Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mineral adalah suatu bahan atau unsur kimia, gabungan kimia atau suatu
campuran dari gabungan-gabungan kimia anorganis, sebagai hasil dari proses-proses
fisis dan kimia khusus secara alami. Mineral merupakan suatu bahan yang homogen dan
mempunyai susunan atau rumus kimia tertentu. Bila kondisi memungkinkan, mendapat
suatu struktur yang sesuai, dimana ditentukan bentuknya dari kristal dan sifat-sifat
fisiknya. Bumi tersusun dari beberapa jenis batuan dan batuan terdiri dari mineralmineral dan sejumlah kecil bahan lain seperti bahan organik. Mineral sendiri terdiri dari
unsur-unsur yang bersenyawa. Unsur dalam hal ini adalah benda yang tak dapat lagi
dipisahkan secara kimia. Atom adalah partikel terkecil dari suatu unsur yang memiliki
sifat-sifat unsur tersebut dan terlalu kecil untuk dapat dilihat meskipun menggunakan
mikroskop.
Pengamatan yang dilakukan berupa pengamatan mineral melalui nikol sejajar,
nikol silang, dan pengamatan konoskop. Pengamatan ini sangat penting sebab dalam
pengamatan ini akan diketahui sifat-sifat optik mineral, sehingga dapat ditentukan nama
mineral dari hasil pengamatan. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukanlah praktikum
pengenalan mineral ini.

1.2 Maksud dan Tujuan


Maksud
Maksud

diadakannya

praktikum

ini

adalah

agar

mahasiswa

dapat

mengaplikasikan teori yang didapat saat proses perkuliahan mengenai proses


pengamatan mineral menggunakan mikroskop polarisasi.

Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Menentukan sifat-sifat optik mineral dalam pengamatan nikol sejajar, nikol silang
dan pengamatan konoskop
2. Menentukan nama mineral dari sifat-sifat optik yang diamati
3.Dapat membedakan antara pengamatan nikol sejajar, nikol silang, dan pengamatan
konoskop
1.3 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
1. Pensil
2. Pulpen
3. Penghapus
4. Penggaris
5. Lap kasar dan halus
6. Pensil warna
7. Lembar Kerja Praktikum
8. Buku Penuntun Praktikum Petrografi
9. Buku Optical Mineralogy (Kerr)
10. Mikroskop polarisasi
11. Sampel sayatan tipis mineral
1.4 Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam praktikum pengamatan mineral ini adalah :
Siapkan alat dan bahan praktikum, seperti alat tulis, mikroskop polarisasi, lap kasar
atau lap halus sebagai alas mikroskop, preparat sayatan tipis mineral, buku penuntun
praktikum Petrografi, serta Lembar Kerja Praktikum.

Menyentringkan mikroskop sesuai dengan prosedur.


Menentukan dan menuliskan sifat-sifat optik mineral yang tampak pada pengamatan
nikol sejajar, nikol silang, dan pengamatan konoskop, serta menentukan nama mineral
pada Lembar Kerja Praktikum
Praktikan mengembalikan alat kembali ke tempatnya setelah selesai digunakan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Dalam pengamatan mineral diperlukan 3 pengamatan yaitu pengamatan nikol


sejajar, pengamatan nikol silang maupun pegamatan konoskop.
1. Pengamatan Nikol Sejajar
Pengamatan dengan cara ortoskop nikol sejajar dapat diamati beberapa sifat optik
sebagai berikut:
1) Penentuan Warna Mineral
Warna mineral adalah pencerminan dari daya serap atau absorbsi panjang
gelombang tertentu dari cahaya atau sinar yang masuk khususnya untuk mineralmineral yang transparan atau anisotropik. Warna mineral secara optik juga sebagai
fungsi dari unsur-unsur atau senyawa tertentu yang terkandung oleh suatu jenis mineral
tertentu, terutama mengenai unsur-unsur transisi, misalnya seperti: Fe, Cr, Mn, Mg, Au,
dll.
2) Penentuan Bentuk atau Struktur Kristal Mineral
Bentuk mineral adalah bentuk mineral dalam kondisi dua dimensi, tetapi berkat
bantuan struktur dalam mineral yang dapat teramati seperti halnya bidang belah atau
"cleveage" maka dapat ditafsirkan struktur kristal dari mineral tersebut. Dengan
demikian berdasarkan kenampakan bentuk mineral dalam kondisi 2 dimensi, maka
mineral dapat direfleksikan kedalam bentuk kondisi 3 dimensi.
Bentuk-bentuk mineral yang dapat teramati secara mikroskopis yaitu sebagai
berikut:
a. Bentuk Luar Kristal
Euhedral atau Idiomorfik atau bentuk sempurna.
Subhedral atau Hipidiomorfik atau kurang sempurna.

