Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH


Seiring dengan perkembangan teknologi dan industri banyak yang menggunakan
trafo untuk menaikkan tegangan, maka sebagai seorang Calon Sarjana Teknik Mesin,
hendaknya mempunyai pengetahuan yang luas terutama tentang trafo, prinsip kerja trafo,
jenis-jenisnya dan mengetahui hubungan antara jumlah lilitan dan tegangan.
Salah satu syarat kelulusan praktikum Terapan I yang diselenggarakan di Fakultas
Teknik Universitas Pancasila adalah

mengikuti praktikum Trafo ini dan menyusun

laporan praktikum setelah praktikum selesai dilaksanakan.


Dalam istilah elektro, transformator adalah suatu alat yang dapat mengubah energi
listrik menjadi energi listrik dengan frekuensi yang sama. Perubahan energi listrik yang
terjadi adalah perubahan tegangan dan arus. Pada transformator suplai tegangan dan arus
yang dipakai adalah tegangan dan arus bolak-balik Alternating Current (AC). Sedangkan
tegangan dan arus searah Direct Current (DC) tidak dapat dikonversikan oleh
transformator.
Jenis-jenis

transformator

sangat

banyak,

tetapi

secara

umum

dapat

diklasifikasikan atas tiga jenis, yaitu Transformator daya, Transformator distribusi dan
Transformator pengukuran. Transformator daya terletak pada stasiun daya untuk
menaikan tegangan dan menangani daya yang besar. Jenis tegangannya adalah 400 kV,
220kV, 132KV, 66 kV, 33kV dll. Sedangkan transformator distribusi terletak pada sub
stasiun jaringan distribusi dan menangani daya yang rendah. Jenis tegangannya adalah 11
KV, 6.6 KV, 3.3 KV, 440 V, 230 V. Dalam aplikasinya di lapangan, transformator yang
paling banyak dipergunakan adalah transformator distribusi. Pada umumnya jenis
transformator yang dipergunakan sebagai transformator daya dan transformator distribusi
adalah transformator tiga fasa, karena suplai tegangan dan arus yang masuk dari
pembangkit tenaga listrik adalah tegangan dan arus tiga fasa.
Pada saat-saat tertentu transformator tiga fasa yang dipergunakan dapat mengalami
kerusakan. Contoh kerusakan yang bisa terjadi adalah kerusakan pada salah satu belitan
fasanya, sehingga menyebabkan penyaluran tegangan dan arus terputus. Hal ini akan
mengakibatkan kerugian baik di pihak produsen listrik maupun konsumen yang memakai
listrik.
1

1.2. TUJUAN PENULISAN


1. Memberikan penjelasan tentang cara pemakaian transformator dalam keadaan darurat,
ketika terjadi kerusakan pada salah satu fasanya dan hanya dua fasa yang dapat
bekerja untuk menyalurkan tegangan dan arus tiga fasa.
2. Untuk menjelaskan perbandingan efisiensi antara transformator dalam keadaan
normal hubungan Delta dengan transformator dalam keadaan terjadi kerusakan
hubungan Open-Delta.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Teori Dasar
Transformator adalah suatu alat listrik yang dapat memindahkan energi listrik
qarus bolak balik dari satu rangkaian listrik ke rangkaian listrik yang lain dengan prinsip
kopel magnetik. Tegangan yang dihasilkan dapat lebih besar atau lebih kecil dengan
frekuensi yang sama.
Dalam bidang elektronika, transformator digunakan antara lain sebagai
gandengan impedansi antara sumber dan beban, untuk memisahkan satu rangkain dari
rangkaian yang lain, dan untuk menghambat arus searah melalukan atau mengalirkan arus
bolak-balik. Berdasarkan frekuensi, transformator dapat dikelompokkan menjadi:
1. Frekuensi daya, 50 sampai 60Hz
2. Frekuensi pendengaran, 50Hz sampai 20kHz
3. Frekuensi radio, diatas 30kHz.
Dalam bidang tenaga listrik pemakaian transformator dikelompokkan menjadi:
1. Transformatror daya
2. Transformatror distribusi
3. Transformatror pengukuran, yang terdiri dari atas transformator arus dan transformator
tegangan.
Konstruksi transformator gambar dibawah memperlihatkan bentuk fisik dari
transformator, dimana tegangan masukan (V1) berbentuk sinusioda dihubungan pada
gulungan primer (N1). Arus arus masukan (I1) mengakibatkan aliran fluxs () pada
gulungan (N1) maupun gulungan (N2). Fluxs pada gulungan sekunder (N2)
menyebabkan aliran arus (I2) dan tegangan (V2).

Gambar 2.1 Prinsip Kerja dan Terminologi Transformator

Prinsip kerja transformator dapat dijelaskan berdasarkan induksi elektromagnetik,


dimana antara sisi primer dan sisi sekunder terdapat penghubung magnetik. Gandengan
magnet ini berupa inti besi tempat melakukan fluks bersama. Medan magnet berperan sangat
penting sebagai rangkaian proses konversi energi. Melalui medium medan magnet, bentuk
energi mekanik dapat diubah menjadi energi listrik, alat konversi ini disebut generator atau
sebaliknya dari bentuk energi listrik menjadi energi mekanik, sebagai alat konversi disebut
motor. Pada transformator, gandengan medan magnet berfungsi untuk memindahkan dan
mengubah energi listrik dari rangkaian primer ke sekunder melalui prinsip induksi
elektromagnetik. Dari sisi pandangan elektris, medan magnet mampu untuk menginduksikan
tegangan pada konduktor sedangkan dari sisi pandangan mekanis medan magnet sanggup
untuk menghasilkan gaya dan kopel (penggandeng).
Kelebihan medan magnet sebagai perangkai proses konversi energi disebabkan
terjadinya bahan-bahan magnetik yang memungkinkan diperolehnya kerapatan energi yang
tinggi, kerapatan energi yang tinggi ini akan menghasilkan kapasitas tenaga per unit volume
mesin yang tinggi pula. Jelaslah bahwa pengertian kuantitatif tentang medan magnet dan
rangkaian magnet merupakan bagian penting untuk memahami proses konversi energi listrik.

