Anda di halaman 1dari 57

SISTEM GERAK BOLA MATA

Oleh :
Muhammad Fatony Hadikusuma
2010730142

Pembimbing : Dr. Zaki, Sp.S

Anatomi

Mata

I. KELOPAK MATA.
Fungsi :
Melindungi bola mata.
Membuka sinar masuk.
Buka / tutup pembasahan & pelicin.
Kedip menghindarkan debu.

Lapisan : lapisan luar dalam

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kulit (paling tipis dari seluruh tubuh ).


Jaringan longgar.
Jaringan otot.
Tarsus (lapisan paling tebal).
Fascia.
Konjunctiva.

Otot :

M.Orbicularis Oculi ( N.VII) menutup.

Rusak kelopak mata terbuka saja : Lagophthalmus.


M.Levator Palpebra ( N.III) membuka.

Rusak kelopak mata tertutup saja : Ptosis.


M.Muller : menahan palpebra.
Tarsus : - membentuk rangka palpebra.

- palpebra sup. & inf.

II. CAVUM ORBITA :

Rongga yang berbentuk piramid dengan


puncaknya Foramen Opticum dan dasarnya
menghadap ke depan luar & terbuka Aditus

Orbita .
Dinding dibentuk : os frontalis, zygomaticum,

sfenoid, maxilaris, etmoid, nasal, lacrimal.

Isi :
1.
2.
3.
4.
5.

6.
7.

Bola mata.
N II,yang membawa sensasi dari retina ke
area 17.
M.Rectus.
Pembuluh darah.
Syaraf.
Lemak.
Fascia.

Persyarafan :
Motorik : 3, 4, 6.
Sensorik : 5 (cabang N 1 & 2).
Antara dinding medial & dasar cavum : ada

fossa sacci lacrimal.


Dinding bagian nasal (medial) & bawah tipis,

sehingga mudah retak tidak dijumpai


pembuluh limfe & kelnjar limfe.

Ganglion Ciliare :
Terletak di luar N II.
Motorik : N III

III. BOLA MATA


Berat : 7,5 gram.
Panjang 24 mm (ant-post)
Dinding bola mata : cornea & sclera.

Isi bola mata : uvea, retina, badan kaca, lensa,


aquos humor.
Ruang dalam bola mata : COA, COP.

Ruang badan kaca.

CORNEA.

Horizontal : 12 mm
vertical : 11 mm
Tebal : 0,6 mm
Batas cornea & sclera : limbus.
Terdiri dari 5 lapisan :
- epitel ( bbrp lapis ).
- membran Bowman.
- Stroma ( paling tebal ).
- Membran Descement ( paling kuat ).
- Endothel

Pembuluh darah (-).


Persyarafan banyak : Trigeminus.
Jalan sinar masuk tegak lurus.
Media refraksi paling kuat.

Bila ada ulcus cornea menembus membran


descement DESCEMENTOCELE.
Bila sampai endothel,maka bola mata akan
keluar : PERFORASI.
Eviscerasi
: isi bola mata dibuang, sclera
tinggal.
Enucleasi : isi bola mata & sclera dibuang.
Eksenterasi
: enucleasi + jaringan tipis
dikeluarkan, tinggal tulang (pd tumor ).

SCLERA
Paling keras, jar.fibrosa, putih, 1 mm.
Foramen sclera anterior : tempat melekat cornea.
Foramen sclera post. : pintu keluar N II.
Dangerous zone : 3 mm dari limbus.
Lapisan luar ke dalam : - Conj.bulbi.

- Capsula Tennon.
- Episclera
- Sclera

ISI BOLA MATA


UVEA.
- IRIS :
Membran berwarna, sirkuler, kripta,.
Pupil : bulat, gerakan diatur oleh M.Sphincter
pupil & M.Dilator Pupil.
Pupil OD = OS isokori.
Pembuluh darah & syaraf banyak.

- CORPUS CILIARIS
Produksi aquos humor.
Otot ciliaris untuk akomodasi.
Processus ciliaris & otot ciliaris.
Berhubungan

dengan

menggantung lensa.

Zonulla

Zinni

yang

- CHOROID
Terletak antara retina & sclera.
Banyak sekali pembuluh darah

- retina
- lensa
- corpus vitreous.

nutrisi :

Ora serrata (depan).


Papil N II ( depan).
Membran coklat tua.

CORPUS VITREOUS (badan kaca)


Mengisi 4/5 dari isi bola mata.
Dikelilingi oleh membrana Hyaloidea.
Media refraksi

transparan.

Avaskuler, nutrisi berasal dari choroid.


Melekat pada pars plana & N II.

LENSA
Transparan, bikonvex, tebal 5 mm.
Media refraksi 9 19 20 D ).
Bagian post. lebih melengkung dari bg ant.