Anhedral atau Xenomorfik atau tidak sempurna.


b. Bentuk dalam kristal
Prismatik
Rhombik
Poligonal
Kubik
Bentuk luar mineral akan mencerminkan ganesa atau kejadian mineral tersebut
sebagai berikut:
Terbentuk paling awal dalam betuan beku akan terbentuk euhedral dan terbentuk
dalam fase yang sangat lamban.
Terbentuk pertengahan kristalnya akan berbentuk subhedral dan terbentuk dengan
reaksi cukup lambat.
Terbentuk paling akhir maka mineralnya akan terbentuk anhedral dengan reaksi
cukup lambat dan ruangan yang tersisa makin sempit.
3) Penentuan Relief Mineral
Relief adalah kenampakan yang timbul akibat adanya perbedaan indeks bias
mineral dengan media di sekitarnya. Semakin besar perbedaan indeks bias tersebut,
maka semakin tinggi relief suatu mineral. Bedasarkan perbedaan indeks bias tersebut
maka disusunlah cara untuk memerikan relief mineral yang terdiri atas beberapa macam
mineral yang terdiri atas beberapa macam sebagai berikut :
a. Mineral berelief tinggi misalnya zirkon,
b. Mineral bersifat sedang misalnya mineral-mineral feromagnesia seperti kelompok
piroksin dan kelompok amfibol,
c. Mineral berelief rendah misalnya adalah kelompok mineral-mineral silika seperti
kuarsa dan kelompok feldspar.

Pada pengamatan relief ini ada beberapa hal yang patut diperhatikan antara lain
adalah sebagai berikut:
Relief akan nampak pada bagian pinggir atau pada batas kontak antara mineral dengan
medium disekitarnya dalam hal ini adalah balsam Kanada.
Jika pada bagian tepi mineral tidak tampak adanya batas yang tegas antara mineral
dengan balsam Kanada, maka yang harus diperhatikan berikutnya adalah bidang belah
atau retakan-retakan yang terdapat didalamnya.
Pengamatan indeks bias ini didasarkan atas tingkat ketegasan bidang kontak tersebut
yang dapat menentukan tinggi rendahnya indeks bias mineral tersebut.
Pada pengamatan indeks bias ini sebaiknya diafragma sedikit ditutup agar bidang
kontak dapat teramati dengan jelas.
4) Penentuan Indeks Bias Mineral
Indeks bias mineral dapat diartikan sebagai salah satu nilai (konstanta) yang
menunjukkan perbandingan sinus sudut datang (i) dengan sinus sudut bias fraksi (r),
maka indeks bias (n) juga merupakan fungsi dari perjalanan sinar di dalam medium
yang berbeda.
Ada 2 jenis mineral yang diketahui dengan baik indeks biasnya yang mewakili
indeks bias tertinggi dan terendah:
a. Opal dengan indeks bias (n) = 1,40000
b. Intan dengan indeks bias (n) = 1,46476
Dikenal ada 2 metode yang dapat dipakai dalam penentuan indeks bias ini
adalah sebagai berikut:
a. Metode Garis "Becke"
Metode ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

Diafragma ditutup sebagian sehingga garis "Becke" akan nampak tepat berimpit
dengan batas mineral dan balsam Kanada berupa garis yang berwarna putih blur.
Agar garis tersebut menjadi tampak lebih jelas maka objek dijauhkan dari meja
sayatan.
Jika objek dijauhkan, maka garis "Becke" akan menuju indeks bias yang lebih
besar.
b. Metode Illuminasi Miring
Cara ini dapat dilakukan seperti berikut:
Dilakukan penutupan sebagian jalannya sinar yang masuk ke dalam mineral dengan
menggunakan benda yang tidak tembus sinar.
Pada bagian ini akan terlihatdua jenis yang berbeda, yaitu apabila bayangan gelap
nampak pada posisi yang berlawanan dengan arah posisi penutupnya maka

Sebaliknya jika terlihat bayangan gelap nampak pada posisi yang searah dengan
arah penutupan jalannya sinar, maka
5) Penentuan Jenis Pleokroisme
Pleokroisme adalah gejala perubahan warna yang terjadi dan tergantung atas
posisi sumbu mineral terhadap kedudukan analisator dan polarisator. Pleokroik adalah
merupakan perbedaan daya serap sinar terhadap panjang gelombang cahaya tertentu
terhadap posisi analisator dan polarisator terhadap sumbu-sumbu kristalnya.
Ada 2 jenis pleokroik yaitu sebagai berikut :
1. Dwikroik adalah jika pada perputaran antara

atau bergerak dari arah getar

polarisator menuju analisator dapat terjadi 2 kali perubahan warna.