Induktansi, tegangan pada kumparan didefinisikan sebagai perubahan arus terhadap waktu
yang melewati kumparan tersebut atau ketika terjadi perubahan arus pada kumparan maka
terjadi perubahan fluxs magnetik yang menyebabkan tejadinya perubahan induksi tegangan.

2.2 Komponen-Komponen Transformator/Trafo


1. Inti Besi
Inti besi berfungsi untuk mempermudah jalan fluksi, magnetik yang ditimbulkan oleh
arus listrik yang melalui kumparan. Dibuat dari lempengan-lempengan besi tipis yang
berisolasi, untuk mengurangi panas (sebagai rugi-rugi besi) yang ditimbulkan oleh Eddy
Current.

Gambar 2.2 Inti Besi

2. Kumparan Transformator
Kumparan transformator adalah beberapa lilitan kawat berisolasi yang membentuk
suatu kumparan atau gulungan. Kumparan tersebut terdiri dari kumparan primer dan
kumparan sekunder yang diisolasi baik terhadap inti besi maupun terhadap antar kumparan
dengan isolasi padat seperti karton, pertinak dan lain-lain. Kumparan tersebut sebagai alat
transformasi tegangan dan arus.
Minyak transformator merupakan salah satu bahan isolasi cair yang dipergunakan
sebagai isolasi dan pendingin pada transformator.
1. Sebagai bagian dari bahan isolasi, minyak harus memiliki kemampuan untuk menahan
tegangan tembus, sedangkan.

2. Sebagai pendingin minyak transformator harus mampu meredam panas yang ditimbulkan,
sehingga dengan kedua kemampuan ini maka minyak diharapkan akan mampu
melindungi transformator dari gangguan.
Minyak transformator mempunyai unsur atau senyawa hidrokarbon yang terkandung
adalah senyawa hidrokarbon parafinik, senyawa hidrokarbon naftenik dan senyawa
hidrokarbon aromatik. Selain ketiga senyawa tersebut, minyak transformator masih
mengandung senyawa yang disebut zat aditif meskipun kandungannya sangat kecil.

Gambar 2.3 Minyak Trafo


4. Bushing
Hubungan antara kumparan transformator dengan jaringan luar melalui sebuah
bushing yaitu sebuah konduktor yang diselubungi oleh isolator. Bushing sekaligus berfungsi
sebagai penyekat/isolator antara konduktor tersebut dengan tangki transformator. Pada
bushing dilengkapi fasilitas untuk pengujian kondisi bushing yang sering disebut center tap.

Gambar 2.4 Brushing

5. Tangki Konservator
Tangki Konservator berfungsi untuk menampung minyak cadangan dan uap/udara
akibat pemanasan trafo karena arus beban. Diantara tangki dan trafo dipasangkan relai
bucholzt yang akan meyerap gas produksi akibat kerusakan minyak. Untuk menjaga agar
minyak tidak terkontaminasi dengan air, ujung masuk saluran udara melalui saluran
pelepasan/venting dilengkapi media penyerap uap air pada udara, sering disebut dengan silica
gel dan dia tidak keluar mencemari udara disekitarnya.
6. Peralatan Bantu Pendinginan Transformator
Pada inti besi dan kumparan kumparan akan timbul panas akibat rugi-rugi tembaga.
Maka panas tersebut mengakibatkan kenaikan suhu yang berlebihan, ini akan merusak isolasi,
maka untuk mengurangi kenaikan suhu yang berlebihan tersebut transformator perlu
dilengkapi dengan alat atau sistem pendingin untuk menyalurkan panas keluar transformator,
media yang dipakai pada sistem pendingin dapat berupa: Udara/gas, Minyak dan Air.

Gambar 2.5 Pendingin Trafo


Pada cara alamiah, pengaliran media sebagai akibat adanya perbedaan suhu media dan
untuk mempercepat pe ndinginan dari media-media (minyak-udara/gas) dengan cara
melengkapi transformator dengan sirip-sirip (radiator). Bila diinginkan penyaluran panas yang
lebih cepat lagi, cara manual dapat dilengkapi dengan peralatan untuk mempercepat sirkulasi
media pendingin dengan pompa pompa sirkulasi minyak, udara dan air, cara ini disebut
pendingin paksa (Forced).
7. Tap Changer
Kualitas operasi tenaga listrik jika tegangan nominalnya sesuai ketentuan, tapi pada
saat operasi dapat saja terjadi penurunan tegangan sehingga kualitasnya menurun, untuk itu
perlu alat pengatur tegangan agar tegangan selau pada kondisi terbaik, konstan dan
berkelanjutan. Untuk itu trafo dirancang sedemikian rupa sehingga perubahan tegangan pada
sisi masuk/input tidak mengakibatkan perubahan tegangan pada sisi keluar/output, dengan
kata lain tegangan di sisi keluar/output-nya tetap. Alat ini disebut sebagai sadapan pengatur
tegangan tanpa terjadi pemutusan beban, biasa disebut On Load Tap Changer (OLTC). Pada
umumnya OLTC tersambung pada sisi primer dan jumlahnya tergantung pada perancangan
dan perubahan sistem tegangan pada jaringan.

