Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia dalam melakukan aktifitas sehari hari tidak terlepas dari peranan
penting anggota gerak tubuh (ekstrimitas). Anggota gerak tubuh manusiaterdiri atas
anggota gerak tubuh bagian atas dan anggota gerak tubuh bagian bawah. Dalam
melakukan aktivitas fungsional, peran anggota gerak tubuh atas lebih dominant
digunakan, misalnya untuk membersihkan diri, makan, minum, berpakaian dan masih
banyak aktivitas lain yang melibatkan anggota gerak atas.
Salah satu sendi pada anggota gerak atas yang sering mengalami gangguan
adalah sendi bahu. Gangguan yang dialami ini akan mengakibatkan terhalangnya
aktivitas sehari hari. Gangguan sendi bahu sebagian besar didahului oleh adanya
rasa nyeri pada bahu, terutama nyeri yang timbul sewaktu menggerakkan bahu,
sehingga yang bersangkutan takut menggerakkan bahunya, pada akhirnya bahu
menjadi kaku11.
Frozen shoulder adalah semua gangguan pada sendi bahu yang menimbulkan
nyeri dan pembatasan lingkup gerak aktif maupun pasif (Sidharta, 1980). Frozen
shoulder terjadi pada 2 5 % darri populasi yang ada, 10 20 % diantaranya
mengidap diabetes mellitus. Frozen shoulder lebih banyak diderita oleh wanita
daripada pria, umumnya berusia sekitar 40 60 tahun. Biasanya menyerang pada
bahu yang jarang digerakkan dan sekitar 12 % dari jumlah penderita menerita frozen
shoulder bilateral11.
Penyebab terjadinya frozen shoulder belum diketahui secara pasti. Namun
kemungkinan penyebab dari frozen shoulder antara lain tendinitis, rupture rotator
cuff, kapsulitis, post immobilisasi lama, trauma serta diabetes mellitus. Penyakit ini
diduga merupakan respon autoimunal terhadap rusaknya jaringan lokal1.
Mengingat luas sendi bahu merupakan hal yang penting di samping perasaan
nyeri dalan melakukan self care penderita. Fisioterapi perlu memberikan pelayanan
dalam usaha peningkatan gerak dan fungsi sendi bahu, oleh karena itu penulis
1

(fisioterapi) merasa perlu untuk mengangkt masalah ini. Modalitas yang digunakan
untuk kasus ini berupa Short Wave Diathermy (SWD), terapi latihan dan terapi
manipulasi. SWD adalah suatu gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh
suatu generator berfrekuensi 27.120.000 circle perdetik dengan panjang gelombang
11 meter yang digunakan sebagai pengobatan. Terapi yang digunakan pada penderita
frozen shoulder adalah pemanasan, terapi manipulasi dan latihan aktif1.
Tujuan penerapan SWD dalam kasus ini adalah mengurangi nyeri pada bahu
karena dengan adanya panas yang diberikan akan memberikan efek sedatif karena
dapat meningkatkan nilai ambang rangsang nyeri dan membuat pembuluh darah
vasodilatasi sehingga akan memperlancar aliran darah, menimgkatkan elastisitas
jaringan lunak untuk mengurangi proses kontraktur jaringan dan sebagai persiapan
terapi latihan5.
Selain modalitas di atas, penulis juga menggunakan terapi latihan. Menurut
Kisner (1996), latihan yang tepat untuk frozen shoulder adalah dengan menggunakan
Codmans Pendular Exercise. Codmans Pendular Exercise memiliki efek traksi yang
ringan dengn gerakan ayunan yang berulang sehingga dapat mengurangi nyeri dan
meningkatkan lingkup gerak sendi (LGS) bahu. Metode lain yaitu dengan overhead
pulley. Manfaat lain dari terapi latihan adalah meningkatkan peredaran darah serta
meningkatkan kekuatan otot. Dengan demikian akan mengurangi resiko terjadinya
pembatasan gerak dan fungsi yang berakibat terganggunya aktivitas keseharian
penderita.
1.2. Identifikasi Masalah
A. Apa yang menjadi penyebab/etiologi dari Frozen Shoulder?
B. Bagaimana patogenesis dari Frozen Shoulder?
C. Bagaimana atau gejala apa saja yang dapat digunakan sebagai rujukan untuk
membuat diagnosa dini Frozen Shoulder?
D. Apakah program rehabilitasi medik yang bisa dikerjakan ?