2. Trikroik adalah kalau pada perputaran

terjadi 3 kali perubahan warna. Pada

kenyataanya jarang atau bahkan tidak pernah dapat diamati dalam mikroskop, karena
sangat tergantung terhadap jenis sayatan dan posisi sumbu optiknya.
Di dalam pemerian mengenai pleokroik ini dapat dibagi sebagai berikut :
a. Pleokroik kuat atau sangat kuat dengan perubahan warna dari cokelat muda - cokelat
tua, misalnya biotit, turmalin, natrolit.
b. Pleokroik sedang perubahan warna dari hijau kekuningan - hijau kecokelatan,
misalnya hornblende.
c. Pleokroik lemah dengan perubahan warna hijau muda - hijau kekuningan, misalnya
sebagian kelompok piroksin dan kelompok amfibol.
2. Ortoskop Nikol Silang
Pengamatan dengan ortoskop nikol silang dapat diamati beberapa sifat optik
sebagai berikut:
1) Bias Rangkap Mineral
Cahaya yang masuk dalam media anisotrop akan dibiaskan menjadi 2 sinar yaitu
sinar yang bergetar dalam 2 bidang yang saling tegak lurus. Harga bias rangkap
merupkan selisih maksimum kedua indeks bias sinar yang bergetar dalam suatu mineral.
Standardisasi sayatan tipis memiliki ketebalan 0,03 mm. Dalam sayatan tipis,
interferansi mineral harus dapat diamati, yang hanya dapat dalam sayatan tipis 0,03 mm.
Warna interferensi kuarsa terendah berada pada orde pertama putih (abu-abu) atau
mendekati warna kuning orde I. Warna interferensi dapat dilihat dari posisi horizontal
sayatan. Setelah warna interference diketahui, pengamatan dilanjutkan melalui garis
diagonalnya hingga didapatkan sifat bias rangkap. Dari posisi bias rangkap, dengan
meluruskan ke bawah melalui garis diagonal ke perpotongannya, akan diketahui

ketebalan standarnya, apakah lebih tebal atau tidak dari 0,03 mm. Orde warna
interference dan birefringence menggunakan tabel warna Michell-Levy.
Bias rangkap ditentukan dari refraksi ganda pada pantulan sinar maximum
(warna orde tertinggi). Bias rangkap dapat dilihat jika posisi sayatan berada pada sudut
pemadaman 45O terhadap nikol. Bias rangkap dapat digunakan (bertujuan) untuk
menguji ketebalan sayatan kristal. Sifat Bias rangkap mineral dapat dilihat pada tabel
sifat-sifat mineral yang disertai dengan perubahan antara indeks refraksi tertinggi dan
terendahnya.
Sifat difraksi maximum biasanya juga dapat diperikirakan dalam sifat ini. Jika
obyek memiliki belahan jelas atau bentuk kristalnya terorientasi pada keping gelas
dasarnya, beberapa partikel harus disusun ulang hingga berorientasi baru, yaitu dengan
membuka cover glass dan mineral didorong secara horizontal. Birefringence secara
relatif sama pada setiap kelompok (kelas) mineral yang sama, contohnya piroksen,
amfibol dan plagioklas. Indeks refraksi dan warna mungkin berbeda di antara satu
kelompok mineral, namun warna bias rangkapnya hampir sama.
Bias rangkap dapat diamati di bawah mikroskup dengan memasang lensa
Bertrand (keping gipsum). Lensa Bertrand keberadaannya sering terpisah dari
mikroskop. Lensa ini dapat dilepaskan. Sifat bias rangkap dapat diamati pada posisi
nikol silang, yaitu dengan memasang lensa Bertrand pada posisinya (yaitu di atas
analyzer). Perubahan warna yang dihasilkan biasanya ditentukan oleh warna reliefnya
dan ketebalan sayatannya.
Penentuan orde dapat dibagi dalam beberapa bagian, yaitu:
Bias rangkap lemah
Bias rangkap sedang
Bias rangkap kuat

orde I bawah,
orde I atas - II,
orde III bawah - atas,

Bias rangkap extrim


Rangkaian

silikat

orde IV atas.
mempunyai

arah-arah

yang

unik

dan

cenderung

memperlihatkan bias rangkap yang tinggi seperti:


Piroksin

= 0,025

Amfibol

= 0,025

Mika

= 0,040

Talk

= 0,040
Kelompok mineral silika justru cenderung mendekati struktur isotopik yang

memperlihatkan bias rangkap yang relatif rendah sebagai berikut:


Kuarsa

= 0,009

Feldspar

= 0,008

Feldspatoid = 0,003
Zeolit

= 0,006

2) Orientasi Mineral
Orientasi mineral merupakan hubungan antara arah-arah sumbu optik dengan
sumbu-sumbu kristalografinya. Tujuannya adalah penentuan orientasi mineral ini
digunakan untuk dapat mengetahui kedudukan sumbu-sumbu indikatriks di dalam suatu
mineral.
Berdasarkan tingkat perbedaan kecepatan cahaya yang merambat didalam
mineral yang anisotropik.
1. Orientasi length slow berarti bahwa sumbu terpanjang indikatrik getaran sianr
lambat () sejajar (//) sumbu C sebagai arah sumbu terpanjang kristal.
2. Orientasi length fast berarti bahwa sumbu terpanjang indikatrik () tegak lurus
sumbu C atau () hampir tegak lurus sumbu C. Ada 2 macam orientasi ini, adalah
sebagai berikut :

