Anda di halaman 1dari 57

Pestisida Pertanian

(Bagian fungisida)
Fakultas Pertanian Universitas Jember

BAGIAN FUNGISIDA

CAKUPAN DAN PENGERTIAN FUNGISIDA

JENIS JENIS FUNGISIDA

MODE OF ACTION FUNGISIDA

FUNGISIDA KONTAK DAN SISTEMIK

TERJADINYA RESISTENSI PATOGEN

PENDAHULUAN

Pest = hama , sida= caedo= pembunuh


Fungus : Jamur, Caedo : membunuh
Pengendalian vektor secara kimia
FAO 1986 & PP RI No. 7, 1973
Campuran bahan kimia yang digunakan untuk mencegah,
membasmi dan mengendalikakn hewan/tumbuhan
pengganggu seperti binatang pengerat, termasuk serangga
penyebar penyakit, dengan tujuan kesejahteraan manusia

PP RI No. 6, 1995
Zat atau senyawa kimia, zat pengatur tubuh dan perangsang
tumbuh, bahan lain, serta mikroorganisme atau virus yang
digunakan untuk perlindungan

US EPA
Zat atau campuran zat yang digunakan untuk mencegah,
memusnahkan, menolak atau memusuhi hama dalam bentuk
hewan, tanaman dan mikroorganisme pengganggu

SYARAT PESTISIDA

Membunuh dgn cepat (efektif dan efisien)


Tidak membahayakan binatang bertulang
belakang
Murah dan mudah diperoleh di pasaran
Menguntungkan dalam pemakaian yg luas
Susunan kimia stabil (mempunyai residual efek)
Selektif
Tidak mudah terbakar
Mudah disiapkan
Tidak merusak barang
Bersih
Tidak mengeluarkan bau yang taidak menyenangkan

1)

Kebanyakan dari fungisida digunakan untuk


mengatasi penyakit daun dan bagianbagian tanaman lainnya di atas tanah.

2)

mendesinfestasi dan melindungi benih atau


umbi dari serangan patogen.

3)

Beberapa fungisida dapat digunakan untuk


mendesinfestasi tanah atau tempat
penyimpanan untuk melindungi luka, dan
sebagainya.

Pada waktu sekarang telah diketahui beberapa


macam fungisida yang mempunyai sifat
terapetik atau eradikatif dan beberapa
diantaranya dapat diabsorpsi oleh bagian dari
tanaman dari tanaman dan secara sistematik
ditranslokasikan ke tempat lain.

Klasifikasi pestisida berdasarkan


organisme sasaran - 1
Gangguan pada
tanaman

abiotik

1.
2.
3.
4.

Struktur tanah
Kesuburan tanah
Kekurangan unsur hara
Pencemaran air, udara

biotik

1. Hama (serangga, tungau, hewan


menyusui, dan moluska)
2. Penyakit (jamur, bakteri, virus dan
nematoda)
3. Gulma
Bisa dikendalikan dengan pestisida

Klasifikasi pestisida berdasarkan


organisme sasaran - 2
1.

Insektisida : mengendalikan hama

2.

Akarisida : mengendalikan tungau

3.

Moluskisida : mengendalikan hama dari bangsa siput (moluska)

4.

Rodentisida : mengendalikan hewan pengerat / tikus

5.

Nematisida : mengendalikan nematode

6.

Fungisida : mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan


oleh jamur/fungi

7.

Bakterisida : mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan


oleh bakteri

8.

Herbisida : mengendalikan gulma

Dsb.

