Anda di halaman 1dari 15

Assalamu ‘Alaikum. Wr Wb. Saya pernah baca bahwa Ust.

Fulan mengatakan bahwa


fatwa bom syahid itu adalah fatwa yang menyesatkan, benarkah? (Dari Ikhwan
Sambas)

Jawab:

Wa ‘Alaikum Salam Wr Wb. Bismillahirrahmanirrahim

Setiap orang berhak menilai sebuah fatwa dari ulama, benar atau salah. Namun, yang
terpenting adalah pijakan hujjah (dalil) yang digunakannya, dan yang terpenting, apakah
orang tersebut layak memberikan penilaian atau tidak.

Fatwa bom syahid –oleh sebagian media massa dan umat Islam menyebutnya bom
bunuh diri- bukanlah fatwa instan ulama ‘kemarin sore’ melainkan fatwa matang yang
dikorelasikan antara ayat, hadits, sejarah dan realitas. Telah banyak ulama Islam yang ikut
ambil bagian dalam menelurkan fatwa ini. Walau, akhirnya pro-kontra tetap terjadi, dan itu
adalah hal biasa dalam bidang keilmuan.

Sebagai catatan, fatwa bom syahid tersebut tidaklah mereka maksudkan untuk daerah
aman tanpa peperangan, melainkan untuk daerah peperangan yang musuhnya adalah jelas,
yakni orang-orang kafir yang memerangi kaum muslimin seperti di Palestina. Tidak dibenarkan
menggunakan fatwa bom syahid untuk negeri yang aman, hanya karena di sana ada orang
kafirnya.1 Bahkan untuk daerah perang tertentu, seperti Afghanistan dan Irak, belum tentu
pula fatwa bom syahid ini bisa diterapkan, mengingat apa yang terjadi di sana sangat runyam,
tidak jelas antara kawan dan lawan. Berbeda dengan kondisi Palestina, yang musuhnya jelas,
yakni Yahudi - Zionis Israel. Walau terjadi perselisihan antar sesama pejuang Palestina, namun
mereka tetap bersatu ketika melawan Israel. Bahkan Syaikh ‘Aidh Al Qarny –hafizhahullah-
walau beliau menyetujui aksi bom syahid, dia tidak mau berkomentar terhadap bom-bom yang
terjadi di Iraq, apakah bom syahid atau bukan, karena banyaknya kesamaran di sana.

Berikut akan saya lampirkan pandangan para ulama Ahlus Sunnah tentang bom syahid
ini.

1. Fatwa Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashirudin Al Albany Rahimahullah

Didalam Shahih Mawarid Azh Zham’an oleh Syaikh al Albany (dipublikasikan


setelah beliau wafat), dia berkata pada bab kedua, halaman 119, setelah menjelaskan hadits
populer Abu Ayyub, mengenai firman Allah walaa tulqu bi aydiikum ilat-tahlukah
(janganlah kamu menjerumuskan diri kamu ke dalam jurang kebnasaan), dia berkata :

“Dan ini adalah kisah populer yang menjadi bukti yang sekarang dikenal sebagai
operasi bunuh diri dimana beberapa pemuda Islam pergi lakukan terhadap musuh-musuh
Allah, akan tetapi aksi ini diperbolehkan hanya pada kondisi tertentu dan mereka
melakukan aksi ini untuk Allah dan kemenangan agama Allah, bukan untuk riya,
reputasi, atau keberanian, atau depresi akan kehidupan.”2

Selanjutnya beliau juga berkata, ketika ditanya mengenai aksi Bom Syahid, Syaikh Al
Albany menjawab:

1
Seperti Indonesia, negara ini adalah Negara Dakwah (Darud Da’wah) bukan Negara Perang
(Darul Harb) maka memerangi orang kafir adalah dengan dakwah, kecuali jika mereka memang
mengganggu secara fisik dan jiwa umat Islam seperti diMaluku- Ambon, dan Poso.Maka, umat Islam
berhak mempertahankan dirinya dengan jihad di sana, setelah mendapatkan restu dari waliyul amri
(pemimpin).
2
http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/22/fatwa-syaikh-al-bani-mengenai-bomb-syahid/
‫ لن النتحار هو أن يقتل المسلم نفسه خلصا ميين هييذه الحييياة‬، ً ‫ل يعد هذا انتحارا‬
‫ بييل هييذا‬، ‫ فهييذا ليييس انتحييارا‬، ‫ أما هذه الصورة التي أنت تسييأل عنهييا‬... ‫التعيسة‬
‫ وهي أن هييذا العمييل‬، ‫ إل أن هناك ملحظة يجب النتباه لها‬.. ‫جهادا في سبيل الله‬
‫ فييإذا كييان‬.. ‫ إنما يكون هذا بأمر قييائد الجيييش‬، ‫ل ينبغي أن يكون فرديا أو شخصيا‬
‫ ويرى أن في خسييارته ربييح كييبير ميين جهية‬، ‫قائد الجيش يستغني عن هذا الفدائي‬
، ‫ فييالرأي رأيييه ويجييب طيياعته‬، ‫ وهو إفناء عدد كبير من المشركين والكفار‬، ‫أخرى‬
... ‫حتى لو لم يرض هذا النسان فعليه طاعته‬

“Itu bukanlah bom bunuh diri, bunuh diri adalah dimana ketika seorang
muslim membunuh dirinya untuk menyelamatkan diri dari kesusahan hidupnya atau
sesuatu yang sama seperti itu, sejauh yang kamu tanyakan itu, itu adalah jihad
untuk Allah, akan tetapi kita harus mempertimbangkan aksi ini tidak bisa dilakukan secara
individual tanpa di desain oleh seseorang yang menjadi ketua yang mempertimbangkan
apakah itu menguntungkan Islam dan kaum muslimin, dan jika Amir memutuskan untuk
kehilangan mujahid tadi lebih menguntungkan dibandingkan untuk menahannya, terutama jika
hal itu menyebabkan kerusakan bagi orang kafir dan musyrik, kemudian pendapat Amir
tersebut terjamin bahkan walaupun si mujahid tadi tidak senang dengan dengan hal itu, maka
dia harus mematuhinya.. dan seterusnya.”

Syaikh Al Albany Rahimahullah kemudian melanjutkan:

‫ لن مييا يفعلييه إل غضييبان علييى ربييه ولييم‬، ‫النتحار من أكبر المحرمات في السلم‬
‫ يهجييم علييى‬، ‫ كما كييان يفعلييه الصييحابة‬، ‫ أما هذا فليس انتحارا‬.. ‫يرض بقضاء الله‬
‫جماعة ) كردوس ( من الكفار بسيفه‬

“Bunuh diri adalah salah satu dosa besar dalam Islam, tidaklah orang yang
melakukannya melainkan karena dia marah dan tidak ridha dengan ketetapan Allah.
Sedangkan ini, bukanlah bunuh diri, sebagaimana yang dilakukan para sahabat Radhiallahu
‘anhum sering dilakukan untuk melawan sejumlah musuh yang besar oleh mereka..3

2. Fatwa Syaikh Al-Allamah Shalih bin Ghanim As-Sadlan

Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman berkata, Sesudah menjelaskan keharaman aksi
bom bunuh diri ini dari Syaikh Shalih bin Ghanim As-Sadlan mengatakan, Kemudian kita
datang kepada beberapa gambaran dari aksi-aksi bunuh diri, yang dilakukan oleh sebagian
kaum muslimin dengan tujuan memancing kemarahan musuh.

Walaupun perbuatan ini tidak memajukan atau memundurkan, tetapi dengan


banyaknya aksi-aksi ini bisa jadi akan melemahkan musuh atau membuat takut mereka. Aksi-
aksi bunuh diri ini berbeda dari pelaku yang satu dengan pelaku yang lainnya. Kadang-kadang
orang yang melakukan aksi bom bunuh diri ini terpengaruh oleh orang-orang yang
membenarkan perbuatan ini, maka dia melakukannya dengan niat berperang, berjihad dan
membela suatu keyakinan. Jika yang dibela benar, dan dia melakukannya dengan landasan
pendapat orang yang membolehkannya maka bisa jadi dia tidak dikatakan bunuh diri; karena
dia berudzur dengan apa yang dia dengar. ( Koran Al Furqan Kuwait, 28 Shafar, edisi
145, hal. 21 dengan perantaraan Salafiyyun wa Qadhiyatu Filisthin,hal. 62)4

3. Fatwa Syaikh Abdullah bin Humaid

3
Kaset ceramahnya berjudul, Silsilah Al Huda wan Nur no. 134. Atau risalah Al Fatawa an
Nadiyyah fil ‘Amaliyat Al Isytisyhadiyah, hal. 5.

