Anda di halaman 1dari 17

Apr 21, '09 3:17

Mabit di Masjid dan Beribadah Pada Malam hari, Tasyabbuh bil


AM
Kuffar-kah? Bid'ahkah?
for everyone
Mabit di Masjid dan Beribadah Pada Malam hari, Tasyabbuh bil
Kuffar-kah? Bid'ahkah?

Oleh: Abu Hudzaifi Al Pemangkati

Dari Al Harits bin Abdirrahman bin Abi Dzubab, dia berkata:

‫ » كيف‬: ‫ فقال‬، ‫سألت سليمان بن يسار عن النوم في المسجد‬


‫تسألون عن هذا وقد كان أصحاب الصفة ينامون فيه ويصلون‬
« ‫فيه ؟‬
“Aku bertanya kepada Sulaiman bin Yasar tentang tidur di masjid, maka dia menjawab: “Bagaimana
kalian bertanya tentang hal ini, padahal Ashhabush Shuffah tidur di masjid dan mereka shalat di
dalamnya?” (Al Fakihi, Akhbar Makkah, No. 1199)[1]

Lebih satu dekade belakangan banyak umat Islam, khususnya para pemuda, mengadakan acara
mabit (bermalam) di masjis dengan tujuan taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla)
dengan melaksanakan serangkaian acara seperti kajian atau ceramah, tidur, qiyamullail (bisa memilih
antara berjamaah atau sendiri), dan kadang di tambah muhasabah. Walau rangkaian mata acara ini tidak
selalu demikian. Acara ini seringkali diikuti banyak orang, maka wajar jika menyedot perhatian manusia.
Akhirnya lahirlah penilaian, baik pro dan kontra. Bahkan ada yang meyebutnya sebagai perbuatan
tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang kafir) karena hal itu seperti orang kafir mengkhususkan ibadahnya
pada malam hari. Ada juga yang membid’ahkan dengan alasan tidak atsar shahih dari para salaf yang
melaksanakan acara seperti ini.

Banyak pertanyaan yang harus dijawab. Benarkah demikian? Apakah sedemikian sederhananya
untuk menyebut sebuah perbuatan sebagai tasyabbuh bil kuffar? Apakah kaidah yang digunakan untuk
mengkategorikan mabit adalah perbuatan tasyabbuh? Benarkah orang kafir hanya beribadah hanya pada
malam hari? Dan benarkah para peserta mabit adalah orang yang juga hanya beribadah pada malam hari,
sehingga layak disebut tasyabbuh dengan mereka? Dan benarkah orang kafir juga melakukannya secara
bersama-sama sebagaimana acara mabit ini? Sudahkah orang yang mengatakan demikian ini melakukan
kajian mendalam atau langsung melihat hakikat sebenarnya? Apakah hanya karena ada kemiripan pada satu
sisi dengan orang kafir maka langsung disebut telah tasyabbuh dengan orang kafir?

Terpenting adalah apakah i’tikaf di masjid, beribadah malam hari, membaca Al Quran,
melakukan kajian diniyah, menghidupkan malam, banyak istighfar kepada Allah Ta’ala, berkumpul untuk
melalukan ketaatan dan ibadah, adalah perbuatan menyerupai orang kafir? Hanya karena itu dilakukan
malam hari maka itu menyerupai orang kafir? Ulama manakah yang pernah mengatakan menghidupkan
malam dengan ibadah, qiyamullail, membaca Al Quran di masjid, adalah perbuatan menyerupai orang
kafir? Ataukah justru inilah perbuatan salafush shalih sejak zaman dahulu, seperti para sahabat yang
dijuluki Ashhabush Shuffah? Mereka tinggal di masjid dan beribadah di dalamnya siang dan malam.
Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membuatkan tenda khusus buat seorang wanita jariyah
untuk tinggal di dalam masjidnya hingga dia wafat, dan riwayat ini shahih. Ibnu Abbas pun pernah mabit di
rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mereka berdua shalat malam berjamaah, sebagaimana
yang diceritakan oleh Ibnu Abbas sendiri dalam riwayat Bukhari. Apakah mereka telah melakukan
perbuatan tasyabbuh bil kuffar dan bid’ah? Kalau betul itu perbuatan menyimpang, maka Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang pertama yang mencegahnya. Kalau justru itu perbuatan yang
benar, maka siapakah yang benar, apakah Rasulullah dan para ashhabush shufah, ataukah para penuduh
itu yang menuduh hal itu adalah tasyabbuh bil kuffar dan bid’ah? Ataukah para penuduh justru telah
melakukan bid’ah karena belum pernah ada ulama sebelumnya yang mengatakan seperti mereka.

Atau apakah ini hanya kedengkian antara satu komunitas terhadap komunitas lainnya, sehingga
apa pun yang dilakukan oleh saudara yang terlanjur dibencinya, pasti adalah salah walau memiliki dasar
yang kuat?

Menyerupai Orang Kafir adalah Haram

Ini telah sama kita sepakati keharamannya, berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar Radhiallahu
‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

‫م‬
ْ ‫ه‬
ُ ْ ‫من‬
ِ ‫و‬
َ ‫ه‬ َ ٍ ‫وم‬
ُ ‫ف‬ َ ِ‫ه ب‬
ْ ‫ق‬ َ َ‫ن ت‬
َ ّ ‫شب‬ ْ ‫م‬
َ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk


kaum tersebut.” (HR. Abu Daud, Kitab Al Libas Bab Fi Lubsi Asy
Syuhrah, Juz. 11, Hal. 48, No. 3512. Ahmad, Juz. 10, Hal. 404,
No. 4868)

Imam As Sakhawi mengatakan ada kelemahan dalam hadits ini,


tetapi hadits ini memiliki penguat (syawahid), yakni hadits riwayat Al
Bazzar dari Hudzaifah dan Abu Hurairah, riwayat Al Ashbahan dari
Anas bin Malik, dan riwayat Al Qudha’i dari Thawus secara mursal.
(Imam As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, Hal. 215)
Sementara, Imam Al ‘Ajluni mengatakan, sanad hadits ini shahih
menurut Imam Al ‘Iraqi dan Imam Ibnu Hibban, karena memiliki
penguat yang disebutkan oleh Imam As Sakhawi di atas. (Imam
Ismail bin Muhammad Al ‘Ajluni, Kasyful Khafa’, Juz. 2, Hal.
240. Darul Kutub Al ‘Ilmiah) Imam Ibnu Taimiyah mengatakan
hadits ini jayyid (baik) dan Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan sanadnya
hasan. (Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al ‘Azhim Abadi, ‘Aunul
Ma’bud, Juz. 9, Hal. 54) Demikian status hadits ini.

Hadits ini dengan tegas menunjukkan larangan menyerupai perbuatan yang membuat terasosiasikan
bahwa itu adalah perbuatan dan ciri orang kafir. Seperti saling memberikan hadiah bertepatan pada
valentine day atau hari raya orang kafir lainnya, berpakaian yang mencirikan langsung orang kafir seperti
peci Yahudi, baju Sari para biksu, mengalungkan salib di tubuh, ini semua haram tidak diragukan lagi. Dan
sebagai perbuatan tasyabbuh yang sangat jelas. Termasuk juga melagukan nasyid puji-pujian di masjid, ini
merupakan tasyabbuh terhadap Nasrani yang telah melagukan lagu-lagu pujian di dalam gereja mereka.
Bahkan diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
َ
َ ‫فففا‬
،‫ك‬ ُ ‫ض الل ّف‬
َ ‫ه‬ َ : ‫قوُلوا‬
ّ ‫فف‬ ُ ‫ف‬
َ ،‫د‬
ِ ‫ج‬
ِ ‫س‬ َ ْ ‫في ال‬
ْ ‫م‬ ِ ‫عًرا‬
ْ ‫ش‬ ُ ْ ‫موهُ ي َن‬
ِ ُ ‫شد‬ ُ ُ ‫ن َرأي ْت‬ ْ ‫م‬
َ
‫ت‬
ٍ ‫مّرا‬ َ ‫ث‬ َ ‫َثل‬
“Kalau kamu lihat orang melantunkan sya’ir di masjid, maka katakanlah kepadanya, tiga kali :
“Mudah-mudahan Allah memecahkan mulutmu." (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, Juz. 2, Hal.
127, no. 1436. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, Juz. 6, Hal. 370. Abu Nu’aim, Ma’rifatus Shahabah,
Juz. 4, Hal. 326, no. 1323. Ibnu Sunni, ‘Amalul Yaum wa Lailah, Juz.1, Hal. 289, No. 152)[2]

Imam Al Munawi dan Imam Al ‘Alqami menegaskan hal-hal yang termasuk penyerupaan dengan
orang kafir: “Yakni berhias seperti perhiasan zhahir mereka, berjalan seperti mereka, berpakaian seperti
mereka, dan perbuatan lainnya.” (Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al ‘Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud,
Juz. 9, Hal. 54)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahkan mengatakan, bahwa hadits ini merupakan dalil, paling sedikit
kondisi penyerupaan dengan mereka merupakan perbuatan haram, dan secara zhahir bisa membawa pada
kekufuran, sebagaimana ayat: “Barangsiapa di antara kalian menjadikan mereka sebagai wali, maka dia
telah menjadi bagian dari mereka.” (Imam Ibnu Taimiyah, Iqtidha’ Ash Shirath Al Mustaqim, Hal.
214)

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

‫رَنا‬
ِ ْ ‫غي‬
َ ِ‫ه ب‬ َ َ‫ن ت‬
َ ّ ‫شب‬ ْ ‫م‬
َ ‫مّنا‬ َ ْ ‫ل َي‬
ِ ‫س‬
“Bukan golongan kami orang yang menyerupai selain kami.”
(HR. At Tirmidzi, Kitab Al ‘Ilmu ‘an Rasulillah Bab Maa Ja’a Fi
Karahiyah Isyarah Al Yad bis Salam, Juz. 9, Hal. 317, No. 2619.
Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Ausath, Juz. 16, Hal. 169, No.
7593)

Sebagaimana kata Imam At tirmidzi, Pada dasarnya hadits ini


dhaif, karena dalam sanadnya terdapat Ibnu Luhai’ah[3] seorang
perawi yang terkenal kedhaifannya. Namun, hadits ini memiliki berapa
syawahid (penguat), sehingga Syaikh Muhammad Nashiruddin Al
Albani menghasankan hadits ini dalam berbagai kitabnya. (Lihat
dalam Silsilah Ash Shahihah, Juz. 5, Hal. 193, No. 2194. Shahih
At Targhib wat Tarhib, Juz. 3, Hal. 23, No. 2723. Shahih wa
Dhaif Sunan At Tirmidzi, Juz. 6, Hal. 195. Shahihul Jami’ No.
5434)

