Anda di halaman 1dari 21

STEP 7

1. Mengapa pada skenario pasien merasakan lemah pada kelopak mata


dan mengapa paling berat dirasakan?

Ptosis yang merupakan salah satu gejala kelumpuhan nervus


okulomotorius, sering menjadi keluhan utama penderita miastenia
gravis. Walupun pada miastenia gravis otot levator palpebra jelas
lumpuh, namun ada kalanya otot-otot okular masih bergerak
normal. Tetapi pada tahap lanjut kelumpuhan otot okular kedua
belah sisi akan melengkapi ptosis miastenia gravis.
Kelemahan otot bulbar juga sering terjadi, diikuti dengan
kelemahan pada fleksi dan ekstensi kepala(Howard, 2008).

Kelemahan otot penderita semakin lama akan semakin memburuk.


Kelemahan tersebut akan menyebar mulai dari otot ocular, otot
wajah, otot leher, hingga ke otot ekstremitas (Howard, 2008).
Sewaktu-waktu dapat pula timbul kelemahan dari otot masseter
sehingga mulut penderita sukar untuk ditutup. Selain itu dapat pula
timbul kelemahan dari otot faring, lidah, pallatum molle, dan laring
sehingga timbullah kesukaran menelan dan berbicara. Paresis dari
pallatum molle akan menimbulkan suara sengau. Selain itu bila
penderita minum air, mungkin air itu dapat keluar dari hidungnya.
2. Mengapa pasien merasa ototnya lemah? Dilihat dari patofisiologinya

gangguan autoimun, di mana antibodi di dalam tubuh menyerang sel ataupun


jaringan yang membentuk antibodi itu sendiri) dengan merusak fungsi reseptor
asetilkolin (bahan kimia yang mengantarkan impuls saraf melalui junction yang
disebut neurotransmitter). Serta, mengurangi efesiensi hubungan
neuromuscular. Antibodi yang diserang ini kemudian ikut dalam sirkulasi darah
untuk menyebar ke seluruh tubuh.
Pada orang normal jumlah asetilkolin yang dilepas sudah lebih dari cukup untuk
menghasilkan suatu kontraksi otot (otot dapat bergerak), tetapi pada miastenia
gravis, jumlah reseptor asetilkolin berkurang atau asetilkolin yang dihasilkan
terlalu cepat dihancurkan, akibat gangguan autoimun, sehingga kontraksi otot
lemah.

3. mengapa terasa lebih lemah saat siang hari dan setelah istirahat dapat
K e l u h a n s e m a k i n m e m b u r u k p a d a s o r e h a r i d a n m e mbaik setelah
istirahat karena hal ini terkait dengan penggunaan ATP dan perangs angan yang
timbul. Kelainan yang bermanifes pada otot volunter/ otot skelet. Dan otot
skelet ini diinervasi pada persarafan somatik y ang timbul oleh adanya
rangsangan eksitatorik di otak . Pada keadaan istirahat dan tidur, tidak ada
rangsangan yang timbul sehingga produksi asetilkolin berjumla h nbanyak
tersimpan dalam vesikel. Dan pada saat memulai aktivitas rangsangan ak si
awal), asetilkolin yang berikatan dengan reseptornya masih dalam kadar yang
cukup banyak sehingga mampu menimbulkan depolarisasi membran dalam
jumlah cukup.

4. Mengapa penderita juga mengalami berat saat bernafas?

Bukan karena paru-parunya,tapi karena otot disekitar diaphragma yang


dapat menghambat kerja paru-paru
5. Mengapa pada penderita merasakan kesulitan dalam mengunyah, otototot sekitar wajah mulut terasa lemah,hingga kesulitan berbicara?
Karena terjadi pembengkakan pada saraf wajah sebagai reaksi terhadap
infeksi virus. Akibatnya pasokan darah ke saraf terhenti dan
menyebabkan kematian sel sehingga fungsi menghantar
impuls/rangsangnya menjadi terganggu dan perintah otak untuk
menggerakkan otot-otot wajah tidak dapat diteruskan. Infeksi virus yang
dimaksud adalah semacam virus herpes simpleks, dimana virus tersebut
dapat "tidur" selama beberapa tahun dan akan aktif jika seseorang
terkena stres fisik ataupun psikis.