Pertemuan ant. & post : equator.


Zonulla zinnii melekat pada corpus ciliaris
akomodasi.

Tdd : kapsul, korteks, nukleus.

RETINA
Membran tipis & bening.
Tdd penyebaran serabut syaraf optik.
Makula lutea, di tengahnya : Fovea Centralis :

paling tajam melihat, sel kerucut >>>.

Papil N.Opticus, di tengah melekuk


Excavatio.

Tdd 10 lapisan,lap. Ke 10 (epitel pigmen)


melekat ke choroid.

Sel kerucut ( cone ) :


Banyak pada makula lutea.
Terang, bentuk benda, warna.
Sel batang ( rod ) :
sedikit pada makula lutea.
Untuk cahaya redup.
Def. vit A Xerophthalmia.
Fungsi : menerima visual yang dikirim ke otak.

RUANG DALAM BOLA MATA


COA : dibatasi cornea, depan iris, capsule ant.
Lensa.
COP : dibatasi belakang iris, corpus ciliaris,
corpus vitreous.
COA & COP berisi cairan air mata
menentkan TIO.
TIO : Glaucoma.
TIO : Atrophy.

Otot dan Persyarafan Motorik

Mata

SISTEM GERAK
BOLA MATA

26

OTOT-OTOT MATA

(1)

OTOT BULBUS OCULI + GERAKAN


1.
2.
3.
4.
5.
6.

o
o
o
o

M. Rectus Superior
M. Rectus Inferior
M. Rectus Lateralis
M. Rectus Medialis
M. Obliquus Superior
M. Obliquus Inferior

Elevasi (+ Adduksi)
Depresi (+ Adduksi)
Abduksi
Adduksi
Rotasi medial (abd + depr)
Rotasi lateral (abd + elev)

Menggerakkan Bulbus Oculi


Insertio pada sclera bulbus Oculi dan melalui Anulus
tendineus ke sekeliling For. Opticum
Dibungkus oleh Fascia Bulbi
Semua otot bola mata diinnervasi N. III, kecuali m.
Rectus Lat (N. VI) dan m. Obliquus Inferior (N. IV)

Otot penggerak bola mata ( 6 buah ) :


M.rectus medialis , N III, 5 mm dari limbus.
M.rectus inferior , N III, 6 mm dari limbus.
M.rectus lateralis , N VI, 7 mm dari limbus.
M.rectus superior , N III, 8 mm dari limbus.
M.rectus oblq.sup. , N IV, equator.

M.rectus oblq.inf. , N III, blkng lateral.

N. III = N. OCULOMOTORIS
o
o
o

Keluar
Sp. Subarach
Nucleus
1.
2.

: FISSURA ORBITALIS SUPERIOR CAVUM ORBITA


: Cisterna basalis + Cisterna Interpeduncularis
:

Nucleus motoris N. III (SM) otot-otot extrinsik Oculi (gerakan Oculi)


Nucleus Edinger-Westphal (VM) otot intrinsik Oculi (miosis pupillae)

Lintasan

Nucleus motoris (MES)


+
Nucleus EW (MES)

N. III Sinus Cavernosus Fissura Orbitalis Sup masuk dlm Cav. Orbita

(SM) innervasi m. Rectus Sup, inf, med, m. obliq. Inf, m. Levator palpebrae
(VM) m. Sphincter pupillae + m. Ciliare
Ggl. Ciliare

o
o

Ggl. Sensoris
: TIDAK ADA
Ggl. Parasympathis: Ggl. Ciliare dalam Cavum Orbita
32

33

34

N. IV = N. TROCHLEARIS
o

Keluar

: FISSURA ORBITALIS SUPERIOR CAVUM ORBITA

Sp. Subarach

: Cisterna Superior + Cisterna Basalis

Nucleus

: Nucleus Motoris N. IV (SM) m. Obliquus Sup

Lintasan

Nucleus Motoris (MES) N. IV Sinus Cavernosus Fissura Orbitalis Sup

innervasi m. Obliq. Sup (SM) masuk Cav. Orbita

Ggl. Sensoris

: TIDAK ADA

Ggl. Parasympathis: TIDAK ADA


35

36

N. VI = N. ABDUCENS
o

Keluar

: FISSURA ORBITALIS SUPERIOR CAVUM ORBITA

Sp. Subarach

: Cisterna Basalis

Nucleus

: Nucleus Motoris N. VI (SM) m. Rectus Lateralis

Lintasan

Nucleus Motoris (MES) N. VI Sinus Cavernosus Fissura Orbitalis Sup

innervasi m. Rectus. Lat (SM)


