Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat, kasih dan karuniaNya
sehingga Makalah Farmakognosi yang berjudul Minyak Atsiri dapat selesai
dengan lancar. Maksud dari penulisan makalah ini adalah mengkaji lebih dalam
tentang minyak atsiri, kegunaannya dalam kehidupan, dan peningkatan mutu
minyak atsiri berdasarkan kajian dan penelitian secara kimia.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah banyak membantu membangun gagasan ini terutama dari
Dosen Pengampu yakni Dr. Emrizal M.Si, Apt. Penulis juga tahu dan sadar bahwa
makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu saran dan kritik yang
membangun sangat diharapkan agar makalah ini dapat berkembang dengan lebih
baik. Penulis berharap agar makalah ini dapat bermanfaat dan diaplikasikan dalam
kehidupan kita sehari-hari.

Pekanbaru, Maret 2014

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejak dahulu orang telah mengenal berbagai jenis tanaman yang
memiliki bau spesifik. Bau tersebut ditimbulkan oleh tanaman, baik dari
batang, daun, rimpang atau keseluruhan bagian tanaman. Bau khas tsb,
ternyata ditimbulkan secara biokimia sejalan dengan perkembangan proses
hidupnya sebagai suatu produk metabolit sekunder yang disebut minyak
atsiri. Minyak ini dihasilkan oleh sel tanaman atau jaringan tertentu dari
tanaman secara terus menerus sehingga dapat memberi ciri tersendiri yang
berbeda-beda antara tanaman satu dengan tanaman lainnya. Minyak ini bukan
merupakan senyawa tunggal, tetapi tersusun oleh gabungan dari berbagai
senyawa pencetus bau lainnya yang jenis, sifat dan khasiatnya berbeda.
Minyak atsiri disebut juga minyak essensial, istilah essential dipakai
karena minyak atsiri mewakili bau dari tanaman asalnya. Minyak atsiri yang
disebut juga minyak eteris atau minyak terbang banyak diperlukan dalam
kehidupan sehari-hari. Dengan kemajuan teknologi di bidang minyak atsiri
maka usaha penggalian sumber-sumber minyak atsiri dan pendayagunaannya
dalam kehidupan manusia semakin meningkat. Minyak atsiri tersebut
digunakan sebagai bahan pengharum atau pewangi pada makanan, sabun,
pasta gigi, wangi-wangian dan obat-obatan. Untuk memenuhi kebutuhan itu,
sebagian besar minyak atsiri diambil dari berbagai jenis tanaman penghasil
minyak atsiri.
Minyak atsiri merupakan salah satu hasil sisa proses metabolisme
dalam tanaman, yang terbentuk karena reaksi antara berbagai persenyawaan
kimia dengan adanya air. Minyak tersebut disintesis dalam sel kelenjar pada
jaringan tanaman dan ada juga yang terbentuk dalam pembuluh resin,
misalnya minyak terpentin dari pohon pinus. Minyak atsiri selain dihasilkan
oleh tanaman dapat juga terbentuk dari hasil degradasi trigliserida oleh enzim
atau dapat dibuat secara sintesis.
1

Minyak atsiri biasanya digunakan sebagai salah satu campuran pada


bahan baku pada industri kosmetik, sabun dan deterjen, farmasi, produk
makanan dan minuman dan masih banyak produk lainnya. Minyak atsiri
digunakan sebagai pengikat aroma pada industri kosmetik dan farmasi serta
sebagai pemberi rasa pada industri makanan.
Walaupun minyak atsiri mengandung banyak bahan kimia yang
berbeda, akan tetapi rasa atau aroma intinya masih dapat ditambahkan oleh
satu sampai lima bahan campuran lain yang berbeda. Untuk alasan inilah
bahan sintetik atau nature-identical dapat mengancam keberlanjutan produksi
dari beberapa jenis minyak atsiri. Meskipun demikian, karena alasan
kontribusi minyak atsiri pada setiap produk hanya sedikit, banyak perusahaan
produk makanan yang memerlukan jenis minyak atsiri sebagai salah satu
bagian kecil dalam kebutuhan bahan bakunya berusaha terus mendapatkan
suplai yang kontinu dengan keseragaman mutu yang baik untuk menjaga
tidak terjadinya perubahan rasa pada produk yang dihasilkan.