1.3. Tujuan dan Manfaat


Untuk membuat uraian mengenai Frozen Shoulder secara menyeluruh dan
lengkap serta lebih memfokuskan pada penatalaksanaan di bidang rehabilitasi medik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Sendi Bahu
2.1.1 Persendian Pada Bahu

Gambar 3.1 Anatomi Bahu

Sendi bahu terdiri dari beberapa persendian dari os humerus, scapula,


clavicula dan costae. Secara ringkas dijelaskan sebagai berikut :
1. Sendi Glenohemeralis11
Sendi ini termasuk klasifikasi sendi bola dan mangkuk (ball and soket)
dimana kaput humerus yang berberntuk hampir setengah bola dengan diameter tiga
sentimeter berhubungan dengan fossa glenoidalis dari skapula. Segera akan tampak
bahwa ada ketidaksesuaian antara dua bagian tulang yang mengadakan persendian
ini, dimana bola dari caput humeri yang bernilai sudut 1530 masuk ke dalam
mangkuk dari fossa glenoidalis yang bernilai sudut 75 0. Keadaan ini secara anatomis
membuat sendi ini tidak stabil. Adanya labrium glenoidalis, suatu jaringan
fibrokarfilaginous di sepanjang tepi fossa glenoidalis serta menghadapnya fossa
glenoidalis agak ke atas membuat sendi ini lebih stabil.
Kapsul sendi ini sangat tipis dan di bagian depan diperkuat oleh ligamentum
glenohumeralis superior, medius dari ligamen ini terdapat lubang yang disebut
foramen weitbrecht. Dengan demikian daerah ini merupakan daerah locus minoris

resistensia yang menyebabkan mudahnya terjadi dislokasi kaput humerus ke anterior.


Terdapat tiga buah busa yang berhubungan dengan kavum sinovium, yaitu busa
subakromialis, subdeltoideus dan subkorakoideus. Fungsinya adalah memudahkan
pergerakan otot-otot deltoideus supraspinatus, infraspinatus, teres minor dan
subskapularis.
2. Sendi Suprahumeral10
Merupakan sendi palsu yang bersifat melindungi (protective) persendian
antara kaput humerus dan lengkungan lebar ligamen yang menghubungkan proccesus
korakoideus dan akromion. Lengkungan korakoakromialis melindungi sendi
glenohumeralis terhadap trauma dari atas dan mencegah dislokasi ke atas dari kaput
humerus. Sendi suprahumeral ini dibatasi oleh kavitas glenoidalis dibagian
superiornya, proccesus akromialis dibagian posterior. Sedangkan dibagian anterior
dan medialnya oleh proccesus kcrakoideus dan dia atasnya terdapat ligamen
korakoakromial. Kaput humerus berada di bawah susunan ini.
Di dalam sendi ini didapatkan bursa subakromial, bursa subkorakoid, otot dan
tendon supraspinatus, superior dari kapsul glenohumeral, tendon biseps dan jaringan
ikat. Ketika lengan diabduksikan, tuberositas majus harus melewati di bawah ligamen
korakoakromialis dan tidak mengadakan penekanan pada jaringan yang ada di
bawahnya. Pergerakan ini memerlukan koordinasi kerja otot yang halus, kelenturan
(laxity) jaringan lunak dan gerakan eksorotasi dari humerus yang benar. Gangguan
dari faktor tersebut dapat mengakibatkan pembatasan gerak, nyeri dan distabilitas.
3. Sendi Akromioklavikularis 8,15
Adalah persendian antara klavikula dan akromion. Sendi ini termasuk dalam
sendi yang tidak beraturan. Sendi ini diperkuat oleh ligament akromioklavikular yang
berjalan dari bagian atas distal klavikula hingga permukaan atas dari proccesus
akromialis dan di belakang oleh aponeurosis dari otot trapezius dan deltoid. Stabilitas
klavikula oleh ligamen korakoklavikular sebenarnya terdiri dari 2 ligamen, yaitu
ligamen conoid dan ligamen trapezoid) yang mengikat klavikula dengan proccesus
korakoid. Rotasi dari klavikula primer terjadi bila lengan diabduksi lebih dari 90 0
(waktu skapula berotasi ke atas), maka terjadi rotasi klavikula mengitari sumbu
5