KLASIFIKASI PESTISIDA

Berdasarkan organisme target


Insektisida

: bunuh/kendali serangga

Herbisida

: bunuh gulma

Fungisida

: bunuh jamur/cendawan

Algasida

: bunuh alga

Avisida

: bunuh/kontrol pop burung

Akarisida

: bunuh tungau/kutu/pinjal/caplak

Bakterisida
Larvasida
Molusksisida

: bunuh bakteri
: bunuh larva
: bunuh siput

KLASIFIKASI PESTISIDA

Berdasarkan organisme target (lanjutan)


Nematisida

: bunuh cacing

Ovisida

: bunuh telur

Pedukulisida

: bunuh kutu/tuma

Piscisida
Rodentisida

: bunuh ikan
: bunuh binatang pengerat

Predisida

: bunuh pemangsa/predator

Termisida

: bunuh rayap

Metisida

: bunuh tengu/caplak (mites)

Defoliant

: bunuh parasit tanaman

KLASIFIKASI PESTISIDA

Berdasarkan organisme target (lanjutan)


Repellent

: penolak serangga

Attractant

: penarik serangga

Dessicant

: penyerap air

Anti

transparant : pembalut daun agar tak


kehilangan air

Plant

growth regulator: pengatur


pertumbuhan tanaman

Dampak penggunaan pestisida


pertanian
Dampak bagi
keselamatan
pengguna
1. Keracunan
2. Gangguan
penyakit

Dampak bagi
konsumen

Dampak bagi
kelestarian lingkungan

Dampak Sosial
Ekonomi

1. Keracunan kronis
yang tidak segera
terasa
2. Keracunan akut
ketika
mengkonsumsi
produk yang
mengandung
residu pestisida

1. Lingkungan
tercemar
2. Terbunuhnya
organisme non
target
(terbunuhnya
musuh alami dari
hama)
3. Resistensi OPT
4. Resurjensi OPT
5. Muncul hama baru

1. Biaya produksi
tinggi
2. Proses
perdagangan
terhambat karena
residu pestisida
tinggi

Penamaan Pestisida
Struktur kimia dari
bahan aktif pestisida
Nama Kimia

Nama yang mudah


diingat dan dimengerti
Cap/merk dagang
Nama Umum

Nama Dagang

Manganeseethylenebis (dithiocarbamate)

Maneb

Pilaram 80 WP
Rhonep 80 WP
Sarineb 90 WP
Phycozan 90 WP

3-(3,4-dichlorophenyl) 1,1-dimethylurea

Duron

Bimaron 80 WP
Gulmaron 500 EC

0-(,4-bromo-2chlorophenyl
0-ethyl-s-propyl
phosporodhitioate

Profenofos

Deltracon EC
Profile EC
Curacon EC

Endotoksin dari Bacillus thuringiensis

Bacillus
thuringiensis

Bacilin WP
Thuricide HP
Bactospein ULV

FORMULASI PESTISIDA

Pencampuran bahan aktif (active inggrideinet)


dengan bahan pembawa (inert carrier) =
formulasi insektisida

Beberapa formulasi dpt digunakan langsung


atau dicampur dg air/minyak

Formulasi Pestisida

Bahan aktif

Bahan aktif
merupakan senyawa
kimia/bahan lain
yang memiliki efek
sbg pestisida.
Bisa berbentuk
padat, cair dan gas

Bahan pembantu
Solvent/bahan pelarut :
alcohol, produk minyak
bumi
Emulsifier/bahan pembuat
emulsi
Diluent/bahan pembasah
atau pengencer
Synergist/bahan untuk
meningkatkan efikasi
pestisida
Bahan perekat

Bahan pembawa

Bahan pembawa
digunakan untuk
menurunkan
konsentrasi
produk pestisida
Bisa berupa air,
minyak, talk, dsb
sesuai dengan
cara
penggunaan

Kode Formulasi Pestisida


1.

Emulsifiable Concentrate/ Emulsible Conentrate (EC) : sediaan berbentuk


pekatan cair dengan kandungan bahan aktif tinggi, menggunakan solvent
berbasis minyak, apabila dicampur air akan membentuk emulsi (butiran
benda cair yg melayang dalam media cair lainnya)

2.

Soluble Liquid (SL) : pekatan cair jika dicampur air membentuk larutan

3.

