Anda di halaman 1dari 15

SIKLUS PADA LOGAM TEMBAGA

1.1 TUJUAN
-

Mempelajari perubahan kimia yang terjadi pada siklus logam Cu

Mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi laju reaksi

1.2 LANDASAN TEORI


1.2.1 Reaksi Kimia
Reaksi kimia adalah perubahan kimia yang terjadi pada materi atau zat. Dalam
reaksi kimia, selalu terjadi perubahan yang menghasilkan zat baru, yang sifat-sifatnya
berbeda dari zat sebelumnya. Kita mengenal terjadinya suatu reaksi kimia dari
perubahan yang diakibatkan oleh reaksi tersebut. Dalam suatu reaksi kimia sering
diikuti perubahan-perubahan, misalnya dari terbentuknya endapan, terjadi perubahan
warna, terbentuknya gas dan adanya perubahan suhu.
a.

Reaksi Kimia Menimbulkan Perubahan Warna


Sebagai contoh kita mengamati warna larutan Cu(NO3)2 berwarna biru
terang akan berubah jika direaksikan dengan larutan NaOH warna bening, yang
menghasilkan larutan Cu(OH)2 berwarna biru muda. Perubahan warna merupakan
salah satu ciri yang dapat dilihat dimana membuktikan bahwa suatu zat telah
bereaksi.

b.

Reaksi Kimia Menyebabkan Terbentuknya Gas


Logam Cu yang direaksikan dengan larutan HNO3 menghasilkan gas NO.
Selain itu, munculnya uap yang menempel pada dinding gelas beker. Hal ini
dapat membuktikan bahwa peristiwa reaksi kimia dapat menghasilkan gas.

c.

Reaksi Kimia Menimbulkan Perubahan Suhu


Reaksi eksoterm adalah reaksi yang menghasilkan energi. Energi yang
dihasilkan dapat berupa panas atau kalor. Reaksi kimia yang memerlukan energi
dinamakan reaksi endoterm. Kalor adalah energi yang berpindah dari suatu sistem
ke lingkungan atau sebaliknya karena perbedaan suhu, yaitu dari suhu lebih tinggi
ke suhu yang lebih rendah. Reaksi eksoterm dan endoterm dapat dikenali dari

perubahan suatu sistem yang mengalami perubahan suhu di sekitar lingkungan


menjadi panas, dingin dan mengembun.
d.

Reaksi Kimia Menyebabkan Terjadinya Endapan


Endapan adalah zat yang memisahkan diri sebagai fase padat dari larutan.
Endapan dapat berupa kristal (kristalin) atau koloid dan dapat dikeluarkan dari
larutan dengan penyaringan atau sentrifugasi. Endapan terbentuk jika larutan
menjadi terlalu jenuh dengan zat terlarut. Kelarutan suatu endapan sama dengan
konsentrasi molar dari larutan jenuhnya. Kelarutan endapan bertambah besar
dengan kenaikan suhu,meskipun dalam beberapa hal khusus terjadi sebaliknya.
Laju kenaikan kelarutan dengan suhu berbeda-beda. Pada beberapa hal,
perubahan kelarutan dengan berubahnya suhu dapat menjadi alasan pemisahan.
Contohnya larutan Cu(NO3)2 dan larutan NaOH direaksikan, terbentuklah
endapan berwarna hitam pekat.

e.

Reaksi Kimia Menimbulkan Bau


Sebagai contoh dari reaksi logam Cu dengan larutan HNO3. Pada umumnya
logam Cu serta larutan HNO3 tidak menimbulkan bau, bau itu hanya berlangsung
pada saat reaksi berlangsung. Hal ini membuktikan bahwa timbulnya bau
membuktikan bahwa larutan dan logam tersebut telah bereaksi.

1.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi


Pengalaman menunjukan bahwa serpihan kayu terbakar lebih cepat daripada
balok kayu, hal ini berarti bahwa laju reaksi yag sama dapat berlangsung dengan
kelajuan yang berbeda, bergantung pada keadaan zat pereaksi. Dalam bagian ini akan
dibahas faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Pengetahuan tentang hal ini
memungkinkan kita dapat mengendalikan laju reaksi, yaitu melambatkan reaksi yang
merugikan dan menambah laju reaksi yang menguntungkan.
a.

