring
and
Managing
Customer-Based Brand Equity.
Journal of Marketing. 57(1), 1-22.

Keller K.L., (2008) Strategic Brand


Management: Building, Measuring,
and Managing Brand Equity. Third
Edition. USA: Pearson International
Edition.

DAFTAR PUSTAKA
Aaker D.A.,
(2002) Building Strong
Brands, London: The bath Press

Kotler P., Kartajaya H., Huan H.D., Liu S.,


(2003)
Rethinking
Marketing,
Sustainable Marketing Enterprise
in Asia, Singapore: Prentice Hall
Pearson Education Asia Pte Ltd

Engel J.F., Miniard P.W., dan Blackwell


R.D., (2006) Consumer behaviour,
9th ed, USA: Harcourd

Kotler P., (2005) Managemen Pemasaran


Edisi 11 Jilid 2 Terjemahan Benyamin
M,
Jakarta Indeks

Frederica., Chairy Jurnal Manajemn Teori


dan Terapan Tahun 3. No.2
Agustus, 2010

Kotler., Keller,. (2007)


Manajemen
Pemasaran 1. Edisi keduabelas. Jakarta:
Gramedia Pustaka.

Hawkin,
Del.
I.,
Mothersbaugh,
David.L.,(2009),
Customer
Behaviour: Building Marketing
Strategy, 11th Mac Grow-Hill
International Edition., New York.

Kotler, P., Armstrong, G., (2008) PrinsipPrinsip Pemasaran, Jilid II, Edisi 12,
Terjemahan Bob Sabran, Jakarta:
Erlangga

Huffman E.K., (1994) Health Information


Management 10th ed, Berwyn, IL:
Physicians Record Company
Hartono.,
B.
(2010)
Manajemen
Pemasaran untuk Rumah Sakit,
Jakarta: Rineka Cipta.
Irwanto., (2006) Focus Group Discussion
,Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Kim, W. G. and Kim, H. B. (2004).
Measuring
customer-based
restaurant
brand
equity:

Kotler,P., Keller, K.L., (2009) Manajemen


Pemasaran, Edisi 12, Jakarta: PT
Index.
Kotler.,P,Bowen., JT.,Makens.,JC (2010)
Marketing for Hospitality and
Tourism, 5th ed. Boston: Prentice
Hall.
Kotler,
P.,
Armstrong.G.,(2011)
Principles of Marketing 13 th.
Edition. New. Jersey : Prentice Hall,
2012

137

Upaya Meningkatkan Bed Occupancy Rate Berdasarkan Analisis Karakteristik Konsumen, Brand Image Dan
Keputusan Pembelian Pasien Umum

Mowen, C. John dan Michael Minor.


(2002). Perilaku Konsumen. Alih
Bahasa oleh Lina Salim. Jilid 1.
Jakarta: Erlangga.
Peter, J P., Olson, JC., (2005) Consumer
behavior and marketing strategy,
7th ed, Boston:
McGrawHill/Irwin.
Schiffman,L.,Kanuk,L.L.,(2008) Perilaku
Konsumen, edisi 7 Jakarta: PT. Indeks .
Shwu-Lng, W.L., Chen-Lien, (2009). The
influence of core brand attitude and
core-brand perception purchase
intention towards extended product.
Journal Marketing Logistics, Vol
21(1): 174-194
Shimp, Terence A. (2003). Periklanan
Promosi:
Aspek
Tambahan,
Komunikasi
Pemasaran
Terpadu, edisi kelima, jilid II.
Jakarta: Erlangga.
Sutisna., (2003) Perilaku Konsumen Dan
Komunikasi Pemasaran, Edisi ke 3,
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Undang- Undang Republik Indonesia
Nomer 44 tahun 2009 tentang Rumah
Sakit
WHO Expert Committee On Organization
Of
Medical
Care
dalam
http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah
sakit (sitasi 25 Oktober 2012)
WHO.,Hospital Advisory Group Meeting,
(1994), Geneva Distric Health
System Devision of Strengthening
of Health Services
Zainuddin. M., (2000). Metodologi
Penelitian,Surabaya:
Fakultas
Psikologi Universitas Airlangga

138

INTERVENSI COACHING DAN GUDANCE DALAM


PENINGKATAN KETRAMPILAN HIDUP KESEHATAN
REPRODUKSI REMAJA DI KABUPATEN JEMBER
Tantut Susanto

Departemen Keperawatan Komunitas,


Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember
Email : susanto_unej@yahoo.com
Abstract : Adolescent during their growth and develpment specially for sexual and
reproductive health needed guidance and coaching . Both of the intervention are
directly for treatment skill life of adolescent for the better life. This research aim to
analyze coaching and guidance for improvement adolescent life skills in sexual and
reproductive health. Method: This research is quasi experimental study with design
posttest pretest randomized. Subject in this research is adolescent in sub-district of
Antirogo and Baratan which is have age 10-15 year which have risk or problem of
health reproduction. Subject counted 28 adolescent in peer group during four
meeting session given by coaching and guidance about growth and development,
adolescent sexuality, effective communications at adolescent, and behavioral of
assertive in health of adolescent reproduction. Result of research: result of got by
statistical t-test of value hence can be concluded by there difference which is
significance between skill life before and after coaching and guidance conducted (p
0,02). Analysis: Coaching and guidance for adolescent peer group more effective for
improvement life skills adolescent reproductive health. Discussion: Coaching and
guidance effective for giving of health information reproduce at adolescent group
coeval, so that need to be improved by the existence of service health of adolescent
friendlier reproduction.
Keywords : adolescent, game therapy, reproductive health

Latar belakang
Remaja merupakan aset bangsa
untuk terciptanya generasi mendatang yang
baik. Triswan (2007) sekitar satu milyar
populasi manusia di dunia diperkirakan satu
dari enam tersebut adalah remaja, 85%
diantaranya hidup di negara berkembang.
Masa remaja merupakan suatu fase
perkembangan antara masa kanak-kanak dan
masa dewasa. Perkembangan remaja
berlangsung antara usia 10 sampai dengan 19
tahun. Kozier et al (2004) membagi masa
remaja menjadi tiga periode yaitu masa
remaja awal (10-14 tahun), masa remaja
pertengahan (14-17 tahun) dan masa remaja
akhir (17-19 tahun). Remaja yang dalam
perkembangannya terjadi perubahan baik
biologis, psikologis maupun sosial, tetapi
umumnya pematangan fisik terjadi lebih

cepat dari proses pematangan kejiwaan atau


psikososial (Depkes RI, 2000).
Perubahan alamiah dalam diri remaja
sering berdampak pada permasalahan remaja
yang cukup serius. Perilaku remaja saat ini
sudah sangat mengkhawatirkan, hal ini
ditandai dengan semakin meningkatnya
kasus-kasus seperti aborsi, kehamilan tidak
diinginkan (KTD), dan penyakit menular
seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS. Setiap
bulannya kira-kira 15 juta remaja yang
berusia 15-19 tahun melahirkan, 4 juta
remaja melakukan aborsi dan hampir 100 juta
terinfeksi Penyakit Menular Seksual (PMS)
yang dapat disembuhkan terjadi pada remaja
(Triswan, 2007).
Kemajuan di bidang informasi
melalui media masa seperti majalah, surat
kabar, tabloid maupun media elektronik
seperti radio, televisi, dan komputer,
mempercepat
terjadinya
perubahan.

Intervensi Coaching Dan Gudance Dalam Peningkatan Ketrampilan Hidup Kesehatan Reproduksi Remaja
(Tantut Susanto)

Kemajuan
informasi
ini
menunjang
perkembangan
berbagai
sektor
pembangunan, tetapi informasi ini juga
melemahkan sistem sosial ekonomi yang
menunjang masyarakat Indonesia. Remaja
merupakan salah satu kelompok penduduk
yang mudah terpengaruh oleh arus informasi
baik yang negatif maupun yang positif.
Pengaruh arus informasi negatif terhadap
remaja antara lain menjalin hubungan seksual
premarital,
minum-minuman
keras,
menggunakan obat terlarang (Narkoba) yang
dapat mengakibatkan tertular penyakit
menular seksual termasuk HIV/AIDS
(Lembaga Demografi-FEUI, 2002).
Survai Baseline Reproduksi Remaja
Sehat Sejahtera di Indonesia 1998/1999, yang
dilaksanakan oleh Lembaga DemografiFEUI, bekerja sama dengan BKKBN, East
West Center, Pathfinder, Bank Dunia dan
USAID, dengan responden sebanyak 8084
remaja berumur 15-24 tahun, di empat
propinsi yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah,
Jawa Barat dan Lampung menunjukkan
diantara remaja laki-laki ada 35,5% yang
mengetahui bahwa diantara teman sesama
remaja laki-laki yang pernah melakukan
hubungan seksual pranikah dan 33,7%
diantara remaja perempuan juga memiliki
teman perempuan yang pernah melakukan
hubungan seksual sebelum nikah. Remaja
yang memiliki sikap permisif tentang
hubungan seksual sebelum kawin, 12,5%
remaja
setuju
seseorang
melakukan
hubungan seksual sebelum perkawinan jika
keduanya merencanakan untuk menikah dan
8,6% merasa bahwa perilaku tersebut boleh
dilakukan apabila keduanya saling mencintai.
Hal ini menunjukkan terjadi pergeseran sikap
yang perlu diperhatikan. Survai Baseline
Reproduksi Remaja Sehat Sejahtera di
Indonesia tahun 1998/1999, menunjukkan
bahwa terjadi perubahan dalam persepsi
mengenai perkawinan dan keluarga, namun
perubahan ini tidak disertai oleh pengetahuan
dan perilaku yang membawa remaja ke
perilaku reproduksi yang sehat dan
kehamilan yang aman.
Iskandar (1997) saat ini saranasarana konseling kesehatan reproduksi masih
terbatas dan peran orang tua dalam keluarga
dan
masyarakat
dalam
memberikan
pendidikan kesehatan reproduksi kepada
anak dirasa masih kurang. Hal ini
dikarenakan alasan budaya, tabu dan

140

kekhawatiran kesehatan reproduksi yang


diajarkan justru mendorong terjadinya
hubungan seks pra-nikah. Keengganan
orangtua
dalam
keluarga
untuk
membicarakan
masalah
reproduksi
menyebabkan remaja mencari alternatif
sumber informasi lain seperti teman atau
media massa. Remaja mendapatkan informasi
mengenai kesehatan reproduksi dari sumbersumber
yang
tidak
bisa
dipertanggungjawabkan
karena
ketiadaanlayanan dan informasi bagi remaja
serta kurangnya komunikasi antara anak
remaja dan orang tua dalam keluarga.
Keluarga merupakan fokus interaksi
antara remaja dengan orang tua serta anggota
keluarga
lainnya,
sehingga
keluarga
berfungsi untuk memfasilitasi remaja
berhubungan dengan lingkungan dengan
masyarakat (Friedman, 2004). Keluarga perlu
dilibatkan dalam penanganan permasalahan
kesehatan reproduksi remaja melalui
interaksi yang intensif diantara keduanya.
Freidman (2004) keluarga dapat melaukan
komunikasi antar anggota keluarga, tujuan,
pemecahan konflik, pemeliharaan, dan
pengunaan sumber internal dan eksternal.
Komunikasi antara keluarga dan remaja
bertujuan untuk memfasilitasi reproduksi,
seksual, ekonomi dan pendidikan dalam
keluarga, sehingga memerlukan dukungan
secara psikologi antar anggota keluarga.
Iskandar
(1997)
anak
yang
mendapatkan pendidikan seks dari orang tua
atau sekolah cenderung berperilaku seks yang
lebih
baik
daripada
anak
yang
mendapatkannya
dari
orang
lain.
Permasalahan kesehatan reproduksi remaja di
Indonesia diakibatkan kurang adanya
komitmen dan dukungan pemerintah dalam
bentuk kebijakan yang mengatur tentang
pendidikan seksual dan reproduksi bagi
remaja pada tatanan keluarga, masyarakat,
dan sekolah. Norma adat dan nilai budaya
leluhur yang masih dianut sebagian besar
masyarakat Indonesia juga masih menjadi
kendala dalam penyelenggaraan pendidikan
seksual dan reproduksi berbasis keluarga
terutama sekolah. Kondisi tersebut akan
mengakibatkan
permasalahan
pada
pemenuhan kesehatan reproduksi pada
remaja, sehingga perlu perhatian dan
penanganan khusus dari unit pelayanan
kesehatan terutama perawat komunitas.

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

Perawat komunitas sebagai bagian


dari tenaga kesehatan berperan penting untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
(Neis & McEwen, 2001). Perawat komunitas
dapat berperan dalam mencegah penyakit,
proteksi, dan promosi kesehatan. Program
pencegahan pada remaja dengan kesehatan
reproduksi
dapat
dilakukan
melalui
pendidikan kesehatan yang mudah dijangkau
oleh mereka. Program proteksi pada remaja
ditujukan untuk mendeteksi
masalah
kesehatan pada remaja sedini mungkin.
Program promosi kesehatan bertujuan untuk
mencegah perilaku menyimpang pada remaja
(Allender & Spradly, 2001).
Kelompok remaja dengan kesehatan
reproduksi merupakan suatu kelompok at
risk,
sehingga
perawat
komunitas
bertanggung jawab untuk melakukan
identifikasi kebutuhan, sumber, dan nilai
yang dibutuhkan pada kelompok remaja
dengan kesehatan reproduksi terkait dengan
aspek promosi, proteksi, dan prevensi.
Perawat
komunitas
dapat
menyusun
pelayanan kesehatan bagi kelompok remaja
dengan
kesehatan
reproduksi
dan
mengimplementasikan dan mengevaluasi
terhadap program yang disusun bersama
masyarakat. Nies & McEwen (2001), perawat
komunitas dapat berperan dalam pencegahan
terhadap kelompok at risk dengan melakukan
pelayanan kesehatan yang mengutamakan
pencegahan primer, sekunder, dan tersier.
Kelompok remaja memerlukan perhatian
yang khusus oleh perawat komunitas. Remaja
umumnya mendapatkan kenyamanan dan
terbuka pada kelompok sebayanya, sehingga
perawat
komunitas
dapat
mengkaji
kebutuhan
dan
sumber-sumber
serta
mengidentifikasi nilai-nilai dalam populasi
remaja dalam menyusun suatu program
dalam pemenuhan kesehatan reproduksi
remaja di masyarakat dan kelompok remaja.
Salah satu bentuk intervensi yang dapat
perawat komunitas lakukan adalah melalui
aplikasi coaching dan guidance pada
kelompok
remaja
dengan
kesehatan
reproduksi.
Berdasarkan uraian tersebut diatas,
maka peneliti tertarik untuk mengaplikasikan
coaching and guidance sebagai salah satu
bentuk intervensi dalam penyelesaian
masalah
kesehatan
reproduksi
pada
aggregate remaja di komunitas. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk meningkatan

ketrampilan remaja untuk memenuhi


kebutuhan kesehatan reproduksi pada
aggregate remaja di Kabupaten Jember.

Bahan dan Metode Penelitian


Metode penelitian ini adalah quasi
eksperimental dengan rancangan the non
randomized pretest posttest design. Jumlah
sampel dalam penelitian ini adalah 28 remaja.
Karakteristik usia remaja yang terlibat dalam
penelitian ini adalah usia 10-15 tahun, tinggal
di Kelurahan Antirogo dan Baratan, dan
berisiko mengalami masalah kesehatan
reproduksi. Remaja tersebut mengikuti
kegiatan dalam dua peer group remaja. Setiap
peer group remaja mengikuti pendidikan
kesehatan reproduksi yang dilakukan melalui
strategi coaching dan guidance. Peer group
dilakukan selama empat kali sesi pertemuan.
Setiap sesi dilakukan selama dua jam.
Penelitian ini dilakukan selama bulan
November sampai dengan Desember 2012.
Data penelitian dilakukan melaui
pengumpulan angket untuk mengukur tingkat
pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja
tentang kesehatan reproduksi sebelum dan
sesudah kegiatan peer group dilakukan.
Setiap sesi pertemuan remaja mendiskusikan
masalah kesehatan reproduksi yang dipandu
oleh salah seorang remaja yang berperan
sebagai peer educator. Diskusi yang
dilakukan
setiap
sesi
membicarakan
permasalahan tumbuh kembang remaja,
perilaku seksualitas remaja, komunikasi
remaja, dan perilaku asertif dalam penolakan
seks bebas diantara remaja. Setiap topik
diskusi dilakukan melalui coaching dan
guidance kesehatan reproduksi remaja.
Data awal dilakukan melalui
pengkajian keperawatan komunitas dengan
menggunakan pendekatan model community
as partner. Data yang terkumpul kemudian
dianalisis untuk menentukan kebutuhan
pemecahan masalah komunitas khususnya
pada aggregate remaja dengan kesehatan
reproduksi. Kebutuhan pada aggregate
kemudian
dirancang
dalam
program
pelayanan Kesehatan peduli Remaja (PKPR)
melalui prevensi primer, sekunder, dan
tersier. Data yang terkumpul dari kegiatan
peer group remaja kemudian dianalisis untuk
membedakan pengetahuan, sikap, dan
perilaku sebelum dan seduadah game terapi

141

Intervensi Coaching Dan Gudance Dalam Peningkatan Ketrampilan Hidup Kesehatan Reproduksi Remaja
(Tantut Susanto)

dengan dilakukan uji t-test dengan taraf


signifikansi 0.05.

Hasil Penelitian
Perilaku remaja dalam pacaran
menunjukan hasil 30,2% remaja melakukan
pegangan tangan,15,6% remaja melakukan
pelukan dengan tangan diluar baju. 5,2%
remaja melakukan pelukan dengan tangan
didalam baju, 9,4% remaja sudah bercumbu
bibir, 6,3% remaja sudah meraba-raba dalam
pacaran, 1% remaja sudah melakukan petting,
dan 2,1% remaja melakukan hubungan badan
1 kali sebulan. Perilaku seksual remaja
menunjukkan hasil 10,4% remaja melakukan
onani 1 kali sebulan, 8,3% remaja melakukan
masturbasi 1 kali sebulan, 20,8% remaja
mengkhayal fantasi seksual 1 kali sebulan,
13,5% remaja menggunakan media fantasi
seksual 1 kali sebulan, 15,6% pengetahuan
perilaku seksual remaja kurang, 6,3% sikap
perilaku seksual remaja kurang, dan 94,8%
perilaku seksual remaja kurang.
Hasil survei melalui kuesioner
tentang penyuluhan remaja didapatkan hasil
37,5% belum mendapatkan penyuluhan
kesehatan
reproduksi,
28,1%
belum
mendapatkan
penyuluhan
tentang
perkembangan remaja,
43,8% belum
mendapatkan penyuluhan PMS, 62,5% belum
mendapatkan penyuluhan bahaya kehamilan.
Kegiatan remaja di Kelurahan Tugu
teridentifikasi 57,3% remaja tidak mengikuti
perkumpulan PMR, 92,7% remaja tidak
mengikuti kegiatan kader kesehatan remaja,
94,8% remaja tidak aktif dalam badan
kesehatan remaja, 74% remaja tidak
mengikuti kegiatan karang taruna, 41,7%
remaja tidak aktif olah raga teratur, 91,7%
waktu remaja bermain dengan teman, 95,8%
remaja suka nonton TV, 40,6% remaja
nonton film di Bioskop, 28,1% remaja suka
nongkrong di Mall, 39,6% remaja suka
membaca buku di Perpustakaan, dan 31,3%
remaja tidak suka membaca buku pelajaran.
Survei kesehatan reproduksi remaja
melalui kuesioner menunjukkan hasil 10,4%
remaja kurang mengetahui alat reproduksi,
5,2% remaja kurang tahu tentang fungsi alat
reproduksi, 2% perilaku kesehatan reproduksi
kurang baik, 19,8% remaja kurang tahu
faktor penyebab hubungan seksual remaja,
12,5% sikap remaja dalam berpacaran cukup

142

baik, dan 16,7% remaja kurang tahu masalah


kesehatan reproduksi. Pacaran remaja putri
teridentifikasi 66,7% remaja sudah pacaran,
17,7% karena gengsi atau gaul, 47,9%
meningkatkan motivasi, dan 8,3% kebutuhan
biologis. Penyebab hubungan seksual remaja
teridentifikasi
76%
pengaruh
media
informasi, 78,1% pacaran yang terlalu intim,
67,7% pengaruh teman sebaya, 81,3% dasar
agama yang kurang, 80,2% kontrol orang tua
yang kurang, dan 68,8% pengaruh norma
lingkungan.
Pola komunikasi remaja berkaitan
dengan diskusi menstruasi menunjuukkan
76% dengan orang tua, 31,3% dengan guru,
dan 70,8% dengan teman sebaya. Diskusi
tentang pubertas teridentifikasi 56,3% dengan
orang tua, 28,1% dengan guru, dan 66,7%
dengan teman sebaya. Diskusi mengenai
masalah hubungan seksual teridentifikasi
18,8% suka dengan orang tua, 24% suka
dengan guru, dan 30,2% suka dengan teman
sebaya.
Kegiatan peer group remaja diikuti
oleh
14-15
orang
remaja
setiap
pertemuannya. Anggota kelompok antusias
terhadap kegiatan dan aktif bertanya terkait
dengan materi kesehatan reproduksi yang
disampaikan. Remaja sebelum mengikuti
kegiatan peer group melalui MBAR
dilakukan pre dan post test untuk mengetahui
tingkat pengetahuan remaja mengenai
kesehatan reproduksi, sikap remaja untuk
bersikap asertif dalam setiap pergaulannya,
dan komunikasi efektif pada remaja, serta
perilaku seksual remaja saat ini.
Kesehatan reproduksi pada remaja
difasilitasi melalui implementasi asuhan
keperawatan komunitas. Pemberian asuhan
keperawatan comunitas dilakukan untuk
mengatasi tiga diagnosis keperawatan
comunitas yaitu: (1) Risiko terjadinya
gangguan pertumbuhan dan perkembangan
kesehatan
reproduksi
pada
remaja
berhubungan dengan perilaku kesehatan
remaja yang tidak sehat; (2) Koping remaja
tidak efektif berhubungan dengan problem
solving remaja yang tidak adekuat; dan (3)
Komunikasi
remaja
tidak
efektif
berhubungan dengan tidak adekuatnya
sumber infomasi kesehatan reproduksi dan
nilai budaya, norma, serta taboo seputar
kesehatan reproduksi di komunitas.