8. Alat pernapasan (Dehydrating Breather)


Sebagai tempat penampungan pemuaian minyak isolasi akibat panas yang timbul,
maka minyak ditampung pada tangki yang sering disebut sebagai konservator. Pada
konservator ini permukaan minyak diusahakan tidak boleh bersinggungan dengan udara,
karena kelembaban udara yang mengandung uap air akan mengkontaminasi minyak walaupun
proses pengkontaminasinya berlangsung cukup lama. Untuk mengatasi hal tersebut, udara
yang masuk kedalam tangki konservator pada saat minyak menjadi dingin memerlukan suatu
media penghisap kelembaban, yang digunakan biasanya adalah silica gel. Kebalikan jika trafo
panas maka pada saat menyusut maka akan menghisap udara dari luar masuk kedalam tangki
dan untuk menghindari terkontaminasi oleh kelembaban udara maka diperlukan suatu media
penghisap kelembaban yang digunakan biasanya adalah silica gel, yang secara khusus
dirancang untuk maksud tersebut diatas.
9. Indikator-indikator
a . Termometer / Temperature Gauge
Alat ini berfungsi untuk mengukur tingkat panas dari trafo, baik panasnya
kumparan primer dan sekunder juga minyak trafonya. Termometer ini bekerja atas
dasar air raksa (mercuri/Hg) yang tersambung dengan tabung pemuaian dan
tersambung

dengan

jarum

indikator

derajat

panas. Beberapa

termometer

dikombinasikan dengan panas dari resistor (khusus yang tersambung dengan


transformator arus, yang terpasang pada salah satu fasa fasa tengah) dengan demikian
penunjukan yang diperoleh adalah relatif terhadap panas sebenarnya yang terjadi.

Gambar 2.6 Termometer Trafo

10

b. Permukaan minyak / Level Gauge


Alat ini berfungsi untuk penunjukan tinggi permukaan minyak yang ada pada
konservator. Ada beberapa jenis penunjukan, seperti penunjukan lansung yaitu dengan
cara memasang gelas penduga pada salah satu sisi konservator sehingga akan mudah
mengetahui level minyak. Sedangkan jenis lain jika konservator dirancang sedemikian
rupa dengan melengkapi semacam balon dari bahan elastis dan diisi dengan udara
biasa dan dilengkapi dengan alat pelindung seperti pada sistem pernapasan sehingga
pemuaian dan penyusutan minyak-udara yang masuk kedalam balon dalam kondisi
kering dan aman.

Gambar 2.7 Level Gauge

10. Peralatan Proteksi Internal


a . Relai Bucholzt
Penggunaan relai deteksi gas (Bucholtz) pada Transformator terendam minyak
yaitu

untuk

mengamankan

transformator

yang

didasarkan

pada

gangguan

Transformator seperti : arcing, partial discharge dan over heating yang umumnya
menghasilkan gas. Gas-gas tersebut dikumpulkan pada ruangan relai dan akan
mengerjakan kontak-kontak alarm. Relai deteksi gas juga terdiri dari suatu peralatan
yang tanggap terhadap ketidak normalan aliran minyak yang tinggi yang timbul pada

11

waktu transformator terjadi gangguan serius. Peralatan ini akan menggerakkan kontak
trip yang pada umumnya terhubung dengan rangkaian trip pemutus arus dari instalasi
transformator tersebut.
Ada beberapa jenis relai bucholtz yang terpasang pada transformator, Relai
sejenis tapi digunakan untuk mengamankan ruang On Load Tap Changer (OLTC)
dengan prinsip kerja yang sama sering disebut dengan relai jansen. Terdapat beberapa
jenis antara lain sama seperti relai buhcoltz tetapi tidak ada kontrol gas, jenis tekanan
ada yang menggunakan membran/selaput timah yang lentur sehingga bila terjadi
perubahan tekanan kerena gangguan akan bekerja, disini tidak ada alarm akan tetapi
langsung trip dan dengan prinsip yang sama hanya menggunakan pengaman tekanan
atau saklar tekanan.
b. Jansen membrane
Alat ini berfungsi untuk pengaman tekanan lebih (Explosive Membrane) /
Bursting Plate. Relai ini bekerja karena tekanan lebih akibat gangguan didalam
transformator, karena tekanan melebihi kemampuan membran/selaput yang
terpasang, maka membran akan pecah dan minyak akan keluar dari dalam
transformator

yang

disebabkan

oleh

Gambar 2.8 Jansen membrane

tekanan

minyak

12

c . Relai tekanan lebih (Sudden Pressure Relay)


Suatu flash over atau hubung singkat yang timbul pada suatu transformator
terendam minyak, umumnya akan berkaitan dengan suatu tekanan lebih didalam
tangki, karena gas yang dibentuk oleh dekomposisi dan evaporasi minyak. Dengan
melengkapi sebuah relai pelepasan tekanan lebih pada trafo, maka tekanan lebih yang
membahayakan tangki trafo dapat dibatasi besarnya. Apabila tekanan lebih ini tidak
dapat dieliminasi dalam waktu beberapa milli detik, maka terjadi panas lebih pada
cairan tangki dan trafo akan meledak. Peralatan pengaman harus cepat bekerja
mengevakuasi tekanan tersebut.
d. Relai pengaman tangki
Relai bekerja sebagai pengaman jika terjadi arus mengalir pada tangki, akibat
gangguan fasa ke tangki atau dari instalasi bantu seperti motor kipas, sirkulasi dan
motor motor bantu yang lain, pemanas dll. Arus ini sebagai pengganti relai diferensial
sebab sistim relai pengaman tangki biasanya dipasang pada trafo yang tidak dilengkapi
trafo arus disisi primer dan biasanya pada trafo dengan kapasitas kecil. Trafo dipasang
diatas isolator sehingga tidak terhubung ke tanah kemudian dengan menggunakan
kabel pentanahan yang dilewatkan melali trafo arus dengan tingkat isolasi dan ratio
yang kecil kemudian tersambung pada relai tangki tanah dengan ratio trafo arus antara
300 s/d 500 dengan sisi sekunder hanya 1 Amp