6. Apakah tujuan pemeriksaan kelenjar thymus?


untuk mendeteksi adanya kelainan kelenjar timus adanya keganasan
atau tidak
7. hasil apa yang diharapkan dari pemeriksaan EMG dan MRI terkait
dengan diagnosanya?
MRI gangguan pada nervusotakditakutkan ada tumor yang ganas
atau yang jinak , pada thymus
Pemeriksaan Ligamen,tendon sama tulang rawan
EMGLowerMotorikN euron(saraf perifer,pusat saraf dan otot)
Bagaimana batas-batas pada UMN dan LMN?
8. Apa yang dimaksud dari reflek patologis? Bagaimana cara
pemeriksaannya?
Reflek Babinski
Lakukan goresan pada telapak kaki dari arah tumit ke arah jari melalui sisi lateral,
orang noramla akan memberikan respon fleksi jari-jari kaki dan penarikan
tungkai. Pada lesi UMN maka akan timbul respon jempol kaki akan dorsofleksi,
sedangkan jari- jari lain akan menyebar atau membuka. Normal pada bayi masih
ada.
Reflek gordon
Lakukan goresan / memencet otot gastrocnemius . jika posistif maka akan timbul
reflek seperti babinski

Reflek schaefer
Lakukan pemencetan pada tendo achiles. Jika positif maka akan timbul reflek
seperti babinski
Reflek chaddock
Lakukan goresan sepanjang tepi lateral punggung kaki di luar telapak kaki, dari
tumit ke depan. Jika posistif maka akan timbul reflek seperti babinski
Reflek Oppenheim
Lakukan goresan pada sepanjang tepi depan tuilang tibia dari atas ke
bawah, dengan kedua jari telunjuk dan tengah., jika posistidf maka akan
timbul reflek seperti babinski

9. Apa saja Pemeriksaan Penunjang selain EMG dan MRI?


1. Antibodi anti-reseptor asetilkolin
Antibodi ini spesifik untuk miastenia gravis, dengan demikian sangat berguna untuk
menegakkan diagnosis. Titer antibodi ini meninggi pada 90% penderita miastenia gravis
golongan IIA dan IIB, dan 70% penderita golongan I. Titer antibodi ini umumnya berkolerasi
dengan beratnya penyakit.
2. Antibodi anti-otot skelet (anti-striated muscle antibodi)
Antibodi ini ditemukan pada lebih dari 90% penderita dengan timoma dan lebih
kurang 30% penderita miastenia gravis. Penderita yang dalam serumnya tidak ada
antibodi ini dan juga tidak ada antibodi anti-reseptor asetilkolin, maka kemungkinan adanya
timoma adlah sangat kecil.
3. Tes tensilon (edrofonium klorida)
Tensilon adalah suatu penghambat kolinesterase. Tes ini sangat
bermanfaat apabila pemeriksaan antibodi anti-reseptor asetilkolin tidak dapat
dikerjakan, atau hasil pemeriksaannya negatif sementara secara klinis masih tetap
diduga adanya miastenia gravis. Apabila tidak ada efek samping sesudah tes 1-2 mg
intravena, maka disuntikkan lagi 5-8 mg tensilon. Reaksi dianggap positif apabila ada
perbaikan kekuatan otot yang jelas (misalnya dalam waktu 1 menit), menghilangnya ptosis,
lengan dapat dipertahankan dalam posisi abduksi lebih lama, dan meningkatnya kapasitas
vital. Reaksi ini tidak akan berlangsung lebih lama dari 5 menit. Jika diperoleh hasil yang
positif, maka perlu dibuat diagnosis banding antara miastenia gravis yang sesungguhnya
dengan sindrom miastenik. Penderita sindrom miastenik mempunyai gejala-gejala yang

serupa dengan miastenia gravis, tetapi penyebabnya ada kaitannya dengan proses patologis
lain seperti diabetes, kelainan tiroid, dan keganasan yang telah meluas. Usia timbulnya
kedua penyakit ini merupakan faktor pembeda yang penting. Penderita miastenia sejati
biasanya muda, sedangkan sindrom miastenik biasanya lebih tua. Gejala-gejala sindrom
miastenik biasanya akan hilang kalau patologi yang mendasari berhasil diatasi.Tes ini dapat
dikombinasikan dengan pemeriksaan EMG.
4. Foto dada
Foto dada dalam posisi antero-posterior dan lateral perlu dikerjakan, untuk
melihat apakah ada timoma. Bila perlu dapat dilakukan pemeriksaan dengan sken
tomografik.
5. Tes Wartenberg
Bila gejala-gejala pada kelopak mata tidak jelas, dapat dicoba tes Wartenberg.
Penderita diminta menatap tanpa kedip suatu benda yang terletak di atas bidang kedua
mata beberapa lamanya. Pada miastenia gravis kelopak mata yang terkena
menunjukkan ptosis.
6. Tes prostigmin
Prostigmin 0,5-1,0 mg dicampur dengan 0,1 mg atropin sulfas disuntikkan
intramuskular atau subkutan. Tes dianggap positif apabila gejala-gejala menghilang dan
tenaga membaik.
Darah : untuk mengetahui kadar igG dalam darah
Urin: untuk mengetahui adakah peningkatan kadaar protein dalam darah

10.Apakah makna dari hasil pemeriksaan motorik pada skenario,jelaskan .