B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :
1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan minyak atsiri.
2. Menjelaskan sifat fisika dan kimia minyak atsiri.
3. Menjelaskan minyak atsiri golongan ester.
4. Menjelaskan contoh tanaman yang mengandung minyak atsiri golongan
ester.
5. Menjelaskan metode memperoleh minyak atsiri.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Minyak Atsiri


Minyak atsiri didefinisikan sebagai produk hasil penyulingan dengan uap dari
bagian-bagian suatu tumbuhan. Minyak atsiri dapat mengandung puluhan atau ratusan
bahan campuran yang mudah menguap (volatile) dan bahan campuran yang tidak mudah
menguap (non-volatile), yang merupakan penyebab karakteristik aroma dan rasanya.
Kata essential oil diambil dari kata quintessence, yang berarti bagian penting atau
perwujudan murni dari suatu material, dan pada konteks ini ditujukan pada aroma atau
essence yang dikeluarkan oleh beberapa tumbuhan (misalnya rempah-rempah, daundaunan dan bunga).
Minyak atsiri merupakan suatu produk yang memiliki bau khas sebagai
perkembangan proses hidup tanaman. Minyak atsiri dihasilkan oleh sel tanaman atau
jaringan tertentu dari tanaman secara terus menerus sehingga dapat memberi ciri
tersendiri yang berbeda-beda antara tanaman satu dengan tanaman lainnya. Para ahli
biologi menganggap, minyak atsiri merupakan metabolit sekunder yang biasanya
berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan oleh hewan (hama) ataupun
sebagai agen untuk bersaing dengan tumbuhan lain dalam mempertahankan ruang hidup.
Dalam bidang industri minyak atsiri digunakan dalam pembuatan kosmetik,
parfum, antiseptik, obat-obatan, flavouring agent dalam makanan atau minuman, serta
sebagai pencampur rokok kretek. Beberapa jenis minyak atsiri digunakan sebagai bahan
antiseptik internal dan eksternal, bahan analgesik, hemolitik atau sebagai antizimatik,
serta sebagai sedativa dan stimulans untuk obat sakit perut.
B. Sifat Minyak Atsiri
1. Sifat Fisik
Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya rendah. Selain itu,
susunan senyawa komponennya kuat mempengaruhi saraf manusia (terutama di
hidung) sehingga seringkali memberikan efek psikologis tertentu (baunya kuat).
Setiap senyawa penyusun memiliki efek tersendiri, dan campurannya dapat
menghasilkan rasa yang berbeda.

2. Sifat Kimia
Secara kimiawi, minyak atsiri tersusun dari campuran yang rumit berbagai
senyawa, namun suatu senyawa tertentu biasanya bertanggung jawab atas suatu aroma
tertentu. Sebagian besar minyak atsiri termasuk dalam golongan senyawa organik
terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam minyak/lipofil.
Secara kimia, minyak atsiri bukan merupakan senyawa tunggal, tetapi tersusun
dari berbagai macam komponen yang secara garis besar terdiri dari kelompok
terpenoid dan fenil propana.
3. Sifat Biologi
Dalam keadaan segar dan murni, minyak atsiri umumnya tidak berwarna.
Namun, pada penyimpanan lama minyak atsiri dapat

teroksidasi. Untuk

mencegahnya, minyak atsiri harus disimpan dalam bejana gelas yang berwarna gelap,
diisi penuh, ditutup rapat, serta disimpan di tempat yang kering dan sejuk.

C. Minyak atsiri golongan ester


Minyak atsiri secara umum terdiri atas unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H),
dan oksigen (O), kadang-kadang juga terdiri dari nitrogen (N) dan belerang (S).
Dalam minyak atsiri terdapat senyawa-senyawa golongan monoterpen, sesquiterpen,
fenol, alcohol, eter/ ester, dan kumarin. Sebagian besar minyak atsiri termasuk dalam
golongan senyawa organik terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam minyak/
lopofil. Terpen merupakan persenyawaan hidrokarbon tidak jenuh dan satuan terkecil
dalam molekulnya disebut isoprena. Senyawa terpen mempunyai rangka karbon yang
terdiri dari 2 atau lebih satuan isopren. Klasifikasi dari terpen didasarkan atas jumlah
satuan isopren yang terdapat dalam molekulnya yaitu : monoterpen, seskuiterpen,
diterpen, triterpen, tetraterpen dan politerpen yang masing-masing terdiri dari
2,3.4.6.8 dan n satuan isopren (Finar, 1959).
Monoterpen terdiri dari 10 atom karbon. Monoterpen terdapat dalam sebagian
besar minyak atsiri terutama dalam minyak jeruk. Merupakan minyak yang tidak
berwarna, sangat stabil disimpan pada suhu yang dingin dan berfungsi sebagai
antseptik, Contoh minyak atsiri adalah limonen (dalam minyak lemon), pinen (dalam
pinus) dan camphor (dalam kapur barus).

