Anda di halaman 1dari 6

A.

Definisi
Miconazole adalah imidazol antijamur agen, dikembangkan oleh Janssen
Pharmaceutica, biasanya dioleskan pada kulit atau selaput lendir untuk
menyembuhkan infeksi jamur. Ia bekerja dengan menghambat sintesis ergosterol,
suatu komponen penting dari membran sel jamur. Hal ini juga dapat digunakan
terhadap spesies tertentu Leishmania protozoa yang merupakan jenis parasit bersel
satu yang juga mengandung ergosterol dalam membran sel mereka. Selain
tindakannya antijamur dan antiparasit, juga memiliki beberapa sifat antibakteri
yang terbatas.

B. Nama, Struktur dan Sifat Kimia


Mikonazol

nitrat,

1-(2,4-dikloro-beta-(2,4-diklorobenzil)oksi)-

fenetil)imidazol mononitrat. Merupakan serbuk hablur, putih atau praktis putih,


berbau lemah. Sangat sukar larut dalam air dan isopropanol, sukar larut dalam
etanol, kloroform, dan propilen glikol, agak sukar larut dalam metanol, larut
dalam dimetilformamid, mudah larut dalam dimetilsulfoksida.

Gambar 3. Struktur Miconazole

KELOMPOK ANTIJAMUR AZOL


Diperkenalkan untuk pertama kalinya pada tahun 1944, antijamur azol
berperanan penting dalam penatalaksanaan infeksi jamur. Kelompok azol dapat
dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan jumlah nitrogen pada cincin azol.
Kelompok imidazol (ketokonazol, mikonazol, dan klotrimazol) terdiri dari dua
nitrogen dan kelompok triazol (itrakonazol, flukonazol, varikonazol, dan
posakonazol) mengandung tiga nitrogen. Kedua kelompok ini memiliki spektrum
dan mekanisme aksi yang sama. Triazol dimetabolisme lebih lambat dan efek
samping yang sedikit dibandingkan imidazol, karena keuntungan itulah para
peneliti berusaha mengembangkan golongan triazol daripada imidazol.
Mekanisme kerja obat golongan azol

Gambar 4. Mekanisme biosintesis ergosterol dan mekanisme kerja berberapa obat


antijamur terhadap biosintesis ergosterol

Pada umumnya golongan azol bekerja menghambat biosintesis ergosterol yang


merupakan sterol utama untuk mempertahankan integritas membran sel jamur.
Bekerja dengan cara menginhibisi enzim sitokrom P 450, C-14--demethylase
yang bertanggung jawab merubah lanosterol menjadi ergosterol, hal ini
mengakibatkan dinding sel jamur menjadi permeabel dan terjadi penghancuran
jamur.
C. Farmakodinamik
Miconazole memiliki aktivitas antifungi terhadap dermatofita dan ragi,
serta memiliki aktivitas antibakteri terhadap basil dan kokus gram positif.
Aktivitas ini menghambbat biosintesa ergosterol di dalam jamur dan mengubah
komposisi komponen-komponen lemak di dalam membran, yang menyebabkan
nekrosis sel jamur.
D. Farmakokinetik
Miconazole yang diberikan per oral memilki biovaibilitas rendah (2530%) karena miconazole diabsorbsi sedikit dalam rongga usus. Dosis 1000 mg
pada orang sehat memproduksi kadar plasma 1,16 g/ml,2-4 jam setelah
pemberian. Kadar ini cukup untuk mikosis superfisial dan mikosis sistemik.
Sebagian miconazole yang diabsorbsi hampir seluruhnya dimetabolisme. Kurang
dari 1% dosis yang diberikan, tidak mengalami perubahan di dalam urin. Tidak
ditemukan metabolit aktif eliminasi terjadi dalam 3 fase dan waktu paruh dicapai
20 jam - 25 jam (untuk fase 3). Daya absorbsi Miconazole melalui pengobatan
oral yang kurang baik inilah yang menyebabkan pemberiannya diberikan secara
topikal.

E. Dosis
Obat ini tersedia dalam bentuk krem 2% dan bedak tabur dipakai dua kali
sehari, oleskan secukupnya, merata, pada kulit terinfeksi. Untuk mencegah
kambuhan terapi dilanjutkan 10 hari sesudah gejala hilang, infeksi kuku dan ujung
jari 1 kali sehari, oleskan secukupnya, bungkus rapat tidak berlubang, sesudah
kuku terlepas, terapi diteruskan hingga tampak pertumbuhan kuku baru.
F. Bentuk Sediaan dan Nama Dagang
Komposisi tunggal
1. Kalpanax Cream 5 Gram (Kalbe Farma)
2. Daktarin Cream 5 dan 10 Gram (Janssen-Cilag)
3. Daktarin Liq. Soap 50 ml (Janssen-Cilag)
4. Daktarin Powder 20 Gram (Janssen-Cilag)
5. Daktarin Oral Gel 10 dan 20 Gram (Janssen-Cilag)
6. Fungares 5 dan 10 Gram (Guardian Pharmatama)
7. Micoskin 5 dan 10 Gram (Corsa)
8. Micrem 5 Gram (Merck)
9. Moladerm 10 Gram (Molex Ayus)

Kombinasi dengan obat lain


1. Benoson-M Cream 5 Gram (Berno) kombinasi dengan Betametason
Valerat 0.1%
2. Brentan Cream 5 Gram (Janssen-Cilag) kombinasi dengan Hidrokortisom
Asetat 1%

3. Daktarin Diaper Ointment 10 Gram (Janssen-Cilag) kombinasi dengan


Seng Oksida 1,5%.
G. Penggunaan Klinik
Mikonazol Nitrat diidikasikan untuk infeksi kulit yang disebabkan oleh
dermatofit atau khamir dan fungi lainnya seperti:
1. Pityriasis versicolor (panu)
2. Tinea corporis (kurap di leher/badan)
3. Tinea cruris (kurap di selangkangan)
4. Tinea pedis (kutu air di telapak kaki atau athletes foot)
Karena memiliki khasiat antibakteri terhadap bakteri gram positif, maka
Mikonazol Nitrat dapat digunakan untuk mengobati penyakit fungi yang
mengalami infeksi sekunder bakteri.
H. Efek Samping
Biasanya krim Mikonazol Nitrat dapat ditoleransi dengan baik. Pada orang
yang terlalu sensitif (sangat jarang terjadi) dapat timbul iritasi dan
hipersensitivitas kulit.

I.

Kontraindikasi
Tidak boleh digunakan pada pasien yang alergi terhadap Mikonazol atau

bahan tambahan yang terdapat pada krim.


J.

penyimpanan
Simpan dalam wadah tertutup baik dan terhindar dari jangkauan anak-

anak, hindari panas, lemari pendingin dan cahaya.

K. Interaksi Obat
Interaksi obat sangat jarang terjadi pada pemakaian topical namun adanya
penyerapan oleh kulit memungkinkan terjadinya interaksi obat:
-

Amphotericin B: kemungkinan menghambat efek amfoterisin B.

Karbamazepin: meningkatkan kadar carbamazepin dalam darah

Warfarin: meningkatkan efek antikoagulan warfarin