Gambar 2.9 Pengaman Tangki Trafo

13

e. Neutral Grounding Resistance / NGR atau Resistance Pentanahan Trafo


Adalah tahanan yang dipasang antara titik netral trafo dengan pentanahan,
dimana berfungsi untuk memperkecil arus gangguan. Resistance dipasang pada titik
nautral trafo yang dihubungkan Y ( bintang/wye ). NGR biasanya dipasang pada titik
netral trafo 70 kV atau 20 kV, sedangkan pada titik netral trafo 150 kV dan 500 kV
digrounding langsung (solid) nilai NGR: Tegangan 70 kV = 40 Ohm, Tegangan 20 kV
= 12 Ohm, 40 Ohm, 200 Ohm dan 500 Ohm Jenis Neutral Grounding Resistance
1) Resistance Liquid (Air), yaitu bahan resistance-nya adalah air murni. Untuk
memperoleh nilai resistance yang diinginkan ditambahkan garam KOH .
2) Resistance Logam, yaitu bahannya terbuat dari logam nekelin dan dibuat dalam
panel dengan nilai resistance yang sudah ditentukan.
2.3 Persamaan dalam perhitungan transformator
Untuk mengetahui jumlah lilitan dan tegangan pada trafo kita menggunakan rumus
perbandingan sebagai berikut :
.
Dimana :
= Tegangan Primer
= Tegangan sekunder
= Lilitan Primer
= Lilitan Sekunder

(2.1)

BAB III
JURNAL PRAKTIKUM

3.1 Maksud dan Tujuan


1. Mengetahui apa itu trafo dan prinsip kerjanya
2. Mengetahui jenis-jenis trafo
3. Mengetahui hubungan antara jumlah lilitan dan tegangan

3.2 Alat dan Bahan


1. Trafo step down
2. Volt meter
3. Ampere meter

3.3. Hal-hal yang Perlu diperhatikan


1. Periksa alat sebelum praktik
2. Sebelum memasang pada tegangan jala-jala PLN buat rangkaiannya terlebih dahulu

3.4.Cara Kerja
1. Memutar reglator hanya mencapai tegangan primer sesuai dengan yang digunakan
2. Memutar voltmeter secara pararel pada posisi primer dan sekunder
3. Merangkai ampere meter secara seri pada posisi primer dan sekunder trafo
4. Memasang tahanan 10 ohm pada posisi sekunder trafo sebagai beban
5. Memasang pengamatan pada tabel data

Tabel Percobaan
Tabel 3.1. Data Percobaan
No

Primer

Sekunder

Daya

Efisiensi

Volt

Volt

PS

PP

220

11,2

122

820

2442

33,1%

220

11,2

119

7,4

878,4

2462

35,0%

220

11,2

120

802,4

2420

33,1%

14

15

Skema Gambar

Gambar 3.1. Skema Trafo

16

3.5 Kesimpulan
1. Dari tabel percobaan dapat disimpulkan bahwa, jika tegangan yang suuply sebesar 220
Volt pada sisi primer maka akan menghasilkan arus sebesar (I) II, dan tegangan pada
posisi sekunder 120 volt dan daya sekunder (Ps) dan daya primer (PP) 2442, sehingga
efisiensi 34,3%
2. Arus dipengaruhi tahanan dan tegangan karena
I = V/R
Dimana :
I = Arus (Ampere)
V = tegangan (volt)
R Hambatan (ohm)

(3.1)

BAB IV
PERTANYAAN DAN JAWABAN

4.1 Pertanyaan
1. Sebutkan jenis trafo dan kegunaannya ?
2. Sebutkan komponen-komponen pada trafo ?
3. Berapa Efisiensi trafo jika jumlah lilitan sekunder 100 lilitan primer 50 dan tegangan
masuk 220 volt serta tegangan keluar 32 volt ?
4. Berapa jumlah lilitan primer jika lilitan sekunder 200 dan tegangan masuk 220 volt
dan tegangan keluar 25 volt ?

4.2 Jawaban
a. Trafo (Transformator) Adaptor
Trafo ini berguna untuk mengubah arus AC menjadi DC melalui lilitan gulungan primer
dan sekunder. Biasanya digunakan untuk rangkaian catu daya. trafo jenis ini memiliki
gulungan yang dapat mengubah tegangan listrik 110 volt sampai 220 volt. Gulungan
tersebut (lilitan) dinamakan lilitan primer. Sebelum di ubah menjadi arus DC, tegangan
listrik dialirkan melalui ribuan penghantar (lilitan) yang berakhir pada lilitan sekunder.
Komponen ini banyak dijual di pasar dengan ukuran dan keperluan tertentu. sedangkan
sifat-sifatnya adalah sebagi berikut :
1.

Bentuk fisiknya empat persegi panjang dengan dilapisi pelat tipis dan gulungan
ditutup kertas. terdapat beberapa kaki, pada gulungan primer terdapaat tiga kaki
sedangkan sekunder tidak kurang dari sembilan kaki

2.

Gulungan primer menerima arus AC PLN antara 110 - 240 Volt

3.

Gulungan sekunder menhasilkan arus DC setelah arus AC di proses pada kedua


lilitan ini. tegangan yang di keluarkan mulai dari 4 sampai 12 volt

17

18

Gambar 4.1. trafo

B. Trafo IF (Frekuensi menengah)


Trafo ini digunakan untuk penguat frekunsi menengah, biasanya terdapat pada radio
penerima jaman dulu. saat ini sudah jarang alat elektronika memakai trafo jenis ini. cara
keja trafo ini adalah menangkap gelombang suara yang dipancarkan oleh radio pemancar
kemudian di olah melalui komponen lainnya. selanjutnya dikeluarkan dalam bentuk
suara (bunyi). Trafo IF ini memiliki bentuk fisik bujur sangkar, pada permukaanya tepat
ditengah terdapat celah untuk memutar ketika membetulkan pancaran bunyi dari radio
pemancar.

Kelebihan dari trafo IF ini adalah :


1.

Dapat diubah-ubah ketika mencari sasaran pancaransecara tepat menggunakan obeng

2.

Bentuknya kecil sehingga memudahkan pemulaketika memasangnya

3.