Sesquiterpen merupakan terpen

yang tidak mudah berubah seperti

monoterpen. Terdiri dari 15 atom karbon (sesqui = satu setengah). Sesquiterpen


memiliki efek anti inflammatory dan anti-infeksi. Contohnya adalah minyak jahe
(dalam jahe), cedrene (dalam cedarwood) dam caryophyllen (dalam cengkeh). Rantai
molekul terpen dalam minyak atsiri merupakan rantai terbuka (terpen alifatis) dan
rantai melingkar (terpen siklis).
Ester atau alkil alkanoat, adalah senyawa turunan alkana dengan gugus
fungsi -COO- dan rumus umum CnH2nO2. Ester merupakan salah satu senyawa yang
istimewa karena dapat ditemukan baik di buah-buahan, lilin, dan lemak. Ester juga
memiliki bau yang harum sehingga banyak dimanfaatkan oleh manusia dalam
berbagai bidang. Ester diberi nama alkil alkanoat, dimana alkil adalah gugus karbon
yang terikat pada atom O (gugus R) dan alkanoat adalah gugus R-COO-.
Adapun rumusan penentuan tata nama ester didasarkan pada beberapa hal:
1. Rantai induk adalah rantai terpanjang yang mengandung gugus alkanoat.
2. Penomoran dimulai dari atom C pertama yang terikat pada atom O.
Rumus penentuan tata nama senyawa ester secara umum adalah:
(no.cabang) (nama cabang) (nama rantai induk)
Contoh:
CH3-CH2-COO-CH2-CH3: etil propanoat
CH3-CH2-CH2-CH2-COO-CH3: metil pentanoat
CH3-CH2-COO-CH2-CH(CH3)-CH3: 2-metil propil propanoat
Golongan Ester/ Eter dalam minyak atsiri, dimana eter lebih kuat daripada
ester, namun keduanya memiliki sifat serupa. Merupakan antIpasmodik yang kuat,
antibakteri dan antiinflamasi. Sifatnya sangat lembut pada kulit dan sangat efesien
sebagai relaksasi.

Minyak atsiri ester yang terdapat dalam minyak atsiri sangat banyak jenisnya,
tetapi yang umum terdapat adalah ester asetat dari terpineol, borneol dan geraniol.
Senyawa lain yang terdapat dalam minyak atsiri adalah senyawa alil-isotiosianat
didalam minyak mosterd metil salisilat didalam oleum gaultheriae.

D. Tanaman Minyak Atsiri Golongan Ester

1. JASMIM FOLIUM

Nama lain

: Daun Melati

Penggunaan

: Obat Bisul, Menghentikan ASI

Bunga melati J. officinale pada tingkat ketuaan M-1 berwarna putih keunguan, saat
panen tidak harum tetapi menjadi harum setelah mekar. Ukuran bunga telah optimal
(bobot kuntum 0,98 0,01 g, diameter kuntum 4,15 0,47 mm, dan panjang kuntum
20,16 1,78 mm).

(myrtinyl asetat)

Komposisi komponen kimia terdiri dari


-

lynalol (2,9%),

benzyl acetat (46,8%),

methyl salicilat (24,4%),

benzyl alcohol (1,3%),

Z. jasmone (20,2%),

neurol idol (2,7%),

dan indole (1,7%).

2. BURMANI CORTEX (sinamil asetat)

Nama lain : Kulit manis jangan, Kulit kayu manis padang,Keningar


Nama tanaman asal :
Family :

Cinnamomum Burmani (Blume)

Lauraceae.

Zat berkhasiat utama / isi

Cinnamaldehyde
Minyak kulit kayu manis mengandung: sinamaldehid (merupakan fenil propanoid
golongan fenil propena)
-

Minyak atsiri yang mengandung sinamil aldehid, sinamil asetat, borneol, simen. Zat
penyamak, damar, bornil asetat
Komposisi kimia yang terdapat dalam minyak kayu manis jenis Cassia adalah sinamat
aldehyde, sinamil acetate, salisil aldehyde, asam sinamat, asam salisilat, o-metoksin,
benzaldehyde, metal o-coumaraldehyde, dan phenil propil asetat.
Penggunaan :

Diaforetika, karminativa, anti


bumbu masak

Pemerian

: Bau khas, rasa manis

Bagian yang digunakan

3.

: Kulit batang

CENDANA (SANTALUM ALBUM LINN)

iritansia, bahan pewangi,

Kandungan Minyak Cendana:


Minyak atsiri, hars, dan zat samak. Minyak: Santalol (seskuiterpenalkohol),
santalen (seskuiterpena), santen, santenon, santalal, santalon, dan isovalerilaldehida.

Santalol (seskuiterpenalkohol)

Khasiat Minyak cendana :

Khasiat kayu cendana adalah sebagai penurun demam (Antipiretik),pereda


rasa nyeri

(analgesik),

meredakan

kolik

angin

dalam

perut

(karminatif), meningkatkan nafsu makan (stomakik), dan menambah kecepatan


pembentukan urin (diuretik).
Kayu cendana dianggap sebagai obat alternatif untuk membawa orang lebih
dekat kepada Tuhan. Minyak dasar kayu cendana, yang sangat mahal dalam
bentuknya yang murni, digunakan terutama untuk penyembuhan cara Ayurveda,
dan untuk menghilangkan rasa cemas.

