Anda di halaman 1dari 7

TEKTONIK SYSTEM DI INDONESIA

A. TEKTOSNIME
Tektonisme adalah proses yang terjadi akibat pergerakan, pengangkatan, lipatan
dan patahan pada struktur tanah di suatu daerah. Yang dimaksud lipatan adalah bentuk
muka bumi hasil gerakan tekanan secara horizontal yang menyebabkan lapisan
permukaan bumi menjadi berkerut dan melipat. Patahan adalah permukaan bumi hasil
dari gerakan tekanan horizontal dan tekanan vertikal yang meyebabkan lapisan bumi
menjadi retak dan patah. Tenaga tektonik adalah tenaga geologi yang berasal dari dalam
bumi dengan arah vertikal atau horizontal yang mengakibatkan perubahan letak lapisan
batuan yang membentuk permukaan bumi. Lipatan maupun patahan yang dihasilkan
dapat berukuran besar maupun kecil. Gerakan tektonisme juga dapat disebut dengan
dislokasi yang disertai dengan perubahan letak lapisan bumi dari kedudukan semula.
Terlipatnya lapisan batuan pada gerakan ini dapat mendorong terbentuknya
perbukitan (antiklinal) dan lembah (sinklinal). Dalam suatu wilayah yang luas dapat
dijumpai deretan perbukitan maupun lembah secara berulang-ulang. Tekanan dengan
tingkat tenaga yang berlainan pada lapisan batuan dapat membentuk lipatan yang
berbeda. Seperti pada gambar berikut.

Gambar 1. Gambaran terjadinya antiklinal dan sinklinal

Pergerakan lempeng tektonik bisa terjadi karena kepadatan relatif litosfer


samudra dan karakter astenosfer yang relatif lemah. Pelepasan panas dari mantel telah
didapati sebagai sumber asli dari energi yang menggerakkan tektonik lempeng.
Kelebihan kepadatan litosfer samudra yang membuatnya menyusup ke bawah di zona
subduksi dan merupakan sumber terkuat pergerakan lempeng.
Pada waktu pembentukannya di mid ocean ridge, litosfer samudra pada mulanya
memiliki kepadatan yang lebih rendah dari astenosfer di sekitarnya, tetapi kepadatan ini
meningkat seiring dengan penuaan karena terjadinya pendinginan dan penebalan.
Besarnya kepadatan litosfer yang lama relatif terhadap astenosfer di bawahnya
memungkinkan terjadinya penyusupan ke mantel yang dalam di zona subduksi,
sehingga menjadi sumber sebagian besar kekuatan penggerak pergerakan lempeng.

1 | Geologi Minyak dan Gas

Kelemahan astenosfer memungkinkan lempeng untuk bergerak secara mudah kea rah
zona subduksi. Meskipun subduksi dipercaya sebagai kekuatan terkuat pergerakan
lempeng, masih ada gaya penggerak lain yang dibuktikan dengan adanya lempeng
seperti lempeng Amerika Utara dan Eurasia yang bergerak tetapi tidak mengalami
subduksi di manapun.
Melalui teori tektonik lempeng, Wegener mengemukakan teori tentang apungan
dan pergeseran benua, yang menjelaskan bahwa pemekaran kerak (seafloor spreading)
sebagai konsekuensi pergerakan vertikal (upwelling) batuan tetapi menghindarkan
keharusan adanya bumi yang ukurannya terus membesar (expanding earth) dengan
memasukkan zona hunjaman (subduction zone) dan translation fault.
Pada hakekatnya hipotesa pengapungan benua adalah suatu hipotesa yang
menganggap bahwa benua-benua yang ada saat ini dahulunya bersatu yang dikenal
sebagai super-kontinen yang bernama Pangaea. Super-kontinen Pangea ini diduga
terbentuk pada 200 juta tahun yang lalu yang kemudian terpecah-pecah menjadi bagianbagian yang lebih kecil yang kemudian bermigrasi (drifted) ke posisi seperti saat ini.
Bukti bukti tentang adanya super-kontinen Pangaea pada 200 juta tahun yang lalu
didukung oleh fakta fakta sebagai berikut:
1. Kecocokan/kesamaan Garis Pantai dan Jenis Batuan
Adanya kecocokan garis pantai yang ada di benua Amerika Selatan bagian timur
dengan garis pantai benua Afrika bagian barat. Kedua garis pantai ini apabila dicocokan
atau dihimpitkan satu dengan lainnya akan berhimpit. Wegener menduga bahwa kedua
benua tersebut pada awalnya adalah satu. Berdasarkan adanya kecocokan bentuk garis
pantai inilah kemudian Wegener mencoba untuk mencocokkan semua benua-benua
yang ada di muka bumi.
Jalur pegunungan Appalachian yang berada di bagian timur benua Amerika
Utara dengan sebaran berarah timur laut dan secara tiba-tiba menghilang di pantai
Newfoundlands. Pegunungan yang umurnya sama dengan pegunungan Appalachian
juga dijumpai di British Isles dan Scandinavia. Kedua pegunungan tersebut apabila
diletakkan pada lokasi sebelum terjadinya pemisahan atau pengapungan, kedua
pegunungan ini akan membentuk suatu jalur pegunungan yang menerus.
Dengan cara mempersatukan atau mencocokan kenampakan bentuk-bentuk
geologi yang dipisahkan oleh suatu lautan memang diperlukan, akan tetapi data-data
tersebut belum cukup untuk membuktikan hipotesa pengapungan benua (continental
drift). Dengan kata lain, jika suatu benua telah mengalami pemisahan satu dan lainnya,
maka mutlak diperlukan bukti-bukti bahwa struktur geologi dan jenis batuan yang
cocok/sesuai. Meskipun bukti-bukti dari kenampakan geologinya cocok antara benuabenua yang dipisahkan oleh lautan, namun belum cukup untuk membuktikan bahwa
daratan/benua tersebut telah mengalami pengapungan.
2. Persebaran Fosil