Begitu pula yang dikatakan Syaikh Abdul Qadir Al Arna’uth, bahwa hadits ini memiliki
syawahid yang membuatnya menjadi kuat. (Raudhatul Muhadditsin, 10, Hal. 332, No. 4757)

Demikianlah hadits-hadits larangan penyerupaan dengan orang kafir dan pemahaman terhadap
hadits tersebut. Maka, sangat tidak dibenarkan menuduh i’tikaf di masjid, membaca Al Quran, bangun
malam untuk tahajud baik sendiri atau berjamaah dalam rangka membersihkan jiwa sebagai ibadah yang
menyerupai orang kafir. Sebab ini semua memiliki dasar yang kuat dalam agama, dan merupakan amalan
para shalihin. Tak ada kemiripan sama sekali, kecuali sekedar dilakukan malam hari! Itu pun bukan alasan
menyebutnya sebagai tasyabbuh, sangat simplistis tuduhan ini, sebab tahajjud ya malam hari. Juga, sangat
keliru menyamakan orang-orang yang mabit dengan para ruhban yang beribadah hanya pada malam hari,
sebab orang-orang yang mabit mereka juga beribadah secara normal pada siang hari. Tidak di antara
peserta mabit itu adalah orang yang hanya beribadah malam hari saja, dan meninggalkan ibadah pada siang
harinya. Maka, ... haihaata haihaata, sangat jauh tuduhan ini.

Dalil-Dalil Umum Mabit (Bermalam) dan Beribadah di Masjid

Sesungguhnya ciri ahlus sunnah adalah selalu memiliki dasar untuk berbuat, tidak asal tuding,
apalagi melempar fitnah tanpa dalil dan hujjah ilmiah. Dalam masalah mabit ini, telah banyak dalil yang
mendasarinya. Di antaranya:

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

َ
‫ن‬
َ ‫ري‬ ّ ّ‫مط‬
ِ ‫ه‬ ُ ْ ‫ب ال‬
ّ ‫ح‬ ُ ّ ‫والل‬
ِ ُ‫ه ي‬ ّ َ‫ن ي َت َط‬
َ ‫هُروا‬ ْ ‫نأ‬َ ‫حّبو‬ ٌ ‫جا‬
ِ ُ‫ل ي‬ َ ‫ر‬
ِ ‫ه‬
ِ ‫في‬
ِ
“Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. At Taubah (9): 108)

Inilah tujuan mereka mabit di masjid dalam rangka tazkiyatun nafsi (membersihkan jiwa) dari
kekotoran dunia. Mereka sejenak meninggalkan aktifitas sehari-harinya, dengan melakukan aktifitas ibadah
di masjid, seperti tafaqquh fiddin, membaca Al Quran, dan shalat malam. Jika ini dituding menyerupai
orang kafir, maka saya ucapkan Laa Hawla wa laa Quwwata Illa billah.

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta
"ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang
yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”. (QS. An Nahl: 116)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir bin As Sa’di Rahimahullah (w.1376H) menafsirkan makna, “Di
dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri” :

.‫ والنجاسات والحداث‬،‫ ويتطهروا من الوساخ‬،‫من الذنوب‬

‫ومن المعلوم أن من أحب شيئا ل بد أن يسعى له ويجتهد فيما‬


‫ فل بد أنهم كانوا حريصين على التطهر من الذنوب‬،‫يحب‬
‫ وكانوا‬،‫ ولهذا كانوا ممن سبق إسلمه‬،‫والوساخ والحداث‬
‫ مع رسول الّله صلى الله‬،‫ محافظين على الجهاد‬،‫مقيمين للصلة‬
‫ وممن كانوا يتحرزون من‬،‫ وإقامة شرائع الدين‬،‫عليه وسلم‬
.‫مخالفة الّله ورسوله‬

“yaitu (membersihkan) dari dosa, serta mensucikan diri dari kotoran, najis, dan hadats. Telah
maklum, bahwa orang mencintai sesuatu maka dia harus berbuat untuk yang dicintainya itu secara
sungguh-sungguh, maka harus baginya untuk ‘rakus’ dengan amaliah yang bisa mensucikan diri dari dosa,
kotoran, dan najis. Oleh karena itulah yang dilakukan oleh orang yang terdahulu keislamannya. Mereka
menegakkan shalat, menjaga jihad bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam menegakkan
syariat agama, dan mereka termasuk golongan yang mejaga diri dari menyelisihi Allah dan RasulNya.”
(Syaikh Abdurrahman bin Nashir bin As Sa’di, Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Kalam Al
Manan, Hal. 351. Cet.1, 2000M-1420H. Mu’asasah Ar risalah)

Sedangkan makna, “dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih”:

،‫ كفففالتنزه مفففن الشفففرك والخلق الرذيلفففة‬،‫الطهفففارة المعنويفففة‬


.‫والطهارة الحسية كإزالة النجاس ورفع الحداث‬
Kesucian maknawiyah (mentalitas) seperti bersih dari syirk dan akhlak yang rendah, dan kesucian
inderawi seperti membersihkankan najis dan menghilangkan hadats.” (Ibid)

Dalam ayat lain, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

‫فففي‬ ِ ‫عى‬ ِ ‫ن ي ُذْك ََر‬ َ ّ ‫ومن أ َظْل َم ممن من َع مساجد الل‬


َ ‫س‬
َ ‫و‬َ ‫ه‬ ُ ‫م‬
ُ ‫س‬ ْ ‫ها ا‬َ ‫في‬ ْ ‫هأ‬ ِ َ ِ َ َ َ َ ْ ّ ِ ُ ْ َ َ
‫فففي ال فدّن َْيا‬
ِ ‫م‬ َ ّ ُ َ َ َ َ َ ُ
ْ ‫هف‬ ُ ‫نل‬ َ ‫في‬
ِ ِ ‫خائ‬
َ ‫ها إ ِل‬ َ ‫خلو‬ ُ ْ‫ن ي َد‬ْ ‫مأ‬ ْ ‫ه‬ُ ‫نل‬ َ ‫ما كا‬ َ ‫ها أولئ ِك‬ َ ِ ‫خَراب‬
َ
‫م‬
ٌ ‫ظي‬ ِ ‫ع‬ َ ‫ب‬ ٌ ‫ذا‬َ ‫ع‬َ ‫ة‬ ِ ‫خَر‬ َ ْ
ِ ‫في ال‬ ِ ‫م‬ ْ ‫ه‬ُ ‫ول‬َ َ ‫ي‬ ٌ ‫خْز‬ ِ
“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah
dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? mereka itu tidak sepatutnya masuk ke
dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). mereka di dunia mendapat kehinaan
dan di akhirat mendapat siksa yang berat.” (QS. Al Baqarah (2): 114)

Imam Ibnu Jarir Rahimahullah (w. 310H) menyebutkan bahwa orang-orang yang menghalangi
dalam ayat ini adalah orang nasrani yang menghalangi manusia untuk beribadah menyebut namaNya dan
shalat di dalam masjid Baitul Maqdis. Inilah takwil dari Ibnu Abbas dan Mujahid. Ada juga yang
menafsirkan bahwa mereka adalah Bukhtanashar dan tentaranya, serta yang membantu mereka dari
kalangan Nasrani untuk menghancurkan Baitul Maqdis. Inilah takwil dari Qatadah dan As Sudi. Ada juga
yang mengatakan bahwa ayat ini menceritakan orang musyrikin Quraisy yang menghalangi Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk ke masjidil haram. Inilah pendapat Ibnu Zaid. (Imam Abu Ja’far bin
Jarir Ath Thabari, Jami’ Al Bayan, Juz. 2, Hal. 520-521. Cet. 1, 2000M-1420H. Mu’asasah Ar
Risalah)

Nah, jika menghalangi orang yang beribadah di masjid, mensucikan diri, menyebut namaNya, serta
shalat di dalamnya, dikatakan sebagai bentuk aniaya oleh ayat ini. Lalu, bagaimana dengan orang yang
justru menuding bahwa perbuatan ibadah ini adalah tasyabbuh bil kuffar?! Bukan hanya menghalangi,
tetapi menuding itu sebagai perbuatan orang kafir. Ya, ini lebih zalim lagi, bahkan inilah tasyabbuh bil
kuffar sebenarnya, karena mereka para penuding mengikuti jejak kaum nasrani dan musyrikin Quraisy
yang menghalangi manusia untuk memakmurkan masjid.

Jika mereka mengatakan, “Siapa yang menghalangi ke masjid? Yang kami larang adalah ibadah di
malam hari, dan mabit di dalamnya.”

Jawab: kalau itu maksudnya, itu pun tidak memiliki dasar sama sekali, dan sudah disinggung
sebelumnya tentang ibadah di malam hari di masjid, dan i’tikaf di dalamnya hingga pagi, merupakan
perilaku para salafush shalih (nanti akan kami buktikan, Insya Allah). Bahkan sampai hari ini pun masih
banyak orang yang mabit dan melakukan ibadah di masjidil haram hingga menjelang subuh, dan tidak ada
ulama di sana yang mengatakan itu adalah tasyabbuh bil kuffar dan bid’ah.. Ayat-ayat di atas pun tidak
membatasi kapan mau memakmurkan masjid, apakah pagi, siang, sore, atau malam, semua ini dibenarkan
tergantung kelapangan waktu masing-masing manusia yang ingin memakmurkannya. Satu saja saya tuntut
dari para penuding, adakah manusia sebelum mereka yang berpendapat seperti mereka? sebutkan siapa
ulamanya, dan dalam kitab apa mereka melarang orang yang memakmurkan masjid pada malam hari?
Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan bahwa orang-orang yang memakmurkan masjid, mendirikan
shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali hanya kepada Allah, maka mereka termasuk orang-orang
yang mendapatkan petunjuk.