Manfaat Minyak cendana.


Kayu:

- Antiseptik saluran kemih, Disentri, Mencret, Radang usus.

Daun:

-Asma.

Kulit kayu/Kulit akar: - Haid tidak teratur.


Selain untuk obat, Cendana dapat dimanfaatkan untuk bahan kosmetika.
Minyak Cendana juga digunakan sebagai obat gosok (dicampur dengan minyak
kelapa). Minyaknya mengandung santalol. Kayunya (yang dipelihara sampai berumur
20 40 tahun) dijadikan perhiasan, patung, kipas, kotak cerutu dan alat rumah tangga
lainnya.
9

4. MINYAK GONDOPURO (GAULTBERIA PROCUMBEN)

Nama Simplisia gandapura:


Oleum Gaultheriae oil/Gaultheriae aetheris untuk Minyak Gandapura dan
Gaultheriae

Folium

untuk

Daun

Gandapura.

(Depkes,

1985)

Kandungan Kimia Daun gandapura:


Minyak atsiri, metil salisilat, glikosida, zat samak, dan harsa.
Metil salisilat adalah cairan dengan bau khas yang diperoleh dari daun dan
akar tumbuhan wangi. Zat ini juga dibuat dengan sintesis. Metil salisilat termasuk
senyawa ester yang dapat dibuat secara sintesis dengan jalan mereaksikan suatu
senyawa asam karbiksilat dengan alkohol dalam suasana asam (Underwood, 1997).

Metil salisilat
Khasiat gandapura sebagai : Karminatif dan antiseptik.

10

5. MINYAK LAVENDER (Lavandula angustifolia)

Family : Lamiaceae
Kandungan :
-

minyak esensial (1-3%)

alpha-pinene (0,22%)

camphene (0,06%)

beta-myrcene (5,33%)

cymene (0,3%)

limonene (1,06%)

cineol (0,51%)

linalool (26,12%)

borneol (1,21%)

terpinen-4-ol (4,64%)

linalyl acetate (26,32%)

geranyl acetate (2,14%)

caryophyllene (7,55%)
Linalool
Kegunaan

Rileksasi saraf

Aromaterapi

Menanggulangi insomnia

Mengusir serangga

11

6. POKO (Mentha arvensis L)

Family

: Lamiaceae

Bagian tanaman yang digunakan : Daun daun dan pucuk tanaman


Kandungan : minyak atsiri 1% - 2%, mengandung mentol 80% - 90%, menthone,
dpiperitone, heksenolfenil-asetat, atil amil karbinol,neomentol.

D- PIPERITONE

NEOMENTOL

12

Kegunaan

: berkhasiat untuk mengeluarkan gas dari saluran pencernaan


(karminatif),

mengurangi

ketegangan

otot

(antipasmodik),

memperlancar pengeluaran keringat (diaforetik), obat batuk, obat sakit


perut dan obat sakit kepala.

7. SERPILI (thymus serpyllum L)

Family

: lamiaceae

Bagian tanaman yang digunakan : pucuk berbunga


Kandungan : minyak atsiri 0,15% - 0,6% yang mengandung p-simol, timol,
karvakrol, simena, pinena, terpena alkohol, sineol, zat pahit, serpillin,
tanin

TIMOL

Kegunaan

KARVAKROL

: batuk

13

8. TIMI (thymus vulgaris L)

Family

: limiaceae

Nama daerah

: timi

Bagian tanaman yang digunakan : pucuk berbunga


Isi tanaman : minyak atsiri yang mengandung timol 20% - 30%, karvakrol, p-simol
,pinen, borneol,linalool,bernilasetat, timen, simen; abu lebih kurang
10%, tanin

BORNEOL

PINENE

LINALOOL

BORNYL ASETAT

14

Kegunaan

:obat batuk

Khasiat kandungan :
Minyak atsiri dalam thyme mempunyai pengaruh sebagai penenang dalam otot
halus. Efek karminatifnya berguna untuk mengatasi dispepsia,
kandungan tannin yang tinggi membantu mengatasi diare.
Thymol 20 kali lebih antiseptik daripada fenol, tetapi tidak mempunyai efek
iritasi terhadap mukosa usus sehingga aman untuk digunakan.
Minyaknya telah terbukti efektif dalam mengatasi serangan bakteri Grampositif and Gram-negatif, fungi, dan yeasts seperti Candida albicans.
Asam Rosmarinat mempunyai efek anti-inflammatory.
Komponen yang pahit dalam thyme merangsang selera, membantu pencernaan
dan meningkatkan fungsi hati.