2 | Geologi Minyak dan Gas

Diketemukannya fosil-fosil yang berasal dari binatang dan tumbuhan yang


tersebar luas dan terpisah di beberapa benua, yaitu fosil Cynognathus, Mesosaurus,
Lystrosaurus, dan Clossopteris.
3. Bukti Paleoclimatic (Iklim Purba)
Para ahli kebumian juga telah mempelajari mengenai ilklim purba, dimana pada
250 juta tahun yang lalu diketahui bahwa belahan bumi bagian selatan pada zaman itu
terjadi iklim dingin dan belahan bumi bagian selatan ditutupi oleh lapisan es yang
sangat tebal, seperti benua Antartika, Australia, Amerika Selatan, Afrika, dan India.
Wilayah yang terkena glasiasi di daratan Afrika ternyata menerus hingga ke wilayah
ekuator. Akan tetapi argumentasi ini kemudian ditolak oleh para ahli kebumian, karena
selama perioda glasiasi di belahan bumi bagian selatan, di belahan bumi bagian utara
beriklim tropis yang ditandai dengan berkembangnya hutan rawa tropis yang sangat luas
dan merupakan material asal dari endapan batu bara yang dijumpai di Amerika bagian
timur, Eropa dan Asia.
Pada saat ini, para ahli kebumian baru percaya bahwa daratan yang mengalami
glasiasi berasal dari satu daratan yang dikenal dengan super-kontinen Pangaea yang
terletak jauh di bagian selatan dari posisi saat ini. Bukti-bukti dari Wegener dalam
mendukung hipotesa Pengapungan Benua baru diperoleh setelah 50 tahun sebelum
masyarakat ahli kebumian mempercayai kebenaran tentang hipotesa Pengapungan
Benua.
4. Bukti Paleomagentisme
Ketika pertama kali hipotesa Pengapungan Benua dikemukakan oleh Wegener,
yaitu pada periode 1930 hingga awal tahun 1950-an, bukti-bukti yang mendukung
hipotesa ini sangat minim sekali. Adapun perhatian terhadap hipotesa ini baru terjadi
ketika penelitian mengenai penentuan intensitas dan arah medan magnet bumi. Setiap
orang yang pernah menggunakan kompas tahu bahwa medan magnet bumi mempunyai
kutub, yaitu kutub utara dan kutub selatan yang arahnya hampir berimpit dengan arah
kutub geografis bumi. Medan magnet bumi juga mempunyai kesamaan dengan yang
dihasilkan oleh suatu batang magnet, yaitu menghasilkan garis-garis imaginer yang
berasal dari gaya magnet bumi yang bergerak melalui bumi dan menerus dari satu kutub
ke kutub lainnya. Jarum kompas itu sendiri berfungsi sebagai suatu magnet kecil yang
bebas bergerak di dalam medan magnet bumi dan akan ditarik ke arah kutub-kutub
magnet bumi.
Suatu metoda yang dipakai untuk mengetahui medan magnet purba adalah
dengan cara menganalisa beberapa batuan yang mengandung mineral-mineral yang
kaya unsur besinya yang dikenal sebagai fosil kompas. Mineral yang kaya akan unsur
besi, seperti magnetite banyak terdapat dalam aliran lava yang berkomposisi basaltis.
Saat suatu lava yang berkomposisi basaltis mendingin di bawah temperatur Curie (
5800oC), maka butiran butiran yang kaya akan unsur besi akan mengalami magnetisasi
dengan arah medan magnet yang ada pada saat itu. Sekali batuan tersebut membeku
maka arah kemagnetan (magnetisasi) yang dimilikinya akan tertinggal di dalam batuan