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

Tabel 1. Tingkat Ketrampilan Hidup


Kesehatan Reproduksi Remaja Sebelum dan
Sesudah Coaching dan Guidance di Peer
Group Remaja
Variabel
Perilaku

Kategori

Sebelum
(%)

Sesudah
(%)

Kurang

25

13,8

Cukup

75

65,5

Baik

17,2

Tabel diatas menunjukkan bahwa


tingkat ketrampilan hidup remaja mengenai
kesehatan reproduksi peserta peer group
sebelum game tarapi adalah cukup sebesar
75%. Ketrampilan hidup remaja mengenai
kesehatan reproduksi setelah dilakukan
implementasi kegiatan dalam peer group
melalui game terapi terjadi perubahan tingkat
perilaku. Perubahan tingkat ketrampilan
hidup mengenai kesehatan reproduksi
sebelum dan sesudah coaching dan guidancei
dalam peer group remaja secara jelas dapat
dilihat pada gambar 1. berikut ini.
Gambar 1. Tingkat Ketrampilan Peer Group
Remaja sebelum dan Sesudah Coaching dan
Guidance

Nilai (%)

Perilaku Remaja Peer Group Sebelum dan


Sesudah Game Terapi
80
70
60
50
40
30
20
10
0

Sebelum
Sesudah

Kurang

Cukup

Baik

Kategori Perilaku

Gambar 1. terjadi perubahan tingkat


perilaku
remaja
mengenai
kesehatan
reproduksi. Perilaku remaja peserta peer
group tentang kesehatan reproduksi sebelum
coaching dan guidancei yang kurang sebesar
25% dan cukup 75% sedangkan perilaku
remaja mengenai kesehatan reproduksi
peserta peer group sesudah game terapi yang
kurang menjadi 13,8%, cukup 65,5%, dan
baik sebesar 17,2%.
Efektivitas penggunaan startegi
coaching dan guidance dalam implementasi
keperawatan komunitas ini dilakukan
penilaian pada tingkat pengetahuan, sikap,
dan perilaku remaja tentang kesehatan
reproduksi. Hal ini digunakan untuk menilai
sejauhmana perbedaan ketiga variabel

tersebut berubah setelah intervensi pada


peserta peer group remaja yang secara aktif
belajar tetang kesehatan reproduksi remaja
melalui manual belajar aktif remaja.
Perbedaan tingkat pengetahuan tentang
kesehatan reproduksi sebelum dan sesudah
intrvensi untuk menilai efektivitas intervensi
dilakukan uji t-test. sebagai berikut:
Tabel 2. Distribusi Rata-Rata Tingkat
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Peserta
Peer Group Remaja Sebelum dan Sesudah
Intervensi
Variabel
Variabel Mean SD
SE
Pengetahuan:
Sebelum
71,43
15,02 2,84 0,06
Sesudah
82,86
13,01 2,46
Sikap:
Sebelum
41.96
10,20 1,93 0,00
Sesudah
80,26
11,52 2,18
Perilaku:
Sebelum
41,96
10,20 1,93 0,00
Sesudah
79,46
9,6
1,81
Tabel 2. diatas menunjukkan ratarata tingkat pengetahuan sebelum intervensi
adalah 71,43 dengan standar deviasi 15,02.
Rata-rata tingkat pengetahuan remaja setelah
intervensi adalah 82,86 dengan standar
deviasi 13,01. Terlihat nilai mean perbedaan
pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi
adalah 11,43 dengan standar deviasi 20,08.
Hasil uji statistik didapatkan nilai 0,06 maka
dapat disimpulkan tidak ada perbedaan yang
signifikan antara pengetahuan sebelum dan
sesudah intervensi dilakukan.
Tabel 4. diatas menunjukkan ratarata tingkat sikap sebelum intervensi adalah
41.96 dengan standar deviasi 10,20. Rata-rata
tingkat sikap remaja setelah intervensi adalah
80,26 dengan standar deviasi 11,52. Terlihat
nilai mean perbedaan sikap sebelum dan
sesudah intervensi adalah 38,29 dengan
standar deviasi 13,92. Hasil uji statistik
didapatkan
nilai
0,00
maka
dapat
disimpulkan ada perbedaan yang signifikan
antara sikap sebelum dan sesudah intervensi
dilakukan.
Tabel 4. diatas menunjukkan ratarata tingkat perilaku sebelum game terapi
adalah 41,96 dengan standar deviasi 10,20.
Rata-rata tingkat perilaku remaja setelah
intervensi adalah 79,46 dengan standar
deviasi 9,6. Terlihat nilai mean perbedaan
perilaku sebelum dan sesudah intervensi

143

N
28

28

28

Intervensi Coaching Dan Gudance Dalam Peningkatan Ketrampilan Hidup Kesehatan Reproduksi Remaja
(Tantut Susanto)

adalah 37,5 dengan standar deviasi 16,85.


Hasil uji statistik didapatkan nilai 0,00 maka
dapat disimpulkan ada perbedaan yang
signifikan antara perilaku sebelum dan
sesudah intervensi dilakukan.
Pembahasan
Alat pengumpul data dikembangkan
dari model community as partner. Model
community as partner terdiri dari pengajian
inti komunitas dan delapan subsistem
komunitas (Anderson McFarlan, 2004).
Pengkajian inti komunitas meliputi individu
yang membentuk komunitas (kelompok
remaja
dengan
masalah
kesehatan
reproduksi) yang meliputi data demografik,
nilai, keyakinan dan sejarah perkembangan
permasalahan
aggregate
remaja.
Inti
komunitas akan dipengaruhi oleh delapan
subsistem komunitas yang terdiri dari
lingkungan, pendidikan, keamanan dan
transportasi, politik dan pemerintahan,
pelayanan kesehatan dan sosial, komunikasi,
ekonomi dan rekreeasi. Model ini sangat
sesuai
digunakan
dalam
pengkajian
komunitas karena pengkajian yang dilakukan
sangat komprehensif sehingga data yang
didapat menggambarkan kondisi remaja
dengan masalah kesehatan reproduksi beserta
segala
aspek
di
masyarakat
yang
mempengaruhi
pertumbuhan
dan
perkembangan remaja.
Kegiatan apapun yang apabila
dilakukan menimbulkan suasana yang
menyenangkan dan disukai oleh anak remaja
disebut bermain (Setyo Mulyadi, 2007).
Kegiatan bermain merupakan suatu hal yang
berarti kesenangan. Bekerja atau kegiatan
lain apabila dianggap sebagai suatu hal yang
wajar dapat merupakan bermain. Pada anak
yang sedang bermain akan menggunakan
seluruh emosi yang ada pada diri anak.
Miiller dalam Wong (1996) setiap anak
memiliki insting untuk bermain terhadap
kenyataan indah yang dijumpai pada
kehidupan anak di dunia.
Garvey
dalam
Wong
(1996)
menyebutkan lima karakteristik bermain pada
anak, yaitu: (a) sesuatu yang menyenangkan
dan bernilai positif, (b) bermain didasari
motivasi yang muncul dari dalam, (c)
spontanitas dan sukarela/bukan kewajiban,
(d) peran aktif anak, dan (e) memiliki
hubungan yang sistematis yang khusus
dengan aspek perkembangan. Bermain sangat

144

berperan pada perkembangan anak. Pada saat


bermain anak akan elajar sesuatu yang tidak
bisa diajarkan orang lain, belajar tentang
dirinya tentang apa yang bisa dilakukan,
pekerjaan yang rumit dan stressfull, dan
berkomunikasi menjalin hubungan dengan
orang lain.
Game adalah suatu cara untuk
menarik perhatian terhadap suatu objek.
Game merupakan sesuatu yang bersifat
universal dan disukai serta telah dimainkan
sejak dahulu hingga sekarang. Game
memungkinkan orang-orang untuk relak
dengan menghasilkan suatu suasana hati
bebas masalah da tenang; menimbulkan
tantangan pemain untuk memecahkan pokok
materi permainan yang sedang dimainkan;
mendorong keikutsertaan pemain dan setiap
orang untuk masuk dari permainan tersebut;
mengajarkan sesuatu pelajaran yang berbeda;
dan umumnya murah atau cuma-cuma. Game
hanya dibatasi waktu dan imajinasi (PATH,
2002).
Hasil analisis diatas game terapi yang
dilakukan pada peer group lebih bermakna
untuk perubahan sikap dan perilaku remaja
terkait kesehatan reproduksi daripada
pengetahuan remaja. Hal ini dikarenakan
game
terapi
pada
remaja
lebih
mengutamakan latihan kegiatan secara
motorik remaja dalam kehidupan seharinya.
Hatt (1992) kegiatan terapi permaianan pada
remaja memiliki karakteristik sosial berupa
kerja sama kelompok yang isi permainannya
bersifat kompetitif dan kontes. Tipe
permainan yang paling umum dilakukan
remaja adalah interaksi sosial dengan
karakteristik aktivitas permainan spontan
untuk pemecahan masalah abstrak dalam
kehidupannya. Hatt (1992) mengatakan
tujuan permainan yang bersifat dramatik pada
remaja akan menunjukkan ide-ide remaja dan
perkembangan rasa etik terkait dengan
penyebab dan kegiatan yang akan dilakukan.
Notoatmodjo (1993) pengetahuan
merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi
setelah orang melakukan penginderaan
terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan
dapat
dipengaruhi
oleh
pengalaman,
pendidikan, lingkungan seseorang. Bloom et
al (1956) seorang (remaja) baru mencapai
tingkatan pengetahuan pada tahap tahu
(know) yaitu kemampuan untuk mengenali
dan mengingat peristilahan, definisi, faktafakta, gagasan, pola, urutan, metodologi,

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

prinsip dasar. Husni (2006) pendidikan dan


pengetahuan kesehatan reproduksi yang
benar perlu diberikan sejak dini agar remaja
memiliki pengetahuan dan pemahaman
tentang kesehatan reproduksi sehingga
mereka mampu menjaga, memelihara, dan
berperilaku positif serta bertanggung jawab
berkenaan
dengan
masalah-masalah
kesehatan reproduksinya.
Sikap remaja mengenai kesehatan
reproduksi berkaitan dengan perilaku seksual
remaja dan sikap pergaulan remaja. Pada
intervensi keperawatan komunitas ini remaja
diajarkan berperilaku asertif dalam setiap
hubungan antar teman dan manusia dalam
kehidupan kesehariannya. Perilaku asertif
tersebut ditekankan pada penolakan ajakan
sex bebas pada remaja secara asertif. Sikap
remaja juga berkaitan dengan identitas
sexual, norma, dan gender terkait dengan
kesehatan reproduksi. Persepsi remaja
mengenai sex, gender, dan norma kesehatan
reproduksi akan membantu remaja dalam
menerima identitas dirinya secara baik.
Penerimaan diri remaja yang baik akan
membentuk sikap da perilaku remaja terkait
dengan
kesehatan
reproduksi
yang
disesuaikan dengan norma aturan yang
berlaku di masyarakat.
Sikap asertif remaja akan menunjang
pemahaman yang baik berkaitan dengan
sexualitas, gender, dan norma reproduksi
dalam remaja bergaul dalam kesehariannya.
Pemahaman remaja mengenai sex, gender,
dan norma akan dapat menentukan identitas
seksual remaja dan mejalankan peranan
remaja sesuai dengan identitas seksualnya
serta menyelaraskan peran tersebut sesuai
dengan tata aturan atau norma yang berlaku
di masyarakat. Pemahaman remaja yang baik
akan dapat meningkatkan ketrampilanhidup
remaja seperti tanggung jawab remaja dalam
berperilaku yang sehat.
Perilaku merupakan suatu aktivitas
manusia itu sendiri. Perilaku memiliki
bentangan yang luas, mencakup berjalan,
berbicara, bereaksi, dan sebagainya. Kegiatan
internal seperti berpikir, persepsi dan emosi
juga merupakan perilaku manusia. Kwick
(1974; dalam Nototmodjo, 1993) perilaku
adalah tindakan atau perbuatan suatu
organisme yang dapat diamati dan bahkan
dipelajari, selain itu perilaku juga merupakan
suatu hubungan antara stimulus dan respon.
Perilaku seksual remaja merupakan suatu

bentuk aktivitas remaja dalam memenuhi


kebutuhan seksual dalam pertumbuhan dan
perkembangannya. Faktor sikap mencakup
perasaan seseorang mengenai situasi, orang
lain dan diri mereka sendiri. Faktor perilaku
merupakan segala sesuatu yang timbul dari
faktor pengetahuan dan sikap, yaitu
bagaimana orang dapat bertindak sesuai
dengan pengetahuan dan perasaannya.
Perilaku seksual merupakan perilaku
yang bertujuan untuk menarik perhatian
lawan
jenis.
Dimensi
perilaku
menerjemahkan seksualitas menjadi perilaku
seksual, yaitu perilaku yang muncul
berkaitan dengan dorongan atau hasrat
seksual. Perilaku seksual ini sangat luas
sifatnya, antara lain mulai dari berdandan,
merayu, menggoda, bersiul dan perilaku yang
terkait dengan aktivitas dan hubungan
seksual seperti fantasi, masturbasi, menonton
atau membaca pornografi, petting, bahkan
berhubungan intim (intercourse). Bentuk
perilaku seksual bermacam-macam mulai
dari bergandengan tangan, berpelukan,
bercumbu, petting sampai berhubungan seks.
Setiap perilaku seksual memiliki konsekuensi
berbeda. Ekspresi dorongan seksual atau
perilaku seksual ada yang aman dan ada yang
tidak aman, baik secara fisik, psikis, maupun
sosial. Perilaku seksual remaja di Indonesia
melalui beberapa tahapan yaitu dari mulai
menunjukkan perhatian pada lawan jenis,
pacaran, berkencan, lips kissing, deep
kissing, genital stimulation, petting, dan
seksual intercourse (Anonim, 2005).
Program Kespro Remaja dilakukan
sebagai program yang dapat menjangkau
remaja, melalui remaja, dengan informasi
kesehatan reproduksi untuk memperkuat
komunikasi
remaja,
negosiasi
dan
ketrampilan pengambilan keputusan remaja
sehingga remaja bisa membuat berbagai
pilihan yang aman berhubungan dengan
kesehatan
reproduksi
remaja
dan
berhubungan dengan perilaku remaja yang
berisiko. UNICEF (2002) menerapkan suatu
program My Future is My Choices (MFMC)
dalam uapaya mengatasi masalah HIV/AIDS
di Republik Nimibia. MFMC merupakan
suatu pilot project berskala nasional yang
dilakukan dibawah Program Kesehatan dan
Perkembangan Remaja melalui kerja sama
dengan Republik Nimibia dan UNICEF pada
tahun 1997 sampai dengan 2001. Program ini
dilakukan karena tingginya prevalensi

145

Intervensi Coaching Dan Gudance Dalam Peningkatan Ketrampilan Hidup Kesehatan Reproduksi Remaja
(Tantut Susanto)

HIV/AIDS di Republic Nimibia pada


kelompok usia 14-45 tahun sebesar 20%.
Padahal penduduk Republik Nimibia hanya
1,7 juta jiwa.
Program Kespro Remaja yang
dilakukan
dalam
mengatasi
masalah
kesehatan reproduksi remaja sebagian besar
mengikuti program MFMC yang dilakukan
oleh UNICEF di Republik Nimibia.
Persamaan terhadap program tersebut adalah
dalam hal nama program, tujuan dan jenis
kegiatan yang dilakukan pada aggregate
remaja dengan masalah kesehatan reproduksi.
Perbedaan antara program MDAP dengan
MFMC adalah pada pendekatan model
tindakan yang akan dilakukan dalam
mengatasi masalah aggregate remaja.
Program Kespro Remaja menggunakan
pendekatan manajemen pelayanan kesehatan
kkeperawatan komunitas, model community
as partner, dan family center nursing model
sebagai kerangka kerja asuhan keperawatan
komunitas dan model manual belajar aktif
remaja serta game terapi remaja sebagai
pendekatan tindakan pelaksanaan program.
Program Kespro Remaja dalam
perencanaan
tindakan
menggunakan
pendekatan model Manual Belajar Aktif
Remaja atau yang disingkat dengan MBAR
(Moeilono, 2003). Model MBAR adalah
proses belajar aktif kesehatan reproduksi
remaja ini merupakan suatu buku panduan
berupa manual modul yang diperuntukkan
bagi fasilitator untuk memberikan informasi
tentang kesehatan reproduksi kepada remaja
usia 10-14 tahun. Modul ini disusun atas
kerja sama antara United Nations Population
Fund (UNFPA), Badan Koordinasi Keluarga
berencana Nasional (BKKBN), Perkumpulan
Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), dan
Pusat Kajian Pembangunan Masyarakat
(PKPM) Atma Jaya.
Strategi pelaksanaan perencanaan
program dilakukan dengan pendekatan model
community as partner. Strategi yang
digunakan dalam perencanaan tindakan ini
adalah
pendidikan
kesehatan,
pross
kelompok, partnership, dan empowerment
(Anderson Mc Farlan, 2005). Bentuk
pelaksanaan strategi pelaksanaan tersebut
akan disusun dalam suatu kegiatan yaitu
kelompok kesehatan remaja (peer group
remaja). Harahap (2004) menerapkan peer
education terhadap pengetahuan dan sikap
mahasiswa dalam menanggulangi HIV/AIDS

146

di Sumatera Utara. Dalam penelitian ini


didapatkan hasil peer education atau
pendidikan sebaya lebih efektif dalam
meningkatkan pengetahuan mahasiswa dalam
menanggulangi HIV/AIDS di Sumatera
Utara. Peer education atau pendidikan sehaya
efektif dan memberikan nilai yang positif
dalam meningkatkan sikap mahasiswa dalam
menanggulangi HIV/ AIDS di Sumatera
Utara. Sumber informasi; mahasiswa yang
mendapatkan informasi tentang penyakit
HIV/AIDS
dari
koran/majalah
yaitu
sebanyak 89% dan 70% masing-masing pada
kelompok peer education dan kontrol. Selain
itu dari hasil penelitian ini terbukti bahwa
sumber informasi yang didapat dari pendidik
sebaya nampak nyata lebih efektif baik pada
peningkatan pengemhuan maupun sikap
terhadap masalah HIV/AIDS ini.
Strategi dalam peer group remaja
juga digunakan pendekatan game terapi.
Kegiatan apapun yang apabila dilakukan
menimbulkan suasana yang menyenangkan
dan disukai oleh anak disebut bermain (Setyo
Mulyadi,
2007).
Kegiatan
bermain
merupakan
suatu
hal
yang
berarti
kesenangan. Bekerja atau kegiatan lain
apabila dianggap sebagai suatu hal yang
wajar dapat merupakan bermain. Pada anak
yang sedang bermain akan menggunakan
seluruh emosi yang ada pada diri anak.
Miiller dalam Wong (1996) setiap anak
memiliki insting untuk bermain terhadap
kenyataan indah yang dijumpai pada
kehidupan anak di dunia.
Simpulan dan saran
Perlunya pembuatan suatu kegiatan
yang dapat meningkatkan ketrampilan remaja
dalam menghasilkan sesuatu sesuai dengan
identifikasi keadaan wilayah masing-masing
RW. Kegiatan ketrampilan tersebut seperti
pembentukan kelompok tani remaja yang
mengajarkan dan melatih ketrampilan
bertani, berkebun, ataupun berternah dan
memelihara ikan sehingga remaja memiliki
ketrampilan yang dapat diandalkan dan
mengisi waktu luang di luar jam sekolah.

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2005. Remaja dan Perilaku Seksual,
Diakses
dari
Pada
http://www.waspada.co.id.
tanggal 12 Januari 2007.
Anderson, E., & Mc Farlane, J. 2004.
Community As Partner:Theory and
Practice in Nursing, 4th edition.
Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins.
Great News. 2008. Perilaku Seks Pranikah
Pada
Remaja,
2002,
http://epsikologi.com, diperoleh tanggal 6
Januari 2008).
Harahap., J., Lita., S.A. 2004. Pengaruh Peer
Education Terhadap Pengetahuan Dan
Sikap
Mahasiswa
Dalam
Menanggulangi
Hiv/Aids
Di
Universitas Sumatera Utara. Diakses
dari
http://www.usu.ac.id/digitallibraryrtl.ht
m diakses pada tanggal 25 Oktober
2007.
Hart, R. dkk. 1992. Therapeutic Play
Activities for Hospitalized Children. St.
Louis : Mosby Year Book.
Harry. 2007. Mekanisme endorphin
dalam tubuh. Available
at
http:/klikharry.files.wordpress.com/200
7/02/1.doc+endorphin+dalam+tubuh.
Diposkan tanggal 10 Januari 2009
Hitchcock, J.E., Schubert, P.E., Thomas, S.A.
1999. Community health nursing:
caring in action. Albani : Delmas
Publisher.
Husni, F. 2005. Isu Kespro dalam Pilkada,
www.suaramerdeka.com. Diakses pada
tanggal 25 Oktober 2007.
Iskandar, Sudardjat A, 2002, Hak Remaja
Atas Kesehatan Reproduksi. Online.
http://www.situs.kesrepro.info.com.
diakses 12 Januari 2007
Kamaruzzaman, U. 2007. Pendidikan Kespro
Yang
Diinginkan
Remaja,
www.yahoo.com
Kozier, B., Erb, Glenora., Berman,A., &
Synder, S.J. (2004). Fundamentals of
nursing : Concept, process and
practice. Ner Jersey : Pearson
education,Inc.
Lembaga
Demografi-FEUI,
2002, http://www.bkkbn.go.id
diperoleh tanggal 25 Oktober 2007.

Mc.Murray, A. 2003. Community Health and


Wellness : a Sociological approach.
Toronto : Mosby
Muhamad, K.(2007). KesehatanReproduksi
Sebagai Hak, Jurnal Perempuan,
1(53), 7-20.
Maramis. 2005. Free Talk About Sex
Dikalangan
Remaja,
2005,
http://www.AntonBahagia.com,
diperoleh tanggal 14 Desember 2007.
Mashum, Y, 2006, Remaja dan Aspek
Psikososial, www.harian-kompas.com.
Moeliono, L. 2003. Proses Belajar Aktif
Kesehatan Reproduksi Remaja: Bahan
Pegangan
Untuk
Memfasilitasi
Kegiatan Belajar Aktif Untuk Anak &
Remaja Usia 10-14 Tahun. Jakarta:
Perkumpulan Keluarga Berencana
Indonesia (PKBI), Badan Koordinasi
Keluarga
Berencana
Nasional
(BKKBN), dan United Nations
Population Fund (UNFPA).
Nies, M.A., and McEwan, M. 2001.
Community health nursing: promoting
the health of population. (3rd Ed.),
Philadelphia: Davis Company.
Nina, C. A. 2007. Peran Sekolah Dalam
Memberikan Pengetahuan Kesehatan
Reproduksi Remaja Pada Siswa (Studi
Kasus di SMAN 17 Surabaya Dan
SMA
Kemala
Bhayangkari
1
Surabaya).
Diakses
dari
http://www.adln.lib.unair.ac.id/
tanggal 12 September 2008.
Notoadmodjo,
S.
1993.
Pengantar
Pendidikan Kesehatan dan Ilmu
Perilaku Kesehatan. Yogyakarta
:
Andi Offset.
Pangkahila, W, 1997,
Perilaku Seksual
Remaja di Desa dan di Kota, Seminar
Sehari,
Fakultas
Kedokteran,
Universitas Indonesia.
Pathfinder International. 1998, Insight From
Adolescent Project Experiences- 19921997. Galen, MA: Pathfinder.
Pathfinder International. 2006, Games For
Adolesecnt Reproductive Health. An
International Handbook. Diakses dari
www.path.org
Pathfinder International. 2007. Tuko Pamoja:
Adolescent Reproductive Health and
Life Skills Curriculum. Diakses dari
www.path.org
Pender, N.J., Carolyn, L.M., Mary, A.P.
2002. Health Promotion in Nursing

147

Intervensi Coaching Dan Gudance Dalam Peningkatan Ketrampilan Hidup Kesehatan Reproduksi Remaja
(Tantut Susanto)

Practice. 4rd edition.


Appleton & Lange.

Stamford:

Triswan, Y., 2007. Kesehatan Reproduksi


Remaja: Membangun Perubahan Yang
Bermakna, Out Look, 16(1), 1-8.
UNICEF. 2002. Working For and With
Adolescent: Some UNICEF Examples.
ADPU UNICEF
WHO.200). Adolescent Friendly
Services.Geneva: WHO

Health

Whaley, L.F. & wong, D.L. 1995. Nursing


care of Infants and children. St. Louis
Mosby Year Book.

