Anda di halaman 1dari 18

SISTEM NEUROLOGI

(Meningitis)

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Blok Sistem Neurologi

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
MALANG
2014
Triger PJBL 1
Seorang anak laki-laki berusia 7 tahun, dibawa ke rumah sakit karena panas tinggi sejak
4 hari yang lalu dan mengeluh sakit kepala, kejang sebanyak 1 kali di rumah. Keluarga
mengatakan leher anaknya terasa kaku. Dari hasil anamnesa perawat dengan ibu klien

didapatkan bahwa anaknya pernah mengalami otitis media 1 bulan yang lalu, riwayat
anoreksia. Hasil pemeriksaan perawat, anak tampak letargi, tanda-tanda vital: Suhu
39,5oC, nadi 120x/menit, pernapasan 22x/menit, brudzinski (+), kernig (+), mukosa kulit
kering, turgor kembali 3 detik, GCS 345, badan teraba hangat. Hasil pemeriksaan lab:
leukosit 15.000, LED 20mm/jam, pemeriksaan Analisis LCS dari Pungsi Lumbal: Sifat :
keruh, Tekanan : 300 mmhg, Protein : 75 mg/dl, Leukosit total : 10/ml, Glukosa : 100
mg/dl, CT scan terdapat penumpukan cairan pada selaput meningen.
SLO Meningitis
1.

Definisi

2.

Etiologi

3.

Klasifikasi

4.

Epidemiologi

5.

Patofisiologi

6.

Faktor resiko

7.

Manifestasi klinis

8.

Pemeriksaan diagnostik

9.

Penatalaksanaan

10.

1.

Asuhan keperawatan

Definisi
Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi
otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ
jamur(Smeltzer, 2001).

Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan


oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok,
Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996).
Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan
serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem
saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001).
2.

Etiologi
a. Bakteri : Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok),
Neisseria

meningitis

(meningokok),

Streptococus

haemolyticuss,

Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella


pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.
b. Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia.
c. Faktor predisposisi : jenis kelamin lakilaki lebih sering dibandingkan dengan
wanita.
d. Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu
terakhir kehamilan.
e. Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin.
f.

Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan


dengan sistem persarafan.

3.

Klasifikasi
Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang
terjadi pada cairan otak, yaitu :
a. Meningitis Serosa
Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai
cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium
tuberculosa. Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia.
b. Meningitis Purulenta
Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak
dan medula spinalis. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae
(pneumokok),

Neisseria

meningitis

(meningokok),

Streptococus

haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia


coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.
4.

Epidemiologi

Umur dan daya tahan tubuh sangat mempengaruhi terjadinya meningitis.


Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan
dan distribusi terlihat lebih nyata pada bayi.

Meningitis purulenta lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak karena
sistem kekebalan tubuh belum terbentuk sempurna.

Puncak insidensi kasus meningitis karena Haemophilus influenzae di negara


berkembang adalah pada anak usia kurang dari 6 bulan, sedangkan di
Amerika Serikat terjadi pada anak usia 6-12 bulan.

Risiko penularan meningitis umumnya terjadi pada keadaan sosio-ekonomi


rendah, lingkungan yang padat (seperti asrama, kamp-kamp tentara dan
jemaah haji), dan penyakit ISPA. Penyakit meningitis banyak terjadi pada
negara yang sedang berkembang dibandingkan pada negara maju.

Data South East Asian Medical Information Center (SEAMIC) Health Statistic
(2002) melaporkan bahwa pada tahun 2000 dan 2001 di Indonesia, terdapat
masing-masing 1.937 dan 1.667 kasus kematian karena meningitis dengan
CSDR 9,4 dan 8 per 1000.000 penduduk. Pada tahun 1997, khususnya di
Jakarta, meningitis purulenta merupakan penyakit yang masih banyak
ditemukan pada bayi dan anak-anak yaitu pada umur 2 bulan-2 tahun dengan
mortalitas 47,8%.

5.

Patofisiologi
Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari orofaring dan diikuti
dengan septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian
atas.
Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis
media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah
saraf baru, trauma kepala dan pengaruh imunologis. Saluran vena yang melalui
nasofaring posterior, telinga bagian tengah dan saluran mastoid menuju otak dan
dekat saluran vena-vena meningen; semuanya ini penghubung yang menyokong
perkembangan bakteri.
Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi
radang di dalam meningen dan di bawah korteks, yang dapat menyebabkan
trombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami
gangguan metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis dan hipoperfusi.

Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis. Radang
juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral. Meningitis bakteri
dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial, yang terdiri dari
peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak (barier oak),
edema serebral dan peningkatan TIK.
Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi
meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps
sirkulasi

dan

dihubungkan

dengan

meluasnya

hemoragi

(pada

sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel


dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus.