Konsentrasi Pereaksi
Konsentrasi memiliki peranan yang sangat penting dalam laju reaksi, sebab
semakin besar konsentrasi pereaksi, maka tumbukan yang terjadi semakin banyak,
sehingga menyebabkan laju reaksi semakin cepat. Begitu juga, apabila semakin

kecil konsentrasi pereaksi, maka semakin kecil tumbukan yang terjadi antar
partikel, sehingga laju reaksi pun semakin kecil.
b.

Suhu
Suhu juga turut berperan dalam mempengaruhi laju reaksi. Apabila suhu
pada suatu rekasi yang berlangusng dinaikkan, maka menyebabkan partikel
semakin aktif bergerak, sehingga tumbukan yang terjadi semakin sering,
menyebabkan laju reaksi semakin besar. Sebaliknya, apabila suhu diturunkan,
maka partikel semakin tak aktif, sehingga laju reaksi semakin kecil.

c.

Tekanan
Banyak reaksi yang melibatkan pereaksi dalam wujud gas. Kelajuan dari
pereaksi seperti itu juga dipengaruhi tekanan. Penambahan tekanan dengan
memperkecil volume akan memperbesar konsentrasi, dengan demikian dapat
memperbesar laju reaksi.

d.

Katalis
Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi kimia pada suhu
tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri. Suatu
katalis berperan dalam reaksi tapi bukan sebagai pereaksi ataupun produk. Katalis
memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat atau memungkinkan reaksi pada
suhu lebih rendah akibat perubahan yang dipicunya terhadap pereaksi. Katalis
menyediakan suatu jalur pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis
mengurangi energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi.

e.

Luas Permukaan
Luas permukaan memiliki peranan yang sangat penting dalam laju reaksi,
sebab semakin besar luas permukaan bidang antar partikel, maka tumbukan yang
terjadi semakin banyak, sehingga menyebabkan laju reaksi semakin cepat. Begitu
juga, apabila semakin kecil luas permukaan bidang sentuh, maka semakin kecil
tumbukan yang terjadi antar partikel, sehingga laju reaksi pun semakin kecil.
Karakteristik kepingan yang direaksikan juga turut berpengaruh, yaitu semakin
halus kepingan itu, maka semakin cepat waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi;
sedangkan semakin kasar kepingan itu, maka semakin lama waktu yang
dibutuhkan untuk bereaksi.

1.2.3 Stoikiometri
Stoikiometri adalah perhitungan kimia yang menyangkut hubungan kuantitatif zat
yang terlibat dalam reaksi kimia. Pada persamaan reaksi kimia berlaku Hukum
Kekekalan Massa, yang dikemukakan oleh Lavoiser. Pada tahun 1774 ia melakukan
penelitian dengan memanaskan timah dengan oksigen dalam wadah tertutup. Dengan
mengamati secara teliti, ia berhasil membuktikan bahwa dalam reaksi itu tidak terjadi
perubahan massa. Hukum Kekelan Massa itu menyatakan bahwa : setiap reaksi kimia,
massa zat zat setelah bereaksi adalah sama dengan zat sebelum bereaksi. Zat-zat
yang bereaksi dengan zat-zat hasil reaksi dihitung berdasarkan partikel-partikel zat
tersebut. Untuk itu, dalam mereaksikan zat, penghitungannya harus menggunakan
konsep mol dengan skema sebagai berikut:
V tidak STP

Massa (gr)
Jumlah partikel

Mol
22.4

V (STP)

Keterangan diagram :
T

= Suhu (K)

= Tekanan Gas (atm)

= Tetapan gas = 0,082 L atm mol-1 K-1

= Tetapan Avogadro = 6,02 x 1023

a.

Hubungan Mol dengan Massa Zat


-

Untuk unsur (Atom)


mol

Untuk senyawa (Molekul)


mol

b.

c.

Hubungan Mol dengan Volume Zat dalam keadaan STP

Mol gas x

Volume gas x (STP) = Mol gas X . 22,4

Hubungan Mol dengan Volum Zat

Mol gas X = Volume gas X


RT/P

d.