panjangnya. Elevasi pada sudut 300 pertama terjadi pada sendi sternoklavikularis dan
300 berikutnya terjadi akibat rotasi klavikula pada sumbu panjangnya.
4. Sendi Skapulokostalis 8,10
Merupakan persendian antara skapula dan dinding thoraks, dimana
diantaranya terdapat otot subskapularis dan serratus anterior yang disebut juga a
bone muscles bone articulation. Otot penggerak utamanya yaitu serratus anterior
dan trapezius.Pada sendi ini, skapula bergerak menggelincir pada dinding thoraks.
Gerakannya ada dua tipe, yaitu translasi (gerak dari skapula ke atas, ke bawah, ke
depan dan ke belakang) dan gerak rotasi melalui sumbu tegak lurus. Biasanya gerak
skapula adalah gerak kombinasi daripada kedua gerak ini. Beberapa peneliti
mengatakan bahwa antara sendi glenohumeral dan skapulakostal terdapat
perbandingan saat melakukan gerakan abduksi dan fleksi bahu. Mereka menemukan
bahwa dua pertiga dari gerakan tersebut dilakukan oleh sendi glenohumeral (sekitar
1200) sedangkan sepertiganya oleh sendi skapulakostalis (sekitar 600). Jadi
perbandingannya 2:1, yang merupakan hasil yang konstan.
5. Sendi Sternoklavikular 8
Adalah persendian synovial antara manubrium sterni dan klavikula bagian
proksimal. Meniskus menempel pada klavikula bagian superior dan pada kartilago
tulang rusuk pertama, membagi sendi sternoklavikular menjadi dua unit fungsional
untuk gerakan menggelincir. Anteroposteroir gliding (protraksi dan retraksi dari
klavikula) terjadi antara sternum dan meniskus, sedangkan superoinferior gliding
(elevasi dan depresi dari klavikula) terjadi antara klavikula dan meniskus.
Penghubung antara sternum dan klavikula di bentuk oleh ligament sternoklavikular
anterior dan posterior, dan ligamen interklavikular menghubungkan antara dua
klavikula.
2.1.2 Otot Sendi Bahu11
Gerakan kompleks yang dapat dilakukan oleh bahu selain ditunjang oleh
banyaknya sendi pada bahu juga ditunjang oleh banyaknya otot yang berperan dalam
melakukan gerakan bahu. Otot tersebut yaitu :
6

1. Deltoid
Dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :

Pars clavicularis (anterior)


Origo : Akromial sepertiga klavikula
Gerakan : Prime mover fleksi 900 dan adduksi bahu dan sebagai pembantu
gerakan internal rotasi dan abduksi lebih dari 600 dari bahu.

Pars acromialis (middle)


Origo : akromion
Gerakan : Prime mover abduksi bahu sampai 900

Pars spinalis (posterior)


Origo : Spina skapula (ventral bertendon pendek, dorsal bertendo panjang)
Gerakan : Prime mover ekstensi bahu
Insertio : Tuberositas deltoid (bursa subdeltoid antara otot dan tuberkulum
majus)

Persyarafan : N. Axillaris (C5 C6)


2. Supraspinatus
Origo : Fosa supraspinatus
Insertio : Tuberkulum majus humerus
Persyarafan : N. Supraskapularis (C5)
Gerakan : Prime mover abduksi bahu hingga 900
3. Infraspinatus
Origo : Fosa infraspinatus
Insertio : Middle dari tuberkulum majus humerus
Persyarafan : N.Supraskapularis (C5)
Gerakan : Prime mover rotasi ke lateral dan ekstensi horisontal bahu dan sebagai
pembantu gerakan abduksi horisontal bahu.
4. Subskapularis
Origo : Fosa subskapularis

Insertio : Tuberculum minus humerus


Persyarafan : N. Subskapularis superior dan inferior (C5 C6)
Gerakan : Prime mover rotasi ke dalam dari humerus
5. Teres minor
Origo : Permukaan belakang lateral skapula
Insertio : Distal dari tuberkulum majus humerus
Persyarafan : N. Axillaris (C5)
Gerakan : Prime mover rotasi kelateral dan ekstensi horisontal bahu dan sebagai
pembantu gerakan abduksi horisontal bahu.
6. Teres Mayor
Origo : Lateral skapula dan angulus inferior
Insertio : Krista tuberkulum minus humerus
Persyarafan : N. Subskapularis inferior (C5 C6)
Gerakan : Prime mover ekstensi bahu
7. Latissimus Dorsi
Origo : Proccesus spinosus dari thorakal 6 hingga lumbal, belakang sakrum,
bagian posterior krista illiaka dan beberapa tulang iga bagian bawah.
Insertio : Medial sulkus bisipitalis
Persyafaran : N. Thorakodorsalis (C7 C8)
Gerakan : Prime mover ekstensi dan rotasi kemedial dari bahu.
8. 8. Korakobrakhialis
Origo : Proccesus korakoid skapula
Insertio : Permukaan anteromedial humerus
Persyarafan : N. Muskulokutaneus (C6 C7)
Gerakan : Prime mover fleksi bahu 900
9. Pektoralis Mayor
Dibagi tiga, yaitu :
Pars klavikularis
Origo : dua pertiga bagian media klavikula
Pars manubrialis
8

