Anda di halaman 1dari 19

5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.
1.

Makna Hidup

Pengertian Makna Hidup


Makna hidup merupakan sesuatu yang dianggap penting dan berharga,

serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Makna hidup bila berhasil
ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan kehidupan ini dirasakan demikian
berarti dan berharga. ( Bastaman, 1996)
Pengertian mengenai makna hidup menunjukan bahwa didalamnya
terkandung juga tujuan hidup, yakni hal-hal yang perlu dicapai dan dipenuhi.
Makna hidup ini benar-benar terdapat dalam kehidupan itu sendiri, walaupun
dalam kenyataannya tidak mudah ditemukan, karena sering tersirat dan
tersembunyi di dalamnya. Bila makna hidup ini berhasil ditemukan dan dipenuhi
akan menyebabkan kehidupan dirasakan bermakana dan berharga yang pada
giliranya akan menimbulkan perasaan bahagia. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa kebahagiaan adalah ganjaran atau akibat samping dari keberhasilan
seseorang memenuhi makna hidup.
Menurut pandangan Frankl ( 1970 ) makna hidup harus dilihat sebagai
suatu yang sangat objektif karena berkaitan dengan hubungan individu dengan
pengalamannya dalam dunia ini, meskipun makna hidup itu sendiri sebenarnya
suatu yang objektif, artinya benar-benar ada dan dialami dalam kehidupan.
Frankl ( 1985 ) menyebutkan bahwa makna hidup sebagai sesuatu hal
yang bersifat personal, dan bisa berubah seiring berjalanya waktu maupun
perubahan situasi dalam kehidupannya. Individu seolah-olah ditanya apa makna
hidupnya

pada

setiap

waktu

maupun

situasi

dan

kemudian

harus

mempertanggungjawabkan.
Menurut Yalom ( dalam Bastaman, 1996 ) pengertian makna hidup sama
artinya dengan tujuan hidup yaitu segala sesuatu yang ingin dicapai dan dipenuhi.

Berdasarkan uraian dia atas maka dapat disimpulkan bahwa makna hidup
adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai
khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan hidup.
2.

Landasan Logoterapi
Menurut Frankl (2004) logoterapi berasal dari kata logos berasal dari

bahasa Yunani yang berarti makna. Logoterapi percaya bahwa perjuangan untuk
menemukan makna hidup dalam hidup seseorang merupakan motivator utama
orang tersebut. Logoterapi berusaha membuat pasien menyadari secara
tanggungjawab dirinya dan memberinya kesempatan untuk memilih, untuk apa,
atau kepada siapa dia merasa bertanggungjawab. Logoterapi tidak menggurui
atau berkotbah melainkan pasien sendiri yang harus memutuskan apakah tugas
hidupnya bertanggung jawab terhadap masyarakat, atau terhadap hati nuraninya
sendiri.
Menurut Frankl (dalam Trimardhany, 2003) logoterapi memiliki wawasan
mengenai manusia yang berlandaskan tiga pilar filosofis yang satu dengan lainya
erat hubunganya dan saling menunjang yaitu:
a.

Kebebasan berkehendak ( Freedom of Will )


Dalam pandangan Logoterapi manusia adalah mahluk yang istimewa

karena mempunyai kebebasan. Kebebasan disini bukanlah kebebasan yang


mutlak, tetapi kebebasan yang bertanggungjawab. Kebebasan manusia bukanlah
kebebasan dari (freedom from) kondisi-kondisi biologis, psikologis dan
sosiokultural tetapi lebih kepada kebebasan untuk mengambil sikap ( freedom to
take a stand ) atas kondisi-kondisi tersebut. Kelebihan manusia yang lain adalah
kemampuan untuk mengambil jarak ( to detach ) terhadap kondisi di luar dirinya,
bahkan manusia juga mempunyai kemampuan-kemampuan mengambil jarak
terhadap dirinya sendiri ( self detachment ). Kemampuan-kemampuan inilah yang
kemudian membuat manusia disebut sebagai the self deteming being yang
berarti manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang
dianggap penting dalam hidupnya.

b.

Kehendak Hidup Bermakna ( The Will to Meaning )


Menurut Frankl, motivasi hidup manusia yang utama adalah mencari

makna. Ini berbeda denga psikoanalisa yang memandang manusia adalah pencari
kesenangan atau juga pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah
pencari kekuasaan. Menurut logoterapi ( Koeswara, 1992 ) bahwa kesenagan
adalah efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasyarat
bagi pemenuhan makna itu. Mengenal makna itu sendiri menurut Frankl bersifat
menarik ( to pull ) dan menawari ( to offer ) bukannya mendorong ( to push ).
Karena sifatnya menarik itu maka individu termotivasi untuk memenuhinya agar
ia menjadi individu yang bermakna dengan berbagai kegiatan yang sarat dengan
makna.
c.

Makna Hidup ( The Meaning Of Life )


Makna hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, benar

dan

didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang ( Bastaman, 1996 ).