Tetap memiliki lilitan primer dan sekunder

Gambar 4.2. trafo IF

19

C. Trafo Step UP / Down


Sesuai namanya, trafo ini mampu menaikkan dan menurunkan tegangan sesuai dengan
alat elektronika yang digunakan. Artinya benda yang memiliki voltase 110 volt perlu trafo
ini karena pada umunya PLN bertegangan 220 volt.

Sifat dari trafo ini adalah sebagai berikut :


1.

Menghasilkan tegangan lebih besar apabila gulungan sekunder lebih banyak dari

lilitan primer
2.

Mengubah tegangan dari 220 volt menjadi 100, 110 dan 220 volt

3.

Menaikkan tegangan dari 110 menjadi 200, 220 dan 240 volt

Gambar 4.3. trafo step up/down

D. Trafo Output (OT)


Komponen ini juga bisa di sebut trafo OT. Komponen ini banyak digunakan pada
rangkaian amplifier, radio penerima, tape recorder dan seperangkat elektronika yang
menghasilkan bunyi lainnya. Bentuk fisiknya hampir sama dengan trafo lainnya dhanya
ukuran yang berbeda. Di dalamnya berisi lilitan coil dari nikelin. Besar kecilnya arus
masuk tergantung dari lilitan tersebut.

20

Gambar 4.4. trafo output

Bagian melintang pelat yang memperkuat bungkusan kertas dan kertas ini digunakan
sebagai alat pemisah arus dari lilitan sekunder dan primer. Pada bagian bawah menyembul
kaki, ada lima kaki dua pada bagian output dan tiga bagian in (arus masuk).

2. A. Inti Besi
Inti besi berfungsi untuk mempermudah jalan fluksi,magnetik yang ditimbulkan oleh
arus listrik yang melalui kumparan. Dibuat dari lempengan-lempengan besi tipis yang
berisolasi, untuk mengurangi panas (sebagai rugi-rugi besi) yang ditimbulkan oleh Eddy
Current.

B. Kumparan Transformator
Kumparan transformator adalah beberapa lilitan kawat berisolasi yang membentuk suatu
kumparan atau gulungan. Kumparan tersebut terdiri dari kumparan primer dan kumparan
sekunder yang diisolasi baik terhadap inti besi maupun terhadap antar kumparan dengan
isolasi padat seperti karton, pertinak dan lain-lain. Kumparan tersebut sebagai alat
transformasi tegangan dan arus.

C. Minyak Transformator
Minyak transformator merupakan salah satu bahan isolasi cair yang dipergunakan
sebagai isolasi dan pendingin pada transformator.
1. Sebagai bagian dari bahan isolasi, minyak harus memiliki kemampuan untuk
menahan tegangan tembus, sedangkan

21

2. sebagai pendingin minyak transformator harus mampu meredam panas yang


ditimbulkan,
sehingga dengan kedua kemampuan ini maka minyak diharapkan akan mampu
melindungi transformator dari gangguan.
Minyak transformator mempunyai unsur atau senyawa hidrokarbon yang terkandung
adalah senyawa hidrokarbon parafinik, senyawa hidrokarbon naftenik dan senyawa
hidrokarbon aromatik. Selain ketiga senyawa tersebut, minyak transformator masih
mengandung senyawa yang disebut zat aditif meskipun kandungannya sangat kecil .

D. Bushing
Hubungan antara kumparan transformator dengan jaringan luar melalui sebuah bushing
yaitu sebuah konduktor yang diselubungi oleh isolator. Bushing sekaligus berfungsi
sebagai penyekat/isolator antara konduktor tersebut dengan tangki transformator. Pada
bushing dilengkapi fasilitas untuk pengujian kondisi bushing yang sering disebut center
tap.

E. Tangki Konservator
Tangki Konservator berfungsi untuk menampung minyak cadangan dan uap/udara
akibat pemanasan trafo karena arus beban. Diantara tangki dan trafo dipasangkan relai
bucholzt yang akan meyerap gas produksi akibat kerusakan minyak . Untuk menjaga agar
minyak tidak terkontaminasi dengan air, ujung masuk saluran udara melalui saluran
pelepasan/venting dilengkapi media penyerap uap air pada udara, sering disebut dengan
silica gel dan dia tidak keluar mencemari udara disekitarnya.

F. Peralatan Bantu Pendinginan Transformator


Pada inti besi dan kumparan kumparan akan timbul panas akibat rugi-rugi tembaga.
Maka panas tersebut mengakibatkan kenaikan suhu yang berlebihan, ini akan merusak
isolasi, maka untuk mengurangi kenaikan suhu yang berlebihan tersebut transformator
perlu dilengkapi dengan alat atau sistem pendingin untuk menyalurkan panas keluar
transformator, media yang dipakai pada sistem pendingin dapat berupa: Udara/gas, Minyak
dan Air.
Pada cara alamiah, pengaliran media sebagai akibat adanya perbedaan suhu media dan
untuk mempercepat pendinginan dari media-media (minyak-udara/gas) dengan cara

22

melengkapi transformator dengan sirip-sirip (radiator). Bila diinginkan penyaluran panas


yang lebih cepat lagi, cara manual dapat dilengkapi dengan peralatan untuk mempercepat
sirkulasi media pendingin dengan pompa pompa sirkulasi minyak, udara dan air, cara ini
disebut pendingin paksa (Forced).

G. Tap Changer
Kualitas operasi tenaga listrik jika tegangan nominalnya sesuai ketentuan, tapi pada saat
operasi dapat saja terjadi penurunan tegangan sehingga kualitasnya menurun, untuk itu
perlu alat pengatur tegangan agar tegangan selau pada kondisi terbaik, konstan dan
berkelanjutan.
Untuk itu trafo dirancang sedemikian rupa sehingga perubahan tegangan pada sisi
masuk/input tidak mengakibatkan perubahan tegangan pada sisi keluar/output, dengan kata
lain tegangan di sisi keluar/output-nya tetap. Alat ini disebut sebagai sadapan pengatur
tegangan tanpa terjadi pemutusan beban, biasa disebut On Load Tap Changer (OLTC).
Pada umumnya OLTC tersambung pada sisi primer dan jumlahnya tergantung pada
perancangan dan perubahan sistem tegangan pada jaringan.

