Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Tujuan
Percobaan ini bertujuan untuk mengerti cara-cara mengidentifikasi senyawa
penyusun asam nukleat.

1.2

Tinjauan Pustaka
Asam nukleat merupakan makromolekul yang besar atau lebih besar dari protein.
Berat molekulnya berkisar dari ratusan hingga jutaan. Seperti halnya protein,
merupakan zat yang berperan dalam jaringan sel hidup (Harper, 1980).
Asam nukleat terdiri dari dua unit penting dalam genetika, yaitu DNA dan RNA.
DNA atau asam deoksiribonukleat merupakan asam nukleat yang mengandung materi
genetika dan berfungsi sebagai pengatur perkembangan seluruh kehidupan secara
biologis. DNA terdapat pada sel hidup seperti mitokondria, nucleus, serta kloroplas.
DNA yang terdapat pada mitokondria dan kloroplas memiliki bentuk sirkulat dan
tidak berhubungan dengan protein histon, sedangkan pada nukleus berbentuk linear
dan berhubungan dengan protein histon. RNA atau asam ribonukleotida adalah
senyawa majemuk yang terbuat dari kumpulan nukleotida yang mengandung ribose
dengan fungsi yang bekerja dalam proses sintesis protein (Poedjiadi 2005).
Bagian bagian dari nukleotida adalah basa nitrogennya, gula yang beratom
karbon 5 buah dan asam fosfat. Semua bagian dihasilkan dihidrolisa mononukleotida,
ada 2 macam basa nitrogen pokok yaitu pirimidin dan purin seperti gambar dibawah
ini (Hawab, 2004):

Gambar 1. Struktur piridin dan puri (Hawab, 2004).

Nukleotida yang tersusun dari basa dan gula disatukan oleh ikatan kovalen antara
nitrogen dari purin atau pirimidin dengan karbon cincin dari cincin unit glukosa.
Apabila gugus fosfat dan gugus hidroksil gula ditambahkan dalam nukleosida, maka
akan terbentuk ester asam fosfat dari nukleosida yaitu nukleotida (Montgomery,
1993).
DNA adalah pembawa informasi genetik, dimana hanya sebagian dari informasi
genetik yang dikandung DNA digunakan untuk membuat protein RNA terdiri dari 3
jenis molekul RNA dengan fungsi yang berbeda-beda, yakni RNA-ribosom (rRNA)
sebagian terpadu dari ribosom yaitu sintesis protein. Utusan (mRNA) membawa

informasi untuk sintesis protein kepada ribosom dalam sitoplasma RNA transfer
(tRNA) membawa asam amino dirakit menjadi protein (Hampel, 1982).
RNA adalah suatu polimer yang terdiri dari molekul-molekul ribose nukleotida,
RNA memiliki banyak persamaan dan perbedaan dengan DNA. Adapun perbedaannya
adalah (Poedjiadi, 1994):
1. Bagian pentose RNA adalah ribosa sedangkan bagian pentose DNA adalah
deoksiribosa.
2. DNA doublehelix jika RNA hanya berupa rantai tunggal yang terlipat sehingga
mempunyai rantai ganda.
3. RNA mengandung basa Adenin, Guanin, Sitosin.
Identifikasi DNA juga dapat menggunakan metode identifikasi plasma nufta.
Salah satu contohnya identifikasi plasma nufta pada tanaman padi di Indonesia.
Material genetik yang digunakan adalah 40 aksesi plasma nutfah, 9 diantaranya adalah
plasma nutfah padi beras merah. Langkah pertama yang dilakukan adalah isolasi DNA
genum padi dan kuantifikasinya, selanjutnya desain primer untuk gen, amplifikasi
DNA dan elektroforesis DNA (Martoharsono, 1995).
Metode lain yang digunakan untuk identifikasi DNA adalah PCR dimana metode
PCR adalah metode yang didasari oleh penggunaan oligenukleotida pendek sebagai
primar dan taq DNA polimerase sebagai enzim untuk menggandakan sejumlah
rangkaian DNA yang khas dalam hal ini DNA dari pasien HIV positif yang terinfeksi
mycobacterium. Teknik lainnya adalah RD12 yang telah digunakan untuk
mengidentifikasi komplek M. Tuberculose (Fessenden dan Fessenden, 1997).
Nukleotida merupakan molekul biologi yang terbentuk dari basa nitrogen, gula
pentosa, dan gugus fosfat sebagai komponen dasar penyusun nukleotida.Asam nukleat
adalah polimer dari nukleotida linear yang merupakan pembawa informasi
genetik.Asam nukleat terdapat dua jenis, yaitu DNA (deoxyribonucleic acid) dan
RNA (ribonucleic acid).Basa nukleotida merupakansenyawa turunan pirimidin dan
purin.Pirimidin memiliki struktur cincin aromatik anggota enam heterosiklik yang
memiliki dua atom nitrogen. Sedangkan purin memiliki struktur dua cincin dengan
satu cincin sama dengan struktur cincin pada pirimidin dan cincin lain seperti cincin
imidazol (Garrett dan Grisham, 2013).