9. JAHE (Zingiber officinale Rosc.)

Famili : Zingiberaceae
Kandungan kimia :

Borneol

15

Rimpang jahe mengandung minyak atsiri, damar, mineral sineol, fellandren,


kamfer, borneol, zingiberin, zingiberol, gigerol ( misalnya di bagian-bagian merah),
zingeron, lipidas, asam aminos, niacin, vitamin A, B1, C dan protein. Minyak jahe
berwarna kuning dan kental. Minyak ini kebanyakan mengandung terpen, fellandren,
dextrokamfen, bahan sesquiterpen yang dinamakan zingiberen, zingeron damar, pati.

Kandungan & Manfaat :


Menurut Farmakope Belanda, Zingiber Rhizoma (Rhizoma Zingiberis- akar
jahe) yang berupa umbi Zingerber officinale mengandung 6% bahan obat-obatan yang
sering dipakai sebagai rumusan obat-obatan atau sebagai obat resmi di 23 negara.
Jahe dipergunakan sebagai obat, atau bumbu dapur dan aneka keperluan
Iainnya. Jahe dapat merangsang kelenjar pencernaan, baik untuk membangkitkan
nafsu makan dan pencernaan. Jahe berguna sebagai obat gosok untuk penyakit encok
dan sakit kepala, sebagai obat luar untuk sebagai obat mulas. Dapat menghangatkan
tubuh

dan mengeluarkan keringat.

Minyak

atsirinya bermanfaat untuk

menghilangkan nyeri, anti inflamasi dan anti bakteri.

Jahe dipakai sebagai

pencampur beberapa jenis obat yaitu sebagai obat batuk, rnengobati Iuka luar dan
dalam ,melawan gatal (umbinya ditumbuk haIus) .
E. Metode memperoleh minyak atsiri:
1. Destilasi atau Penyulingan.
Pembuatan minyak atsiri dengan penyulingan dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu:
besarnya tekanan uap yang digunakan, bobot molekul masing-masing komponen
dalam minyak, dan kecepatan keluarnya minyak atsiri dari simplisia.

Namun

demikian, pembuatan minyak atisiri dengan cara penyulingan mempunyai beberapa


kelemahan:
a. Tidak baik terhadap beberapa jenis minyak yang mengalami kerusakan oleh adanya
panas dan air.
b. Minyak atisiri yang mengandung fraksi ester akan terhidrolisis karena adanya air dan
panas.
c. Komponen minyak yang larut dalam air tidak dapat tersuling.

16

d. Komponen minyak yang bertitik didih tinggi yang menentukan bau wangi dan
mempunyai daya ikat terhadap bau, sebgaian tidak ikut tersuling dan tetap tertinggal
dalam bahan.

Jenis-jenis destilasi / penyulingan, ada 3 yaitu: destilasi air, destilasi uap dan
air, dan destilasi uap.:
a. Destilasi air
Pada destilasi air terjadi kontank langsung antara simplisia dengan air
mendidih. Simplisia yang telah dipotong-potong, digiling kasar, atau digerus halus
dididihkan dengan air, uap air dialirkan melalui pendingin, sulingan berupa minyak
yang belum murni ditampung. Penyulingan dengan cara ini sesuai untuk simplisia
kering yang tidak rusak dengan pendidihan. Penyulingan air biasa digunakan untuk
menyari minyak atsiri yang tahan panas dari grabahan maupun bahan yang berkayu
dan keras.
Keuntungan metode ini adalah: kualitas minyak atsiri baik (jika diperhatikan
suhu tidak terlalu tinggi), alat sederhana dan mudah diperoleh, dan mudah
pengerjaannya.
Kerugian dari metode ini adalah: tidak semua bahan dapat dilakukan dengan
cara ini (terutama bahan yang mengandung sabun, bahan yang larut dalam air, dan
bahan yang mudah hangus), adanya air sering menyebabkan terjadinya hidrolisis, dan
waktu penyulingan yang lama.
b. Destilasi uap dan air
Penyulingan degnan cara ini memakali alat semacam dandang. Simplisia
diletakkan di atas bagian yang berlubang-lubang sedangkan air di lapisan bawah. Uap
dialirkan melalui pendingin dan sulingan ditampung, minyak yang diperoleh belum
murni. Cara ini baik untuk simplisia basah atau kering yang rusak pada pendidihan.
Untuk simplisia basah atau kering yang rusak pada pendidihan. Untuk simplisia
kering harus dimaserasi lebih dulu, sedangkan untuk simplisia segar yang baru dipetik
tidak perlu dimaserasi.

Cara penyulingan ini banyak dilakukan sebagai industri

rumah, karena peralatan mudah didapat dan hasil yang diperoleh cukup baik.
Kerugian cara ini, hanya minyak dengan titik didih lebih rendah dari air yang
dapat tersuling sehingga hasil penyulingan tidak sempurna (masih banyak minyak
yang tertinggal di ampas).