H. Alat pernapasan (Dehydrating Breather)


Sebagai tempat penampungan pemuaian minyak isolasi akibat panas yang timbul, maka
minyak ditampung pada tangki yang sering disebut sebagai konservator. Pada konservator
ini permukaan minyak diusahakan tidak boleh bersinggungan dengan udara, karena
kelembaban udara yang mengandung uap air akan mengkontaminasi minyak walaupun
proses pengkontaminasinya berlangsung cukup lama. Untuk mengatasi hal tersebut, udara
yang masuk kedalam tangki konservator pada saat minyak menjadi dingin memerlukan
suatu media penghisap kelembaban, yang digunakan biasanya adalah silica gel. Kebalikan
jika trafo panas maka pada saat menyusut maka akan menghisap udara dari luar masuk
kedalam tangki dan untuk menghindari terkontaminasi oleh kelembaban udara maka
diperlukan suatu media penghisap kelembaban yang digunakan biasanya adalah silica gel,
yang secara khusus dirancang untuk maksud tersebut diatas.

I. Indikator-indikator
a . Termometer / Temperature Gauge, alat ini berfungsi untuk mengukur tingkat panas
dari trafo, baik panasnya kumparan primer dan sekunder juga minyak trafonya.

23

Termometer ini bekerja atas dasar air raksa (mercuri/Hg) yang tersambung dengan tabung
pemuaian dan tersambung dengan jarum indikator derajat panas.
Beberapa termometer dikombinasikan dengan panas dari resistor (khusus yang
tersambung dengan transformator arus, yang terpasang pada salah satu fasa fasa tengah)
dengan demikian penunjukan yang diperoleh adalah relatif terhadap panas sebenarnya
yang terjadi.
b. Permukaan minyak / Level Gauge, alat ini berfungsi untuk penunjukan tinggi
permukaan minyak yang ada pada konservator. Ada beberapa jenis penunjukan, seperti
penunjukan lansung yaitu dengan cara memasang gelas penduga pada salah satu sisi
konservator sehingga akan mudah mengetahui level minyak. Sedangkan jenis lain jika
konservator dirancang sedemikian rupa dengan melengkapi semacam balon dari bahan
elastis dan diisi dengan udara biasa dan dilengkapi dengan alat pelindung seperti pada
sistem pernapasan sehingga pemuaian dan penyusutan minyak-udara yang masuk kedalam
balon dalam kondisi kering dan aman.
J. Peralatan Proteksi Internal
a . Relai Bucholzt, Penggunaan relai deteksi gas (Bucholtz) pada Transformator
terendam minyak yaitu untuk mengamankan transformator yang didasarkan pada gangguan
Transformator seperti : arcing, partial discharge dan over heating yang umumnya
menghasilkan gas. Gas-gas tersebut dikumpulkan pada ruangan relai dan akan
mengerjakan kontak-kontak alarm. Relai deteksi gas juga terdiri dari suatu peralatan yang
tanggap terhadap ketidaknormalan aliran minyak yang tinggi yang timbul pada waktu
transformator terjadi gangguan serius. Peralatan ini akan menggerakkan kontak trip yang
pada umumnya terhubung dengan rangkaian trip Pemutus Arus dari instalasi transformator
tersebut. Ada beberapa jenis relai bucholtz yang terpasang pada transformator, Relai
sejenis tapi digunakan untuk mengamankan ruang On Load Tap Changer (OLTC) dengan
prinsip kerja yang sama sering disebut dengan Relai Jansen. Terdapat beberapa jenis antara
lain sama seperti relai buhcoltz tetapi tidak ada kontrol gas, jenis tekanan ada yang
menggunakan membran/selaput timah yang lentur sehingga bila terjadi perubahan tekanan
kerena gangguan akan bekerja, disini tidak ada alarm akan tetapi langsung trip dan dengan
prinsip yang sama hanya menggunakan pengaman tekanan atau saklar tekanan.

24

b. Jansen membran, alat ini berfungsi untuk pengaman tekanan lebih (Explosive
Membrane) / Bursting Plate. Relai ini bekerja karena tekanan lebih akibat gangguan
didalam transformator, karena tekanan melebihi kemampuan membran/selaput yang
terpasang, maka membran akan pecah dan minyak akan keluar dari dalam transformator
yang disebabkan oleh tekanan minyak.
c . Relai tekanan lebih (Sudden Pressure Relay), suatu flash over atau hubung singkat
yang timbul pada suatu transformator terendam minyak, umumnya akan berkaitan dengan
suatu tekanan lebih didalam tangki, karena gas yang dibentuk oleh dekomposisi dan
evaporasi minyak. Dengan melengkapi sebuah relai pelepasan tekanan lebih pada trafo,
maka tekanan lebih yang membahayakan tangki trafo dapat dibatasi besarnya. Apabila
tekanan lebih ini tidak dapat dieliminasi dalam waktu beberapa millidetik, maka terjadi
panas lebih pada cairan tangki dan trafo akan meledak. Peralatan pengaman harus cepat
bekerja mengevakuasi tekanan tersebut.
d. Relai pengaman tangki, relai bekerja sebagai pengaman jika terjadi arus mengalir
pada tangki, akibat gangguan fasa ke tangki atau dari instalasi bantu seperti motor kipas,
sirkulasi dan motor-motor bantu yang lain, pemanas dll.
Arus ini sebagai pengganti relai diferensial sebab sistim relai pengaman tangki
biasanya dipasang pada trafo yang tidak dilengkapi trafo arus disisi primer dan biasanya
pada trafo dengan kapasitas kecil. Trafo dipasang diatas isolator sehingga tidak terhubung
ke tanah kemudian dengan menggunakan kabel pentanahan yang dilewatkan melali trafo
arus dengan tingkat isolasi dan ratio yang kecil kemudian tersambung pada relai tangki
tanah dengan ratio Trafo arus antara 300 s/d 500 dengan sisi sekunder hanya 1 Amp.
e. Neutral Grounding Resistance / NGR atau Resistance Pentanahan Trafo, adalah
tahanan yang dipasang antara titik netral trafo dengan pentanahan, dimana berfungsi untuk
memperkecil arus gangguan. Resistance dipasang pada titik neutral trafo yang
dihubungkan Y ( bintang/wye ).
NGR biasanya dipasang pada titik netral trafo 70 kV atau 20 kV, sedangkan pada
titik netral trafo 150 kV dan 500 kV digrounding langsung (solid).
Nilai NGR:
Tegangan 70 kV = 40 Ohm