4
http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/26/fatwa-syaikh-al-allamah-shalih-bin-ghanim-as-
sadlan-mengenai-bom-syahid/
Di suatu sore hari, pada tahun 1400 H, pada saat Syaikh Abdullah bin Humaid
rahimahullahu Ta’ala –mantan Hakim Agung di Makkah Al-Mukarramah– sedang memberikan
ceramah di samping pintu masuk ke sumur Zamzam di dekat Ka’bah Al-Musyarrafah, ada
seseorang yang bertanya tentang hukum aksi bom syahid. Orang tersebut berkata, “Wahai
Syaikh yang mulia, apakah hukumnya dalam Islam jika ada seorang muslim yang mengenakan
seperangkat peledak, kemudian dia menyusup ke dalam sekumpulan musuh kaum muslimin
dan meledakkan dirinya dengan maksud untuk membunuh sebanyak mungkin dari musuh
tersebut?”

Syaikh menjawab, “Alhamdulillah, sesungguhnya aksi individu seorang muslim yang


membawa seperangkat bahan peledak, kemudian dia menyusup ke dalam barisan musuh dan
meledakkan dirinya dengan maksud untuk membunuh musuh sebanyak mungkin dan dia
sadar bahwa dia adalah orang yang pertama kali terbunuh; saya katakan; bahwa perbuatan
yang dilakukannya adalah termasuk bentuk jihad yang disyariatkan. Dan, insya Allah orang
tersebut mati syahid.” (Dikutip dari Al-‘Amaliyyat Al-Istiyhadiyyah fi Al-Mizan Al-
Fiqhiy/DR. Nawaf Hail Takruri/hlm 101-102/penerbit Dar Al-Fikr, Beirut/Cetakan
kedua edisi revisi/1997 M –1417 H)5

4. Fatwa Asy-Syaikh Hamud Bin Uqla Asy-Syu’aibi Tentang Bom Syahid

Beliau adalah ulama Salafi yang wafat tahun 2002 M, dan dijuluki bapaknya para
mujahidin lantaran sangat perhatian dengan duania jihad di Afghanistan, Chechnya, dan
Palestina.

“Mujahidin di Palestina, Chechnya dan selain keduanya di negeri-negeri Muslim yang


melaksanakan Jihad demi mengalahkan musuh-musuh mereka dengan satu metode yang
disebut Istisyhadiyah (memburu syahid). Operasi Istisyhadiyah ini dilakukan dengan cara
mengikatkan bahan peledak pada tubuh mereka, atau diletakkan dalam kantongnya atau alat-
alat yang ada pada dirinya atau juga dalam mobilnya yang dipenuhi dengan explosive
kemudian meledakkan dirinya ditengah sekumpulan musuh atau tempat-tempat musuh dan
yang semisalnya, atau dengan berpura-pura menyerah kepada musuh kemudian dia
meledakkan dirinya dengan tujuan memperoleh kesyahidan dan memerangi musuh serta
menimbulkan kerugian pada mereka.

Bagaimanakah hukum operasi seperti itu? Dan apakah hal tersebut termasuk
perbuatan bunuh diri ? Apapula perbedaan antara bunuh diri dan operasi
Istisyhadiyah ?.Jazaakumullahu Khair, dan semoga Allah memberikan ampunan-Nya kepada
anda..”

Jawaban Syaikh Hamud bin ‘Uqla Asy Syu’aibi (Teks Arab):

