Anda di halaman 1dari 16

KEBUTUHAN DAN

KELEBIHAN LEMAK
KELOMPOK 11 :
RIRIN ANDRIANI
RISSA KHAIRUNNISA

SKENARIO
Tn A, usia 27 tahun, didiagnosis dokter obesitas, dengan berat badan
115 kg. Kebiasaan makan senang mengonsumsi makanan yang
digoreng. Setiap pagi dan menjelang tidur selalu mengonsumsi
nasi/mie goreng dengan telur diceplok minyak. Sebagai makanan
selingan sangat menyenangi bakwan. Setiap sore selalu membeli
gorengan seharga 10.000 rupiah dan selalu dihabiskan sendiri. Jika
dihitung proporsi lemak tn A mencapai 45% total energi.

LEMAK DI DALAM TUBUH


Lemak di dalam tubuh dibedakan atas lemak yang merupakan bagian sel,
lemak yang merupakan simpanan energi dan lemak metabolik. Lemak yang
merupakan bagian sel berfungsi memperkuat sel terutama sebagai bagian membran
sel. Fosfolipida merupakan bagian terbesar lemak pada membran sel.
Lemak yang merupakan simpanan energi berbentuk trigliserida, kebanyakan
berupa lemak jenuh dan lemak tak jenuh tunggal. Jenis lemak dalam makanan
sehari-hari mempengaruhi susunan lemak simpanan. Simpanan energi di dalam
tubuh berbentuk lemak karena lemak dapat menyimpan energi lebih dari dua kali
energi di dalam karbohidrat sehingga memerlukan tempat yang lebih kecil.
Lemak yang merupakan simpanan energi berupa jaringan lemak.Sebagian
jaringan lemak berupa lemak putih seperti yang terdapat di bawah kulit dan sekitar
organ. Lemak tubuh yang mengandung lebih banyak darah tampak kecokelatan dan
hanya terdapat di bagian tertentu tubuh, misalnya punggung bagian atas pada bayi.
Lemak simpanan kecolekatan ini digunakan untuk mempertahankan suhu normal
tubuh pada bayi.

Lemak metabolik merupakan lemak yang mengalami perubahan


metabolik, menghasilkan zat khusus yang mempunyai arti penting secara
hayati maupun gizi. Pelepasan energi yang terdapat di dalam lemak simpanan
didahului oleh perubahan lemak itu ke dalam bentuk metabolik yang dapat
diuraikan. Contoh lain kolesterol, yang mengalami perubahan di dalam kelenjar
adrenal (anak ginjal) menjadi berbagai hormon steroid. Di dalam hati kolesterol
diubah menjadi asam-asam empedu yang digunakan dalam pencernaan lemak
yang tidak larut di dalam air,sedangkan sebagian besar bagian tubuh misalnya
darah, terdiri atas air. Karena itu pengangkutan lemak melalui darah terjadi
dengan bantuan protein. Lemak diikat oleh protein menjadi lipoprotein.

Lemak simpanan tidak hanya berasal dari lemak makanan tetapi juga dari
karbohidrat dan protein yang diubah menjadi lemak di dalam tubuh. Selama
peredaran di dalam darah, lipoprotein dapat membawa kolesterol. Lipoprotein
berdensitas rendah (low density lipoprotein) mengangkut kolesterol dari hati ke
sel. Lipoprotein berdensitas tinggi (high density lipoprotein) mengangkut
kolesterol dari sel ke hati.

KEBUTUHAN LEMAK
Tubuh manusia membutuhkan lemak sejak masa janin. Pada
masa itu terjadi pertumbuhan dan perkembangan otak yang sangat
pesat. Masa penting perkembangan otak ialah pada pembelahan sel
dini, yaitu pada waktu janin mendapat makanan dari plasenta 70% sel
otak membelah selama masa pertumbuhan janin. Pada awal
pembentukan otak kandungan lipida di dalam otak meningkat karena
lipida merupakan bagian dari lembaran sel otak. Sekitar 50% bobot
kering otak terdiri atas lipida dan 50% lipida itu terdiri atas asam
lemak tak jenuh majemuk berantai panjang. Lipida juga merupakan
bagian utama jaringan saraf.

Kebutuhan lemak untuk digunakan sebagai bagian membran sel


berlangsung terus. Selanjutnya lemak dari makanan dibutuhkan tubuh
sebagai sumber energi dan zat gizi esensial yaitu asam lemak
esensial dan sebagai sumber vitamin larut dalam lemak, yaitu vitamin
A, D, E, dan K.
Agar konsumsi lemak dapat bermanfaat positif bagi tubuh
manusia perlu strategi yang tepat pada pemilihan jenis lemak.
Pedoman umum agar makanan yang dikonsumsi mengandung zat
gizi yang diperlukan oleh tubuh, adalah dengan mempertimbangkan
kecukupan, keseimbangan, dan keragaman zat masing-masing
individu. Dapat dengan meningkatkan jumlah vitamin D serta lemak
yang dibutuhkan untuk tubuh, itu juga ditemukan pada ikan salmon,
ikan sarden, dan minyak ikan cod.