Volume gas X = Mol gas . RT/P

Hubungan Mol dengan Jumlah Partikel

Mol zat

Jumlah Partikel
L
Jumlah partikel = mol x L
Pada prinsipnya, mol merupakan penyederhanaan dari dari jumlah partikel
sehingga perbandingan mol setara dengan perbandingan jumlah pertikel
yang juga setara dengan perbandingan koefisien. Jadi simpulannya sebagai
berikut: Perbandingan koefisien setara dengan perbandingan mol.
mol zat x

mol zat y

1.3 ALAT & BAHAN


Alat :

Bahan :

Gelas Ukur

Logam Cu

Gelas Beker

Larutan HNO3

Batang Pengaduk

Larutan NaOH

Botol Semprot

Air Suling

Kaca Arloji

Larutan H2SO4

Pipit Tetes

Serbuk Fe

Penjepit

Steambath / alat pemanas

1.4 CARA KERJA


-

Langkah I ( Reaksi antara logam Cu dengan Asam Nitrat (HNO3) )


Timbang logam Cu dengan teliti sebanyak 0.2 gram. Kemudian potong kecil kecil
logam Cu, lalu masukan ke dalam gelas kimia 250 ml. Tuang larutan HNO3 sebanyak 2
ml dengan hati hati ke dalam gelas kimia yang berisi logam Cu. Lalu tutup gelas kimia
dengan kaca arloji, hingga logam Cu habis bereaksi. Kemudian hasil reaksi disimpan
untuk pengerjaan reaksi berikutnya.

Langkah II ( Penambahan Larutan NaOH )


Hasil reaksi dalam gelas kimia pada langkah pertama dimasukan larutan NaOH 1 M
dengan volume 6 ml, tuang larutan dengan hati hati sambil diaduk.

Langkah III ( Pemanansan )


Tambahkan air suling sebanyak 50 ml ke dalam gelas kimia hasil reaksi langkah
kedua. Kemudian panaskan larutan beserta gelas kimia. Dimana, selama dipanaskan
diaduk secara perlahan. Setelah larutan berubah menjadi warna hitam, angkat larutan dan
dinginkan. Cuci batang pengaduk dengan disemprotkan aquades untuk melepas partikel
yang melekat. Setelah dingin, ambil larutan untuk di dekantasi. Padatan yang tersisa
kemudian ditambah dengan 100 ml air suling, biarkan zat padat kembali mengendap,
kemudian di dekantasi lagi. Ulangi proses pencucian dengan menggunakan air suling,
hasilnya disimpan untuk pengerjaan berikutnya.

Langkah IV ( Penambahan Larutan H2SO4 )


Dengan hati hati tambahkan larutan H2SO4 2 M sebanyak 1,5 ml ke dalam gelas
kimia, aduk sampai tidak terlihat perubahan yang dapat diamati lagi. Kemudian simpan
larutan untuk langkah berikutnya.

Langkah V ( Penambahan Logam Fe )


Ambil serbuk Fe sebanyak 0.2 gram, kemudian masukan ke dalam gelas kimia pada
langkah sebelumnya, lalu tutup gelas kimia dengan kaca arloji. biarkan reaksi kimia

berlangsung hingga Fe habis bereaksi, ini bisa dilihat dari tidak timbulnya gas. Kemudian
simpan untuk percobaan berikutnya.

Langkah VI ( Mendapatkan Cu kembali ( Recovery Cu )


Pada langkah ini saya tidak dapat melakukannya, dikarenakan larutan yang kami
buat tidak dapat bereaksi sempurna, kemungkinan ini diakibatkan karena penambahan
serbuk Fe yang berlebih. Jadi pada langkah ini saya mengalami kegagalan.

1.5 DATA PENGAMATAN


Langkah I Reaksi antara logam Cu dengan Asam Nitrat (HNO3)
No
1
2
3
4
5
Reaksi

Identivikasi
Wujud
Warna
Bentuk
Massa
Volume

Logam Cu
Padat
Coklat Kemerahan
Lempengan
0.2 gram
-

Larutan HNO3
Cair
Bening
Larutan
2 ml

: 3Cu + 8HNO3 3Cu(NO3)2 + 2NO + 4H2O

Hasil Pengamatan :

Adanya bau

Terjadi perubahan warna menjadi biru

Timbulnya gelembung dan gas

Adanya gelembung gas NO berwarna kuning kecoklatan

Langkah II Penambahan larutan NaOH


No
1
2
3
4
5
Reaksi

Identivikasi
Wujud
Warna
Bentuk
Volume
Kemolaran

larutan NaOH
Cair
Bening
Larutan
6 ml
1M

: Cu(NO3)2 + 2NaOH Cu(OH)2 + 2NaNO3

Hasil Pengamatan :

Terjadinya perubahan warna menjadi biru muda

Adanya endapan

Langkah III Pemanasan


No
1
2
3
4
5
6

Cu(OH)2 dipanaskan CuO + H2O


Warna larutan sebelum dipanaskan
Gas dan Gelembung
Endapan
Bau
Suhu
Warna Endapan