Untuk tujuan praktis makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna
hidup bisa berbeda antara manusia satu dengan yang lainya dan berbeda setiap
hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang penting bukan makna hidup secara
umum, melainkan makna khusus dari hidup seseorang pada suatu saat tertentu.
Setiap manusia memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus.
Dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak
bisa diulang. Karena itu, manusia memiliki tugas yang unik dan kesempatan unik
untuk menyelesaikan tugasnya ( Frankl, 2004)
3.

Karakteristik Makna Hidup


Karakteristik makna hidup menurut Bastaman (1996) antara lain :

a.

Makna hidup sifatnya unik, pribadi dan temporer


Artinya apa yang dianggap berarti bagi seseorang belum tentu berarti pula
bagi orang lain. Demikian pula hal-hal yang dianggap penting dapat berubah
dari waktu ke waktu.

b. Kongkrit dan spesifik


Yakni makna hidup dapat ditemukan dalam penglaman dan kehidupan seharihari, serta tidak usah selalu dikaitkan dengan hal-hal yang serba abstrak
filosofis dan idealis atau kreativitas dan prestasi akademis yang serba
menakjubkan.
c. Memberi pedoman dan arah
Artinya makna hidup yang ditemukan oleh seseorang akan memberikan
pedoman dan arah terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukannya sehingga
makna hidup seakan-akan menantang ( challenging ) dan mengundang
(inviting) seseorang untuk memenuhinya.
4.

Sumber-sumber Makna Hidup


Frankl ( Dalam Trimardhany, 2003 ) menyimpulkan bahwa makan hidup

bisa ditemukan melalui tiga cara, yaitu:


a.

Nilai Kreatif
Nilai kreatif dapat diraih melalui berbagai kegiatan. Pada dasarnya seorang
bisa mengalami stress jika terlalu banyak beban pekerjaan, namun ternyata
seseorang akan merasa hampa dan stress pula jika tidak ada kegiatan yang
dilakukannya. Kegitan yang dimaksud tidaklah semata-mata kegiatan mencari
uang, namun pekerjaan yang membuat seorang dapat merealisasikan potensipotensinya sebagai sesuatu yang dinilainya berharga bagi dirinya sendiri atau
orang lain maupun kepada tuhan.

b.

Nilai Penghayatan
Nilai penghayatan menurut Frankl dapat dikatakan berbeda dari nilai kreatif
karena cara memperoleh nilai penghayatan adalah dengan menerima apa yang
ada dengan penuh pemaknaan dan penghayatan yang mendalam. Realisasi
nilai penghayatan dapat dicapai dengan berbagai macam bentuk penghayatan
terhadap keindahan, rasa cinta dan memahami suatu kebenaran ( Frankl
dalam Koeswara, 1992 ). Makna hidup dapat diraih melalui berbagai momen
maupun hanya dari sebuah momen tunggal yang sangat mengesankan bagi
seseorang misalnya memaknai hasil karya sendiri yang dinikmati orang lain.

c.

Nilai Bersikap
Nilai terakhir adalah nilai bersikap. Nilai ini sering dianggap paling tinggi
karena di dalam menerima kehilangan kita terhadap kreativitas maupun
kehilangan kesempatan untuk menerima cinta kasih, manusia tetap bisa
mencapai makna hidupnya melalui penyikapan terhadap apa yang terjadi.
Bahkan di dalam suatu musibah yang tak terelakan, seorang masih bisa
dijadikannya suatu momen yang sangat bermakan dengan cara menyikapinya
secara tepat. Dengan perkataan lain penderitaan yang dialami seseorang
masih tetap dapat memberikan makna bagi dirinya.

5.

Metode-metode Makna hidup.

Menurut Bastaman (1996) menyederhanakan dan memodifikasi metode


Logoanalysis sebagai berikut :
a.

Pemahaman Pribadi
Mengenali secara objektif kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan
lingkungan, baik yang masih merupakan potensi maupun yang telah
teraktualisasi untuk kemudian kekuatan-kekuatan itu dikembangkan dan
kelemahan-kelemahan dihambat dan dikurangi.

b.

Bertindak positif
Mencoba menerapkan dan melaksanakan dalam perilaku dan tindakantindakan nyata sehari-hari yang dianggap baik dan bermanfaat. Bertindak
positif merupakan kelanjutan dari berfikir positif.

c.

Pengakraban Hubungan
Secara sengaja meningkatkan hubungan yang baik dengan pribadi-pribadi
tertentu ( misalnya anggota keluarga, teman, rekan kerja, tetangga ), sehingga
masing-masing merasa saling menyayangi, saling membutuhkan dan bersedia
bantu-membantu.

10

d.

Pengalaman Tri-Nilai
Berupaya untuk memahami dan memenuhi tiga ragam nilai yang dianggap
sebagai sumber makna hidup yaitu nilai-nilai kreatif ( kerja, karya ), nilainilai penghayatan ( kebebaran, keindahan, kasih, iman ), dan nilai-nilai
bersikap ( menerima dan mengambil sikap yang tepat atas derita yang tidak
dapat dihindari lagi ).

e.