Wettable Powder (WP) : sediaan berbentuk tepung dengan bahan aktif


tinggi jika dicampur air membentuk suspense

4.

Soluble Powder (S atau SP) : formulasi berbentuk tepung bila dicampur air
membentuk laturan homoge

5.

Butiran (Granule, G) : sediaan siap pakai dengan bahan aktif rendah

6.

Dsb.

FORMULASI CAIR

Emulsi

Solution (larutan)

Konsentrasi

tinggi

Konsentrasi

Rendah

Suspension (minyak)

Flowable

solids (aliran)

Sering

menyebabkan nozzletip (pipa semprot


tersumbat)

Perlu

pengocokan terus menerus

FORMULASI CAIR

Aerosol
Non irritant, tdk berbau tak sedap, tdk ada
residu berbahaya, tdk mudah terbakar, tdk
keracunan utk pemberian berulang, spektrum
luas, mudah menyebar keseluruh ruang
Aturan aerosol meliputi:
Formulasi, container: jenis, bentuk, isi, kecepatan
semprotan, ukuran partikel aerosol yg dihasilkan,
tdk mudah terbakar, tdk berpengaruh buruk thd
barang lain, acceptable biological performance
standard
Standar formulasi (Standars Reference Aerosol) WHO

FORMULASI CAIR

Liquid Gases (gas yg dicairkan)

Disemprotkan

pada tekanan tertentu

Dijumpai

pada fumigant

Dikemas

dlm tabung

Digunakan

untuk:

Disemprotkan di ruangan

Disuntikkan ke dlm tanah

Disemprotkan pada tumpukan, gudang dll

FORMULASI KERING

Bahan debu (dust)


mengandung:

Bahan

aktif 1 10%

Bahan

pembawa (inert carrier)

Granula (Granules)
Partikel
Bahan

lebih besar dari debu

aktif 2 40%

Wettable Powder
Sgt

halus dan mudah larut dalam air

Bahan

aktif 15 65%

FORMULASI KERING

Soluable Powder

Bentuk

kering, digunakan dengan melarutkan

Bahan

aktif 50%

dlm air

Umpan (Baits)

Bentuk

dapat dicerna/dimakan

Bahan

aktif 5%

FORMULASI PESTISIDA
Technical
Grade

Solvent

Emulsifier

Solution
Emulsifiable Concentrate (E.C.)
Emulsion
Catatan:
Solvent
Emulsifier

: Bubuk-bubuk padat
: = Surfactant : zat yg menurunkan tekanan permukaan air
dan titik-titik minyak

Water/
Solvent

FORMULASI PESTISIDA
Technical
Grade

Inert
Carrier

Wetting
Agent

Water

Debu Racun Srg /


Granulated Insecticide
Wettable (Dispersible) Powder
Suspensi
Catatan:
Inert Carrier
Wetting agent

: Bubuk-bubuk padat (talk, debu, tanah merah=clay,


debu vulkanik)
: Pencampur agar lapisan tipis & rata
(spreading agent)

KLASIFIKASI PESTISIDA

Berdasarkan komposisi kimia

Insektisida

Anorganik
Insektisida Organik

Organik Alami (Botanical)

Organik Sintetis

Chlorinated Hydrocarbon Insecticide (CHI)

Organophosporus Insecticide (OPI)

Carbamat

Thyocyanate

Minyak Bumi

Pyretroid Sintetis

Anorganik

Organik

Cryolit
Belerang
Arsinikel (Sodium arsenit)
Fluoride (Sodium Fluoride)

Chlorinated Hydrocarbon
Insecticide (CHI)
= organoklorin
Dieldrin
Lindane
Aldrin
Heptaklor
Klordan
Endosulfan
Chlorobenzilate
Dilan
DDT (Dichloro Diphenyl
Trichloroethane)

Organophosporus
Insecticide (OPI)
= organofosfat
Parathion
Diazonin
Fenthion
Fenithrotion
Malathion
Abate
Trichlorfon
Dichlorfos
Asephate
Chlorpyrifos