148

COMMUNITY-SCHOOL BASED EMPOWERMENT DALAM UPAYA


PENCEGAHAN RISIKO PENULARAN HIV
PADA REMAJA DI DEPOK
Ns. Setyoadi, S.Kep., M.Kep., Sp.Kom.
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
e-mail: setyoadi@ub.ac.id atau abitio1@yahoo.com
Abstract : Teen as risk group for HIV transmission is strongly influenced by growth factors
and the influence of peer relationships. Peers in addition to providing a negative influence, it
can also providing positive influence through empowered to form groups of peer educators.
Schools into places that it is largely ideal teens at the time spent in school and the exchange
of values, knowledge, attitudes, and behaviors. The purpose of writing scientific papers
provide an overview of recent efforts to increase the participation of teenage students,
teachers, and families in the prevention of HIV transmission risk. Scientific work has
recently been applied using a principles management approach to community nursing,
community nursing care, family nursing care and integrating comprehensive school health
model and family nursing centers model with methods of school-community health
empowerment. Participants are vocational students "RF" on Tugu Village Cimanggis District
Depok City. The results of this application able to improve knowledge, life skill, health
behavior and improve role of school and family self-sufficiency. The results of recent
scientific work is expected to be the basis of adolescent health promotion program at school
in increasing the ability to prevent HIV transmission risk behavior of adolescents in
Indonesia.
Key world: Adolescents, the risk of hiv, empowerment, peer educators

Latar Belakang
Remaja
merupakan populasi
terbesar
baik di dunia maupun di
Indonesia, World Health Organization
(WHO) tahun 2005 memperkirakan
jumlah populasi remaja di dunia
mencapai sekitar setengah dari total
penduduk dunia, dan sekitar 990 juta ada
di negara berkembang (Utomo, 2003).
Berdasarkan data Survey Demografi
Kesehatan Indonesia tahun 2007, tercatat
jumlah remaja di Indonesia mencapai 30
% dari total penduduk 231 juta atau
sekitar 69 juta jiwa. Besarnya jumlah
remaja dapat menjadi modal suatu negara
untuk berkembang dan lebih maju karena
remaja sebagai sumber daya manusia
yang memiliki semangat dan motivasi
yang tinggi. Tetapi, remaja dapat juga
menjadi ancaman bagi sebuah bangsa jika
kurang
mendapat
perhatian
dan
bimbingan. Remaja memiliki sifat dan
karakteristik ingin tahu dan mencoba halhal yang baru. Kondisi inilah yang

menjadi salah satu alasan


digolongkan kelompok berisiko.

remaja

Faktor-faktor resiko penularan


HIV pada Remaja usia sekolah SMK
dapat diidentifikasi dengan memahami
karakteristik dari populasi. Beberapa
faktor
resiko
timbulnya
masalah
kesehatan menurut Stanhope dan
Lancaster (2002) antara lain; 1) risiko
sosial, berkaitan dengan kejadian sosial
masyarakat seperti daerah konflik,
wilayah bencana, daerah kriminal, dan
lingkungan dengan kekerasan psikologi,
2) risiko ekonomi, berkaitan dengan
kemiskinan, 3) risiko gaya hidup,
berkaitan dengan pola kebiasaan perilaku,
dan 4)
risiko kejadian dalam hidup,
berkaitan dengan kejadian-kejadian besar
yang dialami dalam hidup termasuk
tumbuh kembang. Califano (1997, dalam
Stanhope & Lancaster, 2002) membagi
faktor resiko antara lain; 1) resiko
berkaitan dengan biologi, dikaitkan

Community-School Based Empowerment Dalam Upaya Pencegahan Risiko Penularan HIV


Pada Remaja di Depok (Ns. Setyoadi)

dengan faktor genetik individu, 2) resiko


lingkungan, berkaitan dengan lingkungan
fisik maupun lingkungan sosial, 3) resiko
perilaku, berkaitan dengan pola kebiasaan
dalam hidup, dan 4) resiko yang
berkaitan dengan usia, yaitu masalah
kesehatan yang muncul pada spesifik
kelompok usia tertentu.
Menurut data tahun 2010, baik
dari BPS, Bappenas dan UNFPA,
sebagian dari 63 juta jiwa remaja berusia
10 sampai 24 tahun di Indonesia rentan
berprilaku tidak sehat. Masalah yang
paling menonjol dikalangan remaja saat
ini, misalnya masalah seksualitas,
sehingga hamil di luar nikah dan
melakukan aborsi. Kemudian rentan
terinfeksi penyakit menular seksual
(IMS),
HIV
atau
AIDS
serta
penyalahgunaan narkoba. Survei yang
dilakukan Kesehatan Reproduksi Remaja
Indonesia (SKRRI), remaja usia 14 -19
tahun pernah berhubungan seksual yakni
34,7% untuk permpuan dan 30,9% untuk
pria.
Berdasarkan laporan tahunan KPAD
(2011) penderita HIV/AIDS di Kota
Depok berkisar 1,7% dari total penduduk
Kota
Depok,
dan
75%
kasus
penyalahgunaan narkoba suntik berasal
dari kelompok umur 10-18 tahun serta
79% berpendidikan SLTA. Hasil
penelitian Saprudin (2007) terhadap
siswa SMA dan SMK Pancoran Mas
Depok tentang upaya pencegahan risiko
penyalahgunaan narkoba didapatkan
bahwa perilaku selalu merokok (4.9%),
sering (5.88%) dan kadang-kadang
(47.06%), alasan siswa merokok 28.43%
disebabkan oleh teman sebaya. Hal
senada juga sesuai dengan hasil
penelitian Marsito (2008) terhadap siswa
SMK di Kelurahan Pancoran Mas Depok
bahwa perilaku selalu merokok (8.1%),
sering (17.2%) dan kadang-kadang
(35.4%), alasan merokok 90.9% karena
pengaruh teman sebaya. Perilaku
150

merokok tersebut dapat mengantarkan


remaja untuk melakukan penyalahgunaan
narkoba, dan narkoba suntik merupakan
pintu masuk penularan HIV (Syarief,
2008).
Pendidikan kelompok sebaya
diyakini efektif digunakan sebagai
pendekatan pada remaja karena sesui
dengan karakteristik kuatnya ikatan
sebaya diantara mereka. Remaja sangat
dipengaruhi oleh teman sebaya dalam
berprilaku positif dan negatif, seperti :
cara berpakaian. gaya rambut, parfum,
bentuk tubuh, gaya berbicara, merokok,
minuman keras, narkoba, pergaulan
bebas, dan menonton film porno, internet,
dan majalah (Stone & Church, 1984;
Okanegara, 2008). Teman sebaya saling
mempengaruhi dan mengatur satu sama
lainnya (Smith & Diclement, 2000).
Brown dan Theobald (1999, dalam Rice
& Dolgan, 2005) mengatakan bahwa
pengaruh teman sebaya membuat remaja
merasa tidak nyaman, karena selalu
menerima tekanan ketika tidak sesuai
dengan perilaku teman sebayanya.
Berdasarkan penelitian Allen, Hape, dan
Miga (2008) pada remaja usia 13-20
tahun terhadap 184 sample terdapat hasil
bahwa anak remaja sangat dipengaruhi
oleh teman sebaya.
Penerapan beberapa pendidik
sebaya yang ada saat ini masih
menekankan upaya kesehatan berbasis
masyarakat,
sedangkan
program
kesehatan remaja yang berbasis sekolah
belum terintegrasi dengan keluarga.
Remaja menghabiskan sebagaian besar
waktunya disekolah, tempat belajar nilai
dan perilaku dengan interaksi sesama
teman, dan mudah untuk dijangkau.
Kelemahan kegiatan ditingkat masyarakat
adalah sulit untuk megumpulkan remaja,
keakraban kurang, pengaruh sosial
budaya yang kuat, dan membutuhkan
biaya sumber daya yang besar dalam
pelaksanaannya.

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

Peran serta masyarakat khsusnya


pelibatan keluarga menjadi sangat
penting untuk membantu menjaga
kesinambungan upaya di sekolah dan
dilanjutkan di masyarakat melalui
pengawasan dan pengarahan di tingkat
keluarga. Berdasarkan kelemahan upaya
selama ini, residen menawarkan inovasi
dengan cara menggabungkan upaya
kesehatan remaja dengan pendekatan
pemberdayaan
berbasis
sekolahmasyarakat (School-community based
empowermen). Model ini berusaha
mengintegrasikan peran sekolah dan
masyarakat terutama peran keluarga
dalam upaya peningkatan kesehatan
reproduksi dan pencegahan penularan
infeksi HIV pada remaja.
Berdasarkan uraian di atas
Resisden ingin mengetahui bagaimana
pengaruh penerapan model Schoolcommunity based empowermen terhadap
perubahan pengetahuan, ketrampilan
hidup (life skill), dan perilaku remaja
terhadap Upaya pencegahan risiko
penularan HIV?

Metode Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah
mengetahui pengaruh penerapan model
School-community based empowermen
terhadap
perubahan
pengetahuan,
ketrampilan hidup (life skill), dan
perilaku
remaja
terhadap
Upaya
pencegahan risiko penularan HIV.
Pronyek implementasi program ini
dilakukan pada pada semua siswa SMK
RF kelas X dan XI di Kota Depok Jawa
barat. Sampel diambil secara purposif
yaitu Siswa yang telah terlibat aktif
selama implementasi program yang
berjumlah 61 siswa. Kriteria sampel
adalah terlibat minimal 80% kehadiran
selama implementasi, bergabung dalam
kelompok pendidik sebaya, kelas X dan
XI, dan bersedia terlibat aktif sebagai
kader pendidik kesehatan sekolah (peer
educator).
Kegiatan
implementasi
pronyek ini dilaksanakan selama 8 bulan.

Hasil Penelitian
1). Pembentukan Kelompok Pendidik
Sebaya dan Konselor Sebaya.
Pembentukan kelompok pendidik
sebaya dan konselor sebaya dilakukan
untuk memperkuat kembali peran
UKS dalam meningkatkan status
kesehatan siswa. Terbentuk 22 kader
pendidik sebaya dan konselor
sebayata yang terlibat selama
implementasi program. Penentuan
siswa ini melibatkan kepala sekolah,
wakil
kepala
sekalah
bidang
akademik dan wakil kepala sekolah
bidang kesiswaan untuk mendapatkan
siswa yang mamiliki rasa percaya diri
dan mampu diterima oleh semua
siswa di sekolah untuk dapat
menjalankan
tugas
dan
tanggunjawabnya sebagai pendidik
sebaya dan konselor sebaya.
2). Pelatihan Guru Pembina UKS dan
Guru Konselor
Pelatihan guru Pembina UKS dan
guru konselor menjadi bagian penting
dari program untuk membantu proses
supervisi ditingkat sekolah dan
kamandirian dalam menjalankan
program. Pelatihan disampaikan oleh
dinas kesehatan, supervisor fakultas,
dinas pendidikan, dan mahasiswa
residen. Sebagai bukti mereka telah
mengikuti
pelatihan,
diberikan
sertifikat sebagai tanda bahwa peserta
memiliki
kemampauan
dan
ketrampilan
sebagai
guru
pemebimbing UKS dan guru konselor
yang akan membantu di dalam proses
pendidikan sebaya. Hasil pelatihan
menunjukkan rerata kenaikan nilai
pengetahuan guru sebelum dan
sesudah pelatihan sebesar 17,46 dan
hasil
uji
statistik
didapatkan
kesimpulan adanya perbedaan yang
bermakna
tingkat
pengetahuan
sebelum dan sesudah pelatihan
(p=0,00; =0,05).
151

Community-School Based Empowerment Dalam Upaya Pencegahan Risiko Penularan HIV


Pada Remaja di Depok (Ns. Setyoadi)

3). Workshop Penyusunan Program


Kerja UKS/PKPR
Workshop
penyusunan
program
kegiatan pendidik sebaya dan
konselor sebaya difokuskan pada
memberikan
pengetahuan
dan
ketrampilan siswa dalam mencegah
faktor risiko penularan infeksi HIV
seperti; masalah seputar remaja yang
rentan untuk terjadinya penularan
infeksi HIV seperti Narkoba, perilaku
seksual, dan kesehatan reproduksi.
Penyusunan
program
kerja
melibatkan banyak banyak pihak
seperti dinas kesehatan, dinas
pendidikan, TP UKS kecamatan,
Puskesmas, dan sekolah sehingga
menghasilkan perencanaan yang
lengkap dan dapat diterima oleh
semua pihak.
4). Penjaringan Calon dan Pelatihan
pendidik Sebaya
Penjaringan calan pendidik sebaya
melibatkan guru kesiswaan dengan
beberapa kriteria dan dilanjutkan
dengan pelatihan yang melibatkan
residen, guru, dan petugas puskesmas.
Pelatihan dilakukan selama dua hari
bertujuan
untuk
membekali
pengetahuan dan ketrampilan seputar
permasalahan kesehatan remaja.
Pengetahuan
yang
diberikan
disesuaikan dengan buku standar
PKPR yang disusun depkes dan
diberikan kepada seluruh peserta
pelatihan, sedangkan ketrampilan
diberikan melalui pelatihan interaktif
dalam
mengatasi
permasalahan
kesehatan remaja. Hasil pelatihan
didapatkan rerata kenaikan nilai
pengetahuan sebelum dan sesudah
pelatihan adalah sebesar 15,32 dan
hasil
uji
statistik
didapatkan
perbedaan yang bermakna tingkat
pengetahuan sebelum dan sesudah
pelatihan (p= 0,00; =0,05).

152

5). Pelatihan Penyusunan Buku Modul,


catatan, dan Media Pembelajaran
Buku modul pembelaran dalam
pendidik sebaya disusun dengan cara
diskusi
dan
konsultasi
yang
melibatkan Supervisor, Residen, guru,
dan kader pendidik sebaya dengan
tujuan untuk menghasilkan buku
modul yang terstruktur, mudah
dipahami dan diterapkan oleh siswa.
Selama pelatiahan ini dijelaskan
pentingnya kurikulum, buku modul,
dan media dalam proses pembelajaran
sebaya
serta
tahapan
dalam
penysusunan buku modul seperti;
membuat
tujuan
pembelajaran,
memilih media pembelajaran, dan
membuat evaluasi pembelajaran.
6).

Sosialisasi Penggunaan Buku


Modul dan Catatan Pendidik
Sebaya
Buku suplemen materi pendidik dan
konselor sebaya yang sudah dibuat
kemudian dilakukan sosialisasi cara
penggunaan dan cara pencatatan hasil
kegiatan setiap pertemuan. Sosialisasi
dilakukan bersam dengan guru
pembina kesiswaan dengan harapan
adanya peran pengawasan terhadap
program pendidik dan konselor
sebaya.

7). Penyusuanan dan Sosialisasi Buku


Catatan Supervisi Kegiatan
Supervisi menjadi bagian penting
dalam kegaitan manajemen pelayanan
kesehatan karena akan mampu
menjaga dan meningkatkan kinerja
seluruh komponen organisasi untuk
mencapai
tujuan
yang
telah
ditetapkan. Buku catataan supervisi
dibuat bersama dengan guru, petugas
puskesmas, dan konsultasi dengan
supervisor. Buku ini berisi catatan
kegaitan pendidik dan konselor
sebaya
oleh
supervisor
dari
mahasiswa dan guru untuk membantu

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

siswa dalam meyapamikan materi dan


kegiatan konseling.
8). Desiminasi Struktur Pembina UKS
Tingkat Kecamatan
Peretemuan dengan tim pembina
UKS di tingkat kecamatan dilakukan
dengan tujuan untuk mensosialisaikan
program upaya kesehatan remaja
PKPR khsusunya pencegahan risiko
penularan HIV yang selama ini belum
berfungsi dengan baik. Upaya
dilakukan dengan cara mengundang
Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan,
TP UKS Kecamatan, Pusksmas, dan
phak sekolah.
9). Supervisi Kegiatan Pendidik dan
Konselor Sebaya
Supervisi kegiatan pendidik dan
konselor sebaya dilakukan dengan
tujuan untuk memberikan bantuan
dan bimbingan selama siswa kader
kesehatan melaksanakan kegiatan
pendidikan kesehatan selama 10 kali
pertemuan yang didampingi oleh
mahasiswa
risiden,
sedangkan
pendampingan oleh guru dilakukan
sebayak 2 kali. Kegiatan supervisi
dilakukan setiap satu minggu seklai
mulai bulan Maret sampai awal Mei
2012 bertempat di sekolah setiap hari
Selasa jam 15.30 16.30 dan Jumat
jam 14.30 - 15.30 WIB.
Hasil dari supervisi menunjukkan
bahwa penampilan kader pendidik
sebaya semakin baik dari supervisi
pertama
dibandingkan
dengan
supervisi terakhir. Perbandingan
penampilan kinerja pendidik sebaya
pre test dan post test menunjukkan
rerata penampilan kinerja pada
supervisi pertama adalah 64,40
(SD=1,50;
95%
CI).
Rerata
penampilan kinerja pada supervisi
terakhir adalah 88 (SD=1,70; 95%
CI). Terlihat nilai rerata perbedaan
antara sebelum dan sesudah kegiatan
pendidik sebaya adalah 23,6. Hasil uji

statistik dapat disimpulkan ada


perbedaan yang signifikan antara
penampilan kinerja pendidik sebaya
pada supervisi pertama dan terakhir
(p=0,000; =0,05).
10). Kunjungan Rumah (Home Visit)
Kunjungan rumah dilakukan terhadap
siswa yang memilii risiko tinggi
(hight risk) terhadap perilaku yang
mengarah pada penularan HIV
seperti; merokok, pacaran yang
berlebihan,
memiliki
masalah
berkaitan dengan akademik, keluarga
dan teman, penggunaan zat aditif, dan
masalah kesehatan. Kunjungan rumah
dilakukan atas sepengathuan dari
pihak sekolah dan hasilnya dilaporkan
kembali kepada kepala sekolah.
Upaya yang dilakukan di rumah
adalah memberikan intervensi pada
keluarga dan meminta dukungan dan
komitmen dalam menyelesaikan
masalah yang dihadapi oleh siswa.
Selama 8 bulan telah dilakukan
kunjungan terhadap 10 keluarga.
Hasilnya menunjukkan meningkatnya
kemandirian keluarga pada rentang
tingkat kemandirian III hingga IV.
Sebanyak 60% keluarga berada pada
tingkat kemandirian III (keluarga
mampu mengidentifikasi masalah
yang
dialami
dan
melakukan
perawatan
sederhana
yaitu
menyelesaikan
masalah
yang
dialami), dan 40% keluarga berada
pada tingkat kemandirian IV (mampu
melakukan
pencegahan
dengan
melakukan komunikasi secara terbuka
dalam
keluarga
dan
mampu
melakukan promosi kesehatan dengan
cara memberikan pertimbangan pada
remaja dalam mengambil keputusan).
11). Lokakarya Mini Akhir Program
Lokakarya mini akhir program
bertujuan untuk evaluasi akhir
kegiatan dan menyampaikan hasil
kegiatan selama 8 bulan kegiatan
serta pelimpahan tindak lanjur
153

Community-School Based Empowerment Dalam Upaya Pencegahan Risiko Penularan HIV


Pada Remaja di Depok (Ns. Setyoadi)

kegiatan pada pihak terkait seperti


Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan,
Puskesmas, dan Guru. Hasil evaluasi
program didapatkan 1). 9 dari 10
siswa yang dikonseling menunjukkan
perubahan perilaku berhenti merokok,
berhenti minum alkohol, dan perilaku
pacaran yang lebih sehat, 2).
Peningkatan
ketrampilan
hidup
(lifeskill) siswa yang ditunjukkan
dengan nilai pretest dan posttest
menunjukkan rerata ketrampilan
hidup peserta sebelum kegiatan
pendidik sebaya adalah 63,72
(SD=8,43;
95%
CI).
Rerata
ketrampilan hidup peserta sesudah
kegiatan pendidik sebaya adalah
87,44 (SD=8,49; 95% CI). Terlihat
nilai rerata perbedaan antara sebelum
dan sesudah pelatihan ketrampilan
hidup adalah 23,72. Hasil uji statistik
didapatkan ada perbedaan yang
signifikan antara ketrampilan hidup
siswa sebelum dan sesudah kegiatan
pendidik dan konselor sebaya remaja
(p=0,000; =0,05), 3). Penurunan
perilaku berisiko penularan infeksi
HIV yang ditunjukkan dengan
perbandingan nilai sebelum dan
sesudah kegiatan menunjukkan rerata
perilaku berisiko peserta sebelum
kegiatan pendidik sebaya adalah
88,97 (SD=64,07; 95% CI). Rerata
perilaku berisiko peserta sesudah
kegiatan pendidik sebaya adalah
49,43 (SD=12,21; 95% CI). Terlihat
nilai selisih rerata antara sebelum dan
sesudah kegiatan pendidik adalah 39,54. Hasil uji statistik didapatkan
ada perbedaan yang signifikan
perilaku berisiko peserta sebelum dan
sesudah kegiatan pendidik sebaya
pada remaja (p=0,000; =0,05).

Pembahasan
Pendidik sebaya dan guru
konselor yang sudah direkrut untuk dapat
menjalankan fungsinya perlu dibekali
pengetahuan tentang peran, tugas, dan
tanggung jawab dalam upaya kesehatan
154

reproduksi remaja dan pencegahan


IMS/HIV. Kegiatan tersebut diwujudkan
dalam bentuk pelatihan selama 2 hari
yang diikuti oleh 22 siswa dan 2 guru
konselor oleh pihak Dinas Pendidikan,
Dinas Kesehatan, Supervisor, dan
Mahasiswa residen. Pelatihan merupakan
bentuk orientasi bagi staff baru sebelum
mereka benar-benar menjalankan tugas
dan tanggung jawab yang sebenarnya
(Gillis, 2000). Hal ini sesuai dengan
pendapat McNamara (1999 dalam Huber,
2006)
yang
menyatakan
bahwa
pengorganisasian sumber daya manusia
dapat dilakukan dengan melakukan
pelatihan dan pengembangan.
Tujuan dari pelatihan adalah
untuk membekali kader pendidik sebaya
dan guru konselor agar dapat memahami
masalah seputar tumbuh kembang
remaja, permasalahan remaja, dan upaya
yang bisa dilakukan untuk meningkatkan
kesehatan remaja khususnya kesehatan
reproduksi dan pencegahan penularan
HIV. Harrison et al (2010), hasil
penelitiannya mengatakan bahwa orangorang yang dilibatkan dalam organisasi
harus memahami budaya dan nilai
organisasi khususnya tanggung jawab
yang diterima, karena akan sangat
membantu dalam proses pengambilan
keputusan yang sebaiknya dilakukan
untuk membantu kelancaran organisasi.
Marquis dan Houston (2006)
menjelaskan bahwa untuk menjaga
kualitas
pelayanan
perlu
adanya
standarisasi atau pedoman dalam
menjalankan tugas mulai dari masukan,
proses, dan keluaran. Standarisasi
pelayanan dapat dicapai dengan adanya
pedoman atau standar operasional
prosedur (SOP) yang mengambarkan
indikator
keberhasilan
program,
pengembangan
supervisi
dalam
monitoring, dan evaluasi. Kirby (2011),
menjelaskan bahwa upaya supervisi,
pembinaan,
pelatihan,
pembuatan
pedoman kerja, dan pengaturan kerja

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

Koordinasi dilakukan dengan cara


membangun komunikasi organisasi guna
kelancaran setiap kegiatan. Komunikasi
yang
efektif
akan
mengurangi
kesalahpahaman dan akan memberikan
pekerja pandangan umum, pemahaman
umum dan kesatuan arah dan upaya
dalam suatu organisasi (Gillies, 2000;
Swansburg, 1999; Marquis & Huston,
2006). Bekker dan Huselid (2011), hasil
penelitiannya tentang budaya organisasi
menjelaskan bahwa untuk meningkatkan
penampilan kinerja organisasi perlu
adanya budaya komunikasi organisasi
yang jelas dalam memberikan arahan atau
supervisi.

remaja. Keluarga merupakan lembaga


pertama dan penting dalam upaya untuk
menanamkan
nilai-nilai,
sistem
keyakinan, sikap, atau perilaku dari
generasi sebelumnya kepada generasi
berikutnya (Durkin, 1995). Tujuan
sosialisasi sistem nilai dalam keluarga
adalah
agar
generasi
berikutnya
mempunyai sistem nilai yang sesuai
dengan tuntutan norma yang diinginkan
oleh kelompok, sehingga individu dapat
diterima dalam suatu kelompok. Berry
dkk (1992), menjekaskan pada dasarnya
perilaku dapat dipindahkan melalui
vertikal dan horizontal. Pemindahan
vertikal dilakukan oleh orang tua melalui
sikap permisif terhadap perilaku merokok
anak
dan
pemindahan
horisontal
dilakukan oleh teman sebaya melalui
lingkungan pergaulan.
Hasil evaluasi tingkat kemandirian
keluarga diperoleh kenaikan dari
tingkat kemandirian I sebelum
intervensi
menjadi
tingkat
kemandirian III dan IV setelah
intervensi
asuhan
keperawatan
keluarga.
Kondisi
ini
sangat
dipengaruhi
oleh
karakteristik
keluarga
sehat
yang
meliputi
komitmen keluarga dan anggota
keluarga, sikap saling menghargai,
kemampuan untuk menggunakan
waktu bersama, efektifitas pola
komunikasi, derajat orientasi agama
atau spiritual, kemampuan untuk
beradaptasi dengan krisis dalam
kondisi yang positif, motivasi
keluarga, dan kejelasan peran
keluarga.
Karakteristik
tersebut
sangat
berkontribusi
dalam
berjalannya fungsi dan struktur
keluarga untuk mencapai tugas
perkembangan (Krysan, Morre, &
Zill, 1990; Stinnett & DeFrain, 1985
dalam Gladding, 2002).