Makna otot atropi / hbipertropi. Tonuskekuatannya /
kelemahannya,kalau kekuatannya dari fleksi ekstensi melawan gerakan
sendinya atau tidak,mengetahui kontraksi otot,
derajat otot
5 : Kekuatan normal
Seluruh gerakan dapat dilakukan otot tersebut dengan tahan maksimal dari pemeriksa yang
dilakukan berulang-ulang tanpa terlihat kelelahan.
Derajat 4 : Seluruh gerakan otot dapat dilakukan melayang gaya berat dan juga melawan
tahanan ringan dan sedang dari pemeriksa.
Derajat 3 : Seluruh gerakan otot dapat dilakukan melawan gaya berat, tetapi tidak tidak dapat
melawan tahanan ringan dan sedang dari pemeriksa.
Derajat 2 : Otot hanya dapat bergerak bila gaya berat dihilangkan.(kesamping)

Derajat 1 : Kontraksi otot minimal dapat terasa atau teraba pada otot bersangkutan tanpa
mengakibatkan gerak
Derajat 0 : Tidak ada kontraksi sama sekali

11. Apakah DD dari skenario tersebut?Jelaskan

Mi
ast
eni
a
Gra
vis

Definisi

Etiologi

kecendrungan
abnormal dari
otot menjadi
letih, sehingga
otot-otot
tersebut tidak
mampu lagi
untuk
melakukan
fungsinya,
ditandai oleh
kelemahan atau
kelumpuhan
otot-otot lurik
setelah
melakukan
aktivitas, dan
akan pulih
kekuatannya
setelah
beberapa saat
yaitu dari
beberapa menit
sampai
beberapa jam
a.
GolonganI:
Miastenia
ocular
gangguan pada
satu atau
beberapa otot
ocular, yang
menyebabkan
gejala ptosis
(unilateral) dan
diplopia dengan
bentuk ringan
dan seringkali
resisten
terhadap
pengobatan.

Miastenia gravis
adalah suatu
penyakit auto-imun
yang berhubungan
dengan penyakitpenyakit lain
seperti :
tirotoksikosis,
miksedema,
arthritis rematoid
dan lupus
eritematosus
sistemik.Dulu
dikatakan bahwa
IgG auto-imun
antibodi
merangsang
pelepasan thymin,
suatu hormone dari
kelenjar timus yang
mempunyai
kemampuan
mengurangi jumlah
asetilkolin.
Sekarang dikatakan
bahwa miastenia
gravis disebabkan
septor asetilkolin
neuromuscular
junction akibat
penyakit autoimun.

Gejala
Klinis
Kelemah
an local
yang
ringan
sampai
pada
kelemaha
n tubuh
menyelur
uh yang
fatal.
Kira-kira
33%
hanya
terdapat
gejala
kelainan
ocular
disertai
kelemaha
n otototot
lainnya.K
elemaha
n
ekstremit
as tanpa
disertai
gejala
kelainan
ocular
jarang
ditemuka
n dan
terdapat
kira-kira
15%.
Yang
lainnya
kira-kira
20%
penderit

Px.
Terapi
Penunjang
Prosedur
Penggunaan obat
diagnostik
antikolinesterase,
dimulai dari
timektomi,
anamnesis
pemberian
yang
kortikosteroid;
cermat dan pada kasus-kasus
dilanjutkan
yang berat juga
dengan tes
perlu
klinik
dipertimbangkan
sederhana plasmaferesis, bila
untuk
dengan ketiga jenis
menilai
pengobatan tadi
berkurangn
tidak ada
ya
perbaikan maka
kekuatan
perlu dipikirkan
otot
penggunaan
setelah
sitostatika. Panas
aktivitas
dan penggunaan
ringan
antibiotika
tertentu,
tertentu dapat
kemudian
memperburuk
ditegakkan
kondisi penderita
dengan
miastenia
pemeriksaa
gravis.Dasar
n
pengobatan
farmakologi
adalah dengan
k yaitu tes
menggunakan
edrofonium
obat-obat
atau
antikolinesterase
dengan tes
misalnya
neostigmin.
neostigmin dan
Penderita
pirididostigmin.ob
miastenia
at-obat ini
gravis
berperan
derajat
menghambat
ringan
kolinesterase yang
sering tidak
kerjanya
menunjukk
menghancurkan
an
asetilkolin.
gambaran
Biasanya dimulai
yang tegas
dengan 1 tablet
pada EMG,
neostigmin atau

b. Golongan
II :
Timbulnya gejala
perlahan-lahan
dimulai dengan
gejala ocular
yang kemudian
menyebar
mengenai muka,
anggota badan,
dan otot-otot
bulbar. Otototot respirasi
biasanya tidak
terkena.
Perkembangan
ke arah
golongan III
dapat terjadi
dalam dua tahun
pertama dari
timbulnya
penyakit
miastenia gravis.
c. Golongan
III :
Timbulnya gejala
biasanya cepat,
dimulai dari
gangguan otot
ocular, anggota
badan,dan
kemudiaan otot
pernapasan.
Kasus-kasus
yang mempunyai
reaksi yang
buruk terhadap
terapi
antikolinesteras
e berada dalam
keadaan bahaya
dan akan
berkembang
menjadi krisis
miastenia.
d.
Golongan
IV :
keadaan yang
berkembang