Origo : Sternum
Pars Sternokostalis
Origo : Kartilago kostae 1 6
Insertio : Tuberkulum majus humerus
Persyarafan : N. Pektoralis medial dan lateral (C5, C6, C7, C8, T1)
Gerakan : Prime mover adduksi horisontal dan rotasi ke medial bahu.
10. Serratus anterior
Origo : 8 tulang rusuk bagian anterolateralis
Insertio : Permukaan anterior skapula dari sudut atas hingga bawah
Persyarafan : N. Thorakalis longus (C5, C6, C7)
Gerakan : Prime mover adduksi dan rotasi ke atas skapula dan sebagai pembantu
gerakan abduksi bahu 900
11. Rhomboideus mayor
Origo : Proccesus spinosus thorakal 2, 3, 4, dan 5
Insertio : Medial skapula hingga bawah skapula
Persyarafan : N. Skapulodorsalis (C5)
Gerakan : Prime mover adduksi dan rotasi ke bawah skapula dan sebagai
pembantu gerakan elevansi skapula.
12. Rhomboideus minor
Origo : Proccesus spinosus cervikal 7 dan thorakal 1
Insertio : Spina skapula
Persyarafan : N. Skapulodorsalis (C5)
Gerakan : Prime mover adduksi dan rotasi ke bawah skapula dan sebagai
pembantu gerakan elevansi skapula
13. Levator skapula
Origo : Proccesus transversus cervikalis 1 4
Insertio : Tepi atas skapula
Persyarafan : N. Skapulodorsalis (C3, C4, C5)
Gerakan : Prime mover elevansi skapula
14. Pektoralis minor
9

Origo : Tulang iga 3, 4, 5


Insertio : Proccesus korakoideus
Persyarafan : N. Pektoralis medialis (C8 Th1)
Gerakan : Adduksi horisontal bahu
15. Subsklavius
Origo : Permukaan atas tulang rusuk
Insertio : Bagian bawah klavikula
Persyarafan : N. Subklavius (C5 C6)
Gerakan : Depresi klavikula
16. Trapezius
Dibagi menjadi 3, yaitu :

Superior

Origo : Sepertiga medial dari tulang occiput


Insertio : Sepertiga lateral dari klavikula bagian posterior
Gerakan : Elevasi skapula

Middle

Origo : Proccesus spinosus thorakalis atas


Insertio : Tepi medial spina skapula
Gerakan : Adduksi skapula

Inferior

Origo : Proccesus spinosus thorakalis bawah


Insertio : Tepi bawah spina skapula
Persyarafan : N. Accessory (C3 C4)
Gerakan : Depresi dan adduksi skapula
2.1.3 Vaskularisasi11
Peredaran darah arteri yang memelihara sendi bahu adalah arteri axillaris yang
merupakan lanjutan dari arteri subclavia lalu bercabang-cabang, antara lain : arteri
subscapularis, dan arteri brachialis. Sedangkan pembuluh darah vena pada sendi bahu

10

anatara lain vena axillaris yang bercabang-cabang menjadi vena cephalica, vena
brachilica.

11

Gambar 3.2 Vaskularisasi Sendi Bahu


2.1.4. Blomekanika sendi bahu14,15
Gerakan-gerakan dari bahu dibagi dua, yang didasarkan pada kelompok otot
penggeraknya. Gerakan tersebut antara lain gerakan skapula dan gerakan dari
humerus. Gerakan-gerakan tersebut antara lain :
1) Gerakan skapula
a. Elevasi dan depresi
Elevasi yaitu gerakan skapula ke atas sejajar dengan vertebra, dapat dilakukan
dengan mengangkat bahu ke atas. Sedangkan depresi adalah kembalinya bahu dari
posisi elevasi. Gerakan vertikal disertai dengan tilting. Total luas geraknya adalah 10
12 cm.
b. Abduksi (protraksi) dan Aduksi (retraksi)
Protraksi adalah gerakan kelateral skapula menjauhi vertebra. Gerakan ini
dapat terjadi ketika bahu melakukan gerakan mendorong ke depan. Retraksi yaitu
gerakan skapula ke medial, dapat dilakukan dengan menarik bahu ke belakang. Total
luas geraknya adalah kira-kira 15 cm.
c. Upward rotation dan downward rotation
Upward rotation yaitu gerakan rotasi dari scapula pada bidang frontal
sehingga fossa glenoidalis bergerak ke atas. Sedangkan downward rotation yaitu
12