Sintetis

Alami
Nikotin
Phyretrum
Deris
Kampher
Saba Ddilla

Carbamat
Sevin
Pyrolan
Isolan
dimethilan
Propoxur
Baygon
Carbofuran
Carbaryl
Pirimicarb
Phenithiazine

Thiocyanate

Minyak Bumi

Lethane
Lauryl
thiocyanate
Thanite

Kerosine
Solar
Oli
Bensin
Parafin
Tir

Piretroid Sintetis
Fenvolerate
Deltamethrin
Cyphenothrin
Tetramethrin

Klasifikasi kimiawi pestisida


a.

Fungisida Biologis

b.

Fungisida multi-site Inhibitor

c.

Fungisida monosite inhibitor (Antibiotik)

d.

Fungisida Mono-site Inhibitor (Organik Sintetik)

DIGUNAKAN SENYAWA KIMIA UNTUK PENANGGULANGAN


PENYAKIT
BERBAGAI MACAM FUNGISIDA
1.SENYAWA TEMBAGA
2.SENYAWA BELERANG
3. SENYAWA MERKURI
4. QUINONE
5. SENYAWA BENZENA
6. SENYAWA HETEROSIKLIK
7. ANTIBIOTIKA

PERKEMBANGAN FUNGISIDA
1.
2.

Generasi I : Fungisida an organik golongan logam berat (S dan


Cu )
Generasi ll : Organik belerang dan cl

3.

Generasi lll : Generasi sistemik, Translokasi ke atas, ( apoplastik )


ex. Oksatiin

4.

Generasi lV : Sistemik ambimobil , apoplastik dan symplastik. Ex.


Asilalanin

Fungisida Cu ( tembaga ) :
Cu So4 + Ca( OH)2 = Bubur Burdeaux

CuSo4 + NaCO3

= Bubur Burgundy

CuSo4 + NH4CO3

= Bubur Chesunt

Terusi Bersifat asam, toksik pada banyak jamur namun juga


bersifat Fitotoksik, maka perlu ditambah kapur ( basa ).
Kelemahan : Korosi pada alat, Tidak dapat disimpan,
Lubang nozle buntu, mengendap pada daun sehingga
kurang disuka konsumen

MENGAPA CU DAPAT DIPAKAI


SEBAGAI FUNGISIDA
1.

Sebagai
logam
berat
Punya
daya
oligodinamik, dan menyebabkan koagulasi
protoplas patogen

2.

Sebagai Kation CU , bereaksi dengan gugus


SH dari asam amino dan ensim dari jamur.
Akibatnya adalah :
a. Denaturasi protein
b. Permeabilitas membran sel terganggu

c. Pertumbuhan jamur terhambat

FUNGISIDA BELERANG ( S)
Belerang ( S) + Kapur = Bubur kalifornia
Digunakan bukan karena lebih toksik, tetapi
fitotoksiknya lebih rendah dari pada logam
berat ( CU).
Mekanisme kerja Sulfur, Berpengaruh pada
transpot elektron sepanjang sitokrom dan
kemudian direduksi menjadi Hidrogen sulfida
(H2S). Ini yang toksik pada protein patogen
Kekurangan : dapat merusakalat, dan bahaya
ke mata

FUNGISIDA ORGANIK ( ll)

An organik dianggap kurang manjur

Fungisida organik memiliki beberapa kelebihan , yaitu :

Dosis

efektifnya relatif rendah

Fitotoksiknya
Lebih

lebih rendah

aman terhadap lingkungan

Senyawa Belerang (S)

terbanyak adalah golongan Fungisida Karbamat

Turunan Fungisida karbamat meliputi :


Ferbam

Tiram
Ziram
Nabam

Zineb
Maneb
Mankozeb

Mekanisme karbamat : Gugus C=S ditiokarbamat oleh jamur diubah menjadi


isotiosianat ( N=C=S), dan senyawa ini akan menginaktifasi gugus SH asam amaino
pada jamur.