6.

Faktor Resiko
a. Faktor predisposisi: laki-laki lebih sering disbanding dengan wanita
b. Faktor maternal: rupture membran fetal, infeksi metrnal pada minggu
terakhir kehamilan

c. Faktor imunologi: usia muda, defisiansi mekanisme imun, defek lien karena
penyakit sel sabit atau asplenia (rentan terhadap S. Pneumoniae dan Hib),
anak-anak yang mendapat obat-obat imunosupresi.
d. Anak dengan kelainan system saraf pusat, pembedahan atau injuri yang
berhubungan dengan system persarafan.
e. Faktor yang berkaitan dengan status sosial-ekonomi rendah: lingkungan
padat, kemiskinan, kontak erat dengan individu tang terkena (penularan
melalui sekresi pernapasan).
7.

Manifestasi Klinis
Gejala meningitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK (Tekanan Intra
Kranial) :
a. Sakit kepala dan demam (gejala awal yang sering)
b. Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargik, tidak responsif, dan
koma.
c. Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sebagai berikut :
1) Rigiditas nukal (kaku leher). Upaya untuk fleksi kepala mengalami
kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher.
2) Tanda kernik positip: ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam
keadan fleksi kearah abdomen, kaki tidak dapat di ekstensikan
sempurna.
3) Tanda brudzinki : bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi
lutut dan pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah
pada salah satu sisi maka gerakan yang sama terlihat peda sisi ektremita
yang berlawanan.
d. Mengalami foto fobia, atau sensitif yang berlebihan pada cahaya.
e. Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat
eksudat purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan
karakteristik tanda-tanda vital(melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi),
pernafasan tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan tingkat
kesadaran.
f.

Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal.

g. Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba


muncul, lesi purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati
intravaskuler diseminata.
8.

Pemeriksaan Diagnostik
a. Analisis CSS dari fungsi lumbal :
1) Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah
sel darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positip
terhadap beberapa jenis bakteri.
2) Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel
darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur
biasanya negatif, kultur virus biasanya dengan prosedur khusus.
b. Glukosa serum : meningkat (meningitis)
c. LDH serum : meningkat (meningitis bakteri)
d. Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil (infeksi
bakteri)
e. Elektrolit darah : Abnormal.
f.

Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah


pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi.

g. MRI/ skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat


ukuran/letak ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor.
h. Rontgen dada/kepala/ sinus ; mungkin ada indikasi sumber infeksi intra
kranial.
9.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan medis lebih bersifat mengatasi etiologi dan perawat
perlu menyesuaikan dengan standar pengobatan sesuai tempat bekerja yang
berguna sebagai bahan kolaborasi dengan tim medis. Secara ringkas
penatalaksanaan pengobatan meningitis meliputi :
a. Pemberian antibiotic yang mampu melewati barier darah otak ke ruang
subarachnoid

dalam

konsentrasi

yang

cukup

untuk

menghentikan

perkembangbiakan bakteri. Baisanya menggunakan sefaloposforin generasi


keempat atau sesuai dengan hasil uji resistensi antibiotic agar pemberian
antimikroba lebih efektif digunakan.
b. Obat anti-infeksi (meningitis tuberkulosa) :

1) Isoniazid 10-20 mg/kgBB/24 jam, oral, 2x sehari maksimal 500 mg


selama 1 setengah tahun.
2) Rifampisin 10-15 mg/kgBB/24 jam, oral, 1 x sehari selama 1 tahun.
3) Streptomisin sulfat 20-40 mg/kgBB/24 jam, IM, 1-2 x sehari selama 3
bulan.
c. Obat anti-infeksi (meningitis bakterial) :
1) Sefalosporin generasi ketiga
2) Amfisilin 150-200 mg/kgBB/24 jam IV, 4-6 x sehari
3) Klorafenikol 50 mg/kgBB/24 jam IV 4 x sehari
d. Pengobatan simtomatis :
1) Antikonvulsi, Diazepam IV; 0,2-0,5 mgkgBB/dosis, atau rectal: 0,4-0,6
mg/kgBB, atau fenitoin 5 mg/kgBB/24 jam, 3 x sehari atau Fenobarbital
5-7 mg/kgBB/24 jam, 3 x sehari.
2)

Antipiretik: parasetamol/asam salisilat 10 mg/kgBB/dosis.