gerakan kembali dari upward rotation. Total luas gerak 600 , displacement sudut
bawah skapula 10 12 cm dan sudut superolateral 5 6 cm.
4. Upward tilt dan reduction of upward tilt.
Upward tilt yaitu gerakan skapula pada aksis frontal horizontal yang
menyebabkan permukaan posterior skapula bergerak ke atas. Gerakan ini terjadi oleh
karena rotasi dari klavikula, sehingga bagian superior skapula bergerak naik-turun
dan bagian inferiornya bergerak maju-mundur. Hal ini hanya terjadi jika bahu
hiperekstensi. Reduction of upward tilt yaitu gerakan kembali dari upward tilt.
2) Gerakan humerus
Posisi awal berdiri tegak dengan lengan di samping tubuh.
a. Fleksi dan ekstensi
Feksi adalah gerakan lengan atas dalam bidang sagital ke depan dari 00 ke
1800. Gerak yang berlawanan ke posisi awal (00) disebut gerak depresi lengan. Gerak
ekstensi adalah gerak dari lengan dalam bidang sagital ke belakang dari 00 ke kirakira 600. Gerakan fleksi dibagi menjadi 3 fase. Fase 1, fleksi 0 0 sampai 500 - 600. Otot
yang terlibat yaitu deltoid anterior, korakobrakhialis, pektoralis mayor serabut
klavikular. Gerakan fleksi bahu ini dibatasi oleh tegangan dari ligamen
korakohumeralis dan tahanan yang dilakukan oleh teres minor, teres major dan
infraspinatus. Fase II, Fleksi 600 - 1200. Pada fase ini diikuti gerakan shoulder girdle,
yaitu rotasi 600 dari skapula, sehingga glenoid cavity menghadap ke atas dan ke
depan, dan aksial pada sendi sternoklavikular dan akromioklavikular, setiap sendi
membantu 300. Gerakan ini melibatkan otot trapezius, serratus anterior. Fleksi pada
sendi skapulothorakis dibatasi oleh tahanan lattisimus dorsi dan serabut kostosternal
dari pektoralis mayor. Fase III, fleksi 1200 - 1800. Jika hanya satu lengan yang fleksi
dari spinal kolumn. Bila kedua lengan fleksi maksimum akan terjadi gerakan lordosis
dari lumbal melebihi normal.
b. Abduksi dan adduksi
Gerak abduksi adalah gerak dari lengan menjauhi tubuh dalam bidang frontal
dari 00 ke 1800 Gerak adduksi adalah gerak kebalikan dari abduksi yaitu gerak lengan
menuju garis tengah tubuh. Tiga fase gerakan abduksi, fase I, abduksi 00 900
13

merupakan gerakan start abduksi dari sendi bahu. Otot-otot yang terlibat yaitu deltoid
middle dan supraspinatus. Pada akhir abduksi 900, shoulder mengunci sebagai hasil
greater tuberosity menyentuh superior margin dari glenoid. Fase II, abduksi 900
1500, ketika abduksi 900, disertai fleksi sehingga dapat aduksi sampai 1200 shoulder
mengunci dan abduksi hanya dapat maju dengan disertai gerakan shoulder girdle.
Gerakan ini adalah ayunan dari skapula dengan rotasi tanpa mengunci, sehingga
kavitas glenoidalis menghadap agak keatas dengan luas gerakan 600 Aksial rotasi
pada sendi sternoklavikularis dan akromioklavikularis, setiap sendi membantu
gerakan 300. otot- otot yang terlibat ialah trapezius atas dan bawah dan seratus
anterior. Pada gerakan 1500 , yang dihasilkan oleh rotasi skapula diketahui dengan
adanya tahanan peregangan dari otot-otot abduktor yaitu latissimus dorsi dan
pektoralis mayor. Fase III, abduksi 1500 1800 dalam fase ini, abduksi mencapai
posisi vertikal dan disertai gerakan spinal kolumn . Bila gerakan hanya satu tangan
disertai pemelesetan kelateral dari spinal kolumn yang dihasilkan oleh otot spinal
lawannya. Jika kedua lengan abduksi bersama-sama sampai 1800 akan terjadi lumbar
lordosis yang dipimpin oleh otot spinal.
c. Fleksi dan Ekstensi lumbar
Gerak fleksi horisontal adalah gerak dari lengan dalam bidang horisontal
mulai 00 1350. Gerak ekstensi horisontal ialah gerak lengan kebelakang dalam
bidang horisontal dari 00 450.
d. Rotasi
Rotasi dengan lengan disamping tubuh, siku dalam fleksi, bila lengan bawah
digerakkan menjauhi garis tengah tubuh disebut eksorotasi, bila lengan bawah
digerakkan menuju garis tengah tubuh disebut endorotasi. Luas geraknya 900 . Rotasi
dengan lengan dalam abduksi 900 dan telapak tangan menghadap kebawah, bila
lengan diputar kearah kranial disebut eksorotasi dan bila kearah kaudal disebut
endorotasi. Luas geraknya 900.

14

Gambar 3.3 Gerakan Bahu

2.2 Frozen Shoulder


2.2.1 Definisi14
Frozen shoulder adalah suatu gangguan bahu yang sedikit atau sama sekali
tidak menimbulkan rasa sakit, tidak memperlihatkan kelainan pada rontgen, tetapi
menunjukkan adanya pembatasan gerak. Frozen shoulder dapat diidentikkan dengan
capsulitis adhesif dan periarthritis yang ditandai dengan keterbatasan gerak baik
secara pasif maupun aktif pada semua pola gerak.
2.2.2 Epidemiologi9
Permulaan frozen shoulder biasanya didahului oleh peristiwa traumatis fisik,
diikuti dengan periode waktu di mana sendi bahu menjadi semakin lebih terbatas dan
menyakitkan. Namun, dalam sejumlah besar kasus, tidak ada trauma fisik tertentu
dapat dikaitkan dengan disfungsi bahu. Statistik terbaru menunjukkan bahwa frozen
shoulder mempengaruhi antara 2-5% dari populasi, dengan rasio perempuan: laki-laki
dari 60:40. Hingga 15% dari pasien akan mengalami frozen shoulder bilateral.
Kelompok usia yang paling umum tampaknya antara 40 dan 60 tahun, dan FSS
adalah lima kali lebih sering terjadi pada diabetics.