.. ‫الجواب‬
‫الحمد لله رب العييالمين والصييلة والسييلم علييى أشييرف النبييياء والمرسييلين نبينييا‬
: ‫محمد وعلى آله وصحبه أجمعين أما بعد‬
‫قبل الجابة على هذا السؤال لبد أن تعلييم أن مثييل هييذه العمليييات المييذكورة ميين‬
‫ ولكييل‬، ‫النوازل المعاصرة التي لم تكن معروفة في السابق بنفس طريقتها اليييوم‬
‫ فيجتهييد العلميياء علييى تنيييزيلها علييى النصييوص‬، ‫عصيير نييوازله الييتي تحييدث فيييه‬
‫ قييال‬، ‫والعمومات والحوادث والوقائع المشابهة لها والتي أفتى في مثلها السييلف‬
: ‫ ) ما فرطنا في الكتاب من شيء ( وقال عليه الصلة والسلم عن القرآن‬: ‫تعالى‬
‫ وان العمليات الستشهادية المييذكورة عمييل مشييروع وهييو‬، ( ‫) فيه فصل ما بينكم‬
‫من الجهاد في سبيل الله إذا خلصت نية صاحبه وهيو مين انجيح الوسيائل الجهاديية‬
‫عالة ضد أعداء هذا الدين لما لها من النكاية وإيقاع الصابات بهييم‬ ّ ‫ومن الوسائل الف‬
5
http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/26/fatwa-syaikh-abdullah-bin-humaid-tentang-bomb-
syahid-2/
‫من قتل أو جرح ولما فيها من بث الرعييب والقلييق والهلييع فيهييم ‪،‬ولمييا فيهييا ميين‬
‫تجرئة المسلمين عليهم وتقوية قلوبهم وكسر قلوب العداء والثخييان فيهييم ولمييا‬
‫فيها من التنكيل والغاضيية والتييوهين لعييداء المسييلمين وغييير ذلييك ميين المصييالح‬
‫الجهادية ‪.‬‬
‫ويدل على مشروعيتها أدلة من القرآن والسنة والجميياع وميين الوقييائع والحييوادث‬
‫التي تنيّزل عليها وردت وأفتى فيها السلف كما سوف نذكره إن شاء الله ‪.‬‬
‫أول ‪ :‬الدلة من القرآن ‪:‬‬
‫‪ – 1‬منها قوله تعالى ‪ ) :‬ومن الناس ميين يشييرى نفسييه ابتغيياء مرضييات اللييه واللييه‬
‫رؤف بالعباد ( ‪ ،‬فإن الصحابة رضي الله عنهم أنزلوها علييى ميين حمييل علييى العييدو‬
‫الكثير لوحده وغرر بنفسه في ذلك ‪ ،‬كما قال عمر بن الخطاب وأبو أيوب النصاري‬
‫وأبو هريرة رضي الله عنهم كما رواه أبو داود والترمذي وصححه ابن حبان والحاكم‬
‫‪ ) ،‬تفسير القرطبي ‪. ( 361 / 2‬‬
‫‪ – 2‬قوله تعالى ‪ ) :‬إن الله اشترى من المؤمنين أنفسهم وأموالهم بأن لهييم الجنيية‬
‫يقاتلون في سبيل الله فيقتلون وُيقتلون ‪ ( ..‬الييية ‪ ،‬قييال ابيين كييثير رحمييه اللييه ‪:‬‬
‫حمله الكثرون على أنها نزلت في كل مجاهد في سبيل الله ‪.‬‬
‫‪ – 3‬قوله تعالى ‪ ) :‬واعدوا لهم ما استطعتم من قوة من ربيياط الخيييل ترهبييون بييه‬
‫عدو الله وعدوكم ( ‪ ،‬والعمليات الستشهادية من القوة التي ترهبهم ‪.‬‬
‫‪ – 4‬قال تعالى في الناقضين للعهود ‪ ) :‬فإما تثقفنهم في الحرب فشييرد بهييم ميين‬
‫خلفهم لعلهم يذكرون ( ‪.‬‬
‫ثانيا ‪ :‬الدلة من السنة ‪:‬‬
‫‪ – 1‬حديث الغلم وقصته معروفة وهي في الصحيح ‪ ،‬حيث دلهم على طريقيية قتلييه‬
‫فقتلوه شهيدا في سبيل الله ‪ ،‬وهذا نوع من الجهاد ‪ ،‬وحصل نفع عظيييم ومصييلحة‬
‫للمسلمين حيث دخلت تلك البلد في دين الله ‪ ،‬إذ قالوا ‪ :‬آمنييا بييرب الغلم ‪ ،‬ووجييه‬
‫الدللة من القصة أن هذا الغلم المجاهد غرر بنفسه وتسبب في ذهابهييا ميين أجييل‬
‫مصلحة المسلمين ‪ ،‬فقد عّلمهم كيف يقتلونه ‪ ،‬بل لم يستطيعوا قتلييه إل بطريقيية‬
‫هو دلهم عليها فكان متسببا ً في قتل نفسه ‪ ،‬لكيين ُأغتفيير ذلييك فييي بيياب الجهيياد ‪،‬‬
‫ومثله المجاهد في العمليات الستشهادية ‪ ،‬فقد تسبب في ذهيياب نفسييه لمصييلحة‬
‫الجهاد ‪ ،‬وهذا له أصل في شرعنا ‪ ،‬إذ لو قام رجيل واحتسيب وأمير ونهيى واهتيدى‬
‫الناس بأمره ونهيه حتى قتل في ذلك لكان مجاهدا شهيدا ‪ ،‬وهييو مثييل قييوله عليييه‬
‫الصلة والسلم ‪ ):‬افضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر ( ‪.‬‬
‫‪ – 2‬فعل البراء بن مالك في معركة اليمامة ‪ ،‬فإنه ُاحتمييل فييي ت ُييرس علييى الرميياح‬
‫والقوة على العدو فقاتييل حييتى فتييح البيياب ‪ ،‬ولييم ينكير عليييه أحيد ميين الصييحابة ‪،‬‬
‫وقصته مذكورة في سنن البيهقي في كتاب السير بيياب التييبرع بييالتعرض للقتييل )‬
‫‪ ( 44 / 9‬وفي تفسير القرطبي ) ‪ ( 364 / 2‬أسد الغابة ) ‪ ( 206 / 1‬تاريخ الطبري ‪.‬‬
‫‪ – 3‬حمل سلمة ابن الكوع والخرم السدي وأبيي قتيادة لوحيدهم عليى عيينية بين‬
‫جالتنييا‬
‫حصن ومن معه ‪ ،‬وقد أثنى الرسول صلى الله عليييه وسييلم فقييال ‪ ) :‬خييير ر ّ‬
‫سلمة ( متفق عليه‪ ،.‬قال ابن النحاس ‪ :‬وفي الحييديث الصييحيح الثييابت ‪ :‬أدل دليييل‬
‫على جواز حمل الواحد على الجمع الكثير من العدو وحده وان غلب علييى ظنييه انييه‬
‫يقتل إذا كان مخلصا في طلب الشهادة كما فعل سلمة بن الخييرم السييدي ‪ ،‬ولييم‬
‫يعب النبي عليه الصلة والسلم ولم ينه الصحابة عن مثل فعليه ‪ ،‬بيل فيي الحيديث‬
‫دليل على استحباب هذا الفعل وفضله فإن النييبي عليييه الصييلة والسييلم مييدح أبييا‬
‫قتادة وسلمة على فعلهما كما تقدم ‪ ،‬مع أن كل ً منهما قد حمل علييى العييدو وحييده‬
‫ن إلى أن يلحق به المسلمون اهي مشارع الشواق ) ‪. ( 540 / 1‬‬ ‫ولم يتأ ّ‬
‫‪ – 4‬ما فعله هشام بن عامر النصاري لميا حميل بنفسيه بيين الصيفين عليى العيدو‬
‫الكثير فأنكر عليه بعض الناس وقالوا ‪ :‬ألقى بنفسه إلى التهلكة ‪ ،‬فرد عليهم عميير‬
‫بن الخطاب وأبو هريرة رضي الله عنهما وتليا قوله تعالى ) ومن الناس من يشرى‬
‫نفسه ابتغاء مرضات الله ‪ ( ..‬الية ‪ ،‬مصنف ابن أبي شيبة ) ‪ ( 322 ، 303 / 5‬سنن‬
‫البيهقي ) ‪. ( 46 / 9‬‬
‫ – حمل أبي حدرد السلمي وصاحيبه على عسكر عظيم ليس معهم رابع فنصرهم‬5
/ 1 )‫الله على المشركين ذكرها ابن هشام في سيرته وابن النحاس فيي المشيارع‬
.( 545
ً
‫ – فعل عبدالله بن حنظلة الغسيل حيييث قاتييل حاسييرا فييي إحييدى المعييارك وقييد‬6
. ( 555 / 1 ) ‫ ذكره ابن النحاس في المشارع‬، ‫طرح الدرع عنه حتى قتلوه‬
‫ ( في الرجل الذي سمع من أبي موسى يذكر‬44 / 9 ) ‫ – نقل البيهقي في السنن‬7
‫ فقيام الرجيل وكسير جفين سييفه‬. ‫ الجنة تحيت ظلل السييوف‬: ‫الحديث المرفوع‬
. ‫وشد على العدو ثم قاتل حتى قتل‬
ً
‫ ثييم انغمييس فييي‬، ‫ واهيا لريييح الجنيية‬: ‫ – قصة أنس بن النضر في وقعة أحد قييال‬8
‫ متفق عليه‬. ‫المشركين حتى قتل‬
: ‫ الجماع‬: ‫ثالثا‬
‫ قد أجمعييوا‬: ‫ ( عن المهلب قوله‬588 / 1 ) ‫نقل ابن النحاس في مشارع الشواق‬
‫ ول‬: ‫ ونقل عيين الغزالييي فييي الحييياء قييوله‬، ‫على جواز تقحم المهالك في الجهاد‬
‫خلف في أن المسلم الواحد له أن يهجم على صييف الكفييار ويقاتييل وإن علييم أنييه‬
. ‫يقتل‬
‫ ذكره فييي‬، ‫ونقل النووي في شرح مسلم التفاق على التغرير بالنفس في الجهاد‬
. ( 187 / 12 ) ‫غزوة ذي قرد‬
‫هذه الحوادث السبع السابقة مع ما ُنقل ميين الجميياع هييي المسييألة الييتي يسييميها‬
‫ وأحيانييا تسييمى مسييألة‬، ‫الفقهاء في كتبهم مسألة حمل الواحد على العدو الكييثير‬
..…… ‫ أو مسألة التغرير بالنفس في الجهاد‬، ‫النغماس في الصف‬
(Terjemahannya)

Jawab:

“Segala puji bagi Allah, Rabb (Tuhan) semesta alam,shalawat dan Salam atas semulia-
mulia Nabi dan Rasul, nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga atas
keluarganya dan sahabatnya,seluruhnya. Selanjutnya:

Sebelum menjawab pertanyaan ini, seyogyanya anda mengetahui bahwa operasi yang
disebut ini, merupakan masalah kontemporer yang dimasa lalu metode seperti ini tidak
didapati. Dan memang setiap zaman memiliki karakteristik permasalahan tersendiri yang
timbul di zaman itu. Karena itu para ulama berijtihad dengan memperhatikan nash-nash dan
keumumannya, serta perbincangan mengenai hal tersebut dan fakta-fakta yang
menyerupainya juga, bagaimana fatwa Ulama Salaf mengenai hal berkenaan.

Firman Allah:

“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab” (QS. Al An’am (6) : 3)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda tentang Al-Qur’an:

“Di dalamnya terdapat keputusan terhadap urusan di antara kalian”

Amaliyah (operasi) Istisyhadiyah (mencari syahid) yang tersebut di atas adalah amalan
masyru’ (disyari’atkan dalam Islam) dan merupakan bagian dari Jihad Fi Sabilillah jika
pelakunya memiliki niat yang ikhlas. Operasi inipun termasuk methode yang paling berhasil
dalam Jihad Fie Sabilillah melawan musuh-musuh dien ini, karena dengan wasilah seperti
terjadilah kerugian dan kerusakan pada musuh, baik berupa terbunuhnya orang-orang kafir
atau terluka, sekaligus menimbulkan kengerian dan ketakutan pada mereka. Juga, dalam
operasi istisyhad ini nyata, terlihatlah keberanian dan kekuatan hati kaum Muslimin dalam
menghadapi kaum kafir, dan merontokkan hati musuh-musuh Islam, sekaligus menghinakan
mereka dan mengakibatkan kedongkolan dalam jiwa-jiwa mereka, dan hal-hal lainnya yang
merupakan kemaslahatan bagi kaum Muslimin, yang semuanya itu merupakan maslahat-
maslahat Jihadiyah.
Disyariatkannya operasi-operasi tersebut dibuktikan dengan adanya dalil-dalil dari Al-
Qur’an dan As-Sunnah, dan Ijma’ juga dengan adanya beberapa fakta yang terjadi di dalamnya
serta fatwa Salafush Sholeh mengenai hal ini, sebagaimana akan disebutkan kemudian, Insya
Allah.