Ibadah.
Ibadah merupakan upaya mendekatkan diri pada sang pencipta yang pada
akhirnya memberikan perasan damai, tentaram, dan tabah. Ibadah yang
dilakukan secar terus-menerus dan khusuk memberikan perasan seolah-olah
dibimbing dan mendapat arahan ketika melakukan suatu perbuatan.

6.

Dimensi-dimensi Makna hidup


Bastaman (1996), terdapat komponen-komponen yang potensia dapat

dimanfaatkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi dan mengembangkan


kehidupan bermakna sejauh diaktualisasikan. Komponen ini ternyata cukup
banyak ragamnya, tetapi semuanya dapat dikategorikan dalam menjadi tiga
Dimensi yaitu :
a.

Dimensi Personal
Unsur-unsur yang merupakan Dimensi personal adalah :
1). Pemahaman diri (self insight), yakni meninggkatnya kesadaran atas
buruknya kondisi diri pada saat ini dan keinginan kuat untuk melakukan
perubahan ke arah kondisi yang lebih baik.
2). Pengubahan sikap (changing attitude), dari semula tidak tepat menjadi
lebih tepat dalam menghadapi masalah, kondisi hidup dan musibah yang
terelakkan.

b.

Dimensi Sosial
Unsur yang merupakan Dimensi sosial adalah dukungan sosial (social
supprot), yakni hdirnya seseorang atau sejumlah orang yang akrab, dpat
dipercaya dan selalu bersedia memberikan bantuan pada saat-saat diperlukan.

11

c.

Dimensi Nilai-nilai
Adapun unsur-unsur dari Dimensi nilai-nilai meliputi :
1)

Makna hidup (the meaning of live), yakni nilai-nilai penting


dan sangat berarti bagi kehidupan pribadi seseorang yang berfungsi
sebagai tujuan hidup yang harus dipenuhi dan mengarah kegiatankegiatanya.

2)

Keikatan diri (self commitment), terhadap makna hidup yang


ditemukan dan tujuan hidup yang ditetapkan.

3)

Kegiatan terarah (directed activities), yakni upaya-upaya yang


dilakukan secara sadar dan sengaja berupa pengembangan potensi-poteni
pribadi (bakat, kemampuan, keterampilan) yang positif serta pemanfaatan
relasi antar pribadi untuk menunjang tercapainya makna dan tujuan hidup.
Unsur-unsur tersebut bila disimak dan direnungkan secara mendalam

ternyata merupakan kehendak, kemampuan, sikap, sifat dan tindakan khas insani,
yakni kualitas-kualitas yang terpateri pada eksistensi manusia. Karena
pengembangan pribadi pada dasarnya adalah mengoptimalisasi keunggulankeunggulan dan meminimalisasikan kelemahan-kelemahan pribadi. Dengan
demikian dilihat dari segi Dimensi-Dimensinya dapat diungkap sebuah prinsip,
yaitu keberhasilan mengembangkan penghayatan hidup bermakana dilakukan
dengan jalan menyadari dan mengaktualisasikan potensi kualitas-kualitas insani.
7.

Jenis Makna dalam Hidup


Menurut Fankl (dalam Bastaman 1996) ada tiga makna hidup ini yang

dapat membawa manusia kepada makna hidupnya, yaitu :


a.

Makna Kerja
Makna hidup bukanlah untuk dipertanyakan tetapi untuk dijawab, karena

kita bertanggung jawab atas hidup ini. Jawaban ini hanya diberikan dalam katakata tetapi yang utama adalah dengan berbuat dan dengan melakukanya.
Aktualisasi nila-nilai kreatif yang bisa memberikan makna kepada kehidupan
seseorang biasanya terkandung dalam pekerjaan seseorang.

12

Pekerjaan menurut Frankl (dalam Bastaman 1996) merepresentasikan


keunikan keberadaann individu dalam hubunganya dengan masyarakat dan
karenanya memperolah makna dan nilai. Makna dan nilai ini berhubungan
dengan pekerjaan seseorang sebagai kontribusinya terhadap masyarakat dan
bukan pekerjaanya yang sesungguhnya yang dinilai.
Rasa kekosongan dan tampa makna yang dialami para penganggur juga
dialami oleh narapidana dalam kamp kosentarasi. Dalam kedaanseperti itu,
mungkin terlihat sekilas bahwa kondisi tampa pekerjaan menyebabkan seseorang
menjadi neurotis. Kesan demilkian itu sebenarnya tidak terlalu tepat, karena
ternyata tidak semua penganggur kemudian mengalami unemployment neurosis.
Pada mereka yang telah menyadari bahwa makna hidup tidak semata-semata
tergantung pada pekerjaan yang mendapatkan upah, unemployment neurosis
tidak terjadi. Misalnya para penganggur yang memanfaatkan waktu luangnya
dengan melakukan berbagai kegiatan

sosial yang dapat meningkatkan amal

ibadah mereka.
b.