a. Gejala addisi adalah gejala yang terjadi apabila sumbu indikator sinar Z mineral
sejajar dengan sumbu indikatrik sinar Z komparator.
b. Gejala subtraksi adalah gejala yang terjadi apabila sumbu indikatrik sinar Z
mineral tegak lurus dengan sumbu indikatrik sinar Z komparator.
3) Jenis dan Sudut Pemadaman Mineral
Pemadaman merupakan proses penggelapan yaitu akibat perulangan pembiasan
yang diperoleh dengan mengubah posisi mineral terhadap kedudukan analisator dan
polarisator. Jadi pemadaman dapat terjadi apabila sumbu-sumbu indikatriks mineral
sejajar atau tegak lurus dengan bidang-bidang getar polarisator dan analisator.
Macam-macam pemadaman berdasarkan posisi atau kedudukan pemadaman
mineral terhadap analisator dan polarisator dapat dibagi atas:
1. Gelapan sejajar atau paralel adalah bila pemadaman terjadi pada posisi 45-90
(derajat). Gelapan ini umumnya terjadi pada sistem kristal tetragonal, heksagonal,
trigonal dan orthorombik.
2. Gelapan miring adalah bila pemadaman terjadi pada posisi <45 (derajat), umumnya
pada sayatan mineral orthorombik, monoklin, misalnya amphibol dan piroksin.
3. Gelapan simetris adalah bila pemadaman terjadi pada posisi 45 (derajat).
4. Gelpan bintik adalah adalah gelapan yang pada posisi gelap maksimum tidak seluruh
kristal akan nampak gelap tapi sebagiannya lagi akan tampak seperti bintik-bintik
terang.
5. Gelapan bergelombang adalah gelapan yang mineral telah mengalami tekanan namun
belum sampai rekristalisasi secara sempurna.
Kembaran adalah kenampakan pada mineral akibat adanya /tumbuhnya 2 kristal
bersamaan pada proses pengkristalan.

Hal ini diakibatkan adanya deformasi/tekanan.kenampakan ini hanya d tunjukan oleh


mineral plagioklas, dengan kata lain merupakan pemadaman khusus mineral plagioklas.
Macam-macam jenis kembaran mineral Plagioklas adalah sebagai berikut :
1. Kembaran albit adalah kembaran dicirikan oleh kembaran selang seling antara
gelap dan terang dalam jumlah yang relatif cukup banyak.
2. Kembaran carlsbad adalah yang dicirikan oleh kembaran berupa pasangan gelap dan
terang dalam jumlah yang tidak lebih dari satu pasangan.
3. Kembaran Carlsbad-Albit adalah yang dicirikan oleh kombinasi antara carlsbad dan
Albit.
3. Konoskop
Dalam sistem mikroskop konoskop ini dapat ditentukan sifat-sifat optik mineral
adalah sebagai berikut:
a. Gambar inteferensi,
b. Tanda optik mineral,
c. Perkiraan besarnya sudut 2V, khusus untuk mineral-mineral yang bersumbu optik 2
atau biaxial.
Pada pengamatan secara optik mengenai tanda optik maka dapat dipisahkan
antara mineral-mineral uniaxial dan biaxial. Pengamatan secara konoskop didukung
oleh seluruh komponen mikrosko yang dalam hal ini sistem konoskop adalah subsistem
ortoskopik nikol bersilang di tambah dengan penggunaan kondensor dan lensa bertrand.
1) Penentuan Tanda Optik Mineral Uniaxial
1.1 Iluminator Konoskop
Dalam iluminasi konoskop sinar-sinar akan saling berinterfernsi dengan araharah getar sumbu kristal yang memberikan pola interferensi tertentu yang dikenal
dengan gambar interferensi. Pada pengamatan ini kondensor berfungsi sebagai

pemusatan sinar yang masuk, sehingga sinar yang masuk menjadi lebih konvergen,
sedangkan lensa bertrand berfungsi untuk mempertegas akan gambar interferensi. Satu
hal yang perlu diperhatikan adalah penggunaan lenso objektif yang dipakai dalam
pengamatan tanda optik ini.
Pada pengamatan tanda optik ini dipakai lensa obyektif dengan pembesaran
yang maksimum. Setiap lensa objektif mempunyai harga NA (Numerical Aperture)
yang mempunyai kisaran NA = 0,2 - 1,0. Meningkatnya pembesaran objektif maka
makin besar pula harga NAnya.

Untuk illuminasi ortoskop digunakan NA yang rendah

Untuk illuminator konoskop dipakai NA yang berharga tinggi

1.2 Jalur Warna Isokromatik


Gambar interferensi tampak berupa bagian atau daerah gelap atau berwarna
hitam yang tampak dalam pengamatan konoskop yang berpotongan dengan garis-garis
warna yang bervariasi membentuk suatu lingkaran yang merupakan cincin isokromatik.
Jalur-jalur warna tersebut hadir akibat kesamaan fasa atau panjang gelombang tertentu,
dengan demikian isokromatik adalah garis-garis yang menghubungkan warna yang
sama akibat panjang gelombang yang sama dan fase yang sama pula atau kadang juga
disebut dengan isofa. Pada zona tertentu akan tampak warna gelap atau hitam yang
disebabkan oleh interferensi gelombang yang saling melemahkan akan tampak berupa
gambar interferensi yang lebih dikenal dengan isogir.
Pada perpotongan isogir yang tampak secara jelas jika disayat tegak lurus
sumbu-C, maka pada perpotongan tersebut disebut juga dengan melatop.melatop
tersebut terjadi sebagai akibat dari retardasi pada perpotongan kedua isogir yang berarah
U - S dan T - B. Isogir merupakan hasil polarisasi gelombang sinar datang yang sejajar
dengan polarisator dan analisator.