َ‫ص فَلة‬
ّ ‫م ال‬ َ َ ‫وأ‬
َ ‫قففا‬ َ ‫ر‬ ِ ‫خف‬ِ َ ‫وم ِ اْل‬
ْ ‫وال ْي َف‬َ ‫ه‬ِ ّ ‫ن ِبالل‬
َ ‫م‬
َ
َ ‫نآ‬ ْ ‫م‬
َ ‫ه‬ِ ّ ‫جدَ الل‬ ِ ‫سا‬
َ ‫م‬
َ ‫مُر‬ُ ‫ع‬
ْ َ ‫ما ي‬ َ ّ ‫إ ِن‬
‫ن‬ ُ َ َ ُ
َ ِ ‫سففى أولئ‬ َ ‫ه‬ ّ ّ َ َ َ
َ ‫مف‬
ِ ‫ن ي َكون ُففوا‬ ْ ‫كأ‬ َ ‫ع‬ َ ‫ف‬ َ ‫ش إ ِل الل ف‬ َ ‫خف‬ ْ َ‫م ي‬ ْ ‫ول ف‬َ َ‫وآت َففى الّزكففاة‬ َ
‫ن‬
َ ‫دي‬ِ َ ‫ت‬‫ه‬ْ ُ ‫ا‬
‫م‬ ْ ‫ل‬
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah
dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun)
selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang
mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah (9): 14)

Imam Al Baghawi Rahimahullah (w. 510H) menafsirkan tentang para pemakmur masjid ini:

‫ ولففم يففترك أمففر اللففه لخشففية‬،‫ف فففي الففدين غيففر اللففه‬ ْ ‫خف‬ َ َ ‫ولففم ي‬
‫ن { و "عسففى" مففن‬ ْ ُ َ‫ن ي‬ َ َ ُ
َ ِ ‫سى أولئ‬
َ ‫دي‬
ِ ‫هت َف‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ن ال‬
َ ‫مف‬
ِ ‫كون ُففوا‬ ْ ‫كأ‬ َ ‫ع‬َ ‫غيره} ف‬
‫ والمهتفففدون هفففم‬،‫ ففففأولئك هفففم المهتفففدون‬:‫ أي‬،‫اللفففه واجفففب‬
.‫المتمسكون بطاعة الله عز وجل التي تؤدي إلى الجنة‬
“Dan tidaklah takut dalam beragama selain kepada Allah, dan tidaklah meninggalkan perintahNya
karena takut kepada selainNya. (Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan
orang-orang yang mendapat petunjuk) dan arti kata “diharapkan” dari Allah adalah wajib, yaitu mereka
itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan orang-orang yang mendapatkan petunjuk adalah orang-
orang yang berpegang pada ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang bisa mengantarkan ke surga.”
(Imam Abu Muhamamd bin Al Husain bin Mas’ud Al Baghawi, Ma’alim At Tanzil, Juz. 4, Hal. 20.
Cet. 4. 1997M-1417H. Dar Thayyibah Linnasyr wat Tauzi’)

Demikianlah orang yang memakmurkan masjid, dia mendapatkan pujian dari Allah ‘Azza wa Jalla,
sebagai orang yang mendapatkan petunjuk, bukan orang yang tasyabbuh bil kuffar.

Dalam As Sunnah pun ditegaskan tentang keutamaan orang yang berkumpul di masjid untuk
menuntut ilmu, kajian, berdzikir, dan beribadah.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ِ ‫ب الّلفف‬
‫ه‬ َ ‫ن ك َِتففا‬ َ ‫ه ي َت ُْلففو‬
ِ ‫ت الّلفف‬ ِ ‫ن ب ُُيففو‬ ْ ‫مف‬ ِ ‫ت‬ ٍ ‫فففي ب َْيفف‬ ِ ‫م‬ ٌ ‫و‬ْ ‫قفف‬ َ ‫ع‬ َ ‫مف‬ َ َ ‫جت‬ ْ ‫مففا ا‬ َ ‫و‬َ
‫ة‬ُ ‫مف‬
َ ‫ح‬ْ ‫م الّر‬ ْ ‫ه‬ ُ ْ ‫شفي َت‬ َ
ِ ‫وغ‬ َ ‫ة‬ ُ َ ‫كين‬
ِ ‫سف‬ ّ ‫م ال‬ ْ ‫هف‬ َ َ ّ
ِ ْ ‫علي‬ َ ‫ت‬ ْ ‫م إ ِل ن ََزلف‬ ْ ‫هف‬ ُ َ ‫ه ب َي ْن‬ ُ َ ‫سون‬ ُ ‫داَر‬ َ َ ‫وي َت‬ َ
‫ه‬
ُ َ‫عن ْد‬
ِ ‫ن‬
ْ ‫م‬ َ ‫في‬ ِ ‫ه‬ ّ
ُ ‫م الل‬ ْ ‫ه‬ َ
ُ ‫وذَكَر‬ َ ‫ة‬ َ
ُ ‫ملئ ِك‬ َ ْ
َ ‫م ال‬ ْ ‫ه‬ ّ
ُ ْ ‫حفت‬ َ ‫و‬ َ
“Tidaklah sebuah kaum berkumpul di rumah di antara rumah-rumah Allah (masjid), mereka
membaca Al Quran, mengkajinya di antara mereka, melainkan akan turun ketenangan kepada mereka, dan
mereka diliputi rahmat, dan malaikat mengelilingi mereka, dan mereka menyebut namanya di sisiNya.”
(HR. Muslim, Bab Fadhl Al Ijtima’ ‘ala Tilawatil Quran wa ‘ala Adz Dzikr, No. 2699. Abu Daud, Bab
Fi Tsaubi Qira’atil Quran, No.1455. Ibnu Majah, Bab Fadhl ‘Ulama wal Hatsu ‘ala Thalabil ‘Ilmi, No.
225)

Imam An Nawawi Rahimahullah (w. 676H) mengatakan:


، ‫جد‬
ِ ‫س‬ َ ْ ‫في ال‬
ْ ‫م‬ ُ ْ ‫وة ال‬
ِ ‫قْرآن‬ َ ‫عَلى ت َِل‬
َ ‫ماع‬ َ ِ ‫جت‬
ْ ‫ل اِل‬ ِ ‫ض‬ َ ِ ‫ دَِليل ل‬: ‫ذا‬
ْ ‫ف‬ َ ‫ه‬ َ ‫في‬ ِ ‫و‬
َ
ْ
‫ ي ُكَره‬: ‫ماِلك‬ َ ‫ل‬ َ ‫و‬
َ ‫قا‬ َ ، ‫هور‬ ُ ‫م‬
ْ ‫ج‬
ُ ْ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫هب‬ َ ْ ‫ذ‬ ‫م‬
َ ‫و‬
َ ‫نا‬
َ ‫هب‬
َ ْ ‫ذ‬ ‫م‬
َ ‫و‬ ‫ه‬
ُ
َ َ ‫و‬
“Dalam hadits ini terdapat dalil bagi keutamaan berkumpul untuk membaca Al Quran di masjid, dan
itu merupakan madzhab kami, dan jumhur (mayoritas ulama), sedangkan pendapat Malik: makruh.” (Imam
An Nawawi, Syarh Shahih Muslim, No. 4867. Maktabah Al Imam An Nawawi. Mauqi’ Ruh Al Islam)

Demikian pula yang dilakukan para peserta mabit, mereka berkumpul di masjid dan membaca Al
Quran, dan membacanya sendiri-sendiri. Ini memiliki keutamaan menurut pandangan jumhur, sama sekali
bukan tasyabbuh bil kuffar, kalau hanya karena dilakukan di malam hari. Membaca Al Quran adalah
aktifitas mutlak kapan pun dan di mana pun kecuali ketika ruku dan sujud, dan ketika di WC dan kuburan.

Selanjutnya, tentang shalat malam (qiyamullail) berjamaah, ini pun memiliki dalil syar’i yang kuat.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

َ ْ َ‫ل أ‬ َ ْ ‫ذا أ َي‬


‫عا ك ُت َِبا‬
ً ‫مي‬
ِ ‫ج‬
َ ‫ن‬ َ ْ ‫صّلى َرك‬
ِ ْ ‫عت َي‬ ْ ‫صل َّيا أ‬
َ ‫و‬ َ ‫ف‬ ِ ْ ‫ن الل ّي‬
َ ‫ل‬ ْ ‫م‬ِ ‫ه‬ُ َ ‫هل‬ ُ ‫ج‬ُ ‫ظ الّر‬ َ ‫ق‬ َ ِ‫إ‬
‫ت‬ِ ‫ذاك َِرا‬ ّ ‫وال‬
َ ‫ن‬ َ ‫ري‬ ّ ‫في ال‬
ِ ِ ‫ذاك‬ ِ
“Jika seorang laki-laki bangun tidur pada malam hari, lalu membangunkan isterinya untuk shalat dua
rakaat bersama-sama (jami’an), maka mereka berdua dicatat sebagai orang yang banyak berdzikir.” (HR.
Abu Daud, Bab Qiyamullail, No. 1309. An Nasa’i, As Sunan Al Kubra, No. 1310. Al Hakim, Al
Mustadrak, No. 1189, katanya: shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, tetapi mereka tidak
mengeluarkannya. Imam An Nawawi menshahihkan dalam Riyadhushshalihin, Hal. 134. Begitu pula
Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Misykah Al Mashabih No. 1238)

Dari ‘Auf bin Malik Al Asyja’i Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

‫قمت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فلمففا ركففع مكففث قففدر‬
‫سورة البقرة ويقول في ركوعه سبحان ذي الجففبروت والملكففوت‬
‫والكبرياء والعظمة‬
“Aku bangun malam (shalat) bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika ruku
lamanya sama seperti Surat Al Baqarah, dan dia berdoa pada rukunya, Subhanallahu dzil Khairat wal
Malakut wal Kibriya’ wal ‘Azhmah.” (HR. An Nasa’i, Syaikh Al Albani menshahihkan dalam
Misyhkah Al Mashbih, No. 882)