N
NH

N
N

Adenin

N
NH

NH
N

Guanin

NH2

NH2

NH2

NH

Sitosin

H 3C
O

NH
NH

Timin

Gambar 1. Basa purin dan basa pirimidin DNA ( Garret dan Grisham,2013).
DAN dan RNA terdiri dari dua basa purin utama, yaitu adenin dan guanin dan
dua basa pirimidin, yaitu sitosin dan timin pada DNA sedangkan pada RNA adalah
urasil.pada DNA mempunyai gula pentosa 2-deoksi-D-ribosa yang berulang
sedangkan RNA bernama D-ribosa yang berulang. Nukleotida pada DNA dan RNA
terhubung secara kovalen yang membentuk jembatan fosfat yang disebut ikatan
fosfodiester.Ikatan ini dibentuk oleh atom C5 nukleotida dan C3 nukleotida yang lain
(Nelson and Cox, 2001).

Dalam mikrobiologi, dalam melakukan sistemasi dan identifikasi harus mengikuti


aturan yang telah di tetapkan. Dalam taksonomi, untuk prokariotik menggunakan
sistem bergey berdasarkan data rRNA.Namun alternatif lainnya dapat menggunakan
filogenik. Namun hal ini memiliki resiko bahwa tekinik untuk identifikasi dari asam
nukleatnya harus melakukan seperti diagnosik PCR ( Ludwig,2007).

1.3

Tinjauan Bahan
1. Asam Nukleat
Asam nukleat yang digunakan diperoleh dari hasil isolasi asam nukleat kecambah
pada percobaan sebelumnya. Asam nukleat yang diperoleh berupa serabut halus
berwarna putih transparan.
2. Asam Sulfat
Larutan tak berwarna dengan d = 1,3689; dengan MP = 10,36 oC; BP = 3,38oC.
Digunakan sebagai pengoksidasi dengan larutan sedang, sangat korosif (Sax dan
Lewis, 1987).
3. Amonia
Amonia merupakan senyawa dengan rumus NH3 yang mempunyai aroma khas
yang tajam. Amonia disimpan dalam wujud cair pada tekanan 100 atm dan temperatur
-35,5oC. Amonia cair tidak berwarna dan mempunyai leleh -74 oC (Sax and Lewis,
1987).
4. Asam Nitrat
Senyawa dengan formula HNO3, memiliki massa molar 63,012 gr/mol, berbentuk
cairan tidak berwarna, korosif beracun (Sax and Lewis, 1987).
5. Asam Molibdat 10%
Larutan ini dibuat dari padatan ammonium molibdat (MoO3H2O) yang berwarna
kuning kehijauan. Kristal ammonium molibdat ini mempunyai kelarutan dalam air
sebesar 4,3 g/mL. Senayawa ini dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mata jika
terjadi kontak langsung (Sax and Lewis, 1987).
6. Asam Asetat Glasial
Merupakan senyawa murni (mineral 99,8%) yang dibedakan dari larutan berupa
larutan jernih, tidak berwarna, berbau tajam, bersifat toksik, berbahaya iritan terhadap
mata, pernapasan, kulit dan jaringan. Memiliki densitas 10,492 gr/mL (Sax and Lewis,
1987).
7. Aquades
Aquadest atau aqua destilation merupakan senyawa netral berwujud cair tidak
berwarna. Senyawa ini mempunyai rumus molekul H2O dengan massa molekul 18
g/mol. Aquades seringkali digunakan sebagai pelarut dan mempunyai sifat polar.
Aquades mempunyai titik didih 1000C dan titik beku 00C. Aquades mempunyai
konstanta dielektrik yang tinggi (Sax & Lewis, 1987).