Pertama : Dalil-dalil Qur’an

Firman Allah:

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari
keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Al-Baqarah : 207)

Sesungguhnya para sahabat Radhiallahu ‘anhum menerapkan ayat ini ketika seorang
Muslim seorang diri berjibaku menerjang musuh dengan bilangan yang banyak yang dengan
itu nyawanya dalam kondisi berbahaya, sebagaimana Umar bin Khaththab dan Abu Ayub Al-
Anshari juga Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhum sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud
dan At-Tirmidizy dan Ibnu Hibban serta Al-Hakim menshahihkannya ( Tafsir Al-Qurthubi,
2/361)

Firman Allah :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka
dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka
membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil
dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka
bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang
besar.” ( At-Taubah 111 ). Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: Kebanyakan
(Ulama/Mufassir) berpendapat bahwa ayat tersebut berkenaan dengan setiap Mujahid Fi
Sabilillah.

Firman Allah :

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi
dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu
menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak
mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah
niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”
(QS.Al Anfal (8) : 60)

Allah berfirman terhadap mereka yang merusak perjanjian :

“Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai beraikanlah orang-orang
yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran”
(QS. Al-Anfal (8):57).

Kedua: Dalil-dalil dari As-Sunnah:

Hadits Ghulam (pemuda) yang kisahnya terkenal, terdapat dalam Shahih Bukhari,
ketika ia menunjukkan musuh cara membunuh dirinya, lalu musuh itupun membunuhnya,
sehingga ia mati dalam keadaan syahid di jalan Allah. Maka operasi seperti ini merupakan
salah satu jenis Jihad, dan menghasilkan manfaat yang besar, dan kemaslahatan bagi kaum
Muslimin, ketika penduduk negeri itu masuk kepada dien(agama) Islam, yaitu ketika mereka
berkata : “Kami beriman kepada Rabb (Tuhan) nya pemuda ini”.
Petunjuk (dalil) yang dapat di ambil dari hadits ini adalah bahwa Pemuda (Ghulam) tadi
merupakan seorang Mujahid yang mengorbankan dirinya dan rela kehilangan nyawa dirinya
demi tujuan kemaslahatan kaum Muslimin. Pemuda tadi telah mengajarkan mereka
bagaimana cara membunuh dirinya, bahkan mereka sama sekali tidak akan mampu
membunuh dirinya kecuali dengan cara yang ditunjukkan oleh pemuda tersebut, padahal cara
yang ditunjukkan itu merupakan sebab kematian dirinya, akan tetapi dalam konteks Jihad hal
ini diperbolehkan.

Operasi sedemikian ini diterapkan oleh Mujahidin dalam Istisyhad (operasi memburu
kesyahidan), kedua-duanya memiliki inti masalah yang sama, yaitu menghilangkan nyawa diri
demi kemaslahatan jihad. Amalan-amalan seperti ini memiliki dasar dalam syari’at Islam. Tak
ubahnya pula dengan seseorang yang hendak melaksakanan Amar Ma’ruf Nahyi Munkar di
suatu tempat dan menunjukkan manusia kepada Hidayah sehingga dia terbunuh di tempat
tersebut, maka dia dianggap sebagai seorang Mujahid yang Syahid, ini seperti sabda Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Jihad yang paling utama adalah mengatakan Al-haq di depan
penguasa yang Jaa-ir (jahat).”

Amaliyah yang dilakukan oleh Bara bin Malik dalam pertempuran di Yamamah. Ketika
itu ia diusung di atas tameng yang berada di ujung-ujung tombak, lalu dilemparkan ke arah
musuh, diapun berperang (di dalam benteng) sehingga berhasil membuka pintu Benteng.
Dalam kejadian itu tidak seorangpun sahabat r.a menyalahkannya. Kisah ini tersebut dalam
Sunan Al-Baihaqi, dalam kitab As-Sayru Bab At-Tabarru’ Bit-Ta’rudhi Lilqatli (9/44),
tafsir Al-Qurthubi (2/364), Asaddul Ghaabah (1/206), Tarikh Thabari.

Operasi yang dilakukan oleh Salamah bin Al-’Akwa dan Al-Ahram Al-Asadi, dan Abu
Qatadah terhadap Uyainah bin Hishn dan pasukannya. Dalam ketika itu Rasulullah s.a.w
memuji mereka, dengan sabdanya: “Pasukan infantry terbaik hari ini adalah Salamah” (Hadits
Muttafaqun ‘Alaihi /Bukhari-Muslim).

Ibnu Nuhas berkata : Dalam hadits ini telah teguh tentang bolehnya seorang diri
berjibaku ke arah pasukan tempur dengan bilangan yang besar, sekalipun dia memiliki
keyakinan kuat bahwa dirinya akan terbunuh.Tidak mengapa dilakukan jikan dia ikhlas
melakukannya demi memperoleh kesyahidan sebagaimana dilakukan oleh Salamah bin
Al-’Akwa, dan Al-Akhram Al-Asaddi. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mencela, sahabat
Radhiallahu ‘Anhum tidak pula menyalahkan operasi tersebut. Bahkan di dalam hadits
tersebut menunjukkan bahwa operasi seperti itu adalah disukai, juga merupakan keutamaan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memuji Abu Qatadah dan Salamah sebagaimana
disebutkan terdahulu.Dimana masing-masing dari mereka telah menjalankan operasi Jibaku
terhadap musuh seorang diri (Masyari’ul Asywaq, 1/540)

Apa yang dilakukan oleh Hisyam bin Amar Al-Anshari, ketika dia meneroboskan dirinya
di antara Dua pasukan, menerjang musuh seorang diri dengan bilangan musuh yang besar,
waktu itu sebagian kaum Muslimin berkata: Ia menjerumuskan dirinya dalam kebinasaan,
Umar bin Khaththab r.a membantah klaim sebagian kaum Muslimin tersebut, begitu juga Abu
Hurairah r.a, lalu keduanya membaca ayat: “Dan diantara manusia ada yang
mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah…” (QS.Al-Baqarah (2): 207 )

Al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (5/303,222), Sunan Al-Baihaqi (9/46). Abu


Hadrad Al-Aslami dan Dua orang sahabatnya menerjangkan diri ke arah pasukan besar, tidak
ada orang ke-empat selain mereka bertiga, akhirnya Allah memenangkan kaum Muslimin atas
kaum Musyrikin. Ibnu Hisyam menyebut riwayat ini dalam kitab sirahnya. Ibnu Nuhas
menyebutnya dalam Al-Masyaari’ (1/545).

Operasi yang dilakukan oleh Abdullah bin Hanzhalah Al-Ghusail, ketika ia berjibaku
menerjang musuh dalam salah satu pertempuran, sedangkan baju besi pelindung tubuhnya
sengaja ia buang, kemudian kaum kafir berhasil membunuhnya. Disebutkan oleh Ibnu Nuhas
dalam Al-Masyari’ (1/555).
Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan (9/44) menukil tentang seorang lelaki yang
mendengar sebuah hadits dari Abu Musa :”Jannah (syurga) itu berada di bawah naungan
pedang” Lalu lelaki itu memecahkan sarung pedangnya, lantas menerjang musuh seorang diri,
berperang sampai ia terbunuh.

Kisah Anas bin Nadhar dalam salah satu pertempuran Uhud, katanya: “Aku sudah
terlalu rindu dengan wangi jannah (syurga)” kemudian ia berjibaku menerjang kaum Musyrikin
sampai terbunuh. (Muttafaqun ‘Alaihi).