Senyawa Clor (cl)

Dapat menghambat NH2 dan SH pada asam amina jamur.

Beberapa keturunanya adalah :

PCNB
Klorotalonil
Kaptan
Folfet
Kaptafol

Sifat dan Cara Kerja


Berdasarkan Efek :
a. Memiliki efek fungistatik
b. Memiliki efek fungitoksik
c. Antisporulan

Sifat fungisida
Berdasarkan Cara Kerja :
a. Fungisida non-sistemik
b. Fungisida sistemik
c. Fungisida sistemik lokal

Berdasarkan Waktu Aplikasi :


a. Fungisida preventif atau protektif
b. Fungisida Kuratif
c. Fungisida Eradikatif
d. Penghambat Sporulasi

MACAM FUNGISIDA BERDSARKAN CARA


KERJANYA
1.

Kontak, yaitu fungisida yang bekerja hanya


pada tempat dimana terjadi kontak antara
obyek sasaran dengan fungisida

2.

Sistemik, yaitu fungisida yang dapat masuk


dalam tanaman, sehingga dapat membunuh
patogen sasaran yang berada dalam inang.

FUNGISIDA SISTEMIK ( lll)

Dapat masuk dalam badan tumbuhan sehingga dapat


membunuhpatogen walaupun tidak langsung bersentuhan

Golongan Oksatiin : Hanya terangkut keatas lewat xilem

Golongan Asilalanin : Dapat terangkut keatas dan kebawah

Golongan Benzimidazol : Benomil, Karbendazim, tiabendazol, tiofanat

Golongan Fosfat organik : Fasetil Al

Golongan Pirimidin

Golongan Triazol

Hampir semua fungisida sistemik berperan dalam menghambat satu


atau beberapa langkah yang spesifik dalam metabolisme patogen.
Akibatnya setelah dipakai beberapa tahun akan dapat muncul strain
baru patogen. Fungisida memberikan tekanan seleksi sehingga
patogen resisten

Misalnya : Benomil akan dapat menghambat pembelahan inti, oksatin


menghambat suksinat hidrogenase, yaitu ensim pada proses respirasi
mitokondria.

Fasetil Al dismping berfungsi untuk fungisida , juga dapat berfungsi


meningkatkan ketahanan tanaman, melalui (1) Mengubah sel dinding
inang, (2) Membatasi koensim esensial pada inang, (3) Merubah laju
dan arah metabolisme ke pemben. Fitoaleksin.

Fungisida Sistemik.... lanjutan

Keuntungan pestisida sistemik : Diserap dalam jaringan


melalui proses difusi, ditranlokasi secara ambimobil,
dapat mecapai sasaran walau tidak terjadi kontak,
memberikan efek perlindungan dan eradikasi, dan tidak
muda tercuci dan Tidak mudah menguap.

Kelemahannya: Residu pada material pertanian,


sepektrumnya sempit, dan memberikan tekanan seleksi
akibat terlalu spesifik dalm mekanisme
penghambatannya, sehingga mudah terjadi resistensi
dengan membbentuk strain baru.

Mode of Action Fungisida

Pengintervensi Sintesis Asam Nukleat

Penghambat Mitosis dan Pembelahan Sel

Penghambat Respirasi Sel

Penghambat sintesis asam amino dan protein

Pentransduksi sinyal

Penghambat sintesis lipida dan membrane sel

Penghambat biosintesis sterol

Pengintervensi sintesis glukan dan dinding sel

Penghambat sintesis melanin

Penginduksi pertahanan tanaman inang

Langkah-langkah menekan residu


pestida

Menggunakan pestisida jika benar-benar diperlukan

Menghindari penggunaan pestisida sistemik menjelang


panen

Melakukan pengendalian hama terpadu (PHT)