Dari Hudzaifah bin Yaman Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

َ‫قفَرة‬ َ َ ‫ح ال ْب‬ َ ‫فت ََتف‬ ْ ‫فا‬ َ ‫ة‬ ٍ ‫ت ل َي َْلف‬ َ ‫ذا‬ َ ‫م‬ َ ّ ‫سفل‬ َ ‫و‬ َ ‫ه‬ ِ ‫عل َْيف‬ َ ‫ه‬ ُ ّ ‫صّلى الل‬ َ ‫ي‬ ّ ِ ‫ع الن ّب‬ َ ‫م‬ َ ‫ت‬ ُ ْ ‫صل ّي‬ َ
‫ة‬ٍ ‫عف‬ َ ْ ‫فففي َرك‬ ِ ‫هففا‬ َ ِ ‫ب‬ ‫لي‬ ّ ‫ف‬ ‫ص‬
َ ُ ‫ي‬ ‫ت‬ُ ‫ف‬ ْ ‫ل‬ ُ
‫ق‬ ‫ف‬َ ‫فى‬ ‫ف‬ ‫ض‬
َ ‫م‬
َ ّ ‫م‬ ‫ف‬ ُ ‫ث‬ ‫ة‬
ِ َ ‫ئ‬ ‫فا‬‫ف‬ ‫م‬
ِ ْ ‫ل‬ ‫ا‬ َ ‫د‬ ْ ‫ن‬‫ع‬ِ ‫ع‬
ُ َ ‫ك‬ ‫ر‬ْ َ ‫ي‬ ‫ت‬ ُ ْ ‫ل‬‫ق‬ ُ ‫ف‬ َ
َ ْ
‫ل‬ َ ‫حآ‬ َ ‫فت َت َف‬ ْ ‫ما‬ ّ ‫هففا ث ُف‬ َ ‫قَرأ‬ َ ‫ف‬ َ َ‫سففاء‬ َ ّ ‫ح الن‬ َ ‫فت َت َف‬ ْ ‫ما‬ ّ ‫هففا ث ُف‬ َ ِ‫ع ب‬ ُ َ ‫ت ي َْرك‬ ُ ‫قل‬ ُ ‫ف‬ َ ‫ضى‬ َ ‫م‬ َ ‫ف‬ َ
‫مففّر‬ َ ِ ‫وإ‬ َ ِ ‫سل إ‬ ً ُ ْ َ ‫ها ي‬ َ َ ‫ف‬ َ ‫ن‬
َ ‫ذا‬ َ ‫ح‬ َ ّ ‫سب‬ َ ‫ح‬ ٌ ‫سِبي‬ ْ َ ‫ها ت‬ َ ‫في‬ ِ ‫ة‬ ٍ َ ‫مّر ِبآي‬ َ ‫ذا‬ ّ ‫مت ََر‬ ُ ‫قَرأ‬ َ ‫قَرأ‬ َ ‫مَرا‬ ْ ‫ع‬ ِ
َ
‫ي‬ َ ّ ‫ن َرب‬ َ ‫حا‬ َ ْ ‫سب‬ُ ‫ل‬ ُ ‫قو‬ ُ َ‫ل ي‬ َ ‫ع‬ َ ‫ج‬ َ ‫ف‬ َ ‫ع‬ َ َ ‫م َرك‬ ّ ُ ‫وذ َ ث‬ ّ ‫ع‬ َ َ ‫وٍذ ت‬ ّ ‫ع‬ َ َ ‫مّر ب ِت‬ َ ‫ذا‬ َ ِ ‫وإ‬ َ ‫ل‬ َ ‫سأ‬ َ ‫ل‬ ٍ ‫ؤا‬ َ ‫س‬ ُ ِ‫ب‬
‫ه‬
ُ َ ‫مد‬ ِ ‫ح‬ َ ‫ن‬ ْ ‫م‬ َ ِ‫ه ل‬ ُ ّ ‫ع الل‬ َ ‫م‬ ِ ‫س‬ َ ‫ل‬ َ ‫قا‬ َ ‫م‬ ّ ُ‫ه ث‬ ِ ‫م‬ ِ ‫قَيا‬ ِ ‫ن‬ ْ ‫م‬ ِ ‫وا‬ ً ‫ح‬ ْ َ‫ه ن‬ ُ ‫ع‬ ُ ‫كو‬ ُ ‫ن ُر‬ َ ‫كا‬ َ ‫ف‬ َ ِ ‫ظيم‬ ِ ‫ع‬ َ ْ ‫ال‬
‫عَلففى‬ َ
ْ ‫ي اْل‬ َ ‫ويًل‬
َ ‫ن َرّبفف‬ َ ‫حا‬ َ ْ ‫سب‬ ُ ‫ل‬ َ ‫قا‬ َ ‫ف‬ َ َ ‫جد‬ َ ‫س‬ َ ‫م‬ ّ ُ‫ع ث‬ َ َ ‫ما َرك‬ ّ ‫م‬ ِ ‫ريًبا‬ ِ ‫ق‬ ِ َ‫م ط‬ َ ‫قا‬ َ ‫م‬ ّ ُ‫ث‬
‫ه‬ِ ‫م‬ ِ ‫قَيا‬ ِ ‫ن‬ ْ ‫م‬ ِ ‫ريًبا‬ ِ ‫ق‬ َ ُ‫جودُه‬ ُ ‫س‬ ُ ‫ن‬ َ ‫كا‬ َ ‫ف‬ َ
“Pada suatu malam aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam, beliau memulai shalat dengan membaca surat Al Baqarah. Aku katakan,
‘Beliau ruku’ setelah membaca seratus ayat pertama, kemudian meneruskan hingga
selesai.’ Aku katakan, ‘Beliau shalat dengan (membaca semua ayat itu) dalam satu
rakaat, lalu melanjutkan!’ Aku katakan, ‘Setelah itu beliau ruku’ dengannya,
kemudian shalat lagi membaca surat An Nisa, lalu Ali Imran. Dia membaca pelan-
pelan, jika membaca ayat tasbih ia bertasbih, jika melewati ayat permohonan ia
memohon, jika membaca ayat perlindungan ia berta’awudz. Kemudian ruku’ seraya
berkata, ‘Subhana rabbiyal ‘azhim’, ruku’nya sama panjangnya dengan berdirinya,
kemudian berkata, ‘Sami’ Allahu liman hamidah’, kemudian berdiri lama seperti
lamanya ruku’. Kemudian bersujud seraya berkata, ‘Subhana rabbiyal a’la’ dan
lamanya waktu sujud mendekati lamanya waktu berdiri.” (HR. Muslim, Bab
Istihbab Tathwil Qira’ah fi Shalatil Lail, No. 772)

Ini semua menunjukkan bahwa ‘Auf bin Malik dan Hudzaifah bin Al Yaman telah melaksanakan
qiyamullail berjamaah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebenarnya masih ada beberapa
contoh lainnya, namun tiga hadits di atas cukup untuk menunjukkan bahwa Qiyamullail berjamaah adalah
masyru’.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah (w. 728H):