a
didapati
kesulitan
menguny
ah dan
menelan.
Anamnes
is yang
klasik
dari
penderit
a dengan
miasteni
a ocular
adalah
adanya
gejala
diplopia
yang
timbul
pada
sore hari
atau
pada
waktu
maghrib
dan
menghila
ng pada
waktu
pagi
harinya.D
apat pula
timbul
ptosis
pada
otot-otot
kelopak
mata.Bila
otot-otot
bulbar
terkena,
suaranya
menjadi
suara
basal
yangcend
erung
berfluktu
asi dan
suara

pada
keadaan ini
pelu
diperiksa
kadar
antibodi
reseptor
dalam
darah. Foto
rontgen
dada
sebaiknya
dibuat
seawal
mungkin
untuk
mendeteksi
adanya
kelainan
kelenjar
timus, dan
juga dapat
sebagai
pembandin
g bila
setelah
penderita
menjalani
terapi
steroid
jangka lama
kemungkin
an akan
terjadi
pelebaran
mediastinu
m.

piridostigmin 3 kali
perhari, kemudian
dosisnya
ditingkatkan
bergantung pada
reaksi penderita.
Obat-obat
antikolinesterase
ini mempunyai
aktivitas
muskarinik dan
nikotinik.Efek
muskarinik yaitu
mempengaruhi
otot polos dan
kelenjar,
sedangkan efek
nikotinik yaitu
mempengaruhi
ganglion autonom
dan myeneural
junction. Efek
muskarinik seperti
kolik abdomen,
diare, dan
hiperhidrosis
dapat diatasi
dengan pemberian
atropin. Pada
penderita tua atau
penderita dengan
kontra-indikasi
untuk dilakukan
timektomi,
prednisone,
mungkin sangat
efektif.Karena
terapi steroid dapat
menimbulkan efek
samping, selama 2
minggu
pengobatan, maka
perlu perawatan di
rumah sakit,
terutama bila
timbul gejalagejala bulbar. Obat
antikolinesterase
harus diteruskan
dan prednisone

menjadi
kelemahan otot
yang
menyeluruh
disertai dengan
paralisis otototot pernapasan

Sin
dro
m
Gui

Polineuropati yang
menyeluruh , dapat
berlangsung akut
atau subakut,

akan
memburu
k bila
percakap
an
berlangs
ung
terus.
Pada
kasus
yang
berat
akan
terjadi
afoni
temporer
. Adanya
kelemaha
n rahang
yang
progresif
pada
waktu
menguny
ah, dan
penderit
a
seringkali
menunja
ng
rahangny
a dengan
tangan
sewaktu
menguny
ah.
Keluhan
lain
adanya
disfagia
dan
regurgita
si
makanan
sewaktu
makan.
1. Infeksi
virus atau
bakteri
SBG sering sekali

1 .
K e l
u m p
u h a

diberikan serta
ditingkatkan
perlahan-lahan
dari dosis inisial 25
mg sampai 100mg
perhari dan
diberikan selang
satu hari,
bergantung pada
reaksi
penderita.Setelah
ada perbaikan,
dosis neostigmin
dan piridostigmin
dapat diturunkan
perlahan-lahan.
Kombinasi baik
piridostigmin dan
prednisone yang
diberikan selang
satu hari
merupakan terapi
inisial pilihan
untuk penderitapenderita tanpa
timoma.

1 .
P e m e r
i k s a a
n

Tindakan
pembedahanTinda
kan bedah pada
miastenia gravis
adalah timektomi.
Ini terutama
diindikasikan pada
penderitapenderia wanita
muda, dengan
riwayat yang
kurang dari 5
tahunmenderita
miastenia gravis.
Juga dilakukan
tindakan tersebut
bila terdapat
timoma yang
kemungkinan
ganas.
Pengobatan a.
Kortikosteroid
(seperti :
azathioprine,

llai
n
Bar
re
(GB
S)

mungkin terjadi
secara spontan
atau sesudah suatu
infeksi.
Mikroorganisme
penyebab belum
pernah ditemukan
pada penderita
penyakit ini dan
pada pemeriksaan
patologis tidak
ditemukan tanda
radang