Mentaati masa tunggu (holding period, preharvest


interval, PHI)

Resistensi OPT terhadap


Pestisida
a. Resistensi serangga

1. Faktor genetic
2. Faktor biologi dan
ekologi serangga
3. Faktor operasional

1. Berkurangnya permeabilitas membrane sel

b. Resistensi jamur (Cendawan)

Example : hawar daun


Phytopthora infestan
pada kentang terhadap
fungisida fenilamid (Brent,
1995)

2. Meningkatnya kemampuan cendawan


mendetokfikasi fungisida
3. Cendawan mengubah proses metabolism
sebagai reaksi terhadap fungisida
4. Cendawan memproduksi lebih banyak enzim
yang dihambat oleh pestisida

Mekanisme Resistensi patogen terhadap


penggunaan fungisida sistemik

Mekanisme Genetik
2. Mekanisme Biokimiawi
1.

Mekanisme Genetik
1.

Adaptasi fenotipik : akibat penggunaan terus


menerus, sub letal, tidak mantap dan muda
peka kembali, tidak terlalu masalah dilapang.

2.

Ketahanan Ekstra kromosomal ( sitoplasmik) :


pengaruh pada sistem mitokondria, sintesis
protein, tranpot elektron, fosforilasi oksidatif.

3.

Ketahanan kromosomal :Pengaruh terhadap


gen pada kromosom

Mekanisme Biokimiawi
1.

Modifikasi terhadap site peka : Pengurangan terhadap


afinitas pada site of action sebab perubahan susunan
ribosom

2.

Pemintasan jalur alternatif/ sirkumvensi ( By pass dari


site yang terhalang)

3.

Pengurangan terhdap permeabilitas membran sel

4.

Detoksifikasi ( Penawaran senyawa toksin )

5.

Pengurangan daya konversi : pengurangan daya


patogen untuk mengubah menjadi toksik sehingga
senyawa tidak toksik

6.

Kompensasi : Peningkatan produksi ensim yang telah


terhambat oleh fungisida.

RESISTENSI SILANG ( CROSS RESISTANCE)

Ketahanan jamur terhadap senyawa yang mempunyai mode of action yang sama

Karena perubahan genetik

Penting untuk pertimbangan apabila mengganti fungisida lain atau mau


mencampur fungisida

CARA MENANGGULANGI RESISTENSI

1.

Penggunaan fungisida secara tepat

2.

Apabila terpaksa menggunakan sistemik maka perlu


langkah :
a. Tidak menggunakan yg berdaya sangat spesifik
b. Tidak menggunakan satu jenis secara terus menerus
c. Menggunakan yang memiliki of action berbeda secara
selang seling
d. Untuk membunuh strain baru : perlu aplikasi yang kontak

3.

Pemantauan terhadap timbulnya strain yang tahan

Penggunaan pestisida
a. Hubungan antara Pestisida
Pertanian dan OPT
Sasarannya
1. Kesesuaian antara
pestisida dan sasaran
biologi
2. Kepekaan sasaran

b. Faktor teknik
Penggunaan atau
Teknik Aplikasi
Pestisida
1. Waktu yang tepat
2. Takaran aplikasi
3. Cara atau metode
aplikasi

c. Syarat Keberhasilan
Pengendalian
1. Pestisida tepat sasaran
untuk OPT
2. OPT sasaran masih
peka terhadap
pestisida
3. Pestisida yang
diaplikasin sesuai
teknik yang benar

KAPAN FUNGISIDA DI GUNAKAN

Terjadwal ?

Ambang ekonomi ?

Ambang Potensial ( Potensi terjadinya penyakit


yang didasarkan pada segitiga penyakit ).

Apabila kondisi mendukung, dapat dilakukan


penyemprotan preventif, sebaliknya menunggu
sampai terjadinya penyakit sering terlamabat.

Mengapa?