Makna Penderitaan
Penderitaan memberikan suatu makna manakala individu menghadapi

situasi kehidupan yang tidak dapat dihindari. Bilamana suatu keadaan sungguhsungguh tidak bisa diubah dan individu tidak lagi memiliki peluang untuk
merealisasikan nilai-nilai kreatif, maka saatnya untuk merealisasikan nilai-nilai
bersikap. Dalam penderitaan individu berada dalam ketegangan atas apa yang
seharusnya terjadi dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam kenyataan.
Nilai-nilai bersikap teraktualisasi ketika individu diharapkan pada sesuatu
yang sudah menjadi takdirnya. Dalam menghadapi masalah ini, individu bersikap
menerima kesulitan-kesulitan hidupnya dan di sanalah teraktualisasi potensipotensi nilai yang tidak terkira banyaknya.
Hidup adalah sebuah kesempatan untuk sesuatu, baik membentuk nasib
(melalui nilai-nilai kreatif), dengan menentukan sikap terhadap nasib (melalui
nilai-nilai bersikap) berarti individu menunjukan keberaniaan dan kemuliaan
menghadapi penderitaanya. Penderiataan dapat membuat manusia merasakan

13

hidup yang sesungguhnya. Dalam penderitaan dikatakan bahwa manusia dapat


menjadi matang, karena melalui penderiataan itulah manusia belajar dan semakin
memperkaya hidupnya.
c.

Makna Cinta
Eksistensi manusia didasari oleh keunikan dan keistimewaan individu

tersebut. Cinta berarti mengalami hidup bersama orang lain dengan segala
keunikan dan keistimewaannya. Dalam cinta terjadi penerimaan penuh akan
nilai-nilai, tampa kontribusi maupun usaha dari yang dicintai, cinta membuat si
pecinta menerima segala keunukan dan keistimewaan orang yang dicintainya.
Cinta mungkinkan individu untuk melihat inti spiritual orang lain, nilainilai potensial dan hakekat yang dimilikinya. Cinta memungkinkan kita untuk
mengalmi kepribadiaan orang lain dalam dunianya sendiri dan dengan demikian
memperluas dunia kita sendiri. Bahkan pengalam kita dalam cinta berubah
menjadi kisah yang menyedihkan, kita tetap diperkaya dengan diberikan makna
yang lebih mendalam akan hidup. Manusia rela menanggung resiko mengalami
sekian banyak kisah cinta yang menyedihkan asalkan ia dapat mengalami satu
saja kisah cinta yang membahagiakan.
Ketiga cara tersebut menggambarkan bahwa seseorang dalam mencari
makna hidupnya harus dengan menyakini bahwa makna tersebut adalah seseatu
yang obyektif, yang bersifat menuntut atau menantang tetapi juga merupakan
suatu hal yang mutlak bagi manusia untuk dapat mencapai pemenuhan makan itu.
Dari

uraian

diatas

peneliti

mengambil

kesimpulan

pengertian

kebermaknaan hidup adalah merupakan sesuatu yang dianggap penting, benar


dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Makana hidup
menunjukan bahwa di dalamnya terkandung juga tujuan hidup, yakni hal-hal
yang perlu dicapai dan dipenuhi bila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan
menyebabkan kehidupan ini dirasakan demikian berarti dan berharga.

14

8.

Proses-proses

Perubahan

Dari

Penghayatan

Hidup

Tak

Bermakna Menjadi Lebih Bermakna.


Meneurut Bastaman (1996) dalam proses perubahan dari penghayatan
hidup tak bermakna menjadi lebih bermakna dapat digambarkan tahapan-tahapan
pengalaman tertentu. Hal ini hanya merupakan konstruksi teoritis yang dalam
realitas sebenarnya tidak selalu mengikuti urutan tersebut (untuk mepermudah
pemahaman secara menyeluruh). Tahapan-tahapan ini dapat digolongkan menjadi
lima sebagai berikut :
a.

Tahap Derita (peristiwa tragis, penghayatan tampa makna)

b.

Tahap Penerimaan Diri (pemahaman diri, pengubahan


sikap)

c.

Tahap Penemuan Makna Hidup (penemuan makna dan


penemuan tujuan- tujuan hidup)

d.

Tahap Realisasi Makna (keikatan diri, kegiatan terarah


untuk pemenuhan makna hidup)

e.