1.3 Cara Pengamatan


Dalam pengamatan dapat dipisahkan jenis sayatan mineral yang akan ditentukan
tanda optiknya, dimana masing-masing jenis sayatan membutuhkan cara pengamatan
dan penentuan tertentu.
1.3.1 Sayatan Mineral Tegak Lurus Sumbu-C atau Sumbu Optik
Pada penentuan tanda optik ini juga digunakan komparator berupa:
a. Komparator gipsum,
b. Komparator mika, dan
c. Komparator baji kuarsa.
Penentuan tanda optik :
1.3.2 Sayatan Mineral Sedikit Miring Terhadap Sumbu-C atau Sumbu Optik
Pada penentuan tanda optik dengan jenis sayatan ini, maka cukup dilakukan
dengan bantuan komperator gipsum karena sifatnya yang sangat mudah menetukan
posisi sumbu-sumbu indikatriks yang akan ditentukan tanda optik. Berdasarkan
kenapkan yang jelas pada sayatan yang tegak lurus sumbu optik maupun sumbu - C
adalah sebagai berikut:
a. Jika pada posisi
Kuadran I dan II Addisi (+)
Kuadran I dan II Substraksi (+)
b. Jika pada posisi
Kuadran I dan III Substraksi (-)
Kuadran II dan IV Addisi (-)
1.3.3 Mineral yang disayat Miring Kuat Terhadap Sumbu-C dan Sumbu Optik
Pada jenis sayatan akan tampak hanya satu buah tangan isogir saja, oleh sebab
itu dalam penentuan tanda optiknya sangat perlu untuk memperhatikan kedudukan

kuadrannya. Dalam penentuan tanda optik terhadap jenis sayatan tersebut dipergunakan
bantuan komparator gipsum sesuai dengan sifatnya yang sangat mudah untuk mengenali
apakah addisi ataukah substraksi.
1.3.4 Mineral yang Disayat Sejajar Sumbu Optik atau Sumbu-C
Pada jenis sayatan isogir akan tampak besar sekali yang hampir memenuhi
seluruh ruangan pengamatan, tetapi dengan sedikit saja memutar meja sayatan maka
isogir tersebut akan menghilang dengan cepat sekali. Berdasarkan kenampkan maka
isogirnya disebut juga dengan "Flash Figure". Penentuan tanda optik mineral uniaxial
yang disayat sejajar sumbu-C yang menghasilkan gambar interferensi "Flash Figure"
adalah sebagai berikut:
A. Kenampakan isogir "Flash Figure" tampak jelas.
1. Dengan pemutaran secara perlahan ke arah kiri isogir yang besar tersebut akan
menghilang secara cepat dan akhirnya akan mulai muncul kembali mendekati posisi
pemutaran sebesar 45.
2. Putar sedikit dengan kedudukan pemutaran 45, maka bayangan dari isogir tersebut
akan tampak stabil maka berdasarkan kedudukan bayangan yang stabil tersebut dapat
diketahui kedudukan a-b-c atau ab-optiknya. Kedudukan sumbu-C atau sumbu optik
searah dengan arah menghilangnya isogir atau tegak lurus dengan arah munculnya
bayangan yang stabil tersebut.
B. Kedudukan komparator gipum sebelum dimasukkan ke dalam mikroskop terhadap
posisi kedudukan sumbu optik/sumbu - c.
1. Tanda optik uniaxial positif = I (+),
2. Tanda optik uniaxial negatif = I (-).
Khusus untuk penggunaan komparator gipsum, maka ada beberapa hal yang
harus diperhatikan sebagai berikut :

Hadirnya warna biru setelah memasukkan komperator akan memberikan indikasi


addisi.
Jika yang hadir warna kuning atau kemerahan setelah memasukkan komperator, maka
akan memberikan indikasi substraksi.
2. Penentuan Tanda Optik Mineral Biaxial
2.1 Jalur Warna Isokromatik
Gambar interferensi mineral biaxial merupakan suatu isokrom dengan
kedudukan yang stabil sebagai hasil dari retardasi gelombang cahaya dengan perpaduan
isogir terhadap arah-arah tertentu dari arah getar analisator - polarisator. Untuk dapat
mendeteksi pembentukan isokrom, maka dapat diamati pada suatu jenis sayatan Bxa
atau "bisectrix acute" yang akan membentuk suatu sinar yang konvergen dari illuminasi
konoskopik dengan tanda optik II (+). Sinar yang masuk akan terurai menjadi dua yang
mengikuti arah-arah sumbu optik melalui bidang - XZ, dan membentuk suatu sudut
yang dikenal dengan sudut 2V.
Sumbu-sumbu optik dalam bidang - XZ akan memperlihatkan bias rangkap yang
cukup besar dengan harga mengikuti sepanjang sumbu - Z. Dari melatop menuju pusat
bidang, akan menyebabkan biasrangkap menjadi meningkat yang berbanding terbalik
dengan ketebalan sayatan. Demikian pula pada arah lain dari melatop, retardasi akan
meningkat. Jadi dengan meningkatnya retardasi akan menyebabkan pula meningkatnya
biasrangkap kesemua arah dari melatop, tetapi percepatannya menjadi lebih lambat
menuju pusat bidang yang menyebabkan isokrom berbentuk bulat telur.
Lensa kondensor berfungsi menyatukan sinar menjadi konsentris ke suatu arah
tertentu pada suatu mineral atau kristal dan menyebar menuju ke lensa objektif. Secara
sederhana isogir mineral biaxial dibentuk berupa citra yang mewakili arah-arah
indikatriks dan terpusat pada suatu bayangan hitam/gelap berupa isogir yang mewakili