15

2.2.3 Etiologi12
Istilah kapsulitis adhesiva hanya digunakan untuk penyakit yang sudah
diketahui dengan baik yang ditandai dengan nyeri dan kekakuan progesif pada bahu
yang biasanya berlangsung sekitar 18 bulan. Proses ini sering berawal sebagai
tendinitis kronis, tetapi perubahan peradangan kemudian menyebar melibatkan
seluruh cuff dan kapsul yang mendasari. Sementara peradangan berkurang, jaringan
berkontraksi, kapsul dapat menempel pada caput humerus. Penyebabnya tidak
diketahui. Diduga penyakit ini merupakan respon terhadap hasil-hasil rusaknya
jaringan lokal. Meskipun penyebabnya biasanya idiopatik, keadaan yang serupa
terlibat setelah hemiplegia atau infark jantung.
2.2.4 Patogenesa14
Imobilisasi yang lama karena adanya nyeri pada sendi shoulder menyebabkan
statis pembuluh vena dan menimbulkan reaksi timbunan protein, akhirnya terjadi
fibrosus pada sendi glenohumeral. Fibrosus

mengakibatkan adhesi antar lapisan

didalam sendi, sehingga terjadi perlengketan kapsul sendi dan terjadilah keterbatasan
gerak pada sendi bahu. Frozen shoulder sendiri kondisi dimana terjadi keterbatasan
pada sendi glenohumeral yang didahului oleh adanya nyeri. Sedangkan nyeri tersebut
dapat dikarenkan oleh tendinitis bicipitalis, inflamasi rotator cuff, fraktur atau
kelainan dari ekstra clavicular, yaitu angina. Akibat dari frozen shoulder adalah
adanya nyeri kesemua gerakan, terutama gerak exorotasi, abduksi, dan endorotasi.
Jika exorotasi lebih terbatas dari gerak abduksi, dan endorotasi maka membentuk
pola kapsuler.
2.2.5 Manifestasi Klinis1,3
Tanda dan gejala klinis yang sering timbul pada penderita frozen shoulder
akibat capsulitis adhesiva adalah :
a. Nyeri

16

Pasien berumur antara 40-60 tahun, dapat memiliki riwayat trauma, sering
kali ringan, diikuti rasa sakit pada bahu dan lengan. Nyeri berangsur-angsur
bertambah berat dan pasien sering tidak bisa tidur pada posisi yang terkena, setelah
beberapa bulan nyeri mulai berkurang, tetapi sementara itu kekakuan semakin
menjadi, berlanjut terus selama 6-12 bulan. Setelah itu beberapa bulan kemudian
nyeri mulai berkurang, tetapi kekakuan semakin menjadi. Setelah berapa bulan
kemudian pasien dapat bergerak, tetapi tidak normal.
Nyeri dirasakan pada daerah otot deltoideus. Bila terjadi pada malam hari
sering dijumpai mengganggu tidur. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya
kesulitan penderita dalam mengangkat lengannya (abduksi), sehingga penderita akan
melakukan gerakan kompensasi dengan mengangkat bahu pada saaqt gerakan
mengangkat lengan yang sakit, yaitu saat flexi dan abduksi sendi bahu diatas 90 atau
di sebut dengan shrugging mechanism. Juga dapay dijumpai adanya atrofi otot gelang
bahu.
b. Keterbatasan LGS
Frozen sholder karena capsulitis adhesiva ditandai dengan adanya
keterbatasan lingkup gerak sendi glenohumeral pada semua gerakanyang nyata, baik
gerakan yang aktif maupun pasif. Sifat nyeri dan keterbatasan gerak sendi bahu
terjadi pada semua gerakan sendi bahu, tetapi sering menunjukkan pola yang spesifik,
yaitu pola kapsuler. Pola gerak sendi bahu ini adalah gerak exorotasi lebih terbatas
dari gerak abduksi dan lebih terbatas dari gerak adduksi.
c. Penurunan kekuatan otot dan arofi otot
Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya kesukaran penderita dalam
mengangkat lengannya, sehingga penderita akan melakukan gerakan kompensasi
dengan shrugging mechanism.
d. Gangguan Aktifitas fungsional
Dengan beberapa adanya tanda dan gejala klinis yanmg ditemukan pada
penderita frozen shoulder akibat capsulitis adhesiva seperti adanya nyeri,
keterbatasan LGS, penurunan kekuatan otot, dan atrofi maka secara langsung akan
mempengaruhi aktifitas fungsional yang dijalani.
17

Secara klinis Frozen shoulder dapat dibagi menjadi 3 stadium :

Stadium 1 (fase nyeri); pada fase ini pasien seringkali merasakan onset nyeri
pada malam hari. Nyeri tidak berhubungan dengan aktivitas tertentu, meskipun
gerakan sendi dapat meningkatkan nyeri.