َ َ ‫في‬ َ ‫ف‬ َ ‫ف‬ ُ َ ‫ما ل َي ْل‬ َ


‫ن‬ ْ ‫عف‬ َ ‫ل‬ َ ‫قف‬ ِ ُ ‫ون‬ َ ‫وآث َففاٌر‬ َ ‫ث‬ ُ ‫حففاِدي‬ َ ‫ها أ‬ َ ِ ‫ضل‬ ْ ‫ف‬ ِ ‫ي‬ َ ‫و‬ ِ ‫قدْ ُر‬ ِ ‫ص‬ ْ ّ ‫ة الن‬ ّ ‫وأ‬ َ
‫هففا‬ َ َ ّ َ َ َ َ َ
َ ‫في‬ ِ ‫ل‬ ِ ‫جف‬ ُ ‫ص فلةُ الّر‬ َ ‫هففا ف‬ َ ‫في‬ ِ ‫ن‬ َ ‫ص فلو‬ َ ُ ‫م كاُنوا ي‬ ْ ‫ه‬ ُ ّ ‫ف أن‬ ِ ‫سل‬ ّ ‫ن ال‬ ْ ‫م‬ ِ ‫ة‬ ٍ ‫طائ ِف‬
‫مففا‬ َ َ ‫هف‬ ُ ‫مث‬ ْ َ َ َ َ َ َ َ
ّ ‫وأ‬ َ . ‫ذا‬ َ ‫ل‬ ِ ‫ة فل ي ُن ْكُر‬ ٌ ‫ج‬ ّ ‫ح‬ ُ ‫ه‬ ِ ‫في‬ ِ ‫ه‬ ُ ‫ول‬ َ ‫ف‬ ٌ ‫سل‬ َ ‫ه‬ ِ ‫في‬ ِ ‫ه‬ ُ ‫م‬ َ ّ‫حدَهُ قدْ ت َقد‬ ْ ‫و‬ َ
‫ع‬ َ َ َ ‫ه‬ َ َ
ِ ‫مففا‬ َ ِ ‫جت‬ ْ ‫فففي اِل‬ ِ ‫ة‬ ٍ ‫مف‬ ّ ‫عا‬ َ ‫ة‬ ٍ َ ‫ع فد‬ ِ ‫علففى قا‬
َ
َ ‫ي‬ ّ ِ ‫مب ْن‬ َ ‫ذا‬ َ ‫ةف‬ ً ‫ع‬ َ ‫ما‬ َ ‫ج‬ َ ‫ها‬ َ ‫في‬ ِ ُ‫صلة‬ ّ ‫ال‬
‫ب‬ ٌ ‫ج‬ ِ ‫وا‬ َ ‫ما‬ ّ ‫ةإ‬ ٌ َ ‫ة َرات ِب‬ ٌ ّ ‫سن‬ ُ ‫ما‬ َ ‫ه‬ ُ ُ‫حد‬ َ ‫نأ‬ ِ ‫عا‬ َ ‫و‬ ْ َ‫ه ن‬ ُ ّ ‫فإ ِن‬ َ ‫ت‬ ِ ‫دا‬ َ ‫عَبا‬ ِ ‫وال‬ ْ َ ‫ت‬ ِ ‫عا‬ َ ‫عَلى الطا‬ ّ َ
‫ة‬ ِ ‫ص فل‬ َ َ ‫و‬ َ .‫ن‬ ْ ْ ْ َ َ
ِ ْ ‫عي فدَي‬ ِ ‫وال‬ َ ‫ة‬ ِ ‫عف‬ َ ‫م‬ ُ ‫ج‬ ُ ‫وال‬ َ ‫س‬ ِ ‫مف‬ ْ ‫خ‬ َ ‫ت ال‬ ِ ‫وا‬ َ ‫ص فل‬ ّ ‫ب كال‬ ّ ‫ح‬ َ َ ‫س فت‬ ْ ‫م‬ ُ ‫مففا‬ ّ ِ ‫وإ‬ َ
‫ة‬ ُ ‫فظ‬ َ َ ‫حا‬ َ ‫م‬ ُ ْ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫غي‬ ِ َ ‫ب‬ ْ ‫ن‬ َ ‫ي‬ ‫ة‬ٌ َ ‫ب‬ ِ ‫ت‬ ‫را‬ َ ‫ة‬
ٌ ّ ‫ن‬ ‫س‬
ُ ‫ذا‬ َ ‫ه‬
َ ‫ف‬َ ‫ح‬ ‫وي‬ ‫را‬ ّ ‫ت‬ ‫وال‬ ‫ء‬
ِ ‫قا‬ َ ‫س‬ ْ ْ ِ ‫ت‬ ‫س‬ ‫ل‬ ِ ‫وا‬ ‫ف‬ ِ ‫سو‬ ُ ُ ‫ك‬ ْ ‫ل‬ ‫ا‬
ِ ِ َ َ َ
‫ع‬ َ ‫مْثف‬ َ َ ‫والّثفاِني‬ ْ َ
ِ َ ‫مفا‬ َ ِ ‫جت‬ ْ ‫ل اِل‬ ِ ‫ة‬
َ
ٍ ‫ة َرات َِبف‬ ِ ّ ‫سفن‬ ُ ِ‫س ب‬ َ ‫مفا لْيف‬
َ
َ .‫ة‬ ُ ‫مف‬ َ ‫و‬ َ ‫دا‬ َ ‫م‬ ُ ‫وال‬ َ ‫ها‬ َ ْ ‫علي‬ َ
‫و‬ ْ ‫هأ‬ ِ ‫ر الل ف‬ ّ ِ ‫و ِذك ْف‬ ْ ‫نأ‬ ٍ ‫ق فْرآ‬ ُ ‫ة‬ ِ َ‫قَراء‬ ِ ‫على‬ َ َ ‫و‬ ْ ‫لأ‬ ّ
ِ ْ ‫قَيام ِ اللي‬ ِ ‫ل‬ َ ْ ‫مث‬ ِ ‫ع‬ َ َ
ْ ٍ ‫و‬ ّ ‫ة ت َط‬ ِ ‫صل‬ َ ِ‫ل‬
‫صففلى‬ ّ َ ‫ي‬ ّ ‫ن الن ِّبفف‬ ّ ِ ‫ف فإ‬ َ .‫ة‬ ً َ ‫عادَةً َرات ِب‬ َ ْ ‫خذ‬ َ ّ ‫م ي ُت‬ َ
ْ ‫ذا ل‬ َ ‫هإ‬ ِ ِ‫س ب‬ َ ‫ذا ل ب َأ‬ َ َ ‫ه‬ َ ‫ف‬ َ .‫ء‬ ٍ ‫عا‬ َ ُ‫د‬
َ
‫ه‬ِ ‫عل َي ْف‬ َ ‫م‬ ْ ‫و‬ ِ َ ‫دا‬ َ ‫م ي ُف‬ ْ ‫ول َف‬ َ ‫حَياًنا‬ ْ ‫ةأ‬ ٍ ‫ع‬ َ ‫ما‬ َ ‫ج‬ َ ‫في‬ ِ ‫ع‬ َ ‫و‬ ّ َ‫صّلى الت ّط‬ َ ‫م‬ َ ّ ‫سل‬ َ ‫و‬ َ ‫ه‬ ِ ْ ‫عل َي‬ َ ‫ه‬ ُ ّ ‫الل‬
َ ‫ق فرأ‬ َ َ
َ ْ َ‫ن ي‬ ْ ‫مأ‬ ْ ‫هف‬ ُ ْ ‫من‬ ِ ‫دا‬ ً ‫حف‬ ِ ‫وا‬ َ ‫م فُروا‬ َ ‫عوا أ‬ ُ ‫م‬ َ َ ‫جت‬ ْ ‫ذا ا‬ َ ‫هإ‬ ُ ُ ‫حاب‬ َ ‫ص‬ ْ ‫نأ‬ َ ‫كا‬ َ ‫و‬ َ ‫ما ذُك َِر‬ َ ‫إّل‬
‫ن‬َ ‫عو‬ ُ ‫م‬ ِ َ ‫ست‬ ْ َ ‫قي ي‬ ِ ‫وال َْبا‬ َ
“Ada pun pertengahan malam, telah diriwayatkan keutamaannya dalam hadits-hadits dan atsar, dan
dinukil dari sekelompok ulama salaf, bahwa mereka melakukan shalat pada malam tersebut, maka
shalatnya seseorang sendirian saat itu telah diutamakan oleh kaum salaf, dan baginya hal itu menjadi
hujjah, maka tidaklah diingkari yang seperti ini. Ada pun shalat berjamaah pada waktu tersebut maka hal
ini sudah mencakup kaidah umum dalam hal berkumpul untuk melakukan ketaatan dan ibadah. Shalat
berjamaah ada dua macam, Pertama. Shalat sunah rawatib yang memang disunahkan secara berjamaah,
baik itu shalat wajib atau shalat sunah, seperti shalat lima waktu, shalat Jumat, shalat Id, kusuf, istisqa,
dan tarawih. Semua itu dikerjakan secara berjamaah sebagaimana yang tertera dalam nash, yang hendaknya
dijaga dan dilakukan secara konsisten. Kedua. sunah yang bukan rawatib, berkumpul untuk
melaksanakan tathawwu’ (ibadah sunah), seperti qiyamullail, membaca Al Quran, dzikrullah, atau berdoa.
Itu semua tidak apa-apa dilakukan berjamaah, jika tidak dijadikan kebiasaan. Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam kadang shalat sunah berjamaah tetapi tidak terus menerus, kecuali yang sudah
disebutkan. Para sahabatnya jika berkumpul mereka memerintahkan salah satu di antara mereka untuk
membaca Al Quran, dan yang lain mendengarkan.” (Majmu’ Fatawa, Juz. 5, Hal. 295)

Demikianlah, Qiyamullail berjamaah adalah masyru’ ditegaskan oleh hadits shahih, dan terangkan
para ulama, selama tidak dilakukan menjadi kebiasaan, melainkan sesekali saja. Memang inilah yang
terjadi, tak ada aktifis Islam yang mabit setiap hari di masjid, atau selalu qiyamullail berjamaah. Tidak ada
yang demikian. Mereka melakukannya hanya kadang-kadang saja, baik mabit, atau qiyamullail berjamaah.
Maka, tidak yang perlu dimasalahkan dari mabit-mabit yang ada saat ini.

Dalil-Dalil Khusus Tentang Mabit (Bermalam) baik di Masjid dan di Rumah Untuk Beribadah

1. Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mabit di rumah Rasulullah dan shalat malam berjamaah

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata:

‫ه‬ ُ ‫صفّلى الّلف‬ َ ‫ي‬ ّ ‫ج الن ِّبف‬ ِ ‫و‬ ْ ‫ث َز‬ ِ ‫ر‬ ِ ‫حفا‬ َ ْ ‫ت ال‬ ِ ‫ة ب ِْنف‬ َ ‫موَنف‬ ُ ْ ‫مي‬ َ ‫خفال َِتي‬ َ ‫ت‬ ِ ْ ‫في ب َي‬ ِ ‫ت‬ ّ ِ‫ب‬
‫هففا‬ َ َ
َ ِ ‫فففي لي ْلت‬ ِ ‫ها‬ َ َ‫عن ْفد‬ ِ ‫م‬ ّ
َ ‫سفل‬ َ ‫و‬ َ ‫ه‬ َ
ِ ْ ‫علي‬ َ ‫ه‬ ّ
ُ ‫صلى الل‬ ّ َ ‫ي‬ ّ ِ ‫ن الن ّب‬ َ ‫كا‬ َ ‫و‬َ ‫م‬ َ ‫سل‬ ّ َ ‫و‬ َ ‫ه‬ ِ ْ ‫عل َي‬َ
‫ه‬
ِ ‫زِلف‬ ِ ْ ‫من‬َ ‫جفاءَ إ َِلفى‬ َ ‫م‬ ّ ‫شففاءَ ُثف‬ َ ‫ع‬ ِ ْ ‫م ال‬ َ ّ ‫سفل‬ َ ‫و‬ َ ‫ه‬ِ ‫عل َي ْف‬ َ ‫ه‬ ُ ّ ‫صّلى الل‬ َ ‫ي‬ ّ ِ ‫صّلى َالن ّب‬ َ ‫ف‬ َ
َ
‫ة‬ً ‫مف‬ َ ِ ‫و ك َل‬ ْ ‫مأ‬ ُ ‫غل َي ّف‬ُ ْ ‫م ال‬َ ‫ل ن َففا‬ َ ‫قففا‬ َ ‫م‬ ّ ‫م ث ُف‬ َ ‫قففا‬ َ ‫م‬ ّ ُ‫م ث‬ َ ‫م َنا‬ ّ ُ‫ت ث‬ ٍ ‫عا‬ َ َ ‫ع َرك‬ َ َ ‫صّلى أْرب‬ َ ‫ف‬ َ
‫صفّلى‬ َ ‫ف‬ َ ‫ه‬ ِ ‫مين ِف‬ِ َ‫ن ي‬ ْ ‫عف‬ َ ‫عل َن ِففي‬ َ ‫ج‬ َ ‫ف‬ َ ‫ه‬ ِ ‫ر‬ِ ‫سففا‬ َ َ‫ن ي‬ ْ ‫عف‬ َ ‫ت‬ ُ ‫مف‬ ُ ‫ف‬
ْ ‫ق‬ َ ‫م‬ َ ‫قففا‬ َ ‫م‬ ّ ُ ‫ها ث‬ َ ‫ه‬ُ ِ ‫شب‬ ْ ُ‫ت‬
َ
‫و‬ ْ ‫هأ‬ ُ ‫طيطَف‬ ِ ‫غ‬ َ ‫ت‬ ُ ‫ع‬ ْ ‫م‬ ِ ‫سف‬ َ ‫حت ّففى‬ َ ‫م‬ َ ‫م ن َففا‬ ّ ‫ن ث ُف‬ ِ ْ ‫عت َي‬ َ ْ ‫صّلى َرك‬ َ ‫م‬ ّ ُ‫ت ث‬ ٍ ‫عا‬ َ َ ‫س َرك‬ َ ‫م‬ ْ ‫خ‬ َ
‫ة‬
ِ ‫صل‬ َ ّ ‫ج إ ِلى ال‬ َ َ ‫خَر‬ َ ‫م‬ ّ ‫هث‬ ُ َ
ُ ‫طيط‬ ِ ‫خ‬ َ
“(Bittu) Aku mabit di rumah bibiku Maimunah binti Al Harits, isteri Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam, pada malam itu nabi berada di sampingnya, lalu beliau shalat isya, kemudian pulang ke
rumahnya, lalu shalat empat rakaat, kemudian tidur, kemudian bangun, kemudian dia bersabda: “Bocah
kecil (Al Ghulayyim)[4] ini sudah tidur.” Atau kata-kata yang serupa dengan itu. Lalu dia mendirikan
shalat, dan aku berdiri di samping kirinya, maka dia memindahkanku ke kanannya, lalu shalat lima rakaat,
kemudian dua rakaat, kemudian beliau tidur, sampai aku mendengar suara dengkurannya, kemudian keluar
untuk shalat (subuh).” (HR. Bukhari, Bab As Samari fil ‘Ilmi, No. 117)