berhubungan
dengan infeksi akut
non spesifik.
Insidensi kasus SBG
yang berkaitan
dengan infeksi ini
sekitar antara 56%
-80%, yaitu 1
sampai 4 minggu
sebelum gejala
neurologi timbul
seperti infeksi
saluran pernafasan
atas atau infeksi
gastrointestinal.
Infeksi akut yang
berhubungan
dengan SBG :
a.
Virus:CMV,EBV,H
IV,Varicellazoster,
Vaccinia/smallpo
x , I n f l u e n z a , M e asl
es,Mumps,Rubella,
hepatitis,Coxsackie
,Echo.
b. Bakteri:
Campylobacter,
Jejeni,
Mycoplasma,
Pneumonia,
Typhoid, Borrelia
B, Paratyphoid,
Brucellosis,
Chlamydia,
Legionella, Listeria.
2 .
V a k s i n a
s i
3 .
P e m be d a h a
n , a ne s t e s i
4. Penyakit
sistematik,
seperti
keganasan,
Systemic Lupus
Erythematosus,
t i roiditis, dan
penyakit Addison

n
l a bo r
2.
a t o r i u
Gangguan
m
Sensibilitas Gambaran
3. Saraf
laboratori
Kranialis
um yang
4.
menonjol
Ganguan
adalah
fungsi
peninggia
otonom
n kadar
5.
protein
Kegagalan
dalam
pernafasan
cairan
6.
otak
Papiledem (>0,5mg%
a
) tanpa
diikuti
oleh
peninggia
n jumlah
sel dalam
cairan
otak, hal
ini
disebut
disosiasi
sitoalbuminik
.
Peninggia
n kadar
protein
dalam
cairan
otak ini
dimulai
pada
minggu 12 dari
onset
penyakit
dan
mencapai
puncakny
a setelah
3-6
minggu.
Jumlah sel
mononukl
ear < 10
sel/mm3.

cyclophosphami
d)Kebanyakan
penelitian
mengatakan
bahwa
penggunaan
preparat steroid
tidak
mempunyai
nilai/ tidak
bermanfaat
untuk terapi
SBG. Dilaporkan
3 dari 5
penderita
memberi respon
dengan methyl
prednisolon
sodium
succinate
intravenous dan
diulang tiap 6
jam diikuti
pemberian
prednisone oral
30mg setiap 6
jam setelah 48
jam pengobatan
intravenous.
Efek samping
dari obat-obat
ini adalah:
alopecia,
muntah, mual
dan sakit
kepala.
b. Profilaksis
terhadap DVT
in
thrombosis)
Pemberian
heparin dengan
berat molekuler
yang rendah
secara subkutan
(fractioned Low
Molecular
Weight Heparin/
fractioned
LMWH) seperti :
enoxaparin,

5.
Kehamilan
atau dalam
masa nifas
6 .
G a n g g u a n
e n d o k r i n

Walaupun
demikian
pada
sebagian
kecil
penderita
ak
ditemuka
n
peninggia
n kadar
protein
dalam
cairan
otak.
Imunoglo
bulin
serum
bisa
meningka
t. Bisa
timbul
hiponatre
mia pada
beberapa
penderita
yang
disebabka
n oleh
SIADH
(Sindroma
Inapprori
ate
Antidiuret
ik
Hormone)
.
2.
Pemeri
ksaan
elektro
fisiolo
gi(EMG
)
Gambaran
elektrodia
gnostik
yang
menduku
ng
diagnosis

lovenox dapat
mengurangi
insidens
terjadinya
tromboembolis
me vena secara
dramatik, yang
merupakan
salah satu
sekuele utama
dari paralisis
ekstremitas.
DVT juga dapat
dicegah dengan
pemakaian kaus
kaki tertentu
(true gradient
compression
hose/ anti
embolic
stockings/ antithromboembolic
disease (TED)
hose).
c.Pengoba
tanimunos
upresan:1
)
I m u n o g l
o b u l i n
I V Beberapa
peneliti pada
tahun 1988
melaporkan
pemberian
immunoglobulin
atau
gamaglobulin
pada penderita
SBG yang parah
ternyata dapat
mempercepat
penyembuhanny
a seperti halnya
plasmapharesis.
Gamaglobulin
(Veinoglobulin)
diberikan
perintravena
dosis tinggi.
Pengobatan

SBG
adalah
kecepatan
hantaran
saraf
motorik
dan
sensorik
melambat
. Distal
motor
retensi
memanjan
g
kecepatan
hantaran
gelomban
g-f
melambat
,
menunjuk
kan
perlambat
an pada
segmen
proksimal
dan radiks
saraf. Di
samping
itu untuk
menduku
ng
diagnosis
pemeriksa
an
elektrofisi
ologis
juga
berguna
untuk
menentuk
an
prognosis
penyakit:
bila
ditemuka
n
potensial
denervasi
menunjuk
kan

dengan gamma
globulin
intervena lebih
menguntungkan
dibandingkan
plasmaparesisk
arena efek
samping/kompli
kasi lebih ringan
tetapi
mharganya
mahal.Dosis
maintenance
0.4gr/kgBB/hari
selama 3hari
dilanjutkan
dengan dosis
maintenance
0.4gr/kgBB/hari
tiap 15 hari
sampai sembuh.
imunoglobulin
intravena (IVIG
7s) : dipakai
untuk
memperbaiki
aspek klinis dan
imunologis dari
SBG dan Dosis
dewasa adalah
0,4g/kg/hari
selama 5 hari
(total 2g selama
5 hari) dan bila
perlu diulang
setelah 4
minggu.
Kontraindikasi
IVIg : adalah
hipersensitivitas
terhadap
regimen ini dan
defisiensi IgA,
antibodi anti
IgE/ IgG. Tidak
ada interaksi
dng obat ini dan
sebaiknya tidak
diberikan pd
kehamilan.
2 ) O b a t