Dukungan keluarga
menjadi
penting dalam upaya menanamkan
perilaku sehat terutama mencegah dan
menghentikan perilaku merokok pada

Setelah dilakukan implementasi


program pada aggregate siswa SMK
dilakukan evaluasi terhadap siswa
terdapat perubahan perilaku dan

yang baik dalam organiasi meningkatkan


sumber daya manusia organisasi.
Supervisi
kegiatan
pendidik
sebaya oleh mahasiswa reisden dilakukan
terhadap penampilan kader pendidik
sebaya dalam menyampaikan materi
kepada kelompoknya dan memberikan
masukan dan motivasi disetiap akhir
supervisi.
Kegiatan
supervisi
ini
diharapkan akan mampu meningkatkan
kinerja pendidik sebaya dalam melakukan
pembinaan kelompoknya.
Menurut
Marquis dan Huston (2006) menjelaskan
bahwa
pengarahan
terdiri
dari
peningkatan
motivasi
kerja
atau
supervisi, dan komunikasi interpersonal.
Peningkatan motivasi kerja kepada
anggota dapat berbentuk moril maupun
materil atau verbal dan nonverbal.
Pemberian motivasi akan berdampak
positif pada anggota untuk berusaha
mencapai yang terbaik. Motivasi kerja
juga
harus
disertai
peningkatan
kemampuan komunikasi interpersonal.
Kemampuan interpersonal yang bagus
akan dapat meningkatkan kerjasama antar
anggota.

155

Community-School Based Empowerment Dalam Upaya Pencegahan Risiko Penularan HIV


Pada Remaja di Depok (Ns. Setyoadi)

ketrampilan hidup remaja setelah


menggunakan metode pemberdayaan
pendidik sebaya dan konselor sebaya.
Hal ini merupakan perubahan positif
pada aggregate remaja dalam
meningkatkan kemampuan mencegah
resiko
penularan
HIV.
Hasil
wawancara dengan siswa mengatakan
merasa senang ada teman-teman yang
mengingatkan untuk berperilaku
positif di sekolah. Siswa lain merasa
senang karena perilaku negatif,
seperti merokok, pacaran, dan tidak
masuk sekolah mulai berkurang
setelah ada kegiatan
oleh kader
pendidik sebaya. Hal ini sesuai
dengan hasil penelitian Ristianti
(2009) pada siswa SMA terdapat
bahwa dukungan positif teman sebaya
sangat mempengaruhi remaja.
Menurut
penelitian
Bosma
(1983),dalam Monks, Knors, dan
Haditono, 2004) terhadap perilaku
remaja menemukan kegiatan positif
pada remaja dengan sebaya, seperti:
komitmen untuk sekolah, organisasi,
bekerja, dan mengisi waktu luang
dengan olah raga.
Kegiatan positif siswa didukung
dengan
pemberian
pelatihan
ketrampilan hidup dalam rangka
meningkatkan rasa percaya diri,
potensi, mengambil keputusan, dan
mencari nilai diri remaja untuk
mengembangkan sikap dan perilaku
positif (WHO, 2002). Pengetahuan
dan ketrampilan remaja tentang
kesehatan reproduksi, pencegahan
kehamilan,
dan
pencegahan
penggunaan
NAPZA
dapat
ditingkatkan melalui penyuluhan
kesehatan yang diberikan oleh teman
sebaya (Komang, 2006; Mulyadi,
2010, Santoso, 2010; Susanto, 2011).
Hambatan yang dijumpai selama
proses implementasi program adalah
masih sulitnya melakukan koordinasi
156

dengan lembaga terkait baik lintas


program dan sekotor yang disebabkan
beban kerja yang tinggi. Disamping
itu belum menjadi prioritasnya upaya
kesehatan berbasis sekolah pada
remaja menjadi kesulitan sendiri
dalam mencari waktu di sela-sela
jampelajaran,
sehingga
banyak
kegiatan yang dilaksanakan diluar
jam pelajaran.
Simpulan
Peningkatan peran siswa dan guru
melalaui pendekatan model Communityschool based empowerment mampu
meningkatkan peran serta siswa dan guru
dalam upaya mencegah risiko penularan
HIV
di
sekolah.
Peningkatan
pengetahuan, ketrampilan hidup, dan
perilaku lebih sehat ditunjukkan pada
siswa dengan semakin meningkatnya
kemampuan
mereka
dalam
menyelesaikan masalah dan kemampuan
untuk menghindari faktor-faktor risiko
penularan HIV. Disarankan perlu adanya
keterlibatan KPA dan menjadikan upaya
kesehatan reproduksi dan pencegahan
risiko penularan HIV menjadi bagian
intrakurikuler
dengan
memasukkan
dalam mata ajar bimbingan konseling
atau terintegrasi dalam setiap mata ajar.
DAFTAR PUSTAKA
Bekker & Huselid (2011) Strategic
Human Resources Management:
Where Do We Go From Here?
Journal of management, 1School of
Management, State University of
New York at Buffalo, Buffalo, NY
14260,
http://journals.lww.com/jonajournal
/Abstract
Berry, J.W., Pootinga, YPEH., Segall,
M.H., Dasen, P.R., (1992). Crosscultural Psychology: Research &
Applications. Cambridge: Cambridge
Press University.

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

Durkin, K. 1995. Developmental Social


Psychology From Infancy to Old Age.
Cambrige: Blackwell Publisher.
Gillies,
D.A.
(2000).
Nursing
Management:
A
System
rd
Approach.5
ed.,Philadelphia :
W.B.Saunders Company.
Gladding, Samuel T,. (2002). Family
Therapy: History, Theory, and
Practise. 3rd ed. New Jersey:
Precinte-Hall.
Harrison, at all, 2010, Organizational
Culture:
Assessment
and
Transformation, journal of The
Academy of Management Annals.
http://aas.sagepub.com/content/43/1
/87.abstract
Kirkby , Improving Staffing with a
Resource
Management
Plan,
Journal of Nursing Administration:
November 1998 - Volume 28 Issue
11
pp
30-3
http://journals.lww.com/jonajournal
/Abstract
KPN.

(2012).
Laporan
Tahunan
HIV/AIDS
Nasional.
http://www.kpn.org.id .Diperoleh
tanggal 19 Januari 2012.

Marquis & Houston (2006).Leadership


Roles and Management Functions
in
Nursing,
Theory
and
Application. New Jersey; Mosby
Co.
Smith & DiClemente. (2000). High Risk
For Contracting HIV Virus in Rural
Teens.
Diakses
dari
http://sagepub.com/content
Monks,
Knoers,
&
Haditono
(2004).Psikologi Perkembangan.
Pengantar
Dalam
Berbagai

Bagiannya. Yogyakarta; UGM


Press
Mulyadi, B. (2009). Peer Educator
dengan Metode Adolescent Friendly
untuk
Mencegah
Kehamilan
Remaja Pada Siswi SMP Ratu Jaya
di Kelurahan Ratu Jaya Kecamatan
Cipayung Kota Depok. Karya
Ilmiah Akhir. Tidak dipublikasikan.
Okanegara,
K.
(2008).
Sexuality
Reproductive
Health
Youth.
Diakses
dari
http://okanegara.com/daily
Rice , Dolgan (2005).The Adolescent
Development, Relationships, and
Culturre.eleventh edition. Bostob:
Pearson Education.
Stanhope, M. dan Lancaster, J. (1996).
Community Health Nursing :
Promoting Health Of Agregates,
Families And Individuals, 4 th ed.
St.Louis : Mosby, Inc.
Stone & Church (1984).Childhood and
Adolescence A Psychology of The
Growing
Person.New
York:Random House
Susanto, Tantut. (2011). model Remaja
Untuk Remaja (RUR) sebagai
salah satu bentuk model intervensi
keperawatan komunitas dalam
masalah
tumbuh
kembang
kesehatan reproduksi remaja di
Kelurahan
Tugu
Kecamatan
Cimanggis Kota Depok. KIA.
Tidak dipublikasikan.
Syarief, Fatimah. (2008). Bahaya
Narkoba di Kalangan Pemuda.
Jakarta
UNPFA. (2009). Adolescent Sexual and
Reproductive Health Toolkit For
Humanitarian
Settings:
A
Companion to The Interagency
157

Community-School Based Empowerment Dalam Upaya Pencegahan Risiko Penularan HIV


Pada Remaja di Depok (Ns. Setyoadi)

Field Manual on Reproductive


Health in Humanatarian Setting.
WHO.
(2005).
Promoting
and
Safeguarding the Sexual and
Reproductive
Health
of
Adolescents.
Diakses
dari
http://www.who.int/reproductivehealth/strategy
--------------. (2002). Adolescent Friendly
Health Services.Geneva: WHO.

158

STUDI FENOMENOLOGI: PENGALAMAN MENJADI


PEMBIMBING KLINIK MAHASISWA KEPERAWATAN DI
INSTALASI GAWAT DARURAT RUMKITAL
Dr. RAMELAN SURABAYA
1

Merina Widyastuti , Indah Winarni , Fransiska Imavike F

Program Magister Keperawatan Gawat Darurat Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

email : widyastutimerina@yahoo.co.id
2

Staf Akademik Keilmuan Ilmu bahasa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya
3
Staf Akademik Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Abstract :The clinical practice for nursing education today still has complex
problems. Clinical instructors have important role for continuation of
development of nursing profession. Emergency department has unique nature
where overload workforce and it requires challenges for nurses to become
clinical instuctors. The purpose of this study was to reveal the phenomenon of
clinical instructors experience in emergency department. Qualitative
approach with an interpretive phenomenology based on Heidegger philosophy
through unstructured interview techniques was used in this study. Methods of
data analysis applied in this study was based on Van Manen. The samples
selected in this study consisted of five participants. The result of this study
indicated one core theme in term of moral burden on the part of clinical
instructors. This core theme was generated from two major themes , namely
incompetence in providing maximal guiding efforts and taking responsibility
for passing on the credibility for the future nurses. The results of this research
is important to be taken by educational institutions, in order to preparing their
students before entering clinical practice into ED and communincating
effectively to clinical instructor at practical setting. Subsequently
recommended for practical setting to promote their role as educational
hospital as increase human quality source clinical instructors.
Key words: Clinical Instructors, student, ED

Latar Belakang
Instalasi gawat darurat memiliki
karakteristik ruangan unik yang dimana
beban
kerja
cukup
tinggi
dan
memerlukan tindakan penanganan yang
cepat, tepat dan trampil. Dengan
demikian untuk menjadi pembimbing
klinik di tatanan gawat darurat
merupakan tantangan tersendiri bagi
seorang perawat (Schriver et al, 2003).
Menurut Ryan-Nicholls (2004) di
ruang praktek klinik kegawatdaruratan,
pembimbing klinik cenderung tidak
mampu menangani mahasiswa dalam
jumlah besar, hal ini disebabkan karena

tempat praktek klinik yang terpencar


disertai beberapa tindakan kegawatan
yang memerlukan ketrampilan cukup
tinggi. Kondisi unik di instalasi gawat
darurat terkadang membuat peserta didik
tidak merasa dibimbing dengan baik
begitu pula yang dirasakan oleh
pembimbing klinik yang juga merasa
kurang puas dan kurang maksimal dalam
membimbing peserta didik (Schriver et
al, 2003; Cheung & Au, 2011).
Pembelajaran
praktek
klinik
adalah suatu pengalaman pribadi dan
interpersonal yang diikat dalam suatu
prinsip
dan
peraturan
dimana

Studi Fenomenologi: Pengalaman Menjadi Pembimbing Klinik Mahasiswa Keperawatan


Di Instalasi Gawat Darurat (Merina Widyastuti, Indah Winarni, Fransiska Imavike F)

keberhasilannya ditentukan oleh peran


serta pembimbing dan peserta didik yang
dibimbing. Praktek klinik diharapkan
bukan hanya sekedar kesempatan untuk
menerapkan teori yang dipelajari di kelas
akan tetapi melalui praktek klinik,
mahasiswa diharapkan lebih aktif dalam
setiap tindakan sehingga dapat menjadi
perawat
yang
terampil
dalam
mengaplikasikan
teori
keperawatan
dengan memberikan pelayanan kepada
masyarakat (Brunero & Parbury, 2010;
Reid, 2010)
Pembelajaran praktek klinik di
lahan praktek rumah sakit sampai saat ini
memiliki
permasalahan
yang
kompleks.Menurut Schriver et al (2003)
Permasalahan
kompleks
tersebut
mencakup faktor kondisi pasien di
ruangan (segi jumlah pasien yang banyak
dan tidak berbanding dengan jumlah
perawat
beserta
kondisi
tingkat
kegawatan pasien yang membutuhkan
perawatan intensif), faktor kebijakkan
rumah sakit (aturan mengenai praktek
mahasiswa dan kriteria penunjukkan
sebagai pembimbing klinik), faktor
institusi pendidikan (daftar kompetensi
yang
diharapkan
sebagai
output
mahasiswa), faktor mahasiswa (minat,
karakter watak, pengetahuan sebelumnya
dan pengalaman praktek sebelumnya) dan
faktor pembimbing klinik (tingkat
pendidikan,
pengalaman
bekerja,
kemampuan membimbing, karakteristik
pribadi, dukungan rekan sejawat).
Sampai saat ini penelitian dan
literatur
yang
memuat
mengenai
pengalaman menjadi pembimbing klinik
di setting gawat darurat atau pun
penelitian yang dibuat dari sudut pandang
pembimbing klinik di Indonesia masih
terbatas padahal penelitian mengenai
pembimbing klinik merupakan hal yang
menarik terkait perannya yang juga
berkontribusi penting dalam pendidikan
keperawatan.
Fenomena tersebut yang mendorong
peneliti untuk mengungkap fenomena

160

pengalaman menjadi pembimbing klinik


di instalasi gawat darurat
Bahan dan Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah penelitian kualitatif.
Pendekatan yang digunakan adalah
fenomenologi
interpretive
yang
didasarkan pada filosofi Heidegger.
Pemilihan partisipan dalam penelitian ini
adalah
perawat
yang
menjadi
pembimbing klinik, sehingga diharapkan
bisa mengungkapkan pengalaman selama
menjadi pembimbing klinik di IGD.
Partisipan dipilih dengan tehnik
purposive sampling. Kriteria inklusi yaitu
(1) Sehat jasmani dan rohani, (2)
Pendidikan S1 keperawatan dengan
pengalaman kerja 3 tahun atau DIII
Keperawatan dengan pengalaman kerja
minimal 5 tahun, (3) Mempunyai
pengalaman kerja di ruang gawat darurat
minimal 5 tahun. Sejumlah 5 partisipan
menjadi sampel penelitian, dengan
pertimbangan telah terjadi saturasi data.
Pada saat wawancara, strategi yang
digunakan adalah open ended interview
dan unstructured interview. Analisis data
yang digunakan berdasarkan tahapan dari
Van Manen. Sedangkan untuk proses
keabsahan penelitian yang merupakan
validitas dan reliabilitas dalam penelitian
kualitatif ini dilakukan dengan tehnik
Credibility,
Dependability,
Confirmability
dan
Transferability/
Fittingness.
Hasil Penelitian
Hasil analisis data didapatkan dua
klaster
tema
yang
menjelaskan
permasalahan penelitian. Klaster tema
yang diperoleh tentang pengalaman
menjadi pembimbing klinik di IGD
adalah ketidakberdayaan memberikan
bimbingan yang maksimal dan eksistensi
diri.
1. Ketidakberdayaan
dalam
memberikan
bimbingan
yang
maksimal
Perasaan ketidak berdayaan dalam

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

memberikan bimbingan yang maksimal


adalah ketidakmampuan bertindak untuk
memberian arahan, tuntunan yang
sebanyak banyaknya. Pembimbingan
tidak maksimal digambarkan oleh
partisipan sebagai pengalaman yang
timbul karena beberapa hal seperti
pengalaman rasa tidak percaya diri dan
beban kerja yang dirasa berlebihan
a. Pengalaman rasa tidak percaya
diri
Pengalaman rasa tidak percaya
diri dibentuk dari 2 hal yaitu
pengembangan diri tidak maksimal dan
aturan yang tidak jelas. Pengembangan
diri yang tidak maksimal diantaranya
terdiri dari seminar, pelatihan, jarang
baca buku dan keberlanjutan tingkat
pendidikan. Sedangkan aturan yang tidak
jelas mencakup komunikasi mekanisme
bimbingan dan kriteria penunjukkan
pembimbing klinik yang tidak jelas.
Mayoritas partisipan menyatakan
bahwa selama ini merasa tidak percaya
diri
dalam
membimbing
karena
pengembangan diri yang tidak maksimal.
Seperti yang disampaikan oleh beberapa
responden berikut.
...Dari lubuk hati saya
memang menjadi pembimbing klinik
saya kurang percaya diri karena(
dengan ekspresi bingung) ...ya itu
tadi dari ilmunya saya masih
minimal sekali Iyaaa...tidak percaya
diri karena tingkat pendidikan...
(P1)
Sedangkan tema aturan yang tidak
jelas juga membuat proses bimbingan
tidak maksimal. Hal ini seperti
disampaikan oleh .
...Belum paham aku mbak... belum
ada sosialisasi... setauku aku
sekarang yaa aku pembimbing di
klinik aja, secara teori mungkin ada
yang berwenang , setauku seperti
itu... bukan murni kayak dulu......klo
sekarang khan S1 dan D3... itu yang
membuat kadang kita gimana ya?
Yaitu itu tadi mbak, mau menilainya

khan tidak bisa secara holistik


akhirnya ya dicampur rata... (P4)
b. Beban
kerja
yang
dirasa
berlebihan
Pengalaman beban kerja yang
dirasa berlebihan ini dibentuk dari 2 hal
yaitu karakterisitik unik dari IGD itu
sendiri
dan
tanggung
jawab
membimbing.
Pengalaman beban kerja yang
dirasa
berlebihan
bagi
partisipan
sebenarnya juga tidak lepas dari
karakteristik IGD itu sendiri dimana hal
ini juga dinyatakan dengan statement :
...kita membimbingnya
tidak maksimal seperti di ruangan
yang bisa langsung duduk bersama
terus apa itu (tertawa) bisa saling
bicara. tapi kita khan mobile (P2)
Sedangkan beban kerja berlebihan
terkait tanggung jawab membimbing
berusaha diungkapkan oleh partisipan
dengan
...yaa tetap memang ini tugas
saya untuk membimbing... toh mahasiswa
sering tanya tanya, menyita waktu dalam
pekerjaan di saat pasien banyak.... (P1)
Karakterstik IGD yang sibuk dan
rasa tanggung jawab dalam membimbing
membuat beberapa partisipan merasa
bersalah karena tidak dapat memberikan
bimbingan yang baik. Hal ini dinyatakan
dengan
Yaaa enggak siihhh kita
membimbing .. kewajiban kita
sebagai antap disitu kita harus
membimbing memang.... Ya kadang
kadang ya kurang full ke
mahasiswa juga merasa bersalah...
(P3)
2. Tanggung
jawab
terhadap
pengkaderan
generasi
penerus
perawat
Tema besar yang kedua adalah
tanggung jawab terhadap pengkaderan
generasi penerus perawat. Tanggung
jawab terhadap pengkaderan generasi
161

Studi Fenomenologi: Pengalaman Menjadi Pembimbing Klinik Mahasiswa Keperawatan


Di Instalasi Gawat Darurat (Merina Widyastuti, Indah Winarni, Fransiska Imavike F)

penerus perawat ini mencakup harapan


terhadap perbaikan proses pembimbingan
dan eksistensi diri sebagai perawat senior.
a. Harapan
terhadap
perbaikan
proses pembimbingan
Sebagian
besar
partisipan
menggambarkan banyak harapan harapan
terhadap
perbaikan
proses
pembimbingan. Harapan yang pertama
adalah mengenai gambaran seorang
pembimbing yang ideal. Hal tersebut
diungkapkan partisipan.
... Idealnya satu dia sudah
lama
bekerjanya,
pendidikannya lebih tinggi...
(P3)
Harapan yang kedua adalah
mengenai pencapaian mahasiswa setelah
dari IGD. Interaksi antara partisipan
dengan
mahasiswa
dalam
proses
pembimbingan menumbuhkan suatu
harapan mengenai pencapaian target
kompetensi
mahasiswa.
Hal
ini
dinyatakan oleh salah seorang partisipan
...saya
itu
berkeinginan
mahasiswa
setelah dari UGD itu bisa
nginfus,
bisa
pasang
kateter, bisa ECG apa itu
smua yang dilakukan di
UGD
memahami
semuanya... (p2, 28)
b. Eksistensi diri sebagai perawat
senior.
Eksistensi diri sebagai perawat
senior ini mencakup dua hal antara lain
perasaan aktualisasi diri sebagai perawat
IGD
dan
motivasi
pembimbing.
Partisipan menggambarkan perasaan
aktualisasi diri sebagai perawat IGD
dengan perasaan percaya diri karena
pengalaman
kerja
yang
lama.
Pengalaman tersebut dicerminkan dengan
pernyataan salah satu partisipan
..saya punya jam terbang di
lahan praktek di lahan pelayanan
yang tidak bisa dibilang barusan (19
162

tahun), iya khan? kita di layanan


dengan masa kerja berapa? sudah
ada kelayakkan dikatakan senior ...
(P5, 29)
Pembahasan
Dua tema besar yaitu proses
bimbingan tidak maksimal ditambah
dengan Tanggung jawab terhadap
pengkaderan generasi penerus perawat
dari seorang pembimbing membuat ada
perasaan
beban
moral
dalam
membimbing
terutama
terhadap
keberlanjutan
generasi
perawat
selanjutnya, Tidak bisa dipungkiri bahwa
keberadaan pembimbing klinik sangat
penting
dalam
perannya
untuk
mempertahankan
eksistensi
profesi
perawat yang profesional karena praktek
klinik merupakan faktor utama dalam
pendidikan
keperawatan.
Hal
ini
didukung oleh Brunero dan Parbury
(2010)
bahwa
ilmu
keperawatan
dikembangkan berdasarkan pengalaman
dan belajar melalui pengalaman menjadi
hal yang mendasar dalam praktek
keperawatan profesional. Dengan segala
kekurangan dan kelebihan yang ada,
mereka pembimbing klinik masih terus
berusaha dan merasa memiliki tanggung
jawab yang besar untuk mendidik
genarasi penerusnya agar keberadaan
perawat masih dirasakan oleh masyarakat
dan komunitas kesehatan.
Perasaan beban moral timbul
disebabkan karena perbedaan antara
harapan dan kenyataan dimana harapan
dari pembimbing klinik mengenai
eksistensi dirinya sedangkan kenyataan di
lapangan yang tidak sesuai yaitu
ketidakberdayaan dalam memberikan
pembimbingan maksimal. Kenyataan di
lapangan pada saat proses pembimbingan
dimana beban kerja yang tinggi disertai
ketidak percayadirian sebagai seorang
pembimbing
membuat
proses
pembimbingan menjadi tidak maksimal
padahal menurutt Severinson (2010)
bahwa bimbingan klinik memiliki
peranan
yang
besar
dalam