Stadium 2 (fase frozen atau adhesive); nyeri pada stadium 1 masih ada atau
sudah berkurang, terjadi penurunan luas gerak sendi secara progresif pada semua
arah gerakan. Pada fase ini terjadi gangguan yang bermakna pada aktivitas
keseharian (ADL).

Stadium 3 (fase regresi); pada fase ini terjadi penurunan rasa nyeri dan
peningkatan luas gerak sendi yang progresif, sekitar 40% pasien akan mengalami
sedikit keterbatasan luas gerak sendi yang persisten, hanya 10% yang mengalami
keterbatan fungsional jangka panjang.

2.2.6 Diagnosa3
Diagnosa frozen shoulder secara klinis berdasarkan anamnesa dan
pemeriksaan fisik memiliki keterbatasan karena kurangnya sensitivitas dan spesifitas
dari tes diagnostik yang digunakan untuk mengkonfirmasi kondisi pasien. Sampai
saat ini belum ada konsensus untuk kriteria diagnosa frozen shoulder secara klinis,
beberapa penulis menyebutkan minimal ditemukan keterbatasan luas gerak sendi
pada 2 arah gerakan, sedangkan penulis lainnya menyebutkan pada semua arah
gerakan.
Diagnosa Banding dari frozen shoulder anatara lain adalah :
1. Tendinitis Bicipitalis
Tendon otot biceps dapat mengalami kerusakan secara tersendiri, meskipun
berada bersama-sama otot supraspinatus. Tendinitis ini biasanya merupakian reaksi
terhadap adanya trauma akibat jatuh atau dipukul pada bahu dengan lengan dalam
posisi adduksi serta lengan bawah supinasi.
Pada kasus tendonitis juga dapat terjadi pada orang-orang yang bekerja keras
dengan posisi seperti tersebut di atas dan secara berulang kali. Pemeriksaan fisik pada
18

penderita tendinitis bisipitalis didapatkan adanya aduksi sendi bahu terbatas, nyeri
tekan pada tendon otot bisep, tes yorgason disamping timbul nyeri juga didapat
penonjolan pada samping medial tuberkuluminus humeri, berarti tendon otot bisep
tergelincir dan berada di luar sulcus bisipitalis sehingga terjadi penipisan tuberkulum.
2.

Bursitis Subacromialis
Bursitus subacromialis merupakan peradangan dari bursa sub acromialis,
keluhan utamanya adalah tidak dapat mengangkat lengan ke samping (abduksi
aktif), tetapi sebelumnya sudah merasa pegal-pegal di bahu. Lokasi nyeri yang
dirasakan adalah pada lengan atas atau tepatnya pada insertion otot deltoideus di
tuberositas deltoidea humeri. Nyeri ini merupakan nyeri rujukan dari bursitis sub
acromialis yang khas sekali, ini dapat dibuktikan dengan penekanan pada
tuberkulum humeri. Tidak adanya nyeri tekan berarti nyeri rujukan.
Pada pemeriksaan fisik dijumpai adanya Panfull arc sub acromialis 7001200, tes fleksi siku melawan tahanan pada posisi fleksi 900 terjadi rasa nyeri.

3.

Tendinitis Supraspinatus
Tendon otot supraspinatus sebelum berinsersio pada tuberkulum mayus
humeri, akan melewati terowongan pada daerah bahu yang dibentuk oleh kaput
humeri (dengan pembungkus kapsul sendi glinohumeral) sebagai alasnya, dan
acromion serta ligamentum coraco acromiale sebagai penutup bagian atasnya.
Disini tendon tersebut akan saling bertumpang tindih dengan tendon dari otot
bisep kaput longum. Adanya gesekan berulang-ulang serta dalam jangka waktu
yang lama akan mengakibatkan kerusakan pada tendo otot supraspinatus dan
berlanjut sebagai tendonitis supraspinatus

2.2.7 Penatalaksanaan12,14

Medikamentosa
Dapat diberikan non-steroidal anti-inflammatory medications (NSAIDS) untuk

mengurangi inflamasi dan nyeri, terutama pada stadium 1 dan 2.