17

c. Destilasi uap.
Minyak atsiri biasanya didapatkan dengan penyulingan uap pada bagian
tanaman yang mengandung minyak. Metode penyulingan ini tergantung pada kondisi
bahan tanaman
Penyulingan dengan uap memerlukan air, uap panas yang biasanya bertekanan
lebih dari 1 atmosfer dialirkan melalui suatu pipa uap. Peralatan yang dipakai tidak
berbeda dnegn penyulingan air dan uap, hanya diperlukan alat tambahan untuk
memeriksa suhu dan tekanan. Bila pemeriksaan telah dilakukan degnan air dan uap,
hanya diperlukan alat tambahan untuk memeriksa suhu dan tekanan.

Bila

pemeriksaan telah dilakukan dengan baik, dengan cara ini akan diperoleh minyak
yang lebih banyak. Cara ini bisa juga digunakan untuk membuat minyak atisiri dari
biji, akar, kayu, yang umumnya mengandugn komponen minyak yang bertitik didih
tinggi. Penyulingan ini dapat digunakan utnuk membuat minyak cengkeh, minyak
kayumanis, minyak akar wangi, minyak sereh, minyak kayuputih, dll.
Keuntungan dari cara ini adalah: kualitas minyak yang dihasilkan cukup
baik, tekanan dan suhu dapat diatur, waktu penyulingan pendek, hidrolisis tidak
terjadi.
Kerugian metode ini yaitu: peralatan yang mahal dan memerlukan tenaga ahli.
Selain penyulingan dengan cara di atas, dikembangkan juga cara sebagai berikut:
a. Penyulingan dengan air dan penyulingan dengan uap disertai dengan pengurangan
tekanan. Pengurangan tekanan akan memperpendek waktu penyulingan pada tekanan 1
atmosfir. Keuntungan utama dengan cara ini ialah minyak atsiri yang diperoleh berbau
sama dengan bau aslinya, karena penyulingan dilakukan pada suhu kurang dari 70oC
(biasanya pada suhu 50oC) hingga penguraian karena suhu tinggi dapat dihindari.
Kelemahannya, alat yang dibutuhkan mahal.
b. Penyulingan dengan air dan penyulingan dengan uap disertai penaikkan tekanan.
Penyulingan dengan uap dengan menaikkan tekanan, baik dilakukan untuk simplisia
yang keras sepeti kayu, biji, kulit kayu. Dengan penyulingan ini akan diperoleh
minyak lebih banyak dan akan memperpendek waktu penyulingan. Kerugian degnan
penyulingan ini ialah terjadi peruraian minyak atisiri sehingga berbeda dengan bentuk
aslinya dan diperoleh lebih sedikit dibanding dengan cara lain.

18

Tanaman yang mengandung minyak atisiri bertitik didih rendah, lebih baik
disuling dengan tekanan kurang dari 1 atmosfir sedangkan yang mengandung minyak
bertitik didih tinggi dapat dengan penyulingan uap bertekanan lebih tinggi dari 1
atmosfer.
Dalam metode penyulingan uap langsung (direct steam destillation) ang dapat
dipakai pada obat-obatan tanaman segar (peppermint, spearmint), hasilnya dipotong
dan ditempatkan secara langsung ke dalam tangki penyuling logam pada truck bed.
Truck ini digerakkan pada shed penyuling dimana steam lines ditempelkan pada
bagian bawah tangki penyuling. Cara ini digunakan untuk daun dan mengandung
kadar minyak yang tinggi sehingga tidak perlu maserasi. Uap ditekan melalui pipa dan
membawa tetesan minyak melalui pipa yang akhirnya melewati ruang pengembun.
Selama penyulingan uap, komponen tertentu minyak atsiri dapat terhidrolisis,
sementara unsur lainnya dapat terdekomposisi dengan suhu udara tinggi. Metode
penyulingan ideal yang menggunakan uap harus memberikan tingkat difusi setinggi
mungkin dari uap dan air melalui membran tanaman sehingga hidrolisis dan
dekomposisi tetap minimal.
2. Enflurasi, yaitu pengambilan minyak atsiri dari tanaman menggunakan lemak atau
vaselin.
Seringkali kandungan minyak atsiri dari bagian tanaman sangatlah kecil, misal
pada mahkota bunga. Cara yang bisa dilakukan dengan menghamparkan lemak
(vaselin) pada lapisan tipis pelat kaca. Mahkota bunga ditempatkan pada lemak
selama beberapa jam, kemudian diulangi yang baru beberapa kali. Setelah minyak
terserap dalam lemak padat tersebut, selanjutnya diekstraksi dengan alkohol.
Selanjutnya dipisahkan antara alkohol dan minyak atsiri. Penyarian minyak atsiri
dengan lemak padat tersebut dikenal dengan enfleurage.
Bunga-bunga tertentu seperti melati, mawar yang disuling akan menghasilkan
minyak yang tidak berbau sama dengan buanganya. Minyak atsiri dari bunga-bunga
tersebut di atas, dperoleh dengan cara:
a. Pembuatan dengan lemak tanpa pemanasan (Enflurasi / enfleurage). Cara ini sudah
dilkukan sejak berabad-abad yang lalu secara primitif.