Ketiga: Dalil dari Ijma’

Ibnu Nuhas mengutip dari Masyari’ al Asywaq (1/588), dari Al Muhallab dia berkata:
“Mereka (para ulama) telah ijma’ bolehnya menghamburkan diri ke tempat yang
membinasakan dalam jihad, dan juga telah mengutip dari Al Ghazali dalam Al Ihya’-nya:
bahwa tidak ada perselisihan pendapat tentang bolehnya seorang muslim menyerang barisan
orang kafir untuk membunuh mereka walau dia tahu dia juga akan terbunuh.” An Nawawi
dalam Syarh Muslim-nya menyebutkan adanya kesepakatan para ulama tentang bolehnya
membahayakan diri sendiri dalam medan jihad, beliau menyebutkannya dalam ghazwah
(peperangan) dzi qard. (12/187).

Tujuh kejadian yang telah kami sebutkan sebelumnya, juga kutipan adanya ijma’,
maka para fuqaha (ahli fiqih) kita telah menyebutkannya dalam kitab-kitab mereka dalam
pembicaraan tentang ‘Serangan seorang diri terhadap musuh yang banyak’, atau kadang
pada permasalahan ‘Menenggelamkan diri ke dalam barisan musuh’, atau permasalahan
‘Membahayakan diri sendiri di medan jihad.’6….dan seterusnya.

5. Fatwa Syaikh Sulaiman bin Mani’ Hafizhahullah (Ulama Saudi Arabia,


anggota Hai’ah Kibaril Ulama)

Beliau ditanya tentang aksi ‘intihariyah’- mengorbankan diri sendiri- ketika melawan
musuh Islam dalam jihad apakah itu mati syahid?

Beliau menjawab:

‫ ل شك أن العمليات النتحارية في سييبيل اللييه ضييد أعيداء الليه ورسييوله‬,‫الحمد لله‬


‫ ول شك أنها من أفضييل‬,‫وأعداء المسلمين قربة كريمة يتقرب بها المسلم إلى ربه‬
‫ ومن استشهد في مثل هذه العمليييات فهييو شييهيد إن‬,‫أبواب الجهاد في سبيل الله‬
.‫شاء الله‬
‫ولنا من التاريخ السلمي في عهد النبوة وفي عهد الخلفاء الراشدين ومن بعييدهم‬
‫ ومن أبرز صور جهيياد البطوليية والشييجاعة‬,‫مجموعة من صور الجهاد في سبيل الله‬
‫النابعة من اليمان بالله وبما أعده سبحانه للشهداء مييا فييي قتييال المرتييدين وفييي‬
‫ فقد كان لبعض جيوش السلم في هذه المعركة‬,‫طليعتهم مسيلمة الكذاب وقومه‬
.(‫عمليات انتحارية في سبيل افتتاح حديقة مسيلمة )حصنه المتين‬
‫ولكن ينبغي للمسلم المجاهد أن يحسن نيته في جهاده وأن يكون جهاده في سبيل‬
‫ وأل يلقي بنفسه إلى التهلكة في عملية يغلب على ظنييه عييدم انتفيياعه‬,‫الله فقط‬
……‫منها‬

“Alhamdulillah, tidak ragu lagi sesungguhnya aksi mengorbankan diri pada jihad fi
sabilillah melawan musuh-musuh Allah dan RasulNya dan musuh kaum muslimin, merupakan
upaya qurbah (pendekatan) yang mulia bagi seorang muslim kepada Rabbnya dan tidak ragu
pula bahwa itu merupakan di antara pintu jihad fi sabilillah yang paling utama, barang siapa
yang mencari syahid dengan aksi ini maka itu adalah mati syahid Insya Allah.

6
Lihat Al Fatawa An Nadiyyah fil ‘Amaliyat Al Istisyhadiyah, Hal. 6-10
Dalam sejarah Islam baik pada masa kenabian, Khulafa’ur Rasyidin, dan yang
mengikuti mereka, kita memiliki kumpulan gambaran jihad fi sabilillah, yang paling menonjol
di antara gambaran jihad kepahlawan dan keberanian karena iman kepada Allah Ta’ala dan
apa-apa yang telah dijanjikanNya untuk para syuhada, adalah ketika memerangi kaum
murtadin yang dipelopori oleh Musailamah Al Kadzdzab dan pengikutnya. Pada peperangan
tersebut pasukan Islam membuka benteng pertahanannya yang sangat kuat.

Tetapi hendaknya seorang mujahid memperbaiki niatnya, dia hanya menjadikan jihad
fi sabilillah adalah satu-satunya niat dan hendaknya jangan melakukan aksi menjerumuskan
diri dalam kebinasaan yang tidak membawa manfaat dan janganlah melakukan takwil untuk
keluar (memisahkan diri) dari pemerintahan Islam, dan seseungguhnya mendakwahi mereka
bukanlah itu, melainkan dengan menasehati mereka dengan hikmah dan pelajaran yang baik,
dan komitmen dengan adab memberikan nasihat. Wallahul Musta’an….”7

6. Fatwa Syaikh Sulaiman bin Nashir Al ‘Alwan Hafizhahullah

Beliau ada tiga fatwa, saya akan kutipkan fatwanya yang pertama (fatwa kedua dan
ketiga berisi sama dan memperkuat fatwa yang pertama). Beliau ditanya tentang perkataan
sebagian ulama yang mengatakan bahwa aksi perlawanan di Palestina, Checnya, adalah aksi
bunuh diri yang diharamkan, apa pendapat Anda?

Beliau menjawab:

ً ‫حين نرجع إلى كتب اللغة وعلماء الشريعة وننظر في تعريف المنيتحر لغيية وشييرعا‬
‫ وبييين‬، ‫ل نرى تشابها ً بين المنتحر الذي يقتل نفسه طلبا ً للمال أو جزعا ً من الييدنيا‬
‫ والتسوية‬. ‫الفدائي الذي بذل نفسه وتسبب في قتلها من أجل دينه وحماية عرضه‬
‫بين النتحار المحرم شرعا ً بالكتاب والسنة والجماع وبييين العمليييات الستشييهادية‬
‫ ومعاذ الله أن يستوي رجييل قتييل نفسييه فييي سييبيل‬. ‫تسوية جائرة وقسمة ضيزى‬
‫ فييو اللييه مييا اسييتويا وليين‬، ‫دم نفسييه ودمييه فييي طاعيية الرحميين‬ّ ‫الشيطان وآخر ق‬
‫ فالمنتحر يقتل نفسه من أجل نفسه وهييواه نتيجيية للجييزع وعييدم الصييبر‬، ‫يتساويا‬
‫ وذاك الفدائي يقتل نفسه أو يتسبب فييي‬، ‫وقلة اليمان بالقضاء والقدر ونحو ذلك‬
‫قتلها بحثا ً عن التمكين للدين وقمعا ً للعداء وإضعافا ً لشوكتهم وزعزعة لسلطانهم‬
‫ي فرق في الشرع بين العمليات الستشهادية وبييين القتحييام‬ ّ ‫ وأ‬. ‫وكسرا ً لباطلهم‬
‫على العدو مع غلبة الظن بالموت وقد تييواترت الدليية عيين النييبي صييلى اللييه عليييه‬
‫وسلم في فضل القتحام والنغماس في العييدو وقتييالهم وظيياهر هييذا ولييو تحقييق‬
. ‫أنهم يقتلونه ويريقون دمه‬

“Ketika kami merujuk kepada kitab-kitab bahasa dan para ulama syariah, kami
melihat tidak ada kesamaan baik makna secara bahasa dan syariat, antara bunuh diri karena
faktor urusan harta dunia dan aksi istisyhadiyah dalam rangka perlawanan yang
mengorbankan dirinya karena faktor agama dan menjaga kehormatan.