3) Antiedema serebri: Diuretikosmotik (seperti manitol) dapat digunakan


untuk mengobati edema serebri.
4) Pemenuhan oksigenasi dengan O2.
5) Pemenuhan hidrasi atau pencegahan syok hipovolemik: pemberian
tambahan volume cairan intravena.
e. Pengobatan suportif :
1) Pemenuhan hidrasi atau pencegahan syok hipovolemik: pemberian
tambahan volume cairan intravena.
2) Pemenuhan oksigenasi dengan O2.
Perawatan
a. Pada waktu kejang
1) Longgarkan pakaian, bila perlu dibuka.
2) Hisap lender
3) Kosongkan lambung untuk menghindari muntah dan aspirasi.
4) Hindarkan penderita dari rodapaksa (misalnya jatuh).
b. Bila penderita tidak sadar lama.
1) Beri makanan melalui sonda.
2) Cegah dekubitus dan pnemunia ortostatik dengan merubah posisi
penderita sesering mungkin.

3) Cegah kekeringan kornea dengan boor water atau saleb antibiotika.


c. Pada inkontinensia urine lakukan katerisasi. Pada inkontinensia alvi lakukan
lavement.
d. Pemantauan ketat.
1) Tekanan darah
2) Respirasi
3) Nadi
4) Produksi air kemih
5) Faal hemostasis untuk mengetahui secara dini adanya DC
10.

Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian Keperawatan
1) Identitas Klien
Nama

:X

Jenis kelamin

: laki-laki

Usia

: 7 tahun

2) Status kesehatan
1.

Keluhan utama

: panas tinggi, mengeluh sakit kelapa,

kejang sebanyak 1 kali, keluarga mengatakan leher anak terasa


kaku
2.

Lama keluhan

: panas tinggi sejak 4 hari yang lalu

3.

Faktor pencetus

: otitis media

4.

Faktor pemberat

: usia, jenis kelamin, anoreksia

5.

Diagnose medis

: Meningitis

3) Riwayat kesehatan saat ini


Pasien mengalami panas tinggi sejak 4 hari yang lalu dan mengeluh
sakit kepala, kejang sebanyak 1 kali di rumah. Keluarga mengatakan
leher anaknya terasa kaku.
4) Riwayat kesehatan terdahulu
Pasien pernah mengalami otitis media 1 bulan yang lalu dan riwayat
anoreksia.
5) Pemeriksaan Fisik
1.

Keadaan Umum

a. Kesadaran

: letargi

b. TTV

2.

RR=22x/menit

N =120x/menit

T =39,5 C

Badan

: mukosa kulit kering, turgor kembali 3

detik, teraba hangat.


3.

Brudzinski (+)

4.

Kerning (+)

5.

GCS 3 4 5

6) Pemeriksaan Diagnostik
1.

Leukosit = 15.000

2.

LED= 20 mm/jam

3.

LCS dari Pungsi Lumbal : sifat : keruh, Tekanan : 300 mmHg,


Protein : 75 mg/dl, leukosit total : 10/ml, Glukosa : 100 mg/dl.

4.

CT scan terdapat penumpukan cairan pada selaput meningen.

a. Analisa Data

No Data fokus

Etiologi

Masalah
Keperawatan

DS :

Otitis Media

Pasien

mengeluh

sakit kepala

Keluarga mengatakan

berhubungan
Bakteri masuk

dengan

Meningen

penyakit

yang

ditandai

dengan

leher pasien terasa


kaku

Peningkatan produksi

DO :

CSF

TTV
Suhu

meningkat

Peningkatan lingkar

Nadi

meningkat

kepala

120x/menit

Peningkatan Tekanan

Pernapasan
meningkat
22x/menit

Intra Kranial

proses

suhu tinggi dan


kulit
hangat

39,50C

Hipertermi

teraba

Penekanan

Kulit teraba hangat

Hypothalamus

Perubahan pengaturan
suhu

Hipertermi
2

DS :

Otitis Media
Pasien

ketidakefektifan

mengeluh

sakit kepala, kejang

Bakteri masuk

sebanyak 1 kali di

Meningen

rumah

Keluarga mengatakan

kaku

Peningkatan produksi
CSF

Peningkatan

TTV
Suhu

jaringan

otak

penurunan
sirkulasi jaringan
otak

DO :

meningkat

komponen darah di
serebral

39,50C
Nadi

perfusi

berhubungan

leher pasien terasa

Resiko

meningkat

120x/menit

Peningkatan viskositas

Pernapasan

darah

meningkat

22x/menit

Penurunan sirkulasi

Pasien tampak letargi

CT

scan

jaringan otak

terdapat

penumpukan cairan
pada
meningen

GCS 3 4 5

Brudzinski (+)

Kerning (+)

selaput

Resiko ketidakefektifan
perfusi jaringan otak

dengan

ditandai
letargi

dan sakit kepala

DS :

Otitis Media

Pasien

volume cairan

mempunyai

riwayat anoreksia

Bakteri masuk

Pasien panas tinggi

Meningen

DO :