8. Definilamin
Senyawa dengan formula (C6H5)2NH, densitas 1,2 gr/cm3 titik leburnya 530C, titik
didihnya 3020C dengan asam nukleat membentuk garam yang dapat larut dalam air
(Sax and Lewis, 1987).
9. DNA Standar
Asam nukleat yang berisi rantai panjang nukleotida. Setiap nukleotida berisi basa
nitrogen, gula deoksiribosa dan fosfat. (Basri, 2005).
10. RNA Standar
Asam nukleat yang berisi rantai panjang nukleotida. Setiap nukleotida berisi basa
nitrogen, gula ribosa dan fosfat. RNA merupakan transkripsi DNA dengan bantuan
enzim polymerase RNA (Basri, 2005).
11. Kalium Fosfat
Senyawa dengan formula K3PO4, memiliki massa molar 212,27 gr/mol digunakan
sebagai zat aditif makanan (Sax and Lewis, 1987).
12. Larutan Dische
Larutan ini dibuat dengan cara melarutkan difenilalanin dan asam sulfat, lalu
ditambahkan asam asetat glacial. Larutan ini berfungsi sebagaai larutan/reagen
pengenal deoksiribosa (Sax and Lewis, 1987).
13. Reagen Orsinol
Reagen ini mengandung senyawa orsinol yang mempunyai rumus kimia C 7H8O2
dan BM 124,13 gr/mL. Orsinol sendiri berbentuk Kristal dengan titik lebur 1070C dan
titik didihnya 2090C . Orsinol merupakan senyawa organik yang mempunyai gugus
fenol (Basri, 2005). Reagen orsinol bersifat stabil pada kondisi dasar dan sensitive
terhadap udara (Sax and Lewis, 1987).
14. Larutan AgNO3 1%
Senyawa dengan formula AgNO3 dengan massa molar 169,89 gr/mol berbentuk
padatan putih, senyawa kaustik, tidak higroskopis, diperoleh dengan melarutkan
logam perak dengan asam nitrat dan diuapkan (Basri, 2005).

BAB II
METODOLOGI
2.1 Alat
Pada percobaan ini adapun beberapa alat yang digunakan pada saat percobaan
adalah tabung reaksi, inkubator, gelas kimia 250 mL, pipet ukur 10 mL, gelas ukur 100
mL, corong gelas, pipet tetes, penangas air.

2.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah asam nukleat hasil isolasi,
DNA dan RNA standart, H2SO4 1M, hidrolisat asam nukleat, larutan asam molibdat
10%, HNO3 pekat, kalium fosfat, larutan dische, reagen orsinol, larutan AgNo 3 1%,
Amonia pekat, adenine, guanine, sitosin, difenilamin, asam asetat glasial, dan aquades.

2.3 Skema Kerja


2. 3.1 Hidrolisa Asam Nukleat
Asam nukleat hasil isolasi, DNA dan RNA standar
- dimasukkan 3 mg ke dalam masing-masing tabung reaksi
- ditambahkan 10 mL H2SO4 1M
- dididihkan selama 3 menit
- disaring
Fraksi
yang tidak pecah
- disimpan untuk percobaan berikutnya
Filtrat
2. 3.2 UjiHasil
Fosfat
Ammonium molibdat
- ditimbang 10 gram
- dilarutkan dalam 50 mL aquades
- ditambahkan HNO3 pekat tetes demi tetes
- ditambahkan 100 mL aquades
Hidrolisat
Asam nukleat
Larutan
ammonium
molibdat
- dipipet 1 mL
- ditambahkan 3 mL ammonium molibdat
- dipanaskan selama 10 menit
- diamati hasil uji positif bila ada endapan kuning
- dibandingkan dengan kalium fosfat

Hasil

2. 3.3 Uji Deoksiribosa


Hidrolisat Asam Nukleat
- dipipet 1 mL
- ditambahkan reagen Dische
- dididihkan selama 10 menit
- diamati perubahan yang terjadi, bila berwarna biru menunujukkan adanya
deoksiribosa

Hasil
2. 3.4 Uji Ribosa
Hidrolisat Asam Nukleat
- dipipet 0,1 mL
- ditambahkan 1 mL orsinol
- dipanaskan selama 5 menit
- diamati perubahan yang terjadi, bila terjadi perubahan warna dari kuning
menjadi hijau menunjukkan adanya ribose