Ne
uro
pat
y

Secara umum
dapat
disebutkan
bahwa neuropati
adalah suatu
penyakit dengan
gejala klinik
yang timbul
karena kelainan
saraf perifer,
umumnya
berupa
degenerasi noninflamasi yang
luas dengan
gejala yang
meliputi
kelemahan
motorik,
gangguan
sensorik,
gangguan
autonom dan
melemahnya
reflex tendon.
Saraf perifer
yang terkena
meliputi semua
akar saraf
spinalis, sel
ganglion radiks
dorsalis, semua
saraf perifer
dengan semua
cabang
terminalnya,
susunan saraf
autonom, dan
saraf otak
kecuali saraf
optikus dan
olfak-torius.

Factor penyebab
neuropati antara
lain infeksi,
gangguan
metabolic,
intoksikasi,
defisiensi,
gangguan vascular,
kompresi, alergi,
dan remote effect
tumor ganas.
Trauma pada
umumnya
menimbulkan
neuropati yang
bersifat terbatas.

Pada
umumny
a
neuropat
i
menimbu
lkan
gangguan
campura
n
sensorik
dan
motorik,
kadangkadang
gangguan
fungsi
autonom,
dan
mungkin
pula
terjadi
kelainan
motorik
lebih
menonjol
seperti
pada
sindrom
GuillainBarre,
neuropat
i porfiria,
dan
difteri.
Ganggua
n
sensorik
lebih
menonjol
terjadi
pada

bahwa
penyembu
han
penyakit
lebih lama
dan tidak
sembuh
sempurna
.
P e m e r
i k s a a
n
c ai ra
n
s e re b
ro s p i
n a l
( C S S)
t id ak
m e nu
n j uk k
a n
a da ny
a
k e la in
a n .
P a da
b e b e r
a pa
k as us
d it e m
u k a n
a da ny
a
p e n i n
g k at a
n
k ad ar
p ro t e
i n ,
t e t a pi
m a s i h
d i
b aw ah
1 0 0 % .
P a da
p e m e r
i k s a a
n E M G
t e rl i h

s i t o t o k s
i k Pemberian
obat sitoksik
yang dianjurkan
adalah 6
merkaptopurin
(6-MP).

Terapi ditujukan
untuk
mengilangkan
factor
penyebab.
Kemudian
koreksi
dilakukan
terhadap
keadaankeadaan
metabolic yang
abnormal,
termasuk
defisiensi
vitamin. Hal-hal
yang perlu
diketahui lebih
lanjut adalah
makan makanan
dan/ atau obat
tertentu yang
dapat
menyebabkan
timbulnya
neuropati
misalnya
vinkristin,
isoniazid,
hidralazin,
nitrofurantoin,
klorokuin,
makanan
kaleng, dan
sebagainya.Seba
gai terapi
simtomatis,
untuk mengatasi
nyeri dapat
diberikan
analgesic yang
dapat

Polineur
opatiNeur
opati jenis
ini
menyebabk
an
kelainan
fungsional
yang
simetris,
biasanya
disebabka
n oleh
kelainankelainan
ndifus
yang
mempenga
ruhi
seluruh
susunan
saraf
perifer,
seperti
gangguan
metabolic,
keracunan,
keadaan
defisiensi,
dan reaksi
imunoalergik.Bil
a
gangguan
hanya
mengenai
akar saraf
spinalis
maka
disebut
poliradiku
lopati dan
bila saraf
spinalis
juga ikut
terganggu
n maka
disebut
poliradiku
loneuropat
i.Gangguan

defisiensi
,
diabetes
mellitus,
amiloidos
is dan
kusta.
Gejala
gangguan
autonom
lebih
menonjol
tampak
pada
neuropat
i
diabetika
,
amiloidos
is, dan
sindrom
disauton
omia
familial.K
elainan
motorik
mengena
i otototot kaki
dan
tungkai
terlebih
dahulu
dan pada
umumny
a lebih
berat,
kemudia
n baru
mengena
i otototot
tangan
dan
lengan.
Pada
kasus
ringan
hanya
mengena
i kaki

a t
t an da
t an da
g a ng g
u a n
n e u ro
lo g ic
p e r if e
r .
P a da
um um
n y a
k e c e p
a t a n
h a nt a
r
s ar af
t e p i
m e nu r
u n