Tahap Kehidupan Bermakna (penghayatan bermaknaan,


kebahagiaan)

Peristiwa tragis yang membawa kepada kondisi hidup tak bermakna dapat
menimbulakan kesadaran diri (self insight) dalam diri individu akan keadaan
dirinya dan membantunya untuk mengubah kondisi diri menjadi lebih baik lagi.
Gejala-gejala utama penghayatan hidup tak bermakna, individu dapat merasa
hampa, gersang, merasa tak memiliki tujuan hidup, merasa hidup tak berarti,
serba bosan dan apatis. Kebosanan (boredom) adalah ketidakmampuan seseorang
umtuk

membangkitkan

minat,

sedangkan

apatis

(apality)

merupakan

ketidakmampuan untuk mengambil prakarsa. Penghayaran-penghayatan tersebut


menurut Frankl (1973), mungkin saja tidak terungkap secara nyata, tetapi
terselubung (Masked) dibalik bebrbagai upaya kopensasi dan kehendak yang
berlebihan untuk berkuasa (the will to power), bersenang-senang mencari
kenikmatan seksual (the will to sex), bekerja

(the will to work), dan

15

mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya (the will to money). Dengan kata lain


perilaku dan kehendak yang berlebihan itu biasanya menutupi penghayatan hidup
tanpa makna.
Munculnya kesadaran diri ini dapat didorong karena berbagai macam sebab
seperti perenungan diri, konsultasi dengan para ahli, mendapat pandangan dari
seseorang, hasil doa dan ibadah, belajar dari pengalaman orang lain atau
memahami peristiwa tertentu yang secara dramatis mengubah sikap selama ini.
Bersamaan dengan ini individu dapat menyadari adanya nilai-nilai kreatif,
pengalaman maupun sikap yang kemudian ditetapkan sebagai tujuan hidup. Atas
dasar pemahaman diri dan penemuan makan hidup ini timbul perubahan sikap
(changing attitude) dalam menghadapi masalah. Setelah individu berhasil
menghadapi masalahnya, semangat hidup dan gairah kerja meningkat, kemudian
secara sadar melakukan keikatan diri (self commitment) untuk melakukan
berbagai kegiatan terarah untuk memenuhi makan hidup yang ditemukan.
Kegiatan ini biasanya berupa pengalaman bakat, kemampuan, keterampilan dan
berbagai potensi positif lainya yang sebelumnya terabaikan. Bila tahap ini pada
akhirnya berasil dilalui, dapat dipastikan akan menimbulkan perubahan kondisi
hidup yang lebih baik dan mengembangkan penghayatan hidup bermakna dengan
kebahagiaan. (Bastaman,1996). Dari gambaran diatas jelas bahwa penghayatan
hidup bermakna merupakan gerbang ke arah kepuasan dan kebahagiaan hidup.
Hanya dengan memenuhi makna-makna potensial yang ditawarkan oleh
kehidupanlah, penghayatan hidup bermakan tercapai dengan kebahagiaan sebagai
ganjarannya.

16

B. Wanita hamil Pranikah


1.

Pengertian Kehamilan pra nikah


Kehamilan merupakan perubahan keadaan yang relatif baru, khususnya

bagi wanita yang baru pertama kali mengalaminya. Pada masa ini terjadi
perubahan fisik yang mempengaruhi gerakan maupun aktivitas wanita tersebut
sehari-hari. Disamping itu sebagai calon ibu, dalam hal ini ibu dari anak-anak
yang akan dilahirkanya, membawa perubahan peran yang harus di jalankanya.
(Brice Pitt ,1963)
Pada waktu hamil, menurut, Dianawati (2002 ) wanita dihadapkan pada
beberapa keadaan yang mungkin dapat terjadi sehubungan dengan kehamilan itu,
seperti perkembangan dan keselamatan janin dalam kandunganya sampai tiba
waktunya untuk dilahirkan juga kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi
ketika melahirkan, baik bagi dirinya maupun bagi bayinya. wanita dihadapkan
pada kemungkinan bayinya dilahirkan dengan membawa kelainan-kelainan
(cacat bawaan). Pada kehamilan juga terjadi perubahan hormonal yang
menimbulkan rasa cemas, iritasi, mual, pusing, letih, dan sebagainya yang
mempengaruhi suasana emosi serta penyesuaian diri pada wanita itu, terutama
dalam bulan-bulan pertama dari kehamilan, keadaan ini merupakan hal yang
normal dan dialami oleh banyak orang. Keadaan menjadi lebih serius jika disertai
perasaan atau sikap negatif terhadap kehamilan, sehingga kecemasan
berkepanjangan. Konflik laten yang dalam keadaan biasa (tidak hamil) dapat
diatasi, pada masa ini dapat menjadi akut.
Tidak semua wanita menghendaki kehamilan, setidak-tidaknya untuk saat
itu, dengan berbagai alasan tertentu. Terjadinya aborsi, pemakaian alat
kontrasepsi yang makin meluas, merupakan bukti yang nyata. Kegagalan
kontrasepsi, kehamilan di luar rencana, pada sebagian wanita menimbulkan
penolakan terhadap kehamilanya tersebut, pun setelah anak itu lahir. (Brice Pitt,
1963).