2. Ashhabush Shuffah yang tinggal di masjid nabi juga banyak, hingga tujuh puluh

Para sahabat nabi yang tinggal dipelataran masjid, pastilah mereka bukan hanya tidur dan makan,
pastilah mereka juga melaksanakan ibadah di dalamnya, baik siang mau pun malam. Mereka pun tidak
sendiri tetapi banyak, mereka pun tidaklah bermalam sehari atau dua hari tetapi bertempat tinggal di
masjid.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

‫ة‬ ّ ‫ص‬ َ َ َ َ‫ل‬


ِ ‫ف‬ ّ ‫ب ال‬
ِ ‫حا‬
َ ‫ص‬
ْ ‫نأ‬ْ ‫م‬
ِ ‫ن‬
َ ‫عي‬
ِ ْ ‫سب‬
َ ‫ت‬
ُ ْ ‫قدْ َرأي‬
“Aku telah melihat tujuh puluh dari ashhabush shuffah. (HR. Bukhari, Bab Naum Ar Rijal fi
Masjid, No. 431)

Dari Nafi’, dia berkata:

ُ َ‫ل ل‬
‫ه‬ ْ َ ‫ب َل أ‬
َ ‫ه‬ ْ َ‫ب أ‬
ُ ‫عَز‬ َ ‫و‬
ّ ‫شا‬ َ ‫ه‬
ُ ‫و‬
َ ‫م‬ ُ ‫ن ي ََنا‬َ ‫كا‬ َ ‫ه‬ َ
ُ ّ ‫مَر أن‬َ ‫ع‬
ُ ‫ن‬ ُ ْ‫ب‬ ِ ّ ‫عب ْدُ الل‬
‫ه‬ ْ َ‫أ‬
َ ‫خب ََرِني‬
‫م‬ ّ
َ ‫سل‬ َ ‫و‬ َ ‫ه‬ َ
ِ ْ ‫علي‬َ ‫ه‬ ّ
ُ ‫صلى الل‬ّ َ ‫ي‬ّ ِ ‫د الن ّب‬ِ ‫ج‬
ِ ‫س‬
ْ ‫م‬
َ ‫في‬ ِ
“Telah Mengabarkan kepadaku Abdullah bin Umar, bahwa beliau dahulu ketika masih muda,
bujang, dan belum berkeluarga, tidurnya di masjid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (HR. Bukhari Bab
Naum Ar Rijal fi Masjid, No. 429)

Bahkan kaum wanita dibolehkan mabit, dan Imam Bukhari telah membuat Bab Naumil Mar’ati fil
Masjid (Tidurnya Kaum Wanita di Masjid). Namun, itu jika aman dari fitnah, berpakaian syar’i, dan dapat
izin dari wali atau suaminya bagi yang sudah nikah.

Dari Al Harits bin Abdirrahman bin Abi Dzubab, dia berkata:

‫ » كيففف‬: ‫ فقففال‬، ‫سألت سليمان بن يسار عن النوم في المسجد‬


‫تسألون عن هذا وقد كان أصففحاب الصفففة ينففامون فيففه ويصففلون‬
« ‫فيه ؟‬

“Aku bertanya kepada Sulaiman bin Yasar tentang tidur di masjid, maka dia menjawab:
“Bagaimana kalian bertanya tentang hal ini, padahal Ashhabush Shuffah tidur di masjid dan mereka shalat
di dalamnya?” (Al Fakihi, Akhbar Makkah, No. 1199)

3. Beribadah di Malam hari adalah Kebiasaan Orang Shalih

Hal ini telah ma’ruf, baik mereka lakukan di masjid atau di rumah mereka. Maka, adalah hal yang
sangat aneh, bahkan cenderung ngawur, orang yang mengatakan beribadah malam hari di masjid adalah
menyerupai orang kafir. Bahkan justru itu merupakan waktu yang paling utama.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah tentang waktu yang paling utama untuk shalat malam:

‫الفضل تأخيرها إلى الثلث الخير‬


“Waktu paling utama untuk tahajud adalah mengakhirkannya pada sepertiga malam terakhir.”
(Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 203. Darul Kutub Al ‘Arabi)

Inilah waktu yang paling utama, bukan waktu yang membuatnya tasyabbuh bil kuffar!

Dasarnya adalah, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam bersabda:

‫قفى‬ َ ْ ‫ن ي َب‬
َ ‫حيف‬ِ ‫ء الفدّن َْيا‬
ِ ‫ما‬
َ ‫سف‬ ّ ‫ة إ َِلفى ال‬ٍ ‫ل ل َي ْل َف‬ّ ُ ‫عاَلى ك‬َ َ ‫وت‬
َ ‫ك‬ َ ‫ل َرب َّنا ت ََباَر‬ ُ ‫ز‬ ِ ْ ‫ي َن‬
ُ َ
‫س فألِني‬ َ َ َ ُ
ُ ‫خُر ي َقففو‬ ْ ّ ُ ُ ‫ث ُل‬
ْ َ‫ن ي‬
ْ ‫مف‬َ ‫ه‬ُ ‫ب لف‬ َ ‫جي‬ِ َ ‫س فت‬
ْ ‫عوِني فأ‬ ُ ْ‫ن ي َفد‬ ْ ‫مف‬ َ ‫ل‬ ِ ‫ل ال‬ ِ ْ ‫ث اللي‬
َ ْ ُ ‫فأ‬
ُ َ ‫فَر ل‬
‫ه‬ ِ ‫غ‬ْ ‫فأ‬ َ ‫فُرِني‬ ِ ‫غ‬ ْ َ ‫ست‬ْ َ‫ن ي‬ ْ ‫م‬
َ ‫ه‬ ُ َ ‫عطِي‬ َ

“Tuhan kita Allah ‘Azza wa Jalla tiap malam turun ke langit dunia[5] pada sepertiga malam
terakhir. Pada saat itu Allah berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepadaKu pasti Kukabulkan, barangsiapa yang
memohon kepadaKu pasti Kuberi, dan barangsiapa yang memohon ampunanKu akan Aku ampuni.” (HR.
Bukhari, Bab Ad Du’a wash Shalah min Akhir Al Lail, No. 1094. Muslim, Bab At Targhib fid Du’a
wadz Dzikri fi Akhir Al Lail wal Ijabah fihi, No. 758)

Selain itu adalah, dari Amr bin ‘Absah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam bersabda:

‫ن‬ َ ‫ر‬
ْ ِ ‫ف فإ‬ ِ ‫ل اْل‬
ِ ‫خف‬ ِ ‫ف الل ّي ْف‬ِ ‫و‬
ْ ‫جف‬َ ‫فففي‬ ِ ‫د‬ِ ‫عب ْف‬َ ْ ‫ن ال‬
ْ ‫مف‬ ِ ‫ب‬ ُ ‫مففا ي َك ُففو‬
ّ ‫ن ال فّر‬ َ ‫ب‬ ْ َ‫أ‬
ُ ‫ق فَر‬
َ ْ ‫في ت ِل‬ َ
ْ ُ ‫فك‬
‫ن‬ َ ‫ة‬ ِ ‫ع‬ َ ‫سا‬
ّ ‫ك ال‬ ِ ‫ه‬ َ ّ ‫ن ي َذْك ُُر الل‬
ْ ‫م‬ّ ‫م‬
ِ ‫ن‬َ ‫كو‬ُ َ‫ن ت‬ْ ‫تأ‬ َ ‫ع‬ْ َ‫ست َط‬
ْ ‫ا‬
“Sedekat-dekat hamba kepada Allah adalah pada tengah malam terakhir. Maka jika engkau dapat
termasuk golongan yang berdzikir kepada Allah saat itu, usahakanlah!” (HR. At Tirmidzi, No. Bab Ad
Du’a fi Adh Dhayf, No. 3650, katanya: hasan shahih gharib. Al Hakim berkata: Shahih Sesuai syarat
Muslim. Al Mustadrak, No. 1162. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Misykah Al Mashabih, No.
1229)

Apa yang dilakukan seorang hamba kepada Allah Ta’ala saat itu? Berkata Syaikh Abdurrahman
Al Mubarakfuri Rahimahullah (w.1353H):

َ
‫فًرا‬
ِ ‫غ‬
ْ َ ‫ست‬
ْ ‫م‬
ُ ‫عًيا‬
ِ ‫دا‬ ِ ْ ‫ف الل ّي‬
َ ‫ل‬ ِ ‫و‬
ْ ‫ج‬
َ ‫في‬
ِ ‫ما‬ َ ‫ي‬
ً ِ ‫قائ‬ ْ ‫أ‬
“Yaitu shalat pada sepertiga malam, berdoa, dan memohon ampun.” (Tuhfah Al Ahwadzi, Juz. 10,
Hal. 39. Maktabah As Salafiyah)

Sebenarnya masih banyak hadits-hadits yang menyebutkan bahwa waktu tengah malam, dan
sepertiga malam terakhir adalah waktu paling utama untuk beribadah, doa, dan istighfar. Namun, beberapa
hadits ini sekiranya telah mencukupi. Maka, sudah jelas bahwa tudingan yang menyebut bahwa mabit di
masjid dan menghidupkannya dengan ibadah adalah tasyabbuh bil kuffar dan bid’ah, tidak memiliki
landasan yang kuat dalam syariat dan akal sehat.