25

Tegangan 20 kV = 12 Ohm,40 Ohm, 200 Ohm dan 500 Ohm


Jenis Neutral Grounding Resistance- Resistance Liquid (Air), yaitu bahan
resistance-nya adalah air murni. Untuk memperoleh nilai Resistance yang diinginkan
ditambahkan garam KOH .
Resistance Logam, yaitu bahannya terbuat dari logam nekelin dan dibuat dalam panel
dengan nilai resistance yang sudah ditentukan.

K. Peralatan Tambahan untuk Pengaman Transformator


a. Pemadam kebakaran, (biasanya untuk transformator transformator besar ),
Sistem pemadam kebakaran yang modern pada transformator saat sekarang sudah sangat
diperlukan. Fungsi yang penting untuk mencegah terbakarnya trafo atau memadamkan
secepat mungkin trafo jika terjadi kebakaran.
Penyebab trafo terbakar adalah karena gangguan hubung singkat pada sisi sekunder
sehingga pada trafo akan mengalir arus maksimumnya. Jika proses tersebut berlangsung
cukup lama dan relai tidak beroperasi. Sementara itu, tidak beroperasinya relai juga
sebagai akibat salah menyetel waktu pembukaan PMT, relai rusak, dan sumber DC yang
tidak ada, serta kerusakan sistim pengawatan.
Sistem pemadam kebakaran yang modern yaitu dengan sistem mengurangi minyak
secara otomatis sehingga terdapat ruang yang mana secara paksa gas pemisah oksigen
diudara dimasukan kedalam ruang yang sudah tidak ada minyaknya sehingga tidak ada
pembakaran minyak, dan kerusakan yang lebih parah dapat dihindarkan, walaupun kondisi
trafo menjadi rusak.
Proses pembuangan minyak secara grafitasi atau dengan menggunakan motor
pompa DC adalah suatu kondisi yang sangat berisiko, sebab hanya menggunakan katup
otomatis yang dikendalikan oleh pemicu dari saklar akibat panasnya api dan menutupnya
katup otomatis pada katup pipa minyak penghubung tanki (konservator) ke dalam trafo
(sebelum relai bucholz), serta adanya gas pemisah oksigen (gas nitrogen yang bertekanan
tinggi) diisikan melaui pipa yang disambung pada bagian bawah trafo kemudian akan
menuju keruang yang tidak terisi minyak.

26

b. Termometer pengukur langsung, Termometer pengukur langsung banyak


digunakan pada instalasi tegangan tinggi/Gardu Induk , seperti pada ruang kontrol, ruang
relai, ruang PLC dll. Suhu ruangan dicatat secara periodik pada formulir yang telah
disiapkan dan dievaluasi sebagai bahan laporan.
c. Termometer pengukur tidak langsung, Termometer pengukur tidak langsung
banyak digunakan pada instalasi tegangan tinggi/ transformator yang berfungsi untuk
mengetahui perubahan suhu minyak maupun belitan transformator. Suhu minyak dan
belitan trafo dicatat secara periodik/berkala, pada formulir yang telah disiapkan dan
dievaluasi sebagai laporan.
L. Relai Proteksi Transformator dan Fungsinya
Jenis relai proteksi pada trafo tenaga adalah sebagai berikut:
a. Relai arus lebih (over current relay), berfungsi untuk mengamankan transformator
terhadap gangguan hubung singkat antar fasa didalam maupun diluar daerah pengaman
transformator. Juga diharapkan relai ini mempunyai sifat komplementer dengan relai beban
lebih, relai ini berfungsi pula sebagai pengaman cadangan pada bagian instalasi lainnya.
b. Relai Diferensial, relai ini berfungsi untuk mengamankan transformator terhadap
gangguan hubung singkat yang terjadi didalam daerah pengaman.
c. Relai gangguan tanah terbatas (Restricted Earth fault Relay ), relai ini berfungsi
untuk

mengamankan

transformator

terhadap

tanah

didalam

daerah

pengaman

transformator, khususnya untuk gangguan didekat titik netral yang tidak dapat dirasakan
oleh relai differensial.
d. Relai arus lebih berarah, Directional Over Current Relay atau yang lebih dikenal
dengan Relai arus lebih yang mempunyai arah tertentu merupakan Relai Pengaman yang
bekerja karena adanya besaran arus dan tegangan yang dapat membedakan arah arus
gangguan. Relai ini mempunyai 2 buah parameter ukur yaitu tegangan dan arus yang
masuk ke dalam relai untuk membedakan arah arus ke depan atau arah arus ke belakang,
pada pentanahan titik netral trafo dengan menggunakan tahanan. Relai ini dipasang pada
penyulang 20 KV.
Bekerjanya relai ini berdasarkan adanya sumber arus dari ZCT (Zero Current
Transformer) dan sumber tegangan dari PT (Potential Transformers). Sumber tegangan PT