Cara Penanggulangan Penyakit


dengan Fungisida

1.1. Penyemprotan dan penghembusan pada daun


Hingga sekarang fungisida yang dipergunakan untuk
penyemprotan atau penghembusan pada daun biasanya
ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi dan mematikan
patogen yang telah mengadakan infeksi. Kebanyakan dari
fungisida dan bakterisida sudah harus berada pada permukaan
tanaman sebelum patogen datang menyerang sehingga dengan
demikian dapat mencegah terjadinya infeksi. Dengan adanya
fungisida tersebut, maka perkecambahan spora dapat dicegah
atau sekaligus dapat dibunuhnya. Begitu pula bakterisida dapat
menghalangi bakteri untuk memperbanyak diri atau
membunuhnya

1.2.

Perlakuan benih

Biji, umbi dan sebagainya biasanya diberi senyawa kimia untuk


mencegah pembusukan sesudah ditanam.
Pembusukan ini terjadi karena serangan patogen yang terbawa
oleh benih atau yang berada dalam tanah di mana benih
tersebut di tanam.
Fungisida ini berupa tepung (WP), sebagai larutan yang encer
atau pekat. Diusahakan agar senyawa tersebut dapat melekat
pada permukaan benih sehingga dapat melindungi benih dari
serangan patogen yang terdapat dalam benih.
Jika benih tersebut ditanam, maka senyawa kimia akan terdifusi
ke dalam tanah dan mendesinfestasi tanah sekeliling benih
sehingga kecambahnya yang masih dalam keadaan rentan
dapat terhindar dari serangan patogen.

1.3.

Perlakuan pada tanah

Untuk membebaskan tanah dari berbagai jasad renik termasuk


jasad yang patogenik
injeksi tanah sedalam 10-15 cm .
fumigasi dengan fungisida yang mudah menguap
sehingga diperlukan penutup tanah dari plastik.
dilakukan beberapa hari atau beberapa minggu sebelum
tanam
zat imia yang banyak dipergunakan ialah chloropocrin,
methylbromide, ethylene bromide (EDB), dichloropropene
dichloropropane (D_D), Mylone, Nemagon, Vapam dan
sebagainya.

1.4. Perlakuan terhadap luka


Bagian-bagian tanaman yang telah dipangkas atau
dipotong perlu dilindungiterhadap kekeringan dan
berbagai parasit luka. Zat kimia yang dipergunakan
untuk menutup luka sebaiknya juga bersifat sebagai
fungisida dan merangsang pembentukan kalus

Mencegah penyakit pada hasil-hasil


pertanian dalam penyimpanan

Senyawa kimia untuk keperluan ini selainnya harus melindungi hasil


pertanian dari serangan patogen juga harus tidak bersifat merusak
pada buah-buahan, sayur-sayuran dan sebagainya dan tidak pula
merupakan racun bagi konsumen. Pada waktu sekarang telah
diketemukan berbagai macam zat kimia untuk maksud tersebut.

Perlakuan ini dilakukan segera sesudah panen atau sebelum


disimpan dengan cara pencelupan ke dalam larutan zat kimia
yang encer. Selain itu dapat pula diberikan sebagai gas SO2 atau
dengan pemakaian kertas pembungkus atau kotak-kotak yang
diimpregnasi dengan senyawa kimia tertentu.

Mendesinfestasi OPT dalam


penyimpanan

Untuk mencegah adanya infeksi dari patogen yang berasal dari


buah, sayuran dan sebagainya yang disimpan pada waktu
sebelumnya,

maka ruangan tersebut harus dibersihkan sebelumnya dari segala


macam kotoran dan sisa-sisa tanaman dan kemudian dicuci
dengan larutan fungisida antara lain larutan sulfat tembaga dan
formaldehid.

Untuk ruangan yang dapat ditutup rapat, maka seringkali


digunakan senyawa kimia yang dapat menguap, seperti
chloropicrin, gas formaldehid dan sebagainya.

Aspek Keselamatan dalam


Penggunaan Pestisida