Maka, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

َ ‫غيف‬ َ َ ‫فل‬
‫ن‬
ْ ‫رأ‬ِ ْ َ ‫ن‬
ْ ‫مف‬
ِ ‫ع‬ ّ ‫ة ت َطَف‬
ٍ ‫و‬ ِ ‫صَل‬َ ‫عَلى‬ َ ‫ض الل َّياِلي‬ َ ‫ع‬ْ َ ‫عوا ب‬ ُ ‫م‬َ َ ‫جت‬
ْ ‫ما ا‬
َ ‫قو‬ ُ ‫ن‬ ّ ‫وأ‬ ْ َ
ْ ‫م ي ُك َْر‬
‫ه‬ ْ َ‫ة ل‬
َ َ ‫ة الّرات ِب‬
َ ّ ‫سن‬
ّ ‫ه ال‬ ْ ُ‫ة ت‬
ُ ِ ‫شب‬ ً َ ‫عادَةً َرات ِب‬ َ ‫ك‬ َ ِ ‫ذوا ذَل‬ُ ‫خ‬ِ ّ ‫ي َت‬
“Maka, seandainya sebuah kaum berkumpul pada sebagian malam untuk melaksanakan shalat
sunah, dengan tanpa menjadikannya sebagai kebiasaan yang menyerupai sunah rawatib, maka tidaklah
dibenci.” (Majmu’ Fatawa, Juz. 5, Hal. 295)

Ya, dan sudah dikatakan sebelumnya, hal ini pada kenyataannya memang tidak menjadi kebiasaan.
Bahkan belum tentu dalam setengah tahun sekali dilaksanakan, dan istilah ‘sering’ pun sangat relatif bagi
masing-masing orang.

Contoh Mabit dan Muhasabah Para Salafush Shalih

Pembahasan sebelumnya sudah sedikit dipaparkan bahwa ‘Auf bin Malik, Hudzaifah bin Al
Yaman, Ibnu Abbas, pernah bermalam bersama Rasulullah dan mereka melakukan Qiyamullail berjamaah.
Juga, tentang Ashhabush Shuffah yang mereka tidur di masjid Nabi serta shalat di sana. Berikut ini, akan
kami tambahkan riwayat yang menceritakan para salafus shalih saling berkunjung, bermalam, bahkan
kadang menangis bersama (layaknya orang muhasabah), ketika mengingat ayat tentang azab, dosa mereka,
kematian, dan kiamat. Di sini akan dipaparkan beberapa saja.
1. ‘Utbah Al Ghulam Rahimahullah

Berkata Muslimah bin Arfajah Al ‘Anbari, Aku mendengar ‘Anbasah Al Khawash berkata:
“Dahulu ‘Utbah Al Ghulam mengunjungiku dan dia mabit (bermalam) dirumahku.” Dia berkata: “Pada
malam itu beliau menangis sangat pilu, saat waktu sahur.[6] Maka ketika paga hari, aku bertanya: “Hatiku
gundah semalaman karena tangisanmu, ada apa gerangan wahai saudaraku?”

‘Utbah menjawab: “Aku menangis karena mengingat hari perhitungan.” Kemudian tubuhnya
lunglai terjatuh, langsung aku memegangnya dan aku melihat matanya mengerjap-kerjap dan memerah,
lalu aku memangilnya: ‘Utbah .. ‘Utbah! Dia menjawabku dengan suara lirih: “Ingatanku terhadap hari
kiamat membuat hubunganku terputus dengan orang-orang yang kucintai .. . ucapannya ini terus diulang-
ulang, lalu tangisnya semaki menjadi-jadi dan tubuhnya lemas. Lalu ‘Utbah berkata:

‫تراك مولي تعذب محبيك وأنت الحي الكريم؟‬


“Oh Tuhanku akankah Engkau siksa hamba yang mencintaiMu, bukankah Engkau Yang maha
Hidup dan Maha Mulia?”

Kata-kata ini terus diulangnya, hingga –demi Allah- aku (‘Anbasah) pun ikut menangis. (Imam
Ibnul Jauzi, Shifatush Shafwah, Juz. 1, Hal. 395)

2. Muhammad bin Al Munkadir Rahimahullah

Dikisahkan tentang Muhammad bin Al Munkadir, bahwa ketika shalat malam, beliau menangis
tersedu-sedu hingga membuat gundah keluarganya. Keluarganya berusaha mencari tahu apa penyebabnya
dia menangis, namun hasilnya nihil, bahkan tangisannya semakin menjadi-jadi. Maka mereka memutuskan
untuk mengirim kepadanya, sahabatnya yakni Abu Hazim. Maka Abu Hazim datang kepadanya, maka
ketika dia menangis Abu Hazim bertanya: “Wahai saudaraku, apa yang membuatmu menangis hingga
keluargamu gundah?” Muhammad bin Al Munkadir menjawab hatiku selalu terlintas sebuah ayat Allah
‘Azza wa Jalla:

‫وبدا لهم من الله ما لم يكونوا يحتسبون‬


”... dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS. Az
Zumar (39): 47)

Abu Hazim pun ikut menangis, bahkan mereka berdua menangis dengan suara keras. Lalu keluarga
Muhammad bin Al Munkadir berkata:

‫جئنا بك لتفّرج عنه فزدته‬


“Kami mendatangkan engkau agar kau bisa hilangkan kesedihannya, justru kau menambahnya.”
(Imam Adz Dzahabi, Siyar A’lam An Nubala, Juz. 5, Hal. 355. Mu’asasah Ar Risalah. Imam Ibnul
Jauzi, Shifwatus Shafwah, Juz. 1, Hal. 207)

3. Umar bin Abdil Aziz Radhiallahu ‘Anhu dan Keluarga Menangis Bersama

Imam Abu Nu’aim menceritakan, dari Abdussalam, pelayan Musallamah bin Abdil Malik demikian:
‫ ل يففدري‬،‫بكى عمر بن عبد العزيز فبكت فاطمة فبكى أهففل الففدار‬
:‫ فلما تجلففى عنهففم العففبر قففالت لففه فاطمففة‬،‫هؤلء ما أبكى هؤلء‬
‫ ذكففرت يفا فاطمفة‬:‫بأبي أنت يففا أميففر المففؤمنين مفم بكيففت؟ قففال‬
‫ فريق في الجنة وفريق‬،‫منصرف القوم من بين يدي الله عز وجل‬
‫في السعير‬
Umar bin Abdul Aziz menangis, maka Fathimah (isterinya) pun ikut menangis, dan penghuni rumah
juga ikut menangis, dan mereka tidak tahu apa yang membuat mereka menangis. Setelah tangisan mereka
reda, maka Fathimah bertanya kepada Umar: “Demi ayahmu wahai Amirul mu’minin, karena apa kau
menangis?” Dia menjawab: “Wahai Fathimah, aku teringat pada persimpangan sebuah kaum nanti di
hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, segolongan masuk ke surga, dan segolongan masuk ke neraka.” (Imam Abu
Nu’aim Al Ashbahani, Hilyatul Auliya’, Juz. 2, Hal. 387)

Demikianlah. Sebenarnya masih banyak contoh lain dari para sahabat, seperti kisah Umar dan Abu
Darda yang menangis bersama hingga fajar, tangisannya Abdurrahman bin ‘Auf, dan lain-lain. Namun,
kami kira contoh-contoh ini cukup mewakili untuk menjawab tudingan yang mengatakan tidak pernah ada
mabit (bermalam) dilakukan oleh para salaf.

Standar Ganda dan Peringatan

Para penuding sering terjebak pada sikap standar ganda. Mereka melarang orang lain dalam suatu
perbuatan padahal mereka sendiri juga melakukannya. Termasuk dalam hal mabit ini. Pada beberapa
kesempatan daurah atau kajian (ta’lim) di beberapa daerah pun, mereka ternyata juga melakukan mabit,
tentunya bangun tengah malam untuk tahajjud. Maka, apa bedanya dengan yang lain? Lalu, kenapa ini tidak
disebut sebagai tasyabbuh bil kuffar?

Ada pun para mabiters, ada beberapa rambu (dhawabith syar’iyah) yang harus diperjatikan:

1. Jadikan mabit sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, dan dalam rangka
memakmurkan masjid.

2. Tidak mengkaitkan momen atau peristiwa tertentu untuk melaksanakan mabit sehingga menjadi satu
paket kegiatan yang baku, demi terhindar pada perilaku mengada-ngada (bid’ah). Misal: mabit yang
selalu dikaitkan dengan malam tahun baru, jelas ini merupakan perbuatan bid’ah yang tercela.

3. Tidak menjadikan mabit sebagai kebiasaan, agar terhindar sikap berlebihan, dan menganggapnya acara
wajib. Sebagaimana nabi pernah meninggalkan shalat tarawih berjamaah demi menghindar anggapan
bahwa hal itu wajib.
4. Mabit boleh dilakukan pada waktu-waktu mutlak, tak terikat oleh peristiwa tertentu saja, ada pun jika
bertepatan momen tertentu hendaknya dilakukan karena sifatnya dharuri (adanya kebutuhan), dan
hanya sesekali saja.

5. Untuk akhwat hendaknya memperhatikan kepentingan dan kebutuhannya, apakah benar mabit
dibutuhkan bagi dia. Jika masih ingin melakukannya, maka mesti izin dengan walinya, tempatnya
kondusif, dan hendaknya bersama-sama muslimah lainnya yang bisa dipercaya. Namun, jika ada
alternatif acara lain yang tidak sampai nginap, seperti jalsah ruhiyah maka itu lebih layak diikuti.

Tambahan: Apakah perbuatan Yang Nabi Tinggalkan dan Para sahabat Tidak laksanakan
Langsung bermakna pelarangan dan Haram?

Demikianlah cara pandang sebagian kalangan memberikan penilaian terhadap sebagian amal
perbuatan umat Islam. Mereka secara instan memberikan label haram dan bid’ah hanya karena ‘Nabi
meninggalkannya’ dan ‘Para sahabat tidak melaksanakannya’, dan Lau kaana khairan lasabaquuna ilaih
(seandainya itu baik, maka niscaya mereka akan lebih dahulu melaksanakannya). Sebenarnya, tak ada
salahnya dengan alasan-alasan ini, hanya saja jika diterapkan secara pukul rata, maka jelas merupakan
ekstrimitas dan kurang memahami bagaimana para ulama umat dalam menyimpulkan sebuah hukum.

Ada sebuah puisi Syaikh Al ‘Allamah Sayyid Abdullah bin Shiddiq Al Ghummari dalam risalah
berjudul Husnu Tafahhum wad Daraki Li Mas’ali Taraki. Puisi ini adalah sindiran untuk kaum yang
menjadikan ‘hal yang ditinggalkan’ oleh Nabi adalah terlarang.