27

umumnya menggunakan rangkaian Open-Delta, tetapi tidak menutup kemungkinan ada


yang menggunakan koneksi langsung 3 Phasa. Relai ini terpasang pada jaringan tegangan
tinggi, tegangan menengah, juga pada pengaman transformator tenaga, dan berfungsi untuk
mengamankan peralatan listrik akibat adanya gangguan phasa-phasa maupun Phasa ke
tanah. Untuk membedakan arah tersebut maka salah satu phasa dari arus harus
dibandingakan dengan Tegangan pada phasa yang lain.
e. Relay connections, adalah sudut perbedaan antara arus dengan tegangan masukan
relai pada power faktor satu. Relai maximum torque angle adalah perbedaan sudut antara
arus dengan tegangan pada relai yang menghasilkan torsi maksimum.
f. Relai gangguan tanah, relai ini berfungsi untuk mengamankan transformator jika
terjadi gangguan hubung tanah didalam dan diluar daerah pengaman transformator. Relai
arah hubung tanah memerlukan operating signal dan polarising signal. Operating signal
diperoleh dari arus residual melalui rangkaian trafo arus penghantar (Iop = 3Io) sedangkan
polarising signal diperoleh dari tegangan residual. Tegangan residual dapat diperoleh dari
rangkaian sekunder open delta trafo tegangan.
g. Relai tangki tanah, relai ini berfungsi untuk mengamankan transformator terhadap
hubung singkat antara kumparan fasa dengan tangki transformator dan transformator yang
titik netralnya ditanahkan. Relai bekerja sebagai pengaman jika terjadi arus mengalir dari
tangki akibat gangguan fasa ke tangki atau dari instalasi Bantu seperti motor kipas,
sirkulasi dan motor-motor bantu, pemanas dll.
Pengaman arus ini sebagai pengganti relai diferensial, sebab sistim relai pengaman
tangki biasanya dipasang pada trafo yang tidak dilengkapi trafo arus disisi primer dan
biasanya pada trafo dengan kapasitas kecil. Trafo dipasang diatas isolator sehingga
tidak terhubung ke tanah kemudian dengan menggunakan kabel pentanahan yang
dilewatkan melalui trafo arus dengan tingkat isolasi dan ratio yang kecil, kemudian
tersambung pada relai tangki tanah dengan ratio Trafo Arus(CT) antara 300 s/d 500
dengan sisi sekunder hanya 1 Amp.
M. Announciator Sistem Instalasi Tegangan Tinggi
Announciator adalah indikator kejadian pada saat terjadi ketidaknormalan pada sistem
instalasi tegangan tinggi, baik secara individu maupun secara bersama. Announciator

28

terjadi bersamaan dengan relai yang bekerja akibat jika terjadi ketidaknormalan pada
peralatan tersebut. Annunciator biasanya berbentuk petunjuk tulisan yang pada kondisi
normal tidak ada penunjukan, bila terjadi ketidaknormalan maka lampu didalam indikator
tersebut menyala sesuai dengan kondisi sistem pada saat tersebut. Kumpulan indikatorindikator tersebut biasanya disebut sebagai announciator.
Announciator yang terlengkap pada saat sekarang adalah pada instalasi gardu induk
SF6, sebab pada sistem GIS banyak sekali kondisi yang perlu di pantau seperti tekanan
gas, kelembaban gas SF6 disetiap kompartemen, posisi kontak PMT, PMS baik PMS line,
PMS Rel maupun PMS tanah dll. Untuk itu pembahasan tentang annunciator akan diambil
dari sistem annunciatornya gardu induk SF6. seperti. Annunciator pada bay penghantar
(SUTT maupun SKTT), Transformator dan Koppel.
3. Diketahui

: Vs = 32 Volt

Ns = 100

Vp = 220 Volt

Np = 50

Ditanya
Penyelesaian :

... (4.1)

Jadi efisiensi pada trafo tersebut adalah 7.273 %

4.

Diketahui

: Vs = 25 Volt

Ns = 200

Vp = 220 Volt
Ditanya

: Np = ?

Penyelesaian

..(4.2)

29

lilitan

Jadi jumlah lilitan primer pada trafo tersebut adalah 1760 lilitan

BAB V
KESIMPULAN

Trafo merupakan sebuah alat yang berfungsi untuk menaikan atau menurunkan
tegangan. Komponen utama pada trafo adalah :
a. Lilitan / Kumparan
b. Inti Besi
c. Minyak Trafo
d. Casing
Prinsip kerja pada sebuah transformator adalah arus mengalir melewati lilitan primer sehingga
menimbulkan induksi dan terjadi fluks pada inti besi selanjutnya arus keluar melewati lilitan
sekunder. Transformator terbagi menjadi dua jenis menurut fungsinya yaitu:
a. Transformator step up
b. Transformator step down.

30

31

DAFTAR PUSTAKA

Modul praktek rekayasa dasar mesin 2013


http://genius.smpn1-mgl.sch.id/file.php/1/ANIMASI/fisika/Transformator/index.html (Pukul
22.43 WIB)
http://genius.smpn1-mgl.sch.id/file.php/1/ANIMASI/fisika/Transformator/materi2.html
(Pukul 08.31 WIB)
http://genius.smpn1-mgl.sch.id/file.php/1/ANIMASI/fisika/Transformator/materi3.html
(Pukul 08.56 WIB)
http://genius.smpn1-mgl.sch.id/file.php/1/ANIMASI/fisika/Transformator/materi4.html
(Pukul 09.00 WIB)
http://duniaelektonika.blogspot.com/2013/01/jenis-jenis-transformator-atau-trafo_31.html
(Pukul 09.15 WIB)
http://dasarelektronika.com/pengertian-dan-fungsi-transformator/ (Pukul 16.00 WIB)
http://dunia-listrik.blogspot.com/2009/01/komponen-komponen-transformator.html (Pukul
16.15 WIB)

iii