Hasil
2. 3.5 Uji Basa Purin
Hidrolisat
- dipipetAsam
1 mLNukleat
- ditambahkan ammonia pekat tetes demi tetes sampai basa
- ditambahkan beberapa tetes AgNO3
- diamati perubahan yang terjadi apabila terdapat endapan berwarna putih
agak larut menendakan adanya basa-basa purin
- dilarutkan blanko untuk adenine, guanine, dan sitosin
BAB III
HASIL PENGAMATAN

Hasil
3.1 Tabel Pengamatan Hidrolisat Asam Nukleat
No
Perlakuan
Pengamatan
Kecambah
Kecambah
Kecambah
.
kepala kecil
ekor kecil
kepala besar
1
Hasil isolasi
Keruh
Keruh
Keruh
dimasukkan dalam
terdapat
terdapat
terdapat
kuvet
endapan
endapan
endapan
putih
putih
putih
2
Hasil isolasi
Endapan
Endapan
Endapan
disentrifugasi selama
putih
putih
kuning
10 menit pada
kecoklatan

Kecambah ekor
besar
Kuning keruh
dan ada endapan
kuning
Endapan
berwarna putih

kecepatan 3000 rpm


dan filtrate dibuang
Endapan yang
diperoleh ditambah 10
mL H2SO4pekat +
aquades 30 mL
Larutan didihkan
selama 3 menit

Larutan
menjadi
coklat tua
bening dan
sedikit panas
Tidak ada
perubahan
dan tidak ada
endapan

3.2 Tabel Pengamatan Uji Fosfat


No
Perlakuan
Kecambah
.
ekor besar
1
Hidrolisat asam
Larutan
nukleat dimasukkan
berwarna
dalam tabung reaksi
merah muda
sebanyak 1 mL
jernih
2
Ditambah 3 mL
Larutan
ammonium molibdat
menjadi
jernih tak
berwarna
3
Dipanaskan pada suhu Tidak terjadi
47oC selama 5 menit
perubahan
4
Setelah 5 menit suhu
Tidak
dinaikkan menjadi
terdapat
o
50 C
endapan
kuning

Larutan
menjadi
kuning
kehijauan
Tidak ada
perubahan
dan tidak ada
endapan

Larutan
menjadi
coklat muda
bening dan
sedikit panas
Tidak ada
perubahan
dan tidak ada
endapan

Pengamatan
Kecambah
Kecambah
ekor kecil
kepala besar
Larutan
Larutan
berwarna
berwarna
kuning jernih kecoklatan
jernih
Larutan
Larutan
menjadi jernih menjadi
tak berwarna
jernih tak
berwarna
Tidak terjadi
Tidak terjadi
perubahan
perubahan
Terdapa
Terdapat
tendapan
endapan
kuning agak
kuning agak
larut
larut

3.3Tabel Pengamatan Uji Deoksiribosa


No
Perlakuan
Kecambah ekor
.
besar
1
Hidrolisat asam
Larutan berwarna
nukleat dimasukkan
merah jambu
dalam tabung reaksi
sebanyak 1 mL
2
Ditambah 2 mL
Terbentuk dua
reagen dische (Reagen lapisan
dische berwarna biru
Atas: biru
dengan bau
Bawah: bening
menyengat)
3
Dipanaskan pada suhu Menjadi biru tua
47oC selama 5 menit
pekat

Larutan menjadi
cokelat
kemerahan

Tidak ada
perubahan dan
tidak ada
endapan

Kecambah
kepala kecil
Larutan
berwarna
kecoklatan
jernih
Larutan menjadi
jernih tak
berwarna
Tidak terjadi
perubahan
Terdapat
endapan kuning
agak larut

Pengamatan
Kecambah ekor
kecil
Larutan berwarna
hijau bening

Kecambah kepala
besar
Larutan berwarna
coklat bening

Berubah menjadi
biru tua pekat

Berubah menjadi biru


tua pekat

Hidrolisat
menjadi biru tua

Berubah menjadi biru


tua pekat

Diamati perubahan
yang terjadi

Menjadi biru tua


pekat (+)