arah-arah getar dari sinar yang menyebar tadi. Isogir mineral-mineral biaxial ini sangat
berlainan dengan isogir mineral-mineral uniaxial baik kenampakan secara optis maupun
pembentukannya, yang mana hal ini disebabkan oleh perbedaan dalam sistem optisnya.
2.2 Cara Menetukan Tanda Optik Mineral Biaxial
2.2.1 Teknis Pengamatan
Di dalam pengamatan tanda optik untuk mineral-mineral biacial juga tergantung
atas jenis sayatan mineral tersebut. Berdasarkan jenis sayatannya, maka dapat dibagi
atas:
a. Jenis sayatan yang tegak lurus sumbu-Z atau sumbu-X, yamg dikenal juga dengan
sayatan Bxa dan Bxo, dalam hal ini saytan memotong kedua sumbu optik.
b. Jenis sayatan yang miring terhadap sumbu-Z dan sumbu-X atau sayatn mineralnya
tegak lurus salah satu sumbu optiknya.
c. Sayatan sembaramg tanpa menunjukkan pola tertentu.
d. Sayatan yang sejajar salah satu sumbu optiknya yang akan memperlihatkan bentuk
isogir berupa "Flash Figure" atau isogir yang dengan sedikit pemutaran akan
menghilangkan dengan cepat sekali. Jenis sayatan lain yang dapat menghasilkan
isogir "Flash Figure" selain sejajar sumbu optik adalah sayatan yang tegak lurus
sumbu-Y atau sejajar dengan sumbu X-Z.
2.3 Penentuan Sudut 2V
Sebagai akibat adanya sinar-sinar yang divergen yang dibiaskan melalui kristal
atau mineral. Pengamatan sudut antara sinar-sinar yang melalui sumbu-sumbu optik
pada hakekatnya adalah lebih besar dari pada sudut 2Vnya sendiri, dimana sudut yang
lebih besar ini dikenal sengan sudut 2E (2E > 2V).

2.3.1 Metode Mallard's


Pemisahan melatop tergantung atas ketebalan mineral atau kristal dan
maksimum pemisahan isogir pada posisi 45 yang juga merupakan fungsi besaran sudut
2V dan 2E, serta unsur-unsur optik dari mikroskop tersebut. Suatu faris linier yang
berupa pola grid yang berskala dalam satuan mikrometer dalam lensa okuler dapat
digunakan untuk mengukur D.
2.3.2 Metode Michel - Levy
Pada rotasi sekitar 90 menyebabkan isogir biaxial akan bergerak pada titik
pemisahan maksimum dalam posisi kuadran yang berlawanan. Untuk harga 2V yang
lebih besar pula sibanding dengan kecepatan isogir sudut 2V yang kecil.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini sayatan tipis mineral yang akan diamati adalah :
Sampel 1
Mineral yang diamati dengan pembesaran objektif 5x dan pembesaran okuler 10x.
Pembesaran total adalah 50, diperoleh dari nilai pembesaran objektif dikali nilai
pembesaran okuler. Bilangan skala diperoleh dari 1/pembesaran total, dengan nilai
0,02. Mineral ini mempunyai kedudukan pada sumbu absis yaitu 53,1 dan sumbu
ordinat 19,3 (53,1;19,3). Warna absorpsi yang terlihat adalah transparan, tidak
mempunyai pleokrisme dikarenakan tidak ada perubahan dua warna atau lebih,
intensitas kuat dilihat dari kuat tidaknya cahaya pada pengamatan di mikroskop.
Bentuk mineral subhedral-anhedral dilihat dari kenampakan bidang batasnya yang
jelas, indeks bias nmin > ncb, dibuktikan dengan metode iluminasi miring dimana
bayangan gelap nampak pada posisi yang searah dengan arah penutupan jalannya
sinar, belahannya satu arah terlihat saat diamati hanya ada satu belahan secara
horizontal, relief sedang dikarenakan terlihat bidang batas

antar mineral jelas,

pecahannya rata, tidak mempunyai inklusi, mineral berukuran 0,3 mm diperoleh dari
15 dikali bilangan skala 0,02. Mineral ini mempunyai sudut gelapan 55 yang
menandakan jenis gelapannya adalah miring. Kembarannya tidak ada, tanda rentang
optiknya adalah adisi length fast dikarenakan terjadi penambahan warna dengan
cepat saat pengamatan TRO. Mineral ini terbentuk dari hasil kristalisasi magma pada
suhu 1200C menurut Seri Reaksi Bowen, biasa dikenal dengan nama mineral
Olivin.