Estela tanaman dipetik

tanaman tersebut akan meneruskan proses fisiologisnya dengan mengeluarkan bau


19

khasnya.

Sesegera setelah bunga dipetik ditaburkan diatas lemak, lemak

mengabsorbsi minyak tersebut. Untuk memperbesar absorbsinya permukaan lemak


digores. Tiap 1 kg lemak diperlukan bunga melati sebanyak 2,5 sampai 3 kg. Untuk
seluruh proses enflurasi memerlukan waktu 8 sampai 10 minggu. Lemak yang telah
jenuh dengan minyak menguap, dikerok dengan sudip, kemudian dilelehkan pada
tempat tertutup.

Lemak tersebut kemudian diekstraksi dengan alkohol, lalu

didinginkan pda suhu rendah (kalau mungkin 15oC) untuk memisahkan dari
lemaknya, disaring, kemudian dipekatkan degna cara penyulingan. Cara ini dilkukan
hanya untuk bunga-bunga tertentu, memerlukan waktu lama dan memerlukan banyak
tenaga yang terlatih untuk mengerjakannya.

Walaupun dengan cara ini dapat

menghasilkan minyak yang lebih baik. Syarat lemak yang digunakan adlah tidak
berbau dan mempunyai konsistensi tertentu.
b. Pembuatan dengan lemak panas.
Lemak dipanaskan pada suhu lebih kurang 80oC. Bugna segar dimaserasi dengan
lemak panas tersebut selama 1,5 jam. Bunga tesebut harus sering diganti dengan yang
baru sampai tiap kg lemak kontak dengan 2 sd 2,5 kg bunga, kemudian dibiarkan
selama lebih kurang satu jam dan disaring melalui saringan logam.

Untuk

memisahkan lemak yang melekat, bunga disiram dngan air panas kemunidan diperas
dengan saringan kain. Air akan mudah dipisahkan dari lemak tersebut. Selanjutnya
seperti cara enflurasi pada point a.
3. Ekstraksi dengan pelarut minyak atsiri
Prinsip dari ekstraksi ini adalah melarutkan minyak atisiri yang terdapat dalam
simplisia dengan pelarut organik yang mudah menguap. Simplisia diekstraksi dengan
plarut yang cocok dalam suatu ekstraktor pada suhu kamar, kemudian pelarut
diuapkan dengan tekanan yang dikurangi. Dengan cara ini diperlukan banyak pelarut
sehingga biaya cukup mahal dan harus dilakukan oleh tenaga ahli. Sebagai pelarut
biasanya dipakai eter minyak tanah.
Pelarut yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
-

Melarutkan sempurna komponen dari minyak atsiri yang terdapat dalam tanaman.

Mempunyai titik didih rendah.

Tidak campur dengan air.

Inert, tidak bereaksi dengan komponen minyak atsiri.


20

Mempunyai satu titik didih, bila diuapkan tidk meninggalkan sisa.

Harga murah.

Bila mungkin tidak mudah terbakar.


Pelarut yang paling banyak digunakan adalah eter minyak tanah. Alkohol tidak
baik digunakan karena alkohol melarutkan air yang terdapat dalam tanaman. Untuk
simplisia tertentu alkohol menghasilkan bau yang tidak enak. Alkohol baik digunakan
untuk simplisia kering. Sari yang diperoleh dikenal dengan nama tingtur yang banyak
digunakan untuk sediaan farmasi. Ekstraksi dengan pelarut mudah menguap, banyak
banyak digunakan di berbagai negara dan secara umum dapat dipakai untuk sediaan
farmasi. Ekstraksi dengan pelarut mudah menguap, banyak digunakan di berbagai
negara dan secara umum dapat dipakai untuk bermacam simplisia dan diperoleh
minyak atsiri sesuai dengan aslinya.
Ekstraksi dengan pelarut organik umumnya digunakan untuk mengekstraksi
minyak atsiri yang mudah rusak oleh pemanasan dengan uap dan air. Cara ini baik
untuk mengekstraksi minyak dari bunga-bungaan, misal: bunga cempaka, melati,
mawar, dll.
Cara kerja ekstraksi dengan pelarut menguap cukup sederhana, yaitu dengan
cara memasukkan bahan yang akan diekstraksi ke dalam ketel ekstraktor khusus dan
kemudian ekstraksi berlangsung secara sistematik pada suhu kamar, dengan
menggunakan petroleum eter sebagai pelarut. Pelarut akan berpenetrasi ke dalam
bahan dan melarutkan minyak bunga beserta beberapa jenis lilin dan albumin serta zat
warna.