3.4Tabel Pengamatan Uji Ribosa


No
Perlakuan
Kecambah
.
ekor besar
1
Hidrolisat asam
Larutan
nukleat dimasukkan
berwarna
dalam tabung reaksi
merah muda
sebanyak 1 mL
kecoklatan
2
Ditambah1 mL larutan Berwarna
orsinal
kuning (++)
3
Dipanaskan pada suhu Larutan
47oC selama 5 menit
menjadi
kuning
kehijauan (++)

pekat
Campuran
menjadi biru tua
pekat (+)

Campuran menjadi
biru tua pekat (+)

Pengamatan
Kecambah
Kecambah
ekor kecil
kepala besar
Warna
Larutan
larutan
berwarna
kuning
kuning
kecoklatan
Berwarna
Berwarna
kuning (+)
kuning (+++)
Larutan
Tidak terjadi
menjadi
perubahan
kuning
kehijauan (+)

: (+) kuning muda, (++) kuning agak tua,


(+++) kuning tua, (++++) kuning kecoklatan
3.5Tabel Pengamatan Uji Basa Purin
No
Perlakuan
Pengamatan
Kecambah
Kecambah
Kecambah
.
ekor besar
ekor kecil
kepala besar
1
Hidrolisat asam
Larutan
Warna
Larutan
nukleat dimasukkan
berwarna
larutan
berwarna
dalam tabung reaksi
merah muda
orange
orange
sebanyak 0,5 mL
bening
bening
2
Ditambah10 tetes
Berbau, panas, Berbau,
Berbau,
ammonium
berwarna
panas,
panas,
bening
berwarna
berwarna
kekuningan
bening
bening
kekuningan
kekuningan
3
Ditambah 10 tetes
Larutan
Larutan
Larutan
AgNO3
berwarna
berwarna
berwarna
bening
bening
bening

Kecambah
kepala kecil
Larutan
berwarna
kuning
kecoklatan
Berwarna
kuning (++++)
Tidak terjadi
perubahan,
namun
berwarna lebih
coklat

Keterangan

Ditambah AgNO3
berlebih

Terbentuk
emulsi pada
penambahan
40 tetes,
larutan
berwarna
bening

Larutan
berwarna
bening, tidak
terjadi
perubahan

Terbentuk
emulsi
larutan
berwarna
bening

Kecambah
kepala kecil
Larutan
berwarna
orange
Berbau, panas,
berwarna
bening
kekuningan
Larutan
berwarna
bening
Terbentuk
emulsi pada
penambahan20
tetes, larutan
berwarna
bening

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Hidrolisis Asam Nukleat
Prinsip percobaan hidrolisis asam nukleat yaitu merusak atau memecah asam nukleat
agar dapat memperoleh komposisi molekul penyusun asam nukleat melalui proses hidrolisis.
Proses ini dilakukan dengan cara menambahkan larutan asam serta melakukan pemanasan.
Pada percobaan ini, pertama asam nukleat hasil isolasi dari masing masing kebagian
kecambah dimasukkan ke dalam kuvet yang berbeda dengan volume yang sama dan
disentrifugasi selama 10 menit untuk memisahkan asam nukleat dari zat pengotor lain dalam
larutan asam nukleat. Kemudian asam nukleat yang berbentuk serat putih dimasukkan ke
dalam 3 tabng reaksi yag berbeda sedangkan filtratnya dibuang. Selanjutnya ke dalam masing
masing tabung reaksi ditambahkan dengan 10 mL H 2SO4 1 M yang berfungsi untuk
menghidrolisis asam nukleat sehingga terpecah menjadi komponen komponennya.
Selanjutnya masing masing tabung dipanaskan selama 5 menit dalam penangas air.
Pemanasan ini berfungsi untuk penyempurnaan proses hidrolisis sehingga akan didapatkan
komponen komponen asam nukleat yaitu gula pentosa yang mengandung fosfat dan basa
nitrogen. Selanjutnya masing masing larutan dalam tabung reaksi didinginkan pada
temperatur ruang untuk memisahkan zat pengotor yang masih terdapat dalam larutan asam
nukleat. Selanjutnya disaring dan diambil filtratnya. Penyaringan berfungsi untuk
memisahkan senyawa komponen penyusun asam nukleat dengan senyawa pengotor yang
tidak diinginkan.
Dari perlakuan diatas, didapatkan bahwa pada semua tabung reaksi yang berisi asam
nukleat dari masing masing bagian kecambah terjadi perubahan warna larutan dari larutan
bening menjadi kuning jernih setelah dipanaskan dan berubah lagi menjadi warna kuning
setelah didinginkan dan disaring. Terjadinya perubahan warna pada larutan ini menunjukkan
bahwa telah terjadi hidrolisis asam nukleat yang selanjutnya akan diuji komponen komponen
penyusun asam nukleat berdasarkan hasil uji hidrolisat hasil reaksi hidrolisis asam nukleat.
4.2 Uji Fosfat
Prinsip uji fosfat adalah identifikasi gugus fosfat pada senyawa asam nukleat
berdasarkan reaksi identifikasi menggunakan larutan amonium molibdat. Larutan amonium
molibdat dibuat dengan cara melarutkan 10 g ammonim molibdat dalam 50 mL akuades,
kemudian ditambahkan dengan HNO3 pekat tetes demi tetes sampai semua amonium
molibdat larut dan ditambahkan air sampai volume akhirnya 100 mL.
Reaksi uji dilakukan dengan cara menambahkan 3 mL larutan ammonium molibdat
kepada 1 mL hidrolisat asam nukleat. Larutan ammonium molibdat berfungsi sebagai
pereaksi untuk mengidentifikasi adanya fosfat yang ditandai dengan adanya endapan
kuning.campuran kemudian dipanaskan selama 10 menit untuk mempercepat reaksi yang
terjadi.
Berdasarkan uji yang telah dilakukan didapatkan hasil negatif, yaitu larutan tetap
tidak berwarna dan tidak ada perubahan warna yang terjadi dalam larutan. Tetapi ada
beberapa larutan yang terdapat endapan kuning tipis, dengan warna larutan yang tetap bening.
Menurut literatur yang diperoleh, jika hidrolisisnya sempurna, maka asam nukleat akan