3 | Geologi Minyak dan Gas

tersebut. Arah kemagnetan ini akan bertindak sebagai suatu kompas ke arah kutub
magnet yang ada. Jika batuan tersebut berpindah dari tempat asalnya, maka kemagnetan
batuan tersebut akan tetap pada arah aslinya. Batuan batuan yang terbentuk jutaan tahun
yang lalu akan merekam arah kutub magnet pada saat dan tempat di mana batuan
tersebut terbentuk, dan hal ini dikenal sebagai Paleomagnetisme.
Penelitian mengenai arah kemagnetan purba pada aliran lava yang diambil di
Eropa dan Asia pada tahun 1950-an menunjukkan bahwa arah kemagnetan untuk batuan
batuan yang berumur muda cocok dengan arah medan magnet bumi saat ini, akan tetapi
arah kemagnetan (magnetic alignment) pada aliran lava yang lebih tua ternyata
menunjukkan arah kemagnetan yang sangat bervariasi dengan perbedaan yang cukup
besar. Berdasarkan hasil ploting dari posisi yang terlihat sebagai kutub magnet utara
untuk benua Eurasia mengindikasikan bahwa selama 500 juta tahun yang lalu, lokasilokasi dari kutub utara magnet bumi secara berangsur berpindah-pindah. Hal ini
merupakan bukti kuat bahwa kutub magnet bumi telah mengalami berpindahan /
bermigrasi. Perpindahan arah kutub magnet ini dikenal sebagai Pole Magnetic
Wandering, yaitu arah kutub magnet yang berpindah pindah. Sebaliknya apabila arah
kutub magnet dianggap tetap pada posisi seperti saat ini maka penjelasannya adalah
bahwa benua yang mengalami perpindahan atau pengapungan.
Semua bukti-bukti ilmiah tersebut mengindikasikan bahwa posisi rata-rata dari
kutub kutub magnet erat kaitannya dengan posisi kutub geografis bumi. Dengan
demikian, jika posisi kutub-kutub magnet relatif tetap pada posisinya, maka kutubkutub yang terlihat berpindah pindah dapat dijelaskan dengan hipotesa Pengapungan
Benua. Beberapa tahun kemudian, suatu kurva dari kenampakan kutub-kutub magnet
yang berpindah pindah juga dilakukan untuk benua Amerika Utara. Apabila
diperbandingkan hasil dari kedua jalur perpindahan kutub magnet bumi, baik yang ada
di Amerika Utara dan Eurasia memperlihatkan kesamaan dan kemiripan dari jalur
perpindahan kutub kutub magnet bumi tersebut yang terpisah dengan sudut 30 derajat.

4 | Geologi Minyak dan Gas

Gambar 3. Teori pengapungan benua dan lempengan-lempengan yang terbentuk

B.

TEKTONIK SETTING DI INDONESIA

Tektonik lempeng segai ilmu yang mempelajari gejala pergerakan lempeng bumi dan
menjelasakan berbagai fenomena geologi. Lempeng tektonik adalah bagian dari kerak bumi
bagian atas yang disebut dengan lithosphere, pada 225 tahun yang silam seluruh daratan di bumi
ini merupakan suatu kesatuan yang disebut dengan Benua Pangaea pada Zaman permian,
kemudian pergerakan lapisan bumi terus terjadi hingga terbentuk 2 benua yakni Benua Laurasia
dan Benua Gondwanaland.Pergerakan lapisan bumi terjadi hingga saat ini terbagi menjadi 5
belahan benua. Perubahan keadaan permukaan bumi terjadi selama 4 zaman kurang lebih
selama 225 juta tahun. Perubahan permukaan bumi ini yang mengakibatkan adanya batas
batas lempeng tektonik di masing masing lapisan bumi. Pergerakan yang berasal dari tenaga
endogen ini mengakibatkan sebuah siklus batuan dalam peroses pergeseran lempeng. Indonesia
berada di dekat batas Lempeng Tektonik Eurasia dan Indo-Austrlia yang jenis batas dari kedua
lempeng ini adalah Konvergen. batas konvergen ini terjadi apabila dua lempeng tektonik
tertelan (consumed) ke arah kerak bumi, yang mengakibatkan keduanya bergerak saling
menumpu satu sama lain (one slip beneath another). Wilayah dimana suatu lempeng samudra
terdorong ke bawah lempeng benua atau lempeng samudra lain disebut dengan zona tunjaman
(subduction zones). Di zona tunjaman inilah sering terjadi gempa. Pematang gunung-api
(volcanic ridges) dan parit samudra (oceanic trenches) juga terbentuk di wilayah ini.
Lempeng Indo-Australia adalah lempeng yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia.
Selain itu di bagian timur, bertemu 3 lempeng tektonik sekaligus, yaitu lempeng Philipina,
Pasifik, dan Indo-Australia. pergerakan dari lempeng Indo-Australia yang berkisar 7 cm/tahun
menuju ke bawah lempeng Eurasia menyebabkan adanya Subdiksi.subduksi antara dua lempeng
menyebabkan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia menyebabkan terbentuknya
deretan gunung berapi yang tak lain adalah Bukit Barisan di Pulau Sumatra dan deretan gunung
5 | Geologi Minyak dan Gas