Menyamakan antara bunuh diri yang diharamkan syariat baik Al Kitab, As Sunnah, dan
ijma’, dengan aksi istisyhadiyah (mencari syahid) adalah penyamaan yang zalim dan
pembagian yang tidak adil. Na’udzubillah, bila menyamakan seseorang membunuh dirinya di
jalan syetan, dengan yang lainnya yang mengorbankan nyawanya, darahnya, dalam ketaatan
kepada Allah. Maka, demi Allah, keduanya tidaklah sama dan selamanya tidak sama. Bunuh
diri adalah membunuh diri sendiri dengan alasan dirinya, hawa nafsu, efek dari keluh kesah,
hilangnya kesabaran serta tipisnya keimanan terhadap qadha dan qadar dan semisalnya.
Sedangkan, para pejuang itu, mereka membunuh dirinya bukan karena itu, melainkan demi
mengokohkan agama, mengalahkan musuh, melemahkan kekuatan mereka, serta
menggoncangkan pemimpin mereka, serta menghancurkan kebatilan mereka.

7
Ibid, hal. 13
Apa bedanya antara aksi istisyhadiyah dengan menyerang musuh dengan perkiraan
dirinya pun juga akan menemui kematian karena serangannya. Telah banyak dalil-dalil
mutawatir dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang keutamaan menyerang musuh,
menceburkan diri kepada mereka, walau dengan itu musuh bisa membunuhnya dan
menumpahkan darahnya.8 Sekian dari Syaikh Sulaiman Nashir Al Ulwan.

7. Fatwa Syaikh Hamid bin Abdillah Al Ali hafizhahullah

Beliau berkata:

‫ وذليك‬، ‫فالحكم ل يتغير فيما لو باشر قتل نفسه في صف العيدو وبييين ظهرانيهيم‬
‫ وإنميا جعيل نفسيه وسيلييية وسيببا ليذلك‬،‫بقصد قتل أكبر عدد منهم ل قتل نفسه‬
‫ لن التسييبب لييه نفييس حكييم‬، ‫ لفرق بين الصورتين في الحكم الشييرعي‬، ‫فحسب‬
‫ فكذلك له نفس الحكم في مسألتنا هذه إذ ل فرق بينهمييا‬، ‫المباشرة في القصاص‬
. ‫هذا‬
‫ وفتاوى أهل العلم على جواز ما ذكر في القسم الول بشييرط أن‬، ‫وقد دلت الدلة‬
‫ أو تجييرئة المسييلمين علييى‬، ‫يحقييق المجاهييد مصييلحة شييرعية كالنكاييية فييي العيدو‬
‫ أو إضعاف روح العدو القتالية والحاق الهزيمة النفسية بهم‬، ‫أعدائهم‬

“Hukum Aksi bom syahid ini tidak ada bedanya dengan jika dia maju ke tengah-
tengah barisan musuh untuk membunuh musuh sebanyak-banyaknya tanpa maksud
membunuh dirinya. Akan tetapi dalam hal ini. Dia menjadikan dirinya sebagai sarana untuk
membunuh musuh. Secara syar’i dua hukum ini tidak ada bedanya, karena hal itu sama
hukumnya dengan pembalasan yang langsung. Fatwa-fatwa ahlul ilmi yang telah kami
sebutkan membolehkan seorang mujahid melakukan aksi ini demi kepentingan yang syar’i
seperti untuk menewaskan musuh atau memberi semangat kepada kaum muslimin agar
berani menghadapi musuh-musuhnya atau melemahkan semangat musuh atau
menghancurkan kejiwaan mereka.”9

8. Fatwa Syaikh Yusuf Al Qaradhawy Hafizhahullah

Beliau menuliskan fatwanya sangat panjang dalam Fatawa Mu’ashirah Jilid III,
dengan memaparkan Al Quran dan tafsirnya, hadits dan tafsirnya, begitu pula sejarah Islam,
dan juga pandangan ulama terdahulu. Oleh karena, sesuai kebutuhan saja, saya akan
meringkas dengan tanpa menghilangkan esensinya. Bagi yang ingin membacanya secara
lengkap, silahkan melihat di kitab tersebut.

Beliau berkata: “Saya ingin katakan di sini bahwa operasi-operasi ini adalah termasuk
cara yang paling jitu dalam jihad fisabilillah. Dan ia termasuk bentuk teror yang diisyaratkan
dalam Al Qur'an dalam sebuah firman Allah Ta'ala yang artinya:"Dan persiapkanlah kekuatan
apa yang bisa kamu kuasai dan menunggang kuda yang akan bisa membuat takut musuh-
musuh Allah dan musuhmu." (QS. Al Anfal: 60).

Penamaan operasi ini dengan nama "bunuh diri" adalah sangat keliru dan
menyesatkan. Ia adalah operasi tumbal heroik yang bernuansa agamis, ia sangat jauh bila
dikatakan sebagai usaha bunuh diri. Juga orang yang melakukannya sangat jauh bila dikatakan
sebagai pelaku bunuh diri.

8
Ibid, Hal. 14

9
Ibid, Hal. 50
Orang yang bunuh diri itu membunuh dirinya untuk kepentingan pribadinya sendiri.
Sementara pejuang ini mempersembahkan dirinya sebagai korban demi agama dan umatnya.
Orang yang bunuh diri itu adalah orang yang pesimis atas dirinya dan atas ketentuan Allah,
sedangkan pejuang ini adalah manusia yang seluruh cita-citanya tertuju kepada rahmat Allah
Ta’ala.

Orang yang bunuh diri itu ingin menyelesaikan dari dirinya dan dari kesulitannya
dengan menghabisi nyawanya sendiri, sedangkan seorang mujahid ini membunuh musuh Allah
dan musuhnya dengan senjata terbaru ini yang telah ditakdirkan menjadi milik orang-orang
lemah dalam menghadapi tirani kuat yang sombong. Mujahid itu menjadi bom yang siap
meledak kapan dan di mana saja menelan korban musuh Allah dan musuh bangsanya, mereka
(baca: musuh) tak mampu lagi menghadapi pahlawan syahid ini. Pejuang yang telah menjual
dirinya kepada Allah, kepalanya ia taruh di telapak tangan-Nya demi mencari syahadah di
jalan Allah.

Para pemuda pembela tanah airnya, bumi Islam, pembela agama, kemuliaan dan
umatnya, mereka itu bukanlah orang-orang yang bunuh diri. Mereka sangat jauh dari bunuh
diri, mereka benar-benar orang syahid. Karena mereka persembahkan nyawanya dengan
kerelaan hati di jalan Allah; selama niatnya ikhlas hanya kepada Allah saja; dan selama
mereka terpaksa melakukan cara ini untuk menggetarkan musuh Allah Ta'ala, yang jelas-jelas
menyatakan permusuhannya dan bangga dengan kekuatannya yang didukung oleh kekuatan
besar lainnya.”

Bahkan Syaikh al Qaradhawy menguatkan pendapatnya dengan pandangan ulama


klasik yang juga membolehkan aksi sejenis bom syahid, yakni pandangan Imam al Jashash,
Imam al Qurthubi Imam Ar Razi, Imam Ibnu Katsir, Imam ath Thabari, Imam Ibnu
Taimiyah, Imam Asy Syaukani, Syaikh Rasyid Ridha, dan lain-lain.

Pada akhir fatwanya, dia berkata:

“Saya (Al Qardhawi) yakin kebenaran itu sudah sangat jelas sekali, cahaya pagi itu
sudah nampak bagi yang punya indera. Semua pendapat di atas membantah mereka yang
mengaku-aku pintar, yang telah menuduh para pemuda yang beriman kepada Tuhannya
kemudian bertambah yakin keimanannya itu. Mereka telah menjual dirinya untuk Allah,
mereka dibunuh demi mempertaruhkan agama-Nya. Mereka menuduhnya telah membunuh
diri dan menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan. Mereka itu, insya Allah, adalah para
petinggi syahid di sisi Allah. Mereka adalah elemen hidup yang menggambarkan dinamika
umat, keteguhannya untuk melawan, ia masih hidup bukan mati, masih kekal tidak punah.
Seluruh apa yang kami minta di sini adalah: seluruh operasi itu dilakukan setelah menganalisa
dan menimbangkan sisi positif dan negatifnya. Semua itu dilakukan melalui perencanaan yang
matang sekali di bawah pengawasan kaum muslimin yang mumpuni . Kalau mereka melihat
ada kebaikan, segera maju dan bertawakkal kepada Allah. Karena Allah SWT berfirman yang
artinya:"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah itu Maha
Agung dan Maha Bijaksana." (QS. Al Anfal: 49)”10