Pengamatan
Biru muda bening
Ada
Ada
Tidak
Meningkat
Hitam

Langkah IV Penambahan larutan H2SO4


No
1
2
3
4
5
Reaksi

Identivikasi
Wujud
Warna
Bentuk
Volume
Kemolaran

larutan H2SO4
Cair
Bening
Larutan
1.5 ml
2M

: CuO + H2SO4 CuSO4 + H2O

Hasil Pengamatan :

Adanya perubahan warna menjadi biru bening

Endapan menghilang

Zat habis bereaksi namun potongan logam Cu tidak habis bereaksi

Langkah V Penambahan logam Fe


No
1
2
3
4
Reaksi

Identivikasi
Wujud
Warna
Bentuk
Massa

Logam Fe
Padatan
Abu - abu
Serbuk
0.2 gram

: CuSO4 + Fe Cu + FeSO4

Hasil Pengamatan :

Terjadi perubahan warna menjadi hijau

Zat yang bereaksi mengendap

Adanya endapan berwarna coklat kemerahan

Langkah VI Mendapatkan Cu kembali (Recovery Cu)


Pada langkah ini saya tidak bisa mendapatkan Cu kembali, dikarenakan logam Fe
masih menyatu dengan logam Cu, hal ini mungkin disebabkan karena terlalu banyak
penambahan Fe. Sehingga hasil dari langkah kelima tidak bisa di dekantasi, oleh karena itu
percobaan saya tidak dapat dilanjutkan ke langkah selanjutnya.

1.6 PEMBAHASAN
Langkah I Reaksi antara logam Cu dengan Asam Nitrat (HNO3)
Pada langkah ini digunakan logam tembaga yang merupakan periode ke4 dengan
golongan 1B. Logam tembaga yag digunakan sebanyak 0.2 gram berbentuk lempengan
berwarna coklat kemerahan, dilarutkan dengan larutan HNO3. Dimana larutan HNO3 yang
digunakan sebanyak 2 ml dengan konsentrasi 4 M. adapun cara mencari larutan HNO3 yang
digunakan adalah dengan menggunakan rumus seperti di bawah ini:
3 Cu + 8HNO3 3Cu(NO3)2 + 2NO + 4H2O
Mol Cu =

= 3.10-3 mol

Mol HNO3 =

3.10-3 = 8.10-3

V . M = mol
V.4

= 8.10-3

= 2.10-3 liter

= 2 ml

Adapun perubahan kimia yang terjadi yaitu berubahnya warna larutan menjadi biru,
dimana yang awalnya lempengan Cu berwarna coklat kemerahan dan larutan HNO3
berwarna bening, dan terdapatnya gelembung gas NO berwarna kuning kecoklatan. Ini
membuktikan bahwa logam Cu sudah bereaksi dengan larutan HNO3.

Langkah II Penambahan larutan NaOH


Natrium hidroksida juga dikenal sebagai sodium hidroksida, larutan ini merupakan
sejenis basa logam kaustik. Natrium hidroksida terbentuk dari oksida basa Natrium Oksida
dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika

dilarutkan ke dalam air. Dimana pada langkah ini digunakan larutan natrium hidroksida
berupa larutan bening sebanyak 6 ml dengan konsentrasi 1 M. Adapun cara mencari volume
natrium hidroksida yang digunakan adalah:
Cu(NO3)2 + 2NaOH Cu(OH)2 + 2NaNO3
3.10-3

6.10-3

V . M = mol
V.1

= 6.10-3

= 6.10-3 liter

= 6 ml

Ditambahkannya larutan natrium hidroksida pada langkah kedua ini mengakibatkan


perubahan warna menjadi biru muda dan terbentuknya endapan. Dan pada akhir langkah ini
logam Cu sebagai senyawa larutan tembaga (II) hidroksida (Cu(OH)2).

Langkah III Pemanasan


Sebelum melakukan pemanasan, larutan Cu(OH)2 ditambah dengan air suling sebanyak
50 ml, setelah itu larutan tersebut ditaruh di atas alat pemanas. Pada saat dipanaskan, aduk
larutan dengan perlahan. Perubahan yang terjadi meliputi dari warna larutan menjadi hitam
dan terbentuknya endapan berwarna hitam. Suhu pada larutan meningkat, ini dibuktikan
dengan terdapatnya gelembung pada saat dipanaskan.
Setelah selesai dipanaskan biarkan gelas kimia beserta isinya dingin, tunggu hingga
larutan dan endapannya terpisah. Setelah larutan terpisah dari endapannya kemudian di
dekantasi, ulangai proses pencucian dengan air suling. Dari hasil pemanasan tersebut, reaksi
yang dialami oleh logam tembaga adalah Cu(OH)2 dipanaskan CuO + H2O.