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

mengembangkan identitas profesional


kepada mahasiswa terutama dalam
kemampuan
berpikir
kritis
dan
pengambilan keputusan
Salah
satu
faktor
yang
menyebabkan perasaan tidak percaya diri
ini timbul adalah karena tingkat
pendidikan yang berbeda dengan
mahasiswa yang menjadi tanggung jawab
mereka. Dimana mahasiswa yang
dibimbing adalah mahasiswa yang
menempuh strata pendidikan D3 dan S1
keperawatan. Rasa ketidakpercayaan diri
ini sebenarnya memiliki kaitan yang
besar dengan pengembangan diri dan
aturan yang tidak jelas terkait
penunjukkan menjadi CI. Hal ini sesuai
dengan Cangelosi et al (2009) bahwa
perawat dengan peran barunya sebagai
pembimbing klinik mengalami tekanan
kecemasan dan rasa takut yang
disebabkan
ketidakmampuan
dan
kurangnya pengetahuan mereka untuk
menjadi
seorang
pendidik
dan
pembimbing klinik yang baik. Dengan
demikian pengembangan diri memegang
peranan penting dalam proses bimbingan
yang berkualitas
Benner (1984) yang menguraikan
bahwa untuk menjadi perawat ahli perlu
mengembangkan
ketrampilan
dan
memahami tentang perawatan pasien
disepanjang waktu yang dapat diperoleh
melalui pendidikan dan pengalaman
banyak. Sehingga pengalaman yang
mumpuni disertai pendidikan formal yang
sesuai akan semakin meningkatkan
profesionalitas
perawat
sebagai
pembimbing klinik dan kompeten sebagai
perawat di instalasi gawat darurat (Reid,
2010).
Menurut Hossein et al (2010)
Pembelajaran praktek klinik adalah suatu
pengalaman pribadi dan interpersonal
yang diikat dalam suatu prinsip dan
peraturan
dimana
keberhasilannya
ditentukan oleh peran serta pembimbing
dan peserta didik yang dibimbing.
Dengan demikian perasaan tidak percaya
diri yang dialami sebagian besar

partisipan tentu saja akan berdampak


pada proses pemberian bimbingan yang
berkualitas terhadap mahasiswa.
Menurut Cangelosi et al (2009)
Mengajar bukanlah sesuatu yang
didasarkan pada pengalaman klinik akan
tetapi memerlukan ketrampilan tersendiri.
Hal tersebut sesuai pula dengan realita di
lapangan bahwa ketidakpastian mengenai
aturan penunjukkan menjadi pembimbing
klinik mengakibatkan permasalahan lain
dimana tidak semua pembimbing klinik
yang
ditunjuk
memiliki
jiwa
membimbing dan begitu pula ada rasa
ketidaknyamanan terkait gambaran tugas
yang dirasa kurang jelas bagi partsipan
untuk
berperan
sebagai
seorang
pembimbing
klinik
kepada
mahasiswanya. Hal tersebut diperparah
lagi dengan beban kerja yang tinggi
termasuk didalamnya tanggung jawab
membimbing.
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini maka
dapat disimpulkan bahwa pengalaman
menjadi pembimbing klinik di instalasi
gawat darurat adalah sebuah pengalaman
dimana terdapat perasaan beban moral
dari para pembimbing klinik. Perasaan
beban moral ini timbul karena terdapat
kesenjangan
antara
perasaan
ketidakberdayaan untuk memberikan
bimbingan yang maksimal dengan
tanggung jawab terhadap pengkaderan
generasi penerus untuk melakukan
perbaikan
Pengalaman
perasaan
ketidakberdayaan memberikan bimbingan
yang maksimal disebabkan karena beban
kerja yang dirasa berlebihan dan rasa
tidak percaya diri, Sedangkan eksistensi
diri
menjadi
pembimbing
klinik
dicerminkan
dengan
harapan
pembimbing yang ideal, harapan output
mahasiswa, kesiapan karena pengalaman
kerja dan perasaan dianggap menjadi
pembimbing klinik.
Berdasarkan temuan hasil penelitian
dan analisis serta pembahasannya, maka
peneliti merasa perlu memberikan
163

Studi Fenomenologi: Pengalaman Menjadi Pembimbing Klinik Mahasiswa Keperawatan


Di Instalasi Gawat Darurat (Merina Widyastuti, Indah Winarni, Fransiska Imavike F)

rekomendasi demi peningkatan ilmu


keperawatan, pelayanan dan penelitian
selanjutnya. Diantaranya bagi institusi
pendidikan
keperawatan
lebih
memberikan batasan kompetensi yang
jelas mengenai mahasiswa D3 dan S1
keperawatan yang praktek di lahan yang
sama dalam hal ini adalah IGD dan
memberikan aturan yang jelas mengenai
proses pembimbingan seperti aturan
kunjungan pembimbing klinik dari
pendidikan, kompetensi dasar yang harus
dimiliki mahasiswa sebelum memasuki
IGD dan komunikasi dua arah antara
institusi pendidikan dengan pembimbing
klinik di lapangan.
Rekomendasi bagi Institusi Rumah
Sakit untuk mempersiapkan kondisi yang
kondusif untuk meningkatkan perannya
sebagai rumah sakit pendidikan dengan
meningkatkan kualitas sumber daya
manusia pembimbing klinik
Hasil penelitian ini dapat dijadikan
rujukan penelitian selanjutnya baik
penelitian kualitatif maupun kuantitatif.
Beberapa penelitian lanjutan bisa
direkomendasikan
peneliti,
seperti
metode pembimbingan yang tepat untuk
diterapkan di instalasi gawat darurat dan
bagaimana kepuasan pembimbing klinik
di instalasi gawat darurat.
DAFTAR PUSTAKA
Beecroft P, Dorey F, Wenten M (2008).
Turnover Intention In New
Graduate Nurses: A Multivariate
Analysis. Journal of Advanced
Nursing, 62, 1, 41-52.
Benner, P. (1984). From Novice To
Expert: Excellence And Power In
Clinical Nursing Practice. Menlo
Park: Addison-Wesley, pp. 13-34
Blair, W., & Smith, B. (2012). Nursing
Documentation : Frameworks and
barriers. Nursing Documentation,
41(2).

164

Brunero, S., & Parbury, J. S. (2010). The


Effectiveness
of
Clinical
Supervision in Nursing : An
Evidenced
Based
Literature
Review. Australian Journal of
Advanced Nursing, 25(3), 86-94.
Cangelosi, P. R., Crocker, S., & Sorrell,
J. M. (2009). Expert to Novice :
Clinicians Learning New Roles
As Clinical Nurse Educators.
Nursing Education Perspectives,
30(6), 367-371.
Cheung, R. Y.-M., & Au, T. K.-f. (2011).
Nursing Students Anxiety and
Clinical Performance. Journal of
Nursing Education, 50(5).
Henderson S, Happel B, Martin T.
(2007). Impact Of Theory And
Clinical
Placement
On
Undergraduate Students Theory
And Nursing Knowledge, Skills
And Attitudes. Int. J. Mental
Health Nurs.16:116125.
Hossein, K. M., Fatemeh, D., Fatemeh,
O. S., Katri, V. J., & Tahereh, B.
(2010). Teaching Style In Clinical
Education : A Qualitative Study's
Iranan
Nursing
Teacher's
Experiences. Nurse Education in
Practice, 10, 8-12.
Levett-Jones T, Fahy K, Parsons K,
Mitchell A. (2006). Enhancing
Nursing
Students
Clinical
Placement Experiences: A Quality
Improvement Project. Contemp.
Nurse; 23: 5871.
Lockwood-Rayermann
S.
(2003).
Preceptors, Leadership Style, And
The
Student
Practicum
Experience. Journal of Nurse
Education.; 28: 247249.

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

Reid, D. H. (2010). The Experienced


Critical Care RN's Perception of
New Graduate RNs Competence
in Critical Care Using Benner's
Novice to Expert. Gardner-Webb
University School Of Nursing,
Boiling Springs North Carolina.
Ryan-Nicholls, & Kimberley. (2004).
Preceptor
Recruitment
And
Retention:
The
Preceptor
Partnership Is The Most Effective
Means Of Ensuring That Students
Integrate Professionaltheory With
Clinical Practice, But A Growing
Lack Of Nurse Preceptors May
Threaten The Process. The
Canadian Nurse(6), 18-22.
Schriver, J. A., Talmadge, R., Chuong,
R., & Hedges, J. R. (2003).
Emergency Nursing : Historical ,
Current, and Future Roles.
Academic Emergency Medicine
10(7), 798 - 804.
Severinsson, E. (2010). Evaluation of the
Clinical
Supervision
and
Professional Development of
Student Nurses. Journal of
Nursing Management 18 : 669
677.

165

MODEL PENCEGAHAN PENULARAN PADA ISTERI DARI


ANGGOTA TNI AL HIV POSITIF DI SURABAYA
Kusdariah
Jurusan Keperawatan Stikes Hang Tuah Surabaya
Email : kusdariah@rocketmail.com

Abstract : Prevention HIV transmission Model of the Navy with HIV-positive to wives in
Surabaya
Navy who have a relative mobile assignment and separated with his wife in a relatively
long time, this was likely to change their behavior was having sex with female sex
workers exposed to HIV. The impact will contracting HIV and transmited to his wife.
The aim of this research was to created a model of prevention of HIV transmission to
wives and Navy in Surabaya. The population was 143 of the HIV-positive wives from
Navy and the sample divided in to group case study consist 25 people and group of
control consist 50 people. This research was observational analytic, used case-control
study. Independent variables were factors that influence HIV transmission occurs and
dependent variable was the incidence of HIV. Multivariate logistic regression analysis
was used to see the most fit variables affect the behavior of the transmission of HIV and
assess the Odds Ratio. Indepth interview was used to complete qualitative data. The
results of this study, the most fit factors influence the behavior of transmission to
Navy's wife was HIV positive encouragement from key person (Toga) and support
religious (Toga). Model of prevention of HIV transmission to wives of Navy and Navy
in Surabaya done through learning about HIV, the dangers of alcohol and HIV
prevention in terms of religion with lectures, discussions, and question and answer.
Keywords: Wife of Navy, HIV positive, support Toga and Toma, transmission from
husband

Latar Belakang
Anggota TNI AL yang memiliki
penugasan yang relatif mobile dan berpisah
dengan istri dalam waktu yang relatif lama,
kemungkinan akan terjadi perubahan
perilaku yaitu berhubungan seks dengan
WPS yang terpapar HIV. Hal ini
mengakibatkan
bisa tertular HIV dan
dampaknya akan menularkan kepada
istrinya. Sebagai istri yang ditinggal bertugas
suami yang relatif lama tidak menutup
kemungkinan juga terjadi perubahan perilaku
berhubungan seks dengan laki-laki yang
bukan pasangannya sehingga kemungkinan
juga tertular HIV dan bisa menularkan
kepada suaminya.
Angka kejadian HIV di Indonesia dari
tahun 2003 jumlah penderita sebanyak 1.171
orang meningkat terus dan sampai dengan

tahun 2011 mencapai 26.483 orang. DKI


Jakarta merupakan propinsi di Indonesia
yang penderita HIV nya tertinggi mencapai
5.117 orang, menyusul Jatim sebanyak 4.598
orang dan urutan ketiga adalah propinsi
Papua dengan angka kejadian 4.449 orang.
Berdasarkan hasil survey KPA Jatim,
Surabaya meruspakan kota peringkat
pertama di Jawa Timur dengan kasus HIV
sebanyak 2.622 orang, menyusul Sidoarjo
sebanyak 549 kasus dan Malang sebanyak
405 kasus.
Angka kejadian HIV-AIDS pada ibu
rumah tangga menduduki posisi paling tinggi
dibandingkan dengan angka kejadian pada
WPS. Secara berurutan mulai teratas yaitu
ibu rumah tangga, tenaga non profesional
(karyawan), wiraswasta (usaha sendiri),
buruh kasar, petani /peternak /nelayan,

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

penjaja seks, nara pidana, pegawai negeri


sipil, supir, anak sekolah/mahasiswa, tenaga
professional
non
medis,
anggota
ABRI/POLRI,Pelaut,seniman/aktris/aktor/pe
ngrajin, tenaga professional medis, turis,
pramugara/pilot, menejer/eksekutif.
Berdasarkan data di klinik
VCT
(Voluntary Counseling and Testing) Rumah
Sakit Angkatan Laut Dr Ramelan (RSAL Dr
Ramelan)
Surabaya sampai dengan
November 2012 Kejadian kasus HIV pada
tahun 2005 sebanyak 4 orang. Jumlah
terbanyak terjadi pada tahun 2009 (58
orang), kemudian tahun berikutnya menurun
sampai dengan tahun 2012 sebanyak 23
orang. Jumlah seluruh kejadian dari tahun
2005 sampai dengan tahun 2012 sebanyak
175 orang yang terdiri dari 143 anggota TNI
AL dan 32 orang istri dari anggota TNI AL
HIV positif Sementara itu sisanya yaitu 111
orang istri dari Anggota TNI AL penderita
HIV masih dinyatakan negatif dan bahkan
ada beberapa istri kemungkinan belum
mengetahui status HIV suaminya.
Model pencegahan penularan pada istri
dari anggota TNI AL disusun berdasarkan
temuan analisis faktor yang paling
mempengaruhi terjadinya HIV yaitu faktor
predisposisi, pendorong dan pemungkin.
Kelengkapan data diambil dari hasil
wawancara mendalam pada 3 kelompok
yaitu kelompok isteri HIV positif, istri HIV
negatif, dan para suami (anggota TNI AL
HIV positif).
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan di klinik VCT
RSAL Dr. Ramelan Surabaya. Pelaksanaan
penelitian mulai bulan November 2012
sampai dengan bulan Juni 2013. Desain
penelitian ini adalah studi kasus kontrol
(case control study).Sampel dalam penelitian
ini terdiri dari kelompok kasus yaitu isteri
dari anggota TNI AL( HIV positif ) yang
sudah positif dan kelompok kontrol adalah
isteri anggota TNI AL (HIV positif) yang
masih negatif HIV.
Besar sampel untuk kasus diambil total
sampel yaitu 32 orang. Pada saat penelitian
jumlah kasus tinggal 25 (4 orang meninggal

dan 3 orang berdomisili di luar propinsi) dan


kontrol ditentukan dengan lotre berjumlah 50
orang. Data yang dianalisis dalam penelitian
ini berupa data primer berasal dari hasil
kuesioner.
Data
dianalisis
dengan
menggunakan Analisis Bivariat (Uji ChiSquare), dilakukan perhitungan terhadap
Odds Ratio (OR), dengan Confident Interval
95%. Analisis terhadap Odds Ratio
dilakukan dengan mebandingkan Odds Ratio
pada kelompok kasus dan kelompok kontrol.
Selanjutnya dilakukan analisis multivariat
(Uji regresi Logistik) untuk menentukan
faktor yang paling mempengaruhi terjadinya
HIV pada isteri dari anggota TNI-AL HIV
posotof dengan bantuan perangkat komputer
dengan metode Stepwise.
Hasil Penelitian
1.Umur
Proporsi kasus HIV responden yang
memiliki umur lebih dari 30 tahun hanya
(21,7%) dibandingkan dengan responden
yang memiliki umur kurang dari 30 tahun
(38,5%). Pada kelompok kontrol lebih
banyak responden yang berumur kurang dari
30 tahun (78,3%). Secara biologi responden
pada kelompok kasus
termasuk umur
produktif,
karena
itu
perlu
mempertimbangkan keinginan hamil karena
bisa menularkan HIV kepada anaknya.
Umur memiliki hubungan yang bermakna
dengan status HIV responden yaitu p=0,250
(p=0,25), nilai OR = 0,444 (95% CI
0,143<OR<1,386). Hal ini berarti umur
lebih dari 30 tahun memiliki risiko 0,444
kali lebih besar terhadap kejadian HIV
dibandingkan dengan responden yang
berumur kurang dari 30 tahun.
2 Agama
Proporsi kasus HIV responden yang
memiliki agama non Muslim dan Muslim
sama yaitu (33,3%). Kelompok Kontrol
memiliki proporsi yang sama antara besar
responden yang beragama Non Islam
maupun Islam. Agama responden tidak
memiliki hubungan bermakna dengan status
HIV
p=1,000 (p>0,25). Hal ini
kemungkinan pada saat dilakukan penelitian,
responden sudah menjalankan kehidupan
167

Model Pencegahan Penularan Pada Isteri Dari Anggota TNI AL HIV Positif
(Kusdariah)

agama secara baik sejak suaminya


dinyatakan HIV positif.
3.Suku
Proporsi kasus HIV yang bersuku non Jawa
adalah
(50%)
dibandingkan
dengan
kelompok responden yang bersuku Jawa
(32,9%). Pada kelompok kontrol didapatkan
banyak yang bersuku Jawa yaitu (67,1%).
Responden pada kedua kelompok kasus dan
kontrol banyak dari suku Jawa. Suku tidak
memiliki hubungan bermakna dengan status
HIV responden p=1,000 (P>0,25). Hal ini
kemungkinan karena responden telah
berdomisili dan mengikuti budaya di
Surabaya,
apakah budaya di Suarabaya
memiliki hubungan dengan penularan HIV,
hal ini perlu diteliti lebih lanjut.
4.Pekerjaan responden
Proporsi kasus HIV responden yang tidak
bekerja (36,6%), sedangkan pada kelompok
yang bekerja (29,4%). Pekerjaan responden
tidak memiliki hubungan bermakna secara
statistik dengan terjadinya penularan HIV
yaitu p = 0,682 (P>0,25). Responden yang
tidak bekerja dan sering menjadi pengganti
suami ketika berlayar memiliki lebih banyak
kegiatan di rumah, sehingga kemungkinan
mendapatkan informasi mengenai HIV lebih
sedikit dibandingkan yang bekerja. Hal ini
juga perlu diadakan penelitian lebih lanjut
5. Pendidikan
Proporsi
Kasus
HIV
responden
berpendidikan SMP dan SMA
(25%),
sedangkan pada kelompok responden
berpendidikan perguruan Tinggi (48%)
.Pendidikan memiliki hubungan bermakna
dengan status HIV responden p=0,074
(p<0,25). Nilai OR= 0,359 (95% CI
0,132<OR< 0,974)
berarti Pendidikan
responden berpendidikan
PT memiliki
resiko 0,359 lebih besar terhadap terjadinya
penularan HIV dibandingkan dengan
responden berpendidikan SMP dan SMA.
Secara umum pendidikan tinggi responden
merupakan pendidikan umum dan tidak
mendapatkan materi mengenai HIV.
6. Riwayat perkawinan
Proporsi kasus HIV responden yang
memiliki riwayat perkawinan ke II dan ke III
sebanyak (100%). Tidak diketahui penularan
168

HIV dari suami terdahulu


atau suami
sekarang. Sedangkan proporsi HIV pada
responden
yang
memiliki
riwayat
perkawinan I adalah (31,5%). Riwayat
perkawinan tidak memiliki hubungan dengan
status HIV responden yaitu p=0,998
(p>0,25). Nilai OR tidak bisa dinilai karena
ada nilai 0 dalam data riwayat perkawinan
7. Pangkat suami
Proporsi kasus HIV responden dengan suami
berpangkat Tamtama (39%), sedangkan
kelompok
responden
dengan
suami
berpangkat Bintara dan Perwira (26,5%).
Pangkat tamtama merupakan pangkat
terendah di lingkungan TNI, dimana gaji
mereka juga relatif rendah bila dibandingkan
dengan golongan pangkat bintara dan
perwira. Tamtama yang memiliki riwayat
penjaja WPS akan mempengaruhi beaya
pengeluaran . Hal ini akan memperburuk
keadaan ekonomi mereka. Pangkat tidak
memiliki hubungan yang bermakna terhadap
kejadian HIV p=0,367, p>0,25. OR=1,778
(95% CI 0,663-4,770).
Analisis Bivariat
A. Faktor Predisposisi
1.Pengetahuan
Proporsi
kasus HIV responden dengan
pengetahuan bernilai baik yaitu (22,5%.),
sedangkan responden dengan pengetahuan
kurang (40,9%) Kelompok kontrol memiliki
pengetahuan lebih banyak bernilai baik
(77,4%). Ada hubungan bermakna antara
variabel pengetahuan dan status HIV
responden, p = 0,159 (p<0,25), nilai OR =
0,342 (95% CI 0,150<OR<1,185). Nilai
OR<1 berarti pengetahuan responden
memberikan
perlindungan
terhadap
terjadinya HIV. Responden sudah menerima
konseling dari klinik VCT sehingga
pengetahuan mengenai HIV telah mereka
dapatkan.
2.Keyakinan
Proporsi kasus HIV
responden dengan
keyakinan bernilai kurang (54%). sedangkan
responden dengan keyakinan berniali baik
(60,5%). Pada kelompok kontrol
lebih
banyak dengan keyakinan bernilai kurang

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

(94,6%). Variabel keyakinan memiliki


hubungan yang bermakna dengan status HIV
responden p = 0.000 (p<0,25) , nilai
OR=0,037(95% CI 0,008<OR<0,178). OR<1
berarti nilai keyakinan pada responden
memberikan
perlindungan
terhadap
terjadinya HIV.
Kelompok kasus
HIV positif sudah
mendapatkan konseling, dan memiliki
pengalaman menanggulangi HIV nya,
mereka sudah bisa memiliki keyakinan
menanggulangi masalah HIV yang dialami
suaminya maupun yang dialaminya sendiri.
3.Keadilan
Proporsi kasus HIV responden dengan
keadilan gender bernilai kurang lebih besar
(40,8%) dibandingkan responden dengan
keyakinan bernilai baik (19,2%). Pada
kelompok kontrol responden bernilai baik
lebih besar (80,8%) dibandingkan dengan
responden dengan keadilan gender bernilai
kurang (59,2%). Variabel nilai tentang
keadilan gender memiliki hubungan yang
bermakna dengan status HIV responden p =
0,06 (p<0,25) dengan nilai OR = 2,897 (95%
CI 0,936<OR<8,96) berarti nilai tentang
keadilan gender yang bernilai kurang
memiliki peluang lebih besar 2,897 kali
terhadap terjadinya HIV dibandingkan
dengan responden yang memiliki nilai
tentang keadilan gender yang bernilai baik.
Kelompok kasus lebih banyak dengan nilai
tentang keadilan gender kurang, hal ini
dimungkinkan
kelompok kasus masih
menghadapi masalah tentang keadilan
gender dan untuk itu perlu diteliti lebih
lanjut.
B. Faktor Pendorong
1. Dorongan Toga dan Toma
Proporsi kasus HIV pada responden dengan
variabel dorongan Toga dan Toma bernilai
kurang lebih kecil (6,5%) dibandingkan
dengan responden dengan variabel dorongan
Toga dan Toma bernilai baik (75,9%). Pada
kelompok kontrol dengan nilai kurang lebih
banyak (93,5%). Ada hubungan bermakna
antara dorongan Toga dan Toma dengan
terjadinya penularan HIV p=0,000 (p<0,25)
Nilai OR nya adalah 0,022 (95% CI

0,005<OR<0,094). OR<1 berarti dorongan


Toga dan Toma melindungi
terjadinya
penularan HIV. Kelompok kasus dengan
penyakit HIV yang tidak bisa disembuhkan,
maka pada umumnya usaha pengobatan
diiringi dengan mengharap kesembuhan dari
Tuhan melalui bimbingan dari Toga dan
Toma.
2.Dorongan Keluarga
Proporsi kasus HIV responden dengan
dorongan keluarga bernilai kurang lebih
sedkit (15,8%%) dibandingkan dengan
yang bernilai baik (51,4%). Pada kelompok
kontrol memiliki dorongan dari keluarga
lebih banyak bernilai kurang (84,2%).
Variabel dorongan keluarga memiliki
hubungan yang bermakna dengan status HIV
p=0,002, p<0,25. OR=0,178 (95%
CI
0,06<OR<0,525). OR<1 Berarti dorongan
keluarga memberikan perlindungan terhadap
terjadinya penularan HIV pada responden.
Salah satu usaha klinik VCT adalah
membantu pasien memperoleh dukungan
dari jejaring sosial, keluarga dan temanteman mereka. Pengalaman
selama
mengikuti
konseling di klinik VCT,
responden terutama kelompok kasus akan
lebih bisa memberikan dukungan kepada
keluarga yang menderita HIV.
3.Dorongan Pimpinan TNI AL
Proporsi kasus HIV dengan dorongan
pimpinan TNI AL bernilai kurang (20,5%),
sedangkan yang bernilai baik (47,2%0. Pada
kelompok kontrol lebih banyak dengan nilai
kurang (79,5%) Dorongan pimpinan TNI
AL memiliki hubungan bermakna dengan
status HIV dengan p=0.16; p<0,25
OR=1,288 (95% CI 0,104<OR<0,797).
Berarti dorongan pimpinan TNI AL bernilai
kurang memiliki peluang 1,288 terhadap
terjadinya HIV dibandingkan dengan
responden
yang
memiliki
dorongan
pimpinan TNI AL bernilai baik. pada
responden. Pimpinan TNI AL memberi
dukungan secara tidak langsung kepada
responden yang dikomunikasikan melalui
suaminya untuk disampaikan kepada
isterinya.