Menjelang tidur suka


makan yang
mengandung
karbohidrat & lemak

Terlalu banyak
makan makanan
yang mengandung
lemak

Kurang
mengkonsumsi buah
dan sayur

Faktor genetik

Pola makan tidak


teratur dan porsi
terlalu banyak

OBESITAS

Faktor lingkungan

Jarang olahraga

Suka makan junk food


dan fast food yang
berlebihan

Faktor psikis

KELEBIHAN LEMAK
Obesitas
Obesitas merupakan kelebihan berat badan akibat terjadinya
penumpukan sel-sel lemak. Awalnya, hanya akan merasa
bahwa berat badan naik. Namun, saat sel-sel lemak yang
tertimbun semakin banyak, maka akan terjadi perubahan
anatomis. Pada pria, penumpukan sel lemak biasanya
terdapat di bagian perut. Rata-rata wanita memiliki lemak
tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria.

Kegemukan (overweight) adalah suatu keadaan kelebihan berat badan


10% di atas berat badan ideal atau jumlah persentase lemak tubuh melebihi
20% untuk pria dan 25% untuk wanita. Kelebihan berat badan di atas 25%
dari berat badan ideal disebut obesitas.
Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu :

Obesitas ringan : kelebihan berat badan 10 - 40%


Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41 - 100%
Obesitas berat : kelebihan berat badan >100%.
Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% diantara orang-orang yang gemuk.

Seseorang yang lemaknya banyak tertimbun di perut, lebih mudah


mengalami berbagai masalah kesehatan yang berhubungan dengan
obesitas. Mereka memiliki resiko yang lebih tinggi.

Faktor-faktor Penyebab Obesitas

Faktor genetik ; obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab


genetik. Tetapi anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan
kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong terjadinya obesitas. Seringkali sulit
untuk memisahkan faktor gaya hidup dengan faktor genetik. Penelitian terbaru
menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33 %
terhadap berat badan seseorang.

Faktor lingkungan ; gen merupakan faktor yang penting dalam berbagai kasus
obesitas, tetapi lingkungan seseorang juga memegang peranan yang cukup berarti.
Lingkungan ini termasuk perilaku gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan
berapa kali seseorang makan serta bagaimana aktivitasnya). Seseorang tentu saja
tidak dapat merubah pola genetiknya, tetapi dia dapat merubah pola makan dan
aktivitasnya.

Faktor psikis ; apa yang ada di dalam fikiran seseorang bisa mempengaruhi
kebiasaan makannya. Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya
dengan makan. Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang
negatif. Gangguan ini merupakan masalah yang serius pada banyak wanita muda
yang menderita obesitas, dan bisa menimbulkan kesadaran yang berlebihan
tentang kegemukannya serta rasa tidak nyaman dalam pergaulan sosial.

Obesitas bukan hanya tidak enak dipandang mata tetapi merupakan dilema kesehatan
yang mengerikan. Obesitas secara langsung berbahaya bagi kesehatan seseorang.
Obesitas juga meningkatkan resiko terjadinya sejumlah penyakit menahun seperti :

Diabetes Melitus tipe 2

Sindroma pickwickian (obesitas disertai wajah kemerahan, underventilasi dan ngantuk)

Tekanan darah tinggi (hipertensi)


Stroke
Serangan jantung (infark miokardium)
Gagal jantung
Kanker (jenis kanker tertentu, misalnya kanker prostat dan kanker usus besar)
Batu kandung empedu dan batu kandung kemih

Gangguan lemak darah (Dislipidemia)


Osteoartritis
Tidur apnea (kegagalan untuk bernafas secara normal ketika sedang tidur,
menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah)

Asam urat (Gout) dan artritis gout

Selain terjadi resiko penyakit menahun atau berkepanjangan pada penderita


obesitas, ada resiko lainnya seperti :

Kematian dini
Resiko untuk ibu hamil dan bayinya
Dampak sosial dan psikologis

IMT status berat badan :

Dibawah 18,5 Kurang


18,5 24,9 Normal
25,5 29,5 Kelebihan
Diatas 30,0
Obesitas
Untuk mengetahui IMT (Indeks Massa Tubuh) dapat dilakukan
dengan rumus :
IMT = Berat Badan (Kg)
Tinggi Badan (m)

Contoh seseorang mempunyai BB 83 kg dan TB 1.6 m, maka


IMT = 83 : (1,6)2 = 32,4 (berarti orang tersebut menderita obesitas)

Kesimpulan :
Kebiasaan makan yang banyak mengandung karbohidrat dan lemak
saat menjelang tidur, makan makanan yang mengandung lemak yang
berlebihan, pola makan yang tidak teratur dengan porsi yang banyak,
dan suka makan makanan junk food dan fast food yang berlebihan
dapat menyebabkan obesitas. Dengan terkenanya obesitas
seseorang, dapat juga menimbulkan penyakit kronis lainnya bahkan
sampai menyebabkan kematian. Oleh karena itu, harus di
seimbangkan juga dengan melakukan olahraga yang teratur dan
selalu mengkonsumsi buah dan sayur. Karena buah dan sayur
mengandung vitamin dan serat yang baik untuk tubuh.

Sumber pustaka :
Sediaoetama, Achmad Djaeni, 1985. Ilmu Gizi Jilid I, Jakarta : Dian
Rakyat

Irianto, Djoko Pekik, 2006. Panduan Gizi Lengkap Keluarga dan


Olahragawan, Yogyakarta : Andi Yogyakarta
http://somelus.wordpress.com/2009/11/22/hubungan-kebiasaan-makanjunk-food-dengan-obesitas/
http://doc-alfarisi.blogspot.com/2011/04/penyakit-yang-timbul-berkaitandengan.html

http://www.pesona.co.id/sehat/kesehatan/tiga.faktor.penyebab.obesitas/0
02/002/22