17

Namun demikian, tidak berarti semua wanita yang ingin hamil akan
menerima dengan senang hati kehamilanya. Hal ini dapat dipahami mengingat
seringkali adanya tujuan-tujuan tertentu dibalik keinginanya untuk menjadi
hamil, seperti untuk menyambung keturunan, mempererat hubungan dengan
pasangan hidup, memenuhi harapan orang tua, membuktikan kesuburanya serta
keperkasaan suaminya, protes remaja terhadap orang tua yang mengatur
perjodohanya, dan sebagainya. Jadi mungkin saja sebab utama dari keinginan
untuk hamil bukan semata-mata untuk mempunyai anak, tetapi kehamilan dan
mempunyai anak merupakan suatu sarana untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Proses kehamilan yang awalnya menjadi hal yang bahagia bagi pasangan
yang terikat oleh jalinan perkawinan namun sebaliknya proses kehamilan itu
akan menjadi malapetaka bagi pasangan yang belum terikat oleh jalinan
perkawinan yang sah atau bisa di sebut hubungan seksual pranikah.

Istilah

hubungan seksual pranikah sudah merupakan hal yang asing lagi, baik di
kalangan masyarakat ilmuan maupun di kalangan masyarakat awam. Bila
diperhatikan istilah ini satu persatu, yang dimaksud dengan hubungan seksual
pranikah adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh sepasang insan sebelum
mereka diikat oleh tali perkawina. Kartono (1996) yaitu kehamilan pranikah pada
umumnya tidak direncanakan dan menimbulkan perasaan bersalah, berdosa dan
malu pada remaja yang mengalaminya, ditambah lagi dengan adanya sangsi
sosial dari masyarakat terhadap kehamilan dan kelahiran anak tampa ikatan
pernikahan.
Duval dan Miller (1985) menjelaskan, bahwa bentuk-bentuk keintiman
heteroseksual yang dilakukan oleh sepasang manusia mengikuti suatu proses
peningkatan, yaitu mulai dari :
a.

Sentuhan (hanya berupa pegangan tangan, pelukan)

b.

Cium (mulai dari kecupan sampai deep kissing)

c.

Petting, yaitu meraba-raba daerah erotik pasanagan (biasanya mulai dari


yang ringan/light pettng sampai meraba alat kelamin)

d.

Hubungan seksual (sexsual intercourse)

18

Zastrow ( 1987 ) Mengungkapkan beberapa penyebab kehamilan yang dialami


oleh para remaja :
a.

Penyebab utama terjadinya kehamilan adalah misinformasi atau


kurangnya informasi yang relevan.

b.

Mengabaikan bahwa tingkah laku seksual akan menyebabkan kehamilan


dan berasumsi bahwa pasanganyalah yang menggunakan kontrasepsi
walaupun kenyataan tidak tidak demikian. Banyak remaja yang enggan
menggunakan alat kontrasepsi dengan alasan bahwa mereka tidak mungkin
hamil atau kemungkinan hamil sangat kecil (Papalia & Old, 1995). Selain itu
banyak yang berfikir bahwa menggunakan kontrasepsi adalah tindakan yang
tidak bermoral, seolah-olah mereka merencanakan akan melakukan hubungan
seksual. Alasan lain tidak digunakanya kontrasepsi adalah kekhawatiran
bahwa kenikmatan dan spontanitas dalam hubungan seks akan berkurang atau
timbul masalah yang berhubungan dengan kesehatan.

c.

Bagi beberapa gadis, mereka tidak memperdulikan apakah mereka akan


hamil atau tidak. Bagi mereka kehamilan membuktikan feminitas,
mkengutkan status kedewasaan dan merupakan alat untuk mendapat
perhatiaan orang tua dan teman. Bahkan ada yang menggunakan kehamilan
sebagai cara untuk mengatasi masalah, untuk menghukum, atau justru
merupakan rewad bagi orang lain.

d.

Menyalahartikan atau kebingungan dalam mengartikan konsep cinta,


keintiman dan tingkah laku seksual. Remaja awal cenderung berfikir bahwa
seks adalah cara untuk mendapatkan pasangan, sedangkan remaja akhir
cenderung melakukan tingkah laku seksual jika telah ada ikatan dan saling
pengertian

dengan

pasangan.

berkomunikasi dengan pasangan.

Seks

sering

dijadikan

saran

untuk

19

2.

Gejala awal kehamilan


Menurut Dianawati ( 2002 ) gejala-gejala awal yang terjadi pada proses
kehamilan diantaranya ditandai dengan :

a.

Tidak datangnya menstruasi


Seseorang yang telah melakukan hubngan seksual wajib memeriksakan diri
ke dokter jika dalam waktu satu minggu atau lebih tidak mendapatkan
menstruasi dari jadwal yang seharusnya. Kemungkinan besar dia telah hamil.

b.