Sampel 2
Mineral yang diamati dengan pembesaran objektif 5x dan pembesaran okuler 10x.
Pembesaran total adalah 50, diperoleh dari nilai pembesaran objektif dikali nilai
pembesaran okuler. Bilangan skala diperoleh dari 1/pembesaran total, dengan nilai
0,02. Mineral ini mempunyai kedudukan pada sumbu absis yaitu 53 dan sumbu
ordinat 17,7 (53;17,7). Warna absorpsi yang terlihat adalah transparan, tidak
mempunyai pleokrisme dikarenakan tidak ada perubahan dua warna atau lebih,
intensitas kuat dilihat dari kuat tidaknya cahaya pada pengamatan di mikroskop.
Bentuk mineral subhedral-anhedral dilihat dari kenampakan bidang batasnya yang
jelas, indeks bias nmin > ncb, dibuktikan dengan metode iluminasi miring dimana
bayangan gelap nampak pada posisi yang searah dengan arah penutupan jalannya
sinar, tidak mempunyai belahan terlihat saat diamati tidak terdapat belahan, relief
rendah dikarenakan terlihat bidang batas antar mineral kurang jelas, pecahannya
tidak ada, tidak mempunyai inklusi, mineral berukuran 0,08 mm diperoleh dari 4
dikali bilangan skala 0,02. Mineral ini mempunyai sudut gelapan 15 yang
menandakan jenis gelapannya adalah miring. Kembarannya tidak ada, tanda rentang
optiknya adalah adisi length fast dikarenakan terjadi penambahan warna dengan
cepat saat pengamatan TRO. Mineral ini terbentuk dari hasil pembekuan magma
asam pada suhu sekitar 400C-200C, dikenal dengan nama mineral Kuarsa.
Sampel 3
Mineral yang diamati dengan pembesaran objektif 5x dan pembesaran okuler 10x.
Pembesaran total adalah 50, diperoleh dari nilai pembesaran objektif dikali nilai
pembesaran okuler. Bilangan skala diperoleh dari 1/pembesaran total, dengan nilai
0,02. Mineral ini mempunyai kedudukan pada sumbu absis yaitu 51,9 dan sumbu
ordinat 19,1 (51,9;19,1). Warna absorpsi yang terlihat adalah hijau kekuningan,

pleokrisme dwikroik dikarenakan ada perubahan dua warna, intensitas sedang dilihat
dari kuat tidaknya cahaya pada pengamatan di mikroskop. Bentuk mineral euhedralsubhedral dilihat dari kenampakan bidang batasnya yang jelas, indeks bias nmin > ncb,
dibuktikan dengan metode iluminasi miring dimana bayangan gelap nampak pada
posisi yang searah dengan arah penutupan jalannya sinar, belahannya dua arah
terlihat saat diamati ada dua belahan secara horizontal, relief tinggi dikarenakan
terlihat bidang batas antar mineral jelas, pecahannya rata, tidak mempunyai inklusi,
mineral berukuran 0,66 mm diperoleh dari 33 dikali bilangan skala 0,02. Mineral ini
mempunyai sudut gelapan 28 yang menandakan jenis gelapannya adalah miring.
Kembarannya tidak ada, tanda rentang optiknya adalah adisi length fast dikarenakan
terjadi penambahan warna dengan cepat saat pengamatan TRO. Mineral ini terbentuk
dari hasil pembekuan magma asam pada suhu sekitar 800C pada Seri Reaksi
Bowen, dikenal dengan nama mineral Hornblende.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Sifat-sifat optik yang dapat diamati dengan pengamatan nikol sejajar pada mineral
pertama adalah warna adsorpsi transparan, tidak mempunyai pleokrisme, intensitas
kuat, bentuk mineral subhedral-anhedral, indeks bias nmin > ncb, belahannya satu arah,
relief sedang, tidak mempunyai inklusi, mineral berukuran 0,3 mm, sedangkan sifatsifat optik yang dapat diamati dengan pengamatan nikol silang adalah mempunyai sudut
gelapan 55 , jenis gelapannya miring, tidak mempunyai kembaran, dan pada
pengamatan konoskop sifat optik yang dapat diamati adalah tanda rentang optiknya
adisi length fast. Pada pengamatan nikol sejajar mineral kedua sifat optiknya adalah
warna absorpsi transparan, tidak mempunyai pleokrisme, intensitas kuat, bentuk mineral
euhedral-subhedral, indeks bias nmin > ncb, tidak mempunyai belahan, relief rendah,
pecahannya tidak ada, tidak mempunyai inklusi, mineral berukuran 0,08 mm.
Sedangkan sifat optik yang diamati pada nikol silang adalah sudut gelapan 15, jenis
gelapannya miring, tidak mempunyai kembaran, dan pada pengamatan konoskop tanda
rentang optiknya adalah adisi length fast. Pada pengamatan nikol sejajar mineral ketiga
sifat optiknya adalah warna absorpsi kuning kehijauan, mempunyai pleokrisme
dwikroik, intensitas sedang, bentuk mineral euhedral-subhedral, indeks bias nmin > ncb,
belahan 2 arah, relief tinggi, pecahannya rata, tidak mempunyai inklusi, mineral
berukuran 0,66 mm. Sedangkan sifat optik yang diamati pada nikol silang adalah sudut
gelapan 28, jenis gelapannya miring, tidak mempunyai kembaran, dan pada
pengamatan konoskop tanda rentang optiknya adalah adisi length fast.