menghasilkan asam fosfat, pentosa dan basa purin atau pirimidin (Poedjiadi dan Titin, 2012).
Hasil percobaan berbeda dengan literatur karena asam nukleat belum terhidrolisis sempurna
atau kondisi yang terjadi tidak optimum untuk uji ini sehingga hasilnya negatif.
4.3 Uji Deoksiribosa
Prinsip uji deoksiribosa adalah penentuan gula deoksiribosa pada asam nukleat
melalui reaksi identifikasi dengan larutan Dische. Larutan dische ini dibat dengan cara 1 g
difenilamin dilarutkan dalam 2,5 mL H2SO4 pekat untuk membentuk difenilamin sulfat.
Selanjutnya ditambahkan dengan asam asetat glasial samapi 100 mL yang berfungsi sebagai
pelarut dan pemberi suasana asam,
Uji deoksiribosa dilakukan dengan menambahkan 3 mL reagen dische ke dalam 0,5
mL hidrolisat asam nukleat. Reagen dische berfungsi sebagai pereaksi uji adanya
deoksiribosa pada hidrolisat asam nukleat.Adanya gula deoksiribosa pada hidrolisat asam
nukleat ditunjukkan dengan berubahnya warna larutan menjadi biru.Hal ini diakibatkan
karena adanya reaksi antara deoksiribosa dengan difenilamin sulfat membentuk kompleks
berwarna biru. Setelah ditambahkan reagen dische, larutan kemudian dipanaskan selama 10
menit untuk mempercepat reaksi.
Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa semua hidrolisat
asam nukleat dari masing masing bagian kecambah memberikan hasil positif (mengadung
deoksiribosa) yang ditunjukkan dengan adanya perubahan warna larutan, dari tidak berwarna
menjadi biru.
4.4 Uji Ribosa
Prinsip uji ribosa adalah penentuan gula ribosa pada asam nukleat berdasarkan reaksi
antara hidrolisat asam nukleat dengan reagen orsinol. Reagen orsinol dibuatdengan cara
melarutkan 0,2 g orsinol dan 0,1 g FeCl3 dalam 100 mL HCl pekat.
Pengujian adanya gula ribosa dilakukan dengan 0,5 mL hidrolisat asam nukleat
ditabahkan 1 mL orsinol. Reagen orsinol berfungsi penguji adanya gula ribosa pada hidrolisat
asam nukleat. Adanya gula ribosa ditunjukkan dengan adanya perubahan warna larutan dari
kuning menjadi kuning kehijauan.Seteah reagen ditambahkan selanjutnya campuran
dipanaskan agar reaksi berjalan lebih cepat.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa hidrolisat asam nukleat dari masing masing
bagian kecambah mengandung gula ribosa. Namun pada bagian kepala ada yang tidak
terdapat ribosa, seperti di kepala kecambah besar, dan ada keanomalian yang terjadi pada
kepala kecambah kecil karena perubahan wananya menjadi warna kuning kecoklatan. Hal ini
ditunjukkan dengan adanya perubahan warna larutan dari kuning cerah menjadi kuning
kehijauan setelah dilakukan pemanasan. Untuk intensitas warna yang terbentuk bergantung
pada jumlah hidrolisat asam nukleat yang ditambahkan.
4.5 Uji basa Purin
Prinsip uji basa purin adalah penentuan basa purin pada hidrolisat asam nukleat
berdasarkan reaksi identifikasimenggunakan amonia pekat dan AgNO3.
Pengujian basa purin pada hidrolisat asam nukleat dilakukan dengan 1 mL hidrolisat
asam nukleat ditambahkan dengan amonia pekat tetes demi tetes sampai basa. Penambahan