169

Model Pencegahan Penularan Pada Isteri Dari Anggota TNI AL HIV Positif
(Kusdariah)

4. Dorongan Yalasenastri
Proporsi kasus HIV pada responden dengan
dorongan Yalasenastri bernilai kurang
(20%), sedangkan yang bernilai baik (40%).
Pada kelompok kontrol lebih banyak
memiliki dorongan Yalasenastri bernilai
kurang(20%) dan yang bernilai baik (30%
).pada kelompok kasus
lebih banyak
dengan nilai baik yaitu (80%). Kelompok
kontrol memiliki dorongan Yalasenastri
lebih banyak bernilai baik yaitu (60%).
Variabel dorongan yalasenastri
memiliki
hubungan bermakna dengan status HIV
responden p = 0,089 (p<0,25). Nilai OR
didapatkan 0,375 (95% CI 0,121<OR<1,163)
berarti dorongan Yalasenastri memiliki
peluang 0,375 lebih besar terhadap
terjadinya HIV pada responden. Kegiatan
Yalasenastri
yang telah terstruktur
memungkinkan
kegiatan
sampai
menjangkau seluruh isteri anggota TNI AL
terutama yang memiliki masalah seperti pada
responden.
5. Ajaran Agama
Proporsi kasus HIV responden dengan
variabel melaksanakan ajaran agama bernilai
kurang hanya (8,7%) dibandingkan dengan
yang bernilai baik (72,4%). Kelompok
kontrol
dengan variabel melaksanakan
ajaran agamanya bernilai kurang (91,3%).
Hal ini kemungkinan justru pada kelompok
kasus dengan kondisi sakitnya memiliki
komitmen yang tinggi dalam menjalankan
ajaran agamanya, selain itu jalan akhir untuk
minta kesembuhan penyakitnya umumnya
dari Tuhannya. Melaksanakan ajaran agama
memiliki hubungan yang bermakna dengan
status HIV responden P=0,000 (p<0,25) dan
nilai OR=0,36 (95% CI 0,010<OR<0,134)
berarti
melaksanakan ajaran agama
berpeluang lebih besar
0,36 terhadap
terjadinya penularan HIV pada responden
6.Diskriminasi
Proporsi kasus HIV responden dengan
variabel diskriminasi pada status HIV suami
bernilai kurang hanya (7%) dibandingkan
dengan
yang
bernilai
baik
(68,8%).Diskriminasi pada status HIV suami
pada kelompok kontrol
lebih banyak
bernilai kurang
(93%)
Variabel
170

diskriminasi pada status HIV suami


memiliki hubungan yang bermakna dengan
terjadinya HIV p=0,000 (p<0,25) dan nilai
OR = 0,055 .(95% CI 0,008<OR<0,137)
berarti diskriminasi pada status HIV suami
memiliki peluang lebih besar 0,055 terhadap
terjadinya penularan HIV pada responden.
Diskriminasi dalam kuesioner penelitian ini
berorientasi kepada perlakuan isteri pada
suaminya yang HIV positif. Adanya nilai
kurang
pada
kelompok
kontrol
memungkinkan pada kelompok kontrol
masih belum menerima kondisi suami yang
HIV positif. Sedang pada kelompok kasus
mereka sudah di konseling sehingga sudah
menerima kondisi suaminya.
C. Faktor Pemungkin
1.Akses ke Pelayanan Kesehatan
Proporsi kasus HIV dengan variabel Akses
ke layanan kesehatan bernilai kurang
(32,3%), sedangkan yang bernilai baik
(34,1%). Kelompok kontrol dengan variabel
akses ke layanan kesehatan bernilai kurang
lebih banyak (67,7%) dibandingkan dengan
yang bernilai baik (65,9%).Variabel akses ke
layanan kesehatan memiliki hubungan tidak
bermakna p=0,617 (p>0,25) dan nilai OR=
0,777 (95% CI 0,346<OR<2,447). Pada
responden telah ditentukan dalam kriteria
inklusi berdomisili di Surabaya atau
dilingkungan garnisun Surabaya, sehingga
responden tidak terlalu sulit untuk
menjangkau klinik VCT RSAL DR Ramelan
dimana penelitian ini dilakukan.
2.Pergaulan dengan teman
Proporsi kasus HIV responden dengan
variabel pergaulan dengan teman bernilai
kurang lebih kecil (22,5%) dibandingkan
dengan yang bernilai baik (45,7%). Pada
kelomok kontrol dengan variabel pergaulan
teman beang lebih banyak (77,5%)
dibandingkan dengan yang bernilai baik
(54,3%). Kelompok kontrol dibandingkan
kelompok kasus kemungkinan lebih jarang
mendapatkan
konseling
karena
kemungkinan lebih jarang mendatangi klinik
VCT. Hal ini memungkinkan bisa
bersosialisasi dengan sesama penderita HIV
positif. Pergaulan dengan teman memiliki

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

hubungan bermakna secara statistik dengan


status HIV p=0,063 (p<0,25) dan nilai OR
= 0,375 (95% CI 0,127<OR<0,934) berarti
responden dengan variabel pergaulan dengan
teman berpeluang lebih besar 0,375 terhadap
terjadi penularan HIV pada responden.
2. Pemenuhan kebutuhan secara ekonomi.
Proporsi kasus HIV responden dengan
variabel pemenuhan kebutuhan secara
ekonomi bernilai kurang lebih kecil
(32%) dibandingkan yang bernilai baik
(36%). Kelompok kontrol dengan
variabel pemenuhan kebutuhan secara
ekonomi bernilai kurang lebih besar
(68%) dibandingkan dengan yang
bernilai baik (64%). Kebutuhan secara
ekonomi tidak ada hubungan yang
bermakna dengan kejadian HIV pada
responden p=0,931; p>0,25. OR=0,837
(95% CI 0,305<OR<2,297)
Analisis Multivariat
Analisis Multivariat dalam penelitian ini
menggunakan regresi logistik ganda dengan

model prediksi. Pemodelan dengan tujuan


untuk memperoleh model yang terdiri dari
beberapa variabel independen yang dianggap
terbaik untuk memprediksi kejadian variabel
dependen.
Pada analisis Multivariat ini akan diseleksi
variabel yang memiliki nilai P>0.25
berdasarkan uji Bivariat. Dalam uji regresi
logistik berganda ini variabel yang masuk
adalah variabel pengetahuan, keyakinan
menanggulangi HIV, Nilai tentang keadilan
gender, dorongan dari Toga dan Toma,
dorongan keluarga, dorongan pimpinan TNI
AL, dorongan Yalasenastri, diskriminasi,
melaksanakan ajaran agama, dan pergaulan
dengan teman. Variabel yang dikeluarkan
dari model uji Multivariat adalah variabel
akses ke pelayanan kesehatan dan variabel
pemenuhan kebutuhan secara ekonomi.
Hasil akhir dari uji Multivariat didapatkan
bahwa variabel yang paling mempengaruhi
adalah variabel dorongan Toga dan Toma
p=0,000(p<0,05)

Tabel 1 , Analisis Bivariat (chi square) faktor yang mempengaruhi terjadinya HIV pada isteri
dari anggota TNI-AL HIV positif di klinik VCT RSAL Dr Ramelan Surabaya
NO

VARIABEL
n

KASUS
%

KONTROL
%

SIG

OR
(95%CI)

Faktor predisposisi
Pengetahuan
BAIK
KURANG

19
6

42,5
20

26
24

57,8
80

0,080

Keyakinan menanggulangi HIV


BAIK
KURANG

23
2

60,5
5,4

15
35

39,5
94,6

0,000

Nilai tentang gender BAIK


KURANG

5
20

19,2
40,8

21
29

80,8
59,2

0,103

0,345
(0,1121,068)

Faktor pendorong
Toga, Toma
BAIK
KURANG

22
3

75,9
6,5

7
43

24,1
93,3

0,000

BAIK
KURANG

19
6

51,4
15,8

18
32

48,6
84,2

0,002

Pimpinan TNI AL BAIK


KURANG

12
8

47,2
20,5

19
31

52,8
79,5

0,016

Yalasenastri

20
5

49
20

30
20

60
80

0,141

0,022
(0,0050,094)
0,178
(0,060,525)
0,288
(0,1040,797)
2,667
(0,0608,268)

Keluarga
2

BAIK
KURANG

2,923
(1,0008,543)
0,037
(0,0080,178)

171

Model Pencegahan Penularan Pada Isteri Dari Anggota TNI AL HIV Positif
(Kusdariah)

Melaksanakan ajaran agama


BAIK
KURANG

22
3

73,3
6,7

8
42

26,7
93,3

Diskriminasi terhadap suami


dengan HIV positif BAIK
KURANG

20
5

69
10,9

9
41

31
89,1

16
9

35,6
30

29
21

64,4
70

0,617

16
9

44,4
23,1

20
30

55,6
76,9

0,053

9
16

36
32

16
34

64
68

0,931

Faktor pemungkin
Akses ke pelayan kesehatan
BAIK
KURANG
Pergaulan dengan teman
BAIK
KURANG
Pemenuhan kebutuhan secara
ekonomi
BAIK
KURANG

0,000

0,000

0,026
(0,00060,104)
0,055
(0,0160,185)

0,375
(0,1391,013)
0,375
(0,1391,013
1,195
(0,4153,282)

Tabel 2. Analisis Multivariat faktor yang mempengaruhi terjadinya HIV pada isteri dari
anggota TNI-AL HIV positif di klinik VCT RSAL Dr Ramelan Surabaya
Variabel
No
Variabel Independen
Sig
OR
dependen
1 Dorongan Toga dan Toma
0,000
0.056
(1)
Status HIV
2 Diskriminasi terhadap status
0,004
0,109
HIV suaminya (1)

Pembahasan
A. Karakteristik Sosiodemografi
Responden
1. Umur
Umur responden secara biologi terbanyak
pada umur produktif. Pada umur ini
responden masih bisa hamil dan punya anak.
Salah satu cara penularan HIV adalah
melalui air susu dan dari jalan lahir dari ibu
yang terinfeksi HIV (Mahdiana, 2010), oleh
karena itu responden kelompok kasus harus
mempertimbangkan apabila ingin hamil.
Salah satu pencegahan penularan bagi
penderita HIV adalah mencegah kehamilan.
Secara umum, pada umur tertentu seseorang
memiliki perilaku tertentu yang bisa
mempengaruhi
kesehatannya,
misalnya
kebiasaan keluar malam, minum minuman
keras dan ke klub malam yang berujung ke
WPS. Sebagai seorang suami atau laki-laki
perilaku tersebut
bisa berdampak pada
pasangannya. Hal ini diperkuat
oleh
responden pada wawancara mendalam bahwa
172

terinfeksi HIV positif berawal dari minum


minuman keras, ke WPS dan seks bebas,
seperti dituturkan oleh empat orang
responden, dan salah satunya menuturkan
berikut ini :
Saya diajak senior minum miras dan
habis itu ke perempuan. Tadinya saya hanya
minum saja tapi
lama-lama mau juga
(DVT)

2. Agama
Agama responden kebanyakan adalah
beragama islam. Dalam ajaran agama Islam
antara lain tidak boleh menolak ketika suami
minta berhubungan seks, suami dipandang
sebagai Iman dalam rumah tangga yang
harus diikuti kemauannya. Suami sebagai
Iman dalam hal ini sudah melanggar ajaran
agama, yaitu tidak jujur kepada isterinya
bahwa dirinya telah berisiko kena HIV.
hasil wawancara mendalam, beberapa suami
menyatakan perlunya untuk penyegaran
rohani agar tidak terpengaruh perilaku yang
negatif. Hal ini diperkuat oleh isteri mereka,

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

juga mengharapkan adanya pembekalan


rohani agar suaminya tidak berbuat macammacam. Seperti yang diutarakan salah satu
responden berikut ini :
Suami diharapkan bisa disadarkan dan
bisa berubah Tingkah lakunya. Dari dinas
diharapkan memberikan bimbingan rohani,
karena ada peraturan ya tetep dilanggar
(Ny. WLN)

Kurangnya penyegaran rohani juga


dinyatakan oleh salah satu suami responden
bahwa selama penugasan di kapal tidak ada
penyegaran rohani. Penyegaran rohani
dilaksanakan di pendirat (satuan kerja TNI
AL yang ada di darat) dan diikuti oleh
perwakilan dari kapal saja, seperti penuturan
berikut ini :
Iman harus kuat buk, harus ada campur
tangan perwira rohani (paroh), paroh itu buk
adanya hanya ada di pendirat, Pendalaman
iman dengan mengundang ustad yang
terkenal; Kalau ada ceramah agama itu
adanya hanya di pendirat dan dihadiri oleh
perwakilan saja, lima sampai tujuh orang, di
kapal tidak ada siraman rohani (Bpk IWT)

Hal ini menunjukkan kebutuhan mereka


untuk mendapat penyegaran rohani ketika
berlayar. Pada hasil penelitian didapatkan
tidak ada hubungan dengan terjadinya
penularan HIV pada responden, namun
demikian berdasarkan hasil wawancara
mendalam didapatkan perlunya penyegaran
rohani untuk menguatkan keimanan mereka.
3. Suku
Sebagian besar responden berasal dari
suku jawa. Suku dari responden tidak
memiliki hubungan yang bermakna dengan
terjadinya penularan HIV
Pada waktu
penelitian
responden
sudah
menjadi
penduduk di Surabaya, walaupun pengakuan
responden berasal dari suku jawa tetapi
kemungkinan responden sudah terpengaruh
dengan budaya suku di Surabaya. Hal ini
perlu diteliti lebih lanjut.
4. Pekerjaan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
responden sebagian besar tidak bekerja.
Pekerjaan tidak memiliki hubungan yang
bermakna dengan terjadinya penularan HIV.

Responden yang tidak bekerja, lebih banyak


menggunakan waktunya untuk mengurus
rumah tangga mereka. Sebagai istri anggota
TNI AL sering ditinggal suami berlayar
dengan waktu yang lama, mereka disamping
sebagai ibu rumah tangga juga menggantikan
peran suaminya untuk mengurus rumah
tangga. Hal ini menyebabkan waktu mereka
tersita untuk urusan rumah tangga dan
hampir tidak punya waktu luang untuk
bertemu teman untuk berdiskusi. Responden
bertemu temannya sama-sama sebagai ibu
rumah tangga sehingga untuk menambah
wawasan sangatlah kurang. Informasi
mengenai HIV sebenarnya bisa didapatkan
dari membaca maupun berdiskusi dengan
temannya.
5. Pendidikan
Pendidikan responden lebih banyak
berpendidikan SMP dan SMA, Pada
kelompok kontrol didapatkan responden
berpendidikan Perguruan Tinggi (PT).
Pendidikan memiliki hubungan yang
bermakna dengan terjadinya penularan HIV
pada responden. Pendidikan responden
merupakan pendidikan umum yang tidak ada
materi pembelajaran mengenai HIV. Green
dan rekan-rekannya menganalisis kebutuhan
kesehatan
komunitas
dengan
cara
menetapkan lima diagnosis berbeda, salah
satunya adalah diagnosis pendidikan.Sesuai
perspektif perilaku, pendidikan memberi
penekanan pada faktor predisposisi, faktor
pendorong dan faktor pemungkin. Faktor
pendidikan dan organisasi menguji hubungan
antara kondisi perilaku dan lingkungan
dengan status kesehatan atau kualitas hidup
untuk menentukan apa penyebabnya. Pada
penelitian ini yang menjadi awal penyebab
terjadinya penularan adalah suami responden.
Kondisi perilaku suami yang tidak sehat
yaitu sering minum minuman keras dan
melakukan seks bebas mempengaruhi
kualitas hidup mereka.Pendidikan mengenai
HIV diperlukan bagi responden maupun
suami agar mereka bisa mendiagnosis
perilaku kesehatan mereka sendiri.
6. Penggunaan obat terlarang
Responden tidak ditemukan pernah
menggunakan
obat
terlarang
dengan
173

Model Pencegahan Penularan Pada Isteri Dari Anggota TNI AL HIV Positif
(Kusdariah)

suntikan. TNI AL melarang anggota dan


keluarganya menggunakan obat terlarang
atau Narkoba. Sangsi pelanggaran peraturan
penggunaan obat terlarang bagi anggota
sangat berat yaitu bisa dikeluarkan dari dinas.
Bagi keluarga yang menggunakan maka
sangsi juga akan berdampak pada anggota.
Beratnya sangsi yang ada maka penggunaan
Narkoba di lingkungan TNI jarang
ditemukan.
7. Riwayat perkawinan
Pada penelitian ini didapatkan kelompok
kasus terdapat 2 orang memiliki riwayat
perkawinan kedua dan ketiga. Sedangkan
pada kelompok kontrol lebih banyak
merupakan perkawinan pertama. Penualaran
HIV pada responden tidak diketahui apakah
penularan berasal dari suami sekarang atau
suami terdahulu. Riwayat perkawinan pada
penelitian ini memiliki hubungan bermakna
dengan terjadinya penularan pada responden.
Perkawinan memiliki kehidupan rumah
tangga antara sumai, isteri dan keluarga yang
lain. Dalam rumah tangga tersebut terjadi
komunikasi antara anggota keluarga.
Aplikasi komunikasi dalam keluarga
berkaitan dengan fokus pemahaman diri dari
para anggota keluarga. (Ruben, 1988; Hinde
& Hinde 1988 dalam Puspitawati 2009).
Salah satu pola komunikasi yang sangat
dikuasai perempuan adalah menggunakan
bahasa tubuh. Perempuan umumnya pandai
menggunakan bahasa tubuh sebagai alat
komunikasi
yang
ampuh
dan
memaksimalkan kelebihan tersebut untuk
mendapatkan keinginannya. Mereka juga
pandai menyembunyikan perasaan dan
membungkusnya dalam kemasan keluhan
sehingga melibatkan pasangannya untuk
menyelesaikannya (Surbakti, 2008). Sifat
komunikasi yang dimiliki perempuan
demikian justru merugikan perempuan
sendiri. Pada responden dengan suami HIV
positif tidak perlu menggunakan komunikasi
tersembunyi atau menggunakan bahasa
tubuh. Perempuan diharapkan berterus terang
mengkomunikasikan
kepada
suaminya
maupun sumai kepada isterinya.
Pada wawancara mendalam didapatkan
beberapa responden menginginkan suami
174

segera memberitahu kepada isterinya kalau


positif HIV, sehingga bisa dicegah
penularannya sedini mungkin, seperti
penuturan salah satu responden berikut ini :
Apabila suami positif, istri wajib
mengetahui, supaya bisa mengantisipasi atau
mencegah penularan kepada anak-anak (NY
WLN)

Pola komunikasi laki-laki lebih banyak


dilandasi oleh pertimbangan rasional
daripada emosional, laki-laki lebih dianggap
tegas, terus terang, berani, dan rasional.
Rasionalisasi
komunikasi
dalam
rumahtangga juga menyebabkan peristiwa
komunikasi
kehilangan
sukma.
Bagaimanapun, pola komunikasi dalam
rumahtangga pasti selalu dibumbui oleh
unsur-unsur yang melibatkan emosional, hal
ini dikarenakan ikatan suami istri tidak
didasarkan pada ikatan formal berdasarkan
kontrak hukum, melainkan didasarkan pada
komitmen yang melibatkan jiwa dan raga.
Rasionalisasi pola pikir menyebabkan lakilaki lebih sering menyembunyikan dan
memikul sendiri beban pikiran dan
perasaannya daripada kaum perempuan. Hal
ini tidak terlepas dari pandangan budaya dan
tradisi yang selalu menempatkan kaum lakilaki pada posisi yang kuat, tangguh, jantan,
tidak mudah mengeluh, dan berani
menghadapi tantangan. Pandangan ini
menyebabkan suami tidak berani berterus
terang untuk mengungkapkan ketakutan,
kegelisahan,
ketidakberdayaan maupun
kekhawatirannya (Surbakti, 2008).
8. Pangkat suami
Pangkat suami didapatkan terbanyak adalah
berpangkat Tamtama. Pangkat tidak memiliki
hubungan yang bermakna dengan terjadinya
penularan HIV pada responden. Golongan
kepangkatan
menentukan
pendapatan
anggota TNI AL. Hasil wawancara
mendalam didapatkan bahwa pada umumnya
penghasilan atau gaji suami diserahkan
hampir semua pada isterinya, seperti
diutarakan oleh salah salah satu ibu, sebagai
berikut :
Cukup buk, anak-anak masih kecil mungkin
belum butuh biaya banyak kali ya
(Ny.DMNT)

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

Secara umum kebutuhan rumah tangga


sekarang menjadi kebutuhan yang konsumtif.
Pendapatan atau gaji yang terbatas
dimungkinkan kebutuhannya menjadi tidak
terpenuhi atau kurang. Hal ini diperparah
dengan suami yang berhubungan dengan
WPS yang mengeluarkan beaya.
B. Hubungan terjadinya penularan HIV
Dengan Berbagai Variabel
a. Hubungan terjadinya penularan HIV
dengan faktor predisposisi.
Faktor predisposisi yang mempengaruhi
kejadian HIV dalam penelitian ini terdiri dari
variabel pengetahuan, keyakinan dan nilai
terhadap keadilan gender.
1. Hubungan terjadinya penularan HIV
dengan pengetahuan
Pada penelitian ini didapatkan pada
kelompok kasus lebih banyak memiliki
pengetahuan baik. Ada hubungan bermakna
antara pengetahuan dengan terjadinya
penularan HIV responden. Responden dalam
penelitian ini merupakan pasien di klinik
VCT RSAL Dr Ramelan Surabaya. Mereka
sudah menjalani konseling sehingga mereka
sudah mendapatkan pengetahuan mengenai
HIV. Pengetahuan responden tidak diketahui
apakah menjadi penyebab terjadinya HIV,
karena penelitian ini dilakukan pada saat
responden sudah menjalani konseling. Salah
satu tujuan konseling adalah pencegahan
penularan HIV yaitu dengan menyediakan
informasi tentang perilaku berisiko (seperti
seks aman atau penggunaan jarum bersama)
dan membantu orang dalam mengembangkan
ketrampilan pribadi yang diperlukan untuk
perubahan perilaku dan negosiasi praktek
lebih aman. Adapun pencapian tujuan
konseling dapat dilaksanakan dengan
menyediakan informasi terkini tentang
prevensi , terapi dan perawatan HIV-AIDS
(Gunung, 2003).
Memperoleh pengetahuan merupakan
salah satu bentuk aktualisasi diri. Menurut
Rogers (1959), manusia memiliki satu motif
dasar,
yaitu
kecenderungan
untuk
mengaktualisasi diri. Kecenderungan ini
adalah keinginan untuk memenuhi potensi
yang dimiliki dan mencapai tahap human-

beingness yang setinggi-tingginya. Seperti


bunga yang tumbuh sepenuh potensinya, jika
kondisinya tepat, tetapi masih dikendalikan
oleh lingkungan, manusia juga akan tumbuh
dan mencapai potensinya jika lingkungannya
cukup bagus. Namun tidak seperti bunga,
potensi yang dimiliki manusia sebagai
individu bersifat unik. Manusia ditakdirkan
untuk berkembang dengan cara yang
berbeda-beda sesuai kepribadian kita. Proses
penilaian (valuing process) bawah sadar
memandu kita menuju perilaku yang akan
membantu kita mencapai potensi yang kita
miliki. Proses penilaian bisa terganggu oleh
aturan-aturan sosial yang terlalu keras dan
konsep diri yang buruk. Rogers percaya,
manusia pada dasarnya baik hati dan kreatif.
Mereka menjadi destruktif hanya jika konsep
diri yang buruk atau hambatan-hambatan
eksternal mengalahkan proses penilaian.
Pada responden dengan datang dan menerima
konseling di klinik VCT merupakan salah
satu sarana untuk aktualisasi diri sehingga
responden memiliki potensi diri setinggitingginya. Hal ini membantu responden
untuk menghadapi pengaruh lingkungan
sekuat-kuatnya.
2. Hubungan terjadinya penularan HIV
dengan variabel keyakinan mengatasi
masalah HIV
Pada penelitian ini didapatkan justru pada
kelompok kasus memiliki keyakinan
menanggulangi masalah HIV lebih banyak
bernilai baik
dibandingkan dengan
kelompok kontrol.Keyakinan mengatasi
masalah HIV memiliki hubungan bermakna
dengan terjadinya penularan HIV pada
responden.
Keyakinan menanggulangi
masalah HIV merupakan faktor predisposisi
atau sering disebut sebagai faktor yang
berkaitan dengan motivasi seseorang atau
kelompok untuk melakukan segala tindakan.
Menurut teori HBM (Health Belief model) (
Green, L.) bahwa seseorang akan melakukan
tindakan tertentu karena adanya keyakinan
bahwa kemungkinan sakit yang terjadi pada
dirinya. Seseorang akan mempridiksi tingkat
keparahan apabila menderita penyakit
tertentu,
sehingga dia akan mencari
pencegahan dengan pendektesian dini. Ada
175