2. Pengamatan pada ortoskop nikol sejajar tidak menggunakan analisator, pada


ortoskop nikol silang menggunakan polarisator, dan ortoskop konoskop menggunakan
lensa amici Betrand.
3. Sifat khas dari mineral olivin adalah warnanya kehijauan, sifat khas pada mineral
kuarsa adalah berwarna abu-abu dan tidak mempunyai belahan ataupun pecahan,
sedangkan sifat khas dari mineral hornblende adalah sudut belahannya lancip.
4.2 Saran
Kurangnya mikroskop polarisasi yang ada dan keadaan mikroskop yang tidak
memungkinkan untuk mengamati sifat optik pada pengamatan konoskop membuat
praktikan kebingungan untuk menentukan gambar interferensi suatu mineral.

DAFTAR PUSTAKA
Irfan, Ulva Ria. 2014. Mineral Optik. Makassar : Laboratorium Mineral Optik Teknik
Geologi Universitas Hasanuddin.
Kerr, Paul F. 1977. Optical Mineralogy Third Edition. London : McGraw-Hill.
M.S, Kaharuddin.1988. Penuntun Praktikum Petrologi. Makassar : HMG FT-UH.
M, Soekardi.1985.Penuntun Praktikum Petrografi.Lab Petrografi UGM : Yogyakarta.
Simon & Schuster. 1977. Rocks and Mineral . New York.
Sutarto, Dwi Fitri Yudiantoro.2005.Album Mineralogi Optik, Mineral Pembentuk
Batuan.Laboratorium Petrologi dan Bahan Galian UPN : Yogyakarta.
Tim

Asisten

Laboratorium

Petrografi.2014.Penuntun

Petrografi Universitas Hasanuddin : Makassar.

Petrografi.Laboratorium

PRAKTIKUM PETROGRAFI
Acara

: Pengenalan Mineral

Nama : Aprila Fitriani Parma

Hari/Tgl

: Rabu/10 September 2014

NIM : D61112259

No Urut

:1

No Peraga

: BB 07

Pembesaran objektif : 5x
Pembesaran okuler

: 10x

Pembesaran total

: 50x

Bilangan skala

: 0,02

Kedudukan

: (x,y) (53,1;19,3)

Warna Absorbsi

: Transparan

Pleokrisme

:-

Intensitas

: Kuat

Bentuk

: Euhedral - Subhedral

Indeks bias

Belahan

: 1 Arah

Relief

: Sedang

Pecahan

: Rata

Inklusi

:-

Bentuk

:-

Ukuran

:-

Ukuran Mineral

: 15 x 0,02 = 0,3 mm

WI Maksimum

: Hijau kecoklatan

Bias rangkap (orde)

: Orde I Atas (0,011), Sedang

Sudut Gelapan

: 55

Jenis Gelapan

: Gelapan Miring

Kembaran

:-

T.R.O

: Adisi length-fast

Nama Mineral

: Olivin

Nikol Sejajar

Nikol Silang

T.R.O

PRAKTIKUM PETROGRAFI
Acara

: Pengenalan Mineral

Nama : Aprila Fitriani Parma

Hari/Tgl

: Rabu/10 September 2014

NIM : D61112259

No Urut

:2

No Peraga

: BS 02

Pembesaran objektif : 5x
Pembesaran okuler

: 10x

Pembesaran total

: 50x

Bilangan skala

: 0,02

Kedudukan

: (x,y) (53;17,7)

Warna Absorbsi

: Transparan

Pleokrisme

:-

Intensitas

: Kuat

Bentuk

: Anhedral-Subhedral

Indeks bias

Belahan

:-

Relief

: Rendah

Pecahan

:-

Inklusi

:-

Bentuk

:-

Ukuran

:-

Nikol Sejajar

(Searah)

Ukuran Mineral

: 4 x 0,02 = 0,08 mm

WI Maksimum

: Abu-abu

Bias rangkap (orde)

: Orde I Tengah (0,002), Lemah

Sudut Gelapan

: 15

Jenis Gelapan

: Gelapan Bergelombang

Kembaran

:-

T.R.O

: Adisi length-fast

Nama Mineral

: Kuarsa

Nikol Silang

T.R.O

PRAKTIKUM PETROGRAFI
Acara

: Pengenalan Mineral

Nama : Aprila Fitriani Parma

Hari/Tgl

: Rabu/10 September 2014

NIM : D61112259

No Urut

:3

No Peraga

: BB 20

Pembesaran objektif : 5x
Pembesaran okuler

: 10x

Pembesaran total

: 50x

Bilangan skala

: 0,02

Kedudukan

: (x,y) (51,9;19,1)

Warna Absorbsi

: Kuning kehijauan

Pleokrisme

: Dwikroik

Intensitas

: Sedang

Bentuk

: Euhedral - Subhedral

Indeks bias

Belahan

: 2 Arah

Relief

: Tinggi

Pecahan

: Rata

Inklusi

:-

Bentuk

:-

Ukuran

:-

Ukuran Mineral

: 33 x 0,02 = 0,66 mm

WI Maksimum

: Coklat

Bias rangkap (orde)

: Orde I Atas (0,011), Sedang

Sudut Gelapan

: 28

Jenis Gelapan

: Gelapan Miring

Kembaran

:-

T.R.O

: Adisi length-fast

Nama Mineral

: Hornblende

Nikol Sejajar

Nikol Silang

T.R.O