Perubahan pada payudara


Biasanya, menjelang menstruasi, payudara perempuan akan terasa kencang
dan padat. Penyebabnya, jumlah hormon estrogen dalam tubuh meningkat.
Kondisi seperti itu akan hilang dengan sendirinya bersamaan dengan
berakhirnya masa menstruasi. Lain lagi jika terjadinya kehamilan, memadat
dan mengencangnya payudara akan berlangsung lama dan akan semakin
membesar disertai dengan rasa kesemutan. Semua perubahan ini terjadi
karena pengaruh hormon estrogen dan progeteron, yang sudah berfungsi
untuk memproduksi air susu. Selain itu, saluran-saluran jaringan payudara
telah dialiri darah.

c.

Sering buang air kecil


Hal ini biasanya terjadinya pada awal kehamilan. Penyebabnya adalah ginjal
bekerja terlalu berlebihan sehingga kantung kencing pun akan cepat terisi.

d.

Mual-mual dan muntah


Gejala ini biasanya terjadi pada pagi hari. Dari gejala ini dapat
diketahui bahwa ia hamil, setelah lebih dari 1 minggu menstruasinya tidak
datang. Gejalaini akan hilang setelah memasuki 12 minggu sejak masa
hamilan. Tidak setiap perempuan mengalami gejala ini. Faktor yang menjadi
penyebab timbulnya gejala ini masih tidak jelas. Namun, kemungkinan faktor
emosi dan kecemasan.

20

4.

Dampak Kehamilan bagi remaja


Menurut Bolton (1980) ada berbagai dampak yang dialami akibat

kehamilan diantaranya adalah :


a.

Terhambatnya tugas perkembangan


Banyak tugas perkembangan yang tidak dapat diselesaikan oleh remaja akibat
kehamilan. Bahkan ada tugas-tugas yang akan dilewati begitu saja akibat
tuntutan untuk menjalankan peran barunya sebagai orang dewasa, padahal
dalam perkembanganya yang normal remaja harus menyelesaikan tugasnya
terlebih dahulu, bisa memasuki tahap perkembangan selanjutnya.

b.

Disfungsi keluarga
Sebagai anggota keluarga, remaja yang hamil seringkali dianggap sebagai
pembawa krisis atau permasalahan dalam keluarga. Permasalahan ini tidak
bisa dielakan dan menuntut adanya penyesuaian dari seluruh anggota
keluarga, dan sangat potensial untuk menimbulkan konflik dan stress.

c.

Resiko kesehatan
Dalam menjalani masa kehamilan, remaja mempunyai beberapa tugas
berkaitan dengan perawatan dirinya. Hal ini seringkali melelahkan dan
menjadi beban sehingga remaja tidak mengindahkan beberapa hal yang
penting berkaitan dengan perawatan kehamilanya. Hal ini cukup beresiko
bagi kelangsungan hidup remaja tersebut dan bayi dikandungnya.

d.

Konflik emosional
Konflik yang dialami akan meningkatkan pada saat terjadinya interaksi antara
tuntutan dari lingkungan sosial remaja dengan kewajibanya untuk mengasuh
anak. Sebagai remaja kebutuhan bersosialisasi masih tinggi, karena itu
pekerjaan merawat anak seringkali dirasakan membebani dan mengganggu
dunia remajanya.

e.

Defisiensi dalam bidang pendidikan dan pekerjaan


Santrock (1996) menyatakan bahwa remaja yang kehamilan umumnya
terhambat dalam hal pendidikan. Walaupun mereka akhirnya meneruskan
pendidikan tetapi mereka tetap tidak bisa menyamai remaja pada umumnya.

21

c. Single Mother
1.

Pengertian single mother


Umumnya suatu keluarga terdiri dari ayah,atau suami ibu atau isteri dan

anak-anak. Di dalam kehidupan keluarga, ayah dan ibu memiliki peran sebagai
orangtua dari anak-anak. Pada kenyataannya, di masyarakat terdapat keluarga
yang salah satu orangtua tidak ada, baik karena perceraian, perpisahan atau
meninggal dunia. Di dalam suatu keluarga dimana hanya seorang ibu berperan
tanpa dukungan atau bantuan figur seorang suami, sering dinamakan sebagai
single mother.
Menurut Perlmutter & Hall (1992) ada beberapa sebab mengapa
seseorang sampai menjadi single mother, yaitu karena kematiaan suami atau,
perceraian atau perpisahan, mempunyai anak tampa nikah. Menurut Papalia dkk.
(2002) single mother adalah wanita yang ditinggalkan oleh suami atau pasangan
hidupnya baik karena terpisah, bercerai atau meninggal dunia untuk kemudian
memutuskan untuk tidak menikah melainkan membesarkan anak-anaknya
seorang diri.
Sedangkan Anderson dkk (1998) mengartikan single mother sebagai
wanita dewasa yang memilih untuk hidup sendiri tanpa pendamping dikarenakan
perpisahan atau perceraian. Exter (dalam Anderson dkk. 1998) mengatakan
bahwa menjadi

single mother merupakan pilihan hidup yang dijalani oleh

individu yang berkomitmen untuk tidak menikah atau menjalin hubungan intim
dengan orang lain.
Single mother dapat pula diartikan sebagai sosok yang menjadi tulang
punggung keluarga, baik karena bercerai, kematian atau karena pernikahan yang
tidak harmonis (Anderson dkk. 1998). Saund (dalam Papalia dkk. 2002)
menjelaskan bahwa individu yang telah terikat erta dengan figur suaminya namun
karena suatu hal kehilangan partner untuk bertukar pikiran, mengurus rumah
tangga dan membesarkan anak-anak dapat disebut sebagai single mother.
Berdasarkan definisi diatas maka pengertian single mother adalah wanita
yang ditinggal mati suami , bercerai atau ditinggalkan pasangan hidupnya yang