FATWA RESMI PARA ULAMA ISLAM TENTANG BOM SYAHID DI PALESTINA DAN
SYARAT- SYARATNYA

Bismillahirrahmanirrahim,

Menyusul operasi bom syahid di Palestina (Yerusalem dan Tel Aviv) serta pemberitaan
berbagai media massa dan pendapat yang bertebaran dari para tokoh dan pemimpin negara
Islam, maka kami menyampaikan fatwa resmi kolektif (berjama'ah) para ulama dan tokoh

10
Syaikh Yusuf al Qaradhawi, Fatawa Mu’ashirah, hal. 503-505, Jld. 3. Cet.1, Darul Qalam, Kairo
Islam di berbagai penjuru dunia yang concern (perhatian) terhadap penindasan dan kezaliman
terhadap kaum muslimin di Palestina dan ikut serta merasakan dan mengetahui secara persis
keadaan mereka serta berjuang bahu-membahu bersama mereka, sebagai berikut:

1. Jelas sekali bahwa orang Yahudi menduduki Palestina -dalam pandangan hukum Islam-
merupakan kafir harbi (kafir yg wajib diperangi), musuh agama, perampas Hak Kemanusiaan
dan penjajah. Mereka telah merampas Palestina termasuk tanah suci Yerusalem, mendirikan
pemukiman & pemerintahan yg tidak sah di atasnya, mereka telah merekayasa opini dunia
dan meyakini bahwa Yerusalem akan menjadi ibukota abadi mereka. Dan ini merupakan
keyakinan akidah mereka, apakah itu anggota partai buruh, partai likud, aktifis LSM (Lembaga
Swadaya Masyarakat) maupun kalangan independen, hal ini juga tidak berbeda baik kalangan
sipil maupun militer, laki-laki maupun wanita dalam masalah ini.

2. Penduduk Yahudi di Palestina baik laki-laki maupun wanita dengan demikian adalah musuh-
musuh Islam, mereka datang dari berbagai negara untuk mencaplok tanah milik kaum
muslimin dan mendukung militer Israel yang bertanggungjawab atas agresi dan kegiatan teror
yang dilakukan oleh pemerintah mereka, kaum sipil mereka juga tahu betul atas status negara
yg mereka caplok dari bangsa Palestina, dan mereka ikut serta dalam latihan-latihan militer
untuk menjadi tentara cadangan manakala pecah peperangan terbuka.

3. Penduduk Yahudi dengan demikian telah memerangi kaum muslimin dan menumpahkan
darah orang-orang yang tidak berdosa, membuldoser tanah-tanah dan rumah-rumah mereka,
mengusir dan menumpahkan darah kaum muslimin, baik laki-laki, wanita dan ana-anak. Untuk
kemudian mereka membuat opini pada dunia, termasuk pada DUNIA ISLAM DAN SEBAGIAN
ULAMA YANG TIDAK FAHAM untuk bersimpati pada mereka, mendukung "perdamaian" yang
maknanya adalah pencaplokan terhadap tanah kaum muslimin.

4. Mereka oleh karenanya telah bahu-membahu terlibat aktif dalam pengusiran orang-orang
muslim (dan non muslim) dari rumah-rumah mereka, lalu merampas, menjajah dan menindas
mereka. Yahudi baik sipil ataupun militer adalah orang asing bagi bumi Palestina. Mereka
datang dengan didasari oleh keyakinan untuk membangun sinagog di atas mesjid Palestina yg
mereka yakini adalah merupakan Haykal Solomon yang suci yang didasari oleh kitab hitam
mereka Talmud yang dibuat-buat oleh pemuka agama mereka.

Maka didasari oleh hal-hal tersebut dan setelah MEMPERHATIKAN DENGAN SEKSAMA
DAN MEMPELAJARI DENGAN SERINCI-RINCINYA, mendengar suara hati dan keterangan dari
saudara kita kaum muslimin yang negaranya telah dirampas, dinodai, ditindas, maka ALLAH
Ta’ala telah berfirman:

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-


orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu
(orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka
mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah (60): 9)

Dalam ayat yang lain:

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari
tempat mereka telah mengusir kamu.” (QS. Al Baqarah (2): 191)

Maka syariah membolehkan perlawanan dan pembunuhan pada penjajah negara


kaum muslimin meskipun itu sipil ataupun militer, karena tidak dimungkinkan dalam
peperangan dan penindasan serta penjajahan untuk mengetahui secara persis apakah mereka
termasuk orang yang setuju atau tidak dalam pendudukan tanah Palestina, termasuk laki-laki,
wanita, maupun anak-anak, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah mengusir
seluruh orang yahudi Bani Qainuqa ( termasuk kaum wanita dan anak-anak mereka) pada hari
Sabtu pertengahan bulan Syawwal (Tarikh At-Thabari II/479-480; Al-Maghazi Al-Waqidi
I/176; Thabaqat al-Kubra, Ibnu Sa’ad II/28-29; hadits tentang pengusiran bani
Qainuqa di Madinah ini adalah shahih, lihat juga Al-Jami’us Shahih Al-Bukhari,
III/11).

Demikian pula Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah memerintahkan pengusiran


pada Bani Nadhir yg didalamnya termasuk laki-laki, wanita dan anak-anak mereka ke luar dari
Madinah setelah perang Badar (Al-Mushannaf Abdurrazzaq, V/357; Sunan Abi Daud
II/139-140; Al-Mustadrak Al-Hakim II/483; Dala’il Nubuwwah Al-Baihaqi III/446-450;
Dala’il Nubuwwah Abu Nu’aim III/176-177; Sirah Ibnu Hisyam III/683, hadits ini
shahih lihat. juga Al-Jami’us Shahih, Al-Bukhari, III/11).

Demikianlah dalam fiqh Islam dibenarkan membunuh wanita dan anak-anak jika
mereka ikut serta membantu memusuhi kaum muslimin, atau karena sulit memisahkan
mereka dari kaum laki-laki, berdasarkan pembunuhan (penyembelihan) pada wanita Yahudi
saat peristiwa Bani Quraizhah (Sirah Ibnu Hisyam III/722; Musnad Ahmad VI/277; Sunan
Abi Daud II/250 dengan sanad yg Hasan).

Maka jihad yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap Yahudi Israel adalah sah &
bernilai jihad dan jika mereka terbunuh maka mereka dihukumi mati syahid, dan ini sama
sekali bukan bunuh diri, sebagaimana disinyalir oleh sebagian orang yang tidak tahu dan
tidak memahami masa;ah dengan baik. Sebagaimana saat salah seorang muslimin dalam
penaklukan Konstantinopel menyerang musuh seorang diri sampai ia terbunuh, maka
sebagian orang berkata : “Ia telah membunuh dirinya sendiri, wa laa tulquu bi aydikum ilat
tahlukah (janganlah kalian menjerumuskan diri kalian dalam jurang kebinasaan) (QS Al-
Baqarah (20): 195).”

Maka Abu Ayyub Al-Anshari mengatakan : “Tidak demikian makna ayat itu, ayat itu
diturunkan tentang kami kaum Anshar yg ingin berhenti berjihad dan berkonsentrasi untuk
ekonomi mereka yang terabaikan. Maka Allah Ta’ala malah menegur mereka dengan ayat
tersebut.” Demikian pula dengan Anas bin Nadhar Radhiallahu ‘Anhu, paman Anas bin Malik yg
telah menancapkan kakinya ke tanah pada akhir perang Uhud (agar tidak bisa melarikan diri,
sementara kaum muslimin yang lain telah lari), sehingga turun (QS. Al-Ahzab (33): 23) atau
sahabat yg masuk ke dalam benteng Yamamah seorang diri, dan lain-lain. Kisah-kisah seperti
ini amat banyak dan ma’ruf di dalam Sirah dan Hadits yg Shahih maupun Hasan. Ulama-ulama
salaf seperti Al-Qasim bin Mukahimirah, Qasim bin Muhammad, Abdul Malik & Ibnu Khuwaiz
Mindan juga membenarkan aksi ini. Demikian ini pula pendapat Imam Al-Qurthubi dalam
tafsirnya tentang surat Al-Baqarah: 207, beliau menyatakan demikian pula pendapat ulama
salaf semisal Muhammad bin Al-Hasan dan lain-lain

Islam melarang keras membunuh diri sendiri dan ia merupakan dosa besar, namun
dalam kasus peperangan yang nyata dengan kaum musyrikin di Palestina maka hal tersebut
bukanlah bunuh diri, sebagaimana sudah kami katakan, karena hal tersebut telah benar-benar
mendatangkan kesulitan pada pemerintah Israel, menimbulkan ketakutan pada seluruh rakyat
mereka dan membuat berkurangnya kedatangan Yahudi dari seluruh dunia ke Palestina, serta
membuat putus asa pemerintahan Ariel Sharon dan Amerika Serikat sebagai sekutu
terdekatnya. Bom Syahid yang dilakukan oleh para pemuda Palestina telah terbukti ampuh
untuk menekan pemerintah Israel menghentikan keinginan mereka mencaplok Ghaza dan
Ariha, semoga nanti akan juga membuat mereka meninggalkan Jerusalem tempat Al-Aqsha,
Kiblat Pertama kaum muslimin, Amiin.