berapi di sepanjang Pulau Jawa, Bali dan Lombok, serta parit samudra yang tak lain adalah Parit
Jawa (Sunda). Lempeng tektonik terus bergerak. Suatu saat gerakannya mengalami gesekan
atau benturan yang cukup keras. Bila ini terjadi, timbullah gempa dan tsunami, dan
meningkatnya kenaikan magma ke permukaan. Jadi, tidak heran bila terjadi gempa yang
bersumber dari dasar Samudra Hindia, yang seringkali diikuti dengan tsunami, aktivitas gunung
berapi di sepanjang pulau Sumatra dan Jawa juga turut meningkat.ndonesia terletak pada jalur
gunungapi tersebut dan merupakan negara dengan jumlah gunungapi terbanyak. Pola
penyebaran gunungapi menunjukkan jalur yang hampir mirip dengan pola penyebaran fokus
gempa dan tipe aktivitas kegunungapiannya tergantung pada batas lempengnya. Hubungan ini
menunjukkan bahwa volkanis mamerupakan salah satu produk penting sistem tektonik.
konvergensi antara lempeng samudra dan benua membentuk zona palung busur, spt yang
terdapat di sumatera dan jawa. zona palung dapat mencapai kedalaman 11 KM di depan busur
vulkanik sebagai tempat akumulasi sedimen asal busur, serta sedimentasi turbidit dan pelajik
namuan biasanya telah terdeformasi dan tertutupi oleh kompleks subduksi. berdasarkan uraian
tentang tektonik lempeng, maka semakin jelas bahwa kepulauan Indonesia sangat dipengaruhi
oleh interaksi lempeng bumi. dikarenakan lempeng terus bergerak , maka tekanan lempeng
bumi dari perspektif kebencanaan sangat rentan mengalami bencana geologi. bencana geologi
signifikan yang lain adalah letusan gunung api. gunung api di sumatera dan jawa termasuk ring
of fire yang menunjukan deretan gunung api aktif di dunia.
C. Geology setting of Indonesia
Indonesia terletak pada jalur gunungapi tersebut dan merupakan negara dengan jumlah
gunungapi terbanyak. Pola penyebaran gunungapi menunjukkan jalur yang hampir mirip dengan
pola penyebaran fokus gempa dan tipe aktivitas kegunungapiannya tergantung pada batas
lempengnya. Hubungan ini menunjukkan bahwa volkanismamerupakan salah satu produk
penting sistem tektonik. Akibatnya berbagai gejala alam di Indonesia sering terjadi. Yang salah
satunya banyak di jumpai gunung api di bagian selatan Indonesia yang merupakan buah karya
dari pergerakan lempeng Ino-Australian dengan lempeng Eurasian. Jumlah gunung api di
Indonesia 177 gunung api, Sert gunung api juga di temui di daerah sebagain dari pulau
halmahera dan sebagian dari pulau sulawesi yang merupakan tempat pertemuan lempeng pasifik
dengan lempeng eurasian.
Indonesia juga memiliki keanekaragaman ekosistem yang lebih besar dibandingkan
dengan kebanyakan negara tropika lainnya. Sejarah geologi dan geomorfologinya yang
beranekaragam, dan kisaran ikim dan ketinggiannya telah mengakibatkan terbentuknya banyak
jenis hutan daratan dan juga hutan rawa, sabana, hutan bakau dan vegetasi pantai lainnya,
gletsyer, danau-danau yang dalam dan dangkal, dan lain-lain. Salah satu jalur timah terkaya di
dunia menjulur sampai di Nusantara, daerahnya mempunyai akumulasi minyak dan gasbumi
yang tergolong besar.
Wilayah Indonesia dibagi atas garis Wallace dan weber, pembagian
wilayah ini berdasarkan klasifikasi flora dan fauna di Indonesia.

6 | Geologi Minyak dan Gas

7 | Geologi Minyak dan Gas