Peningkatan produksi
TTV
Suhu

meningkat

CSF

39,50C
Nadi

dengan kehilangan

ditandai dengan
mukosa kulit kering
dan turgor kulit
kembali 3 detik

meningkat

Peningkatan lingkar
kepala

120x/menit
Pernapasan
meningkat

22x/menit

Mukosa kulit kering

Turgor
detik

berhubungan

cairan aktif

sejak 4 hari yang lalu

Kekurangan

kembali

Peningkatan Tekanan
Intra Kranial

Respon panas
terhadap inflamasi

Mukosa kulit kering


dan turgor kulit
kembali 3 detik

Kekurangan cairan

b. Daftar Prioritas Diagnosa Keperawatan

1) Resiko

ketidakefektifan

perfusi

jaringan

otak

berhubungan

penurunan sirkulasi jaringan otak ditandai dengan letargi dan sakit


kepala
2) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan
aktif ditandai dengan mukosa kulit kering dan turgor kulit kembali 3
detik
3) Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit yang ditandai

dengan suhu tinggi dan kulit teraba hangat


c. Rencana Keperawatan
1) Diagnosa Keperawatan No. 1 Resiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan
Otak

Tujuan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam,


diharapkan didapatkan skor 4 pada indikator NOC

Kriteria Hasil
-

Mendemostrasikan status sirkulasi yang ditandai dengan :

Tekanan systole dan diastole dalam rentang yang


diharapkan

Tidak

ada

tanda-tanda

peningkatan

tekanan

intrakranial (tidak lebih dari 15 mmHg)


-

Mendemostrasikan kemampuan kognitif yang ditandai


dengan :

Berkomunikasi dengan jelas dan sesuai dengan


kemampuan

Menunjukkan perhatian, konsentrasi dan orientasi

Memproses informasi

Membuat keputusan dengan benar

Menunjukkan fungsi sensori motori cranial yang utuh :


tingkat kesadaran membaik, tidak ada gerakan-gerakan
involunter.

NOC

: Tissue Perfusion : Cerebral

No.

Indikator

1.

Tekanan intrakranial

2.

Sakit kepala

3.

Demam

4.

Kemampuan kognitif lemah

5.

Penurunan kesadaran

5.

Reflek neurologi lemah

Keterangan penilaian :

1.

Tidak pernah terdemonstrasikan

2.

Jarang terdemonstrasikan

3.

Biasa terdemonstrasikan

4.

Sering terdemonstrasikan

5.

Konsisten terdemonstrasikan

Intervensi NIC : Intrakranial Pressure (ICP) Monitoring


1. Berikan informasi kepada keluarga
2. Monitor tekanan perfusi serebral
3. Catat respon pasien terhadap stimuli
4. Monitor tekanan intrakranial pasien dan respon neurologi
terhadap aktivitas
5. Monitor jumlah drainage cairan serebrospinal
6. Monitor intake dan output cairan
7. Monitor suhu dan angka WBC
8. Kolaborasi pemberian antibiotik
9. Minimalkan stimuli dari lingkungan vfvcf

2) Diagnosa Keperawatn No. 2 Kekurangan Volume Cairan

Tujuan

Setelah dilakukan perawatan selama 2 x 24 jam diharapkan


tercapainya keseimbangan cairan

Kriteria Hasil

RR, nadi, dan suhu dalam batas normal

Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit


baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang
berlebihan

NOC

: Fluid Balance

No

Indikator

Nadi

Keseimbangan masukan dan keluaran

cairan 24 jam
3

Turgor kulit

Kelembapan membran mukosa

Keterangan :
1. Mengancam
2. Berbahaya
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidakmengancam

NIC

: Fluid Management

1. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat


2. Monitor status hidrasi (kelembapan membran mukosa, nadi
adekuat, tekanan darah ortostatik), jika diperlukan
3. Monitor vital sign
4. Monitor status nutrisi
5. Dorong masukan oral
3) Diagnosa keperawatan No. 3 Hipertermi

Tujuan

Setelah dilakukan perawatan 2 x 24 jam, tercapai skor 4 pada


indikator NOC

No.

Kriteria hasil

Suhu tubuh dalam rentang normal

Nadi dan RR dalam rentang normal

Tidak ada pusing

NOC : Thermoregulation
Indikator

1.

Nadi

2.

Respiratory rate

3.

Peningkatan

temperatur

kulit
4.

Sakit kepala

Keterangan penilaian :
1. Parah

4. Ringan

2. Berat

5. Tidak ada keluhan

3. Sedang

Intervensi NIC : Temperature Regulation


1.

Monitor suhu minimal tiap 2 jam

2.

Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu

3.

Monitor TD, nadi, dan RR

4.

Monitor warna dan suhu kulit

5.

Monitor tanda-tanda hipertermi

6.

Tingkatkan intake cairan dan nutrisi

7.

Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas

8.

Berikan antipiretik jika perlu