Langkah IV Penambahan larutan H2SO4


Pada langkah ini dilakukan penambahan asam sulfat, dimana asam sulfat yang
digunakan pada langkah ini berbentuk cairan bening sebanyak 1.5 ml dengan konsentrasi 2
M. adapun cara menghitung larutan asam sulfat yang digunakan dengan menggunakan
rumus:
CuO + H2SO4 CuSO4 + H2O
3.10-3 3.10-3

V . M = mol
V.2

= 3.10-3

= 15.10-4 liter

= 1.5 ml

Perubahan yang terjadi meliputi perubahan warna larutan menjadi biru bening, dan
endapan yang berwana hitam menghilang. Namun potongan logam tembaga belum habis
bereaksi, ini dikarenakan pada saat pemotong logam tembaga pada langkah pertama kurang
kecil, mengakibatkan logam tembaga lama bereaksi. Faktor yang mempengaruhinya adalah
luas permukaan logam tembaga yang masih berukuran besar besar.
Dari penambahan larutan asam sulfat, didapatkan persamaan reaksi seperti di bawah
ini: CuO + H2SO4 CuSO4 + H2O. Dan pada akhir langkah ini logam tembaga sebagai
senyawa garam tembaga (II) sulfat (CuSO4).

Langkah V Penambahan logam Fe


Logam Fe merupakan suatu unsur yang termasuk dalam periode ke4 dengan golongan
8B, pada langkah ini logam Fe yang digunakan berbentuk serbuk dengan berat 0.2 gram.
Adapun cara mencari berat logam Fe yang dibutuhkan adalah dengan menggunakan rumus
seperti di bawah ini:
CuSO4 + Fe Cu + FeSO4
3.10-3 3.10-3
mol

3.10-3 =
gram = 168.10-3
= 0.168
= 0.2 (dibulatkan)
Ketika ditambahkan logam Fe ke dalam larutan, larutan berubah warna menjadi hijau
dan terdapat endapan berwarna coklat kemerahan. Adapun persamaan reaksi yang terjadi
adalah: CuSO4 + Fe Cu + FeSO4. Logam Cu pada akhir langkah ini adalah sebagai
senyawa logam tembaga.

Langkah VI Mendapatkan Cu kembali (Recovery Cu)


Pada langkah ini, kelompok kami tidak dapat melakukan perhitungan massa Cu dan
rendemennya dikarenakan pada logam Cu dan Fe yang masih menyatu. Hal ini mungkin
dikarenakan pada saat penambahan Fe yang berlebih, sehingga Fe mengoksidasi Cu. Dan jika
didekantasi dan direcovery maka massa yang didapat adalah massa Cu yang bercampur
dengan Fe.

1.7 KESIMPULAN
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa siklus logam tembaga terjadi dari beberapa
perubahan kimia yang meliputi: Terjadinya perubahan warna, Timbulnya gelembung dan gas,
Meningkatnya suhu, Terbentuknya endapan, .Dan timbulnya bau
Serta adapun yang mempengaruhi laju reaksi dalam percobaan ini meliputi luas
permukaan, suhu, serta konsentrasi suatu zat

DAFTAR PUSTAKA
Staf Kimia Dasar.2014.Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Jurusan Kimia FMIPA, Universitas
Udayana : Bukit Jimbaran, Bali
Chang, Raymond.2004. Kimia Dasar : Konsep konsep Inti Jilid I Edisi Ketiga. Erlangga :
Jakarta
Sutresna, Nana. 2005. Kimia SMA Kelas XI. Bandung : Grafindo Media Utama
http://www.crayonpedia.org/mw/Perubahan_Materi_Dan_Reaksi_Kimia_-_Anni_Winarsih_7.2
diakses pada 28 Oktober 2014
http://polarisasi.wordpress.com/materi-kimia-kelas-xi/laju-reaksi/faktor-faktor-yangmempengaruhi-laju-reaksi/ diakses pada 28 Oktober 2014