Model Pencegahan Penularan Pada Isteri Dari Anggota TNI AL HIV Positif
(Kusdariah)

tiga faktor esensial dalam teori HBM antara


lain bahwa kesiapan individu untuk merubah
perilaku dalam rangka menghindari suatu
penyakit atau memperkecil risiko kesehatan.
Adanya dorongan dalam lingkugan individu
yang membuatnya merubah perilaku. Pada
kelompok kasus yang telah mengikuti
konseling sudah terjadi perubahan perilaku.
Responden kelompok kasus telah memiliki
kesiapan secara individu untuk merubah
perilaku dalam rangka menghindari suatu
penyakit atau memperkecil risiko kesehatan.
3. Hubungan terjadinya penularan HIV
dengan variabel nilai tentang keadilan
gender.
Nilai tentang keadilan gender pada penelitian
ini didapatkan bahwa kelompok kontrol
memiliki nilai baik lebih banyak sedangkan
kelompok kasus memiliki nilai kurang lebih
banyak. Terdapat hubungan yang bermakna
antara nilai tentang keadilan gender dengan
terjadinya penularan HIV pada responden.
Gender sebagai suatu keyakinan dan
konstruksi sosial yang berkembang di dalam
masyarakat diinternalisasi melalui proses
sosialisasi secara turun-temurun. Dalam
perkembangannya konstruksi gender ini
menghasilkan ketidakadilan gender yang
dialami oleh perempuan. Relasi laki-laki dan
perempuan yang dipayungi konstruksi sosial,
nilai-nilai, dan adat istiadat secara faktual
menghasilkan ketidakadilan yang terlihat
pada beberapa fakta antara lain sejak lahir
adanya penghargaan yang berbeda terhadap
anak yang lahir laki-laki atau perempuan;
Di dalam pembagian wilayah kerja antara
suami dan istri, suami mencari nafkah di luar
rumah (sektor publik), sedangkan istri
melakukan pekerjaan di dalam rumah tangga
(sektor domestik). Pembagian kerja ini tidak
melahirkan penghargaan sosial yang sama,
karena suami
sebagai
pihak yang
memperoleh uang dan mempunyai kekuatan
ekonomi, maka kerap kali istri hanya
dianggap sebagai pendamping, bukan mitra
sejajar yang telah mewakili suami di sektor
publik. Hal ini tercermin dalam ungkapan,
Pekerjaan rumah tangga yang lebih ringan
dibandingkan pekerjaan di kantor dan
sebagainya;
Ketidakadilan
gender
176

menimbulkan permasalahan antara lain


pelecehan
seksual,
diskriminasi,
marginalisasi, serta stereotipe (pelabelan
negatif terhadap perempuan)
Gender memiliki kedudukan yang
penting dalam kehidupan seseorang dan
dapat menentukan pengalaman hidup yang
akan
ditempuhnya.
Gender
dapat
menentukan akses seseorang terhadap
pendidikan, dunia kerja, dan sector publik
lainnya. Gender juga dapat menentukan
kesehatan, harapan hidup, dan kebebasan
gerak seseorang. Jelasnya, gender akan
menentukan seksualitas, hubungan, dan
kemampuan seseorang untuk membuat
keputusan dan bertindak secara otonom.
Akhirnya,
genderlah
yang
banyak
menentukan seseroang akan menjadi apa
nantinya (Ratna Megawangi, 1999) . Pada
kasus HIV pada responden diperlukan hak
bertindak yang otonom sehingga responden
bisa menentukan kehidupan seks nya tanpa
ada pemaksaan dari suami.
C. Hubungan terjadinya penularan HIV
dengan faktor pendorong.
Pada penelitian ini faktor pendorong yang
diteliti terdiri dari beberapa variabel yaitu
dorongan dari Toga dan Toma, dorongan
keluarga, dorongan Pimpinan TNI AL,
dorongan Yalasenastri, melaksanakan ajaran
agama, dan diskriminasi
1. Hubungan terjadinya penularan HIV
dengan variabel dorongan Toga dan
Toma
Pada penelitian ini dorongan dari Toga
dan Toma didapatkan,
pada kelompok
kontrol lebih banyak bernilai kurang dan
pada kelompok kasus banyak bernilai baik.
Dorongan dari Toga dan Toma memiliki
hubungan bermakna dengan terjadinya
penularan HIV pada responden. Responden
pada saat dilakukan penelitian telah
mendapatkan konseling dari klinik VCT
RSAL Dr ramelan Surabaya. Dorongan dari
Toga dan toma diberikan melalui sarana
komunikasi yang berisi nasehat, ajakan, dan
bahkan penyampaian masalah agama.
Keberhasilan dorongan dari Toga dan Toma
sangat
ditentukan
oleh
komunikasi

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

keduabelah pihak yaitu antara responden


dengan Toga dan Toma. Gode (dalam
Wiryanto, 2004: 6) memberikan pengertian
mengenai komunikasi sebagai suatu proses
yang membuat kebersamaan bagi dua atau
lebih yang semula dimonopoli oleh satu atau
beberapa orang. Raymond S. Ross (dalam
Wiryanto, 2004) mendefinisikan komunikasi
sebagai suatu proses menyortir, memilih dan
mengirim simbol-simbol sedemikian rupa,
sehingga
membantu
pendengar
membangkitkan makna atau respon dari
pikirannya yang serupa dengan yang
dimaksud
oleh
sang
komunikator.Komunikasi juga dapat berarti
adanya kesamaan makna antara komunikator
dan komunikan dengan tujuan mengubah
sikap, opini, atau pandangan/prilaku orang
lain tentang pesan yang disampaikan.
Walaupun demikian tidak semua pesan yang
disampaikan itu sesuai dengan apa yang
diharapkan dan bahkan ada kesalahan
maksud dalam penerimaan pesan tersebut,
untuk itu diperlukan suatu komunikasi yang
efektif. Shannon & Weaver (dalam Wiryanto,
2004: 7), bahwa komunikasi adalah bentuk
interaksi manusia yang saling mempengaruhi
satu sama lain, sengaja atau tidak sengaja dan
tidak terbatas pada bentuk komunikasi
verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka,
lukisan, seni dan teknologi.
Menurut Effendy (1992) komunikasi yang
efektif
adalah
komunikasi
yang
menimbulkan efek tertentu sesuai dengan
tujuan yang diharapkan oleh si penyampai.
Efek yang ditimbulkan oleh komunikasi
dapat diklarifikasikan pada efek Kognitif,
yaitu bila ada perubahan pada apa yang
diketahui, dipahami, diperpsepsi oleh
komunikan atau yang berkaitan dengan
pikiran dan nalar/ratio. Dengan kata lain,
pesan yang disampaikan ditujukan kepada
pikiran komunikasi. Efek Afektif, yaitu bila
ada perubahan pada apa yang dirasakan atau
yang berhubungan dengan perasaan. Dengan
kata lain, tujuan komunikator bukan saja
agar komunikan tahu tapi juga tergerak
hatinya. Efek Konatif, yaitu perilaku yang
nyata yang meliputi polapola tindakan,
kegiatan kebiasaan atau dapat juga dikatakan

menimbulkan itikad baik untuk berprilaku


tertentu dalam arti kita melakukan suatu
tindakan atau kegiatan yang bersifat fisik
(jasmaniah).
Komunikasi memang menyentuh semua
aspek kehidupan bermasyarakat, atau
sebaliknya
semua
aspek
kehidupan
bermasyarakat
menyentuh
komunikasi.
Justru itu orang melukiskan komunikasi
sebagai ubiquitos atau serba hadir. Artinya
komunikasi berada di manapun dan kapan
pun juga bisa menimbulkan suatu akibat
(Hamid farid) Akibat tersebut terlihat pada
responden kelompok kasus, walaupun
mereka positif HIV namun demikian mereka
mendapatkan dampak dari komunikasi Toga
dan Toma. Mereka lebih menyiapkan dirinya
untuk menghadapi penyakitnya dengan
dorongan dari Toga dan Toma. Hal ini juga
diperkuat oleh
suami responden yang
menyatakan bahwa sejak dinyatakan sakit
justru lebih meningkatkan keimananya,
seperti diutarakan oleh salah satu responden :
Hikmah dari sakit suami semakin
kuat beribadah, lebih mendekatkan
diri kepada Allah, sholat, dan
mengaj (Ny.DMNT)
2. Hubungan terjadinya penularan HIV
dengan variabel dorongan keluarga
Hasil penelitian didapatkan dorongan
keluarga pada kelompok kontrol memiliki
nilai kurang lebih banyak, sedangkan pada
kelompok kasus didapatkan lebih banyak
bernilai baik. Terdapat hubungan antara
dorongan keluarga dengan status HIV
responden.
Dorongan keluarga yang diberikan salah
satunya dapat berupa pemberian rasa nyaman
yang diciptakan keluarga bisa menjadi
pendorong untuk mencegah terjadinya HIV.
Banyak hal yang bisa menimbulkan rasa
nyaman didalam keluarga sesuai kebutuhan
manusia. Menurut Rogers setiap manusia
memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan,
penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan
cinta dari orang lain, dalam hal ini adalah
dari anggota keluarga. Kebutuhan ini disebut
need regard, yang terbagi lagi menjadi dua
yaitu conditional positive regard (bersyarat)
dan unconditional positive regard (tak
177

Model Pencegahan Penularan Pada Isteri Dari Anggota TNI AL HIV Positif
(Kusdariah)

bersyarat). Jika individu menerima cinta


tanpa syarat, maka ia akan mengembangkan
penghargaan
positif
bagi
dirinya
(unconditional positive regard) dimana anak
akan dapat mengembangkan potensinya
untuk dapat berfungsi sepenuhnya. Jika tidak
terpenuhi, maka anak akan mengembangkan
penghargaan positif bersyarat conditional
positive regard), dimana dia akan mencela
diri, menghindari tingkah laku yang dicela,
merasa bersalah dan tidak berharga. Rogers
mengembangkan pribadi yang berfungsi
sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami
penghargaan positif tanpa syarat. Hal ini
berarti dia dihargai, dicintai karena nilai
adanya diri sendiri sebagai person sehingga
dia tidak bersifat defensif namun cenderung
untuk menerima diri dengan penuh
kepercayaan. Dalam penanganan kasus HIV
perlu adanya rasa mencintai tanpa syarat
sehingga diharapkan penderita HIV akan
mengembangkan penghargaan positif bagi
dirinya. Pemberian penghargaan kepada
penderita HIV oleh keluarganya, diharapkan
penderita tersebut memiliki kepercayaan diri
penuh
sehingga kemungkinan akan
memberikan semangat untuk mengatasi
penyakitnya.
3. Hubungan terjadinya penularan HIV
dengan variabel dorongan
dari
pimpinan TNI AL
Dorongan dari pimpinan TNI AL dalam
penelitian ini didapatkan, pada kelompok
kontrol memiliki nilai kurang, sedangkan
pada kelompok kasus didapatkan lebih
banyak nilai baik. Dorongan dari pimpinan
TNI AL memiliki hubungan yang bermakna
dengan terjadinya penularan HIV pada
responden.
Dalam
penelitian
ini
responden
merupakan istri dari anggota TNI AL HIV
positif. Secara kedinasan para istri tidak
berhubungan langsung dengan pimpinan TNI
AL. Adanya dorongan dari pimpinan sering
tidak dikomunikasikan langsung dengan para
istri. Biasanya dorongan disampaikan atau
dikomunikasikan
melalui suami atau
organisasi para istri. Komunikasi merupakan
aktifitas yang paling esensial dalam
kehidupan manusia. Keberhasilan seseorang
178

dapat dilihat dari ketrampilannya dalam


bekomunikasi. Kurangnya komunikasi akan
menghambat perkembangan kepribadian.
Komunikasi amat erat hubungannya dengan
perilaku dan pengalaman kesadaran manusia,
atau dengan kata lain ilmu komunikasi juga
berkaitan dengan ilmu yang mempelajari
tingkah laku manusia (Hamid Farid).
Adanya
komunikasi
yang
tidak
disampaikan secara langsung maka akan
mempengaruhi perilaku seseorang. Dalam
hal ini dorongan pimpinan TNI AL kepada
para istri anggota TNI AL positif HIV. Pesan
yang tidak disampaikan secara langsung
kepada
yang
bersangkutan
akan
menghasilkan perilaku yang tidak sesuai
dengan keinginan pimpinan TNI AL. Dalam
hal perilaku yang berhubungan dengan
penanggulangan masalah HIV yang diderita.
Kemungkinan menyebabkan istri anggota
TNI AL (HIV positif) yang masih negatif
masih kurang menerima kondisi suaminya
yang positif HIV. Pada responden kelompok
kasus, mereka telah memiliki pengalaman
mengenai penyakitnya sehingga adanya
dorongan dari pimpinan TNI AL dapat
mengatasi penyakitnya dan bisa merubah
perilaku untuk mengatasi penyakitnya.
4. Hubungan terjadinya penularan HIV
dengan
variabel
dorongan
dari
Yalasenastri
Dorongan
dari yalasenastri dalam
penelitian ini, pada kelompok kontrol banyak
memiliki nilai kurang. Sedang pada
kelompok kasus banyak bernilai baik.
Dorongan dari Yalasenastri memiliki
hubungan bermakna
dengan terjadinya
penularan HIV pada responden. Hal ini sama
yang terjadi pada dorongan dari pimpinan
TNI AL. Yalasenastri merupakan organisasi
isteri dari anggota TNI AL yang terstruktur
pengurusannya, memiliki program kerja yang
tersusun dalam program kerja tahuan. Salah
satu seksi adalah seksi budaya dan sosial
yang memiliki kegiatan salah satunya adalah
memberikan support dan santunan kepada
anggota dan keluarga yang menderita sakit.
Pada penderita HIV positif tidak semua
kelihatan sakit, dukungan diberikan melalui

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

ceramah kesehatan untuk menambah


pengetahuan anggotanya.
5. Hubungan terjadinya penularan HIV
dengan variabel diskriminasi
Pada penelitian ini didapatkan faktor
diskriminasi pada kelompok kontrol banyak
bernilai kurang, sedang pada kelompok kasus
didapatkan nilai diskriminasi banyak bernilai
baik. Diskriminasi pada penelitian ini
memiliki hubungan yang bermakna dengan
terjadinya penularan HIV pada responden.
UNAIDS mendefinisikan stigma dan
diskriminasi terkait dengan ciri negatif yang
diberikan
pada
seseorang
sehingga
menyebabkan tidakan yang tidak wajar dan
tidak adil terhadap orang tersebut
berdasarkan status HIV nya.
Beberapa
langkah praktis yang dapat dilakukan untuk
menghadapi stigma dan diskriminasi adalah
menjadi contoh yang baik, menerapkan apa
yang sudah diketahui, memikirkan kata-kata
yang kita gunakan dan bagaimana
memperlakukan ODHA, lalu mencoba untuk
merubah pikiran dan tindakan, berbagi
dengan orang lain mengenai hal-hal yang
sudah kita ketahui dan ajakan mereka untuk
membicarakan tentang stigma dan bagaimana
mengubahnya, mengatasi masalah stigma
ketika berada dirumah, tempat kerja maupun
masyarakat,
bicara
dan
mengatakan
masalahnya dan membuat orang paham
bahwa stigma itu melukai, melawan stigma
melalui kelompok, setiap kelompok dapat
menemukan stigma dalam situasi mereka
sendiri dan setuju untuk melakukan satu atau
dua tindakan praktis agar terjadi perubahan,
mengatakan stigma sebagai sesuatu yang
salah atau buruk tidaklah cukup, buatlah
orang untuk bertindak melakukan perubahan,
setuju pada tindakan yang harus dilakukan,
mengembangkan rencana dan melakukannya,
berpikir besar, mulai dari yang kecil dan
bertindak sekarang Diskriminasi merupakan
faktor pendorong terjadinya perilaku
tertularnya HIV. Lingkungan sosial atau
masyarakat dapat mendorong tindakan
individu untuk bekerja sama atau bergabung
dengan kelompok yang membuat perubahan.
Dukungan tersebut antara lain bisa dari
anggota
masyarakat.
Apabila
terjadi

diskriminasi dari anggota masyarakat


terhadap orang HIV positif maka orang
tersebut tidak bisa bergabung dan dengan
sendirinya tidak bisa membuat perubahan.
Pada kelompok kasus sudah memiliki
pengalaman dengan sakitnya sehingga
resonden kelompok kasus lebih bisa
memberlakukan suaminya dengan cirri yang
positif.
6. Hubungan kejadian HIV dengan
variabel melaksanakan ajaran agama.
Melaksanakan ajaran agama pada kelompok
kontrol banyak bernilai kurang, sedang pada
kelompok kasus banyak bernilai baik.
Variabel melaksanakan ajaran agama
memiliki hubungan secara bermakna dengan
terjadinya penularan HIV pada responden.
Kelompok kasus bernilai baik untuk
melaksanakan ajaran agamanya, hal ini
disebabkan kemungkinan dengan status HIV
nya responden memiliki komitmen yang
tinggi dalam menjalankan ajaran agamanya.
Penyakit HIV tidak bisa disembuhkan oleh
karena itu jalan akhir pada umumnya lebih
mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha
Esa.
D. Hubungan kejadian HIV dengan faktor
pemungkin
Faktor pemungkin terdiri dari variabel
akses ke pelayanan kesehatan, pergaulan
dengan teman, dan pemenuhan kebutuhan
secara ekonomi.
1.Hubungan kejadian HIV dengan
variabel akses ke pelayanan kesehatan
Hasil untuk variabel akses ke pelayanan
kesehatan pada kelompok kontrol lebih
banyak bernilai kurang, dan pada kelompok
kasus banyak bernilai baik. Akses ke
pelayanan
kesehatan
tidak
memiliki
hubungan yang bermakna dengan terjadinya
penularan HIV pada responden. Responden
pada kelompok kasus berdomisili di
Surabaya, dan mereka sudah rutin datang ke
klinik VCT RSAL Dr Ramelan Surabaya.
Pada kelompok kontrol mereka lebih jarang
ke klinik VCT RSAL Dr Ramelan, hal ini
diperkuat pada wawancara mendalam bahwa
menurut petugas di klinik VCT RSAL Dr
Ramelan, kelompok kontrol ini memang
malas untuk mendatangi klinik VCT tersebut.
179

Model Pencegahan Penularan Pada Isteri Dari Anggota TNI AL HIV Positif
(Kusdariah)

3. Hubungan kejadian HIV dengan


variabel pergaulan dengan teman
Pergaulan dengan teman pada penelitian ini,
pada kelompok kontrol memiliki nilai
kurang, sedang pada kelompok kasus
memiliki nilai baik. Pergaulan dengan teman
memiliki hubungan yang bermakna dengan
terjadinya penularan HIV pada responden.
Pergaulan dengan teman menjadi faktor
pemungkin terjadinya perubahan perilaku.
Dalam pergaulan akan terjadi saling
komunikasi antar teman. Komunikasi
memiliki tujuan untuk menghasilkan suatu
tindakan
komunikasi
efektif
yaitu
menyampaikan apa yang dipikirkan oleh
pihak komunikator agar sama dengan apa
yang dipikirkan oleh pihak komunikan.
Komunikasi efektif menimbulkan lima hal
yaitu pengertian, kesenangan, pengaruh pada
sikap, hubungan yang makin baik, serta
tindakan. Salah satu pengaruh komunikasi
dengan teman adalah menimbulkan pengaruh
sikap perilaku. Responden kelompok kasus
tertular HIV karena dari suami. Suami
bergaul dengan temannya, timbul komunikasi
dan mengakibatkan rasa senang untuk
mengikuti kebiasaan temannya yaitu minum
minuman keras dan ke WPS. Berhubungan
seks dilakukan karena suami tidak tahu status
HIV nya. Oleh karena itu suami tidak sempat
mengkomunikasikan status HIV nya lebih
awal. Hal ini diperkuat pernyataan salah satu
suami responden berikut ini :
Saya ketularan dari suami pada saat
suami masuk rumah sakit dengan TBC
paru-paru.
Setelah
itu
dilakukan
pemeriksaan
suami
positif
HIV
(Ny.IDSs)

4. Hubungan kejadian HIV dengan


variabel pemenuhan kebutuhan secara
ekonomi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pemenuhan kebutuhan secara ekonomi
pada kelompok kontrol banyak yang
bernilai kurang, sedang pada kelompok
kasus banyak
memiliki nilai baik .
Pemenuhan kebutuhan tidak memiliki
hubungan yang bermakna dengan
terjadinya HIV pada responden
180

Kebutuhan
secara
ekonomi
diidentikkan dengan pendapatan suami
yang diberikan kepada istrinya. Suami
responden lebih banyak berpangkat
golongan Tamtama dimana golongan
pangkat ini merupakan golongan terendah
di
kepangkatan
militer.
Pangkat
menentukan pendapatan atau gaji yang
diperoleh sehingga dengan pangkat
tamtama
maka
pendapatan
suami
responden juga rendah. Pendapatan yang
rendah
ini
akan
mempengaruhi
pemenuhan kebutuhan secara ekonomi
responden, apalagi bila perilaku suami
mereka masih mempunyai kebiasaan
menjajakan seks pada WPS. Hal ini
didukung dengan hasil wawancara
mendalam pada responden dan beberapa
suami mereka.
Mereka menyatakan
bahwa hampir seluruh gaji diberikan
kepada isteri. Seperti penuturan salah satu
suami responden berikut ini
Buk walaupun saya tidak dilayani, gaji
saya serahkan pada isteri semua buk, anak
saya masih kecil(Bpk SPR)

Apabila suami mereka tetap menjajakan seks


pada WPS maka pemenuhan kebutuhan
secara ekonomi mereka bertambah parah.
Analisis Multivariat
Hasil analisis multivariat pada penelitian
ini diketahui variabel dorongan dari Toga
dan Toma merupakan variabel yang paling fit
mempengaruhi terjadinya penularanan HIV
pada responden. Nilai OR nya adalah 0,056
OR<1 berarti bahwa dorongan dari Toga dan
Toma memberikan perlindungan terjadinya
penularan HIV pada responden.
Dalam teori konsep diri dari Fisher (1987)
menyebutkan bahwa pada umumnya orang
cenderung menggolongkan dirinya dalam
tiga kategori, yaitu karakteristik/sifat pribadi,
karakteristik/sifat sosial dan peran sosial.
Kita cenderung untuk memandang diri kita
sebagai memiliki sifat internal tertentu yang
kita gunakan untuk mmenjelaskan bagaimana
kita berperan dalam berhubungan dengan
orang lain. Salah satu konsep diri adalah

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

peran sosial yang mencakup hubungan


dengan orang lain dan dalam suatu
masyarakat tertentu. Ketika peran sosial
berperan sebagai konsep diri, maka kita
mendefinisikan hubungan sosial kita dengan
orang lain seperti ayah, istri, guru, polisi,
eksekutif, dan sebagainya. Peran sosial ini
bisa berbentuk afiliasi terhadap budaya,
etnik, agama dan sebagainya. Karena konsep
diri bisa berubah seiring dengan waktu, oleh
karenanya stabilitas dari konsep diri ini sulit
untuk diperkirakan.
Dari teori tersebut menggambarkan bahwa
peran hubungan kita dengan orang lain bisa
memberi atau mendapatkan peran seperti
ayah, istri, guru, polisi, eksekutif dan
sebagainya. Salah satu bentuk peran sosial
bisa memberikan afiliasi terhadap agama.
Peran guru bisa meberikan pelajaran dan
pengalaman
sehingga
bisa
memberi
perubahan bagi muridnya. Peran polisi bisa
memberikan peran pengawasan dalam hal
berperilaku. Bentuk afiliasi terhadap agama
yaitu dalam hal tokoh agama bisa meberikan
atau mengkomunikasikan ajaran agama yang
dianutnya. Dalam penelitian ini responden
hampir seluruhnya beragma Islam. Ustad
sebagai tokoh agama yang dipandang
memiliki kemampuan lebih dalam hal agama
bisa mengkomunikasikan ajaran agama dari
nabi
Muchamad
dengan
segala
simbolisasinya. Dorongan dari Toga dan
Toma yang memiliki hubungan dengan
perilaku kejadian penularan HIV pada
responden ini tidak diketahui secara pasti
apakah dilakukan sebelum menderita HIV
atau sesudah dinyatakan HIV positif. Hal ini
perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
Analisis yang dilakukan pada kelompok
kasus didapatkan hampir semua variabel
memiliki nilai baik, yaitu pengetahuan,
keyakinan menanggulangi masalah HIV,
dorongan dari Toga dan Toma, dorongan
keluarga, dorongan pimpinan TNI AL,
dorongan Yalasenastri, melaksanakan ajaran
agama, diskriminasi pada status HIV suami,
dan pergaulan teman.
The Health Belief Model (HBM) adalah
kerangka konseptual untuk menjelaskan
perubahan maupun mempertahankan perilaku

kesehatan serta digunakan sebagai kerangka


penunjuk
untuk
intervensi
perilaku
kesehatan. Health Belief Model (HBM)
terdiri dari beberapa konsep penting yang
dapat mempridiksi mengapa seseorang
cenderung mencegah, menyaring, atau
mengontrol segala kondisi penyakit termasuk
kerentanan, keseriusan, manfat dan hambatan
dari sebuah perilaku, segala petunjuk untuk
bertindak, dan kemampuan diri. Jika
seseorang sudah menganggap dirinya rentan
terhadap suatu kondisi penyakit, maka
kemungkinan kondisi itu menimbulkan
akibat yang serius. Ada beberapa tindakan
yang
bermanfaat
untuk
mengurangi
kerentanan dan keparahan suatu kondisi.
Seseorang cenderung mengambil tindakan
yang diyakini dapat mengurangi risiko. Pada
kelompok kasus, responden mmenyadari
adanya kerentanan terhadap kondisi HIV
nya. Kondisi kelompok kasus kemungkinan
menimbulkan akibat yang serius. Responden
meyakini bahwa ada tindakan yang
bermanfaat untuk mengurangi kerentanan
atau keparahan penyakitnya. Tindakan
responden pada kelompok kasus ditunjukkan
dengan adanya nilai dari seluruh variabel
dengan lebih banyak nilai baik.
MODEL PENCEGAHAN PENULARAN
PADA ISTERI DARI ANGGOTA TNI
AL HIV POSITIF DI SURABAYA
NEED ASSESSMENT
Tahapan pemetaan intervensi pertama adalah
need assessment atau mendiagnosa sosial
dari isteri anggota TNI AL HIV positif.
Karakteristik isteri dari anggota TNI AL
HIV positif di RSAL Dr Ramelan
Surabaya.
Berdasarkan diagnosis tersebut dapat
disimpulkan bahwa isteri anggota TNI AL
lebih banyak berumur kurang dari 30 tahun,
tergolong umur produktif. Hampir semua
beragama Islam dan suku jawa. Suku Jawa
dan
agama
Islam
masing-masing
mengajarkan untuk patuh dengan suami,
sehingga kemungkinan para isteri dari
anggota TNI AL HIV positif menuruti
ajakan suami untuk memenuhi kebutuhan
181

Model Pencegahan Penularan Pada Isteri Dari Anggota TNI AL HIV Positif
(Kusdariah)

seks nya.. Hal ini perlu adanya penguatan


untuk para isteri agar kokoh dalam sikapnya
untuk tetap mamakai kondom.
a.Berdasarkan hasil wawancara mendalam
didapatkan bahwa :
1) Suami tidak berterus terang dengan
HIV positif yang dialami sehingga hal
ini
memperlambat
pencegahan
penularan pada istrinya.
2) Suami mengakui bahwa sebelum HIV
positif memiliki kebiasaan minum
miras di tempat penugasan, dan setelah
itu melakukan seks bebas dengan WPS

182

3) Tidak ada pengawasan ketat baik di


mess maupun di kapal untuk
penggunaan miras dan pelaksanaan
chek up (uji pemeriksaan kesehatan)
4) Tidak pernah dilakukan penyegaran
rohani di kapal, penyegaran rohani
adanya di pendirat dan dihadiri oleh
perwakilan anggota saja.
b. Berdasarkan hasil penelitian, variabel
yang paling mempengaruhi terjadinya
penularan HIV adalah dorongan dari
Toga dan Toma.