Program Rehabilitasi Medik

19

Adapun berbagai macam gangguan yang ditimbulkan dari frozen shoulder adalah
sebagai berikut :
a. Impairment
Pada kasus frozen shoulder akibat capsulitis adhesive permasalahan yang ditimbulkan
antara lain adanya nyeri pada bahu, keterbatasan lingkup gerak sendi dan penurunan
kekuatan otot di sekitar bahu.
b. Functional Limitation
Masalah-masalah yang sering ditemui pada kondisi-kondisi frozen sholder adalah
keterbatasan gerak dan nyeri, karena itu dakam keseharian sering ditemukan keluhankeluhan seperti tidak bisa menyisir rambut, tidak bisa mandi dengan menggunakan
gayung dan aktifitas lainnya yang menggunakan tangan sehari-hari.
Beberapa program rehabilitasi yang bisa diterapkan antara lain

Elektro terapi
Elektro terapi yang digunakan pada kondisi ini adalah Continuous Electro
Magnetic 27 MHz (CEM). Merupakan arus AC dengan frekuensi terapi 27 MHz
yang memproduksi energi elektromagnetik dengan panjang gelombang 11,6
meter, di gunakan untuk menimbulkan berbagai efek terapeutik melalui suatu
proses tertentu dalam jaringan tubuh. Arus CEM ini menghasilkan energi internal
kinetika di dalam jaringan tubuh se-hingga timbul panas; energi ini akan
menimbulkan pengaruh biofisika tubuh misalnya pada thermosensor lokal
maupun sentral (kulit dan hipotalamus) dan juga terhadap struktur per- sendian.
Tujuan yang diharapkan dan arus CEM ini adalah menurunkan aktifitas noxe
sehingga nyeri berkurang, meningkatkan elastisitasjaringan dan sebagai
pendahuluan sebelum exercises.

Terapi latihan
Pada fase akut program rehabilitasi yang diberikan bertujuan untuk
mengontrol nyeri dan edema serta melindungi otot. Untuk mempertahankan
integritas dan mobilitas sendi dapat diberikan terapi latihan sebagai berikut :

20

a.
Pendulum
o Biarkan lengan menggantung
o Gerakan

kedepan-belakang,

Kanan kiri, Berputar


o Ulangi 5-10 kali tiap gerakan.
b.

Eksternal rotasi
o Jaga siku anda tetap lurus gunakan tongkat.
o Dorong dengan lengan sisi sehat sehingga
tangan yang sakit bergerak menjauh dari midline (bisa dilakukan berbaring)
o Jangan biarkan tubuh anda memutar untuk
mengimbangi gerakan tersebut
o Ulangi 5-10 kali

c.

Stretching

bahu

belakang
o Letakan tangan yang sakit menyilang didepan
tubuh
o Tarik dengan tangan yang sehat atau bisa
dengan menekan siku tangan yang sakit.
o Lakukan dengan gentle
o Ulangi 5 kali, tahan selama 20 detik
d.
Rotasi Internal
o Posisikan tangan yang sakit dalam posisi rotasi
interna.
o Gunakan handuk untuk menarik tangan keatas
o Ulangi 5 kali, tahan 20 detik

21

e.

Abduksi dan fleksi


bahu
o Rambatkan jari-jari tangan yang sakit ke
dinding
o Bertahap secara perlahan
o Lakukan hingga terasa sakit, tahan 20 detik.
o Lakukan setiap hari dan beri tanda di dinding
untuk evaluasi.

Modalitas Fisik
Pada observasi klinis menunjukkan bahwa modalitas elektroanalgesik dan

modalitas panas dapat diberikan untuk mengurangi nyeri pada pasien dengan nyeri
bahu yang berat.

Terapi okupasional
Terapi okupasional bermanfaat untuk membantu dalam aktivitas keseharian

(ADL). Terapi okupasional mengajarkan pasien dalam menggunakan peralatan


adaptasi dan modifikasi rumah atau lingkungan kerja untuk aktivitas keseharian.
Bentuk aktivitas yang bermanfaat bagi penderita frozen shoulder adalah menyisir
rambut, mengambil sesuatu yang tinggi, mengambil dompet, memutar lengan, dan
mengangkat beban yang kecil-kecil.
2.2.8 Prognosa
Apabila dilakukan tindakan sendiri mungkin secara tepat maka prognosis
gerak dan fungsi dari kasus frozen sholder adalah baik. Penderita sebaiknya
diberitahu bahwa akan dapat menggerakkan bahu kembali tanpa rasa nyeri tetapi
memerlukan waktu beberapa bulan.

22

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Frozen shoulder adalah suatu gangguan bahu yang sedikit atau sama sekali
tidak menimbulkan rasa sakit, tidak memperlihatkan kelainan pada rontgen, tetapi
menunjukkan adanya pembatasan gerak. Frozen shoulder dapat diidentikkan dengan
capsulitis adhesif dan periarthritis yang ditandai dengan keterbatasan gerak baik
secara pasif maupun aktif pada semua pola gerak.
Tanda dan gejala klinis yang sering timbul pada penderita frozen shoulder
akibat capsulitis adhesiva adalah :
a. Nyeri
b. Keterbatasan LGS
c. Penurunan kekuatan otot dan arofi otot
d. Gangguan Aktifitas fungsional
penatalaksanaan dari frozen shoulder yaitu :

Medikamentosa
Dapat diberikan non-steroidal anti-inflammatory medications (NSAIDS) untuk
mengurangi inflamasi dan nyeri, terutama pada stadium 1 dan 2.

Program Rehabilitasi Medik

23

24

Anda mungkin juga menyukai