Meninggalkan suatu amalan bukanlah hujjah dalam syariat kita

Dan ia tidak bermakna pelarangan atau kewajiban

Siapa yang melarang perbuatan dengan alasan Nabi meninggalkannya

Lalu berpendapat itulah hukum yang benar dan tepat

Sungguh Dia telah menyimpang dari semua dalil-dalil

Bahkan Keliru dalam memutuskan hukum yang shahih, dan dia telah gagal

Tidak ada pelarangan kecuali pelarangan yang diiringi Dengan ancaman dan siksa bagi pelanggarnya

Atau kecaman terhadap suatu perbuatan, dan disertai bentuk sanksi yang pasti

Atau lafaz mengharamkan untuk perkara tercela

Para ulama kaum muslimin, Timur dan Barat, masa lalu atau sekarang telah sepakat bahwa ‘hal
ditinggalkan’ itu bukanlah kaidah atau konsep untuk menyimpulkan hukum. Metode yang digunakan para
sahabat untuk menetapkan suatu hukum menjadi wajib, sunah, mubah, makruh, atau haram adalah
mengikuti metode istimbath dari dalil berdasarkan pada:
1. Adanya nash dari Al Quran

2. Adanya nash dari As Sunnah

3. Ijma’ atas suatu hukum

4. Qiyas (Analogi)

Inilah yang disepakati, kecuali kaum zhahiriyah yang menolak qiyas. Namun, para ulama berbeda
pendapat dalam pemakaian kaidah untuk menetapkan hukum syariat, antara lain:

1. Fatwa sahabat

2. Perbuatan penduduk Madinah

3. Syar’u man Qablana (syariat kaum sebelum kita)

4. Istihsan

5. mashalih mursalah

6. Sadd Adz Dzara’i

7. ‘Urf (tradisi)

8. Istishhab, dan kaidah lain yang masyhur dalam dialektika fuqaha ketika menyimpulkan
sebuah ketetapan hukum. Tak satu pun mereka menempatkan ‘hal yang dtinggalkan’ sebagai
kaidah atau konsep dalam.

Dengan demikian, ‘hal yang ditinggalkan’ secara tersendiri tidaklah menunjukkan suatu hukum
syariat. Inilah kesepakatan ulama Islam.

Banyak bukti dan pendukung dan atsar para sahabat Radhiallahu ‘Anhum, bahwa ketika
Rasulullah meninggalkan sesuatu mereka tidak memahaminya sebagai suatu perbuatan yang haram atau
dimakruhkan. Demikianlah yang dipahami para fuqaha dari masa ke masa. Namun, bukan di sini tempatnya
kami memaparkan bukti, pendukung, dan atsar sahabat tersebut. Namun, mudah-mudahan ini sudah bisa
memadai.

Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam


[1] Atsar ini diriwayatkan oleh Shafwan bin ‘Isa, berkata kepadaku Al Harits bin Abdirrahman bin
Abi Dzubab, lalu disebutkan ucapan di atas. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, Shafwan bin ‘Isa Az Zuhri,
nama panggilannya adalah Abu Muhammad Al Bashri Al Qassam, seorang yang tsiqah (bisa dipercaya).
(Taqribut Tahdzib, Juz. 1, Hal. 439). Al Hafizh juga mengatakan, bahwa Ibnu Sa’ad mengatakan: dia
seorang tsiqah dan shalih. Ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab Ats Tsiqatnya. (Tahdzibut Tahdzib,
Juz. 4, Hal. 377) dalam Mizanul I’tidal, dia disebut: Shalihul Hadits (haditsnya baik). (Imam Adz
Dzahabi, Mizanul I’tidal, No. 1856). Sementara Al Harits bin Abdirrahman bin Abi Azubab, oleh Imam
Ibnu Hibban dimasukkan dalam kitab Ats Tsiqatnya. (Ats Tsiqat, Juz. 6, Hal. 172) Al Hafizh Ibnu Hajar
mengatakan Shaduq (jujur). (Taqribut Tahdzib, No. 1033) Yahya bin Ma’in mengatakan dia seorang
yang terkenal. Abdurrahman berkata, aku bertanya bapakku, Abu Hatim, katanya: haditsnya munkar, tidak
kuat, dan hanya untuk dicatat saja. Abu Zur’ah berkata: orang Madinah, dan tidak apa-apa.(Abu Hatim
Ar Razi, Jarh wa Ta’dil, Juz. 3, Hal. 80, No. 365). Demikian keadaan perawi dari atsar ini.

[2] Berkata Syaikh Al Albani: Dhaif jiddan (lemah sekali).(As Silsilah Ad Dhaifah, Juz. 5, Hal. 130. No. 2131).
Sementara Imam Al Haitsami mengatakan: hadits ini diriwayatkan oleh Ath Thabarani dalam Al Kabir, dari Abdurrahman bin
Tsauban, dari ayahnya, dan aku belum temukan biografi ayahnya. (Majma’ Az Zawaid, Juz. 2 Hal. 25) Namun, Imam Al ‘Ajluni
justru menjadikan hadits ini sebagai penguat dari hadits,” Jauhilah anak-anak kalian dari masjid-masjid kalian ... (Kasyful Khafa’,
Juz. 1, Hal. 334-335). Sementara Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan dalam Nataij Al Afkar: “Ibnu Mandah berkata dalam Ma’rifatush
Shahabah, bahwa hadits ini gharib, Muhammad bin Humaid telah menyendiri dengannya. Aku (Ibnu Hajar) berkata: Muhammad bin
Humaid adalah tsiqah dan dan termasuk rijal-nya Bukhari, hanya saja dia menyendiri dalam mewashalkan (menyambungkan) hadits
ini. Abu Al Khutsaimah Al Ju’fi juga telah meriwayatkan dari ‘Ibad bin Katsir, tetapi tidak mengatakan dari kakeknya, dan kerusakan
di dalamnya adalah Ad Darawardi. Dan Ad Darawardi ini tsiqah dan sanadnya ma’ruf (dikenal). Tsauban yang disebutkan di sini
bukanlah Tsauban yang masyhur sebagai pelayan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ini adalah Tsauban lain, dan dia tidak
dikenal kecuali pada sanad ini dan tidaklah meriwayatkan dari Abdurrahman bin Tsauban kecuali anaknya, Muhammad, dan dia pun
termasuk sejumlah golongan rawi majhul. (Raudhatul Muhadditsin, Juz. 11, Hal. 78, No. 5078) Tetapi hadits ini memiliki penguat,
yang diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang jual beli di masjid, melantunkan sya’ir, dan mengumumkan barang
hilang.” Hadits ini hasan. (Ibid, Juz. 11, Hal. 79)

[3] Ibnu Luhai’ah ini disikapi oleh para imam kaum muslimin menjadi tiga sikap. Pertama,
mendhaifkan secara mutlak hadits-haditsnya. Kedua, menghasankan haditsnya seperti yang dilakukan
Syaikh Ahmad Syakir. Ketiga, melakukan perincian, yakni dengan memperhatikan apakah hadits yang
diriwayatkan itu diriwayatkan ketika kitab-kitabnya masih ada atau sudah terbakar. Telah diketahui,
bahwa beliau dahulunya seorang yang dhabith kutub (diakui kualitasnya lantaran buku-bukunya) namun
ketika buku-bukunya terbakar, beliau mengalami kekacauan hafalan. Sehingga para ulama memberikan
batasan, jika hadits yang diriwayatkan darinya adalah ketika dahulu sebelum buku-bukunya terbakar
maka riwayat darinya maqbul (bisa diterima). Namun, jika hadits darinya adalah ketika buku-bukunya
sudah terbakar maka mardud (ditolak). Namun, para ulama mengkhususkan tiga orang bernama Abdullah
yang meriwayatkan langsung darinya ketika buku-bukunya masih ada dan dia masih dhabith. Jika tiga
Abdullah ini meriwayatkan hadits dari Ibnu Luhai’ah, maka hadits riwayatnya bisa diterima, karena
merekalah yang meriwayatkan dari Ibnu Luhai’ah ketika dahulu beliau masih bagus. Sikap yang ketiga
inilah yang benar. Wallahu A’lam. pen.

[4] Al Ghulayyim adalah panggilan kesayangan buat anak kecil, dan yang dimaksud adalah Ibnu
Abbas. (Fathul Bari, Juz. 1, Hal. 212. Darul Fikr)

[5] Al Khalal berkata: telah mengabarkanku Ali bin ‘Isa bahwa Hambal berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada
Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hambal) tentang hadits yang meriwayatkan bahwa ‘Allah Ta’ala turun ke langit dunia’, ‘Allah
melihat’, ‘Allah meletakkan kakiNya’ , dan hadits-hadits semisalnya?

Imam Ahmad bin Hambal Radhiallahu ‘Anhu menjawab:

‫ ونعلففم أن مففا جففاء بففه رسففول اللففه‬،‫ ول ن َُردّ منها شيئًا‬،‫نؤمن بها ونصدق بها‬
،‫ ول نففرد علففى اللففه قففوله‬،‫صلى الله عليه وسلم حق إذا كانت أسانيد صحاح‬
‫و‬
َ ‫ه‬
ُ ‫و‬
َ ٌ‫ه شيء‬ َ ْ ‫ول يوصف بأكثر مما وصف به نفسه بل حد ول غاية " ل َي‬
ِ َ‫س ك‬
ِ ِ ‫مث ْل‬
‫ميع الَبصيُر‬
ِ ‫س‬
ّ ‫ال‬
“Kami mengimaninya dan membenarkannya, kami tidak membantahnya sama sekali, dan kami mengetahui bahwa apa-apa
yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah benar, jika sanadnya shahih, dan kami tidaklah membantah
firmanNya, dan kami tidaklah mensifatiNya lebih banyak dari Dia sifatkan terhadap diriNya, dengan tanpa batas, dan tanpa ujung.
“Tidak ada yang serupa denganNya, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (Imam Ibnul Qayyim, Ijtima’ Al Juyusy Al
Islamiyah, Hal. 61. Syaikh Dr. Abdullah ‘Azzam, Aqidah wa Atsaruha fi Bina’ Al Jiil, Hal. 57)

[6] Maksud Sahur di sini bukanlah makan sahur tetapi nama waktu yakni akhir malam sebelum terbit
fajar