Larutan tersebut selanjutnya dipompa ke dalam evaporator dan minyak

dipekatkan pada suhu rendah. Setelah semua pelarut diuapkan dalam keadan vakum,
maka diperoleh minyak bunga yang pekat. Suhu harus tetap dijaga tidak terlalu tinggi
selama proses ini. Dengan demikian uap aktif yang terbentuk tidak akan merusak
persenyawan minyak bunga. Jika dibandingkan dengan mutu minyak bunga hasil
penyulingan, maka minyak bunga hasil ekstraksi menggunakan pelarut lebih
mendekati bau bunga alamiah.

Semua minyak yang diekstraksi dengan pelarut

menguap mempunyai warna gelap, karena mengandung pigmen alamiah yang bersifat
tidak dapat menguap. Sebaliknya hasil penyulingan uap, umumnya berwarna cerah
dan bersifat larut dalam alkohol 95%.
Dalam industri parfum, sebagian besar produksi minyak atsiri modern
dilakukan dengan ekstraksi, dengan menggunakan sistem pelarut yang berdasar pelarut
yang mudah menguap seperti eter minyak tanah. Keuntungan utama ekstraksi adalah
21

suhu yang bisa dipertahankan kurang lebih 50oC selama proses. Hasilnya minyak
atsiri yang didapat mempunyai bau yang lebih alami yang tidak dapat ditandingi
minyak suling. Hal ini karena selama penyulingan, dengan suhu yang tinggi, dapat
mengubah konstituen minyak atsiri.

Namun demikian, metode penyulingan

operasionalnya lebih murah dibandingkan dengan proses ekstraksi.


Simplisia dimasukkan ke dalam ekstraktor dan selanjutnya pelarut oraganik
murni dipompakan ke dalam ekstraktor. Pelarut organik akan menembus ke dalam
ekstraktor. Pelarut organik akan menembus ke dalam jaringan simplisia dan akan
melarutkan minyak serta bahan lainnya seperti dmar dan lilin. Komponen tersebut
merupakan pengotor, dan dipisahkan dengan cara penyulingan pada suhu rendah dan
tekanan rendah. Dengan cara penyulingan ini diperoleh campuran pelarut dan minyak
atsiri disebut concrete.
Pemurnian concrete (pelarut + minyak atsiri) ini dilakukan dengan melarutkan
dalam alcohol, diambil fase alcohol. Fase alcohol ini didinginkan 0oC, diperoleh
minyak atsiri dalam alcohol dan lilin.

Dilakukan penyaringan terhadap campuran ini,

diambil fase minyak atsiri dalam alkohol. Untuk memisahkan alkohol dan minyak
atsiri, dilakukan penyulingan pada tekanan dan suhu rendah, akan diperoleh alkohol
dan minyak atsiri murni.

4. Pengepresan
Pembuatan minyak atsiri dengan cara pengepresan (ekspresi) dilakukan
terhadap bahan berupa biji, buah atau kulit buah yang dihasilkan dari tanaman yang
termasuk jenis Sitrus, karena minyak atsiri dari jenis tanaman tersebut akan
mengalami kerusakan bila dibuat dengan cara penyulingan. Cara ini juga digunakan
untuk mengambil minyak atsiri dari biji.
Berdasar tipe alat ekspresi dibedakan menjadi 2 macam yaitu hidraulic
expressing, dan expeller expressing.

5. Hidrolisis glikosida
Dilakukan hidrolisis untuk memecah menjadi aglikonnya (minyak atsirinya).
Contoh minyak atsiri yang diperoleh dengan cara ini hdala minyak mustar,
diperoleh dengan hidrolisis enzimatis dari glikosida.

Dalam biji mustar hitam,

glikosida sinigrin, dihidrolisis oleh myrosin dengan menghasilkan minyak mustar.

22

Biosintesis terjadinya hidrolisis dapat dilihat dalam pembahasan glikosida, sub bab
glikosida alil isotiosianat.

6. Ecuelle.
Beberapa minyak atsiri tidak dapat disuling tanpa terjadi dekomposisi, jadi
dilakukan cara yang lain yaitu pengepresan (expression) misalnya minyak lemon dan
minyak jeruk. Di Amerika Serikat, metode umum mendapat citrus oil meliputi
menusuk kelenjar minhyak dengan menggulingkan buah di atas sebuah bak yang
dilapis dengan duri-duri yang tajam guna merembeskan kulit ari dan menembus
kelenjar minyak yang ditempatkan di bagian luar kulit. Cara ini disebut dengan
metode ecuelle. Langkah menekan pada buah menghilangkan minyak dari kelenjar
dan semprotan air membasuh minyak yang masih melekat pada kulit sementara
ampas tersaring melalui tabung pusat yang membuang bagian tengah buah. Emulsi
minyak-air yang dihasilkan dipisahkan dengan sentrifugasi.

23