masuk Cav. Orbita

Ggl. Sensoris

: TIDAK ADA

Ggl. Parasympathis: TIDAK ADA


37

38

39

Fisiologi Gerak Bola

Mata

Fisiologi Gerak Bola Mata


keseimbangan
gerak otot

orthoforia
bayangan
jatuh ke fovea
sentralis
fusi
bayangan
di retina

1.Visus ~ sama
2.Otot mata bekerja
sama dengan baik
3.Susunan saraf baik

Single binocular
vision

Hukum Sherrington
Otot sinergik

Otot
antagonistik

m. rektus superior
& m. obliq inferior
(elevasi)

m. rektus
superior & m.
rektus inferior

Dekstroversi

Stimulasi:
* m. rektus lateral D
* m. rektus medial S

Inhibisi:
* m. rektus medial D
* m. rektus lateral S

Hukum Hering
Agar gerak kedua mata ke arah yang sama, persyarafan
otot-otot agonis harus sama

Parese Saraf Motorik

Mata

Parese N. Okulomotorius (N.III)


Klasifikasi :
1. Komplit : kelemahan elevasi,
depresi,
aduksi,
ptosis,
midriasis ipsilateral
2. Parsial
3. Bilateral : lesi pada nukleus
okulomotorius
Sebab :
Post trauma, tumor, inflamasi,
vaskulopati

Parese N. Troklearis (N.IV)


KELUMPUHAN N. IV

Klasifikasi :
1. Sukar melihat ke
bawah
2.Diplopia

Sebab :
Orbita, puncak orbita,
sinus kavernosus

KELUMPUHAN N. VI

Pemeriksaan Motorik Bola

Mata

NERVUS OKULOMOTORIUS, NERVUS TROKHLEARIS DAN


NERVUS ABDUSEN (N III, IV , VI)

Pemeriksaan :
1. Celah kelopak mata
2. Pupil
3. Gerakan Bola Mata
Perhatikan adanya
kelainan pada mata
yang mungkin dapat
mempengaruhi hasil
pemeriksaan.

Ptosis kelumpuhan
M. Levator palpebra
- pasien diminta untuk
memejamkan mata
- pemeriksa memegang kelopak
mata pasien
- minta pasien untuk membuka
mata dan nilai kekuatannya
Pupil
- isokor atau anisokor
- miosis atau midriasis

Refleks pupil
- refleks cahaya langsung positif
- refleks cahaya tidak langsung
positif
Refleks akomodasi
1. OS diminta untuk melihat
jauh kemudian diminta untuk
melihat dekat (jari
pemeriksa)
2. Normal pupil mengecil
Kedudukan atau posisi bola mata

- eksoftalmus
- enoftalmus

Gerakan bola mata


1. OS diminta mengikuti gerakan jari
tangan pemeriksa ke lateral,
medial atas, bawah dan kearah
yang miring
2. Perhatikan apakah mata pasien
dapat mengikuti atau tidak
Nistagmus
1. OS diminta melirik pada satu arah
2. Perhatikan gerak bola mata
apakah ada gerakan bolak - balik
bola mata yang involunter dan
ritmik

DAFTAR PUSTAKA

Baehr M, Frotscher M. 2005. Duus topical diagnosis in neurology anatomyphysiologysigns


symptoms 4th. New York: Thieme.. p 137-160.
Ilyas S. 2010. Anatomi dan Fisiologi Otot Pengerak Bola Mata. Dalam: Ilmu Penyakit Mata.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. hal 233-65.
Juwono T. 1996. Pemeriksaan klinik neurologik dalam praktek. Jakarta: EGC. hal 20-29.
Lumbantobing, S. M. 2011. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta: Badan
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Mardjono M, Sidharta P. 2009. Saraf Otak dan Patologinya. Dalam: Neurologi Klinis Dasar.
Jakarta: Penerbit PT. Dian Rakyat. hal 114-82.
Mumenthaler M, Mattle H. 2006. Fundamentals of Neurology An Illustrated Guide. Thime
Stuttgart: New York. P21, 183-192
Mason H. 1999. Anatomy and Physiology of the Eye, in Mason, H. & McCall, S. Visual
Impairment: Access to Education for Children and Young People, David Fulton Publishers,
London. p:30-38.
Misbach J. 1999.Neuro-opthamologi pemeriksaan klinis dan interpretasi. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI. hal 1-40.
Monkhouse S. 2006. Cranial nerves functional anatomy. Cambridge: Cambridge University
Press. hal 121-7
Radjiman T, dkk. 1984. Ilmu Penyakit Mata, Penerbit Airlangga, Surabaya. h:1-8.
Snell, RS. 2006. Kepala dan Leher. Dalam: Anatomi Klinik. Jakarta: EGC. hal. 768-780