dikombinasim
dengan
neuroleptik
atau
karbamazepin.
Akhir-akhir ini
terdapat
kecendrungan
untuk memakai
obat-obat yang
dapat
merangsang
proteosintesis
sel Schwan
untuk
regenerasi.
Obat yang
sudah dipakai
adalah
metilkobalamin,
suatu derivate
vitamin B12,
dengan dosis
1.500mg/hari
selama 6-10
minggu. Obat
lain adalah
gangliosid yang
merupakan
komponen
intrinsic dari
membrane sel
neuron, dengan
dosis 2x 200 mg
intramuskularis
selama 8
minggu. Terapi
vitamin
diberikan pada
kasus-kasus
defisiensi yang
lazimnya berupa
neurotonika
yaitu kombinasi
vitamin B1, B6,
dan B12 dosis
tinggi.Pemberia
n kortison dan
ACTH tetap
kontroversial,
namun

fungsi
saraf tepi
terutama
bagian
distal
tungkai
dan
lengan,
sensorik
dan
motorik.Ga
ngguan
distal
lebih
dahulu
berupa
gangguan
sensitibili
tas berupa
gambaran
kaus kaki
dan sarung
tangan
(glove and
stocking
pattern).
Tungkai
terkena
terlebih
dahulu.
Gangguan
saraf otak
dapat
terjadi
pada
polineurop
ati yang
berat
seperti
kelumpuha
n nervus
fasialis
bilateral
dan sarafsaraf
bulbar
misalnya
pada
poliradiku
loneuropat
i (sindrom

saja.
Kelemah
an dapat
berlanjut
ke arah
otot-otot
trunkus
dan
tengkuk.
Paralisis
brakhiali
s jarang
ditemuka
n.
Kelemah
an otototot
wajah
dan saraf
kranialis
kadangkadang
dijumpai,
terutama
pada
sindrom
GuillainBarre.
Atrofi
otot
terjadi
secara
perlahanlahan
setelah
beberapa
minggu
atau
bulan,
bergantu
ng berat
atau
ringanny
a
kerusaka
n serabut
saraf.
Atrofi
juga akan
berlanjut
karena

pemberiannya
dapat
dipertimbangka
n pada
neuropati yang
kronis atau
pada neuropati
yang residif,
kecuali ada
kontrai-indikasi.
Pada stadium
penyembuhan
dapat diberikan
roboransia saraf
serta obat
anabolic.Selanju
tnya dilakukan
pencegahan
dekubitus dan
kontraktur
dengan
memberikan
fisioterapi yang
intensif,
kemudian
mobilisasi dan
masase otototot dan
gerakan sendi.

GuillainBarre).f.
Mononeuro
patiLesi
bersifat
focal pada
saraf tepi
atau lesi
bersifat
fokal
majemuk
yang
berpisahpisah
(mononeur
opati
multipleks
) dengan
gambaran
klinis yang
simetris
atau tidak
simetris.
Penyebabn
ya adalah
proses
fokal
misalnya
penekanan
pada
trauma,
tarikan,
luka dan
lain-lain,
penyinaran
, berbagai
jenis
tumor,
infeksi
fokal, dan
gangguan
vascular.

otot-otot
yang
kurang
aktif
bergerak.
Refleks
tendon
akan
berkuran
g sampai
hilang
sama
sekali
bergatun
g pada
derajat
lesi. Hal
ini
disebabk
an oleh
menurun
nya
kecepata
n hantar
saraf
tepi.
Ganggua
n
sensorik
lebih
banyak
mengena
i bagian
distal
tungkai
dan
lengan,
dapat
mengena
i semua
jenis
perasaan
atau
terbatas
pada rasa
raba dan
nyeri
saja.
Mungkin
pula
terdapat

kehilanga
n rasa
tekan,
getar,
rasa
diskrimin
asi dua
titik
serta
rasa
sikap
sendi.Pad
a
gangguan
yang
berat,
gangguan
sensorik
dapat
menyeba
r ke arah
proksima
l dan
nmelibat
kan
sensasi
rasa
panas
dan yeri.
Parastesi
dan
disestesi
sering
mengena
i tangan
dan kaki,
kadangkadang
seperti
rasa geli,
rasa arus
listrik
dan rasa
seperti
disuntik
patirasa
pada saat
akan
dilakukan
pencabut
an gigi.