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

MODEL PENCEGAHAN PENULARAN PADA ISTERI DARI ANGGOTA TNI-AL HIV POSITIF
INTERVENTION LOGIC MODEL : STEPS 1-5

Resources

(From Bartholemew et al., 2011, Figure 9.1)


Implementation of
program
activities
& material
:penyluhan
, ceramah,
diskusi
tentang
HIV dan
pencegaha
nnya
Penugasan
menulis
pengalama
n pribadi

Individual level (At-risk group)


Teori
perubahan
perilaku
(Theory of
reasoned
action)

Teori
perubahan
perilaku
(Theory of
reasoned
action)

Change
objectives
(self
efficacy,peng
etahuan HIV,
miras,penggu
naan kondom,
siraman
rohani)

Change
objectives

Personal
determinants
(faktor predisposisi
dan pendorong)

Personal
determinants

Performance
objectives for atrisk group (isteri
anggota TNI AL
HIV Positif

Performance
objectives for
agents for
environmental
change
(sosial,masyaraka
t,organisasi,interp
ersonal)

Environmental levels (Environmental agent)


Program
inputs

Steps 4 & 5
Program development
& implementation
(Chaps. 7&8)

Program
outputs

Logic of change

Behavioral
outcomes
(peningkatan
pengetahuan
tentang HIV,
Kesanggupan
seks aman,
membaca buku
tentang
HIV,menulis
pengalaman
dengan HIV)

Health (istri
positif HIV
terhambat
menjadi
AIDS, yang
negatif tidak
tertular HIV)

Quality of life
improvement
(Tidak terjadi kasus
baru HIV, angka
kematian
terhambat/berkuran
g)

Environmental
outcomes(peraturan
miras,dukungan
TogaToma,tersedian
ya buku bacaan
tentangHIV,dukunga
norganisasi,kebijaka
n chek up)

Outcomes

Steps 3

Steps 2

Steps 1

Theory informed
methods & applications
(Chap. 6)

Develop matrices of
objectives
(Chap. 5)

Needs assessment
(Chap. 4)

183

Model Pencegahan Penularan Pada Isteri Dari Anggota TNI AL HIV Positif
(Kusdariah)

Tabel 3. Penentuan metode praktis pencegahan penularan pada isteri dari anggota
HIV positif
NO
KEGIATAN
PELAKSANA
Mereview rencana program Penanggung
jawab
program,
1
fasilitator, perwakilan peserta program
Penyusunan matrik tujuan Dibuat oleh pelaksana masing-masing
program
program bersama dengan perencana
program
Menetukan metode dan Perencana
program,
fasilitator,
strategi praktis
perwakilan peserta program
Menentukan
tujuan Perencana
program,
fasilitator,
perubahan
yang
akan perwakilan peserta program
dicapai
Menentukan media
Perencanaprogram,fasilitator,
perwakilan peserta

2
3
4
5

Identifikasi perilaku pada isteri dari anggota TNI AL HIV positif


Identifikasi permasalahan perilaku kesehatan dan usulan intervensi pada isteri anggota TNI
AL adalah sebagai berikut :
Tabel 4 Identifikasi masalah penularan HIV pada isteri dari anggota TNI AL HIV
positif
IDENTIFIKASI
Suami tidak mengkomunikasikan
masalah HIV pada istrinya
Melakukan seks tidak aman

NO
1
2

INTERVENSI
Self efficacy (kemampuan diri)
Pemberian
pengetahuan
tentang penularan HIV

Suami melakukan minum miras Pemberian


pengetahuan
sebagai penyebab awal melakukan tentang bahaya miras
seks tidak aman dengan WPS.

Tidak ada penyegaran rohani

Tidak ada pengawasan mengenai Upaya chek up dilakukan di


chek
up
(uji
pemeriksaan Kapal
kesehatan) bagi anggota di kapal
Pengawasan ketat chek up
anggota

Pemberian siraman rohani di


kapal

Tabel 5. Tujuan obyektif dari intervensi


NO
1
2

184

IMPLEMENTASI

TUJUAN OBYEKTIF

Pembelajaran tentang kemampuan diri


dengan cara bermain peran yang dipmpin
oleh fasilitator (untuk suami di kapal)
Pengetahuan penularan Untuk suami di Kapal dan istri di klinik
HIV
VCT
Self efficacy

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

Pemberian pengetahuan
tentang bahaya miras

Pemberian
siraman
rohani dan penguatan
mental oleh pimpinan
maupun dari psikolog

Upaya
chek
up
dilakukan di Kapal
Pengawasan ketat chek
up anggota

PEMBUATAN
MATRIK
SESUAI
DENGAN TUJUAN PERUBAHAN.
Matrik disusun berdasarkan tujuan
perubahan
yang
telah
ditetapkan.
Penyusunan matrik disusun berupa tabel
dengan menghubungkan antara masingmasing tujuan kerja dengan determinan
perilaku kesehatan yang dapat meningkatkan
kesehatan. Matrik tidak dibuat dalam model
ini. Pembuatan matrik dilakukan oleh
perencana program.
Memilih metode intervensi terdiri dari
metode teoritis dan metode praktis
1.Metode teori
Teori yang digunakan dalam model
pencegahan penularan pada isteri dari
anggota TNI AL ini adalah menggunakan
teori perubahan perilaku dari Theory of
reasoned Action (Fishbein, 1967). Teori ini
menjelaskan hubungan antara keyakinan
(behavioral dan normative), sikap, intense,
dan perilaku; Determinan paling penting
dari perilaku adalah intense seseorang .
Determinan langsung dari intense seseorang
adalah sikap terhadap perilaku dan norma
subyektif yang berhubungan dengan
perilaku tersebut. Sikap ditentukan oleh
keyakinan individu tentang hasil atau

Ceramah oleh fasilitator


Diskusi kelompok
Penugasan tulisan pengalaman pribadi
pencegahan yang dilakukan
Demonstrasi penggunaan kondom dan
cara pemeliharaan kondom yang benar
Ceramah oleh fasilitator
Display video bahaya minuman keras
Diskusi tanya jawab
Pemberian siraman rohani di kapal
dilakukan setiap hari Rabu dengan peserta
anggota secara bergantian (menyesuaikan
kapsitas long room anggota dan
menyesuaikan tugas jaga)
Pemberian penguatan mental dilakukan
oleh Komandan dan bila memungkinkan
oleh psikolog
Pelaksanaan chek up di kapal
Chek up dilakukan test HIV
Ada sangsi ketat bagi anggota yang tidak
chek up
Pengawasan ketat oleh Perwira Kapal
dibantu oleh Bintara kesehatan

penghargaan atas perilaku yang dilakukan


(behavioral befiefs) yang dipertimbangkan
berdasar
evaluasi
atas
hasil
atau
penghargaan tersebut. Dengan demikian
seseorang yang mempunyai keyakinan kuat
bahwa hasil bernilai positif akan diperoleh
dari melakukan perilaku tertentu, akan
mempunyai sikap positif terhadap perilaku
tersebut. Sebaliknya, seseorang yang
mempunyai keyakinan kuat bahwa hasil
bernilai negatif
akan didapatkan dari
melakukan
perilaku
tertentu,
akan
mempunyai sikap negatif terhadap perilaku
tersebut.
Norma subyektif seseorang ditentukan
oleh keyakinan normatif (normative beliefs),
apakah orang lain yang dianggap penting
oleh individu tersebut setuju atau tidak
setuju atas perilaku tersebut, akan
mempengaruhi motivasi untuk patuh dengan
orang lain tersebut. Dengan demikian
seseorang yang percaya bahwa orang lain
berharap individu tersebut seharusnya
melakukan suatu perilaku, dan termotivasi
untuk memenuhi harapan orang lain itu,
akan mempunyai norma subyektif yang
positif.
Sebaliknya, seseorang yang
mempercayai
bahwa
orang
lain
185

Model Pencegahan Penularan Pada Isteri Dari Anggota TNI AL HIV Positif
(Kusdariah)

menghendaki individu tersebut seharusnya


tidak melakukan perilaku tersebut akan
mempunyai norma subyektif yang negatif,
dan seseorang yang kurang termotivasi
untuk mematuhi orang lain akan mempunyai
norma subyektif yang kurang relatif normal.
Asumsi perilaku dari teori ini adalah bahwa
individu merupakan rasional actors , berarti
seluruh individu memproses informasi dan
termotivasi untuk bertindak atas dasar
proses tersebut. Teori ini juga berasumsi

bahwa ada alasan-alasan tertentu yang


menentukan motivasi seseorang untuk
menjalankan suatu perilaku. Alasan-alasan
tersebut dibuat atas keyakinan normatif dan
perilaku seseorang, menentukan sikap dan
norma subyektif tidak memandang apakah
segala keyakinan tersebut rasional, logis,
atau dibenarkan oleh beberapa standar
obyektif.

2. Metode praktis yang digunakan


Membuat Komponen dan Materi Program pencegahan penularan pada isteri dari anggota
TNI AL HIV positif
Tabel 6 Pembuatan komponen dan materi program pencegahan penularan
pada isteri dari anggota TNI AL HIV positif
NO
1.

2
3
4

KEGIATAN

PELAKSANA

Memilih desain materi program


disesuaikan dengan budaya, dengan
memperhatikan karakteristik peserta
atau sasaran (bahas,pakaian, cirri
khas warna)
Menentukan
kebutuhan
sarana
program dan menentukan beaya
program
Pembuatan Jadwal pemberian materi

Perencana
masing-masing
program,
fasilitator,
perwakilan peserta

Penanggung
jawab
,
perencana,
fasilitator,
perwakilan program
Perencana
program,
fasilitator,
perwakilan
peserta
Review materi, uji coba materi, Perencana program
produksi materi

Perencanaan pemakaian, pelaksanaan, dan keberlangsungan program


Perencanaan pemakaian, pelaksanaan dan keberlangsungan program pencegahan
penularan pada isteri dari anggota TNI AL HIV positif adalah sebagai berikut
Tabel 7
NO
1
2
186

Perencanaan pemakaian, pelaksanaan dan keberlangsungan program


pencegahan penularan pada isteri dari anggota TNI AL HIV positif
KEGIATAN

PELAKSANA

Advokasi dengan Karumkit dan


Perencana program
Kasatkes untuk pelaksanaan program
pencegahan penularan HIV
Penerbitan surat perintah kepada personil Karumkit RSAL Dr
yang terlibat program
Ramelan

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

Monitoring keberlangsungan program

Menyusun
rencana
evaluasi
menentukan program selanjutnya.

Karumkit, penanggung
jawab, dan perencana
program
untuk Perencana program

Perencanaan Evaluasi
Perencanaan evaluasi disusun berdasarkan tujuan umum yang telah ditentukan
Tabel 8 Rencana evaluasi program pencegahan penularan pada isteri dari anggota TNI
AL HIV positif di Surabaya
NO

MATERI

Waktu

Sumber data

INDIKATOR
Jumlah
penderita yang
terdaftar di
RSAL Dr
Ramelan
Surabaya
Jumlah
peningkatan
anggota yang
melakukan
chek up

Kualitas Hidup:
Infeksi HIV
Kasus AIDS
Kasus HIV baru

6 bulan
1 tahun
Secara terus
menerus

Laporan medical
record RSAL Dr
Ramelan

Indikator
kesehatan
Anggota yang
melaksanakan
chek up

1bulan
3bulan
6bulan
1 tahun

Hasil laporan Uji


pemeriksaan
kesehatanan
(chek up)

Perilaku
Penurunan
prevalensi
anggota yang
minum miras
Penurunan
prevalensi
penggunaan
kondom
Kondisi
lingkungan
Kunjungan ke
WPS
Penyimpanan
miras di kapal

1bulan
3bulan
6 bulan
1 tahun

Hasil laporan
pelanggaran dari
provost

Jumlah
pelanggaran
minum miras di
kapal

Sidak provost
minimal setiap
kapal sandar

Laporan sidak
porovost

Tidak
ditemukan
kunjungan ke
WPS dan
penyimpanan
miras di kapal
Kenaikan nilai
yang didapat
dari test
sebelum dan
sesudah
program
masing-masing
peserta
Pencapaian
program
berhasil dengan

Determinan
Pengetahuan HIV
Ketrampilan
pemeliharaan dan
penggunaan
kondom

6 bulan
(sebelum dan
sesudah
program
berjalan)

Hasil test
formatif yang
diberikan
sebelum dan
sesudah program
berjalan

Tujuan Kerja
Materi program
Metode program

Setelah selesai
pelaksanaan
masing-

Kuesioner yang
dibagikan kepada
seluruh peserta

187

Model Pencegahan Penularan Pada Isteri Dari Anggota TNI AL HIV Positif
(Kusdariah)

Desain program
Jadwal program
Pelaksanaan
program

masing
program

program

penilaian 75%

Tujuan
perubahan
Penggunaan
kondom setiap
berhubungan seks
dengan
pasangannya
Suaami tidak
minum miras
Setia kepada
pasangan/tidak
melakukan seks
dengan WPS

Penggunaan
kondom
dilaporkan
setiap :
1 bulan
3bulan
6bulan
1tahun
Suami tidak
minum miras
dan
melakukan
seks dengan
WPS tidak
diukur

Hasil anamnesa
petugas VCT

Ada
peningkatan
permintaan
kondom oleh
isteri anggota
TNI AL HIV
positif yang
terdaftar dan
berkunjung di
klinik VCT
RSAL Dr
Ramelan
Surabaya.

Simpulan
Beberapa kesimpulan yang dapat
diambil dari hasil penelitian ini adalah :
1.Karakteristik isteri anggota TNI AL HIV
positif di RSAL Dr. Ramelan berumur
produktif
secara
biologi.
Memiliki
pendidikan terbanyak SMP dan SMA,
banyak yang tidak bekerja, berasal dari suku
Jawa, dan suami mereka banyak berpangkat
Tamtama.
2.Variabel
dari
faktor
pendorong
(pengetahuan, keyakinan menanggulangi
masalah HIV, nilai tentang keadilan gender),
Faktor pendorong (dorongan Toga Toma,
keluarga, pimpinan TNI AL, Yalasenastri,
melaksanakan ajaran agama, diskriminasi),
faktor pemungkin (pergaulan dengan teman)
memiliki hubungan yang bermakna dengan
terjadinya penularan HIV pada isteri
anggota TNI AL HIV positif di RSAL Dr
Ramelan Surabaya.
3.Faktor yang paling mempengaruhi
perilaku terjadinya penularan HIV pada
isteri anggota TNI AL HIV positif dalam
penelitian ini adalah faktor pendorong dari
Toga dan Toma.
4.Model pencegahan penularan HIV pada
isteri dari anggota TNI AL di Surabaya
disusun dengan materi pembelajaran
pencegahan penularan HIV, minuman keras,
188

dan pencegahan HIV dari segi agama,


metode yang digunakan adalah ceramah,
diskusi, dan tanya jawab.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini penulis
memberikan saran sebagai berikut :
1. Untuk Organisasi TNI AL
a. Peraturan dan pengawasan membawa
minum minuman keras di kapal perlu
diperketat karena melakukan seks
bebas selalu didahului dengan minum
minuman keras.
b. Perwira rohani ada di setiap kapal
untuk memberikan penyegaran rohani
anggota TNI AL yang bertugas layar
c. Urikes (check up) bagi anggota secara
rutin bisa dilaksanakan di kapal.
d. Peningkatan pengetahuan mengenai
HIV perlu diberikan secara terus
menerus kepada seluruh anggota TNI
AL di kapal karena sebagai pelaut
merupakan kelompok berisiko terjadi
penularan HIV
2. Untuk Institusi RSAL
Dr Ramelan
Surabaya
a. Mengupayakan pelaksanaan urikes
(check up) untuk anggota kapal
dilaksanakan di kapal, hal ini
berdasarkan temuan dari FGD yang
menyatakan bahwa mereka tidak bisa

Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 2 Nomor 2/Agustus 2013

melaksanakan urikes karena banyak


waktunya untuk berlayar.
b. Memfasilitasi adanya peer group isteri
dari anggota TNI AL HIV positif.
3. Untuk peneliti selanjutnya
a. Penelitian lebih mendalam berkaitan
dengan perilaku pencegahan HIV pada
anggota TNI AL di daerah penugasan
perlu dilaksanakan.
b. Penelitian
pencegahan
dan
penanggulangan HIV secara religi
perlu dilakukan mengingat hasil
penelitian ini ada hubungan yang kuat
faktor doronagan dari Toga dan Toma
dengan perilaku terjadinya penularan
HIV pada isteri anggota TNI AL.

--------------Masalah
Gender
Yang
Berhubungan Dengan Penyakit
HIV-AIDS
http://www.google.co.id//masalah
gender. Diakses tanggal 1 maret
2013 jam 22.10

DAFTAR PUSTAKA

Harahap, J., dan Andayani, S.R. (2004).


Pengaruh peer education terhadap
pengetahuan dan Sikap mahasiswa
dalam menanggulangi hiv/aids di
universitas sumatera utara. USU
digital library. (hal. 1)
Irawan Andre, Gender, HIV, dan Aids.
Pusat studi Gender Universitas
Islam Indonesia. Jogyakarta, 2010.
Kemenkes RI. (2011). Laporan situasi
perkembangan
HIV/AIDS
di
Indonesia.
www.aidsindonesia.or.id/download
/LT2Menkes2011.pdf.
Diakses
tanggal. 11 Desember 2012. Jam
16.00 WIB.

Arikunto, Suharsini, (2006). Prosedur


Penelitian. Rineke Cipta. Jakarta
Azis, Alimul, (2007). Riset Keperawatan
Dan Teknik Penulisan Ilmiah.
Salemba Medika. Jakarta.
Baali, A.M.. (2006). HIV/AIDS : Kita bisa
kena, kita pun bisa cegah.
Yogyakarta : P-idea & Muslim
Care.
Dalimoenthe, Iklasiah (2011). Perempuan
Dalam Cengkeraman HIV/AIDS ;
Kajian
Sosiologi
Feminis
Perempuan Ibu Rumah tangga
Jurnal Komunitas vol 5 no 1 Juli
2011 hal 41-48.
Dinas Kesehatan Kota Surabaya (2012).
Distribusi Penderita
HIV/AIDS
Berdasarkan kelompok umur.
Echols,M. John dan Shadely Hasan, Kamus
Inggris-Indonesia. Gramedia com.
--------------,Gender; Puspa Keluarga;Pdf
htt;//www.Scribd.com/doc/11135
1050/Konsep dan teori gender
Diakses tanggal 28 Februari 2013
jam 21.40

Green, Lawrence W . Health Promotion


Planning An Eduacational and
Environmental Approach. Myheld
Publishing Company Mountain
View-Toronto-London.1991.
Gunung ( 2003 ), Buku Pegangan Konselor
HIV-AIDS . Macfariane
Burnet
Institute for Medical Research and
Public Health Limited

Kemenkes RI. (2002). Penanggulangan


HIV/AIDS
di
Indonesia.
http://data.unaids.org/topics/Partn
ership-Menus/indonesiaresponse_id.pdf. Diakses tanggal
11 Desember 2012. Jam 10.00
WIB.
KPA Nasional, (2010), Strategi Nasional
Penanggulangan HIV/AIDS 20072010
http,//www,aidsindonesia.or.id/
Diakses tanggal 19 Februari 2013
jam 19.17

189

Model Pencegahan Penularan Pada Isteri Dari Anggota TNI AL HIV Positif
(Kusdariah)

Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi


Universitas Indonesia. Dasardasar Demografi (1981)
Mahdiana, R. (2010), Mengenal dan
Mengobati Penularan Penyakit
Dari Infeksi HIV. Yogyakarta :
Citra Pusaka
Marzuki, Kajian Awal Tentang Teori-Teori
Gender, PKN dan Hukum UNY
(tidak dipublikasikan)
Megawangi Ratna, (1999); Membiarkan
Berbeda ?; Sudut Pandang Baru
Tentang Relasi Gender; Penerbit
Mijan, Bandung
Murjitiastutik, Dwi ( 2008 ); Infeksi
menular seksual, Cat 1 Surabaya
Airlangga University Press.
Markas Besar Angkatan laut, Peraturan
Kepala Staf Angkatan Laut Nomor
:
Perkasal/33/VI/2011 tentang

190

Petunjuk
Pelaksanaan
Penanggulangan HIV/AIDS Di
Lingkungan TNI Angkatan Laut
Oktober,
2011;
Tdak
dipublikasikan.
Notoadmodjo, (2003), Pendidikan dan
perilaku kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta
Nasroudin, HIV dan Aids Pendekatan
Biologi Molekuler, Klinis, dan
Sosial, Airlangga University Press.
Surabaya, 2007
Pollit, P.F., Beck, C.T & Hugler, B.P.
(2001). Essentials of nursing
research: Methods appraisal and
utilization. 3rd ed. Philadelphia:
J.B. Lippincott.
Rochimhdhi, Trijatmo dkk ( 1992 ),
Syndrom AIDS . Cat 1 Jakarta EGC