amonia ini berfungsi untuk membentuk suasana basa pada larutan. Selanjutnya ditambahkan
beberapa tetes AgNO3 yang befungsi untuk reagen penguji adanya basa purin yang ditandai
dengan adanya endapan putih agak larut yang merupakan hasil reaksi antara basa purin
dengan AgNO3.
Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan. Maka didapatkan hasil bahwa pada
tabung reaksi 1,3 dan 4 yang berisi hidrolisat ekor atas kecambah besar, kepala kecambah
besar dan kepala kecambah kecil memberikan hasil positif (terdapat basa purin) yang ditandai
dengan terbentuknya endapan putih. Dan pada tabung 2 yang berisi ekor kecambah kecil
tidak terjadi perubahan dan tidak terbentuk emulsi, hal ini menandakan pada bagian ekor
kecambah kecil hasil uji basa purin negatif atau dengan kata lain tidak terdapat basa purin.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
senyawa penyusun asam nukleat terdiri atas gula pentosa (ribosa atau deoksiribosa)
yang berikatan dengan basa nitrogen (purin atau pirimidin) melalui perantara gugus fosfat.
Berdasarkan hasil percobaan, hidrolisat asam nukleat ekor bagian atas kecambah kecil
mempunyai komponen atas gula deoksiribosa, ribosa dan basa purin. Namun hidrolisat asam
nukleat kecambah panjang bagian ekor dan kepala mengandung senyawa penyusun meliputi
deoksiribosa dan ribosa.
5.2 Saran
Untuk percobaan selanjutnya diharapkan lebih teliti dalam melakukan
percobaan.Agar hasil percobaan yang telah dilakukan mempunyai hasil yang mendekati
dengan teori.

DAFTAR PUSTAKA
Basri, S., 2005, Kamus Kimia, Rineka Cipta, Jakarta.
Fessenden dan Fessenden, 1997, Kimia Organik, Erlangga, Jakarta.
Garrett, R.H. and C.M. Grisham, 2013, Biochemistry fifth edition, Brooks/Cole, USA
Hampel, C. A., 1982, Gloscory of Chemical Therms, Van Nostrand Reinhold Company, New
York.
Harper, H. A., 1980, Biokimia, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.
Hawab, H.M., 2004, Pengantar Biokimia, Bayu Media Publishing, Malang.
Ludwig, W., 2007, Nucleic Acid Techniques in Bacterial Systematics and Identification,
Journal of Food Microbiology, 120, 225-236.
Martoharsono, S., 1995, Biokimia, Gramedia, Jakarta.
Montgomery, 1993, Biokimia suatu Pendekatan Berorientasi Khusus, alih bahasa: Ismadi,
UGM Press, Yogyakarta.
Nelson, D.L. and M.M. Cox, 2001, Lehninger Principle of Biochemistry fourth edition,
Wisconsin, Madison.
Poedjiadi, Anna, dan Titin S., 2012, Dasar Dasar Biokimia, UI Press, Jakarta
Poedjiadi, A., 1994, Dasar-Dasar Biokimia, UI Press, Jakarta.
Sax N. I and Lewis R. J., 1987, Condensed Chemical Dictionary, Van Nostrand Reinhold
Co., New York.
Sumardjo, D., 2008, Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan
Program Strata Satu Fakultas Bioeksakta, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.