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi
dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu
menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak
mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah
niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”
(QS. Al Anfal (8): 60). Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Hamba-Hamba Allah Ta’ala yang bertanda tangan,

DR Muhammad Abu Faris (Fiqh), DR Hammam Said (Hadits), DR Muhammad Amr


(Dirasat Islam), DR Muhammad Abdussahib (Dirasat Islam), DR Yasin Daradka
(Syariah), DR Abdul Khalil Abu Abid (Syariah), DR Muhammad Majally (Syariah), DR
Muhammad Nabil Thahir (Syariah), DR Ziab Aqil (Syariah), DR Ahmad Naufal
(Tafsir), DR Sulthan al-Aqilah (Dirasat Islam), DR Muhammad al-Uwaidah (Dirasat
Islam), DR Ahmad Al-Kufahi (Fiqh), Syaikh Sulaiman as-Sa’d (Dirasat Islam), DR
Muhammad al-Haj (Syariah), Syaikh Abdul Aziz Jabbar (Dirasat Islam), DR Shalah
Abdul Fattah al-Khalidi (Tafsir), DR Arif Khalil Abu Abid (Dirasat Islam), DR Ibrahim
Zaid Al-Khailany (Syariah), DR Mahmud Salamah Al-Ayyari (Dirasat Islam), DR Rahil
Muhammad Ghunaybah (Syariah), DR Rajih Al-Kurdi (Aqidah), DR Mahmud Shalih
Jabbar (Dirasat Islam), DR Yusuf Al-Qaradhawi (Syariah).

Sebenarnya masih sangat banyak teks para ulama yang mendukung bom syahid,
tetapi untuk tidak memperpanjang, maka saya sebutkan saja nama-nama ulama dan lembaga
fatwa Internasional yang menyetujui bom syahid ini. Di antaranya:

1. Rabithah ‘Ulama Filisthin11

Merekalah yang paling tahu kondisi Palestina, oleh karena itu mereka mengatakan
untuk para ulama ‘Salafi’ yang menentang bom syahid: “Kami katakana kepada para ulama
yang memfatwakan selain ini, tetaplah Anda di tempat Anda. Sesungguhnya kami ini hidup
berdampingan dengan Baitul Maqdis dan lebih tahu dengan segala yang terjadi di dalamnya.
Kami ini penduduk Palestina. Orang yang tinggal di Mekkah lebih tahu tentang penduduk
Mekkah.” (Fatwa 11 Shafar 1422H - 5 Mei 2001M)

2.Front Ulama Al zhar Mesir (Majalah Filisthin Al Muslimah, hal. 24-25, edisi 5, tahun 14,
Dzulhijjah 1416H-Mei 1996)
3.Para Ulama Jordania (Harian As Sabil, edisi 121, th. III, 18 Maret 1996M)
4.Majelis Ulama Indonesia (Tempo Interaktif, 16 desember 2003M, berjudul ‘MUI Dukung Aksi
Bom Syahid’)
5. Nahdhatul Ulama (Hasil Munas Alim Ulama NU di Asama Haji Pondok Gede, 25-28 Juli 2002)
6. Majma’ al Fiqh al islami di Sudan
7. Syaikh Abdullah bin Abdirrahman al Jibrin (anggota Hai’ah Kibaril ‘Ulama Saudi Arabia)
8. Syaikh Abdullah bin Mani’ (anggota Hai’ah Kibaril Ulama Saudi Arabia)
9. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu asy Syaikh (manta mufti Saudi Arabia, gurunya Syaikh
bin Baz)
10. Syaikh Sulaiman bin Nashir Al Alwan (ulama berpengaruh di Saudi Arabi, hafal Sembilan
kitab hadits)
11. Syaikh Salman bin Fahd Al ‘Audah (ulama Saudi Arabia)
12. Syaikh Safar bin Abdirrahman Al Hawali (Ketua Jurusan Aqidah Universitas Ummul Qurra -
Mekkah))
13. Syaikh Abdul Karim Al Khudhair (Dosen Universitas Imam Muhamad bin Su’ud, Saudi
Arabia)
14. Syaikh. Prof.Dr. Wahbah Az Zuhaili (Ulama fiqih terkenal, Ketua Jurusan fiqih dan Ushul
Fiqih di Fakultas Syariah Universitas Damaskus)
15. Syaikh. Prof. Dr. Muhammad Az Zuhaili (wakil dekan Fakultas Syariah, Universitas
Damaskus)
11
Al Fatawa An Nadiyyah fil ‘Amaliyat Al Istisyhadiyah, Hal. 64-70. Fatwa Rabithah Ulama
Palestina ini cukup panjang, mereka mengemukakan dalil-dalil Al Quran, As Sunnah, serta ijma’.
16. Syaikh Muhammad bin Abdillah As Saif (Mufti para mujahidin Chechnya)
17. Syaikh Jabir As Sa’idi (ulama Syam)
18. Syaikh Ajil Jasim An Nasymi (ulama Kuwait)
19. Syaikh Hasan Ayyub (Mesir)
20.Syaikh Ali Muhammad Ash Shawwa (Jordan)
21.Syaikhul Azhar Sayyid Muhammad Ath Thanthawi (Mesir)
22. Syaikh. Prof. Dr. Said Ramadhan Al Buthi (Ketua Jurusan Aqidah dan Perbandingan Agama
di Fakultas 23. Syaria Universitas Damaskus)
23. Syaikh Fathi Yakan (Libanon)
24. Syaikh Muhamamd Khair Haikal (Ulama Syam)
25. Syaikh Muhammad Karim Rajih (Syaikhul Qurra’ di Syam)
26. Syaikh Mutawalli Asy Sya’rawi (Ulama Mesir)
27. Syaikh. Dr. Ibrahim Al Fayumi (Sekjen Majelis Al A’la Al Islamiyah- Mesir)
28. Syaikh Abdul Majid Zaidan (Mesir)
29. Syaikh Dr. Ahmad Haikal (Mesir)
30. Syaikh Dr. Sa’ad Zhalam (Mesir)
31. Syaikh Dr. Muhammad Abdul Halim Umar (Mesir)
32. Syaikh Jalaluddin Abdurrahman (Mesir)
33. Syaikh Dr. Su’ad Shalih (Mesir)
34. Syaikh Dr. Muhammad Al Baltaji (Mesir)
35. Syaikh Dr. Ahmad Syalabi (Mesir)
36. Syaikh Dr. Ahmad Abdurrahman (Mesir)
37. Syaikh Prof. Dr. Muhamamd al Adawi (Mesir)
38. Syaikh Dr. Abdul Mu’thi Bayumi (Mesir)
39. Syaikh Yusuf Al Badri (Mesir)
40. Syaikh Fathullah Jazar (Mesir)
41. Syaikh Manshur Ar Rifa’i Ubaid (Mesir)
42. Syaikh Ahmad Mu’adz Al Khathib (Syiria)
43. Syaikh Dr. Nawaf Hail Takruri (Syam)

Demikianlah, nama-nama para ulama yang menyetujui aksi bom syahid.12


Wallahu A’lam bish Shawab

12
Abduh Zulfidar Akaha, Siapa eroris? Siapa Khawarij?, Hal.287-290. Pustaka Al Kautsar