LAMPIRAN
Pertanyaan dan Jawaban Praktikum
Langkah I ( Reaksi antara logam Cu dengan Asam Nitrat (HNO3) )
Pertanyaan

1. Berikan penjelasan tentang logam Cu meliputi: warna dan bentuknya!


2. Hitunglah jumlah asam nitrat yang diperlukan?
3. Amati perubahan kimia apa yang terjadi dan jelaskan reaksinya!
Jawab

1. logam Cu
-

Warna

: Coklat kemerahan

Bentuknya

: Lempengan

2. 3Cu + 8HNO3

3Cu(NO3)2 + 2NO + 4H2O


= 3.10-3 mol

Mol Cu =

Mol HNO3 =

3.10-3 = 8.10-3

V . M = mol
V.4

= 8.10-3

= 2.10-3 liter

= 2 ml

3. Terjadinya perubahan warna menjadi biru, dimana yang awalnya lempengan Cu berwarna
coklat kemerahan dan larutan HNO3 berwarna bening. Dan terdapat gelembung gas NO2
berwarna kuning kecoklatan.
Dengan reaksi 3Cu + 8HNO3

3Cu(NO3)2 + 2NO + 4H2O

Langkah II Penambahan larutan NaOH


Pertanyaan

1. Berikan penjelasan tentang larutan NaOH yang digunakan


2. Hitung jumlah larutan NaOh yang diperlukan
3. Amati perubahan kimia yang terjadi dan jelaskan reaksinya!
4. Sebagai apakah logam Cu pada akhir langkah ini
Jawab

1. NaOH yang digunakan adalah larutan bening dengan konsentrasi 1M dalam volume 6 ml.
2. Cu(NO3)2 + 2NaOH Cu(OH)2 + 2NaNO3

3.10-3

6.10-3

V . M = mol
V.1

= 6.10-3

= 6.10-3 liter

= 6 ml

3. Terjadinya perubahan warna menjadi biru muda yang awalnya berwarna biru pekat dan
adanya endapan tapi perlahan menghilang.
Dengan reaksi Cu(NO3)2 + 2NaOH Cu(OH)2 + 2NaNO3
4. Logam Cu pada akhir langkah ini sebagai senyawa larutan Cu(OH)2

Langkah III Pemanasan


Pertanyaan

1. Amati dan catat perubahan yang terjadi


2. Tuliskan reaksi yang dialami oleh senyawa Cu
Jawab

1. ketika dimasukan air suling larutan berwana biru bening namun ketika dipanaskan larutan
berubah warna menjadi hitam dan terbentuknya endapan.
2. Cu(OH)2 dipanaskan CuO + H2O

Langkah IV Penambahan larutan H2SO4


Pertanyaan

1. Berikan pejelasan tentang asam sulfat yang digunakan


2. Hitung banyaknya asam sulfat yang digunakan
3. Amati dan catat perubahannya
4. Tuliskan reaksi kimia yang dialami oleh senyawa tembaga
5. Sebagai senyawa apa logam Cu sekarang
Jawab

1. Asam Sulfat yang digunakan adalah larutan bening dengan konsentrasi 2M dalam volume 1.5
ml.
2. CuO + H2SO4 CuSO4 + H2O

3.10-3 3.10-3
V . M = mol
V.2

= 3.10-3

= 15.10-4 liter

= 1.5 ml

3. Pada saat penambahan H2SO4 endapan yang berwana hitam menghilang, lalu berubah
menjadi larutan berwarna biru bening. Namun potongan logam Cu belum habis bereaksi.
4. CuO + H2SO4 CuSO4 + H2O
5. Logam Cu pada akhir langkah ini sebagai senyawa garam CuSO4

Langkah V Penambahan logam Fe


Pertanyaan

1. Amati dan catat perubahan kimia yang berlangsung


2. Hitung berat logam Fe yang diperlukan
3. Tuliskan reaksi kimia yang terjadi
4. Sebagai apakah Cu sekarang
Jawab

1. Ketika ditambahkan logam Fe ke dalam larutan, larutan berubah warna menjadi hijau dan
terdapat endapan berwarna hitam. Dan pada saat reaksi berlangsung terdapat gelembung.
2. CuSo4 + Fe Cu + FeSO4
3.10-3 3.10-3
mol

3.10-3

gram

= 168.10-3
= 0.168
= 0.2 (dibulatkan)

3. CuSo4 + Fe Cu + FeSO4
4. Logam Cu pada akhir langkah ini sebagai senyawa logam Cu

Beri Nilai