22

tanpa ada ikatan pernikahan dan berperan sebagai tulang punggung keluarga
dimana tanggung jawab atas finansial, emosinal maupun masa depan keluarga
dipegang sepenuhnya oleh individu tersebut. Pada penelitiaan ini, single mother
yang dijadikan subjek penelitian adalah single mother yang membesarkan
anaknya tanpa disertai kehadiran dan tanggung jawab pasanganya.
2.

Tahapan yang dilalui single mother


Ketika individu kehilangan seseorang yang dicintainya maka individu

tersebut biasanya merasakan sakit yang begitu dalam, rasa frustasi dan
kehilangan yang mungkin baru akan hilang setelah melalui waktu yang cukup
lama (Papalia dkk. 2002). Menurut Kubler-Ross (dalam papalia dkk. 2002)
individu yang mengalami hal yang demikian memrlukan waktu untuk dapat
menyesuaikan duri dengan kehidupan baru tampa seorang pendamping. Biasanya
wanita yang ditinggal mati oleh suaminya dan menjadi single mother pada
awalnya akan mengalami bebrapa tahapan, yaitu :
a.

Shock and disbelief


Tahap pertama ini terjadi sampai beberapa minggu setelah kematiaan

pasangan hidup. Umunya individu yang ditinggalkan merasa kehilangan, bingung


serta tidak percaya pada apa yang terjadi. Perasaan hampa seringkali dirasakan
ketika individu merasa ada yang hilang dari kehidupanya dan sering terlihat
menangis.
b.

Preoccupation with the memory of the death person


Tahap kedua ini terjadi kurang lebih enam bulan setelah kematiaan.

Individu yang ditinggalkan umumnya telah berusaha menjalani hiodup dengan


normal namun belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan. Sesekali individu
masih terlihat menangis dan tetap merasa bahwa sang suami masih
mendampinginya, mendengar suaranya, merasakan kehadiranya atau sering
memimpikanya.
c.

Resolution
Tahap terakhir ini terjadi ketika individu menemukan kembali semangat

untuk menjalani hidup seperti sebelum peristiwa tragis terjadi. Kenagan akan

23

suami tercinta biasanya akan membawa rasa sedih namun tidak begitu
menyebabkan luka yang mendalam. Hal ini karena individu menyadari bahwa
meski dirinya tidak lagi memiliki pendamping namun hidup harus tetapa
berjalan.
3.

Problematika single mother

Parkes (dalam Kirana, 2002 ) menyatakan problematika yang dihadapi oleh


single mother :
Menjadi single mother disebut oleh Ellison (2003) sebagai situasi yang
khusus sekaligus ekstim dan menantang bagi seorang wanita. Hal ini karena
umumnya individu menjadi single mother terlebih dahulu melewati masa-masa
yang penuh stres, ketakutan dan rasa bersalah dari kejadiaan-kejadian traumatis
yang dilaminya, baru kemudian menyesuaikan diri dengan kehidupan yang baru
serta tanggung jawab yang lebih besar terhadap keluarganya.
Terkadang konflik internal muncul saat single mother harus memainkan
peran sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal ini karena di satu sisi
individu harus mengurus keperluan rumah tangga namun di sisi lain, individu
juga harus

bekerja untuk menafkahi keluarganya. Bila individu cenderung

memainkan satu peranan saja maka akan mengorbankan hal-hal yang


sesungguhnya penting.
Selain konflik batin antara bekerja dan mengurus rumah, Moss dan Moss
(dalam Kirana, 2002) menambahkan bahwa kepergiaan salah satu orangtua baik
ayah atau ibu akan membawa masalah baru bagi keluarga tersebut, yaitu :
a.

Berubahnya cara pandang anak terhadap orangtua.

b.

Hilangnya ikatan yang telah terjalin anatara anak dan orangtua


sehingga menyebabkan perlakuan yang berbeda terhadap pola asuh anak.

c.

Meninggalkan rasa bersalah orangtua terhadap kelangsungan


keluarga terutama masa depan anak-anak.

d.

Ketidakseimbangan dan ketegangan antara orangtua-anak

e.

Hilangnya dukungan sosial maupun instrumental untuk temapat


sharing atau meminta bantuan

Anda mungkin juga menyukai