Bentuk
lain
adalah
rasa
nyeri
sengat
dan nyeri
tusuk.
Parestesi
dan
disestesi
ini sering
terjadi
pada
polineuro
pati
alcohol
dan
diabetes
mellitus.
Restlessleg
syndrom
e, yaitu
gejala
kelainan
sensorik
berupa
pegal
bila
tungkai
istirahat
dan
membaik
bila
tungkai
digerakka
n, sering
ditemuka
n pada
neuropat
i tertentu
misalnya
pada
neuropat
i akibat
uremia
kronis.Ga
ngguan
autonom
yang

sering
terjadi
ialah
anhidrosi
s dan
hipotensi
ortostati
k yang
lebih
sering
ditemuka
n pada
neuropat
i
diabetika
,
amiloidos
is dan
congenit
al.
Manifest
asi lain
adalah
adalahm
pupil
yang
kurang
reaktif,
produksi
air mata
dan air
liur yang
berkuran
g, dan
mungkin
pula ada
impotens
i
kelemaha
n sfingter
uretra
dan anus.
Dilatasi
esophagu
s dan
kolon
dapa
dijumpai
dapat
diabetes
mellitus

dan
amiloidos
is.
Ganggua
n miksi
dapat
terjadi
karena
distonia
vesika
urinaria.
Pada
tahap
lanjut
akan
terjadi
retensi
urin.
Poli
omy
elitis

Poliomielitis merupakan
suatu penyakit infeksi
akut oleh sekelompok
virus ultramikroskop
yang bersifat neurotrofik
yang awalnya
menyerang saluran
pencernaan dan
pernapasan yang
kemudian menyerang
susunan saraf pusat
melalui peredaran
darah. Poliomielitis
dapat disebabkan oleh
virus tt (Brunchilde), tipe
II (Lansing) dan tipe III
(Leon).
Terutama ditemukan
pada anak-anak di
bawah 5 tahun tetapi
kadang-kadang dapat
ditemukan pada anak
remaja.

Virus poliomielitis
mempunyai predileksi pada
sel-sel kornu anterior,
sumsum tulang belakang
dan batang otak yang akan
menyebabkan kerusakan
sel-sel saraf dan terjadi
paralisis jenis lower motor
neuron yang
bersifat flaksid dengan
sensibilitas yang normal.
Jumlah kerusakan dari
motor unit akan memberikan
gambaran beratnya
kelumpuhan.

Penyakit
berkembang
melalui
beberapa
tahap, yaitu:
Fase inkubasi
Biasanya
berakhir
setelah 2
minggu.
Fase gejala
umum
influensa
nyeri kepala
rasa nyeri
tulang
belakang dan
anggota
gerak
malaise
gejala-gejala
mencret
berlangsung
sampai
dengan 3
hari.
Fase paralisis
mendadak
Fase ini
berlangsung
3 hari sampai
paling lama 2
bulan.
Paralisis
berlangsung
sangat cepat
biasanya
beberapa jam
sampai
dengan 2
bulan. Variasi
gejala
paralisis
tergantung
dari bentuk
kerusakan
sel-sel saraf.
Pada saat ini
belum

diperlukan
tindakan
khusus
ortopedi.
Pengobatan
yang
diberikan
meliputi:
Isolasi
penderita
Perawatan
dengan posisi
yang
menyenangk
an
Pencegahan
nyeri dan
spasme otot
Pemberian
obat-obat
sedatif
Pencegahan
deformitas
dan
kontraktur
otot

DAFTAR PUSTAKA
Himawan, S; Patalogi Anatomi, FKUI, 1996Nugruho, E; Buku Ajar Orthopedi Fraktur Sistem Apley,
Widya Medika, edisi ketujuh, 1995
Baratawidjaja KG. 2002. Imunologi Dasar. Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
Darmansjah I, Ganiswarna SG et al. 2003. Farmakologi dan Terapi. Edisi 4. Jakarta: Gaya BaruHarsono
(ed). 1996. Buku Ajar Neurologi Klinis. Yogyakarta: Gadjah Mada University PressJusuf AA. 008. Drug
Affecting Nervous System.
Mardjono M dan Sidharta P. 2003. Neurologi Klinis Dasar. Edisi 9. Jakarta: Dian RakyatKumar V,
Cotran R.S, dan Robbins S.L. 2007. Buku Ajar Patologi Robbin. Edisi 7. Jakarta: EGC Guyton,
Arthur C dan John E Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, E/11. Jakarta: EGC.Sudoyo,
Aru W. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, E/5, .jilid III. Jakarta:Interna PublishingMansjoer,
A. 2009. Kapita Selekta Kedokteran, edisi ketiga, jilid 1. Jakarta:Media AeskulapiusMurray,
Robert K et al. 2003. Biokimia Harper, E/25. Jakarta: EGCPrice & Wilson. 2006. Patofisiologi : Konsep
Klinis Proses-Proses Penyakit edisi 6. Penerbit EGC : Jakarta
Baron.2000. Kapita Selekta Patologi Klinik. Penerbit EGC : Jakarta

http://staff.undip.ac.id

http://kedokteran.unsoed.ac.id

Autoimun, infeksi, Trauma,


Keganasan, Genetik

Gejala Klinis

KELEMAHAN OTOT

Px. Fisik & Px.


Penunjang

DD :
-

Miastenia Gravis
SGB
Neuropaty
Polymyelitis

TERAPI